3.11.16

Sepanjang Bulan Oktober

3.11.16

Foto oleh Frans Sandi, 1 Oktober 2016

FOTO di atas diabadikan di sore yang cerah, dan saya jadikan foto sampul di jejaring sosial Facebook. Di kolom komentar, saya tambahkan keterangan seperti berikut ini. "Tadi sore di kebun belakang rumah kontrakan kami, ketika ada waktu senggang, saya menemani istri yang lagi musikalisasi puisi berjudul, Jika Kami Tak Pernah Pulang."

Karena ada beberapa komentar dari teman-teman, di bawahnya lagi saya tulis keterangan tambahan.

Teman-teman, terima kasih apresiasinya. Kini kami sedang dalam perjalanan yang mendung. Kebetulan, kemarin sore kami ada waktu luang untuk recording puisi, dibantu sepenuhnya oleh sahabat dari Kalisat, Frans Sandi namanya. Istri saya, disela-sela waktunya menulis, ia lagi senang membaca kembali puisi-puisi lamanya yang ia ciptakan sendiri di medio 2004-2014. Saya tentu dengan senang hati mengiringinya dengan petikan gitar hasil pinjam, milik pemuda Kalisat bernama Fg FransnAta. Gitarnya tidak stem sebab senar-senarnya telah berkarat.

Gairah akan puisi mungkin juga disebabkan oleh ajakan Vindri Analekta, pada 8 Oktober 2016 nanti ia mengajak kami --tamasya band-- untuk ikut menyemarakkan acara Musikalisasi Puisi di sebuah dusun di ketinggian Jember, di lereng Gunung Argopuro, tempat dimana Sokola Kaki Gunung berada.

Menjelang Maghrib, ada sahabat muda Kalisat ajak saya dan istri bercengkerama, Wahyu Celot namanya. Kami banyak berbagi kisah tentang Kalisat, bagaimana sebaiknya memperlakukan jejaring sosial, tentang kehidupan, kesempatan untuk mengembangkan diri di desa, dan sedikit tentang dunia pencinta alam. Istri saya tak ikut nimbrung, ia ada di balik layar monitor, menulis untuk Mongabay-Indonesia. Katanya, tulisan bagiannya yang telah berjumlah tiga ribu kata itu ia rombak lagi sedari awal, sebab hal-hal baru terjadi di Tumpang Pitu Banyuwangi dengan begitu cepatnya.

Di Jember, hal-hal mengejutkan juga terjadi, perihal Pace. Tapi tentu kami harus fokus di satu tempat terlebih dahulu, meski kami tak bisa membendung tutur yang berdatangan dari 'gerilyawan senyap' di bidang lingkungan, teman-teman kami sendiri.

Malam harinya, saya dan istri, juga tiga sahabat dari Kalisat, kami meluncur ke Green Hill untuk menjumpai Mb Eri Andriani, teman baik yang kini tinggal di Jember wilayah selatan. Kami berbincang hingga larut malam. Saat pulang di Kalisat, angka di kalender telah berganti. Selamat 1 Muharram, teman-teman.

Di rumah, kami tak segera memejamkan mata. Masih kami sempatkan untuk menghidupkan laptop, memeriksa email, barangkali email yang kami tunggu-tunggu telah tiba.

Seperti itulah keseharian kami akhir-akhir ini. Menyenangkan. Ketika ada sedikit waktu luang, kami akan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Hal-hal baik itulah yang sering kami tuliskan di jejaring sosial Facebook. Seperti yang tampak pada foto sampul di atas.

Bulan Oktober ini ada banyak ajakan dari teman-teman, beberapa di antaranya mengharuskan kami untuk keluar kota, menulis. Semoga saja itu semua bisa kami penuhi. Amin.

Teman-teman, terima kasih.

Minggu, 2 Oktober 2016. Orang-orang memperingati Hari Batik Nasional. Hari-hari selanjutnya, saya banyak membagikan catatan lama di Facebook, dan mengunggah beberapa gambar di Instagram. Pada 8 Oktober 2016, tamasya tampil di acara Musikalisasi Puisi, seperti yang direncanakan. Itu saat terakhir kami berdendang bersama Noveri Eko Purnomo.

Catatan saya di 10 Oktober 2016 yang nylempit di antara komentar-komentar;

Dua hari lalu sore hari, saya update seperti ini, "Hai Prit, mari istirahat sejenak, tamasya hati." Sebenarnya saat itu kami memang sedang butuh-butuhnya tamasya. Rekreasi. Kami menghabiskan hari-hari dengan penat namun senang. Kami hanya butuh jeda sejenak dari buku-buku tebal, huruf, dan rekaman-rekaman narasumber yang kami putar berulang-ulang.

Malam hari sebelumnya --7 Oktober 2016-- Prit hanya tidur satu jam, saya tidur lebih banyak, sekitar empat jam.

Malam setelah update status di Facebook, kami benar-benar bertamasya hati, di sebuah padukuhan bernama Sukmailang. Malam itu, tamasya berdendang di sebuah ketinggian, di tempat yang sunyi, bersama IKL dan teman-teman komunitas seni. Itu malam yang indah, Prit tak merasa mengantuk. Di sana, ia justru tampil membacakan puisi. Bait-bait kata yang ia ciptakan sendiri, hampir empat tahun lalu, tentang bumi yang sedang tidak baik-baik saja.

Turun dari padukuhan itu, kami berdua --dan keluarga tamasya-- merasa bahagia. Kini kami punya waktu jeda. Akan kami nikmati sebaik-baiknya, sebelum kembali melanjutkan tulisan panjang yang penuh kisah itu.

Dua hari kemudian, saya beserta istri, juga seorang teman bernama Lozz Akbar, kami bertiga melakukan perjalanan dari stasiun Kalisat menuju stasiun Lempuyangan. Ya benar, kami hendak menuju Pesona Jogja Homestay.

Seperti perjalanan-perjalanan yang lain, ketika itu saya membuat beberapa catatan, di antaranya saya unggah di Facebook pada keesokan harinya, 13 Oktober 2016. Catatan itu bertutur ketika kereta api yang kami tumpangi sedang berhenti di stasiun Walikukun, Ngawi.

Kemarin sore di stasiun Walikukun, Ngawi, kereta sritanjung yang kami tumpangi berhenti. Ada kres dengan kereta dari arah yang berlawanan. Suasana menunggu itu adalah kabar baik bagi para ahli hisap. Kami turun, berbagi senyum, lalu begitulah.

Saya ada di jalur seberang, sekira lima meter dari bordes gerbong tiga. Di dekat saya ada seorang lelaki muda berjaket gortex warna cerah. Seperti biasa, kisah perkenalan lelaki kadang dimulai dari pinjam meminjam korek api.

Namanya Joki, dia berasal dari Banyuwangi. Tepatnya, dari kecamatan Purwoharjo,kabupaten Banyuwangi.

"Saya cuma pulang sehari di Banyuwangi, Mas. Ini balik Jogja lagi. Saya sedang mempersiapkan diri hendak ke Nabire dan ke beberapa tempat di Papua, bantu-bantu dosen saya."

Tertarik dengan ucapan Joki, saya bertanya, "Kuliah di mana?"

"Di Fakultas Kehutanan UGM, Mas."

Rupanya Joki sudah ada di semester akhir. Di antara kesibukannya urus tugas akhir, dia punya banyak waktu luang. Waktu luang itu ia gunakan untuk bantu salah satu dosennya bikin penelitian di Papua.

"Kan di Papua mau diadakan petak-petak sawah gitu, Mas. Biar bisa jadi lumbung pangan negara. Ini masih proses penelitian. Dosen saya hanya menjadi bagian dari program itu, dan saya ada di posisi membantunya."

Kata Joki, masa depan sawah-sawah di Jawa buruk terkait jumlah penduduk dan beberapa hal lainnya.

Saya kembali bertanya, "Tahu kabar tentang Tumpang Pitu?"

"Hutannya hancur Mas. Ajur! Pengelolaannya tidak jelas, ngawur."

Ingin rasanya bertanya lebih banyak lagi perihal Tumpang Pitu pada lelaki muda asal Banyuwangi yang menimba ilmu di Fakultas Kehutanan ini. Tapi sayangnya waktu kami tak banyak. Kami hanyalah sekumpulan lelaki yang memanfaatkan kres kereta api.

Terima kasih, Joki. Ada saat kelak kamu harus pulang untuk mengamalkan ilmu kehutanan. Ohya, lain kali bawalah korek api sendiri, karena Tuhan bersama orang-orang yang punya korek api.


Dalam catatan itu, ada satu komentar manis dari teman lama bernama Nanda Sukmana. Ia bilang, Walikukun adalah latar tempat puisi Piek Ardijanto Soeprijadi berjudul Paman Paman Tani Utun. HB Jassin memasukkannya ke dalam angkatan 66. Kumpulan puisinya di antaranya Burung-burung di Ladang (1983), Percakapan Cucu dengan Neneknya (1983), Desaku Sayang (1983), Lelaki di Pinggang Bukit.

Di detik-detik selanjutnya, saya dan hana sudah sibuk bikin catatan tentang Pesona Jogja Homestay, ini di antaranya.

Tentu kami berdua senang menerima undangan Mbak Irma Devita untuk menginap di Pesona Jogja Homestay selama lima malam. Di sela kesibukan beberapa waktu terakhir, saya dan istri memang butuh udara segar di tempat yang berbeda.

Di sini, kami berjumpa pula dengan rekan-rekan blogger. Mereka orang-orang baik dengan gaya hidup dan pola pikir yang berbeda-beda.

Semalam, di sebuah diskusi yang digelar ala pesta kebun, teman-teman mengangkat tema, fenomena blogger. Menarik! Tampil sebagai pembicara adalah agensi seksi asal Jakarta, saya lupa namanya. Jika tak keliru, namanya Yunika. Moderatornya, Mbak Injul dari Jogja. Mereka lebih banyak membahas blogger traveller dan review blog. Saya tak ahli di keduanya, jadi memilih diam. Mojok bareng Agus Mulyadi.

Sore ini, satu persatu teman blogger sudah pada pulang. Saya dan istri masih di homestay, pulang besok pagi. Jika tepat waktu, pukul tujuh malam sudah tiba di stasiun Jember, dan segera meluncur bersama teman-teman tamasya, kami akan berdendang di UIJ.

Sahabat blogger, terima kasih ya. Maaf tak bisa menemani jagongan pagi, sebab itu adalah waktu terindah untuk terlelap 😊

Untuk Bapak Sri Margana, terima kasih atas diskusinya. Mulanya saya tak menyangka bila rumah Pak Margana berdekatan dengan Pesona Jogja Homestay, hanya cukup ditempuh jalan kaki saja, tinggal melewati rumah Ki Hajar Dewantara. Terima kasih pula untuk masukannya atas tulisan kami di Mongabay.

Jogja, 16 Oktober 2016

Esok harinya kami packing, persiapan pulang ke Jember. Waktu santai telah usai.

Malam harinya, 17 Oktober 2016, saya menulis seperti ini di Instagram. "Sudah di Jember. Tiba di stasiun Jember, segera dijemput oleh sedulur dari Kalisat. Sudah ngopi di WTC. Kini telah ada di lokasi acara, tamasya siap berdendang. Eh, kok tiba-tiba kangen @atanasia_rian ya?"

Dalam catatan itu saya sertakan juga foto ketika kami sudah berada di kedai WTC Jember, bersama Apex, Fanggi, dan Amin Rais. Ketiganya adalah pemuda Kalisat yang saya kenal dengan baik. Tak lama kemudian, kami sudah meluncur ke Universitas Islam Jember, tamasya band ada undangan berdendang. Lelah? Tentu saja. Badan masih bau besi kereta api, tapi kami harus melaksanakan janji kepada teman-teman Pencinta Alam Egalitarian UIJ.


Tamasya Band, 17 Oktober 2016

Foto di atas saya unggah di Instagram dengan keterangan sebagai berikut.

Teman-teman UIJ dan Mapala Egalitarian, terima kasih telah berdendang bersama tamasya band. Malam yang indah. Maaf, saya dan istri belum sempat pulang ke kontrakan --Kalisat-- untuk ganti baju. Dari Pesona Jogja Homestay meluncur ke stasiun Jember, dan ke lokasi acara. Saya masih pakai kaos andalan, pemberian Kakak saya, Nchie Hanie namanya. Wajah kami masih kusut, badan masih beraroma besi kereta api, tapi saya bahagia ada di antara teman-teman.

Ohya, tadi di jeda lagu, terlantun pula ucapan dan doa pada hari lahir seseorang. Itu untuk teman saya, Topan namanya, belahan jiwa Pungky Prayitno.

Kini saya dan istri telah ada di Kalisat, sudah leyeh-leyeh di atas kasur. Selamat dini hari, selamat beristirahat. Terima kasih.

Sore harinya, saya ajak teman-teman Kalisat untuk sowan ke rumah seorang pejuang yang menikmati masa tuanya di desa Subo kecamatan Pakusari. Ada sesuatu yang lupa saya sampaikan padanya. Berikut catatan pendek yang sempat saya tuliskan.

Tadi saya sowan ke rumah Pak Mohari, saya ajak pula teman-teman Kalisat. Tiba-tiba beliau bicara tentang kursi roda. "Jika saya diajari, mungkin saya bisa duduk di kursi roda. Yang sakit bukan punggung saya, tapi pinggul. Saya tidak bisa berdiri. Mau bersandar pun tak bisa. Tapi jika hanya merebah saja, berhari-hari, kadang saya merasa bosan." Begitu kira2 yang tadi diucapkan Pak Mohari, lelaki pejuang kelahiran tahun 1926 ini.

18 Oktober pukul 19:52

Ada satu kunjungan lagi di hari itu yang perlu saya cantumkan di sini, sebelum saya dan Hana menuju ke rumah Pak Mohari. Ya, kami menepati janji untuk sesegera mungkin menjumpai pasangan Suporahardjo-Farha Ciciek di Tanoker Ledokombo, kabupaten Jember. Ketika itu saya ajak pula dua adik saya yang aktif berproses di bawah naungan Yayasan Sokola, Ananda Firman Jauhari beserta Fitri, serta dua sahabat baik dari Kalisat, Mas Roni dan Mas Krisna Kurniawan namanya.


Di Tanoker Ledokombo, 18 Oktober 2016

Saya memiliki kisah yang baik di Tanoker, setidaknya sejak tahun lalu ketika saya menulis untuk mereka di acara Jambore Buruh Migran.

Pada 22 Oktober 2016 saya dan istri telah melakukan perjalanan menuju sebuah kampung di kabupaten Banyuwangi. Kampung itu bernama Bongkoran. Untuk menuju ke sana, kami harus melalui jalur Utara, melintasi Bondowoso dan Situbondo. Dalam perjalanan itu, kami sempatkan untuk singgah di kediaman rekan-rekan satu pemikiran.

Di Bongkoran Banyuwangi, kami banyak belajar dari Ika Ningtyas dan Gus Muhammad Al-Fayyadl. Tak hanya tentang perjuangan masyarakat petani Bongkoran, melainkan juga tentang memandang ketidakadilan yang terjadi di Tumpang Pitu Banyuwangi, dari sisi ilmu fiqih. Tema yang berat, saya merasa tak mengerti apa-apa. Senang bisa singgah sejenak di Pesantren Agraria Bongkoran.

Esok harinya, 23 Oktober 2016, kami berdua telah ada di kediaman Tita di Bondowoso. Hari itu, kami sempatkan pula untuk mengunjungi Museum Kereta Api Bondowoso yang baru diresmikan pada 17 Agustus 2016.

Esok harinya, kami menemani keluarga Cak Har di desa Sumberjeruk, Kalisat. Harga tembakau buruk, kami menemani mereka. Meski tak melakukan apa-apa, semoga kehadiran kami memiliki arti meskipun hanya secuil saja.

Setelah itu, di hari-hari selanjutnya hingga 1 November 2016, kami kedatangan tamu, dua sahabat Ghuiral dari Amerika Serikat. Mereka berdua adalah Palmeer dan Logan. Dua-duanya mencintai musik, dan tak terkejut bila harus tinggal di desa. Bersama Palmeer dan Logan, saya aktif terlibat diskusi seputar tentang sejarah dan etnomusikologi. Tentu saja perjumpaan budaya ini menjadi penutup yang manis untuk catatan hidup saya di sepanjang bulan Oktober.

2.11.16

Mengenang Hotel Seroja Jember

2.11.16
Jember pernah punya penginapan di dekat pusat kota, namanya Hotel Seroja. Pemiliknya adalah pengusaha dari Kalisat. Ia pernah direnovasi di era 1980an, kemudian mengalami kemandegan, dan mulai dibongkar sejak akhir September 2013. Kini di atas tanah 'Hotel Seroja' berdiri deretan waralaba modern.

Ketika Seroja telah tinggal cerita, beberapa orang mulai bertanya-tanya, 'Mengapa Hotel Seroja justru gulung tikar di saat bisnis penginapan di Jember sedang bergeliat?' Ada yang bilang, ia telah berganti kepemilikan. Ada juga yang berkata, usaha penginapan tersebut kembang-kempis sebab tak pernah melakukan inovasi alias reka baru.


Hotel Seroja. Foto milik Dodit Rahadi, diunggah di grup Nostalgia Kampung Jember pada 14 April 2012

Di sebuah grup Facebook Nostalgia Kampung Jember, Joyce Köhler, Ibunda dari Ahmad Dhani, ia menulis, "Tahun 1982 saya pernah nginep bersama anak-anak."

Nostalgia tentang Hotel Seroja rupanya bukan hanya milik Joyce Köhler saja. Banyak orang yang memiliki kenangan dengan Seroja.

Di penghujung tahun 2012, seorang teman bernama Achmad Bachtiar pernah bilang begini kepada saya, "Jare Ibukku, mbiyen Hotel Seroja iku jenenge duduk Seroja, tapi Hotel Serudji." Di tahun berikutnya, ketika saya tanyakan itu kepada cucu pejuang Jember, Letkol Moch. Sroedji, Irma Devita Purnamasari namanya, ternyata apa yang dikatakan Ibu teman saya benar. Mulanya Hotel Seroja bernama Hotel Serudji. Karena berbagai pertimbangan, pada akhirnya pihak keluarga meminta secara baik-baik kepada pihak pemilik hotel untuk berganti nama, maka jadilah Hotel Seroja.

Kini, ketika akan menulis kembali tentang Pesona Jogja Homestay, tiba-tiba saya teringat akan Hotel Seroja. Bukan karena apa, sebab Pesona Jogja Homestay adalah milik suami dari Irma Devita Purnamasari, cucu pejuang kemerdekaan Moch. Sroedji.

Tambahan

Baca tulisan saya tentang Pesona Jogja Homestay, berjudul; Penginapan itu Mengingatkanku Pada Losmen Bu Broto. Catatan selanjutnya berjudul; Jalan Menuju Pesona Jogja Homestay.
acacicu © 2014