31.10.10

Mempersiapkan Hati

31.10.10
Ternyata, beberapa waktu terakhir ini, bukan hanya saya saja yang sakit. Ada banyak kawan yang mengalami hal serupa. Ada yang karena tekanan darahnya merosot. Ada yang trombositnya melambung. Atau karena demamnya naik turun.

Ini benar benar waktu yang sama sekali tidak tepat untuk sakit. Apalagi setelah ada kejadian beberapa bencana di Indonesia. Semestinya ada yang harus saya lakukan. Andai saja datangnya rasa sakit bisa ditawar.

Sakit adalah sesuatu yang datangnya tidak bisa kita tawar. Begitu juga dengan bencana alam. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan hati dan jiwa, atas segala yang mungkin terjadi.

28.10.10

Antarkan Aku Ke Tempat Itu

28.10.10
Ku terbang kemana hati membawaku
pergi dan kunikmati

Tak ingin kehilangan kesempatan
tuk cumbui alam raya

Reff

Antarkan aku ke tempat itu
Tempat yang lebih indah darimu

Dimana tak ada lagi waktu
Untuk memikirkanmu


Judul : Antarkan aku
Recording : G - Rec
Aranger : Mungki Krisdianto
Lagu/mp3 : Antarkan aku


Lagu di atas adalah lagu lama sekali ciptaan sendiri. Masuk dalam album pertama tamasya band, bertitel SAVE THE TREE #1. Sengaja saya tuliskan di sini, sebagai doa dalam nada.

Indonesia, mari saling bergandeng tangan.

25.10.10

Anugerah Yang Sering Kita Lupakan

25.10.10
Anugerah yang paling sering kita lupakan adalah rasa sehat. Itu semua tidak lain karena saat kita sehat, kita terlalu banyak memiliki keinginan. Berbeda dengan orang yang sedang sehat, orang sakit hanya memiliki setidaknya satu keinginan. Sembuh, itu yang diinginkan.

Sungguh beruntung bagi mereka yg sakit, jika masih ada harapan untuk sehat. Ini bisa dijadikan bahan perenungan bagi yang sehat. Kita perlu menjaga dan memaknai kesehatan.

Tak perduli betapa cepat kita berlari, tak perduli betapa gigih kita memburu kesuksesan, akan ada saatnya kita merasa nyeri dan sakit.

Paranetter, rasa sakit adalah sesuatu yang layak kita renungkan. Ada yang bilang, kita tidak akan mengerti bahagianya sehat jika tidak pernah merenungkan sakit. Yakinlah bahwa ini dari Tuhan, karena manusia tidak bisa menciptakan rasa sakit.

Bagi siapapun yang barangkali sedang sakit, semoga lekas sembuh ya. Amin.

24.10.10

Investasi Cantik

24.10.10
Setiap manusia pasti ingin memiliki investasi pahala yang selalu mengalir. Tidak terkecuali saya dan orang orang di sekitar saya. Bahkan sebisa mungkin, pada saat kita mati, pahala tersebut terus mengalir dalam rekening kita. Alangkah indahnya.

Yang populer dari investasi model ini adalah mewakafkan harta benda kita pada tujuan yang baik. Dengan kata lain, bersedekah. Contoh, membangun tempat ibadah.

Ada lagi yang tak kalah populer. Mempunyai anak yang sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya. Dan satu lagi, mengajarkan kebaikan.

Di luar ketiga poin tersebut, ada yang menarik perhatian saya. Tak lain adalah tentang menanam pohon. Menanam satu pohon sama dengan membeli tiket menuju surga. Kok bisa?

Yang saya tahu, satu pohon bisa menghasilkan oksigen dan menyimpan air bersih. Selain itu, usia pohon jauh lebih panjang dari usia kita. Jika pohon tersebut dimanfaatkan oleh manusia maupun hewan pada saat kita tiada, sudah pasti pahalanya akan mengalir ke account kita.

Teringat kata kata mutiara Pramudya, "Jika usiamu tak sepanjang dunia, maka sambunglah lewat tulisan.." Bagaimana jika di akhir kalimat kita tambahkan dengan mencipta lagu menanam pohon? Saya kira itu lebih melengkapi.

Paranetter, jika kita ingin memiliki investasi jangka panjang yang terus mengalir, tidak perduli apakah kita sedang tidur, bertamasya, atau bahkan meninggal dunia, menanam pohon bisa kita jadikan pilihan yang menarik.

Ohya, saya juga pernah menorehkan hasrat ini ke dalam sebuah lagu berjudul Duniaku.

Sebagai penutup, saya akan nukilkan kata kata di blog Pak Mars.

Hidup adalah tentang mengumpulkan dan menebarkan. Tentang mengumpulkan apa yang bertebaran, lalu menebarkan kembali apa yang sudah kita kumpulkan.

Dapat saya bayangkan jika salah satu yang kita kumpulkan dan sebarkan itu adalah biji bijian. Wow..cantik sekali.

Paranetter, salam lestari...!!!

23.10.10

NgeBLOG Itu Indah

23.10.10
Yang saya rasakan selama ngeblog

Yang pertama, saya merasa menjadi seorang bos bagi media saya sendiri. Tidak menulis di bawah tekanan dan merdeka dari deadline. Bebas menentukan tema dan tidak khawatir tulisan kita bakal disensor diedit oleh redaktur bos.

Tapi seringkali, justru kenyamanan ini melahirkan monster bernama lalai

Ya saya tahu, segala hal yang menyamankan selalu ada bayang bayang kelalaian. Dimulai dari santai, lalu sangat santai, lalu sangat santai sekali, baru kemudian lalai.

Kenyataan ini menyadarkan saya, betapa sulit memerintah diri sendiri

Ini bukan tentang rasa takut yang sebegitunya. Hanya sebuah kesadaran saja. Sadar, bahwa jika saya tidak bisa memerintah diri sendiri, maka saya berpeluang untuk lalai pada blog acacicu.

Usia blog ini baru satu bulan. Sudah barang tentu saya butuh banyak masukan dari anda semua. Karena anda semualah, satu diantara alasan saya untuk senantiasa mencintai blog.

Itulah kenapa di kesempatan kali ini saya hanya ingin mengucapkan terimakasih pada anda semua.

Benar sekali, ternyata ngeBLOG itu indah..

Paranetter, TERIMAKASIH banyak..

20.10.10

Berkarya Bersama Sama

20.10.10
Foto di bawah ini diambil di studio lawas, GARASI Studio. Tempat dimana saya dan kawan kawan tamasya band berkumpul.

Disinilah kami berkarya. Berkumpul dengan ekspresi yang berbeda beda. Di sini kami kami menuangkan rasa cinta tanah air. Kadang menjadi sebuah lagu sederhana, kadang dalam bentuk yang lain.

Di sini juga kami memandang Indonesia dengan segala perbedaan dan kecantikannya.

Ya, di sini. Di bawah langit yang sama. Indonesia.

Foto Ekspresi :

Photobucket

Artikel ini pernah diikutsertakan pada Kontes Iklan Indonesia Bersatu di BlogCamp.

19.10.10

Inilah Arti Sebuah Nama

19.10.10
Di tulisan saya sebelumnya, saya bercerita tentang Catherine. Sekarang saya juga masih ingin bercerita tentang nama yang sama. Tapi Catherine yang ini sama sekali bukan tentang nama sepeda BMX.

Pada 21 September 2008, seorang sahabat bernama Har menghubungi saya via telepon. Dia mengabarkan sesuatu yang membahagiakan sekaligus mengejutkan buat saya.

Ya, saya turut senang, sahabat saya ini dikaruniai titipan oleh Yang Di Atas. Ternyata istrinya telah melahirkan seorang bayi perempuan.

Alhamdulillah...

Tapi kabar ini sekaligus membuat saya terkejut. Bagaimana saya tidak terkejut, lha wong sahabat saya ini meminta ijin pada saya untuk memberi nama putrinya dengan nama Catherine. Sama seperti nama BMX dan judul lagu ciptaan saya.

Mau dilarang ini, saya nggak punya hak paten dengan nama itu. Tapi mau diiyakan ya kok berat rasanya. Ini kan tentang sebuah doa. Tentang harapan orang tua yang disematkan pada anaknya lewat sebuah nama.

Alhasil, saya hanya bisa mengingatkannya lebih dari sekali dengan kata kata yang sehalus mungkin. Dan apa yang saya dapat?

"Justru karena itulah bro, saya ingin menamai anak saya dengan nama Catherine. Saya menaruh harapan besar di sana. Saya ingin kelak hidupnya seperti sepenggal lirik yang ada di lagu itu.."

Nah..Lho..Saya hanya bisa melongo..

Sebulan kemarin adalah hari istimewa Catherine. Pada 21 September 2010 dia genap berusia 2 tahun. Ohya, nama lengkapnya Catherine Harum Senja Ramadani.

Paranetter, nama adalah doa. Tak perduli nama tersebut terinspirasi oleh apa dan diserap dari bahasa manapun. Meskipun saya tahu, bagi orang muslim seperti saya, nama yang diserap dari bahasa Al Quran itu satu tingkat lebih mulia.

Tapi saya hanya ingin menggaris bawahi satu hal. Nama adalah doa. Orang tua kita menitipkan harapan besar pada nama yang kita sandang. Bukan itu saja sebenarnya. Nama adalah pelajaran pertama yang harus dilewati manusia. Dan setiap nama memiliki filosofi tersendiri.

Menurut saya, inilah arti sebuah nama. Bagaimana menurut anda paranetter, apakah arti sebuah nama?

Salam hangat...

17.10.10

Benarkah Tuhan Maha Pencemburu?

17.10.10
Jika anda berkesempatan singgah di kota kecil Jember, lalu anda melihat seorang lelaki kecil, hitam manis kurus dan sedang menunggang sepeda BMX warna kuning, itu adalah saya.

Kadang saya berdansa dengan sepeda BMX yang saya namai Nona tersebut. Meliuk liuk di sepanjang trotoar yang sepi. Atau hanya sekedar berbaris mengular bersama kawan kawan sesama pencinta sepeda angin.

Sebelum Nona (nama sepeda BMX saya yang sekarang), saya juga punya sepeda BMX. Yang ini saya namai Catherine.

Sedikit cerita tentang Catherine..

Pada 23 September 2005, saya menciptakan lagu untuk Catherine. Judulnya sama, Catherine
Pada Desember 2006, saya ciptakan lagu lagi. Judulnya Aku Kau Dan Catherine

Hampir satu tahun kemudian, lagi lagi saya menciptakan lagu yang terinspirasi dari Catherine. Judulnya Masih Ada Catherine.

Singkat cerita, kisah tentang Catherine berakhir pada 18 Januari 2008. Ya benar, si Catherine hilang dicolong maling.

Pesan moral dibalik hilangnya Catherine..

Kadang kita terjebak, terbuai, tergantung dan ter ter lainnya, dengan barang atau sesuatu apapun yang kita miliki. Seringkali hal hal tersebut membuat kita lalai dengan Dia yang seharusnya kita cintai.

Saya teringat kata kata seorang kawan sesaat setelah Catherine raib. Barangkali Tuhan cemburu mas. Itu yang kawan saya katakan. Dan saya masih sering memikirkan kalimat pendek tersebut.

Itulah kenapa saya belum berani menciptakan lagu yang terlalu manis untuk Nona, BMX saya yang sekarang. Bahkan saat menciptakan lagu tentang cinta, saya selalu mengambil tema yang luas. Atau tema yang tidak seperti biasanya, tapi sekiranya saya sanggup melaksanakan hidup bersama lirik lagu tersebut.

Ya benar, saya takut Tuhan cemburu. Lebih takut lagi, karena saya tahu resikonya.

Paranetter, apakah anda juga pernah punya pengalaman kehilangan sesuatu yang sangat dielu elukan? Telepon genggam misalnya. Atau pacar, hehe. Lalu, apa pertanyaan anda setelah kehilangan juga sama dengan yang saya pikirkan? Tuhan Maha Pencemburu dan memberikan kita pelajaran dengan sebuah peristiwa, Tuhan punya maksud lain yang lebih indah, atau bagaimana?

Seperti biasa, saya senang jika anda berbagi sudut pandang di sini.

NB : Sekedar info, setelah ini saya akan menggunakan nama Masbro di kolom komentar paranetter (sebelumnya menggunakan nama acacicu). Semoga dengan perubahan ini komentar saya nggak sering masuk spam lagi. Terimakasih.

16.10.10

Lagu Kita

16.10.10
Di artikel kali ini saya ingin kembali berbagi lagu ciptaan sendiri.

Liriknya pendek. Durasinya juga cuma sekitar tiga setengah menit. Tapi lagu ini adalah hasil pengendapan kenangan antara saya, alam raya dan orang orang di sekitar saya.

Akan saya tuliskan liriknya. Siapa tahu lagu yang berjudul LAGU KITA ini juga bisa mewakili kenangan anda.

LAGU KITA

Pernah kepuncak bukit denganmu
Pernah susuri sungai denganmu
Pernah menatap bintang kau dan aku
Pernah seperti itu..

Saat dalam naungan malam
Saat dalam pelukan bintang
Saat ku dingin kau menyelimuti
Saat seperti itu

Reff :

Masih ingatkah tentang itu
Dikala kita bermain batu
Di tepian sungai yang bergemericik merdu

Dan dikala sang malam tiba
Api unggun menghangatkan cerita
Mendendangkan suasana kesayangan kita

Recording : GARASI Record
Aransemen : Mungki Krisdianto



Setiap mendengar lagu ini, imajinasi saya seperti terbang ke arah dimana kenangan itu tercipta. Bagaimana dengan anda? Kenangan seperti apa yang legendaris dalam hidup anda?

Satu menit yang memiliki kenangan indah, itu lebih mempesona daripada sepuluh tahun tanpa kenangan apapun..

Ohya hampir lupa. Paranetter, seperti biasa, jika anda ingin sekedar menikmati lagu ini, silahkan mengunduh LAGU KITA di sini.

Mari kita saling berbagi kenangan..

15.10.10

Menunjukkan Cinta Pada Air

15.10.10
Keikut sertaan saya di festival blog 2010 kemarin bermula dari blogwalking ke blognya Mbak IyHa yang berjudul Pemula Non Pemalu. Tentunya ada hal baru yang saya dapatkan paska tekan enter dan resmi jadi partisipan kontes. Nggak percaya diri campur ndredeg. Tapi ironisnya, secara bersamaan saya juga merasa senang. Setidaknya saya telah belajar membuat tulisan yang terkonsep. Makasih ya Mbak IyHa.

Tapi.. artikel kali ini bukan hendak menceritakan tentang tulisan saya sebelumnya, Belajar Dari Api Unggun. Yang ini tentang ajakan mas Alamendah untuk ikutan menyemarakkan blog action day yang temanya tentang hemat air.

Terus terang saya bingung mau menuliskan tema air ini dari sudut yang mana. Padahal saya tahu, semakin hari persediaan air bersih di bumi ini semakin terancam. Saya juga menyempatkan membuka mesin pencari. Ada banyak data di sana. Tapi ya kok rasanya terlalu wah jika harus menuliskan data data tersebut.

Alhasil, akhirnya saya mengambil keputusan untuk menceritakan dongeng dari Bapak saya sendiri. Tentu saja masih tentang air.

Saya tumbuh di tengah tengah keluarga kecil muslim yang sederhana dan hangat. Sejak kecil, Bapak selalu mendongengkan kisah para Nabi. Yang paling saya suka dan ingat adalah kisah Nabi Ibrahim. Ada banyak lagi yang Bapak dongengkan di luar kisah para Nabi.

Ohya, tentang hemat air, Bapak pernah mendongengkan sesuatu pada saya. Tepatnya bukan dongeng, tapi hanya berupa obrolan santai saja. Karena pas Bapak mengatakan ini, saya sudah SMA tapi lupa kelas berapa. Pokoknya waktu itu saya lagi mau tamasya ke pantai Sukamade. Ini yang Bapak saya katakan.

Im, jangan lupa sholat waktu itu saya memang juaaaarang shalat, shalat itu tiang agama.

Cuma itu thok kok yang dikatakan Bapak saya. Nggak seru ya? hehe. Tapi nggak tahu kenapa justru itu adalah salah satu momen yang sering saya ingat sampai sekarang.

Terus hubungannya dengan hemat air?

Seperti yang kita tahu, Indonesia adalah negara yang masyarakatnya paling banyak memeluk Islam. Sedangkan Islam tiang agamanya adalah shalat. Untuk shalat, yang dibutuhkan selain niat ada lagi, bersuci. Selain dalam keadaan darurat, kita dianjurkan bersuci dengan menggunakan air.

Nah, setelah muter muter, sampai juga saya membicarakan air.

Apa yang kita butuhkan untuk menyimpan air? Ya benar. Tanah yang kondusif. Ujung ujungnya adalah kita butuh pohon. Karena pohon bisa membuat serapan air dan sangat membantu tanah dalam menyimpan air. Bisa dikatakan, tanah yang kondusif dijadikan serapan air, sama sperti galon raksasa.

Secara tersirat, ini mengajarkan pada kita teristimewa umat muslim, untuk menghemat air biar anak cucu kita nggak bingung kalau mau berwudhu. Berikutnya adalah menanam pohon. Berbanding lurus dengan Hablum Minan 'Aam, hubungan manusia dengan alam.

Bayangkan jika satu orang muslim menanam pohon dan merawatnya, lalu mengajak saudara yang non muslim untuk juga menanam pohon, betapa sejuknya Indonesia. Apalagi jika para orang tua senang berdongeng untuk buah hatinya tentang hal hal ringan seputar ramah lingkungan. Alangkah indahnya.

Paranetter, kita tentu punya cara yang berbeda dalam hal menghemat air. Bagaimana cara anda menghemat dan menunjukkan cinta pada air? Senang sekali jika anda mau berbagi meski hanya setetes solusi.

13.10.10

Belajar Dari Api Unggun

13.10.10
Penulis blog tidak jauh beda dengan api unggun. Menerangi tapi tidak melelehkan. Menghangatkan tapi tidak meludeskan. Menawarkan percik percik api tapi berbentuk inspirasi. Seperti itulah seorang blogger. Mampu menyumbang terang di tempat yang gelap.

Apa syaratnya jika ingin menjadi seorang blogger? Syarat paling dasar adalah kemauan. Katakanlah kita ahli dalam bidang perapian. Tapi jika kita tidak punya kemauan untuk membuat api unggun, maka jangan harap kita akan bisa menikmati hangatnya.

Setelah kemauan, hal paling vital yang harus kita miliki adalah pemantik api. Ya, kita harus memiliki sesuatu yang bisa mengundang datangnya api. Kenapa harus api? Karena bukan api unggun namanya jika tidak ada api, hehe.

Api identik dengan semangat. Dan itu yang harus dimiliki oleh seorang blogger

Oke, kemauan sudah ada dan pemantik api sudah tergenggam. Lalu apa yang harus kita lakukan? Mengumpulkan ranting ranting kering, itu jawabannya. Kita susun sedemikian rupa lalu kita nyalakan. Maka jadilah api unggun.

Menulis di blog pun demikian. Kita butuh ide. Kita jaring dan kumpulkan saja ide ide yang ada di sekitar, untuk kemudian kita susun semuanya hingga menjadi sebuah tulisan. Sesederhana itu saja.

Pertanyaan selanjutnya..

Bagaimana cara menggunakan internet secara sehat? Apakah masih bisa diibaratkan dengan api unggun? Tentu saja masih bisa.

Paranetter, seperti yang kita tahu, hanya api kecil yang bisa kita jadikan teman. Begitu juga dengan jika kita membuat api unggun. Kita harus membuat batasan batasan untuk memastikan api tidak menjalar. Berinternet sehat juga seperti itu. Kita harus mampu memanage tulisan kita menjadi seefisien mungkin. Menentukan waktu ngeblog misalnya. Atau membatasi tulisan tulisan untuk tidak mengangkat issu SARA.

Sebuah pelajaran lagi yang bisa kita petik dari filosofi api unggun adalah tentang konsekuensi. Berani membuat api unggun berarti berani menanam pohon. Kenapa demikian? Karena api unggun berbanding dengan penggunaan ranting dan kayu. Dan itu semua berasal dari pohon. Tidak mencampur api unggun dengan sampah yang menghasilkan asap tidak sedap, itu juga sebuah catatan.

Seorang blogger pun demikian. Berani membuat blog berarti harus berani berkarya. Setidaknya, berani menulis di blog meski hanya sebulan sekali. Satu lagi, tidak kopi paste. Bagaimanapun kopas itu tidak sehat dan sama sekali tidak sedap.

Semoga hasil renungan yang sederhana ini bisa membuat kita beraktifitas internet secara sehat. Siapa tahu, dari yang sederhana kita juga bisa menjadi seorang penulis blog yang hebat. Amin.

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam bandungblogvaganza.blogdetik.com festival blog 2010

12.10.10

Mencintai Langit

12.10.10
Langit kota kecil Jember menampakkan kesedihannya. Warnanya kacau. Bahkan semalam tak ada bintang yang sudi menampakkan diri.

Satu demi satu orang orang di sekitar saya didatangi Utusan Tuhan yang bernama influensa. Imun saya juga dengan senang hati membuka pintu sekedar mempersilahkan flu tamu istimewa yang satu ini. Ya benar, saya juga tak luput terkena flu. Dan semua diawali dengan warna langit yang tidak menentu.

Langit, ada apa denganmu sayang?

Apakah langit perlu dirawat? Jika pertanyaan ini disodorkan kepada saya, saya akan menjawab dengan satu kata saja. Ya. Pertanyaan kedua, kenapa harus dirawat? Pertanyaan ketiga, bagaimana cara merawatnya? Dan seterusnya.

Paranetter, sejak kecil saya sangat senang melihat pelangi. Itulah alasan kenapa saya ingin ikut serta merawat langit. Jika lapisan ozon semakin bocor, jika permukaan air laut semakin meninggi, jika musim semakin tak bisa ditebak, saya yakin pelangi akan malu untuk sekedar menunjukkan kecantikannya.

Kenapa bisa begitu? Bukankah pelangi dimulai dari hujan, lalu muncul matahari, baru kemudian ada efek warna lengkung pelangi? Ya benar, sederhananya memang demikian. Tapi bagaimana pelangi tidak malu menampakkan diri, jika datangnya musim hujan saja tidak menentu.

Lalu, bagaimana cara kita merawat langit? Jawabannya mudah. Aktifitas apapun yang ramah lingkungan, itu sama dengan kita turut serta merawat langit. Yang paling mudah adalah menanam pohon, atau hanya sekedar berjalan kaki jika jarak tempuh ke tempat yang kita tuju dekat.

Paranetter, langit, hujan, pelangi dan semacamnya adalah juga ayat ayat Tuhan. Mereka diciptakan oleh Sang Pencipta untuk bisa kita kaji, renung dan cintai. Bagaimana dengan anda, apakah anda juga mencintai langit?

Salam hangat dari kota kecil Jember yang langitnya butuh cinta..

10.10.10

Doakan Aku Pulang

10.10.10
Sesuai dengan yang saya tuliskan kemarin, kisah pendaki yang bertahan hidup di Mahameru, maka kali ini saya akan membagi lirik lagu berjudul Doakan Aku Pulang beserta link MP3 nya. Lagu ini dilantunkan sendiri oleh Dian Susanto, survivor sosok yang saya ceritakan kemarin. Baiklah, akan saya tuliskan liriknya, semoga bermanfaat, Amin.


DOAKAN AKU PULANG

Hari yang seindah ini
Mengapa sulit kunikmati
Larut terjebak jurang tebing yang tinggi
Dan aku sendiri
Di MAHAMERU sendiri

Bukan karena takut mati
Ku hanya takut selamanya tak kembali
Terus kukejar sinar hangat mentari
Ku menghibur diri
Menghibur diri bernyanyi

Reff :

Kawan ulurkan tanganmu kita kan teman
Doakan aku menemukan jalan
Tak tahan lagi aku ingin pulang

Kawan berikan aku di sini senyuman
Saat engkau ada dikejauhan
Yakinlah aku bisa merasakan

Recording : GARASI Record
Aramsemen : Mungki Krisdianto


Para netter, sesederhana itu saja lirik lagu "Doakan Aku Pulang." Ohya, sekedar info. Pada jumat 8 Oktober kemarin telah ditemukan mayat di lereng selatang Gunung Raung. Mayat tersebut ditemukan oleh kawan2 Jogja yang sedang mendaki di ketinggian 2200 DPL. Korban diketahui bernama Narwi berusia 45 tahun. Pada saat saya menuliskan ini, proses evakuasi masih sedang berjalan. Evakuasi terkendala oleh koordinasi dan lokasi ditemukannya korban.

Kembali ke lirik lagu Doakan Aku Pulang. Itu adalah lagu yang saya dedikasikan untuk Dian Susanto.

Untuk anda sendiri, lagu apa yang berkesan dalam hidup anda? lagu cintakah? Atau tembang kenangan? Senang rasanya jika anda mau berbagi cerita tentang lagu lagu yang mewarnai hidup anda. Terimakasih.

9.10.10

Kisah Pendaki Yang Bertahan Hidup Di Mahameru

9.10.10
Jika anda membuka mesin pencari dan mengetik kata kunci Dian Susanto MAHAPALA, atau Dian Susanto Hilang, atau anggota MAHAPALA hilang, maka anda akan diantarkan pada sebuah kisah di akhir bulan November 2006. Tentang hilangnya seorang pendaki selama enam hari lima malam di Gunung Semeru. Gunung yang puncaknya tertinggi sejawa, dan yang menginspirasi Dewa 19 menciptakan lagu berjudul MAHAMERU. Bagaimana cara Dian Susanto bertahan hidup? Ini yang ingin saya ceritakan.

Saya punya dua alasan kenapa saya lebih tertarik mengkisahkan cara Dian bertahan hidup daripada proses dia hilang dan semacamnya. Alasan pertama, untuk itu anda bisa menelusuri sendiri di mesin pencari, hehe. Alasan kedua, karena ini berhubungan dengan artikel saya sebelumnya. Tentang apa yang tidak bisa diwakili oleh komputer. Dan salah satunya adalah cerita. Ya, komputer tidak bisa bercerita tapi sangat akurat dalam menyimpan kisah kisah.

Begini kisahnya. Saya mulai dari hari ke empat.

Terus terang, memasuki hari ke empat pencarian, Tim SAR sudah tidak yakin jika si Dian bisa ditemukan dalam keadaan bernyawa. Saya yang ada diantara Tim, hanya bisa berdoa dan terus berdoa.

Singkat cerita, kisah si Dian berakhir happy ending.

Setelahnya, keseharian Dian disibukkan dengan menjawab apa saja yang ditanyakan para pemburu berita. Barulah beberapa waktu kemudian saya beroleh kesempatan untuk ngobrol santai berdua dengannya. Bukan berarti saya jurnalis lho. Ya benar, Dian adalah saudara saya sesama Pencinta Alam.

Saya masih sangat ingat, pertanyaan pertama yang saya tanyakan padanya. Apa yang membuatnya bertahan hidup.

"Karena saya memang harus bertahan hidup.."

Itu jawab Dian. Dan saya mengejar jawaban singkat itu dengan pertanyaan yang membola salju. Apakah karena makan dedaunan? Apakah karena meneguk air di ujung daun? Apakah karena tidur di bawah pohon dengan kaki sengaja dipendam ke dalam tanah? Dian tak segera mengangguk. Ternyata ada yang lebih dari itu. Yang lebih membuatnya bersemangat untuk bertahan hidup. Dan itu adalah sebuah cerita tersendiri.

"Saya seperti mengalami halusinasi bro. Apalagi saat saya dalam kondisi antara mau tidur dan masih terjaga. Semua dongeng yang pernah dikisahkan Ibuk saya, terpampang kembali, seperti sebuah slide"

Kira kira seperti itu jawaban Dian atas pertanyaan saya. Tak lama kemudian, Dian melanjutkan kata katanya.

"Cerita saat saya lagi kumpul2 di sekretariat MAHAPALA, kisah kawan2 saat mendaki, dan apa yang saya dapatkan saat mengikuti DIKLATSAR Pencinta Alam, itu semua juga kembali saya ingat. Saya sudah pasrah seandainya Tuhan tidak memberi jalan untuk pulang. Tapi saya harus tetap ikhtiar, berdoa dan berusaha. Saya harus kembali pulang. Saya rindu berbagi cerita dengan saudara2 saya di MAHAPALA. Saya kangen Ibuk. Saya juga harus menemui Mia. Saya benar benar ingin berbincang dengannya."

Paranetter, yang Dian paparkan adalah cerita tentang sebuah kerinduan. Rindu bercerita. Juga tentu saja tentang kerinduannya pada Mia, hehe.. Efeknya dahsyat, teman saya ini bisa bertahan dari cuaca yang ekstrem. Dari tebing tebing yang menjulang. Dari nyanyian alam yang mengiris kesendirian. Teman saya ini bisa bersemangat oleh cerita2 yang telah terlewati. Dan oleh cerita yang belum sempat dia pahat.

Beberapa waktu setelahnya, Oktober 2006, saya menciptakan sebuah lagu berjudul Doakan Aku Pulang. Lagu ini sengaja saya dedikasikan untuk Dian atas semangat bertahan hidupnya. Dia sendiri yang saya paksa untuk menyanyikannya. Sayangnya, saat saya menuliskan ini, saya belum memberitahu Dian. Ke depan Insya Allah akan saya bagikan liriknya untuk anda semua.

Paranetter, cerita yang seperti apa yang bisa membuat anda lebih bersemangat? Atau anda punya kisah tersendiri?

Seperti yang biasa saya tuliskan, saya senang jika anda mau berbagi cerita di sini. Terimakasih.

8.10.10

Apa Yang Tidak Bisa Diwakili Komputer?

8.10.10
Apa yang tidak bisa diwakili komputer? Itu adalah tema obrolan santai saya dan beberapa rekan, kemarin sore di sebuah warung kopi. Anehnya, hampir semua yang dikatakan oleh rekan rekan saya, bisa terwakili oleh komputer.

Contohnya saja dunia perdukunan. Atau istilah kerennya, ilmu perbintangan. Ingin mengetahui watak seseorang dari tanggal lahirnya? Mudah, tinggal klik. Bahkan ada juga yang menggunakan sudut pandang orang2 jawa. Hebat. Semuanya lengkap dan tersedia di komputer. Sekali lagi, tinggal klik.

Masih banyak sebenarnya yang diobrolkan seputar tema tersebut. Mulai dari memancing meskipun game, Kasparov yang terengah engah menghadapi permainan catur komputer, sistem recording lagu yang semakin mudah, hingga adegan melahirkan di film 3 ideot yang terjembatani oleh internet. Dan setelah ngobrol ngalor ngidul, ternyata pertanyaannya masih sama. Apa yang tidak bisa diwakili komputer?

Pertanyaan tersebut sukses menghantui saya hingga hari ini. Tapi Alhamdulillah, saya menemukan jawabannya di sebuah buku yang sudah lama nggak saya sentuh. Judulnya Misteri Otak Kanan manusia karya Daniel H. Pink. Buku ini memperkenalkan enam poin kecerdasan. Menariknya, poin poin tersebut hanya bisa dilakukan manusia. Fungsi komputer hanyalah sebagai penyimpan data saja. Inilah 6 poin tersebut.

1. Tidak hanya fungsi tetapi juga DESAIN
2. Tidak hanya argumen namun juga CERITA
3. Tidak hanya fokus tetapi juga SIMPONI
4. Tidak hanya logika tetapi juga EMPATI
5. Tidak hanya keseriusan namun juga PERMAINAN
6. Tidak hanya akumulasi namun juga MAKNA

Paranetter, dari keenam poin tersebut saya lebih tertarik dengan poin kedua, CERITA. Kenapa? karena poin ini yang paling mewakili kehidupan seorang blogger. Semua blogger bercerita di blognya masing masing. Dan komputer menyimpan hasil tulisan kita untuk kemudian dibaca oleh blogger lain.

Disini, saya bukannya hendak mengurai apa dan bagaimana cerita. Tidak. Hanya saja, saya tergelitik dengan kutipan di buku ini, dari seorang pengarang bernama Barry Lopez. Akan saya tuliskan untuk anda, semoga bermanfaat dan lebih bersemangat untuk berbagi cerita di blog.

"Jika anda mendapatkan sebuah cerita, jagalah sebaik baiknya. Belajarlah untuk menyampaikannya kepada orang yang membutuhkannya. Untuk dapat bertahan hidup kadangkala seseorang lebih membutuhkan cerita daripada makanan.."

Paranetter, menurut anda, kira kira apa lagi yang tidak bisa diwakili oleh komputer? mari kita saling berbagi CERITA, terimakasih.

7.10.10

Ada Cinta Di Tepi Rel Kereta

7.10.10
Tepat dibelakang rumah orang tua saya, ada sepasang rel kereta yang mengular. Melambaikan tangan ke arah laju kereta adalah kisah masa kecil saya. Dengan kata lain, saya punya jalinan asmara dengan kereta api Indonesia. Ditambah lagi, saya adalah cucu dari seorang masinis.

Artikel ini berhubungan erat dengan artikel saya sebelumnya, Tuhan Bukan Hanya Milik Orang Beriman. Ya, saya masih menceritakan tentang sosok seorang Cak. Laki laki yang punya pedoman semakin banyak luka semakin jantan, yang bekerja sebagai penjaga palang pintu rel kereta api.

Paranetter, terutama yang rumahnya dekat dengan rel kereta, menurut anda apa yang menarik dari penjaga palang pintu kereta? Apakah pengabdiannya? Atau gajinya? hehe. Saya kurang paham dengan itu. Yang jelas saya tertarik dan menaruh hormat pada mereka. Kenapa? Jawabannya saya rangkum dalam sebuah lagu berirama dangdut. Judulnya ORKES TAMASYA. Akan saya tuliskan liriknya untuk anda.

ORKES TAMASYA

Di tepi rel kereta api kawanku bekerja
Bekerja atas nama cinta
Cinta adalah menunggu datangnya kereta

Gaji pas pasan tapi kawanku tetap bertahan
Katanya katanya katanya
Ada yang tak bisa dinilai dengan uang

Oh..meskipun kita dilupakan
Meskipun kita tak dipandang
Mari bergoyang....


Reff :

Selalu ada cinta
Untuk orang2 yang bekerja dengan hatinya
Selalu ada doa..
Untuk orang2 yang berkarya dengan jiwanya

Di Record di GARASI Record
Aransement : Mungki Krisdianto
Lagu ini masuk di rencana album 3 Tamasya Band


Seperti biasa, jika anda sekedar ingin menikmati video slidenya, silahkan lihat di youtube.

Ohya, bagaimana menurut anda, apa yang menarik dari penjaga palang pintu rel kereta api? Terimakasih.

6.10.10

Tuhan Bukan Hanya Milik Orang Beriman

6.10.10
Tak ada manusia yang hitam pekat sepekat pekatnya tanpa warna putih. Barangkali kalimat itu yang bisa menggambarkan sosok yang akan saya ceritakan ini. Inisialnya S tapi saya biasa memanggilnya Cak. Dua kali masuk penjara. Yang pertama karena kasus pembunuhan. Enam tahun kemudian dia dijebloskan lagi lantaran kasus curanmor. Apa yang menarik dari Cak?

Kata orang, Cak tidak ada menarik menariknya sama sekali. Tiap hari kerjanya persis seperti lirik sebuah lagu dangdut yang berjudul mabuk dan judi. Dua kali dipenjara tidak membuat hatinya terpanggil untuk berubah drastis. Sebaliknya, Cak semakin memiliki relasi dan reputasi mentereng di kalangan orang orang rantai.

Mohon maaf sebelumnya jika saya punya pandangan yang berbeda tentang Cak..

Saya punya dua alasan kenapa berani berbeda pandangan dengan orang orang di sekitar lingkungan saya. Yang pertama. Pada dasarnya Cak orang baik tapi gengsi untuk memulai berbuat sesuatu yang baik. Pandangan saya ini bisa saja salah. Tapi saya percaya, berbaik sangka itu lebih bijaksana daripada sebaliknya. Terus alasan kedua adalah karena Cak pernah berbagi cerita dengan saya.

"Mosok uripku cuma ngene2 thok Im, aku kan yo pengen mlebu surgo"
Translate : Masak hidupku cuma gini2 aja Im, aku kan juga pengen masuk surga.

Cak mengatakan itu pada saya, di suatu sore di tepi rel kereta api. Dia mengatakannya dengan mata memerah, dan mulut yang beraroma anggur kolesom. Ya benar, Cak dalam keadaan mabuk. Tapi entahlah, saya menaruh harapan dari kata kata yang Cak ucapkan.

Singkat cerita..

Harapan saya terkabul. Ini sudah memasuki tahun ketiga dimana Cak bekerja sebagai penjaga palang pintu rel kereta api *yang digaji oleh warga sekitar*. Apakah saya turut senang? Tentu saja. Meskipun ada berita kurang sedapnya. Sampai saat ini, Cak masih saja tidak bisa lepas dari alkohol.

Dalam hati saya memohon pada Yang Di Atas, sudilah kiranya Tuhan mengirimkan rizki berupa seseorang pada Cak. Entah profesor, entah kyai, entah Ustad, entah Biksu, entah Sufi, entah filosof, entah orang gila sekalipun, yang bisa merangkul Cak ke jalan yang setidaknya lebih baik.

Sudah ratusan kali saya mendengar khotbah yang mengutuk para pemabuk. Tapi, melihat orang yang hidupnya didedikasikan untuk menyentuh jantung persoalan, yang bisa merangkul yang tak terangkul, tak lebih dari jumlah jemari. Ini wajar. Ada banyak fitnah di tempat berpestanya setan. Saya paham akan ini. Tapi...

Paranetter, seorang pencuri pun berdoa sebelum melaksanakan aksinya. Begitu juga pemabuk. Mereka adalah orang orang yang haus ampunan tapi tidak tahu cara memulainya.

Mengutuk, mengucilkan, memandang sebelah mata, itu semua terbukti bukan sebuah solusi. Mereka ada di sekitar kita. Mereka butuh teman. Mereka butuh bahu seseorang sebagai tempat bersandar. Jika kebutuhan mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan tetap seperti itu.

Sampai saat ini saya masih memelihara keyakinan, bahwa Tuhan bukan hanya milik orang beriman. Tuhan juga milik para pencuri kelas teri, copet, orang orang di balik jeruji, dan para pemabuk yang nuraninya belum terkecup rindu Ilahi.

Paranetter, semoga di sekitar anda steril dari karakter2 seperti yang saya gambarkan. Karena itu adalah impian kita bersama. Tapi seandainya ada, bolehkah saya tahu, apa yang akan anda lakukan? Senang sekali jika anda mau berbagi di sini. Terimakasih.

5.10.10

Lagu Para Pengembara

5.10.10
Judul di atas sebenarnya adalah judul sebuah lagu milik saya sendiri. Saya mempersembahkan lagu ini istimewa hanya untuk para TKI Tenaga Kerja Indonesia dimanapun berada. Tapi setelah membaca artikel terbaru milik Bli Tusuda yang berjudul Tugas Tegas Tentara, saya jadi kepingin mempersembahkan lagu ini untuk para TNI.

Tentang para TNI sendiri, saya juga punya sekeping kenangan. Diawali dengan masa kecil saya. Kebetulan rumah saya di Jember tidak jauh dari Taman makam Pahlawan. Jadi cerita tentang mencari selongsong peluru paska pemakaman, mencari lilin di malam upacara, dan mengais keranjang bunga pada saat ada acara tabur bunga, itu semua tidak bisa dilepaskan dari kenangan masa kecil.

Saat saya besar dan terjun di dunia Pencinta Alam, saya mengenal jabat komando. Sebuah cara bersalaman khas anak PA yang diadopsi dari jiwa korsa TNI.

Saat terjadi banjir bandang Panti di kota saya sendiri, saya terlibat aktif dengan cara kerja TNI. Kebetulan SRU tim SAR PA berpartner dengan Angkatan Darat dan Brimob kepolisian. Rasa kagum saya bertambah saat saya nge-SAR di beberapa titik lainnya. Terutama ketika merapat di Jogja - Bantul - Klaten, di waktu terjadi Gempa Jogja.

Terlepas dari semuanya, saya berani berkata bahwa mereka hebat. TNI bukan milik pemerintah, tapi milik negara. Negara tanpa rakyat adalah bukan negara. Jadi TNI adalah milik rakyat. Dan ini adalah sebuah kado lirik lagu dari saya rakyat biasa, untuk TNI.

LAGU PARA PENGEMBARA

Hai Para Tenaga Kerja Indonesia
Percayalah Bahwa Merah Putih masih berkibar
Burung Garuda Kita Pun Masih Menoleh
Ke Arah Yang Sebenarnya..

Kumandangkanlah lagu
Indonesia raya Di Sana..


Reff : Indonesia..Indonesia..

Berani Dan Suci Bukankah Itu arti
Dari warna Bendera Kita..

NB : Dirgahayu TNI;

Bagi yang sekedar ingin menikmati slide lagu ini, silahkan meluncur ke youtube, terimakasih..

4.10.10

Lagu Anak, Riwayatmu Kini

4.10.10
Saya tumbuh besar bersama sebuah lagu. Setiap kali Almarhumah ibu menimang dan meninabobokan saya, beliau senantiasa menyanyikan lagu tersebut dengan intonasi yang begitu pelan. Di telinga saya, lagu tersebut benar benar syahdu dan menenangkan.

Pada saat saya ketakutan, entah oleh petir atau apa saja, ketika ibu menyanyikan itu, sungguh saya merasa aman di dekat beliau. Yang saya heran, sampai sebesar ini belum saya temukan tempat yang lebih aman dari itu.

Itu hanya sekelumit cerita tentang saya. Dan bukan fiksi.

Alhasil, saya miris begitu membaca artikel di blog milik Ummi Rizka yang berjudul rindu lagu anak anak. Ketambahan juga dengan artikelnya Bunda Mahes, dengan tema yang serupa. Ada apa sebenarnya dengan Indonesia?

Negara tercinta ini, yang tadinya terkenal dengan slogan pemuda harapan bangsa, kini itu semua seperti hanya tinggal cerita. Kenapa? Untuk pertanyaan ini, saya punya jawaban subyektif.

Pendidikan yang mahal, sistem pendidikan yang terlalu sering digodog, bukanlah satu satunya alasan. Ada yang lain. Semua hanya karena lagu, istimewanya lagu anak anak. Pantesan mamanya Mahes terkejut begitu mendapati teman sepermainan putranya menyanyikan lagu keong racun. Pantesan juga jika Ummi Rizka sampai merindukan lagu anak anak.

Super spon, itulah otak anak anak. Dia bisa menyerap apa saja. Dan lirik lagu adalah sesuatu yang paling mudah diserap oleh otak super spon tersebut. Bisa kita bayangkan, apa yang terjadi dengan Indonesia 20 tahun mendatang, jika kini wajah lirik lagu lagu Indonesia kurang cerdas dalam menyikapi kondisi yang ada.

Ibaratnya, lirik lagu adalah sebuah sugesti yang bisa membentuk gaya hidup dan pola pikir kita.

Berbicara tentang sugesti dan bentuk membentuk, saya jadi teringat ucapan guru ngaji saya dulu. Kenapa kita dianjurkan untuk berdzikir? salah satunya adalah biar kita berkarakter. Jika lisan sering mengucapkan kata kata yang baik, niscaya orangnya juga cenderung baik.

Yah, semoga saja para pencipta lagu anak dan para penyelenggara negeri ini mempunyai pola pikir yang sama dengan guru ngaji saya.

Jika kita ingin negeri kita nanti tidak terlalu banyak koruptornya, ada baiknya kita mulai dengan lagu anak. Dengan catatan, lagu anak anak yang sebenarnya. Bukan lagu anak yang seperti itu. Yang dinyanyikan bocah tapi liriknya cinta. Atau lagu bocah yang dinyanyikan bocah, tapi si bocah dipermak sedemikian rupa hingga kebocahannya tidak tampak lagi alias tidak polos. Bukan yang seperti itu maksud saya.

Lagu bocah yang benar benar untuk bocah, itu yang saya rindukan. Seperti lagu anak yang sudah dirintis oleh Haddad Alwi, Sherina kecil dan beberapa musisi lainnya. Terlebih, jika lirik lagu tersebut tidak berkesan menggurui. Bagaimanapun, bocah juga tidak senang jika digurui.

Sebagai penutup, ada yang ingin saya tuliskan. Tentang sebuah kalimat sederhana yang dulu legendaris di kampung saya. Ngaji disek baru nyanyi. Artinya, mengaji dulu, baru boleh nyanyi. Sekarang sepertinya berubah jadi, nyanyi sambi ndelok tivi.

Paranetter, tentang lagu anak anak Indonesia kini, apakah anda punya tanggapan?

Mari kita berbagi. Terimakasih...

3.10.10

Cinta Tak Harus Memiliki

3.10.10
Seorang teman, sebut saja Bondet, begitu resah akhir akhir ini. Begitu resahnya sehingga mau nggak mau saya juga kecipratan imbasnya. Usut punya usut, ternyata si Bondet sedang memikirkan Bunga bukan nama sebenarnya.

Ternyata beberapa hari lagi Bunga akan merayakan ultahnya. Dan dia ingin pada hari H nanti, Bondet datang dan melangkah ke arahnya sambil menggenggam sekuntum edelweiss. Nah, ini yang menjadi masalah.

Tidak seperti yang kita bayangkan. Bondet sama sekali bukan seorang idealis lingkungan. Dia bahkan tidak mau tahu tentang perdagangan satwa liar, pro kontra punah tidaknya harimau jawa, atau issue lama yang masih hangat sampai hari ini. Tentang konversi Taman Nasional Meru Betiri menjadi tambang emas. Untuk issue issue seperti itu saja si Bondet apatis, apalagi hanya tentang sekuntum edelweiss.

Masalahnya adalah, Bondet tidak menyukai ide itu. Rencana untuk melangkah ke arah Bunga sambil membawa sekuntum edelweiss adalah kebodohan kuadrat. Setidaknya itu menurut Bondet.

"Terus sekarang, apa yang harus aku lakukan?"

Itu pertanyaan dari Bondet untuk saya. Dan saya mengenal Bondet seperti saya mengenal sepeda Astrea 800 milik saya. Bondet tidak akan pernah berhenti bertanya jika saya tidak memberinya jalan keluar.

Dan Alhamdulillah, otak Abunawas saya bekerja dengan cukup encer. Itu semua karena saya terinspirasi oleh salah satu artikel agak lawas di blog milik PakDe Cholik. Judulnya "Ikut Campur Urusan Tuhan"

Dan saya pun mulai berkata kata...

Edelweiss identik dengan bunga keabadian. Dibilang begitu karena bunga ini tidak akan layu meski dipetik dari pohonnya. Itulah mengapa banyak yang berasumsi, hanya edelweiss lah bunga terbaik untuk mengungkapkan cinta. Sayangnya, saat dibawa ke daratan rendah, bunga ini akan berubah warna. Tidak secantik saat ada di ketinggian sana.

Saya masih berkata kata. Dan sepertinya, Bondet benar benar mendengarkan apa yang saya katakan. Hingga akhirnya dia mengulangi pertanyaan yang sama.


"Terus, apa yang harus aku lakukan?"

Biarkan edelweiss tetap ada di ketinggian sana. Biarkan ujungnya berdansa terkecup angin pegunungan. Biarkan edelweiss berdzikir dengan caranya sendiri. Jika kamu paksa dia untuk turun di tempat yang bukan habitatnya, itu namanya kamu ikut campur urusan Tuhan.

Begini saja, katakan saja pada Bunga. Jika dia benar benar menginginkan edelweiss, antarkan dia ke tempat dimana edelweiss tinggal. Tidak harus dengan mencerabut dan merampas kemerdekaan hidupnya. Bukankah cinta tidak harus memiliki?

Sepertinya kawan saya ini masing nggak sreg dengan kata kata saya. Akhirnya, terpaksa saya mengeluarkan jurus pamungkas. kalau ini juga tidak mempan, entahlah.

Gini aja bro, jangan katakan cintamu dengan edelweiss. Katakan saja lewat lagu. Kebetulan aku ada lagu, judulnya edelweiss. Bagaimana?

Dan apa yang terjadi? Alhamdulillah, kali ini si Bondet tersenyum. Lalu menyeruput kopi. Lalu menyambar korek api. Lalu tersenyum lagi. Lalu berkata, benar kamu bro, cinta tak harus memiliki. Sejak kecil aku mencintai bintang bintang, tapi aku tidak bisa memetiknya untuk kutaruh dalam saku celana. Terus sekarang, lagunya mana...?????

Ah Bondet.. Ada ada saja..

NB : Lagu Untuk Bondet, Edelweiss...

Buat PakDe Cholik, Matur Sembah Nuwon Pak De. Salam Sungkem Dari Jember.

2.10.10

Antara saya, Seorang Kawan Dan Puncak Rinjani

2.10.10
Kening saya berkerut mendengar cerita seorang kawan. Dia baru saja turun dari gunung Rinjani. Dengan meledak ledak dia menceritakan tentang pengalamannya selama mendaki.

"Ah, akhirnya bisa kurengkuh juga.."

Saat saya tanyakan apakah tujuannya hanya itu, dia menggeleng. Ternyata masih ada satu lagi selain menaklukkan puncak Rinjani. Ya benar, dari caranya bicara, saya tahu dia ingin mendapat semacam penghargaan. Ingin mendapat sambutan hangat dari rekan rekannya, termasuk saya. Dengan kata yang lebih sederhana lagi, dia ingin mendapat tepuk tangan.

Lalu kenapa kening saya berkerut? Bukankah itu sah sah saja..

Paranetter, saya hanya heran dengan dua tujuan itu. Antara menginjakkan kedua kaki di puncak, dengan mengharapkan tepuk tangan. Saya punya pendapat lain tentang tujuan naik gunung, dan itu tidak bisa digugat tapi masih bisa diganggu.

Pertama. Jika saya naik gunung, Semeru misalnya. Tujuan saya bukan ingin menaklukkan puncak mahameru, bukan. Tujuan saya adalah bisa kembali pulang dengan selamat. Hanya itu, tapi itu sudah mencakup banyak hal. Mulai dari menciptakan kenangan sampai membawa kenangan itu pulang.

Yang kedua. Saat saya sudah tiba di puncak, setelah melewati halang rintang jiwa raga, yang saya dapati adalah sebuah keheningan. Di atas sana, tidak ada seremonial penyambutan. Tidak ada yang namanya tepuk tangan bergemuruh. Juga tidak ada kata kata, "Selamat kamu hebat". Dan saya pun kembali turun dengan membawa filosofi kesunyian.

Itulah paranetter, yang membuat kening saya berkerut saat mendengar celoteh kawan saya.

Tapi, setelah saya renungkan lagi, ternyata bukan hanya itu. Saya punya satu alasan lagi. Alasan itu adalah, karena dia lupa tidak mengajak saya, hehe..

Saya melupakan satu hal. Sebenarnyalah kawan saya ini hanya butuh semacam 'tong sampah' untuk menceritakan kisahnya selama perjalanan. Dan saya baru sadar bahwa dia tidak punya niat lebih dari itu. Bisa jadi dia hanya butuh join kopi dengan saya, atau hanya sebuah senyuman, bukan pandangan yang bertele tele.

Ada kalanya, saya hanya perlu diam, mendengarkan dan berbagi secangkir kopi panas. Itu saja sebenarnya..

Paranetter, kok saya sering lupa ya, kalau menjadi pendengar itu sebenarnya indah, hehe..

Salam hangat semuanya...
acacicu © 2014