31.12.11

Mengakhiri 2011 Dengan Manis

31.12.11
Sudah tanggal 31 Desember 2011. Tentunya, banyak cerita yang berceceran di tahun yang berakhiran angka sebelas ini. Masa masa bahagia dan masa masa penuh cinta, beberapa potongannya tersimpan manis di blog kesayangan ini.

Waktu berjalan begitu cepat ya. Nggak terasa besok sudah 2012.

Barusan saya iseng buka buka tulisan setahun yang lalu. Siapa tahu ada tulisan saya di tanggal yang sama. Ternyata tidak ada. Yang ada malah tanggal 30 Desember 2010. Di sana ada sebuah postingan berjudul Menggenjreng Blog di Akhir Tahun. Haha, saya begitu menikmati saat membaca tiap tiap komentarnya.

Indah.. indah sekali. Di sana ada komentarnya Tante Monda, Om NH, Mbak Ais, Mbak Cantik Gerhana Coklat, Mbak IyHa mamanya Osar, Mbak Hani Pendar Bintang, Mput Usagi, BundaMahes dan masih banyak lagi.

Di penghujung 2011 ini, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Mator sakalangkong buat semua sahabat blogger yang setia menemani langkah langkah saya belajar menulis di acacicu.

Eits, kok tiba tiba saya jadi melankolis gini ya? Udah dulu ah..

Selamat mengakhiri 2011 dengan manis

30.12.11

Kemaitan

30.12.11
Dia dikenal sebagai seorang gadis yang ceria. Seakan akan tak mengenal kata susah dan lelah. Ada saja yang dicelotehkannya hingga membuat orang orang di sekitarnya mengangkat kedua ujung bibir dan membinarkan kedua bola mata. Ya, itulah sekilas tentang Dwi, adek saya di pencinta alam.

Saya dan semua yang mengenalnya, biasa memanggilnya Kemaitan (sesuai dengan nama lapang rimbanya). Kemaitan sendiri diambil dari nama sebuah pohon kecil (tanaman obat dari hutan) yang memiliki kandungan alkoloid, sitosteroid, fitosterol, flayonoid, dan glikosida. Nama kerennya, Lunasia Amara.

Jadi kira kira arti dari Kemaitan adalah begini. Meskipun kecil dan terkadang terasa pahit, tapi mempunyai sifat penyembuh. Kalau yang ini kesimpulan dari saya sendiri dan masih berupa kirologi alias ilmu kira kira.

Kemarin, baru saya tahu kalau si Kemaitan punya blog. Lantaran rindu dan ingin kecipratan sedikit keceriaannya, saya segera meluncur dan melahap karyanya. Dan yang saya temukan adalah sebaliknya.

Adek saya yang ceria, yang matanya selalu membinar, yang suka mengenakan baju flanel, yang kemana mana selalu membawa bandana, yang pencinta alam, ternyata dia lagi sedih. Ah.. Dan itu semua karena lelaki berjaket orange (adek saya juga di pencinta alam, hehe).

28.12.11

Bandana

28.12.11
Mbak Tarry lagi bikin giveaway 11 Tahun Bersamamu. Cara berpartisipasinya mudah. Kita hanya tinggal menceritakan barang kenangan yang kita miliki dan apa kesan di baliknya. Ikutan yuk..

Saya juga berpartisipasi. Benda kenangan yang ingin saya kisahkan adalah selembar kain yang biasa disebut bandana. Bagaimana ceritanya? Baiklah, akan saya tuturkan.

Bandana

Menurut buku, bandana berasal dari India, dengan nama awal bandhnu yang memiliki arti mengikat. Masih menurut buku, katanya pada abad 16 Portugis membawa bandana ke Eropa. Dan selanjutnya, banyak orang Inggris yang mengenakan bandana dan memanfaatkannya seperti mereka menggunakan syal atau sapu tangan.

Lain di Eropa, lain pula di Benua Amerika. Kalau anda pencinta film koboi, anda pasti sependapat dengan saya. Bahwa seorang koboi belum dibilang sejati kalau mereka nggak mengenakan bandana yang dililitkan di leher. Dimulai pada sekitar abad 18 - 19. Ini terus berlanjut pada generasi jauh setelah koboi. Paling populer adalah mereka para rapper.

Begitulah sejarah singkatnya. Bandana, hmmm.. saya memiliki cerita tersendiri dengan benda yang satu ini.

Saya dan Bandana

Seorang kawan pernah bertanya, "Masbro sejak kapan suka berbandana?" Saya tersenyum, tidak menjawabnya. Entahlah, saya lupa. Sejak kapan ya?

Dulu waktu masih kecil, ibu hobi menyulam dan beliau suka membuatkan saya syal. Kakek saya (dari pihak Bapak) yang asli Madura juga suka melingkarkan odheng di leher cucunya ini. Odheng itu secarik kain yang biasa Mbah Kung pakai saat beliau sedang arisan pencak atau saat sedang menggelar seni macapat (biasanya setiap malam jumat dan saya selalu diajak).

Beranjak besar, saya mulai menyukai segala hal yang berbau sejarah dan mendapati kenyataan bahwa sejak jaman awal Majapahit, 1293, rakyat nusantara sudah senang mengenakan kain yang dililitkan di lehernya. Biasanya bermotif batik. Saat itu saya punya pemikiran, bisa jadi bandana berasal dari sini. Tapi oleh kawan saya yang pencinta sejarah, pemikiran saya dikandaskan. Dia bilang, tehnik batik sudah ditemukan jauh sebelum majapahit ada, abad ke empat sebelum Masehi. Wuih.. Lalu saya tanya ke dia, Kok tahu? Kawan saya menjawab, karena ditemukan kain pembungkus mumi (di Mesir) yang motifnya serupa batik.

Saat itu saya diam. Coba kalau sekarang saya ketemu lagi sama teman saya, pasti akan saya jelaskan padanya bahwa sejak dulu kala nusantara terkenal dengan sebutan bangsa barus, yaitu bangsa yang dikenal sebagai penghasil kapur barus. Nah, kemana lagi Fir'aun orang Mesir mencari kapur barus sebagai bahan pengawet kalau tidak di sini Indonesia?

26.12.11

Ngakak Yang Sopan

26.12.11
Ayo Ngakak Sejenak


Jadi ceritanya, saya lagi pengen ikutan Kontes 'Ayo Ngakak Sejenak' yang diadakan oleh Mbak Fany Sang Cerpenis dan Mas Al Kahfi Man and The Moon. Tapi ya kok ternyata repot juga cari foto yang seperti itu. Padahal saya tukang ngakak lho.

Akhirnya saya temukan juga foto yang pas diikutkan lomba. Saat itu saya ada di tepi rel kereta api (belakang rumah) dan sedang bermain kamera. Pada saat teman saya lagi serius seriusnya mau njepret, eh dia malah kaget gara gara ada orang lewat di belakangnya. Dikiranya ada kereta yang mau lewat, hehe..

Gak apa apa deh ngakaknya sopan, yang penting ikut menyemarakkan kontes. Ada yang belum ikutan kontes ini? Ayo pada ikut, masih ada waktu. Silahkan ndaftar di sini.

Bonus :

Ngakak Sejenak, Masbro Acacicu


Ayo Ngeblog Karena Ngeblog Itu Indah

Tadinya saya hanya ngerti dunia blog dari sebuah majalah wanita (milik Mbak saya). Itu sekitar akhir tahun 2004, beberapa saat sebelum Tsunami Aceh, hari ini tujuh tahun yang lalu. Di majalah itu disebutkan bahwa blog adalah hunian masa depan. Tentu saja saya tertarik karena saya menyukai dunia tulis menulis sejak jaman pelajaran mengarang indah.

Waktu berjalan. Saya terus mencari tahu seperti apakah rupa dari blog, dan bagaimana agar saya bisa mendaftar. Setidaknya, belajar menggunakan komputer, baik offline apalagi online. Kabar buruk, saya tidak bisa.

Impian itu terus terpelihara dalam hati. Hingga pada suatu hari, seorang kawan bernama Ali Majedi mengajak saya ke sebuah warnet. Itu terjadi di awal 2006. Saat itu, warnet di seputaran kampus Universitas Jember masih bisa dihitung dengan jari (dari satu tangan saja). Kenapa kami ke warnet, itu karena saya butuh data dan rekan Ali Majedi yang mengantarkan saya, lantaran dia tahu harus bagaimana di depan monitor, saya tidak.

Selama di warnet saya tidak serius mencari data. Saya lebih tertarik memperhatikan tangan tangan kawan saya berselancar. Ingin rasanya bertanya ini itu padanya, tapi saya sungkan. Maklum, kawan saya ini dua tahun lebih tua dari saya. Lagipula orangnya nyungkani. Setelah data didapat, kita langsung cetak print, lalu cabut. Selesai.

Lama setelah itu, sekitar akhir 2006 atau awal 2007 (saya tidak bisa memastikan tanggalnya, maaf), orang orang di sekitar saya mulai kasak kusuk tentang friendster. Ah, mahluk apalagi ini? batin saya.

Benar kata orang, malu bertanya lewat gang buntu.

25.12.11

Selamat Hari Bahagia Buat Mas Mungki

25.12.11
Mungki Krisdianto


Hari ini adalah hari istimewa buat sahabat saya, Mas Mungki Krisdianto. Ya, dia sedang merayakan hari lahirnya. Selamat ya dulur, semoga selamanya berkarya, Amin Ya Robbal Alamin..

Mari kita lanjutkan meski kita lelah

23.12.11

Markisya, Mari Kita Tamasya

23.12.11
Di Daerah Pesisir


Lagi lagi, saya sedang 'mencuri' sebuah foto hasil jepretan kawan saya Faisal. Bercerita tentang sosok perempuan bercaping yang sedang mengayuh sepedanya. Melihat foto ini, saya jadi kangen sama beberapa tempat yang indah yang pernah saya singgahi. Padahal nggak ada hubungannya, tapi itu yang saya rasakan.

Tempat Yang Saya Rindukan :


Tempat itu, Antarkan aku ke tempat itu

Teluk Bandealit
Ranu Gumbolo / G. Semeru
Taman Hidup / G. Argopuro

Ah, sepertinya saya harus segera packing. Entah kemana yang penting menyegarkan mata. Saya butuh refresh untuk kemudian rekreasi. Itulah kenapa saya ingin bertamasya hati meskipun hanya sehari.

Hayooo saya yang mana, hehe..


Markisya, Mari Kita Tamasya

22.12.11

Saya Pernah Duduk Di Sana

22.12.11
Seorang Ibu Dan Dua Lelaki


Saya pernah duduk di sana. Berdua dengan seorang teman bernama Opec. Menikmati sore hari sambil menatap matahari yang semakin detik semakin tenggelam ke air.

Mentari yang tenggelam itu tidak meronta. Dalam ketertenggelamannya, dia bahkan masih bersikeras menyodorkan senampan keindahan bagi mereka yang takjub memandangnya.

Saya pernah duduk di bangku itu. Bangku yang diduduki oleh dua orang nelayan lelaki. Bangku yang sedang akan dibelai oleh sesosok perempuan.

Ah perempuan itu.. Tanpa bersuarapun dia sanggup menghadirkan kedamaian hati. Apakah dia salah satu dari ibu saya?

Ibu saya banyak, ada di mana mana. Mereka tercecer di setiap perjalanan hidup dan kehidupan saya. Mungkin beliau salah satunya. Ah, entahlah..

Saya pernah duduk di sana. Berdua dengan seorang teman.

Sangat tidak rugi berhari hari melakukan perjalanan mengayuh BMX berkilo kilo jauhnya. Karena saya pernah duduk di sana. Berdua dengan seorang kawan, di sebuah pulau kecil bernama Talango.


Catatan

Foto milik (dan hasil jepretan) seorang teman bernama Faisal, lelaki kecil asli Pulau Talango. Dia pernah saya ceritakan di sini, di sebuah tulisan berjudul : Kawan Saya kerampokan Dan Dia Masih tersenyum.

Hari Ibu : Ibu Muda Yang Mengasuh Anaknya

Seorang Ibu Muda Yang Sedang Mengasuh Anaknya


Namanya Eli Suriyana, tapi biasa dipanggil Elis. Perempuan asli Bima ini sudah tinggal di Jember sejak pertengahan 2004. Dia kuliah di Fakultas Sastra Universitas Jember. Satu kampus dengan Apikecil, tapi beda jurusan.

Sekitar tiga tahun yang lalu, Elis memutuskan untuk menikah di usia muda. Dan lelaki kecil yang ada di gendongannya adalah buah hati Elis dan Bahak (suaminya). Putra semata wayangnya mereka beri nama Alden Becik Melody Surya. Anda cukup memanggilnya Alden.

Mengasuh seorang anak tidak semudah yang terbayangkan. Apalagi jika masih kuliah dan nge Band. Ohya, lupa saya ceritakan kalau si Elis adalah gitaris dari sebuah group band yang semua personilnya perempuan.

Ups, lupa kalau nggak boleh panjang panjang. Udah, gitu aja. Selamat Hari Ibuuuuuuu...


Catatan

Mama Elis sedang mengasuh si kecil Alden

Lokasi di depan sekretariat Organisasi Pencinta Alam SWAPENKA Fakultas Sastra.


Pernah diikutsertakan dalam Kontes Perempuan dan Aktivitas yang di selenggarakan oleh Ibu Fauzan dan Mama Olive

20.12.11

Saat Seorang Kawan Digigit Ular Cobra

20.12.11
Suatu hari kawan kawan pencinta alam MAHAPALA D3 FEUJ berhasil menangkap seekor ular cobra berwarna putih. Karena belum diserahkan ke Dinas BKSDA Jember, ular tersebut ditempatkan di sebuah aquarium untuk sementara waktu.

Di hari yang lain, Fran bermain ke sekretariat MAHAPALA. Entah karena iseng atau alasan yang lain, Fran mengeluarkan sang ular cobra dari aquarium. Dia memegangi ular tersebut, mengelusnya, dan memberinya minum. Pada awalnya, semua baik baik saja. Tapi, tak lama kemudian..

Ya benar. Bisa ditebak, Fran digigit oleh si cobra. Tepat di pergelangan tangan kirinya. Tidak butuh waktu lama bagi racun cobra untuk menyebarkan sengatnya. Fran lemas, wajahnya memucat.

Lalu, apa yang Fran lakukan? Apakah dia segera pergi ke Rumah Sakit terdekat?

Ah ternyata tidak. Dia lebih memilih untuk berusaha tenang. Mengikat pergelangan tangannya, berharap bisa memperlambat laju racun. Langkah berikutnya adalah minum air putih sebanyak banyaknya. Kemudian mencari tunas pisang untuk diambil getahnya, dan disiramkan pada bekas gigitan cobra.

Oleh seorang kawan (yang saat itu lagi getol getolnya ikut MLM yang bergerak di penjualan obat alternatif), Fran diberi obat dalam bentuk cairan. Katanya, obat ini bisa menyembuhkan segala penyakit. Fran menurutinya. Dia menyiramkan obat cair itu di tangannya.

Hasilnya? Lumayan ampuh. Entah mana yang ampuh. Apakah terapi air putihnya, getah tunas pisang, obat cair itu, ataukah ketenangan Fran. Yang jelas, keadaan Fran semakin membaik.

Kenapa tidak ke Rumah Sakit saja? Biasalah, masalah klasik. Apalagi kalau bukan tentang duit. Murah sih, suntik anti bisa itu sekitar 50 ribu. Tapi, ya namanya nggak punya duit. Itulah yang ada di benak Fran.

Esoknya, Fran baik baik saja (masih hidup maksudnya, hehe). Pergelangan tangan kirinya abo bengkak dan membesar. Karena khawatir, kawan kawan berhasil memaksanya ke Rumah Sakit. Di RS DKT (Rumah Sakitnya Angkatan Darat). Eh, sesampainya di sana, Fran malah disuruh pulang. Alasannya? Karena Fran telah berhasil melewati masa kritis secara alami.

Itulah cerita tentang Fran saat digigit ular cobra. Cerita sebelumnya bisa anda baca di tulisan saya berjudul NAMANYA FRAN.

Mungkin, karena pengalaman itulah, Fran berani berpose (saat masih di Pulau Komodo bulan kemarin) seperti pada foto di bawah ini.

Fran dan KOMODO




SALAM LESTARI

18.12.11

Seorang Kawan

18.12.11
Ini tentang teman saya. Namanya Fran. Seorang pencinta alam. Dia menjadi pencinta alam karena hatinya (semoga saya benar). Sangat merdeka. Dia bahkan tidak butuh atribut apapun. Dan tidak mencatatkan namanya di organisasi pencinta alam manapun.

Ini dia Fran


Suatu hari saya mengirimkan sebuah pesan pendek padanya. "Fran, aku mau nikah.."

Itu isi pesan pendek saya. Tidak langsung dijawab. Dia baru membalas esoknya. "Oke Bang.."

Komunikasi berlanjut via inbox jejaring sosial. Gila, ternyata posisi Fran ada di Pulau Komodo. Dan lebih gilanya lagi, dia sempat dicurigai (bermasalah) di sana. Entahlah, saya tidak tahu kebenarannya, karena saya tidak di sana, hehe.

Ah, kawan.. Kau ada di tempat yang benar. Hanya saja waktunya tidak tepat..

17.12.11

Merangkul Bapak

17.12.11
Sudah sangat lama sekali saya tidak ada dalam rangkulan Bapak. Tapi rasanya saya masih bisa mengingatnya. Mengingat bagaimana rasanya ada dalam buaian Bapak. Hmmm, benarkah? Apa itu hanya perasaan saya saja?

Ini tentang kemarin sore..

Oleh beberapa alasan tertentu, tiba tiba saya merangkul Bapak. Memang, saya tidak sedang ada dalam buaian beliau karena sayalah yang merangkulnya. Dan apa yang saya rasakan?

Sampai detik ini hati saya masih merona. Sungguh, saya tidak bohong saat saya menuliskan ini. Bahwa detik detik tersebut adalah sepotong kebahagiaan tersendiri buat saya.

Paranetter, bersegeralah merangkul orang yang kita cintai selagi sempat, karena itu adalah indah.

15.12.11

Kalau Saja Kereta Bisa Ngomong

15.12.11
Saat ini saya lagi merenungkan kata kata dari seorang kawan. Dia menuliskannya di sebuah jejaring sosial. Berikut yang dia goreskan.

Saya jadi kepikiran perkataan seorang teman. Kalau stasiun kini membatasi romansa para pencinta yang berpisah di stasiun. Dari beberapa literatur klasik, perpisahan yang megah sekaligus melankoli adalah ketika sang lelaki pergi dengan kereta dan sang gadis melambaikan sapu tangan sembari mengusap air mata. Kini sepertinya hal itu tak mungkin, karena orang tanpa tiket tak boleh masuk ke dalam stasiun. Dan berakhir di sini pula fragmen kisah kasih klasik macam itu..

Wew, ternyata teman saya ini kepikiran perkataan temennya, lalu saya merenungkannya, haha.. Sambung menyambung jadinya, kayak kereta api.

Kawan saya itu, namanya Nuran. Dia pernah saya ceritakan di sini. Seorang blogger juga, dan tulisannya bisa dijumpai di sini.

Baiklah, kembali pada kalimat romansa kereta.

Apakah saya punya kenangan dengan stasiun KA Jember? Tentu saja, apalagi kakek saya adalah seorang masinis. Beliau juga sangat senang mendongengkan banyak hal berkaitan dengan kereta. Itulah saat saat dimana saya jatuh cinta pada kereta api.

Masa kecil saya terwarnai oleh beberapa kisah layaknya bocah seumuran saya saat itu. Berjalan di sekitar stasiun sekedar melihat lihat. Kadang saat ada kereta datang, baik dari arah Surabaya maupun dari arah Banyuwangi, saya dan beberapa teman segera naik. Tentu saja ini mengganggu penumpang yang hendak turun. Tapi begitulah kenyataannya. Padahal kami gerombolan kecil ini tidak sedang akan melakukan perjalanan.

Saya tidak lama ada di atas kereta, dan tidak semua gerbong saya susuri. Saat nada tung ting tung ting stasiun berbunyi (pertanda kereta akan kembali berangkat), saat itulah saya dan kawan kawan sigap melangkah turun. Di bawah, kami saling bercerita kemudian tertawa tawa.

Ngimpi Ikut Kontes di BlogCamp

Di luar dugaan, tiba tiba ada yang menodong saya dengan pistol sambil membentak, "Beli Paypal atau mati..!"

Ow, ada apa ini? batin saya sambil menatap lemah sang penodong.

Dia mengenakan pakaian serba hitam (mulai dari sepatu hingga penutup kepala). Yang mencolok dari tampilan serba hitamnya adalah teks warna kuning di sweater hitam yang dia kenakan. Tepatnya di bagian dada sebelah kiri.

Di saat kaki ini gemetar dan jantung berdegup kencang, masih juga saya sempat membaca teks yang berwarna kuning itu. Ternyata sederet huruf itu bertuliskan JualBeliPaypalBalance.

Keterbengongan saya lenyap saat si serba hitam kembali membentak saya. Kali ini dengan volume dan intonasi yang lebih menyeramkan. Sebelum dia sempat mengulang untuk yang ketiga kalinya, sekuat tenaga saya berusaha menjawabnya.

"Beb beb beb bb bb baiklah.. Bagaimana caranya agar saya bisa Beli Paypal??


Dia mendelik melotot demi mendapati kenyataan bahwa korbannya adalah orang yang gaptek. Ya saya bisa melihat dengan jelas kemarahan di matanya (karena hanya itu yang bisa saya lihat, selain tulisan JualBeliPaypalBalance di dada kirinya).

Matanya semakin melotot. Dia menderap ke arah saya semakin dekat sambil menurunkan gagang pistolnya. Anehnya, meskipun kini ujung pistol itu tidak mengarah ke saya, perasaan takut semakin berkecamuk.

Kini dia tepat di depan saya. Hanya berjarak satu jengkal saja. Matanya semakin melotot, memerah, sangat menakutkan. Saya benar benar takut. Saat saya mencoba mundur selangkah, dia semakin menderap maju. Begitu seterusnya.

Entah pada langkah mundur saya yang keberapa, tiba tiba kaki ini tidak menemukan pijakan lagi. Saya melayang ke bawah, jatuh dan..

Geddebuuggg...

Oh, ternyata saya ngimpi.


Catatan

Cerita di atas adalah fiksi belaka


“Pernah diikutsertakan dalam Kontes Old & New Belanja Online di BlogCamp

13.12.11

Menikmati Nikmat

13.12.11
Saat saya menuliskan ini, di luar sana hujan baru saja selesai melaksanakan tugasnya. Adeeem. Saat yang pas untuk menyeruput kopi. Tak lama kemudian, sruuuuppuut.. Hmmm, nikmat yang murah. Murah tapi nikmat.

Nikmat bisa berwujud apa saja. Kadang dia ada di tempat yang megah, kadang hanya ada di sebuah sudut badan yang gatal lalu kita menggaruknya. Sesekali kita menemukannya pada bibir yang tersenyum. Ada juga yang mengejar rasa nikmat lewat jalur jalur petualangan, yang tadinya dirasa tidak mungkin.

Rasa nikmat ada dimana mana.

Kejutan kejutan kecil, mencoba sesuatu yang tidak biasanya, itu juga bisa melahirkan nikmat. Nggak percaya? Silahkan mencoba pada hidup anda, dan selamat menikmati.

Mari kita nikmati rasa yang keren ini.

11.12.11

Memetik Cinta

11.12.11
Ada Giveaway di rumahnya Mbak Anies Anggara. Temanya tentang cinta. Udah pada berpartisipasi semua ya? Saya turut menyemarakkan juga ah.

Tentang resep cinta? Hmmm, apa ya?

Saya tidak punya ramuan ajaib itu. Tapi ada beberapa orang yang pernah membagi resepnya pada saya. Dan hampir semuanya menggunakan bahasa konsep alias ideal.

Kalau dari saya sendiri, apa ya kira kira? Sebentar ya, saya mau nyruput kopi dulu.

Aaaah, sudah. Markijut.. (ikut ikutan Mbak Anies)

Cinta, setiap orang punya ekspresi yang berbeda, bahkan meskipun resepnya sama persis. Ada yang mengekspresikannya dengan pertengkaran pertengkaran kecil (kalau nggak tengkar nggak asyik), ada juga yang lebih memilih untuk saling berebut kesalahan. Pertengkaran yang harusnya ada, tersulap menjadi kejutan kejutan kecil yang anggun.

Untuk opsi yang kedua, terlihat tidak mungkin ya, hehe. Tapi saya percaya bahwa pasangan seperti itu pastilah ada. Doa saya, semoga Mbak Anies dan Mas Angga juga seperti itu, Amiiin.

Lha, resepnya mana? Haha.. maap saya ngelantur. Lupa sih kalau ikut giveaway.

Begini. Saya kan cinta musik. Satu satunya alat musik yang bisa saya mainkan hanyalah gitar bolong saja. Pada saat saya membelai dan menggenjrengnya di suasana hati yang pas, maka gitar akan memberikan cintanya meski hanya berupa nada. Nada itu tak terlihat, tapi bisa terasa.

Naaaah, jadiii.. resepnya adalaaaah..

Menjalani cinta dengan hati. Jika sudah, kita tak perlu repot repot lagi mendefinisikan cinta. Orang bijak berkata, mengalir sajalah seperti air, melayang sajalah seperti udara, dan terbang sajalah. Terbang mengikuti kemana hati nurani menuntun.

10.12.11

Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI

10.12.11
Andai menjadi anggota DPD RI, apa yang harus saya lakukan?

Saya tidak akan berhenti mempelajari lagi dan lagi, tentang job dis saya, juga tentang hak dan kewajiban selaku anggota. Bukan untuk menghafalnya, tapi lebih pada memahami peran. Dengan begitu, saya tahu harus bagaimana.

Gambaran pembuka di atas, menegaskan bahwa saya bukan tipe pekerja keras. Lebih sederhana dari itu, saya ingin menjadi pekerja cerdas. Terasa lebih efektif dan efisien untuk menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat.

Seandainya saya menjadi anggota DPD RI, saya akan menyediakan mental berlapis. Bagaimanapun, saya akan menghadapi suara suara sumbang, terutama dari pihak yang kontra. Apalagi, saya berencana untuk menempuh dan memperjuangkan langkah langkah yang tidak populer.

Apa kira kira langkah tidak populer yang akan saya tempuh?

Ada aturan main otomatis akan ada yang namanya sanksi. Usulan saya, jika ada salah satu dari anggota DPD RI (termasuk saya) yang mbalelo, maka sanksi yang berbicara. Ini sangat sulit. Tapi saya siap pasang badan.

Saya hanya berpikir, bagaimana rakyatnya akan lurus jika wakilnya saja bengkong.

Karena saya pencinta alam, maka saya akan pro aktif pada advokasi lingkungan. Idealnya, pengelolaan SDA dan ekonomi secara otonomi dan berjiwa konservasi, atau tidak sama sekali.

Buat Pak De dan Bu De Cholik

Pak De dan Bu De Cholik, ngapunten. Saat itu (pada bulan sebelas yang lalu) saya tidak segera menemui panjenengan. Saya ada di musholla belakang rumah.

Seusai sholat isya berjamaah, saya tidak bisa kemana mana. Hujan deras tiba tiba mengguyur bumi ronggolawe Tuban.

Hujan tidak datang sendirian. Dia membawa juga dua teman baiknya. Angin dan petir.

Hmmm, sudah pukul 19.15, hujan masihlah belum mereda. Padahal acara ijab qobul antara saya dan Hana disepakati akan dilaksanakan pukul 19.30 WIB.

Hujan seperti sedang benar benar marah. Entah pada siapa. Mungkin pada kenakalan kenakalan kecil saya dulu. Mungkin Tuhan sedang menjewer saya dalam bahasa yang lain. Entahlah..

Bumi ronggolowe benar benar basah. Hujan juga membasahi sandal selop saya. Padahal masih gress kinyis kinyis, masih ting ting..

8.12.11

Memberi Kesempatan Pada Kata

8.12.11
Sudah sepantasnya jika saya berterima kasih pada Bunda Lily Dont Worry. Di salah satu postingnya, beliau pernah menulis sebuah kalimat pendek, dan sukses mencuri perhatian saya.

Dari yang tadinya tercuri, semakin hari semakin saya merenungkannya. Merenungkan kata kata yang sebenarnyalah bukan kalimat yang sangat nyastra. Ini lebih dekat dengan realitas ketimbang filosofis.

Ya, Bunda Lily tidak sedang berpuisi. Bunda hanya sedang memberi kesempatan kepada kata kata.

Hatiku ada dua. Bila yang satu terluka, yang lain menyembuhkan

Senang bisa mengenal Bunda Lily. Saya merasa, saat ini saya memiliki ibu yang banyak. Dan itu sungguh alangkah membahagiakannya.

Bunda, terima kasih.


Catatan

Dont Worry Bunda. Saat menuliskan ini, hati saya tidak sedang terluka. Hanya saja, saya berpikir bahwa Bunda berhak tahu bila saya jatuh cinta pada kata kata itu.

Dan (lagi lagi) Dont Worry Bunda, rasa cinta saya pada kata kata itu hanya seujung kuku saja. Cinta yang kecil, selalu dipotong, tapi ia akan selalu tumbuh.

4.12.11

Ingin Selamanya Berdansa Dengan Alam Raya

4.12.11
Kemarin saya ditanya oleh rekan jurnalis bernama Arman Dhani. Dalam hidup ini, apa yang masbro inginkan? Begitu katanya. Saya tersenyum. Memori saya secara otomatis memutar sebuah mimpi yang selama ini terpelihara dengan manis.

Ingin punya rumah kecil dengan lahan yang luas. Dan di lahan itu ada gumuk yang juga kecil (gumuk itu semacam bukit tapi unsur tanah di dalamnya sangat berbeda dengan bukit. Masuk galian C. Sementara yang saya tahu, gumuk hanya ada di Jember, Tasikmalaya dan Jepang). Di lahan itu juga harus ada rimbun pepohonan. Itu yang saya inginkan.

Ingin punya lahan kecil dengan hutan kecil, begitulah kira kira. Jadi saya tidak perlu repot repot mengutuk eksploitasi hutan dengan cara yang salah. Cukup dengan memiliki hutan sendiri, saya rasa itu jauh lebih nikmat. Senikmat kopi yang saya sruput sekarang ini.

Wew, ternyata impian itulah yang dijadikan kalimat pembuka di rubrik inspirasi Harian Radar / Jawa Pos.

2.12.11

Obituari : Selamat Jalan Yusnita Febri

2.12.11
Sulit mana mendengar atau berbicara?

Sebelumnya, saya tidak pernah memikirkannya. Tapi setelah membaca tulisan perdana Almarhumah Mbak Yusnita di blognya yang blogspot, barulah saya benar benar merenungkannya.

Mbak Nita memberi teladan bagi dunia blogger. Terlebih bagi kita yang membutuhkan informasi seputar Alat Bantu Dengar.

Dengan gaya bahasanya yang renyah, kita diajak untuk mengenal lebih dekat tentang apa itu Hearing Aid. Tentang kenapa alat itu mahal (meskipun kecil dan ringan), bagaimana cara pemakaiannya, hingga bagaimana sebaiknya proses adaptasi saat pertama kali menggunakannya.

Dhila13 Photo Challenge : Inspirasi

Tyo dan Ayahnya
 

Saya ingin seperti itu

Posting ini di ikut sertakan pada : Bukan Kontes Biasa: TASBIH 1433 H di Blog Dhila13


Catatan

Seorang ayah (Adi, sahabat saya sejak kecil) bersama Tyo, jagoannya.

Yang motret foto ini adalah Hana Apikecil


Catatan Tambahan

Foto di bawah ini hanyalah iseng belaka dan tidak disertakan dalam lomba

Semoga tidak di..
Adi dan Tyo, Dhila13 Photo Challenge : Inspirasi

1.12.11

Kini Berubah Menjadi Pak Hakim

1.12.11
Bapak mertua saya seorang jurnalis. Tadinya beliau adalah seorang penulis karya sastra. Sejak es em pe karyanya sudah nyantol di lebih dari satu media, diantaranya mejeng di majalah horrison.

Manalah saya tahu bila Bapak punya beberapa nama pena? Dan salah satu nama pena beliau adalah Warigalit de Bro? Ow ow ooow..

Lagi, saya harus menerima kenyataan bahwa Bapak biasa dipanggil masbro atau pak bro oleh rekan rekannya sesama jurnalis. Dan itu sudah sejak lama. Wew..

Saya dan Bapak:
Bersama Bapak, Saya dan Bapak

Hehe, ekspresi saya antara ingin mewek, melet dan tersenyum manis, hehehehe..



Begitulah paranetter, salah satu alasan kenapa saya merubah nama (di beberapa akun online) Dari Yang Tadinya Bernama Masbro kini berubah menjadi Pak Hakim.

Tentang nama ID saya yang baru (Pak Hakim), bagaimana menurut anda?


Catatan

Saya menuliskan tema yang sama (dengan gaya bahasa yang berbeda) di blog hatikecil. Judulnya, dari yang tadinya bernama masbro. Tentang kenapa harus diawali dengan kata 'Pak' dan tentang kenapa memilih nama Pak Hakim, saya tuliskan juga di sana.

Terima kasih buat Mbak Ketty Husnia atas komentar pertamanya.

30.11.11

Ada Gerhana Coklat di Pagi Pagi Buta

30.11.11
Hari ini saya menerima paket dari Jakarta. Eh ternyata dari Mbak Julie. Cihuiii.. Berarti dalam seminggu saya dapat dua bingkisan dari dua sahabat blogger. Sebelumnya, paket dari Amel di Sulawesi Tenggara.

Nggak percaya kalo saya dapat kiriman dari Mbak Julie? Beneran nggak percaya? Saya nangis ginjal ginjal lho kalo sahabat blogger nggak percaya, hehe..


Ini dia bukti otentiknya



Lha wong saya masih nyruput kopi kok disuruh eksyen

29.11.11

Tiba Tiba Nongol di Tabloid POSMO

29.11.11
Jadi ceritanya, tiba tiba wajah saya nongol di sebuah tabloid. Nama tabloidnya POSMO, anak perusahaan dari JP Group.

Lha kok bisa tiba tiba saya numpang keren di tabloid POSMO? Nah itu dia, saya juga bingung, hehe. Akhirnya, pada 26 bulan sebelas 2011 kemarin saya membeli tabloid yang dimaksud.

Tabloid POSMO sudah ada di genggaman saya. Dan benar, ada potret diri saya (bersama seorang rekan) di sana. Tepatnya di POSMO edisi 653 halaman 29, rubrik jelajah. Tulisan berjudul SIWIL MAKHLUK MISTERIUS.

Apakah ada yang salah?

Iya benar, ada 7 poin yang membuat saya merasa tidak nyaman. Dan saya benar benar butuh ruang klarifikasi.

27.11.11

Gurindam Pada Bulan Sebelas

27.11.11
Kenapa ya kok saya kesulitan bikin gurindam
Tak henti memikirkannya hingga larut malam

Padahal yang ingin saya sampaikan hanyalah
Selamat Tahun Baru 1433 Hijriyah

Sebelas hal terbaru tentang saya dan keluarga



Pasangan Bulan Sebelas


1. Saya masih baru belasan hari berkeluarga

2. Beristrikan seorang blogger

3. Dan itu membuat saya bahagia

4. Lebih bahagia lagi, pernikahan kami dihadiri oleh Komandan BlogCamp

5. Pernikahan kami dilaksanakan pada 15 Bulan Sebelas 2011 pukul 19.45 WIB

6. Pada pukul 19.00 - 19.30 WIB, hujan turun dengan derasnya disertai angin dan blitz alami

7. Sanak saudara yang ada di dapur, beberapa dari mereka menitikkan air mata

25.11.11

Masih Tentang Sebelas

25.11.11
Dapat pe er dari dua orang bidadari, Kakak Akin dan Mbak Meilya Dwiyanti. Tentang sesuatu yang serba sebelas.

Pertama tama yang harus saya lakukan adalah menyebutkan sebelas hal tentang saya. Baiklah, ini dia sebelas hal tentang diri saya.

Nomor satu sampai sepuluh : Saya manten anyar, haha ..

Yang nomor sebelas : Hari ini saya lagi bahagia soalnya dapat kiriman dari Amel di BauBau, Sulawesi Tenggara. Mamanya sendiri yang mengantarkan. Maklum Amel kan sekota dengan saya. Lho kok saya malah curhat ya? heeee...

Udah, itu kesebelas poin tentang saya. Semoga tidak ada yang protes. Sekarang waktunya menjawab pertanyaan. Saya komentari yang dari Kakak Akin dulu ya.


Sebelas Pertanyaan dari Kakak Akin

1. Apakah tujuanmu menulis di blog? Hanya karena ingin menulis.

2. Lebih suka postingan panjang atau pendek? Alasannya? Tergantung. Kadang kadang suka nulis panjang kadang juga sangat pendek sekali. Tergantung kemana hati membawa.

23.11.11

Suka Duka di Bulan Sebelas

23.11.11
Dibawah ini adalah sebuah lagu teristimewa untuk istri saya, Zuhana apikecil. Berjudul Mahar Hidupku. Dan benar benar saya jadikan mahar untuknya.

Dan untuk Mas Mungki Krisdianto (gitarisnya tamasya band) yang sudah support habis habisan pada lagu ini, maturnuwon brade. Selamat juga atas kelahiran putra pertamanya, tadi pagi pukul lima. Selamat menjadi Bapak.

MAHAR HIDUPKU

Saat ini tlah kutemukan arah hidupku
Bersamamu di sini menemani aku

Kehadiranmu meluruhkan resah hatiku
Aku jadikan dirimu perempuanku

Reff :

Jadikan aku lelaki di hatimu
Biarkan aku menemani hidupmu
Dan bersamamu..


Jadikan lagu ini sbagai mahar dariku
Dan tulus kuucapkan lirik ini untukmu

Berikanlah kesempatan pada kata
Untuk mengikat janji kita berdua

Reff :

Jadikan aku lelaki di hatimu
Biarkan aku menemani hidupmu

Dan bersamamu aku habiskan waktu
Hanya denganmu.. tetaplah disampingku


Catatan

Sangat sulit untuk menceritakan tentang pernikahan saya kemarin. Entahlah, mungkin karena tulisan Pak De Cholik (yang berjudul Kala Suara SAH Berkumandang)sudah sangat cukup mewakili.

Mungkin juga karena saya turut berduka atas meninggalnya seorang sahabat blogger (meskipun kami tidak pernah saling berkunjung).

Itulah kenapa pada postingan kali ini saya hanya akan memaparkan cerita dalam bentuk lagu saja. Semoga dirasa lebih fresh.

Mari kita sediakan waktu untuk menghaturkan doa pada Almarhumah Yusnita Febri.

Bagi sahabat blogger yang ingin mendengarkan lagu ini, monggo. Dipersilahkan merapat di SINI. Terima kasih.

19.11.11

Kok Bisa Ya

19.11.11
Edisi Merem Bersama


Para lelaki ini, mereka semua sedang memejamkan mata. Kok bisa ya?


Catatan

Padahal yang pengen saya tulis panjaaaaang. Tapi lha kok ndilalah endingnya cuma posting foto merem, hehe.

Saya juga ingin bercerita tentang Pak De Cholik. Tentang Bu De, tentang keramahan mereka, tentang kesan pertama saat bertemu Pak De dan Bu De. Tentang semuanya. Juga tentang doa doa dari banyak sahabat blogger.

Ah, semoga besok saya bisa menuliskan semuanya.


Keterangan Foto

Dari kiri ke kanan. Bapak mertua, saya, istri saya (jiahahahaha), dan Bapak saya.

16.11.11

Posting di Malam Pertama

16.11.11
SAH..!


Ada begitu banyak doa
Dan aku mengikatnya menjadi sebuah cinta

Para sahabat blogger tercinta..
Terima kasih terima kasih dan terima kasih

11.11.11

Sebuah Dongeng : Brad & Pitt

11.11.11
Alkisah pada suatu masaa, hiduplah seorang pria bernama Brad. Dia berperawakan kurus tapi hatinya digemukkan oleh keceriaan. Brad baru saja menikahi seorang perempuan mungil bernama Pitt. Dia adalah gadis yang apa adanya. Tapi senyum Pitt tak semungil tubuhnya.

Brad dan Pitt, mereka seperti kepingan puzzle yang saling melengkapi...

Hari demi hari mereka lewati dengan senyum yang ceria. Bahkan hari yang menyebalkan pun mampu mereka lewati dengan tanda titik dua dan kode kurung tutup di belakangnya. Itulah mereka, pasangan yang kadang kadang terlihat aneh. Bagaimana tidak aneh? Tuhan menciptakan segalanya berpasangan seperti logo yin yang, tapi mereka memilih untuk melewati satu jalur saja.

Hingga pada suatu hari mereka disadarkan oleh tatapan orang orang di sekitar mereka.

"Pitt, ada yang salah dengan kita", kata Brad. Dia mengucapkan itu pada istrinya di suatu malam yang manis. Pitt menggeleng. Bradd mengulangi kata katanya. Sa'at Pitt kembali menggeleng, sa'at itu juga Brad mengulang ucapannya. Masih dengan kata kata yang sama.

"Kalau tidak ada yang salah, kenapa harus ada tatapan tatapan yang seperti itu?"

Pitt diam demi mendengar ucapan suaminya. Dengan lemah dia akhirnya bersuara, tak lagi menggeleng seperti yang beberapa kali dia lakukan sebelumnya.

"Lalu apa yang haru kita lakukan?"

Brad tersenyum. Tak lama kemudian dia menjawab sebaris tanya itu.

"Kita harus seperti keluarga normal lainnya"

Ingin sekali Pitt mengejar pernyataan itu dengan sebuah tanya. Tapi urung. Pitt keburu tersenyum. Itu membuat Brad tidak punya pilihan lain selain melanjutkan kata katanya.

"Kita harus bertengkar, karena memang harus seperti itulah sebuah keluarga".

Tidak berhenti sampai disana, Brad terus melanjutkan celotehnya. Dia memberikan contoh dengan apa yang telah ia dengar dan lihat, pada kehidupan para tetangga, handai taulan, dan orang tuanya sendiri.

Adegan yang sebelumnya mereka lakukan kini terulang kembali. Brad nyerocot dan Pitt menggeleng.

Tiba tiba keadaan menjadi di luar kendali. Gelengan Pitt semakin mantap, berpadu dengan volume suara Brad yang semakin meninggi.

Kemudian..

"Bruwaaaakk..!"

Sekuat tenaga Brad membanting hp yang letaknya sangat dekat dengan jangkauan tangannya. Sangat sempurna. Hp yang terpecah berai itu bukan hanya berhasil melukiskan ledakan emosi Brad, tapi juga sukses membatik hati Pitt yang berkeping keping.

Bisa ditebak, detik selanjutnya yang ada hanya krsunyian. Itu adala sa'at dimana kita bisa mendengar degup jantung kita sendiiri tanpa harus memiliki indra keenam.

Deg.. Deg.. Deg..

Sunyi. Sunyi sekali. Dan terasa lama...

Siapa yang akan menyangka bila kesunyian yang sepanjang rel kereta api itu menguap begitu saja hanya karena Brad dan Pitt saling memandang? Ya, bahkan sutradara sekaliber Hanung Brahmantyo pun tak mungkin berani memberika prediksi yang serupa itu. Dua pasang mata yang berbeda aura (antara sepasang mata beraura air dan yang sepasang lagi beraura api) beradu pandang, kesunyian pun muksa.

Tak ada lagi mata yang membara, tak ada lagi mata yang berair. Tinggalah kini yang ada hanya gelak tawa. Tidak dimulai dengan senyum senyum kecil. Gelak hadir begitu saja tanpa butuh pembuka.

Tentu saja Brad tergelak sa'at tiba tiba menyadari bahwa dia telah belajar bagaimana seharusnya marah. Pun begitu dengan Pitt. Ini adalah tangisan perdana dalam sejarahnya sebagai seorang istri.

Indah sekali. Brad dan Pitt akhirnya berhasil belajar menciptakan sebuah pertengkaran sekaligus belajar menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai.

2.11.11

Hati Hati Film Korea Itu Candu

2.11.11
Keluarga Bulan Sebelas


Nonton rame rame


Maaf paranetter, saya mau istirahat dulu. Soalnya lagi sibuk nonton film korea, hahahaaa...

Salam 사랑

1.11.11

Surat Kaleng Buat Amel : Djember

1.11.11
Hai Mel..

Ini udah hari ketiga aku mikirin mau nulis surat kaleng buat kamu. Bingung. Rasanya susaaaah banget. Padahal kan aku cuma pengen nulis surat. Padahal kan harusnya suka suka.

Hmmm, bikin judulnya aja rasanya susah. Bagaimana kalau aku bercerita saja tentang Djember? Kan suka suka aku, hehe..

Okelah.. aku mulai ceritanya..

Kabarnya, kota kecil ini dulu hanya berupa hutan lebat dan berawa. Nggak ada peradaban. Itu bertahan sampai orang orang Londo masuk ke Jawa lho Mel. Yang ada malah peradaban di samping kiri kanannya. Di sebelah utara ada Afdeling Bondowoso, sebelah satunya lagi ada Lumajang (ini adalah kota tua).

Berarti dulu Djember sepi dong?

Sepertinya sih begitu. Siapa yang betah tinggal di hutan berawa. Kalaupun ada yang mencoba, dia harus bisa bertahan hidup dari ancaman binatang buas, ganasnya hutan, incaran malaria, wabah kolera dan masih banyak lagi.

Djember hanyalah lahan ekstim yang ganas belaka. Katakanlah Djember adalah sebuah mahluk, dia tidak akan pernah tahu tentang apa yang terjadi di luar sana. Tentang penemuan penemuan. Tentang telephone, tentang lampu, dan tentang semuanya. Dan itu bertahan hingga awal abad 19.

Sampai pada akhirnya..

31.10.11

Pengalaman Pertama Tenggelam

31.10.11
Lagi lagi, saya akan mengajak anda untuk memasuki lorong waktu menuju masa kecil. Udah siap? pegangan yang erat ya. Soalnya kita akan berpindah ke dimensi cahaya.

Satuuu.. Duaaaa.. Jreeeeeeng...

Dulu sekali, waktu tinggi saya kira kira sepusar orang dewasa, saya mengalami sesuatu yang dahsyat. Dan ini adalah pengalaman pertama. Apakah itu? Ya benar, sesuai dengan judulnya, saya kedelep tenggelam di sungai.

Nama sungainya bedadung. Letaknya nggak jauh dari tempat saya tinggal. Hanya butuh menyeberang jalan depan rumah dan jalan kaki kurang dari lima menit. Kabar baiknya, posisi sungai belum berpindah sampai sekarang, haha..

Bagaimana ceritanya saya bisa tenggelam?

Namanya juga anak kecil. Lihat tetangga dewasanya akan pergi mancing, saya keplayon alias pengen ikut juga. Akhirnya bergabunglah saya dengan sekumpulan orang dewasa yang semuanya membawa senjata penakluk ikan.

Setiba di sungai, semua masih baik baik saja. Sampai akhirnya saya tahu, mereka para orang orang dewasa itu mancingnya di sungai seberang. Huwaaaaaa... Bagaimana saya bisa ikutan, lha wong yang dewasa aja nyeberangnya pake acara berenang.

Salah satu dari mereka berkata, "Kamu diam di sini aja ya dek, kalau capek pulang sendiri.."

Saya manut saja. Mau bagaimana lagi, saya nangis ginjal ginjal pun mereka akan tetap menyeberang. Akhirnya saya menikmati kesendirian dengan berlatar belakang pohon bambu, bermusik aliran air dan nyanyian dedaunan yang bergesakan. Mata ini tak henti menatap iri sungai seberang. Bagi seorang bocah seperti saya, mereka adalah gambaran ideal dari sebuah keceriaan.

Saat nyamuk mulai hadir, kejenuhan melanda, tapi tak terbersit sedikit saja keinginan untuk pulang sendiri (karena pulangnya harus lewat kuburan), pengen ikutan nyeberang tapi takut, (lagipula waktu itu saya nggak bisa berenang), saat itulah saya melihat ada peluang datang. Ya, dengan sangat jelas kedua mata ini memandang batang pohon pisang yang mengambang di atas air, bergerak mengikuti arus. Dan itu membuatnya semakin dekat ke arah saya.

30.10.11

Permainan Yang Aneh : Berburu Selongsong Peluru

30.10.11
Pinggiran kota kecil jember, disanalah saya menghabiskan masa kecil dengan segala ceritanya yang manis. Hampir semua permainan yang ada di masanya, saya juga mengalaminya. Mulai dari mainan kelereng, layang layang, gobak sodor, bentengan, dan semua permainan kolektif lainnya.

Saya yakin, masa kecil sahabat blogger juga kaya permainan. Bahkan mungkin lebih kaya lagi. Bisa jadi kita punya permainan yang sama tapi beda nama dan sedikit berbeda aturan mainnya.

Ada permainan yang mengikuti musim, misalnya layang layang. Ada juga yang bisa dilakukan kapan saja. Dan ada satu lagi. Permainan yang hanya ada di suatu daerah, mengikuti tempat dan kebiasaan lokal. Nah yang terakhir inilah yang ingin saya ceritakan.

Kami Bocah Bocah Sekitar Taman Makam Pahlawan

29.10.11

Endorsement for Abi Sabila

29.10.11
acacicu endorsement


Benar adanya bila ada yang berkata sederhana itu indah. Saya mendapatinya di tulisan tulisan Mas Abi Sabila..

(Masbro, blogger dan pencipta lagu)

Artikel ini pernah diikutsertakan pada Endorsement for Abi Sabila

27.10.11

Kepada Bang Iwan

27.10.11
Assalamualaikum

Bang..

Ini adalah entah surat yang keberapa kalinya yang coba saya tuliskan. Sebelumnya, saya sudah menuliskan sesuatu. Panjaaaaang sekali. Tapi ya kok rasanya nggak pas. Seperti ada yang kurang. Tapi saya nggak tahu di bagian manakah letak kekurangannya. Mungkin, karena terlalu berbelit belit. Ya, itu dia kemungkinan yang paling mungkin.

Bang Iwan..

Sebenarnya saya hanya ingin menulis seperti ini. Bahwa saya hanya ingin menulis surat pada Bang Iwan. Nah, itu dia yang sangat ingin saya tulis dan sampaikan.

Saya menuliskan surat ini bukan karena saya penggemar berat karya karya Bang Iwan (meskipun begitu, saya sangat menaruh hormat pada proses yang Bang Iwan jalani). Saya bahkan hanya hafal beberapa lagu Bang Iwan. Bisa dihitung dengan jari.

Tidak demikian dengan calon istri saya. Hampir semua lagu lagu Bang Iwan dia hafal. Dialah satu satunya alasan kenapa saya menuliskan ini.

Pada pertengahan bulan sebelas nanti kami akan mengikat janji. Mohon sambung doanya.

Terima kasih Bang. Sampaikan salam saya buat keluarga di rumah.

Wassalam


Catatan

Butuh persiapan berhari hari untuk menuliskan ini. Dan tentu saja butuh bergelas gelas kopi.

Tadinya saya membayangkan bahwa ini akan sangat panjang. Tadinya begini tadinya begitu.

Tadinya saya seperti seseorang yang sedang berdoa, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan. Bagaimana Tuhan akan mengabulkan doa mahluk Nya yang tidak tahu dengan keinginannya sendiri?

Alhamdulillah, akhirnya saya tahu apa yang harus saya tuliskan.

Ternyata yang saya inginkan hanyalah sederhana saja. Hanya ingin menulis surat yang seperti ini. Hanya ingin berkomunikasi. Dan yang lebih penting lagi, saya sudah memenuhi keinginan seseorang yang sangat ingin saya melakukan ini.

26.10.11

Mencoba Mengingat Saat Saat Itu

26.10.11
Entahlah, aku tidak ingat tanggal berapakah tepatnya aku mengenalmu. Yang aku ingat hanyalah sebuah bilangan tahun. 2004. Mungkin di bulan ke enam, atau ke tujuh, atau ke delapan, atau bisa jadi bulan kesebelas. Entah. Aku benar benar tidak bisa mengingatnya.

Tapi aku masih sangat ingat tentang dirimu yang dulu. Tentang warna kerudung yang kau kenakan. Kau tampak lucu dengan kerudung putih yang berenda itu. Hmmmm, semakin terlihat bulatlah wajahmu. Apalagi, saat itu kau masih mengenakan kaca mata berframe bulat, persis seperti kacamata milik yang terhormat Mahatma Gandhi.

Saat itu sore hari, aku sedang ada di depan sekretariat pencinta alam. Hujan baru saja mengguyur apa saja yang bisa diguyur. Jejaknya mudah terlihat di ujung dedaunan dan di atas tanah yang tak lagi beraroma. Menandakan itu bukan hujan pertama. Apakah saat itu kita sedang ada di november rain?

Oh tidak, aku tidak akan lagi mencoba mengingat kapankah itu. Baiklah, akan aku teruskan saja kisah ini.

Di saat sedang nikmat nikmatnya menikmati suasana segar di sore itulah aku melihatmu. Engkau berjalan tak jauh dari tempat aku membuat api unggun. Biasa saja caramu berjalan, tidak seperti harimau lapar. Kau benar benar sangat sederhana dan benar benar sangat tidak mencuri perhatian. Ya benar, aku tidak mengada ada.

Seorang perempuan yang tidak semampai, yang terlihat sama seperti perempuan perempuan pada umumnya, yang tidak secantik perempuan perempuan di cover sebuah majalah, yang cara berdandannya apa adanya, bagaimana bisa aku akan memperhatikannya?

Tak pernah terpikir olehku, bahwa beberapa waktu kemudian (dengan jarak waktu yang cukup lama) engkau sukses menjadi medan maghnet di hatiku. Sekarang kau boleh mencibirku. Tapi mau bagaimana lagi, memang beginilah adanya. Engkau benar benar seperti memiliki mustika ratu lebah. Jikapun aku memiliki ribuan hati, tetap saja akan mengerubungi pesonamu. Ibaratnya engkau adalah sebuah sinar yang terang, dan hati ini adalah serangganya.

24.10.11

Harusnya Kau Tahu

24.10.11
Harusnya Kau Tahu
Harusnya kau tahu
Tentang isi hatiku
Yang telah lama
Kuberikan kepadamu

Dan harus kau tahu
Aku hanya tak bisa
Mengungkapkan cinta
Seperti itu

Reff :

Seandainya bisa
Kutulis namamu
Di dalam hatiku

Seperti menulis
Di atas
Semen yang basah


Catatan

Di record pada 21 - 22 Oktober 2011 di GARASI Record. Terima kasih saya ucapkan buat Mas Mungki Krisdianto. Tengkyu lagunya.

Dan untuk paranetter yang barangkali ingin sekedar mendengarkan (atau download), bisa berkunjung di SINI.




Salam Bulan Sebelas...

20.10.11

Story Pudding : Pada Bulan Sebelas

20.10.11
Pada Bulan Sebelas

Kemarin aku merubah nama di jejaring sosial facebook. Yang tadinya kunamai dengan Masbro Acacicu, berubah menjadi Masbro Pada Bulan sebelas. Dan engkau pun berbuat sama. Sama-sama menorehkan kata Pada Bulan Sebelas di belakang nama online-mu.

Aneh, rasanya sangat menyenangkan. Seperti ada sedikit sensasi gila yang menyertainya. Pantas saja anak-anak yang lebih muda dari kita senang dengan nama yang unik semacam itu. Ternyata begitu ya rasanya.

Kemudian efek samping yang tidak pernah aku dan kamu pikirkan sebelumnya pun menghunjam. Pertanyaan datang dari segala arah. Sebenarnya pertanyaannya tidak sebanyak itu, tapi memang benar benar datang dari segala arah.

“Apakah pada bulan sebelas? Tanggal berapakah tepatnya? Mana undangannya? Di gedung manakah itu? Bla bla bla..”

Ah, ternyata lemot itu penyakit menular ya. Padahal kan.. Ah sudahlah. Biarkan saja aku lemot, kurang perhitungan, atau apalah namanya. Kadang-kadang sesuatu akan lebih menyenangkan bila tanpa direncanakan dengan matang. Akan ada banyak kejutan kecil yang menanti kita di sana.

Tentang pertanyaan-pertanyaan yang datang, itu memang murni kecerobohanku. Aku begitu saja mencantumkan nama Pada Bulan Sebelas tanpa pernah berpikir itu akan menjadikannya tanya yang semakin lama semakin menggelinding, seperti bola salju kecil yang meluncur dari atas bukit es.

Kita biarkan saja. Lagi pula aku tidak benar-benar menjawabnya dengan jawaban yang mereka ingin dengar.

Satu Bulan Sebelumnya

Aku menciptakan sebuah lagu. Kau tahu, lagu ini teristimewa hanya untukmu. Judulnya, pada 10 September. Sebuah lagu yang direcord pada 9 September dan berakhir pada 10 September dini hari, dan menceritakan sesuatu yang akan aku lakukan di 10 September.

Cerita yang panjang, tapi aku mencoba sekuat tenaga untuk merangkumnya dalam satu lagu saja.

Bukan cerita di balik lagu yang ingin aku tuliskan di sini. Tapi tentang judul lagu tersebut. Aku sendiri yang membuatnya. Dan menurutku, itulah judul yang paling pas. Paling bisa melukiskan sebuah momen. Akan tetapi.. Kau masih ingatkan tentang pertanyaan pertanyaan yang mengalir itu?

Ada apa di 10 September kemarin? Kata beberapa kawan. Tentu saja aku hanya bisa menjawabnya dengan senyum.

4.10.11

Batikkan Hatimu

4.10.11

Batikkan Hatimu

Saya tahu, harusnya foto di atas saya ikutkan di kuis batikkan harimu pada 2 Oktober yang lalu. Tapi saya malu mengakui bahwa itu adalah satu satunya situasi dimana saya menggunakan batik (Ohya, saya lupa menceritakan bahwa baju batik itu saya pinjam dari Bapak saya sendiri, hehe).

Dan sekarang kuis dan Hari Batik telah berlalu. Ya saya tahu itu. Tapi terlepas dari semua itu, saya ingin mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggeranya kuis yang cerdas (dan sangat Indonesia sekali) tersebut. Salut...!

Biar lambat asal terucap. Selamat Hari Batik. Semoga batik tidak hanya melekat pada fashion saja, tapi juga melekat di hati.



Catatan Tambahan

Foto diambil pada 25 Juni 2009, di pernikahan Brade Mungki Krisdianto tamasya band beserta yang tercintanya, Nurlaily.

30.9.11

Kopi Rasa Rindu

30.9.11
Tiba tiba saya seperti tidak punya waktu untuk sekedar menulis sesuatu di blog yang cantik ini. Hahaha, padahal saya tidak sesibuk itu. Hanya saja, beberapa hari belakangan ini saya memang menghabiskan waktu dengan bersiul siul bersama tamasya band.

Ternyata acacicu blog itu selayaknya bidadari ya. Sama sama cantik, sama sama saya rindukan senyum manisnya.

Tinggal dua hari lagi..

Malam ini masih ada sesi latihan (semacam gladi resik), dan lusa saya akan bersiul kembali bersama kawan kawan tamasya. Setelahnya, tentu saja akan ada waktu untuk bersantai ria. Menggerakkan jari jemari merangkai kata sambil sesekali menyeruput kopi buatan eng ing eng.

Paranetter, selamat menikmati ujung bulan September..


Catatan Tambahan

Dirgahayu untuk blognya Kang Lozz Akbar. Tetaplah berkarya dan berdansa dengan pena,.apapun yang terjadi.

Satu lagi Kang. Katanya Hanna, hidup bukanlah gladi resik. Hiyahaha, gak nyambung yo?

Pokoknya selamat Kang. Semoga tambah essip dan didekatkan jodohnya, Amiiiiin.


Masih Catatan tambahan

Sebegitu rindunya saya dengan paranetter semua, sampai sampai kopi yang saya seruput sekarang ini menjelma rasa, menjadikannya sebuah kopi rasa rindu.

21.9.11

Melodi Rindu

21.9.11
MELODI RINDU
Kutitipkan rindu ini
Pada bisikan melodi
Semoga terbawa angin
Dan sampai di hatimu
Di hatimu

Reff :

Kubayangkan wajahmu merona rona
Didansai sang angin

Dan kuharap hatimu berbunga bunga
Dibungai irama

Melodi..
Nada nada cintaku
Nada nada rinduku
Padamu...
*****
Di atas adalah lirik lagu dangdut yang saya ciptakan lima belas bulan yang lalu, dan dinyanyikan oleh seorang kawan. Saya biasa memanggilnya Pay. Dia menyanyikannya dengan sepenuh hati. Jika kebetulan ada diantara anda yang suka pada aliran musik dangdut, tidak ada salahnya untuk sekedar mendengarkan suara cengkok kawan saya ini.

Anda bisa mendownloadnya (atau sekedar mendengarkan saja), silahkan klik judul ini, MELODI RINDU.


Sedikit Tambahan

Alhamdulillah, tak terasa setahun sudah saya berproses kreatif di blog acacicu ini. Terima kasih buat paranetter semua. Dari andalah saya banyak belajar tentang apa saja. Sekali lagi, terima kasih atas sepenggal doa dan cintanya. Salam penuh kasih..

12.9.11

Pada 10 September

12.9.11
Ini tentang lagu terbaru saya. Judulnya, pada 10 september. Sebenarnyalah, ada banyak cerita di hari tersebut. Dan saya ingin merangkumnya dalam sebuah lagu. Dan tentu saja, membagikan kebahagiaan kecil ini pada paranetter tercinta.

Lirik Lagu Pada 10 September :

Pada 10 September

Aku tidak sedang memejamkan mata
Dan aku tahu harus bagaimana

Bunga..
Inilah aku apa adanya
Dan saat kukatakan padamu
Maukah kau menemaniku?

Engkau tersenyum manis semanis manisnya..

Laki laki mana yang tak bahagia
Memandang rona merah wajah cintanya
Di wajah cintanya...

Aku hanya ingin bicara sebenar benarnya
Bukan yang seindah indahnya

Aku hanya ingin bernyanyi sejujur jujurnya
Bukan yang semerdu merdunya

Aku hanya ingin saat bangun pagi nanti
Kau ada di sini
Benar benar ada bukan hanya mimpi

Aku hanya ingin engkau menemani aku
Lebih dari itu
Jadilah cahaya kecil di hatiku..



Lagu ini direcord pada 9 September 2011, dan selesai pada dini hari tanggal 10 September 2011.

Di hari yang sama (selang dua jam kemudian), saya sudah ada di atas kereta api menuju suatu tempat untuk bersilaturrahmi.

Saya sendiri yang mencipta dan menyanyikannya. Sedangkan untuk recording, mixing dan aransemen musik, dibantu sepenuhnya oleh sahabat saya, Mas Mungki Krisdianto.

Seperti biasa, bila anda sekedar ingin mendengarkan (dan mengunduh) lagu ini, silahkan klik judul lagu berikut ini.


PADA 10 SEPTEMBER



Sedikit Tambahan

Aku hanya ingin bicara sebenar benarnya, bukan yang seindah indahnya..

9.9.11

Dua Lelaki Bertopi

9.9.11
Foto di bawah ini diambil pada tahun 2009, saat keluarga tamasya band sedang bertamasya bersama. Berlokasi di sebuah tempat wisata di kota kecil Jember. Biasa disebut dengan nama Pantai Papuma.

Sekilas foto ini tidak memiliki kesan apa apa. Sama seperti foto foto pada umumnya. Namun begitu, sangat berarti buat saya. Bukan berarti tidak ada lagi foto semacamnya.

Sengaja saya memilih yang ini, karena selain ada dua lelaki bertopi, foto inilah yang paling sreg di hati saya.



Ada apa dengan dua lelaki bertopi?

Baiklah, akan saya ceritakan satu persatu akan kedua lelaki bertopi ini. Saya mulai dengan yang bertopi dan berkaca mata hitam.

Namanya Bayu (memang nama sebenarnya). Dia dua tahun lebih muda dari saya. Tidak ada yang istimewa yang ingin saya ceritakan selain pada 28 Agustus 2011 kemarin, dia menjadi seorang ayah dari seorang bayi perempuan bernama Bella Sabrina Alena Putri. Hmmm, padahal waktu kita bertamasya di Pantai Papuma, Bayu masihlah seorang bujang yang bahkan masih belum kenal dengan Faiz, istri tercintanya. Waktu berjalan begitu cepat, dan Bayu berubah di dalamnya.

Ini cerita kedua..

Lelaki di belakang Bayu, yang juga bertopi (warna putih). Kita di keluarga tamasya biasa memanggilnya Modiq. Beberapa tahun lebih tua dari saya.

Modiq seorang lelaki yang baik. Tentu saja dia baik, lha wong dia kan sahabat saya, hehe.. Iya benar, dulunya Modiq adalah seorang petarung jalanan. Hampir semua pemuda di tempat saya mengenalnya. Tapi, dia lelaki yang baik, saya tahu itu.

Ada banyak hal yang saya lewati bersama Modiq, dan ada mimpi mimpi kecil yang saya dan Modiq rencanakan. Namun benar adanya, kita hanya bisa merencanakan, Yang Maha Indahlah penentunya. Hanya dalam hitungan hari saja setelah tamasya bersama di Papuma, Modiq dipanggil oleh Sang Pencipta.

Tentu saja saya kehilangan. Tapi detik terus berlalu, tidak peduli apakah kita sedang sedih atau bahagia. Ya, saya tahu harus bagaimana. Itulah kenapa di album ketiga tamasya band, saya menciptakan sebuah lagu berjudul Untuk Sahabatku.

Kembali pada foto..

Saya tidak sedang mengagung agungkan selembar foto ini. Tapi sebenarnyalah, setiap kali saya memandang foto ini, ada rentetan cerita yang menyertainya. Foto yang sederhana, dengan kisah di baliknya yang tidak sederhana.

8.9.11

Cerita Cinta Untuk Nan

8.9.11
Hai Nan..

Aku ceritakan padamu kisah hari hariku di beberapa waktu terakhir ini. Entah kenapa aku ingin memulainya pada akhir Agustus yang lalu.

Nan, ingatkah kamu saat malam tanggal 29 Agustus kemarin? Saat itu kita kebingungan untuk merayakan Hari Raya Fitri. Masing masing saling menunggu takbir berkumandang. Begitu juga adanya di keluargaku. Apalagi, keluargaku adalah keluarga kecil yang tidak pernah berusaha memutuskan untuk menjadi muslim untuk golongan ini dan itu. Kami semua adalah muslim yang muslim. Tidak ada embel embel lagi di belakangnya.

Aku ada di ruang tengah, hanya berdua saja bersama Bapak. Sama sama sedang mendengarkan musyawarah yang digelar pemerintah (dipimpin oleh Menteri Agama), di sebuah saluran televisi. Di ruang depan panaongan, anak anak sedang berceloteh seperti biasanya. Tentu saja mereka juga sedang menunggu kabar dariku, tentang kapan tepatnya Hari Raya Fitri.

Tiba tiba iif dan indra datang ke panaongan membawa sebuah kabar kecil. Aku masih berdua bersama Bapak saat mereka datang. Lalu, salah satu dari mereka mengabariku akan sesuatu.

Beberapa detik kemudian, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Meraih cangkul, membawa selembar kain yang tak terpakai, dan berangkat menuju tempat yang mereka tunjukkan.

Nan..

Ada seekor anjing mati di pinggir jalan, tak jauh dari rumahku. Dan tidak ada seorangpun yang sudi menguburkannya.

30.8.11

Andai Aku Jadi Acacicu

30.8.11
Dulur blogger di saat beberapa hari ini saya melakukan puasa posting, tiba-tiba saja saya mendapat sebuah pesan singkat melalui ponsel. Sebuah SMS todongan dari empunya Acacicu agar saya menjadi penulis tamu di postingnya yang ke 200. Jadi yo wis berarti sekarang juga saya harus hentikan puasa posting ini, seperti halnya beberapa saudara kita yang kemarin menghentikan puasa karena hari ini mau merayakan lebaran.

Jika berbicara tentang seorang Masbro rasanya saya lupa kapan pertama kali  mengenalnya. Yang saya ingat dulu kami adalah sama-sama menjadi seorang yunior di pencinta alam. Masbro besar di sebuah organisasi pencinta alam kampus yang bernama Swapenka. Sedang saya gede sebagai seorang pencinta alam kampung. Satu dari lingkungan akademi, satunya lagi lingkungan ordinary.  Beda baju tapi satu hati untuk saling berkarya buat bumi.

26.8.11

Acacicu Under Cover

26.8.11
Saya masih ingat saat pertama kali menginjakkan kaki di warnet. Saat itu pertengahan tahun 2005 (saya lupa tanggal berapa tepatnya, maaf). Adalah sebuah keterdesakan yang membuat saya melangkahkan kaki ke sana.

Nama warnetnya Godhong Net, dan saya sedang butuh informasi seputar penembak misterius (atau lebih di kenal petrus) tahun 1983 - 1986. Saya tidak sendirian. Ada seorang sahabat bernama Eka Sukriswandi yang menemani saya. Satu meja untuk dua orang. Itulah pertama kali saya berkenalan dengan mesin pencari.

Tahun berikutnya (2006) saya selangkah lebih maju. Ya ya ya, saat itu saya sudah punya akun sendiri di friendster, hehe. Tapi hanya sebatas punya saja. Tidak lebih dari itu. Saya tidak memanfaatkan jejaring sosial yang satu ini dengan semaksimal mungkin. Demikian pula dengan frienster. Dia tidak berusaha merampas hari hari saya. Dan kehidupan offline saya berjalan apa adanya. Seperti masyarakat pada umumnya.

Sampai pada 2007, keadaan masihlah tidak berubah. Saya masih menikmati diskusi kecil di warung kopi di sudut sudut kota kecil jember. Masih bekerja offline sebagai apapun. Dengan kata lain, pekerjaan saya serabutan alias tanpa status sosial yang jelas (wew, ternyata sampai hari ini status sosial saya masih sulit terdefinisikan, haha..)

Hingga pada awal 2008, sebuah tulisan kecil di sudut kolom koran bekas menginspirasi saya. Ya, koran itu benar benar koran bekas. Saya tidak mengada ada. Tapi tulisannya segera membuat saya terbangun. Lalu teringat akan sebuah mimpi yang sekian lama terpendam di sudut hati.

Tulisan di sesobek koran bekas itu bercerita tentang sebuah media bernama blog. Dan saya jatuh cinta. Adalah sebuah keterlambatan karena saya baru ngeh pada media yang satu ini pada saat orang lain sudah berlari dan berlomba lomba berbagi cerita di blog. Tapi saya tahu, dalam sebuah pembelajaran, apapun itu, tidak ada yang namanya terlambat. Bahkan jika anda baru memulainya hari ini. Sama sekali tidak terlambat. Kata terlambat hanya akan membuat kita terhambat dan tidak segera mencuat.

25.8.11

Jujur Adalah Tidak Berbohong

25.8.11
Kemarin, di jejaring sosial facebook saya menulis sebuah kalimat seperti ini

Menulis lagi.. Meskipun tidak berbobot, tapi mencoba menata tiap tiap hurufnya dengan hati..

Barusan saya membaca lagi kalimat tersebut. Entah kenapa, tiba tiba saja kalimat yang saya tulis sendiri itu sukses mengajak saja berpikir. Tentang sebuah tanya sederhana.

Bagaimana sih cara menulis dengan hati?

Saya juga masih belajar menuju kesana. Dalam artian, saya selalu berusaha menuliskan sesuatu yang benar benar pernah saya lakukan. Tidak mengada ada.

Seperti yang pernah kawan saya katakan. Jujur adalah tidak berbohong. Ya benar sekali, jujur adalah tidak berbohong. Sesederhana itu saja. Meskipun dalam prakteknya, kadang sesuatu yang simpel itu tiba tiba berubah menjadi rumit. Penyebabnya macam macam. Dan saya rasa, kita bisa menalarnya sendiri tentang itu.

Paranetter, saya ingin menulis dengan hati. Ingin jujur dan tidak mengada ada. Ingin tetap seperti ini, hidup dalam kesederhanaan yang tidak mengandung kata bohong. Doakan semoga saya selalu bisa menjalaninya. Amin Ya Robbal Alamin.


Catatan

Tidak ada maksud lain dari tulisan ini selain hanya karena terinspirasi oleh sebuah kalimat sederhana. Jujur adalah tidak berbohong.

24.8.11

Baju Dari Sebuah Lagu

24.8.11
Kemarin di tulisan saya yang berjudul ketinggalan kereta, saya menceritakan tentang kiriman dari Mbak Nia. Sebuah baju yang keren. Sayangnya kemarin saya belum bisa menyertakan foto baju tersebut. Itulah kenapa sekarang saya menyempatkan diri untuk memposting tulisan ini. Padahal cuma mau pamer foto baju baru, haha..

Ohya, ini sedikit ceritanya. Baju tersebut saya dapatkan lantaran turut berpartisipasi di kontes blogger bakti pertiwi. Alhamdulillah nama saya nyantol sebagai peserta cinta tanah air dengan wujud nyata.

Sebuah lagu, itu adalah judul tulisan yang saya ikut sertakan

Lokasi di Panaongan



Nah itu dia baju barunya. Langsung saya pakek, hehe.. Yang membuat potret di atas semakin terlihat istimewa, karena dipotret dengan kamera baru, uhui.

Paranetter masih ingat tulisan saya yang menceritakan tentang seorang teman yang kerampokan? Anda bisa membacanya di postingan saya yang berjudul, Kawan saya kerampokan dan dia masih tersenyum. Alhamdulillah, sekarang dia sudah bisa membeli kamera baru.

Hmmm.. cukup itu dulu tulisan ringan saya kali ini. Salam merdeka, mohon maaf lahir dan bathin..

Ketinggalan Kereta

Alhamdulillah, akhirnya ada waktu lagi untuk menulis di acacicu. Mohon maaf, beberapa hari ini saya tidak bisa berkunjung ke rumah maya paranetter sekalian. Lagi sibuk bergulat dengan urusan perut haha..

Hmmm.. nulis apa ya enaknya? Udah terlalu lama ketinggalan kereta, jadi bingung mau memulai kembali.

Ohya, dua hari yang lalu saya mendapat kiriman sebuah paket dari panitia kontes blogger bakti pertiwi. Sebuah baju yang keren. Senang sekali menerimanya. Terima kasih Mbak Lidya, Mbak Nia, dan Pak De Cholik.

Istimewa untuk Pak De Cholik, selamat Hari Jadi (23 Agustus) nggih De. Semoga selalu dalam lindungan Yang Di Atas, Amin Ya Robbal Alamin.

Nah, berhubung saya ketinggalan kereta, jadi pendek aja tulisan saya.

Saya mau nongkrong di warung blogger dulu ah. Menikmati secangkir kopi di dini hari sambil pasang mata pasang telinga, hehe..


Sampai di sini dulu teman teman.. MERDEKA...!

13.8.11

Pulang

13.8.11
Berbahagialah bila kita masih bisa memaknai sebuah kata bernama pulang. Saat ini, di belahan bumi yang lain, saya yakin masih ada seseorang yang kesulitan mendefinisikan kata pulang. Tapi saya tidak hendak menceritakan itu. Hanya saja, saya ingin menuntaskan apa yang sudah saya kisahkan kemarin.

Ini tentang saat kepulangan saya tamasya hati ber BMX ria bulan Juni kemarin.

Peta perjalanan :

masbro tamasya hati
Dimulai pada 3 Juni 2011 hingga 15 Juni 2011
Perjalanan pulang :

kapal kartika jawa timur

pulang

Rindu halaman rumah :

turun dari kapal kartika

pulang,tamasya hati,acacicu


Saya pernah menuliskan kalimat yang seperti ini tentang seorang pendaki. Setinggi apapun gunung yang dia daki, tujuannya bukanlah untuk menaklukkan puncaknya, tapi kembali pulang ke rumah dengan selamat.


Catatan

Buat paranetter yang nantinya akan mudik ke kampung halaman, saya doakan semoga perjalanan mudiknya indah. Dan tiba di tujuan dengan selamat, Amin...

11.8.11

Betapa Cantiknya Sumenep

11.8.11
Seperti yang sudah saya janjikan di tulisan sebelumnya, tentang potret tamasya hati, kali ini saya hendak melanjutkan cerita dalam bentuk potret.

Ada yang masih bingung ya perihal potret tamasya hati? Baiklah akan kembali sedikit saya ceritakan.

Begini. Pada tanggal 3 - 15 Juni kemarin saya melakukan perjalanan menuju Pulau Madura, berdua dengan Opic. Dia adalah teman seperjalanan yang asyik. Kami melakukan perjalanan itu dengan (masing masing) mengendarai sepeda BMX.

Ini adalah rute yang kami lewati selama 12 hari (untuk 12 Kabupaten dan 2 pulau kecil yang cantik, Mandangin dan Talango).

Jember - Lumajang - Probolinggo - Pasuruan - Sidoarjo - Surabaya - Bangkalan - Sampang - Pamekasan - Sumenep - Situbondo - Bondowoso - dan kembali ke kota kecil Jember

Dari ke dua belas Kabupaten tersebut, kita berdua (eh berempat ding, sama BMX nya, hehe) mendapat bonus 3 kali tumpangan. Yang terpanjang adalah tumpangan dari keluarga Cak Bazz. Hahaha, iya jelas panjang soalnya kami diantarkan (dan tidak boleh nggowes) ke beberapa tempat wisata di Sumenep. Terima kasih Cak Bazz. Ohya, tentang Cak Bazz, dia adalah kakak saya di organisasi pencinta alam.

Dan tentang judul tulisan ini, saya tidak mengada ada. Kalau anda tidak percaya akan betapa cantiknya Sumenep, silahkan di nikmati foto foto di bawah ini.

Silaturrahmi:

Silaturrahmi ke rumah saudara saya (dari pihak Bapak).

betapa cantiknya sumenep

Di bawah ini adalah saat saya mengunjungi pemakaman Asta Tinggi

sumenep,asta tinggi


Pantai Lombeng:

pantai lombeng

lombeng sumenep


Di Pulau Talango:

Bertemu Keluarga lagi di pulau yang cantik ini. Senangnya.

pulau talango

Senja di pulau talango. Bagamana menurut anda, cantik bukan?

talango sumenep,talango madura senja di pulau talango


Paranetter, itulah foto foto kenangan saya selama ada di Kabupaten Sumenep dan di sebuah pulau cantik bernama Talango. Pulau ini masih masuk Kabupaten Sumenep.

Bagaimana menurut anda, apakah anda sependapat bila saya mempunyai penilaian bahwa Sumenep itu cantik?

Akan lebih terasa cantiknya bila anda menyusuri sudut sudutnya dengan hanya mengendarai BMX. Lebih lambat memang. Tapi dengan lebih lambat, akan ada banyak hal yang bisa anda lihat dengan lebih cermat.


SALAM

10.8.11

Potret Tamasya Hati

10.8.11
Saya tahu, saya masih mempunyai hutang cerita pada paranetter tentang kisah perjalanan saya dari Jember ke pulau garam. Ya, pada bulan Juni kemarin saya melakukan perjalanan Jember - Madura dengan mengendarai sepeda BMX.

Saya tidak sendirian, tapi berdua dengan sahabat perjalanan. Namanya Opic. Dia adalah pribadi yang menyenangkan.

Saya menamakan kisah perjalanan ini dengan istilah tamasya hati. Dan untuk beberapa penggal kisahnya, bisa anda susuri di alamat tulisan yang akan saya cantumkan di bawah ini.

Bertamasya hati ke pulau garam



Potret Tamasya Hati

Dan ini dia foto foto yang belum sempat saya upload. Semoga bisa mewakili kata kata untuk menceritakan apa yang belum sempat saya kisahkan.

Sengaja saya tampilkan dalam bentuk spoiler agar lebih menyederhanakan ruang. Silahkan anda klik mana yang sekiranya ingin anda lihat. Semoga bisa dinikmati.

Memulai Perjalanan:

jember madura,masbro


Menuju Surabaya - Madura:

perjalanan

Bungurasih,nona acacicu

Foto di atas adalah saat duit kami tinggal 20.000 untuk dua orang, dan masih ada di Bungurasih. Alhamdulillah, Tuhan memang Esa, tapi Dia ada dimana mana. Kami bertemu orang baik (sesama pencinta alam) yang memberi sangu 20.000, mbayarin makan, rokok, dan kebaikan kebaikan tulus lainnya. Ya, akhirnya kami nggak jadi mencari kerja di tengah perjalanan. Pada akhirnya, kami benar benar tidak sempat bekerja apapun, karena Tuhan ada dimana mana.

acacicu 2

Sesampainya di Suramadu, kami harus menerima kenyataan untuk balik arah. Hehe, akhirnya menggowes menuju pelabuhan perak di siang yang terik. Tapi Alhamdulillah, sampai juga akhirnya. Bahagia sekali saat kaki ini menginjak tanah Madura (padahal masih nyampe Kamal). Saatnya mencumbui pulau garam dari ujung ke ujung. Tentu saja dengan pergerakan yang lambat.


Mulai Mencumbui Alam Madura:

Mengunjungi tempat wisata GOA LEBAR di Kota Sampang

sampang acacicu

Gua Lebar,acacicu blog


Di sebuah Pulau Kecil / Mandangin:

mandangin Pulau Mandangin

Photobucket

Senja di Mandangin


Api Tak Kunjung Padam / Pamekasan:

Api Tak Kunjung Padam,Pamekasan

Nona dan Suhadak

Saya, Opic, dan dua BMX kesayangan (Nona dan Suhadak), kembali melanjutkan perjalanan. Ohya, yang motret namanya Hendra Petis. Dia seorang kawan asli Sampang yang menemani kami sesampainya di Sampang. Hebat, kadang Hendra memotret kami saat sedang mengendarai sepeda metic nya yang masih gress.


Foto foto tentang kecantikan Kabupaten Sumenep (dan keanggunan Pulau Kecil Talango) Insya Allah akan saya tampilkan tersendiri. Terima kasih paranetter.


SALAM
acacicu © 2014