31.1.11

Puisi Dasrun

31.1.11
Aku mencarimu di Terminal Tawang Alun
Di gunung kumitir
Di Pelabuhan Ketapang - Gilimanuk

Jembrana
Tabanan
Di sepanjang pulau dewata

Di Padang Bai - Lembar
Hingga di kaki gunung Rinjani

Hanya karena ingin kudengar kau berkata

"Hai Mas Dasrun.."

26.1.11

Seniman

26.1.11
Kapan hari, di acara launching antologi puisi yang diadakan oleh kawan kawan Dewan Kesenian Kampus, nggak nyadar tiba tiba saya terlibat pada sebuah diskusi seni. Diawali dengan sebuah kalimat yang menggugah, diskusi pun mengalir.

Bagaimana membuat karya seni yang baik?

Jujur dan dari hati, itu pasti. Tapi bagaimana caranya? Apakah harus berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam? Hehe..

Paranetter, dalam diskusi tersebut ada sebuah lontaran yang membuat saya senang memikirkannya. Sebuah metode sederhana dalam berkarya yang hanya terangkum dalam tiga poin.

1. Hidup bersama sama
2. Makan bersama sama
3. Bekerja bersama sama

Misalnya, jika kita ingin membuat novel tentang perjalanan hidup seorang pengemis. Apakah kita juga harus bekerja menjalani hidup sebagai seorang pengemis? Tidak juga, meskipun itu lebih baik.

Setidaknya kita bisa menggunakan cara yang lebih mudah. Misal, membelikan pengemis tersebut sebungkus nasi dan berharap ada sebuah perbincangan. Tidak bermaksud menghargai sebuah perbincangan dengan sebungkus nasi, melainkan mengulurkan sebuah persahabatan.

Dari sana timbul harapan akan lahirnya sebuah komunikasi yang se-alamiah mungkin. Juga, menempatkan pengemis sebagai seorang sahabat, bukan sekedar sebagai narasumber. Itu sungguh manis dan humanis.

Kesimpulannya, mencoba nyemplung dalam karya, tapi berusaha tidak tenggelam.

Ini hanya sekedar oleh oleh dari hasil diskusi saya kapan hari.

Ternyata diskusi berlanjut keesokan harinya di sebuah warung kopi. Ngobrol santai. Membahas tentang definisi seniman. Saya yang bukan seniman cuma bisa mlongo.

Setahu saya yang namanya seniman itu punya ciri ciri seperti ini. Rambutnya gondrong, pake topi seperti topinya Pak Ketut pelukis, pokoknya dandanannya nyleneh. Itulah seniman versi saya.

Menurut paranetter, orang yang layak disebut seniman itu seperti apa ya kira kira?


Salam hangat..

24.1.11

Dasrun Dan Lagu Terakhir

24.1.11
Ini adalah cerita sambungan yang diawali oleh Mbak IyHa. Semoga bisa dinikmati..

Lagu Terakhir

Dasrun urung melangkahkan kakinya ke kamar mandi meskipun handuk kecil warna kuning masih melingkar di leher. Yang dia lakukan hanya bersandar di salah satu dinding kontrakannya, pelan pelan merosot lemas, hingga akhirnya ngelesot dengan telapak tangan yang keduanya memegangi dengkul kaki.

Hilang sudah gaji pertamanya. Gaji yang dia peroleh dari aroma toilet kantor. Gaji yang tadinya akan dia sisihkan bukan hanya untuk menyambung hidup, tapi juga untuk menikmati sensasi pasar malam bersama Rama, anak semata wayangnya.

Hmmm.. pasti ada seseorang yang tega mencopetnya saat tadi dia ada di metromini. Dasrun mulai meraba raba ingatannya. Tapi tidak lama.

Sang istri sepertinya pandai membaca keadaan. Dengan senyum yang meneduhkan, dia datang dengan membawa secangkir kopi.

Suasana yang berlangsung kemudian hanyalah keheningan. Sesekali terdengar Dasrun menyeruput kopi buatan istrinya. Sang istri sengaja duduk disamping Dasrun, berharap bisa meredakan kegundahan Dasrun meski hanya diam. Dan suasana pun kembali hening.

Tiba tiba..

"Mas, nyanyikan aku sebuah lagu.."

Tanpa babibu istri Dasrun melontarkan kalimat itu di sepasang telinga Dasrun. Tentu saja Dasrun kaget dan sedikit melotot, seperti tak percaya dengan pendengarannya sendiri.

Disaat dia bingung akan utang yang masih belum terbayar di toko pracangan depan rumah, disaat hatinya galau memikirkan akan beras yang tinggal segenggam, tentang akan makan apa mereka sebentar lagi, istrinya malah memintanya menggenjreng gitar. Anehnya, istri Dasrun mengatakan itu sesaat setelah otak Dasrun telah berhasil menyimpulkan sesuatu. Ya benar, Dasrun akan menjual gitar kesayangannya.

"Mas.."

Hanya satu kata saja yang keluar dari bibir sang istri, tapi itu membuat Dasrun tahu akan apa yang harus dia lakukan.

Masih dengan handuk yang melingkar di leher, dia beranjak menuju tempat dimana gitar kesayangannya bertengger. Tak lama kemudian, Dasrun sudah ada di samping inspirasi hatinya. Dan, jreeeeng...

Satu yang tak dunia tahu
Kau begitu mencintaiku
Tulus memahami.. dan kau mau mengerti hidupku

Satu lagi yang dunia tak tahu
Kau tunjukkan kecantikanmu
Dengan jemarimu.. kau buatkan aku secangkir kopi
Semanis senyumanmu..

Itu adalah lagu terakhir yang sempat Dasrun nyanyikan bersama gitar klasik miliknya. Tak lama setelahnya, Dasrun menyulap gitar kesayangannya berubah menjadi beras, minyak goreng, gas elpiji, krupuk, gula dan kopi. Tak lupa, Dasrun juga menyisihkan beberapa lembar untuk membeli suasana. Ya, Dasrun sudah bertekad akan membeli suasana pasar malam untuk Rama.

"Nak, kalau kau besar nanti, lakukanlah apa yang harus kamu lakukan".

Dasrun membatin dan menaruh sepenggal harapan pada anak semata wayangnya.

Sementara itu, disamping Dasrun, sang istri juga membatin.

"Mas Dasrun, kaulah nada yang sebenarnya.."

Malam berlalu dengan sinar bintang yang bertaburan di keluarga Dasrun. Sayang, bintang enggan menampakkan diri di pagi hari. Suasana tidak semerdu lagu yang semalam sempat Dasrun lantunkan.

Pagi diawali dengan kondisi Rama yang demam. Suhu tubuhnya melonjak antara 38 - 40 derajat celcius. Denyut nadinya melemah.


Dasrun tahu, dia harus melakukan apa yang seharusnya seorang Ayah lakukan. Tapi harus bagaimana?



Bersambung..

Saya mengundang Lozz Akbar untuk berpartisipasi melanjutkan cerita ini.

23.1.11

Tembakau Crispy

23.1.11
Kemarin saya iseng update status di facebook : Sebutkan macam macam sugesti tentang rokok. Lha kok ndilalah laris komentar. Beberapa diantaranya lucu lucu.

Nikmat rokok bagai nikmat hidup yang kujalani

Rokok bagaikan oksigen yang mengalir dalam aliran darah di otakku yang suatu saat harus dibersihkan

Bikin otak jadi encerrrrrrrrrr...sampe mancurrrrrrrrrrr!!!

Merokok karena patah hati..dan tidak akan berhenti merokok jika patah hati lagi... hahaha
Komentar di atas ditulis oleh empat cewek cantik lho.

Ada juga komentar paling bawah sendiri (masih dari seorang cewek) yang dengan lugas menuliskan seperti ini.


Rokok bikin pusing yang menghirup asapnya, mengakibatkan misuh misuh karena gak dimati2in!

Jika saja tembakau bisa diolah menjadi keripik, peyek, crispy, agar agar, atau makanan ringan yang populer, hmmm... alangkah indahnya.

21.1.11

Tentang Saya Dan Harimau Jawa

21.1.11
Setelah berlelah lelah mengotak atik kolom statis di media wp, akhirnya saya bisa tersenyum. Kolom about me telah tuntas saya edit, cihuiii..

Paranetter tercinta, saya akan senang sekali jika anda singgah barang sejenak memberi cap jempol di kolom ABOUT SAYA.

Sebagai ucapan terimakasih, akan saya nyanyikan sebuah lagu istimewa untuk anda. Judulnya, Harimau Jawa. Jrieeeeeng..

Harimau Jawa

Dalam gelap malam ini
Ku sendiri menatap bintang
Hanya berteman
Kicau serangga bernyanyi

Tak sekejap pun terdengar
Auman harimau jawa
Biar menandakan
Alam masih ada cinta

Reff :

Mana cerita terindah itu
Mana mana..

Kejantanan dalam kelembutan
Mana mana..

Share : Harimau Jawa

19.1.11

Saya Adalah Perokok Kelas Berat

19.1.11
Sekedar info, saya adalah perokok yang alangkah hebatnya. Kalau istilahnya orang di daerah saya, ngebbes alias dalam sehari bisa habis berpuntung puntung rokok. Apalagi kalo pas lagi bikin lagu. Wah, jangan ditanya deh.

Anehnya, saya tetep nekad pengen ikut berpartisipasi di kontesnya Kakaakin. Padahal jelas jelas bertema Aku Ingin Sehat. Wadoh, gimana ini?

Paranetter, saya punya sedikit cerita. Pada awal desember 2010 yang lalu saya ada di tengah hutan TN Meru Betiri sebagai seorang instruktur dalam sebuah pendidikan kepencinta alaman. Dihari ketiga saya sudah kehabisan stok rokok. Padahal acara masih berlangsung tiga hari lagi. Dan anda tahu sendiri bukan, uang tidak lagi memiliki kekuasaan jika kita ada di dalam hutan.

Dari rentang waktu yang pendek tersebut, saya menemukan sebuah titik pencerahan yang panjang.

Bahwa hidup bukan hanya untuk merokok, itu semua juga tahu. Tapi tidak semua orang mengerti jika sebatang rokok pernah menyelamatkan kelopak mata saya dari gigitan lintah. Sebatang rokok seringkali memudahkan saya untuk bersosialisasi dengan orang orang yang baru saya kenal. Dari sebatang rokok saya juga pernah terinspirasi untuk menciptakan beberapa lagu.

Apakah yang saya tuliskan di atas terlihat seperti sebuah pembenaran yang indah? Hehe, tidak penting untuk dibahas. Ada yang lebih penting yang ingin saya sampaikan.

Sampai hari ini saya masih merokok. Tapi kabar baiknya, saya sudah bisa mengurangi konsumsi nikotin dalam jumlah yang ekstrim. Yang biasanya sehari dua sampai tiga bungkus, hari ini saya malah belum ingin membeli sebungkus rokok.

Tidak ada yang memaksa saya untuk begini. Tidak juga karena kontesnya Kakaakin. Semuanya hanya karena saya belajar dari sebuah peristiwa, itu saja.

Dan apakah nanti saya akan benar benar berhenti merokok? Entahlah.

Setiap perjalanan pasti akan berhenti pada sebuah titik. Untuk kali ini saya hanya ingin tetap bisa setia pada proses. Berusaha tidak merokok kecuali pada saat saat yang istimewa.

Namun begitu saya masih memelihara sebuah mimpi. Suatu hari nanti, akan tiba saatnya dimana saya akan memposting sebuah tulisan berjudul, merdeka dari nikotin.

18.1.11

Setia Pada Proses

18.1.11
Tulisan ini lahir beberapa waktu yang lalu, saat saya ngopi dengan seorang sahabat di sebuah warung sederhana.

Suasana yang tadinya riang tiba tiba terhenti sejenak, berganti dengan kekakuan yang merambat. Dan itu semua hanya dimulai dari sebuah ungkapan yang jelas jelas ditujukan pada saya.

Tidak penting bagaimana cara sahabat saya ini menyampaikan ungkapannya, apalagi intonasinya. Yang jelas, tiba tiba dia menyuruh saya untuk hidup disiplin. Tiba tiba dia seperti mengoreksi jadual harian saya. Tiba tiba dia seperti keberatan dengan gaya hidup yang selama ini saya jalani. Hmmm.. tiba tiba saya merasa ditelanjangi di depan secangkir kopi.

Pada akhirnya sahabat saya bersikukuh bahwa saya butuh hidup disiplin.

Seniman yang baik tidak boleh tiba tiba melukis abstrak. Dia harus memulai dari awal sekali. Harus bisa melukis anatomi tubuh dengan sempurna, harus melewati tahap naturalis, harus begini dan begitu. Dan itu semua mustahil terlewati jika tidak didasari dengan yang namanya disiplin.

Itu yang sahabat saya contohkan. Mengibaratkan saya sebagai seorang seniman. Padahal kan jelas jelas saya pencinta alam yang juga blogger baru, hehe.

Ingin rasanya saya ceritakan padanya tentang konsep hidup yang saya jalani. Tentang setia terhadap proses. Ya benar, saya lebih memilih untuk setia pada proses daripada hidup se-disiplin mungkin namun tak berlangsung lama.

Kenapa akhirnya itu semua tidak saya paparkan secara detail pada sahabat saya? Maksud saya, tentang apa itu setia terhadap proses?

Ah, tidak. Ada dua alasan. Yang pertama, sahabat saya ini adalah orang yang sangat baik. Dan saya percaya dia juga menginginkan yang terbaik untuk saya. Alasan kedua, karena saya takut terjebak pada sebuah pembenaran, pada sebuah permainan kata saja. Lha wong aslinya saya ini memang nggak suka disipin kok, haha...

Paranetter, kadang kadang kita tidak suka mendengar apa yang orang lain katakan, padahal kalau ditelaah lagi, itu baik buat kita. Mungkin hanya butuh pengendapan saja. Apalagi jika yang mengkritisi adalah sahabat kita sendiri.

Jadi, apakah kesimpulannya saya akan hidup lebih disiplin lagi? Hehe, tidak juga. Saya akan tetap pada jalur yang saya pilih, setia pada proses. Namun begitu saya sangat berterimakasih sekali pada Tuhan yang telah memberi saya sahabat sahabat terbaik, termasuk para sahabat blogger semuanya.

Paranetter, apakah anda juga memiliki sahabat yang senang mengingatkan? Berbahagialah jika anda memilikinya. Salam persahabatan.

14.1.11

Di Ujung Sadarku

14.1.11
Rasanya baru kemarin
Aku bermain layang layang

Berkhayal terbang merebah di awan
Pulangnya turun lewat pelangi
Dan mengapa baru hari ini
Sadar aku nanti mati..
Reff :
Mungkin aku bisa bohongi dunia
Tapi ku tak bisa membujuk usia

Dengan apa saja..
Dengan uang pun aku
Takkan pernah bisa menghentikan tua


  • Judulnya, Di Ujung Sadarku
  • Yang ngaransement, Mas Mungki Krisdianto / GARASI
  • Yang nyanyi, Mas Ustad (Keluarga tamasya)
  • Yang nyiptakan lagunya, saya sendiri

Ini lagu sederhana. Saya ciptakan pada 23 Maret 2009, tepat pada saat saya ulang tahun. Yah, semacam menghadiahi diri sendiri.

Paranetter, semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari lirik lagu yang saya suguhkan ini. Nah, sementara anda singgah, saya mau pamitan dulu. Pengen jalan jalan, hehe.

Dadaaaaah... Twing...!!!

11.1.11

Persahabatan

11.1.11
Terinspirasi oleh blognya Om NH, akhirnya saya memberanikan diri juga menampilkan penulis tamu. Yang nulis adalah BunDa Yati, seorang blogger sepuh yang juga Ibu dari anak anak tamasya band.

Inilah tulisan yang beliau kirim via FB, dengan minim edit. Selamat menikmati.


Bro, bunda coba ya mau nulis buat "acacicu" dan themanya ya yang paling gampang adalah "Persahabatan". Nah, buat itu sebagai judul dari postingan bunda ya.


PERSAHABATAN

Judul postinganku ini begitu aja muncul dalam benak. Kenapa? Karena perkenalan yang semakin lama semakin baik adalah ciri-ciri dari satu persahabatan.

Kalo gak salah ada tuh lagu anak-anak yang a.l. bunyinya, gini nih: "Persahabatan bagai kepompong, berubah ulat menjadi kupu-kupu", hehehehe..........

Nah, itu artinya persahabatan selalu kekal. Lho koq kekal? Ya iyalah, persahabatan itu akan abadi.

Coba perhatikan selalu terjadi lingkaran yang gak akan abis2nya tuh, dari ulat, jadi kepompong terus menjelma jadi kupu-kupu. Begitu terus. Ulat, kepompong, kupu-kupu, ulat kepompong kupu-kupu.

Hey3x lom selesai nih postingannya koq jari-jemariku udah mencet tombol sih. Payah juga nih. Tunggu..........

Ni ada tujuan yang utama tentang Persahabatan. Persahabatan itu gak harus antar sesama umur, sesama jenis atau apalah namanya. Buktinya?

Persahabatan antara aku dan teman-teman dari FB yang walaupun online (ya iyalah Fb ya online donk ya...) tetap terjaga dengan baik, apalalagi dengan yang namanya Tamasya dengan MasBronya tuh. Begitu baiknya anak-anakku itu ampe aku dibikinin sebuah lagu yang akhirnya jadi favorit anak dan cucuku.

Akhir dari postingan ini aku spesial tujukan juga buat teman fb yang baik hati Yusi Setiawati yang telah bikin sebuah artikel tentang aku, hehehehehe........... Dan yang membawa aku berkenalan dengan Bro Zabriansyah Hakim, eeeehhhh, kebalik ya? Mestinya yang membawa Bro berkenalan dengan aku, xixixixixiiiiii. Piiiiisss man.

Bro, boleh di edit aja ya biar enak dibaca. Sebab ini bunda lagi di buru2 ama cucu yang rebutan mau pake komputer.




Terimakasih BunDa..

Paranetter, itu adalah persembahan dari BunDa Yati Rachmat. Tentang bagaimana sudut pandang beliau dalam memaknai arti dari persahabatan.

Saya percaya bahwa setiap orang pasti punya definisi sendiri tentang persahabatan. Bagaimana menurut anda?


Salam hangat..

8.1.11

Sorot Mata Itu

8.1.11

Hanya ini yang saya punya. Potret terlawas. Saya tidak punya lagi lembaran photo pada saat usia saya lebih kecil dari ini.




Hanya ini, ya hanya ini saja. Selembar potret rusak parah yang saya temukan di raport taman kanak kanak.

Tapi saya suka. Sorot mata itu menceritakan banyak hal pada saya. Dan entah mengapa, tiba tiba saya ingin memperlihatkan photo ini pada paranetter semua.

Paranetter, kira kira photo di atas mirip Jon Bon Jovi nggak ya? hehe..

Salam hangat..

5.1.11

Ayo Nak Kita Pulang

5.1.11
Tubuhnya kurus kerempeng. Bukan itu saja, kulit legam serta matanya yang cekung semakin membuat orang orang yang berlalu lalang seakan tak perduli dengan keberadaannya. Hanya Mak Dur, perempuan sepuh penjual kopi itu saja yang perduli dengan si bocah kurus.
Oalah Mak, sampean ini ya kok masih sempat sempatnya ngopeni anak itu. Kita ini kan orang pas pasan juga toh Mak.
Demi mendengar komentar salah satu pelanggan warung kopinya, Mak Dur hanya tersenyum. Begitu juga saat komentar itu beranak pinak seperti bola salju yang menggelinding di warung yang hanya berisi tiga orang pembeli. Pada akhirnya Mak bersuara juga.
Ya kalau bukan kita, siapa lagi.
Hanya itu yang Mak Dur ucapkan, tapi cukuplah untuk menghentikan komentar yang datang dari segala arah mata angin. Sayangnya itu tak berlangsung lama.
Sebenarnya bocah itu siapa sih Mak? Tanya salah satu dari mereka.
Mak juga nggak ngerti. Sudah hampir sebulan dia nemenin Mak di warung. Bahkan dua minggu ini sudah mau Mak ajak pulang kerumah. Tapi namanya saja Mak belum tahu.
Sementara perbincangan terus berlanjut, si bocah kurus hanya bisa menerawang. Dia berada tak jauh dari tempat Mak Dur menyeduh pesanan kopi. Ah, andai saja dia mampu berkata kata, hanya ada dua hal yang ingin dia katakan.
Mak, terimakasih. Ohya Mak, saya tidak bisu.
Hanya itu saja. Ya, hanya itu. Karena yang seharusnya ia katakan, tak akan mungkin mampu ia ucapkan.

Mak, antarkan aku pulang. Begitu seharusnya. Tapi mau bagaimana lagi? Kalimat pendek itu hanya akan mengantarkan ingatannya pada bencana dahsyat di mana seharusnya ia tinggal.

Langit malam yang melegam, halilintar, hujan, suara suara panik, langkah langkah kecil yang dipaksakan, jerit bersahutan, teriakan teriakan menyebut nama Sang Pencipta, bambu yang bergesekan semakin keras sebelum akhirnya menimbulkan efek suara memecah. Belum lagi suara suara ringkik hewan peliharaan.

Dan yang paling tidak ingin ia ingat adalah saat seluruh anggota keluarganya tidak sempat keluar dari rumah. Itu yang membuat si bocah kurus sulit berkata kata. Semua hanya bisa tersimpan manis di sepasang matanya yang cekung.

Takdir membawanya ke Mak Dur.

Si bocah kurus masih tetap menerawang manakala Mak Dur sudah selesai beres beres dan hendak pulang. Seperti biasa, untuk membuatnya beranjak, Mak Dur hanya butuh mengucapkan sebuah kalimat sederhana.
Ayo Nak kita pulang.
Mak Dur tidak akan pernah tahu bahwa kata kata itu terdengar begitu indah di telinga si bocah. Kalimat sederhana itulah yang nantinya membuat si bocah mampu berkata kata.

Hikmah :

1. Kebijaksanaan itu tidak harus datang dari tempat yang tinggi.
2. Mari menolong sesama, semampu yang kita bisa.


Artikel ini pernah diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

2.1.11

NgeBLOG Memang Rasa Coklat

2.1.11
Senang rasanya saat satu demi satu orang orang di sekitar saya mulai bertanya tentang apa itu blog. Bahkan beberapa dari mereka sudah mulai membuat bog, meskipun di media yang gratisan. Ada juga yang sudah tergolong lama punya blog, tapi blognya nyaris tak terbelai.

Seperti yang terjadi pada malam tahun baru kemarin, saat saya menghabiskan waktu di Garasi Record rumah salah satu keluarga tamasya, Mas Mungki. Entah bagaimana awalnya, rencana yang tadinya cuma ngopi dan genjrang genjreng, tiba tiba berubah haluan. Ya benar, kami sibuk ngobrol seputar blog.

Gerimis masih mengecup lembut kota kecil Jember saat saya, Mungki, Nanda dan Prit sibuk mengobrak abrik template blog. Tentu saja bergiliran.

Paranetter, ternyata rasanya indah ya kalau ngeblog bareng bareng. Setidaknya kita bisa share ilmu sambil ketawa ketiwi. Pantesan, setiap kali saya menemukan artikel tentang kopdar, aura yang saya tangkap adalah suasana yang sebegitunya. Ternyata benar.
Sekarang saya nggak ngiler lagi kalau membaca artikel yang seperti itu, heee.. NgeBLOG memang rasa coklat.

Selamat Tahun Baru

1.1.11

Hari Ini Bapak Saya Ulang Tahun

1.1.11
Hepi nyu yeeeeer......

Selamat tahun baru ya paranetter. Senang bisa mengenal anda semua. Hidup saya jadi semakin berwarna. Tengkyu deh pokoknya.


Setiap awal tahun baru, selalu ada yang istimewa bagi saya. Pertama, karena 1 Januari adalah Hari Lahir kota kecil Jember. Kota yang indah buat saya. Tidak terlalu ramai, bisa melihat lekukan gunung Argopuro dan Raung di pagi hari, dan ada gumuknya, hehe.

Wajar kalau saya sedikit bangga dengan gumuk, soalnya di dunia cuma ada tiga tempat yang punya. Jepang, Tasik Malaya, dan Jember. Uhui.. Lho kok malah cerita gumuk. Tapi gak apa apa juga seh, lha wong yang bisa dibanggakan dari kota kecil ini cuma sedikit, hihi..

Yang paling istimewa adalah karena hari ini Bapak saya ulang tahun.

Bapak lahir di tanggal yang cantik, 1 Januari 1950. Beliau hanyalah seorang pensiunan PNS biasa. Dulu biasa dipanggil Pak mandor lantaran kerjanya jadi mandor jalan, hehe. Tapi sejak saya kelas lima SD sampai sekarang, Bapak biasa dipanggil Pak RW.

Hmmm.. pengen banget membahagiakan beliau secara materi. Tapi, mau gimana lagi, beli rokok aja saya masih sering ngecer. Satu satunya yang pernah saya persembahkan untuk beliau hanyalah sebuah lagu, judulnya Untuk Bapak.

Di hari ini, ingin sekali saya tuliskan lirik lagu untuk Bapak. Dan saya akan sangat berterimakasih jika paranetter meluangkan waktu untuk sekedar membacanya.

Untuk Bapak

Hai Bapak RW
Itu bukan pangkat orang gedhe
Sejak aku kelas lima SD Bapak jadi RW
Sebelumnya sebutan Bapakku
Pak mandor jalan

Hai Pak mandor jalan
Yang menghisap rokok dalam dalam
Yang rambutnya gondrong dan beruban
Itukan Bapakku
Itukan satu satunya mandor kesayanganku

Bapak memahat doa di sana
Di nama Rohim Zabriansyah Hakim

Bapak ingin anaknya Penyayang
Sabar lagi bijaksana


Reff :

Bapak lihatlah bintang dilangit yg hitam
Aku juga ingin begitu

Bapak maafkan maaf maafkanlah aku
Hanya ini yang aku mampu


Hai Bapak Rohim
Kurindu dengar dongeng Ibrahim
Kelak kisah itu mengantarku
Mencintai alam
Taffakur pada ayat2 Tuhan yg berceceran

reff 2 :

Bapak lihatlah bintang dilangit yang hitam
Aku juga ingin begitu

Bapak maafkan.. Maafkan aku anakmu
Hanya ini yang ku.. mau..
Itulah lagu yang saya ciptakan teristimewa untuk Bapak. Dan juga saya dedikasikan buat pria pria tangguh di dunia, yang tak sekejap matapun melupakan anaknya. Jika anda ingin mendengarkannya, silahkan share di sini.

Paranetter, terimakasih.
acacicu © 2014