31.3.11

Tamasya Panaongan

31.3.11
Ini adalah tempat berkumpulnya keluarga tamasya, selain di GARASI Studio. Kami biasa menyebutnya dengan nama panaongan.

Panaongan, diambil dari bahasa daerah Madura. Dengan kata dasar naong. Memiliki arti teduh. Dan itu yang kami inginkan, memiliki tempat untuk berteduh, meski sederhana dan sempit.

Di panaongan inilah segala karya ingin kami lahirkan. Membiasakan diri untuk hidup kolektif. Makan bersama sama, tinggal bersama sama dan bekerja berkarya bersama sama.


Berkarya bersama sama



Salam Panaongan


NB :

Gambar diambil pada 30 Maret 2011 di Tamasya Panaongan, sehari sebelum terjadi banjir kecil kecilan (tapi lumayan menghebohkan, heee..)

Di posting setelah bakar bakar ikan (hasil mancing dari seorang keluarga tamasya). Tapi maaf ya paranetter, ikannya sudah habis, hehe...

28.3.11

Ananda Firman Jauhari

28.3.11

Saya biasa memanggilnya Kernet. Namanya sendiri adalah Ananda Firman Jauhari alias Nanda. Dia dua setengah tahun lebih muda dari saya.

Pengalaman beberapa kali terjun di lapangan saat nge-SAR, membuat saya lebih mengenalnya.

Saat bersama sama memandang kematian, menyapu reruntuhan, mendengar rintih kesakitan, sama sama menikmati rasa lapar, semua itu semakin mempermanis hubungan persahabatan yang sebenarnya tak selalu manis, haha..

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan pada paranetter. Bukan tentang sifat pelupanya yang parah. Bukan pula tentang dunia punk versi Kernet (tentu saja punk yang berwachana, yang suka berkarya sendiri, yang cinta damai, yang suka membaca buku, musik dan kehidupan).

Ini tentang penggalan penggalan kata yang beberapa kali dia ucapkan. Ini tentang kata kata yang keluar dari bibirnya, dan dilaksanakan.

Dan inilah kata kata itu..


Bumi kita butuh cinta.

Teman yang baik adalah dia yang menikam dari depan, bukan dari belakang.

Menunda keikhlasan hanya akan memperpanjang kegelisahan.

Rumah sempit untuk hati yang luas.

Ingin rasanya punya hati yang luas dan mengajak semua tinggal dalam hati kita...


Hmmm, apalagi ya? Kok sekarang gantian saya yang pelupa? hehe..

Pokoknya gitu deh. Kata katanya sederhana tapi ada makna yang tersirat dan tersurat. Kabar baiknya, Kernet juga punya blog di huruf A.

Buat Kernet, terimakasih..

25.3.11

Santai Sejenak

25.3.11
Jreeeeng..!!




Hmmm.. kira kira Kang Lozz Akbar lagi mikirin apa ya?

23.3.11

Menulis Nama Dija di Semen Yang Basah

23.3.11
Hari ini, 23 Maret 2011

Ingin rasanya Om menulis sebuah kalimat di semen yang basah

Dija, selamat 23 Maret 2011


NB :

Om coba menuliskan cerita untukmu di sini.

Juga Om buatkan dua buah video slide. Dija bisa melihatnya di sini.

Maaf sayang, formatnya sengaja Om biarkan apa adanya, tidak memperkecilnya. Berharap Dija lebih bisa menikmati. Meski tentu saja ini akan membutuhkan koneksi internet yang lumayan jreng jreng jreng.

Ada satu video slide lagi sebenarnya. Tinggal ketik kata kunci acacicu di youtube, maka Dija akan mengerti.

NB yang terakhir :

Dija, untuk hari ini semua lagu tamasya band untukmu...

22.3.11

Cinta Yang Seperti Itu

22.3.11
Seumpama saya seorang penulis yang hidup di jaman mesin ketik manual, sudah pasti ekspresi saya akan seperti ini.

Ngetik, trus jret jret jret. Saya tarik kertas yang masih nempel di mesin ketik, trus saya remet remet remas, dan berakhir di tempat sampah. Begitu berulang ulang. Dan biasanya nih (kalo di film film) tempat sampahnya ada di sudut ruangan.

Ya, saya sedang ingin menulis sebuah surat istimewa, untuk seseorang yang juga istimewa. Tapi saking inginnya membuat sesuatu yang spesial, jadinya malah bingung, hehe..

Dija sayang, maap ya.. Tapi semoga besok sudah bisa posting, Insya Allah.

Sebagai pembuka, ada sebuah lagu istimewa untuk Dija. Judulnya, cinta yang seperti itu. Ini ciptaan Om masbro sendiri. Tapi yang nyanyi Tante Eli, istrinya Om Mungki Tamasya Band.

Sayang, ini memang lagu tentang cinta. Tapi cinta yang luas. Ehmmm.. (sambil garuk garuk kepala), gini aja. Anggap aja ini lagu dari Dija untuk orang orang di sekitar Dija dan yang mencintai Dija. Nah, gitu pokoknya.

Oke sayang, ini lagunya.

CINTA YANG SEPERTI ITU

Percayalah pada angin yang berhembus
Berhentilah untuk selalu bertanya tanya

Kujadikan engkau bintang di duniaku
Jadikanku bidadari surgamu


Reff :

Akulah angin yang berhembus
Menerpa wajahmu yang tulus
Mencintaiku dengan begitu sederhananya

Sebegitu terpesonanya
Aku pada tulus cintamu
Ijinkan aku juga selalu mencintaimu



Udah selesai lirik lagunya
Sayang, kalo mau mengunduh lagu, klik Cinta Yang Seperti Itu


NB : Selamat Hari Air, 22 Maret 2011

19.3.11

Supermoon

19.3.11
Cerita sebelumnya, Antara Anggrek, Paing dan Jaeman dan Gumuk Marada: Resah yang Menggunung

4 Tahun Kemudian..

Pada akhirnya Jaeman sukses menaklukkan hati para perangkat desa, termasuk Bapak Carik. Tendernya goal. Uang pun singgah di rekeningnya dari investor asing yang memasang harga tertinggi. Gumuk Marada sudah masuk tahap eksploitasi.

Uang sudah di genggaman, tongkrongannya pun semakin mengkilat. Jaeman selesai dengan mimpinya akan harta yang melimpah. Namun begitu dia tidak serta merta bisa menaklukkan hati Anggrek, putri Bapak Carik yang sudah sekian lama ingin dia miliki.

Jaeman lupa, Anggrek juga punya mimpi yang sekarang sedang dikejarnya.

Empat tahun yang lalu, di saat semuanya masih kacau antara perasaannya pada Paing dan perhatian Jaeman yang memborbardir, dia lebih memilih untuk memperdalam ilmu jahit menjahitnya di kota sebelah. Alhamdulillah, keputusannya untuk mengikuti kata hati membuahkan hasil. Kini Anggrek sudah bisa merintis usaha butik, masih di kota sebelah.

Bagaimana dengan Paing?

Paing masih memegang kendali hidupnya, tapi tak lagi dengan tali kereta kuda dokar. Tak jauh beda dengan Anggrek, empat tahun yang lalu, di saat semuanya serba membingungkan antara persahabatan, cinta dan ukuran kesuksesan, Paing melangkahkan kakinya menjauh dari Sukmo Ilang. Ya benar, dia berpetualang. Mengikuti kemana hati membawanya.

Kini, setelah kedua matanya banyak melihat kehidupan di luar sana, saat kedua tangannya banyak memegang kisah kisah yang mengagumkan, saat kedua kakinya banyak melangkah ke tempat tempat yang indah, Paing kembali pulang.

Sukmo Ilang masih tetap tandus. Reboisasi yang dulu pernah didengungkan ternyata hanya di bibir saja. Belum lagi saat pandangannya menyapu gumuk Marada yang tak sama lagi, dia hanya bisa menelan ludah. Tapi pengalaman mengajarkan kebijaksanaan pada diri Paing.

"Ah, biarlah itu pilihan mereka. Tidak semua pekerja tambang itu bangsat. Tidak semua sopir alat berat itu tak mengenal kata cinta lingkungan. Kalaupun bukan mereka yang mengendarai alat berat itu, pasti akan ada orang baik lainnya yang menggantikan posisinya. Karena begitulah hidup."

Paing bergumam. Tidak pada siapa siapa. Sepertinya dia hanya ingin bermonolog.

Dan Paing pun melanjutkan langkah kakinya. Tidak kemana mana, dia hanya ingin pulang. Hanya ingin bernostalgia dengan alam masa kecilnya. Meski sebenarnya bukan hanya itu. Ada satu alasan lagi.

Malamnya..

Setelah merebahkan rasa rindunya pada rumah dan seisinya, setelah bersilaturrahmi pada para tetangga kiri kanan, kini Paing hanya ingin menikmati kesendirian.

Dan di sinilah Paing sekarang. Di atas bukit Sukmo Ilang, seperti yang seseorang inginkan. Seseorang yang berhasil menjadi medan magnet hatinya, seseorang yang membuatnya mempunyai alasan untuk pulang.

Suara suara serangga masih bersenandung saat Paing mendengar langkah langkah kecil yang terasa semakin mendekat ke arahnya. Benar saja, saat dia membalikkan pandangannya dan mendapati seseorang yang begitu istimewa. Ini bukan lagi mimpi.

"Anggrek?" Paing bergumam lirih. Yang disebut namanya hanya diam dan mengangkat ujung ujung bibirnya ke atas.

Paing tercekat. Padahal dia ingin sekali bertanya kenapa Anggrek berani melangkah sendiri di tempat yang sesunyi ini. Sayangnya, Paing masih saja tercekat.

Paing masih ingat sms Anggrek beberapa waktu yang lalu. Sebaris kata yang membuatnya kembali pulang.

Suasana senyap. Yang ada hanya sinar bulan yang memercik sempurna dan pikiran pikiran Paing yang berkecamuk antara sosok bidadari di depannya dan Jaeman. Bagaimanapun, Jaeman adalah juga sahabatnya.

***

"Jadi?" Kata Anggrek.

Paing hanya diam. Lama sekali. kemudian dia berkata mantap.

"Aku akan tetap tinggal di sini jika ada seseorang yang menahan aku pergi.."

Bintangpun bersinar, bulan menunjukkan kecantikannya. Mereka tidak sadar, di atas sana rembulan ada di posisi terdekat dengan bumi. Para ahli biasa menyebutnya lunar perigee alias supermoon. Kondisi ini pernah terjadi delapan belas tahun yang lalu.

Paing dan Anggrek tidak pernah tahu itu. Yang mereka tahu, kini merekalah sepasang supermoon. Inilah saat dimana posisi kedua hati mereka ada di posisi terdekat, supermoon.

Sayup sayup seakan terdengar irama lagu lembah baliem di hati keduanya..


Hei yamko rambe yamko aronawa ombe
Hei yamko rambe yamko aronawa ombe
Hei ngino kibe kumbano kumbu beko
Yumano kumbu awe ade

TAMAT


Hikmah :

Cinta bukanlah tentang berapa banyak harta yang kita miliki, tapi tentang seberapa banyak sinar yang bisa kita berikan.

Kita seringkali tidak memahami apa yang sebenarnya penting di dunia ini. Meski terkadang kita mengerti walaupun uang itu perlu, yang lebih penting adalah hidup.


Artikel ini pernah di ikutsertakan pada pagelaran kecubung 3 warna di newblogcamp.com.



18.3.11

Membuat Yang Pendek Menjadi Panjang

18.3.11
Hari jumat identik dengan hari pendek. Tapi saya mencoba membuatnya menjadi panjang.

Selepas sholat ashar, saya sudah siap siap meluncur menyusuri jalan dan tepian pematang. Kali ini berdua dengan Brade Mungki, gitarisnya tamasya.



Siap siap meluncur..

Dan ah, saya mendapati sore yang tak kalah indah dengan yang kemarin saat saya bermain air di derasnya sungai bedadung. Pematang sawah semakin menyehatkan mata ini. Sesekali saya dan brade Mungki membalas sapaan beberapa teman. Hmmm, indah.

Belum lagi saat kami berdua mengunjungi mampir di sekretariatnya kawan kawan Pencinta Alam MAHADIPA. Dapat segelas kopi, senyum ramah, dan suasana yang hangat. Memang benar, silaturrahmi itu nikmat. Selain bisa memperpanjang usia, juga bisa membuka pintu rejeki. Buktinya dapat kopi, hehe..

Jumat yang panjang, Jumat yang indah dan jreng jreng jreng..

Paranetter, bagaimana dengan anda hari ini? Saya doakan semoga hari hari anda manis, semanis kopi yang saya sruput tadi.

Salam Gowes..

17.3.11

Tamasya ke Sungai

17.3.11
Biaya naik gunung semakin mahal. Mau ke pantai jauh. Sementara saya sedang butuh bertamasya.

Alhasil tadi saya melewatkan sore yang cantik di tepian sungai bedadung, sebuah sungai legendaris di jember.

Bersama empat kawan, kopi yang masih hangat, cuaca yang mendukung dan sore yang biutipul, jadilah saya bertamasya menikmati aliran air sungai yang menderas.

Sesekali meloncat dari satu batu ke batu lainnya.

Pada akhirnya kami nggak tahan untuk tidak menceburkan diri. Byuuur.. Baju kami pun basah.

Hmmm, benar benar hari yang indah.

Paranetter, percayalah.. Dimanapun kita berada dan berapapun jumlah uang di kantong, jika kita menganggapnya seperti sedang bertamasya, maka hidup akan lebih mengagumkan.



Salam jreng jreng jreng

13.3.11

Zuhanna, Cantik dan Secangkir Kopi

13.3.11
Tergelitik oleh tulisan Mbak Nchie tentang definisi cantik, saya jadi ikut ikutan posting dengan tema yang sama. Cantik.

Cantik hanya terdiri dari dua argumen. Yang pertama, cantik seperti yang diinginkan media. Harus mancung, mata lentik, seksi, kulit putih mulus, dan sebagainya dan sebagainya.

Berikutnya, cantik menurut standart masing masing alias subyektif. Nah ini yang paling saya suka. Kenapa? Karena kita merdeka dalam memaknai kata cantik.

Cantik adalah seperti ibu saya yang meskipun seringkali lelah, tapi tak pernah mengeluhkan statusnya sebagai ibu rumah tangga biasa.

Cantik adalah seperti Khatijah, seperti Fatimah, seperti Bunda Theresa, dan perempuan perempuan yang seperti itu.

Cantik adalah seperti nenek saya yang meskipun buta huruf namun tak pernah berhenti berucap syukur pada Allah SWT.

Cantik adalah saat dia membuatkan saya secangkir kopi.

Cantik adalah seperti lirik lagu di bawah ini.

ZUHANNA

Semakin lama aku semakin mengenalmu
Semakin tahu siapa cintamu

Yang di dalam hatimu bukankah itu aku
Katakan saja kepada dunia

Apapun yang dunia tahu
Kutetap bertahan melindungimu

Meskipun yang dunia tahu
Zuhanna gadis apa adanya..


Reff :

Satu yang tak dunia tahu
Kau begitu mencintaiku
Tulus memahami
Dan kau mau mengerti hidupku

Satu lagi yang dunia tak tahu
Kau tunjukkan kecantikanmu
Dengan jemarimu
Kau buatkan aku secangkir kopi

Semanis senyumanmu

Link,, Silahkan unduh di SINI

Itulah cantik versi saya. Saya senang jika anda mau menambahkan arti cantik versi sendiri. Terimakasih.

SALAM TERCANTIK UNTUK PARANETTER SEMUA


NB : Lagu ciptaan saya sendiri, tapi nyanyinya bareng2 sama tamasya band. Aransemen oleh Mas Mungki, gitarisnya tamasya.

Teristimewa untuk Bunda Lily Suhana, nama Bunda serupa dengan judul lagu ini, hehe..

Dari Bunda saya jadi mengerti, bahwa cantik bukan tentang jemarinya yang lentik, tapi lebih pada kata kata yang tertuang tertulis lewat jemari lentiknya.

11.3.11

Mengasah Imajinasi dengan Radio

11.3.11
Saya tumbuh besar bersama siaran radio. Dari banyak acara radio, ada yang melekat di hati sampai detik ini. Apalagi kalau bukan sandiwara radio saur sepuh.

Tentang saur sepuh, bukan hanya ceritanya yang saya kenang. Bagaimana cara kita menikmati cerita tersebut, itulah yang legendaris.

Bagi saya, saur sepuh bukan hanya tentang Brama Kumbara, tapi tentang satu radio untuk banyak telinga. Bukan hanya tentang satria Madangkara, tapi juga tentang pisang goreng buatan ibu.

Dari saur sepuh saya tidak hanya mengenal burung rajawali raksasa atau Mantili, Raden Bentar, Raden Panji, Lasmini, bukan hanya itu. Saur sepuh juga mengenalkan saya pada ruang imajiner tanpa batas. (Saya lupa memberitahu anda, saat itu saya masihlah bocah. Masih sekolah dasar, dan masih hebat hebatnya menyerap apapun yang saya lihat dan saya dengar)

Sampai sekarang, radio masih menjadi pilihan saya untuk bertamasya hati.

Saat mata ini lelah tapi telinga butuh hiburan, saya memilih radio. Saat orang orang disekitar saya dibingungkan oleh mana yang lebih penting, cinta manusia terhadap lingkungannya atau cinta fitri terhadap pemirsanya, saya kembali pada radio.

Begitulah, saya punya hubungan romantis dengan yang namanya radio.

Paranetter, sekali waktu mari kita kembali menikmati radio. Lalu, biarkan imajinasi kita merdeka mengembara, sejauh mata terpejam.


Salam kompersa alias kompak persahabatan

NB : Selalu ada doa untuk para korban tsunami di Jepang, dan korban bencana lainnya dimanapun berada (termasuk korban longsor di Panti - Jember).

Buat penyiar radio yang tak lelah menyampaikan info tentang bencana (siapapun dan radio apapun), ai elof yu. Lagunya ngikut ya, hehe..

7.3.11

Seratus

7.3.11
Kota kecil Jember diguyur hujan. Di luar sana rintiknya masih tersisa. Menyatu dengan luapan air di kiri kanan jalan yang semakin detik semakin surut. Sementara, harum aroma tanah yang telah didansai butir butir air langit, memapahku untuk segera menulis.


Waduh, kok jadi macak nyastra gitu ya? hehe.. Padahal saya cuma mau bilang kalo ini adalah tulisan saya yang ke seratus. Alhamdulillah...

Yang lebih menyenangkan, barusan saya dapat sms dari Lozz Akbar kalau tulisan saya nyantol di kuisnya Bang Aswi, urutan ke lima. Alhamdulillah lagi, hehe.

Maaf ya Bang Aswi, saya masih belum bisa buka wordpress. Besok InsyaAllah saya sempatkan ke warnet biar bisa menuliskan terimakasih di blog nya sampean.

Paranetter, terimakasih.

Dari anda anda semualah saya banyak belajar. Dengan membaca tulisan para sahabat blogger, saya jadi mengerti bahwa sedikit demi sedikit lama lama memang menjadi bukit.

Semoga di blog ini akan ada tulisan yang ke 200, 300, 800 dan seterusnya. Seperti blognya Pak De Cholik yang sudah mendekati seribu artikel.

Sebagai penutup, akan saya tuliskan sebuah hadist yang selama ini menginspirasi saya untuk senantiasa setia pada proses. Semoga bermanfaat.

Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang berkesinambungan, meskipun sedikit.. [Hadits Riwayat Bukhary]

5.3.11

Menjadi Hebat Dengan Menyepi

5.3.11
Di hampir setiap novel humanis yang saya baca, seringkali diceritakan bahwa orang hebat punya tempat tersendiri untuk menyepi.

Di cerita cerita silat Indonesia juga sering mengkisahkan tentang seorang pendekar yang menempa dirinya di hutan belantara. Kemudian pada saatnya nanti kembali ke peradaban untuk memberantas kejahatan.

Di kisah para Nabi, juga saya dapatkan cerita serupa. Tentang orang orang pilihan yang memiliki tempat tersendiri untuk menyepi dan berkontemplasi.

Begitu juga di dunia pencinta alam. Sering saya menjumpai dan mengenal sahabat sahabat hebat yang punya tempat favorit tersendiri untuk menyepi.

Hmmm.. Ternyata untuk menjadi hebat kita butuh sesekali menyepi. Butuh menikmati kesendirian. Butuh berdansa dengan ayat ayat Tuhan yang berceceran. Dan butuh bercakap cakap dengan hati nurani.

Paranetter, selamat menyepi

3.3.11

Saya dan SLANK

3.3.11
Paranetter, apakah anda pernah punya pengalaman seperti saya? Gini pengalamannya.

Nonton konser, terus ternyata konser tersebut diabadikan dalam sebuah album live tersendiri dalam bentuk VCD, dan dijual disebarkan dari Sabang sampai Merauke.

Saya pernah lho. Waktu itu saya nonton konsernya SLANK di jember. Berdua dengan sahabat saya, namanya Kur. Dan apa yang terjadi?

Ternyata wajah kita sempat kena shoot meskipun hanya beberapa detik. Tapi lumayanlah, dari sekitar sepuluh lagu, separuhnya ada wajah kami nongol tanpa diundang, cihui..

Bisa dibilang, saya dan sahabat saya ini mantan model klip nya SLANK lho, haha.. Atau setidaknya saya pernah rekaman bareng SLANK terus kasetnya beredar se Indonesia. Kan ada tuh nyanyinya yang bareng bareng. Nah kan saya nyumbang suara juga, hihi..

Sekarang saya sudah punya jawaban kalo ada yang nanya, kenapa saya berkecimpung di musik indie. Soalnya saya pernah nyicipi mayor label bersama slank, hehe.. alasan yang indah.

Ohya, sekarang saya lagi muter youtube nih. Pengennya sih pamer ke Prit kalau kakaknya yang manis ini pernah duet bareng SlanK. Eh, dia malah ketawa ketiwi. Apalagi pas lihat si Kur sahabat saya, wajahnya kena shoting satu layar penuh di lagu lembah baliem. Lebih ngakak lagi giliran lihat gambar saya yang dengan pedenya mengangkat kedua tangan, seperti sedang nonton orkes dangdut.

Itu adalah pengalaman saya di live album slank November 1998. Terimakasih ya SLANK, kamu baik deh..


SALAM PISS..


NB : Sedikit cerita tentang Kur, sahabat saya. Beberapa bulan paska konser, dia diterima bekerja sebagai sopir taxi di jember. Sekitar dua tahun kemudian, dia berkesempatan mengantar seorang penumpang bernama Bimo Setiawan Almachzumi alias Mas Bimbim drummer nya Slank.

Kur mengantar Mas Bimbim dari hotel Panorama ke Rumah Makan Lestari, selatan alun alun kota kecil jember.

NB lagi : Sekarang Kur sudah berkeluarga dan tinggal di jember. Dikaruniai dua momongan.Dua duanya cowok. Tahu nggak siapa nama anak pertamanya? Bima. Sedang nama panggilannya adalah Bimbim.

Ow, ternyata NB nya panjang, hehe. Maap ya paranetter sayang.

2.3.11

Jangan Mau Mati Penasaran

2.3.11
Wah, Jember sepi yo, enaknya jalan jalan ke Jogja nih. Begitu kata teman saya, sambil menatap saya cengengesan. Saya tidak menggeleng, tidak juga mengiyakan. Dan satu hari kemudian kami sudah ada di Jogja.

Cerita yang lain. SMA kelas 1

Suatu hari teman sebangku saya bergumam. Hmm.. katanya orang orang, pantai Sukamade itu indah lho. Alhasil, sepulang sekolah kami langsung packing dan berangkat.

Cerita yang lain lagi.

Kali ini saya yang bergumam. Pengen nongkrong di rumahnya Mbah Citro lagi. Itu adalah camp terakhir kalo kita mau mendaki Gunung Fuji Lamongan. "Ayo wes berangkat", kata teman saya. Dan tak lama kemudian kami sudah dalam perjalanan. Padahal waktunya mepet dengan Ebtanas Unas.

Itu adalah gambaran sederhana tentang saya, saat saat masih sekolah dulu. Tidak berpikir panjang, sak enak udhele, dan terbang kemana hati membawa.

Tidak berhenti saat sekolah saja sebenarnya. Pada saat saya sudah gedhe (sih), penyakit ini kadang kadang masih kumat.

Misalnya, suatu hari ada seorang kawan memberi kabar kurang sedap.

"Bro, ada anggota MAHAPALA yang hilang di gunung Semeru"

Sayapun segera merapat di MAHAPALA. Ternyata di sana kawan kawan masih sibuk berkoordinasi. Tiba tiba salah seorang kawan bernama Yopi berkata, "Budhal disek tah? Numpak vespaku"

Dan kitapun berangkat. Efeknya, malam kelima saya harus turun duluan. Saya lupa bahwa esoknya saya harus menjadi juri lomba melukis.

Masih cerita yang serupa.

Tiga hari lagi saya ujian skripsi. Tangan tak lepas dari buku, dan mata tak lepas dari teori teori menyebalkan. Tiba tiba ada telepon yang mengabarkan bahwa ada gempa di Jogja dan sekitarnya. Saya langsung packing, merapat dan minggat ke TKP.

Selang beberapa jam kemudian saya teringat akan ujian skripsi. Tapi ah, saya sudah ada di atas kereta.

Dua minggu kemudian, saya kembali ke Jember, kembali ke kampus dan kembali ke teori teori humaniora.

Dosen pembimbing saya marah, ketua jurusan marah, dekanat marah, tapi kawan kawan saya malah cekikikan. Lha gimana nggak marah, waktu itu saya sudah semester 14. Alhamdulillah, akhirnya saya diberi semester gelap. Istilah kerennya pemutihan. Istilah yang lebih keren lagi, semester lima belas.

Paranetter, itu adalah penggalan penggalan kecil dalam hidup saya. Sering ceroboh dan tidak berpikir panjang. Potensi ini sebenarnya sudah nampak sejak SD, dimana saya sering berganti cita cita.

Melihat tentara yang sedang upacara di TMP dekat rumah, tiba tiba saya ingin jadi tentara. Mendengar cerita bapak saat sekolah di STM, saya ikut ikutan pengen masuk STM. Setelah nonton film Robocop, saya ingin jadi Robocop. Melihat helikopter yang terbang rendah, saya jadi punya keinginan untuk naik helikopter. Begitu seterusnya.

Tapi saya tidak malu menceritakan keplin planan dan kecerobohan saya tempo dulu. Justru dari kelucuan kelucuan itulah, sekarang saya bisa belajar untuk tidak ceroboh dan belajar berpikir panjang.

Saya bisa menikmati hari ini dari proses yang panjang, yang kadang terlihat sedikit gila gilaan. Tapi saya suka. Saya tidak menyesal pernah mengecup kegilaan kegilaan itu.

Bagaimana dengan anda paranetter, apa hal tergila yang pernah anda lakukan? Senang rasanya jika anda mau berbagi sekelumit cerita di sini.


Salam jreng..!


NB : Terinspirasi dari sebuah artikel yang ada di majalah cewek (milik Kakak saya). Artikel tersebut punya paragraf penutup seperti ini.

Jangan mau mati penasaran. Kadang kita tak perlu berpikir panjang untuk melakukan sesuatu. Lakukan saja. Sekarang. Go!

1.3.11

Cerita Kucing dan Ayam

1.3.11
Seperti biasa, di sela sela ngamen tamasya, kami menghabiskan waktu dengan saling melempar cerita. Guyon. Nah, waktu ngamen kemarin, ada cerita lucu dari Noveri, drummer nya tamasya.

Ini cerita tentang ayam dan kucing yang terlibat perang mulut hanya gara gara baju yang mereka kenakan. Begini ceritanya.

Suatu hari, ada kucing yang sedang tiduran di depan pintu rumah sebuah keluarga. Tiba tiba ada seekor ayam yang sedang mencari makan, lewat di depan si kucing. Iseng si kucing meledek pithik ayam tersebut.

"Opo rah thik thik, nggawe klambi kok cuma' sak dengkul thok"

Mendengar si kucing meledek kostum bulu bajunya, telinga si ayam seperti tersengat. Hatinya mendidih. Ya benar, si ayam emosi. Tanpa berpikir panjang, si ayam segera menyambut genderang perang tersebut dengan kata kata yang tak kalah menohok.

"Jarno wes, timbang koen, nggawe klambi sak awak tapi sik kethok manuk'e.."

TAMAT

NB : Translate

Kucing : "Gimana kamu ini Yam, pake baju kok cuma selutut"

Ayam : "Biarin, daripada kamu, pake baju overall tapi masih keliatan titit nya.."
acacicu © 2014