31.5.11

Kaka Hilwa : Bercahayalah Sayang

31.5.11
Kaka Hilwa..

Pada 29 Mei kemarin (bersamaan dengan ultah Kaka Hilwa yang ke sepuluh), Om sedang ada di arena lomba mewarnai. Ada banyak adek adek kecil di sana. Mulai PAUD hingga TK. SD juga ada. Ada juga yang seumuran dengan Kaka Hilwa.

Kaka Hilwa pasti bertanya tanya, ngapain juga Om ada di tempat yang seperti itu. Hehe.. Om nggak ngapa ngapain kok sayang. Hanya saja, waktu itu Om sedang dimintai tolong untuk menjadi juri lomba mewarnai.

Itu adalah penjurian yang manis. Tapi Om tidak hendak menceritakan bagaimana seharusnya menjadi juri, dan sebagainya dan sebagainya.. Bukan, bukan itu yang ingin Om ceritakan.

Ini hanyalah sebuah coretan biasa yang inspirasinya Om dapatkan saat menjadi juri lomba mewarnai. Maka Kaka Hilwa nggak usah heran bila Om lebih senang menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan warna.

Kaka..

Kaka Hilwa pasti udah tau , di dunia ini tak akan ada warna apapun jika tak ada cahaya. Eh ada ding, warna hitam pekat, hehe.. Nah, itu sebabnya Om juga ingin bercerita tentang cahaya.

Warna dan cahaya, itu dia yang ingin Om tuliskan. Tapi dimulai dari mana ya?

Kaka Hilwa yang manis..

Bayangkan bila Kaka Hilwa ada di gelapnya malam. Saat tak ada bintang yang berserakan, tiba tiba ada seekor kunang kunang yang terbang tak jauh dari Kaka Hilwa berada. Bagaimana, indah bukan? Kaka Hilwa akan menikmati pendar warna hijau yang merona di antara pekatnya malam.

Kenapa kunang kunang bisa segemerlap itu? Apakah memang harus begitu? (bila jawabannya adalah 'memang harus begitu' maka cerita ini akan selesai sampai di sini. Dan itu kurang mengasyikkan hehe).

Kaka Hilwa, kunang kunang bisa seindah itu karena dia bercahaya.

Om pernah membaca sebuah artikel tentang kunang kunang. Di sana tertulis bahwa kunang kunang memanfaatkan pendar hijaunya itu sebagai alat komunikasi. Sebagai sinyal untuk mencari pasangan, juga untuk mengamankan diri dari musuh. Tapi lagi lagi bukan ini yang ingin Om ceritakan.

Hmmm...

Sudah banyak karya tulis, lagu dan puisi yang mengangkat tema tentang bintang, pelangi, rembulan, matahari terbit, matahari tenggelam, sinar pagi, dan segala hal yang senada. Semuanya hanya karena masalah warna dan cahaya. Begitu indah begitu mengagumkan begitu inspiratif.

Warna dan cahaya, keduanya adalah perpaduan yang cantik. Dan pesan moral yang bisa kita ambil dari coretan di atas, jika kita mampu menjaga kilau cahaya di dalam diri kita (letaknya di sudut hati), maka hidup kita akan berwarna. Dan bila sudah begitu, cantiklah kita. Cantik lahir batin, secantik kunang kunang yang terbang melayang.

Kaka Hilwa yang secantik warna pelangi..

Adalah mudah untuk menjadikan diri ini cantik lahir bathin. Sama seperti seorang pemahat yang ingin membuat sebuah karya masterpiece. Dia akan memahat dengan sabar, jujur dan melibatkan hati. Begitu seterusnya hingga selesai.

Menjadi cantik luar dalam juga harus begitu. Yang dibutuhkan hanyalah sabar, jujur dan selalu mendengar kata hati. Bila itu dirangkum menjadi satu, yang tertinggal adalah yang terakhir, mendengar kata hati.

Om yakin Kaka Hilwa sudah mengerti mana yang baik dan mana yang nggak baik (kalo ada yang belum tahu, tanya ke mama ya sayang). Orang yang selalu mendengar kata hatinya, sudah pasti dia akan hidup dengan jujur. Karena tidak mungkinlah hati kecil menuntun kita pada pintu pintu kebohongan.

Seterusnya, orang jujur itu mudah menjadi sabar. Karena orang jujur tidak butuh menutupi kata katanya dengan kebohongan kebohongan kecil. Tidak butuh memberi penekanan pada kata kata yang dia ucapkan. Dia tidak butuh meledak ledak, karena dia sudah dipercaya. Ya, orang jujur adalah orang orang yang terpercaya, orang orang yang sabar.


Kaka Hilwa, terbanglah kemana kata hati menuntun, maka selamanya Kaka Hilwa akan bercahaya. Itulah cara mudah menjadi cantik, hanya sesederhana itu.

Ibaratnya Kaka Hilwa adalah seorang pemahat, maka pertanyaannya adalah, akan di pahat seperti apa hidup dan kehidupan Kaka Hilwa?

Jika Kaka Hilwa ingin memahat hidup Kaka secantik matahari terbit, pahatlah.. pahatlah dengan sepenuh hati. Jangan berhenti pada kata 'tidak mungkin'. Sesungguhnyalah, sesuatu yang tidak mungkin hanyalah karena belum di coba.

Hmmm.. sepertinya Om harus menyudahi tulisan ini. Sudah mulai berbelit belit, hehe..

Kaka Hilwa, makasih ya sayang. Semoga cerita ini bisa Kaka Hilwa nikmati. Mohon maaf bila ada kata kata yang menyebalkan (Maklumlah, Om lagi kurang gizi nih, sudah lama nggak makan sate ayam, hahaha..)

Sampaikan salam Om buat Dede Syafiq. Hepi ultah dan salam jreng jreng jreng..

Ohya, yang terakhir nih, sekalian buat penutup. Eh nggak jadi wes, entar malah njlentreh. Kapan selesainya? hihi.. Om tutup dengan lagu aja deh, biar sama seperti surat yang Om buat untuk Adek Vania.


Antarkan Aku

Ku terbang kemana hati membawaku
Pergi dan kunikmati

Tak ingin kehilangan kesempatan
Tuk cumbui alam raya
Reff :
Antarkan aku ke tempat itu
Tempat yang lebih indah darimu

Dimana tak ada lagi waktu
Untuk memikirkanmu



Ini lagu ciptaan Om sendiri. Dua baris pertama, itu istimewa buat Kaka Hilwa. Kalau Kaka Hilwa pengen ndengerin juga, bisa mengunduh di SINI.

Udah dulu ya sayang, salam kata hati..


NB :

Mama Hilsya, saya turut menyemarakkan ulang tahun Hil-sya di berbagi kisah unik. Semoga Kaka Hilwa dan Dede Syafiq bertumbuh secerah sinar mentari di pagi hari, Amin Ya Robbal Alamin.

30.5.11

Warung

30.5.11
Ini bukan tentang warung sembarang warung, tapi tentang warung blogger

Saya yakin, sebagian besar paranetter pasti pernah merasakan singgah di sebuah warung meskipun hanya sekali. Setidaknya, untuk menyeruput secangkir kopi atau hanya sekedar menanyakan sebuah alamat rumah.

Warung di sepakati sebagai tempat orang menjual segala makanan dan minuman, biasanya kopi. Ada banyak istilah lainnya selain dua suku kata ini. Namun begitu, kata warung lebih membumi dan lebih dekat dengan masyarakat arus bawah.

Yang biasanya saya rasakan saat ada di dalam sebuah warung..

Berkumpul dengan banyak orang yang tidak semuanya saya kenal. Akan ada banyak karakter yang datang dan pergi dalam sebuah warung.

Nah, di tempat yang seperti ini pastinya tema perbincangan bisa tentang apa saja. Biasanya yang sedang hangat diobrolkan di masyarakat. Dan biasanya lagi, opini akan membola salju dari segala arah mata angin.

Yang berangkat sendirian ke sebuah warung, tanpa ada seorangpun yang anda kenal di dalamnya, tidak usah khawatir. Anda cukup menyediakan telinga untuk menjadi seorang pendengar yang baik. Santai saja, di sebuah warung, kehangatan mudah sekali tercipta. Jangan kaget jika tiba tiba anda sudah tenggelam dalam sebuah perbincangan yang menyenangkan.

Tidak perlulah kita mencemaskan sebuah pertengkaran. Di dalam sebuah warung, seperti ada sebuah pagar pembatas yang tak nampak, yang memagari itu semua. Dalam artian, orang orang yang suka nongkrong di warung seringkali adalah orang orang yang memiliki naluri, empati dan pengertian yang tinggi. Selain juga, mereka pandai membelokkan tema perbincangan sekiranya itu terasa akan menjadi obrolan yang kurang menyenangkan.

Warung adalah sebuah ruang budaya dalam skala kecil. Ada banyak informasi yang datang dan pergi di sana. Mengenai apakah informasi itu baik untuk kita atau kita, itu semua tergantung dari kita sendiri. Tergantung darimana kita membacanya. Entah membaca situasinya, entah membaca berita di balik berita.


Antara warung manual yang saya ceritakan di atas, tidak jauh beda dengan warung blogger, tempat berkumpulnya paranetter. Sama sama ruang budaya dalam skala kecil, sama sama ruang komunikasi dan informasi, dan sama sama ruang silaturrahmi. Yang membedakan hanya aroma kopinya saja, hehe..

Apa yang anda rasakan saat ada di sebuah warung? Apakah anda risih? Atau justru merasa nyaman?

Paranetter, mari kita saling berbincang dan berbagi sudut pandang di sini, di warung blogger. Layaknya sedang benar benar ada di sebuah warung.



Sedikit Tambahan

Yang jauh mendekat yang dekat merapat, mari kita nyruput kopi berbincang, bercanda dan bersilaturrahmi di Warung Blogger.

28.5.11

Surat Yang Panjang Untuk Vania Sayang

28.5.11
Vania sayang..

Mungkin tulisan ini terkesan sedikit memaksa. Bukan hanya terlambat, tapi sepertinya juga tak sarat makna. Hmmm.. tak apalah. Om hanya ingin mengikuti kemana terbangnya hati ini.

Sukakah Vania jika Om bercerita tentang lembah? Atau punggungan? Atau lereng terjal? Atau bintang yang semakin terlihat gemerlap manakala kita ada di ketinggian?

Pernah pada suatu ketika, Om ada di tengah belantara.

Malam, sekitar pukul sebelas. Dingin, sendirian. Hanya suara suara serangga yang menemani Om. Hening. Tapi Om tidak sedang tersesat sayang. Om hanya sedang ingin menikmati kesendirian di tepi sungai hutan Bande Alit. Beberapa puluh meter dari tempat Om merebah, ada terlihat setitik api unggun. Itu adalah tempat kawan kawan Om mendirikan tenda.

Tahukah engkau Vania, di atas kepala Om sedang bertaburan ribuan bintang. Alangkah indahnya. Sesekali Om melayangkan satu tangan dan merentangkan jemari ini ke arah langit. Itu semua hanya karena Om ingin mengintip bintang di sela sela jemari.

Vania, keindahan bukan terletak pada seberapa mahalnya sesuatu, tapi pada bagaimana cara kita menatapnya. Cobalah sekali waktu engkau mengintip bintang di sela jarimu, dan Vania akan mengerti apa yang Om maksud.

Di kesempatan yang lain..

Ini cerita saat Om masih SMA dulu. Saat itu Om mendaki gunung Lamongan (di Klakah - Lumajang - Jawa Timur). Kami berempat.

Gunungnya memang tidak terlalu tinggi, sekitar 1200 Meter dari permukaan laut. Tapi medannya nanjak, tak sekalipun ada jalan datar yang memanjang. Itulah yang membuat daya tempuhnya (menuju puncak) bikin napas ngos ngosan.

Singkat cerita..

Salah satu teman seperjalanan sakit. Idealnya, tidak mungkin kami meneruskan perjalanan ke puncak. Tapi ego mengatakan lain.

Sudah kepalang basah, Om harus meneruskan perjalanan. Alhasil, dari hasil obrolan mendadak, akhirnya kami berempat menyimpulkan. Satu orang menemani yang sakit (posisi ada di tengah jalan, antara puncak dan pemukiman terdekat). Dan satu orang lagi menemani Om yang ngotot pingin mengecup puncak Gunung Lamongan.

Dan waktupun berlalu. Om benar benar berhasil menggapai puncak, untuk kemudian kembali turun.

Vania, andai saja waktu bisa diputar semudah kita memutar jam weker, pastilah Om akan memutarnya. Tahukah engkau Vania, itulah salah satu keputusan (dari beberapa keputusan dalam hidup ini) yang Om sesali. Harusnya Om ada saat teman Om benar benar butuh kehadiran seseorang. Harusnya begini harusnya begitu. Tapi ah.. sudahlah. Yang bisa Om harapkan kini hanya satu. Semoga Om bisa belajar dari sepenggal kisah tersebut. Om sangat tidak ingin mengulanginya lagi.

Vania sayang, bila engkau menemukan hikmah dari cerita tersebut, petiklah sendiri. Dan kunyahlah itu dengan kecantikan hatimu.

Vania yang cantik..

Mendaki gunung bukanlah tentang bagaimana kita bisa memijakkan kedua kaki ini sedikit lebih tinggi dari awan yang menggumpal. Mendaki gunung bukan tentang bagaimana kita berhasil memeluk puncaknya, apalagi di saat yang tidak tepat. Bukan, mendaki gunung lebih sederhana dari itu.

Mendaki gunung adalah tentang bagaimana kita bisa kembali pulang dengan selamat. Mendaki gunung adalah tentang kesetia kawanan. Tentang rasa cinta kita yang di uji. Untuk tidak mengambil apapun kecuali sampah. Untuk tidak membuang apapun kecuali waktu, dan untuk tidak meninggalkan sesuatu kecuali kenangan jejak.

Vania, mendaki gunung adalah tentang keindahan. Tentang bagaimana kita bisa menyatu bersama nyanyian dedaunan. Mencintai alam raya di bawah langit yang sama.

Hmmm.. ternyata tulisan Om sudah panjang, hehe. Maap ya sayang. Padahal masih banyak lagi yang ingin Om dongengkan. Tapi tak apalah, semoga ke depan kita masih ada rejeki untuk saling berbagi.

Yang terakhir untuk Vania..

Hehehe.. ternyata masih ada yang terakhir. Tapi santai saja sayang. Akan Om singkat biar Vania nggak capek membacanya.

Sekarang Om sudah tidak lagi mendaki (tapi bukan berarti pensiun lho ya). Setiap kali ada kesempatan mendaki, ada saja agenda yang membuat Om tidak jadi mendaki. Maklumlah, kadang urusan perut tidak bisa di ajak kompromi (hehe, alasan).

Sudah hampir empat tahun ini Om lebih senang bernyanyi dan menciptakan lagu. Entertaint, benar benar dunia yang baru buat Om. Di sini Om berkenalan dengan yang namanya tepuk tangan, sambutan meriah, lampu lampu sorot gemerlap yang kadang tampak menyebalkan, juga kegermelapan yang lain lagi.

Di atas sudah Om ceritakan, bahwa Om terbiasa dengan kesunyian. Saat Om mendaki gunung, sesampainya di puncak, tak ada tepuk tangan atau sekedar sambutan kecil kecilan. Yang ada hanyalah sujud syukur, sepoi angin yang menerpa wajah, dan ayat ayat Tuhan yang berceceran.

Begitu juga tatkala Om ada di lebatnya hutan. Tak mungkinlah ada lampu sorot di tempat yang seperti itu.

Om terkaget kaget memandang gemerlap dunia hiburan. Tapi..

Terlepas dari semuanya, Om ingin menghabiskan sisa hidup ini dengan berkarya. Menulis, menciptakan lagu, bernyanyi dan terus berkarya. Doakan semoga Om bisa ya sayang. Doakan juga semoga suara Om tidak terlalu sumbang. Karena sampai beberapa waktu kedepan (Om tidak tahu sampai kapankah itu), Om masih tetap ingin bernyanyi. Lebih tepatnya, masih ada beberapa hal yang harus ingin Om nyanyikan.

Meskipun begitu..

Sama seperti mendaki gunung. Akan tiba saatnya nanti Om harus kembali pulang. Dalam artian, akan ada saatnya Om tak lagi bernyanyi. Semoga saja saat itu adalah saat yang indah, tepat, manis, juga telah 'selesai..'

Ow ow.. masih panjang juga tulisan ini. Padahal sudah coba Om peringkas. Maaf ya sayang, jika tulisan ini sudah mulai terasa memuakkan, hehe..

Sedikit lagi (kalo yang ini mudah mudahan beneran)

Vania.. jatah hidupmu di dunia ini jauh lebih panjang dari Om. Adalah logis bila Om menitipkan sesuatu pada Vania. Mudah mudahan ini tidak terkesan menggurui.

Yang pertama, pegang erat kata jujur dalam hati vania. Karena dua suku kata itu adalah kunci kebahagiaan kita dalam hidup di kehidupan ini. Tidak perlu memulainya pada orang lain. Jujurlah pada nuranimu sendiri, maka dunia akan membukakan pintu pintu kebahagiaannya untuk Vania.

Santai saja sayang, kita sama sama belajar. Setidaknya, Om belajar untuk senantiasa menggenggam erat kata itu, memaknainya, dan mengejawantahkannya.

Berusahalah untuk memaknai kesedehanaan dengan mencoba hidup sederhana, itu yang kedua. Karena yang Om tahu, sesuatu akan semakin terlihat mempesona manakala kita bisa menampilkan sebentuk kesederhanaan.

Dan yang terakhir (Alhamdulillah, akhirnya Om bisa mengendalikan jemari ini untuk menuliskan kata terakhir), mari mencintai alam raya. Jangan pernah berpikir bahwa bumi kita baik baik saja. Karena yang Om pahami, bumi juga butuh cinta.

Vania, semoga engkau suka jika Om menutup cerita yang akhirnya panjang ini dengan sebuah lagu. Terima kasih ya sayang.


Salam jreng jreng jreng..

KARYA TERINDAH

Lagu ciptaan Om sendiri
Masuk dalam Album pertama Tamasya Band

Vania bisa membaca lirik dan mengunduhnya di sini

NB :

Tulisan yang terlambat ini tidak untuk di nilai. Sekedar untuk menyemarakkan Vania's May Giveaway.

Terima kasih buat Mbak Lyliana Thia yang sudah memperbolehkan saya menuliskan cerita untuk Vania.

Teristimewa buat Adek Vania. Sayang, hidup adalah tentang keindahan. Om yakin, pada saatnya nanti Vania bisa memahat diri seindah yang Vania inginkan.

Buat paranetter tercinta. Mohon maaf bila postingan saya kali ini sedikit melelahkan lantaran lumayan panjang.

Bila anda tidak ada waktu untuk membacanya secara tuntas, tidak apa apa. Tapi saya akan senang sekali jika anda turut menyapa Adek Vania di sini.


Salam hangat selalu..

27.5.11

Cerita Yang Lain Tentang (Nona) Catherine

27.5.11
Tulisan saya kali ini masih sedikit berhubungan dengan tulisan sebelumnya yang berjudul Sedang Jatuh Cinta Lagi. Di sana saya bercerita tentang sepeda BMX yang saya beri nama Nona Catherine.

Nona, begitu biasanya saya menyebutnya (tapi kawan kawan lebih senang memanggilnya Catherine, seperti lagu tamasya di album pertama). Dia saya gunakan untuk media inspirasi. Baik dalam menciptakan lagu, menulis, melukis, maupun hanya sekedar menangkap ide. Dengan mengajaknya berjalan jalan tentunya.

Ini adalah cerita yang lain tentang Nona catherine..

Dimulai pada 21 September 2008..

Saat seorang sahabat saya yang bernama Cak Har, istrinya melahirkan seorang bayi cantik. Tak berapa lama setelah proses kelahiran putrinya, Cak Har menghubungi saya via telepon. Dia bilang kalau putrinya ingin diberi nama Catherine.

Jujur, saya kebingungan untuk menjawab apa. Di satu sisi tentu saja saya senang. Namun disisi lain saya jadi punya pikiran, nama anak adalah sebuah doa, tentang pengharapan orang tua. Itu yang diajarkan oleh agama yang saya anut.

Pelan pelan, masih di telepon, saya mencoba menjelaskannya pada seorang Cak Har. Tapi apa jawabannya? Justru karena nama adalah sebuah doa itulah maka dia ingin anaknya diberi nama Catherine.

Sesuai dengan teks dalam reff lagu Catherine milik tamasya band yang saya ciptakan. Disana tertulis, "Cinta yang ada dihatiku satu diantaranya milik Catherine".

Pas, sesuai dengan apa yang Cak Har rasakan (Itu yang Cak Har katakan pada saya). Begitu juga dengan lirik lirik setelahnya. Cocok dengan apa yang diinginkan Cak Har sebagai seorang ayah yang menginginkan segala yang terbaik untuk buah hatinya.

Akhirnya, perempuan mungil titipan Tuhan itu benar benar memiliki sebuah nama yang cantik, Catherine. Lebih lengkapnya adalah Catherine Harum Senja Ramadhani. Nama yang manis.

Ini dia potret si kecil Catherine. Foto diambil pada 18 Mei kemarin.



Catherine, Nenek Catherine dan saya

NB :

Pada 2003 saya juga pernah dipercaya (oleh seorang sahabat bernama Kandar) untuk memberikan nama pada putra pertamanya. Saya memberikan nama tengah saya, Zabriansyah. Nama panjangnya, Muhammad Robert Zabriansyah. Alhamdulillah, sekarang si Ubet (nama panggilannya) sudah duduk di bangku SD kelas dua.

Adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bila kita dipercaya seseorang. Dan akan lebih bahagia lagi bila kita mampu menjaga kepercayaan tersebut. Semoga saya bisa seperti itu, Amin..

26.5.11

Sedang Jatuh Cinta Lagi

26.5.11
Saya sedang jatuh cinta, lagi lagi dan lagi. Ini beneran, bukan gosip dan bukan isapan jempol, hehe..

Ya benar paranetter. Saya sedang terkena panah asmara. Hati ini rasanya tak ingin jauh jauh darinya.

Cinta yang ada di hati ini satu diantaranya milik nona, dan memang seperti itulah adanya.

Ohya, kenalkan. Namanya Nona Catherine, tapi saya biasa memanggilnya nona.

Siapakah nona? Dia adalah sepeda tercantik di dunia, hehe..

Saya sedang jatuh cinta, sedang ingin menyusuri jalan berdua dengan nona, BMX kesayangan saya.

Paranetter, mengayuh sepeda itu indah lho. Nggak percaya? coba deh, dan rasakan nikmatnya. Dijamin, anda akan jatuh cinta setiap hari.

24.5.11

Bukan Lukisan Terakhir

24.5.11
Ini cerita ketika saya masih aktif menjadi juri lomba melukis dan mewarnai. Di mulai pada awal tahun 2005. Ketika itu teman saya (namanya Rossi) kerja di salah satu perusahaan crayon dan ditempatkan di daerah eks karesidenan Besuki.

Singkat cerita, teman saya ini meminta saya untuk membantunya menjadi juri tetap untuk produknya. Atas nama pertemanan (nepotisme hehe), saya pun menjadi juri.

Antara tahun 2005 hingga awal tahun 2010, saya sering njuri berdua dengan seorang kawan seniman. Namanya Pak Widodo, tapi saya biasa memanggilnya Brade Wid.

Namanya juga menjadi juri, pasti ada banyak waktu jeda. Nah, di waktu waktu inilah saya sering menghabiskan waktu untuk berbincang bincang dengan Brade Wid. Temanya tentang apa saja. Tapi biasanya tentang obrolan seputar menjadi juri.

Saat menjadi juri :

FaberCastell


Sebenarnya pada Maret 2010 adalah kali terakhir saya menjadi juri lomba lukis dan mewarnai. Tapi pada 27 juli 2010, seorang kawan menawari saya untuk kembali menjuri. Dan saya menerimanya. Pertama, ini adalah acara yang digelar oleh teman saya (dia bekerja di DISHUB dan sedang mengadakan acara lomba mewarnai di Terminal Tawang Alun Jember). Kedua, karena partner juri kali ini adalah Brade Wid. Dan yang berikutnya, karena teman saya ini meminta satu paket, juri dan tamasya. Maksudnya, setelah tugas menjuri selesai, saya akan bernyanyi bersama tamasya.

Hmmm, tawaran yang menarik dan sulit untuk ditolak. Sungguh, ini bukan tentang beberapa lembar uang yang akan saya terima. Ini lebih dari itu.

Dan waktu terus berjalan. Tapi 27 juli 2010 bukanlah saat terakhir saya menjuri.

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan bernama Ghanesya meminta saya untuk menjadi juri di acara lomba lukis yang diadakan oleh kantornya. Tanggal 29 Mei 2011. Saya mengiyakan dengan satu syarat, njurinya berdua dengan Brade Wid. Itung itung, berbagi rejeki. Dan ternyata tidak ada masalah, semua sudah disepakati. Tinggal menghubungi Brade Wid saja.

Adalah sangat benar sekali kata kata bijak berikut ini. Kita hanya bisa merencanakan, Tuhanlah penentunya..

Saat akan menghubungi nomor Brade Wid itulah (beberapa saat sebelum memencet nomor hapenya), sudah keduluan ada sms masuk. Pelan tapi pasti, saya membuka sms tersebut. Dan sungguh diluar dugaan, isi sms tersebut mengabarkan sebuah berita duka. Ya benar, Brade Wid telah menyelesaikan tugasnya di dunia ini.

Innalillahi Wa Innalillahi Roji'un..

Kenangan Bersama Brade Wid :

Lomba

Bernyanyi

Paranetter, bagaimanapun saya harus menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Pada 29 mei nanti saya akan menjadi juri tunggal. Dan dalam hati saya berjanji, itu adalah penjurian terakhir yang akan saya lakoni.

Brade Wid, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Nya, Amin Ya Robbal Alamin..

NB :

Seperti yang pernah Brade Wid katakan, suatu hari di arena lomba lukis. "Lukislah hidupmu seindah yang engkau inginkan.." Seperti itulah yang ingin saya lakukan.

Saya punya cara cara yang aneh untuk menghormati sebuah persahabatan. Itulah kenapa saya ingin menutup kisah saya di dunia juri dengan manis.

Tidak menjadi juri bukan berarti tidak lagi berkarya. saya akan tetap melukis, setidaknya melukis kenangan di hari hari dan kehidupan ini. Seperti yang Brade Wid inginkan.

23.5.11

Lagu Untukmu

23.5.11
Di saat seperti ini
Ingin aku kau temani
Aku benar benar ingin
Pandang wajahmu

Satu kali ini saja
Temani aku bernyanyi
Petik gitar di sampingmu
Usah kau tanya.. inginku..

Reff :

Yang aku inginkan hanya engkau tumbuh mewangi
Mekar bersemi seperti bidadari yang memetik
Setangkai bunga menghias telinga

Biar ku berjuang untuk mengubur dalam dalam
Getar rasa hati dan mimpi untuk menjadikanmu
Ibu dari anak anakku nanti



Lagu ciptaan sendiri
Aransemen - record - mixing : Mungki Krisdianto
Masuk dalam Album Save The Tree #3
Tamasya Band

Lagu Untukmu bisa di share / unduh di sini

21.5.11

081933316733

21.5.11
Cerita di mulai pada awal 2007. Waktu itu saya lagi apes, kecolongan sebuah hape beserta nomor dan chargernya.

Tiga tahun kemudian.

Ada seorang sahabat lama yang berjumpa dengan saya dan tiba tiba berkata seperti ini. "Gaya reeek, di sms nggak pernah di balas, di telepon nggak pernah di angkat, sombong ya sekarang.." Lho lho lho, saya cuma bisa melongo.

Usut punya usut, ternyata sahabat saya ini menghubungi saya di nomor lama. Ya, nomor yang hilang itu. Kok bisa? kok masih aktif? Saya sendiri heran, akhirnya saya coba untuk kontak nomor lawas tersebut. Iya benar, ternyata masih aktif.

Nomor tersebut diakui di pegang oleh seorang cewek bernama Mbak Linda. Dan masih satu kota dengan saya. Menurut penuturannya, nomor tersebut di dapat dari sebuah counter dengan harga 50.000 karena dianggap nomor cantik. saya sih cuma senyam senyum saja. Soalnya saya sendiri dulu belinya cuma 2.500 rupiah.

Masih menurut Mbak Linda, dia membelinya sudah dalam keadaan kepingan (cuma kartunya aja), dan nggak pake regristasi lagi. Dan kartu tersebut sudah dalam keadaan kosong tanpa ada data nomor dan sms lama. Hmmm, padahal ada beberapa sms yang sengaja saya simpan di sana hehe.

Saya katakan pada Mbak Linda, kalau memang suka dengan nomor tersebut silahkan di gunakan. Saya hanya minta tolong, seandainya ada nomor yang menghubungi dan mengaku sebagai teman saya, mohon diberi nomor saya yang sekarang.

Sampai saat itu, keadaan masih baik baik saja.

Nah, yang lucu adalah setelah launching album tamasya kemarin, sengaja saya mengirim sms di nomor itu. Hanya menyapa saja, dan hanya ingin tahu apakah ada pesan untuk saya di nomor tersebut atau nggak. Soalnya sejak saya mengirimkan sms yang terakhir (kalo nggak salah, pertengahan 2010), tidak ada kabar lagi dari nomor tersebut. Anehnya, tanggapan untuk yang sekarang ini cenderung kurang menyenangkan.

Menurut pengakuan, si pemilik bukan lagi Mbak Linda, tapi seseorang yang mengaku bernama Bripda Norman Sugiono. Aneh saja. Saya tidak begitu yakin dengan pengakuan nama ini. Bukan apa apa, kapan hari kan di media sedang gencar gencarnya pemberitaan tentang Briptu Norman. Nah, ini ada juga yang namanya mirip hehe.

Sempat terlintas untuk memblokir saja nomor tersebut di XL center. Toh data diri untuk pengaktifan nomor tersebut dulunya saya bikin sejujur mungkin dan sesuai KTP. Di dua album kompilasi indie yang beredar antara 2005 - 2007 juga mencantumkan nomor tersebut untuk CP di cover CD. Tapi ah, buat apa? Kasihan juga dengan si pemegang yang sekarang. Bisa jadi dia lebih memerlukan nomor tersebut dari pada saya.

Hmmm, semoga saja nomor tersebut membawa kebahagiaan tersendiri buat pemiliknya.

Paranetter, apakah anda punya pengalaman yang mirip dengan saya? Atau, seandainya anda punya pengalaman seperti yang saya alami, apa yang akan anda lakukan? Senang rasanya jika anda mau berbagi di sini.

Terima kasih dan salam hangat..

17.5.11

Indah

17.5.11
Inilah kegiatan saya beberapa hari terakhir ini. Latihan bersama sama, ngamen, panen ikan lele di kolam depan panaongan. Dan satu lagi, makan bersama sama, hehehe...


Di lihat dari sisi manapun, hidup ini memang manis indah dan layak untuk kita syukuri. Terima kasih Tuhan, atas segala nikmat-Mu.

Paranetter, bagaimana kabar anda? Apakah semanis puncak rengganis? Semoga indah seindah indahnya, Amin..


NB :

Hepi Ultah yang ke 6 buat Adek Kayla, putri dari Bibi Titi Teliti.

Ohya lupa ngasih tau. Foto adek Kayla ada di slide yang buat adek Dija juga lho, tapi ada di tengah2 slde, hehe. Bisa di tonton di sini. Semoga tambah cantik ya sayang..

11.5.11

Menulis adalah Sesuatu Yang Manis

11.5.11
Saat saat jeda jemari ini menari menuliskan kata demi kata, sesekali saya menikmati secangkir kopi racikan sendiri. Srupuuuut.. hmmm.. alangkah nikmatnya hidup ini.

Dari secangkir kopi, pikiran saya melayang ke segala arah. Mencoba memungut apa saja yang bisa saya pungut, kiranya bisa saya jadikan bahan tulisan. Tentu saja dengan tidak membohongi hati nurani.

Menulis adalah sesuatu yang manis. Hanya dengan menulislah kita bisa keluar dari tebing tebing yang mengkungkung hidup dan kehidupan kita, untuk menuju kebebasan yang membahagiakan. Namun begitu, tidak salah jika ada yang mengatakan, menjadi penulis sama dengan siap siap untuk miskin. Setidaknya, kalimat itu tidak sepenuhnya salah, hehe..

Berani menjadi penulis sama artinya dengan berani menanggung resiko bergulat dengan sepi. Berani menghabiskan sisa usia kita dengan menjadikan diri ini penulis, juga mempunyai arti berani untuk selalu setia pada proses. Sedangkan setia pada proses itu sendiri berbanding lurus dengan setia pada apa yang kita tuju.

Tulisan ini tidak bermaksud apa apa selain sebagai sebentuk rasa hormat pada mereka mereka yang terus setia menulis, menghabiskan hari harinya sebagai sang penyampai pesan. Juga, sebagai rasa salut pada mereka para penulis yang bukan hanya mengajarkan keberanian pada kita. Tapi juga tenang sebentuk tanggung jawab, tentang bagaimana seharusnya seorang penulis.

Terima kasih, tulisan dari paranetter semua menginspirasi saya untuk tetap bertahan dengan apa yang saya pilih.

Paranetter, apakah anda sependapat dengan judul tulisan ini? Bahwa menulis adalah sesuatu yang manis. Atau apakah anda memiliki definisi sendiri tentang menulis? Senang rasanya jika anda mau berbagi komentar di sini. Salam hangat.

6.5.11

Bertahanlah Sayang

6.5.11
Bertahanlah Sayang By Tamasya Band

Dengar sayang
Jangan terlalu dipikirkan
Teruslah melangkah meraih bintang
Yang belum kau dapatkan

Lihat sayang
Daun mulai berguguran
Saat satu persatu dari kita
Tertindas keadaan

Itu wajar saja sayang
Beginilah kehidupan
Dan itu wajar saja sayang..


Reff :

Bagaimana mungkin bisa
Kita tak ingin bertahan
Jika untuk berlaripun
Itu bukan satu pilihan

Genggam erat kata hati
Percayakan pada Ilahi
Apapun yang terjadi
Tetaplah kau pilih menghadapi

Menghadapi.. menghadapi

Lirik di atas adalah salah satu lagu yang ada di album terbaru tamasya. Dinyanyikan dengan sangat manis oleh Andy Letoy, gitaris dua tamasya.




Video slide untuk lagu ini ada beberapa versi. Salah satunya, kami istimewakan untuk Adek Dija. Anda bisa melihatnya di youtube.

Salam Survive

5.5.11

Bantal Yang Indah

5.5.11
Ada yang baru di panaongan. Itu semua karena ada bantal mini dan handuk warna kuning bertuliskan princessdija.blogspot.com.

Ya benar sekali, tulisan saya yang berjudul menulis nama Dija di semen yang basah, dapat cinderamata cantik dari Mbak Elsa, dan sudah saya terima beberapa saat yang lalu.

Cihuii.. senangnya. Terima kasih ya Mbak Elsa. Buat Adek Dija sayang, salam caiyya caiyya hehe, ikut ikutan mama Olive. Bantalnya langsung lengket di pelukan lho..


Bantal mini di tamasya panaongan

Itu dia bantal mini bertuliskan angka 23 (hari lahir Adek Dija, 23 Maret) dan handuk kuning. Maap kalo fotonya kurang jelas. Maklumlah, tukang jepretnya juga udah ngantuk.

NB :

Dija sayang, saat kau besar nanti.. Belajarlah dari bantal. Tak pernah lelah menemani mimpi kita, meski kita ngiler.

Seperti yang tertulis di video slide edisi Dija

Paranetter, saya mau ngamen dulu ya. Dadaaaaah, twing...!

2.5.11

Salam Jreng

2.5.11
Salam Jreng...


Udah, gitu aja postingnya, hehehe...
acacicu © 2014