29.6.11

Essip

29.6.11
Pelajaran yang saya petik hari ini. Bahwa kalimat sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit itu memang benar adanya. Ingatan saya (akan kalimat ini) disegarkan kembali oleh tulisan Kang Lozz yang ke-100 di blog kesayangannya, essip.

Saya punya satu kata untuk Kang Lozz. Selamat.

Paranetter, bicara tentang Kang Lozz, saya jadi ingat akan sebuah lagu yang saya ciptakan untuk dia. Sudah agak lama sih. Dan sudah pernah diceritakan di salah satu artikel Kang Lozz yang berjudul Luka Dihatiku Akan Kujadikan Lagu. Tapi nggak apa-apa deh, itung-itung saling menyegarkan kembali, hehe.

Lagunya berjudul Luka Yang Indah.

Saya gambarkan lagu ini dengan satu kalimat saja. Bahwa rasa luka yang sebegitunya pun bisa kita rubah menjadi sesuatu yang indah, dan semuanya hanya terletak pada bagaimana kita memandangnya.

Ini dia lirik lagunya.

Luka Yang Indah


Seperti inikah rasanya kehilangan
Ingin tak percaya tapi kumerasakan
Kehilangan dia yang kusayang

Aku tak hendak meratapi kesedihan
Kuhanya tak mau terpenjara kenangan
Aku harus melambaikan tangan

Meski kau menikam aku dari depan
Ku tak harus tak bertahan


Reff :

Luka di hatiku.. akan kujadikan lagu
Gelap di jiwaku.. akan kunyalakan.. akan kunyanyikan


Nah, itu dia lirik lagu yang didendangkan dengan manis dan sepenuh hati oleh Kang Lozz Akbar si empunya blog essip. Aransemen, record dan mixing masih ditangani oleh Mas Mungki Krisdianto, gitarisnya tamasya band.

Tertarik untuk sekedar mendengarkan? Silahkan klik judul lagu di bawah ini.

Luka Yang Indah

Dan sebagai penutup, saya ingin mengucapkan selamat memperingati Isro Miroj bagi saudara saudara saya seiman. Ada banyak pelajaran yang bisa kita renungkan dari peristiwa Isro Miroj, semoga kita bisa memetik dan mengamalkan hikmahnya.

Paranetter, saya akan sangat senang sekali bila Anda juga turut mengucapkan selamat pada Bang Lozz, atas tulisannya yang sudah mencapai seratus. Terimakasih sebelumnya.


Salam Essip..!


Catatan

Bila saya ingin harum, sudah pasti saya akan bersahabat dengan para penjual minyak wangi. Berdendang bersama-sama, nyruput kopi bersama-sama, dan berkarya bersama mereka. Tapi saya memilih untuk bersahabat dengan para blogger.


Terimakasih untuk senyum, doa, cinta, karya dan inspirasinya.

28.6.11

Inilah Orang- Orang Yang Menginspirasi Saya

28.6.11
Inilah orang-orang yang menginspirasi saya di akhir bulan Juni 2011 :

Yang pertama

Namanya Fawaz. Anda bisa menjumpainya di jejaring sosial facebook dengan nama Fawaz Al Batawy. Dia jauh lebih muda dari saya. Bukan seorang teman yang sangat dekat sekali. Tapi saya dan Fawaz pernah mendendangkang lagu lagu tamasya di bawah bintang yang itu itu saja.

Yang saya tahu tentang Fawaz.

Lahir di Jakarta tapi selalu bangga dengan Jogja. Rambutnya gondrong gimbal dan dia penikmat musik reggae. Dia seorang pencinta alam. Sudah tidak bisa dipungkiri, kami bersaudara karena setiap pencinta alam bersaudara.

Yang bikin saya geleng geleng..

Laki laki semuda Fawaz idealnya masih bergelut dengan persoalan cinta. Tapi Fawaz tidak. Dia lebih memilih untuk pasang badan di jalur juang, menasbihkan hidupnya untuk mengangkat derajat para marjinal.

Sekarang Fawaz tinggal di Jambi, melebur bersama orang rimba di SOKOLA RIMBA. Salut..!

Yang kedua

Namanya Aunurrahman Wibisono. Anda bisa memanggilnya Nuran. Dia juga jauh lebih muda dari saya. Karya karya tulisnya bisa anda baca di sini.

Sedikit gambaran tentang Nuran.

Kuliah di Fakultas Sastra Jember (dan belum selesai), aktif menelurkan ide ide Jurnalistiknya di UKM Pers Tegalboto. Yang paling berkarakter dari Nuran, dia penikmat kopi dan suka mbolang berkelana kemanapun angin menuntunnya.

Kesenangannya menulis di blog membawanya ke Eropa, beberapa waktu yang lalu. Planningnya, dia akan menghabiskan waktu tiga bulan di sana.

Inilah bakal rute yang diinginkannya.

Jerman- Belanda- Belgia- Luxemburg, lalu turun ke Perancis, disambung ke Spanyol, turun lagi ke Portugal, lalu menyebrang ke Maroko. Dari Maroko naik lagi ke Spanyol, lalu melipir ke Italia, menyebrang ke Sisilia, lalu naik lagi ke Swiss, baru balik ke Jerman, lantas pulang ke Indonesia.

Yang bikin saya takjub..

Sekarang, setiap kali saya singgah di blog nya (yang hanya sekali saya berkomentar di sana, hehe), saya selalu takjub. Di blog tersebut sudah ada Ernesto Guevara, Jim Morrison, Wine, Hamburg, dan kesemuanya hadir dengan senyum mencibir. Seolah olah berkata, "Nuran sudah berjalan sejauh ini, bagaimana dengan hidupmu?"

Ah Nuran, kapan kita ngopi di sudut kota kecil ini lagi?


Yang ketiga (dan yang terakhir)..


Namanya Fran, satu tahun lebih muda dari saya. Tidak tercatat di buku induk organisasi pencinta alam manapun, tapi dia jauh lebih pencinta alam daripada pencinta alam yang bernomor induk anggota. Itu saja gambaran tentang Frans.

Yang membuat saya menaruh simpati padanya..

Fran selalu saja satu langkah lebih maju. Pada saat ada banjir bandang Panti (di Jember), dia sudah ada di lokasi. Padahal saya masih packing.

Pada saat ada SAR gunung (pernah saya ceritakan di sebuah artikel berjudul Kisah seorang pendaki yang bertahan hidup di Mahameru), kaki saya keseleo bahkan di hari pertama. Akhirnya saya hanya bermanfaat di bagian logistik. Sementara Frans, dia seperti tak mengenal lelah menyelami tugasnya sebagai tim SAR hingga masa penarikan.

Saat ada gempa Jogja, saya ada di barisan gelombang pertama tim SAR OPA Jember yang berangkat ke lokasi. PT KAI memfasilitasi kami dengan satu gerbong khusus dan gratis. Sesampainya di Stasiun Jogja, tidak ada yang menyambut (yang saya kenal) kecuali satu orang, dialah Frans.

Ah Fran, hal ini terulang lagi saat Merapi meletus kemarin. Fran tiba di lokasi sebelum saya sempat memasang masker.

Saat kawan kawan Jember sibuk mencari tahu bagaimana caranya agar bisa mendapat akses menjadi sukarelawan untuk korban bencana Tsunami Aceh, Fran sudah dalam perjalanan ke sana. Hanya bermodalkan jempol saja alias ngompreng dari satu truk ke truk yang lain.

Saat kawan kawan Oi Jember asyik bercerita tentang sepak terjang Bang Iwan Fals (dan lirik lirik lagunya), Fran mungkin hanya tersenyum. Ya, dia pernah juga modal jempol ke Jakarta hanya untuk sowan ke Iwan Fals. Bukan karena ingin meminta tanda tangan, bukan pula untuk minta foto bersama (untuk kemudian disebarkan di jejaring sosial seperti keinginan saya, hehe), tapi hanya sekedar silaturrahmi. Itu saja, tidak lebih dari jabat tangan dan obrolan hangat.

Pada saat saya asyik bersepeda BMX Jember - Madura di waktu yang lalu, Fran masih ada di salah satu sudut Pulau Sumatra. Rencananya dia sedang akan berkeliling Indonesia. Sayangnya di sana dia tidak menemukan celah untuk menumpang (dan bekerja) di sebuah kapal barang. Menurut penuturan orang orang sekitar pelabuhan, Frans harus kembali lagi (lewat darat) menuju Surabaya atau Bali. Karena di sanalah ada banyak kapal barang yang parkir.

Kini posisi Fran ada di Jember. Tapi beberapa hari lagi dia akan kembali terbang. Titik yang ingin dia tuju adalah Papua.

Sayang Fran tidak punya blog. Facebook dia punya (dibuatkan oleh kawan2), tapi sepertinya jarang dibuka. Saya akan senang sekali bila ada diantara anda yang (mungkin bertempat tinggal di Papua) menghubunginya di nomor hapenya, 081358971941. Setidaknya, bila teman saya ini butuh air putih, bisa mampir di pelataran rumah anda.

Fran, terbanglah kemana hati nuranimu membawa. Lalu, setelah semuanya selesai, pulanglah, membaurlah bersama masyarakat yang lain. Lebih indah lagi bila kamu belajar menuliskan kisahmu sendiri.


Fawaz, Nuran dan Frans


Keterangan foto :

Sebelah kiri sendiri, Fawaz. Pojok kanan atas, Nuran. Pojok kiri bawah, Frans dan saya, dua hari yang lalu di depan sekretariat Pencinta Alam SWAPENKA.



Catatan

Bila Tuhan mengijinkan, pada akhirnya kita akan menjadi tua. Di saat uban, ompong, encok, tulang kropos dan kesendirian mulai menggerogoti, di saat itulah kita akan tahu mengerti dan paham tentang apa yang dinamakan kenangan. Tentang apa itu petualangan. Dan tentu saja juga tentang cinta.

Tuhan bersama orang orang yang berani. Berani memahat hidupnya menjadi sedemikian indah, berani berkarya, berani menciptakan kenangan, dan berani mengecup ayat ayat Nya yang berceceran.

27.6.11

Bagaimana seharusnya belajar SEO

27.6.11
"Bagaimana seharusnya belajar SEO? Apakah harus begini dan begitu?"

Tempo hari seorang teman menanyakan itu pada saya. Maklumlah, dia sedang lapar laparnya melahap segala hal yang berbau SEO. Lalu bagaimana tanggapan saya dengan pertanyaan itu? Tentu saja saya menjawabnya dengan tegas, saya tidak tahu.

Tapi.. namanya juga lagi lapar laparnya, teman saya terus merajuk dengan pertanyaan yang semakin lama semakin membola salju. Alhasil, beberapa saat kemudian saya sudah ada di depan layar monitor, mencoba mencari tahu tentang apa dan bagaimana itu tehnik SEO. Dan, wow.. Ada banyak sekali artikel tentang SEO.

Dan hari ini saya berbincang bincang lagi dengan teman saya. "Piye?", itu kata pertama yang keluar dari bibir teman saya. Dan hmmm, saya menarik napas panjang sebelum benar benar memulai berkata kata. Kemudian.. "Maaf kawan, saya masih tidak tahu"

Jreng jreng jrieeeeng..

Ingin rasanya saya katakan saja pada kawan saya ini bahwa SEO bukanlah sebuah ilmu yang bisa dipelajari dalam semalam. Andaipun bisa, pasti hasilnya tidak akan sebaik yang diinginkan.

Belajar SEO tidak bisa instan, ini juga berlaku pada sisi sisi yang lain dalam kehidupan ini. Untuk mempelajari apapun, kita butuh setia pada proses.

Untuk bisa belajar berenang, kita tidak boleh takut basah.

Berikutnya, tidak melupakan esensi dari ngeblog itu sendiri, yaitu media untuk kita berkarya. Menulis, itu yang utama. Membuat tulisan yang bagus, jujur dan bermanfaat, itu pasti lebih indah daripada sekedar menghabiskan waktu untuk mengejar traffic tapi lupa berkarya. Semoga kita tidak lelah untuk terus menulis, karena menulis adalah sesuatu yang manis.

Dan ada satu hal yang perlu digaris bawahi, yang tidak boleh dilupakan. Semoga tidak bosan untuk belajar, belajar dan terus belajar.


Paranetter, mari kita belajar rame rame tentang apapun, dan selamat menikmati hidup.


Catatan

Seorang pencinta alam akan belajar lebih banyak mengenai sebuah jalan dengan menempuhnya, daripada hanya dengan mempelajari navigasi dan peta saja tapi tidak pernah mencoba melangkah.

26.6.11

Didewasakan Perjalanan

26.6.11
Suatu hari dalam sebuah perjalanan, saya sedang kelaparan. Di depan terlihat sebuah pondok kecil tepat di sebelah kiri jalan, di bawah sebuah pohon yang rindang. Mampirlah saya di sana. Membuka bekal untuk kemudian menikmatinya, suap demi suap.

Tepat di seberang jalan, ada terlihat seorang pemuda yang sedang berjalan, pelan sekali. Tangan kanannya sedang menggenggam sebuah tongkat kayu. Sementara pundaknya menjinjing sebuah tas yang sederhana.

Memandang tampilannya yang khas pengelana (di jaman yang seperti ini), batin ini segera menaruh hormat. Satu satunya yang membuatnya terlihat sedikit modern adalah kerpus yang menghias kepalanya.

Lalu saya menyapanya, mencoba mengajaknya bergabung untuk sekedar melepas lelah. Alhamdulillah, saya mendapat sambutan yang ramah. Tak lama kemudian kami pun berkumpul di gubug kecil tak berdinding.



Saya dan Mas Ari


Namanya Mas Ari, dia asli Jogja. Usianya setara dengan saya. Beberapa waktu terakhir, Mas Ari menghabiskan hidupnya dengan menyepi diri di Taman Nasional Alas Purwo, sebuah hutan di Banyuwangi yang juga menjadi salah satu tempat favorit untuk bersemedi (bagi mereka yang suka bersemedi).

Ya, Mas Ari telah bersemedi di sana. Dan kini dia sedang melakukan perjalanan, berjalan kaki dari Alas Purwo menuju Jogja. Entah apa yang menjadi tujuan Mas Ari, saya tidak tahu (dan memang tidak mencoba menanyakannya).

Berjalan kaki Banyuwangi - Jogja? Wew..

Ada banyak hikmah yang bisa saya petik dari pertemuan yang sebentar itu. Banyak sekali. Bahkan saya kesulitan untuk merangkumnya hingga menjadi sebuah kalimat saja.


Catatan

Kisah di atas mengingatkan saya pada kisah kisah pendekar nusantara. Mereka menempa diri di di dalam lebatnya hutan, untuk kemudian berkelana menumpas kejahatan.

Sekarang hutan semakin menyempit. Pohon pohonnya dibabat atas nama pembangunan (yang tak sesuai dengan kebutuhan), kandungannya dikeruk habis habisan. Bagaimana negeri ini bisa melahirkan pendekar?

Catatan lagi

Bertapa - berkelana - kembali pulang - berkarya - bertapa dan berkelana lagi, begitu seterusnya. Proses yang manis untuk menempa diri.

Siapapun bisa menjadi seorang pendekar yang sakti mandraguna (dalam arti luas), tidak terkecuali kita.

24.6.11

Belajar Pada Sebuah Perjalanan

24.6.11
Ini masih tentang kisah perjalanan saya kemarin (Jember - Madura).

Ternyata ada beberapa kawan yang menginginkan saya menuliskan catatan perjalanannya di acacicu. Hmmm, berhubung saya bukan pencatat yang baik, saya mau cerita sisi lainnya aja ya.

Saya melakukan perjalanan tersebut berdua dengan teman saya, namanya Opic. Masing masing menunggang sepeda BMX. Nama sepedanya nona dan suhadak.


Saya, Opic, nona dan suhadak


Yang paling sering ditanyakan selama dalam perjalanan:

1. Tujuannya apa?

Nah, jawaban ini yang tidak saya persiapkan. Pertanyaan itu hanya saya jawab dengan senyum. Kalo si pelempar tanya masih belum puas, saya akan menjawabnya dengan kalimat pendek tapi sopan. Pengen saja. Ya, semua hanya karena saya ingin. Bukan karena sebab yang lain, tidak juga mengikuti sebuah lomba.

2. Berapa uang sakunya?

Ini adalah pertanyaan yang paling sering membuat saya tersipu malu. Bukan apa apa, soalnya saya hanya membawa duit pas pasan. Seratus ribu untuk dua orang (saya dan Opic), dan untuk dua BMX. Itu juga untuk 12 hari dan dua belas Kabupaten (juga dua pulau kecil).

Rencananya, bila di tengah jalan uang tersebut ludes, saya dan Opic akan mencari kerja sementara. Tapi Alhamdulillah, orang baik ada di mana mana. Uang saku kami cukup bahkan sebelum kami berkerja.

3. Di mana kami akan bermalam?

Tadinya kami ingin bermalam di mana saja. Tapi lagi lagi, orang baik masih bertebaran di muka bumi ini.


Persiapan yang kacau..

Seperti yang telah saya ceritakan di sini, perjalanan saya kemarin sama sekali tanpa perencanaan yang matang.

Semua berawal pada 3 Juni 2011 kemarin. Tepatnya, beberapa saat setelah shalat Maghrib. Dimulai dengan celetukan iseng dari saya. "Sepertinya enak nih bersepeda keliling Madura". Ternyata ada yang menanggapi celetukan itu. "Ikut Mas.." Saya langsung menjawabnya, Ayo budhal.

Itulah penggalan obrolan, 4 jam sebelum saya dan Opic benar benar membelah jalanan. Tanpa managemen perjalanan dan sebagainya. Packing pun hanya seadanya. Benar benar bukan untuk di contoh, hehe..

Ringkasan catatan perjalanan..

Mohon maaf paranetter, saya harus benar benar meringkas catatan perjalanannya, seringkas mungkin. Berharap tidak menyiksa mata anda semua karena postingannya terlalu panjang.

Saya melakukan perjalanan selama 12 hari. Melintasi 12 Kabupaten yaitu Jember - Lumajang - Probolinggo - Pasuruan - Sidoarjo - Surabaya - Bangkalan - Sampang - Pamekasan - Sumenep - Situbondo - Bondowoso - dan kembali ke Jember.

Di luar kedua belas Kabupaten itu, saya juga menyempatkan diri singgah di dua Pulau kecil Madura. Keduanya adalah Pulau Mandangin dan Pulau Talango. Tentu saja masih dengan membawa BMX meskipun nyeberangnya hanya naik perahu kecil.





Antara Kabupaten Pamekasan ke Kabupaten Sumenep saya nggak lagi ngontel. Itu karena saya di antar oleh keluarga Cak Bazz, saudara saya di Pencinta Alam. Lumayanlah, bonus, hehe..

Ngomprengnya tiga kali, tambah dua kali jemputan. Total ada lima kali bonus. Bonus terlama ya pas Pamekasan - Sumenep. Lainnya sekitar 10 - 25 kilo meter, tapi pas di saat yang tepat semua. Kalo nggak lagi tanjakan, pas lagi kemalaman. Satu lagi, pas kehabisan tenaga di siang hari yang terik.


Yang saya dapatkan sepanjang perjalanan..


Ini bukan perjalanan saya yang pertama. Tapi, ini pertama kalinya saya melakukan perjalanan jauh dengan menunggangi BMX. Yang saya rasakan, saya bisa memandang lebih leluasa apa apa yang tadinya saya sepelekan. Dan itu ternyata menakjubkan.

Lebih lambat memang identik dengan lebih melelahkan. Tapi ternyata tidak juga. Lambat hanyalah masalah waktu kita sampai di tujuan.

Pada saat singgah di sebuah warung atau tempat tempat pemberhentian (dimana saya bergumul dengan banyak karakter), saya menjadi lebih mengerti bahwa warna hidup bukan hanya hitam dan putih saja.

Masih banyak ada orang orang baik yang bertebaran di muka bumi ini.

Sebuah perjalanan (yang disertai dengan perenungan perenungan sederhana) adalah gizi bagi mata, otak dan hati kita.

Saya pernah mendaki gunung (meskipun tidak banyak), saya pernah susur sungai dan mencumbui hutan, saya pernah modal jempol berkeliling jogja hingga jepara (sempat agak lama di Blora), kembali ke Surabaya (Sby - jember baru naik kereta) masih modal jempol (jauh sebelum ada film punk in love). Tapi dari perjalanan itu ada satu yang tidak saya dapatkan seindah saat saya mengayuh BMX Jember - Madura kemarin.

BMX lebih dekat dengan kecelakaan. Itu yang saya rasakan di saat saat saya hampir berhimpitan dekat sekali dengan mobil mobil besar yang melaju kencang. Ya, perjalanan kemarin menyadarkan saya bahwa kematian itu sangat dekat dengan kita. Nggak ada waktu lagi untuk tidak berbuat sesuatu yang terbaik, sebagai bekal kita berteduh nanti, di rumah masa depan.


Akhirnya, saya harus pulang lebih cepat dari yang di inginkan.

Kenapa?

Karena tamasya band (sebuah band indie tempat saya dan kawan kawan berkarya) sedang ada undangan main. Jadi, saya harus pulang dan kembali bernyanyi.

Itulah kenapa akhirnya saya dan Opic memilih untuk menyeberang lewat Pelabuhan Kalianget (Kabupaten Sumenep) menuju Pelabuhan Jangkar Situbondo. Waktu tempuh empat jam dengan gelombang laut yang lumayan.

Naik Kapal Kartika




Tiba di Kabupaten Situbondo


Malam hari di Bondowoso


Di Gerbang Selamat Datang Jember


Saya tiba di depan rumah panaongan pada malam hari (lupa jam berapa, yang jelas malam sekali). Terimakasih buat kawan kawan Jember yang sudah menanti kehadiran saya dan Opic di Gerbang selamat datang Kota Jember. Juga buat Mas Hendra Petiz, Bang Korep, Gan Rizki Semar. Teristimewa buat Queen Blodher dan Cak Bazz, nona mencintaimu..

Pesan moral dari cerita sederhana ini

Managemen perjalanan itu penting.

Jas Merah, jangan sekali sekali menyepelekan arah (jangan seperti saya, navigator yang kurang essip, hehe).

Terkadang, abang becak, sopir angkot dan para abang becak itu lebih pandai dari google map.

Jangan malu bertanya. Ingat pepatah, malu bertanya lewat gang buntu.

Orang yang berpenampilan preman (bahkan preman sekalipun), yang hidup di jalan, yang biasa disebut orang jalanan, seringkali tidak seburuk yang kita prediksikan. Waspada memang penting, tapi berbaik sangka juga tak kalah penting. Karena yang saya tahu, orang baik ada di mana mana.

Terus apa lagi ya? Hmmm.. Ohya, saya pengen menambahkan sedikit lagi.

Rumus bertahan hidup di dalam kota memang banyak (ada banyak teori tentang ini). Tapi setelah coba saya simpulkan sendiri, intinya hanya ada satu, skil bersosialisasi.

Bahasa kerennya, dimana bumi dipijak, di situlah langit di junjung.

Bahasa sederhananya, menghargai tata aturan yang berlaku pada masyarakat sekitar.

Paranetter, terimakasih sudah meluangkan waktu singgah di acacicu. Maaf bila tulisan kali ini agak sedikit panjang. Salam hangat selalu dari saya dan nona di kota kecil Jember.



Catatan

Perjalanan tak hanya tentang menciptakan kenangan dan rindu, tapi juga tentang bagaimana kita bisa lebih mesra lagi mengecup ayat ayat Tuhan yang berceceran..

22.6.11

Antara Saya, PR dan Sate Ayam

22.6.11
Saya sedang dapat PR nih dari Kang SOFYAN dan UNI fitr4y. Tugasnya, disuruh menceritakan sepuluh fakta tentang diri sendiri. Hmmm.. baiklah, akan saya coba.

1. Berperawakan kurus
2. Berkulit hitam
3. Giginya gingsul
4. Rambut lurus
5. Tingginya, rata rata orang Indonesia

Lho, kok ciri ciri fisik semua ya? hehe.

6. Agak lemot. Susah untuk menceritakan kembali apa yang sudah dilakoni, secara berurutan. Juga sering lupa sama nama kawan kawan lawas. Biasanya kawan kawan jaman SMP, soalnya dulu sering manggil pake nama julukan, hehe..

7. Masih berhubungan dengan jaman SMP dulu. Pada saat kawan kawan saya suka sama musik cadas beraliran keras, suka majang poster yang serem serem di kamarnya, eh saya malah kesengsem sama lagunya Mbak Mayangsari, hehe..

8. Punya hobi yang hampir semuanya murah dan mudah di jangkau. Menulis, kadang kadang melukis, ngopi, berkebun, menciptakan lagu, jalan kaki dan bernona ria. Hobi yang lain lagi, demam panggung.

9. Senang menciptakan kenangan.

10. Baru baru ini, saya sangat suka makan sate ayam. Baru sadar, ternyata sate ayam itu nikmat, hahaha...


Itu saja kesepuluh gambaran sederhana tentang saya. Berhubung oleh Kang SOFYAN (pemberi PR pertama), saya tidak diwajibkan untuk melanjutkan tugas, maka PR ini saya cukupkan sampai di sini. Atau bila ada yang tertarik, silahkan mengerjakan PR nya.


Paranetter, kenapa ya.. sate ayam bisa senikmat itu? Hmmm...

21.6.11

Hepi Ultah Prit

21.6.11
21 Juni 2011


Semoga selamanya berdansa dengan alam raya



Tak kasih hadiah lagu aja ya nduk..

Lagu yang pertama Untuk Bunga, trus yang kedua Zuhanna. Udah itu aja ya.

Eh kamu dapat hadiah juga lho dari Tante Monda. Baca aja tulisan Tante yang tanggal 10 Juni, judulnya Perhaps Love.


Tahun memang tidak pernah berulang. Hanya detik, menit, hari dan bulan saja yang terus mengalami pengulangan. Tapi, tetap saja pengen mengucapkan hepi ultah buat kamu nduk, hehe..


Selamat ulang tahun ya Prit. Semoga usia yang kadang hanya tentang angka ini semakin berkah, merekah dan indah sampai pada waktunya, Amin Ya Robbal Alamin.



NB :

Prit, pada saatnya nanti tugas kita di dunia ini akan selesai. Seperti apakah kau ingin dikenang? Mari kita habiskan sisa usia kita dengan berkarya, berbagi dan menebar cinta.

Selamat ulang tahun juga buat paranetter yang ultahnya di bulan ini.

20.6.11

Berpose di Setiap Perbatasan

20.6.11
Paranetter, kali ini saya masih ingin berbagi foto hasil perjalanan kemarin. Dan gambar di bawah ini adalah rangkuman perjalanan mulai dari rumah (gambar tengah, yang besar sendiri), Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Gempol, Sidoarjo dan terakhir pas memasuki pelabuhan Perak Surabaya.

Indahnya melewati perbatasan demi perbatasan..

Ini dia gambarnya



Di depan pelabuhan Kamal - Madura



Gantian BMX nya yang berpose. Di Alun2 Kota Sampang


Di Pamekasan



Di Gerbang selamat datang Sumenep



Dan yang satu ini adalah gambar cacat produksi. Sudah capek capek bergaya, eh ternyata wajah nggak ikutan kena jepret, hehe. Beginilah nasib kalo kameranya di timer.


Aduh, nasib..



NB :

Setiap perbatasan kota menawarkan keindahannya sendiri, selain juga menawarkan kerinduan pada kota sebelumnya.

Perbatasan adalah pintu gerbang menuju budaya yang sedikit berbeda. Logat yang berbeda, makanan yang berbeda, dan irama kehidupan yang tak lagi serupa.

Kadang, perbatasan adalah pilihan yang indah untuk mengucapkan rasa sayang pada seseorang.

19.6.11

Sedang Membelai Nona

19.6.11
Jreeeng...


Yang punya blog lagi sibuk nguthek nguthek si Nona, BMX tercinta..

16.6.11

Bersepeda Itu Menyenangkan

16.6.11
Semua berawal pada 3 Juni 2011 kemarin. Tepatnya, beberapa saat setelah shalat Maghrib. Dimulai dengan celetukan iseng dari saya. "Sepertinya enak nih bersepeda keliling Madura". Ternyata ada yang menanggapi celetukan itu. "Ikut Mas.." Saya langsung menjawabnya, Ayo budhal.

Empat jam kemudian, saya dan Opic sudah ada di atas BMX masing masing, membelah jalan beraspal di bawah bintang yang bertabur mesra.

Perjalanan yang di mulai pada 3 juni ini berakhir pada tanggal 15 juni 2011 pukul 23.03 WIB (Waktu tiba di rumah panaongan). Tak terasa, kami sudah melewati 12 Kabupaten (Jember - Lumajang - Probolinggo - Pasuruan - Sidoarjo - Surabaya - Bangkalan - Sampang - Pamekasan - Sumenep - Situbondo - Bondowoso - dan kembali ke Jember).

Tentu saja ada banyak cerita. Ingin sekali saya merangkumnya menjadi sebuah posting, tapi tidak sekarang.



Paranetter, ternyata bersepeda itu sama menyenangkannya seperti naik gunung, susur sungai, berkemah di hutan belantara, ataupun sekedar menikmati terbit dan tenggelamnya mentari di tepi pantai. Nggak percaya? Coba aja deh, di jamin menyenangkan hehe..


NB :

Kita tidak akan pernah mengerti seberapa manisnya hidup ini jika untuk berimajinasi saja kita tak berani memulai.

Ya benar, jalanan sering memakan korban. Pada saat saya mengayuh nona di ramainya jalan raya, saya seperti sedang bercanda dengan malaikat pencabut nyawa. Tapi yang saya tahu, mereka yang menghabiskan hidupnya di atas ranjang, itu jauh lebih banyak.

Hampir setiap orang yang saya temui selalu berkata, "Saya juga ingin seperti itu, tapi sayangnya saya tidak ada waktu..". Saya juga begitu. Itulah kenapa, setiap kali ada waktu, setiap kali itu juga saya terbang. Melayang mengikuti bisikan hati.

Hidup hanya sekali, mari menari...

11.6.11

Melanjutkan Perjalanan

11.6.11
Selesailah sudah masa recovery saya di Pamekasan Madura. Energi sudah kembali meski perlahan, nona pun sudah kembali cantik. Sementara masih ada tiga Kabupaten lagi yang ingin saya singgahi (dan satu pulau kecil lagi, juga dua penyeberangan).

Paranetter, terima kasih atas doa dan cintanya..

Melanjutkan Perjalanan..



NB :

Terima kasih buat dulur dulur Pencinta Alam SWAPENKA. Nggak nyangka ya, tiba tiba kita bisa reuni mendadak (Di rumah keluarga Mas Basrahil dan Mbak Diah Blodher), hehe..

Rute hari ini, menuju Kabupaten Sumenep. Kemudian singgah di Pulau Talangoh.

Istirahat bukan berarti berhenti, tapi untuk menempuh perjalanan yang lebih manis lagi.

10.6.11

Kopdar di Madura

10.6.11
Alhamdulillah, akhirnya hari ini saya bisa menyempatkan diri berkopdar ria dengan Mas Citro Mduro. Mumpung lagi bersepeda ria di Pulau Garam.

Senang sekali bisa bercengkerama ria dengan Mas Citro sekeluarga. Mator sakalangkong ya Mas atas kehangatannya, di jamu lagi, hehe.

Ohya, selamat ulang tahun Mas, semoga rejekinya lancar selancar lancarnya, Amin. Wah, ultahnya istimewa, barengan sama ultahnya suramadu. Kopdarnya juga pas di hari yang istimewa.

Bersama Mas Citro dan Si Kecil


Pakong / Pamekasan, 10 Juni 2011

Ternyata benar apa yang paranetter sering ceritakan, kopdar itu menyenangkan. Sebentuk dunia kecil yang indah.


NB :

Fotonya sengaja nggak di edit, biar tampak sisa sisa asap solar di wajah haha.. Kalo di Jember, istilahnya mus kumus.

Indahnya ngeblog, bisa menambah saudara dan menjalin silaturrahmi. Mari kita semakin semangat ngeblog.

Oh hampir lupa, Hepi ultah juga buat Mbak hani Pendarbintang, semoga semakin berpendar pendar seperti bintang, Amin..

Memandang Pulau Mandangin

Pulau Mandangin adalah pulau kecil yang masuk Kabupaten Sampang, Madura. Konon dulunya pulau ini digunakan untuk membuang orang-orang pengidap lepra. Jadi tidak heran jika untuk beberapa waktu lamanya, pulau ini jarang dijadikan obyek wisata oleh orang orang di luar pulau.

Namun tulisan saya di atas disanggah dengan santun oleh saudara Umar Faruq. Ia bilang pernyataan saya tidak benar. Lewat email, kami masih mendiskusikan hal tersebut.Setelah mendapat jawaban dari Mas Umar Faruq, catatan ini akan saya sempurnakan kembali.

Mandangin adalah pulau kecil yang cantik.

Untuk bisa ke Pulau Mandangin, kita harus menggunakan kapal kecil dari Kota Sampang. Waktu tempuhnya sekitar satu setengah jam. Hanya saja, ada baiknya anda mempersiapkan air minum sendiri bila hendak menuju pulau ini. Bukan apa apa, air di Mandangin masih terasa asinnya.

Di atas sampan



Seperti sedang memasuki dunia baru, indahnya..


Di tepi pantai

Sore hari di dermaga Mandangin

Menikmati senja


Salam saya, RZ Hakim

8.6.11

Api Tak Kunjung Padam

8.6.11
Saya tahu, sepeda BMX bukanlah sepeda yang di setting untuk melakukan perjalanan jauh. Salah satu alasannya adalah karena ukurannya terlalu kecil. Jadi, pengguna cenderung lebih cepat merasa lelah. Tapi tak ada rasa lelah yang sebegitunya jika kita merasa senang dan benar benar menikmati perjalanan.

Perjalanan saya kali ini adalah yang terpanjang selama saya menunggangi BMX Nona. Dengan rute Jember - Lumajang - Probolinggo - Pasuruan - Sidoarjo - Surabaya - Bangkalan - Sampang - Pamekasan - Sumenep - Situbondo - Bondowoso - dan kembali ke Jember.

Saat ini saya sudah ada di Kabupaten Pamekasan. Kemungkinan lebih dari satu malam di sini karena selain sepeda saya butuh di servis, saya juga butuh mengembalikan energi, hehe..

Masih ada tiga Kabupaten lagi yang harus saya lewati (juga satu penyeberangan yang diperkirakan memakan waktu lama, Kalianget - Jangkar, dan menggunakan kapal kayu kecil). Mohon sambung doanya ya paranetter, semoga saya bisa kembali di tujuan dengan selamat, Amiiin..

Perjalanan saya mulai pada 3 Juni 2011. Tentu saja ada banyak cerita. Mulai dari kemalaman di perjalanan (dan bingung mau tidur di mana, hehe) hingga kapal tenggelam yang baru saya lihat tadi di pantai Sampang. Alhamdulillah semua korban bisa di selamatkan.



Foto di atas adalah sepenggal kisah di waktu saya sedang teramat lapar. Dan di sebelah kanan saya adalah Mas Ari. Kita berkenalan di jalan. Sama sama sedang melakukan perjalanan. Bedanya, perjalanan Mas Ari sangat mengagumkan. Di mulai dari Banyuwangi (Alas Purwo) dan direncanakan akan berakhir di Jogjakarta. Dan itu semua dia lakukan dengan berjalan kaki. Hebat..! Salut untuk Mas Ari.

Paranetter, sementara itu yang bisa saya ceritakan. Mata saya sudah mendrip mendrip alias ngantuk, hehe. Semoga besok saya bisa kembali bercerita.

Ohya, mengenai judul di atas, nggak nyambung ya sama postingannya? haha.. Itu lantaran tadi sore saya sempat mampir ke tempat pariwisata Api Tak Kunjung Padam, di daerah Pamekasan.

Jadi gini, ada sebuah tempat di sini yang ada semacam api unggunnya, tidak pernah padam meskipun tersiram hujan. Oleh penduduk setempat, api ini biasa digunakan untuk menanak nasi, air, dan sebagainya.

Lho katanya ngantuk, kok masih nulis? hehe..

Oke paranetter, selamat malam..



NB :

Setiap kita memiliki nyala api di sudut hati. Andai api itu terus menyala dan tak kunjung padam, tentunya dunia akan lebih indah. Cara kita memandang hidup pun akan lebih bercahaya, karena kita punya api kecil.

5.6.11

Tamasya Hati

5.6.11
Paranetter, selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia



Eksyen..



Semoga kita tidak berpikir bahwa bumi kita baik baik saja..



NB :

Mohon maaf, untuk sementara saya tidak bisa bewe ke blog paranetter semua, soalnya saya sedang bertamasya hati alias sepeda'an hehe.. Salam hangat selalu..

3.6.11

Belajar Dari Sendok dan Garpu

3.6.11
Tulisan ini terinspirasi oleh sendok dan garpu..

Semuanya bermula dari kejadian yang saya alami hari ini. Tepat di depan mata, saya melihat dua keluarga pihak yang salah paham hanya gara gara sendok dan garpu. Dan terjadilah perang kata kata.

Hmmm, tentang perang kata katanya bagaimana, silahkan anda imajinasikan sendiri, hehe..

Perang (apapun bentuknya, besar maupun kecil) seringkali hanya dimulai oleh tiga hal. Merasa terhina, merasa tak dihormati dan merasa tidak merdeka.

Hinaan adalah ujian terbesar pada sesuatu yang disepakati bernama kesabaran. Dari sebuah hinaan, lahirlah kalimat kalimat yang indah. Yang paling populer, kesabaran ada batasnya. Atau, cacing saja menggeliat kalo terinjak.

Merasa tidak dihormati juga seperti itu. Seringkali memicu terjadinya perang. Apalagi merasa tidak merdeka. Dalam banyak kasus terjadinya perang, inilah penyebab utamanya. Tapi di sini saya tidak hendak membicarakan perang yang seperti itu. Saya lebih tertarik pada bagaimana sih idealnya hidup bersama.

Di salah satu postingan Bunda Lily Dont Worry, saya pernah membaca kalimat seperti ini (maaf Bunda, tulisannya saya copas, heee).

Manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain. Itu benar adanya. Namun, sesungguhnya manusia juga tidak dapat hidup dengan orang lain.

Ego manusialah yang membuat kita tidak dapat hidup rukun dengan orang lain.

Tiap manusia memiliki kecenderungan merasa bahwa dirinya yang paling benar, orang lainlah yang salah dan harus berubah.


Nah, itu dia tulisan dari Bunda Lily yang membuat kepala saya manggut manggut. Lalu, apa yang terbaik yang bisa kita lakukan jika hidup bersama sama dirasa tak mudah dan hidup sendiripun adalah tidak mungkin. Jawabannya (masih saya temukan di tulisan Bunda Lily) adalah membuka pintu pintu maaf pada hati kita.

Dengan mudah memaafkan, kita akan mudah mengembangkan sayap toleransi dan segala hal yang seirama.

Bila itu sudah kita lakukan namun hal hal yang tidak kita inginkan masih saja terjadi, kita masih bisa mengusahakan sebentuk komunikasi. Karena sejatinya, segala sesuatu bisa kita selesaikan dengan komunikasi.

Bagaimana bila masih berlanjut? Segera hubungi dokter haha..

Paranetter, saya juga memiliki pertanyaan yang sama. Bagaimana bila masih berlanjut? Apakah kalimat "Sabar ada batasnya" itu memang benar adanya? Saya sendiri tidak benar benar tahu.

Harapan saya, semoga paranetter berkenan urun rembug di kolom komentar acacicu. Terima kasih dan salam hangat.


NB :

Untuk sendok dan garpu di segala pojok dunia, terima kasih inspirasinya.

Itulah kenapa saya lebih senang makan dengan tangan kanan dari pada harus mencabik cabik makanan dengan sendok dan garpu (apalagi makan dengan pisau, saya paling tidak bisa, hihi).

Enaknya makan dengan tangan, tentu saja alasan pertama adalah karena gratis. Saya sendiri yang mencuci tangan saya sebelum dan sesudah makan. Jadi saya lebih percaya akan kebersihannya. Dan saya percaya bahwa tangan saya tidak pernah jatuh ke dalam comberan (kecuali pada saat kerja bakti, haha).

Masih NB :

Andai kita tak takut dihina dan tak ingin dihormati, pastilah kita orang yang paling merdeka..

2.6.11

Sepeda Tercantik Sedunia

2.6.11
Hari ini, 2 Juni 2011, nona ulang tahun yang ketiga. Dia nona bukan siapa siapa, hanya sebuah nama seonggok BMX tak bernyawa. Tapi di balik diamnya, nona adalah penyimpan kenangan yang baik.

Ini dia si cantik Nona


Hepi Ultah ya Say..

Nah, berhubung sekarang adalah saat yang istimewa, saya pun packing dan siap terbang mendaki Arjuno. Sayang tiga ribu sayang, saya melupakan satu hal. Masih ada PR yang nggak bisa saya tinggalkan.

Haduuuh, ora sido budhal ke Gunung Arjuno.

Yang bisa saya lakukan hanyalah mengantar kepergian dulur dulur panaongan (lima orang) dengan pandangan yang sebegitunya.

Tapi nggak apa apa. Tadi saya sempat pinjem carrier dan action di depan kamera, haha..


Satu.. Dua.. Jepreeet..


Hmmm.. daripada saya bersedu sedan, mending saya jalan jalan aja ah. Berdua dengan Nona tentunya.

Paranetter, saya nggowes dulu ya, dadaaaah.. twing..


NB :

Nona, mari kita berjalan jalan. Memandang manisnya kehidupan, sambil sesekali taffakur pada ayat ayat Tuhan yang berceceran. Selamat ulang tahun ya sayang (tak apalah, meskipun yang kita tahu tahun tak pernah berulang, hehe).

Adakah dari paranetter yang ingin mengucapkan hepi ultah buat Nona? Terima kasih sebelumnya.
acacicu © 2014