31.7.11

Tentang Rumah Masa Depan

31.7.11
Barusan saya nyekar di pemakaman Ibuk. Tidak banyak yang saya lakukan di sana selain hanya berdoa. Setelah itu saya nongkrong sebentar di batu kecil pinggir kuburan.

Tiba tiba saya ingat ucapan dari Lek Haji Parto setahun yang lalu. Beliau bilang, tanah di kuburan ini sudah tertutup untuk orang lain. Sisa tanah kuburan ini disediakan untuk anak cucu Almarhum Haji Soleh, yang punya tanah wakaf. Hmm, memang masuk di akal. Anak cucu Haji Soleh tidak sedikit, sementara tanah kuburan ini semakin menyempit.

"Kamu harus mencari kaplingan tanah kubur untuk dirimu sendiri Le", kata Lek Haji Parto pada saya. Saya hanya diam, bingung harus menjawab apa.

29.7.11

Mercon Oh Mercon

29.7.11
Penulis tamu : Prit Apikecil

Duorrr...!!! Suara petasan mengejutkanku. Menjelang bulan puasa memang banyak penjual kembang api, petasan, dan pernik-pernik semacamnya. Rasanya aneh, kalau nggak dengar suara petasan di bulan puasa. Seperti ada yang kurang, hehehe.

Tadinya saya bingung mau nulis apa ketika mas Bro Acacicu mengulurkan selendang, agar saya menari di blog ini. Maksudnya sih, saya diminta Mas Bro untuk menulis di blog ini. Akhirnya saya memutuskan menulis pengalaman saya dengan petasan, tepat setelah saya mendengar suara petasan di depan rumah. Twing..twing...

Semasa kecil, saya sangat tertarik dan penasaran dengan suara petasan. Kawan kecil saya menyebutnya mercon. Ibu bilang cewek nggak boleh main mercon, tapi Bob (panggilan untuk Bapak saya) berkata kalau anak cewek main mercon itu luar biasa. Demi mendengar kata luar biasa itulah akhirnya saya memutuskan untuk menyelesaikan rasa penasaran dengan benda yg berbunyi nyaring itu.

26.7.11

Kehilangan Surat Kehilangan

26.7.11
Ini tentang sahabat saya yang pelupa (sama seperti saya, hehe). Dan tulisan ini bukan untuk mengejek atau apalah. Hanya sebuah tulisan ringan saja.

Baiklah paranetter, akan saya ceritakan kisah lupa sahabat saya ini.

Namanya Feri. Dia seusia dengan saya. Kami bisa akrab sekali karena sama sama pelupa, haha.

Sisi lain dari karakternya (selain pelupa) adalah jari jemarinya. Ya, dia sangat jago menarikan jemari diantara senar gitar. Dan untuk yang satu ini, entah kenapa Feri tidak pernah lupa. Feri juga sempat sangat lama menjadi gitarisnya K2 reggae sebelum akhirnya mengundurkan diri dan memilih ngamen di Pulau Dewata.



Saya dan Feri

Nah, ini dia kisahnya.

Suatu hari saya direpotkan oleh tingkah Feri yang mendadak heboh. Dompetnya hilang (dan saya yakin ini karena dia lupa menaruh dompet). Sementara di dalamnya ada beberapa kartu identitas. Yang paling Feri butuhkan (dan sangat mendesak) adalah STNK.

Singkat cerita saya dan Feri pun mulai bergerilya. Bertanya kesana kemari tentang apa yang harus dilakukan untuk mengurus semua itu. Dan pada akhirnya, Feri tahu apa yang harus dilakukan.

Merasa percaya diri, Feri berangkat sendirian ke kantor polisi. Tujuannya hanya satu. Mengurusi surat kehilangan. Dan berhasil. Feri kembali menemui saya dengan wajah yang berseri seri. Sementara di tangan kanannya sudah ada selembar surat kehilangan.

Esok harinya, situasi berubah lagi. Tidak ada lagi wajah berseri dan senyum di sudut bibir Feri. Yang nampak hanya wajah kusut tak bersemangat. "Lho kenapa Fer?" saya melempar tanya. Feri memandang saya lesu, lalu berkata. "Aku kehilangan surat kehilangan"

Eng ing eng..

Mau nggak mau, Feri pun kembali mengurusinya di kantor polisi. Tapi kali ini dengan tema yang berbeda. Mengurusi kehilangan surat kehilangan, haha.. Jangankan saya sahabatnya sendiri, Bapak petugas saja ngakak menghadapi kasus yang langka ini.

Paranetter, apakah anda juga mempunyai sahabat yang pelupa?


Catatan

Suatu hari Feri tersenyum demi menyadari bahwa surat kehilangan yang hilang itu ternyata nongkrong dengan manis di dalam jok sepedanya.

Mohon maaf masih belum bisa beredar, yang punya blog masih ngamen.

25.7.11

Periculum In Mora

25.7.11
Bila nanti pohon terakhir
Telah tumbang dan nggak ada pohon yang lain

Bila nanti burung terakhir
Telah tertembak mati dan nggak ada lagi

Ohya.. ohyaaa...

Nggak ada waktu lagi tuk menanti

Nggak ada lagi kicau burung bernyanyi

Reff

Yang ada hanya uang
Hanya perhiasan

Yang ada hanyalah lukisan
Lukisan pemandangan



Bila nanti sungai terakhir
Telah tercemar kering dan nggak ada sungai

Bila nanti ikan terakhir
Telah tertangkap disantap dan nggak ada lagi

Ohya.. ohyaaa...

Nggak ada waktu lagi tuk menanti

Nggak ada lagi kicau burung bernyanyi

Reff II

Nggak ada waktu lagi
Untuk hanya diam

Untuk hanya sekedar hidup
Dan kemudian mati




Catatan

Lagu yang berjudul Periculum In Mora ini masuk dalam album ketiga tamasya band, dengan tema SAVE THE TREE #3

Diciptakan oleh saya sendiri (cihui..), dan dinyanyikan dengan manis oleh Noveri, drummer dari tamasya band.

Seluruh aransemen, recording, mixing, dan beberapa hal lainnya digarap oleh Mungki Krisdianto, gitaris tamasya.

Periculum In Mora bisa anda dengar dan download di SINI.


Catatan Lagi

Berhubung Kang Lozz Akbar sedang merayakan hari lahir di 25 Juli 2011, maka lagu ini saya istimewakan untuk Kang Lozz.

Ayo Kang, Periculum In Mora. Sudah nggak ada waktu lagi untuk nggak menjemput tulang rusukmu, hiyahaha...

24.7.11

JFC dan Secangkir Kopi

24.7.11
Di bawah ini adalah foto tentang Jember Fashion Carnaval.

Sementara sekarang JFC acara masih berlangsung, dan saya sedang berkopdar ria dengan Kang SOFYAN. Tapi kopdarnya di rumah alias kopdar kopdaran, haha..

Buat Prit Apikecil, terima kasih ya bagi bagi hasil jepretannya.

acacicu:

acacicu jfc


acacicu:

JFC dan Secangkir Kopi


acacicu:

jfc acacicu,joe acacicu


Buat Kang Lozz, selamat menikmati indahnya Gunung Manggar. Jangan lupa tanggal 25 Juli 2011, jatah hidupmu di dunia ini akan berkurang, hiyahaha.. Semoga selamanya berkarya dan berdansa dengan alam raya.

Paranetter, ada yang ingin gabung menyeruput kopi?

Salam Jrieeeeeeng....

Ngrasani Jember Fashion Carnaval

Hari ini, 24 Juli 2011, kota kecil saya sedang menggelar acara yang diberi tajuk Jember Fashion Carnaval. Orang orang lebih senang menyebutnya dengan JFC. Dan hari ini, JFC digelar untuk yang kesepuluh kalinya.

Apa itu JFC?

Adalah sebuah fashion carnaval spektakuler (apalagi di kota yang sekecil ini) dengan konsep kostum trend fashion dunia. Yang menarik dari JFC adalah catwalk nya yang tercatat di MURI sebagai catwalk terpanjang, yaitu sepanjang 3,6 kilometer.

JFC juga berhasil mencuri perhatian dunia karena dianggap berani tampil beda.

23.7.11

Bernostalgia Dengan Cita Cita di Masa Kecil

23.7.11
Saat masih kecil dulu, saya selalu senang melihat orang dewasa yang berpakaian seragam tentara. Akhirnya bila ditanyai seputar cita cita, saya menjawab dengan lantang. Ingin menjadi tentara. Itulah kenapa di saat karnaval agustusan, saya memaksa untuk tampil sebagai tentara kecil.

Keinginan saya untuk menjadi tentara tidak lama. Di hari yang lain saya terpesona oleh seorang tukang parkir di pelataran pasar tanjung. Enak, pikir saya. Kerjanya santai. Di genggamannya selalu ada uang. Belum lagi, dia memiliki mobil yang banyak, hehe. Bisa ditebak, akhirnya saya berpindah cita cita. Dan itu juga tidak lama.

Suatu hari saat saya diajak jalan jalan ke stasiun oleh Bapak, entah mengapa tiba tiba saya pengen banget menjadi seorang masinis. Hanya karena sang masinis (kenalan Bapak) mengajak saya duduk di ruang lokomotif. Itu saja. Dan seperti yang sudah sudah, cita cita saya ini tidak lama. Di depan masih ada profesi lain yang menunggu untuk saya kagumi.

Itu adalah sekelumit cerita tentang cita cita, waktu saya masih belum lagi sekolah dasar.

Yang paling legendaris dari semua cerita tersebut adalah tentang helikopter. Ya, saya masih ingat betul. Pada suatu hari, saya sedang bermain di samping rumah berdua dengan kakak perempuan saya. Tiba tiba di udara ada helikopter yang terbang rendah sekali. Sebuah pemandangan yang menakjubkan bagi saya. Maklum, rumah saya jauh dari bandara maupun tempat latihan militer. Apalagi di kota kecil yang saya tinggali ini, jarang sekali ada pemandangan helikopter terbang serendah yang saya lihat waktu itu. Sangat istimewa.

Alhasil, sejak saat itu saya bercita cita ingin keliling kota Jember naik helikopter, haha..

Dari semua cita cita yang berpindah pindah itu, hanya cerita terakhirlah yang bertahan sampai sekarang. Ya, saya ingin jalan jalan (kemanapun) naik helikopter.

Paranetter, masa kecil adalah masa meniru dan menyerap. Seperti sebuah spoon yang memiliki daya serap yang tinggi. Apapun yang orang dewasa lakukan, dan menurut si bocah hal itu adalah istimewa, maka sudah pasti dia ingin meniru. Sekarang adalah tugas kita untuk memberikan sesuatu yang istimewa pada dunia anak.

Ohya, apakah anda punya cerita yang sama seperti masa kecil saya? Kalau boleh tahu, apa cita cita anda saat masih kecil dulu?

Selamat Hari Anak Nasional

22.7.11

Cinta ada dimana mana

22.7.11
Ini tentang semalam. Saya ngobrol dengan Bapak. Macam macam yang kami bicarakan. Dimulai dari asal usul kota Jember, suasana kota kecil ini saat saya masih dalam kandungan, hingga tentang burung burung yang masih tak begitu takut terancam oleh moncong senapan angin.

Saya sangat menikmatinya. Ya, saya paling suka mendengar dongeng dari Bapak.

Adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya mengikuti alur cerita Bapak. Mengalir seperti air. Kadang diiringi oleh tawa terkekeh, khas Bapak.

Tiba tiba tak terdengar kekeh. Tiba tiba hening. Tiba tiba suasana berubah dari yang tadinya hangat menjadi syahdu. Hmmm, Bapak sedang menceritakan awal pertemuannya dengan Ibu saya. Dan seterusnya dan seterusnya. Indah. Tapi ya itu, tidak lagi ada suara tawa terkekeh.

Terus saya teringat tulisan yang kemarin. Tentang novel berjudul Karena Cinta Itu Sempurna. Si Indi (yang nulis novel) komentarnya gini.

Cinta itu? Hmm, itu anugerah dari Tuhan yang bisa membuat perbedaan jadi indah dan kesedihan jadi kebahagiaan :)

Ada juga komentar dari sahabat blogger yang lain. Semuanya menarik. Semuanya hampir sepemikiran, bahwa cinta itu sederhana.

Bahwa cinta itu sempurna? Ya, begitulah. Cinta sangat sulit diartikan, tapi mudah sekali dirasa. Itulah yang membuatnya terlihat sempurna.

Bunda Lily Dont Worry bilang, cinta itu ada dimana mana. Dan reflek, saya menganggukkan kepala. Benar sekali. Seperti tadi malam. Seperti cinta Bapak saya pada Ibu.

Sekarang saya tidak lagi bertanya tentang cinta. Karena cinta ada dimana mana.

21.7.11

Karena Cinta Itu Sempurna

21.7.11
Semalam ada Kang Lozz Akbar berkunjung ke rumah saya. Ya bisa ditebak, kita ngobrol sana sini hingga larut malam. Jam setengah dua dini hari Kang Lozz pamit pulang. Hmm, padahal cuaca dingin. Jarak antara rumah saya dan Kang Lozz sekitar 35 kilometer. Lumayanlah.

Sepulangnya Kang Lozz, saya masih saja belum bisa memejamkan mata. Maklum, terlalu banyak nyeruput kopi rasa rindu, hehe.

Setelah sholat subuh juga begitu. Kedua mata ini masih ketap ketip sulit terpejam. Tapi kemudian, tiba tiba saya sudah ada di dimensi yang lain.

Alhasil saya mbangkong alias bangun siang. Saya belum mandi dan ngapa ngapain saat pandangan saya menubruk sebuah amplop coklat kecil di sebelah bantal mini Dija. Alhamdulillah, ternyata ada kiriman buku dari Pak De Cholik. Judulnya, Karena Cinta Itu Sempurna. Terima kasih De.



Saya sedang memeluk bantal Dija dan membaca buku kiriman Pak De

Keterangan foto :

Foto di atas hanyalah eksyen belaka. Ya, saya tidak sedang benar benar membaca buku. Berhubung belum membaca, saya tidak bisa bercerita apa apa tentang isi buku ini.

Judul buku ini begitu menggelitik saya untuk kembali memikirkan cinta (hahaha, uhui). Soalnya semalam Kang Lozz curhat kalau lagi kangen seseorang. Juga bicara tentang angka angka yang serasa mengejar. Tentang pertanyaan yang sama dari tetangga, teman, kiri kanan atas bawah. Dan semuanya mengerucut pada sebuah kata. Cinta.

Haduh, kok jadi ngomongin Kang Lozz ya, haha. Semoga dia nggak membaca ini.

Oke, kembali pada judul buku kiriman Pak De Cholik, karena cinta itu sempurna. Saya yakin setiap kita mempunyai definisi yang berbeda tentang cinta. Kalau saya ditanya tentang cinta, maka saya akan menjawab begini. Cinta adalah saat dia meracikkan secangkir kopi rasa rindu untuk saya, haha..

Paranetter, menurut anda, apa itu cinta?

Terima Kasih

20.7.11

Kisah Selembar Foto Harimau Jawa Tahun 1957

20.7.11
Ini adalah hasil diskusi yang saya ikuti semalam, tentang lebih jauh mengenal harimau jawa. Saya tahu, klaim punah bagi harimau jawa sudah menginternasional. Itulah kenapa di tulisan ini saya tidak hendak memaksa anda (dan ngotot) untuk mempunyai pola pikir yang sama dengan saya dan beberapa rekan pencinta alam bahwa harimau jawa masih ada. Kita bahas yang enteng enteng saja. Seperti kisah selembar foto Harimau Jawa tahun 1957 misalnya. Bagaimana? hehe..

Kisah dibalik selembar foto harimau jawa tahun 1957

Saat anda membuka halaman sebuah mesin pencari (contoh : google) dan mengetikkan kata harimau jawa, maka akan keluar sebuah potret harimau jawa yang sudah tertembak mati. Berikut adalah gambarnya.



Gambar dari google

Foto di atas bersumber dari seorang mantan sinder dari sebuah perkebunan di eks. Karesidenan Besuki Jawa Timur. Bila kita sedikit lebih mencermati, di sisi pojok kanan atas ada terlihat plat nomor dengan letter P. Itu menandakan kode wilayah kendaraan Jawa bagian timur (eks. Karesidenan Besuki). Memperkuat bahwa foto di atas memang berasal dari Jawa.

Di blog JavanTigerCenter asuhan Mas Didik Raharyono, ada kalimat penutup seperti ini. "Terima kasih kepada Pak Karno karena untuk izin ke saya untuk repro gambar itu". Apa artinya? Artinya adalah foto ini merupakan hasil kerja keras Mas Didik mengadakan pendekatan terhadap orang orang yang memiliki sumber keberadaan harimau jawa. Beliau yang merepro dan mengkajinya. Kita tahu, tidak semudah itu mendapatkan selembar foto harimau jawa (meskipun foto lama).

Kenapa Harimau Jawa ini ditembak mati?

Di sebuah tulisan tentang harimau jawa saya menemukan kata kata (yang dituturkan Pak Karno) seperti ini. “Saya melakukan penembakan terhadap harimau jawa tersebut karena para pekerja penyadap karet merasa ketakutan, sehingga mengganggu produktivitas kerja di Afdeling yang saya bawahi”

Masih menurut keterangan Pak Karno (diceritakan kembali oleh Mas Didik), harimau ini ditembak lantaran telah memakan tiga ekor sapi milik warga sekitar perkebunan. Alhasil, dianggap meresahkan dan harus dibunuh.

Salah seekor kepala sapi yang menjadi korban pecah oleh hantaman telapak tangan harimau jawa. Kepala sapi bisa pecah? Apakah itu tidak mengada ada? Anda bisa melihat lagi foto di atas, membandingkan telapak tangan bangkai harimau jawa tersebut dengan tangan manusia. Dan silahkan memvisualisasikannya sendiri. Inilah salah satu manfaat dari peninggalan foto di atas.

“Besar tapak kaki depan harimau jawa yang saya tembak itu dapat menutupi seluruh wajah saya”. Itu juga masih menurut Pak Karno, sang penembak mati hewan legendaris ini.

Dengan alat apa harimau jawa diburu?

Seperti yang digambarkan oleh foto di atas, ada senapan laras panjang yang tergeletak di samping kanan harimau. Meskipun laras panjang, di beberapa sumber (juga di blog javantigercenter) saya hanya mendapati kata kata pistol. Barangkali, itu adalah sebutan laras panjang di jamannya.

Pak Karno hanya berkesempatan berburu harimau jawa pada tahun 1955 hingga 1963. Kegiatan berburu berhenti sejak 1964 karena senjata/pistol tersebut kembali ke negara. Dari rentang tahun tersebut, Pak Karno mengkoleksi lima harimau jawa lagi. Harimau yang terakhir ditembak oleh Pak Karno adalah di tahun 1963.

Banyak yang bisa kita pelajari (analisis morfometri) dari selembar foto di atas. Seperti panjang ekor, lebar tubuh, pola sidik jidat, karakteristik loreng, hingga moncong hidungnya yang menyempit dan cenderung memanjang.

Kenapa gambar foto di atas berwarna kecoklatan?

Hehe, ini juga ada ceritanya lho. Alkisah dulu (siahaha..) satu satunya kamera terbaik yang bisa dimiliki (maupun dipinjam) oleh pencinta alam hanyalah kamera poket. Dan itu sudah mewah. Editing foto juga tidak sedahsyat sekarang. Mas Didik memperoleh foto ini dari tangan pertama (yaitu Pak Karno) masih berupa warna hitam putih. Lalu Mas Didik merepronya. Hasil repro ini kemudian dipotret kembali (mungkin agar bisa dimasukkan di komputer, entah..) dengan cara menampilkannya di tembok dengan fiwer. Lalu, jepreeet...!!! beginilah hasilnya, hehe..

*******

Nah paranetter, itulah hasil oleh oleh saya dari diskusi semalam bersama tiga orang pembicara. Mas Alfa, Mas Giri dan Mas Didik Raharyono. Ketiganya adalah pencinta, pemerhati dan peneliti Harimau Jawa.

Sebagai penutup, akan saya tuliskan kembali dua poin (dari enam poin) tentang latar belakang penelitian harimau jawa. Saya menukilkannya dari javantigercenter. Terima kasih buat Mas Didik Raharyono atas inspirasi dan kecintaannya.

1. Klaim punah bagi harimau jawa sudah menginternasional, tetapi masyarakat tepi hutan di Jawa masih menginformasikan perjumpaan dengan harimau loreng / jawa. Meskipun begitu belum banyak yang menjadikan informasi ini sebagai bahan kajian riset.

2. Pelaporan perihal pembantaian dan penangkapan harimau jawa masih terjadi, namun tidak ada yang tergerak untuk melakukan usaha-usaha pembelaannya.



Catatan

Seperti yang telah saya janjikan di paragraf pertama, saya tidak akan memaksa anda untuk memiliki kepercayaan yang sama dengan saya bahwa harimau jawa masih ada.

Namun begitu, saya berharap semoga kita semua tidak terburu buru memvonis bahwa harimau jawa sudah punah sebelum kita melakukan pengenalan dan penelitian lebih lanjut.

19.7.11

Berkawan Harimau Bersama Alam

19.7.11
Hari ini ada diskusi menarik di Jember. Temanya tentang Harimau Jawa. Hmm.. tentu saja ini menarik bagi saya. Di saat kota kecil ini sedang mempersiapkan JFC (Jember Fashion Carnaval) yang ke sepuluh tanggal 24 Juli 2011, ternyata masih ada sedikit ruang untuk memberi nutrisi pada otak kepencinta alaman saya.

Saya nggak tahu pasti pembicaranya siapa saja. Tapi yang jelas salah satunya adalah Mas Didik Raharyono, salah seorang penulis buku Berkawan Harimau Bersama Alam. Acara ini bertempat di sekretariat HIMAPALA BEKISAR POLITEKNIK NEGERI JEMBER.


Nah, berhubung saya belum mengikuti diskusinya, jadi saya tidak bisa bercerita banyak. Ini aja masih belum berangkat ke lokasi diskusi, haha..

Saya pernah memposting sebuah tulisan berjudul Tentang Saya Dan Harimau Jawa. Di sana juga saya tampilkan salah satu lagu ciptaan sendiri. Bila ingin sekedar meluangkan waktu untuk mendengarkan lagu ini, silahkan. Ini lagunya. HARIMAU JAWA.

Baiklah paranetter, saya tinggal diskusi dulu ya. Ohya, sudah saya siapkan kopi dan pisang goreng di meja ruang tamu acacicu, hehe..

Selamat menikmati..

18.7.11

Berkarya Dan Menebar Senyum

18.7.11
Saya tersenyum bahagia saat ini. Pasalnya, penyederhanaan tampilan blog acacicu saya rasa sudah mendekati cukup. Ini semua juga berkat masukan dari para sahabat blogger di tulisan saya sebelumnya tentang bagaimana isi dan tampilan acacicu. Mudah mudahan tampilan ini semakin mempermudah akses dan lebih meningkatkan lagi fungsi blog.

Kenapa saya katakan mendekati cukup dan bukannya selesai? Ya benar, semuanya adalah proses. Yang harus kita lakukan adalah belajar untuk selalu setia pada proses.

Tentang perubahan, itu juga bagian dari proses pembelajaran. Kita tidak akan pernah tahu makna rasa benar jika tidak pernah salah. Jadi tidak ada alasan untuk takut berinovasi.

Aduh, kok tulisan saya mbulet ya? hehe, maap. Intinya begini, ada yang berubah di blog ini. Tentu saja karena beberapa alasan (seperti yang saya sebutkan di paragraf pertama). Dua alasan lainnya adalah :

1. Hanya karena ingin berekspresi dalam karya.

2. Mencoba lebih memahami apa yang dibutuhkan sahabat blogger yang kadang meluangkan waktu untuk singgah di acacicu. Itulah kenapa saya memasang back to top di pojok kanan bawah, biar nggak capek capek scroll untuk kembali ke atas. Dan untuk kolom pencarian, anda bisa menemukannya di pojok kanan atas. Hanya saja, anda harus mengarahkan cursor ke arah itu.

Baiklah paranetter, sekarang saya ingin kembali ke kalimat pembuka. Tersenyum, hehe.. Yuk kita rame rame menebar senyum.

SALAM

17.7.11

Belajar dari Facebook

17.7.11
Ini adalah tulisan lama saya, 11 Juni 2009. Saya temukan tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Sayang bila dibuang. Mendingan saya abadikan di sini. Tentunya disertai edit.

Ini dia tulisannya. Semoga tulisan yang pendek ini bermanfaat dan bisa dinikmati.

Kamis, 11 Juni 2009

Semalam saya iseng-iseng buka Friendster, tapi sepi. Tidak ada satu pun komentar baru. Padahal dulu pas jaman anget-angetnya Friendster, dalam sehari ada saja yang mampir di Friendster.

Setelah puas dengan Friendster yang seperti kuburan, saya pindah ke Facebook. Dan, wow. Rame.

Saya bukannya hendak membandingkan tentang lebih hebat mana antara Frienster dan Facebook. Saya hanya ingin menjadikannya contoh kasus tentang fenomena yang terjadi.

Kenapa Facebook lebih digemari? Padahal tampilannya ya cuma gitu-gitu saja. Jauh lebih sederhana daripada Friendster. Jawabannya mudah, sebab Facebook lebih inovatif.

Dan apakah Friendster nantinya akan tenggelam? Kalau Friendster tidak segera berinovasi, tentu Friendster hanya akan tinggal cerita. Meskipun nantinya Friendster memilih untuk tidak melakukan apa-apa, bisa jadi akan tetap eksis. Namun hanya sekedar ada saja.

Kembali kepada Facebook.

Apakah jaringan sosial ini akan bertahan lama? Selama belum ada jejaring sosial yang lebih inovatif dari Facebook, maka ia masih bisa bertahan menjadi yang paling populer. Setidaknya tidak seburuk nasib Friendster hari ini.

Bagaimana kita sebagai seorang blogger memanfaatkannya? Mari kita manfaatkan saja jejaring sosial yang seperti itu sebagai media silaturrahim dan informasi.

Ada saatnya kita berinovasi dalam hidup dan kehidupan, tanpa harus merubah tujuan. Yang harus kita pikirkan kembali adalah caranya, bukan tujuannya.

Paranetter, saya ingin menutup catatan lawas saya ini dengan kalimat yang tak asing lagi di dunia facebook. Apa yang anda pikirkan? Haha..

Catatan

Ini renungan untuk diri saya sendiri.

Perubahan adalah sesuatu yang pasti. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menghadapinya. Itu seperti tidak bisa larinya kita dari keriput. Dalam bahasa yang lain, sulit tidaknya hidup ini tergantung bagaimana kita menghadapi. Bukan karena mudah kita yakin bisa, tapi karena kita yakin bisalah yang membuat semuanya menjadi mudah.

16.7.11

Kawan Saya Kerampokan dan Dia Masih Tersenyum

16.7.11
Saya ingin bercerita tentang Faisal, seorang kawan yang berasal dari pulau garam. Dia adalah seorang pencinta alam yang juga mencintai dunia fotografi.

Sekitar dua minggu yang lalu dia bepergian ke Pulau Lombok bersama tiga orang kawan. Tujuannya, mengantarkan tiga kawannya ke gunung rinjani.

Selain itu dia juga hendak ke rumah kakak kandungnya yang tinggal di Lombok. Saudara saudara yang lain sudah berkumpul di sana, sehari sebelum Faisal berangkat.



Faisal dan kamera kesayangannya

Dan empat hari yang lalu dia datang ke rumah. Tentu saja saya senang. Ingin rasanya memberondongnya dengan beberapa pertanyaan tentang rinjani dan bagaimana hasil jepretannya. Tapi, niat itu saya urungkan demi melihat tampilannya yang tidak sesegar biasanya. Namun begitu, Faisal masih menyisakan sesungging senyum di sudut wajahnya.

"Saya dan keluarga di Lombok habis kerampokan.."

Itu adalah kalimat pembuka dari Faisal, sebelum kalimat yang lain meluncur ke dalam telinga dan hati saya. Hmm, ternyata kawan saya yang satu ini habis mendapat musibah. Bukan hanya seperangkat kamera SLR digitalnya saja yang ludes. Hampir semua yang berupa materi seperti lenyap begitu saja.

Jadi begini ringkasan ceritanya. Suatu malam saat Faisal sudah ada di rumah Abangnya (berkumpul bersama saudaranya yang lain), tiba tiba terdengar suara pintu didobrak.

Jdaaar...!!!

Serta merta seluruh yang ada di dalam rumah berhamburan menuju sumber suara yang berasal dari ruang depan. Dan benar, di sana sudah ada 12 orang perampok berwajah tidak ramah. Di luar rumah masih ada banyak lagi perampoknya.

Mohon maaf paranetter, untuk masalah situasi dan kondisi perampokan, cukup itu saja. Saya tidak sampai hati untuk menceritakan secara rinci.

Yang Faisal khawatirkan adalah kondisi psikologis dari keluarga Abangnya. Terutama pada keponakan keponakannya yang beranjak besar. Dia tidak begitu memusingkan sisi materi. Itu yang membuat saya salut.

Seandainya saya ada di posisi Faisal, apa yang bisa saya lakukan? Entahlah. Baru saya sadari bahwa sebenarnyalah kita memang harus mempersiapkan mental yang baik, kapan saja dan dimanapun berada. Siap menghadapi hidup apapun yang terjadi. Semoga kita semua bisa, Amin..


Catatan

Detik terus berjalan, tidak peduli apakah kita siap atau tidak menghadapi hidup.

Bukan karena tidak ada rintangan, lalu kita menjadi terlihat siap menghadapi hidup. Tapi karena kita siap menghadapi hidup, rintangan menjadi tidak terasa ada.

Catatan Lagi

Selamat menikmati malam Nifsu Sya'ban. Mohon maaf bila ada kata kata yang kurang berkenan, baik dalam blog ini maupun pada saat saya berkomentar di blog paranetter.

Mari berhati hati, Idul Fitri sudah dekat.

15.7.11

Meninjau Ulang Tampilan Blog Sesuai Dengan Kebutuhan

15.7.11
Tulisan ini adalah pelengkap dari tulisan saya sebelumnya, yaitu seputar pertanyaan saya tentang bagaimana isi dan tampilan blog ini. Alhamdulillah, saya dapat banyak masukan dari sahabat blogger.

Dengan setulus hati saya ucapkan terima kasih pada semua yang sudah urun rembug.

Mungkin ada yang bertanya tanya, kenapa saya mempertanyakan isi dan tampilan blog saya sendiri. Apakah saya tidak percaya diri? Atau saya ingin menyenangkan orang lain tanpa sama sekali memperdulikan selera sendiri? Ahaha.. bukan itu kok tujuan saya.

Dan apakah saya tidak bisa menakar sendiri sisi mana di blog ini yang dirasa kurang? Tentu saja saya melakukannya, semampu yang saya bisa. Istilahnya, mudah bagi saya untuk memandang punggung orang lain, tapi tidak begitu sebaliknya. Itulah kenapa saya meminta pendapat.

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Saya berharap, blog acacicu bukan hanya mudah di akses, tapi juga mudah dibaca.

Namun sepertinya saya melupakan satu hal. Sisi keindahan. Hmm, ternyata saya memang butuh meninjau ulang. Tujuannya masih sama. Agar mata lebih mudah mengenali tulisan tanpa harus bersusah ria.

Banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik dari tulisan saya yang membahas tentang bagaimana isi dan tampilan blog acacicu. Lima diantaranya adalah :

1. Desain blog itu penting sebagai penunjang kenyamanan

2. Seringkali font sebuah tulisan memiliki efek psikologis tersendiri bagi penikmat blog

3. Tidak semua sependapat dengan keyakinan saya bahwa minimalis itu manis

4. Memperkuat poin sebelumnya. Yang harus kita lakukan hanyalah mencoba dan terus mencoba memberikan yang terbaik. Baik untuk diri sendiri maupun untuk dunia di sekitar kita.

5. Bila dirasa butuh, tidak ada salahnya meninjau ulang tampilan blog kesayangan kita.

Paranetter, terima kasih atas apresiasinya pada blog acacicu, baik dari segi tulisan maupun desain. Salam jreng jreng jreng...


Catatan

Desain blog sangatlah penting. Dan isi atau tulisan, itu satu tingkat lebih penting dari desain blog.

Sekedar menyegarkan kembali ingatan kita pada satu kalimat sakti, bahwa malu bertanya sesat di jalan, hehe..



14.7.11

Bagaimana Isi dan Tampilan Blog Ini Menurut Anda?

14.7.11
Seperti yang anda tahu, saya seringkali merubah tampilan blog acacicu ini pada bagian bagian tertentu. Misalnya, format tulisan, atau hanya sekedar merubah susunan widget blog ini.

Kenapa demikian?

Itu semua karena saya ingin menampilkan yang terbaik untuk paranetter. Berharap tulisan tulisan saya di acacicu mudah diakses dan tentunya juga (berharap) mudah dibaca.

Sekedar info, saya mempercayakan hosting blog ini pada layanan gratisan, yaitu di blogspot. Jadi, untuk otak atik HTML saya tinggal memanfaatkan layanan Blogger Template Designer. Di sana saya merdeka untuk mengobrak abrik tampilan blog ini.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada pengguna hosting selain blogspot, saya rasa inilah kelebihan blogspot. Dia lebih akrab dengan para pengguna yang kurang pandai akan bahasa pemrograman tapi ingin berinovasi secara mandiri.

Sedangkan kelemahan blogspot menurut saya adalah kolom komentarnya. Ya, di blogspot anda tidak bisa menemukan reply komentar. Kesannya, blogspot tidak ramah terhadap budaya diskusi. Oleh karena itulah saya mengakalinya dengan secepat mungkin (bila ada waktu) menjawab komentar komentar yang masuk.

Kelemahan lainnya pada blogspot, loading yang terkesan berat.

Sebenarnya tidak juga. Berat tidaknya sebuah blog (di blogspot) tergantung dari banyak hal. Diantaranya widget yang menumpuk dan background yang ukuran pixelnya besar. Solusi untuk ini, saya menahan diri untuk tidak memasang widget yang daya manfaatnya kurang. Saya juga tidak menggunakan background apapun selain hanya warna. Sengaja saya memilih warna abu abu (selain putih), sebagai pembeda dengan warna dasar postingan.

Ke depan bila dirasa butuh, saya masih ingin lebih menyederhanakan blog acacicu ini. Harapannya masih sama, ingin mengedepankan fungsi blog (dari sisi kebergunaan dan kenyamanan membaca), dan semoga mudah di akses. Untuk itulah, saya butuh masukan dari paranetter tercinta. Masukan bisa dari sisi manapun.

Bagaimana isi dan tampilan blog acacicu ini menurut anda?

Terima kasih

13.7.11

Sedikit Cerita Tentang Kado Pernikahan

13.7.11
Saya masih ingat betul ketika Almarhummah ibu saya bercerita tentang saat saat yang paling berbahagia dalam hidupnya. Salah satunya adalah saat dimana beliau (berdua dengan Bapak) membuka kado pernikahan. Ada juga sih kado pernikahan orang tua saya yang tak terbungkus. Seperti ranjang besi yang lengkap dengan kasur, bantal guling sprei dan tirainya. Saya bisa bayangkan, itu pasti indah sekali.

12.7.11

Puisi Maut

12.7.11
Diluar sana...

Ada banyak yang jauh lebih cantik dari kamu

Yang tinggi semampai

Yang hidungnya lebih mancung

Yang tidak lemot

Yang tidurnya tidak mangap

Yang bajunya ketat seperti ketupat

Yang bodinya montok seperti lemper


Tapi aku yakin

Tak satupun dari mereka yg bisa bikin kopi

Senikmat kopi hasil racikan tanganmu


Nah..

Sekarang buatkan aku secangkir kopi..

11.7.11

Minor Label

11.7.11
Hari ini saya awali dengan membaca tulisan Mbak Tia (mamanya Vania) yang berkisah tentang sebuah kata, autisme. Kemudian saya nongkrong di blog nya Mbak Imelda. Membaca tulisan lawasnya yang berjudul STOP Penyalahgunaan kata AUTIS / Autisme.

Kedua artikel tersebut mengingatkan saya pada sebuah lirik lagu (yang sampai sekarang belum saya record) yang bercerita tentang sesuatu yang serupa, tapi lain tema.

Ini lirik lagunya

Teman baik Bapakku
Putri bungsu cantiknya tuna rungu

Dia begitu dicintai
Dibelai mesra sepenuh hati

Aku tersentuh.. menatap tulus rasa

Reff :

Seandainya ku bisa bahasa isyarat
Bahagia, berbagi rasa / cinta bersahabat

10.7.11

Memutiarakan Kata Kata Bapak

10.7.11
Hal yang paling sulit saya lakukan di dunia ini adalah menyanyikan lagu ciptaan saya sendiri yang berjudul Untuk Bapak, di depan Bapak saya. Ya, sulit sekali. Sebegitu sulitnya sampai sampai saya juga kesulitan untuk menggambarkan apa yang saya rasakan, haha..

Seperti yang semalam saya rasakan, saya menutup ngamen di acara DIES NATALIS kawan kawan Kesenian LUMUT dengan Lagu Untuk Bapak, tiba tiba kedua mata saya menangkap sosok seorang laki laki yang berambut gondrong. Itu dia Pak Abdul Rohim, Bapak saya.

Mulut saya memang masih melantunkan lagu, dan tentu saja masih sesuai dengan tempo nada. Tapi hati ini melayang ke masa masa di mana saya masih begitu dekat dengan Bapak. Tiba tiba saya sudah kembali ke masa kecil, dimana ada banyak dongeng yang bisa saya dengar langsung dari beliau. Dan yang menjadi favorit saya adalah dongeng tentang Nabi Ibrahim.

Siang dan malam terus berlalu, saya semakin tumbuh dan bertumbuh. Manalah mungkin di usia yang sekarang ini saya meminta sebuah dongeng sebelum tidur? Yang bisa saya lakukan hanya satu, memutiarakan kata kata Bapak ke dalam sebuah lagu.

9.7.11

Tuhan Tidak Pernah Menjanjikan Bahwa Langit Selalu Biru

9.7.11
Saya mengawali hari ini dengan indah sekali. Pagi pagi sudah bercumbu dengan segarnya air. Tak lama kemudian kesepuluh jemari tangan saya segera beraksi menakar bubuk kopi dan butiran gula. Semua itu saya racik ke dalam mug warna hitam bertuliskan gerhana coklat. Dan sembari menunggu air mendidih, iseng iseng saya membuka hape. Eh ternyata ada pesan masuk dari Mas Udin. Dia adalah seorang sesepuh pencinta alam di Jember.

Begini bunyi pesannya :

"Selamat Pagi Indonesia. Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit selalu biru, bunga selalu mekar, dan matahari selalu bersinar. Tapi ketahuilah bahwa Tuhan selalu memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap doa. Jangan pernah menyerah, teruslah berjuang. Hidup ini begitu indah. Hidup harus memiliki suatu tujuan pasti. Serta lakukan semua dengan TULUS dan IKHLAS. Semoga dhuha pagi kian indah.."

Hmm, pesan Mas Udin (seperti biasanya, selalu diawali dengan kalimat Selamat Pagi Indonesia, dan diakhiri dengan mengingatkan kita pada indahnya dhuha) lagi lagi menambah indahnya hidup saya hari ini.

8.7.11

I Follow

8.7.11
Saya pengguna hosting gratis di blogspot. Dan hari ini saya sedikit kaget dengan penampilannya yang lain dari biasanya. Putih, bersih dan segar seperti jeruk. Wew, tambah keren saja. Tapi saya juga tambah bingung, haha.. Mudah mudahan saja kebingungan saya ini tidak berlangsung lama.

Tulisan di atas tidak bermaksud apa apa selain hanya untuk mendokumentasikan kelemotan saya hari ini, hiyahaha..

Dan sebagai penutup tulisan singkat ini, saya ingin berbagi lagu pada paranetter. Bukan lagu ciptaan saya, dan bukan saya yang menyanyikan. Ini lagunya Mas BB, salah satu keluarga tamasya yang juga manajer Tamasya Band. Dia sendiri yang menjadi penulis lirik dan pelantun lagu. Nada, aransemen, record dan mixing dibantu sepenuhnya oleh Mas Mungki Tamasya.

Judul lagunya, I Follow. Baru direcord tanggal 5 Juli 2011. Lagu bisa didengarkan langsung, dan di download di SINI.

Paranetter, terimakasih..

7.7.11

Poetry Hujan: Bukan Salah Hujan

7.7.11
Poetry..

Kuceritakan padamu tentang Panti
Sebuah nama tempat di sudut kota kecilku

Saat itu kalender masih ada di lembar pertama
Masih di pembuka tahun 2006

Hari masihlah gelap saat hujan datang menjenguk
Semuanya terlelap.. Semuanya tertidur pulas
Barangkali.. mereka sedang memimpikan suasana malam tahun baru
Ya ya ya.. baru semalam mereka mendengar suara terompet bersahutan

Kembali pada hujan..
Dengan anggunnya dia tetap membasahi atap atap rumah
Menyirami ujung ujung daun kopi yang menggigil dingin
Indah sekali..

Sayangnya, hujan tidak datang sendirian
Dia datang bersama utusan Tuhan yang lain
Lewat jalur sungai, hujan mengajak serta lumpur dan bebatuan
Di mulai dari batu yang hanya sebiji kopi

Hujan terus mengucur
Dan Panti semakin menggigil
Tapi semua penduduknya masih tertidur lelap

Takut dituduh tidak sportif, hujan pun membawa serta sang angin
Dia datang di jendela jendela rumah
Mencoba mengayun ayunkan kain penutup
Dia juga menderu pintu
Angin membangunkan si empunya rumah dengan caranya

Namun, para penghuni rumah lebih memilih menarik selimut
Mereka seakan lupa, bahwa rumah tinggalnya ada di lereng selatan argopuro
Di atas tanah tanah rumah mereka masih ada tanah perkebunan
Semakin hari semakin hanya bertumbuh beberapa jenis pohon saja
Sangatlah tidak mungkin mempercayakan datangnya hujan pada akar akar yang tidak beragam itu..

Detik terus berlalu
Pelan tapi pasti, hujan terus mencumbu
Angin masih menderu
Sekarang sudah terdengar suara klotak klotak
Itu suara bebatuan yang saling menyapa satu sama lain
Ah, bahasa yang aneh

Sampailah pada saatnya..
Hujan mempercepat temponya
Angin marah karena kehadirannya tak dihiraukan
Suara bebatuan sudah tak terbahasakan lagi
Mereka datang dari segala sisi, tak hanya sekedar menggedor pintu

"Jdaaaar...!!"

Korbanpun berjatuhan
Mereka yang dipaksa terbangun, semburat berlarian
Berlari dan terus berlari mencari tempat yang lebih tinggi

Berharap bisa terhindar dari air yang membawa lumpur
Berharap bisa selamat dari lumpur yang menggulung batu
Berharap bisa menjauh dari batu yang dideru angin

Suara mulai bercampur
Sulit untuk membahasakannya

Sementara, mulut tak henti berkomat kamit
Sebentar sebentar menyebut nama Nya, sebentar sebentar memanggil nama salah satu sanak keluarga

Haru, pilu, lelah, ketakutan, kedinginan, kehilangan..
Semua bercampur menjadi satu di bawah butir butir air hujan

Dan diantara suara suara yang bertaburan itu, hujan memperlambat temponya
Semakin lambat dan semakin lambat.. Hingga hanya tersisa butir butir gerimisnya

Di ujung yang lain, di sebuah desa yang berjarak beberapa punggungan, orang orang sudah bersiap mendengarkan kokok ayam jantan

Detik menderap..

Saat tiba di sana, mayat mayat para korban sudah berjajar rapi
Hanya disatukan dalam satu kain spanduk usang yang bahkan tidak sampai menutupi kaki

Semakin hari, bantuan semakin berdatangan
Angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara dan keluarga bhayangkara, terlihat mesra bekerja bersama sama
Perusahaan komunikasi memasang beberapa KBU di sini (yang jarang digunakan para korban untuk menghubungi sanak keluarganya)
Rekan rekan jurnalis mondar mandir dari posko yang satu ke posko yang lain, mencoba membaca situasi

Ada banyak instansi di sini
Ada banyak tim SAR
Ada banyak sukarelawan dengan segala skill nya
Ada banyak poster poster parpol
Ada banyak massa dengan segala niatnya
Ada banyak kepentingan

Ada banyak yang saling menuding
Saling menyalahkan dan tidak mau disalahkan
Tentang kenapa ada bencana di Panti

Yang terpojok dan terlihat nyata bersalah, dialah yang menyalahkan hujan

Ada banyak teater kehidupan, diantara beberapa korban yang berurai air mata demi mencari tahu sanak saudaranya. Apakah sudah selesai tugasnya di dunia ini ataukah masih bisa melanjutkan cerita

Semua berawal dari satu butir air hujan
Tapi dari yang satu itu, ada seribu hikmah
Kita hanya tinggal mau merenungkannya atau tidak

Di hari ke lima saat presiden datang, aku memilih untuk pulang
Memilih untuk menjauh dari keramaian
Memilih untuk berdua saja bersama sebutir air hujan

Seandainya aku bisa mengecup wajah hujan, akan kukecup
Dan akan kubisikkan padanya

"Cup cup jangan menangis lagi, ini bukan salahmu.."

Hujan itu telah pergi..
Tapi aku sudah memetik beberapa bunga kehidupan di sebutir airnya

Poetry...

Kuceritakan padamu tentang Panti
Dan percayalah, ini bukan salah hujan..



Puisi ini pernah diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

6.7.11

Dua Kalimat Yang Mengkristal di Hati Saya

6.7.11
Saya punya hubungan yang romantis dengan radio. Ya, saya sudah pernah menceritakan itu di sebuah postingan berjudul Mengasah Imajinasi Dengan Radio. Tapi ada satu yang luput saya ceritakan. Lewat radio saya mengenal ceramah ceramah Kyai Sejuta Umat, Bapak Zainuddin MZ.

Gaya beliau dalam berceramah hangat dan menyegarkan. Cara pengucapannya pun jelas. Dan satu lagi, apa apa yang beliau sampaikan (menurut saya pribadi) bernilai gizi.

Dan sampai hari ini saya masih hafal beberapa kalimat yang pernah beliau sampaikan lewat ceramahnya. Dari beberapa kalimat yang saya hafal itu, dua yang paling favorit.

Ini dia dua kalimat Bapak Zainuddin MZ yang paling mengkristal di hati saya.


1. Oke, tidak apa apa anda tidak percaya pada hari akhir. Tapi bila nanti anda meninggal dunia terus ternyata di sana ada neraka, hayo.. mau lari kemana?

2. Kita bisa membeli kasur yang empuk tapi tidak bisa membeli tidur yang nyenyak.


Pada 5 Juli 2011 kemarin, Bapak Zainuddin MZ telah berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Semoga amal ibadahnya di terima di sisi Nya, Amin Ya Robbal Alamin.

Paranetter, adakah dari anda yang juga masih mengingat penggalan penggalan kalimat dari Almarhum? Mari kita saling berbagi dan mendoakan.

SALAM

5.7.11

Djangan Pakies

5.7.11
Saya masih ingat saat pertama kali berbalas komentar dengan Pak Ies, si empunya blog Djangan Pakies. Waktu itu Pak Ies menyinggung tentang sebuah tempat di salah satu sudut kota Jember. Saya tahu tempat yang dimaksud, meskipun saya sendiri jarang ke sana.

Sebuah warung kopi dan ketan di bawah jembatan penyeberangan jompo, itu yang Pak Ies tanyakan. Entah saya menjawabnya bagaimana, saya tidak ingat. Lha wong komentar itu saya tulis di artikel yang mana, saya juga sudah lupa hehe.

Haripun berlalu. Sedikit demi sedikit saya semakin mengenal sosok Pak Ies lewat tulisan tulisan beliau baik di postingan maupun di kolom komentar. Ealah, ternyata dulunya Pak Ies pernah menimba ilmu di Jember. Pantesan Pak Ies paham wilayah.

Di waktu yang lain, Pak Ies pernah menulis komentar di blog ini bahwa dulunya beliau khos di daerah Pagah. Ancer ancernya, di depan Hotel Seroja. Tentu saja saya tahu. Itu tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya. Bisa jadi, pemondokan Pak Ies dekat dengan rumah Almarhum Pak Tohir penjual sate ayam. Atau jangan jangan, saat saya kecil dulu dan saat bermain di sana, saya pernah berpapasan dengan Pak Ies, hehe.

Semalam saya berkunjung di blognya Mbak Ami. Dari blog inilah saya baru ngerti kalau Pak Ies sedang punya gawe di rumah mayanya, Djangan Pakies. Temanya Suit Sepentin Giveaway. Acara ini sengaja digelar untuk memperingati 17 tahun usia pernikahan pada 27 Juli nanti. Selain juga untuk tasyakuran domain baru.

Hmmm, harus berpartisipasi nih, batin saya. Tapi kok ujug ujug pikiran saya buntu. Saya bingung, apa ya enaknya yang harus saya tulis? Padahal di sana sudah jelas aturan maennya. Kalau pengen ikutan Suit Sepentin Giveaway, kita hanya harus menceritakan aktifitas kita selama ngeblog. Tentang bagaimana cara kita mengatur waktu antara ngeblog dan kewajiban yang lain. Ya, tentang manajemen waktu. Dan itu tidak harus panjang. Satu paragraf pun boleh.

Pak Ies, kerjaan saya serabutan. Kadang ngamen, dilain waktu jualan ini itu. Kadang cuma diam di rumah sambil kasih makan ikan lele. Sesekali bikin lagu. Boleh dikatakan, saya ini punya status sosial yang abstrak, haha..

Sebagai ucapan selamat atas 17 tahun usia pernikahan Pak Ies, saya mau kasih kado lagu aja deh. Jika berkenan, silahkan Pak Ies unduh lagunya di SINI. Sampaikan salam kenal saya buat keluarga di rumah ya Pak Ies.

Dan..

Buat paranetter yang ingin mempererat tali silaturrahmi dan berpartisipasi di acaranya Pak Ies, silahkan berkunjung di Djangan Pakies / Suit Sepentin Giveaway...



Catatan istimewa untuk Pak Ies sekeluarga

Pak Ies, kota ini masihlah kota kecil seperti yang sampean kenal dulu. Angin masih setia berhembus, pagi masih berhias kicau burung. Bedanya dengan yang dulu, sekarang burung yang berkicau lebih banyak yang di dalam sangkar. Angin pun begitu, hembusannya tidak sesegar saat Pak Ies masih kuliah di sini. Mereka harus rela bersaing dengan asap kendaraan roda dua yang entah sudah lunas apa belum.

Orang bijak berkata, "Waktu terus berubah dan kita berubah di dalamnya.."

Ya, kota ini mungkin berubah. Banyak bangunan baru di sana sini. Hiburan malam semakin mengganas. Toko toko berjajar di sepanjang wilayah kampus. Sayangnya itu bukan toko buku. Ya ya ya.. kota ini mungkin berubah. Tapi di sela sela kendaraan yang rasanya semakin banyak dan banyak, di antara budaya konsumtif (kagetan) yang menjamur, Pak Ies akan mendapati bahwa sebenarnyalah kota ini tidak berubah. Senyumnya masih sama seperti yang dulu. Sama seperti saat Pak Ies masih senang menikmati nasi bungkus di ujung Stasiun kota.

Jadi Pak Ies, kapan kapan kalau Pak Ies sekeluarga diberi rejeki untuk maen ke Jember, dalem aturi singgah ke rumah saya yang kecil.

SALAM

4.7.11

Hanya Cerita Ringan Saja

4.7.11
Paranetter, ini hanya sekedar cerita ringan saja..

Beberapa hari terakhir ini ndilalah banyak kawan kawan saya yang bertanya seputar dunia blog. Saya merasa, tiba tiba seperti menjadi seorang konsultan blog, hehe.

Macam macam pertanyaannya. Ada yang bertanya tentang bagaimana cara membuat blog di blog gratisan, apa itu domain, bagaimana cara mencari teman di blog (banyak dari mereka yang mengira blog tak jauh beda dengan pesbuk), dan masih banyak lagi.

Tentu saja saya senang dengan ini. Beberapa dari mereka bahkan saya yang membuatkan blognya. Yang lebih membuat saya senang, mereka bertanya (lalu benar benar membuat blog) bukan atas dasar ajakan saya, tapi atas kemauan mereka sendiri.

Waktu saya untuk bewe dan sebagainya memang tidak sedikit yang tersita. Apalagi yang minta dibuatkan blog bukan hanya satu orang.

Belum lagi pertanyaan pertanyaan beberapa dari mereka di inbox (hehe, saya lagi laris nih, padahal saya juga lagi belajar). Tapi entahlah, saya merasa senang sekali, ini bukan basa basi lho.

Dalam hati saya berdoa, moga moga mereka akan terus menulis. Bisa menyumbangkan karya pada dunia meski hanya sedikit, dan meski hanya dalam bentuk tulisan.

Paranetter, udah dulu ya. Saya mau ngobrol ngobrol perihal blog, kawan kawan saya sudah pada kumpul di rumah. Tapi yang ngajak ngobrol tentang blog tidak semuanya kok. Ada juga yang lagi bakar bakar ikan di depan rumah saya sambil genjrang genjreng gitar.


Catatan

Apa yang harus saya tuliskan? Seorang kawan bernama Bencot bertanya pada saya. Saya hanya tersenyum. Saya ingat, beberapa waktu yang lalu itu adalah pertanyaan milik saya.

3.7.11

Bersama Kita Satu Rasa

3.7.11
Di bawah ini adalah lirik lagu tamasya band yang judul lagunya sama dengan judul posting, bersama kita satu rasa. Semoga bisa sedikit menghibur hari hari anda. Salam jreng jreng jreng.

Bersama Kita Satu Rasa

Seharusnya kita lebih percaya
Pada hati nurani kita sbagai manusia
Jelas butuh teman di samping kita

Bukan untuk waktu yang sementara
Bukan waktu kita datang saat butuh saja
Tapi teman untuk berbagi rasa

Teman maafkan aku saat
Sedikit melupakanmu saat engkau
Kecewakan aku..


Reff :

Jika kita punya dua sayap di tangan
Begitu indah melayang ke arah bintang

Bila sayapmu satu dan sayapku satu
Kita harus bergandengan tangan dan terbang


By Tamasya Band


Masuk dalam album ketiga tamasya yang bertitel SAVE THE TREE #3. Seluruh penggarapan lagu ini oleh Mas Mungki Krisdianto. Yang nyanyi juga Mas Mungki. Saya nyanyi di bagian reff saja.

Lagu ini bisa didengarkan langsung, maupun di unduh (download) di SINI.


Terimakasih dan salam jreng jreng jreng..

2.7.11

Tuhan Mencintai Mereka Yang Punya Korek Api

2.7.11
Catatan Pembuka

Tulisan di bawah ini semula saya torehkan di catatan facebook pada 30 Juni 2011, dengan judul yang sama. Atas permintaan apikecil, maka saya mendokumentasikan catatan ini di acacicu, tanpa edit.

Ditulis dengan gaya bahasa surat dan agak sedikit panjang, hehe.. maaf.


Tuhan Mencintai Mereka Yang Punya Korek Api


Hai kawan seperjalananku, bagaimana kabarmu di sana? Baik baik saja kan?

Baru saja ingin kutuliskan kisah tentang dirimu di blogku, acacicu.com. Tapi sepertinya hari ini blogspot sedang tidak berkenan. Ada tulisan bad request error 400. Entah jajanan apa itu, aku juga tidak tahu. Jadilah aku menuliskannya di sini.

Ini tentang perjalanan kita kemarin..

Lelah, wajah penuh peluh dan uap uap solar yang menempel, dan tentu saja juga indah. Ah, hampir saja kita lupa daratan dan merasa diri ini hebat, jika kita nggak dipertemukan oleh Allah dengan mahluk Nya yang bernama Mas Ari. Ya, Mas Ari. Masih ingat kan? Dialah sosok lelaki muda yang sedang berjalan kaki dari Banyuwangi menuju Jogja. Wew.. jalan kaki Banyuwangi - Jogja. Entah apa yang Mas Ari cari. Aku juga tidak sedang ingin membahasnya di sini.

Sedang merenungkan cara kerja Tuhan, itulah yang (bahkan sampai hari ini) sedang aku pikirkan.

Dia mempertemukan kita dengan Mas Ari di waktu yang istimewa. Seolah olah Tuhan berkata, "Wahai anak cucu Adam, ingatlah apa yang pernah Kho Ping Hoo tuliskan, bahwa di atas langit masih ada langit.."

Ah, Tuhan.. Pantaslah aku mencintai Mu..


Hai kawan seperjalananku...

Kau pasti ingat saat kita ada di atas perahu kecil untuk menuju Pulau Mandangin. Saat itu kita sedang membelah lautan. Tak ada toko yang menjajakan dagangannya di situ. Bahkan tukang bakso kelilingpun tak ada. Tak seperti saat kita di darat. Semua bisa dibeli dengan uang. Tiba tiba kita butuh kantong plastik, dan itu mendesak sekali. Bukan, aku bukan sedang mabuk lautan. Kau juga sedang baik baik saja. Kita membutuhkannya untuk sesuatu yang lain. Dan sejujurnya, aku benar benar lupa, untuk apakah kantong plastik itu, hihi. Intinya, kita sedang butuh kantong plastik, tapi keadaan tidak memungkinkan untuk itu.

Dan apa yang terjadi?

Ombak meninggi disertai angin yang kencang. Perahu bergoyang. Penumpang mulai saling memandang. Kita diterpa angin, tapi tidak ketakutan. Kita malah tertawa tawa. Indah sekali. Angin yang keras itu tidak hanya menerpa wajah wajah kumus, tapi juga membawakan kantong plastik. Hijau, aku masih ingat sekali warnanya. Entah dari mana asalnya, kantong plastik itu tiba tiba sudah menubruk badan kita, beberapa detik sebelum tawa kita meledak.

Ah, lagi lagi. Tuhan memang Esa, tapi ada di mana mana..


Kawan seperjalananku..

Sekarang kita tidak sedang bersama sama. Ada sesuatu yang membuatmu harus beranjak dari sini. Melangkahlah, lakukan apa yang memang harus kamu lakukan. Jadilah lelaki yang jantan, meskipun harus memungut korek api dari mulut buaya. Dan meskipun buaya itu sedang duduk manis di samping harimau jawa, hiyahaha..

Aku di sini saja. Bukan hanya kamu kawan, yang memiliki alasan yang kuat untuk beranjak. Aku juga punya alasan yang kuat untuk tetap tinggal di sini. Meskipun untuk itu, aku harus rela di cap sebagai orang pinggiran, sebagai pemuda yang tak ingin jauh dari zona nyaman, hehe. Percayalah kawan, aku tidak seperti itu.

Hmmm.. sudah cukup panjang..

Kawan, sudah waktunya bagiku untuk menutup kisah yang sekelumit ini. Ingat ingatlah satu hal, Tuhan ada di mana mana. Dia ada di POM bensin, di perempatan lampu merah, di trotoar jalanan, di mana saja.. Dan..


Tuhan cinta pada mahluk Nya yang selalu sedia korek api.

Jangan tertawa kawan. Dan jangan coba coba membantah.. Ingat, kita pernah didewasakan perjalanan. Kau baca sajalah terus tulisan yang tinggal sedikit ini.

Peganglah korek api itu sepanjang hidupmu. Pegang dan yakinilah bahwa cahayanya bisa membuatmu melihat dalam gelap. Setelah kau yakin, cobalah nyalakan. Periksa dulu pemantiknya barangkali kau gagal menyalakan itu. Nah, sudah? Kalau sudah, genggamlah nyala api kecilnya. Ingat kataku, kau harus yakin.

Sudah kau genggamkah? Okeee.. essip.

Sekarang tinggal satu lagi yang harus kau lakukan. Coba kau sobek dada kirimu dengan sepenuh keyakinan. Tidak kau tidak butuh pisau, apalagi yang buatan negara adidaya, hehe. Maaf. Baiklah kita kembali lagi.

Sobeklah dada kirimu kawan, dan letakkan api kecil dalam genggamanmu itu tepat di sudut hati. Sudah? Kalau sudah, rapikan sobekannya. Sekarang tugasmu hanya satu. Menjaga nyala api kecil di hatimu.

Jagalah nyala itu dengan sepenuh keyakinan maka kau akan menjadi mahluk Nya yang dicintai, Amin.

Habiskan sisa hidupmu dengan menjaga cahaya kecil di sudut hati. Rasakanlah, karena intisari dari hidup adalah rasa. Dan kamu akan mengerti, bukan hanya kamu saja yang merasa hangat dan tersinari kawan. Tulang rusukmu pun begitu. Karena tulang rusuk letaknya dekat sekali dengan hati.

Selamat menjadi bintang bintang malam untuk tulang rusukmu. Ya, begitulah seharusnya cinta seorang lelaki pada perempuan hatinya. Seperti bintang. Cahayanya tak selalu terlihat, tapi selalu ada.

Nah kawan, sudah ya.. Aku mau nyruput kopi dulu. Mau menikmati sore hari tanpa gelegar tawamu. Mau mengenang hari hari kita. Mengenang perjalanan dan segala mimpi yang pernah saling kita celotehkan. Sampaikan salamku pada orang orang terkasih yang ada di sekitarmu.


Catatan

Terinspirasi perjalanan 3 hingga 15 Juni kemarin , bersama Opic, nona dan suhadak..

Buat Keluarga Bayu Tanggul, Wawan tamasya, Yopi, Ita, Mbak Nawang, Brade Nawi, Queen Blodher, Cak Bazz, Ptiz, Korep, Semar, Mas Citro Mduro, dan senyum ramah penduduk pulau Madura, terimakasih. Andai waktu bisa di undo, alangkah manisnya..

Buat seseorang yang ingin sekali aku memanggilnya dengan nama nada, ini oleh oleh buat kamu. Sebuah lagu yang belum ada judulnya. Anggap saja judulnya nada, hehe.

Ini dia lirik lagunya, sekalian buat penutup.

NADA

Saat ku masih di sini
Saat masih bertamasya hati
Kudengar getar getar rindu
Engkau ingin aku segera
pulang.. sayang..

Padahal aku masih ingin
Dibelai dan dicumbui angin
Didewasakan perjalanan
Berjauhan menciptakan rindu
Ini.. sayang..

Reff :

Nada.. aku pasti pulang
Tunggu aku di panaongan
Sambut aku dengan senyum yang mengembang

Jangan cemberut lagi
Setialah seperti bintang
Bercahayalah seperti kunang kunang


Catatan Penutup

Catatan ini hanya untuk menutup catatan pembuka, hehe. Terimakasih dan salam hangat.

1.7.11

Kata Adalah Senjata

1.7.11
Kata adalah senjata..

Judul tersebut saya adopsi dari sebuah buku yang berisi kumpulan karya karya Marcos (Subcomandante, is pseud). Bercerita tentang sebuah perjuangan. Tentang moncong dan senjata yang dilawan dengan kata. Tapi saya tidak hendak meresensi buku ini lho.

Jadi begini.. (jiahaha, kayak mau membuka rapat aja). Tiba tiba saya merindukan seorang kawan. Namanya Yopi Indra T. Kisah persahabatan antara saya dan Yopi sangat panjang. Sebegitu panjangnya, sampai sampai sekarang saya bingung untuk menuliskan kisahnya sependek mungkin. Sebentar ya paranetter, saya mau nyruput kopi dulu.

Ah.. sudah..

Yopi adalah anggota dari sebuah organisasi pencinta alam MAHADIPA Fakultas Tehnik Jember. Pada 14 Agustus 2009 Yopi menuliskan sesuatu di dinding facebook OPA MAHADIPA. Dan itu disepakati sebagai tindakan yang jreng jreng jreng..

Singkat cerita, Yopi di skorsing. Segala hak hak nya sebagai anggota dicabut selama 2 tahun.


Nah paranetter, itu dia sekelumit cerita tentang kawan yang saya rindukan ini. Mohon maaf, ceritanya benar benar sekelumit. Saya takut ada salah salah kata. Kan katanya kata adalah senjata.. hehehe..

Dan pesan moral yang saya dapatkan adalaaaah.. eng ing eng..

Banyak, banyak sekali. Yopi membuat saya lebih mengerti, bahwa kata kata bukan hanya bisa melukai, tapi juga bisa membunuh.

Terlepas dari itu semua, Yopi masihlah sahabat saya. Rasa sportifnya, juga permohonan maafnya (yang dipampangkan di jejaring sosial sehari setelah dia update status jreng jreng jreng) semakin memantapkan penilaian saya, bahwa Yopi adalah sahabat yang baik.

Itulah kisah tentang Yopi. Semoga ada hikmah yang bisa kita petik, semerdu seperti saat kita memetik gitar. Jreeeeeng...



Catatan

Hukuman mati yang disampaikan oleh seorang hakim hanyalah terdiri dari kata kata.

Perang juga seperti itu. Dibuka oleh kata. Dan meski kata kata menghilang di udara secepat mengucapkannya, kehancuran yang diakibatkan seringkali permanen.

Catatan Lagi

Terinspirasi oleh kisah di atas, terciptalah sebuah lagu yang saya dedikasikan untuk Yopi. Dan Yopi sendiri yang menyanyikan. Judulnya BERSAMA BERSODARA
acacicu © 2014