30.8.11

Andai Aku Jadi Acacicu

30.8.11
Dulur blogger di saat beberapa hari ini saya melakukan puasa posting, tiba-tiba saja saya mendapat sebuah pesan singkat melalui ponsel. Sebuah SMS todongan dari empunya Acacicu agar saya menjadi penulis tamu di postingnya yang ke 200. Jadi yo wis berarti sekarang juga saya harus hentikan puasa posting ini, seperti halnya beberapa saudara kita yang kemarin menghentikan puasa karena hari ini mau merayakan lebaran.

Jika berbicara tentang seorang Masbro rasanya saya lupa kapan pertama kali  mengenalnya. Yang saya ingat dulu kami adalah sama-sama menjadi seorang yunior di pencinta alam. Masbro besar di sebuah organisasi pencinta alam kampus yang bernama Swapenka. Sedang saya gede sebagai seorang pencinta alam kampung. Satu dari lingkungan akademi, satunya lagi lingkungan ordinary.  Beda baju tapi satu hati untuk saling berkarya buat bumi.

26.8.11

Acacicu Under Cover

26.8.11
Saya masih ingat saat pertama kali menginjakkan kaki di warnet. Saat itu pertengahan tahun 2005 (saya lupa tanggal berapa tepatnya, maaf). Adalah sebuah keterdesakan yang membuat saya melangkahkan kaki ke sana.

Nama warnetnya Godhong Net, dan saya sedang butuh informasi seputar penembak misterius (atau lebih di kenal petrus) tahun 1983 - 1986. Saya tidak sendirian. Ada seorang sahabat bernama Eka Sukriswandi yang menemani saya. Satu meja untuk dua orang. Itulah pertama kali saya berkenalan dengan mesin pencari.

Tahun berikutnya (2006) saya selangkah lebih maju. Ya ya ya, saat itu saya sudah punya akun sendiri di friendster, hehe. Tapi hanya sebatas punya saja. Tidak lebih dari itu. Saya tidak memanfaatkan jejaring sosial yang satu ini dengan semaksimal mungkin. Demikian pula dengan frienster. Dia tidak berusaha merampas hari hari saya. Dan kehidupan offline saya berjalan apa adanya. Seperti masyarakat pada umumnya.

Sampai pada 2007, keadaan masihlah tidak berubah. Saya masih menikmati diskusi kecil di warung kopi di sudut sudut kota kecil jember. Masih bekerja offline sebagai apapun. Dengan kata lain, pekerjaan saya serabutan alias tanpa status sosial yang jelas (wew, ternyata sampai hari ini status sosial saya masih sulit terdefinisikan, haha..)

Hingga pada awal 2008, sebuah tulisan kecil di sudut kolom koran bekas menginspirasi saya. Ya, koran itu benar benar koran bekas. Saya tidak mengada ada. Tapi tulisannya segera membuat saya terbangun. Lalu teringat akan sebuah mimpi yang sekian lama terpendam di sudut hati.

Tulisan di sesobek koran bekas itu bercerita tentang sebuah media bernama blog. Dan saya jatuh cinta. Adalah sebuah keterlambatan karena saya baru ngeh pada media yang satu ini pada saat orang lain sudah berlari dan berlomba lomba berbagi cerita di blog. Tapi saya tahu, dalam sebuah pembelajaran, apapun itu, tidak ada yang namanya terlambat. Bahkan jika anda baru memulainya hari ini. Sama sekali tidak terlambat. Kata terlambat hanya akan membuat kita terhambat dan tidak segera mencuat.

25.8.11

Jujur Adalah Tidak Berbohong

25.8.11
Kemarin, di jejaring sosial facebook saya menulis sebuah kalimat seperti ini

Menulis lagi.. Meskipun tidak berbobot, tapi mencoba menata tiap tiap hurufnya dengan hati..

Barusan saya membaca lagi kalimat tersebut. Entah kenapa, tiba tiba saja kalimat yang saya tulis sendiri itu sukses mengajak saja berpikir. Tentang sebuah tanya sederhana.

Bagaimana sih cara menulis dengan hati?

Saya juga masih belajar menuju kesana. Dalam artian, saya selalu berusaha menuliskan sesuatu yang benar benar pernah saya lakukan. Tidak mengada ada.

Seperti yang pernah kawan saya katakan. Jujur adalah tidak berbohong. Ya benar sekali, jujur adalah tidak berbohong. Sesederhana itu saja. Meskipun dalam prakteknya, kadang sesuatu yang simpel itu tiba tiba berubah menjadi rumit. Penyebabnya macam macam. Dan saya rasa, kita bisa menalarnya sendiri tentang itu.

Paranetter, saya ingin menulis dengan hati. Ingin jujur dan tidak mengada ada. Ingin tetap seperti ini, hidup dalam kesederhanaan yang tidak mengandung kata bohong. Doakan semoga saya selalu bisa menjalaninya. Amin Ya Robbal Alamin.


Catatan

Tidak ada maksud lain dari tulisan ini selain hanya karena terinspirasi oleh sebuah kalimat sederhana. Jujur adalah tidak berbohong.

24.8.11

Baju Dari Sebuah Lagu

24.8.11
Kemarin di tulisan saya yang berjudul ketinggalan kereta, saya menceritakan tentang kiriman dari Mbak Nia. Sebuah baju yang keren. Sayangnya kemarin saya belum bisa menyertakan foto baju tersebut. Itulah kenapa sekarang saya menyempatkan diri untuk memposting tulisan ini. Padahal cuma mau pamer foto baju baru, haha..

Ohya, ini sedikit ceritanya. Baju tersebut saya dapatkan lantaran turut berpartisipasi di kontes blogger bakti pertiwi. Alhamdulillah nama saya nyantol sebagai peserta cinta tanah air dengan wujud nyata.

Sebuah lagu, itu adalah judul tulisan yang saya ikut sertakan

Lokasi di Panaongan



Nah itu dia baju barunya. Langsung saya pakek, hehe.. Yang membuat potret di atas semakin terlihat istimewa, karena dipotret dengan kamera baru, uhui.

Paranetter masih ingat tulisan saya yang menceritakan tentang seorang teman yang kerampokan? Anda bisa membacanya di postingan saya yang berjudul, Kawan saya kerampokan dan dia masih tersenyum. Alhamdulillah, sekarang dia sudah bisa membeli kamera baru.

Hmmm.. cukup itu dulu tulisan ringan saya kali ini. Salam merdeka, mohon maaf lahir dan bathin..

Ketinggalan Kereta

Alhamdulillah, akhirnya ada waktu lagi untuk menulis di acacicu. Mohon maaf, beberapa hari ini saya tidak bisa berkunjung ke rumah maya paranetter sekalian. Lagi sibuk bergulat dengan urusan perut haha..

Hmmm.. nulis apa ya enaknya? Udah terlalu lama ketinggalan kereta, jadi bingung mau memulai kembali.

Ohya, dua hari yang lalu saya mendapat kiriman sebuah paket dari panitia kontes blogger bakti pertiwi. Sebuah baju yang keren. Senang sekali menerimanya. Terima kasih Mbak Lidya, Mbak Nia, dan Pak De Cholik.

Istimewa untuk Pak De Cholik, selamat Hari Jadi (23 Agustus) nggih De. Semoga selalu dalam lindungan Yang Di Atas, Amin Ya Robbal Alamin.

Nah, berhubung saya ketinggalan kereta, jadi pendek aja tulisan saya.

Saya mau nongkrong di warung blogger dulu ah. Menikmati secangkir kopi di dini hari sambil pasang mata pasang telinga, hehe..


Sampai di sini dulu teman teman.. MERDEKA...!

13.8.11

Pulang

13.8.11
Berbahagialah bila kita masih bisa memaknai sebuah kata bernama pulang. Saat ini, di belahan bumi yang lain, saya yakin masih ada seseorang yang kesulitan mendefinisikan kata pulang. Tapi saya tidak hendak menceritakan itu. Hanya saja, saya ingin menuntaskan apa yang sudah saya kisahkan kemarin.

Ini tentang saat kepulangan saya tamasya hati ber BMX ria bulan Juni kemarin.

Peta perjalanan :

masbro tamasya hati
Dimulai pada 3 Juni 2011 hingga 15 Juni 2011
Perjalanan pulang :

kapal kartika jawa timur

pulang

Rindu halaman rumah :

turun dari kapal kartika

pulang,tamasya hati,acacicu


Saya pernah menuliskan kalimat yang seperti ini tentang seorang pendaki. Setinggi apapun gunung yang dia daki, tujuannya bukanlah untuk menaklukkan puncaknya, tapi kembali pulang ke rumah dengan selamat.


Catatan

Buat paranetter yang nantinya akan mudik ke kampung halaman, saya doakan semoga perjalanan mudiknya indah. Dan tiba di tujuan dengan selamat, Amin...

11.8.11

Betapa Cantiknya Sumenep

11.8.11
Seperti yang sudah saya janjikan di tulisan sebelumnya, tentang potret tamasya hati, kali ini saya hendak melanjutkan cerita dalam bentuk potret.

Ada yang masih bingung ya perihal potret tamasya hati? Baiklah akan kembali sedikit saya ceritakan.

Begini. Pada tanggal 3 - 15 Juni kemarin saya melakukan perjalanan menuju Pulau Madura, berdua dengan Opic. Dia adalah teman seperjalanan yang asyik. Kami melakukan perjalanan itu dengan (masing masing) mengendarai sepeda BMX.

Ini adalah rute yang kami lewati selama 12 hari (untuk 12 Kabupaten dan 2 pulau kecil yang cantik, Mandangin dan Talango).

Jember - Lumajang - Probolinggo - Pasuruan - Sidoarjo - Surabaya - Bangkalan - Sampang - Pamekasan - Sumenep - Situbondo - Bondowoso - dan kembali ke kota kecil Jember

Dari ke dua belas Kabupaten tersebut, kita berdua (eh berempat ding, sama BMX nya, hehe) mendapat bonus 3 kali tumpangan. Yang terpanjang adalah tumpangan dari keluarga Cak Bazz. Hahaha, iya jelas panjang soalnya kami diantarkan (dan tidak boleh nggowes) ke beberapa tempat wisata di Sumenep. Terima kasih Cak Bazz. Ohya, tentang Cak Bazz, dia adalah kakak saya di organisasi pencinta alam.

Dan tentang judul tulisan ini, saya tidak mengada ada. Kalau anda tidak percaya akan betapa cantiknya Sumenep, silahkan di nikmati foto foto di bawah ini.

Silaturrahmi:

Silaturrahmi ke rumah saudara saya (dari pihak Bapak).

betapa cantiknya sumenep

Di bawah ini adalah saat saya mengunjungi pemakaman Asta Tinggi

sumenep,asta tinggi


Pantai Lombeng:

pantai lombeng

lombeng sumenep


Di Pulau Talango:

Bertemu Keluarga lagi di pulau yang cantik ini. Senangnya.

pulau talango

Senja di pulau talango. Bagamana menurut anda, cantik bukan?

talango sumenep,talango madura senja di pulau talango


Paranetter, itulah foto foto kenangan saya selama ada di Kabupaten Sumenep dan di sebuah pulau cantik bernama Talango. Pulau ini masih masuk Kabupaten Sumenep.

Bagaimana menurut anda, apakah anda sependapat bila saya mempunyai penilaian bahwa Sumenep itu cantik?

Akan lebih terasa cantiknya bila anda menyusuri sudut sudutnya dengan hanya mengendarai BMX. Lebih lambat memang. Tapi dengan lebih lambat, akan ada banyak hal yang bisa anda lihat dengan lebih cermat.


SALAM

10.8.11

Potret Tamasya Hati

10.8.11
Saya tahu, saya masih mempunyai hutang cerita pada paranetter tentang kisah perjalanan saya dari Jember ke pulau garam. Ya, pada bulan Juni kemarin saya melakukan perjalanan Jember - Madura dengan mengendarai sepeda BMX.

Saya tidak sendirian, tapi berdua dengan sahabat perjalanan. Namanya Opic. Dia adalah pribadi yang menyenangkan.

Saya menamakan kisah perjalanan ini dengan istilah tamasya hati. Dan untuk beberapa penggal kisahnya, bisa anda susuri di alamat tulisan yang akan saya cantumkan di bawah ini.

Bertamasya hati ke pulau garam



Potret Tamasya Hati

Dan ini dia foto foto yang belum sempat saya upload. Semoga bisa mewakili kata kata untuk menceritakan apa yang belum sempat saya kisahkan.

Sengaja saya tampilkan dalam bentuk spoiler agar lebih menyederhanakan ruang. Silahkan anda klik mana yang sekiranya ingin anda lihat. Semoga bisa dinikmati.

Memulai Perjalanan:

jember madura,masbro


Menuju Surabaya - Madura:

perjalanan

Bungurasih,nona acacicu

Foto di atas adalah saat duit kami tinggal 20.000 untuk dua orang, dan masih ada di Bungurasih. Alhamdulillah, Tuhan memang Esa, tapi Dia ada dimana mana. Kami bertemu orang baik (sesama pencinta alam) yang memberi sangu 20.000, mbayarin makan, rokok, dan kebaikan kebaikan tulus lainnya. Ya, akhirnya kami nggak jadi mencari kerja di tengah perjalanan. Pada akhirnya, kami benar benar tidak sempat bekerja apapun, karena Tuhan ada dimana mana.

acacicu 2

Sesampainya di Suramadu, kami harus menerima kenyataan untuk balik arah. Hehe, akhirnya menggowes menuju pelabuhan perak di siang yang terik. Tapi Alhamdulillah, sampai juga akhirnya. Bahagia sekali saat kaki ini menginjak tanah Madura (padahal masih nyampe Kamal). Saatnya mencumbui pulau garam dari ujung ke ujung. Tentu saja dengan pergerakan yang lambat.


Mulai Mencumbui Alam Madura:

Mengunjungi tempat wisata GOA LEBAR di Kota Sampang

sampang acacicu

Gua Lebar,acacicu blog


Di sebuah Pulau Kecil / Mandangin:

mandangin Pulau Mandangin

Photobucket

Senja di Mandangin


Api Tak Kunjung Padam / Pamekasan:

Api Tak Kunjung Padam,Pamekasan

Nona dan Suhadak

Saya, Opic, dan dua BMX kesayangan (Nona dan Suhadak), kembali melanjutkan perjalanan. Ohya, yang motret namanya Hendra Petis. Dia seorang kawan asli Sampang yang menemani kami sesampainya di Sampang. Hebat, kadang Hendra memotret kami saat sedang mengendarai sepeda metic nya yang masih gress.


Foto foto tentang kecantikan Kabupaten Sumenep (dan keanggunan Pulau Kecil Talango) Insya Allah akan saya tampilkan tersendiri. Terima kasih paranetter.


SALAM

9.8.11

Bagaimana Kita Memandang Luka

9.8.11
Ini masih berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya. Tentang mencintai tanpa melukai. Ternyata banyak yang memiliki sudut pandang bahwa luka adalah hal yang wajar. Seperti komentar dari Mas Jier, "Bahwa luka adalah hiasan kehidupan".

Apakah memang seperti itu? Mari kita telaah lagi beberapa komentar dari paranetter.

Dari Pink. Dia dengan tegas bilang, "Dimana ada cinta pasti ada luka. Mencintai tanpa melukai sepertinya tidak mungkin".

Ada juga apresiasi dari Mbak Hani pendar bintang yang menuliskan seperti ini. "Mencintai tanpa melukai...bagaimana ya?? Niatnya sih tidak tapi pasti akan ada luka karena mereka duduk berdampingan dengan mengobati".

Kalo mencintai kadang kadang ndak sengaja kita pasti melukai juga menurutku, tapi ya,,,, itulah namanya hidup, kalo bisa mencintai tanpa melukai pastinya semuanya nyaman-nyaman aja jadinya..heheheh. Ini sudut pandang dari Mas Yadie Baroos.

Mencintai tanpa melukai mah mustahil masbro. Selalu ada yang terluka huahwhaha.. Kalau yang ini komentar dari seorang blogger yang lebih kita kenal dengan nama ID, [L]ain aka Rain.

Masih ada beberapa lagi komentar dari sahabat blogger yang senada. Esensinya sama, bahwa cinta tanpa luka (baik yang disengaja maupun tidak) adalah sesuatu yang tidak mungkin. Manusia didewasakan oleh luka. Seperti sebuah kalimat yang sering dijadikan motto oleh kawan kawan BMX Jember, bahwa semakin banyak luka semakin jantan. Hmmm....

Diantara komentar tentang optimisme bahwa ada cinta ada luka, ada juga sudut pandang yang berbeda dari yang sudah saya sebutkan di atas.

Saya tertarik dengan apa yang coba disampaikan Kakaakin. "Bila mencintai, mengapa harus melukai? Bukankah mencintai adalah memberikan cinta, bukan melukai...?

Dan dari komentarnya Mas Arman. "Kalo bener bener mencintai, pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk nggak melukai..."

Juga dari Ardian Bumi. "Kenapa harus melukai. Kan cinta gak melulu masalah lawan jenis.."

Cukup tiga komentar itu saja yang saya jadikan contoh. Karena menurut saya, ketiganya sudah cukup mewakili. Tentang cinta yang tanpa niatan untuk melukai. Tentang sebuah rasa dalam arti yang luas.

Sebagai kesimpulan dari banyak kutipan di atas, saya akan menutupnya dengan sebuah komentar dari Mbak Diana. "Kejujuran adalah sebuah tiang hati..meski kadang kejujuran tidak selalu menjadikan segala sesuatu itu baik dan enak didengar.."

Cinta adalah tentang kejujuran. Dan definisi kejujuran itu sangat mudah. Jujur sama dengan tidak berbohong. Hanya itu.

Dan bila dikaitkan dengan luka, adakah luka yang jujur? Hehe, saya tidak tahu. Yang saya tahu, ada sebuah lagu berjudul luka yang indah. Itu lagu ciptaan saya sendiri, dan saya dedikasikan untuk seorang sahabat bernama Lozz Akbar. Dia mendendangkannya dengan sepenuh hati.

Paranetter, saya ingin bertanya. Bagaimana anda memandang luka?

7.8.11

Mencintai Tanpa Melukai

7.8.11
Barusan saya mampir di blognya Mbak Diana. Ternyata sedang ada giveaway. Sayangnya hanya berakhir hingga hari ini saja. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Saya ingin sedikit bercerita tentang sebuah puisi. Judulnya menarik. Mencintai tanpa melukai.

Bisa ditebak, saya langsung jatuh cinta pada deretan kata yang menyimpan sebuah tanya itu. Kentara sekali jika ditulis pada saat sang penulis benar benar ingin menulis. Jujur, tapi sederhana. Pilihan kata yang mahal, tapi mudah dicerna.

Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?

Sebuah tanya yang manis sekali. Namun untuk menjawabnya tidak semudah melempar senyum pada orang yang kita cintai. Pertanyaan itu sukses mengingatkan saya pada sebuah lirik lagu yang pernah saya ciptakan. Berjudul untuk bunga.

Apakah aku bisa melihatmu terluka? Ku tak bisa..

Itu lirik pembuka. Lagu tersebut tidak sedang bercerita tentang mencintai tanpa melukai. Tapi, melihat orang yang saya cintai terluka saja saya tidak bisa, bagaimana saya sanggup melukainya?

Tentang pertanyaan dari puisi manis Mbak Diana, dapatkah saya mencintai tanpa melukai? Entahlah Mbak. Jujur saya tidak bisa reflek menjawabnya. Semua saya percayakan pada Sang Maha Cinta, masa, dan cinta itu sendiri. Yang bisa saya lakukan hanyalah mencintai dengan sejujur jujurnya, bukan yang segombal gombalnya.

Yang saya tahu, cinta bukan hanya sebuah pilihan. Dia membutuhkan sebuah keputusan. Dan saya memutuskan untuk selalu mencoba belajar mencintainya setiap hari, lebih dan lebih lagi. Dengan tanpa melukai.

Saya tidak tahu apakah itu mungkin atau tidak mungkin. Tapi bukankah sesuatu yang tidak mungkin hanyalah karena belum dicoba?

Bagaimanapun, saya butuh teman bicara sampai tua..


*******


Artikel ini pernah diikutsertakan di giveaway mbak Diana yang bertema Mencintai Tanpa Melukai

6.8.11

Lelaki yang Dirindukan Matahari Pagi

6.8.11
Dulu sewaktu masih kuliah, saya punya teman bernama Shomad. Dia aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergelut di bidang seni. Pantaslah kalau kemudian Shomad sangat suka dengan yang namanya puisi. Kata katanya selalu maknyuss. Enak didengar, sederhana, tapi luput dari perhatian. Dan judul di atas adalah kenang kenangan dari Shomad. Lelaki yang dirindukan matahari pagi.

Ada apa dengan lelaki yang dirindukan matahari pagi? Hehe, tidak ada apa apa kok. Itu hanya sebutan untuk Shomad yang doyan begadang. Baginya, begadang adalah aktifitas keseharian.

Saat orang lain memejamkan mata, Shomat sibuk memandang bintang. Dan saat pagi tiba, saat orang orang bersiap siap untuk bertebaran di muka bumi ini, dengan santainya Shomad melangkah menuju pulau impian. Dialah Shomad, lelaki yang dirindukan sinar mentari pagi.

Hmmm, jadi kangen Shomad. Barusan saya buka facebooknya dan mencomot beberapa foto dirinya.

Shomad:

acacicu jfc


Dan akhir akhir ini saya terserang virus Shomad. Sekarang sayalah laki laki itu, yang dirindukan matahari pagi. Saya jadi teringat postingan adek saya si Kelor. Salah satu tulisannya berjudul, terlalu sering menikmati malam hingga melupakan keindahan pagi.

Saya memang suka menikmati malam. Memandang kerlap kerlip masa lalu di atas sana. Bercengkerama dengan Cak To, lelaki yang juga dirindukan sinar mentari. Ya, sudah sekitar sepuluh tahun ini Cak To bekerja sebagai penjaga malam. Ada juga yang lainnya. Om Edi yang kerjanya membuka kios rokok di depan rumah (dan tambal ban). Ada Cak Slamet si penjaga palang pintu kereta api (piketnya malam hari). Mas Pur, Cak Sahri dan masih banyak lagi. Mereka adalah profesor di kehidupan saya.

Dan sekarang, tiba tiba saya merindukan keindahan pagi. Selesai tarawih, sudah saya rencanakan untuk tidur lebih awal. Yang terlintas di kelapa saya saat ini, esok pagi saya akan berdansa dengan sinar mentari. Hmmm, alangkah indahnya.

Tapi itu rencana saya beberapa menit yang lalu. Sebelum hadirnya seorang bidadari kecil yang entah dari mana datangnya. Tiba tiba dia sudah ada di samping saya. Dan dengan santainya membisikkan sesuatu.

"Mas sekarang malam minggu lho.. jalan jalan yuk.."


Ah, ternyata saya masihlah seorang lelaki yang dirindukan sinar mentari pagi..

5.8.11

Kembali Belajar Tentang Cinta

5.8.11
Namanya panggilannya Chris. Seorang perempuan. Dia teman sekolah saya sedari SMP hingga SMA. Kami jarang sekali berjumpa. Tapi seiring berkembangnya tehnologi, saya dan Chris sering berbagi jempol, haha..

Chris menikah di usia yang sangat muda. Tapi saya tidak sedang ingin menceritakan kisah pribadinya sedetail mungkin. Yang ingin saya bagi di sini adalah sederhana saja. Bahwa dari seorang Chris, saya kembali belajar tentang apa itu cinta.

Saya baru tahu ternyata sahabat saya ini punya blog. Masih sederhana. Tapi jelas terbaca bahwa dia menulis dengan hati.

Dia bercerita tentang putra mungilnya yang mengalami kelainan. Chris bilang, si mungil adalah satu diantara sedikit anak berkebutuhan khusus.

"Anakku tidak authis. Tapi kelainan pada tulang belakangnya membuatnya diusia 5 tahun belum bisa berjalan. Bahkan berpengaruh pada kemampuan psikomotornya. Jadi dia juga butuh pengawasan dan pendidikan khusus untuk melatih kemampuan motorik juga intelegensinya"

Itu yang Chris tuliskan di blognya.

Saat Chris bercerita tentang perasaannya waktu pertama kali mengantarkan si buah hati ke Sekolah Luar Biasa, saya tercekat. Empati saya bekerja dengan cepat. Ini yang Chris tuliskan tentang perasaannya.

Langkahku seakan galau... Ketika harus memasuki halaman Sekolah Luar Biasa (SLB) bersama buah hatiku. Ada perasaan "kenapa harus disini??"...

Tapi Chris tetap melangkah. Kemudian Chris tersenyum. Lalu Chris menemukan kebahagiaan di sudut hatinya. Ah Chris, kau benar benar memperkaya sudut pandang orang orang di sekitarmu, tentang apa itu cinta. Terima kasih kawan.


Chris yang berbaju merah:





Catatan

Seperti yang Chris katakan. Anak Berkebutuhanan Khusus juga memiliki hak yang sama dengan yang lain.

Mereka bukan kutukan, bukan pula cobaan. Tuhan percaya bahwa kita mampu. Itulah kenapa Tuhan menitipkannya.

Berbahagialah dan mari kita mensyukuri atas semua nikmat yang Tuhan berikan.

4.8.11

Sebuah Lagu

4.8.11
Setiap kali mendengar berita tentang tenaga kerja Indonesia, hati saya bergetar. Padahal beritanya umum didengar. Hanya seputar penyiksaan, penipuan, pembunuhan hak hak TKI (di saat para TKI telah melaksanakan kewajibannya), dan banyak lagi. Intinya, kerugian ada di pihak tenaga kerja kita.

Kita tahu, ada banyak hal yang mesti dibenahi jika kita sudah bicara tentang tenaga kerja Indonesia.

Tentu saja saya juga ingin melakukan sesuatu, tapi entah apakah itu. Tidak mungkin bagi saya untuk menolong para TKI satu persatu.

Lalu apa ya yang bisa saya lakukan?

Akhirnya saya mengambil gitar, menggenjrengnya, dan menciptakan sebuah lagu. Bukan lagu yang seindah indahnya, tapi lagu yang sebenar benarnya. Tentang rasa cinta dan empati pada para tenaga kerja Indonesia.

Hanya itu yang bisa saya lakukan. Sebuah lagu. Belum bisa yang lebih dari itu.

*****

Artikel ini pernah diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.

Didukung oleh :

Kios 108
Halobalita
Topcardiotrainer
Littleostore

3.8.11

Janji yang Terlewat

3.8.11
Seminggu kemarin kawan saya sedang merayakan hari kelahirannya. Dia adalah salah seorang manager dari tamasya band, tempat saya dan kawan kawan menorehkan karya.

Sebenarnya tidak ada pesta apapun. Tapi saya tetap menemui kawan saya tersebut. Turut mengucapkan selamat atas hari lahirnya. Dan turut mendoakan yang baik baik buat dia.

Lalu saya menanyakan kabar ibu kawan saya ini. Maklum, hubungan emosional antara saya (dan juga kawan kawan tamasya band) sangat dekat. Setiap kali tamasya ada acara (seperti launching album kemarin) dan butuh membuat tumpeng atau jenis makanan yang lain, ibu kawan saya ini selalu bersedia membantu.

Ibu sedang sakit. Itu yang kawan saya katakan. Dan spontan saya mengatakan, saya akan mengunjungi beliau.

Waktu terus berjalan, dan saya larut dalam aktivitas. Hingga hari ke empat, saya belum juga datang mengunjungi ibu teman saya yang sedang sakit. Hingga pada hari kelima, saya dapat sms dari kawan saya.

Begini bunyi pesan singkat yang tertanggal 2 Agustus 2011 pukul 08.40 WIB tersebut. "Hari ini ibuku sudah pulang ke Rahmatulloh"

Glek...!

Innalillahi Wainnailaihi Roji'un..

Pesan moral yang saya petik dari kejadian ini. Saya harus lebih bijak lagi dengan sebuah kata yang bernama janji.

1.8.11

Renungan Kecil

1.8.11
Sama seperti saat sahur perdana, acara berbuka puasa saya juga sangat membahagiakan. Dimulai dari sore hari. Belanja keperluan dapur (bukan saya yang belanja) lalu masak bersama di panaongan.

Saya menikmati kebahagiaan kecil ini. Lebih membahagiakan lagi, saat semuanya telah siap, adzan Maghrib pun berkumandang.

Alhamdulillah.. alangkah indahnya..

Lalu, sambil menunggu adzan Isya' pikiran saya menerawang, teringat kata kata seorang teman. Dulu sekali, teman saya pernah mengatakan ini.

Enaknya jadi seorang muslim yang menjalankan ibadah puasa. Rasa haus dan laparnya sudah terjadwal jelas. Antara jam sekian sampai jam sekian. Bagaimana dengan mereka yang tertindas keadaan?

Itu yang teman saya katakan. Dan diantara banyak hidangan yang terhampar saat ini, saya kembali merenungkannya. Hmmm, kenapa ya akhir akhir ini saya sering merenung ya?

Paranetter, apakah anda juga sedang merenung? Bagi bagi cerita tentang renungan kecil yuk..

Hujan Bahagia di Sahur Perdana

Alhamdulillah, kisah sahur perdana saya sangat membahagiakan. Sampai sampai saya membuat judul seperti itu. Hujan Bahagia di Sahur Perdana.

Bukan hanya karena masakannya yang penuh cinta (padahal lauknya cuma tumis tempe bumbu kecap plus sambal mental / maksudnya sambal mentah, hehe), bukan pula hanya karena saya minum susu seperti anjuran Bunda Dont Worry.

Terlepas dari semua itu, kebahagiaan saya bertambah saat mendapat sms dari Kang Lozz Akbar. Dia memberi kabar kalau nama saya nyantol di kuis Poetry Hujan.

Senang sekali. Diantara kemilau puisi yang bertebaran, saya mendapat rejeki. Berdua dengan Mbak Orin yang namanya juga nyantol di kuis Poetry Hujan.

Benar yang dikatakan Om NH kemarin, bahwa aktifitas ngeblog itu membahagiakan sekali.


Catatan

Buat Mbak Pu3 dan Bang Aswi, terima kasih.

Bagi yang sedang menjalankan ibadah puasa, semoga kita semua menjalani hari ini dengan indah. Biar bisa mengumpulkan kebahagiaan kebahagiaan kecil, hingga menjadi hujan bahagia. Amin Ya Robbal Alamin.
acacicu © 2014