30.9.11

Kopi Rasa Rindu

30.9.11
Tiba tiba saya seperti tidak punya waktu untuk sekedar menulis sesuatu di blog yang cantik ini. Hahaha, padahal saya tidak sesibuk itu. Hanya saja, beberapa hari belakangan ini saya memang menghabiskan waktu dengan bersiul siul bersama tamasya band.

Ternyata acacicu blog itu selayaknya bidadari ya. Sama sama cantik, sama sama saya rindukan senyum manisnya.

Tinggal dua hari lagi..

Malam ini masih ada sesi latihan (semacam gladi resik), dan lusa saya akan bersiul kembali bersama kawan kawan tamasya. Setelahnya, tentu saja akan ada waktu untuk bersantai ria. Menggerakkan jari jemari merangkai kata sambil sesekali menyeruput kopi buatan eng ing eng.

Paranetter, selamat menikmati ujung bulan September..


Catatan Tambahan

Dirgahayu untuk blognya Kang Lozz Akbar. Tetaplah berkarya dan berdansa dengan pena,.apapun yang terjadi.

Satu lagi Kang. Katanya Hanna, hidup bukanlah gladi resik. Hiyahaha, gak nyambung yo?

Pokoknya selamat Kang. Semoga tambah essip dan didekatkan jodohnya, Amiiiiin.


Masih Catatan tambahan

Sebegitu rindunya saya dengan paranetter semua, sampai sampai kopi yang saya seruput sekarang ini menjelma rasa, menjadikannya sebuah kopi rasa rindu.

21.9.11

Melodi Rindu

21.9.11
MELODI RINDU
Kutitipkan rindu ini
Pada bisikan melodi
Semoga terbawa angin
Dan sampai di hatimu
Di hatimu

Reff :

Kubayangkan wajahmu merona rona
Didansai sang angin

Dan kuharap hatimu berbunga bunga
Dibungai irama

Melodi..
Nada nada cintaku
Nada nada rinduku
Padamu...
*****
Di atas adalah lirik lagu dangdut yang saya ciptakan lima belas bulan yang lalu, dan dinyanyikan oleh seorang kawan. Saya biasa memanggilnya Pay. Dia menyanyikannya dengan sepenuh hati. Jika kebetulan ada diantara anda yang suka pada aliran musik dangdut, tidak ada salahnya untuk sekedar mendengarkan suara cengkok kawan saya ini.

Anda bisa mendownloadnya (atau sekedar mendengarkan saja), silahkan klik judul ini, MELODI RINDU.


Sedikit Tambahan

Alhamdulillah, tak terasa setahun sudah saya berproses kreatif di blog acacicu ini. Terima kasih buat paranetter semua. Dari andalah saya banyak belajar tentang apa saja. Sekali lagi, terima kasih atas sepenggal doa dan cintanya. Salam penuh kasih..

12.9.11

Pada 10 September

12.9.11
Ini tentang lagu terbaru saya. Judulnya, pada 10 september. Sebenarnyalah, ada banyak cerita di hari tersebut. Dan saya ingin merangkumnya dalam sebuah lagu. Dan tentu saja, membagikan kebahagiaan kecil ini pada paranetter tercinta.

Lirik Lagu Pada 10 September :

Pada 10 September

Aku tidak sedang memejamkan mata
Dan aku tahu harus bagaimana

Bunga..
Inilah aku apa adanya
Dan saat kukatakan padamu
Maukah kau menemaniku?

Engkau tersenyum manis semanis manisnya..

Laki laki mana yang tak bahagia
Memandang rona merah wajah cintanya
Di wajah cintanya...

Aku hanya ingin bicara sebenar benarnya
Bukan yang seindah indahnya

Aku hanya ingin bernyanyi sejujur jujurnya
Bukan yang semerdu merdunya

Aku hanya ingin saat bangun pagi nanti
Kau ada di sini
Benar benar ada bukan hanya mimpi

Aku hanya ingin engkau menemani aku
Lebih dari itu
Jadilah cahaya kecil di hatiku..



Lagu ini direcord pada 9 September 2011, dan selesai pada dini hari tanggal 10 September 2011.

Di hari yang sama (selang dua jam kemudian), saya sudah ada di atas kereta api menuju suatu tempat untuk bersilaturrahmi.

Saya sendiri yang mencipta dan menyanyikannya. Sedangkan untuk recording, mixing dan aransemen musik, dibantu sepenuhnya oleh sahabat saya, Mas Mungki Krisdianto.

Seperti biasa, bila anda sekedar ingin mendengarkan (dan mengunduh) lagu ini, silahkan klik judul lagu berikut ini.


PADA 10 SEPTEMBER



Sedikit Tambahan

Aku hanya ingin bicara sebenar benarnya, bukan yang seindah indahnya..

9.9.11

Dua Lelaki Bertopi

9.9.11
Foto di bawah ini diambil pada tahun 2009, saat keluarga tamasya band sedang bertamasya bersama. Berlokasi di sebuah tempat wisata di kota kecil Jember. Biasa disebut dengan nama Pantai Papuma.

Sekilas foto ini tidak memiliki kesan apa apa. Sama seperti foto foto pada umumnya. Namun begitu, sangat berarti buat saya. Bukan berarti tidak ada lagi foto semacamnya.

Sengaja saya memilih yang ini, karena selain ada dua lelaki bertopi, foto inilah yang paling sreg di hati saya.



Ada apa dengan dua lelaki bertopi?

Baiklah, akan saya ceritakan satu persatu akan kedua lelaki bertopi ini. Saya mulai dengan yang bertopi dan berkaca mata hitam.

Namanya Bayu (memang nama sebenarnya). Dia dua tahun lebih muda dari saya. Tidak ada yang istimewa yang ingin saya ceritakan selain pada 28 Agustus 2011 kemarin, dia menjadi seorang ayah dari seorang bayi perempuan bernama Bella Sabrina Alena Putri. Hmmm, padahal waktu kita bertamasya di Pantai Papuma, Bayu masihlah seorang bujang yang bahkan masih belum kenal dengan Faiz, istri tercintanya. Waktu berjalan begitu cepat, dan Bayu berubah di dalamnya.

Ini cerita kedua..

Lelaki di belakang Bayu, yang juga bertopi (warna putih). Kita di keluarga tamasya biasa memanggilnya Modiq. Beberapa tahun lebih tua dari saya.

Modiq seorang lelaki yang baik. Tentu saja dia baik, lha wong dia kan sahabat saya, hehe.. Iya benar, dulunya Modiq adalah seorang petarung jalanan. Hampir semua pemuda di tempat saya mengenalnya. Tapi, dia lelaki yang baik, saya tahu itu.

Ada banyak hal yang saya lewati bersama Modiq, dan ada mimpi mimpi kecil yang saya dan Modiq rencanakan. Namun benar adanya, kita hanya bisa merencanakan, Yang Maha Indahlah penentunya. Hanya dalam hitungan hari saja setelah tamasya bersama di Papuma, Modiq dipanggil oleh Sang Pencipta.

Tentu saja saya kehilangan. Tapi detik terus berlalu, tidak peduli apakah kita sedang sedih atau bahagia. Ya, saya tahu harus bagaimana. Itulah kenapa di album ketiga tamasya band, saya menciptakan sebuah lagu berjudul Untuk Sahabatku.

Kembali pada foto..

Saya tidak sedang mengagung agungkan selembar foto ini. Tapi sebenarnyalah, setiap kali saya memandang foto ini, ada rentetan cerita yang menyertainya. Foto yang sederhana, dengan kisah di baliknya yang tidak sederhana.

8.9.11

Cerita Cinta Untuk Nan

8.9.11
Hai Nan..

Aku ceritakan padamu kisah hari hariku di beberapa waktu terakhir ini. Entah kenapa aku ingin memulainya pada akhir Agustus yang lalu.

Nan, ingatkah kamu saat malam tanggal 29 Agustus kemarin? Saat itu kita kebingungan untuk merayakan Hari Raya Fitri. Masing masing saling menunggu takbir berkumandang. Begitu juga adanya di keluargaku. Apalagi, keluargaku adalah keluarga kecil yang tidak pernah berusaha memutuskan untuk menjadi muslim untuk golongan ini dan itu. Kami semua adalah muslim yang muslim. Tidak ada embel embel lagi di belakangnya.

Aku ada di ruang tengah, hanya berdua saja bersama Bapak. Sama sama sedang mendengarkan musyawarah yang digelar pemerintah (dipimpin oleh Menteri Agama), di sebuah saluran televisi. Di ruang depan panaongan, anak anak sedang berceloteh seperti biasanya. Tentu saja mereka juga sedang menunggu kabar dariku, tentang kapan tepatnya Hari Raya Fitri.

Tiba tiba iif dan indra datang ke panaongan membawa sebuah kabar kecil. Aku masih berdua bersama Bapak saat mereka datang. Lalu, salah satu dari mereka mengabariku akan sesuatu.

Beberapa detik kemudian, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Meraih cangkul, membawa selembar kain yang tak terpakai, dan berangkat menuju tempat yang mereka tunjukkan.

Nan..

Ada seekor anjing mati di pinggir jalan, tak jauh dari rumahku. Dan tidak ada seorangpun yang sudi menguburkannya.
acacicu © 2014