31.10.11

Pengalaman Pertama Tenggelam

31.10.11
Lagi lagi, saya akan mengajak anda untuk memasuki lorong waktu menuju masa kecil. Udah siap? pegangan yang erat ya. Soalnya kita akan berpindah ke dimensi cahaya.

Satuuu.. Duaaaa.. Jreeeeeeng...

Dulu sekali, waktu tinggi saya kira kira sepusar orang dewasa, saya mengalami sesuatu yang dahsyat. Dan ini adalah pengalaman pertama. Apakah itu? Ya benar, sesuai dengan judulnya, saya kedelep tenggelam di sungai.

Nama sungainya bedadung. Letaknya nggak jauh dari tempat saya tinggal. Hanya butuh menyeberang jalan depan rumah dan jalan kaki kurang dari lima menit. Kabar baiknya, posisi sungai belum berpindah sampai sekarang, haha..

Bagaimana ceritanya saya bisa tenggelam?

Namanya juga anak kecil. Lihat tetangga dewasanya akan pergi mancing, saya keplayon alias pengen ikut juga. Akhirnya bergabunglah saya dengan sekumpulan orang dewasa yang semuanya membawa senjata penakluk ikan.

Setiba di sungai, semua masih baik baik saja. Sampai akhirnya saya tahu, mereka para orang orang dewasa itu mancingnya di sungai seberang. Huwaaaaaa... Bagaimana saya bisa ikutan, lha wong yang dewasa aja nyeberangnya pake acara berenang.

Salah satu dari mereka berkata, "Kamu diam di sini aja ya dek, kalau capek pulang sendiri.."

Saya manut saja. Mau bagaimana lagi, saya nangis ginjal ginjal pun mereka akan tetap menyeberang. Akhirnya saya menikmati kesendirian dengan berlatar belakang pohon bambu, bermusik aliran air dan nyanyian dedaunan yang bergesakan. Mata ini tak henti menatap iri sungai seberang. Bagi seorang bocah seperti saya, mereka adalah gambaran ideal dari sebuah keceriaan.

Saat nyamuk mulai hadir, kejenuhan melanda, tapi tak terbersit sedikit saja keinginan untuk pulang sendiri (karena pulangnya harus lewat kuburan), pengen ikutan nyeberang tapi takut, (lagipula waktu itu saya nggak bisa berenang), saat itulah saya melihat ada peluang datang. Ya, dengan sangat jelas kedua mata ini memandang batang pohon pisang yang mengambang di atas air, bergerak mengikuti arus. Dan itu membuatnya semakin dekat ke arah saya.

30.10.11

Permainan Yang Aneh : Berburu Selongsong Peluru

30.10.11
Pinggiran kota kecil jember, disanalah saya menghabiskan masa kecil dengan segala ceritanya yang manis. Hampir semua permainan yang ada di masanya, saya juga mengalaminya. Mulai dari mainan kelereng, layang layang, gobak sodor, bentengan, dan semua permainan kolektif lainnya.

Saya yakin, masa kecil sahabat blogger juga kaya permainan. Bahkan mungkin lebih kaya lagi. Bisa jadi kita punya permainan yang sama tapi beda nama dan sedikit berbeda aturan mainnya.

Ada permainan yang mengikuti musim, misalnya layang layang. Ada juga yang bisa dilakukan kapan saja. Dan ada satu lagi. Permainan yang hanya ada di suatu daerah, mengikuti tempat dan kebiasaan lokal. Nah yang terakhir inilah yang ingin saya ceritakan.

Kami Bocah Bocah Sekitar Taman Makam Pahlawan

29.10.11

Endorsement for Abi Sabila

29.10.11
acacicu endorsement


Benar adanya bila ada yang berkata sederhana itu indah. Saya mendapatinya di tulisan tulisan Mas Abi Sabila..

(Masbro, blogger dan pencipta lagu)

Artikel ini pernah diikutsertakan pada Endorsement for Abi Sabila

27.10.11

Kepada Bang Iwan

27.10.11
Assalamualaikum

Bang..

Ini adalah entah surat yang keberapa kalinya yang coba saya tuliskan. Sebelumnya, saya sudah menuliskan sesuatu. Panjaaaaang sekali. Tapi ya kok rasanya nggak pas. Seperti ada yang kurang. Tapi saya nggak tahu di bagian manakah letak kekurangannya. Mungkin, karena terlalu berbelit belit. Ya, itu dia kemungkinan yang paling mungkin.

Bang Iwan..

Sebenarnya saya hanya ingin menulis seperti ini. Bahwa saya hanya ingin menulis surat pada Bang Iwan. Nah, itu dia yang sangat ingin saya tulis dan sampaikan.

Saya menuliskan surat ini bukan karena saya penggemar berat karya karya Bang Iwan (meskipun begitu, saya sangat menaruh hormat pada proses yang Bang Iwan jalani). Saya bahkan hanya hafal beberapa lagu Bang Iwan. Bisa dihitung dengan jari.

Tidak demikian dengan calon istri saya. Hampir semua lagu lagu Bang Iwan dia hafal. Dialah satu satunya alasan kenapa saya menuliskan ini.

Pada pertengahan bulan sebelas nanti kami akan mengikat janji. Mohon sambung doanya.

Terima kasih Bang. Sampaikan salam saya buat keluarga di rumah.

Wassalam


Catatan

Butuh persiapan berhari hari untuk menuliskan ini. Dan tentu saja butuh bergelas gelas kopi.

Tadinya saya membayangkan bahwa ini akan sangat panjang. Tadinya begini tadinya begitu.

Tadinya saya seperti seseorang yang sedang berdoa, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan. Bagaimana Tuhan akan mengabulkan doa mahluk Nya yang tidak tahu dengan keinginannya sendiri?

Alhamdulillah, akhirnya saya tahu apa yang harus saya tuliskan.

Ternyata yang saya inginkan hanyalah sederhana saja. Hanya ingin menulis surat yang seperti ini. Hanya ingin berkomunikasi. Dan yang lebih penting lagi, saya sudah memenuhi keinginan seseorang yang sangat ingin saya melakukan ini.

26.10.11

Mencoba Mengingat Saat Saat Itu

26.10.11
Entahlah, aku tidak ingat tanggal berapakah tepatnya aku mengenalmu. Yang aku ingat hanyalah sebuah bilangan tahun. 2004. Mungkin di bulan ke enam, atau ke tujuh, atau ke delapan, atau bisa jadi bulan kesebelas. Entah. Aku benar benar tidak bisa mengingatnya.

Tapi aku masih sangat ingat tentang dirimu yang dulu. Tentang warna kerudung yang kau kenakan. Kau tampak lucu dengan kerudung putih yang berenda itu. Hmmmm, semakin terlihat bulatlah wajahmu. Apalagi, saat itu kau masih mengenakan kaca mata berframe bulat, persis seperti kacamata milik yang terhormat Mahatma Gandhi.

Saat itu sore hari, aku sedang ada di depan sekretariat pencinta alam. Hujan baru saja mengguyur apa saja yang bisa diguyur. Jejaknya mudah terlihat di ujung dedaunan dan di atas tanah yang tak lagi beraroma. Menandakan itu bukan hujan pertama. Apakah saat itu kita sedang ada di november rain?

Oh tidak, aku tidak akan lagi mencoba mengingat kapankah itu. Baiklah, akan aku teruskan saja kisah ini.

Di saat sedang nikmat nikmatnya menikmati suasana segar di sore itulah aku melihatmu. Engkau berjalan tak jauh dari tempat aku membuat api unggun. Biasa saja caramu berjalan, tidak seperti harimau lapar. Kau benar benar sangat sederhana dan benar benar sangat tidak mencuri perhatian. Ya benar, aku tidak mengada ada.

Seorang perempuan yang tidak semampai, yang terlihat sama seperti perempuan perempuan pada umumnya, yang tidak secantik perempuan perempuan di cover sebuah majalah, yang cara berdandannya apa adanya, bagaimana bisa aku akan memperhatikannya?

Tak pernah terpikir olehku, bahwa beberapa waktu kemudian (dengan jarak waktu yang cukup lama) engkau sukses menjadi medan maghnet di hatiku. Sekarang kau boleh mencibirku. Tapi mau bagaimana lagi, memang beginilah adanya. Engkau benar benar seperti memiliki mustika ratu lebah. Jikapun aku memiliki ribuan hati, tetap saja akan mengerubungi pesonamu. Ibaratnya engkau adalah sebuah sinar yang terang, dan hati ini adalah serangganya.

24.10.11

Harusnya Kau Tahu

24.10.11
Harusnya Kau Tahu
Harusnya kau tahu
Tentang isi hatiku
Yang telah lama
Kuberikan kepadamu

Dan harus kau tahu
Aku hanya tak bisa
Mengungkapkan cinta
Seperti itu

Reff :

Seandainya bisa
Kutulis namamu
Di dalam hatiku

Seperti menulis
Di atas
Semen yang basah


Catatan

Di record pada 21 - 22 Oktober 2011 di GARASI Record. Terima kasih saya ucapkan buat Mas Mungki Krisdianto. Tengkyu lagunya.

Dan untuk paranetter yang barangkali ingin sekedar mendengarkan (atau download), bisa berkunjung di SINI.




Salam Bulan Sebelas...

20.10.11

Story Pudding : Pada Bulan Sebelas

20.10.11
Pada Bulan Sebelas

Kemarin aku merubah nama di jejaring sosial facebook. Yang tadinya kunamai dengan Masbro Acacicu, berubah menjadi Masbro Pada Bulan sebelas. Dan engkau pun berbuat sama. Sama-sama menorehkan kata Pada Bulan Sebelas di belakang nama online-mu.

Aneh, rasanya sangat menyenangkan. Seperti ada sedikit sensasi gila yang menyertainya. Pantas saja anak-anak yang lebih muda dari kita senang dengan nama yang unik semacam itu. Ternyata begitu ya rasanya.

Kemudian efek samping yang tidak pernah aku dan kamu pikirkan sebelumnya pun menghunjam. Pertanyaan datang dari segala arah. Sebenarnya pertanyaannya tidak sebanyak itu, tapi memang benar benar datang dari segala arah.

“Apakah pada bulan sebelas? Tanggal berapakah tepatnya? Mana undangannya? Di gedung manakah itu? Bla bla bla..”

Ah, ternyata lemot itu penyakit menular ya. Padahal kan.. Ah sudahlah. Biarkan saja aku lemot, kurang perhitungan, atau apalah namanya. Kadang-kadang sesuatu akan lebih menyenangkan bila tanpa direncanakan dengan matang. Akan ada banyak kejutan kecil yang menanti kita di sana.

Tentang pertanyaan-pertanyaan yang datang, itu memang murni kecerobohanku. Aku begitu saja mencantumkan nama Pada Bulan Sebelas tanpa pernah berpikir itu akan menjadikannya tanya yang semakin lama semakin menggelinding, seperti bola salju kecil yang meluncur dari atas bukit es.

Kita biarkan saja. Lagi pula aku tidak benar-benar menjawabnya dengan jawaban yang mereka ingin dengar.

Satu Bulan Sebelumnya

Aku menciptakan sebuah lagu. Kau tahu, lagu ini teristimewa hanya untukmu. Judulnya, pada 10 September. Sebuah lagu yang direcord pada 9 September dan berakhir pada 10 September dini hari, dan menceritakan sesuatu yang akan aku lakukan di 10 September.

Cerita yang panjang, tapi aku mencoba sekuat tenaga untuk merangkumnya dalam satu lagu saja.

Bukan cerita di balik lagu yang ingin aku tuliskan di sini. Tapi tentang judul lagu tersebut. Aku sendiri yang membuatnya. Dan menurutku, itulah judul yang paling pas. Paling bisa melukiskan sebuah momen. Akan tetapi.. Kau masih ingatkan tentang pertanyaan pertanyaan yang mengalir itu?

Ada apa di 10 September kemarin? Kata beberapa kawan. Tentu saja aku hanya bisa menjawabnya dengan senyum.

4.10.11

Batikkan Hatimu

4.10.11

Batikkan Hatimu

Saya tahu, harusnya foto di atas saya ikutkan di kuis batikkan harimu pada 2 Oktober yang lalu. Tapi saya malu mengakui bahwa itu adalah satu satunya situasi dimana saya menggunakan batik (Ohya, saya lupa menceritakan bahwa baju batik itu saya pinjam dari Bapak saya sendiri, hehe).

Dan sekarang kuis dan Hari Batik telah berlalu. Ya saya tahu itu. Tapi terlepas dari semua itu, saya ingin mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggeranya kuis yang cerdas (dan sangat Indonesia sekali) tersebut. Salut...!

Biar lambat asal terucap. Selamat Hari Batik. Semoga batik tidak hanya melekat pada fashion saja, tapi juga melekat di hati.



Catatan Tambahan

Foto diambil pada 25 Juni 2009, di pernikahan Brade Mungki Krisdianto tamasya band beserta yang tercintanya, Nurlaily.
acacicu © 2014