31.12.11

Mengakhiri 2011 Dengan Manis

31.12.11
Sudah tanggal 31 Desember 2011. Tentunya, banyak cerita yang berceceran di tahun yang berakhiran angka sebelas ini. Masa masa bahagia dan masa masa penuh cinta, beberapa potongannya tersimpan manis di blog kesayangan ini.

Waktu berjalan begitu cepat ya. Nggak terasa besok sudah 2012.

Barusan saya iseng buka buka tulisan setahun yang lalu. Siapa tahu ada tulisan saya di tanggal yang sama. Ternyata tidak ada. Yang ada malah tanggal 30 Desember 2010. Di sana ada sebuah postingan berjudul Menggenjreng Blog di Akhir Tahun. Haha, saya begitu menikmati saat membaca tiap tiap komentarnya.

Indah.. indah sekali. Di sana ada komentarnya Tante Monda, Om NH, Mbak Ais, Mbak Cantik Gerhana Coklat, Mbak IyHa mamanya Osar, Mbak Hani Pendar Bintang, Mput Usagi, BundaMahes dan masih banyak lagi.

Di penghujung 2011 ini, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Mator sakalangkong buat semua sahabat blogger yang setia menemani langkah langkah saya belajar menulis di acacicu.

Eits, kok tiba tiba saya jadi melankolis gini ya? Udah dulu ah..

Selamat mengakhiri 2011 dengan manis

30.12.11

Kemaitan

30.12.11
Dia dikenal sebagai seorang gadis yang ceria. Seakan akan tak mengenal kata susah dan lelah. Ada saja yang dicelotehkannya hingga membuat orang orang di sekitarnya mengangkat kedua ujung bibir dan membinarkan kedua bola mata. Ya, itulah sekilas tentang Dwi, adek saya di pencinta alam.

Saya dan semua yang mengenalnya, biasa memanggilnya Kemaitan (sesuai dengan nama lapang rimbanya). Kemaitan sendiri diambil dari nama sebuah pohon kecil (tanaman obat dari hutan) yang memiliki kandungan alkoloid, sitosteroid, fitosterol, flayonoid, dan glikosida. Nama kerennya, Lunasia Amara.

Jadi kira kira arti dari Kemaitan adalah begini. Meskipun kecil dan terkadang terasa pahit, tapi mempunyai sifat penyembuh. Kalau yang ini kesimpulan dari saya sendiri dan masih berupa kirologi alias ilmu kira kira.

Kemarin, baru saya tahu kalau si Kemaitan punya blog. Lantaran rindu dan ingin kecipratan sedikit keceriaannya, saya segera meluncur dan melahap karyanya. Dan yang saya temukan adalah sebaliknya.

Adek saya yang ceria, yang matanya selalu membinar, yang suka mengenakan baju flanel, yang kemana mana selalu membawa bandana, yang pencinta alam, ternyata dia lagi sedih. Ah.. Dan itu semua karena lelaki berjaket orange (adek saya juga di pencinta alam, hehe).

28.12.11

Bandana

28.12.11
Mbak Tarry lagi bikin giveaway 11 Tahun Bersamamu. Cara berpartisipasinya mudah. Kita hanya tinggal menceritakan barang kenangan yang kita miliki dan apa kesan di baliknya. Ikutan yuk..

Saya juga berpartisipasi. Benda kenangan yang ingin saya kisahkan adalah selembar kain yang biasa disebut bandana. Bagaimana ceritanya? Baiklah, akan saya tuturkan.

Bandana

Menurut buku, bandana berasal dari India, dengan nama awal bandhnu yang memiliki arti mengikat. Masih menurut buku, katanya pada abad 16 Portugis membawa bandana ke Eropa. Dan selanjutnya, banyak orang Inggris yang mengenakan bandana dan memanfaatkannya seperti mereka menggunakan syal atau sapu tangan.

Lain di Eropa, lain pula di Benua Amerika. Kalau anda pencinta film koboi, anda pasti sependapat dengan saya. Bahwa seorang koboi belum dibilang sejati kalau mereka nggak mengenakan bandana yang dililitkan di leher. Dimulai pada sekitar abad 18 - 19. Ini terus berlanjut pada generasi jauh setelah koboi. Paling populer adalah mereka para rapper.

Begitulah sejarah singkatnya. Bandana, hmmm.. saya memiliki cerita tersendiri dengan benda yang satu ini.

Saya dan Bandana

Seorang kawan pernah bertanya, "Masbro sejak kapan suka berbandana?" Saya tersenyum, tidak menjawabnya. Entahlah, saya lupa. Sejak kapan ya?

Dulu waktu masih kecil, ibu hobi menyulam dan beliau suka membuatkan saya syal. Kakek saya (dari pihak Bapak) yang asli Madura juga suka melingkarkan odheng di leher cucunya ini. Odheng itu secarik kain yang biasa Mbah Kung pakai saat beliau sedang arisan pencak atau saat sedang menggelar seni macapat (biasanya setiap malam jumat dan saya selalu diajak).

Beranjak besar, saya mulai menyukai segala hal yang berbau sejarah dan mendapati kenyataan bahwa sejak jaman awal Majapahit, 1293, rakyat nusantara sudah senang mengenakan kain yang dililitkan di lehernya. Biasanya bermotif batik. Saat itu saya punya pemikiran, bisa jadi bandana berasal dari sini. Tapi oleh kawan saya yang pencinta sejarah, pemikiran saya dikandaskan. Dia bilang, tehnik batik sudah ditemukan jauh sebelum majapahit ada, abad ke empat sebelum Masehi. Wuih.. Lalu saya tanya ke dia, Kok tahu? Kawan saya menjawab, karena ditemukan kain pembungkus mumi (di Mesir) yang motifnya serupa batik.

Saat itu saya diam. Coba kalau sekarang saya ketemu lagi sama teman saya, pasti akan saya jelaskan padanya bahwa sejak dulu kala nusantara terkenal dengan sebutan bangsa barus, yaitu bangsa yang dikenal sebagai penghasil kapur barus. Nah, kemana lagi Fir'aun orang Mesir mencari kapur barus sebagai bahan pengawet kalau tidak di sini Indonesia?

26.12.11

Ngakak Yang Sopan

26.12.11
Ayo Ngakak Sejenak


Jadi ceritanya, saya lagi pengen ikutan Kontes 'Ayo Ngakak Sejenak' yang diadakan oleh Mbak Fany Sang Cerpenis dan Mas Al Kahfi Man and The Moon. Tapi ya kok ternyata repot juga cari foto yang seperti itu. Padahal saya tukang ngakak lho.

Akhirnya saya temukan juga foto yang pas diikutkan lomba. Saat itu saya ada di tepi rel kereta api (belakang rumah) dan sedang bermain kamera. Pada saat teman saya lagi serius seriusnya mau njepret, eh dia malah kaget gara gara ada orang lewat di belakangnya. Dikiranya ada kereta yang mau lewat, hehe..

Gak apa apa deh ngakaknya sopan, yang penting ikut menyemarakkan kontes. Ada yang belum ikutan kontes ini? Ayo pada ikut, masih ada waktu. Silahkan ndaftar di sini.

Bonus :

Ngakak Sejenak, Masbro Acacicu


Ayo Ngeblog Karena Ngeblog Itu Indah

Tadinya saya hanya ngerti dunia blog dari sebuah majalah wanita (milik Mbak saya). Itu sekitar akhir tahun 2004, beberapa saat sebelum Tsunami Aceh, hari ini tujuh tahun yang lalu. Di majalah itu disebutkan bahwa blog adalah hunian masa depan. Tentu saja saya tertarik karena saya menyukai dunia tulis menulis sejak jaman pelajaran mengarang indah.

Waktu berjalan. Saya terus mencari tahu seperti apakah rupa dari blog, dan bagaimana agar saya bisa mendaftar. Setidaknya, belajar menggunakan komputer, baik offline apalagi online. Kabar buruk, saya tidak bisa.

Impian itu terus terpelihara dalam hati. Hingga pada suatu hari, seorang kawan bernama Ali Majedi mengajak saya ke sebuah warnet. Itu terjadi di awal 2006. Saat itu, warnet di seputaran kampus Universitas Jember masih bisa dihitung dengan jari (dari satu tangan saja). Kenapa kami ke warnet, itu karena saya butuh data dan rekan Ali Majedi yang mengantarkan saya, lantaran dia tahu harus bagaimana di depan monitor, saya tidak.

Selama di warnet saya tidak serius mencari data. Saya lebih tertarik memperhatikan tangan tangan kawan saya berselancar. Ingin rasanya bertanya ini itu padanya, tapi saya sungkan. Maklum, kawan saya ini dua tahun lebih tua dari saya. Lagipula orangnya nyungkani. Setelah data didapat, kita langsung cetak print, lalu cabut. Selesai.

Lama setelah itu, sekitar akhir 2006 atau awal 2007 (saya tidak bisa memastikan tanggalnya, maaf), orang orang di sekitar saya mulai kasak kusuk tentang friendster. Ah, mahluk apalagi ini? batin saya.

Benar kata orang, malu bertanya lewat gang buntu.

25.12.11

Selamat Hari Bahagia Buat Mas Mungki

25.12.11
Mungki Krisdianto


Hari ini adalah hari istimewa buat sahabat saya, Mas Mungki Krisdianto. Ya, dia sedang merayakan hari lahirnya. Selamat ya dulur, semoga selamanya berkarya, Amin Ya Robbal Alamin..

Mari kita lanjutkan meski kita lelah

23.12.11

Markisya, Mari Kita Tamasya

23.12.11
Di Daerah Pesisir


Lagi lagi, saya sedang 'mencuri' sebuah foto hasil jepretan kawan saya Faisal. Bercerita tentang sosok perempuan bercaping yang sedang mengayuh sepedanya. Melihat foto ini, saya jadi kangen sama beberapa tempat yang indah yang pernah saya singgahi. Padahal nggak ada hubungannya, tapi itu yang saya rasakan.

Tempat Yang Saya Rindukan :


Tempat itu, Antarkan aku ke tempat itu

Teluk Bandealit
Ranu Gumbolo / G. Semeru
Taman Hidup / G. Argopuro

Ah, sepertinya saya harus segera packing. Entah kemana yang penting menyegarkan mata. Saya butuh refresh untuk kemudian rekreasi. Itulah kenapa saya ingin bertamasya hati meskipun hanya sehari.

Hayooo saya yang mana, hehe..


Markisya, Mari Kita Tamasya

22.12.11

Saya Pernah Duduk Di Sana

22.12.11
Seorang Ibu Dan Dua Lelaki


Saya pernah duduk di sana. Berdua dengan seorang teman bernama Opec. Menikmati sore hari sambil menatap matahari yang semakin detik semakin tenggelam ke air.

Mentari yang tenggelam itu tidak meronta. Dalam ketertenggelamannya, dia bahkan masih bersikeras menyodorkan senampan keindahan bagi mereka yang takjub memandangnya.

Saya pernah duduk di bangku itu. Bangku yang diduduki oleh dua orang nelayan lelaki. Bangku yang sedang akan dibelai oleh sesosok perempuan.

Ah perempuan itu.. Tanpa bersuarapun dia sanggup menghadirkan kedamaian hati. Apakah dia salah satu dari ibu saya?

Ibu saya banyak, ada di mana mana. Mereka tercecer di setiap perjalanan hidup dan kehidupan saya. Mungkin beliau salah satunya. Ah, entahlah..

Saya pernah duduk di sana. Berdua dengan seorang teman.

Sangat tidak rugi berhari hari melakukan perjalanan mengayuh BMX berkilo kilo jauhnya. Karena saya pernah duduk di sana. Berdua dengan seorang kawan, di sebuah pulau kecil bernama Talango.


Catatan

Foto milik (dan hasil jepretan) seorang teman bernama Faisal, lelaki kecil asli Pulau Talango. Dia pernah saya ceritakan di sini, di sebuah tulisan berjudul : Kawan Saya kerampokan Dan Dia Masih tersenyum.

Hari Ibu : Ibu Muda Yang Mengasuh Anaknya

Seorang Ibu Muda Yang Sedang Mengasuh Anaknya


Namanya Eli Suriyana, tapi biasa dipanggil Elis. Perempuan asli Bima ini sudah tinggal di Jember sejak pertengahan 2004. Dia kuliah di Fakultas Sastra Universitas Jember. Satu kampus dengan Apikecil, tapi beda jurusan.

Sekitar tiga tahun yang lalu, Elis memutuskan untuk menikah di usia muda. Dan lelaki kecil yang ada di gendongannya adalah buah hati Elis dan Bahak (suaminya). Putra semata wayangnya mereka beri nama Alden Becik Melody Surya. Anda cukup memanggilnya Alden.

Mengasuh seorang anak tidak semudah yang terbayangkan. Apalagi jika masih kuliah dan nge Band. Ohya, lupa saya ceritakan kalau si Elis adalah gitaris dari sebuah group band yang semua personilnya perempuan.

Ups, lupa kalau nggak boleh panjang panjang. Udah, gitu aja. Selamat Hari Ibuuuuuuu...


Catatan

Mama Elis sedang mengasuh si kecil Alden

Lokasi di depan sekretariat Organisasi Pencinta Alam SWAPENKA Fakultas Sastra.


Pernah diikutsertakan dalam Kontes Perempuan dan Aktivitas yang di selenggarakan oleh Ibu Fauzan dan Mama Olive

20.12.11

Saat Seorang Kawan Digigit Ular Cobra

20.12.11
Suatu hari kawan kawan pencinta alam MAHAPALA D3 FEUJ berhasil menangkap seekor ular cobra berwarna putih. Karena belum diserahkan ke Dinas BKSDA Jember, ular tersebut ditempatkan di sebuah aquarium untuk sementara waktu.

Di hari yang lain, Fran bermain ke sekretariat MAHAPALA. Entah karena iseng atau alasan yang lain, Fran mengeluarkan sang ular cobra dari aquarium. Dia memegangi ular tersebut, mengelusnya, dan memberinya minum. Pada awalnya, semua baik baik saja. Tapi, tak lama kemudian..

Ya benar. Bisa ditebak, Fran digigit oleh si cobra. Tepat di pergelangan tangan kirinya. Tidak butuh waktu lama bagi racun cobra untuk menyebarkan sengatnya. Fran lemas, wajahnya memucat.

Lalu, apa yang Fran lakukan? Apakah dia segera pergi ke Rumah Sakit terdekat?

Ah ternyata tidak. Dia lebih memilih untuk berusaha tenang. Mengikat pergelangan tangannya, berharap bisa memperlambat laju racun. Langkah berikutnya adalah minum air putih sebanyak banyaknya. Kemudian mencari tunas pisang untuk diambil getahnya, dan disiramkan pada bekas gigitan cobra.

Oleh seorang kawan (yang saat itu lagi getol getolnya ikut MLM yang bergerak di penjualan obat alternatif), Fran diberi obat dalam bentuk cairan. Katanya, obat ini bisa menyembuhkan segala penyakit. Fran menurutinya. Dia menyiramkan obat cair itu di tangannya.

Hasilnya? Lumayan ampuh. Entah mana yang ampuh. Apakah terapi air putihnya, getah tunas pisang, obat cair itu, ataukah ketenangan Fran. Yang jelas, keadaan Fran semakin membaik.

Kenapa tidak ke Rumah Sakit saja? Biasalah, masalah klasik. Apalagi kalau bukan tentang duit. Murah sih, suntik anti bisa itu sekitar 50 ribu. Tapi, ya namanya nggak punya duit. Itulah yang ada di benak Fran.

Esoknya, Fran baik baik saja (masih hidup maksudnya, hehe). Pergelangan tangan kirinya abo bengkak dan membesar. Karena khawatir, kawan kawan berhasil memaksanya ke Rumah Sakit. Di RS DKT (Rumah Sakitnya Angkatan Darat). Eh, sesampainya di sana, Fran malah disuruh pulang. Alasannya? Karena Fran telah berhasil melewati masa kritis secara alami.

Itulah cerita tentang Fran saat digigit ular cobra. Cerita sebelumnya bisa anda baca di tulisan saya berjudul NAMANYA FRAN.

Mungkin, karena pengalaman itulah, Fran berani berpose (saat masih di Pulau Komodo bulan kemarin) seperti pada foto di bawah ini.

Fran dan KOMODO




SALAM LESTARI

18.12.11

Seorang Kawan

18.12.11
Ini tentang teman saya. Namanya Fran. Seorang pencinta alam. Dia menjadi pencinta alam karena hatinya (semoga saya benar). Sangat merdeka. Dia bahkan tidak butuh atribut apapun. Dan tidak mencatatkan namanya di organisasi pencinta alam manapun.

Ini dia Fran


Suatu hari saya mengirimkan sebuah pesan pendek padanya. "Fran, aku mau nikah.."

Itu isi pesan pendek saya. Tidak langsung dijawab. Dia baru membalas esoknya. "Oke Bang.."

Komunikasi berlanjut via inbox jejaring sosial. Gila, ternyata posisi Fran ada di Pulau Komodo. Dan lebih gilanya lagi, dia sempat dicurigai (bermasalah) di sana. Entahlah, saya tidak tahu kebenarannya, karena saya tidak di sana, hehe.

Ah, kawan.. Kau ada di tempat yang benar. Hanya saja waktunya tidak tepat..

17.12.11

Merangkul Bapak

17.12.11
Sudah sangat lama sekali saya tidak ada dalam rangkulan Bapak. Tapi rasanya saya masih bisa mengingatnya. Mengingat bagaimana rasanya ada dalam buaian Bapak. Hmmm, benarkah? Apa itu hanya perasaan saya saja?

Ini tentang kemarin sore..

Oleh beberapa alasan tertentu, tiba tiba saya merangkul Bapak. Memang, saya tidak sedang ada dalam buaian beliau karena sayalah yang merangkulnya. Dan apa yang saya rasakan?

Sampai detik ini hati saya masih merona. Sungguh, saya tidak bohong saat saya menuliskan ini. Bahwa detik detik tersebut adalah sepotong kebahagiaan tersendiri buat saya.

Paranetter, bersegeralah merangkul orang yang kita cintai selagi sempat, karena itu adalah indah.

15.12.11

Kalau Saja Kereta Bisa Ngomong

15.12.11
Saat ini saya lagi merenungkan kata kata dari seorang kawan. Dia menuliskannya di sebuah jejaring sosial. Berikut yang dia goreskan.

Saya jadi kepikiran perkataan seorang teman. Kalau stasiun kini membatasi romansa para pencinta yang berpisah di stasiun. Dari beberapa literatur klasik, perpisahan yang megah sekaligus melankoli adalah ketika sang lelaki pergi dengan kereta dan sang gadis melambaikan sapu tangan sembari mengusap air mata. Kini sepertinya hal itu tak mungkin, karena orang tanpa tiket tak boleh masuk ke dalam stasiun. Dan berakhir di sini pula fragmen kisah kasih klasik macam itu..

Wew, ternyata teman saya ini kepikiran perkataan temennya, lalu saya merenungkannya, haha.. Sambung menyambung jadinya, kayak kereta api.

Kawan saya itu, namanya Nuran. Dia pernah saya ceritakan di sini. Seorang blogger juga, dan tulisannya bisa dijumpai di sini.

Baiklah, kembali pada kalimat romansa kereta.

Apakah saya punya kenangan dengan stasiun KA Jember? Tentu saja, apalagi kakek saya adalah seorang masinis. Beliau juga sangat senang mendongengkan banyak hal berkaitan dengan kereta. Itulah saat saat dimana saya jatuh cinta pada kereta api.

Masa kecil saya terwarnai oleh beberapa kisah layaknya bocah seumuran saya saat itu. Berjalan di sekitar stasiun sekedar melihat lihat. Kadang saat ada kereta datang, baik dari arah Surabaya maupun dari arah Banyuwangi, saya dan beberapa teman segera naik. Tentu saja ini mengganggu penumpang yang hendak turun. Tapi begitulah kenyataannya. Padahal kami gerombolan kecil ini tidak sedang akan melakukan perjalanan.

Saya tidak lama ada di atas kereta, dan tidak semua gerbong saya susuri. Saat nada tung ting tung ting stasiun berbunyi (pertanda kereta akan kembali berangkat), saat itulah saya dan kawan kawan sigap melangkah turun. Di bawah, kami saling bercerita kemudian tertawa tawa.

Ngimpi Ikut Kontes di BlogCamp

Di luar dugaan, tiba tiba ada yang menodong saya dengan pistol sambil membentak, "Beli Paypal atau mati..!"

Ow, ada apa ini? batin saya sambil menatap lemah sang penodong.

Dia mengenakan pakaian serba hitam (mulai dari sepatu hingga penutup kepala). Yang mencolok dari tampilan serba hitamnya adalah teks warna kuning di sweater hitam yang dia kenakan. Tepatnya di bagian dada sebelah kiri.

Di saat kaki ini gemetar dan jantung berdegup kencang, masih juga saya sempat membaca teks yang berwarna kuning itu. Ternyata sederet huruf itu bertuliskan JualBeliPaypalBalance.

Keterbengongan saya lenyap saat si serba hitam kembali membentak saya. Kali ini dengan volume dan intonasi yang lebih menyeramkan. Sebelum dia sempat mengulang untuk yang ketiga kalinya, sekuat tenaga saya berusaha menjawabnya.

"Beb beb beb bb bb baiklah.. Bagaimana caranya agar saya bisa Beli Paypal??


Dia mendelik melotot demi mendapati kenyataan bahwa korbannya adalah orang yang gaptek. Ya saya bisa melihat dengan jelas kemarahan di matanya (karena hanya itu yang bisa saya lihat, selain tulisan JualBeliPaypalBalance di dada kirinya).

Matanya semakin melotot. Dia menderap ke arah saya semakin dekat sambil menurunkan gagang pistolnya. Anehnya, meskipun kini ujung pistol itu tidak mengarah ke saya, perasaan takut semakin berkecamuk.

Kini dia tepat di depan saya. Hanya berjarak satu jengkal saja. Matanya semakin melotot, memerah, sangat menakutkan. Saya benar benar takut. Saat saya mencoba mundur selangkah, dia semakin menderap maju. Begitu seterusnya.

Entah pada langkah mundur saya yang keberapa, tiba tiba kaki ini tidak menemukan pijakan lagi. Saya melayang ke bawah, jatuh dan..

Geddebuuggg...

Oh, ternyata saya ngimpi.


Catatan

Cerita di atas adalah fiksi belaka


“Pernah diikutsertakan dalam Kontes Old & New Belanja Online di BlogCamp

13.12.11

Menikmati Nikmat

13.12.11
Saat saya menuliskan ini, di luar sana hujan baru saja selesai melaksanakan tugasnya. Adeeem. Saat yang pas untuk menyeruput kopi. Tak lama kemudian, sruuuuppuut.. Hmmm, nikmat yang murah. Murah tapi nikmat.

Nikmat bisa berwujud apa saja. Kadang dia ada di tempat yang megah, kadang hanya ada di sebuah sudut badan yang gatal lalu kita menggaruknya. Sesekali kita menemukannya pada bibir yang tersenyum. Ada juga yang mengejar rasa nikmat lewat jalur jalur petualangan, yang tadinya dirasa tidak mungkin.

Rasa nikmat ada dimana mana.

Kejutan kejutan kecil, mencoba sesuatu yang tidak biasanya, itu juga bisa melahirkan nikmat. Nggak percaya? Silahkan mencoba pada hidup anda, dan selamat menikmati.

Mari kita nikmati rasa yang keren ini.

11.12.11

Memetik Cinta

11.12.11
Ada Giveaway di rumahnya Mbak Anies Anggara. Temanya tentang cinta. Udah pada berpartisipasi semua ya? Saya turut menyemarakkan juga ah.

Tentang resep cinta? Hmmm, apa ya?

Saya tidak punya ramuan ajaib itu. Tapi ada beberapa orang yang pernah membagi resepnya pada saya. Dan hampir semuanya menggunakan bahasa konsep alias ideal.

Kalau dari saya sendiri, apa ya kira kira? Sebentar ya, saya mau nyruput kopi dulu.

Aaaah, sudah. Markijut.. (ikut ikutan Mbak Anies)

Cinta, setiap orang punya ekspresi yang berbeda, bahkan meskipun resepnya sama persis. Ada yang mengekspresikannya dengan pertengkaran pertengkaran kecil (kalau nggak tengkar nggak asyik), ada juga yang lebih memilih untuk saling berebut kesalahan. Pertengkaran yang harusnya ada, tersulap menjadi kejutan kejutan kecil yang anggun.

Untuk opsi yang kedua, terlihat tidak mungkin ya, hehe. Tapi saya percaya bahwa pasangan seperti itu pastilah ada. Doa saya, semoga Mbak Anies dan Mas Angga juga seperti itu, Amiiin.

Lha, resepnya mana? Haha.. maap saya ngelantur. Lupa sih kalau ikut giveaway.

Begini. Saya kan cinta musik. Satu satunya alat musik yang bisa saya mainkan hanyalah gitar bolong saja. Pada saat saya membelai dan menggenjrengnya di suasana hati yang pas, maka gitar akan memberikan cintanya meski hanya berupa nada. Nada itu tak terlihat, tapi bisa terasa.

Naaaah, jadiii.. resepnya adalaaaah..

Menjalani cinta dengan hati. Jika sudah, kita tak perlu repot repot lagi mendefinisikan cinta. Orang bijak berkata, mengalir sajalah seperti air, melayang sajalah seperti udara, dan terbang sajalah. Terbang mengikuti kemana hati nurani menuntun.

10.12.11

Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI

10.12.11
Andai menjadi anggota DPD RI, apa yang harus saya lakukan?

Saya tidak akan berhenti mempelajari lagi dan lagi, tentang job dis saya, juga tentang hak dan kewajiban selaku anggota. Bukan untuk menghafalnya, tapi lebih pada memahami peran. Dengan begitu, saya tahu harus bagaimana.

Gambaran pembuka di atas, menegaskan bahwa saya bukan tipe pekerja keras. Lebih sederhana dari itu, saya ingin menjadi pekerja cerdas. Terasa lebih efektif dan efisien untuk menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat.

Seandainya saya menjadi anggota DPD RI, saya akan menyediakan mental berlapis. Bagaimanapun, saya akan menghadapi suara suara sumbang, terutama dari pihak yang kontra. Apalagi, saya berencana untuk menempuh dan memperjuangkan langkah langkah yang tidak populer.

Apa kira kira langkah tidak populer yang akan saya tempuh?

Ada aturan main otomatis akan ada yang namanya sanksi. Usulan saya, jika ada salah satu dari anggota DPD RI (termasuk saya) yang mbalelo, maka sanksi yang berbicara. Ini sangat sulit. Tapi saya siap pasang badan.

Saya hanya berpikir, bagaimana rakyatnya akan lurus jika wakilnya saja bengkong.

Karena saya pencinta alam, maka saya akan pro aktif pada advokasi lingkungan. Idealnya, pengelolaan SDA dan ekonomi secara otonomi dan berjiwa konservasi, atau tidak sama sekali.

Buat Pak De dan Bu De Cholik

Pak De dan Bu De Cholik, ngapunten. Saat itu (pada bulan sebelas yang lalu) saya tidak segera menemui panjenengan. Saya ada di musholla belakang rumah.

Seusai sholat isya berjamaah, saya tidak bisa kemana mana. Hujan deras tiba tiba mengguyur bumi ronggolawe Tuban.

Hujan tidak datang sendirian. Dia membawa juga dua teman baiknya. Angin dan petir.

Hmmm, sudah pukul 19.15, hujan masihlah belum mereda. Padahal acara ijab qobul antara saya dan Hana disepakati akan dilaksanakan pukul 19.30 WIB.

Hujan seperti sedang benar benar marah. Entah pada siapa. Mungkin pada kenakalan kenakalan kecil saya dulu. Mungkin Tuhan sedang menjewer saya dalam bahasa yang lain. Entahlah..

Bumi ronggolowe benar benar basah. Hujan juga membasahi sandal selop saya. Padahal masih gress kinyis kinyis, masih ting ting..

8.12.11

Memberi Kesempatan Pada Kata

8.12.11
Sudah sepantasnya jika saya berterima kasih pada Bunda Lily Dont Worry. Di salah satu postingnya, beliau pernah menulis sebuah kalimat pendek, dan sukses mencuri perhatian saya.

Dari yang tadinya tercuri, semakin hari semakin saya merenungkannya. Merenungkan kata kata yang sebenarnyalah bukan kalimat yang sangat nyastra. Ini lebih dekat dengan realitas ketimbang filosofis.

Ya, Bunda Lily tidak sedang berpuisi. Bunda hanya sedang memberi kesempatan kepada kata kata.

Hatiku ada dua. Bila yang satu terluka, yang lain menyembuhkan

Senang bisa mengenal Bunda Lily. Saya merasa, saat ini saya memiliki ibu yang banyak. Dan itu sungguh alangkah membahagiakannya.

Bunda, terima kasih.


Catatan

Dont Worry Bunda. Saat menuliskan ini, hati saya tidak sedang terluka. Hanya saja, saya berpikir bahwa Bunda berhak tahu bila saya jatuh cinta pada kata kata itu.

Dan (lagi lagi) Dont Worry Bunda, rasa cinta saya pada kata kata itu hanya seujung kuku saja. Cinta yang kecil, selalu dipotong, tapi ia akan selalu tumbuh.

4.12.11

Ingin Selamanya Berdansa Dengan Alam Raya

4.12.11
Kemarin saya ditanya oleh rekan jurnalis bernama Arman Dhani. Dalam hidup ini, apa yang masbro inginkan? Begitu katanya. Saya tersenyum. Memori saya secara otomatis memutar sebuah mimpi yang selama ini terpelihara dengan manis.

Ingin punya rumah kecil dengan lahan yang luas. Dan di lahan itu ada gumuk yang juga kecil (gumuk itu semacam bukit tapi unsur tanah di dalamnya sangat berbeda dengan bukit. Masuk galian C. Sementara yang saya tahu, gumuk hanya ada di Jember, Tasikmalaya dan Jepang). Di lahan itu juga harus ada rimbun pepohonan. Itu yang saya inginkan.

Ingin punya lahan kecil dengan hutan kecil, begitulah kira kira. Jadi saya tidak perlu repot repot mengutuk eksploitasi hutan dengan cara yang salah. Cukup dengan memiliki hutan sendiri, saya rasa itu jauh lebih nikmat. Senikmat kopi yang saya sruput sekarang ini.

Wew, ternyata impian itulah yang dijadikan kalimat pembuka di rubrik inspirasi Harian Radar / Jawa Pos.

2.12.11

Obituari : Selamat Jalan Yusnita Febri

2.12.11
Sulit mana mendengar atau berbicara?

Sebelumnya, saya tidak pernah memikirkannya. Tapi setelah membaca tulisan perdana Almarhumah Mbak Yusnita di blognya yang blogspot, barulah saya benar benar merenungkannya.

Mbak Nita memberi teladan bagi dunia blogger. Terlebih bagi kita yang membutuhkan informasi seputar Alat Bantu Dengar.

Dengan gaya bahasanya yang renyah, kita diajak untuk mengenal lebih dekat tentang apa itu Hearing Aid. Tentang kenapa alat itu mahal (meskipun kecil dan ringan), bagaimana cara pemakaiannya, hingga bagaimana sebaiknya proses adaptasi saat pertama kali menggunakannya.

Dhila13 Photo Challenge : Inspirasi

Tyo dan Ayahnya
 

Saya ingin seperti itu

Posting ini di ikut sertakan pada : Bukan Kontes Biasa: TASBIH 1433 H di Blog Dhila13


Catatan

Seorang ayah (Adi, sahabat saya sejak kecil) bersama Tyo, jagoannya.

Yang motret foto ini adalah Hana Apikecil


Catatan Tambahan

Foto di bawah ini hanyalah iseng belaka dan tidak disertakan dalam lomba

Semoga tidak di..
Adi dan Tyo, Dhila13 Photo Challenge : Inspirasi

1.12.11

Kini Berubah Menjadi Pak Hakim

1.12.11
Bapak mertua saya seorang jurnalis. Tadinya beliau adalah seorang penulis karya sastra. Sejak es em pe karyanya sudah nyantol di lebih dari satu media, diantaranya mejeng di majalah horrison.

Manalah saya tahu bila Bapak punya beberapa nama pena? Dan salah satu nama pena beliau adalah Warigalit de Bro? Ow ow ooow..

Lagi, saya harus menerima kenyataan bahwa Bapak biasa dipanggil masbro atau pak bro oleh rekan rekannya sesama jurnalis. Dan itu sudah sejak lama. Wew..

Saya dan Bapak:
Bersama Bapak, Saya dan Bapak

Hehe, ekspresi saya antara ingin mewek, melet dan tersenyum manis, hehehehe..



Begitulah paranetter, salah satu alasan kenapa saya merubah nama (di beberapa akun online) Dari Yang Tadinya Bernama Masbro kini berubah menjadi Pak Hakim.

Tentang nama ID saya yang baru (Pak Hakim), bagaimana menurut anda?


Catatan

Saya menuliskan tema yang sama (dengan gaya bahasa yang berbeda) di blog hatikecil. Judulnya, dari yang tadinya bernama masbro. Tentang kenapa harus diawali dengan kata 'Pak' dan tentang kenapa memilih nama Pak Hakim, saya tuliskan juga di sana.

Terima kasih buat Mbak Ketty Husnia atas komentar pertamanya.
acacicu © 2014