31.12.12

Aldin dan Hujan

31.12.12
Syandana Aldin Wijaya


Hai Aldin lelaki kecilku..

Ini hari yang indah. Di luar sana hujan mengguyur kota kecil Jember, tapi orang-orang terlihat sibuk kesana kemari, sama seperti agenda malam tahun baru sebelum-sebelumnya. Kita di sini saja ya sayang. Menikmati butir-butir air hujan.

Ada yang bilang, butir-butir air hujan adalah satu dari banyak karunia Tuhan yang mengajarkan pada kita untuk tidak takut terjatuh. Mereka terlempar dari atas, jatuh kebumi, tapi pada akhirnya bisa kembali menguap dan melayang ke arah bintang.

Kau juga harus begitu Aldin. Jadilah hujan. Karena hujan tidak pernah salah, bahkan jika butir-butir airnya berjatuhan tepat di malam tahun baru. Hanya saja, banyak orang kehilangan ide untuk memaknainya, saat datangnya hujan tidak seperti apa yang mereka inginkan.

Aldin keponakanku sayang..

Ibumu adalah Kakak perempuanku satu-satunya, karena kami memang hanya dua bersaudara. Pada tahun 2008, Ibu dari Ibumu meninggal dunia. Tapi kau tak perlu bersedih, kau masih memiliki seorang kakek yang penuh kisah. Karena dulu kakekmu adalah seorang petualang.

Adapun tentang Bapakmu, dia adalah lelaki tangguh dalam hal survive dan sosial skill. Dia asli suku Sasak - Lombok. Jadi Aldin, secara genetis kau adalah perpaduan dari banyak suku. Jawa, Madura dan Sasak. Sangat nusantara. Menurutku, ini kabar bagus untukmu. Kau tidak perlu repot-repot narsis saat membaca buku Atlantis - The Lost Continent Finally Found, karya Prof. Arysio Santos. Kau hanya butuh berkata, "Namaku Aldin, dan aku warga dunia."

Sebelum kau lahir, aku pernah mengantarkan ibumu ke pulau Lombok. Tepatnya di sebuah rumah sakit di Praya - Lombok Tengah. Sebuah kabar duka yang membawa kami ke sana. Bapak dari Bapakmu sedang sakit keras.

Sesampainya di RS. Praya, Ibumu masih letih berhias peluh, tapi dia tak punya banyak waktu. Bapakmu langsung mengantarkannya ke sebuah ruang, dimana Bapak dari Bapakmu sedang menunggu menantunya. Itu pertemuan pertama mereka.

Kau tahu Aldin, Bapak dari Bapakmu hanya butuh melihat wajah Ibumu. Hanya hitungan kurang dari lima menit setelah itu, Kakekmu memejamkan mata untuk selama-lamanya.

RS. Bina Sehat - Jember, 4 Mei 2012 pukul 06.25 WIB

Lahirlah seorang bocah lelaki yang kelak kunamai Syandana Aldin, dengan bobot 3,5 kilogram, dan dengan panjang tubuh, 39 cm. Bapakmu menambahkan 'Wijaya' di belakang namamu. Maka, selamat datang di alam raya wahai keponakanku, Syandana Aldin Wijaya.

Tiga hari yang lalu, kabar duka kembali mewarnai perjalanan hidup kedua orang tuamu. Ibu dari Bapakmu meninggal dunia. Dan pada 29 Desember 2012 pagi-pagi sekali, Bapak dan Ibumu meluncur pulang ke Tanah Awu - Lombok Tengah, dengan mengendarai sepeda motor.

Hai Aldin, jangan menangis. Sekarang kau tak lagi memiliki Nenek dari pihak Ibu dan Bapakmu, dan tak memiliki Kakek dari pihak Bapak, tapi kau masih memiliki banyak orang yang siap memberimu sejuta cinta. Berhentilah menangis, berhentilah mendongak ke atas. Karena bagaimanapun, menunduk ke bawah itu lebih manis.

Nak..

Ini sudah hari ketiga dimana kau dan aku memiliki banyak waktu untuk selalu bersama. Terus terang saja, selama tiga hari ini aku bahagia. Aku senang bisa mengantarkan Bu Lik Prit ke sebuah toko untuk membelikanmu popok. Ketika pipismu membasahi baju dan lenganku, rasanya sungguh indah.

Semalam kau mungkin sedang menertawakan kekonyolanku dan Bu Lik-mu, saat kami saling melempar tugas, manakala menghadapi kenyataan dirimu buang air besar. Hahaha.. Maafkan kami Aldin. Maafkan jika kami cengengesan melihat ekspresimu saat proses buang air besar itu berlangsung.

Hmmm, rupanya kita tidak sangat dekat. Selama bulan Desember ini saja, aku sering meninggalkanmu. Ya Aldin, bulan ini aku melakukan banyak hal. Bahkan untuk membelai blog acacicu ini saja aku tidak sempat. Maafkan Pak Lik-mu yang tak seberapa tampan ini sayang..

Sekarang malam tahun baru..

Kita di sini saja ya sayang. Setidaknya, sambil menanti kedatangan Om Ananda Firman Jauhari. Kabarnya malam ini dia akan pulang ke Panaongan. Siapa tahu nanti dia mau mendongengimu kisahnya selama berproses di Sokola Rimba - Jambi, bersama Kak Butet Manurung.

Aldin..

Jangan menangis, aku di dekatmu. Kelak saat kau besar, saat hujan turun membasahi bumi, ingat-ingatlah bahwa aku pernah menyarankanmu untuk menjadi seperti hujan. Yang tak takut terjatuh, dan yang tak lelah untuk mencoba bangkit.

Aku senang mengulang-ulang kalimat ini, mungkin nanti kau membutuhkannya. "Kita tidak pernah dinilai dari seberapa kali kita terjatuh, tapi seberapa kali kita mau --dan mampu-- kembali berdiri dan bernyanyi."

Aldin, mari kita berdoa saja semoga nanti malam langit bertabur bintang.

10.12.12

Dulu Kau Pernah Sangat Berani

10.12.12
Kawan, dulu kau pernah sangat berani. Kau bukan tipe laki-laki yang senang melawan arus, apalagi mengikuti arus. Hanya saja, kau istiqomah dalam menciptakan arus hidupmu sendiri.

Ketika orang-orang sibuk tampil modis di megahnya kampus, kau dengan gagahnya mengalungkan selembar serbet warna putih - hitam bermotif kotak-kotak, khas serbet dapur Nusantara. Ketika kutanya kenapa kau melakukan itu, kau hanya diam dan tersenyum. Tapi aku tahu, kau sedang melawan sesuatu.

Di luar sana ada sepeda motor berbagai merk yang menyemarakkan lalu lalang jalanan, tapi kau masih saja setia dengan sepeda kayuh berwarna lusuh. Lalu sejak 2001, dengan bangganya kau menunggangi astrea 800 jadul, dengan sedikit-sedikit berkata, "Sepeda iki ditukokno Bapakku reeek..."

Aneh, padahal jika dibanding dengan kawan-kawan yang lain, mereka selalu menyembunyikan rahasia besar tentang barang-barang yang didapatnya dari orang tua. Kau berkebalikan dari semuanya. Lagi, aku bertanya padamu. Dan lagi-lagi, hanya senyum yang aku dapatkan darimu.

Kawan, dulu kau pernah sangat berani. Menenteng gitar bolong, menyuarakan lagu-lagu ciptaanmu sendiri, disaat orang-orang sedang terlena dengan karya-karya penyanyi bernama tenar. Ya ya ya, memang ada satu dua lagu yang kau suka. Tapi kau bahkan tidak butuh panggung jika hanya untuk mendendangkannya.

Ketika sandal jepit belum semeledak sekarang ini, kau sudah menghiasi telapak kakimu dengan itu.

Kawan, dulu kau pernah sangat berani. Sekarang usiamu semakin bertambah. Mungkinkah kau masih pemberani? Jika kulihat dari jauh, saat ini kau sedang berusaha keras untuk belajar berkompromi dengan raksasa kehidupan, sebuah monster nyata yang terpampang di hadapan kita.

Kawan, semoga kau tetap berani.

23.11.12

Menjalani Hari Dengan Hore

23.11.12
10 November 2012, tiga belas hari yang lalu..

Saya kedatangan tamu dari Riau, namanya Om Mustofa. Dulu kenalnya di atas kereta api, perjalanan pulang Surabaya - Jember, sepulang dari Tuban. Waaah, keren sampeyan Om. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk singgah di panaongan.


Om Mustofa memakai topi putih

Malam harinya, di panaongan banyak adek-adek SMA, mereka menunggu pukul sebelas malam untuk mengikuti upacara hari pahlawan di TMP Patrang. Sementara itu, saya dan kawan-kawan meluncur menuju IKIP PGRI Jember. Tamasya ada undangan ngamen di sana.

13.11.12

Doa Kita

13.11.12
Ah, sudah bulan sebelas. Tuhan..... Pada Kata Kusematkan Do'a


Sedikit Tambahan

Para sahabat, mohon maaf saya jarang bewe, masih ada sesuatu yang saya lakukan. Yang penting sama-sama semangat dan saling mendoakan. Terima kasiiih.

8.11.12

Ketika Kau Menikah

8.11.12
Pada Nur Manda Wendhy Perdana Putra. Kemarin malam, aku menuliskan ini untukmu. Tak sempat kupencet tombol publish, karena sesaat setelah menulis, kedua mata ini menuntut haknya untuk terpejam.

Ini untukmu, bacalah.

Hai Manda, lelaki kecilku. Aku memulai sebuah pagi dengan menatap kalender yang terukir secara digital di hape jadul merk nokia. Hmmm, ternyata aku sedang ada di 7 November 2012.

Dan kaki-kaki kecil inipun kuperintahkan untuk melangkah menuju jedding. Mandi, hanya itu yang ingin kulakukan. Sayangnya, aku harus melewati sebuah ritual kecil bernama sikatan alias gosok gigi. Ah, ketemu lagi dengan pepsodent-nya Unilever. Serasa ada di Inggris.

Sehabis mandi, segera aku berganti baju. Kali ini aku memilih baju flanel bekas tapi masih mengandung mbois, kental sekali nuansa koboy-nya. Flanel bermotif Skotlandia tersebut kupadukan dengan celana pendek bekas. Tadinya itu adalah celana panjang merk jean's yang hampir saja terbuang. Aku memotongnya, memperpanjang masa pakainya, dan jadilah celana pendek.

Ketika semuanya selesai, tiba saatnya untuk santai. Duduk di bangku depan kamar sambil menghadap tembok tetangga yang tinggi menjulang, kontras sekali dengan tembok rumahku. Hehe, kadang aku berpikir, semen apa yang mereka gunakan? Apakah sama seperti semen yang digunakan untuk membangun rumahku? Kalau iya, berarti mereka pakai SG, sangat beraroma Meksiko.

Nda, pagi semakin indah saat Mbakmu membuatkan aku wedang anget. "Kopinya habis Mas, mimik teh aja ya," Ah pagi-pagi sudah nyruput teh sariwangi rasa Unilever - Inggris.

Pagi yang indah, pagi yang serba luar negeri. Satu-satunya produk yang asli tanah air adalah ketika aku mandi jebar jebur dengan tanpa menggunakan air aquanya danone - Perancis.

Dikala pagi bersiap-siap menyambut siang, aku keluar mengendarai supa'i alias supra x. Sesekali melintasi Alfamart yang dua pertiga sahamnya milik Carrefour. Yang kutuju adalah sebuah bangunan kuno buatan Belanda. Setelah berlelah-lelah, aku pulang.

Malam harinya..

Yes..! Ini rabu malam, saatnya bagi keluarga tamasya band untuk latihan rutin. Perpaduan yang sempurna, mengumandangkan karya sendiri diantara alat musik berbagai merk, indah sekali, haha..

Sepulangnya dari latihan, kita semua meluncur menuju kedai gubug. NGOPI. Kebetulan di kedai gubug sedang berlangsung acara musik. The Baja Hitam (band indie Jember) sedang punya gawe.

Tidak disangka, keluarga tamasya didapuk untuk tampil bernyanyi. Maka berdentinglah alunan musik tamasya dengan dua lagu persembahannya. Laki-laki dan korek api, serta lagu berikutnya, berjudul Lagu Untukmu.

Lalu..

Kembali ngopi, kembali menikmati suguhan musik The Baja Hitam. Entah disruputan yang keberapa, sayup-sayup kudengar kabar tentangmu. Tentang akad nikahmu. Manda, kabar tentang sekeping kebahagiaanmu adalah kemerduan tersendiri bagiku.

Kepadaku kau katakan untuk hadir pada tanggal 11 November 2012. Ah Manda, ternyata akad nikahmu telah usai. Selamat ya tole. Satu lagi keluarga tamasya (Drummer) yang telah menikah, setelah Yopi (pelantun tembang 'Sama-sama rindu') di 27 Oktober yang lalu.

Ketika Yopi Menikah..

Ketika Yopi Menikah, aku meluncur ke rumahnya sambil menenteng gitar. Prit yang menentengnya di jok belakang sepeda Jepang. Bukan untuk gaya-gaya'an, bukan pula untuk tampil menghibur tamu yang hadir di pernikahan. Gitar itu kucangking hanya untuk menghadapi saat-saat darurat saja, haha.. ngataq.

Ketika Lila Menikah..

Manda, kau tentu juga masih ingat dengan Mbak Lila. Di adikku di Pencinta Alam SWAPENKA, yang suka sekali memberikan sekuntum bunga disaat tamasya band sedang tampil bernyanyi. Mbak Lila juga sudah menikah le, di hari Jum'at tanggal 19 Oktober 2012.

Saat Lila menikah, kukira itu masih hari Kamis. Esoknya, siang hari di Sabtu yang panas, aku bergegas mandi, pakai sarung, minyak wangi, dan sudah siap-siap menyetarter sepeda menuju masjid terdekat. Jum'atan. Ealah ternyata salah hari. Sepenggal kisah yang membuat orang-orang di sekitarku terpingkal. Hmmm, Lila.. sorry.

Kembali ke 7 November 2012

Manda, saat kau menikah, di belahan Jawa Timur yang lain juga ada yang mengecup kebahagiaan. Dialah Iis Apriyanti alias Lenyink SWAPENKA, sang backing vokal tamasya band di lagu Untuk Bapak.

Nda, di luar sana ada banyak sekali gempuran produk-produk asing. Jadi, tak usahlah kau merasa merdeka ketika telah berani mengunyah beras BULOG, karena sesungguhnya beras itupun masih impor dari negeri seberang.

Santai sajalah, tetaplah menikmati hidup. Karena memang tidak ada alasan untuk tak menikmatinya. Sekali waktu, kau ajaklah istrimu untuk berdansa dengan alam raya. Tetaplah berani, tetaplah berkarya untuk tanah air. Karena Manda yang aku kenal adalah Manda yang berani untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Lila, Yopi, Lenying, dan kau Manda, selamat menikah. Kabar tentang kebahagiaan kalian adalah kabar paling Indonesia yang kudengar bulan ini. SALAM LESTARI!

6.11.12

Rona Merah di Wajah Ica

6.11.12

Bersama Ica

Gadis kecil yang berjilbab itu bernama Ica. Dia masih duduk di bangku SD. Mungkin kelas lima atau empat, saya tidak begitu ingat. Tapi ada satu yang paling saya ingat dari Ica, yaitu ekspresi pemalunya yang alami.

Ica juga berhasil mengingatkan saya pada status jejaring sosial milik Mbak Anazkia, "Hiasilah diri kita dengan perasaan malu. Karena perasaan malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan."

Tapi ada yang aneh dengan rasa malu di wajah Ica. Dia sangat berbeda dengan ke-46 kawannya sesama penghuni Yayasan Nur Iman, Jember. Malu milik Ica adalah malu yang minder, malu yang rendah diri. Saya berdoa semoga tebakan saya tidak benar, tapi memang begitulah adanya.

Ah, gurat di wajah Ica juga mengingatkan saya pada tulisan sendiri, yang berjudul Minor Label. Di sana ada seorang sahabat yang menuliskan sebuah apresiasi, diangkat dari pengalaman hidupnya sendiri sebagai anak yatim.

Haaa.. saya dilabeli anak yatim waktu kecil. Bapak saya meninggal saat saya masih bayi. Dan label yatim itu terus melekat membuat saya tak percaya diri. Kalau di pengajian saya disuruh ikut lomba atau pentas, saya sering merasa karena mereka kasihan atas keyatiman saya, bukan karena mengakui potensi yang saya punya. Saya juga sering masuk tipi TVRI lokal, berderet-deret dengan anak yatim lain menerima sumbangan...

O My God... sungguh bikin minder asli...

Pesanku satu, kalau anda seorang artis, politisi, pejabat atau apapun yang butuh di ekspos saat berbuat baik, jangan pada anak yatim deh....

Ica adalah sekuntum kesederhanaan. Dia menyegarkan ingatan saya tentang hidup.

Saya pernah beberapa kali menemukan 'kisah' yang jauh lebih miris. Tapi Ica berbeda. Dia datang bagai bidadari, mengetuk pintu hati, untuk kemudian pergi. Tinggallah saya sendiri memulung butir-butir hikmah yang berceceran.

Kembali pada perkenalan antara saya dan Ica

Saya mengenal Ica pada hari kemerdekaan yang lalu, 17 Agustus 2012. Saat itu, seorang kawan bernama Dedie Handoko ingin mewujudkan mimpi kecilnya. Makan bersama adik-adik keluarga Yayasan Nur Iman, di Kedai Gubug miliknya. Tanpa ekspose, tanpa sticker, dan hanya merayap seperti akar di kedalaman tanah.

Kegiatan cantik di kesunyian yang indah. Saya pernah menuliskannya di sebuah tulisan berjudul, malam untuk dikenang. Ya, saya mengenangnya, mempelajari makna di baliknya, dan.. saya merasa tertampar.

Beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba saya merindukan wajah Ica. Secara tiba-tiba pula, saya nyasar di blog romantisan dotkom. Di sana Kang Achoey dengan santunnya menyebarkan virus cinta berbagi dan menyayangi. Ah, Kang Achoey.. Sahabat saya yang satu ini hebat, tak pernah berhenti menyebarkan senyum dengan cara yang anggun. Kentara sekali ketulusannya.

Lalu saya berpikir, saya harus menceritakan tentang rona merah di wajah Ica. Hanya gurat ronanya saja, tidak lebih dari itu. Maka mulailah jemari ini merangkai huruf demi huruf, dan menghadirkan rona merah di wajah Ica.

Ica adalah pelangi di hati saya. Dengan hanya mengenalnya, saya semakin mengerti tentang arti hidup dan kehidupan, hidup sesudah mati, dan hidup yang mengalir apa adanya. Sungguh sebuah keindahan yang begitu luas.

Sedikit Tambahan

Semoga kata 'tulus' tidak menggantung di KBBI saja, dan semoga tidak hanya tinggal cerita.

Profesor Ayu pernah mengatakan pada saya, mendoakan adalah karya spiritual yang indah. Maka, mari kita tidak berhenti untuk saling mendoakan.

Kang Achoey, salam jempol. Teruslah menginspirasi.

Artikel ini diikutsertakan pada Gaveaway: Cinta untuk Anak Yatim.

31.10.12

Cinta Lama Bersemi Kembali

31.10.12
Nostalgia adalah hak setiap orang, tidak terkecuali bagi masyarakat di kota kecil Jember.

Jika dilihat dari usia rata-rata terbanyak para penostalgia Jember, maka yang sering saya jumpai sekarang adalah mereka yang mengecup masa kecil (juga remaja dan beberapa usia dewasa) di era 1950-an hingga 1960-an.

Kawan-kawan muda di Jember pernah menggelar sebuah acara bertajuk Pesan Dalam Botol, dimana di acara tersebut kami mengadopsi nostalgia lama dengan cara mengumpulkan botol kosong dan barang-barang bekas lainnya. Semua itu nantinya kami tumpuk jadi satu, kami jual di loak, dan hasilnya akan digunakan untuk support dunia pendidikan.

Haha.. terdengar wow ya. Padahal tidak. Sederhana, kecil, dan tidak berniat mengubah dunia. Hanya ingin berbagi dan melakukan sesuatu, sesederhana itu saja.

Pesan dalam botol hanyalah ide usang yang ditampilkan kembali, terlahir karena betapa seringnya kami mendengar kisah tentang Jember tempo dulu, dari para penostalgia.

Dimulai dari penggalan-penggalan kisah, dari katanya ke katanya..

Alkisah di tahun 1957 - 1959, ada sebuah kota kecil yang dipimpin oleh seorang Bupati bernama R. Soedjarwo. Beliau kembali memimpin Jember untuk kedua kalinya pada 1961 - 1964. Di sela waktu tersebut, kota kecil ini sempat dipimpin oleh Bapak Moh. Djojosoemardjo.

Bupati Botol Kosong Itu Bernama Pak Djarwo

Bapak R. Soedjarwo biasa dipanggil dengan nama Pak Djarwo. Kelak, beliau akan mendapat gelar baru yaitu Bapak Bupati Botol Kosong. Apa sebab? Sederhana saja, beliau pernah menghimbau masyarakat Jember untuk mengumpulkan botol kosong dan koran bekas. Semua itu digunakan untuk membiayai pembangunan beberapa gedung pendidikan dan akses pendukungnya.

Apakah hanya itu nostalgia tentang Pak Djarwo? Ternyata tidak. Pak Djarwo mempercantik tampilan Jember dengan cara-cara sederhana.

1. Tidak boleh lagi ada kotoran kuda dan puntung rokok dijalanan. Caranya, dibelakang kuda setiap dokar (andong) wajib diberi karung goni agar kotoran kuda tidak jatuh kejalananan dan tertampung di karung penampung.

2. Membebaskan jalanan dari puntung rokok. Caranya, setiap becak dan di tiap pohon yang tumbuh di dalam kota wajib diberi kaleng bekas susu untuk asbak para perokok. Puntung rokok dan bekas bungkus rokok dihimbau untuk dimasukkan kedalamnya dan tidak dibuang di sembarang tempat. Ini untuk mengantisipasi kebiasaan masyarakat Jember yang memang dikenal sebagi perokok berat, karena tembakau merupakan hasil produksi petani setempat.

Dua poin di atas saya dapatkan dari tulisan Pakde Bagio. Beliau adalah mantan Humas UNEJ yang sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan aktif sebagai pengurus Perwakilan Yayasan Gerontologi Abiyoso Kabupaten Jember, dan Pengurus Forum Kerjasama Karang Werda n menerbitkan Tabloid "Gema Lansia." Anda bisa membaca tulisan Pakde Bagio di sini.

Masa Kepemimpinan Abdul Hadi

Setelah Pak Djarwo, tongkat estafet kepemimpinan di kota kecil Jember dipegang oleh Bapak R. Oetomo (1964 - 1967), kemudian Bapak Mochammad Huseindipotroeno (1967 - 1968), lalu Bapak Abdul Hadi (1968 - 1979). Rata-rata para penostalgia Jember senang jika harus menceritakan kembali era Pak Abdul Hadi. Menurut banyak orang, beliau adalah Bupati penuh inovasi, dan merakyat.

Sebelumnya, Pak Abdul Hadi menjabat sebagai Dandim 0824.

Dari banyak perubahan yang dilakukan oleh Pak Abdul Hadi, ada satu yang melegenda hingga sekarang. Tidak lain adalah proses pembuatan sebuah masjid baru bernama Masjid Al Baitul Amin. Masjid baru ini dinilai sangat unik, bukan hanya dari segi arsitekturnya saja, tapi juga dari proses pembangunannya yang dibangun dengan cara kolektif. Ya, Al Baitul Amin dibangun dengan biaya yang diperoleh dari pengumpulan kelapa dari setiap warga Jember.

Hubungan antara Pak Djarwo dengan Pak Abdul Hadi disatukan oleh jembatan mastrip yang membuka akses menuju Kampus Universitas Jember Bumi Tegal Boto. Jembatan ini mulai dibangun sejak tahun 1961 (masa kepemimpinan Pak Djarwo gelombang kedua), dan selesai dengan sempurna pada 1976, di masa kepemimpinan Pak Abdul Hadi.

Itu adalah jembatan yang hebat, karena pembangunannya dirintis dengan penjualan botol kosong yang dikumpulkan oleh warga. Tak heran jika para penostalgia Jember menyebutnya dengan nama Jembatan Botol.

Cinta Lama Bersemi Kembali

Pada bulan sebelas tahun ini (15 November 2012), kawan-kawan Jember kembali mengadopsi kisah lama untuk dihadirkan kembali, di sebuah acara bertajuk CLBK. Di sana akan ada empat rangkaian acara yang dijadikan satu.

Berikut adalah poin-poin CLBK:

1. Tutup Botol

Prosesnya sama persis dengan acara sebelumnya, yaitu Pesan Dalam Botol. Mengumpulkan botol kosong, koran bekas, dan barang bekas lainnya yang bisa dijual. Semua itu akan kita kumpulkan, kita jual, dan dimanfaatkan untuk support dunia pendidikan.

Perbedaan antara Tutup Botol dengan Pesan Dalam Botol, kali ini seluruh hasilnya akan dimanfaatkan untuk kota kecil tercinta, Tribute to Jember.

2. Bicara buku

Bicara buku adalah nama lain dari bedah buku. Sengaja diganti agar tidak terkesan menyeramkan, karena keluarga tamasya khususnya (terlebih saya sendiri), masih asing dengan kata 'bedah buku'

Buku yang dimaksud adalah kumpulan tulisan milik seorang blogger bernama Mbak Anazkia dan RZ Hakim. Terangkum dalam satu buku, dengan cover bolak balik. Semisal nanti buku ini laku (meskipun tidak banyak), seluruh hasilnya akan dimanfaatkan untuk menunjang mimpi Blogger Hibah Sejuta Buku.

3. Blogger Hibah Sejuta Buku Goes to Offline

Blogger Hibah Sejuta Buku atau dikenal juga dengan nama BHSB adalah group online di jejaring sosial, terdiri dari sekumpulan para blogger kreatif Indonesia, dan tersebar di berbagai penjuru dunia. Haha, kok jadinya seperti group yang sangat besar sekali ya? Maaf, sepertinya saya berlebihan.

BHSB memang tidak sebesar yang dibayangkan, tapi mereka mengusung sebuah mimpi besar. Bukan bermaksud untuk mengubah dunia secara frontal, bukan pula berharap hendak dikenang. BHSB senang berbagi buku dengan cara mengumpulkan buku, menebarkannya di tempat yang dirasa butuh, untuk kemudian melupakan segala kebaikan yang pernah mereka lakukan. Lalu mereka memulainya kembali. Begitu seterusnya, entah sampai kapan.

4. Tamasya Akustik

Nah kalau yang ini jelas, anda mungkin akan mudah menggambarkannya tanpa harus saya tulis gambarannya secara rinci. Ya benar, poin keempat adalah acara penggembira. Bernyanyi bersama sambil menyeruput kopi di kedai gubug - Jember.

Dalam tamasya akustik nanti, akan ada juga sisipan acara berupa mengheningkan cipta. Bersama-sama melayangkan doa terbaik untuk Almarhumah Yusnita Febri, blogger hebat yang saya kenal lewat warisan tulisannya.

Sedikit Tambahan

Sejarah mencatat, Indonesia memiliki budaya gotong royong yang kuat. Hal itu yang ingin dihidangkan oleh segelintir masyarakat muda Jember (di acara CLBK), pada 15 November 2012, bertempat di Kedai Gubug - Jember.

Pencomotan nama kedua mantan Bupati di atas (Pak Djarwo dan Pak Abdul Hadi) semata-mata untuk memudahkan ingatan kolektif para penostalgia, sekaligus mempermudah kita yang muda-muda dalam mengimajinasikan latar belakang temporal. Terlepas dari rasa hormat saya pada Pak Djarwo dan Pak Abdul Hadi, inti kekaguman saya yang sebenarnya, terletak pada semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat Jember.

Mari.. mari kita lestarikan budaya botol kosong dengan cara tetap memelihara jiwa gotong royong.

Salam Lestari!

29.10.12

Mengaktifkan Fitur Moderasi

29.10.12
Para sahabat blogger, sedari pertama kali saya membuat akun blog acacicu, belum pernah terpikirkan untuk mengaktifkan fitur moderasi komentar. Namun melihat kenyataan yang ada selama beberapa waktu terakhir, saya putuskan untuk mengaktifkan fitur moderasi.

Artikel ini khusus saya tayangkan sebagai permohonan maaf bagi para sahabat, terutama yang kurang 'sreg' dengan sistem moderasi.

Dengan adanya moderasi komentar, otomatis komentar yang anda tuliskan tidak langsung tayang melainkan masih menunggu persetujuan dari admin (saya sendiri). Pengaktifan fitur moderasi juga saya barengi dengan pe-nonaktif-an fitur widget recent comment.

Sebenarnya ada pilihan lain selain mengaktifkan fitur moderasi, yaitu dengan menutup kolom komentar di semua artikel lama (hanya artikel baru yang bisa dikomentari). Dengan kata lain, saya tidak menghidupkan layanan otomatis 'kantong komentar' blogger. Namun saya lebih memilih mengaktifkan fitur moderasi karena saya anggap lebih sesuai dengan kebutuhan.

Mohon maaf dan terima kasih.

Sedikit Tambahan

Permohonan maaf juga saya tujukan untuk kawan-kawan blogger dengan nama ID obat-obatan. Mohon maaf, ratusan komentar anda (beberapa diantaranya double) di tulisan-tulisan lama akan saya hapus karena terbaca spam. Ini juga mengakibatkan komentar yang biasanya tidak terbaca spam, menjadi terbaca spam.

Karena saya melihat berbagai ID tersebut ada di IP yang sama, saran saya, jadikan satu saja dan tetap menggunakan nama salah satu diantaranya. Jadi, anda masih bisa berkomentar di sini.

Salam Persahabatan!

26.10.12

Nama Lain Dari Mama Olive

26.10.12
Hembus angin pagi ini..

Kedatangannya tak hanya membungkus dingin. Dia juga membawa sebuah kabar bahagia, bahwa Mama Olive sedang merayakan hari lahirnya yang ke bla bla bla.

Tadinya saya tidak yakin pada angin. Saya katakan padanya, "Ah masa sih? Kamu nggak salah orang tah?" Angin menggeleng mantab, memastikan bahwa kabar yang dibawanya adalah benar. Dia berkata dengan nyeuneu dan tetap keukeuh pada pendiriannya.

"Hai angin, jika memang benar Mama Olive yang kamu maksud adalah sahabat blogger saya, sekarang coba kau sebutkan 5 ciri-ciri Mama Olive."

(Selanjutnya kata 'saya' berganti 'aku')

Dan anginpun menjawabnya..

1. Nama lain dari Mama Olive adalah Jelita.

2. Jelita memiliki seorang putri bernama Olive. Dia cantik dan bersayap. Suatu hari nanti, ketika sayap itu Olive rentangkan lebar-lebar, maka kaldera gunung raung akan berganti warna menjadi lebih cerah. Bukan hanya itu, puncak rengganis argopuro-pun akan bersenandung untuknya.

Sebentar wahai angin, maaf aku memotong ocehanmu. Perihal ucapanmu yang pertama, itu sangat benar sekali. Jelita adalah nama lainnya. Tapi apa maksudmu dengan yang kedua? Kata-katamu tentang sayap sangatlah bersayap.

Angin diam, tersenyum, untuk kemudian berkata, hanya Olive yang bisa melihat sayapnya sendiri. Sayap adalah nama lain dari kecantikan hati, dan Olive memilikinya.

3. Hanya lelaki tangguh yang bisa memiliki selendang di hati Jelita. Lelaki itu bernama PO.

4. PO, Jelita, dan Olive, mereka adalah perpaduan keluarga yang sempurna. Adalah tugasku sebagai utusan Tuhan bernama angin, untuk menerjang mereka sekali waktu. Tapi aku tak mungkin bisa menerjangnya, selama mereka masih memiliki senjata ampuh bernama senyum yang tulus.

5. Jelita masih memiliki satu nama lain lagi. Nama ini membuatku secara naluriah harus menjaganya, karena nama lain dari Jelita adalah η κόρη του ανέμου
 
Nah kawan, itulah 5 ciri-ciri Mama Olive yang tadi kau minta. Aku sudah menyebutkannya. Sekarang mandilah, lalu lekas kau langkahkan kedua kakimu menuju masjid. Selamat Idul Qurban 1433 Hijriyah ya.

Ah angin, aku bahkan belum mengucapkan selamat hari lahir untuk η κόρη του ανέμου ..

14.10.12

Menarik Lebih Lama

14.10.12
Pakde Cholik tidak bohong ketika di salah satu statusnya (di group warung blogger) beliau menggoreskan sederet kalimat pendek.

"Kami bukan awet muda tetapi menarik lebih lamaaaaaaaaa.."

Kalimat tersebut dibuktikan oleh Pakde Cholik, Bunda Yati, Bunda Lahfy, dan Bu Sumiyati Sapriasih, di acara seniora kopdaria.

Hehe, kalimat seniora kopdaria tersebut juga muncul dari seorang senior, Om NH.

Seniora Kopdaria



Menarik lebih lama, saya suka kata-kata itu. Dan saya juga ingin tampil menarik lebih lama lagi. Seperti mereka, orang-orang yang saya sayangi.

12.10.12

Selamat Hari Lahir Mbak Orin

12.10.12
Jejaring sosial facebook mengabarkan pada saya, bahwa hari ini (12 Oktober 2012) adalah hari lahirnya Rinrin Indrianie atau biasa saya panggil Mbak Orin. Kabarnya, salah satu dosennya mengartikan nama itu sebagai singkatan ORang INdonesia.

Kereeen, saya jadi ingat postingan acacicu sebelum ini. Foi Fun!

Bongkar kebiasaan lama, Orang Indonesia cantik-cantik kayak Mbak Orin :)

Selanjutnya tentang Mbak Orin

Dia kelahiran Bandung, namun sewaktu kecil sudah pindah ke Majalengka, lalu Cirebon, kemudian Jatinangor, dan lalu kemudian kerja di Jakarta.

Kok saya tahu? hehe, barusan saya ngintip di blognya. Pengen ngintip juga? Silahkan berkunjung ke rindrianie dot woredpress dotkom.

Hari lahir sudah kadung identik dengan yang namanya kado atau hadiah. Entah siapa yang memulai gagasan itu, saya tidak tahu.

Tentu saja saya juga ingin memberikan sekotak hadiah pada Mbak Orin. Tapi apa ya? Pengen banget memberikan hadiah berupa helikopter (lengkap dengan helipad-nya), tapi isi dompet saya sedang menjelang maghrib.

Hmmm, bagaimana jika Mbak Orin saya buatkan seribu perahu kertas dalam sehari semalam, sebelum ayam jantan berkokok? Ah, sayang sekali. Tulisan ini tergores di pagi yang cerah, sewaktu mentari bersiap menyentrongkan lentera supernya.

Idenya gagal semua, haha.

Pokoknya selamat hari lahir buat Mbak Orin. Semoga tambah cantik luar dalam, semakin mesra dengan Mas Rahman Apriyanto, dan indah dunia akherat. Amin Ya Robbal Alamin.

Sekelumit Kata Untuk Sahabat

Sahabat, semisal saat ini kau ada di sini, maka kau akan menjumpai pagi yang cerah, cicit prenjak, kopi buatan prit, dan seonggok gitar bolong yang rencananya sebentar lagi akan kupetik.

Sayangnya rumahku ada di tepi jalan. Pagi yang indah akan segera berlalu, berganti dengan suara kendaraan. Jika aku hendak menghadiahi sebuah lagu untukmu, maka sekaranglah saatnya, sebelum suara prenjak semakin jauh dan menghilang.

Baiklah..

Publish, jreng, syalala, dan selamat hari lahir..

10.10.12

Foi Fun!

10.10.12
Menemukan komentar cantik dari perempuan yang juga cantik (Ojob dewe, haha..), pada tulisan Nuran Wibisono yang berjudul, Antara Iwan dan Kopi Itu.

Ini dia komentar cantik yang saya maksud :

Hallo Nuran...
Tulisan ini membuat saya agak kemringet,hahahah...

Kita tidak bisa membuat sebuah kesimpulan yang sepihak tanpa kita mengetahui alasan yang jelas kenapa Iwan Fals menerima iklan komersil, mulai dari sepeda motor sampai kopi.

Kalau saya ditanya, apakah saya kecewa dengan keadaan beliau yang seperti itu?

InsyaAllah tidak, karena IsyaAllah seorang sosok Iwan Fals tentu punya pertimbangan khusus untuk menerima iklan komersil. Dan itu bukan untuk kepentingan beliau sendiri. Karena kebanyakan dana yang didapat itu untuk kepentingan sosial. Karena ada sesuatu yang seringkali tak pernah beliau ungkapkan di depan publik.

Saya lebih kecewa ketika beliau tak lagi berkarya dan menutup diri, setelah Galang meninggal. Itu sangat menyakitkan, hidup tertutup dan tanpa karya. Entah berapa tahun lamanya kontemplasi yang beliau lakukan hingga akhirnya muncul lagi sampai saat ini.

Ah, Nuran..
terlalu panjang komentar ini...
Anggap saja ini adalah sebuah protes dari penggemar Iwan Fals..

Ayo Ngopi... :)

Lalu saya temukan juga jawaban cantik, eh tampan ding, dari seorang Nuran, penulis muda pencinta travelling.

Dan ini dia komentar tampan tersebut :

Hehehe, makasih komentar panjangnya mbak, senang bisa berdiskusi lagi :)

Seorang kawan pecinta U2 --terutama Bono-- pernah kecewa berat dengan U2. Gara-garanya Bono lebih sering mengurus kegiatan sosialnya dan melupakan dunia yang membesarkannya: musik. Kawan itu kecewa bukan karena Bono aktif dalam kegiatan sosial, melainkan karena terlalu sibuk dengan kegiatan sosial sehingga lupa berkarya.

Mungkin itu sama saja dengan Iwan. Saya memang bukan fans berat Iwan, tapi saya begitu menghormatinya, sama seperti saya menghormati Slank. Tapi ketika Iwan --dan juga Slank-- sibuk membintangi iklan dan melupakan dunia musik, saat itulah kritik harus dilayangkan. Aku juga sama sekali tak keberatan Iwan membintangi iklan, tapi ya itu tadi, kekecewaan muncul karena Iwan lupa berkarya. Atau karya yang bagus. Seingatku, dia pernah bikin album baru setaun atau dua tahun lalu.

Ya semoga saja dalam waktu dekat ini Iwan bisa mengeluarkan album baru lagi, album yang berisi musik-musik yang membuat ratusan ribu orang menggemarinya :)

Markingop, mari kita ngopi Mbak :)

Sangaaar koooeeen...! Saya suka perbincangan itu. Salam Foi Fun!

9.10.12

Nostalgia Surat Menyurat

9.10.12
Kabarnya, hari ini adalah hari surat menyurat sedunia.

Hmmm, setiap kali telinga saya mendengar kata surat menyurat, yang terpikirkan adalah seekor merpati. Atau kalau tidak, bunyi cetak cetek mesin ketik manual.

Meskipun saya bukan seorang filatelis, terpikir juga oleh saya gambaran akan perangko. Atau sepeda motor Pak Pos yang berwarna orange. Atau lirik lagu lawas yang dulu sering Ibu nyanyikan. "Berdebar hatiku.. Trima spucuk suratmu.."

Wah, ternyata surat menyurat menyimpan seribu kenangan. Belum lagi surat ijin membolos sekolah, haha. Ini adalah jenis surat yang membutuhkan sedikit teatrikal di depan orang tua, alias pura-pura sakit.

Ohya, ada lagi yang saya ingat saat mendengar kata surat menyurat. Pas Idul Fitri kemarin, saya dapat kiriman kartu pos dari Mbak Dey. Beberapa hari kemarin, saya juga dapat kiriman amplop kecil dari pemilik blog Monilando. Alangkah indahnya.

Roda jaman bergerak sangat cepat. Dulu orang berkomunikasi (jarak jauh) dengan berkirim salam. Selanjutnya melalui merpati dan ketukan. Media ketukan yang biasa digunakan adalah alat musik tradisional kentongan. Kemudian dikenal jasa kurir dan menjadi sempurna dengan manajemen pos.

Kalau dipikir-pikir, ini adalah metode yang berputar, hanya kemasannya saja yang berbeda. Entah apakah semua ini bisa disebut dengan kemajuan atau kemunduran.

Sekarang kita mengenal transportasi udara, dulu sudah ada manusia yang bisa terbang. Contoh paling populer adalah tokoh pewayangan Gatot Kaca. Jasa pengiriman masa kini dikenal dengan nama paket, dulu sudah ada santet, haha..

Hmmm.. sebelum saya ngelantur lebih jauh, saya tutup saja tulisan suka-suka ini dengan sebuah pertanyaan. Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata surat menyurat?

Mari kita bernostalgia di sini.

4.10.12

Ketika Uang Tak Lagi Berguna

4.10.12
Kota kecil Jember disegarkan oleh datangnya hujan perdana. Hujan yang kehadirannya dirindukan oleh banyak orang. Bukan hanya para petani, saya juga rindu hujan. Meskipun atap rumah masih belum sempurna, dan meski listrik harus padam berkali-kali, tapi saya sangat bahagia.

Hujan tadi sore menyisakan aroma tanah yang khas. Malam ini saya masih bisa menghirup nuansanya. Ah, ini adalah suasana yang pas untuk membuat perapian dan menikmati secangkir kopi buatan Prit.

Saat sedang bersantai, tiba-tiba saya teringat pada kejadian kemarin. Tiba-tiba banyak orang yang mengeluhkan errornya layanan BBM. Ingat juga kejadian tadi sore, di saat listrik sedang byar pet byar pet.

Itu semua membuat pikiran saya melayang pada beberapa pengalaman, ketika saya bergabung dengan tim SAR dan diterjunkan di daerah bencana, di hari-hari pertama.Tanpa akses listrik, belum ada sanitasi air bersih, putusnya jaringan komunikasi, tak ada bahan bakar untuk kendaraan, aroma yang tidak bersahabat, reruntuhan bangunan fisik, korban bencana yang belum dievakuasi, tatapan-tatapan kosong, dan masih banyak lagi.

Itu adalah suasana dimana uang tak lagi berguna. Ketika uang tak lagi berguna, jangan dikira hidup akan menjadi damai tanpa ada kekerasan fisik. Sebaliknya, atau justru semakin parah. Sebungkus nasi bisa saja menjadi alasan terjadinya perang.

Bagaimana jika kita tiba-tiba hidup di situasi yang seperti itu?

Menurut saya, sikap tenang adalah langkah awal untuk menghadapi kekacauan. Baru kemudian memikirkan sesuatu. Setelah itu observasi (mengamati) apa saja yang ada di sekitar kita. Ketiga langkah di atas akan mengantarkan kita pada sebuah kata bernama rencana. Tentang apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Tentu saja, segala perencanaan tersebut berkaitan erat dengan apa yang dinamakan survive atau bertahan hidup.

Bertahan Hidup

Belajar bertahan hidup tidak harus menunggu bencana datang, atau menunggu datangnya ledakan inflasi dunia yang mengakibatkan uang tak lagi menarik. Kita bisa memulainya saat ini juga.

Saya ajak anda untuk bicara yang sederhana saja. Manakala anda memelihara beberapa ekor ayam kampung di halaman rumah anda yang sempit, apakah itu bisa dikatakan bertahan hidup? Ya tentu saja. Saya membuktikan sendiri. Ketika dompet saya menunjukkan angka nol rupiah, dan ketika Prit bertanya, "Mas, makan apa kita hari ini?", hari itu saya diselamatkan oleh beberapa butir telur ayam kampung saya yang cantik.

Kita tidak akan mengeluhkan harga cabe yang melambung tinggi, di saat kita telah menanam cabe sendiri di halaman belakang rumah. Hal-hal yang sederhana ini bisalah kita sebut dengan langkah-langkah kecil untuk bertahan hidup.

Survive berbanding lurus dengan kemandirian, dan mandiri adalah pondasi utama yang dibutuhkan jika kita ingin hidup merdeka.

Penutup

Saking enaknya saya menulis di acacicu, saya tidak sadar jika kopi di gelas bening telah sampai pada ampasnya. Reflek saya melemparkan sebuah kalimat manis pada Prit. "Nduk, kopine mase enthek, buatin lagi dooong."

Beberapa detik kemudian saya tertegun. Kenapa saya tidak membuat kopi sendiri ya? Ah, ternyata saya tidak mandiri, dan tidak sepenuhnya merdeka.

Sedikit Lagi..

Melukiskan kata demi kata di suasana yang romantis.Terima kasih kopi hitam, sampaikan salamku pada jemari yang meracikmu, jiahaha..

1.10.12

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

1.10.12
Sebelumnya saya mau tanya, apa ada diantara sahabat blogger yang pernah punya pengalaman berada di tengah-tengah tawuran? Jika pertanyaan itu dilemparkan kembali pada saya, maka saya akan menjawab, "Ya, saya pernah".

Saat itu tahun 1992, di kota kecil Jember sedang ada launching Matahari Dept. Store - Johar Plasa. Didatangkanlah Lady Rocker asal kota pahlawan, Ita Purnamasari.

Ketika acara semakin hot, tiba-tiba saya terjebak di tengah-tengah tawuran. Entah apa masalahnya dan entah siapa yang memiliki masalah, saya benar-benar tidak tahu. Yang saya lakukan hanya satu, berusaha mengikuti laju gelombang massa. Itu semua saya lakukan agar saya tidak jatuh dan terinjak-injak.

Itulah pengalaman saya saat berada di tengah-tengah medan perang. Sangat tidak menyenangkan berada di situasi yang seperti itu, apalagi saat itu saya masih sangat bocah.

Pelajaran pertama yang saya dapat dari kisah tersebut, mereka yang ada di medan tawuran bukanlah para jagoan. Berlari, mengikuti arus, memukul, menendang, itu semua hanyalah naluri untuk mempertahankan diri.

Semua terjadi begitu cepat, dan orang-orang di dalamnya tertekan oleh keadaan. Kontrol diri sedemikian mudahnya hangus dan berganti dengan hipnotisme situasi.

Lalu dimana para jagoan berada?

Tidak semua orang terlahir sebagai jagoan (yang seperti itu). Tapi pasti ada saja jagoan di setiap sekolah. Ibarat pepatah lama, setiap hutan memiliki predatornya sendiri. Begitulah, setiap sekolah memiliki jagoannya sendiri.

30.9.12

Ketika Senyumanmu Mendamaikan Hatiku

30.9.12
Ini tentang suatu hari, saat aku pertama kali bernyanyi dan tampil di depan publik. Aku katakan padamu bahwa aku hanya pencinta alam biasa dan tak pandai bernyanyi. Suaraku sengau. Aku juga tidak hebat dengan nada-nada tinggi.

Saat itu yang kuingat darimu hanya satu. Kau tersenyum. Seakan-akan hendak berkata, semua akan baik-baik saja.

Ketika pertama kali berjumpa dengan stage panggung yang sebesar kolam renang, aku gugup. Sebentar-sebentar ke belakang panggung. Keringat dingin merambat dari dahi, telapak tangan, hingga ujung kaki. Anyep. Lagi-lagi kau mengeluarkan jurus saktimu. Senyum.

Malam demi malam pun berlalu. Aku mulai terbiasa. Tapi sang waktu sedemikian kejam memutar balikkan hati. Satu persatu dari keluarga tamasya disibukkan oleh kenyataan hidup. Satu persatu mulai berbenah. Ada yang bekerja di luar kota, ada yang menikah, ada yang menghabiskan waktu dengan buah hatinya, dan masih banyak lagi.

Kau tersenyum. Senyummu diikuti oleh senyum-senyum baru. Senyum kawan-kawan pencinta alam yang baru, senyum para seniman dan para penulis belia, senyum tulus dari kawan-kawan luar kota, dan masih banyak lagi senyum yang berdatangan.

Ada yang datang lalu pergi lagi, ada yang pergi namun tetap di hati. Semuanya saling memberi sekuntum cinta. Ah, indahnya keluarga tamasya.

Dan semalam kita berdendang, di anniversary tamasya band yang ke lima. Bersama Tape Ketan Band, dan bersama banyak senyuman. Diantara taburan senyum itu, senyummu masih saja setia hadir.


Lima tahun memang bukan usia yang tua. Tapi siapa yang bisa membayangkan jika tamasya band bisa tetap berkarya sampai saat ini. Kini aku sangat percaya, senyum adalah sumber kekuatan.

Ahaaa.. Satu lagi.

Akhir-akhir ini kita senang menyebutkan nama-nama sahabat blogger setiap kali tamasya live perform. Sepintas terlihat lucu. Tapi kita tahu, doa adalah sumber kekuatan yang lain setelah senyuman.

Para sahabat blogger, terimakasih. Salam Lestari...!

28.9.12

Jatuh Mengajarkan Kita Untuk Bangkit

28.9.12
Suatu hari Superman terjatuh. Ada seseorang yang melihat kejadian tersebut. Dia tertegun dengan gurat wajah tak percaya. Lalu dia bertanya pada Superman, "Kenapa anda bisa jatuh?"

Hening. Tak lama kemudian Superman menjawabnya. Singkat saja, dia hanya berkata, "Karena kita harus bangkit.."

Kisah di atas saya dapatkan dari Bob (Bapak mertua saya) ketika kemarin pulang ke rumah Tuban. Beliau bukan hanya mendongengkan penggalan skenario film Superman pada saya. Lebih dari itu, Bob seperti sedang meringkas seribu nasehat dalam satu kisah.

Pribadi yang luar biasa seperti Superman bisa menjadi biasa-biasa saja secara tiba-tiba. Begitu juga sebaliknya. From zero to hero. Setiap orang bisa menjadi pahlawan, tanpa perlu menyebut dirinya pahlawan.

Apakah saya pernah terjatuh? Ya tentu saja. Meskipun saya tak bersayap, ada banyak cara untuk terbang. Beberapa kali saya terjatuh, baik dalam arti yang sebenarnya maupun kiasan. Tapi saya tahu, detik terus berputar tak peduli apakah kita bangkit atau tidak.

26.9.12

Ferry Nafaro Sang Kamituwo Desa Sukamade

26.9.12

Hari ini saya update status --disertai foto di atas-- yang panjang sekali. Berkisah tentang seorang sahabat bernama Ferry Nafaro. Saya mengenalnya ketika kami sama-sama sekolah di SMA Arjasa - Jember.

Begini ceritanya.

Di waktu SMA, Ferry dua kali mengajak saya dan kawan-kawan yang lain untuk berkunjung ke rumahnya, di ujung timur pulau Jawa. Tepatnya di sebuah tempat bernama SUKAMADE, masuk Kabupaten Banyuwangi. Jaraknya dari Jember tidak sangat jauh, sekitar 127 km. Yang membuatnya terlihat jauh adalah 15 km terakhir menuju Sukamade. Jalannya berbatu, dengan kontur yang curam lagi berkelok.

Itu adalah kali pertama saya memegang punggung penyu.

Di kesempatan yang lain, saya dan Ferry berebut untuk saling menunggangi punggung penyu. Seorang Jagawana yang ada tak jauh dari kami hanya bisa tersenyum kecut. Beruntung Ferry mengenalnya. Kalau tidak, mungkin kami sudah dibentak-bentak.

Saya dan Ferry berhenti melakukan aksi gila tersebut, demi melihat linangan air di mata sang penyu. Sungguh, waktu itu saya mengira si penyu benar-benar sedih.

Beberapa tahun kemudian, ketika saya memilih untuk bergabung di komunitas pencinta alam SWAPENKA, baru saya tahu arti dibalik tangis penyu. Dia menangis bukan karena sedih, melainkan untuk mengusap pasir di seputar kelopak matanya.

Bukan hanya itu, saya juga lebih mengenal dunia penyu. Akan saya persingkat pada spoiler di bawah ini.

7 Jenis Penyu di Dunia :

Dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia, enam diantaranya ada di Indonesia.

Dan di pantai Sukamade, ada empat jenis penyu yang tercatat mendarat di sana. Keempatnya adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu slengkrah (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriaceae).

Penyu yang paling sering mendarat adalah penyu hijau. Sedangkan penyu yang dirindukan kehadirannya adalah penyu jenis belimbing.

Dua jenis penyu lainnya, yang tidak pernah tercatat mendarat di Sukamade adalah penyu tempayan (Caretta Caretta) dan penyu pipih (Natator Depressus).

Satu jenis penyu yang tidak ditemukan di perairan Indonesia adalah jenis penyu Kempi (Lepidochelys Kempii). Penyu ini hanya bisa ditemukan di samudera Atlantik.


Pada 2001, ketika SWAPENKA mengadakan acara trans Bandealit - Sukamade, saya menyempatkan diri untuk singgah di rumah Ferry. Oleh Bapaknya, saya dan kawan-kawan dipaksa untuk bermalam di rumahnya yang kecil.

Saat itu saya bersama rombongan besar plus Pak Budi, pemandu kami dari TN Meru Betiri. Secara logika, rumah itu tidak mungkin muat untuk kami. Tapi ternyata saya salah.

Selain jamuan makan malam dan sarapan pagi berlauk ayam kampung, ada satu lagi yang saya ingat. Bahwa itu adalah perjumpaan terakhir antara saya dan Ferry. Saya tidak pernah lagi ke Sukamade. Sedangkan Ferry, dia terakhir ke Jember tahun 1999 / 2000, saat saya masih bekerja di SPORT Cafe.

Haripun berlalu. Kabar terakhir tentang Ferry saya dapat dari seorang sahabat SMA. Kabarnya, Ferry bekerja sebagai satpam PT. LDO sejak tahun 2006. Lalu menikah dan dikaruniai seorang putra bernama Kaka.

Hingga pada 22 - 23 September 2012 kemarin (di ultah tamasya band yang ke-lima), saya berkesempatan untuk kembali berkunjung ke Sukamade.

Apakah saya bertemu dengan Ferry? Ya, tentu saja. Sangat membahagiakan.

Tidak ada yang berubah dari Feri. Dia masih bersahaja, humoris, dan ceria. Bedanya, sudah sejak 2010 Feri tak lagi bekerja sebagai satpam. Dia dipercaya oleh warga pemukiman Sukamade sebagai KAMITUWO.

Menurut Bapaknya, Feri terlalu muda untuk menjadi Pak Kami (julukan untuk seorang Kamituwo atau Pak Kampung). Tapi saya yakin dia bisa.

Ah, senangnya bisa singgah di rumah Feri. Meskipun listrik hanya ada pada pukul 5 sore hingga 11 malam, dan meskipun sinyal hape hanya ada di beberapa titik (butuh perjuangan dan kesabaran untuk mendapatkan sinyal pantulan yang ketinggiannya kurang dari satu meter ini. Namun jangan khawatir, beberapa tempat yang ada sinyal-nya sudah ditandai oleh warga. Kita hanya tinggal menumpang saja), tapi suasana kedamaiannya sangat terasa.

Desa Sukamade, semoga tetap damai lestari.

21.9.12

Sepatu Warrior

21.9.12
Saya tidak memiliki banyak waktu untuk posting. Tapi ketika hari ini saya membuka blog acacicu tersayang, eh ternyata ada PR dari Cheila. PR itu berupa sebelas pertanyaan. Hmmm, saya suka yang serba sebelas, dan saya akan menjawabnya dengan riang.

Sekolah, Guru, Auditori, Sepatu, Daniel, Pancasila, Gingsul, Bapak, Midnight, Bunda, Cheila. Itu dia pertanyaannya. Oke Cheila, akan saya jawab secara acak. Dimulai dari pertanyaan ke sebelas.

1. Cheila itu pemilik blog Si Guru Kecil yang memberikan sebelas pertanyaan (dalam episode The Pink Award) ini pada saya. Wajahnya manis dan sepertinya gingsul, hehe.

2. Gingsul itu saya, Niar, Cheila, dan Bapak saya sendiri.

3. Bapak itu pria yang keren. Saya pernah mengukir gurat wajahnya di sebuah lirik lagu berjudul Untuk Bapak. Ini cuplikannya, "Bapak lihatlah bintang di langit yang hitam, aku juga ingin begitu.." Terhitung dalam waktu yang sangat panjang, Bapak adalah guru bagi saya.

4. Guru itu bernama Ibu Reni, perempuan cantik yang mengajari saya huruf i di hari pertama sekolah, di SD Patrang I.

5. Sekolah itu sebuah tempat yang kadang terasa sangat menyebalkan. Di hari yang lain, kita akan merindukan suasananya. Pada saat SMA, saya memiliki banyak sahabat, diantaranya bernama Daniel.

6. Daniel itu aneh. Hobinya cari ular di sungai belakang gedung SMA Arjasa - Jember. Tapi dia hanyalah satu dari sekumpulan bocah-bocah aneh berseragam putih abu-abu. Bicara tentang keanehan masa SMA, saya ada sedikit masalah dengan yang namanya sepatu.

7. Sepatu yang saya kenakan saat SMA adalah sepatu milik Bapak dari Bapak saya. Terbuat dari kulit sapi dan ada 'janggel-nya'. Keren. Tapi itu menurut saya. Ketika saya naik kelas dua SMA, teman-teman satu kelas membelikan saya sepatu merk warrior sebagai kado di hari lahir saya. Ah, indahnya. Saya masih ingat, si warrior tak lepas dari kaki saya hingga tengah malam.

8. Midnight itu ketika kau hidup di kota kecil dan ingin menonton film di bioskop dengan harga yang murah. Percayalah, kau akan butuh midnight show. Kau hanya harus pandai menyelinap masuk ke dalam kamar (di hari yang sudah larut) dan jangan sampai terpergok Ibumu.

9. Bunda itu my auditori.

10. Auditori itu saya, karena memori saya lebih hebat dalam mengingat sesuatu dengan cara mendengar daripada membaca. Ketika saya disuruh menghapalkan Pancasila, maka saya akan berjuang keras menghapalkannya. Tapi di suatu hari, seseorang bercerita tentang Pancasila dari sisi yang lain. Dia seperti sedang mendongengkan kisah-kisah heroik. Setelah itu, saya tidak butuh menghapalkannya, karena saya sudah paham.

11. Pancasila itu keren.

Cheila, PR - nya sudah saya kerjakan dengan riang. Makasih ya...

Sahabat blogger sayang, sebentar lagi saya akan ada di sebuah tempat tanpa sinyal dan tanpa koneksi internet, hingga tiga hari ke depan. Jadi mohon maaf semisal ada komentar, saya tidak bisa langsung membalasnya.

Ohya, saya tertarik dengan poin nomor tujuh. SEPATU. Kira-kira, apa anda masih ingat jenis sepatu yang anda kenakan saat sekolah dulu? Adakah yang memiliki kenangan dengan sepatu merk warrior? Mari kita berbagi penggalan kenangan di sini. Salam Lestari..!

18.9.12

Dua Tahun Acacicu

18.9.12
Untuk banyak hal, saya senang memulai sesuatu pada bulan September. Misalnya, ketika saya harus melamar Mbak Pipit | apikecil, itu terjadi pada 10 September 2011, hehe.

Hari jadi tamasya band juga ada di bulan September, tepatnya pada 23 September 2007. Ya benar, beberapa hari lagi keluarga tamasya band genap berusia 5 tahun. Dan itu menjadi alasan kenapa beberapa waktu terakhir saya jarang mengunjungi blog.

Saya dan kawan-kawan (tamasya) memiliki satu dua agenda, ada beberapa hal yang harus kami persiapkan. Jadi, untuk sementara acacicu akan sedikit terbengkalai.

Sangat menyedihkan jika harus berlama-lama meninggalkan blog, apalagi di saat acacicu sedang ada di bulan kelahirannya. Hei.. Saya lupa bercerita. Blog ini juga saya mulai di bulan September, dua tahun yang lalu. Alhamdulillah.

Sahabat blogger, saya tidak akan pernah bosan untuk mengucapkan terimakasih atas persahabatan yang indah ini. Salam Lestari...!

12.9.12

Komentar-Komentar Cinta

12.9.12
Saya meninggalkan blog acacicu dengan artikel berjudul 5 tips agar blog anda populer. Kemudian saya segera berkemas, esoknya meluncur pulang ke rumah Tuban.

Ketika kemarin saya membukanya, wew.. ternyata banyak komentar yang masuk. Terima kasiiiih.. Mohon maaf atas segala kengawuran saya di tips trik blogging tersebut, hehe..

Terus terang, saya terpingkal membaca komentar-komentar yang masuk. Lucu, cerdas, segar dan sangat bersahabat. Tak heran bila banyak orang yang melanjutkan kisah persahabatannya, dari maya ke nyata.

Perihal Komentar

Komentar bersifat melengkapi tulisan. Dia juga cerminan dari komentatornya. Hebatnya, jarang ada orang usil yang senang meng-copas komentar. Jadi, benar-benar orisinil dan spontan. Terlebih jika itu adalah komentar OOT, tak mungkinlah ada yang copas.

Dan saat ini, tiba-tiba saya ingin mengucapkan terima kasih atas jalinan persahabatan yang cantik.

Ohya, sedikit lagi..

Buat sahabat blogger yang terlahir di bulan September, selamat hari lahiiir...

Happy Ultah :

blogger september

Buat Ami Osar, Mama Cal-Vin dan Mbak Susindra.. Selamat Hari Lahir yaaa...


Eh, siapa lagi ya yang ultah di bulan September? Ohya ding, si Mput Putri Rizkia, kemarin ultah di 4 September. Hepi Ultah ya Mput. Teruslah meloncat lebih tinggi.

Ada yang ingin mengucapkan komentar-komentar cinta pada mereka? Mari berkomentar cinta di sini.

6.9.12

5 Tips Agar Blog Anda Populer

6.9.12
Memiliki blog yang populer dan dikunjungi oleh banyak orang adalah impian kita semua. Bagaimana caranya? Apakah bisa? Apakah ada trik khusus untuk mempopulerkan blog? Tentu saja bisa. Selama kita mau mencobanya, segalanya akan terlihat menjadi mungkin. Selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha.

Ini dia rahasianya.

5 Tips Agar Blog Anda Populer :

1. Belilah kembang api (atau bikin sendiri) yang jika disulut bisa menimbulkankan efek bunga-bunga api di udara, dimana percikan kembang api itu bisa membentuk sebuah tulisan berupa nama blog anda. Misalnya, www.deyfikri.com.

2. Buatlah sebuah banner atau kain seukuran bendera, yang ditengahnya tertulis nama blog anda. Ketika ada HELIKOPTER parkir, 'cantolkan' kain itu pada helikopter hingga menjadi seperti contoh gambar di bawah ini.

Gambar Helikopter :

acacicu spoiler

- Gambar didapat dari google -
3. Di sebuah postingan, saya pernah menulis artikel berjudul, Latah adalah budaya paling Indonesia. Sekarang mari kita memandang latah dari sisi yang berbeda. Maksud saya, kalaupun harus latah, kenapa tidak kita sebutkan nama blog kita saja?

4. Memasang alamat blog di papan reklame itu biasa. Ada yang lebih keren dari itu, yaitu menuliskan URL blog kita pada gerbang perbatasan kota.

Gerbang Blogger :
gerbang spoiler

Gerbang Kota Jember dari arah Kabupaten Bondowoso. Diedit dengan menggunakan paint net dan photoscape. Dan inilah hasilnya, kacau :)
5. Silahkan anda lanjutkan sendiri di kolom komentar, tentang tips dan trik agar blog menjadi populer. Komentar bebas, seliar-liarnya ide dari yang bisa anda pikirkan.

5.9.12

Teringat Slalu

5.9.12
Saya sedang ingin menyemarakkan Monilando's First Giveaway. Dan yang hendak saya ceritakan adalah tentang Almarhum Ibu saya. Mohon maaf jika tulisan kali ini panjang. Saya sudah berusaha keras menyingkatnya tapi tidak berhasil.

Antara Saya, Ibu, dan Tamasya Band

Diantara setumpuk kenangan manis antara saya dan Ibu, ada dua hal fenomenal yang ingin saya tuliskan. Pertama, Ibu ingin melihat anak bungsunya perform di atas pentas, dan saya selalu menolaknya. Kedua, ada satu hal dalam hidup ini yang selalu Ibu takuti, tidak lain adalah jarum infus.

Pernah pada suatu siang di tahun 2007, Ibu (berdua dengan Kakak perempuan saya) naik becak menuju GET-Net. Saat itu Prit masih bekerja sebagai operator di warnet tersebut. Tujuannya hanya satu, membuka youtube dengan kata kunci tamasya band.

Sampai pada waktu yang sangat lama, saya tidak tahu menahu tentang hal itu. Ibu, Kakak, dan Prit benar-benar menjaga rahasia tersebut layaknya keluarga mafia. Lagipula saya jarang pulang ke rumah. Jadi, potensi saya untuk mengetahui hal tersebut sangat kecil.

Pertengahan tahun 2007 dan seterusnya, kondisi kesehatan Ibu memburuk. Beliau terserang stroke. Kondisi semakin parah manakala Ibu terjatuh di kamar mandi, sekitar akhir tahun 2007.

Di awal tahun 2008, saat di rumah hanya ada saya dan Ibu, dengan gerakan yang sangat lambat dan dipaksakan, Ibu membuatkan saya kopi. Beberapa saat kemudian, saya dan Ibu sudah ada di suasana yang romantis.

1.9.12

Tamasya di Bulan September

1.9.12
Sudah bulan September. Jadi ingat saat-saat ketika dulu Ibuk menyenandungkan lagu september cerianya Vina Panduwinata..

Kemarin saya mengisi bulan Agustus dengan segala hal yang menyenangkan. Dan di bulan ini saya juga masih ingin melakukan hal yang sama. Menjadi lebih bermanfaat dan sekaligus bersenang-senang.

Memang, hidup bukan hanya tentang bersenang-senang. Sesekali menikmati sedih, kehilangan, rasa sakit, dan beberapa hal menyebalkan lainnya. Tapi itu semua adalah bagian dari anak tangga kehidupan, kita harus melewatinya. Setidaknya kita harus tahu, itu semua adalah proses menuju bahagia.

Walah, saya ini lagi nulis apa ya?

Oke, kembali ke bulan September.

Tadi siang saya mengantar Prit ke 'aktifitas' barunya. Sementara dia mengurusi gono gini, saya merapat di kantin. Sangat menyenangkan menikmati segelas kopi di depan sekretariat MAPALA, saya jadi merasa tidak terasing.


Sorenya, saya dan Prit menyempatkan diri untuk singgah di sekretariat SWAPENKA tercinta. Ternyata sepi. Akhirnya saya putuskan untuk menyiram bunga, bersih-bersih, dan membuat perapian. Mumpung sepi.


Saat malam, kawan-kawan tamasya pada kumpul di rumah, ngopi plus briefing. Kami membicarakan banyak hal seputar kegiatan tamasya band.

Akhirnya disepakati tentang tiga hal. Bertamasya ke Ranu Kumbolo pada 14 - 16 September, bikin acara tasyakuran 5 tahun tamasya, tepat pada 23 September 2012 (bertempat di kedai gubug), dan membuat anniversary tanggal 29 September, bersama sebuah band komedi bernama Tape Ketan.Acara tersebut bertempat di pelataran parkir Gedung Soetardjo Universitas Jember.

Eh ada satu lagi ding. Kami mulai bersiap-siap membuat album indie. Kali ini album yang keempat, dan rencananya masih akan diedarkan antar teman. Doakan semoga menjadi sebuah manfaat.


Saya mengawali bulan september dengan segala hal yang menyenangkan. Semoga begitu juga dengan anda. Selamat berkarya dan bergembira.

27.8.12

Tinggal di Desa dan Tua Bersama

27.8.12
Segala yang kau dan aku impikan, semuanya ada di sini. Tentang konsep hidup "tinggal di desa dan tua bersama", itu juga terpampang gamblang di sini, di desa Sumberagung Kecamatan Megaluh, Jombang.

Pakde Cholik dan Bu De Ipung, mereka adalah sepasang kekasih yang seperti tak ingin berhenti menebarkan inspirasi, ibaratnya petani yang sedang menebarkan biji-bijian.

Dimasa tua nanti, aku ingin menikmati pagi dengan secangkir kopi buatanmu, dan sesekali memandang halaman belakang rumah kita. Itu adalah satu diantara beberapa hal sederhana yang ingin aku lakukan, sekiranya Tuhan mengijinkan. Dan kemarin Pakde melakukannya.

Pakde dan pagi hari


Dengan sarungnya yang coklat kotak-kotak, dan dengan tangan kanannya yang malang kerik, Pakde seperti sedang menyusuri perjalanan hidupnya di sehampar pelataran belakang rumah yang berhimpit dengan kolam renang.

Menikmati masa tua bersama orang-orang tercinta, adakah yang lebih indah dari itu?

Menjadikan rumah sebagai persinggahan bagi para pejalan, sanak saudara, teman, dan siapapun yang ingin bernaung barang sejenak, bukankah itu menyejukkan hati? Dan Pakde mencontohkannya kepada kita. Bahkan kisah tentang mangku langgar, itu benar adanya.

Pegang erat tanganku, akan kuajak engkau melangkah melewati setapak yang kiri kanannya berpagar tanaman. Kau dan aku, mari kita menuju ke sebuah rumah mungil di pinggiran kota kecil Jember.

23.8.12

Dirgahayu Pakde Cholik

23.8.12
Pada saat menuliskan ini, saya sedang ada di sebuah kamar yang besar, di kediaman rumah Pak De Cholik, Jombang. Rumah yang berdampingan dengan usaha kolam renang ini tampak begitu asri. Apalagi saya dan Prit datang pukul lima sore. Srengenge senja membuat halaman rumah yang di sebelah kanannya ada mushollanya tersebut tampak lebih cantik.

"Ya Mas, mau cari siapa?", kata seorang lelaki seusia Mas Insan Rabbani (atau lebih muda lagi). Ternyata dia adalah Bapaknya Briga, cucu Pakde yang suka menemani Pakde jalan-jalan di hari minggu.

Lalu begitulah. Keramahan terbentuk dengan sendirinya. Mula-mula Bu De yang nyamperin kita, baru kemudian Pakde. Saya dan Prit langsung dipersilahkan menuju ruang BlogCamp sektor Jombang, hehe.

Terdengar adzan maghrib. Pakde memberi saya sarung pinjaman. Sebenarnya saya juga bawa sarung (sarung pemberian Kak Julie dulu), tapi ada di jok sepeda. Prosesnya masih lama. Saya dan Prit masih ada di dalam kamar (tempat saya dan Prit ngaso). Mandi, ganti baju, dan beberapa hal kecil lainnya, baru kemudian menuju ke musholla, di pelataran rumah Pakde.

Setelah shalat maghrib, acara dilanjutkan dengan tahlil, baru kemudian doa. Ada seorang Bapak sepuh yang membacakan doa khusus untuk mensyukuri 62 tahun usia Pakde Cholik. Acara inti adalah membuka tumpeng, ambil posisi, lalu tancap gas. Bahagianya bisa ada di acara yang menyejukkan hati. Sayang, sewaktu acara inti, jamaah perempuan sudah pada keluar musholla. Jadi saya tidak makan bareng Prit.

Ketika kami berkumpul di ruang blogcamp sektor Jombang, terpaksa saya makan lagi. Menemani Prit.  Hmmm, padahal pada pukul setengah lima sore tadi saya berhenti di sebuah toko yang tutup (tiga kilometer dari rumah Pakde), membuka bontot nasi dan makan. Tapi anehnya, ketiga-tiganya memiliki kadar kenikmatan yang maknyuss.

Sahabat blogger, fotonya nyusul yaaa. Nunggu sesampainya saya di Jember. Atau nunggu Pakde upload semuanya. Ini ada satu foto, saya ambil dari facebook Pakde.

Di Ruang BlogCamp Sektor Jombang


Tulisan ini belum selesai. Masih banyak cerita yang belum saya tuntaskan. Tapi nantilah, saya sempurnakan di kolom komentar. Sekarang malam Jum'at, waktunya istirahat. Teristimewa buat Pakde Cholik, selamat hari lahir ya Pakde.

22.8.12

Maaf Aku Sudah Tobat

22.8.12
Ini tentang suatu hari menjelang lebaran, di detik-detik terakhir jualan takjil kemarin (antara tanggal 15 - 16 Agustus 2012). Saya mengendarai sepeda motor pelan sekali. Karena memang kondisinya mengharuskan saya untuk mengendara pelan. Sebabnya, saya membonceng Prit yang sedang membawa termos es, nampan, dan beberapa tetek bengek peralatan jual takjil.

Ketika sampai di pertigaan Mastrip - Jember, ada sebuah truk menyalip motor yang saya kendarai. Itu membuat konsentrasi mengemudi saya menurun. Semua energi saya kerahkan pada mata, demi memelototi tulisan yang ada di bawah bak belakang truk. Detik selanjutnya, saya menambah kecepatan motor. Prit protes, tapi saya sudah terlanjur mengambil keputusan. Saya ingin melihat tulisan tersebut dengan lebih jelas.

Meski kepontal-pontal, usaha saya tidak sia-sia. Di pertigaan lampu merah Rumah Sakit Dr. Soebandi, dewi fortuna (entah siapakah sebenarnya si dewi ini) berpihak pada saya. Sekarang saya bisa membaca tulisan tersebut dengan sangat-sangat jelas.

Saya memiliki 23 detik untuk mengeluarkan ponsel *okia di saku jaket gore-tack yang saya kenakan, untuk kemudian mengambil ancang-ancang, dan.. jepret...! Itu yang saya inginkan. Dan syukurlah, saya bisa melakukannya dengan setenang mungkin. Waktunya juga pas. Pas selesai mengambil gambar, lampu berubah warna menjadi hijau.

Dari spion motor sebelah kanan bisa saya lihat bagaimana Prit menggelengkan kepalanya. Hehe, maaf ya Prit.

Meski hanya dengan menggunakan kamera ponsel 2.0 mega pixel, tapi saya bahagia telah berhasil mendapatkan foto tersebut. Dan inilah hasil perjuangan saya, tanpa edit.

Maaf Aku Sudah Tobat


Mohon Maaf Lahir dan Bathin

20.8.12

Arief Rusli a.k.a Jlimet PALAPA

20.8.12
Saya lupa, kapan kali terakhir saya berjumpa dengan Arief Rusli. Tapi saya masih ingat betul awal perkenalan kami. Pada tahun 2006. Saat itu ada acara Dies Natalis pencinta alam SWAPENKA, bertempat di aula Fakultas Sastra Universitas Jember. Arief Rusli hadir karena dia adalah anggota pencinta alam PALAPA. Nantinya dia juga menjabat sebagai ketua umum di sana.

Dan saya yakin, semua yang hadir di acara tersebut akan sulit untuk tidak mengenal Arief Rusli. Itu adalah hari dimana dia begitu menyedot perhatian publik. Sebabnya hanya satu, karena saya yang masih berusia muda ini berpuisi. Seorang mahasiswa MIPA jurusan Fisika angkatan 2005 berpuisi di markasnya anak-anak sastra. Mengagumkan.

Hari-hari selanjutnya saya tidak lagi memanggil Arief Rusli dengan panggilan 'Hai' atau 'Oi' saja. Saya sudah tahu nama panggilannya. Ternyata dia punya nama lapang Jlimet. Saya memanggilnya lengkap, Jlimet. Bukan Jlim atau Met thok.

Dan kemarin, saat semua orang sedang merayakan Idul Fitri, saya dikejutkan oleh sebuah kabar. Jlimet meninggal dunia. Saya menerima kabar itu dengan setengah tidak percaya. Dia masihlah sangat muda. Tapi ketika saya membuka ID facebooknya, barulah saya percaya. Kawan saya yang satu ini telah berpulang ke Rahmatullah.

19.8.12

Pulang Ke Tuban

19.8.12
Di luar rencana, saya berangkat mudik (Jember - Tuban) pukul satu siang, di 18 Agustus 2012 yang terik. Itu semua karena sebuah kata bernama mbangkong. Padahal malam harinya saya sudah berjuang keras agar bisa memejamkan mata. CTM saksinya.

Saat senja mulai menunjukkan kecantikannya, saya dan Prit sudah masuk Kabupaten Sidoarjo. Di persimpangan jalan yang ada papan penunjuk arah berwarna hijau putih, saya memilih untuk belok ke kiri, mengikuti arah panah menuju Krian. Berharap langsung tembus Bunder – Gresik dan tidak bertemu dengan Kota Surabaya. Saya belum memiliki SIM, itu berarti saya harus bisa menaklukkan jalan-jalan alternatif.

Pilihan yang tepat. Di sini saya bisa memandang tenggelamnya mentari, indah sekali. Di jalur ini juga saya berpapasan dengan orang-orang yang sibuk mencari sesuatu untuk hidangan buka puasa di hari terakhir.

Berjarak sekitar 300 meter dari tempat saya dan Prit menunggangi Supa’i (nama sepeda motor kami), ada terlihat gerbang yang melintangi jalan bertuliskan ‘Selamat Datang di Kota Gresik’. Saat itulah ada terdengar suara adzan maghrib. Sangat membahagiakan. Tapiii.. Jangan bilang siapa-siapa yaaa.. Penghujung ramadhan kali ini saya tutup dengan tidak berpuasa.

Kami istirahat di sebuah pasar kecil yang sudah tutup. Tapi di depan gerbang pasar ada banyak para penjual makanan yang berjajar. Pilihan kami jatuh pada rombong Pak Tua penjual bakso. Pilihan yang tepat, baksonya nikmat.

Tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan. Masih dengan embel-embel cerita tentang beberapa tempat pemberhentian. Ya, saya dan Prit sebentar-sebentar istirahat. Mengistirahatkan bokong yang panas, juga punggung dan kaki yang menuntut haknya untuk diselonjorkan.

Sungguh ini perjalanan mudik yang amazing. Ketika kau melewatkan penghujung ramadhan di jalan, ketika di atas kepalamu ada pesawat yang terbangnya rendah sekali (yang jarang terlihat di tempat tinggalmu), ketika malam-malammu dihiasi dengan percikan kembang api di kanan kirinya, ketika perjalananmu dilengkapi dengan gema takbir, maka kau akan tahu apa itu keindahan.

Tulisan ini ditutup dengan kisah kedatangan saya di Desa Rengel – Tuban.

Kesan pertama mudik kali ini ditandai dengan saya yang kebablas belok ke rumah (hanya sekitar sepuluh meter), sementara Bapak Ibu mertua menunggu di depan rumah, lalu melempar senyum pada kedua anaknya yang lupa rumah.

Berangkat pukul satu siang dan tiba di tujuan pukul sembilan malam. Lumayan pas untuk 300 kilometer.

Sahabat blogger yang saya cintai, MINAL AIDIN WAL FAIDZIN. Maafkan kesalahan saya dan Prit, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Sungguh, sebuah anugerah tersendiri bisa mengenal anda semua.

Catatan

Artikel ini saya tulis pada saat subuh, menjelang sholat Ied. Ketika akan publish, saya baru sadar kalau pulsa modemnya sudah the end, hehe. Jadi baru bisa publish sekarang. Mohon maaf lahir dan bathin.

18.8.12

Malam Untuk Dikenang

18.8.12
Ini adalah tahun dimana saya menikmati hari kemerdekaan dengan indah dan sederhana. Saya berkenalan dengan teman-teman kecil. Ada Anggun, Ica, Prawiro, dan entah siapa lagi. Hanya itu yang bisa saya ingat. Ohya satu lagi ding, Mas Jum. Mereka adalah keluarga dari yayasan Nur Iman, dan Mas Jum adalah wali dari kawan-kawan kecil saya.

Saya tidak lama menemani Mas Jum, hanya jika ada jeda waktu saja . Tapi dari yang sebentar itu saya merasa tercerahkan. Mas Jum bercerita seputar yayasan Nur Iman. Dia menceritakan mulai dari kepemimpinan yayasan yang pertama hingga yang saat ini (keempat). Ketika saya bertanya kenapa Mas Jum tahu banyak tentang yayasan itu, dia tersenyum. Ah, ternyata Mas Jum adalah alumnus yayasan. Masa kecilnya dia habiskan di sana.

Terdengar suara adzan maghrib. Sudah waktunya berbuka bersama.

Salah seorang dari kawan kecil saya bertanya, kenapa acaranya sepi? Iya, memang sepi. Ini bukanlah acara yang layak untuk dibesar-besarkan. Tapi saya tidak mengatakan itu. Yang bisa saya lakukan hanya melemparkan senyum terbaik.

Paska shalat maghrib berjamaah, saya ada kesempatan untuk menemani Mas Jum lagi. Kami kembali ngobrol. Mas Jum kembali bercerita.

Dari Mas Jum saya mengetahui tentang empat tahapan penghuni yayasan. Yatim, piatu, yatim piatu, dan anak dari keluarga yang sangat tidak mampu. Biasanya yang populer untuk diadopsi oleh orang tua asuh (donatur biaya hidup dan sekolah) adalah yang yatim piatu. Yang tidak populer adalah anak dari keluarga tidak mampu.

"Nggak tahu Mas, mungkin mereka butuh doanya", begitu ujar Mas Jum.

Ah, ternyata masih banyak orang yang berbisnis dengan Tuhan.

Tibalah saatnya mereka pulang. Kata Mas Jum, mereka akan shalat tarawih di yayasan saja. Ya, lagipula kawan-kawan kecil saya ini (selain Mas Jum) masih berusia SD. Mulai dari kelas satu hingga kelas enam. Tidak mungkinlah mereka turut menonton acara musik akustik hingga jam sebelas malam.

Tadi berangkatnya, mereka dijemput naik mobil. Kawan saya yang bernama Gege yang menjemputnya. Ada satu orang yang saya antar naik motor. Namanya Ica, dia baru kelas empat SD. Ica memiliki kebiasaan yang sama dengan Prit. Sama-sama mabuk jika naik mobil.

Saat pulang, Ica ngotot pingin naik mobil, dengan resiko dia mabuk. Ah, ternyata dia merasa nggak enak pada kawan-kawannya. Sebuah yayasan kecil, dengan jumlah penghuni 47 orang, memang sangat mudah terjadi gesekan.

Tapi saya tetap mengantar pulang seorang kawan kecil. Namanya Anggun. Tubuhnya kecil sekali, dia baru kelas satu SD. Entah kenapa, Anggun lebih memilih diantar pulang naik motor ketimbang naik mobil. Kepada Anggun (dan Ica) saya berjanji, nanti sepulang dari Tuban saya akan bermain ke yayasan.

Malam harinya, tamasya band tampil dengan beberapa lagu. Di lagu pertama berjudul teman, saya katakan pada teman-teman yang ada di kedai gubug (Alhamdulillah yang hadir banyak sekali), untuk malam ini lagu 'teman' akan kami dedikasikan pada Almarhum Dema Night To Remember.

Sahabat blogger, sekarang saatnya bagi saya untuk istirahat. Nanti pagi (sebangunnya) saya akan packing dan berangkat ke Tuban, berdua dengan Prit. Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan bathin.

MERDEKA...!


17.8.12

Istri Saya Pemabuk

17.8.12
Tulisan ini dimulai dengan satu kata, horeee...

Sudah 17 Agustus 2012. Saatnya mengucapkan Dirgahayu Indonesia. Hebat, sudah 67 tahun kita merdeka. Sepatutnyalah bagi kita yang tidak hidup di jaman penjajahan, mengisi kemerdekaan ini dengan segala hal yang sifatnya memberi manfaat.

Lanjuuut...

Sebentar lagi lebaran. Orang-orang sudah sibuk menanyakan kapan saya (dan Prit) pulang ke rumah Tuban. Saya menjawabnya. H - 1. "Lho kok mepet?". Ya, karena saya dan kawan-kawan tamasya band masih ada acara musik akustik. Lalu pertanyaan yang lain pun bermunculan. Mereka seperti sedang menggelindingkan bulatan salju dari puncak gunung. Saya menjawabnya dengan gembira.

Jauh di kedalaman hati, saya menyimpan sebuah kata. Ndredeg. Ini adalah pengalaman mudik pertama saya selama berumah tangga. Kabar buruknya, paska menikah hingga saat ini saya belum pernah pulang ke rumah Tuban.

Apa yang harus seorang menantu lakukan di hari pertama kepulangannya? Saya hanya berdoa, semoga saat saya pulang ke rumah Tuban, tidak ada masalah apa-apa dengan listrik. Karena itu adalah kelemahan saya diantara kelemahan-kelemahan yang lain. Ya, saya tidak bisa diandalkan dalam mengotak-atik perlistrikan.

Kabar lain yang tak kalah buruk, saya belum pernah memiliki SIM. Mungkin karena dulu saya berpikir, saya lebih banyak memanfaatkan sepeda kayuh. Keluar kota juga lebih sering naik angkutan umum. Hehe, sebenarnya itu hanya alasan saya saja.

Istri saya pemabuk, itulah kenapa saya berpikir untuk memiliki SIM.

Kemarin saya ke SAMSAT dan mendaftarkan diri sebagai pemohon SIM. Setelah fotokopi KTP dan cek kesehatan (persis di sebelah gedung SAMSAT Jember), saya segera menuju loket satu. Ah, terlambat. Padahal hari masih pagi. Masih pukul 08.20 WIB. Kuota untuk hari itu sudah penuh. Sepertinya saya harus mudik Jember - Tuban naik bus.

Saat mendengar kata bus, wajah Prit memucat. Saya segera mengkoreksi kata-kata saya sebelum Prit mbrebes mili. "Oke, kita naik sepeda motor", dan Prit pun tersenyum.

Penutup

Hmmm, enaknya saya kasih judul apa ya tulisan ini?

Dan tulisan ini saya tutup dengan satu kata, horeeee...!

16.8.12

Mumut Folklor Manusia Katai Dari Jawa

16.8.12
Penulis : Mas Didik Raharyono, S.Si.

"Ayo, cepet ndhang dipangan segane. Mengko nek kesuwen ndhak dijupuk ambek si MUMUT. Wong kate sing omahe ning alas wetan kono….”

(Ayo, nasinya cepat dimakan. Nanti kalau kelamaan keburu diambil sama si MUMUT. Manusia katai yang rumahnya di hutan seberang timur sana….)

Kalimat diatas diucapkan Nenek dari Ibu kandung penulis, sewaktu beliau masih kecil di Pati Jawa Tengah sekitar tahun 1940-an. Ibu kandung penulis sangat ingat betul dengan cerita mumut, sebab sering dituturkan sebagai cerita supaya mau makan dan cerita pengantar tidur. Penyebutan mumut memang lazim digunakan untuk menakut-nakuti agar anak kecil di sekitar Pati kala itu agar segera mengabiskan nasi yang dimakannya, atau agar anak kecil menurut untuk segera tidur. Tetapi penulis mempunyai pengalaman bertemu orang yang bersaksi pernah melihat langsung manusia katai di Jawa.

Mumut begitulah manusia katai –bukan manusia cebol- biasa disebut. Tubuhnya kecil seukuran bocah 3 tahun, badannya berambut penuh bulu, tidak mengenakan pakaian sama sekali, bergerak dengan cepat dan gesit, walaupun bertubuh pendek tetapi sudah dewasa. Manusia katai menurut cerita ‘buyut penulis’ masih sering dijumpai di Jawa Timur, jumlahnya banyak, ada lelaki dan ada perempuan sehingga mampu beranak pinak (hal ini berdasar penuturan Ibu penulis dari Nenek Beliau). Mumut juga diceritakan takut dengan manusia dewasa, tetapi berani terhadap anak-anak kecil. Oleh karenanya dijadikan ‘media’ guna menakut-nakuti anak kecil agar menurut melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh orang dewasa kala itu.

Folklor atau Nyata?

Deskripsi di atas merupakan folklor mumut dari Pati Jawa Tengah. Menurut pendapat penulis perjumpaan dengan manusia katai (Homo pigmi sp) itu memang benar-benar pernah terjadi. Mengapa penulis berani berargumentasi bahwa manusia katai itu masih ber’gentayangan’ di P. Jawa sampai Abad XXI ini dan tidak hanya sekedar folklor?

15.8.12

Siapa Sebenarnya Manusia Kerdil di Taman Nasional Meru Betiri

15.8.12
Saya termasuk tipe blogger yang tidak peduli dengan urusan statistik pengunjung, pagerank, dan segala macam kegiatan blog yang berhubungan dengan angka-angka. Dan hari ini, ketika saya membuka statistik blog, saya dikejutkan oleh sebuah tulisan berjudul Manusia Kerdil Di Taman Nasional Merubetiri. Jumlah pengunjungnya ribuan. Setiap hari ada saja yang inguk-inguk kesana.

Tulisan tersebut berkisah tentang Manusia kerdil (sebenarnya lebih pas disebut dengan manusia mini, karena anatomi tubuhnya yang tidak cebol) di Taman Nasional Meru Betiri - Jawa Timur.

Orang orang yang tinggal di sekitar TNMB biasa menyebut manusia kerdil ini dengan sebutan wong wil, atau owil, atau ada juga yang menyebutnya siwil. Sebutan lain untuk manusia kecil ini adalah Mumut, Manusia Katai atau Homo pigmi sp, dan ada juga yang menghubungkan manusia kecil ini sebagai subspesies dari homo floresiensis (mengingat jarak antara Jawa dengan Flores tidak begitu jauh).

Nyata atau tidak?

Pertanyaan yang sering saya terima setelah menulis tentang siwil adalah tentang apakah manusia kecil ini hanya cerita rakyat atau benar-benar ada dan nyata.

14.8.12

Dema Night To Remember

14.8.12
Namanya Dema. Saat membuka jejaring sosial, baru saya mengerti jika nama lengkapnya adalah Dema Juliansyah. Saya mengenalnya beberapa saat sebelum Night To Remember (band pop punk yang lebih akrab dengan nama NTR) mencuat di blantika musik nusantara.

Yang saya tahu, dulu Dema mempunyai sebuah band indie bernama Cassete Box.

Dari tulisan seorang kawan di blognya (Nuran) yang berjudul R.I.P Dema Juliansyah, baru saya tahu jika dulunya Dema bersekolah di SMA 1 Arjasa. Ternyata Dema satu almamater dengan saya. Saat kuliah pun satu almamater, hanya berbeda jaman.

Dema dan kawan-kawan NTR Band mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat dengan keluarga tamasya band. Pada saat tamasya sedang punya gawe launching album perdana (bertajuk save the tree #1), NTR turut tampil dan bernyanyi. Mereka tidak keberatan dengan space panggung yang kecil, dan mereka tetap tampil prima.

Ketika Mas Mungki (gitaris, vokal, aranger, record & mixing tamasya) sedang melangsungkan pernikahan, Dema tampil solo. Jari jemarinya begitu piawai menaklukkan tuts keyboard. Saya lupa, lagu apa saja yang Dema nyanyikan saat itu. Tapi samar-samar, saya masih bisa mengingat gayanya yang energik dan menghipnotis orang-orang di sekitarnya untuk menghentakkan ujung telapak kakinya.

Pada 15 November 2009, saya juga punya cerita tersendiri tentang Dema. Saat itu saya ada di SUTOS ruang foreplay Surabaya. Keberadaan saya di sana untuk menghadiri workshop penulisan lirik lagu, bersama Piyu, Deny Chasmala dan Maia Estianty. Mana saya tahu jika acara tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk launching video klip perdana NTR. Anak-anak NTR ada di sana dan tampil menyanyikan beberapa lagu di pertengahan acara.

Acara yang berlangsung selama 6 jam tersebut disisipi dengan jeda makan bersama. Model makan bersamanya adalah prasmanan. Nah, di saat itulah Dema dan kawan-kawan menghampiri saya. Ah, masih sempat-sempatnya mereka menemani saya, di saat mereka harus prepare untuk rias dan lain-lain.

Dema pribadi yang hangat. Dia seorang kawan muda yang kreatif. Saya sependapat dengan Nuran ketika dia menuliskan, Dema terlahir untuk jadi seorang vokalis band. Ya, itulah Dema.

Ketika Night To Remember dikontrak oleh E:Motion (label milik Piyu), saya turut merasa bangga. Senang rasanya melihat Dema tampil di layar kaca. Saat saya sedang ada di luar kota dan melintas di sebuah jalan yang memampang baliho besar bertuliskan Night To Remember, saya seperti sedang ada di kota sendiri.

Ah, Dema. Siapa yang menyangka jika hari ini saya mendapat kabar kau telah berpulang ke Rahmatullah.

Bulan lalu memang ada terdengar kabar kau dirawat di RS DKT karena hernia. Dulu kau juga pernah gagal manggung di GOR PKPSO Jember karena ginjal dan livermu sedang bermasalah. Itu panggung yang besar. NTR tampil dengan vokalis dadakan, Adit The Rocket. NTR tampil tepat setelah tamasya band turun panggung. Disusul kemudian dengan K2 reggae, dan ditutup oleh The Changcuters.

Sore tadi saya dan Prit meluncur ke rumah duka. Hmmm, ternyata rumah Dema dekat sekali dengan rumah sahabat saya, Eka Sukriswandi. Di perumahan Gebang. Sayang sekali saya terlambat takziyah. Jenasah baru saja dikebumikan ketika saya dan Prit datang.

Saya tutup tulisan ini dengan kalimat penutup milik Nuran.

Kelak Dem, kita akan nongkrong bareng lagi. Nanti. Sekarang kamu istirahat yang tenang ya. I'll see you later :)

10.8.12

Menuju Bahagia

10.8.12
Terik begitu menyengat ketika perempuan paruh baya itu mulai mengambil ancang-ancang isi angin. Di tangannya tergenggam semacam pistol yang terhubung dengan pipa selang yang panjang. Sementara tak jauh dari sana ada kapsul besar bertuliskan kompresor. Tepat di atas kompresor ada ban bekas yang diletakkan sedemikian rupa, di tengahnya ada triplek bekas yang sengaja ditulisi, "spesialis penyakit dalam".

Berjarak kurang lima puluh meter dari Suyat (nama perempuan penakluk kompresor), ada seorang nenek yang sebentar-sebentar mengusap peluh di dahinya. Dia sedang beristirahat di emperan rumah orang. Hmmm, rupanya beliau adalah seorang penjual kacang rebus.

Siang yang tak hanya terik, tapi membentangkan cerita hidup dan kehidupan di sepenggal sajadah dunia. Saat aku sedang merenugkannya, tiba-tiba ada seekor katak sedang meloncat. Aneh, ada katak di siang yang menyengat. Rupanya dia sedang ingin berhijrah ke seberang jalan. Sayang sekali, sebuah mobil warna gelap menyudahi mimpi-mimpinya. Craaat...!

Pulang, tiba-tiba merindukan kata itu. Hati menyampaikannya ke otak, dan otak memerintahkan kedua kaki ini untuk melangkah pulang. Selama melangkah, tanpa diundang hadirlah bayang-bayang akan perempuan pemetik biji kopi di sudut kota Jember. Hadir pula gambaran para lelaki legam pengumpul belerang di Kawah Ijen. Sepintas ada terpikir juga tentang Cak Slamet, seorang eks napi kasus pembunuhan yang sekarang bekerja sebagai penjaga palang pintu kereta api. Semua datang dan pergi seperti sebuah slide foto.

Akhirnya sampai juga di rumah. Merebah, memejamkan mata, dan kembali merenung. Bahkan kisah tentang sekolah si Citra yang tersendat-sendat pun tak luput dari renungan. Merenung, merenung, merenung, kemudian terlelap.

Dalam tidur, sesuatu yang menumpuk itu menjelma menjadi sebuah mimpi. Ketika terjaga, Prit sudah ada di samping. Dia tersenyum, seperti ingin meneduhkan hati ini. Hanya senyuman, tanpa kata-kata sedikitpun.

Dalam teduhnya senyum Prit, ada terdapat sebuah jawaban tentang keresahan yang panjang.

Mereka yang terluka, mereka yang terlunta oleh cinta, mereka yang terombang ambing kehidupan, mereka yang tertatih menjemput rizki Ilahi, mereka yang kehilangan, mereka yang terhempas di teriknya jalanan, mereka yang ditenggelamkan malam, sesungguhnyalah mereka semua sedang melangkah menuju bahagia.

Lalu terdengar suara adzan.. Haiya 'Alal Falah..

acacicu © 2014