28.2.12

Tak Seberapa Tampan

28.2.12
Lirik Lagu :
Janganlah engkau selalu maki diriku
Dan janganlah engkau selalu hina diriku

Maafkan jika ku slalu mengharapkanmu
Meski kutahu diriku tak pantas untukmu

Chorus

Walaupun wajahku tak seberapa tampan
Tapi cintaku sebiru warna langitku

REFF

Biarlah aku untuk selalu mengingatmu
Dan biarkanlah aku untuk mengagumi dirimu

Terlepas dari semua harapan untuk memilikimu
Terlepas dari semua keinginan tuk mengingatmu





Judul Lagu : Tak Seberapa Tampan

Dicipta dan dilantunkan oleh Mungki Krisdianto | Tamasya

Lagu bisa di dengar (streaming) dan di unduh di REVERBNATION PANAONGAN

Foto Saat di Panggung :

Pak Mungki, Save The Tree #3 TAMASYA BAND

Kalau Yang Ini Foto Khusus :

maskecil, 500x500 px

26.2.12

Dua Lelaki Tak Seberapa Tampan

26.2.12
Saya dan Kang Lozz Akbar


Sudah menjadi rahasia umum jika dalam dunia PA (pencinta alam) ada istilah setiap pencinta alam bersaudara. Nah, berarti saya dan Kang Lozz Akbar bersaudara dong. Dengan begitu saya memenuhi syarat untuk mengikuti giveaway nya Mbak Susindra yang bertema Aku Sayang Saudaraku.

Kode Etik Pencinta Alam Indonesia :

• Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

• Pencinta Alam Indonesia sebagai masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab terhadap Tuhan, Bangsa, dan Tanah Air.

• Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa segenap Pencinta Alam adalah saudara, sebagai mahluk yang mencintai alam, sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran menyatakan sebagai berikut :

1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. memelihara alam beserta isinya, serta mempergunakan sumber alam sesuai dengan batas kebutuhan

3. Mengabdi kepada bangsa dan Tanah Air

4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya, serta menghargai manusia sesuai dengan martabatnya

5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara Pencinta Alam sesuai dengan asas Pencinta Alam.

6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah Air

7. Selesai.

Disahkan
Dalam Forum Gladian IV
Ujung Pandang tanggal 28 Januari 1974
Pukul 01.00 WITA

Sekarang pertanyaannya, apakah saya sayang dengan saudara Lozz Akbar? Tentu saja. Buktinya, kita kalau lagi foto suka mepet alias berdekatan, hehe..

Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY : Aku Sayang Saudaraku yang diselenggarakan oleh Mbak Susindra

25.2.12

Doa: Cara Terbaik Untuk Mengenang Yang Telah Berpulang

25.2.12
Hal yang paling membuat saya merenung di bulan Februari ini bukan tentang hari kasih sayang, melainkan tentang giveaway bertajuk solitaire dan sendiri. Sebenarnya, saya salut dengan tulisan Mbak niQue dan Mbak Imelda bahkan sebelum tajuk tersebut diangkat menjadi giveaway. Ya, saya sempat menuliskannya di status jejaring sosial facebook.

Status :

solitaire, giveaway solitaire dan sendiri

Kemudian tulisan ini bermetamorfosis menjadi sebuah giveaway. Tentu saja saya turut menyemarakkannya. Saya ada di urutan peserta nomor empat belas. Tapi bukan keikutsertaan ini yang ingin saya paparkan.

Selang beberapa hari pasca giveway digelar, Ibunda dari Mbak Imelda meninggal dunia. Ini yang membuat saya merenung. Saya memang tidak mengenal Mbak Imelda secara nyata dan bukan pemberi komentar yang aktif di blognya. Tapi entah kenapa, saya berempati terhadap apa yang dialaminya. Mungkin, karena penyakit yang diderita oleh Ibunda Mbak Imelda sama dengan Almarhumah Ibu saya. Entahlah..

Untuk mensupport giveaway (dari segala sisi), saya berkunjung ke warung blogger. Di sana ada beberapa tulisan peserta yang menurut saya bagus, tapi posisinya tenggelam dan tak lagi terbaca. Lalu saya menyundulnya. Sekali genjreng kadang dengan beberapa kali komentar. Sungguh tidak ada maksud lain kecuali agar link tulisan tersebut kembali terbaca. Melalui postingan ini, saya mohon maaf sebesar besarnya pada seluruh keluarga warung blogger jika sekiranya genjrengan saya dianggap mengganggu. Tapi semoga saja tidak demikian.

Kisah Yang Lain

Ini tentang kakak saya di dunia pencinta alam. Namanya Mas Bintariadi, tapi saya biasa memanggilnya Mas Bibin. Beliau adalah wartawan Tempo dan pendiri AJI di Malang. Kepada saya dan Prit, Mas Bibin mengajarkan satu hal, setia pada proses.

Dan pada dini hari tadi, saya menerima kabar bahwa Mas Bibin meninggal dunia. Innalillahi Wainailahi Roji'un. Saya menyampaikan kabar duka ini kepada Prit, dia meneteskan air mata. Saya mengerti, betapa Prit begitu dekat dengan Almarhum. Mas Bibin adalah teman bicara yang menyenangkan, guru yang baik dan juga kakak yang layak dihormati. Bukan masalah senior dan yunior, tapi lebih pada sebentuk rasa hormat yang alamiah.

Di saat hati ini dilanda kehilangan, saya teringat kata penutup di paragraf terakhir artikel saya yang berjudul solitaire dan sendiri.

Adakalanya, kita harus bisa merayakan kesendirian

Ya, saya sedang merayakan kesendirian (juga rasa kehilangan) dengan merenung dan berdoa. Dari renungan ini, saya memetik sesuatu yang tadinya hampir saja terlupa. Bahwa cara terbaik untuk mengenang seseorang adalah dengan mendoakannya.

Sahabat blogger, keikutsertaan saya dalam giveaway kali ini begitu kaya cerita. Ada kesan yang manis, ada pula kehilangan. Semoga kita semua bisa mengecup yang manis dan mendoakan yang telah menyelesaikan tugasnya. Doa saya, semoga Ibunda dari Mbak Imelda dan juga Mas Bibin damai di sisi Nya.


Sedikit Tambahan

Giveaway ini saya jadikan media pengingat, bahwa pada akhirnya nanti kita akan kembali solitaire mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita jalani di dunia. Terima kasih.

23.2.12

Si Blorok

23.2.12
Sudah berhari hari saya menanti si blorok yang sedang mengerami telurnya. Alhamdulillah, hari ini penantian saya usai sudah. Bunyi cit cit cit adalah pertanda yang membahagiakan. Ya benar, kini si blorok sudah menetaskan telur telurnya.

Saking senangnya, sayapun mencoba mendekati. Dari jarak yang hanya beberapa langkah saja, terlihat si blorok siaga dengan kedatangan saya. Tapi saya tidak peduli, toh niat saya baik. Saya hanya ingin memberi beberapa genggam makanan.

22.2.12

Pengamen

22.2.12
Di blognya Tante Monda, saya menemukan postingan apik yang ditulis pada 21 Maret 2010. Artikel tersebut berjudul Ulah Pengamen. Paparan pendek yang hanya berjumlah 222 kata itu berhasil menggambarkan seputar keberadaan pengamen di Ibukota. Sudah bukan rahasia lagi, tidak sedikit dari mereka yang meresahkan penumpang.

Saya mendapati keseimbangan penulisan di sini. Tante Monda menceritakan dua sosok pengamen. Yang pertama menghibur dan mendapat apresiasi lebih dari penumpang, sedang pengamen kedua tidak demikian.

Dari kisah yang singkat itu, ingatan saya meloncat loncat pada apa yang pernah saya alami selama menjalani peran sebagai penumpang angkutan umum (antar kota). Dari para pengamen yang saya jumpai, beberapa dari mereka ada yang bertingkah sedikit mengancam. Memang bukan kepada saya, tapi pada penumpang di sekitar saya. Sama saja, aura ancamannya menyebar ke seluruh ruang kendaraan dan itu sama sekali tidak menyenangkan. Pengamen jenis ini biasanya memaksa bukan atas nama lapar, tapi hanya karena mereka sedang mengumpulkan uang untuk bersenang senang.

Sedikit cerita tentang kehidupan pengamen di kota kecil Jember

Pengamen yang saya gambarkan di atas tidak hanya ada di kota besar, di sini juga begitu. Terkadang saya bingung memilah mana yang pengamen asli dan mana yang pengamen jadi jadian. Kabar baiknya, di kota saya masih didominasi oleh pengamen santun. Mungkin gara gara kondektur di sini lebih pemberani dari pengamennya, jadi lebih mudah untuk menertibkan pengamen usil, hehe..

Kadang saya mikir, kok ada ya pengamen yang tingkahnya meresahkan penumpang. Apakah mereka sedang mencontoh tingkah para koruptor? Hehe, entahlah saya tidak tahu.

Bagaimana menurut sahabat blogger, kenapa ada pengamen yang berulah menyebalkan? Jika saya ada di situasi yang seperti itu, mungkin saya akan mengatakan tidak pada(hal) pengamen.

Salam jreng jreng jreng


Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Pertama di Kisahku bersama Kakakin

20.2.12

Cerita Untuk Bu De Ipung

20.2.12
Bu De Ipung, saya ada cerita menarik untuk Bu De.

Ini tentang dua hari yang lalu, saat saya dan Hana kedatangan saudara blogger dari Jembrana - Bali. Tadinya saya harap harap cemas, ada beberapa keminderan yang singgah di hati. Salah satunya adalah tentang bagaimana reaksi kami di perjumpaan awal nanti?

Kemudian saya ingat kejadian tanggal 15 Bulan Sebelas 2011. Itu adalah saat pertama kali saya berjumpa dengan Bu De Ipung. Indah, hangat, dan entah kata apa lagi yang tepat untuk menggambarkan pertemuan di hari yang juga indah itu. Tiba tiba saya sudah bercakap akrab dengan Bu De Ipung. Pertemuan yang singkat, sesingkat seperti saat saya kopdar dengan Cak Citro Madura. Namun, kepingan kepingan tersebut cukuplah menjadi modal bagi saya untuk sedikit lebih tenang manakala menuai detik detik perjumpaan dengan Bli Budi Arnaya dan Bli Budi Astawa.

Bu De Ipung..

Akhirnya kami benar benar berjumpa di siang yang tak terlalu terik. Tidak ada salam perkenalan, tidak ada basa basi dan pertanyaan yang tidak perlu. Ketidak percayaan diri saya menguap entah kemana. Yang tersisa hanyalah obrolan manis yang mengalir alami. Ibaratnya, kami adalah sahabat lawas yang sudah seratus purnama tak bersua.


Suasana semakin terasa menyejukkan manakala Amel dan beberapa kawan Jember juga ikut merapat. Kami berencana untuk mengajak Bli Bli menikmati senja di puncak Rembangan. Sayang sekali, hujan menahan kami untuk tetap bercengkerama di bawah atap panaongan (Ohya, saya lupa tidak menceritakan tentang panaongan. Itu adalah sebutan kawan kawan untuk rumah tinggal saya yang juga saya jadikan rumah singgah).

Merebah di tempat yang sederhana


Kami masih bercengkerama (di beranda depan) saat Bli Bli keren ini sejenak mengistirahatkan diri. Hujan tidak semakin terang. Saya meletakkan timba di sudut yang tidak jauh dari tempat Bli Budi merebah. Ya benar, atap rumah saya bocor.

Saya mengganti rencana sore hari itu dengan nongkrong di alun alun kota kecil Jember yang basah oleh bekas kecupan hujan.

Bu De..

Cerita kopdar kemarin banyak menggambarkan kesederhanaan. Dimulai dengan sambutan alami di depan rumah kecil, hidangan ala kadarnya, atap rumah yang semakin diperbaiki semakin bocor (bocornya pindah pindah Bu De, hehe), kota kecil yang juga sederhana, hingga uluran persaudaraan yang sederhana. Semoga dari yang sederhana itu akan membuahkan kenangan manis.

Saya juga punya sesuatu yang sederhana buat Bu De Ipung. Sebuah doa kecil, semoga Bu De bahagia selamanya (dunia dan akherat), Amin Ya Robbal Alamin.

Sampun nggih Bu De, sampaikan salam sungkem saya buat Pak De..

19.2.12

Cerita Pembuka Tentang Kopdar di Jember

19.2.12
Senang rasanya kedatangan saudara jauh dari Jembrana - Bali. Mereka adalah Bli Budi Arnaya dan Bli Budi Astawa (lebih menyenangkan lagi waktu si Amel datang). Tadinya saya kira Bli Bli berdua ini lagi ada acara di Jember. Eh ternyata memang sengaja pengen silaturrahmi. Jempol ..!

Bersama Bersaudara


Kawan kawan Jember yang juga turut menemani

Kopdar yang singkat (hanya dua hari satu malam), namun penuh kesan. Ingin saya ceritakan semuanya, tapi kenapa sedari tadi bingung mau menuliskannya ya? Hmmm, sepertinya saya sedang butuh jalan jalan, biar bisa mengendapkan semuanya dalam satu tulisan.

Sahabat blogger, saya jalan jalan dulu ya.. Dadaaah..

Kopdar Under Cover :

Kopdar Under Cover, Kopdar

Kang Lozz dan si Kelor

18.2.12

Solitaire dan Sendiri

18.2.12
Bicara tentang solitaire, saya jadi ingat CPU kesayangan yang sekarang sudah mangkrak. Meskipun hanya pentium satu dan hanya bisa menyimpan 79 lagu, tapi hari hari saya sempat terwarnai olehnya. Itu adalah saat dimana saya akrab dengan game solitaire, terutama yang menu vegas.

Jangan salah kira, saya bukan penggemar game yang sebegitunya. Hanya untuk refresh saja.

Solitaire dan sendiri, keduanya menggambarkan kesendirian yang sempurna. Saya pernah beberapa kali mengalami kesendirian yang seperti itu. Salah satunya akan saya ceritakan untuk anda.

Jogja, Akhir Mei 2006

Saya disergap sunyi sepi dan sendiri, di tempat yang seharusnya ramai dan menjadi salah satu pusat perhatian dunia. Ya ya ya, saya sendirian menyusuri sepanjang jalan Malioboro. Semua berawal pada 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB. Jogja dan sekitarnya dilanda gempa tektonik berkekuatan 5,9 pada skala Richter. Dan itu berlangsung selama 57 detik.

Tidak ada toko yang buka, tidak ada pengamen, tidak ada penjual sovenir, tak nampak satupun para penjual gudeg. Masih beruntung bila siang hari, akan ada beberapa mobil angkatan, SAR dan sukarelawan yang mondar mandir.

Kesunyian yang tidak berlangsung lama. Esoknya, Ratu mengajak masyarakat untuk segera membuka lapaknya, untuk menunjukkan pada dunia bahwa Jogja baik baik saja.

Itulah sepenggal pengalaman saya, mengecup kesendirian di tempat yang seharusnya ramai.

Pengalaman tersebut mengingatkan saya ketika harus sendiri menjaga camp di tengah hutan, sedang kawan kawan yang lain sibuk dengan agendanya masing masing. Masak sendiri, bikin kopi sendiri, dan mau nggak mau harus bisa menikmati kesendirian (karena tidak ada pilihan lain).

Dari pengalaman seputar solitaire dan sendiri ini, saya mendapatkan sebuah pelajaran. Sendiri bukan alasan bagi kita untuk tidak survive. Adakalanya, kita harus bisa merayakan kesendirian. Sahabat blogger, mari merayakan hidup.

Edit

Mohon maaf, kolom komentar saya tutup (berakhir pada 59 komentar / keseluruhan). Terima kasih bagi yang sudah bersedia meluangkan waktunya di sini.

Sejak 23 Februari 2012, kolom tag juga saya edit dengan tidak menembak kata kunci apapun.

Turut berduka cita sedalam dalamnya atas berpulangnya Ibunda dari Mbak Imelda Courtrier (salah satu penyelenggara giveaway), semoga Almarhumah damai di sisi -Nya, Amin.


Turut menyemarakkan Giveway : Pribadi Mandiri yang diselenggarakan oleh Mbak Imelda dan Mbak niQue.

16.2.12

Kopdar Bersama Ibu Icha Sekeluarga

16.2.12
Suatu hari saya membaca tulisan Pak De Cholik di sini. Dari tulisan tersebut, saya terinfluence untuk untuk membuat akun di kompasiana dotkom. Akhirnya pada 12 Desember 2011 saya sudah terdaftar sebagai member kompasiana.

Mulanya saya masih meraba raba. Kompasianer (penyebutan untuk member kompasiana) yang saya kenal hanya Pak De dan Mbak Anazkia. Saya tidak tahu harus bagaimana berkarya dan membawa diri di sana. Beberapa istilah juga sempat membuat saya bingung. Apa itu HL, terekomendasi, kolom kolom yang berderet, beda antara kompasiana dengan kompas dotkom, dan masih banyak lagi yang saya bingungkan.

Pelan tapi pasti, saya semakin mengerti, bisa memetakan, dan sedikit demi sedikit mulai memahami.

Pada 12 Februari 2012 yang lalu, tepat dua bulan saya berproses di kompasiana. Dan hari ini saya berkesempatan kopdar dengan seorang blogger asal Jepara. Ibu Icha Diyah namanya. Saya mengenal beliau lewat kompasiana.

Kopi darat pun terwarnai dengan menikmati kopi beneran dan obrolan hangat. Dari perbincangan bersama Ibu Icha sekeluarga, saya jadi lebih mengenal Jepara dan kain tenun Troso. 

Dan tahukah anda apa topik di luar itu? Ya ya ya, saya kami sedang membicarakan indahnya suasana di warung blogger. Ternyata Ibu Icha sudah mengenal beberapa nama yang biasa nongkrong di warung. Ah, warung blogger memang essip.

Foto Bersama


Keterangan Foto

Dari kiri ke kanan : Ibu Icha, Prit & saya, Suami Ibu Icha beserta si bungsu, dan Mas Alvin, putra pertama Ibu Icha.

Sedikit Tambahan

Terima kasih buat Pak De Cholik yang secara tidak langsung membuat saya mengenal Ibu Icha sekeluarga.

Ohya, blog personal Ibu Icha bisa dikunjungi di ichadiyah.blogspot.com

14.2.12

Satu Buku Sejuta Cinta

14.2.12
Ada sebuah Sekolah Dasar yang memiliki 60 murid dengan 6 ruang dan satu guru saja. Guru itu bernama Yuli Lilihata, beliau sudah 5 tahun mendedikasikan hidupnya di sana. Mama Yuli, begitu biasanya para murid memanggilnya. Meski hanya guru honorer yang tak bergaji, Mama Yuli telah memutuskan pilihannya untuk memberikan cinta dan kasih sayangnya di sekolah minim fasilitas bernama SD YPPK Manusela, Seram Utara.

Suasana di SD YPPK Manusela :

Manusela, Sudah di kompress

Suasana miskin fasilitas di SD YPPK Manusela. Gambar diambil dari sini.

Cuplikan cerita di atas saya dapatkan di blog Mbak Anazkia dan beberapa blogger lainnya yang tergabung dalam sebuah komunitas bernama Blogger Hibah Sejuta Buku. Hanya satu kata yang bisa saya ungkapkan untuk komunitas ini, keren.

Dari kisah mereka tentang sebuah SD di Manusela, saya jadi mengerti dan salut pada sosok Mama Yuli. Saya juga tahu, bahwa di sana masih ada murid yang menulis hanya dengan menggunakan ujung isi potlot dan isi bolpoint yang masih bisa digunakan (meskipun tidak ada body-nya).

Dan ini adalah ajakan dari kawan kawan Blogger Hibah Sejuta Buku.

Untuk yang ketiga kalinya, mereka mengajak kita untuk menyumbang buku bacaan, buku tulis, dan mungkin juga berupa sarana pendukung pendidikan buat mereka. Sebelumnya, mereka pernah mengirimkan buku yang berhasil dikumpulkan ke Kepulauan Meranti, Riau. Yang kedua (baru baru ini), menuju Papua.

Yuk kita berbagi..

Proses pengumpulannya bisa anda baca di sini. Atau bila lokasi anda ada di Jember dan sekitarnya, silahkan dikirim ke rumah saya. Alamatnya, Jalan Slamet Riyadi 135 Jember. Info selanjutnya bisa hubungi saya lewat inbox fb atau email di acacicu@gmail.com

Sampai di sini dulu ya sahabat blogger, saya mau bertebaran di muka bumi dulu, hehe. Salam Lestari..!

12.2.12

Mengapresiasikan Karya Mbak NiQue

12.2.12
Ini tentang karyanya Mbak niQue yang diikutkan di Flash Fiction. Ada 19 episode. Masing masing hanya antara 300 sampai 500 kata. Untuk mengapresiasi karya Mbak niQue, saya butuh menengoknya kembali. Nah, sekarang saya ajak anda untuk ngintip satu persatu.

1. Halo, siapa namamu?

Ada dua tokoh, Thia dan seorang lelaki. Keduanya ada dalam satu perjalanan yang sama (dari Jogja menuju terminal Rawamangun) dan saling berkenalan. Sayang sekali, di episode ini si lelaki belum ingin menyebutkan identitasnya. Cerita di akhiri dengan adegan si Thia menelepon Mamaknya. Dia mengabarkan jika selama perjalanan ada seorang lelaki yang mengaku sebagai calon suaminya / secara adat Karo. Betapa kagetnya Thia mendengar jawaban Mamaknya. Ternyata Mamak mengiyakan.

2. Dag Dig Dug

Diceritakan tentang seorang perempuan sedang melamar pekerjaan. Seminggu kemudian, karena penasaran dia menghubungi pihak personalia. Ternyata yang dia dapati adalah kabar baik.

3. Kamu Manis, Kataku

Tentang tokoh laki laki yang sedang menggoda tokoh perempuan. Di akhiri dengan tokoh laki laki mengucapkan kalimat seperti judul cerita.

4. Aku Maunya Kamu. Titik!

Tentang sepasang suami istri yang berlaku manis di depan publik, tapi menyimpan luka manakala mereka hanya berdua. Puncak cerita (beserta misterinya) ada pada dua kata di paragraf terakhir, "bersimbah darah."

5. Jadi Milikku, Mau?

Sambungan dari cerita sebelumnya (cerita ke 4). Tentang penilaian orang lain terhadap tokoh perempuan, meskipun kenyataannya tidaklah demikian.

6. Ada Dia di Matamu !

Judul sangat menggambarkan isi. Tentang seorang perempuan yang melihat cinta lain di tatapan lelakinya. Dan si perempuan mengenal siapa itu. Terbukti, dia tahu bahwa yang lelakinya rindukan sedang hamil tua.

7. Sepucuk Surat (Bukan) Dariku

Tentang sepasang suami istri dan sepucuk surat sita dari Bank. Mengharukan.

8. Aku Benci Kamu Hari Ini

Seseorang sedang ulang tahun, dan kekasihnya terlambat beberapa jam memberikan ucapan. Mulanya ada kekesalan, tapi ending menjadikan cerita sedikit lebih manis karena tokoh yang terlambat memberikan sedikit kejutan.

9. Inilah Aku Tanpamu

Tentang kehilangan, survive dan bernostalgia dengan kenangan.

10. Senyum Untukmu Yang Lucu

Berkisah tentang seorang Ibu. Dia sedang menunggui anaknya (Kinanti) yang sakit. Lalu dihadirkan tokoh lain bernama Diah. Diah datang berdua dengan Rio (putranya) menjenguk Kinanti. Sebelum pulang, Rio sempat menggambar sesuatu untuk Kinanti. Inilah yang membuat Kinanti kembali tersenyum. Dalam gambarnya, ada tulisan di bawah yang sengaja Rio tuliskan. Senyum untukmu yang lucu. Maksudnya, Rio sedang tersenyum melihat Kinanti yang tak lagi memiliki rambut.

Dari sepuluh karya pertama, ini yang paling berhasil mencuri perhatian saya. Sedih, tapi menyisakan senyum di wajah Kinanti.

11. Tentangmu Yang Selalu Manis

Ini sepenggal pertemuan yang manis. Tentang laki laki bernama Ari dan perempuan yang sudah lebih setahun tak bertemu. Sebelumnya mereka pernah memiliki kisah asmara. Suatu malam mereka bertemu di pelataran parkir sebuah pertokoan. Si perempuan sempat merasakan cemburu yang tidak perlu saat Ari berkata dia datang berdua (di pertokoan itu). Pada akhirnya semua mencair manakala Ari menjelaskan arti di balik berdua. Ternyata dia bersama temannya.

Esoknya, si tokoh perempuan mengenang pertemuannya semalam, sambil menikmati secangkir kopi. Manis sekali.

12. Merindukanmu Itu Seru

Hehehe.. di sini saya mendapati ekspresi rindu seorang perempuan. Dan cermin adalah sahabatnya. Kalimat penutup, "Tak terasa pipiku sudah berlinang air mata" tidak berhasil menghentikan tawa saya perihal obrolan imajiner akan durian.

Untuk yang ini, penilaian saya mirip dengan cerita nomor satu. Jangan jangan ini diangkat dari kisah nyata.

13. Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

Tentang Odol warna merah jambu dan tentang kehebatan penulis dalam menerjemahkan keliaran imajinasinya.

14. Ini Bukan Judul Terakhir

Like This. Digambarkan seorang tokoh dengan bahasa 'aku', dia menuturkan obyek. Yang saya maksud obyek di sini, si 'aku' memiliki teman yang tak berhenti memelihara mimpinya untuk menjadi seorang penulis. Cerita ditutup dengan manis. Dikabarkan bahwa obyek berhasil meraih mimpinya. Si 'aku' dikirimi satu buku itu.

Sebelum kisah benar benar selesai, penulis menyisipkan sisi kontras. Wew, ternyata 2 bulan yang lalu si obyek sudah di vonis kangker stadium 4. Ini bukan judul terakhir, sangat pas dijadikan judul cerita.

15. SAH

Judul yang pendek ini mengkisahkan tentang liku liku pernikahan dan jeritan hati sang istri manakala suaminya meminta ijin untuk menikah lagi. Semua hanya karena sembilan tahun tanpa buah hati. Alasan sang suami, karena dia anak tunggal dan ibunya sudah sepuh.

16. Menikahlah Denganku

Cerita berjudul 'Menikahlah Denganku' mengingatkan saya bahwa hidup bukan hanya pilihan, tapi juga butuh diputuskan.

Dan cerita ke enam belas ini mengangkat tema seputar itu. Pilihan yang sulit.

17. Soto Koya

Tokoh dilabeli dengan nama Papa dan Mama. Saat Mama meminta soto koya, Papa menyuruh si Asep (tokoh figuran) untuk membelikannya. Sayang, pada akhirnya si Papa lupa menaruh soto koya. Lalu malam harinya mereka sepakat untuk keluar rumah hanya untuk mencari soto koya. Dan hasilnya? Rupanya keberuntungan sedang tidak berpihak pada mereka. Sudah larut malam, para penjual soto koya sudah pada tutup.

18. Es Krim

Sepertinya sang penulis sedang menempatkan diri sebagai seorang bocah. Sangat menarik. Tema sederhana berhasil tersulap menjadi karya yang apik. Ini tentang tokoh yang menangis, sebuah bujukan, es krim yang begitu menggoda, gengsi, dan akhirnya baik baik saja. Itu semua berkat es krim.

19. Hujan

Tema yang pas untuk mengakhiri Flash Fiction. Ini tentang kisah yang manis. Hujan berhasil membuat dua anak manusia saling berdekatan.

*****

Sahabat blogger, itu adalah hasil intipan saya tentang ke sembilan belas karya Mbak niQue. Maaf bila terlalu panjang, saya sudah mencoba sekuat tenaga (pake tenaga kuda) untuk merangkum seringkas ringkasnya. Bagi yang belum membaca dan ingin menelusuri kisah selengkapnya, bisa dimulai dari SINI.

Dari ke sembilan belas karya di atas, saya terpikat dengan karya nomor satu dan sepuluh. Alasannya sederhana saja.

Kisah nomor satu berjudul 'Halo, Siapa Namamu?'. Memang, alur cerita terkesan meloncat dan penuh kejutan. Tiba tiba sudah ada di atas kereta, tiba tiba sudah mendekati terminal Rawamangun, tiba tiba turun dan akan berpisah, tiba tiba ada kejutan dari Mamak. Tapi, justru di sinilah kekuatan cerita. Kisah tersebut juga terkesan indie. Disana saya menjumpai kata impal, ken dan kelen. Nampak ada keberanian penulis dalam memilih diksi.

Sedang pada kisah ke sepuluh, saya terhanyut oleh tema yang diangkat dan latar belakang cerita.

Pemahaman Saya Tentang Penulisan Fiksi

Memiliki pemahaman tentang bagaimana menulis yang baik, itu adalah modal dasar seorang penulis fiksi. Kita tahu, dalam karya fiksi akan ada banyak sekali kutipan dialog. Pemahaman akan ejaan, penempatan titik, koma dan tanda kutip adalah bagian dari penguasaan bahasa.

Saya tidak menambahkan paragraf. Karena jika kita menulis di media online, definisi paragraf menjadi sedikit bergeser. Meskipun masih satu tema, jika dalam satu paragraf mengandung banyak kalimat, ada baiknya dipisahkan menjadi paragraf baru. Ini demi menghargai kenyamanan pembaca.

Kabar baiknya, saya lihat karya karya Mbak Ni di FF sudah cukup menggambarkan penguasaan yang bagus terhadap bahasa.

Yang kedua tentang penguasaan bahasa yang bagus dan pilihan kata yang kaya. Penulis fiksi cenderung dituntut untuk lebih kaya dan berani membubuhkan kata, pun jika kata itu jarang digunakan dalam keseharian khalayak. Yang perlu kita garis bawahi hanya satu, tetap memperhatikan pesan yang ingin disampaikan.

Mbak Ni membuktikannya sedari awal. Di karya pembuka, saya perhatikan Mbak Ni sangat menguasai bahasa dan diksi. Pertanda si penulis suka membaca. Setidaknya membaca blog sahabat dan membaca keadaan.

Kritik dan Saran

Hmmm.. kritik. Sangat mudah melihat punggung orang lain, tapi kita kesulitan menatap punggung sendiri. Seperti itulah kira kira kritik. Di dunia sastra, kritikus dipandang sebagai penghakiman karya. Meski demikian, keberadaan kritik sangat dibutuhkan untuk perbaikan.

Angkat jempol buat Mbak niQue yang mengundang sobat blogger untuk menyemangatinya lewat kritik. Tidak semua orang mau dan mampu menerimanya.

Kritik saya untuk Mbak niQue

Pada FF ke sembilan berjudul 'Inilah Aku Tanpamu', saya tidak melihat adanya pesan moral yang tersampaikan untuk pembaca (saya sendiri). Bobotnya menurun, dibanding dengan delapan karya sebelumnya, dan sepuluh karya setelahnya.

Jika saja ditambah dengan satu paragraf, mungkin ceritanya akan berbeda. Misal, "Sepulang dari makam, entah kenapa aku kembali teringat kata katamu." Kemudian diteruskan dengan kalimat memotivasi diri sendiri.

Tapi itu subyektif dari saya lho Mbak, hehe..

Saran saya

Ini tentang kolom komentar. Setahu saya, kolom komentar memiliki beberapa kegunaan. Selain ruang silaturrahmi antara penulis dan penikmat tulisan, kolom ini lebih digunakan untuk melengkapi karya atau ruang berdiskusi secara terbuka. Nah saran saya Mbak, ada beberapa komentar yang belum dibalas, padahal berkaitan dengan tulisan. Hihihi, bingung mau ngasih saran apa..

Sudah Mbak niQue, gitu saja. Maaf kalau ada salah salah kata. Terlepas dari semuanya, jempol buat Mbak niQue. Semoga selamanya berkarya. Merdeka..!

10.2.12

Smenita, Ada Apa Denganmu?

10.2.12
Smenita..

Sepintas kau seperti nama seseorang

Nama yang cantik

Akan terlihat pantas jika namamu kusandingkan

dengan nama nama cantik lainnya

Edelweiss, pelangi, bintang, dan masih banyak lagi

Ya ya ya kau cantik

Tapi kau melupakan satu hal

Tanpa hati yang juga cantik, maka tua akan merampas pesonamu

Kabar baiknya, mungkin sebentar lagi namamu akan mencuat

Pesanku hanya satu, hati hati dengan nama besar

Nah smenita..

Sudah kuperingatkan dirimu

Sekarang hentikan tingkahmu yang menyebalkan itu 

Kau hanya membuatku tak bisa menyapa si cantik Olive saja


Diam-diam Saya Larut Dalam Tulisan Itu

Hari-hari belakangan ini saya disibukkan oleh beberapa hal yang harus terselesaikan di dunia nyata. Di sela-sela kesibukan, masih saya sempatkan untuk ngintip warung tercinta, sekedar berhaha-hihi atau hanya meninggalkan cap jempol. Ohya satu lagi, ngopi. Namanya juga warung, tema obrolannya nggak jauh-jauh dari ngajak ngopi.

Seperti yang saya lakukan sekarang, ketika kepala sudah pening lantaran sesuatu yang dikerjakan nggak selesai selesai, saya melangkahkan kaki ke warung blogger. Di sana saya menemukan link tulisan terbaru dari Kang Lozz Akbar. Judulnya sederhana saja. Antara Bapak, Anak, dan Burung Gereja.

Cerita dimulai seorang anak dan Bapak yang duduk di taman depan rumah mereka. Digambarkan bahwa sang Bapak sedang ada di samping anaknya yang sedang membaca surat kabar. Saat itulah tiba-tiba ada seekor burung gereja yang hinggap dan berkicau di dekat mereka. Entah karena penasaran atau hanya ingin membuka pembicaraan, sang Bapak akhirnya melontarkan sebuah tanya pada buah hatinya.

"Apa itu?"

Masih dengan ekspresi membaca surat kabar, si anak menjawab singkat saja, "Burung Gereja.."

Ketika sang Bapak kembali bertanya, dengan sedikit gusar si anak memberi jawaban yang kurang lebihnya sama. Kali ini dengan mengibaskan koran dengan kedua tangannya hingga membuat si burung terbang menjauh.

Tiba tiba dari sudut yang lain, si Bapak kembali melihat burung gereja. Dia kembali bertanya, "Apa itu?"

Pertanyaan yang sederhana tapi entah kenapa bisa memancing kemarahan si anak. Keluarlah sederet kata disertai dengan intonasi dan ekspresi yang sungguh membuat sang Bapak sedih. Dengan gontai dia beranjak dan melangkahkan kaki ke dalam rumah. Ketika sang anak bertanya, "Where are you going?", sang Bapak hanya menoleh sebentar dan kembali melangkah. Tampak si anak resah, seperti sedang menyesali apa yang baru saja dia ucapkan.

Tak lama kemudian sang Bapak kembali menghampiri anaknya di bangku taman. Dia menenteng sebuah buku harian berwarna coklat. Sesaat tampak sang Bapak sibuk mencari halaman tertentu. Setelah menemukan apa yang dimaksud, dia menyodorkan buku harian itu pada si anak dan menyuruhnya membacakan itu.

Today my youngest son who a few days ago turned three

Was sitting with me at the park
when a sparrow sat in front of us

My son asked me 21 times what it was
And I answered all 21 times that it was

...a sparrow

I hugged him every single time
he asked me the same question
Again and again..

Without getting mad, feeling affection for my innocent little boy

Adegan membaca selembar buku harian diakhiri dengan hening sejenak, lalu dilanjutkan dengan ekspresi sang anak yang merangkul Bapaknya. Sampai di sini saya tersentak. Saya benar-benar larut dalam kisah yang Kang Lozz tuliskan.

Sudah berlembar-lembar tulisan saya torehkan, ada juga beberapa karya yang saya ciptakan, semuanya terinspirasi oleh sosok sederhana. Ya, Bapak adalah inspirasi saya. Tapi setelah membaca kisah di atas, saya menjadi takut dan kembali bertanya-tanya, apa cara saya mencintai Bapak sudah benar? Jangan-jangan saya hanya mencintainya lewat karya saja. Jangan-jangan.. Ah, semoga saja tidak.

Diam-diam, saya membuka winamp dan memutar lagu ciptaan sendiri, Untuk Bapak. Diam-diam, lirik lagu yang saya tuliskan sendiri itu seperti sedang mengantarkan saya kembali ke masa kecil, saat dimana tangan kecil saya memegang erat tangan Bapak.

Lirik Lagu Untuk Bapak :

UNTUK BAPAK

Hai Bapak RW
Itu bukan pangkat orang gedhe
Sejak aku kelas lima SD Bapak jadi RW
Sebelumnya sebutan Bapakku
Pak Mandor jalan

Hai Pak Mandor jalan
Yang Menghisap rokok dalam-dalam
Yang rambutnya gondrong dan beruban
Itu kan Bapakku
Itu kan satu satunya Mandor kesayanganku

Bapak memahat doa di sana
Di nama ROHIM ZABRIANSYAH HAKIM

Bapak ingin anaknya penyayang
Sabar lagi bijaksana....


REFF

Bapak lihatlah bintang di langit yang hitam
Aku juga ingin begitu

Bapak Maafkan
Maaf maafkanlah aku
Hanya ini yang aku mau

Bapak maafkan
Maafkan aku anakmu
Hanya ini yang ku mau


Back Song

Hai Bapak Rohim
Kurindu dengar dongeng Ibrahim
Kelak kisah itu mengantarku
Mencintai alam
Taffakur pada ayat ayat Tuhan yang berceceran

Kembali ke REFF
Dan ruang imajiner saya kembali memutar potongan potongan kisah yang lalu..

Diajaknya saya ke kantornya yang dulu, DPU Bina Marga Jember di sore hari yang jingga. Kemudian tangan kecil saya menunjuk ke arah burung-burung yang berjajar di kabel listrik, di sepanjang jalan PB Sudirman, depan Kantor Bapak, di atas menara penjara, hingga depan Kantor Pos Jember. Saya bertanya pada Bapak, "Apa itu?" Bapak menjawabnya dengan dua kata, burung gereja. Saat saya bertanya kembali, Bapak tetap memberi jawaban yang sama, begitu seterusnya. Dan itu terjadi setiap kali saya dan Bapak jalan-jalan di sepanjang jalan (yang sisi atasnya berkabel listrik) menuju Alun-Alun Kota.

Diam-diam, saya kembali merenungkan banyak hal.. Diam-diam saya larut dalam tulisan itu..

Dan diam-diam saya salut dengan tulisan Lozz Akbar yang semakin hari semakin essip.

Jempolku untukmu Brade..

9.2.12

Mengenang Saat Nonton AADC Lewat VCD Bajakan

9.2.12
Ini tentang sepuluh tahun yang lalu. Saat itu terdengar kabar bahwa di Jakarta dan kota kota besar lainnya sedang dihebohkan oleh sebuah film apik berjudul Ada Apa Dengan Cinta. Film yang dirilis pertama kali pada 8 Februari 2002 ini, entah mengapa begitu dinanti oleh publik kota kecil Jember, terlebih oleh kalangan remaja.

Pilihannya masyarakat Jember hanya ada tiga. Menunggu film ini diputar di bioskop (saat itu hanya bioskop 21 yang menayangkan film film baru) dengan konsekuensi menunggu lama, belum lagi nggak kebagian tiket, menanti VCD original dengan konsekuensi lama menunggu dan mahal, atau membeli VCD bajakan yang harganya cuma lima ribu. Alhasil, pilihan terakhirlah yang menjadi favorit. Setidaknya untuk saya dan teman teman.

Waktu yang dinanti pun tiba. Kami semua berkumpul di SWAPENKA (markasnya anak PA Fakultas sastra). Televisi 14 inc dan player VCD Made In Cina sudah di depan mata (Saya masih ingat, kami berkumpul membentuk huruf U). Daaaan... klik.. kami pun rame rame nonton film Ada Apa Dengan Cinta.

Tidak rugi rasanya mempersiapkan tempat, kopi dan gorengan. AADC benar benar menghibur, menghanyutkan dan bikin saya cengar cengir. Sesekali terdengar suara suit suit dari salah satu yang nonton. Kadang kita kompak ngakak bersama, manakala melihat Sissy Pricillia sukses menjalani perannya sebagai Milly.

Begitulah, kami terhanyut di film buatan anak negeri tersebut. Meskipun kualitas gambarnya buruk ala VCD bajakan, toh kami semua tetap mengharu biru. Dan saat seru serunya itulah, tiba tiba.. pet..!!

Menyedihkan, film Ada Apa Dengan Cinta yang kami tonton rame rame tidak selesai sampai pada tulisan -TAMAT- dan endingnya hanya berupa sinopsis.

Huwaaaaa...!!!

Rasanya saat itu saya pengen lari ke hutan lalu belok ke pantai, atau sekalian pecahkan saja gelasnya biar ramai. Benar benar seperti berjelaga. Semua gara gara ada yang menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih (maaf untuk paragraf yang nggak nyambung ini, hehe).

Pengalaman itu membuktikan satu hal, original memang yang terbaik..

Bonus Poster :

AADC, Kreasi oleh Apikecil

Edit oleh Apikecil. Gambar bawah diambil dari google

Saat ini, setelah sepuluh tahun berlalu, itulah momen yang paling saya ingat. Bagaimana dengan anda, apa yang sahabat blogger ingat dari film Ada Apa Dengan Cinta?

6.2.12

Menjemur Cinta

6.2.12
Pada tanggal 25 Januari 2012 yang lalu, saya iseng menulis status di jejaring sosial yang juga saya beri link tulisan berjudul Hatiku Tak Mungkin Lari. Begini update statusnya.

Cinta itu seperti kerupuk. Jika dibiarkan dia akan ayem dam melempem

Tidak saya sangka ternyata Prof. Ayu Soetarto ikut nimbrung di kolom komentar. Beliau menulis tentang definisi cinta. Akan saya copas untuk anda.

Cinta itu kekuatan dahsyat yg bersaudara dengan kebodohan yg mengikat. Jika berhasil mengelola kekuatan cinta, kebodohan yg menyertainya tak akan menjadi kendala atau bencana..

Saya menuliskannya kembali bukan untuk menyambut valentine. Hanya iseng saja. Kadang kadang, iseng itu juga menjadi sumber kekuatan lho. Ya.. tapi selama keisengan kita tidak merugikan pihak lain.

Salam penuh cinta


Sedikit Tambahan

Cinta adalah sumber kekuatan.

Bila cinta mulai menunjukkan gejala ayem dan melempem, itu berarti cintanya minta dijemur, hehe..

Mari menjemur cinta

3.2.12

Ingin Ke Warung Blogger di Tahun 2023

3.2.12
Ini ceritanya Mbak Una lagi punya gawe. Bertajuk My Second Giveaway: Ingin Ke Mana? Kok tiba tiba secara naluriah saya jadi pengen ke warung blogger sebelas tahun ke depan ya? Membayangkan saja sudah keren, apalagi bila Tuhan mengijinkan tahun 2023 saya bisa nongkrong di depan monitor dan terbang ke warung blogger, wuiih.. maknyuss.

Yang pasti anggotanya akan bertambah. Banyak blogger pendatang baru yang cool and smart. Ada adek Dija yang juga ikutan nimbrung di warung blogger. Bareng sama Pascal, Alvin, Valeska, Olive, Juniornya Mbak Ysalma, Enrico nya Mbak Julie dan masih banyak lagi. Ohya, saat itu si Osar baru akan masuk es em pe deh kayaknya.

Tahun 2023 mungkin akan ditandai dengan hape BB sudah nggak laku lagi. Banyak telepon genggam yang jauh lebih canggih dan dengan harga yang terjangkau. Bisa jadi, saat itu orang nggak beli pulsa lagi. Wifi dimana mana. Kalau butuh menghubungi seseorang tinggal video chatt atau mungkin kejutan teknologi yang lebih canggih lagi.

Tik tok tik tok..

Detik terus berjalan menuai hari hari kita. Selama itu akan ada banyak hal yang berubah. Kita pun begitu, berubah bersama sang waktu. Setidaknya, kita akan merambat menjemput tua. Semoga kita masih akan setia berproses dan berkarya.

Imajinasi saya kembali terbang ke 2023. Ah, jika kita sampai pada saat itu, alangkah indahnya membaca tulisan tulisan lama sambil berbincang ria di warung blogger.



Photobucket
acacicu © 2014