31.3.12

Keyakinan Adalah Sumber Kekuatan

31.3.12
Ketika masih bocah, saya selalu terkagum melihat penampilan anak seusia saya yang sudah bisa melakukan banyak hal. Misalnya, menari di udara dan meloncat dari satu tali ke tali yang lain. Ya, saya pernah melihat itu di sebuah pertunjukan sirkus yang dulu pernah digelar di kota kecil Jember. Saya juga pernah terpukau pada hasil lukisan seorang sahabat kecil bernama Bahtiar Adi Candra. Itu adalah saat dimana saya ingin menjadi pelukis.

Di waktu yang lain (biasanya di malam minggu), saya senang berlama lama nongkrong di alun alun kota Jember depan Masjid Jami' Al Amin. Dulu di sana ada menara jam dinding yang di kemudian hari berganti menjadi tugu Adipura lalu berubah lagi menjadi taman pohon kurma hingga sekarang. Di tempat itulah saya menikmati atraksi kawan kawan JMC, singkatan dari Jember Mini Cross. Mereka adalah sekumpulan pemuda yang mencintai dunia BMX dan seringkali menghibur masyarakat Jember dengan gayanya yang atraktif.

Ketika beranjak remaja, saya mulai menyukai dunia konser dan festival musik rock. Setiap kali ada sebuah festival, saya selalu meluangkan waktu untuk menjadi bagian dari penonton yang lain. Begitupun ketika ada musisi ibukota yang bertandang ke Jember, kaki saya selalu gatal untuk melangkah ke sana. Syukurlah, di jaman saya belum ada istilah alay.

Ohya, saya juga tumbuh besar bersama bobo, komik donald bebek, asterik obelix, novel remaja semacam lema sekawan karya Enid Blyton, dan novel novel remaja berbau detektif lainnya.

Saya kebingungan dengan yang namanya cita cita. Itu semua pernah saya kisahkan di sebuah tulisan dengan judul Bernostalgia Dengan Cita Cita di Masa Kecil.

Ketika senang membaca novel detektif, sayapun ingin menjadi seorang detektif yang hebat. Hari ini ingin menjadi tentara, esoknya berubah ingin menjadi masinis, di lain waktu saya ingin menjadi pilot helikopter, begitu seterusnya. Saya mudah sekali kagum pada sesuatu. Ketika saya melihat ada bocah sirkus yang bisa menari di udara, saya juga ingin seperti itu. Ketika melihat atraksi kawan kawan JMC, saya tergila gila pada dunia cross BMX. Manakala melihat aksi panggung rocker lokal, sayapun ingin menjadi rocker.

Kelak saat saya besar, saya menjadi lebih mengerti. Semua itu adalah anak tangga yang memang harus saya lewati untuk menuju fase kematangan hidup selanjutnya. Ada saatnya dimana kita selalu merasa ingin menjadi seperti orang lain yang kita anggap hebat, sementara kita melupakan (atau belum tahu) cahaya indah yang terpancar dari diri kita sendiri.

Sama halnya dengan dunia cita cita, pada sesuatu yang bersifat fisik juga tak luput dari pertanyaan pertanyaan masa kecil saya. Kenapa saya begini? Kenapa orang lain seperti itu? Kenapa seakan akan saya berbeda? Kenapa saya kurus? Kenapa kulit saya berwarna hitam? Tapi semuanya menguap manakala saya menundukkan kepala dan melihat kenyataan di sekeliling saya. Betapa sebenarnya saya sering melupakan sebuah kata bernama syukur. Ya, saya bersyukur dengan segala anugerah yang Tuhan berikan kepada saya.

30.3.12

Mitologi Persetubuhan

30.3.12
Jadi begini ceritanya. Seorang budayawan bernama Cak Isnadi memberikan sebuah puisi sebagai kado pernikahan di Bulan Sebelas 2011. Dan ini dia puisinya.

MITOLOGI PERSETUBUHAN

Aha, lentik jemarimu menyentuh dadaku
Mencari gambar dan hurup pahlawan abad baru
Kubiarkan saja, meski hanya hampa

Bibirmu mencium lidahku yang kelu
Aku tak menyimpan kamus dan kitab itu

Setelah lenguh pertama matamu ternganga
Melihat tubuhku dipenuhi tetumbuhan lumut mitos dan masa lalu
Yang berbiak dengan lidah berjuntaian

Seribu tahun persetubuhan, sayang
Bolak balik angan dan kenangan
Taman mimpi dan harapan

Dan anak anak kembali menunggu
Bermain bayangan : “kapan pulang ?”


Nah sahabat blogger, adakah yang bisa membantu saya mengapresiasikan puisi ini?

29.3.12

Gempa Tohoku

29.3.12
Gempa Tohoku memang sudah terjadi setahun yang lalu. Mungkin sudah banyak orang yang mulai melupakannya, begitu juga dengan saya. Tapi ajakan Mbak Yustha TT untuk mengenang satu tahun Gempa Tohoku, membuat saya kembali merenungkannya.

Saya tahu tentang terjadinya gempa Tohoku dari sebuah pemberitaan. Dikabarkan bahwa timur laut pulau Honshu diguncang gempa berkekuatan 9.0 Skala Richter, diiringi dengan tsunami dan terganggunya reaktor nuklir Fukushima. Gempa tersebut terjadi pada 11 Maret 2011 di Jepang Timur, sebuah tempat berpenduduk padat.

Tidak banyak orang orang di sekitar saya yang membicarakan Gempa Tohoku. Beruntung saya mempunyai komunitas pencinta alam. Bersama mereka, saya berbagi info dan kisah seputar Tohoku. Namun rata rata dari mereka memiliki sudut pandang yang seragam. Jepang adalah negeri yang kuat dan siap menghadapi segala macam bencana. Tapi saya memiliki pemikiran yang berbeda. Ini bukan gempa biasa, dan saya harus melakukan sesuatu.

Bagaimanapun, bencana alam gempa akan mengakibatkan kelumpuhan ekonomi, trans dan akomodasi. Korban ada dimana mana, itu logis. Korban hidup akan terpilah pilah lagi. Ada yang tiba tiba menjadi tunawisma, ada juga yang butuh obat obatan dan atau perawatan serius. Korban yang segar bugar, bagaimanapun juga mereka tetap membutuhkan makanan, air bersih dan pemulihan psikologis. Dan masih banyak lagi efek domino yang dihasilkan oleh bencana.

Saya ingat, lima bulan sebelum terjadi Gempa di Tohoku, Indonesia sedang menangis. Pada 25 Oktober 2010 (pukul 21.42 WIB) sebuah gempa berkekuatan 7,2 skala Richter terjadi di barat daya Pulau Pagai, Mentawai, Sumatera Barat. Gempa ini disertai tsunami dan menghantam kawasan pantai barat gugusan kepulauan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kurang dari 24 jam dari gempa dan tsunami Mentawai, tersiar kabar bahwa Gunung Merapi mengeluarkan erupsi pertama, setelah dari sebulan sebelumnya dinyatakan bahaya.

28.3.12

Kembali Ke Masa Kecil

28.3.12
Semalam seorang kawan bernama Bayu Dedie Lukito ngajak ngopi. Karena kedai gubug sedang nutup, kita sepakat untuk ngopi di pelataran UKMF Sastra UJ. Tak lama kemudian kami sudah saling berbincang sambil sesekali menyeruput kopi buatan Ribut, si penjual kopi keliling.

Dimulai dari obrolan tentang sejarah Jember, perbincangan terus membola salju hingga pada hal hal yang remeh.Bersama Kang Bayu, obrolan ringan terasa nyaman dan bergizi.

Saat kami sedang asyik berdiskusi kecil, di atas sana langit menunjukkan kecantikannya. Bintang bintang bermunculan, seakan sinarnya lebih terang dari biasanya. Di sekitar kami, rekan rekan muda Dewan Kesenian Kampus sedang berlatih teater. Ramai, karena naskah teater yang sedang mereka pelajari berjenis kolosal.

Di sebelah sekretariat Dewan Kesenian Kampus adalah sekretariat Pencinta Alam SWAPENKA, tempat dimana dulu saya berproses. Mereka juga sedang ramai berkumpul, bercanda dan bercengkerama di dalam sekretariat, sebelum akhirnya keluar menuju pelataran dan bermain benteng. Ya, rekan rekan muda ini memang para mahasiswa. Tapi semalam saya terpukau oleh permainan mereka. Seolah olah, semalam mereka bukan mahasiswa, tapi lebih terlihat seperti sekumpulan bocah saja.

Permainan Benteng

Permainan benteng sangatlah sederhana. Dimainkan oleh dua grup, masing masing terdiri dari 3 sampai lebih dari 3 orang. Masing masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, dan markas yang kawan kawan pilih semalam adalah batang pohon. Mereka hanya butuh dua batang pohon, masing masing grup harus menjaga satu pohon sebagai markasnya.

Konsep Permainan

Attack and ran, kira kira seperti itu gambaran sederhananya. Menyerang dan berlari. Menyerang dan mengambil alih markas atau benteng lawan dengan cara menyentuh batang pohon (sebagai bentengnya).

27.3.12

Dunia Yang Selebar Senyum Kelor

27.3.12
Suatu hari di tahun 2008, tamasya band diundang untuk bernyanyi di ulang tahun pencinta alam MAHADIPA. Sayang sekali saat itu personil tamasya tidak bisa tampil di acara tersebut. Akhirnya saya memberanikan diri untuk tampil sendirian, menyanyikan beberapa lagu dengan gitar bolong di tangan.

Manakala saya bernyanyi, suasana tiba tiba semarak. Itu bukan karena saya hebat dalam menciptakan suasana, tapi lebih karena semua yang hadir turut bernyanyi. Sampai hari ini saya masih terkenang dengan suasana itu. Salut, ternyata banyak yang hapal lirik lagu ciptaan saya.

Itu juga pertama kalinya kedua mata ini menangkap sosok perempuan berambut cepak. Wajahnya mirip dengan Pamela Bowden, perempuan Thailand yang memerankan tokoh si Box di drama Lady of The Poor. Sepulang dari acara DIES NATALIS MAHADIPA, saya bercerita pada Hana bahwa saya sedang menyukai perempuan berwajah lucu.

Hari hari selanjutnya kami lewati dengan mencari tahu siapakah si rambut cepak ini. Ternyata itu bukan pekerjaan yang mudah. Hingga pada suatu hari saya menemukan sebuah album foto (di facebook) berjudul Teman Setengah Gila. Entah bagaimana proses awalnya, saya lupa. Kepada si empunya album facebook (Astrine Fara Maretri) saya kirimkan sebuah pesan lewat inbox. Intinya, saya hendak merampok foto foto itu. Alhamdulillah, diijinkan.

Salah satu foto di album Teman Setengah Gila


Di kesempatan yang lain di awal tahun 2009, akhirnya saya dan Hana bisa benar benar mengenalnya, berbincang bincang dan semakin tahu siapakah si Box Lady Of The Poor versi pencinta alam ini.

25.3.12

Bulan Yang Manis

25.3.12
Bulan Maret tahun ini saya memiliki hari hari yang keren. Malam sering saya lewati dengan menikmati kopi hitam bersama keluarga tamasya. Ya, saat itu kami sedang memperbincangkan persiapan acara Tribute to Manusela.

Bukan hanya ngopi, kadang saya melewati malam dengan hujan hujanan. Tadinya kehujanan di tengah jalan. Tapi ini adalah suasana yang saya rindukan dan saya enggan mencari tempat berteduh. Alhasil, kemarin saya sempat dihinggapi influensa.

Pada malam tanggal 15 Maret 2012, Pencinta Alam tempat saya berproses sedang mengadakan renungan. Itu adalah malam DIRGAHAYU SWAPENKA yang ke 30. Saya ada di antara mereka yang merenung dan saya merenungkan banyak hal. Dari yang banyak itu, pikiran saya lebih terfokus pada kepingan kenangan bersama Mas Bibin, seorang senior PA yang meninggal dunia pada 25 Februari 2012.

Haripun berlalu..

Tiba tiba sudah 21 Maret 2012. Tiba tiba MC sudah membuka acara Tribute to Manusela. Tiba tiba kedai gubug sudah dipenuhi oleh rekan rekan Jember. Dan tiba tiba sudah giliran tamasya untuk tampil dan bernyanyi. Ah, itu adalah malam yang menyenangkan.

Waktu begitu cepat berlalu. Hampir semua dari kita menyadarinya, dan hampir semua dari kita malas untuk mengakuinya. Periculum in mora..

23 Maret 2012

Kisah dimulai pada pukul 00.15 WIB. Ada kabar dari Jakarta mengenai kakak senior saya di PA. Namanya Cak Halim Thole, dan saya mendapatkan kabar bahwa Cak Halim Thole meninggal dunia. Hmmm, saya memulai 23 Maret dengan rasa kehilangan.

23.3.12

Saat Malam Tiba

23.3.12
Yang aku inginkan saat malam tiba
Ketika ku sendiri berteman sepi

Dan aku rindukan semua yang berlalu
Yang tlah ku relakan pergi dariku

Bayangkan dirimu seperti dahulu
Saat kau tersenyum dan menatapku

Mataku terpejam mengingat indahmu
Buatku terhanyut hingga terlelap


Sedikit Tambahan

Ini adalah sebuah lirik lagu berjudul SAAT MALAM TIBA

Dicipta, dinyanyikan dan direcord sendiri oleh Mungki Krisdianto

Lagu bisa didengar dan diunduh di SINI


Jember 23 Maret


Aku hanya ingin kita punya rumah dan tua bersama

22.3.12

Semisal Kau Ada di Sini

22.3.12
Padahal aku hanya ingin menuliskan kisah semalam. Tentang Tibute to Manusela, tentang Kedai Gubug Jember, tentang kawan lawasku Yongki, Didik dan beberapa lagi. Tentang lagu yang Tita, Maltha dan Ayun nyanyikan, tentang FINGER, tentang Aden, tentang The Baja Hitam, tentang Adit The Rocket, tentang Lozz, Coro, Kelor dan beberapa blogger Jember.

Masih banyak 'tentang tentang' yang lainnya. Tentang buku sumbangan yang semakin detik semakin menumpuk, tentang kotak kaca (seperti aquarium) yang sengaja disediakan oleh Dedy untuk memfasilitasi sumbangan recehan, tentang Rossi yang datang nyumbang lalu pulang, juga tentang lagu yang tamasya nyanyikan.

Ya, padahal hanya tentang itu, mengapa rasanya begitu sulit?

20.3.12

Ingatkan Saya Pada 23 Maret

20.3.12
Setiap kali hujan menerpa, setiap kali itu juga saya selalu menyempatkan diri untuk sekedar menengok butir butirnya dari balik krepyak jendela. Begitulah cara saya untuk merayakan hidup, selain menyeruput kopi dan menikmati perjalanan (teristimewa ketika saya ada di bangku kereta api).

Kali ini ceritanya sedikit berbeda. Hujan turun mengecup tanah Jember, dan saya meringkuk di balik selimut tebal. Entah kenapa, influensa begitu hebat mehanan saya untuk memerintah diri sendiri dan bergerak beberapa langkah menuju jendela. Ya, saya melewatkan kecantikan hujan. Tapi saya masih bisa menikmati aroma tanah basah.

Haruskah saya mengutuk influensa? Ah tidak, itu tidak akan merubah keadaan. Lagipula, dulu di kesempatan yang lain, saya pernah menuliskan bahwa diare adalah utusan Tuhan. Saya rasa, influensa sama halnya dengan diare. Dia tidak butuh diratapi. Hanya butuh sedikit sentuhan, maka semuanya akan kembali membaik.

19.3.12

Jember 1331

19.3.12
Hampir semua sejarawan mengamini bahwa Jember dulunya adalah sebuah tempat yang tak berpenghuni. Daerahnya yang berupa hutan lebat dan berawa sangat mendukung teori ini. Kita tahu, ada banyak wabah di daerah berawa. Setidaknya, manusia akan sulit menghindari keganasan nyamuk malaria. Belum lagi hewan buas seperti Harimau Jawa.Itulah kenapa sampai sekarang Hari Jadi Jember masih tidak bergeser, dimulai sejak 1 Januari 1929. Sejarahnya masihlah sangat berbau kolonial.

Patrang

Jember terdiri dari 31 Kecamatan, 3 diantaranya masuk dalam wilayah kecamatan kota. Dari 3 kecamatan kota, satu diantaranya bernama Kecamatan Patrang.

Legenda Patrang

Di sekenario film indie disebutkan bahwa Patrang diambil dari nama seorang Mpu bernama Mpu Pitrang. Sejauh yang saya tahu, leluhur saya mendongengkan kisah tentang Patrang. Bahwa dulunya ada sepasang Kakek Nenek dari Jawa pedalaman yang mencoba untuk bertahan hidup di daerah ini. Karena lebatnya hutan, sinar mentari tidak bisa menembus tanah Patrang yang berawa. Itulah kenapa akhirnya mereka berdua membabat tanah dengan caranya. Kita imajinasikan saja bahwa mereka menggunakan cara membakar (karena dulu belum ada senso / gergaji mesin).

Patrang dijadikan daerah perlintasan bagi orang orang pelarian sebuah kerajaan dan para imigran dari Madura (jauh sebelum daerah ini dibuka sebagai perkebunan tembakau jenis naogh). Mereka masuk ke Jawa dari Pelabuhan Panarukan - Situbondo (Panarukan tempo dulu / abad 13 - 14 adalah salah satu pelabuhan internasional yang strategis. Terletak di sebelah Pantai Utara Jawa Timur). Mereka melintasi Jember pedalaman (Patrang dan sekitarnya) untuk menuju Kerajaan Lumajang dan kerajaan kerajaan lain di Pulau Jawa. Alasannya sederhana, mengejar taraf kehidupan yang lebih baik.

Dari orang orang yang melintas ini, yang mengerti akan kegiatan sepasang kakek nenek tersebut, sering terdengar kata, e paterang. Disarikan dari Bahasa Madura yang artinya kurang lebih, di buat terang (dari yang tadinya gelap nyaris tanpa sinar mentari). Kata kata e paterang semakin hari semakin berevolusi menjadi sebuah kata bernama Patrang.

16.3.12

Lagu Untuk Mantan Pacar

16.3.12
Temani aku wahai bulanku
Berikanlah aku sedikit ketenangan

Dan ijinkan kupeluk bayangmu
Hangatkan jiwaku penuhi rasa

Damaiku.. Lelahku..

Reff

Biarkan semuanya berlalu
Tinggalkan kenangan yang tersimpan

Biarkan waktu kan berganti
Hatiku kan tetap milikmu


Catatan

Lagu ini dicipta, direcord dan dinyanyikan sendiri oleh Mungki Krisdianto

Untuk mengunduh lagu (atau hanya ingin mendengar), klik di SINI

14.3.12

Ketika Tak Harus Mengikuti Trend

14.3.12
Sebelum menulis lebih jauh, mari kita definisikan kata trend dengan bahasa termudah. Bagi saya, trend adalah ketika hampir semua orang sedang membicarakan sesuatu di waktu yang sama. Dengan kata lain, ketika orang-orang berbondong-bondong mengkonsumsi sesuatu yang serupa. Entah itu berita, barang, lagu, film dan beberapa hal lainnya.

Trend berbeda dengan issue, karena trend bisa terlacak dan bisa dibuktikan. Trend dekat sekali dengan kata trendy. Bersiap siaplah untuk dianggap tidak trendy jika kita tidak mengikuti trend. Begitulah yang dunia pasar inginkan.

Apakah saya pemeluk aliran trend? Sulit menjawabnya. Sekali waktu saya juga termakan oleh yang namanya trend. Akan saya beri contoh sederhana.

Pada 19 Maret 1995 kabar duka datang secara mengejutkan. Nike Ardilla meninggal dunia. Saya yang bukan penggemarnya ikut ikutan terkejut, karena begitulah yang orang orang sekitar contohkan. Hari pun berlalu, tapi booming Nike tak terbendung. Tiba-tiba di sepanjang jalan Sultan Agung Jember banyak yang menjual poster Nike Ardilla. Di Pasar Tanjung, di warung kopi Cak Gimin Kreongan, semua membicarakan tema yang serupa. Nike Ardilla. Entah di hari yang keberapa, saya jadi keranjingan mendengarkan suara Nike. Mendadak ada poster Nike Ardilla di dinding kamar. Itulah saat saat dimana saya tergerus oleh pasar. Saat itu saya masih remaja.

Cerita yang lain tentang saya dan trend

Saya tumbuh dewasa di kota kecil yang marak dengan konser. Berangkat dari kesenangan kawan-kawan sekampung yang suka nonton konser dangdut, saya pun demikian. Ketika SMP dan telah mengenal lagu-lagu slow rock 1990an, tingkatan saya naik. Mulai jarang nonton konser dangdut dan mulai senang dengan festival musik rock (itu adalah saat saat dimana festival rock sering digelar di Jember). Kesukaan ini berlangsung hingga saya SMA. Bisa dibilang, ketika itu saya adalah manusia pemakan konser. Sederet musisi telah saya nikmati suaranya. Mulai dari Ita Purnamasari, CB Band, Power Metal, Mel Sandy, Jamrud (saya mengerti band ini bahkan sebelum album pertama mereka keluar di pasaran), hingga beberapa musisi yang kini namanya tak terdeteksi, seperti Rovy Edgar.

Itulah sepotong cerita perjalanan saya bersama sebuah kata bernama trend. Syukurlah, di jaman saya tidak dikenal istilah alay apalagi lebay. Seandainya kata-kata itu telah meledak di pasaran, mungkin itu akan membuat saya sedih.

Di akhir tahun 1990an seorang kawan memperkenalkan pola pikir yang berbeda kepada saya. Intinya sama dengan judul tulisan ini, dan masih dengan contoh seputar dunia musik. Barangkali itu adalah awal ketika saya mencintai musik tradisional kentongan dan musik indie. Entahlah, saya sendiri juga lupa.

Dalam dunia musik hanya ada tiga pilihan. Mengikuti pasar, melawan pasar dan menciptakan pasar. Saya dan Nike Ardilla, itu ketika saya mengikuti laju pasar (harusnya saya tidak butuh momentum hanya untuk menyadari bahwa suara Nike memang merdu). Ketika film AADC meledak dan saya gelisah ingin menontonnya, saat itulah saya termakan oleh trend. Pas Band, Netral, dan beberapa nama Band Indonesia yang seperti mereka, adalah contoh kasus melawan pasar. Slank bisa juga dikategorikan menciptakan pasar sebab ada Slanker's di balik Slank.

Tidak dapat disangkal, sesuatu yang tadinya indie akan berubah menjadi trend manakala membesar dan menyedot perhatian publik. Jazz hari ini sedikit berbeda dengan Jazz beberapa tahun yang lalu. Stand Up Comedy hari ini (dianggap) tak sama dan lebih cerdas dari pelawak tunggal jaman kerajaan.

Bagaimana dengan dunia blogging?

Ketika kita berusaha keras untuk meniru habis-habisan gaya penulisan yang sedang in, ketika itulah kita larut dengan kata trend. Nasehat bijak mengingatkan, jadilah diri sendiri untuk kemudian melangkah alami karena itu lebih anggun dari sekedar kata trendy. Meniru tidak harus brutal. Masih ada kata inspirasi.

Hari ini banyak sekali trend yang menggempur hidup dan kehidupan kita. Mulai dari trend jambul khatulistiwa, trend baju ketat seperti lemper, trend lagu Bokong Semok, trend narkoba, copas dan sebagainya. Mari kita berkata tidak untuk trend yang menyampah ini.

Ketika tak harus mengikuti trend, maka yang harus kita lakukan hanya satu; berani berkata tidak untuk beberapa hal.

Menjadi blogger itu sudah trendy meski tak larut dalam trend.

12.3.12

Lagu Yang Berjudul Memulai Kembali

12.3.12
Pernah pada suatu hari kita dihadapkan pada situasi
Saling berhadapan, saling hendak menikam
Saling akan memilih mana yang paling jantan
Diantara kita

Malam, jalanan bintang dan rembulan
Seakan menjadi lukisan penghias pertarungan
Apakah mungkin aku bisa menghantam
Apakah mungkin aku bisa menikam
Biarkan saja aku melangkah..

Menjauh darimu menyingkir darinya
Menghindar dari hati nuraniku sendiri
Apakah semuanya ini yang aku inginkan
Ini yang kuharapkan

Kawan, menjadi lelaki
Apakah harus dengan merobek langit, membelah bumi dan memecah lautan
Tidakkah ada cara lain yang lebih indah, yang lebih santun, yang lebih jantan

Seperti mereka orang orang yang merubah dunia
Dengan menciptakan keindahan ketenangan, kedamaian
Dan Tuhan memberi anugerah bagi mereka yang berjuang

Reff

Berikanlah aku kesempatan
Untuk memulai semua kembali
Maafkanlah semua kesalahan
Yang pernah kulakukan slama ini


Keterangan

Urusan nada dan musik oleh Mungki Krisdianto

Lirik lagu 'Memulai Kembali' oleh saya sendiri

Vocal : Saya dan Mungki Krisdianto

Puisi oleh Hana Prit Apikecil

Lagu bisa di unduh di SINI

Sedikit Tambahan

Selamat Hari Lahir Mama Ni CampereniQue

11.3.12

Tamasya Sejarah ke Sumenep

11.3.12
Sebelum bercerita tentang Sumenep, saya ingin berkisah tentang Kakek Nenek dari pihak Bapak. Dan ini adalah kisah yang agak panjang, mohon maaf sebelumnya untuk sahabat blogger yang tidak suka mengkonsumsi tulisan panjang.

Kembali pada kisah Kakek Nenek saya. Mereka berdua lahir dan besar di Sumenep, tepatnya di daerah Pekandangan, sebuah desa yang memiliki mitologi sejarahnya sendiri. Ya, Bapak pernah mendongengkannya pada saya.

Kata Bapak, dulu ada sepasang tokoh Madura (Adipoday dan PotreKoneng) yang memiliki anak pertama bernama Jokotole. Entah oleh sebab apa (saya lupa) suatu hari Jokotole ditemukan sedang disusui lembu putih di kandang sapi milik Mpu Kelleng (pada akhirnya Mpu Kelleng menjadi ayah angkatnya). Tempat dimana terdapat kandang sapi ini kelak menjadi nama Desa yaitu Desa Pekandangan.

Kelak saat saya besar, saya mengerti bahwa Jokotole adalah Raja Sumenep (atau dikenal dengan Kadipaten Madura) yang ke 13 pada tahun 1415-1460. Masa yang cukup lama untuk seorang Raja lokal, 45 tahun. Dia mendapat gelar Pangeran Secodiningrat III. Kalau yang ini, saya mengintip di wiki, hehe.

10.3.12

Pertanyaan Dari Sahabat

10.3.12
Saya lagi dapat PR dari Faizal Indra kusuma, seorang sahabat blogger yang suka memanggil saya dengan sebutan Gan, nama lain dari Juragan. Dan ini adalah ke empat belas pertanyaan yang harus saya jawab.

14 Pertanyaan :

1. Nama lengkapmu siapa?
2. Jika namamu berupa singkatan, singkatan apa namamu itu?
3. Pengalaman terindah di facebook?
4. Tokoh kartun yang menggambarkan kamu banget?
5. Alat doraemon yang kamu mau, kenapa?
6. Jogja atau Barcelona? kenapa?
7. Jika ada kesempatan jadi bos sehari, perusahaan apa yang ingin dipimpin?
8. Jika kamu Superman, siapa yang akan kamu selamatkan duluan?
9. Jika ada kesempatan, mau ketemu siapa? mau ngomong apa?
10. Masakan ibu yang paling disukai apa?
11. Bila berkesempatan menjadi artis film, kamu mau main di film apa?
12. Idola yang paling enggak mau kamu contoh/ ikutin?
13. Apa yang kamu suka (banget) dari sebuah blog?
14. Apa yang menurut kamu annoying dari sebuah blog?

1. Nama saya adalah R. Zabriansyah Hakim.

2. Jika berupa singkatan, saya ingin menyingkat nama saya dengan Erzetha atau RZH atau RZ Hakim saja

3. Pengalaman terindah di facebook? Ketika mengganti ID dengan nama Masbro Pada Bulan Sebelas. Meski tidak saya gunakan selamanya, tapi saya menyukai sensasinya.

4. Tokoh kartun yang menggambarkan saya? Mungkin Flinstone. Alasannya sederhana. Karena saya ingin kembali ke jaman batu tapi dengan fasilitas online lengkap, hehe. Tokoh kartun lainnya adalah Asterix Obelix. Mereka periang, survive, sering melakukan kesalahan dan sesekali pelupa. Dalam imajinasi saya, desa Galianya adalah warung blogger. Sebuah desa yang tenteram (sesekali mungkin ada pertengkaran) dan menjunjung tinggi kemerdekaan. Kekuatan mereka ada di ramuan ajaib. Sedangkan kita juga memiliki ramuan ajaib itu.

5. Alat Doraemon yang saya mau? Entahlah, mungkin baling baling bambu, sebab saya ingin tour the globe.

9.3.12

Agar Kita Tidak Mudah Melupakannya

9.3.12
Dulu (di media yang lain) saya pernah posting tulisan tentang sepeda motor kesayangan. Nama dagangnya Astrea 800, sedang nama kerennya Laura. Berikut adalah tulisan saya (boleh dibaca boleh juga dilewati).

Monggo Disruput :

Melatih Kesabaran Bersama Astrea 800

Hampir setiap hari, saat harus keluar rumah menggunakan motor tua, saya sering mendapati para pengendara saling mendahului. Seakan akan mereka berlomba untuk mencapai suatu tempat. Entahlah, barangkali itu semua adalah efek dari kalimat waktu adalah uang.

Saya sendiri sebenarnya ingin juga melakukan hal yang sekarang lagi ngetrend. Apalagi kalau bukan mempraktekkan kalimat, lebih cepat lebih baik. Sayangnya motor saya sudah butut. Bukan sepeda model plastik keluaran terbaru. Mau nggak mau, saya harus berjalan lamban, sesuai dengan batas maksimal kecepatan Honda Astrea 800. Apapun kondisinya, entah itu pada saat cuaca panas, mendung menggantung, bahkan saat saya benar benar lagi terburu buru, ya jalannya tidak bisa lebih dari biasanya.

Tapi disini saya tidak hendak mengutuk nasib saya yang hanya memiliki sepeda butut dan iri melihat orang lain menggunakan sepeda model terbaru. Sebaliknya, saya justru bersyukur atas apa yang sudah saya miliki. Dengan astrea 800, tanpa disadari, saya justru mendapat semacam ruang khusus untuk berpikir. Juga, saya seakan mendapat terapi kesabaran. Saat para pengguna jalan lagi bertegangan tinggi, saya justru santai. Yang saya lakukan hanya satu, mengemudi dengan sebaik mungkin dan dengan kecepatan yang hanya seperti itu.

Ada sebuah pesan moral yang ingin saya sampaikan kepada sahabat blogger. Sebuah kalimat usang yang bahkan sudah sering kita dengar. Bahwa jika kita tidak bisa memiliki apa yang kita cintai, maka cintailah apa yang kita miliki.

Salam Lestari…!!!


Semakin hari kondisi kesehatan Laura semakin buruk. Setiap kali saya mengajaknya ke suatu tempat, setiap kali itu juga Laura tersendat untuk kemudian mogok.

Ketika saya sibuk membersihkan busi dengan rempelas dan peniti, Hana ada di samping saya. Sekali waktu saya mencuri pandang ke arahnya, Hana selalu memasang wajah manis. Tapi saya mengerti, dia sama resahnya dengan saat saat ketika saya harus menunggunya berdandan.

8.3.12

Sebab Saya Pelupa Maka Saya Menjadi Blogger

8.3.12
Hal yang paling sukses membuat saya lupa adalah perihal nama nama. Saya sering lupa beberapa nama teman SD, SMP dan SMA. Untuk itu, saya masih sangat butuh album kenangan. Sayang sekali saya selalu lupa menaruh album kenangan tersebut. Ini cukup merepotkan manakala saya terdesak situasi dan benar benar membutuhkannya.

Di dunia pencinta alam, saya harus bisa memahami nama nama alat, menghapal koordinat dengan tepat, dan masih banyak lagi hal hal yang tidak menyediakan ruang bagi sebuah kata bernama lupa. Tapi apa yang terjadi? Saya masihlah seorang manusia yang terjerat lupa. Akhirnya saya mendalami Konservasi SDA, berharap tidak menemukan kata kata yang mengharuskan saya untuk mengingatnya. Nyatanya saya salah besar. Ternyata KSDA gudangnya kata kata yang membingungkan. Yang paling melelahkan adalah ketika saya dituntut untuk mengerti nama nama latin dari sederet tanaman.

Saya senang menciptakan lagu itu bukan tanpa alasan. Alasan yang paling standart adalah karena saya memang mencintai kegiatan tersebut. Ada satu lagi alasan yang sengaja saya tutup tutupi. Ya benar, saya sering lupa dengan lirik lagu orang lain. Tak peduli apakah lagu tersebut ciptaan Piyu, Bimbim, pun lagu ciptaan Bang Iwan, saya tetap sering dihinggapi rasa lupa. Rasa ini akan menjadi sedemikian parah jika saya mendendangkannya di atas panggung. Bukan sekali dua kali saya melakukan kesalahan yang seperti itu, tapi sudah langganan, sekeras apapun usaha saya untuk menghindarinya.

6.3.12

Bukan Blogger Semusim

6.3.12
Bukan Blogger Semusim, itu adalah kalimat pendek yang padat makna. Jika dipersingkat lagi maka nama lainnya adalah setia. Hanya blogger yang setia terhadap apa yang dijalaninyalah yang bisa bertahan dan melewati musim demi musim. Biasanya blogger jenis ini punya corak dan warna tersendiri. Dia dimatangkan oleh jam terbang dan pengulangan demi pengulangan.

Saya dan Mesin Ketik

Saya punya sepenggal cerita tentang mesin ketik. Di waktu kecil, Ibu memperkenalkan saya pada mesin ajaib yang berbunyi klak klik klak klik. Tentunya dibarengi dengan menuturkan kisah perkenalan beliau dengan mesin ketik. Menurut Ibu, sejak SMP kelas satu beliau sudah belajar menjadi seorang pianis mesin ketik. Hebatnya, ketika kelas tiga SMP, Ibu sudah bisa menarikan lentik jemarinya di atas tuts tuts huruf mesin ajaib itu. Dan adegan yang selalu dia kisahkan berulang kali adalah karena beliau sukses melakukannya dengan kedua mata yang sengaja ditutupi oleh kain hitam.

Itulah Ibu saya, sosok pianis mesin ketik yang hebat di mata kedua anaknya. Tapi dulu saya masih terlalu bocah, masih suka bermain dan tidak senang dipaksa paksa, apalagi dipaksa untuk belajar ngetik. Sehalus apapun cara Ibu menuntun dan mengajari saya untuk menaklukkan mesin ketik, semakin hati ini berontak. Itu adalah saat saat dimana saya mulai membenci mesin ketik. Bagi saya, mesin ketik hanyalah kumpulan huruf dalam kotak kotak kecil yang semakin dipandang semakin menyebalkan.

4.3.12

Ada Batistuta di Dalam Dompetmu

4.3.12
Ini tentang Hana Prit dan sephianya, Gabriel Omar Batistuta. Dia menuliskan kisah cintanya di sebuah postingan berjudul Batistuta, Kamar Bola, dan Mimpi Untuk Kesana. Saat membacanya, saya teringat ketika pertama kali mengenal Hana.

Cara dia berdandan, tema pembicaraannya yang wajar, dan kesukaannya pada warna kuning, sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda bahwa dia penggemar Batigol (sebutan untuk Batistuta). Dalam bayangan saya, seorang penggemar Batigol harusnya senang mengenakan kostum bola. Setidaknya, dia senang warna biru muda dan ungu, atau suka membicarakan seputar bola Argentina dan senang memperbincangkan Fiorentina. Hana adalah penggemar Batigol yang benar benar tak terdeteksi.

Semakin lama mengenal Hana, saya semakin mengerti apa saja kesukaannya. Tentang buku kesayangannya, tentang betapa Hana sangat menaruh hormat pada sosok dan lirik lagu Virgiawan Listanto, tentang suasana favorit (dia senang merayakan hidup dengan menikmati secangkir kopi di pinggir pematang sawah), dan beberapa hal kecil lainnya lagi.

Dulu saya sempat mengira bahwa ketidak hebatan saya selama mengenal Hana hanya dalam masalah kuliner saja. Ya ya, Hana punya masalah kesetiaan dalam masalah lidah. Bisa jadi hari ini dia tergila gila dengan durian, besoknya pindah ke bakso, besoknya lagi sate ayam, lalu berganti lagi. Begitulah, Hana mempunyai siklus kuliner yang sulit. Tapi bukan salah saya juga jika tidak bisa akurat memprediksi apa kuliner kesayangannya. Ada banyak orang di dunia ini yang seperti itu.

Untuk hal yang lain, Hana termasuk perempuan yang mudah ditebak. Ketika Hana tampil cantik, itu tandanya dia sedang mengajak saya jalan jalan mencari warung kopi yang mewah alias mepet sawah. Manakala dia melakukan aksi diam, saya harus siap siap meraih gitar bolong. Ya benar, Hana ingin mendengar saya bernyanyi. Sampai di titik ini, saya masih belum tahu menahu tentang sosok Gabriel Omar Batistuta.

2.3.12

Refresh dan Rekreasi

2.3.12
Refresh dan rekreasi. Judul di atas berkaitan erat dengan tampilan acacicu saat ini.

Seperti yang bisa anda lihat, saya memberi sedikit sentuhan yang berbeda pada blog acacicu. Tidak bermaksud apa apa selain hanya penyegaran tampilan. Setelah penyegaran, saya berharap untuk bisa berkreasi kembali.

Mari kita menengok tampilan acacicu

Di pojok kiri bawah ada tertulis tampilan dinamis. Jika anda klik gambar / tulisan tersebut, maka anda akan diantarkan menuju tampilan sederhana acacicu. Lebih ringan dan bisa dilihat dalam tujuh tampilan. Tampilan ini saya sediakan buat sahabat blogger yang lebih ingin mengutamakan keterbacaan blog.

Di pojok kanan atas juga saya sediakan beberapa pilihan warna. Jadi anda bisa menampilkan wajah acacicu dalam berbagai warna.

Kolom navbar masih saya tampilkan tersembunyi, dan akan terbuka bila cursor anda menyenggol navbar (bagian atas). Bagi anda yang barangkali butuh mencari kolom search engine, senggol saja navbar blog ini.

Satu lagi yang terbaru dari acacicu adalah halaman sitemap atau daftar isi. Harapan saya, halaman sitemap ini akan memudahkan sahabat blogger saat berkunjung. Bagi saya, sitemap di halaman tersendiri itu lebih nyaman daripada harus menggunakan kolom archive otomatis.

Jika anda memiliki blog berbasis blogspot (atau blog berdomain tapi masih menggunakan hosting blogspot) dan ingin mencoba beberapa hal di atas, silahkan berkunjung ke blog SIPICU.

Catatan

Saya meniadakan widget archive dan label karena sudah terwakili oleh halaman SITEMAP. Bagi yang pencinta SEO dan penggila kata kunci (dan ingin mencoba scrip sitemap buatan Abu Farhan), anda harus memiliki cara lain agar blog tetap terindeks oleh mesin pencari.

Catatan Lagi

Bagaimana kabar anda hari ini? Saya doakan semoga baik baik saja dan selalu mewangi.

SALAM LESTARI
acacicu © 2014