27.4.12

Potret Kartini Masa Kini : Namanya Nova Setya

27.4.12
Nova Setya


Potret Kartini masa kini, dialah Nova Setya (yang ada di sebelah kanan saya / tengah). Bukan karena kebaya yang dia gunakan, bukan pula sanggul yang menghias rambutnya. Lebih dari itu, ini tentang pemikirannya. Bahwa siapa saja berhak menuntut ilmu setinggi tingginya, dengan telapak kaki masih mengikuti gaya gravitasi.

Keterangan Foto

Foto di atas diambil pada 2006, saat saya sedang mengikuti yudisium di Aula Fakultas Sastra UJ. Masih menggunakan kamera poket, tapi syukurlah berhasil memotret kenangan.

Itu adalah saat yang berat. Pertama, karena saya masuk dalam kolom mahasiswa yang lulusnya paling lama. Yang kedua, di tengah acara saya kebingungan, inguk-inguk mencari Bapak. Eh ternyata Bapak lagi ngopi di kantin. Beliau bosan dengan seremonial yudisium (yang memang sangat membosankan).

Suasana yudisium yang berat, aula yang pengap dan seremonial yang membosankan, seketika hilang manakala saya menoleh dan mendapati senyum Nova, haha..

Nova Adalah Potret Kartini Masa Kini

Nova tidak pernah berhenti belajar. Tahun 2006 Nova lulus dari D-3 Bahasa Inggris Fakultas Fastra. Di tahun yang sama dia melanjutkan S1, masih di FSUJ. Setelahnya, dia masih melanjutkan S2 di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Dan kabarnya dia masih memelihara mimpi untuk senantiasa belajar dan terus belajar.

Inspiratif. Bagi saya, Nova adalah potret Kartini masa kini. Meskipun terus terang saja, kiprah Nova tidak berhasil membujuk saya untuk melanjutkan kuliah di jenjang yang sangat tinggi. Cukuplah saya kuliah di Universitas Acacicu saja, hehe.. Lumayan, bisa bikin gelar sendiri.

Nova dan Ibunda :

Nova Setya, Nova dan Mama

Yang ini Super Bonus :

Saya dan Nova, Suatu hari di GOR PKPSO jember
Saya, si kuning Nona BMX, dan Nova Kartini masa kini :)


Tulisan ini diikutsertakan pada Kontes Blogger Kartinian yang diselenggarakan oleh Blog Ceritayuni disponsori oleh Blogdetik dan BlogCamp Group


21.4.12

Perempuan Itu Hanya Ingin Bertemu Anaknya

21.4.12
Suatu hari di pembuka tahun 2006. Orang-orang berlalu lalang. Mudah sekali membedakan mana yang team SAR, mana yang sukarelawan, mana yang korban bencana alam, dan mana yang kebingungan menentukan identitasnya. Caranya sederhana saja, kita hanya tinggal menatap lekat gurat di wajah mereka. Penampilan bisa menipu. Kadang baju team SAR lebih compang camping dari mereka para korban bencana.

Kala itu mentari sudah bersiap memeluk senja. Kehebohan kawan-kawan SAR lantaran sukses membuat helipet dan menurunkan helikopter di kemiringan perkebunan Panti selesailah sudah. Tidak semua korban hidup dapat diangkut oleh capung raksasa tersebut.

Dari korban yang tersisa, ada seorang nenek yang terlihat masih segar. Tanpa selang infus di tangannya, tanpa luka dan perban, tanpa air mata. Tapi bagaimanapun beliau adalah seorang perempuan sepuh. Saat kami membopong dan menaruhnya di atas tandu buatan, barulah nenek menangis. Beliau kesakitan di bagian punggung. Tidak ada waktu lagi untuk membujuk nenek. Bergantian, kami menggendongnya, dimulai dari seorang Brimob asal Bali. Saya kebagian membawa barang-barang beliau plus sekantong kain yang entah apa isinya.

Jalanan berliku. Mendung di atas sana masih menggantung dengan warna pekat. Jarak antara lokasi dengan pos penampungan korban lumayan jauh, sementara medannya licin dan penuh lumpur. Sesekali kami melangkah di atas bangkai hewan ternak yang membusuk. Ada juga seekor sapi yang masih menyisakan napas, sedangkan tiga perempat dari tubuhnya terendam lumpur. Kami tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya terus melangkah, berharap senja tak mendahului langkah-langkah kecil ini.

19.4.12

Begitu Cepat Waktu Berlalu

19.4.12
Suatu hari di channel radio kesayangan, saya mendapati kata-kata mutiara seperti berikut ini. Bahwa detik yang baru saja berlalu adalah masa lalu. Saya sependapat dengan kalimat tersebut.

Orang-orang mempunyai banyak cara dalam mengapresiasikan masa lalu. Ada yang percaya lebih sreg menghargai masa lalu dengan menjadikannya cermin seperti slogan Bung Karno. Jas merah alias jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Ada juga yang berjalan lenggang kangkung sambil lirih menyanyikan lagu milik five minutes, selamat tinggal masa lalu.

Ya, ada banyak cara untuk menyikapi masa lalu. Dengan menjadikannya cermin dan meninggalkan beberapa hal yang tak layak dikenang.

Begitu juga dengan waktu. Ada banyak cara untuk menikmatinya. Bisa dengan cara yang hebat atau hanya bermalas malasan saja. Keputusan ada di tangan kita.

17.4.12

Saat Kau Bertanya Tentang Apa Itu Cantik

17.4.12
Dari sebuah tulisan lama dengan judul yang sama, saat kau bertanya tentang apa itu cantik..

Ini tentang suatu hari, saat kau tiba tiba bertanya padaku tentang apa itu cantik. Lalu aku menjawab seadanya saja, bahwa cantik adalah nama lain dari dirimu. Engkau menggulung bibir, lalu kembali melemparkan tanya yang sama. Ah, rupanya kau benar benar ingin bertanya.

Aku diam beberapa saat, tidak buru buru menjawab. Setelah kuseruput kopi buatanmu, barulah aku membuka kata.

16.4.12

Eka Sukriswandi Si Raja Porno Yang Tobat

16.4.12
Ini tentang sahabat saya. Namanya Eka Sukriswandi. Dia biasa dipanggil Eka. Siapapun yang mengenalnya pasti akan menganggukkan kepala manakala saya katakan bahwa Eka adalah sosok kawan lelaki yang mempunyai kepribadian menyenangkan. Lucu, pandai berbahasa inggris, milanisti, penyuka film-film mafia itali, dan sosok yang dirindukan kehadirannya. Dia juga seorang pendongeng yang ulung.

Dari sekian banyak karakter yang coba saya tempelkan pada diri Eka, ada satu yang sebenarnya ingin saya sembunyikan. Sayangnya tidak berhasil, hehe. Baiklah akan saya katakan saja yang sebenarnya. Semoga Eka tidak marah.


Eka memiliki daya imajinasi yang liar. Dia senang sekali menggambar sketsa perempuan telanjang dari berbagai pose. Dia juga hebat di dunia online, bisa mengenal nama nama situs panas yang kami tidak tahu menahu sebelumnya.

13.4.12

Saya dan Slow Rock Era Akhir 90an

13.4.12
Di beberapa catatan yang tercecer, saya pernah beberapa kali menuliskan kisah antara saya dan musik. Dimulai ketika saya masih balita, Ibu selalu menyenandungkan sebuah lagu. Entah siapa biduannya, entah siapa pula yang menciptakan lagu tersebut. Mungkin Ibu sendiri yang mengarangnya, entahlah.. Liriknya sederhana, hanya terdiri dari beberapa kata. Tapi cukup untuk meninabobokan saya.

Buyung anak nan kusayang.. Tidurlah hari sudah malam
Esok pagi menanti.. Bersama kawan bermain lagi

Ketika saya sudah bertumbuh semakin besar, setiap kali ada kesempatan, Ibu masihlah menyenandungkan lagu tersebut untuk saya. Ini adalah awal perkenalan saya dengan musik.

Saat saya SD kelas enam, ada yang baru di kota kecil Jember. Didirikanlah sebuah mall / matahari dept store di atas tanah pasar tradisional johar. Letaknya ada di pusat kota. Ini adalah pusat keramaian modern pertama di kota santri. Pusat keramaian ini dinamai Johar Plasa, tapi kami lebih senang menyebutnya matahari saja.

Yang ingin saya ceritakan adalah launching plasa tersebut. Bintang tamunya adalah seorang lady rocker asal kota Surabaya yang melejit dengan hits lagunya yang berjudul Penari Ular. Ya, dialah Ita Purnamasari.

Malam saat launching Johar Plasa, saya ada di deretan terdepan, berkumpul dengan orang orang dewasa yang sebentar-sebentar tawuran. Saya masih berusia 11 atau 12 tahun, dan saya tidak peduli dengan tawuran, meski sesekali saya terseret dengan gelombang massa yang kadang ke kiri kadang ke kanan. Tubuh saya kecil. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengikuti arus. Tapi mata ini seperti tak hendak berkedip menyaksikan atraksi Ita Purnamasari di atas panggung. Telinga saya merekam lagu lagu yang terlantun dengan manisnya. Itulah awal perkenalan saya dengan lagu lagu Slow Rock era sembilan puluhan. Kalender masih menunjukkan angka tahun 1992.

11.4.12

Bahasa Kenangan

11.4.12
Sulami, nama itu tertera di KTP yang berlaku seumur hidup. Dan memang demikian adanya, namanya memang Sulami. Yang layak dipertanyakan adalah tanggal lahirnya, apakah benar? Karena sejauh yang saya tahu, dia tidak pernah mengerti tentang hari lahirnya. Ya saya tahu, karena yang saya ceritakan ini adalah Almarhumah Nenek saya.

Semasa hidupnya, Nenek menjalani perannya di dunia ini sebagai seorang penjual rujak. Terlihat jelas bahwa dia sangat menikmatinya. Bangun pagi, kulak ke Pasar Tanjung Jember, kembali lagi, membuka lapak, dan memulai aktivitasnya hingga sore hari. Entah dulu berapa kali Nenek mengajak saya ke pasar, saya lupa. Yang saya ingat hanyalah lintasan kenangan. Kepingan itu membentuk sebuah obyek gambar di memori otak, tapi tidak sempurna. Saya hanya bisa mengingat orang orang yang berlalu lalang, senyum beberapa pedagang kenalan nenek, jajanan goder (semacam agar-agar), uang koin seratus rupiah tebal berangka tahun 1978, dan becak yang dipenuhi dengan aneka sayuran. Tahulah saya sekarang, lewat bahasa kenangan, Nenek sedang mengajarkan 'hidup' pada saya.

10.4.12

Ketika Galau Naik Daun

10.4.12
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Online, galau diartikan sebagai berikut : [a] ber.ga.lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Dan menurut pemahaman saya, kata tersebut lebih dekat artinya dengan opsi yang terakhir yaitu kacau tidak keruan. Bahasa sederhananya, gundah gulana serta suasana hati yang tidak menentu.

Kata galau berkembang dan menjadi trend seiring dengan perkembangan jaman. Dalam hal ini adalah perkembangan media dan dunia komunikasi, teristimewa dunia maya (jejaring sosial). Meskipun bukan kata baru, galau semakin sering tampil ke permukaan, sejajar dengan kata kata baru seperti jayus, alay dan lebay.

Dulu ketika saya masih SD, banyak kosakata yang timbul tenggelam, timbul lagi untuk kemudian kembali tenggelam. Yang paling ngetrend adalah kata kata yang digandrungi remaja (di masanya). Contohnya pada kata pek, bopong, sosmodor, do'i, doski, cintrong, keren, koit, mejeng dan masih banyak lagi. Kita tahu, kata kata itu pada akhirnya harus menghadapi sebuah proses bernama hukum alam. Ada yang gugur dan dilupakan ada juga yang bertahan untuk kemudian mewarnai perbendaharaan bahasa kita.

Apakah Galau Menakutkan?

Galau bukanlah kata yang menggambarkan sesesuatu seperti monster yang menyeramkan. Dia disepakati sebagai sebentuk kegelisahan, mengerucut pada kegelisahan jiwa muda (remaja) yang sedang bertumbuh menjadi dewasa. Orang dewasa pun tak luput dari jebakan situasi galau. Tapi hanya pada saat saat tertentu saja, dan saya yakin mereka malu untuk mengakuinya.

Begitulah, gaya remaja dari masa ke masa akan selalu berubah. Adapun hal-hal yang bisa mempengaruhi perubahan corak dan style remaja antara lain : Budaya setempat (dimana remaja tersebut tinggal), figur idola, peristiwa-peristiwa penting yang mewarnai masa keremajaan mereka (peristiwa alam, peristiwa heroik, suasana politik, sampai pada penemuan-penemuan baru di bidang tehnologi).

Galau bukan untuk ditakuti, dihindari dan dimaki. Dia hanya butuh teman dan butuh disikapi. Diredam seperti apapun, mereka tetaplah remaja yang senantiasa mencari celah dan corak untuk menapaki hidup dan jati dirinya. Jika di sekitar anda ada seorang kawan muda yang menuliskan kata 'galau' pada jejaring sosialnya, maka sepertinya dia sedang butuh teman. Dan jika menurut anda definisi kata galau sudah melenceng dari yang seharusnya, maka dia butuh disikapi dengan arif.

Ohya hampir lupa. Sedikit lagi. Jika ada diantara saya dan anda yang sedang merasa galau, maka saatnya nyruput kopi atau wedang jahe. Kalaulah masih galau, jadikan saja itu sebagai energi untuk berkarya, sebagaimana pelukis Vincent Willem van Gogh atau penyair Chairil Anwar yang sukses menjadikan kegalauan hidup sebagai sumber energi. Daaan.. jika masih saja galau, berarti itu adalah saat yang tepat untuk bertamasya hati sambil mengagumi ayat ayat Tuhan yang berceceran.


Catatan

Terinspirasi oleh tulisan Niar Ningrum Ci Luk Baa Syalala Jreng Jreng Jreeeng..

9.4.12

Rumah Sakit DKT Jember

9.4.12
Di tempat saya ada sebuah Rumah Sakit bernama RS. Tingkat III Baladhika Husada. Letaknya di Jalan PB. Sudirman No. 45 Jember. Tepat di pinggir jalan propinsi, dan dekat sekali dengan markas KODIM 0824 Jember. Yang menarik, rumah sakit ini memiliki banyak sebutan. Orang orang yang tinggal di sekitar rumah saya mengenalnya dengan nama DKT (dan saya juga terbiasa menyebutnya begitu). Ada lagi yang menyebutnya sebagai Rumah Sakit Tentara.

Para mahasiswa mempunyai sebutan tersendiri untuk rumah sakit ini. Secara berseloroh, kadang mereka menyebutnya dengan nama RS Tipus dan Hepatitis. Bukan apa apa, setiap kali ada mahasiswa yang sakit Hepatitis atau Tipus, mereka lebih sreg menjalani rawat inap di sini. Saya tidak tahu pasti alasan kenapa banyak mahasiswa yang menjalani rawat inap di DKT (padahal mereka bukan tentara). Mungkin karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari kampus, atau pelayanannya. Entahlah..

No Suntik No Opname

Kemarin malam saya mengantarkan Hana untuk check up di DKT. Oleh Dokter Hana disarankan untuk rawat inap, tapi Hana menolaknya. Saya maklum. Sejak dari rumah, Hana mengajukan dua syarat, no suntik no opname.

7.4.12

Rekreasi

7.4.12
Rekreasi adalah sebuah kata yang disukai banyak orang, saya juga begitu. Mendengarnya, alam bawah sadar kita langsung terbang melayang menuju tempat tempat yang indah. Atau apa saja yang bisa menyenangkan mata, hati dan pikiran.

Inilah pikiran saya ketika masih kecil dulu. Jika ada yang bicara tentang rekreasi, otak saya langsung membuat gambaran yang menyimpul sederhana. Serbet kotak kotak dengan pilihan warna yang beraneka, sebuah kain persegi empat dengan corak indah yang dihamparkan di atas rerumputan, segala jenis peralatan makan plus makanan dan minumannya yang menghias di atas kain tersebut, pemandangan yang indah, juga canda tawa sebuah keluarga. Itulah arti rekreasi menurut seorang RZ Hakim kecil. Entah mendapat gambaran darimana, mungkin saya mendapatkan gambaran tersebut saat melihat serial Little Missy di TVRI.

Ketika beranjak besar, gambaran saya tentang rekreasi masih sama. Bedanya, saya tidak terpenjara lagi dengan secarik kain yang terhampar dan segala macam makanan di atasnya. Kali ini saya menggantinya dengan tenda dom, nasting, pemandangan gunung dan hutan, serta suara suara alam. Anehnya, saya sulit membuang imajinasi tentang serbet kotak kotak (kadang saya menyebutnya sebagai bandana / slayer dapur).

Seindah apapun saya melukiskan kata rekreasi, tetap saja saya melupakan satu hal. Bahwa rekreasi berasal dari bahasa latin yang diawali dengan kata re dan menyambung dengan kata create. Arti yang paling sederhana dari kata rekreasi adalah berkreasi kembali.

Sedangkan kata yang tepat sebagai hidangan pembuka dari kata rekreasi adalah refresh atau refreshing. Refreshing mempunyai arti harfiah, menyegarkan kembali jasmani dan rohani dari pekerjaan dan aktifitas sehari hari. Idealnya, setelah refreshing barulah kita berkreasi kembali.

Sahabat blogger yang saya cintai, selamat menikmati hari libur dan selamat merefresh diri untuk kemudian rekreasi. Salam Lestari..!

6.4.12

Catleya

6.4.12
"Mungki ada di Rumah Sakit Dr. Soebandi Ruang Catleya No. 6."

Itu adalah bunyi sms dari seorang teman, tiga hari yang lalu. Singkat, padat dan informatif. Sayangnya, ada sesuatu yang mengganjal di hati. Apalagi kalau bukan kata Catleya.

Singkat cerita, sayapun segera meluncur ke rumah sakit. Sesampainya di sana saya tidak langsung masuk ke ruang Catleya nomor 6 (dimana Brade Mungki terkapar di ranjang yang bisa dinaik turunkan, dengan selimut zebra khas Rumah Sakit). Saya sibuk bertanya pada kawan yang sudah ada di sana (namanya Mas Bebeh). Apa itu Catleya? Kenapa namanya sangat asing? Yang ditanya nyengir dulu sebelum menjawab.

3.4.12

Cinta Adalah Perbuatan

3.4.12
Ini tentang sebuah novel karangan Mas Tere berjudul Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Novel yang sedap, dengan gaya bahasa yang tidak berbelit belit, dan hari ini selesailah sudah saya melahapnya. Judul tulisan ini pun adalah hasil kutipan dari novel tersebut.

Terus terang saja, saya terpesona dengan sebuah tempat yang menjadi latar belakang kisah asmara antara Borno dan Mei. Dengan apik, Mas Tere bisa mendekatkan pembaca dengan Ibukota Propinsi Kalimantan Barat. Bukan hanya tentang tentang garis khatulistiwanya, bukan pula tentang tugu khatulistiwa. Saat membacanya, saya seakan akan larut dalam gemericik air Sungai Kapuas yang disebabkan oleh laju kapal sepit. Di waktu yang lain, saya seperti sedang ada di tengah tengah etnis Tionghoa, Melayu dan Dayak Iban sang penjaga hutan Kapuas Hulu.

Selama membaca novel tersebut, kadang saya harus memulai lembar bacaan dari paragraf paling atas. Ini semua terjadi karena imajinasi saya berkeliaran kemana mana. Aneh, novel ini membuat saya tidak berhenti memikirkan tentang Kakaakin dan Om Aldy. Jangan tanyakan alasannya, saya sendiri juga tidak tahu. Alasan yang paling logis, mungkin lantaran mereka berdua adalah saudara blogger dari Tanah Borneo.

Cinta Adalah Perbuatan

Kutipan di atas saya dapati di Bab 11 dengan judul bab, Petuah Cinta Ala Pak Tua. Di halaman 166 Pak Tua berkata, "Cinta itu seperti musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti."

2.4.12

Mendung Adalah Waktu tersulit Untuk Menyeberang

2.4.12
Saya tinggal di sebuah rumah yang lokasinya ada di tepi jalan antar kota. Jalan tersebut menghubungkan antara kota Jember dengan kota Bondowoso dan Situbondo. Itu menjadi salah satu alasan kenapa saya suka bertamasya ke tempat yang sepi dan menghindari suara kendaraan bermotor.

Lokasi rumah tersebut mengharuskan saya untuk beradaptasi dengan lingkungan. Salah satunya, saya harus pandai menyeberang jalan. Hmmm, padahal menyeberang jalan adalah sesuatu yang paling saya hindari.

Menyeberang Itu Tidak Gampang

Ya benar. Untuk urusan menyeberang, kita harus berkonsentrasi, mata harus awas melihat kiri kanan, dan harus pandai mempertimbangkan antara jarak dan kecepatan kendaraan yang akan melintas. Jika perhitungan sudah tepat, kita hanya tinggal melangkahkan kaki saja. Lain ceritanya jika di depan rumah kita ada jembatan penyeberangan.

Waktu Tersulit Untuk Menyeberang Jalan

Ada kala dimana jalan begitu lengang dan kita mudah untuk menyeberanginya. Tapi ada juga saat saat tertentu dimana kita kesulitan menyeberang. Contoh paling sederhana adalah ketika pagi hari di jam dan waktu yang sibuk. Itu adalah saat dimana kita sangat tidak ingin melakukan aktifitas menyeberang jalan.

Ada satu lagi, dan saya sudah lama mencermati ini. Saat langit mendung, saat itulah para pengendara tiba tiba mempercepat laju kendaraannya. Tentu saja ini akan menyulitkan bagi para pejalan kaki yang hendak membelah lebar jalan. Butuh konsentrasi ekstra meski hanya sekedar menyeberang jalan.

Begitulah, menyeberang adalah aktivitas sepele yang sangat saya hindari. Jika tidak benar benar penting, saya tidak akan melakukannya.

Sahabat Blogger, bagaimana dengan anda?
acacicu © 2014