30.6.12

Belajar Dari Tari Lahbako : Semoga Tari Tetap Lestari

30.6.12
Bisa dibilang, saya mengenal gerakan tari justru bukan dari para penari tulen, melainkan dari 'budaya pencak' yang marak di kampung. Ya, samar-samar saya masih ingat. Saat itu saya digendong Bapak dan menghadiri sebuah arisan pencak. Kemudian saya bertanya, "Kenapa mereka seperti sedang menari? Kapan tarungnya Pak?" Dan jawaban Bapak (yang sangat berhasil saya ingat) sederhana saja. Karena sejatinya pencak silat adalah sebuah tarian kuno.

Mungkin itu hanya jawaban asal dari Bapak, hanya agar anaknya tidak nyerocos. Tapi pengaruhnya sungguh luar biasa. Kelak saat saya besar, saya tetap memandang seni bela diri hanya sebagai seni tari-tarian saja. Hal ini diperkuat oleh kata-kata dari guru ngaji saya. "Nak, kalau kau ingin menjadi pesilat yang hebat, kuasailah sholat. Itu akan membuatmu menjadi penari yang hebat." Begitu kata guru ngaji saya.

Akhir-akhir ini, dunia tari didominasi oleh tarian modern. Tarian tradisional seperti kehilangan penggemar, tidak populer di mata generasi muda. Padahal disamping gerakannya yang indah, tarian-tarian tradisional juga dapat menceritakan sejarah dan kebudayaan daerahnya. Ada juga yang bahkan bisa menceritakan sejarah bangsanya. Misalnya, tari Polonez, sebuah gerak tari asal Polandia. Tarian ini dari awal sampai akhir menceritakan sejarah bangsanya. Pantas jika oleh warga Polandia, tarian ini mendapat apresiasi yang tinggi.

Bagaimana dengan bangsa kita dalam menghargai sebuah tarian? Hehe..

Syukurlah kita mempunyai negara tetangga (serumpun) yang tidak pernah berhenti mengingatkan kita bahwa warisan budaya itu penting. Sebegitu pentingnya hingga layak di klaim.

29.6.12

Mari Keramas

29.6.12
Ada yang bilang, karakter seseorang bisa dilihat dari rambutnya. Tapi berhubung saya bukan ahli rambut, saya lebih melihatnya pada sisi kebersihan. Maksudnya, bersih tidaknya seseorang bisa dilihat dari rambutnya.

Nah, ngomong-ngomong soal rambut, saya jadi ingat tentang keramas. Kalau ingat keramas jadi ingat Pak De Cholik, ingat BlogCamp, ingat warung blogger, dan ingat para sahabat semua, hehe..

Bahwa keramas itu bersifat menyegarkan, saya sangat sependapat. Kecuali jika dilakukan di dini hari yang dingin. Keramas juga bisa bikin pikiran lebih fresh. Apalagi ketika setelah selesai keramas, ada secangkir kopi menanti. Waaaah.. Itu namanya lembut-lembutnya nikmat.

Tuhan Maha Indah dan Dia Mencintai Keindahan.

Karena Tuhan senang akan keindahan, mari kita berbondong-bondong menuju indah dengan cara sederhana. Diantaranya adalah dengan memuliakan rambut. Dan cara tersederhana untuk memuliakan rambut adalah dengan keramas.

Marimas, mari keramas..

28.6.12

Tulisan Yang Nyar Nglanyar

28.6.12
Semalam, tiba-tiba nama saya dipanggil oleh MC. Saya yang saat itu sedang nyruput kopi kontan kaget. O'ow.. Ternyata saya disuruh maju ke tampil, hehe.. Dengan langkah yang terseret, akhirnya saya ke depan juga. Menyanyikan sebuah lagu di acara FINGER (Kolektif Indie Group Jember) yang bertajuk Sewindu Merindu.

Acara yang keren, dengan tampilan band-band indie yang juga keren. Tempatnya juga tak kalah keren, di Kedai Gubug. Lebih keren lagi, hampir semua yang hadir membawa botol plastik sisa kemasan air mineral.

Kolektif Indie Group Jember


Semua yang serba keren itu mengingatkan saya pada kejadian dua hari yang lalu. Seorang sahabat facebook bernama Primitive Xaxa (Mbak Xaxa) mengabarkan kalau dia ingin menyumbang buku-buku sekolah untuk program PESAN DALAM BOTOL. Singkat cerita, kita janjian untuk ketemuan di sebuah minimarket depan RSD Dr. Soebandi Jember. Setelah pakai acara saling menunjukkan ciri-ciri (hingga warna baju kami masing-masing), beberapa saat kemudian kita pun berjumpa. Dan wow.. Dia kereeeen.. Wajahnya mengingatkan saya pada para bidadari di warung blogger. Syukurlah, saya sudah punya bidadari di rumah, hehe..

Cerita Yang Lain..

27.6.12

Apacapa

27.6.12
Bahwa gunung berwarna biru dan akan selamanya biru, itu adalah persangkaan saya di masa kecil dulu. Bukan tanpa alasan jika saya memiliki pemikiran yang seperti itu.

Saat masih bocah dan ketika saya ingin memandang gunung, saya hanya butuh bangun pagi dan membuka pintu belakang rumah. Disanalah saya menatap birunya Argopuro dari kejauhan. Jadi saya menyimpulkan, gunung itu berwarna biru.

Kelak saya saat saya besar dan akhirnya benar-benar memeluk Argopuro, saya tahu bahwa biru bukan warna sejati dari sebuah gunung. Meski didominasi warna hijau daun, sebenarnyalah sebuah gunung memiliki warna yang banyak.

26.6.12

Teori Darwin Yang Menawan

26.6.12
Ada pertanyaan menarik yang saya dapat dari Kompetisi Blog Mama Cake. Pertanyaannya seputar manusia pertama. Berdasarkan Teori Evolusi Darwin atau Nabi Adam? Hmmm, ini pertanyaan saya sejak SD. Sayang sekali, banyak sekali orang yang mencoba menjawabnya dengan terlebih dahulu mengedepankan ngotot. Kadang juga marah, hehe..

Berkenalan Dengan Darwin

Namanya Charles Robert Darwin. Lahir di Inggris pada 12 Desember 1809. Ia adalah anak kelima dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang dokter yang kaya. Untuk menyenangkan Ayahnya, ia belajar ilmu kedokteran (sebelum akhirnya mempelajari teologi). Namun begitu, Darwin tetap mengembangkan minatnya pada sejarah alam.

Apakah Darwin enjoy dalam mempelajari ilmu kedokteran? Tidak juga. Darwin sangat membenci praktek bedah yang menurutnya sangat brutal (di jaman itu). Akhirnya Darwin kembali menyibukkan diri dengan sejarah alam, sesuatu yang selama ini sangat ia sukai .

Ayahnya yang kecewa dengan ketidak gairahan Darwin pada dunia kedokteran, diam-diam mendaftarkan putranya pada program persiapan menjadi pendeta. Begitulah, akhirnya Darwin berkutat dengan dunianya yang baru. Kali ini Darwin menikmatinya, karena dia masih memiliki banyak waktu untuk mempelajari sejarah alam. Darwin bahkan berkelana ke banyak tempat. Menyelidiki berbagai penampilan geologis, fosil dan organisme hidup, dan menjumpai beraneka ragam manusia, baik masyarakat pribumi maupun kolonial.

Karena perjumpaannya dengan berbagai karakter manusia, pantaslah jika akhirnya Darwin memilih untuk anti perbudakan. Darwin menentang konsep ras yang menurutnya lucu. Darwin juga berpendapat bahwa umat manusia tidaklah terlalu jauh dari binatang.

25.6.12

Si Tampan Mencari Cinderella

25.6.12
Pada kesempatan kali ini, saya ingin memperkenalkan seorang kawan yang kerja sebagai pegawai negeri di DISHUB Jember. Di tamasya band, dia ditodong untuk menjadi manajer-manajeran.

Achmad Bachtiar, itu dia nama asli sahabat saya. Kalau di lingkungan rumahnya, dia dipanggil Tiar. Tapi nama kerennya Bebeh. Baik hati, tidak sombong, tampan, sedikit botak :), dan saat ini sedang bersaing dengan Lozz Akbar untuk cepet-cepetan cari jodoh.

Haha.. Malah ngelantur. Padahal saya cuma pengen memperkenalkan Bebeh dengan para sahabat blogger. Yang kedua, ingin mengucapkan selamat hari lahir.

Selamat meniup lilin kehidupan ya Sam Bebeh..


Salam Lestari...!


22.6.12

Ketika Botol Mulai Dikumpulkan

22.6.12
Alhamdulillah, rangkaian acara Blogger Hibah Sejuta Buku fase keempat di kota kecil Jember sudah melewati setengah perjalanan dari waktu yang ditentukan. Dimulai pada 5 Juni 2012, berakhir pada 5 Juli untuk batas penggalangan botol, 6 Juli packing, dan 7 Juli 2012 untuk acara penutupan, dengan format musik amal.

Ahaha.. saya jadi ingat dengan tulisan saya di catatan facebook yang berjudul Gerakan Sejuta Botol. Begitu juga dengan tulisan saya di acacicu yang berjudul Pesan Dalam Botol : Dari Jember Untuk Indonesia. Kawan-kawan tamasya bilang, dua judul tersebut terlalu wow dan terlalu lancip. Sangat kurang membumi apabila dijadikan tema acara penggalangan buku. Akhirnya disepakatilah tema sederhana, Pesan Dalam Botol. Tidak ruwet dan sudah akrab di telinga. Kita hanya tinggal mempopulerkannya kembali.

PESAN DALAM BOTOL

21.6.12

Dirgahayu Api Kecil

21.6.12
21 Juni 2012..

Sudah berhari hari aku menantinya. Dan kini, ketika saatnya telah tiba, aku justru kebingungan. Padahal aku hanya ingin menuliskan sesuatu padamu. Sederet kata tersederhana sekalipun. Kenapa tiba-tiba semuanya menjadi sulit?

Menguaplah sudah segala hal yang telah aku rencanakan. Kata demi kata yang kemarin berkelebat di ruang imajiner, kini lenyap entah kemana.

Prit..

Tadinya aku ingin menuliskan kisah pertama kali kita berjumpa yang entah tanggal berapa (sesungguhnya aku tidak peduli tanggal berapakah itu). Waktu itu aku sedang membuat api unggun di pelataran SWAPENKA. Sudah, itu saja yang aku ingat. Sangat sederhana. Mengingatkan bahwa kita bukanlah pasangan yang memulai kisah dari desiran pertama.

Selanjutnya, aku juga hendak mengicaukan mimpi-mimpi kecilku yang selalu berpindah pindah. Akan kuceritakan juga padamu tentang sebuah tanya sedari bocah yang kupelihara hingga tumbuh besar.

Tentang kemana perginya api setelah ditiup?

Itu adalah pertanyaan yang melegenda. Kelak saat aku besar, baru kumengerti jika api ditiup, dia tidak pergi kemana mana melainkan selesai. Ya, usailah sudah tugasnya menjadi api. Untuk memanggilnya kembali, kita hanya butuh memunculkan gesekan antar benda yang berada dalam udara. Bahan bakar, oksigen (zat asam arang) dan sumber panas, benda-benda itulah yang kita butuhkan.

Apikecil..

Andai kau tahu betapa inginnya aku menjadi bahan bakar dan atau zat asam arang bagimu, agar kau tetap menjadi sumber panas. Begitu seterusnya hingga kau dan aku menua dan selesai. Alangkah indahnya menjadi cahaya.

Hanna..

Aku telah mencoba sekuat tenaga menuliskan sesuatu padamu, dan aku gagal. Maaf ya.. Sebagai gantinya, kupersembahkan padamu sebuah lagu.

SEBUAH LAGU :

- SEBUAH LAGU -

Aku hanya ingin kita
Tinggal di desa dan tua bersama
Sekecil apapun rumah kita
Aku jadikan seluas cinta

Sesekali engkau dan aku
Berkelana dan bertamasya hati
Setua apapun kita nanti
Tetaplah pada Salam Lestari

Reff :

Akan aku habiskan sisa usia ini
Hanya untuk menemani
Menemani dirimu hingga ujung hidupku
Hanya untuk menemanimu...


Sedikit Tambahan

Maaf, masih hanya berupa lirik, belum direcord.

Selamat hari lahir ya sayang, jiahahaaa ...


20.6.12

Alkisah Hujan Semalam

20.6.12
Semalam kota kecil Jember terbasahi hujan. Hanya rintik saja, tapi cukuplah membuat para pencinta puisi Sapardi Djoko Damono tersenyum karenanya. Hujan Bulan Juni, itu adalah puisi beliau yang ditulis tahun 1989. Apakah saya turut menikmati puisinya? Sayangnya saya tidak sempat.

Sebelum hujan semalam, kota kecil ini dicengkeram oleh dingin. Orang-orang bilang, akan terjadi nemor. Anda tahu apa itu nemor? Itu bukan nama sejenis makanan. Nemor adalah ketika daun mulai meranggas demi menghemat bergalon galon air, ketika air sungai bedadung mulai surut, dan ketika hewan kalaruweh bernyanyi. Orang biasa menyebut kalaruweh dengan sebutan garengpung atau tonggeret. Sedang bahasa latinnya adalah cicada.

Ya benar, nemor adalah nama lain dari musim kemarau.

Satu persatu kekebalan tubuh orang-orang di sekitar saya mulai runtuh. Begitu juga dengan saya sendiri. Perubahan cuaca menuju nemor menyebabkan kami harus siaga. Banyak gerak dan banyak menggelontor tubuh ini dengan air putih. Itu yang biasa orang-orang lakukan untuk menghadapi pancaroba.

Mula-mula Prit yang sakit, lalu Mungki. Kemudian menular pada keluarga tamasya yang lain. Adek saya di pencinta alam juga tersungkur oleh pergantian musim. Namanya Mega tapi biasa dipanggil Pasir. Pada 16 Juni yang lalu terpaksa dia dilarikan ke RS DKT. Malam harinya, di hari yang sama, tamasya tampil berdendang. Hampir semua dari kami ada di kondisi imun yang lemah. Sambutan dari para keluarga tamasya yang begitu bersahabat, itulah yang menjadikan kami tampil all out.

Sesaat setelah turun dari panggung, bersama Prit, saya bersegera meluncur menuju rumah sakit untuk menjenguk Pasir. Sesampainya di sana, Pasir sudah tidur. Ingin rasanya saya berlama lama di sana, turut berjaga jaga barangkali Pasir butuh sesuatu. Tapi demi melihat wajah Prit yang memucat, rencana tersebut hanya tinggal rencana. Saya segera mengajak Prit kembali pulang, membuatkannya minuman hangat, untuk kemudian tidur. Kami bahkan tidak sempat membuka amplop putih pemberian panitia.

Kemarin malam, saya menemani Pasir di RS DKT sampai pukul dua dini hari. Pulangnya, saya mendapati Prit duduk di ruang depan dengan dengan wajah yang kembali pucat. Aneh, padahal tadi dia sedang OL dan berhaha hihi di jejaring sosial. Ketika saya tanya apakah dia kembali nggak enak badan, eh ternyata tidak. Prit hanya sedang dilanda sindrom takut di rumah sendirian.


Semalam kota kecil Jember terbasahi hujan. Rintiknya membawa kabar bahagia.. 

Adek saya Pasir sudah melakukan proses administrasi dan segera kembali pulang. Kemudian otak saya cepat berpikir, hendak menanyakan bagaimana dan siapa yang mengurusi keuangannya. Namun sebelum saya sempat menanyakan itu lebih lanjut, ada kabar baru yang berkebalikan. Kabar ini datang dari Syandana Aldin Wijaya, keponakan saya yang masih berusia 36 hari. Oleh Kakak saya, Aldin dilarikan ke rumah sakit lantaran kekurangan cairan. Ah, saya tidak bisa membayangkan bagaimana cara kerja jarum suntik infus pada bocah semuda Aldin.

Saya sudah packing peralatan tidur dan bersiap meluncur ke rumah sakit. Kali ini bukan RS DKT, melainkan RSD Dr. Soebandi. Sepeda motor sudah siap, kontak sudah ada di tangan saya. Ketika itulah Prit berlari ke arah timba, meraihnya, untuk kemudian mengeluarkan apa yang ada di dalam perut. Ah, Prit sedang sakit dan saya ingin ada di sampingnya.

Alkisah Hujan Semalam..

Hujan semalam memang hanya rintik, tapi saya akan berusaha keras mengingatnya. Itu semua tidak lain karena hujan semalam mengajarkan pada saya tentang bagaimana menjadi seorang suami bagi Prit, paman bagi Aldin, sekaligus sahabat yang baik untuk teman dan adik-adiknya.

Dulu ketika saya masih belum lagi menikah, tidak pernah terlintas sedikitpun di pikiran saya tentang seorang laki-laki yang pergi ke sebuah toko hanya untuk membeli (maaf) pembalut bagi istrinya. Saya melakukannya. Dan sungguh, itu sama sekali bukan sesuatu yang menyebalkan. Hmmm, ternyata menjadi suami itu keren.

Sudah pernah saya ceritakan bahwa saya hanya dua bersaudara, bersama kakak perempuan saya. Dan Aldin adalah keponakan saya yang pertama. Dimata saya, Aldin adalah sebuah buku yang tebal. Kehadirannya memaksa saya untuk menatap sekitar. Teristimewa, menatap Mas ipar saya perihal bagaimana menjadi Bapak.

Mungki, dia adalah salah satu dari beberapa sahabat yang Tuhan kirimkan untuk saya. Dilihat dari segi usia, Mungki adalah figur kakak. Dan entah disadari atau tidak, dia melakukan itu untuk saya, sudah sejak lama sekali. Dulu, ketika saya melakukan kenakalan kecil dan terlibat komunikasi fisik dengan seseorang, Mungki ada di samping saya. Masih banyak hal yang dia lakukan untuk saya, dan itu semua sangat panjang. Seperti sebuah novel yang tidak pernah selesai.

Ketika berbicara tentang tamasya band, saya juga terngiang kata-kata Mungki. Dia bilang, "Kita tidak salah hanya karena kita memilih jalur indie." Dan inilah saya sekarang. Seorang lelaki tak seberapa tampan yang sedang belajar menjadi suami yang baik, paman yang baik, sahabat yang baik bagi teman dan adik-adiknya.


Tentang hujan semalam..

Saya seperti sedang diingatkan banyak hal. Pun tentang ajakan saya pada rekan-rekan Jember seputar program PESAN DALAM BOTOL. Saya sungguh bersyukur dikelilingi oleh teman yang hebat. Ya, mereka hebat. Mereka melakukan penggalangan botol dengan berbagai cara. Kabar tentang harga botol yang rendah (di Jember) tidak membuat semuanya patah arang. Mereka bilang, serendah apapun asal bisa dijual dan bermanfaat, mari kita lakukan.

Lalu saya ingat pesan salah seorang dari mereka.

"Kita bukan pembangkit semangat bagi mereka yang minim fasilitas di bidang pendidikan. Sejatinya, kita sedang membangkitkan semangat kita sendiri untuk bersegera bahu membahu dan tidak lelah menjadi orang Indonesia. Jadi Mas Hakim, tidak perlulah kita berkoar koar tentang betapa pentingnya pendidikan karena semua orang tahu itu. Mari kita kumpulkan saja botol-botol ini."

Ah.. saya terpaku.

Alkisah hujan semalam, tiba-tiba saya merindukan senyum Aldin.

Sahabat blogger, terima kasih sudah mau membaca tulisan panjang yang meloncat loncat ini. Saya mau ke rumah sakit dulu. Doa saya untuk anda semua, semoga senantiasa sehat, Amin.

18.6.12

Pesan Dalam Botol

18.6.12
Pesan Dalam Botol

Kalau menurut om wiki, yang dimaksud dengan pesan dalam botol adalah cara berkomunikasi dengan memasukkan pesan tertulis di dalam wadah botol (gelas atau plastik) dan membuangnya ke laut. Berharap botol tersebut mengapung jauh lalu ada orang yang memungutnya dan membaca pesan dalam botol.

Katanya lagi, dalam bahasa Inggris, istilah "message in a bottle" mengacu pada pesan yang ditulis tapi tidak ditujukan kepada orang tertentu atau siapa yang akan membacanya belum diketahui. Medianya juga tidak harus botol. Bisa menggunakan balon udara, sebuah tong, dan lain-lain.

Dari berbagai tulisan yang saya telusuri di mesin pencari, tema seputar 'pesan dalam botol' merujuk pada kekuatan imajinasi. Saya menemui sejumlah kisah persahabatan yang dimulai dengan cara tak biasa ini, dan itu nyata. Wow.. Pantaslah bila ada banyak karya seni yang terinspirasi dengan pesan in the botol. Baik itu berupa lagu, novel, maupun film.

Memang, secara naluriah kita suka dengan kejutan yang manis. Barangkali gagasan awal pesan dalam botol berangkat dari titik ini.

Dilihat dari wadah dan sifatnya yang mengapung, botol memang terlihat pas bila ditempatkan di lautan. Apalagi jika didukung dengan kondisi tutup botol yang prima. Apa saja yang mengapung di lautan akan mengikuti hukum sederhana, yaitu arah angin dan arus laut. Diharapkan, botol akan mengikuti arah angin dan arus laut sejauh jauhnya sebelum akhirnya terdampar entah dimana.

Hebat, saya salut dengan pengusung ide imajinatif ini.

Setelah menuliskan ini, tiba-tiba saya pengen membuat kapsul waktu dengan media botol bekas air mineral. Saya ingin menulis sesuatu di secarik kertas, lalu melipat dan memasukkannya ke dalam botol untuk kemudian menutup botol rapat-rapat. Selanjutnya, meraih cangkul dan membuat lubang. Di sanalah PESAN DALAM BOTOL akan saya pendam, untuk kemudian saya buka dan baca, suatu hari nanti. Itung-itung, menghadiahi diri sendiri dengan kejutan manis.

Hmmm.. Tapi apa yang akan saya tuliskan di sana? Haha.. entahlah.

17.6.12

Semalam di Akasia

17.6.12
Ini tentang semalam, saat kota kecil Jember sedang dilanda gemerlap acara. Ada JCC | Jember City Carnival, pesta kembang api, even musik di lebih dari satu titik, pameran seni rupa, pagelaran musik, dan beberapa lagi. Sementara itu di sudut aula Fakultas Hukum Universitas Jember, ada acara Dies Natalis IMPA AKASIA FHUJ yang ke 29. Nah, di sinilah tamasya juga turut berdendang, diantara saudara-saudara pencinta alam.

Acaranya memang sederhana, dengan peralatan musik dan juga sound system yang juga sederhana. Itu sama sekali tidak menjadikan masalah. Tamasya Band memang sudah terbiasa membuat acara dan atau tampil di acara dengan space yang kecil. Sungguh, itu adalah kebahagiaan kecil. Lebih bahagia lagi jika kita bisa membuat space acara sendiri dengan biaya mandiri. Yang menjadi masalah tidak lain karena jarak antara panggung Armada Band dengan Aula tempat tamasya bermain sangatlah dekat. Hanya berbatas tembok saja (mereka bermain di stadion Universitas Jember dengan tata panggung yang hebat).

Tapi Alhamdulillah.. Saat tamasya berdendang, kawan-kawan merapat, mendekat, dan bernyanyi bersama. Ini bukan hanya manis, bukan pula hanya sekedar mesra, tapi juga bisa menjadi peredam alami. Indahnya..

Seusai tamasya bernyanyi dan saat kami pulang, di luar sana masih ramai. Untuk keluar dari gedung Universitas Jember, harus melewati beberapa satpam yang sibuk dengan tugasnya. Di sepanjang jalan yang habis dilalui Jember City Carnival, saya lihat beberapa botol tergeletak begitu saja di trotoar . Ingin sekali saya membawanya pulang untuk dijadikan satu dengan botol-botol lain, tapi saya urungkan. Bagaimanapun, botol-botol itu adalah hak para pemulung. Saya mengumpulkan botol dari sumbangan kawan-kawan saja, hehe..

Sesampainya di rumah, Prit membuatkan kopi untuk saya. Hmmm, kasihan Prit. Wajahnya manyun gara-gara mendengar kabar kekasihnya pulang. Itu lho, si Dion Indonesian IDOL. Syukurlah, ketika saya menyarankan Prit untuk tidur duluan, dia manut. Yeah, siapa tahu bisa mimpi ketemu Dion di dimensi mimpi.

Oke lanjut.. Sedikit lagi..

Saat sendiri dan berteman kopi itulah saya merenung. Betapa hebatnya Tuhan dalam membagi rejeki untuk mahluk-Nya. Diantara begitu banyak even besar, Tuhan masih menyediakan penonton yang cukup untuk tamasya. Logikanya, semua berbondong bondong menonton JCC atau ARMADA karena keduanya memiliki wadah yang besar untuk menampung rejeki. Ah, sekarang saya tahu mengapa rejeki dikatakan sebagai rahasia Tuhan. Karena memang tidak bisa dilogikakan secara rinci. Kita hanya ditugaskan untuk ihtiar, berdoa dan berusaha.

Sebagai penutup, saya mau mengucapkan terima kasih atas doa dari sahabat blogger. Terlebih buat Om NH yang telah memberi semangat di facebook saya. Makasih ya Om, komentarnya saya jadikan penutup tulisan ini. Salam Lestari...!!!

Jangan Patah Semangat Tamasya ... tetaplah bernyanyi ... apapun yang terjadi ...


15.6.12

Cara Merangkul Rejeki

15.6.12
Membaca artikel Pak De Cholik tentang Rejeki Rayloro, ingatan kita seputar rejeki seakan disegarkan kembali. Masih dengan gaya bahasa yang renyah dan mudah dipahami, Pak De berhasil menyuguhkan pesan moral dengan manis. Ibarat seorang istri solehah yang menyuguhkan secangkir kopi pada suaminya.

Dikisahkan disana tentang seorang tokoh bernama Rayloro sedang menyemarakkan acara ManMaks (mancing dan makan-makan) yang diselenggarakan oleh Pak Gondo Maruto, seorang Lurah / Kades tembang Setaman. Di acara tersebut, hadir juga para staf Pak Gondo. Diantaranya adalah Abah Abu, Modin Desa kembang Setaman.

Dalam waktu setengah jam, pancing Pak Kades sudah berhasil menggaet beberapa ekor ikan. Hal serupa tidak dialami oleh Rayloro. Wajah Rayloro mulai terlihat sengak, tidak bersahabat. Dia mulai mencari cari kesalahan. Tak lama kemudian, Rayloro berinisiatif untuk menukar pancingnya dengan pancing milik Pak Kades. Pak Kades yang memang dekat dengan bawahannya itupun setuju.

Detik terus melaju, acara memancing masih berlanjut. Meskipun pancing sudah ditukar, nasib Pak Gondo tetap mujur. Rayloro mulai gelisah. Ujung kailnya tetap tidak digubris oleh ikan-ikan. Ketika Rayloro ada di ujung gelisah itulah, terdengar suara Abah Abu yang duduk tak jauh dari Rayloro dan Pak Gondo.

"Yo sabar tho. Jika Pak Rayloro usaha lebih giat lagi Insya Allah ikan akan datang"

Tulisan Pak De lebih dipertegas lagi dengan adanya dua Hadist Riwayat di penghujung tulisan. Sangat terasa jika tulisan ini disengajakan untuk memberi secercah pencerahan tanpa ada kesan menggurui.

Saya mempunyai gambaran sederhana mengenai rejeki

12.6.12

Bulan Untuk Matahari

12.6.12
Junilah sekarang, dan saya tak lagi tidur. Lalu apa?

Saya kembali teringat akan artikel kosong berjudul "Bangunkan Aku di Bulan Juni." Ya ya, kini Juni sudah ada dalam pelukan. Dan? Apa yang hendak saya lakukan? Apakah saya akan segera packing untuk kemudian menyongsong datangnya musim semi Indonesia? Hmmm.. menarik. Juni adalah bulan yang dinanti oleh begitu banyak para pendaki, hingga bulan selanjutnya. Siapa yang tak jatuh cinta pada bakal kuncup edelweiss? Tapi bukan itu yang hendak saya lakukan.

Saya sedang menanti datangnya 21 Juni 2012..

Pada Mei yang lalu, saya diberondong kebahagiaan. Kakak perempuan saya dianugerahi titipan oleh Yang Maha Kuasa. Tentu saja saya bahagia, dia adalah saudara kandung satu-satunya. Syandana Aldin Wijaya, itu dia nama keponakan saya. Senangnya saat saya diberi peran untuk mengukir sebuah doa pada nama si kecil.

Pada Mei yang lalu, saya tidur di dunia maya dan berkarya di dunia nyata. Saya bernyanyi, berdansa, dan bersenang-senang dengan cara tersederhana.

11.6.12

Latah Adalah Budaya Paling Indonesia

11.6.12
Tadinya saya ingin menulis tema seputar korupsi, sebagai sesuatu yang paling Indonesia. Kemudian saya berpikir, apa yang melatar belakangi adanya korupsi? Apakah hanya karena faktor kesempatan? Apakah karena keterdesakan? Atau jangan-jangan, ini hanya masalah mental saja. Pemikiran sederhana itu mengantarkan saya pada latahisme (ini istilah saya sendiri, hehe). Ya benar, latah telah membudaya. Satu orang melakukan korupsi dan sukses, yang lain seolah olah berkata, "kita juga bisa melakukannya." Maka tumbuh suburlah budaya korupsi berjamaah.

Sebelum saya menulis lebih jauh tentang latah, mari kita satu kesepemahaman dulu. Bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan (dan apalagi memperolok) siapapun individu yang latah. Yang ingin saya angkat adalah gejala secara umum dan bersifat negatif. Kalau melihat orang berprestasi dan kita latah untuk mengikuti jejaknya, itu beda cerita. Itu namanya terinspirasi, bukan latah, hehe..

Apa sih sebenarnya latah itu?

7.6.12

Mari Melakukan Perjalanan

7.6.12
Sesaat sebelum menuliskan ini, saya habis melahap sebuah buku tipis yang bertutur tentang kisah para touring cyclist. Banyak tokoh pesepeda jarak jauh yang dikisahkan di sana. Mulai dari Daisuke Nakanishi, seorang pesepeda touring asal Osaka - Jepang, Alvaro Neil, pria asal Spanyol yang juga sempat singgah ke Indonesia, Denizart Simoes, pesepeda asal Brasil yang memulai kayuhannya demi menghentikan kebiasaan merokok, hingga cerita tentang Teguh Pujo Budisantoso, pesepeda asal Jember yang pernah menderita stroke. Cerita yang lain lebih banyak di dominasi oleh para pesepeda yang melakukan perjalanan untuk naik haji.

Kisah di atas mengingatkan saya pada seseorang yang pernah saya temui di alun-alun kota Jember. Saya lupa namanya. Yang saya ingat, saat itu dia tidak sendirian, tapi sudah ditemani oleh beberapa kawan pencinta alam Jember. Kemudian kita pun terlibat pembicaraan yang hangat lagi bersahabat. Saat saya bertanya padanya, adakah keinginan untuk berkeliling dunia? Dia menggeleng sambil berkata, "Impian saya tidak sebesar itu. Saya hanya ingin mencumbui nusantara saja, untuk kemudian menetap di suatu tempat dan hidup normal selayaknya manusia yang lain."

Dalam cerita yang lebih lawas lagi, kita akan mendapati kekaguman pada orang-orang yang senang melakukan perjalanan, atau setidaknya pernah melakukan perjalanan hebat sekali seumur hidup. Nabi Adam pernah memberi tauladan ketika dia harus memutari dunia demi mencari Hawa. Dan bagi yang sekeyakinan dengan saya, mungkin anda juga sudah mengerti makna yang tersirat dalam QS. Al-Jumuah : 10. “Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Seorang teman bernama Nuran, dalam blognya pernah menuliskan quote seperti ini. Kalau mau jadi penulis yang baik, berkelanalah ke tempat yang jauh dan tulislah pengalamanmu. Hmmmm, tak terbantahkan.. Melakukan perjalanan itu memang penting. Dengan sesekali melakukan perjalanan, setidaknya kita akan mengerti bahwa hidup tak hanya sekedar melakukan aktifitas pada umumnya.

Sahabat blogger, sebelum tulisan ini saya tutup dengan kalimat "Mari Melakukan Perjalanan", alangkah baiknya jika kita menyepakati dulu, bahwa yang namanya perjalanan adalah ketika kita telah melangkah, ketika kaki-kaki kita telah berayun menuju suatu tempat. Semoga kita tidak terjebak dengan kata "JAUH" karena itu adalah penjara yang seringkali menyebabkan kita (pada akhirnya) tidak pernah kemana mana.

Mari Melakukan Perjalanan..


5.6.12

Pesan Dalam Botol : Dari Jember Untuk Indonesia

5.6.12
Gerakan sejuta (berjuta) botol. Hmmm... terdengar sangat bombastis. Seandainya saat menuliskannya saya menemukan pilihan kata yang lebih sederhana, pastilah akan saya gunakan. Tapi yah, inilah saya dengan segala keterbatasannya.

Kembali tentang gerakan sejuta botol yang dilakukan oleh kawan-kawan Jember untuk support acara Blogger Hibah Sejuta Buku Fase Empat. Rasanya gimanaaa.. gitu. Kadang saya bertanya pada diri sendiri, apakah ini mungkin? Apakah bisa terlaksana? Apakah tidak terlalu tergesa dan mengada ada? Tapi kemudian saya ditenangkan oleh secuplik kalimat yang pernah saya tuliskan sendiri di blog ini.

Bahwa sesuatu yang tidak mungkin hanyalah karena belum dicoba.

Untuk menghibur diri dan menjaga semangat, saya selalu mengingat ingat apa yang telah dilakukan oleh Pak Djarwo, mantan Bupati Jember tempo dulu. Dengan semangat gotong royong, beliau berhasil membangun Universitas Jember, Jembatan Mastrip, dan beberapa bangunan sekolah di Jember, dengan cara mengajak masyarakat untuk menyumbangkan botol kosong.

Dalam beberapa hal, saya adalah tipe orang yang memiliki sepasang mata yang mudah sekali berkaca kaca. Seperti tadi, ketika saya membaca tulisan Mbak Anazkia tentang kondisi tiga Sekolah Dasar di Aceh. Padahal itu bukan jenis tulisan sedih. Dan terus terang saja, di kota saya ada beberapa SD yang kondisinya lebih parah dari itu. Bahkan dua minggu yang lalu, ada TV swasta yang meliput sebuah SD di Jember yang melakukan kegiatan belajar mengajarnya tepat di samping WC, dengan kondisi genting bolong dan kursi yang kurang. Jadi, beberapa siswa harus rela berdiri selama kegiatan belajar. Dia berdiri, sementara tangannya bertumpu pada meja. Tapi ada pembeda dasar antara kondisi sekolah di Aceh (pada sekolah yang disebutkan oleh BHSB, yakni : MTs Dayah Nurul Iman, Madrasah Ibtidaiyah Swasta Darussalam dan Sekolah Dasar Negeri Sijuk) dan di Jember. Kalau yang di Jember, jarak sekolah dengan DIKNAS dan beberapa instansi terkait pendidikan, dekat dan dengan akses yang mudah. Tidak demikian dengan yang terjadi di Aceh. Untuk mengetahui kondisi sekolah di Aceh, silahkan baca tulisan Mbak Anazkia di SINI.


Kondisi fisik MTs Dayah Nurul Iman yang ada di kampung Cot Aneuk Batee, Kec. Peusangan Siblah Krueng, Aceh

Bicara tentang pendidikan, saya jadi ingat sebuah sekolah di Gludug, sebuah desa yang ada di Jember. Seorang teman bernama Doni menghabiskan hampir empat tahun mengajar di sana. Saya sendiri hanya beberapa kali berkunjung kesana. Sulit menjelaskan akan sekolah ini. Ada baiknya saya tampilkan saja dua foto tentang sekolah Gludug.



Gambaran sederhana tentang betapa mahalnya biaya pendidikan kita. Eh ada saya numpang eksyen, haha..

Masih tentang pendidikan. Pada sekitar 2005, istri saya (sih..) pernah menjadi sukarelawan (sebagai pengajar) di sebuah MTs di Jember. Setahun lebih dia ngajar di sana. Sayang, pas mau saya ceritakan, si Prit ndak mau. Malu katanya. Padahal saya hanya ingin menyampaikan bahwa banyak sisi pendidikan di negeri ini yang butuh disentuh dan dicinta, dengan apapun yang kita bisa. Sementara kita bisanya hanya mengumpulkan botol, yuk kita lakukan bersama sama. Karena gotong royong itu indah.

Sahabat blogger, sudah dulu ya. Barusan ada tamu yang berkunjung ke rumah saya, sambil bawa botol. Saya mau menemuinya dulu. Kapan-kapan kita sambung lagi. Doakan semoga acara penggalangan botol oleh kawan-kawan Jember bisa terlaksana. Sebagai penutup, akan saya sertakan update status yang tadi saya tulisan di jejaring sosial facebook.

Saudara-saudara sebotol dan setanah air :

Perihal Gerakan Sejuta Botol, dimulai sejak 5 Juni hingga 5 Juli 2012.
Botol bisa dikumpulkan di rumah saya / Panaongan (Jl Slamet Riyadi 135 Patrang)
Selain botol, sumbangan bisa berupa koran bekas, buku bacaan untuk konsumsi usia SD, dan atau uang recehan.
Botol yang terkumpul nantinya akan dijual, hasilnya untuk hal-hal yang bermanfaat (di bidang pendidikan)

Salam Lestari...!!!

3.6.12

Jember Identik Dengan Botol Kosong

3.6.12
Ketika mendengarkan kata botol kosong, pikiran saya langsung menggambarkan seonggok botol yang tak berarti. Dan bila botol itu tak mengalami proses daur ulang, maka usailah sudah manfaatnya. Dia hanya akan menjadi bagian dari sampah, kali ini benar-benar tak berarti. Tapi bagaimana bila botol itu bersatu dengan jumlah ribuan? Cling.. ruang imajinasi dalam otak saya langsung bekerja dan mengirim laporan secara virtual. Uang..!

Hehe.. saya memang punya pengalaman bisnis botol bekas, tapi bukan itu yang hendak saya ceritakan. Ini tentang botol-botol kosong yang sengaja dikumpulkan untuk kemudian dijual lalu hasilnya digunakan untuk membangun kota kecil Jember. Anda tertarik untuk mendengar ceritanya? Mari, akan saya kisahkan.

Jember di Waktu Yang Lalu

Bermula dari obrolan antara saya dan Bapak (dengan tema favorit) seputar Jember tempo dulu, suatu hari di penghujung bulan Mei 2012. Bapak memulai dongengnya dengan menyebut sebuah nama. Pak Djarwo. Ternyata beliau adalah Bupati Jember yang memimpin kota kecil ini sebelum saya mrocot. Nama lengkapnya, R. Soedjarwo. Beliau adalah Bupati keenam yang memimpin Jember di tahun 1957 - 1959. Setelahnya, pengganti beliau adalah Moh. Djojosoemardjo sebagai Bupati ketujuh di tahun 1959 - 1961. Baru setelah Bapak Moh. Djojosoemardjo selesai satu periode, Pak Djarwo kembali memimpin Jember untuk kedua kalinya pada 1961 - 1964.

Melihat cara Bapak menceritakan sosok Pak Djarwo, kentara sekali bila Bapak menyimpan segenggam kekaguman. Aneh, padahal setahu saya, Bupati favorit versi Bapak adalah Abdul Hadi, yang memimpin Jember tepat setelah kepemimpinan Pak Djarwo. Salah satu alasannya adalah karena Pak Abdul Hadi sukses membangun Masjid Al Baitul Amin (pengganti Masjid Jamik lama), dan Bapak senang dengan gaya arsitektus Masjid tersebut. Mungkin menurut Bapak, gaya arsitektur Masjid Al Baitul Amin terkesan mbois. Atau, kesenangan Bapak hanya berangkati dari slogan Pak Abdul Hadi, Ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah. Entahlah. Yang jelas, sebagai putranya, saya terlalu sering mendengar Bapak berkisah tentang masa kepemimpinan Pak Abdul Hadi dan baru kali ini mendengar dongeng tentang Pak Djarwo.

Oke, selesai ngelanturnya. Sekarang kembali pada kisah Bapak tentang masa kepemimpinan Pak Bupati Djarwo. 

Tentang Bumi Tegal Boto Yang terpencil

Kata Bapak, dulu daerah Tegal Boto (yang sekarang jadi bumi kampus UJ) adalah daerah yang tertutup dan dihuni oleh masyarakat pribumi yang (maaf) tingkat pendidikannya minim. Tegal Boto adalah tempatnya para pendekar sekaligus juga sarangnya bromocorah. Akses untuk menuju Tegal Boto hanya bisa dilalui dengan jalan memutar lewat jembatan kembar (saya lebih sreg menyebutnya Gladag Kembar). Akses yang lain hanya bisa ditempuh dengan cara naik gethek (rakit dari bambu yang dibawahnya diberi ban dalam / tong agar bisa mengapung) membelah sungai bedadung.

Inilah Kesaktian Botol Kosong

Nah, ketika masa kepemimpinan Pak Djarwo inilah, dibangun sebuah jembatan dari Pagah (PB. Soedirman) menuju Jalan Mastrip. Awal pembangunannya pada tahun 1961. Jembatan ini baru selesai sempurna pada tahun 1976. Oleh orang-orang Jember yang segenerasi dengan Bapak, jembatan ini dikenal dengan nama jembatan Djarwo atau jembatan botol. Kenapa bisa begitu?

Pak Djarwo menghimbau masyarakat Jember untuk mengumpulkan buah kelapa dan botol bekas. Ada petugas / team tersendiri untuk mengorganisir pengumpulan tersebut. Nah, setelah buah kelapa dan botol bekas terkumpul, kemudian dijual. Hasilnya untuk membangun jembatan tersebut. Pantas saja jika jembatan Mastrip (begitu biasanya saya menyebutnya) dikenal dengan nama jembatan botol.

Apakah hasil penjualan tersebut hanya untuk membangun jembatan? Ternyata tidak. Ada banyak poin yang berhasil dibangun. Tujuan dari pembangunan jembatan itu sendiri adalah untuk membuka akses Tegal Boto agar Kampus Universitas Jember (waktu itu namanya masih Universitas Tawang Alun atau UNITA) bisa berkembang.

Sejarah singkat UNITA

Singkatnya begini. Ada tiga tokoh (yang sekarang patung ketiganya menghiasi doble way UJ) bernama dr R. Achmad, R. Th. Soengedi, dan M. Soerachman. Mereka mempunyai gagasan, adalah penting jika di Jember berdiri sebuah Universitas. Kemudian gagasan tersebut terus diperjuangkan. Hasil perdana dari perjuangan tersebut adalah berdirinya sebuah yayasan bernama Yayasan Tawang Alun. Tujuan yayasan ini sangat jelas, ingin mendirikan sebuah Universitas swasta.

Pada bagian ini, saya bingung menjelaskannya, haha. Pokoknya begini, pada akhirnya berdirilah UNITA. Fakultasnya hanya satu yaitu Fakultas Hukum. Terus maringono, karena UNITA belum mempunyai gedung, proses belajarnya bertempat di Gedung Nasional Indonesia (GNI - Jember) dan di SMP Katholik Putra Jember. Waktu itu (1959) Pak Djarwo diangkat sebagai ketua yayasan UNITA. Mengingat anggaran pemerintah waktu itu terbatas, Pak Djarwo bersama tokoh masyarakat Jember mendirikan Yayasan Pendidikan Kabupaten Jember atau disingkat YPKJ. Melalui YPKJ inilah Pak Djarwo menggali dana dari masyarakat dalam bentuk pengumpulan buah kelapa dan botol kosong, semuanya murni untuk menunjang dunia pendidikan.

Inilah beberapa gedung sekolah yang sempat dibantu oleh YPKJ :

1. Gedung SMA 1 Jember
2. Gedung MAN II, dulunya adalah gedung SGA (Sekolah Guru Agama)
3. Gedung SMPN 11 Jember, dulu adalah gedung SKP
4. Gedung STM Lawas atau sekarang menjadi SMPN 10 Jember
5. SPPMA, nah yang ini deket rumah saya, daerah Patrang
6. Gedung SMEA dan gedung PGA
7. Gedung Asrama Putri di jalan PB. Sudirman

Untuk sejarah singkat UNITA sampai pada beberapa gedung yang dibantu oleh YPKJ, itu bukan bagian dari dongeng Bapak saya, hehe.. Saya mengintipnya di situs milik Kakak-kakak Alumni SMA 1 Jember. Temuan yang tidak sengaja gara-gara mencari data tentang SMA 1 Jember yang katanya Om Andi Partiko W ( berkomentar di jejaring sosial FB), dulunya SMA 1 juga mendapat julukan SMA botol kosong. Julukan yang bertahan lama karena saat itu SMA 1 adalah SMA satu satunya yang ada di Jember, sampai dengan 1979. Sekolah menengah atas yang lain adalah sekolah kejuruan.

Hmmm.. Tidak salah saya memberi judul tulisan ini. Jember memang identik dengan botol kosong (dan juga buah kelapa, dan atau mungkin koran bekas). Inilah Kabupaten yang (setidaknya pernah) benar-benar sangat percaya akan kekuatan kolektifnya, dan bisa berdiri di atas kaki sendiri. Tanpa investor asing dan sakti dalam hal kekuatan otonomi. Terbukti, bangunan gotong royong tersebut awet bahkan hampir semuanya berkembang dan terawat dengan baik. Kata Bapak, ini adalah ciri-ciri gedung yang dibangun dengan uang halal.

Andai saja saya punya kuasa, pastilah saya akan meneruskan gagasan 'botol kosong' tersebut untuk tanah air. Yang pertama kali saya bidik adalah recovery lingkungan seperti yang terjadi di Gunung Pasang. Dan kemudian memodali masyarakat (tetap dengan metode pengumpulan botol secara kolektif) untuk membangun agro wisatanya sendiri. Ups, keceplosan. Padahal itu akan saya tulis di kolom tersendiri. Gini ini kalau sedang berandai andai, hehe.

Dan berhubung saya tidak punya kuasa, saya hanya memiliki sebuah ajakan. Ini berlaku pada masyarakat Jember pada khususnya, masyarakat Indonesia pada istimewanya, dan warga dunia pada spesialnya. Mari kita lestarikan budaya 'botol kosong' dengan cara tetap memelihara jiwa gotong royong.

Salam klinthing-klinthing.. Itu suara botol kosong yang jatuh, hehe..

2.6.12

Karena Kamu Cuma Satu

2.6.12
Karena kamu cuma satu, itu adalah judul dari sebuah lagu milik Naif. Lagu yang sederhana (baik lirik dan iramanya) tapi cukuplah membuat hati dan telinga saya tercuri untuk mendengarnya.

Dan saat ini saya sedang menikmati lagu tersebut sambil kembali membaca postingan Mama Olive yang berjudul Anniversary 1st Dekade. Indah sekali. Apalagi diselingi dengan nyruput kopi.

Mendengar lagu Naif dan membaca tulisan Mama Olive, saya jadi teringat sesuatu. Saya mempunyai gagasan yang berbeda tentang hidup seatap dengan orang yang kita cintai. Gagasan saya adalah bla bla bla dan jreng jreng jreng.. Hehe, pokoknya panjang. Dan dari yang panjang itu, saya menemukan kesimpulannya di tulisan milik Mama Olive.

"Bahwa pernikahan adalah petualangan komunikasi seumur hidup..."

Wew, kalimat yang cantik, secantik Olive.

Inilah enaknya menjadi blogger, kita bisa belajar dari kawan blogger yang lain. Dan hari ini, saya kembali belajar tentang cinta pada keluarga Mama Olive.

Happy Anniversary Po dan Mo. Selamat saling menyempurnakan, dan saling menyanyikan lagu 'Karena kamu cuma satu' hehe..


Karena Kamu Cuma Satu

Kau yang paling setia, kau yang teristimewa
Kau yang aku cinta, cuma engkau saja
Dari semua pria aku yang juara
Dari semua wanita kau yang paling sejiwa

Denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria
Akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka
Denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
Janganlah kau berpaling dariku karena kamu cuma satu untukku

Kau satu-satunya dan tak ada dua
Apalagi tiga, cuma engkau saja


acacicu © 2014