31.7.12

Hanya Kau Yang Membuatku Mak Jleb

31.7.12
Tadinya kupikir hanya anggur yang bisa membuat orang mabuk kepayang. Ternyata tidak. Kehadiranmu lebih berpotensi untuk memporak porandakan hidupku. Kau membuat otak dan mulutku tidak bisa bekerja sama. Ketika aku hendak berkata, "aku mencintaimu", lha kok ndilalah aku malah menanyakan hal-hal sepele. Bertanya tentang ukuran sepatumu lah, tentang nama tetanggamu, dan beberapa pertanyaan menyebalkan lainnya. Sungguh, semua itu sangat tidak penting.

Semua orang tahu, sengatan lebah itu menyakitkan. Ah, tidak juga. Itu semua hanya karena mereka belum mengenalmu, dan belum mengerti apa efek samping dari senyum manismu.

Bahwa senyumanmu bisa menyebabkan kecelakaan, itu benar adanya. Itu terjadi pada suatu hari di jalan jawa kampus UNEJ, saat aku mengayuh BMX. Entah mana yang harus aku salahkan, mobil parkir atau senyum manismu. Yang jelas, menyeruduk mobil dari belakang itu menyakitkan jendraaal..!

Di waktu yang lain, aku pernah mengajakmu jalan-jalan naik motor pinjaman. Lalu kita berhenti di sebuah toko untuk membeli sesuatu. Setelahnya, aku dan kau segera berjalan keluar menuju parkiran motor, tepat di depan toko. Tak jauh dari sana, ada bangku kecil yang cukup untuk dua orang. Aku mengajakmu duduk dulu sebelum melanjutkan jalan-jalan. Ah, andai kau tahu, saat itu aku benar benar lupa motor mana yang aku bawa. Semua terlihat sama. Kau memang mahluk yang sangat menyebalkan, menyulapku menjadi lelaki pelupa stadium terparah.

Waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba kita sudah menikah. Kepada waktu dan detik yang berlalu kita belajar untuk bersikap wajar. Dari semua masalah yang pernah singgah dan menghampiri, ternyata itu dia masalah terbesarnya. Mencintai secara wajar-wajar saja.

Ketika semuanya hampir berhasil, secara tidak terduga kau menghancurkannya dengan satu kalimat pendek. Itu terjadi di sore yang lalu sepulang kita berjualan takjil. Nggak ada hujan nggak ada angin, tiba-tiba kau bertanya, "cantik mana aku dengan Mbak yang tadi beli takjil?"

Yang lebih cantik darimu banyak, sangat banyak. Tapi don't worry, jek kabheter.. Hanya kau yang membuatku mak jleb.


Ibaratnya, aku adalah lokomotif kereta api yang akan membawamu ke stasiun terakhir


Turut menyemarakkan 4 tahun blog milik Mbak Julie


29.7.12

Jleb Moment

29.7.12
Kata Kelor, jleb moment adalah ketika kita ingin gembira tapi dunia mencegahnya. Atau sebaliknya, ketika kita sedang ada di ujung kegalauan, dunia mengajak kita untuk bersenang senang.

Ada banyak contoh situasi jleb moment. Misalnya, ketika anda sedang bersenang senang, tiba-tiba dalam waktu yang bersamaan anda berjumpa dengan orang istimewa dari masa lalu. Atau, ketika mantan pacar anda sedang melangsungkan pernikahan dan anda menjadi fotografer pernikahannya. Contoh lainnya lagi, ketika anda sedang dililit hutang, tiba-tiba kaki anda tersandung tas plastik yang isinya berlembar lembar uang ratusan ribu. Itu adalah suasana yang mak jleb dihati. Kelor bilang, ini namanya jleb moment. 

Sedangkan jleb moment yang saya rasakan adalah tentang yang datang dan yang pergi.

Pada 25 Juli 2012 yang lalu, saya menerima kabar duka. Seorang sahabat bernama Galih meninggal dunia. Esoknya, pada 26 Juli 2012, Nia membawa kabar yang berbeda. Dia melahirkan putra keduanya yang diberi nama Kafka Avicenna Al-Misky. Meskipun sama-sama terjadi pada pukul 07.40 WIB, tapi itu sungguh berbeda. Berbeda hari dan berbeda nuansa.

Galih, Nia dan Prit. Mereka adalah teman satu angkatan di Dewan Kesenian Kampus Fakultas Sastra Universitas Jember. Nia adalah sahabat satu khost dengan Prit, dalam waktu yang sangat lama. Sekitar lima tahunan. Meski satu angkatan, dalam banyak hal Nia selalu tampil sebagai figur Mbak buat Prit. Berbeda dengan Nia, Galih adalah figur Mas buat Prit. Dalam sebuah memoar, Prit pernah menuliskan catatan pendek perihal kepergian Galih.

Jum'at, 27 Juli 2012..

Pagi ini, aku ikhlas melepasmu Mas. Setelah sepanjang hari kemarin berjibaku dengan kesedihan dan kenangan tentang dirimu. Kepergian itu menyesakkan dan menyebalkan. Seperti saat dulu kau meninggalkanku, dan kembali membawa kabar bahwa bukuku kau gadaikan karena tak ada uang untuk membeli bensin. Saat itu kau berjanji untuk menebusnya. Entah siapa yang menebusnya, yang jelas buku itu sudah sampai di tanganku, dan masih kusimpan sampai sekarang. 

Perpisahan itu menyakitkan, menyedihkan dan menyesakkan. Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu di sana. Tersenyumlah padaku meski hanya dalam mimpi. Dengan rambut kriwilmu, dengan kumis dan brewokmu. Udin kecil sekarang sudah besar mas, hehehe.. Ingat Mas, ini semua bukan ungkapan selamat tinggal. Karena kau ada di hidupku, ada di lembaran buku kehidupanku. 

Aku menyayangimu...

Mendengar kabar tentang kepergian Galih, saya terselimuti sedih. Saya juga memiliki beberapa moment dahsyat bersama Galih. Tapi saya tidak bisa lama-lama bersedih. Bagaimanapun, saya harus mengembalikan senyum manis di wajah Prit. Syukurlah, kabar bahagia dari Nia cukup membuat Prit menyunggingkan bibirnya.

Tentang yang datang dan yang pergi, itulah jleb moment yang saya rasakan minggu ini. Bagaimana dengan jleb moment milik anda? Mari kita berbagi kisah di sini. Salam hangat selalu.

26.7.12

Merenung

26.7.12
Ini adalah hari yang sulit untuk dilewati. Dimulai sejak semalam saat menjenguk si Kenzie, buah hati Mungki. Kenzie yang masih kecil, yang belum lagi bisa berjalan, dia harus bersahabat dengan infus. Kenzie mengingatkan saya pada sakitnya Aldin (keponakan saya), sebulan yang lalu.

Saya dan beberapa kawan menemani Mungki ngopi di warung depan RS Bina Sehat Jember. Dari caranya berbicara, dia terlihat tenang. Meski tidak ditampakkan, saya paham akan keresahan hatinya. Seakan dia mengatakan sesuatu untuk saya, "Kelak saat kau ada di posisiku, tenang dan bertahanlah kawan. Karena ini adalah anak tangga yang harus kita lewati.."

Sepulang dari rumah sakit, saya dan Prit meluncur ke rumah Lozz. Jaraknya kurang dari 30 menit naik motor. Itu adalah perjalanan yang tidak direncanakan.

Saat malam telah larut, saya dan Prit pamit pulang. Jalanan sepi, sementara dingin begitu menusuk tulang. Syukurlah, akhirnya saya dan Prit sampai juga di rumah. Meski dingin, Prit masih saja menyempatkan diri membuat secangkir kopi untuk saya.

25.7.12

Berkarya dan Bergembira III

25.7.12
Bumi dan seluruh planet di tata surya bergerak mengelilingi Matahari. Sedangkan matahari sendiri, apakah dia juga bergerak? Ya, matahari juga bergerak. Dia mengelilingi pusat galaksi bima sakti. Di surat Yasin 38 dikatakan, "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.."

Mereka bergerak dan bertasbih. Dengan kata lain, dunia sedang bekerja. Jika mereka berhenti bekerja, maka kisah kehidupan di dunia ini akan selesai. Kesimpulan sementara, bekerja adalah tentang bergerak, agar tercipta harmoni di bawah langit yang sama.

Jantung berdegup, darah mengalir, paru-paru mengambil oksigen dari udara melalui proses pernafasan. Mereka bergerak dengan selaras dan seirama. Mereka melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin. Mereka bekerja. Jika mereka tidak bekerja maka hidup kita akan selesai.

Jadi, bekerja adalah tentang keselarasan hidup. Agar tercipta harmoni yang merdu antara sesama manusia, alam dan Sang Maha Pencipta.

Matahari, bumi dan seluruh jagad raya, mereka bekerja atas nama cinta. Begitu juga dengan onderdil di dalam tubuh kita. Semuanya bergerak menuju cinta Ilahi.

Saya sependapat jika ada yang berkata, “Bekerja lebih dari sekedar mencari uang, bekerja adalah hal yang membuat kita hidup”. Sebab kita hidup, sebab itulah kita harus bekerja.

Waktu bergulir, definisi tentang 'bekerja' mulai bergeser jauh. Mereka bekerja bukan sebab mereka hidup. Mereka bekerja bukan untuk menciptakan harmonisasi. Mereka bekerja bukan atas nama cinta. Mereka bekerja atas sebab yang lain. Tak ada lagi penghargaan terhadap proses, semua mendewakan hasil akhir.

Bekerja adalah bergerak, berkarya dan bergembira. Bekerja adalah tentang setia pada proses, agar tercipta keselarasan hidup dan kemerduan harmoni. Bekerja adalah cinta, begitu seharusnya.

Selamat berkarya dan bergembira..


Penutup

Catatan sebelumnya adalah Berkarya dan bergembira serta Berkarya dan Bergembira II

Semoga anda tidak jenuh dengan trilogi Berkarya dan Bergembira. Serangkaian catatan ini semata mata untuk media pengingat diri saya sendiri. Syukur Alhamdulillah jika catatan sederhana ini juga bermanfaat untuk anda semua.

Terlepas dari itu, tiga catatan 'Berkarya dan Bergembira' saya istimewakan untuk seorang sahabat bernama Lozz Akbar. Selamat hari lahir kawan. Selalu ada doa yang terbaik, seperti saat sedang mendoakan diri sendiri. Salam Lestari...!

Happy Ultah Mas Lozz :

essipus, Happy Ultah Mas Lozz

24.7.12

Berkarya dan Bergembira II

24.7.12
Jika hari ini kita bicara tentang uang, maka sulit terbantahkan bahwa uang sangatlah penting. Tak heran bila ada yang berkata, waktu adalah uang. Saya tidak bisa hidup tanpa uang. Di dunia ini siapa yang tak butuh uang? Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang menuju ke arah yang sama. Jadi kesimpulannya, hidup butuh uang.

Sebelum adanya uang, dikenal sistem barter. Pada masa ini, kehidupan masyarakat masihlah sederhana. Untuk memperoleh barang kebutuhan, dilakukan cara tukar menukar barang. Seorang petani yang butuh ikan, dia akan menawarkan hasil taninya agar memperoleh ikan. Sederhana, terkesan ribet, padahal sebenarnya tidak. Selama mereka melakukannya dengan jujur dan gembira, dan selama saling membutuhkan (tidak saling menipu), maka hidup terus berjalan sebagaimana mestinya.

Masa sebelum dikenal sistem barter adalah masa dimana orang-orang hidup berpindah pindah, hingga belajar untuk menetap. Di masa ini, corak kehidupannya jauh lebih sederhana lagi. Untuk bertahan hidup, mereka harus mengenal alam sekitarnya, sesekali menaklukkan, lalu bersahabat, untuk kemudian menggunakan sumber daya alam sesuai dengan batas kebutuhan. Jika yang mereka butuhkan hanya sepuluh ekor sapi liar misalnya, mereka akan berburu dengan hanya sebatas itu.

Setiap masa memiliki cara tersendiri untuk bergembira. Di waktu yang lalu, biasanya mereka merayakan hidup dengan membuat api unggun, duduk melingkar dan saling berbagi cerita. Setidaknya, mereka akan saling bercerita tentang petualangannya selama berburu, atau hanya kisah sehari hari. Itu adalah suasana kesayangan yang dinanti kehadirannya.

Kembali ke masa kini..

23.7.12

Berkarya dan Bergembira

23.7.12
Seharusnya hidup adalah untuk berkarya dan bergembira. Bergerak dan bersenang senang. Lawan kata dari berkarya dan bergerak adalah diam dan tidak melakukan apa-apa alias tidak bekerja. Jadi definisi dari bekerja adalah berkarya, bergerak, dan terus menerus melakukan sesuatu.

Amalan yang paling dicintai oleh Tuhan adalah amalan yang terus menerus walaupun itu sedikit

Pada dasarnya setiap pekerjaan itu baik. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa ada saja orang baik yang melakukan pekerjaan tidak baik? Itu karena orang tersebut meninggalkan nilai-nilai yang seharusnya dipegang teguh. Nilai yang paling mendasar adalah kejujuran.

Menjadi seorang politisi itu baik. Yang tidak baik adalah meninggalkan nilai-nilai kejujuran. Misalnya, melakukan intrik, manipulasi, hidup atas dasar kepentingan yang sempit, dan masih banyak lagi.

Menjadi seorang pedagang pun baik. Bahkan bisa dikatakan sangat baik. Yang tidak baik adalah ketika dia meninggalkan sisi kearifan dan kejujuran. Hanya sekedar mengingatkan, dulu para pedagang islam diterima dengan baik di bumi nusantara ini, salah satu alasannya adalah karena mereka jujur mengenai timbangan.

Bertani dan mengolah sumber daya alam sesuai dengan batas kebutuhan, itu juga sangat indah. Dunia tani mengajarkan pada kita tentang satu hal. Mengumpulkan dan menebarkan, dan tentang setia pada proses.

Sedih, gundah, resah, gelisah, galau, itu semua adalah lawan kata dari bergembira. Saat kita sedang sedih, kita harus tahu cara mengatasinya. Jika anda jatuh, mari bersegera bangkit, untuk kemudian kembali berdiri dan bernyanyi. Larut dalam kesedihan (dalam waktu yang lama) adalah kerugian tersendiri, karena detik akan tetap berjalan dan tidak akan pernah peduli dengan kesedihan kita.

Seharusnya hidup adalah untuk berkarya dan bergembira. Yang kita butuhkan hanyalah kemauan. Mari kita ingat saja kalimat dari Bob Marley, bahwa tiada yang bisa memerdekakan pikiran kita kecuali kita sendiri.

Selamat berkarya dan bergembira..

Bersambung ke tulisan selanjutnya, Berkarya dan Bergembira II.

21.7.12

Bulan Penuh Kesenangan

21.7.12
Marhaban Ya Ramadhan. Inilah bulan yang penuh kemenangan. Bulan dimana pintu maaf terbuka selebar lebarnya. Kalau istilahnya orang bengkel, ini adalah waktu yang tepat untuk turun mesin, ganti oli dan service luar dalam.

Lalu apa hubungannya bulan penuh kemenangan dengan bulan penuh kesenangan? Hehe, tidak ada. Ini hanyalah istilah saya sendiri.

Sedari kecil saya selalu senang jika ramadhan tiba. Itu artinya akan ada beraneka macam makanan buatan Ibu, musik patrol menjelang sahur, bersepeda pagi di Taman Makam Pahlawan Jember, jalan-jalan sore (dulu saya tidak mengenal istilah ngabuburit, yang ada istilah 'cari malam'), mancing di sungai bedadung, berendam, dan masih banyak lagi. Segalanya tentang bersenang-senang. Bahkan sholat taraweh pun atas dasar kesenangan. Tapi itu dulu, saat saya masih bocah.

19.7.12

Maaf

19.7.12
Bermaaf-maafan memang bisa dilakukan kapan saja. Tidak peduli apakah langit sedang cerah ataukah sedang turun hujan, kita tetap bisa melakukannya. Walaupun tidak bisa dipungkiri, ada saat-saat istimewa dimana kita memang sangat dianjurkan untuk saling bermaaf-maafan. Kalau di agama saya, sangat dianjurkan bermaafan di hari raya fitri.

Nah, mumpung sekarang lagi musim bermaaf-maafan menjelang ramadhan, saya ikutan juga aaah. Sahabat blogger, mohon maaf ya apabila saya pernah ada salah kata, baik di blog acacicu, ketika bewe, atau di jejaring sosial.

Jreeeeng, "Maafkanlah aku jejali dirimu dengan segala kisah sumpah serapahku.." Lho malah nyanyi lagunya slank, hehe..


Kata Almarhumah Ibu saya, orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain, maka dia akan sehat jiwa dan raga. Ketika saya tanya, "Kok bisa?", Ibu hanya tersenyum. Ya, begitulah Ibu saya. Memahami banyak hal tetapi kesulitan untuk memaparkannya. Selayaknya karakter orang-orang di dunia timur. Apalagi orang Indonesia, yang oleh dunia luar pernah mendapat julukan sebagai dunia tua.

Untuk menjelaskan sesuatu yang Ibu pahami secara naluriah, Ibu cukup berkata 'Ora Ilok' dan saya tidak berkutik dibuatnya. Misalnya, ketika saya hendak minum air putih, Ibu selalu mengingatkan agar saya berdoa dulu sebelum menenggaknya. Biar sehat, begitu katanya. Ketika saya melakukan yang sebaliknya, Ibu cukup berkata ora ilok, maka semuanya beres. Saya akan melakukan apa yang memang pantas dilakukan, seperti yang Ibu anjurkan. Itulah Ibu saya dengan segala ilmu ora ilok-nya.

Kita memiliki segala kearifan lokal yang terwariskan secara turun menurun, termasuk diantaranya adalah budaya ngasor dan budaya saling memaafkan. Asal takarannya sesuai, pasti hasilnya akan indah.

Bayangkan, untuk menjadi seperti kita, orang barat harus melakukan riset besar-besaran dengan biaya yang mahal, dokumentasi, disiplin tingkat tinggi, dan segala hal yang sifatnya ngoyo. Pantas saja dulu Columbus kesasar. Maksud hati ingin mencari dunia tua (Indonesia), eh malah menemukan Amerika, suku indian dan tembakaunya.

Gara-gara kita lemah di pendokumentasian, kita jadi tidak tahu bahwa kita sedang hidup di negeri yang keren. Yang kita tahu hanyalah utang, utang dan utang. Padahal kita hanya butuh sedikit sentuhan. Sedikiiiit saja, maka akan semakin kerenlah kita.

Lho lho lho, saya ini nulis apa ya? 

Para sahabat blogger, jika selama ini saya sering ngelantur, dikit-dikit jreng jreng jreng, dan akhir-akhir ini timbul tenggelam di dunia bewe, mohon maaf lahir dan bathin yaaa..

18.7.12

Tribute to BlogCamp

18.7.12

Menurut wikipedia, 18 Juli adalah hari ke 199 dalam kalender gregorian dan atau hari ke 200 dalam tahun kabisat. Angka yang cantik. Dikabarkan juga pada 390 SM (di hari yang sama) ada terjadi perang antara Romawi dan Galia. Orang-orang Galia berhasil memukul mundur sepasukan Romawi. Padahal dari segi jumlah dan peralatan perang, Galia kalah jauh dari Romawi.

Apa arti 18 Juli 2012 bagi sahabat blogger?

Jika yang ditanya adalah warga warung blogger, mereka akan berkata serempak. Bahwa 18 Juli 2012 adalah hari berdirinya BlogCamp yang ketiga. Adakah dari anda yang belum mengenal BlogCamp? Jika memang ada, dan anda ingin mengenalnya lebih dekat, silahkan berkunjung ke www.abdulcholik.com, sebab disanalah BlogCamp berada dan berkisah.

Berdirinya BlogCamp tidak lepas dari peran seorang cowok ganteng asal Palembang - Sumatera Selatan. Deka Handayani, mahasiswa Jurusan Teknik Informatika di sebuah perguruan tinggi di kota Bandung itulah yang membidani kelahiran blog imut ini. Setidaknya itu yang saya baca di postingan perdana BlogCamp.

Arti BlogCamp Buat Saya

Bagi saya, BlogCamp adalah rumah maya yang nyaman untuk disinggahi. Di sana saya seperti menemukan suasana tenteram layaknya kampung orang-orang Galia. Nyaman dan tidak merasa terancam. Sebabnya sederhana saja, karena si empunya BlogCamp memiliki semacam ramuan ajaib. Sama seperti ramuan ajaib yang diminum oleh orang-orang Galia, termasuk diantaranya adalah Asterik dan Obelix.

Siapakah sang peracik ramuan ajaib?

Beliau adalah Bapak Abdul Cholik, tapi lebih akrab dipanggil Pak De. Pak De Cholik adalah seorang purnawirawan AD yang telah mengabdi kepada negara selama 32 tahun. Pensiun bukan berarti Pak De tidak berbuat apa-apa. Lewat kesenangannya menulis, lelaki kelahiran Jombang - Jawa Timur ini melanjutkan pengabdiannya pada nusa bangsa dengan memilih jalan berkarya sebagai seorang blogger.

Ketika saya dan apikecil menikah, Pak De hadir berdua dengan Bu De Ipung. Mana mungkin saya bisa melupakan detik-detik termanis itu? Pak De dan Bu De hadir di saat yang hebat, dengan sebuah pesan yang senantiasa saya ingat. Pesannya simpel. Hanya menginginkan saya dan apikecil rukun dan baik-baik saja. Indah sekali mendengarnya langsung dari beliau.

Dan saat ini Pak De sedang merayakan 3 tahun BlogCamp. Selamat ya Pak De. Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk berkarya, ngemong dan memberi inspirasi. Salam sungkem buat Bu De Ipung, dan orang-orang tercinta di sekitar hidup Pak De.

Sedalam Pak De mencintai mereka, sedalam itu juga saya, prit dan juga sahabat blogger lainnya mencintai Pak De beserta BlogCamp-nya.

Sungkem dari saya dan apikecil di kota kecil Jember

17.7.12

Memerangi Kata Kunci Cerita Anak SMA

17.7.12
Keyword cerita anak SMA memiliki nasib yang buruk di mesin pencari. Sebenarnya bukan kata kunci 'cerita anak SMA' saja yang bernasib buruk. Segala kata kunci seputar anak sekolah memiliki nasib sama. Arahnya ke konotasi negatif. Misalnya, anak SMA (tanpa diawali dengan kata 'cerita'), anak SMP dan mahasiswi.

Seharusnya, kata kunci atau keyword digunakan sebagai kata sakti agar alamat blog kita bisa terdeteksi dan mudah ditemukan di mesin mencari. Itulah kenapa kita harus cerdas dalam menentukan kata kunci sebuah blog.

Pertama kali mengetahui adanya ajakan memerangi kata kunci seputar anak sekolah, saya dapat dari Mas Attayaya pada 2010 yang lalu. Saat itu sahabat blogger sedang ramai memerangi kata kunci anak SMP. Sekarang ada lagi ajakan yang serupa, dari Mama Olive. Kata kunci yang hendak diperangi adalah cerita anak SMA.

Mumpung momentumnya bertepatan dengan datangnya bulan ramadhan, yuk kita saling bergandengan tangan dan memerangi kata kunci yang menghasilkan info negatif.

Cara paling sederhana optimasi keyword di mesin pencari :

1. Sesuai dengan tema dan bersifat ringkas

2. Menyematkan kata kunci di paragraf pertama

3. Tidak menyepelekan judul artikel. Dulu saya juga tidak mengerti ini. Tapi judul sangat berpengaruh terhadap hasil pencarian di google.

4. Percayakan pada konten yang bermanfaat, dan menghindari mental copas.

5. Mempelajari kembali tentang SEO sederhana. Yang standart saja, asal bermanfaat.

14.7.12

My Father Is Forrest Gump

14.7.12
Sebelumnya, saya mau mengucapkan terima kasih buat Lozz Akbar. Di artikel terbarunya yang membahas seputar Tajemtra, ada tertulis note seperti di bawah ini.

Selamat berjuang buat Pak Rohim, ayahanda Masbro sebagai peserta Tajemtra. Ah, andai saja ada waktu, mungkin saya akan bangga menjadi tandem perjalanan anda Bapak. Tapi sungguh sayang, saya bukan lelaki merdeka seperti anda. Maju terus dan tetap semangat Pak Rohim..!

Terima kasih Mas Lozz. Dan ini adalah cerita tentang Tajemtra yang saya dapat dari dongeng orang-orang hebat yang menyertai perjalanan hidup saya. Maaf ya kalau agak panjang, hehe..

My Father Is Forrest Gump..

Hari ini ada yang berbeda, Bapak saya berpartisipasi di acara gerak jalan Tajemtra. Tajemtra adalah kependekan dari Tanggul - Jember Tradisional. Jarak yang harus ditempuh oleh peserta (baik perorangan maupun beregu) kurang lebih 30 kilometer.

Itu adalah jarak yang cukup jauh bagi seorang pejalan yang sudah berumur seperti Bapak. Tapi sedikitpun saya tidak berusaha membujuk Bapak untuk mengurungkan niatnya. Karena saya paham alasan dibalik keikutsertaan beliau di gerak jalan Tajemtra kali ini.

Bapak sedang ingin bernostalgia..

Dulu sekali, ketika saya masih kecil, kakek saya (dari pihak Bapak) senang mengikuti Tajemtra. Setiap tahun dan tidak pernah absen. Kecuali jika mungkin Tajemtra itu sendiri ditiadakan (Tajemtra memang sempat beberapa kali urung dilaksanakan). Kakek senang memamerkan piagam peserta pada saya, sebagai tanda partisipasinya di gerak jalan tersebut.

Kakek adalah seorang lelaki tangguh yang senang mendongeng. Tapi itu tidak gratis. Jika anda adalah cucu dari Kakek saya, dan sangat ingin mendengar kisah-kisahnya, maka anda harus bersiap mencabut ubannya, atau hanya sekedar memijati kedua bahunya. Memang menyebalkan. Tapi itu sebanding dengan kisah yang Kakek tuturkan.

Dari dongeng Kakek, saya berkenalan dengan seorang mantan Bupati Jember bernama Abdul Hadi. Beliau memimpin kota kecil ini selama sebelas tahun. Sejak 1968 hingga 1979. Sebelumnya, jabatan Pak Abdul Hadi adalah Dandim 0824 Jember. Kakek tidak bercerita banyak. Beliau hanya sering mengulang ulang sepenggal kisah, bahwa gerak jalan Tajemtra adalah acara rakyat yang digagas oleh Pak Abdul Hadi. Dan satu lagi, Pak Abdul Hadi adalah pemimpin yang pro pada wong cilik. Pantaslah jika beliau memimpin Jember selama dua periode, dan namanya tetap hidup hingga sekarang.

Kisah-kisah Kakek berhenti seketika di tahun 1993. Saat itu pertengahan ramadhan dan Kakek sedang bertadarrus di musholla STM Negeri Jember (sekarang menjadi SMP 10). Diceritakan bahwa wudhu Kakek terputus. Karena jarak antara musholla dengan rumah Kakek sangat dekat, beliau memilih untuk menyambung wudhu di rumah. Sesampainya di rumah, Nenek mengeluh jika lampu bohlam di ruang warung putus (Almarhumah Nenek saya adalah seorang penjual rujak). Karena khawatir tikus-tikus menyerang membabi buta, Nenek ingin Kakek membetulkan lampu yang putus tersebut. Kakek mengiyakan, tapi terlebih dahulu menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah selesai, Kakek mengabulkan permintaan perempuan keriput buta huruf yang begitu dia cintai.

Tuhan punya maksud lain. Tubuh kakek teraliri sengatan listrik yang waktu itu masih bertegangan 110 volt. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Waktu itu saya beranjak remaja dan saya menangis. Tiba-tiba saya merindukan segala hal yang menyebalkan dari Kakek. Juga tentang kisah-kisah hebatnya selama mengikuti gerak jalan Tajemtra tanpa absen.

Dulu Kakek seorang petualang..

Jalan hidup Kakek begitu sederhana sekaligus begitu menginspirasi. Dia hanyalah seorang pensiunan PJKA. Jabatan terhebatnya adalah sebagai masinis. Kakek lahir dan tumbuh di Sumenep, tamatan SR. Kenekatanlah yang membuatnya bertarung melawan hidup di kota kecil Jember.

Segala hal yang pernah Kakek lakukan, saya juga ingin melakukannya. Dia pernah melakukan petualangan gila Sumenep - Jember di jaman akses transportasi tidak semanja sekarang. Dulu Kakek seorang petualang meski dengan garis-garis petualangan yang terbatas. Saya juga ingin melakukannya karena saya cucunya.

Itulah kenapa saya bisa memahami keinginan Bapak. Bapak hanya sedang ingin bernostalgia. Setua apapun laki-laki, pasti ada sedikit cita untuk ingin menjadi seperti Bapaknya. Bahkan jika memungkinkan, ingin tampil lebih keren lagi, dengan jejak-jejak yang sama.

Cerita tentang kepemimpinan Bupati Abdul Hadi masih berlanjut hingga saya besar. Setiap kali saya ada waktu menemani Bapak, setiap kali berbicara seputar kota kecil Jember, setiap kali itu juga Bapak menyisipkan nama Abdul Hadi di beberapa kisahnya. Bukan hanya tentang Tajemtra. Masih banyak lagi gebrakan Bapak Abdul Hadi untuk kemajuan kota kecil ini.

"Dulu belum ada istilah pencinta alam, yang populer adalah Pramuka. Oleh Pak Bupati, diperintahkan agar di setiap desa memiliki sebuah sanggar untuk mewadahi proses kreatif Pramuka. Lalu para pemuda desa dianjurkan untuk menjadi anggota Pramuka Saka Taruna Bumi. Pusatnya ada di Rambigundam, di gedung lembaga Cadika. Namanya Pramuka Saka Dirgantara.."

Sebelum memerintahkan adanya sanggar Pramuka, Pak Abdul Hadi juga memerintahkan agar semua desa memiliki balai desa yang bagus. Stempel dan perangkat desa lainnya tidak boleh dibawa oleh Kepala Desa, tapi harus ada di kantor balai desa. Kalau cerita yang ini tidak saya dapat dari Bapak, melainkan dari Bapaknya Mas Ananta. Namanya Pak De Bagio. Beliau adalah mantan Humas Universitas Jember.

Pasar Tanjung yang tadinya kumuh dan kurang sehat ditengah kota, dibongkar. Terminal yang mengotori kota di Jalan Samanhudi dipindah ke Gebang dan dibangunkan sebuah terminal yang lebih baik, Beberapa pasar di pojok kota dan di tiap kawedanan juga dibangun sebagai sentra ekonomi rakyat. Kepada masyarakat kecil digulirkan krtedit bernama ”Candak Kulak”.

Itu juga saya ketahui dari Pak De Bagio. Makasih De.

Yang paling sering Bapak ceritakan adalah tentang proses pembangunan Masjid Jamik Al Baitul Amin Jember. Sebelumnya memang sudah ada masjid di tengah-tengah kota. Tapi sudah terlihat tua. Jika direnovasi akan mengurangi sisi sejarahnya. Akhirnya dibangunlah masjid baru, sementara masjid lama dialih fungsikan sebagai kegiatan belajar mengajar.

Bapak Abdul Hadi mengajak warga Jember untuk mennyumbang buah kelapa (yang dikoordinir oleh tiap-tiap kepala desa), untuk kemudian di jual dan hasilnya di sumbangkan pada pembangunan masjid.

Konsepnya mirip dengan penarikan upeti di jaman kerajaan, terkesan memaksa. Ketika hal ini saya utarakan pada Bapak, beliau terkekeh lalu menjelaskan pada saya. Meskipun terkesan sangar oleh latar belakangnya yang militer, tapi Pak Hadi tidak begitu. Dia arif dan dicintai di jamannya.

Gedung Pemda Jember saat ini (di jalan Sudarman, jalan terpendek di jember karena panjangnya hanya dari ujung gedung ke ujung gedung lainnya), itu juga digagas oleh Pak Abdul Hadi. Menurut Bapak, tadinya gedung ini adalah rumah dinas untuk Bupati, mengikuti tata letak kolonial.

Ada yang menarik dari gedung Pemkab Jember. Bila dilihat dari atas, bentuknya menyerupai burung garuda yang sedang mengepakkan kedua sayapnya.

Kembali ke Gerak Jalan Tajemtra

Saat saya menuliskan ini, mungkin Bapak sudah ada di Tanggul, start Tajemtra. Bersiap siap melangkahkan kaki menuju finish. Atau, bisa jadi Bapak sudah berjalan bersama para peserta tajem lainnya.

Saya tidak perlu khawatir. Karena my father is Forrest Gump. Sejak pensiun dari DPU Bina Marga, Bapak memiliki hobi baru. Jalan-jalan. Kadang Bapak memiliki rute jalan kaki yang mencengangkan. Pantaslah jika banyak orang yang mengenalnya.

Ada sebuah kisah. Ketika saya sedang menikmati kopi di sebuah warung (ini warung yang asing buat saya), di sebelah saya ada beberapa lelaki yang sedang berkumpul. Rupanya mereka adalah para penjabel sepeda. Betapa terkejutnya saya, ternyata mereka sedang memperbincangkan tentang seorang lelaki beranjak tua asal desa Patrang, yang rambutnya gondrong memutih, senang berjalan kaki, dan grapyak. Hei, bukankah itu Bapak saya?

Ketika anda ada di posisi saya, mendengarkan celoteh tentang Bapak anda, lalu salah satu dari penceloteh mengatakan Bapak anda gila, apa yang akan anda lakukan? Ya benar, saya juga sama seperti anda, melakukan apa yang memang harus saya lakukan.

Bapak saya baik-baik saja. Dia hanya sedang memberi teladan pada putranya untuk menjalani kemerdekaan hidup dan terbang kemana hati membawa.Dari Bapak saya memetik satu lagi bunga kehidupan. Bahwa orang yang merdeka adalah orang yang tak takut dihina, selama yang dia lakukan benar.

Sampai hari ini, setiap kali ada waktu, Bapak tidak pernah berhenti berdongeng. Mendongengkan kehidupan. Seperti di waktu yang lalu ketika saya bertanya, kenapa di spanduk Tajemtra ada tertulis Mahmudi Cup dan bukannya Tajemtra Cup? Ternyata Mahmudi adalah nama salah seorang peserta tajem. Bapak mengenalnya. Beberapa tahun terakhir, namanya dikenang dan diabadikan sebagai nama piala / Mahmudi Cup. Itu semua karena Mahmudi meninggal dunia pada saat mengikuti gerak jalan Tajemtra.

Ketika saya berkata, Tajemtra hanya membuat macet saja (mengingat jalan yang ditutup adalah jalan propinsi), Bapak memiliki pendapat yang berbeda. "Ini hanya masalah pengaturannya saja", begitu kata Bapak. Saya diam. Karena tidak ada alasan bagi saya untuk membantah argumentasi sederhana dari pensiunan mandor jalan yang istimewa ini.

Ah Bapak.. Bahagianya menjadi putramu. Selamat meramaikan acara gerak jalan Tajemtra ya Pak.

8.7.12

Saatnya Mengucapkan Terima Kasih

8.7.12
Alhamdulillah, akhirnya usai sudah acara musik amal Pesan Dalam Botol. Acara berlangsung lancar, sesuai yang diharapkan. Terima kasih buat para sahabat blogger yang sudah turut serta memberikan dukungan berupa doa dan cinta.

Buat Kang Lozz, Kang Sofyan, Dek Kelor, Adam, dan beberapa blogger Jember lainnya, terima kasih ya atas support dan kehadirannya. Kekhawatiran kita terbayar dengan suansana yang hangat, audiens yang berdatangan, dan doa yang berjatuhan.

Tadinya kita sempat mengernyitkan dahi. Bisakah kita membuat acara di tanggal 7 Juli 2012? Itu adalah saat dimana Jember sedang ramai-ramainya event musik. Belum lagi musim libur akademis. Belum laginya lagi, kita terjebak di dua acara spektakuler. 6 Juli ada acara ngunduh mantu Anang - Ashanty, tanggal delapannya ada JFC. Tapi Alhamdulillah, berkat doa para sahabat, acara penutupan penggalangan botol kosong (pesan dalam botol) bisa terlaksana dengan manis dan sepertinya akan sulit terlupakan.

Terima kasih Blendez dan kawan-kawan


Situasi Panggung di Posko Pesan Dalam Botol Lumajang


Kerja Bakti Pembuatan Panggung di Pelataran MAHADIPA Jember


Para sahabat nyata dan maya, saya mewakili teman-teman yang lain, mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya atas segala doa dan segala dukungannya. Sekali lagi terima kasih.

Salam Botol Kosong...!

7.7.12

Ngunduh Botol

7.7.12
Semalam kota kecil Jember begitu ramai. Jalanan dipenuhi dengan suara kendaraan, layaknya di kota besar. Ada apa ya? Ow, ternyata Jember sedang punya gawe. Ngunduh Mantu Anang - Ashanty.

Sayang sekali, saya dan kawan-kawan tidak bisa menceritakan bagaimana gemerlapnya acara ngunduh mantu tersebut. Semalam kita sedang sibuk ngunduh botol, hehe.

Membuat panggung kecil, angkat-angkat bedhag panggung (yang terdiri dari 6 meja beton), nyetting lampu / lighting, dan mendekorasi ruang out door, untuk mempersiapkan acara nanti malam. Ya, kita sedang akan menggelar acara untuk nanti malam, musik amal. Sekaligus sebagai penutup acara pesan dalam botol, pengumpulan botol kosong sejak 5 Juni 2012.

Diantara jadwal hiburan yang padat dan musim libur untuk kawan-kawan muda yang masih berstatus pelajar / mahasiswa, masih ada saja yang menyediakan waktu, tenaga dan biaya untuk kerja bakti membuat panggung. Terima kasih rek..

Acara musik amal bertajuk pesan dalam botol ini akan diselenggarakan nanti malam, 7 Juli 2012, di pelataran sekretariat pencinta alam MAHADIPA, Fakultas Teknik Universitas Jember.

Band-band yang akan tampil selain tamasya adalah The Penkors, Holiday, Pispot dan Stregoica. Ohya, ada satu lagi ding. Penampilan satu lagu dari Mas Genjur, pegiat seni di Jember. Di luar itu, disediakan sedikit waktu untuk kawan-kawan yang ingin tampil bernyanyi.

Banyak dari kawan-kawan indie yang tadinya akan merapat di pesan dalam botol, urung lantaran Jember sedang banyak acara musik. Ya, semoga kita sama-sama sukses kawan. Seperti yang sering kita suarakan, support your local indie scene..

Membuat panggung sendiri memang melelahkan (meskipun saya sendiri tidak tampil aktif dalam proses kerja bakti, karena ada banyak tugas yang harus dibagi bagi). Ada juga sedikit keresahan. Kemudian saya teringat pesan dari para sahabat blogger. Diantaranya adalah pesan dari Om NH.

Ah, alangkah bahagianya bisa mengenal mereka, orang-orang hebat yang selalu saling menyemangati.

Saya tidak peduli dengan hasil akhir. Saat ini saya hanya ingin menikmati prosesnya. Dan nanti malam, saya akan bersenang senang dan bernyanyi sebaik yang saya bisa. Dan seperti acara sebelumnya (Tribute to Manusela), akan saya perkenalkan para sahabat maya saya pada kawan-kawan saya tercinta di dunia nyata. Meskipun hanya menyebut nama-nama, tapi saya senang melakukannya.

Bunda Yati, Bunda Lily, Mama Olive, Mbak IyHa, Pak De Cholik sekeluarga, Om Necky, Mbak Imelda, Om NH, Duo Bli Budi, Mama Ni Camperenique, Mbak Anazkia (beserta keluarga BHSB), Mama Cal-Vin, Applausr, Uda Vizon, Mbak Julie, dan semuanya tanpa terkecuali, mohon sambung doanya. Dan mohon maaf, belakangan ini saya sama sekali tidak blogwalking.

Salam Botol Kosong :)

3.7.12

Menatap Wajah Pendidikan Indonesia Dari Jember

3.7.12
Di luar sana, orang-orang sedang ramai membicarakan wajah pendidikan di negeri ini. Ada yang diam pasrah pada keadaan, ada pula yang menghujat sesengit sengatan lebah. Semoga saja semua orang memiliki tujuan yang sama. Sama-sama mengkritisi kelemahan sistem pendidikan Indonesia, dan memberitakan hal-hal yang sudah baik agar senantiasa dipertahankan.

Kemudian saya teringat akan pengalaman mengambilkan raport si Citra, anak tetangga, pada 20 Juni 2012 yang lalu.

Si Citra, anak pertama Mbak Bebun, datang ke rumah dengan wajah yang tak kalah sedih. Lalu dia berceloteh tentang raport yang tetap tak bisa diambil gara-gara masih ada tanggungan yang belum terlunasi. Ibunya hanya diam tak bersuara. Oalah, ternyata tadi Mbak Bebun (ibunya Citra) sudah ke sekolah dan mencoba mengambil raport tapi gagal. Pantas saja dia berwajah sedih.

Naluri saya mengatakan, saya harus berbuat sesuatu untuk mereka. Tapi apa? Saya sedang ada pada kondisi keuangan yang buruk. Akhirnya, untuk menghibur Citra, saya menawarkan diri untuk mencoba mengambilkan raportnya.

Begitulah, pada akhirnya saya meluncur ke sekolah Citra. SMKN 3 Jember. Dulu namanya SMKK Jember.

Pertama tama yang saya lakukan adalah menuju ruang kepala sekolah, kemudian menuju ruang TU. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan, oleh salah seorang guru (maaf saya tidak tahu namanya) saya dianjurkan untuk menuju ruang perpustakaan. Melangkahlah saya kesana.

Ow, ternyata di sini sedang berkumpul para wali murid yang bermasalah dengan tunggakan biaya pendidikan. Rata-rata dari mereka tidak menunjukkan wajah yang gembira. Dengan menggunakan hape lawas, iseng saya memotret suasananya.
acacicu © 2014