27.8.12

Tinggal di Desa dan Tua Bersama

27.8.12
Segala yang kau dan aku impikan, semuanya ada di sini. Tentang konsep hidup "tinggal di desa dan tua bersama", itu juga terpampang gamblang di sini, di desa Sumberagung Kecamatan Megaluh, Jombang.

Pakde Cholik dan Bu De Ipung, mereka adalah sepasang kekasih yang seperti tak ingin berhenti menebarkan inspirasi, ibaratnya petani yang sedang menebarkan biji-bijian.

Dimasa tua nanti, aku ingin menikmati pagi dengan secangkir kopi buatanmu, dan sesekali memandang halaman belakang rumah kita. Itu adalah satu diantara beberapa hal sederhana yang ingin aku lakukan, sekiranya Tuhan mengijinkan. Dan kemarin Pakde melakukannya.

Pakde dan pagi hari


Dengan sarungnya yang coklat kotak-kotak, dan dengan tangan kanannya yang malang kerik, Pakde seperti sedang menyusuri perjalanan hidupnya di sehampar pelataran belakang rumah yang berhimpit dengan kolam renang.

Menikmati masa tua bersama orang-orang tercinta, adakah yang lebih indah dari itu?

Menjadikan rumah sebagai persinggahan bagi para pejalan, sanak saudara, teman, dan siapapun yang ingin bernaung barang sejenak, bukankah itu menyejukkan hati? Dan Pakde mencontohkannya kepada kita. Bahkan kisah tentang mangku langgar, itu benar adanya.

Pegang erat tanganku, akan kuajak engkau melangkah melewati setapak yang kiri kanannya berpagar tanaman. Kau dan aku, mari kita menuju ke sebuah rumah mungil di pinggiran kota kecil Jember.

23.8.12

Dirgahayu Pakde Cholik

23.8.12
Pada saat menuliskan ini, saya sedang ada di sebuah kamar yang besar, di kediaman rumah Pak De Cholik, Jombang. Rumah yang berdampingan dengan usaha kolam renang ini tampak begitu asri. Apalagi saya dan Prit datang pukul lima sore. Srengenge senja membuat halaman rumah yang di sebelah kanannya ada mushollanya tersebut tampak lebih cantik.

"Ya Mas, mau cari siapa?", kata seorang lelaki seusia Mas Insan Rabbani (atau lebih muda lagi). Ternyata dia adalah Bapaknya Briga, cucu Pakde yang suka menemani Pakde jalan-jalan di hari minggu.

Lalu begitulah. Keramahan terbentuk dengan sendirinya. Mula-mula Bu De yang nyamperin kita, baru kemudian Pakde. Saya dan Prit langsung dipersilahkan menuju ruang BlogCamp sektor Jombang, hehe.

Terdengar adzan maghrib. Pakde memberi saya sarung pinjaman. Sebenarnya saya juga bawa sarung (sarung pemberian Kak Julie dulu), tapi ada di jok sepeda. Prosesnya masih lama. Saya dan Prit masih ada di dalam kamar (tempat saya dan Prit ngaso). Mandi, ganti baju, dan beberapa hal kecil lainnya, baru kemudian menuju ke musholla, di pelataran rumah Pakde.

Setelah shalat maghrib, acara dilanjutkan dengan tahlil, baru kemudian doa. Ada seorang Bapak sepuh yang membacakan doa khusus untuk mensyukuri 62 tahun usia Pakde Cholik. Acara inti adalah membuka tumpeng, ambil posisi, lalu tancap gas. Bahagianya bisa ada di acara yang menyejukkan hati. Sayang, sewaktu acara inti, jamaah perempuan sudah pada keluar musholla. Jadi saya tidak makan bareng Prit.

Ketika kami berkumpul di ruang blogcamp sektor Jombang, terpaksa saya makan lagi. Menemani Prit.  Hmmm, padahal pada pukul setengah lima sore tadi saya berhenti di sebuah toko yang tutup (tiga kilometer dari rumah Pakde), membuka bontot nasi dan makan. Tapi anehnya, ketiga-tiganya memiliki kadar kenikmatan yang maknyuss.

Sahabat blogger, fotonya nyusul yaaa. Nunggu sesampainya saya di Jember. Atau nunggu Pakde upload semuanya. Ini ada satu foto, saya ambil dari facebook Pakde.

Di Ruang BlogCamp Sektor Jombang


Tulisan ini belum selesai. Masih banyak cerita yang belum saya tuntaskan. Tapi nantilah, saya sempurnakan di kolom komentar. Sekarang malam Jum'at, waktunya istirahat. Teristimewa buat Pakde Cholik, selamat hari lahir ya Pakde.

22.8.12

Maaf Aku Sudah Tobat

22.8.12
Ini tentang suatu hari menjelang lebaran, di detik-detik terakhir jualan takjil kemarin (antara tanggal 15 - 16 Agustus 2012). Saya mengendarai sepeda motor pelan sekali. Karena memang kondisinya mengharuskan saya untuk mengendara pelan. Sebabnya, saya membonceng Prit yang sedang membawa termos es, nampan, dan beberapa tetek bengek peralatan jual takjil.

Ketika sampai di pertigaan Mastrip - Jember, ada sebuah truk menyalip motor yang saya kendarai. Itu membuat konsentrasi mengemudi saya menurun. Semua energi saya kerahkan pada mata, demi memelototi tulisan yang ada di bawah bak belakang truk. Detik selanjutnya, saya menambah kecepatan motor. Prit protes, tapi saya sudah terlanjur mengambil keputusan. Saya ingin melihat tulisan tersebut dengan lebih jelas.

Meski kepontal-pontal, usaha saya tidak sia-sia. Di pertigaan lampu merah Rumah Sakit Dr. Soebandi, dewi fortuna (entah siapakah sebenarnya si dewi ini) berpihak pada saya. Sekarang saya bisa membaca tulisan tersebut dengan sangat-sangat jelas.

Saya memiliki 23 detik untuk mengeluarkan ponsel *okia di saku jaket gore-tack yang saya kenakan, untuk kemudian mengambil ancang-ancang, dan.. jepret...! Itu yang saya inginkan. Dan syukurlah, saya bisa melakukannya dengan setenang mungkin. Waktunya juga pas. Pas selesai mengambil gambar, lampu berubah warna menjadi hijau.

Dari spion motor sebelah kanan bisa saya lihat bagaimana Prit menggelengkan kepalanya. Hehe, maaf ya Prit.

Meski hanya dengan menggunakan kamera ponsel 2.0 mega pixel, tapi saya bahagia telah berhasil mendapatkan foto tersebut. Dan inilah hasil perjuangan saya, tanpa edit.

Maaf Aku Sudah Tobat


Mohon Maaf Lahir dan Bathin

20.8.12

Arief Rusli a.k.a Jlimet PALAPA

20.8.12
Saya lupa, kapan kali terakhir saya berjumpa dengan Arief Rusli. Tapi saya masih ingat betul awal perkenalan kami. Pada tahun 2006. Saat itu ada acara Dies Natalis pencinta alam SWAPENKA, bertempat di aula Fakultas Sastra Universitas Jember. Arief Rusli hadir karena dia adalah anggota pencinta alam PALAPA. Nantinya dia juga menjabat sebagai ketua umum di sana.

Dan saya yakin, semua yang hadir di acara tersebut akan sulit untuk tidak mengenal Arief Rusli. Itu adalah hari dimana dia begitu menyedot perhatian publik. Sebabnya hanya satu, karena saya yang masih berusia muda ini berpuisi. Seorang mahasiswa MIPA jurusan Fisika angkatan 2005 berpuisi di markasnya anak-anak sastra. Mengagumkan.

Hari-hari selanjutnya saya tidak lagi memanggil Arief Rusli dengan panggilan 'Hai' atau 'Oi' saja. Saya sudah tahu nama panggilannya. Ternyata dia punya nama lapang Jlimet. Saya memanggilnya lengkap, Jlimet. Bukan Jlim atau Met thok.

Dan kemarin, saat semua orang sedang merayakan Idul Fitri, saya dikejutkan oleh sebuah kabar. Jlimet meninggal dunia. Saya menerima kabar itu dengan setengah tidak percaya. Dia masihlah sangat muda. Tapi ketika saya membuka ID facebooknya, barulah saya percaya. Kawan saya yang satu ini telah berpulang ke Rahmatullah.

19.8.12

Pulang Ke Tuban

19.8.12
Di luar rencana, saya berangkat mudik (Jember - Tuban) pukul satu siang, di 18 Agustus 2012 yang terik. Itu semua karena sebuah kata bernama mbangkong. Padahal malam harinya saya sudah berjuang keras agar bisa memejamkan mata. CTM saksinya.

Saat senja mulai menunjukkan kecantikannya, saya dan Prit sudah masuk Kabupaten Sidoarjo. Di persimpangan jalan yang ada papan penunjuk arah berwarna hijau putih, saya memilih untuk belok ke kiri, mengikuti arah panah menuju Krian. Berharap langsung tembus Bunder – Gresik dan tidak bertemu dengan Kota Surabaya. Saya belum memiliki SIM, itu berarti saya harus bisa menaklukkan jalan-jalan alternatif.

Pilihan yang tepat. Di sini saya bisa memandang tenggelamnya mentari, indah sekali. Di jalur ini juga saya berpapasan dengan orang-orang yang sibuk mencari sesuatu untuk hidangan buka puasa di hari terakhir.

Berjarak sekitar 300 meter dari tempat saya dan Prit menunggangi Supa’i (nama sepeda motor kami), ada terlihat gerbang yang melintangi jalan bertuliskan ‘Selamat Datang di Kota Gresik’. Saat itulah ada terdengar suara adzan maghrib. Sangat membahagiakan. Tapiii.. Jangan bilang siapa-siapa yaaa.. Penghujung ramadhan kali ini saya tutup dengan tidak berpuasa.

Kami istirahat di sebuah pasar kecil yang sudah tutup. Tapi di depan gerbang pasar ada banyak para penjual makanan yang berjajar. Pilihan kami jatuh pada rombong Pak Tua penjual bakso. Pilihan yang tepat, baksonya nikmat.

Tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan. Masih dengan embel-embel cerita tentang beberapa tempat pemberhentian. Ya, saya dan Prit sebentar-sebentar istirahat. Mengistirahatkan bokong yang panas, juga punggung dan kaki yang menuntut haknya untuk diselonjorkan.

Sungguh ini perjalanan mudik yang amazing. Ketika kau melewatkan penghujung ramadhan di jalan, ketika di atas kepalamu ada pesawat yang terbangnya rendah sekali (yang jarang terlihat di tempat tinggalmu), ketika malam-malammu dihiasi dengan percikan kembang api di kanan kirinya, ketika perjalananmu dilengkapi dengan gema takbir, maka kau akan tahu apa itu keindahan.

Tulisan ini ditutup dengan kisah kedatangan saya di Desa Rengel – Tuban.

Kesan pertama mudik kali ini ditandai dengan saya yang kebablas belok ke rumah (hanya sekitar sepuluh meter), sementara Bapak Ibu mertua menunggu di depan rumah, lalu melempar senyum pada kedua anaknya yang lupa rumah.

Berangkat pukul satu siang dan tiba di tujuan pukul sembilan malam. Lumayan pas untuk 300 kilometer.

Sahabat blogger yang saya cintai, MINAL AIDIN WAL FAIDZIN. Maafkan kesalahan saya dan Prit, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Sungguh, sebuah anugerah tersendiri bisa mengenal anda semua.

Catatan

Artikel ini saya tulis pada saat subuh, menjelang sholat Ied. Ketika akan publish, saya baru sadar kalau pulsa modemnya sudah the end, hehe. Jadi baru bisa publish sekarang. Mohon maaf lahir dan bathin.

18.8.12

Malam Untuk Dikenang

18.8.12
Ini adalah tahun dimana saya menikmati hari kemerdekaan dengan indah dan sederhana. Saya berkenalan dengan teman-teman kecil. Ada Anggun, Ica, Prawiro, dan entah siapa lagi. Hanya itu yang bisa saya ingat. Ohya satu lagi ding, Mas Jum. Mereka adalah keluarga dari yayasan Nur Iman, dan Mas Jum adalah wali dari kawan-kawan kecil saya.

Saya tidak lama menemani Mas Jum, hanya jika ada jeda waktu saja . Tapi dari yang sebentar itu saya merasa tercerahkan. Mas Jum bercerita seputar yayasan Nur Iman. Dia menceritakan mulai dari kepemimpinan yayasan yang pertama hingga yang saat ini (keempat). Ketika saya bertanya kenapa Mas Jum tahu banyak tentang yayasan itu, dia tersenyum. Ah, ternyata Mas Jum adalah alumnus yayasan. Masa kecilnya dia habiskan di sana.

Terdengar suara adzan maghrib. Sudah waktunya berbuka bersama.

Salah seorang dari kawan kecil saya bertanya, kenapa acaranya sepi? Iya, memang sepi. Ini bukanlah acara yang layak untuk dibesar-besarkan. Tapi saya tidak mengatakan itu. Yang bisa saya lakukan hanya melemparkan senyum terbaik.

Paska shalat maghrib berjamaah, saya ada kesempatan untuk menemani Mas Jum lagi. Kami kembali ngobrol. Mas Jum kembali bercerita.

Dari Mas Jum saya mengetahui tentang empat tahapan penghuni yayasan. Yatim, piatu, yatim piatu, dan anak dari keluarga yang sangat tidak mampu. Biasanya yang populer untuk diadopsi oleh orang tua asuh (donatur biaya hidup dan sekolah) adalah yang yatim piatu. Yang tidak populer adalah anak dari keluarga tidak mampu.

"Nggak tahu Mas, mungkin mereka butuh doanya", begitu ujar Mas Jum.

Ah, ternyata masih banyak orang yang berbisnis dengan Tuhan.

Tibalah saatnya mereka pulang. Kata Mas Jum, mereka akan shalat tarawih di yayasan saja. Ya, lagipula kawan-kawan kecil saya ini (selain Mas Jum) masih berusia SD. Mulai dari kelas satu hingga kelas enam. Tidak mungkinlah mereka turut menonton acara musik akustik hingga jam sebelas malam.

Tadi berangkatnya, mereka dijemput naik mobil. Kawan saya yang bernama Gege yang menjemputnya. Ada satu orang yang saya antar naik motor. Namanya Ica, dia baru kelas empat SD. Ica memiliki kebiasaan yang sama dengan Prit. Sama-sama mabuk jika naik mobil.

Saat pulang, Ica ngotot pingin naik mobil, dengan resiko dia mabuk. Ah, ternyata dia merasa nggak enak pada kawan-kawannya. Sebuah yayasan kecil, dengan jumlah penghuni 47 orang, memang sangat mudah terjadi gesekan.

Tapi saya tetap mengantar pulang seorang kawan kecil. Namanya Anggun. Tubuhnya kecil sekali, dia baru kelas satu SD. Entah kenapa, Anggun lebih memilih diantar pulang naik motor ketimbang naik mobil. Kepada Anggun (dan Ica) saya berjanji, nanti sepulang dari Tuban saya akan bermain ke yayasan.

Malam harinya, tamasya band tampil dengan beberapa lagu. Di lagu pertama berjudul teman, saya katakan pada teman-teman yang ada di kedai gubug (Alhamdulillah yang hadir banyak sekali), untuk malam ini lagu 'teman' akan kami dedikasikan pada Almarhum Dema Night To Remember.

Sahabat blogger, sekarang saatnya bagi saya untuk istirahat. Nanti pagi (sebangunnya) saya akan packing dan berangkat ke Tuban, berdua dengan Prit. Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan bathin.

MERDEKA...!


17.8.12

Istri Saya Pemabuk

17.8.12
Tulisan ini dimulai dengan satu kata, horeee...

Sudah 17 Agustus 2012. Saatnya mengucapkan Dirgahayu Indonesia. Hebat, sudah 67 tahun kita merdeka. Sepatutnyalah bagi kita yang tidak hidup di jaman penjajahan, mengisi kemerdekaan ini dengan segala hal yang sifatnya memberi manfaat.

Lanjuuut...

Sebentar lagi lebaran. Orang-orang sudah sibuk menanyakan kapan saya (dan Prit) pulang ke rumah Tuban. Saya menjawabnya. H - 1. "Lho kok mepet?". Ya, karena saya dan kawan-kawan tamasya band masih ada acara musik akustik. Lalu pertanyaan yang lain pun bermunculan. Mereka seperti sedang menggelindingkan bulatan salju dari puncak gunung. Saya menjawabnya dengan gembira.

Jauh di kedalaman hati, saya menyimpan sebuah kata. Ndredeg. Ini adalah pengalaman mudik pertama saya selama berumah tangga. Kabar buruknya, paska menikah hingga saat ini saya belum pernah pulang ke rumah Tuban.

Apa yang harus seorang menantu lakukan di hari pertama kepulangannya? Saya hanya berdoa, semoga saat saya pulang ke rumah Tuban, tidak ada masalah apa-apa dengan listrik. Karena itu adalah kelemahan saya diantara kelemahan-kelemahan yang lain. Ya, saya tidak bisa diandalkan dalam mengotak-atik perlistrikan.

Kabar lain yang tak kalah buruk, saya belum pernah memiliki SIM. Mungkin karena dulu saya berpikir, saya lebih banyak memanfaatkan sepeda kayuh. Keluar kota juga lebih sering naik angkutan umum. Hehe, sebenarnya itu hanya alasan saya saja.

Istri saya pemabuk, itulah kenapa saya berpikir untuk memiliki SIM.

Kemarin saya ke SAMSAT dan mendaftarkan diri sebagai pemohon SIM. Setelah fotokopi KTP dan cek kesehatan (persis di sebelah gedung SAMSAT Jember), saya segera menuju loket satu. Ah, terlambat. Padahal hari masih pagi. Masih pukul 08.20 WIB. Kuota untuk hari itu sudah penuh. Sepertinya saya harus mudik Jember - Tuban naik bus.

Saat mendengar kata bus, wajah Prit memucat. Saya segera mengkoreksi kata-kata saya sebelum Prit mbrebes mili. "Oke, kita naik sepeda motor", dan Prit pun tersenyum.

Penutup

Hmmm, enaknya saya kasih judul apa ya tulisan ini?

Dan tulisan ini saya tutup dengan satu kata, horeeee...!

16.8.12

Mumut Folklor Manusia Katai Dari Jawa

16.8.12
Penulis : Mas Didik Raharyono, S.Si.

"Ayo, cepet ndhang dipangan segane. Mengko nek kesuwen ndhak dijupuk ambek si MUMUT. Wong kate sing omahe ning alas wetan kono….”

(Ayo, nasinya cepat dimakan. Nanti kalau kelamaan keburu diambil sama si MUMUT. Manusia katai yang rumahnya di hutan seberang timur sana….)

Kalimat diatas diucapkan Nenek dari Ibu kandung penulis, sewaktu beliau masih kecil di Pati Jawa Tengah sekitar tahun 1940-an. Ibu kandung penulis sangat ingat betul dengan cerita mumut, sebab sering dituturkan sebagai cerita supaya mau makan dan cerita pengantar tidur. Penyebutan mumut memang lazim digunakan untuk menakut-nakuti agar anak kecil di sekitar Pati kala itu agar segera mengabiskan nasi yang dimakannya, atau agar anak kecil menurut untuk segera tidur. Tetapi penulis mempunyai pengalaman bertemu orang yang bersaksi pernah melihat langsung manusia katai di Jawa.

Mumut begitulah manusia katai –bukan manusia cebol- biasa disebut. Tubuhnya kecil seukuran bocah 3 tahun, badannya berambut penuh bulu, tidak mengenakan pakaian sama sekali, bergerak dengan cepat dan gesit, walaupun bertubuh pendek tetapi sudah dewasa. Manusia katai menurut cerita ‘buyut penulis’ masih sering dijumpai di Jawa Timur, jumlahnya banyak, ada lelaki dan ada perempuan sehingga mampu beranak pinak (hal ini berdasar penuturan Ibu penulis dari Nenek Beliau). Mumut juga diceritakan takut dengan manusia dewasa, tetapi berani terhadap anak-anak kecil. Oleh karenanya dijadikan ‘media’ guna menakut-nakuti anak kecil agar menurut melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh orang dewasa kala itu.

Folklor atau Nyata?

Deskripsi di atas merupakan folklor mumut dari Pati Jawa Tengah. Menurut pendapat penulis perjumpaan dengan manusia katai (Homo pigmi sp) itu memang benar-benar pernah terjadi. Mengapa penulis berani berargumentasi bahwa manusia katai itu masih ber’gentayangan’ di P. Jawa sampai Abad XXI ini dan tidak hanya sekedar folklor?

15.8.12

Siapa Sebenarnya Manusia Kerdil di Taman Nasional Meru Betiri

15.8.12
Saya termasuk tipe blogger yang tidak peduli dengan urusan statistik pengunjung, pagerank, dan segala macam kegiatan blog yang berhubungan dengan angka-angka. Dan hari ini, ketika saya membuka statistik blog, saya dikejutkan oleh sebuah tulisan berjudul Manusia Kerdil Di Taman Nasional Merubetiri. Jumlah pengunjungnya ribuan. Setiap hari ada saja yang inguk-inguk kesana.

Tulisan tersebut berkisah tentang Manusia kerdil (sebenarnya lebih pas disebut dengan manusia mini, karena anatomi tubuhnya yang tidak cebol) di Taman Nasional Meru Betiri - Jawa Timur.

Orang orang yang tinggal di sekitar TNMB biasa menyebut manusia kerdil ini dengan sebutan wong wil, atau owil, atau ada juga yang menyebutnya siwil. Sebutan lain untuk manusia kecil ini adalah Mumut, Manusia Katai atau Homo pigmi sp, dan ada juga yang menghubungkan manusia kecil ini sebagai subspesies dari homo floresiensis (mengingat jarak antara Jawa dengan Flores tidak begitu jauh).

Nyata atau tidak?

Pertanyaan yang sering saya terima setelah menulis tentang siwil adalah tentang apakah manusia kecil ini hanya cerita rakyat atau benar-benar ada dan nyata.

14.8.12

Dema Night To Remember

14.8.12
Namanya Dema. Saat membuka jejaring sosial, baru saya mengerti jika nama lengkapnya adalah Dema Juliansyah. Saya mengenalnya beberapa saat sebelum Night To Remember (band pop punk yang lebih akrab dengan nama NTR) mencuat di blantika musik nusantara.

Yang saya tahu, dulu Dema mempunyai sebuah band indie bernama Cassete Box.

Dari tulisan seorang kawan di blognya (Nuran) yang berjudul R.I.P Dema Juliansyah, baru saya tahu jika dulunya Dema bersekolah di SMA 1 Arjasa. Ternyata Dema satu almamater dengan saya. Saat kuliah pun satu almamater, hanya berbeda jaman.

Dema dan kawan-kawan NTR Band mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat dengan keluarga tamasya band. Pada saat tamasya sedang punya gawe launching album perdana (bertajuk save the tree #1), NTR turut tampil dan bernyanyi. Mereka tidak keberatan dengan space panggung yang kecil, dan mereka tetap tampil prima.

Ketika Mas Mungki (gitaris, vokal, aranger, record & mixing tamasya) sedang melangsungkan pernikahan, Dema tampil solo. Jari jemarinya begitu piawai menaklukkan tuts keyboard. Saya lupa, lagu apa saja yang Dema nyanyikan saat itu. Tapi samar-samar, saya masih bisa mengingat gayanya yang energik dan menghipnotis orang-orang di sekitarnya untuk menghentakkan ujung telapak kakinya.

Pada 15 November 2009, saya juga punya cerita tersendiri tentang Dema. Saat itu saya ada di SUTOS ruang foreplay Surabaya. Keberadaan saya di sana untuk menghadiri workshop penulisan lirik lagu, bersama Piyu, Deny Chasmala dan Maia Estianty. Mana saya tahu jika acara tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk launching video klip perdana NTR. Anak-anak NTR ada di sana dan tampil menyanyikan beberapa lagu di pertengahan acara.

Acara yang berlangsung selama 6 jam tersebut disisipi dengan jeda makan bersama. Model makan bersamanya adalah prasmanan. Nah, di saat itulah Dema dan kawan-kawan menghampiri saya. Ah, masih sempat-sempatnya mereka menemani saya, di saat mereka harus prepare untuk rias dan lain-lain.

Dema pribadi yang hangat. Dia seorang kawan muda yang kreatif. Saya sependapat dengan Nuran ketika dia menuliskan, Dema terlahir untuk jadi seorang vokalis band. Ya, itulah Dema.

Ketika Night To Remember dikontrak oleh E:Motion (label milik Piyu), saya turut merasa bangga. Senang rasanya melihat Dema tampil di layar kaca. Saat saya sedang ada di luar kota dan melintas di sebuah jalan yang memampang baliho besar bertuliskan Night To Remember, saya seperti sedang ada di kota sendiri.

Ah, Dema. Siapa yang menyangka jika hari ini saya mendapat kabar kau telah berpulang ke Rahmatullah.

Bulan lalu memang ada terdengar kabar kau dirawat di RS DKT karena hernia. Dulu kau juga pernah gagal manggung di GOR PKPSO Jember karena ginjal dan livermu sedang bermasalah. Itu panggung yang besar. NTR tampil dengan vokalis dadakan, Adit The Rocket. NTR tampil tepat setelah tamasya band turun panggung. Disusul kemudian dengan K2 reggae, dan ditutup oleh The Changcuters.

Sore tadi saya dan Prit meluncur ke rumah duka. Hmmm, ternyata rumah Dema dekat sekali dengan rumah sahabat saya, Eka Sukriswandi. Di perumahan Gebang. Sayang sekali saya terlambat takziyah. Jenasah baru saja dikebumikan ketika saya dan Prit datang.

Saya tutup tulisan ini dengan kalimat penutup milik Nuran.

Kelak Dem, kita akan nongkrong bareng lagi. Nanti. Sekarang kamu istirahat yang tenang ya. I'll see you later :)

10.8.12

Menuju Bahagia

10.8.12
Terik begitu menyengat ketika perempuan paruh baya itu mulai mengambil ancang-ancang isi angin. Di tangannya tergenggam semacam pistol yang terhubung dengan pipa selang yang panjang. Sementara tak jauh dari sana ada kapsul besar bertuliskan kompresor. Tepat di atas kompresor ada ban bekas yang diletakkan sedemikian rupa, di tengahnya ada triplek bekas yang sengaja ditulisi, "spesialis penyakit dalam".

Berjarak kurang lima puluh meter dari Suyat (nama perempuan penakluk kompresor), ada seorang nenek yang sebentar-sebentar mengusap peluh di dahinya. Dia sedang beristirahat di emperan rumah orang. Hmmm, rupanya beliau adalah seorang penjual kacang rebus.

Siang yang tak hanya terik, tapi membentangkan cerita hidup dan kehidupan di sepenggal sajadah dunia. Saat aku sedang merenugkannya, tiba-tiba ada seekor katak sedang meloncat. Aneh, ada katak di siang yang menyengat. Rupanya dia sedang ingin berhijrah ke seberang jalan. Sayang sekali, sebuah mobil warna gelap menyudahi mimpi-mimpinya. Craaat...!

Pulang, tiba-tiba merindukan kata itu. Hati menyampaikannya ke otak, dan otak memerintahkan kedua kaki ini untuk melangkah pulang. Selama melangkah, tanpa diundang hadirlah bayang-bayang akan perempuan pemetik biji kopi di sudut kota Jember. Hadir pula gambaran para lelaki legam pengumpul belerang di Kawah Ijen. Sepintas ada terpikir juga tentang Cak Slamet, seorang eks napi kasus pembunuhan yang sekarang bekerja sebagai penjaga palang pintu kereta api. Semua datang dan pergi seperti sebuah slide foto.

Akhirnya sampai juga di rumah. Merebah, memejamkan mata, dan kembali merenung. Bahkan kisah tentang sekolah si Citra yang tersendat-sendat pun tak luput dari renungan. Merenung, merenung, merenung, kemudian terlelap.

Dalam tidur, sesuatu yang menumpuk itu menjelma menjadi sebuah mimpi. Ketika terjaga, Prit sudah ada di samping. Dia tersenyum, seperti ingin meneduhkan hati ini. Hanya senyuman, tanpa kata-kata sedikitpun.

Dalam teduhnya senyum Prit, ada terdapat sebuah jawaban tentang keresahan yang panjang.

Mereka yang terluka, mereka yang terlunta oleh cinta, mereka yang terombang ambing kehidupan, mereka yang tertatih menjemput rizki Ilahi, mereka yang kehilangan, mereka yang terhempas di teriknya jalanan, mereka yang ditenggelamkan malam, sesungguhnyalah mereka semua sedang melangkah menuju bahagia.

Lalu terdengar suara adzan.. Haiya 'Alal Falah..

9.8.12

Begitu Mudahnya Saya Jatuh Cinta

9.8.12
Ya, saya mudah sekali jatuh cinta. Tapi mohon dicatat, ini bukan cinta yang seperti itu. Bukan hanya terpenjara antara cinta kita pada lawan jenis, tapi lebih luas lagi.

Ketika masih SD dan membaca buku lima sekawan, tiba-tiba saya ingin menjadi seorang detektif. Begitu mudahnya saya jatuh cinta. Saat besar dan mengenal dunia blog, saya jatuh cinta. Dan kesanalah saya melangkah, menjadi seorang blogger.

Dari yang tadinya hanya memiliki satu alamat blog, beranak pinak menjadi lebih dari satu. Dan itu ada di beberapa platform. Hmmm.. ini juga hasil dari begitu mudahnya saya jatuh cinta.

Di waktu yang lalu saya dikejutkan oleh sebuah kenyataan. Ternyata saya memiliki akun di multiply sejak 5 April 2008. Saya berusaha keras mengingat pasword dan emailnya. Wew, emailnya sudah gosong. Syukurlah, pada akhirnya saya berhasil mengingat passwordnya, juga berhasil mengganti email dengan email yang baru.

Dan di sanalah saya akhirnya. Di sebuah hutan rimba bernama multiply. Apa yang harus saya tuliskan? Bergelas-gelas kopi tidak berhasil membantu saya untuk menemukan ide segar. Tentang apa yang harus saya tuliskan. Kebekuan ini menuntun saya pada satu kalimat klasik, terdengar lirih dan seperti sedang putus asa. "Mengalir sajalah.."

Saya telah membuat akun di sana dan saya akan menyelesaikannya. Entah apa yang akan saya tuliskan nanti, mengalir sajalah..

Hampir saja saya benar-benar akan mengalir mengikuti arus, tak peduli apakah nanti saya akan tenggelam atau terhempas. Tiba-tiba saya ingat, saya punya sahabat di multiply. Ya ya, saya tidak sedang sendirian. Masih ada Mbak Anazkia.

Mengenal Mbak Anazkia membuat saya jatuh cinta pada sebuah telaga jernih bernama dunia pendidikan. Dia bukan hanya mengajak saya bergabung di sebuah komunitas bernama BHSB (Blogger Hibah Sejuta Buku), tapi juga menginspirasi saya dan rekan-rekan Jember untuk membuat acara indie bertajuk Tribute to Manusela, Pesan Dalam Botol, Tutup Botol, dan entah apalagi nanti.

Ah, begitu mudahnya saya jatuh cinta..

Sedikit Tambahan

Ini adalah catatan saya di blog multiply dengan ID naong.multiply.com

Sayang sekali, per 1 Desember 2012 nanti platform blog gratisan tersebut akan segera ditutup. Selanjutnya Multiply akan berkonsentrasi mengembangkan marketplace bagi penjual online.

Bagi anda yang memiliki akun di Multiply, masih ada waktu untuk memboyong isi blog ke rumah maya yang lain.

8.8.12

Akiko Mengingatkan Saya Pada Kisah Si Putih

8.8.12
Maru Bunny Town


Iya benar sekali. Menulis cerita dan artikel untuk blog bertema khusus itu tidak mudah. Namun begitu, tidak mudah bukan berarti tidak bisa sama sekali. Blog Maru Bunny Town membuktikannya.

Adalah Asyah dan Ashira, buah dari pasangan Mbak Sary Melati dan Mas Adi, yang memberi nama blog tersebut. Nama Bunny Town diambil dari sebuah kisah tentang kota yang penduduknya kelinci. Sedangkan Maru, itu adalah nama seekor kelinci anggora loop yang warna bulunya putih seperti salju.

Ah, membicarakan keluarga Mbak Sary memang menyenangkan. Meskipun saya terbilang baru kemarin nginceng blog Maru Bunny Town, tapi saya berani berkata bahwa mereka adalah keluarga yang teduh. Mbak Sary suka menulis, Mas Adi pencinta hewan. Bukankah mereka pasangan yang keren?

Bicara tentang dunia hewan, sejujurnya saya tidak memiliki hubungan yang sangat romantis dengan mereka. Tapi ketika saya mendapati wajah Akiko di blog Maru Bunny Town, ingatan saya diantarkan pada suatu pagi di hari minggu ketika saya masih berumur belasan tahun.

2.8.12

Menggali Sedalam Mungkin

2.8.12
Dulu sekali, saya pernah bermain-main di belakang sekretariat pencinta alam SWAPENKA. Hanya bermodalkan hati yang riang dan sendok makan di tangan kanan, saya mulai menggali tanah. Dimulai dengan galian pertama. Jleeeb...!

Ketika dalamnya galian sudah sejengkal tangan, saya mengganti senjata. Tidak lagi menggunakan sendok, melainkan berganti dengan sebuah pisau lapang milik seorang teman bernama Arik. Saya menggali dan terus menggali. Entah apa tujuan saya waktu itu, saya lupa. Ketika satu persatu teman saya bertanya, saya hanya menjawab singkat. "Sedang membuat sumur". Tentu saja mereka tertawa. Sesekali, satu dari mereka nylatu. Saya tidak menggubrisnya. Yang saya lakukan hanyalah menggali dan terus menggali, dengan hati yang tetap riang.

Keesokan harinya, saya meneruskan proyek gila ini. Kawan-kawan sedang ramai nongkrong di depan sekretariat. Seperti hari sebelumnya, beberapa dari mereka inguk-inguk, sekedar melihat apa yang saya lakukan di kebun belakang. Masih dengan tatap mata yang aneh dan raut wajah penuh tanya. Saya tidak peduli. Saat itu saya benar-benar larut dalam kegiatan yang (menurut saya) sangat menyenangkan. Menggali tanah sedalam mungkin.

Aneh, kawan-kawan yang tadinya bertanya, kini satu persatu membantu kegiatan saya. Ada yang bingung mencari pinjaman cangkul, linggis, dan skrup. Ada pula yang membelikan kopi dan gorengan di warung Pak Ali. Kemudian yang terjadi, kawan-kawan yang tadinya nongkrong di depan pada pindah ke belakang. Suasana menjadi hangat dan ramai. Dan ini berlangsung selama beberapa hari. Senang rasanya mengenang hari-hari indah tersebut. Satu yang tak terlupakan, ketika ujung cangkul bertemu dengan sumber air. Aiih.. bahagianya.

Dimulai dari satu galian pertama, dan hanya menggunakan sendok. Sederhana sekali. Kemudian ketika saya gigih menggali, saya seperti sedang menghipnotis orang-orang sekitar untuk mendukung apa yang saya lalukan. Lalu jadilah sumur dalam arti yang sebenarnya.

Dari kisah di atas, saya belajar akan satu hal. Bahwa keberhasilan itu berawal dari sebuah keyakinan. Sekecil apapun keyakinan itu, jika kita terus menggalinya, maka dia akan menjelma menjadi cahaya yang menerangi.

Mari menggali potensi diri kita. Menggali sedalam-dalamnya, agar cahayanya membuahkan manfaat. Salam jreng jreng jreng..
acacicu © 2014