31.10.12

Cinta Lama Bersemi Kembali

31.10.12
Nostalgia adalah hak setiap orang, tidak terkecuali bagi masyarakat di kota kecil Jember.

Jika dilihat dari usia rata-rata terbanyak para penostalgia Jember, maka yang sering saya jumpai sekarang adalah mereka yang mengecup masa kecil (juga remaja dan beberapa usia dewasa) di era 1950-an hingga 1960-an.

Kawan-kawan muda di Jember pernah menggelar sebuah acara bertajuk Pesan Dalam Botol, dimana di acara tersebut kami mengadopsi nostalgia lama dengan cara mengumpulkan botol kosong dan barang-barang bekas lainnya. Semua itu nantinya kami tumpuk jadi satu, kami jual di loak, dan hasilnya akan digunakan untuk support dunia pendidikan.

Haha.. terdengar wow ya. Padahal tidak. Sederhana, kecil, dan tidak berniat mengubah dunia. Hanya ingin berbagi dan melakukan sesuatu, sesederhana itu saja.

Pesan dalam botol hanyalah ide usang yang ditampilkan kembali, terlahir karena betapa seringnya kami mendengar kisah tentang Jember tempo dulu, dari para penostalgia.

Dimulai dari penggalan-penggalan kisah, dari katanya ke katanya..

Alkisah di tahun 1957 - 1959, ada sebuah kota kecil yang dipimpin oleh seorang Bupati bernama R. Soedjarwo. Beliau kembali memimpin Jember untuk kedua kalinya pada 1961 - 1964. Di sela waktu tersebut, kota kecil ini sempat dipimpin oleh Bapak Moh. Djojosoemardjo.

Bupati Botol Kosong Itu Bernama Pak Djarwo

Bapak R. Soedjarwo biasa dipanggil dengan nama Pak Djarwo. Kelak, beliau akan mendapat gelar baru yaitu Bapak Bupati Botol Kosong. Apa sebab? Sederhana saja, beliau pernah menghimbau masyarakat Jember untuk mengumpulkan botol kosong dan koran bekas. Semua itu digunakan untuk membiayai pembangunan beberapa gedung pendidikan dan akses pendukungnya.

Apakah hanya itu nostalgia tentang Pak Djarwo? Ternyata tidak. Pak Djarwo mempercantik tampilan Jember dengan cara-cara sederhana.

1. Tidak boleh lagi ada kotoran kuda dan puntung rokok dijalanan. Caranya, dibelakang kuda setiap dokar (andong) wajib diberi karung goni agar kotoran kuda tidak jatuh kejalananan dan tertampung di karung penampung.

2. Membebaskan jalanan dari puntung rokok. Caranya, setiap becak dan di tiap pohon yang tumbuh di dalam kota wajib diberi kaleng bekas susu untuk asbak para perokok. Puntung rokok dan bekas bungkus rokok dihimbau untuk dimasukkan kedalamnya dan tidak dibuang di sembarang tempat. Ini untuk mengantisipasi kebiasaan masyarakat Jember yang memang dikenal sebagi perokok berat, karena tembakau merupakan hasil produksi petani setempat.

Dua poin di atas saya dapatkan dari tulisan Pakde Bagio. Beliau adalah mantan Humas UNEJ yang sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan aktif sebagai pengurus Perwakilan Yayasan Gerontologi Abiyoso Kabupaten Jember, dan Pengurus Forum Kerjasama Karang Werda n menerbitkan Tabloid "Gema Lansia." Anda bisa membaca tulisan Pakde Bagio di sini.

Masa Kepemimpinan Abdul Hadi

Setelah Pak Djarwo, tongkat estafet kepemimpinan di kota kecil Jember dipegang oleh Bapak R. Oetomo (1964 - 1967), kemudian Bapak Mochammad Huseindipotroeno (1967 - 1968), lalu Bapak Abdul Hadi (1968 - 1979). Rata-rata para penostalgia Jember senang jika harus menceritakan kembali era Pak Abdul Hadi. Menurut banyak orang, beliau adalah Bupati penuh inovasi, dan merakyat.

Sebelumnya, Pak Abdul Hadi menjabat sebagai Dandim 0824.

Dari banyak perubahan yang dilakukan oleh Pak Abdul Hadi, ada satu yang melegenda hingga sekarang. Tidak lain adalah proses pembuatan sebuah masjid baru bernama Masjid Al Baitul Amin. Masjid baru ini dinilai sangat unik, bukan hanya dari segi arsitekturnya saja, tapi juga dari proses pembangunannya yang dibangun dengan cara kolektif. Ya, Al Baitul Amin dibangun dengan biaya yang diperoleh dari pengumpulan kelapa dari setiap warga Jember.

Hubungan antara Pak Djarwo dengan Pak Abdul Hadi disatukan oleh jembatan mastrip yang membuka akses menuju Kampus Universitas Jember Bumi Tegal Boto. Jembatan ini mulai dibangun sejak tahun 1961 (masa kepemimpinan Pak Djarwo gelombang kedua), dan selesai dengan sempurna pada 1976, di masa kepemimpinan Pak Abdul Hadi.

Itu adalah jembatan yang hebat, karena pembangunannya dirintis dengan penjualan botol kosong yang dikumpulkan oleh warga. Tak heran jika para penostalgia Jember menyebutnya dengan nama Jembatan Botol.

Cinta Lama Bersemi Kembali

Pada bulan sebelas tahun ini (15 November 2012), kawan-kawan Jember kembali mengadopsi kisah lama untuk dihadirkan kembali, di sebuah acara bertajuk CLBK. Di sana akan ada empat rangkaian acara yang dijadikan satu.

Berikut adalah poin-poin CLBK:

1. Tutup Botol

Prosesnya sama persis dengan acara sebelumnya, yaitu Pesan Dalam Botol. Mengumpulkan botol kosong, koran bekas, dan barang bekas lainnya yang bisa dijual. Semua itu akan kita kumpulkan, kita jual, dan dimanfaatkan untuk support dunia pendidikan.

Perbedaan antara Tutup Botol dengan Pesan Dalam Botol, kali ini seluruh hasilnya akan dimanfaatkan untuk kota kecil tercinta, Tribute to Jember.

2. Bicara buku

Bicara buku adalah nama lain dari bedah buku. Sengaja diganti agar tidak terkesan menyeramkan, karena keluarga tamasya khususnya (terlebih saya sendiri), masih asing dengan kata 'bedah buku'

Buku yang dimaksud adalah kumpulan tulisan milik seorang blogger bernama Mbak Anazkia dan RZ Hakim. Terangkum dalam satu buku, dengan cover bolak balik. Semisal nanti buku ini laku (meskipun tidak banyak), seluruh hasilnya akan dimanfaatkan untuk menunjang mimpi Blogger Hibah Sejuta Buku.

3. Blogger Hibah Sejuta Buku Goes to Offline

Blogger Hibah Sejuta Buku atau dikenal juga dengan nama BHSB adalah group online di jejaring sosial, terdiri dari sekumpulan para blogger kreatif Indonesia, dan tersebar di berbagai penjuru dunia. Haha, kok jadinya seperti group yang sangat besar sekali ya? Maaf, sepertinya saya berlebihan.

BHSB memang tidak sebesar yang dibayangkan, tapi mereka mengusung sebuah mimpi besar. Bukan bermaksud untuk mengubah dunia secara frontal, bukan pula berharap hendak dikenang. BHSB senang berbagi buku dengan cara mengumpulkan buku, menebarkannya di tempat yang dirasa butuh, untuk kemudian melupakan segala kebaikan yang pernah mereka lakukan. Lalu mereka memulainya kembali. Begitu seterusnya, entah sampai kapan.

4. Tamasya Akustik

Nah kalau yang ini jelas, anda mungkin akan mudah menggambarkannya tanpa harus saya tulis gambarannya secara rinci. Ya benar, poin keempat adalah acara penggembira. Bernyanyi bersama sambil menyeruput kopi di kedai gubug - Jember.

Dalam tamasya akustik nanti, akan ada juga sisipan acara berupa mengheningkan cipta. Bersama-sama melayangkan doa terbaik untuk Almarhumah Yusnita Febri, blogger hebat yang saya kenal lewat warisan tulisannya.

Sedikit Tambahan

Sejarah mencatat, Indonesia memiliki budaya gotong royong yang kuat. Hal itu yang ingin dihidangkan oleh segelintir masyarakat muda Jember (di acara CLBK), pada 15 November 2012, bertempat di Kedai Gubug - Jember.

Pencomotan nama kedua mantan Bupati di atas (Pak Djarwo dan Pak Abdul Hadi) semata-mata untuk memudahkan ingatan kolektif para penostalgia, sekaligus mempermudah kita yang muda-muda dalam mengimajinasikan latar belakang temporal. Terlepas dari rasa hormat saya pada Pak Djarwo dan Pak Abdul Hadi, inti kekaguman saya yang sebenarnya, terletak pada semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat Jember.

Mari.. mari kita lestarikan budaya botol kosong dengan cara tetap memelihara jiwa gotong royong.

Salam Lestari!

29.10.12

Mengaktifkan Fitur Moderasi

29.10.12
Para sahabat blogger, sedari pertama kali saya membuat akun blog acacicu, belum pernah terpikirkan untuk mengaktifkan fitur moderasi komentar. Namun melihat kenyataan yang ada selama beberapa waktu terakhir, saya putuskan untuk mengaktifkan fitur moderasi.

Artikel ini khusus saya tayangkan sebagai permohonan maaf bagi para sahabat, terutama yang kurang 'sreg' dengan sistem moderasi.

Dengan adanya moderasi komentar, otomatis komentar yang anda tuliskan tidak langsung tayang melainkan masih menunggu persetujuan dari admin (saya sendiri). Pengaktifan fitur moderasi juga saya barengi dengan pe-nonaktif-an fitur widget recent comment.

Sebenarnya ada pilihan lain selain mengaktifkan fitur moderasi, yaitu dengan menutup kolom komentar di semua artikel lama (hanya artikel baru yang bisa dikomentari). Dengan kata lain, saya tidak menghidupkan layanan otomatis 'kantong komentar' blogger. Namun saya lebih memilih mengaktifkan fitur moderasi karena saya anggap lebih sesuai dengan kebutuhan.

Mohon maaf dan terima kasih.

Sedikit Tambahan

Permohonan maaf juga saya tujukan untuk kawan-kawan blogger dengan nama ID obat-obatan. Mohon maaf, ratusan komentar anda (beberapa diantaranya double) di tulisan-tulisan lama akan saya hapus karena terbaca spam. Ini juga mengakibatkan komentar yang biasanya tidak terbaca spam, menjadi terbaca spam.

Karena saya melihat berbagai ID tersebut ada di IP yang sama, saran saya, jadikan satu saja dan tetap menggunakan nama salah satu diantaranya. Jadi, anda masih bisa berkomentar di sini.

Salam Persahabatan!

26.10.12

Nama Lain Dari Mama Olive

26.10.12
Hembus angin pagi ini..

Kedatangannya tak hanya membungkus dingin. Dia juga membawa sebuah kabar bahagia, bahwa Mama Olive sedang merayakan hari lahirnya yang ke bla bla bla.

Tadinya saya tidak yakin pada angin. Saya katakan padanya, "Ah masa sih? Kamu nggak salah orang tah?" Angin menggeleng mantab, memastikan bahwa kabar yang dibawanya adalah benar. Dia berkata dengan nyeuneu dan tetap keukeuh pada pendiriannya.

"Hai angin, jika memang benar Mama Olive yang kamu maksud adalah sahabat blogger saya, sekarang coba kau sebutkan 5 ciri-ciri Mama Olive."

(Selanjutnya kata 'saya' berganti 'aku')

Dan anginpun menjawabnya..

1. Nama lain dari Mama Olive adalah Jelita.

2. Jelita memiliki seorang putri bernama Olive. Dia cantik dan bersayap. Suatu hari nanti, ketika sayap itu Olive rentangkan lebar-lebar, maka kaldera gunung raung akan berganti warna menjadi lebih cerah. Bukan hanya itu, puncak rengganis argopuro-pun akan bersenandung untuknya.

Sebentar wahai angin, maaf aku memotong ocehanmu. Perihal ucapanmu yang pertama, itu sangat benar sekali. Jelita adalah nama lainnya. Tapi apa maksudmu dengan yang kedua? Kata-katamu tentang sayap sangatlah bersayap.

Angin diam, tersenyum, untuk kemudian berkata, hanya Olive yang bisa melihat sayapnya sendiri. Sayap adalah nama lain dari kecantikan hati, dan Olive memilikinya.

3. Hanya lelaki tangguh yang bisa memiliki selendang di hati Jelita. Lelaki itu bernama PO.

4. PO, Jelita, dan Olive, mereka adalah perpaduan keluarga yang sempurna. Adalah tugasku sebagai utusan Tuhan bernama angin, untuk menerjang mereka sekali waktu. Tapi aku tak mungkin bisa menerjangnya, selama mereka masih memiliki senjata ampuh bernama senyum yang tulus.

5. Jelita masih memiliki satu nama lain lagi. Nama ini membuatku secara naluriah harus menjaganya, karena nama lain dari Jelita adalah η κόρη του ανέμου
 
Nah kawan, itulah 5 ciri-ciri Mama Olive yang tadi kau minta. Aku sudah menyebutkannya. Sekarang mandilah, lalu lekas kau langkahkan kedua kakimu menuju masjid. Selamat Idul Qurban 1433 Hijriyah ya.

Ah angin, aku bahkan belum mengucapkan selamat hari lahir untuk η κόρη του ανέμου ..

14.10.12

Menarik Lebih Lama

14.10.12
Pakde Cholik tidak bohong ketika di salah satu statusnya (di group warung blogger) beliau menggoreskan sederet kalimat pendek.

"Kami bukan awet muda tetapi menarik lebih lamaaaaaaaaa.."

Kalimat tersebut dibuktikan oleh Pakde Cholik, Bunda Yati, Bunda Lahfy, dan Bu Sumiyati Sapriasih, di acara seniora kopdaria.

Hehe, kalimat seniora kopdaria tersebut juga muncul dari seorang senior, Om NH.

Seniora Kopdaria



Menarik lebih lama, saya suka kata-kata itu. Dan saya juga ingin tampil menarik lebih lama lagi. Seperti mereka, orang-orang yang saya sayangi.

12.10.12

Selamat Hari Lahir Mbak Orin

12.10.12
Jejaring sosial facebook mengabarkan pada saya, bahwa hari ini (12 Oktober 2012) adalah hari lahirnya Rinrin Indrianie atau biasa saya panggil Mbak Orin. Kabarnya, salah satu dosennya mengartikan nama itu sebagai singkatan ORang INdonesia.

Kereeen, saya jadi ingat postingan acacicu sebelum ini. Foi Fun!

Bongkar kebiasaan lama, Orang Indonesia cantik-cantik kayak Mbak Orin :)

Selanjutnya tentang Mbak Orin

Dia kelahiran Bandung, namun sewaktu kecil sudah pindah ke Majalengka, lalu Cirebon, kemudian Jatinangor, dan lalu kemudian kerja di Jakarta.

Kok saya tahu? hehe, barusan saya ngintip di blognya. Pengen ngintip juga? Silahkan berkunjung ke rindrianie dot woredpress dotkom.

Hari lahir sudah kadung identik dengan yang namanya kado atau hadiah. Entah siapa yang memulai gagasan itu, saya tidak tahu.

Tentu saja saya juga ingin memberikan sekotak hadiah pada Mbak Orin. Tapi apa ya? Pengen banget memberikan hadiah berupa helikopter (lengkap dengan helipad-nya), tapi isi dompet saya sedang menjelang maghrib.

Hmmm, bagaimana jika Mbak Orin saya buatkan seribu perahu kertas dalam sehari semalam, sebelum ayam jantan berkokok? Ah, sayang sekali. Tulisan ini tergores di pagi yang cerah, sewaktu mentari bersiap menyentrongkan lentera supernya.

Idenya gagal semua, haha.

Pokoknya selamat hari lahir buat Mbak Orin. Semoga tambah cantik luar dalam, semakin mesra dengan Mas Rahman Apriyanto, dan indah dunia akherat. Amin Ya Robbal Alamin.

Sekelumit Kata Untuk Sahabat

Sahabat, semisal saat ini kau ada di sini, maka kau akan menjumpai pagi yang cerah, cicit prenjak, kopi buatan prit, dan seonggok gitar bolong yang rencananya sebentar lagi akan kupetik.

Sayangnya rumahku ada di tepi jalan. Pagi yang indah akan segera berlalu, berganti dengan suara kendaraan. Jika aku hendak menghadiahi sebuah lagu untukmu, maka sekaranglah saatnya, sebelum suara prenjak semakin jauh dan menghilang.

Baiklah..

Publish, jreng, syalala, dan selamat hari lahir..

10.10.12

Foi Fun!

10.10.12
Menemukan komentar cantik dari perempuan yang juga cantik (Ojob dewe, haha..), pada tulisan Nuran Wibisono yang berjudul, Antara Iwan dan Kopi Itu.

Ini dia komentar cantik yang saya maksud :

Hallo Nuran...
Tulisan ini membuat saya agak kemringet,hahahah...

Kita tidak bisa membuat sebuah kesimpulan yang sepihak tanpa kita mengetahui alasan yang jelas kenapa Iwan Fals menerima iklan komersil, mulai dari sepeda motor sampai kopi.

Kalau saya ditanya, apakah saya kecewa dengan keadaan beliau yang seperti itu?

InsyaAllah tidak, karena IsyaAllah seorang sosok Iwan Fals tentu punya pertimbangan khusus untuk menerima iklan komersil. Dan itu bukan untuk kepentingan beliau sendiri. Karena kebanyakan dana yang didapat itu untuk kepentingan sosial. Karena ada sesuatu yang seringkali tak pernah beliau ungkapkan di depan publik.

Saya lebih kecewa ketika beliau tak lagi berkarya dan menutup diri, setelah Galang meninggal. Itu sangat menyakitkan, hidup tertutup dan tanpa karya. Entah berapa tahun lamanya kontemplasi yang beliau lakukan hingga akhirnya muncul lagi sampai saat ini.

Ah, Nuran..
terlalu panjang komentar ini...
Anggap saja ini adalah sebuah protes dari penggemar Iwan Fals..

Ayo Ngopi... :)

Lalu saya temukan juga jawaban cantik, eh tampan ding, dari seorang Nuran, penulis muda pencinta travelling.

Dan ini dia komentar tampan tersebut :

Hehehe, makasih komentar panjangnya mbak, senang bisa berdiskusi lagi :)

Seorang kawan pecinta U2 --terutama Bono-- pernah kecewa berat dengan U2. Gara-garanya Bono lebih sering mengurus kegiatan sosialnya dan melupakan dunia yang membesarkannya: musik. Kawan itu kecewa bukan karena Bono aktif dalam kegiatan sosial, melainkan karena terlalu sibuk dengan kegiatan sosial sehingga lupa berkarya.

Mungkin itu sama saja dengan Iwan. Saya memang bukan fans berat Iwan, tapi saya begitu menghormatinya, sama seperti saya menghormati Slank. Tapi ketika Iwan --dan juga Slank-- sibuk membintangi iklan dan melupakan dunia musik, saat itulah kritik harus dilayangkan. Aku juga sama sekali tak keberatan Iwan membintangi iklan, tapi ya itu tadi, kekecewaan muncul karena Iwan lupa berkarya. Atau karya yang bagus. Seingatku, dia pernah bikin album baru setaun atau dua tahun lalu.

Ya semoga saja dalam waktu dekat ini Iwan bisa mengeluarkan album baru lagi, album yang berisi musik-musik yang membuat ratusan ribu orang menggemarinya :)

Markingop, mari kita ngopi Mbak :)

Sangaaar koooeeen...! Saya suka perbincangan itu. Salam Foi Fun!

9.10.12

Nostalgia Surat Menyurat

9.10.12
Kabarnya, hari ini adalah hari surat menyurat sedunia.

Hmmm, setiap kali telinga saya mendengar kata surat menyurat, yang terpikirkan adalah seekor merpati. Atau kalau tidak, bunyi cetak cetek mesin ketik manual.

Meskipun saya bukan seorang filatelis, terpikir juga oleh saya gambaran akan perangko. Atau sepeda motor Pak Pos yang berwarna orange. Atau lirik lagu lawas yang dulu sering Ibu nyanyikan. "Berdebar hatiku.. Trima spucuk suratmu.."

Wah, ternyata surat menyurat menyimpan seribu kenangan. Belum lagi surat ijin membolos sekolah, haha. Ini adalah jenis surat yang membutuhkan sedikit teatrikal di depan orang tua, alias pura-pura sakit.

Ohya, ada lagi yang saya ingat saat mendengar kata surat menyurat. Pas Idul Fitri kemarin, saya dapat kiriman kartu pos dari Mbak Dey. Beberapa hari kemarin, saya juga dapat kiriman amplop kecil dari pemilik blog Monilando. Alangkah indahnya.

Roda jaman bergerak sangat cepat. Dulu orang berkomunikasi (jarak jauh) dengan berkirim salam. Selanjutnya melalui merpati dan ketukan. Media ketukan yang biasa digunakan adalah alat musik tradisional kentongan. Kemudian dikenal jasa kurir dan menjadi sempurna dengan manajemen pos.

Kalau dipikir-pikir, ini adalah metode yang berputar, hanya kemasannya saja yang berbeda. Entah apakah semua ini bisa disebut dengan kemajuan atau kemunduran.

Sekarang kita mengenal transportasi udara, dulu sudah ada manusia yang bisa terbang. Contoh paling populer adalah tokoh pewayangan Gatot Kaca. Jasa pengiriman masa kini dikenal dengan nama paket, dulu sudah ada santet, haha..

Hmmm.. sebelum saya ngelantur lebih jauh, saya tutup saja tulisan suka-suka ini dengan sebuah pertanyaan. Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata surat menyurat?

Mari kita bernostalgia di sini.

4.10.12

Ketika Uang Tak Lagi Berguna

4.10.12
Kota kecil Jember disegarkan oleh datangnya hujan perdana. Hujan yang kehadirannya dirindukan oleh banyak orang. Bukan hanya para petani, saya juga rindu hujan. Meskipun atap rumah masih belum sempurna, dan meski listrik harus padam berkali-kali, tapi saya sangat bahagia.

Hujan tadi sore menyisakan aroma tanah yang khas. Malam ini saya masih bisa menghirup nuansanya. Ah, ini adalah suasana yang pas untuk membuat perapian dan menikmati secangkir kopi buatan Prit.

Saat sedang bersantai, tiba-tiba saya teringat pada kejadian kemarin. Tiba-tiba banyak orang yang mengeluhkan errornya layanan BBM. Ingat juga kejadian tadi sore, di saat listrik sedang byar pet byar pet.

Itu semua membuat pikiran saya melayang pada beberapa pengalaman, ketika saya bergabung dengan tim SAR dan diterjunkan di daerah bencana, di hari-hari pertama.Tanpa akses listrik, belum ada sanitasi air bersih, putusnya jaringan komunikasi, tak ada bahan bakar untuk kendaraan, aroma yang tidak bersahabat, reruntuhan bangunan fisik, korban bencana yang belum dievakuasi, tatapan-tatapan kosong, dan masih banyak lagi.

Itu adalah suasana dimana uang tak lagi berguna. Ketika uang tak lagi berguna, jangan dikira hidup akan menjadi damai tanpa ada kekerasan fisik. Sebaliknya, atau justru semakin parah. Sebungkus nasi bisa saja menjadi alasan terjadinya perang.

Bagaimana jika kita tiba-tiba hidup di situasi yang seperti itu?

Menurut saya, sikap tenang adalah langkah awal untuk menghadapi kekacauan. Baru kemudian memikirkan sesuatu. Setelah itu observasi (mengamati) apa saja yang ada di sekitar kita. Ketiga langkah di atas akan mengantarkan kita pada sebuah kata bernama rencana. Tentang apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Tentu saja, segala perencanaan tersebut berkaitan erat dengan apa yang dinamakan survive atau bertahan hidup.

Bertahan Hidup

Belajar bertahan hidup tidak harus menunggu bencana datang, atau menunggu datangnya ledakan inflasi dunia yang mengakibatkan uang tak lagi menarik. Kita bisa memulainya saat ini juga.

Saya ajak anda untuk bicara yang sederhana saja. Manakala anda memelihara beberapa ekor ayam kampung di halaman rumah anda yang sempit, apakah itu bisa dikatakan bertahan hidup? Ya tentu saja. Saya membuktikan sendiri. Ketika dompet saya menunjukkan angka nol rupiah, dan ketika Prit bertanya, "Mas, makan apa kita hari ini?", hari itu saya diselamatkan oleh beberapa butir telur ayam kampung saya yang cantik.

Kita tidak akan mengeluhkan harga cabe yang melambung tinggi, di saat kita telah menanam cabe sendiri di halaman belakang rumah. Hal-hal yang sederhana ini bisalah kita sebut dengan langkah-langkah kecil untuk bertahan hidup.

Survive berbanding lurus dengan kemandirian, dan mandiri adalah pondasi utama yang dibutuhkan jika kita ingin hidup merdeka.

Penutup

Saking enaknya saya menulis di acacicu, saya tidak sadar jika kopi di gelas bening telah sampai pada ampasnya. Reflek saya melemparkan sebuah kalimat manis pada Prit. "Nduk, kopine mase enthek, buatin lagi dooong."

Beberapa detik kemudian saya tertegun. Kenapa saya tidak membuat kopi sendiri ya? Ah, ternyata saya tidak mandiri, dan tidak sepenuhnya merdeka.

Sedikit Lagi..

Melukiskan kata demi kata di suasana yang romantis.Terima kasih kopi hitam, sampaikan salamku pada jemari yang meracikmu, jiahaha..

1.10.12

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

1.10.12
Sebelumnya saya mau tanya, apa ada diantara sahabat blogger yang pernah punya pengalaman berada di tengah-tengah tawuran? Jika pertanyaan itu dilemparkan kembali pada saya, maka saya akan menjawab, "Ya, saya pernah".

Saat itu tahun 1992, di kota kecil Jember sedang ada launching Matahari Dept. Store - Johar Plasa. Didatangkanlah Lady Rocker asal kota pahlawan, Ita Purnamasari.

Ketika acara semakin hot, tiba-tiba saya terjebak di tengah-tengah tawuran. Entah apa masalahnya dan entah siapa yang memiliki masalah, saya benar-benar tidak tahu. Yang saya lakukan hanya satu, berusaha mengikuti laju gelombang massa. Itu semua saya lakukan agar saya tidak jatuh dan terinjak-injak.

Itulah pengalaman saya saat berada di tengah-tengah medan perang. Sangat tidak menyenangkan berada di situasi yang seperti itu, apalagi saat itu saya masih sangat bocah.

Pelajaran pertama yang saya dapat dari kisah tersebut, mereka yang ada di medan tawuran bukanlah para jagoan. Berlari, mengikuti arus, memukul, menendang, itu semua hanyalah naluri untuk mempertahankan diri.

Semua terjadi begitu cepat, dan orang-orang di dalamnya tertekan oleh keadaan. Kontrol diri sedemikian mudahnya hangus dan berganti dengan hipnotisme situasi.

Lalu dimana para jagoan berada?

Tidak semua orang terlahir sebagai jagoan (yang seperti itu). Tapi pasti ada saja jagoan di setiap sekolah. Ibarat pepatah lama, setiap hutan memiliki predatornya sendiri. Begitulah, setiap sekolah memiliki jagoannya sendiri.
acacicu © 2014