23.11.12

Menjalani Hari Dengan Hore

23.11.12
10 November 2012, tiga belas hari yang lalu..

Saya kedatangan tamu dari Riau, namanya Om Mustofa. Dulu kenalnya di atas kereta api, perjalanan pulang Surabaya - Jember, sepulang dari Tuban. Waaah, keren sampeyan Om. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk singgah di panaongan.


Om Mustofa memakai topi putih

Malam harinya, di panaongan banyak adek-adek SMA, mereka menunggu pukul sebelas malam untuk mengikuti upacara hari pahlawan di TMP Patrang. Sementara itu, saya dan kawan-kawan meluncur menuju IKIP PGRI Jember. Tamasya ada undangan ngamen di sana.

13.11.12

Doa Kita

13.11.12
Ah, sudah bulan sebelas. Tuhan..... Pada Kata Kusematkan Do'a


Sedikit Tambahan

Para sahabat, mohon maaf saya jarang bewe, masih ada sesuatu yang saya lakukan. Yang penting sama-sama semangat dan saling mendoakan. Terima kasiiih.

8.11.12

Ketika Kau Menikah

8.11.12
Pada Nur Manda Wendhy Perdana Putra. Kemarin malam, aku menuliskan ini untukmu. Tak sempat kupencet tombol publish, karena sesaat setelah menulis, kedua mata ini menuntut haknya untuk terpejam.

Ini untukmu, bacalah.

Hai Manda, lelaki kecilku. Aku memulai sebuah pagi dengan menatap kalender yang terukir secara digital di hape jadul merk nokia. Hmmm, ternyata aku sedang ada di 7 November 2012.

Dan kaki-kaki kecil inipun kuperintahkan untuk melangkah menuju jedding. Mandi, hanya itu yang ingin kulakukan. Sayangnya, aku harus melewati sebuah ritual kecil bernama sikatan alias gosok gigi. Ah, ketemu lagi dengan pepsodent-nya Unilever. Serasa ada di Inggris.

Sehabis mandi, segera aku berganti baju. Kali ini aku memilih baju flanel bekas tapi masih mengandung mbois, kental sekali nuansa koboy-nya. Flanel bermotif Skotlandia tersebut kupadukan dengan celana pendek bekas. Tadinya itu adalah celana panjang merk jean's yang hampir saja terbuang. Aku memotongnya, memperpanjang masa pakainya, dan jadilah celana pendek.

Ketika semuanya selesai, tiba saatnya untuk santai. Duduk di bangku depan kamar sambil menghadap tembok tetangga yang tinggi menjulang, kontras sekali dengan tembok rumahku. Hehe, kadang aku berpikir, semen apa yang mereka gunakan? Apakah sama seperti semen yang digunakan untuk membangun rumahku? Kalau iya, berarti mereka pakai SG, sangat beraroma Meksiko.

Nda, pagi semakin indah saat Mbakmu membuatkan aku wedang anget. "Kopinya habis Mas, mimik teh aja ya," Ah pagi-pagi sudah nyruput teh sariwangi rasa Unilever - Inggris.

Pagi yang indah, pagi yang serba luar negeri. Satu-satunya produk yang asli tanah air adalah ketika aku mandi jebar jebur dengan tanpa menggunakan air aquanya danone - Perancis.

Dikala pagi bersiap-siap menyambut siang, aku keluar mengendarai supa'i alias supra x. Sesekali melintasi Alfamart yang dua pertiga sahamnya milik Carrefour. Yang kutuju adalah sebuah bangunan kuno buatan Belanda. Setelah berlelah-lelah, aku pulang.

Malam harinya..

Yes..! Ini rabu malam, saatnya bagi keluarga tamasya band untuk latihan rutin. Perpaduan yang sempurna, mengumandangkan karya sendiri diantara alat musik berbagai merk, indah sekali, haha..

Sepulangnya dari latihan, kita semua meluncur menuju kedai gubug. NGOPI. Kebetulan di kedai gubug sedang berlangsung acara musik. The Baja Hitam (band indie Jember) sedang punya gawe.

Tidak disangka, keluarga tamasya didapuk untuk tampil bernyanyi. Maka berdentinglah alunan musik tamasya dengan dua lagu persembahannya. Laki-laki dan korek api, serta lagu berikutnya, berjudul Lagu Untukmu.

Lalu..

Kembali ngopi, kembali menikmati suguhan musik The Baja Hitam. Entah disruputan yang keberapa, sayup-sayup kudengar kabar tentangmu. Tentang akad nikahmu. Manda, kabar tentang sekeping kebahagiaanmu adalah kemerduan tersendiri bagiku.

Kepadaku kau katakan untuk hadir pada tanggal 11 November 2012. Ah Manda, ternyata akad nikahmu telah usai. Selamat ya tole. Satu lagi keluarga tamasya (Drummer) yang telah menikah, setelah Yopi (pelantun tembang 'Sama-sama rindu') di 27 Oktober yang lalu.

Ketika Yopi Menikah..

Ketika Yopi Menikah, aku meluncur ke rumahnya sambil menenteng gitar. Prit yang menentengnya di jok belakang sepeda Jepang. Bukan untuk gaya-gaya'an, bukan pula untuk tampil menghibur tamu yang hadir di pernikahan. Gitar itu kucangking hanya untuk menghadapi saat-saat darurat saja, haha.. ngataq.

Ketika Lila Menikah..

Manda, kau tentu juga masih ingat dengan Mbak Lila. Di adikku di Pencinta Alam SWAPENKA, yang suka sekali memberikan sekuntum bunga disaat tamasya band sedang tampil bernyanyi. Mbak Lila juga sudah menikah le, di hari Jum'at tanggal 19 Oktober 2012.

Saat Lila menikah, kukira itu masih hari Kamis. Esoknya, siang hari di Sabtu yang panas, aku bergegas mandi, pakai sarung, minyak wangi, dan sudah siap-siap menyetarter sepeda menuju masjid terdekat. Jum'atan. Ealah ternyata salah hari. Sepenggal kisah yang membuat orang-orang di sekitarku terpingkal. Hmmm, Lila.. sorry.

Kembali ke 7 November 2012

Manda, saat kau menikah, di belahan Jawa Timur yang lain juga ada yang mengecup kebahagiaan. Dialah Iis Apriyanti alias Lenyink SWAPENKA, sang backing vokal tamasya band di lagu Untuk Bapak.

Nda, di luar sana ada banyak sekali gempuran produk-produk asing. Jadi, tak usahlah kau merasa merdeka ketika telah berani mengunyah beras BULOG, karena sesungguhnya beras itupun masih impor dari negeri seberang.

Santai sajalah, tetaplah menikmati hidup. Karena memang tidak ada alasan untuk tak menikmatinya. Sekali waktu, kau ajaklah istrimu untuk berdansa dengan alam raya. Tetaplah berani, tetaplah berkarya untuk tanah air. Karena Manda yang aku kenal adalah Manda yang berani untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Lila, Yopi, Lenying, dan kau Manda, selamat menikah. Kabar tentang kebahagiaan kalian adalah kabar paling Indonesia yang kudengar bulan ini. SALAM LESTARI!

6.11.12

Rona Merah di Wajah Ica

6.11.12

Bersama Ica

Gadis kecil yang berjilbab itu bernama Ica. Dia masih duduk di bangku SD. Mungkin kelas lima atau empat, saya tidak begitu ingat. Tapi ada satu yang paling saya ingat dari Ica, yaitu ekspresi pemalunya yang alami.

Ica juga berhasil mengingatkan saya pada status jejaring sosial milik Mbak Anazkia, "Hiasilah diri kita dengan perasaan malu. Karena perasaan malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan."

Tapi ada yang aneh dengan rasa malu di wajah Ica. Dia sangat berbeda dengan ke-46 kawannya sesama penghuni Yayasan Nur Iman, Jember. Malu milik Ica adalah malu yang minder, malu yang rendah diri. Saya berdoa semoga tebakan saya tidak benar, tapi memang begitulah adanya.

Ah, gurat di wajah Ica juga mengingatkan saya pada tulisan sendiri, yang berjudul Minor Label. Di sana ada seorang sahabat yang menuliskan sebuah apresiasi, diangkat dari pengalaman hidupnya sendiri sebagai anak yatim.

Haaa.. saya dilabeli anak yatim waktu kecil. Bapak saya meninggal saat saya masih bayi. Dan label yatim itu terus melekat membuat saya tak percaya diri. Kalau di pengajian saya disuruh ikut lomba atau pentas, saya sering merasa karena mereka kasihan atas keyatiman saya, bukan karena mengakui potensi yang saya punya. Saya juga sering masuk tipi TVRI lokal, berderet-deret dengan anak yatim lain menerima sumbangan...

O My God... sungguh bikin minder asli...

Pesanku satu, kalau anda seorang artis, politisi, pejabat atau apapun yang butuh di ekspos saat berbuat baik, jangan pada anak yatim deh....

Ica adalah sekuntum kesederhanaan. Dia menyegarkan ingatan saya tentang hidup.

Saya pernah beberapa kali menemukan 'kisah' yang jauh lebih miris. Tapi Ica berbeda. Dia datang bagai bidadari, mengetuk pintu hati, untuk kemudian pergi. Tinggallah saya sendiri memulung butir-butir hikmah yang berceceran.

Kembali pada perkenalan antara saya dan Ica

Saya mengenal Ica pada hari kemerdekaan yang lalu, 17 Agustus 2012. Saat itu, seorang kawan bernama Dedie Handoko ingin mewujudkan mimpi kecilnya. Makan bersama adik-adik keluarga Yayasan Nur Iman, di Kedai Gubug miliknya. Tanpa ekspose, tanpa sticker, dan hanya merayap seperti akar di kedalaman tanah.

Kegiatan cantik di kesunyian yang indah. Saya pernah menuliskannya di sebuah tulisan berjudul, malam untuk dikenang. Ya, saya mengenangnya, mempelajari makna di baliknya, dan.. saya merasa tertampar.

Beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba saya merindukan wajah Ica. Secara tiba-tiba pula, saya nyasar di blog romantisan dotkom. Di sana Kang Achoey dengan santunnya menyebarkan virus cinta berbagi dan menyayangi. Ah, Kang Achoey.. Sahabat saya yang satu ini hebat, tak pernah berhenti menyebarkan senyum dengan cara yang anggun. Kentara sekali ketulusannya.

Lalu saya berpikir, saya harus menceritakan tentang rona merah di wajah Ica. Hanya gurat ronanya saja, tidak lebih dari itu. Maka mulailah jemari ini merangkai huruf demi huruf, dan menghadirkan rona merah di wajah Ica.

Ica adalah pelangi di hati saya. Dengan hanya mengenalnya, saya semakin mengerti tentang arti hidup dan kehidupan, hidup sesudah mati, dan hidup yang mengalir apa adanya. Sungguh sebuah keindahan yang begitu luas.

Sedikit Tambahan

Semoga kata 'tulus' tidak menggantung di KBBI saja, dan semoga tidak hanya tinggal cerita.

Profesor Ayu pernah mengatakan pada saya, mendoakan adalah karya spiritual yang indah. Maka, mari kita tidak berhenti untuk saling mendoakan.

Kang Achoey, salam jempol. Teruslah menginspirasi.

Artikel ini diikutsertakan pada Gaveaway: Cinta untuk Anak Yatim.
acacicu © 2014