31.12.12

Aldin dan Hujan

31.12.12
Syandana Aldin Wijaya


Hai Aldin lelaki kecilku..

Ini hari yang indah. Di luar sana hujan mengguyur kota kecil Jember, tapi orang-orang terlihat sibuk kesana kemari, sama seperti agenda malam tahun baru sebelum-sebelumnya. Kita di sini saja ya sayang. Menikmati butir-butir air hujan.

Ada yang bilang, butir-butir air hujan adalah satu dari banyak karunia Tuhan yang mengajarkan pada kita untuk tidak takut terjatuh. Mereka terlempar dari atas, jatuh kebumi, tapi pada akhirnya bisa kembali menguap dan melayang ke arah bintang.

Kau juga harus begitu Aldin. Jadilah hujan. Karena hujan tidak pernah salah, bahkan jika butir-butir airnya berjatuhan tepat di malam tahun baru. Hanya saja, banyak orang kehilangan ide untuk memaknainya, saat datangnya hujan tidak seperti apa yang mereka inginkan.

Aldin keponakanku sayang..

Ibumu adalah Kakak perempuanku satu-satunya, karena kami memang hanya dua bersaudara. Pada tahun 2008, Ibu dari Ibumu meninggal dunia. Tapi kau tak perlu bersedih, kau masih memiliki seorang kakek yang penuh kisah. Karena dulu kakekmu adalah seorang petualang.

Adapun tentang Bapakmu, dia adalah lelaki tangguh dalam hal survive dan sosial skill. Dia asli suku Sasak - Lombok. Jadi Aldin, secara genetis kau adalah perpaduan dari banyak suku. Jawa, Madura dan Sasak. Sangat nusantara. Menurutku, ini kabar bagus untukmu. Kau tidak perlu repot-repot narsis saat membaca buku Atlantis - The Lost Continent Finally Found, karya Prof. Arysio Santos. Kau hanya butuh berkata, "Namaku Aldin, dan aku warga dunia."

Sebelum kau lahir, aku pernah mengantarkan ibumu ke pulau Lombok. Tepatnya di sebuah rumah sakit di Praya - Lombok Tengah. Sebuah kabar duka yang membawa kami ke sana. Bapak dari Bapakmu sedang sakit keras.

Sesampainya di RS. Praya, Ibumu masih letih berhias peluh, tapi dia tak punya banyak waktu. Bapakmu langsung mengantarkannya ke sebuah ruang, dimana Bapak dari Bapakmu sedang menunggu menantunya. Itu pertemuan pertama mereka.

Kau tahu Aldin, Bapak dari Bapakmu hanya butuh melihat wajah Ibumu. Hanya hitungan kurang dari lima menit setelah itu, Kakekmu memejamkan mata untuk selama-lamanya.

RS. Bina Sehat - Jember, 4 Mei 2012 pukul 06.25 WIB

Lahirlah seorang bocah lelaki yang kelak kunamai Syandana Aldin, dengan bobot 3,5 kilogram, dan dengan panjang tubuh, 39 cm. Bapakmu menambahkan 'Wijaya' di belakang namamu. Maka, selamat datang di alam raya wahai keponakanku, Syandana Aldin Wijaya.

Tiga hari yang lalu, kabar duka kembali mewarnai perjalanan hidup kedua orang tuamu. Ibu dari Bapakmu meninggal dunia. Dan pada 29 Desember 2012 pagi-pagi sekali, Bapak dan Ibumu meluncur pulang ke Tanah Awu - Lombok Tengah, dengan mengendarai sepeda motor.

Hai Aldin, jangan menangis. Sekarang kau tak lagi memiliki Nenek dari pihak Ibu dan Bapakmu, dan tak memiliki Kakek dari pihak Bapak, tapi kau masih memiliki banyak orang yang siap memberimu sejuta cinta. Berhentilah menangis, berhentilah mendongak ke atas. Karena bagaimanapun, menunduk ke bawah itu lebih manis.

Nak..

Ini sudah hari ketiga dimana kau dan aku memiliki banyak waktu untuk selalu bersama. Terus terang saja, selama tiga hari ini aku bahagia. Aku senang bisa mengantarkan Bu Lik Prit ke sebuah toko untuk membelikanmu popok. Ketika pipismu membasahi baju dan lenganku, rasanya sungguh indah.

Semalam kau mungkin sedang menertawakan kekonyolanku dan Bu Lik-mu, saat kami saling melempar tugas, manakala menghadapi kenyataan dirimu buang air besar. Hahaha.. Maafkan kami Aldin. Maafkan jika kami cengengesan melihat ekspresimu saat proses buang air besar itu berlangsung.

Hmmm, rupanya kita tidak sangat dekat. Selama bulan Desember ini saja, aku sering meninggalkanmu. Ya Aldin, bulan ini aku melakukan banyak hal. Bahkan untuk membelai blog acacicu ini saja aku tidak sempat. Maafkan Pak Lik-mu yang tak seberapa tampan ini sayang..

Sekarang malam tahun baru..

Kita di sini saja ya sayang. Setidaknya, sambil menanti kedatangan Om Ananda Firman Jauhari. Kabarnya malam ini dia akan pulang ke Panaongan. Siapa tahu nanti dia mau mendongengimu kisahnya selama berproses di Sokola Rimba - Jambi, bersama Kak Butet Manurung.

Aldin..

Jangan menangis, aku di dekatmu. Kelak saat kau besar, saat hujan turun membasahi bumi, ingat-ingatlah bahwa aku pernah menyarankanmu untuk menjadi seperti hujan. Yang tak takut terjatuh, dan yang tak lelah untuk mencoba bangkit.

Aku senang mengulang-ulang kalimat ini, mungkin nanti kau membutuhkannya. "Kita tidak pernah dinilai dari seberapa kali kita terjatuh, tapi seberapa kali kita mau --dan mampu-- kembali berdiri dan bernyanyi."

Aldin, mari kita berdoa saja semoga nanti malam langit bertabur bintang.

10.12.12

Dulu Kau Pernah Sangat Berani

10.12.12
Kawan, dulu kau pernah sangat berani. Kau bukan tipe laki-laki yang senang melawan arus, apalagi mengikuti arus. Hanya saja, kau istiqomah dalam menciptakan arus hidupmu sendiri.

Ketika orang-orang sibuk tampil modis di megahnya kampus, kau dengan gagahnya mengalungkan selembar serbet warna putih - hitam bermotif kotak-kotak, khas serbet dapur Nusantara. Ketika kutanya kenapa kau melakukan itu, kau hanya diam dan tersenyum. Tapi aku tahu, kau sedang melawan sesuatu.

Di luar sana ada sepeda motor berbagai merk yang menyemarakkan lalu lalang jalanan, tapi kau masih saja setia dengan sepeda kayuh berwarna lusuh. Lalu sejak 2001, dengan bangganya kau menunggangi astrea 800 jadul, dengan sedikit-sedikit berkata, "Sepeda iki ditukokno Bapakku reeek..."

Aneh, padahal jika dibanding dengan kawan-kawan yang lain, mereka selalu menyembunyikan rahasia besar tentang barang-barang yang didapatnya dari orang tua. Kau berkebalikan dari semuanya. Lagi, aku bertanya padamu. Dan lagi-lagi, hanya senyum yang aku dapatkan darimu.

Kawan, dulu kau pernah sangat berani. Menenteng gitar bolong, menyuarakan lagu-lagu ciptaanmu sendiri, disaat orang-orang sedang terlena dengan karya-karya penyanyi bernama tenar. Ya ya ya, memang ada satu dua lagu yang kau suka. Tapi kau bahkan tidak butuh panggung jika hanya untuk mendendangkannya.

Ketika sandal jepit belum semeledak sekarang ini, kau sudah menghiasi telapak kakimu dengan itu.

Kawan, dulu kau pernah sangat berani. Sekarang usiamu semakin bertambah. Mungkinkah kau masih pemberani? Jika kulihat dari jauh, saat ini kau sedang berusaha keras untuk belajar berkompromi dengan raksasa kehidupan, sebuah monster nyata yang terpampang di hadapan kita.

Kawan, semoga kau tetap berani.
acacicu © 2014