24.1.13

Ngopi Bareng Bang Jhon R. Tambunan

24.1.13
Tanjung Papuma, 13 Januari 2013

Hari masih terlalu pagi ketika saya memutuskan untuk melangkahkan kaki mengitari jalanan Papuma yang berpaving. Meski semakin menjauh dari tenda, tapi suara ombak masih bisa dengan mudah saya dengar.

Di ujung sana ada terlihat deretan warung-warung yang sengaja ditata berjajar. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi, satu persatu lampu warung mulai dipadamkan. Namun, masih ada satu warung yang benderang. Di warung itulah Bang Jhon melambaikan tangannya ke arah saya.

Pagi yang indah bersama Bang Jhon, mie goreng plus telur, dan secangkir kopi. Lebih indah lagi saat kawan-kawan yang lain turut bergabung di warung tersebut. Pelan tapi pasti, ocehan kawan-kawan diiringi oleh sang mentari yang semakin tak malu menunjukkan sinarnya.


Bang Jhon dan Prit, ngopi sambil mendengar debur ombak Papuma. Dijepret dengan kamera hape jadul, maap kalau agak buram

Hmmm, saya masih ingat ketika suatu hari ngopi bareng Bang Jhon di tempat biasanya. Kedai Gubug. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya terhanyut oleh kisah lelaki asal Padangsidimpuan (Sumatera Utara) ini.

12.1.13

Catatan Anak Rimba Peniti Benang

12.1.13
Orang Rimba


"Tolong Tuhan, biarkan kami hidup di hutan, jangan biarkan hutan habis. Aku ingin hidup di alam yang bebas, menghirup udara yang segar, menyentuh pohon-pohon yang telah memberiku nyawa. Saat angin bertiup di sela pepohonan, tubuh dan jiwaku pun hidup, dan hatiku bersuka ria. Saat itulah aku teringat akan nasib hutanku. Mengingat orang-orang yang baik hatinya membantu perjuangan kami selama ini, takkan pernah kulupakan selamanya.."

Mengutip dari buku harian anak rimba Peniti Benang, 15 tahun. Catatan ini tertanggal 15 September 2005. (di-bahasa Indonesia-kan).

Sedikit Tambahan

Kepada Fawaz, Okta Lunk dan Propa Nanda. Foto-foto di atas aku ambil dari facebook kalian. Terima kasih atas cerita dan inspirasinya tentang suku orang Rimba di Taman Nasional Bukit Dua Belas. Aku semakin kaya cerita setelah beberapa hari kemarin Propa nanda pulang ke Panaongan Patrang (dan minggu depan kembali lagi ke sana). Hmmm, ternyata tidak cukup hanya dengan lagu.

Bagaimana Jika Saya Salah

Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba saya ingin menulis. Semestinya sekarang saya tidur. Ada banyak hal yang harus saya lakukan hari ini, dan itu semua butuh tenaga ekstra. Tapi, saya lebih memilih untuk memenuhi keinginan hati. Menulis di blog acacicu.

Ini tentang on air semalam, di Prosatu RRI Jember. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Mbak Etty dan Mas Putra selaku pemandu acara Zona Edukasi - CLBK on air. Ketika saya menjawab sederet pertanyaan, ketika saya menyampaikan gagasan tentang pengolahan sampah sederhana, ketika saya menawarkan sebuah konsep dan berharap itu bisa disempurnakan oleh kawan-kawan yang mendengarkan acara tersebut, dan ketika-ketika lainnya, itu semua membuat saya berpikir, bagaimana jika saya sendiri lupa dengan apa yang saya ucapkan?


Keresahan saya saat ini, membola salju dan menjadikannya segerbong kegelisahan. Kesemuanya mengingatkan saya pada acara radio sebelum-sebelumnya. Ya saya masih ingat, suatu hari ada seorang penyiar radio bertanya pada saya dan kawan-kawan tamasya band. Pertanyaan sederhana. Tentang seberapa besar rasa cinta anak-anak tamasya band terhadap lingkungan? Lalu salah seorang dari kami menjawab lugas, "sebesar lirik lagu yang kami ciptakan."

Bagaimana jika suatu hari nanti saya lupa dengan apa yang dulu pernah saya ucapkan? Saya ingin mengingat semuanya, ingin melaksanakan kata, ingin tidak berbohong, tapi saya adalah seorang manusia yang dilengkapi dengan sebuah program kehidupan bernama lupa.

Di bulan Desember 2012 yang lalu, saya absen tidak menulis -di blog acacicu- selama 21 hari. Selama itu pula saya membaca kembali tulisan-tulisan yang pernah saya torehkan. Menyenangkan, kadang saya tertawa sendiri saat membacanya. Tapi... Sesekali saya terdiam dan dibuat membisu oleh huruf demi huruf yang pernah saya tuliskan sendiri. Ya, untuk beberapa hal, saya tidak bisa mewujudkannya. Ingin sekali saya merubah tulisan-tulisan itu menjadi seperti yang saya inginkan. Namun, atas nama proses, niat itu saya urungkan.

Saya tahu, daur ulang dan mengumpulkan barang bekas tak bisa mencegah datangnya sampah dari berbagai sisi. Itu bukan solusi kolektif, hanya tambal sulam belaka. Tapi saya berkeyakinan, selama masih belum ada konsep yang sempurna dalam menangani masalah lingkungan, maka saya akan tetap terbang kemana hati membawa. Saya akan tetap dengan keyakinan ini. Tetap bernyanyi, berkarya, dan tetap berdansa dengan alam raya.

Bagaimana jika saya salah?

Ah, sepertinya saya sedang butuh bertamasya hati.

10.1.13

Peri Kecilku Menikah

10.1.13
Apikecil bersama Perikecil


Namanya Tita, tapi saya biasa memanggilnya Ntit. Dialah perempuan pertama di Universitas Jember yang pertama kali Prit (istri saya) kenal, suatu hari di tahun 2004. Saat Prit baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota sejuta rasa, Jember.

Tita adalah tempat dimana saya seringkali bertanya seputar dunia perempuan. Baik tentang gaya hidup, pola pikir, maupun hal-hal yang sepele tapi saya tidak tahu. Mungkin saya salah, menanyakan perihal keanggunan kepada perempuan setomboy Tita. Namun saya memiliki satu alasan sederhana. Saat bertanya padanya, saya merasa nyaman.

Hal itu tidak terjadi ketika Tita sedang ada masalah dan butuh teman bicara. Dia tidak balik bertanya kepada saya. Entahlah, barangkali saya bukanlah tipe kakak yang baik, haha. Ya ya, saya akui, untuk beberapa hal, Tita sering mendapat teguran keras dari saya.

Suatu hari saya membuatkan Prit sebuah nama blog. Apikecil. Nama itu kadang juga Prit gunakan sebagai nama pena. Itu membuat saya berpikir. Jika Prit saya panggil apikecil, bagaimana dengan Tita? Tidak mungkinlah saya menamainya apibesar meskipun Tita bertubuh bongsor, hehe. Lalu, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya sudah mempersembahkan sebuah nama kepada Tita. Peri kecil.

Dan kemarin, pada 9 Januari 2013, Tita menikah. Seorang lelaki tampan asal Medan bernama Bagus telah menggenggam hatinya. Selamat menikah ya Bagus dan Tita, semoga indah dunia akhirat. Pesan untuk Tita hanya satu, tetaplah menjadi peri kecil.

8.1.13

Kematian Sang Cakil di Mata Moeki

8.1.13
Pagelaran Wayang Orang di Jember tahun 1923, untuk merayakan dua puluh lima tahun Kepemimpinan Ratu Wilhelmina


Jember, 1923...

Suasana kelas di de 'normaalschool voor inlandse tampak gaduh, jauh berbeda dengan hari-hari biasanya. Itu semua dikarenakan mereka baru saja masuk kelas, setelah sepuluh hari sebelumnya diliburkan. Ini adalah waktu yang indah bagi mereka untuk saling berbagi cerita tentang masa liburan di rumah masing-masing. Maklum, Normaalschool adalah sekolah guru (usia 14 - 15 tahun ke atas) yang berbasis asrama.

Dari sekitar 20 siswa lebih yang ada di kelas itu, ada satu orang yang tidak berselera untuk berbagi kisah dengan kawan-kawan lainnya. Dia hanya diam, merunduk, sesekali menerawang. Dialah ABD. MOEKI, salah seorang siswa Normaalschool Djember.

Oleh kawan-kawan sesama siswa Normaalschool, Moeki dikenal sebagai siswa yang cerdas, pemberani sekaligus nakal. Moeki senang melempar pertanyaan pada sang guru, tentang hal-hal yang bahkan oleh kawan-kawannya tidak terpikirkan. Ya, dia berani melemparkan tanya yang seperti itu. Itu juga yang membuat kawan-kawannya memberi embel-embel 'cerdas' di belakang nama Abd. Moeki.

7.1.13

Pandangan Pertama : ABDOEL MOEKI

7.1.13
NormaalSchool di Jember Tahun 1923


Orang-orang yang mengenal saya pasti memahami kebiasaan saya, yaitu berburu gambar-gambar (foto) tempo dulu. Ya benar, itu semua saya lakukan sejak jejaring sosial friendster masih jaya-jayanya. Alasannya? Entahlah saya tidak tahu. Yang jelas saya bahagia ketika melakukannya. Mungkin sensasinya sama seperti ketika Pakde Jumali (tetangga saya) memancing di tepian hutan.

Nah, yang akan saya tuliskan di sini adalah tentang selembar foto. Begini ringkasan ceritanya.

Suatu hari saya membuka situs kitlv milik Belanda. Di sana saya menemukan banyak sekali foto-foto tentang Jember tempo dulu. Dari sekian banyak foto lawas, ada satu yang membuat hati saya dag dig dug. Kenapa? Karena foto tersebut berbeda dari yang lain. Tapi ini subyektif dari saya sendiri.

Selembar foto yang saya maksud tersebut berhasil mengantarkan saya untuk menengok kembali suasana Jember - Jawa Timur di Tahun 1923. Keren. Kemudian saya mendapati kenyataan bahwa dulu di kota kecil ini pernah ada sebuah sekolah yang sengaja digagas untuk mencetak calon guru dan berbasis asrama. Nama sekolah tersebut adalah NORMAALSCHOOL. Dari sinilah saya berkenalan dengan sosok muda di jamannya. Dialah ABD. MOEKI.


Gambar diperbesar hingga 100 persen

Sederhana. Yang membuat foto tersebut tampak mewah adalah pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan sendiri. Yaah, namanya juga bertanya pada selembar foto. Kita harus mencari jawabannya sendiri, karena adalah mustahil bila kita menanti foto tersebut ngomong dalam arti yang sebenarnya, hehe. Dan berikut ini adalah sederet kegelisahan-kegelisahan saya, sengaja saya rangkum agar memudahkan dalam berbagi pada para sahabat blogger.
acacicu © 2014