25.2.13

Salbut

25.2.13
Jarno rah kah masio kulitku potton, sing penting aku ngrenyeng karo awakmu. Ojok dirungokno omongan-omongan creme sing ceketer. Santai ae nduk, sing penting kene gak crekkeng, gak colbut, gak leter, gak kardiman, gak dim mekodim. Torot wes. Nek omongan-omongan mengsle iku dirongokno, malah nggarai cremet. Malah iso-iso tambah gunggungan.

Iyo pancen, dang kadang aku ker-ker alias rombuh. Tapi atiku gak corok. Aku ngerti kok, kapan wayahe ados, kapan wayahe nganggo klambi tak-kotak.

Beh, gak nyambung yo? Haha.. maklum, aku lagi nyon ngranyon. Iki ngono ra-gara Niar ngadakne Giveaway bahasa daerah. Berhubung aku bingung arep nggawe bahasa opo, akhire tak betteq nggawe boso njemberan ae wes.

Yo'opo pas iki terusane? Haha.. mak bedhe blogger nulis loger tat letat koyok ngene iki yo. Buru saiki paling. Iki nek diwoco wong njember dewe, iso-iso ditunjek aku. Paling-paling enek sing ngomong ngene, "Mara ra kah sing genna rek.." Jarno wes, tompes mak tompes. Sekalian ancor pessena telor, gak ngurus aku, dulat. Sing penting aku iso melu menyemarakkan giveaway-ne dulur dewe.

Wes ah, postingan iki tak tutup ae, timbangane tambah salbut. MERDEKA!

Terjemahan:

SALBUT: Menggambarkan benang yang kusut dan sulit diurai

Biarlah meskipun kulitku legam, yang penting aku sayang sama kamu. Tak usah kau dengar omongan-omongan yang tak berarti itu. Santai saja, yang penting kita nggak kikir. Nggak bohong, nggak banyak tingkah, nggak egois, nggak menang sendiri. Biarlah. Kalau omongan-omongan itu didengarkan, itu hanya akan membuat kita emosi. Bisa-bisa, mereka semakin menjadi-jadi.

Iya memang, kadang aku kurang menjaga kebersihan. Tapi hatiku tidak tuli. Aku ngerti kok, kapan waktunya mandi dan kapan waktunya memakai baju kotak-kotak.

Wah, nggak nyambung ya? Haha.. maklum, aku lagi nyerocos. Ini semua gara-gara Niar mengadakan GA bahasa daerah. Berhubung bingung mau menggunakan bahasa apa, akhirnya aku gunakan bahasa Njemberan.

Gimana ini terusannya? Haha.. Kok ada ya blogger nulis asal-asalan kayak gini. Mungkin baru sekarang. Ini kalau dibaca wong Jember sendiri, bisa-bisa aku ditunjek (tunjek: mengarah pada kekerasan, tapi digunakan pada saat-saat yang akrab alias guyonan). Paling-paling ada yang akan ngomong gini, “Ayo dong, jangan bercanda..” Biarlah, biar hancur sekalian. Ancor pessena telor itu artinya hancur uangnya telur, alias nggak balik modal. Apapun yang terjadi, yang penting bisa menyemarakkan GA-nya saudara sendiri.

Sudah ah, postingan ini ditutup saja, daripada semakin ‘mblarah’ kemana-mana. MERDEKA!
Bonus Surat Cinta ala Njemberan:

Dear Ojob..

Saat menuliskan ini, rinduku padamu sudah tak kenneng tidak. Langit Jember boleh saja ondem, tapi hatiku tar centaran. Bahkan semisal kau berkata, "Siah maktakker..! Mararakah sing genna Mas, kaddhuk reh!" Kau tahu, itu tak akan mengubah apapun.

Andai be'en mengerti, sedari kemarin aku ngen-ngen pengen nulis status pal tepelpal seperti ini. Pengen sra mesra'an sambil sesekali menikmati jajanan 'rudal' kambing dan gulung teleng.

Jek reng kamu itu, ngerongin. Aku takkan pernah bisa luppa (p-nya dua) sa-masa dimana kita masih bersama. Numpak ettrek sambi nggawe clono ejjin, maringono ettrek'e nyalip sepeda eggren + mobil ejjip. Essip pokok'e. Ayok Prit, saatnya nyruput kopi bareng sambil mencari kenangan yang naung.

Aku Cinta Bahasa Daerah

Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway

21.2.13

Ceria Bersama Aldin dan Botol Kosong

21.2.13
Foto ini dijepret di panaongan (rumah saya) pada 21 Februari 2013, di sore yang hujan. Nampak si Aldin (keponakan tersayang) sedang asyik bercanda dengan botol kosong. Seolah-olah Aldin hendak berkata, "Hai Om dan Tante, mari kita budayakan daur ulang."

Pakai KamDig pinjaman merk KODAK EASYSHARE M341 Digital Camera

14.2.13

Nostalgia Milik Bapak

14.2.13
Cerita ini pernah saya tulis di jejaring sosial facebook, tapi hanya berupa potongan-potongan kisah. Tentang Jember di era akhir 1960-an, ketika Bapak masih muda.

Inilah gaya anak muda Jember di era Bapak. Merk-merk bajunya masih seputar tetron, santio, dan dril. Dril itu kain yang nekuk-nekuk, kalau mau dipakai harus disetrika dulu pakai kanji. Setrikanya masih setrika arang.

"Arek nom-noman jaman mbiyen iku senengane sing nggilap-nggilap. Lengene lancip (lengan panjang), kadang ditekuk separo. Model iki diarani gaya beattle."

Celananya sadel king alias ngapret. Sebelum sadel king, musimnya komprang. Meniru seragamnya ABK. Dulu di Jember masih belum musim celana jeans, entah bagaimana di kota besar. Ada sih yang punya, tapi satu dua orang saja.

Sabuk yang biasa digunakan adalah sabuk yang bertimang besar. Kadang berbahan perunggu. Sandalnya sandal nilex (model sepatu sandal). Kalau sandal ini putus, biasanya di lem, tidak langsung dibuang. Sebelum nilex, sudah dikenal sandal jepit merk swallow.

"Mbois wes nek sandale nilex utowo swallow," kata Bapak.

Biar semakin mbois, rambutnya anak muda-muda waktu itu dikewek. Caranya me-NGEWEK rambut: Ada alat semacam gunting yang diolesi minyak kelapa, lalu dimasukkan ke semprong (yang sudah dipanasi). Setelah panas, barulah alat itu dijepitkan ke rambut yang ditekuk.

"Ben rambute iso brintik, trus rodok ngombak."

Ya, tujuan dari kewek mengewek itu adalah agar rambut terlihat berombak dan keriting. Sayangnya, rambut yang dikewek hanya bisa bertahan semalam saja.

Ketika Bapak masih muda, minyak rambut yang terkenal adalah tancho. Pemuda-pemuda yang nggak mampu beli tancho, mereka akan membuat minyak rambut sendiri. Caranya, beli vaseline setengah ons. Lalu vaseline dipanasi agar mencair. Setelah cair, baru diberi pewangi. Pewanginya bisa memilih sendiri. Kalau kepengen beraroma melati, ya dicampur bunga melati. Maka jadilah minyak rambut yang mirip tancho.

Kata Bapak, "Vaseline jaman mbiyen iku sejenis stempet, tapi stempet sing paling apik."

Sabun yang populer di jaman itu adalah sabun Cap Gelang (untuk cuci-cuci sekaligus untuk mandi). Dijual per-kotak, warnanya biru muda. Kalau yang nggak punya uang, sabun mandinya pakai daun lamtoro (iku lek wes ngataq nemen). Di awal-awal masa pemerintahan Pak Harto, Bapak sudah mengenal sabun wing's.

Untuk cuci-cuci, bisa menggunakan klerek. Bersih dan wangi. Buah Klerek juga bisa digunakan untuk menjadikan rambut kita kaku. Dadi rambute iso ceng ngraceng. Bapak dan teman-teman seangkatannya tidak mengenal gaya rambut mohawk, jadi dia tidak pernah (atau jarang sekali) memanfaatkan klerek untuk rambut.

Bapak tumbuh di sebuah kampung berpenghuni padat. Jadi, saya tidak bisa memastikan apakah di era tersebut banyak pemuda Jember yang bergaya seperti Bapak, atau hanya karena Bapak saja yang tidak mampu membeli barang-barang mahal.

Selanjutnya..

Di era akhir 1960-an, orang Jember masih menyebut sepeda motor dengan nama DUT-DUT. Mungkin karena bunyi klaksonnya yang dut dut duut...

Tidak banyak yang memiliki dut-dut. Dari yang sedikit itu, diantaranya adalah Mbah Kaji Saleh Patrang (depan rumah saya), Pak Bandi (guru SMP 2 Jember), Pak Kartawan Kreongan (rumahnya di Bromo kampung templek, sepedanya Ducati). Satu lagi yang Bapak ingat, yaitu Pak Rola. Rumahnya ada di depan RS Paru.

"Jaman semono omah nang Kreongan sing onok hansipe yo omahe Pak Rola iku le. De'e nduwe CV jenenge CV. Rola. Nduwe drum band pisan. Iku jaman pas Kreongan sik rame," kata Bapak.

Iya, Kreongan dulu adalah daerah yang ramai, hingga era 1960-an. Di sana ada rumah sakit (kabarnya, dulu RS Paru adalah sebuah rumah sakit umum), ada sekolah teknik, ada pabrik es, dan ada lapangan olah raga milik PJKA yang dijadikan lapangan sepak bola untuk umum.

Hiburan di Jember wilayah kota biasanya seputar wayang kulit, wayang orang, teledhek (lengger), ludruk, janger, mocopat, patrol. Yang paling favorit saat itu adalah mocopat dan wayang kulit.

Ohya, kembali ke sepeda dut-dut. Berikut adalah merk-merk dut-dut yang ada di Jember. Ada Ducati, Norton, Radex, BSA, DKW, Sundap, Torpedo, Matchlesz, TWN, Areel, Impulse, dan HD. Merk-merk itu tidak mengeluarkan produk barunya per-tahun. Jangka waktunya lama. Itulah kenapa jalanan Jember lebih banyak dihiasi dokar, becak, dan sepeda pancal, daripada dut-dut.

Haripun berlalu..

Jalanan Jember semakin hari semakin ramai. Ya, meskipun tidak seramai hari ini.


Bapak yang di tengah, berbaju hitam, yang kedua telapak tangannya ada di bahu Ibu saya

Pada suatu hari, Bapak bertemu dengan Almarhumah Ibu saya. Waktu itu Ibuk masih bekerja di sospol UNED. Pandangan pertama itu berlanjut ke hari-hari penuh bunga. Tentang PDKT, tentang jalan-jalan keliling lun alun Jember pake' sepeda sundap, dan tentang lagu Tety Kadi yang berjudul Teringat Slalu.

9.2.13

Ketika Bapak Masih Muda

9.2.13
Bapak dilahirkan pada 1 Januari 1950. Saat itu Jember tak sewarwer-warwer hari ini. Ya maklumlah. Waktu terus bergulir dan Jember ikut bersolek diantara waktu yang menderap.

Ketika Bapak masih muda, suasana musik nusantara tidak sehingar bingar sekarang. Penyanyi dengan format band jauh lebih sedikit dibanding dengan penyanyi solo. Nah, salah satu diva yang bersinar saat itu adalah Tetty Kadi.

Hasil rekaman perdana Tetty Kadi beredar tahun 1966. Yang Bapak sukai dari album piringan hitam pertama Tetty Kadi adalah lagu berjudul Sepanjang Jalan Kenangan, Bunga Mawar, dan Teringat Slalu.

Saat itu Bapak sudah berusia 16 tahun.

Bapak tidak terlahir dari keluarga kaya raya seperti keluarga Salim Arifin. Mbah Kung Sura'i (Bapaknya Bapak) hanyalah seorang masinis PJKA DAOP 9, sedangkan Mbah Uti seorang penjual rujak yang warungnya ada di belakang STM Negeri (sekarang SMP 10) Jember. Tapi keluarga kecil ini memiliki sebuah radio berukuran jumbo, khas model radio jaman dulu.

Berbekal radio berwarna coklat itu, Bapak gigih mencari gelombang yang menyiarkan lagu Tetty Kadi. Kata Bapak, radio yang paling sering memutar lagu-lagu kesayangannya adalah Radio Hasanuddin. Pemancarnya berada di JL. PB Soedirman Jember. Pemiliknya adalah Mayor Syafi’oedin (maaf semisal salah eja).

Ada juga radio-radio lain di kota kecil Jember, selain radio Hasanuddin. Misal; Radio Angkatan Muda. Radio ini populer dengan nama RAM, bertempat di Jalan Dr. Soebandi (sekarang berganti nama menjadi jalan Nusa Indah Jember). Tepatnya di rumah Dr. Arman, depan gang Nusa Indah III.

Ada lagi, namanya Radio Kannasta. Juga berlokasi di jalan Dr. Soebandi (Nusa Indah). Stasiun radionya ada di Rumah Dokter Gigi Vander Heide. Dr. Vander Heide memiliki seorang anak bernama Polce. "Polce iki jaman mbiyen terkenal le," kata Bapak. Entah terkenal dalam hal apa, saya tidak tahu.

Yang pernah bermukim di Jember mungkin tahu dengan gedung Bank Mandiri di seberang kanannya Kantor Bupati. Sebelumnya, ini adalah gedungnya Bank Bumi Daya. Nah, di sini dulu pernah berdiri stasiun radio bernama RADIO SEMERU 5. Letaknya ada di Jalan Semeru No. 5 (sekarang berganti nama menjadi JL. Wijaya Kusuma, gerbang kampung using Jember).

Di samping SMP Negeri 2 Jember (Ciliwung) dulu juga pernah ada stasiun radio, namanya RADIO GEZINA X 17.

RADIO SAA 7 adalah sebuah radio yang ada di JL. SAA No. 7 (Sekarang menjadi Jalan KH. Ahmad Dahlan). Bertempat di kediaman Mayor Kirman.

Syukurlah Bapak punya radio. Tapi meskipun tidak punya, Bapak masih bisa mendengarkannya di toko radio & piringan hitam Young Ming. Biasanya, di hari-hari tertentu (sabtu dan minggu), si empunya toko memutar musik (dengan sound siystem tempo dulu yang diarahkan ke jalan). Di sinilah muda mudi cangkruk sambil ndepis mendengarkan musik.

Saking populernya, oleh muda mudi tempat ini dikenal dengan nama radio sukses. Padahal itu bukan stasiun radio. Lokasi 'radio sukses' sendiri ada di Jalan Raya Sultan Agung Jember. Dulu jalur ini lebih dikenal dengan nama RASULTA alias RAYA SULTAN AGUNG.

Tentang Musisi Indie di Jember

Ketika Bapak masih muda, Jember sudah punya band lokal. Ada yang bergenre melayu, namanya Selendang Delima. Ada dua band dari perkebunan, namanya Getah Jaya dan The Silo's (saya tidak tahu ejaan yang benar untuk The Silo's, mungkin d' Silo's). Satu lagi bernama Lembayung.

Kalau Lembayung, saya pernah dengar sekilas kisahnya dari seorang teman bernama Donny Dellyar. Kabarnya, Bapaknya Donny adalah salah satu personil Lembayung. Sedangkan vokalisnya, Bunda Joyce Köhler. Iya benar, dulu Bunda Joyce Köhler pernah tinggal di Jember, mungkin sebelum melahirkan Ahmad Dani.

Dulu Bunda tinggal di Raung depan DKT Jember, terus pindah ke Jalan Irian depan Jember Klinik.

Pada tahun 1967, ada band putri di Jember. Para personilnya adalah Nanik Djamal, Joyce Köhler, Padi Mudmainah, dan Tutik Sidik (alm) pada drum. Sebelumnya, pada 1959 juga ada band putri bernama Muda Ria, sejaman dengan Dara Puspita. Waktu itu Bunda Joyce Köhler masih SMP kelas satu, sedangkan Bapak masih bocah (usia sembilan tahun). Freddy Rudi Paul Köhler, ayahanda dari Bunda Joyce Köhler, mengabdikan hidupnya di Jember sebagai pendidik hingga akhir hayat.

Ketika Bapak masih muda.. Ah, begitu banyak cerita. Bagi saya, menulis adalah tentang memulung dongeng-dongeng Bapak. Saya akan meneruskan kisah ini.

3.2.13

Saat Itu Hujan Tik Rintik

3.2.13
Sudah dua hari ini saya, apikecil, dan kawan-kawan yang ada di panaongan selalu menikmati sore dengan bersepeda ria. Gara-garanya, di rumah ada empat sepeda BMX dan satu sepeda DJ (lebih besar dari BMX) milik Mas Mungki. Sepeda-sepeda tak berbensin tersebut seperti awe-awe dan ingin selalu ditunggangi, hehe.

Setiap kali bersepeda, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya sudah merasa seperti gaet saja. Itu lantaran kawan-kawan senang melempar tanya tentang ini itu. Yang sekiranya saya tahu pasti akan saya jawab. Tapi jika saya tidak tahu, maka saya akan bilang, "aku durung ngerti reeek..."

Padahal destinasinya hanya dari rumah menuju alun-alun kota Jember. Untuk menuju ke titik tujuan, saya harus membelah JL. Slamet Riyadi - Pertigaan Dr. Soebandi - JL. Letkol M. Sroedji - JL. PB. Soedirman - baru kemudian tiba di alun-alun.

Dimulai dari jalur depan rumah, yaitu JL. Slamet Riyadi 135 Patrang - Jember.

Sambil mengayuh saya ngoceh, "Pak Slamet Riyadi iki lahire nang Surakarta tanggal 26 Juli 1927, dan meninggal di Ambon, pada 4 November 1950. Beliau meninggal di usia yang sangat muda, 23 tahun, dengan pangkat Brigadir Jenderal TNI Anumerta.


Di Surakarta sendiri nama Pak Slamet Riyadi juga diabadikan menjadi nama jalan, dengan penulisan yang lengkap yaitu; BRIGJEN SLAMET RIYADI. Berbeda dengan di Jember yang tanpa embel-embel Brigjen. Foto dari wikipedia.


Patung Slamet Riyadi di depan Rumah Sakit AD Slamet Riyadi, Surakarta. Foto dari wikipedia.

Berikutnya bisa ditebak, saya juga berkisah tentang siapa itu Dr. Soebandi, Letnan Kolonel M. Sroedji, dan Panglima Besar Soedirman. Menyenangkan bisa bertamasya sejarah rame-rame.

Ketika melintasi sepanjang jalan M. Sroedji, ada yang membuat saya tertarik. Tidak lain adalah tentang penamaan jalan di papan jalan.


Dokumentasi pribadi. Dijepret pada 2 Februari 2013 menjelang maghrib.

Masyarakat secara swadaya membuat papan nama untuk mempermudah kinerja pak pos. Tepat di sebelah kanannya, pihak penyelenggara daerah kota Jember juga memberikan plang (papan nama) berwarna hijau bertuliskan nama yang sama. Hanya saja, yang ini diberi embel-embel KH (Kyai Haji).

Orang-orang Jember menyebut nama Pak Sroedji dengan ejaan yang berbeda-beda. Ada yang melafalkannya dengan ejaan masa kini, Seruji, adapula yang menulis namanya dengan Serudji. Jika dilihat dari nama Universitas yang memakai nama beliau, kita akan menjumpai ejaan ini, Moch. Sroedji. Itu berbeda dengan ejaan nama yang ada di nisannya, Mohamad Sroedji.

Dari saya sendiri, setiap kali menuliskan nama beliau, saya lebih sering menuliskannya seperti ini. Pak Sroedji, atau M. Sroedji, atau Letnan Kolonel M. Sroedji. Saya rasa, menyingkatnya menjadi M saja akan terasa lebih memberi rasa hormat.

Letnan Kolonel M. Sroedji adalah teladan Jember. Saya pernah menuliskan kisahnya di sini.

Hmmm.. setelah saya pikirkan masak-masak, ternyata judul tulisan ini gak nyambung blas dengan isi. Maaf ya sahabat blogger.. Tapi beneran kok, saya tidak bohong. Kemarin itu, saat kita bersepeda, hujan turun rintik-rintik. Orang Jember kalau ngomong rintik-rintik kan tik rintik. Jadi saya tuliskan saja seperti itu, hehe..


Sehabis tik rintik, sore yang cerah mulai menyapa, tapi tidak lama. Sang mentari buru-buru tenggelam. Sudah waktunya berbagi tugas dengan rembulan dan bintang-bintang.

Oke, sekian dulu cerita tentang jalan-jalannya. Nanti akan saya sambung lagi. Salam jreng jreng jreeeeng...
acacicu © 2014