30.4.13

Aldin dan Pagi Yang Selalu Keren

30.4.13
Pak Kaji Aldin
Pagi ini Aldin terlihat keren sekali. Dengan kopyah di kepala dan sorban melilit di lehernya, dia ibarat koboi padang pasir. Sesekali tangannya bersendekap atau hanya memainkan gerigi-gerigi plastik yang menghias kereta dorongnya. Ah, kereta dorong itu.. semakin lama semakin tampak kecil.

Aldin, Mbah Kung, da kereta dorong
Ah.. hebat. Cepat sekali kau bertumbuh boy. Sebentar lagi kau tak butuh menikmati pagi bersama kereta dorong. Namun begitu, Mbah Kung-mu akan senantiasa bahagia menemanimu jalan-jalan menghirup udara pagi sambil mendengar dendang burung prenjak.

Aldin lagi senang-senangnya mangap
Ketika ada yang bertanya, "Mana giginya Mas Aldin?" Saat itu juga kau akan mangap alias membuka mulut lebar-lebar, hehe. Sabar ya Aldin, akan ada waktunya nanti kau punya gigi yang lengkap. Dan ingat, jangan meniru Pak Lik. Dulu waktu Pak Lik masih SD, ketika ada pemeriksaan gigi gratis di sekolah, Pak Lik lari, meloncat dari satu bangku ke bangku yang lain. Gurunya Pak Lik butuh bantuan teman satu kelas hanya untuk menangkap siswanya yang takut pada jarum ini, haha.

Maaf le, Pak Lik sedang melirik Bu Lik Prit
Pagimu selalu keren ya le. Setiap selesai sholat subuh, Mbah Kung selalu mengajakmu jalan-jalan ke pertigaan perumnas. Temanmu banyak. Ada sopir angkot yang lagi ngetem di pertigaan, tukang becak, Buk Bunawi penjual kopi, Buk Ririn, Pak Rit, dan masih banyak lagi. Setiap pagi, setiap hari.

Sebentar lagi 4 Mei 2013 le, saatnya merayakan hari lahir untuk pertama kalinya.

27.4.13

Akhirnya Prit Tahu

27.4.13
Seperti cinta yang merambat, seperti itu jugalah yang ingin saya tuliskan kali ini. Tentang rahasia-rahasia kecil yang sedari dulu tersimpat rapat. Saya menggenggamnya erat-erat. Sayang sekali, rahasia-rahasia kecil itu pun mencungul dari sela-sela jemari, tanpa bisa saya cegah lagi.

Haha.. Akhirnya Prit tahu

Akhirnya Prit tahu, saya takut jika harus menonton film horror versi Indonesia. Apalagi pemainnya adalah artis senior Almarhummah Suzanna Martha Frederika van Osch. Memang iya. Jika harus memilih, saya lebih senang makan sate ayam saja, daripada harus nonton film horror versi Indonesia.

Akhirnya Prit tahu, dulu ketika masih kecil, saya memiliki kebiasaan buruk. Ngempeng jari alias mentil, haha.. Syukurlah kebiasaan ini terhenti dengan sendirinya saat saya ikut persami (perkemahan sabtu malam minggu), ketika duduk di bangku SD.

Saya pernah memiliki masalah serius dengan mahluk kecil bernama tumo atau kutu rambut. Dan itu tidak terjadi sekali saja, melainkan dua kali. Rahasia memalukan ini (antara saya, tumo, dan peditox) terkubur dalam-dalam, tapi lha kok masih bocor saja.

Dan rahasia-rahasia lainnya pun mencuat ke permukaan tanpa bisa saya cegah.

Akhirnya Prit tahu..

26.4.13

Saudara Sepersusuan

26.4.13
Saya dan Samo

Perjumpaan saya dengan Samo kemarin sore, membuat saya teringat akan masa kecil. Tentang hari-hari yang telah lewat, tentang nostalgia di tempat saya bertumbuh, yaitu Kelurahan Patrang, di pinggiran kota kecil Jember.

Dulu, setiap kali ada perlombaan apapun di desa kami, Samo selalu berhasil menjadi yang ter-mbois. Mulai dari lomba maraton keliling Taman Makam Pahlawan Patrang (tournament legendaris yang kini tinggal cerita), BMX, hingga lomba kintir-kintiran di kali bedadung.

Samo memang jasik, hampir dalam segala hal yang sifatnya petualangan, dia tak terkalahkan. Ya, dia tumbuh sebagai jagoan. Padahal, hampir seluruh proses hidupnya dilalui dengan cara melawan teori. Misal, makan tanpa cuci tangan, tidur hanya beralas tikar yang langsung berhubungan dengan tanah dengan ruang jendela terbuka tak berkaca, mengkonsumsi air mentah di sumur yang mepet dengan rel kereta dan selokan, dan masih banyak lagi.

Semuanya hanya membuat Samo justru tumbuh semakin kuat. Aneh memang, tapi itulah Samo.

Masa kecil Samo dilalui dengan berjualan pisang goreng, dan beberapa jajanan goreng lainnya. Konsumennya orang-orang Perumnas. Saya adalah yang paling sering menemaninya berjualan. Masuk dari satu gang ke gang, sambil berteriak, "Dang goreeeeeng.."

Hehe.. masa kecil yang manis.

Saya biasa memanggil Ibunya Samo (Almarhumah) dengan panggilan 'Yu.' Lebih lengkapnya lagi, Yu Karim, karena anak pertama Yu Karim namanya Karim. Biasanya orang nusantara di beberapa tempat lebih senang menyebut nama daging (nama anak pertama) dalam pergaulan sehari-hari.

Selain Cak Karim, Samo masih memiliki saudara lagi, namanya Cak Rahman. Cak Rahman meninggal dunia hampir dua tahun yang lalu, disebabkan sakit. Jadi, Samo adalah anak bungsu.

Saudara Sepersusuan

Pada saat saya baru lahir, Ibuk tidak lama memberikan ASI oleh sebab beliau sakit-sakitan di masa paska melahirkan. Jadi, Ibuk hanya sempat beberapa hari memberikan ASI terbaiknya. Saya pikir masuk akal juga. Terbukti, dalam hal prestasi yang diukur dengan angka-angka, saya tidak pernah ranking. Untuk banyak hal, proses belajar saya cenderung sangat lambat. Sungguh jauh berbeda dengan kawan-kawan yang lain.

Konon kabarnya, setiap hari saya diantar ke Yu Karim untuk mendapatkan asupan ASI. Waktu itu Samo sudah lebih dahulu bertumbuh dan sudah bisa diberi asupan pendamping berupa air tajin dan bubur. Jadi, saya dan Samo adalah saudara sepersusuan.

Ketika saya tanyakan ke Bapak tentang kebenaran kabar ini, beliau membantahnya. Ya, beliau satu-satunya yang membantah, sedangkan yang lain mengiyakan. Entahlah mana yang benar, buat saya itu tidak penting.

Terlepas dari itu semua, saya dan Samo selalu menjaga tali silaturrahmi meski jarang berjumpa.

Kini Samo hidup bahagia bersama istrinya, si Wiwik (juga teman masa kecil namun lebih muda) dan dua anaknya, Nina & Putra. Sehari-hari tak lagi dilaluinya dengan berteriak dang goreng. Beda lagi sekarang, Samo lebih senang meneriakkan nama-nama Terminal di Jember karena dia adalah supir Lin dengan trayek Tawang Alun - Arjasa.

Bagaimana dengan masa kecil anda? Apakah anda juga memiliki sahabat jagoan? Mari kita berbagi kisah meski hanya beberapa kata.

Salam

24.4.13

Hai Net

24.4.13
Hai Net, apa kabar?

Kudengar kapan hari Kak Butet Manurung nongkrong di acara Kick Andy. Aku tidak menontonnya, karena di panaongan sudah tidak ada tivi. Ada juga kudengar, kau menonton siaran tersebut berdua dengan orangnya (Kak Butet). Pastilah acara itu bergizi. Kapan-kapan aku pingin nonton rekamannya.

Ohya Net..

Di beberapa status jejaring sosialmu sering kubaca kalimat, "Bagaimana kabar Jember." Hehe.. kota kecil kita masihlah indah Net. Yang membuat Jember tampak tidak sedap mungkin hanya tentang masalah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dan mungkin itu adalah RTRW terburuk di Indonesia. Aku sendiri juga malu, mendapati kenyataan bahwa RTRW Jember merupakan hasil dari copy paste, menjiplak perda milik kabupaten lain.

Kabar tentang copas RTRW Jember bisa kau jumpai di dumay hanya dengan cara mudah. Membuka mesin pencari (google) dan mengetikkan kata kunci 'RTRW Jember.'

Bupati MZA Djalal ingin sekali mereformasi kota agraris ini menjadi total berwajah industri. Beliau mempersilakan industri masuk ke Jember, walau itu harus mengorbankan lahan pertanian.

Seorang Bupati, pastilah ingin menyejahterakan rakyatnya. Sayang sekali impian tersebut membuat kau dan aku merasa sedih ya Net, haha. Aku sendiri sangat resah jika kota kecil ini berubah wujud menjadi kota berbasis industri (opomaneh pertambangan). Kau sendiri paham Net, betapa busuknya industri pertambangan (terlebih tambang emas) jika dilihat 'selain' dari sisi ekonomi.

Akhirnya kita (tamasya band) kembali bersuara, kembali bernyanyi. Insureksi, keterbangkitan untuk melawan. Ya, meskipun hanya lewat nada, demi menyalurkan keresahan. Link lagu Insureksi aku simpan di sini Net.

Net..

Sebenarnya aku ingin bercerita tentang secuil kesedihan yang dirasakan oleh adek-adekmu di SWAPENKA (Mahasiswa pencinta Kelestarian Alam). Tapi nggak enak mau langsung jdar-jder nulis. Jadi, anggap saja masalah RTRW dan keresahan akan industri tambang di Jember hanyalah acacicu semata.

Iya Net, keluarga kita sedang sedih. Anggota SWAPENKA angkatan 2011 (FSUJ Jurusan Ilmu Sejarah 2011) atas nama Rahmat Tunjung Permana, dengan nama rimba Bunglon, meninggal dunia di RS. Bina Sehat, pada 23 April 2013 sekitar pukul 22.30 WIB.

Kabar itu kudengar dari adek Jukok. Dia menelepon sekitar dua jam setelahnya.

Semalam, aku sedang ada di kondisi kesehatan yang tidak prima, Prit habis mengerok'i punggungku. Tapi aku tahu, aku (dan Prit) harus merapat ke rumah sakit. Jenasah Almarhum sudah dua jam di sana, belum ada evakuasi, pastilah ada yang tidak beres. Apalah artinya bahu ini jika tidak digunakan sebagai tempat bersandar adik-adik kita.

Sekitar pukul 01.30 dini hari (masuk 24 April 2013), aku dan Prit tiba di sana. Kami menunggu di ruang lobi. Tepat di sebelah kami ada dua orang lelaki dewasa yang terlihat resah. Rupanya mereka sedang mengurusi biaya administrasi rumah sakit.

Prit mengandalkan sisa pulsa sebesar 320 rupiah untuk menghubungi Bringin, ketua umum SWAPENKA. Menanyakan dimana lokasi jenasah. SMS tak kunjung dibalas, akhirnya tak ada pilihan lain, kami memutuskan untuk bertanya saja pada teller rumah sakit. Pertanyaan Prit dijawab dengan senyuman oleh seorang perawat berjilbab. Ternyata dua lelaki yang duduk di sebelah kami adalah pihak dari keluarga almarhum.

Selanjutnya..

Kami saling tersenyum, berjabat tangan, menyampaikan empati, dan melangkah bersama ke posisi almarhum (masih belum dipindahkan ke kamar jenasah).

Orang pertama yang kutemui di dekat kamar almarhum adalah adek Jukok. Wajahnya kusut. Untuk semalam, dia adalah yang tertua dari semua keluarga SWAPENKA yang berkumpul. Melihat kami datang, kekusutannya sedikit berkurang.

Selain adek Jukok, sudah ada Bringin, Sodung, dan Nendes. Sodung tampak sibuk menemani Bapaknya almarhum Tunjung (Bunglon). Beliau tampak shock dan menyimpan kemarahan. Di dekat Sodung ada seorang Bapak berkopyah (Kyai) yang sabar menuntun sang Bapak untuk istighfar.

"Beliau marah Mas, sebab sedari tadi tidak ada kunjungan dari dokter dan pihak RS. Selain itu, setengah jam sebelum Tunjung meninggal dunia, selang infusnya lepas, tak ada satupun perawat yang bisa memperbaikinya. Sampai akhirnya, Tunjung menghembuskan napas untuk terakhir kalinya."

Itu data yang kudapat dari Sodung.

Aku tak sampai hati menanyakan hal tersebut pada pihak keluarga. Namun akhirnya aku bertanya juga pada Pak Kyai yang berkopyah hitam, saat beliau sedang istirahat di dekat jendela. Menurut beliau, tadinya keluarga sudah bisa menerima kenyataan. Tapi ketidaktanggapan dari pihak rumah sakitlah yang membuatnya Bapak almarhum marah dan ngomel-ngomel, tak peduli dia sedang ada di lokasi penuh orang sakit.

"Terlepas dari semuanya, ini berhubungan erat dengan biaya Mas. Kakaknya Tunjung masih dalam proses menyelesaikan masalah administrasi. Obat-obatannya mahal. Belum lagi biaya kamar ICU, dll. Sekitar 50 atau 60 juta," Kata Pak Kyai dengan logat Maduranya yang kental.

Sudah tiga jam lebih, jenasah masih di rumah sakit.

Satu persatu kawan-kawan mulai berdatangan. Ada Buter kawan seangkatan DIKLAT almarhum. Wajahnya menampakkan ketegaran. Padahal satu jam sebelum Tunjung meninggal dunia, dia meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumahnya di Silo. Baru sampai rumah, ada sms masuk di hapenya, dan dia bersegera kembali lagi ke rumah sakit. Jarak yang lumayan harus ditempuhnya.

Selain Buter, ada juga Bunker, Watu, Adiyatma (saudara almarhum, yang selalu menemani Bapak almarhum, kemanapun beliau melangkah), Bencot Mahadipa, dan Rante.

Ketika Rante datang, dia langsung menuju ke arahku. Bersalaman, untuk kemudian memelukku. Pelukan yang enggan dia lepaskan. Rante menangis. Ah, lelaki perantauan ini, yang selalu kuandalkan daya survive-nya, yang datang ke negeri antah barantah bernama Jember, yang tak malu menjual jajan gorengan di Fakultas Sastra hanya demi menunjang biaya kuliah, yang membuka diri pada orang-orang yang ingin belajar ngaji (bahkan diantaranya adalah Dosen), yang tidurnya di Musholla kampus sebab tak ada uang untuk indekos, yang selalu menyampaikan kepahitan keluarganya dengan cara yang riang, dia menangis di pelukanku. Prit memeluk Rante dari belakang, dia turut terisak.

Dodon datang. Sama seperti Rante, dia menuju ke arahku, menjabat tanganku, dan memelukku. Dia seorang kawan pencinta alam yang baru tujuh jam yang lalu (sebelumnya) sibuk mencari darah B untuk Dmit. Dmit sendiri dirawat di rumah sakit yang sama, bina sehat.

Menit sebelumnya, kusempatkan untuk melongok Dmit. Dia belum tidur. Aku tak sampai hati mengabarkan perihal Tunjung. Jadi, kami hanya berhaha-hihi. Lalu kusarankan Dmit untuk istirahat, aku kembali ke ruang almarhum Tunjung.

Sudah hampir empat jam almarhum ada di rumah sakit. Belum ada tanda-tanda evakuasi. Dodon berinisiatif untuk bertanya ke ruang administrasi. Diapun melangkah. Aku memilih untuk tidak jauh-jauh dari dulur-dulur muda SWAPENKA.

Tak jauh dari kami, ada kawan-kawan kuliah almarhum. Ada juga si Lemper (Alifah Zaki Rodliya),anggota Persma Sastra. Tiga jam sebelum Tunjung meninggal dunia, dia sempat kirim inbox. Begini bunyinya.

"Kalau saya bisa mendonorkan jantung saya untuk Tunjung saya mau donorkan jantung saya mas,, gak tega liat tunjung me-ronta kesakitan..."

Ketika Dodon datang dari ruang administrasi rumah sakit, dia membisikkan sesuatu pada saya. "Masalah duit. Mas-e almarhum wes nyetor STNK karo BPKB motor, dulure sing sitok'e pisan. Maringene jenasah sudah bisa dibawa pulang."

Hmmm, sama seperti Bank yang hanya mengenal data, rumah sakit juga begitu. Mereka hanya mengenal administrasi yang harus ditaati. Mungkin, karena memang harus begitu.

Benar, tak lama kemudian ada seorang petugas membawa ranjang dorong dengan selimut warna hijau tua. Dia mulai sigap memindahkan almarhum. Tujuannya, hendak dipindahkan ke ambulans. Orang-orang mulai sibuk mengemasi barang-barang.

Saya jadi ingat setengah jam sebelumnya, saat masuk ke kamar almarhum. Tepat di bawah ranjang masih ada muntahan darah almarhum yang sama sekali tidak dibersihkan oleh pihak rumah sakit. Semoga nanti darah itu lekas di-steril-kan.

Satu masalah teratasi, masalah yang lain timbul. Bapaknya Tunjung bersikeras tidak mau pulang. Bagaimanapun, dia ingin bertemu dan berkomunikasi dengan Dokter piket yang memang tak kunjung datang.

"Anak saya dibuat praktek. Dokternya nggak tanggung jawab. Katanya piket, lha kok ndak mencungul blas. Ngono kok yo dadi dokter. Mana hati nuranimu?"

Masih banyak lagi kata-kata yang meluncur dari Bapaknya Tunjung. Sampai di lapangan parkir pun beliau masih marah. Ketika ada saudaranya (masih muda, berpakaian satpam namun berjaket hitam) mendekati beliau coba menenangkan, sambil berkata, "Sabar Pak, rumah sakit sudah maksimal merawat Tunjung. Ini yang terbaik buat Tunjung, kita harus bisa menerimanya," Sang Bapak semakin marah. Dia coba memukul dan menendang lelaki berpakaian satpam tersebut. Padahal menurut Dodon, lelaki itu juga turut menggadaikan surat-surat kendaraannya pada rumah sakit. Ah, sedih menatap kenyataan yang terhampar di depan mata.

Net..

Akhirnya kami meluncur ke kediaman almarhum. Bukan yang di daerah Tanggul, melainkan rumah barunya yang di belakang kantor AUTO 2000 Jember. Bapak masih ada di areal parkir rumah sakit, ditemani Adiyatma (pada akhirnya Bapak pulang berjalan kaki, setelah berhasil dibujuk oleh Adiyatma dan beberapa orang lainnya).

Ah, sangat panjang ya Net. Maaf..

Intinya begini Net. Pada akhirnya, semua baik-baik saja. Adek-adekmu hebat. Seakan-akan mereka sangat memahami sebuah kalimat, "Dari satu musibah, akan datang dua hikmah."

Kau juga harus baik-baik saja di sana Net. Berdoa untuk almarhum, itu terdengar lebih manis. Sampaikan salamku buat Brade Lunk, kak Butet, dan Orang Rimba di sana ya.

Salam Lestari!

23.4.13

Mengenang Kisah Orangutan Bernama Tole

23.4.13
Dulu ada seekor orangutan bernama Tole. Pemeliharanya adalah keluarga Haji Mudjianto. Mereka hidup mesra di kota Malang - Jatim, mulai 1988 hingga kasus Tole mencuat, 2003.

Selain Tole, Mujianto masih memelihara 2 ekor orangutan lagi, tapi keduanya sudah mati. Sedangkan orangutan yang lain (yang sempat Haji Mujianto rawat), disumbangkan ke Taman Safari. Itulah alasan kenapa Tole begitu dimanjakan.

Tidak seperti orangutan yang lain, Tole dipelihara selayaknya bocah kecil yang imut. Pada badannya dikenakan baju, makannya pakai menu nasi rawon, minumnya coca-cola. Masih banyak lagi contoh-contoh bentuk kasih sayang untuk Tole.

Suatu hari menjelang akhir tahun 2003, ada kabar yang sampai terdengar di telinga kawan-kawan pencinta alam Jember. Kabarnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim II mencoba beberapa kali berkomunikasi dengan Haji Mudjianto. BKSDA berharap Haji Mujianto mau menyerahkan Tole, sebab Tole termasuk binatang yang dilindungi UU.

Bagaimana kisah selanjutnya? Tentu saja Haji Mujianto menolak mentah-mentah. Bagaimanapun, sudah ada ikatan emosional antara keluarga Haji Mujianto dengan Tole. Pihak BKSDA tidak putus asa, mereka mencoba dan terus mencoba. Namun, penolakan semakin kasar, tidak bersahabat, dan cenderung melawan.

Akhirnya diputuskanlah untuk menempuh jalan terakhir. BKSDA bersama dengan Polres Malang melakukan penyitaan paksa, dibantu oleh Pusat Penyelamatan Satwa Petungsewu dan ProFauna.

Kejadian selanjutnya, Haji Mudjianto terpaksa berurusan dengan hukum. Dia diancam penjara 5 tahun atau denda 100 juta menurut UU no 5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya.

Tapi siapa yang mau begitu saja dipenjara? Tak seorangpun mau dikurung, sekalipun dia pencinta burung berkicau dalam sangkar.

Setelah insiden penyitaan paksa, Tole dikirim ke Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Wanariset di Balikpapan. Namun pada akhirnya Tole mati karena komplikasi penyakit yang kronis dan menahun. Tole belum genap satu bulan tinggal di sana. Itu terjadi pada November 2003.

Waktu itu (hingga 2004 - 2005), ada media massa lokal Jatim yang sering mengulas dan melaporkan perkembangan kasus Tole (dan membuka SMS interaktif). Opini massa pun terbentuk. Mayoritas menyudutkan BKSDA dan PPS Petungsewu. Kasusnya menjadi semakin besar, mencuat, dan mencuri perhatian massa.

Begitu hebatnya opini yang tercipta, sehingga menggugah kalangan mahasiswa di sebuah Universitas di Malang. Mereka melakukan demonstrasi di Departemen Kehutanan Jakarta. Salah satunya menuntut pembubaran PPS dan ProFauna.

Hal-hal lain masih terus berkembang hingga masa persidangan tahun 2005.

Ini kabar menyedihkan untuk saya dan kawan-kawan Pencinta Alam yang lain. Kekuatan media ampuh menggiring opini publik, hingga warna putih pun bisa dijadikan hitam. Contoh kecil, seringkali eksploitasi pertambangan emas yang jauh di bawah prosedur dikisahkan secara manis dan humanis. Sangat menyedihkan membaca berita di luar realita.

Iya benar, saya tidak bisa menutup mata dengan 'pertautan hati, cinta, dan kasih sayang' antara keluarga Haji Mudjianto dengan si Tole. Mereka sudah 'hidup bersama' dalam waktu yang lama. Tak heran jika Tole dianggap sebagai bagian dari keluarga sendiri, bahkan tidur pun di atas kasur yang empuk.

Tapi naluri tetaplah naluri. Bagaimanapun juga, Tole lebih bahagia jika berada di habitatnya. Adalah tugas kita untuk berkata lirih, cinta tak harus saling memiliki. Bahasa kasarnya, kalau tak mau dipenjara jangan memenjara.

Masih ada banyak pilihan satwa lain yang bisa dipelihara dan diijinkan oleh negara, hewan ternak misalnya.

Sampai hari ini, tidak kurang-kurangnya orang melengkingkan salam lestari. Bahkan baru kemarin Earth Day didengungkan, tapi pembantaian Tole-Tole baru masih saja berlanjut. Semakin cepat dan sistematis. Bukan hanya orangutannya yang coba dihilangkan. Lebih kejam lagi, rumahnya diobrak-abrik. Berjuta-juta flora dirangkum menjadi satu populasi pohon saja.

Oalah.. Toleee... Tole... Salam Lestari Le..

22.4.13

Tidak Ada Earth Day Hari Ini

22.4.13
Hari Bumi? Enaknya nulis apa ya di acacicu? Itulah dua hal yang saya pikirkan sejak kemarin. Dan hasilnya? Saya tidak menulis apa-apa. Saya lewati 22 April dengan tidur nyenyak, ngopi, dan membuat polusi kecil-kecilan.

Sehari sebelumnya (Hari Kartini), apakah saya berkonde? Haha, tentu saja tidak. Saya lewati hari itu dengan menulis artikel bertema Kartini. Kemudian siang harinya menemani dua orang sahabat, Yongki Loho (bassist tamasya band) dan Wulan. Sore harinya, merapat di kedai gubug. Nongkrong bareng Agustinus Wibowo.

Yongki & Wulan (yang berjaket orange), & Keluarga Tamasya

Bersama Agustinus Wibowo, di Hari Kartini

Malam harinya, ketika hendak meluncur ke rumah sakit, ada sesuatu yang membuat saya urung melangkah. Akhirnya saya hanya bisa berdoa pada tiga pasien di satu rumah sakit yang sama (RS. Bina Sehat Jember). Satu adek saya di pencinta alam SWAPENKA, satunya si Demit, seorang kawan pencinta alam, dan satu lagi Ibunda Andi Letoy (gitaris tamasya band).

Kembali ke hari bumi. Dulu saya pernah menuliskan tentang sejarah hari bumi, pernah pula menulis tentang sejarah bertumbuhnya pencinta alam di Indonesia. Dan hari ini, saya enggan menuliskannya lagi, entah kenapa. Saya memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa selain hanya menikmati kopi buatan istri dan menuliskan hal yang lain.

Padahal, untuk beberapa hal, manusia butuh momentum. Begitu juga dengan aktifis lingkungan. Sesekali mereka juga butuh hari-hari besar seperti Hari Bumi.

Kata seorang kawan, saya kesulitan menuliskan tema besar seputar lingkungan, sebab saya tahu terlalu banyak. Saya mengerti begitu bertebarannya kerusakan. Setidaknya, di tempat dimana saya tinggal. Mungkin dia benar, tapi tidak betul-betul benar.

Iya, saya tahu terlalu banyak, saya mengerti. Tapi apa yang saya tahu, apa yang saya mengerti, membuat saya tidak bisa memahami semuanya. Sepertinya, saya tidak pandai dalam menyelami pemahaman.

Maaf kawan, saya nyruput kopi saja. Tidak ada Earth Day hari ini.

Salam Lestari!

20.4.13

Srikandi Itu Bernama Kartini

20.4.13
Jadi ceritanya, saya ingin turut menyemarakkan First GA yang diadakan Mbak Evi Indrawanto. Adapun artikel yang saya pilih adalah tulisan Mbak Evi yang berjudul Selamat Hari Kartini. Baiklah, saya akan segera menuliskan opini seputar Kartini. Semoga ada manfaatnya.

Denting Piano di Masa kecil

Ketika masih SD, saya pernah memiliki mainan berupa piano kecil. Warnanya orange. Itu adalah mainan termewah yang pernah saya punya. Bapak membelikan itu ketika saya sedang sakit (kalau tidak salah, saat itu saya sakit cacar air). Berharap putranya lekas sembuh.

Apa hubungannya piano dengan Kartini? Hehe.. Saya memiliki alasan sederhana. Satu-satunya not lagu yang bisa saya mainkan dengan baik (dengan piano mainan) adalah lagu Ibu Kita Kartini. Masa kecil itu memang sudah berlalu, tapi saya masih bisa mengingatnya dengan baik. Setiap kali ada yang menyebut-nyebut nama Kartini, memori itu muncul secara otomatis.

Foto Kartini ini saya dapat dari KITLV

Kartini Yang Saya Kenal

Kartini lahir pada 21 April 1879, sembilan tahun setelah disahkannya UU Agraria Hindia Belanda. Konon kabarnya, UU ini diberlakukan sebagai reaksi atas kesewenangan pemerintah dalam mengambil alih tanah rakyat. Mereka para Politikus liberal (yang saat itu berkuasa di Belanda) tidak setuju dengan sistem tanam paksa. Meski begitu, mereka tetaplah mengeruk keuntungan ekonomi dari tanah jajahan.

Sejarah mencatat, Kartini mengenyam pendidikan hingga tamat ELS (Europeesche Lagere School). Wow keren. ELS adalah sebuah sekolah yang dikhususkan untuk golongan Eropa, dan Kartini tercatat sebagai salah satu siswa di sana. Sangat nampak jika Kartini lahir di tengah-tengah keluarga priyayi kelas tinggi, dan bisa berbahasa Belanda (bahasa pengantar di ELS)

Kartini mengenyam pendidikan di ELS hingga umur 12 tahun, sebelum kemudian menjalani masa pingitan (penantian panjang sampai tiba saatnya dikawinkan oleh orang tua). Itu berarti, sejak tahun 1891 Kartini sudah memasuki masa pingitan (Tujuh tahun sebelum diterbitkannya tulisan G. Francis berjudul Nyai Dasima). Di rentang waktu inilah Kartini getol membaca dan menulis surat kepada teman-teman Eropanya, dengan bahasa Belanda.

Masa pingitan Kartini berakhir pada usianya yang ke 24, saat dia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang Bupati Rembang. Tahun berikutnya, 17 September 1904, Kartini meninggal dunia, empat hari setelah melahirkan seorang putra bernama Raden Mas Soesalit.

Kartini Ingin Meruntuhkan Kebodohan

Iya benar, Kartini lahir di tengah-tengah keluarga priyayi, sebuah adat Jawa yang berakulturasi dengan budaya (baca: kepentingan) Eropa. Untuk menjinakkan daerah jajahannya, Belanda selektif dalam memilih Bupati, bahkan hingga ke tingkat Wedana sampai Juru Tulis. Mereka sengaja diarahkan untuk gila kekuasaan, harga diri, dan kepemilikan (status sosial).

Pada jaman ini, tak ada yang mengerti apa itu arti kesetaraan. Mungkin ada yang tahu, tapi tidak banyak. Dan pada umumnya mereka akan pura-pura tidak tahu, sebab takut itu akan menyebabkannya lengser dari jabatan.

Adalah hal yang wajar jika seseorang harus memanggil Ndoro pada orang lain, hanya karena yang satu sudah merasa dirinya 'rakyat biasa' sedangkan yang lain menjuluki dirinya sendiri sebagai priyayi. Hmmm.. sebutan Ndoro adalah hasil ciptaan situasi masa itu, yang artinya mengagungkan orang yang disebut, dan merendahkan diri sendiri juga orang tua, dan bangsanya. Sungguh sejarah kelam yang sangat memprihatinkan, padahal kita satu bangsa.

Jika ada orang yang berani menghadap Bupati (atau jajaran di bawah Bupati seperti Wedono) dengan tidak ngelesot (bersimpuh), maka dia akan mendapat teguran keras atau bahkan hukuman mati. Belanda mengetahui ini, lalu dengan sengaja melakukan 'pembiaran' atas kebutaan budaya tersebut. Mereka justru menjadikannya alat politik. Misal, iming-iming pemberian payung emas pada Bupati terbaik di suatu wilayah. Bupati terbaik biasanya dihitung dari jumlah upetinya.

Namun pada masa itu juga, mulai dikenal kata sudara (tidak mengenal jenis kelamin dan untuk segala usia, diadopsi dari bahasa Melayu, pada akhirnya berubah redaksional menjadi saudara), juga kata Tuan untuk sesama lelaki. Ini adalah sebutan perlawanan pada kata Ndoro, Diajeng, Raden Ajeng, Raden Mas, Raden, dan sebagainya.

Bagaimana nasib perempuan di masa ini? Jika harus dirangkum, kehidupannya hanya sebatas pada masak, macak, manak (memasak, berdandan untuk suami, dan melahirkan).

Itu hanya sekelumit kebodohan yang mengkungkung di masa hidup Kartini. Dia ingin menyudahi ini lewat pemikirannya (perenungan panjang selama masa pingitan), bahwa perempuan Indonesia harus cerdas. Cerdas hati nuraninya, budi pekertinya, cerdas pula pemikirannya. Itu semua tak akan pernah bisa terwujud tanpa sebuah lembaga bernama sekolah dan atau organisasi pendidikan.

Mungkin Kartini pernah bertanya-tanya, kenapa Hindia Belanda memiliki sistem negara yang dualisme? Kenapa tidak Hindia saja? Kenapa harus tunduk pada Sri Ratu Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau? Kenapa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Harus Willem Rooseboom? Sangat memalukan, kita dijajah oleh bangsa tanah rendah yang juga pernah dijajah Spanyol lalu Perancis. Tidakkah ada saudara sebangsa yang bisa memimpin bangsanya sendiri?

Di sisi lain, Kartini mencurahkan sebagian besar pemikirannya pada kawan-kawannya Eropa. Sangat unik.

Barangkali dalam proses perjalanan pemikirannya, Kartini juga bertanya-tanya, kenapa Hindia sangat bodoh? Lalu dia menemukan jawaban. Ya ya ya.. Karena perjuangan rakyat tidak berserikat, tidak dilakukan bersama-sama, tak ada yang bisa menggagas konsep organisasi. Kebodohan hanya membuat banyak kaum terjajah (non priyayi) yang mempercayakan harapannya pada datangnya sosok Ratu Adil (yang tak pernah datang).

Cerahlah Hindia

Kartini membuktikan bahwa segala pemikiran yang terdokumentasi (tertulis) adalah senjata ampuh untuk melawan apapun. Setidaknya untuk melawan sebuah kata bernama lupa.

Memang, Kartini tidak hidup di jaman facebook, twitter, blog, dan segala fasilitas menulis yang mudah dan tinggal pencet. Tapi dia memahami sesuatu. Kartini tahu alasan kenapa dulu Deandels memimpin pembuatan proyek jalan Anyer - Panarukan yang dihiasi genosida penuh darah dan air mata.

Ini subyektif menurut saya, Kartini memahami bahwa negeri Belanda sangat menghargai jasa pos (itu sebabnya jalur Deandels juga dikenal dengan nama Jalan Raya Pos). Kartini mengadopsi esensinya, untuk kemudian menjadikan jasa pos (surat menyurat) sebagai senjata menyudahi kebodohan.

Di sisi lain, perkembangan surat menyuratnya diiringi oleh gaung Politik Etis oleh kelompok Liberal Belanda (akhirnya diterapkan sejak 1901, kalau nggak salah). Suasana yang sedikit mendukung untuk bertumbuhnya benih-benih pemikiran Kartini.

Delapan tahun setelah kematiannya, ada keluarga Belanda (Van Deventer, seorang tokoh Politik Balas Budi / etis) yang mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Kartini. Yayasan inilah yang memelihara mimpi Kartini. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan sekolah wanita. Inspiratif!

"Cerahlah Hindia.. Cerahlah Nusantara.. Cerahlah Indonesia!"

Srikandi Itu Bernama Kartini

Hidupnya seperti Srikandi. Sama-sama lahir di keluarga pemimpin. Srikandi sendiri adalah salah satu puteri Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan panchala. Secara garis besar, digambarkan dalam Mahabharata bahwa Srikandi berjenis kelamin netral (lahir sebagai wanita, dan diasuh secara pria). Bisalah kita menyebut Srikandi secara kiasan sebagai simbol kesetaraan, sama seperti mimpi Kartini. Setara dalam konsumsi pendidikan, dan setara dalam derajat hidup.

Pada akhirnya Kartini kompromis dengan adat Jawa berupa kawin paksa, sebelum kemudian menghembuskan napas terakhirnya. Kita tahu, pihak penjajah selalu membungkam dan memadamkan mimpi perempuan bangsawan (yang berpotensi melakukan perubahan) dengan cara memaksa orang tua perempuan tersebut untuk segera menikahkannya.

Jadi menurut saya, Kartini meninggal dunia di saat perjuangan dan 'perangnya' belum selesai. Sama seperti Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuda (dalam perang di Kurukshetra).

Penutup

Semoga Kartini tersenyum, ketika melihat virus pemikirannya menyebar pesat dari Sabang sampai Merauke. Perempuan-perempuan masa kini adalah hasil dari mimpinya (dan para pejuang perempuan baik yang namanya tercatat oleh sejarah maupun yang terlupakan), yang setara tanpa harus menafikan qodrat, yang bisa bersekolah setinggi-tingginya, yang tidak lagi terjajah poligami tak jelas (tidak seperti nasib dirinya di jaman gundik masih dianggap wajar-wajar saja, tergantung siapa lelaki yang menggundik).

Semoga Kartini tidak tahu, bahwa di jaman ini semakin banyak saja sosok seperti yang diperankan oleh Nyai Dasima.

Semoga Kartini tidak marah, ketika orang-orang berbondong-bondong merayakan hari lahirnya dengan sangat dangkal, hanya sebatas berkonde, tanpa diiringi pola pikir untuk merubah sesuatu (dari yang tidak baik menjadi baik).

Perempuan yang berani tampil beda dengan selera massa, yang mencuat ke permukaan oleh sebab berani menyuarakan dasar pemikirannya, dia bernama Kartini.

Kartini, Salam Lestari!

Turut Menyemarakkan First Give Away Jurnal Evi Indrawanto

19.4.13

Cinta Kami Merambat Pelan

19.4.13
Dengan diantar oleh Bapaknya, calon mahasiswi asal Tuban itu meluncur ke kota kecil Jember dengan memanfaatkan jasa bus antar kota. Dikisahkan bahwa dalam perjalanan tersebut dia mabuk kendaraan lebih dari sepuluh kali.

Itu adalah sepenggal kisah perjalanan (Tuban - Jember) dari seorang gadis bernama Zuhana Anibuddin Zuhro, suatu hari di bulan Juli 2004. Namanya kemudian tercatat sebagai mahasiswi Fakultas sastra Universitas jember.

Hana (begitu biasanya dia dipanggil) segera mencuat dipermukaan para mahasiswa baru, hanya karena dia hobi mengkonsumsi bedak. Iya benar, dia senang sekali nyemil bedak. Dan saya adalah satu dari sekian banyak orang yang penasaran dengan sosok Hana.

Akhirnya saya berhasil berkenalan dengannya. Tapi entah bagaimana kisahnya, sungguh saya lupa. Bahkan hari perkenalannya pun saya jga tidak mengingatnya. Mungkin di bulan itu juga, Juli 2004, atau Agustus, atau September.. Ah, entah.

Perempuan mungil ginuk-ginuk berkaca mata bulat (seperti kacamatanya Mahatma) yang bernama Hana ini, ternyata dia jago menulis dan membaca puisi. Dalam setiap puisi ciptaannya, akan kita temukan kata retorika. Saya tidak tahu kenapa dia begitu menyukai pilihan kata retorika.

Hobinya berpuisi membawa langkahnya untuk memasuki sebuah proses kesenian di Dewan Kesenian Kampus FSUJ. Ukuran tubuhnya yang mungil tak bisa mencegahnya untuk lantang menyuarakan bait-bait puisi dalam berbagai pentas seni.

Akhir tahun 2004..

Hana membuat sebuah keputusan berani dalam hidupnya. Dia mendaftarkan diri sebagai calon anggota DIKLATSAR pencinta alam di sastra (SWAPENKA). Tahap demi tahap dia lalui dengan sukses, mulai dari ijin orang tua, tes kesehatan (beserta surat dokter), hingga pendidikan ruang. Sampailah akhirnya Hana lolos di tahap selanjutnya, yaitu DIKLAT LAPANG.

Lokasi DIKLATSAR SWAPENKA berada di zona Taman Nasional Meru Betiri. Kondisi alam yang berbukit-bukit, hutan lebat, belum lagi waktu itu musim penghujan, tak membuat gadis mungil ini gentar. Posisinya yang selalu siap setiap saat dengan baju lapang, jauh dari bedak, tak sempat menggoreskan pena meski sekedar menulis sebuah kata bernama retorika, membuatnya terlihat seperti sosok Zena.

Hana menjalani tahap demi tahap DIKLATSAR dengan tabah. Segala pressing alam dan skorsing kesalahan, dia lakoni dengan hati yang mantab tanpa sifat manja dan air mata. Salut!

Dalam prosesi DIKLATSAR tersebut, Hana dianugerahi nama rimba (budaya masyarakat pencinta alam). Saya yang memberinya nama. Singkat dan cukup jelas. Prit. Alasannya, karena sejak hari pertama Hana selalu berkalung dengan peluit sebagai manik-manik kalungnya.

Hari berlalu minggu berganti, tiba-tiba sudah memasuki awal tahun 2006.

Itu adalah tahun dimana untuk pertama kalinya saya mengajak Hana (Prit) bersilaturahmi ke rumah. Memperkenalkannya pada orang tua. Waktu itu Almarhummah Ibu saya bertanya, "Siapa dia?" Saya tidak bisa menjawabnya, karena saya tidak pernah sekalipun mengungkapkan sesuatu (semacam i love you) pada Hana.

Cinta kami Merambat Pelan

Selama ada di Jember, Hana empat kali masuk rumah sakit. Yang pertama karena kecelakaan. Ceritanya, suatu hari dia harus menempuh mata kuliah di rumah dosennya. Namanya Ibu Asri. Sepulangnya, Hana terserempet sepeda motor. Dia berboncengan (sepeda kayuh) dengan temannya, jaraknya lumayan jauh untuk ukuran sepeda kayuh.

Saya masih ingat, betapa saat itu Bu Asri terhakimi oleh banyaknya pertanyaan. "Lho kok kuliahnya di rumah? Kok saya baru tahu? padahal ini sudah berlangsung lama. Kok begini, kok begitu?"

Dan pertanyaan yang rata-rata dimulai dari kata 'kok' itupun hanya tinggal 'kok' saja. Saya malas mengenangnya.

Masuk rumah sakit kedua dan ketiga adalah karena Hana sakit dilep (sakit datang bulan yang sebegitunya). Terakhir, Hana masih saja mampir rumah sakit karena kecelakaan. Lagi-lagi dia diserempet sepeda motor, dan tidak sedang bersama saya.

Saat dia tergeletak lunglai di ranjang rumah sakit, saya dan kawan-kawan mapala (juga kesenian) setia menungguinya. Dari sinilah saya mengenal lelaki bijak yang oleh Hana dipanggil Bob. Beliau tidak lain adalah Bapaknya Hana. Waktu itu saya masih memanggil beliau dengan sebutan Om.

Mei 2008..

Ibu saya meninggal dunia di rumah sakit Dr. Soebandi Jember, tepatnya di ruang stroke. Hana turut menunggui. Dia pingsan tepat di sisi kanan ranjang almarhummah. Saya membopongnya, untuk kemudian menempatkannya di ranjang lain yang tak berpenghuni.

Esoknya, Bob sengaja datang jauh-jauh dari Tuban. Saat itulah saya melamar Hana secara resmi. Saya sendiri yang melamarnya, tidak diwakili oleh siapapun. Bob tersenyum tulus. Beliau bilang, "tunggu adekmu selesaikan kuliahnya dulu." Dan saya pun mengangguk pasti.

Begitulah kejadiannya, saya melamar Hana pada saat saya sendiri tak sekalipun pernah mengucapkan 'aku cinta padamu' pada gadis mungil pencinta kata retorika.

Tak lama setelah itu, saya menciptakan sebuah lagu berjudul, Untuk Bunga. Di sana saya menjelaskan banyak hal. Mulai dari penggalan lirik, "Aku butuh teman bicara sampai tua, sampai salah satu dari kita ke surga," hingga pada chorus yang berbunyi seperti di bawah ini;

Jangan tatap aku bunga
Jangan tanya tentang cinta
Sungguh ku tak tahu
Bunga..


Barangkali ada yang ingin mendengar lagunya, bisa dinikmati di sini.

Hingga memasuki bulan September 2011, Hanna masih bergelut dengan skripsi.

Singkat cerita, pada 10 September 2011, saya sekeluarga sowan ke rumah Tuban. Melamar secara kekeluargaan, dan menetapkan tanggal pernikahan. Disepakati, saya dan Hana akan menikah pada 15 November 2011.

10 September 2011 melegenda menjadi hari yang sulit untuk saya lupakan. Sepulang dari Tuban, saya tergugah untuk menciptakan lagu. Jadilah lagu sederhana berjudul, Pada 10 September.

Alhamdulillah, Hana mendapat ijin dari dosen pembimbingnya agar terlebih dahulu melaksanakan pernikahan, baru seminggu kemudian ujian skripsi (pada akhirnya dosen pembimbing tersebut mengkhianati kata-katanya sendiri).

15 November 2011

Akhirnya kami menikah, Alhamdulillah. Akad nikah dilaksanakan di Tuban, dihadiri oleh Pakde Abdul Cholik beserta Bu De.

Seperangkat alat sholat dan lagu berjudul Mahar Hidupku, itu yang saya berikan kepada Hana sebagai mahar.

Penutup

Cinta kami merambat pelan, tidak tergesa, wajar, dan bisa dikatakan bukan jenis 'cinta pada pandangan pertama.' Mungkin itu sebabnya, setiap kali saya bangun tidur, setiap kali saya menatap wajah Hana, saya selalu jatuh cinta, lagi.. lagi.. dan lagi.

Tambahan

Sampai saat ini saya tidak terbiasa memanggilnya Hana, melainkan Prit. Dia sudah tidak lagi hobi menjilat-jilat bedak. Mengenai kaca matanya, suatu hari tak sengaja Hana ngrembuk'i (menduduki) kursi yang di atasnya bertengger si kaca mata bundar.

Lelaki yang oleh Hana dipanggil Bob, beliau adalah Bapak mertua paling gaul sedunia. Saya tak lagi memanggilnya Om, melainkan Bapak. Lebih keren dan lebih terasa Indonesia.

Sekarang Hana kembali kuliah di UNMUH Jember.

Saya paham, bagaimanapun Hana butuh figur Ibu mertua. Syukur Alhamdulillah, saya memiliki banyak Ibu di dunia online. Alhasil, Hana memiliki banyak Ibu mertua, mulai dari Bu De Ipung, Bunda Yati, Bunda Lily Suhana, Bibi Dey, Ami Osar, Bunda Lahfy, dan semua kaum Hawa di dunia blogger.

Begitulah Mbak Naqiyyah Syam, cinta kami merambat pelan..

Happy Wedding Anniversary ke-8 semoga Mbak Naqiyyah Syam sekeluarga selalu dalam lindungan-Nya, di dunia maupun di akherat, Amin Ya Robbal Alamin.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away Ajari Aku Cinta

15.4.13

Kisah Semalam

15.4.13
My istri

Semalam kota kecil Jember dihiasi oleh butir-butir air hujan. Kita nonton film di panaongan, berdua saja. Anak-anak yang biasa ke panaongan, mungkin lagi nyruput kopi di tempatnya masing-masing. Mas Mungki ke Kedai Gubug. Yang muda-muda lagi sibuk dengan hatinya. Ya benar, mereka mikirin UN.

Tiba-tiba terdengar suara, "Lho Mas, sekarang kan acaranya CLBK on air?"

Waduh iya, saya hampir lupa. Jam dinding menunjukkan pukul 20.00 WIB, masih ada waktu 30 menit. Tapi di luar masih hujan. Sepuluh menit berikutnya, saya dan Prit sudah siap-siap meluncur ke RRI Jember. Syukurlah, jas hujan milik blogger Jember bernama Vj Lie tertinggal di panaongan.

Rintik hujan setia menemani perjalanan, sejak dari rumah hingga ke tempat tujuan. Kasihan Prit, sepanjang jalan dia krukupan jas hujan. Penderitaannya adalah kebahagiaan buat saya, sebab saya bisa bebas merdeka tolah toleh, hehe..

Akhirnya sampai juga di RRI Jember. Tidak menunggu waktu lama, kita pun on air. Seperti biasa, Putra menemani kami cangkruk'an. Katanya, ini malam terakhirnya siaran. Besok dia sudah ditempatkan di kantor. Hmmm, pastinya dengan posisi yang lebih sip. Selamat ya Putra, semoga semakin sukses. Terima kasih selama ini selalu setia menemani kami di CLBK on air.

Eksyen bareng si Putra

Sepulang dari RRI, saya dan Prit mampir dulu ke Kedai Gubug, mimik susu coklat buatan Rere sahabatnya nduk Kelor. Tak lama kemudian kita pulang ke panaongan, bareng Mas Mungki juga.

Dua jam kemudian, saya dan Prit belanja ke pasar tanjung. Hehe, banyak orang pasar tanjung yang mengenali Prit dari helm-nya. Bentuknya khas, dengan warna kuning yang mencolok.

Prit sedang memilih genjer | Tadi malam

Akhirnya, pilihan belanja jatuh pada rempelo ati, sambelan, dan sayur genjer. Hmmm, paduan yang menggoda. Setelah semuanya terbeli, kita pun meluncur pulang. Tak ada lagi rintik gerimis, langit tak berbintang, dan lagi krukupan jas hujan. Itu tandanya saya tak lagi bisa bebas tolah toleh.

Sungguh indah menyusuri jalan raya kota kecil di malam tak berbintang. Bersama Prit, lampu-lampu kota kecil Jember terlihat lebih gemerlap.

14.4.13

Dari Wildan Hingga Nenek Artija

14.4.13
Wildan Yani Ashari, gambar dari google

Obrolan tentang pemuda Jember bernama Wildan Yani Ashari (atau biasa dipanggil Yayan) muncul kembali, setelah 11 April 2013 mulai menjalani persidangan di PN Jember. Kasusnya kembali dibicarakan, meretas situs pribadi Presiden SBY.

Saya jadi ingat tanggapan Kang Lozz Akbar di waktu yang lalu, tentang pemuda lulusan SMK Balung - Jember 2011 jurusan teknik bangunan ini.

"Waduh isin aku sam nang dulur-dulur blogger. Wildan kan tonggoku dewe, hehe.."

Usia Wildan masihlah sangat muda. Barusan ngintip di mesin pencari, tanggal lahirnya adalah 18 Juni 1992. Semuda itu, dia sudah harus berhadapan dengan Pasal 50 juncto Pasal 22 huruf b UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Bukan itu saja, dia juga dianggap melanggar UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Alhasil, Wildan terancam hukuman pidana penjara paling lama 6 tahun penjara dan atau denda paling banyak Rp 600 juta. Media mengabarkan jika Wildan menghadapi persidangan tanpa didampingi kuasa hukum atau pengacara.

Apapun keputusan sidang nanti, saya berharap Wildan (dan kita semua) bisa memetik hikmahnya. Karena bagaimanapun juga, Wildan masih muda. Langkahnya masih panjang.

Kasus Wildan belum selesai, ada lagi kasus lain yang lebih aktual. Juga datang dari kota kecil Jember. Tentang Nenek Artija. Perempuan 70 tahun yang dituntut oleh Manisa (putrinya kandungnya sendiri). Beliau dilaporkan atas tuduhan pencurian sebatang kayu bayur. Hadeeeeh... Doaku untukmu Nek.

Nenek Artija. Gambar dari google

Jember adalah titik kecil diantara lautan masyarakat luas nusantara. Tentunya, masih ada beribu kisah pilu di sudut-sudut negeri ini. Sahabat blogger, bagaimana kabar kota anda hari ini?

Sedikit Tambahan

Di luar sana begitu banyak apresiasi tentang betapa sakitnya negeri ini. Ada berjuta-juta komentar, tapi hanya segelintir orang yang menyodorkan resep.

13.4.13

Selamat Pagi Jeannette

13.4.13
Roti Jeannette Kesayangan

Penulis Tamu: Mas Bebeh Tamasya

Dulu waktu saya masih TK, Ibuk sering membelikan saya roti manis produksi toko roti Jeanette. Toko ini berada di JL. Sudirman 20 Jember, seberang kantor DPU Bina Marga.

Konon kabarnya, toko roti Jeannette sudah berdiri sejak era 1930an. Saking terkenangnya buat saya, sampai sekarang pun roti ini selalu punya tempat d hati. Ya, atas nama masa kecil dan keping-keping kenangan.

Dulu harganya kira-kira masih 50 rupiah. Sekarang sudah 3500 rupiah. Habegh.. Tapi rasa, kualitas (yang resepnya tetap dipertahankan, tanpa bahan kimia), ukuran, bahkan gambar sablonan pitik jagonya pun tetap sama. Sensasinya tetap sama. Di gigitan pertamanya, biar sudah 30 tahun berlalu, tetaplah seperti dulu.

Selamat pagi Jeanette..

12.4.13

Selamat Bercumbu Dengan Ujian Nasional

12.4.13
Poetri Maharani Septiana Dewi

Hai Poetri..

Tadi Ica ke panaongan. Dia datang, pinjam novel, lalu pulang. Tapi seperti biasa, sebelum pulang, Ica masih mengocehkan apa saja yang ingin dia omongkan. Hehe, senangnya punya teman seperti Ica yang hobi ngroweng.

Sempat kaget juga saat Ica bercerita tentang nasib pelajar SMA (kota sebelah) seangkatan kalian yang nekad bunuh diri gara-gara stress memikirkan Ujian Nasional. Kaget, miris, dan..

"Bruaaakkk.."

Aduh Poet, maaf ya tak tinggal sebentar. Sepertinya di depan rumah ada kecelakaan.

Beberapa menit kemudian..

Ada tabrakan Poet. Korbannya perempuan, pejalan kaki. Saat aku mendekat, korban sudah siap dilarikan ke rumah sakit, dinaikkan mobil suzuki bernopol P 1493 TL. Jadi ingat tanggal malam 22 Maret 2013 yang lalu, saat tamasya band sedang recording lagu (berjudul 'pulang') di studio darurat panaongan. Saat itu ada dua orang pemuda dalam satu sepeda motor yang melaju kencang. Mereka menabrak bruk milik tetangga sebelah. Bruknya jebol, mereka terkapar.

Oke Poet, kita lanjutkan saja cerita yang tadi.

Saat mendengar kabar itu, seketika itu juga aku teringat kalian. Dalam diam aku berdoa, doa yang terbaik untuk kawan-kawan mudaku kelas dua belas, dari Sabang sampai Merauke.

Kata Ica, sistem Ujian Nasional tahun ini mengadopsi sistem barcode. Jadi, kira-kira gambarannya seperti ini. Nanti kalian akan mendapatkan satu set soal dan lembar jawaban, keduanya (antara lembar dan lembar jawaban) memiliki barcode yang sama. Kalian hanya harus mengisi identitas diri pada lembar jawaban, baru kemudian kalian bisa menyobeknya, untuk memisahkan soal dan lembar jawaban. Begitu kira-kira Poet.

Kenapa harus dengan barcode? Nggak tahu juga ya Poet. Mungkin untuk mengurangi tingkat kecurangan dan kebocoran dalam pelaksanaan Ujian Nasional.

Rupanya Ica sama sekali tidak suka dengan sistem barcode ini Poet.

"Kenapa Ca? Bukankah sistem ini bagus?"


Ica bilang, "Kenapa harus di jamanku Mas? Dulu waktu kelas tiga SMP, kita juga melewati UN dengan sistem baru. Rasa-rasanya, angkatanku seperti generasi kelinci percobaan saja."

Aw aw aw.. ternyata Ica mengucapkannya dengan nada marah, entah kepada siapa marahnya tertuju. Ini bukan kemarahan pertamanya. Beberapa bulan yang lalu Ica juga pernah meracau, ketika sekolahnya berganti nama dari SMTP Jember menjadi SMK 5 Jember.

"Kasihan Ibuku Mas, beliau juga alumnus SMTP. Sekarang namanya udah ganti. Mereka yang mengganti nama sekolah, seperti sedang memberangus kenangan banyak orang."

Ah Ica, betapa cerdasnya dirimu. Ocehanmu mengingatkanku pada Bapak. Manakala beliau sedang bernostalgia bersama rekan-rekannya, selalu menyebutkan nama STM dan bukan SMK. Tidak apa-apa Ica, setiap jaman memiliki nostalgianya sendiri. Dulu sekolahnya Poetri juga tak bernama SMA Negeri 4 Jember. Jadi, santai sajalah.

Semalam, saat Ica pulang, dia pamitan begini, "Pulang dulu Mas, besok harus bangun pagi. Di sekolah (SMK 5 Jember) ada acara Istighosah massal. Berdoa bersama-sama memohon pertolongan Tuhan agar dilancarkan menghadapi UN."

Ah, Ujian Nasional pun ada istighosahnya, batinku. Betapa kalimat 'stress menghadapi Ujian Nasional' ternyata benar adanya.

Poetri yang hitam manis..

Ya aku tahu, saat ini kau sedang dalam proses merawat luka dan menjahit rindu. Ica juga begitu. Kalau menurut bahasa kalian, move on. Tapi untuk kali ini saja, sedari 15 April hingga selesai, enjoy sajalah dalam menghadapi Ujian Nasional. Yang pertama memang berdoa, yang nomor satu belajar, yang utama adalah mengerahkan segala kejujuran, Insya Allah nilai akan mengikuti.

Doaku bersamamu Poet, "BRAWIJAYA in your hand..!"

Dan untuk Ica, doa dan cinta kami untukmu. Dua bulan lagi kau sudah akan terbang ke negeri Jiran nduk. Paspor dan data-data lain juga sudah diurusi sekolahmu. So, lewati UN dengan manis, lalu terbanglah...

Bahagia mengenal kalian, Salam Lestari!


Bersama Poetri dan Ica | di pantai Papuma


Sedikit Tambahan

Kawan-kawan mudaku, kalian yang sekarang duduk di bangku kelas dua belas, selamat hari Jumat dan tetaplah semangat!

Blog Poetri bisa dikunjungi di sini. Dan blog milik Ica bisa dikunjungi di sini.

Catatan ini ditulis sesaat setelah tamasya selesai record lagu tentang GUMUK.

Untuk Ica, terima kasih sudah support (backing vokal) di lagu berjudul; Sampai Rimba Merdeka.

7.4.13

Asparagus Yang Tertunda

7.4.13
Perkenalan saya dengan seorang notaris sekaligus blogger dan penulis buku produktif bernama Mbak Irma Devita dimulai dari tulisan saya di kompasiana, berjudul Letnan Kolonel M. Sroedji. Mbak Irma meninggalkan komentar dalam tulisan tersebut. Begini komentarnya:

Mas RZ hakim, saya sebagai salah seorang cucu almarhum Mbah Kakung Moch Sroedji merasa senang sekali bisa membaca kembali riwayat kakek saya dari penuturan mas. Ada sedikit koreksi pada ejaan nama ibu saya. Bukan Poedji ejeki Irawati, tapi Pudji Redjeki Irawati hehe..

Anyway, saya berTerimakasih mas sudah mau repot-repot menulis ulang sejarah kakek saya ^_^ jazakallah

- Irma Devita -


Tidak berhenti sampai di sana, komentar bertanggal 29 Desember 2012 itu bersambung dengan kopdar pada tanggal 15 Februari 2013. Alhamdulillah.

Ohya, saya masih belum bercerita tentang siapa itu Letnan Kolonel M. Sroedji. Beliau adalah pejuang negeri ini di masa pra dan paska kemerdekaan (teristimewa di Agresi Militer II Belanda). Nama beliau diabadikan sebagai nama sebuah jalan di kota kecil Jember. Juga, tepat di tengah pelataran PEMKAB Jember, patung Bapak Sroedji berdiri dengan gagahnya.

Blogger-blogger muda Jember yang turut menemani napak tilas

Mbak Irma tidak sendirian datang ke Jember, melainkan bersama keluarga yang lain. Akan saya sebutkan satu persatu.

1. Ibu Sudi Astuti (putri ketiga dari pasangan Bapak Moch. Sroedji dan Hj. Mas Roro Rukmini)

2. Ibu Pudji Redjeki Irawati. Beliau adalah putri keempat atau bungsu, sekaligus Ibunda dari Mbak Irma Devita.

3. Mas Widi (Arief Widyasasmito), cucu Pak Sroedji dari Almarhum putra pertamanya yaitu Bapak Drs. H. Sucahjo. Putra kedua Pak Sroedji juga sudah meninggal dunia, yaitu Bapak Drs. H Supomo.

4. Khalida Rachmawati, yang paling imut sendiri, hehe.. Ya, si cantik ini adalah putri dari Mbak Irma Devita alias cicit Pak Sroedji.

5. Bapaknya Mbak Irma Devita. Maaf, saya lupa namanya. Yang saya ingat, beliau adalah pensiunan Angkatan Laut.

6. Yang terakhir adalah Mbak Irma Devita.

Nah, itu dia rombongan keluarga besar Sroedji yang datang jauh-jauh dari Jakarta menuju Jember dengan mengusung dua agenda. Napak tilas dan silaturrahmi. Sangat membahagiakan bisa menemani keluarga pejuang untuk napak tilas.

Kedua Putri Bapak Sroedji di bawah (sisi belakang) Patung Ayahandanya

Menemani keluarga Sroedji napak tilas di beberapa titik.

Foto di atas (yang ada gambar saya) diambil sewaktu kita ada di Monumen Karang Kedawung - Jember, lokasi terjadinya pertempuran antara pasukan Brigade III Damarwoelan Divisi I T.N.I. Jawa Timur melawan pihak Belanda. Di sinilah lokasi gugurnya Letnan Kolonel Moch. Sroedji (dan juga Dr. Soebandi, yang namanya diabadikan sebagai nama RSD Jember). Itu terjadi pada 8 Februari 1949.

Rentetan napak tilas tersebut didokumentasikan oleh kawan-kawan Panaongan Gambar-Gerak, sebuah komunitas indie film yang kebetulan markas proses kreatifnya bertempat di rumah saya. Dikoordinatori oleh seorang blogger Jember bernama Mas Donny Dellyar Noor.

Bersama kawan-kawan Panaongan Gambar-Gerak

Hmmm, ceritanya sudah panjang tapi saya masih belum ngomongin soal sup cream asparagus. Padahal sudah saya jadikan judul tulisan ini, heee..

Jadi begini, waktu itu kita berkali-kali makan bersama. Beberapa kali di Resto & Cafe Hotel Royal, dan satu kali di RM Bu Lani (rumah makan persis di depan rumah saya, dan itu pertama kalinya saya makan di sana, haha..). Syukurlah sebelumnya saya sudah punya pengalaman masuk hotel royal, saat dulu menemani Pakde Cholik Komandan Blogcamp, jadi sudah terlatih mengatasi grogi.

Memotret Pakde Cholik dari jauh

Nah, ketika makan di resto royal itulah, saya penasaran dengan sup cream asparagus. Hasilnya? Ketika pertama kali mau nyentong sup asparagus, saya malu soalnya waktu itu ada Bapaknya Mbak Irma berdiri di dekat periuk berisi sup tersebut. Yang kedua, semua pada antri ambil sup asparagus, saya jadi malas dan mengambil yang lain. Kesempatan terakhir, sup asparagusnya habis :(

Sup Asparagus versi Prit apikecil

Daaaan.. Hari ini istri tercinta membuatkan saya menu spesial. Ya, sup asparagus. Rasanya pemirsa, maknyooos...! Apalagi di tambah dengan sup swiwi alias sayap ayam, semakin essip. Ai elof Yu... Jember.

5.4.13

Hari Ini Aldin Menulis

5.4.13
Hari ini Aldin menulis sesuatu di blog acacicu. Entah kenapa, tadi tiba-tiba keponakan saya merangkak dan ndusel. Yang dituju adalah keyboard. Saya terlanjur membuka draft acacicu dan bermaksud hendak menulis. Tapi Aldin menang start. Dia mendahului saya dan berhasil menggapai apa yang dia maksud, lalu klik-klik. Ini hasilnya.

AS3

Apapun itu AS3, saya tidak tahu dan tidak ingin tahu. Yang saya tahu hanya satu, hari ini Aldin menulis. Kamis kemarin, 4 April 2013, usianya genap sebelas bulan. Merangkaknya semakin gesit, bahasa bayinya semakin kaya, dan kini dia menuliskan sesuatu. AS3.

Aldin..

Suatu hari nanti kau harus bisa menulis Nak. Untuk bisa menulis, kau wajib bisa membaca. Ya, membacalah sebanyak-banyaknya. Orang yang bisa membaca harus menulis. Karena jika dia membaca saja (karya orang lain) dan tak pernah menulis, itu terlihat tidak seimbang. Sepertinya tidak adil jika kau melahap tulisan orang lain sementara orang lain tak pernah memcecap hasil karyamu. Menulislah, meski hanya di selembar sobekan kecil, untuk kemudian hasilnya kau taruh di bawah bantal. Itu tidak apa-apa, setidaknya kau telah memulai.

Lebih baik keliru dalam perjalanan proses menulis, daripada salah. Keliru itu sesuatu yang sudah diproses, sudah dilaksanakan. Salah adalah ketika kau tak pernah melakukannya.

Menulis sajalah, tak perlu mengarang. Menulis lebih mudah, kau hanya tinggal mengejawantahkan apa yang telah kau lihat dan rasakan. Sedangkan mengarang, itu genre yang lain. Nanti kau pasti tahu maksud Pak Lik.

Sesederhana tulisan yang kau hasilkan nanti, itu akan menggambarkan siapa dirimu, bagaimana kau dibesarkan, sejauh mana kau mencintai keyakinan dan alam raya bangsamu.

Bagaimana jika tak seorangpun mau menulis?

Kau tahu Aldin? Dulu bangsamu ini terbodohi. Bukan hanya oleh bangsa asing, tapi juga oleh bangsanya sendiri. Coba kau bayangkan, apa jadinya jika sesama bangsa diwarnai oleh ketidaksetaraan? Untuk menemui seorang pembesar, kau masih harus merunduk-runduk, ngelesot, menghaturkan sembah, dan segala seremonial menyebalkan lainnya. Padahal mereka sama-sama berpijak di tanah nenek moyangnya sendiri. Kau tahu kenapa? Karena tidak ada satupun dari mereka yang menulis. Itu artinya, bangsa kita tidak bisa membaca. Kalaupun ada budaya literasi, hanya sebatas kaum-kaum tertentu saja. Misalnya, keluarga yang hidup di lingkungan monarki.

Aldin, mungkin kau bermaksud membantah. Mungkin kau akan berkata begini, "Bukankah Jawa telah mengenal honocoroko dan telah mengenal budaya menulis di daun lontar?" Ya ya ya, kau benar. Tapi Pak Lik lebih suka jika kau mengatasnamakan dirimu sebagai putra bangsa, dari Sabang sampai Merauke. Kalau perlu, jadilah warga dunia.

Hari Ini Aldin Menulis AS3, kebahagiaan kecil buat saya..

1.4.13

Pengumuman Syukuran Rame-Rame

1.4.13
Alhamdulillah, Syukuran Rame-Rame telah usai digelar. Mewakili shohibul hajat yang lain, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada sahabat-sahabat blogger semua. Terima kasih atas partisipasi, ucapan, doa dan cintanya.

Tibalah saatnya bagi saya untuk menyampaikan siapa-siapa saja yang kecipratan empat paket kembar dari Mama Cal-Vin dan Mbak Elsa. Dari 91 peserta yang berpartisipasi, ada 12 yang beruntung. Berikut nama-nama sahabat blogger tersebut.

Paket Kembar Jilid I:

1. Mbak Fanny Fredlina
2. Mbak Una
3. Mbak Esti

Paket Kembar Jilid II:

1. Mbak Dey
2. Mbak Rika Willy
3. Mbak Sun

Paket Kembar Jilid III:

1. Mbak Yuniari Nukti
2. Pakde Cholik
2. Mas Fauzul Adhim

Paket Kembar Jilid IV:

1. Mbak Lies Hadi
2. Mbak Vera
3. Mbak Lyliana Thia


Keterangan

Untuk yang namanya tercantum di Paket Kembar Jilid I dan III, diharapkan mengirimkan nama dan alamat lengkapnya di email: yellowupyourlife@gmail.com

Untuk yang namanya tercantum di Paket Kembar Jilid II dan IV, diharapkan mengirimkan nama dan alamat lengkapnya di email: lidya.fitrian@gmail.com


Tambahan

Untuk para sahabat yang lahir di bulan Maret - April, saya ucapkan selamat hari lahir. Teristimewa buat Mbak Elsa dan Mbak Lidya, terima kasih telah mengajak saya gabung di acara yang essip ini. GA pertama yang penuh kenangan manis, hehe..

Hmmm.. apalagi yaa.. Ohya, semua tulisan para sahabat saya simpan di draft. Pengen banget membuatkan e-book khusus, tapi saya masih baru belajar bikin e-book, haha.. ketinggalan jaman ya. Saya pikir, kesemuanya bagus, bermanfaat, dan unik. Itulah kenapa saya ingin mengarsipkannya.

Sekian, mohon maaf jika ada yang dirasa kurang, dan terima kasih.

Salam.
acacicu © 2014