30.5.13

Nylempit

30.5.13
Bidadari Nylempit

Anda tahu artinya nylempit? Iya benar, kosakata bahasa Jawa ini identik dengan sesuatu yang ada di pojokan (misal, buku di sudut kamar) dan terjepit diantara dua benda. Misalnya, ada buku di sudut kamar yang posisinya tepat diantara dua almari.

Kata nylempit biasa digunakan untuk menunjukkan posisi rumah. Contoh kalimatnya seperti ini. "Sudah dua jam aku mencari rumahmu, Alhamdulillah akhirnya ketemu. Ternyata rumahmu nylempit."

Saya sudah terbiasa mendengar kalimat tersebut, sebab kawan-kawan sering kesulitan saat mencari rumah saya, yang nylempit diantara dua rumah besar, hehe.

Wah, ternyata susah juga ya mendefinisikan kata nylempit. Padahal saya cuma mau bilang, setiap tamasya band latihan (rabu malam), selalu ada yang setia nylempit di antara drum, keyboard, dan alunan musik. Dialah Prit Apikecil, si bidadari nylempit.

Si Ratu Nylempit Lagi Bewe

Sedikit Tambahan

Dijepret pada 29 Mei 2013 dengan menggunakan kamera hape 2.0 mega pixel, diantara jeda lagu.

Selain latihan rutin setiap rabu malam, latihan kali ini sebagai persiapan soft launching album 4 tamasya band. Insya Allah dilaksanakan pada 2 Juni 2013, bertempat di SOKA Radio. Mohon doanya.

Salam Nylempit!

29.5.13

Suara Kami Yang Tidak Pernah Padam

29.5.13
Judul di atas saya adopsi dari tema Hari Anti Tambang 2013 yang diselenggarakan pada 29 Mei 2013, bertepatan dengan 7 tahun luberan lumpur lapindo. Wew, ngomongin lumpur lapindo, jadi ingat kaos oblong milik Bob (Bapak mertua) yang sekarang mengisi almari kamar.

2 Tahun Derita Lumpur Panas LAPINDO

Kaos oblong yang saya kenakan itu bertuliskan, 2 Tahun Derita Lumpur Panas LAPINDO (dari pameran tunggal fotografi). Ternyata sekarang sudah tujuh tahun berlalu. Semoga kita tidak lupa.

Memang seperti itulah ciri-ciri ketidakadilan di sektor pertambangan yang entah kenapa, selalu berlangsung di negeri ini, ibarat sinetron saja. Kalau sudah begitu, rakyat-lah yang terus menerus menjadi korban. Seringkali, suara mereka dibungkam dengan berbagai cara dan dari berbagai sisi.

Dan apakah sekarang kita sudah terbebas dari ketidakadilan di sektor pertambangan? Kita semua maunya begitu. Sayang sekali, kenyataan berkata lain.

Dalam dua periode SBY berkuasa Indonesia ditata sebagai negara tambang. Jumlah izin pertambangan melonjak hingga 11.000 izin, ini belum termasuk sektor minyak dan gas tahun 2012. Dalam kurun waktu 2008 hingga 2011 terjadi eksploitasi besar-besaran dan meningkatnya ekspor hasil tambang hingga 500-800%. Pada bagian lain marak praktik kekerasan aparat terhadap rakyat yang menuntut perubahan. Kondisi ini makin memperparah krisis keselamatan dan ruang hidup rakyat (sumber: Jaringan Advokasi Tambang).

Hari Anti Tambang:

Saya mengerti, semisal Jember tidak di-setting menjadi kota industri (dan pertambangan), mungkin kabar tentang segera dibukanya jurusan 'teknik pertambangan' akan terdengar lebih merdu.

Dimana wajah kearifan lokal negeri ini? Hanya kolektifitas lokal-lah yang bisa menandingi kedahsyatan globalisasi ekonomi.

Dari sudut yang lebih kecil lagi, Jember diserbu dengan berbagai issue dan dari berbagai sisi. Meski begitu, saya tetap bersyukur. Diantara yang lelah, ada saja yang masih peduli akan ketidakadilan di sektor pertambangan. Mereka mendedikasikan waktu, pikiran dan daya dukungnya sebagai bentuk solidaritas kepada rakyat yang terus menerus menjadi korban.

29 Mei 2013, bertepatan dengan 7 tahun luberan lumpur lapindo, ada sebuah hari yang disepakati sebagai HARI ANTI TAMBANG. Untuk tahun ini, mengusung tema; Suara Kami Yang Tidak Pernah Padam.

Sepandai apapun kita memilih diksi untuk menghujat hari-hari penting, toh kita tetap butuh penanda akan kekejaman dunia pertambangan di Indonesia. Jadi, Selamat memperingati Hari Anti Tambang, 29 Mei 2013, dan selamat merenung.

Salam Lestari!
Hmmm, entah apa lagi yang harus saya tuliskan tentang sisi lain pertambangan. Tentang efek negatif pertambangan? Saya yakin anda semua pasti mengerti. Tentang betapa dibutuhkannya dunia pertambangan untuk kemajuan negeri? Ya, tentu saja. Sayang sekali, sampai detik ini kita masih terjajah 'dunia luar' tapi banyak yang menolak untuk mengakuinya.

Ah sudahlah, mari kita bernyanyi saja.

1. Merubetiriku

2. Insureksi

Salam Lestari!

28.5.13

Seni Keseimbangan Batu

28.5.13
Seni Keseimbangan Batu

Hobi masa kecil yang melekat hingga saat ini adalah bermain batu. Saat bocah, ada saja permainan yang saya lakukan bermediakan batu. Mulai dari membuat bendungan di pinggiran sungai bedadung, hingga mengkoleksi bebatuan.

Kelak ketika besar, baru saya tahu bahwa ada orang-orang tertentu yang juga hobi mengkoleksi batu dengan bentuk yang antik. Mereka menamai hobinya dengan nama suiseki. Sayang, saya sudah tidak tertarik lagi mengkoleksi batu, seperti ketika masa kecil dulu.

Yang melekat hingga sekarang adalah menegakkan batu kecil di atas batu yang lebih besar, persis seperti foto di atas. Seringkali, saat saya sedang dalam proses menegakkan batu dan mencari titik keseimbangannya, beberapa kawan setia menemani saya. Tak lama kemudian, satu persatu dari mereka menjauh, berinisiatif untuk mencoba sendiri.

Di pinggiran sungai di Desa Klungkung

Api sih asyiknya menegakkan batu? Entah, saya juga tidak tahu. Tapi, manakala saya sedang berlama-lama mencari titik keseimbangan batu, rasanya seperti seorang pemancing yang kailnya ditutul ikan. Apalagi ketika saya berhasil membuat batu itu berdiri, dengan sudut lancip ada di bawah (seperti gunung yang terbalik), waaah... Rasanya seperti pemancing yang berhasil menangkap ikan.

Di sisi lain, hobi saya seringkali menyusahkan team. Misal, ketika kami masuk wilayah konservasi seperti taman nasional, dan di sana ada sungai yang airnya jernih, yang ikan-ikannya terlihat manis melenggak lenggok di dalam air, dan yang batu-batunya berserakan. Pencinta alam mana yang tidak jatuh cinta dengan kondisi alam seperti ini? Bisa ditebak, saya akan berlama-lama di sini, bermain batu.

Akibatnya, saya tertinggal jauh di belakang rombongan, bahkan lebih jauh dari sweaper. Hmmm, kasihan juga sama mereka, sudah enak-enak di tempat camp, akhirnya harus balik lagi nyusul saya, hehe.

Seni Keseimbangan Batu

Apakah ada diantara sahabat blogger yang ingin mencobanya? Jika iya, maka setidaknya anda akan butuh tiga hal. Pertama, tentu saja anda butuh batu. Kedua, gaya grafitasi. Dan yang terakhir, keyakinan. Yakin bahwa anda bisa melakukannya, yakin bahwa setiap batu yang dihadirkan di dunia ini memiliki titik keseimbangan alaminya sendiri-sendiri, maka saya yakin anda pasti bisa.

Ketiga 'bahan' di atas masih harus diramu lagi dengan satu perilaku, tidak lain adalah kesabaran. Di sini kita butuh satu kesepemahaman, bahwa sabar itu tidak berbatas. Jika kita membatasinya dengan kalimat populer, "kesabaran manusia ada batasnya Bung!" Maka anda sudah gagal di tahap pertama.

Lalu, apalagi? Sudah, kita hanya butuh bersegera mencobanya.

Saya bingung jika harus menjelaskannya dengan kata-kata. Pokoknya begini. Ketika tangan anda memegang batu, dan sudah menemukan batu lain sebagai landasannya, pastikan ujung lancip batu yang anda pegang mengarah ke landasan. Setelah itu, mainkan perasaan anda. Carilah semacam 'klik' atau entah apa istilahnya, yang menandakan bahwa batu itu siap anda lepaskan dari genggaman.

Nah, di sinilah prosesnya. Mencari KLIK. Memang tidak semudah yang saya cocotkan. Bagaimanapun, kita butuh meramu banyak unsur, bahkan unsur perenungan juga ikut berperan di sini.

Ketidakmudahan tersebut membuat saya kadang berpikir, mungkinkah seni keseimbangan batu di masa yang lampau pernah dijadikan semacam test untuk mendeteksi kesehatan jasmani dan rohani? Sebab, seni menyeimbangkan batu telah dipraktekkan oleh berbagai budaya di seluruh dunia selama berabad-abad. Iya, mereka sedang ingin menjawab rasa penasaran yang sederhana. Tapi, tidak adakah alasan lain? Ya seperti yang saya pikirkan. Sebagai ujian fisik dan mental.

Tapi itu hanya imajinasi saya saja, hehe. Abaikan.

Sedikit Tambahan

Bagi saya, bermain-main dengan batu di pinggir kali, itu adalah seni. Melakoni proses untuk menegakkan batu hingga ada di titik stabil, itu lebih dari seni. Saya rasa, inilah olahraga dan petualangan yang murah, keren, lagi berestetika tinggi.

Yuk nulis tentang Olahraga dan Petualangan. Kemudian dibukukan secara kolektif. Bagaimana, keren bukan? Sekeren seni keseimbangan batu.

27.5.13

Nda Yatuk dan Tragedi Gerbong Maut

27.5.13

Nda Yatuk | Foto dari Ermandias Wibisono

Ketika saya masih kecil, sering saya lihat sosok lelaki sepuh dengan seragam Pramuka lengkap, berkacamata, bersepatu, dan menjalani aktifitas layaknya PKS atau Patroli Keamanan Sekolah. Iya benar, lelaki tua itu senang sekali membantu orang (siswa-siswi SD) untuk menyeberang jalan.

Siapakah lelaki sepuh tersebut? Beliau adalah Bapak Hidayatullah. Tapi tak banyak orang Jember yang mengenali nama aslinya, sebab beliau lebih dikenal dengan nama Nda Yatuk.

Bapak pernah bercerita, Pak Hidayatullah disebut dengan nama Nda Yatuk, sebab beliau adalah senior kepanduan (Pramuka). Nda adalah penggalan dari Kanda. Mungkin, awal sebutan beliau adalah Kanda Yatuk. Mengenai 'Yatuk' sendiri, terus terang saya tidak tahu artinya. Pernah beberapa kali saya menanyakan ini, namun belum ada jawaban.

Masih menurut Bapak, di setiap acara persami (perkemahan sabtu malam minggu), atau di acara renungan malam yang diselenggarakan oleh Pramuka, seringkali Nda Yatuk merubah dirinya menjadi Harimau Loreng. Cukup koprol tiga kali, maka berubahlah sosok Nda Yatuk menjadi macan. Setidaknya, itu yang Bapak dongengkan pada saya, dulu ketika saya masih bocah.

Anehnya, hampir seluruh tetangga Nda Yatuk di wilayah Kreongan, dekat Pabrik Es (di seberang toko narto), mengamini kisah tersebut.

Cerita yang lain tentang Nda Yatuk, tidak lain adalah kisah heroiknya selama bertahan hidup di dalam gerbong sempit (kelak kisah tahun 1947 ini lebih dikenal dengan nama tragedi gerbong maut). Menurut Ibu saya, dulu ketika Nda Yatuk ada di dalam gerbong, dia menemukan lubang kecil seukuran lubang jarum. Dari lubang itulah Nda Yatuk menghirup udara. Nda Yatuk menyelesaikan dahaganya dengan mengumpulkan air liurnya sendiri di kedua telapak tangannya, untuk kemudian diminumnya kembali. Memang terdengar jorok, tapi itu kisah yang saya dapatkan dari Ibu.

TENTANG TRAGEDI GERBONG MAUT

Tragedi ini terjadi pada 23 November 1947. Dalam buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan di Jawa Timur, dikisahkan tentang penuturan Koeswari, seorang Komandan Ranting Kepolisian RI daerah Maesan - Bondowoso. Koeswari adalah salah seorang pejuang yang ditangkap oleh Belanda (berkat bantuan orang-orang Indonesia yang menjadi kaki tangan Belanda).

Setelah ditangkap Belanda, pada 14 November 1947 Koeswari dibawa ke kantor VDMB di Jalan Jember (nama sebuah jalan di Bondowoso). Keesokan harinya (15 November), ia dan teman-temannya dibawa ke penjara Bondowoso. Setelah tujuh hari di penjara Bondowoso, pada 23 November 1947, ia dan 99 orang tawanan lainnya mengalami peristiwa sejarah, tragedi gerbong maut.

Foto diambil dari google, dengan keyword gerbong maut

Jadi begini ceritanya. Pada hari sabtu 22 November 1947, sesudah makan sore Pak Koeswari dan kawan-kawannya telah dipindahkan dari sel mereka masing-masing ke kamar nomor 10.

Keesokan harinya (minggu, 23 November 1947 pukul 05.15) atas perintah komandan VDMB Van Dorper, ke-100 orang tawanan tersebut disuruh keluar dan berbaris empat-empat di muka penjara Bondowoso. Sesudah itu mereka diperintahkan berbaris menuju stasiun Bondowoso. Sambil menunggu datangnya kereta api dari Situbondo, mereka telah dimasukkan ke dalam tiga gerbong barang (yang terbuat dari bahan seng) yaitu:

1. Gerbong No. GR. 1052 berisi 38 orang (yang kemudian disebut dengan gerbong III karena ditempatkan di bagian paling belakang)

2. Gerbong No. GR. 4416 yang berisi 30 orang (yang kemudian disebut gerbong nomor II , karena ditempatkan ditengah).

3. Gerbong No. GR 5769 yang berisi 32 orang (yang kemudian disebut gerbong nomer I, karena tempatnya paling depan).

Setelah itu, gerbong-gerbong itu dikunci dari luar oleh anggota KNIL yang mengawal mereka. Hmmm, bisa dibayangkan betapa gelap dan pengapnya di dalam gerbong kecil berbahan seng tersebut.

Kira-kira pukul 07.00 WIB setelah iringan ketiga gerbong tersebut digandengkan dengan kereta api yang datang dari Situbondo, mereka diberangkatkan menuju suatu titik yang tidak mereka ketahui. Ada juga yang menduga bahwa mereka akan dipindahkan ke penjara Bubutan di Surabaya.

Singkat cerita, pada pukul 19.15 WIB kereta api maut tsb berhenti di stasiun stasiun Wonokromo - Surabaya, dan perjalanan mereka berakhir di situ. Para pengawal mulai membuka pintu ketiga gerbong tersebut. Dan inilah yang terjadi.

- Gerbong nomor III (GR. 1052), dari ke-38 orang, tidak ada satupun yang hidup. Semuanya meninggal dunia.

- Gerbong tengah nomor II (GR. 4416), dari 30 orang, meninggal 8 orang.

- Gerbong nomor I (GR. 5769), dari 32 orang, semuanya hidup tapi dalam keadaan yang sungguh sangat mengenaskan.

Totalnya adalah: 46 meninggal dunia, 44 hidup dengan catatan, 8 orang sakit parah (termasuk Pak Koeswari). Mereka yang sakit parah akhirnya dibawa ke RS Karang Menjangan.

Pada akhirnya, tawanan yang masih hidup (44 orang) dibawa ke kamp BUBUTAN dan ditempatkan didalam los tersendiri (los nomor 6). Selama satu setengah bulan mereka diasingkan dan tidak boleh berkumpul dengan tawanan lainnya. Jika ada diantara mereka yang berani mendekat pada jarak 10 meter, maka akan ditembak oleh penjaga penjara.

Demikianlah nasib para tawanan gerbong maut yang masih hidup. Sedangkan korban gerbong maut yang berjumlah 46 orang itu kemudian dikebumikan di salah satu makam di Sidoarjo. Atas prakarsa suatu panitia, pada 10 November 1960, kerangka para para pahlawan tersebut dipindahkan ke TMP Bondowoso.

Begitulah ceritanya. Diantara mereka yang hidup, salah satunya bernama Pak Hidayatullah a.k.a Nda Yatuk.

Kabar lain tentang Tragedi Gerbong Maut bisa dibaca juga di koran lawas, Pelita Rakjat edisi 18 November 1948, halaman 3. Silahkan meluncur di sini.

Penutup

Kini Nda Yatuk telah tiada. Yang tertinggal hanyalah teladan dan kenangannya saat membantu siswa-siswi SD menyeberang jalan menuju sekolahnya, mengajari anak-anak dalam ilmu kepanduan tanpa meminta imbalan apapun, dan sepenggal kisah akan Harimau Loreng.

Doa saya untuk Nda Yatuk, semoga diterima di sisi-Nya. Amin Ya Robbal Alamin.

24.5.13

Duhai Una Yang Rambutnya Kemerah-merahan

24.5.13
Catatan ringan ini masih ada hubungannya dengan postingan saya sebelumnya, tentang Cicik dan rambut yang berwarna merah. Sekarang saya bisa memberi contoh pada Cicik tentang warna merah dan warna coklat yang kemerah-merahan.

Foto dari pp fb Una a.k.a Shirley Schaf

Nah Cicik, kenalin, cewek cantik yang ada dalam foto itu namanya Mbak Una. Coba kamu perhatikan kaosnya, itu warnanya melah. Terus rambutnya Mbak Una warnanya coklat kemelah-melahan.

Jadi ingat kisah Rosullullah manakala beliau memanggil istrinya, Aisyah binti Abu Bakar, dengan sebutan Humairah. Yaa Humairah, wahai wanita yang pipinya kemerah-merahan. Saya juga pingin manggil Una gini, "Yaa Sitti Rasuna, duhai perempuan cantik yang rambutnya kemerah-merahan, hehe.."

Eits, jadi lupa sama Cicik.

Cik..

Dulu Mbak Una dan dua temannya (Ira & Bellita) pernah mau nonton film THE PHOTOGRAPH. Waktu itu usianya belum lagi 18 tahun. Berhubung syarat untuk nonton film itu adalah dengan menunjukkan KTP, maka mereka bertiga gigit jari.

Nah Cik, jangan marah ya semisal kamu main ke rumah terus pingin nimbrung nonton film, tapi nggak dibolehin. Bahkan meskipun kamu ngotot bilang, "Umurku sudah 4 tahun Om," tetap tidak boleh. Cicik harus nurut kalau dipilihkan film, dan nontonnya bareng-bareng.

Ada hal sederhana yang patut kamu teladani dari Mbak Una. Dia sama seperti Cicik, sama-sama suka ngemut permen. Tapiii.. Mbak Una tidak pernah buang bungkus permen di sembarang tempat. Dia lebih senang menaruhnya di saku, meskipun si eMbak Lis sering ngomel sambil bilang, "Celana kok isine bungkus permen! Mending dhuwit..."

Kamu juga harus gitu ya Cik. Cobalah untuk tidak membuang bungkus permen di sembarang tempat.

Beberapa hari yang lalu Om pernah mergoki Cicik nesu hanya gara-gara baju Cicik mirip dengan bajunya Cak Kris. Santai saja Cik, itu masih mending. Dulu Mbak Una pernah punya sebuah kaos (cinderamata dari Ibunya ketika beliau sedang tugas bekerja di London). Kaos itu kira-kira bertuliskan begini: "My mom went to London and all I got was just this LOUSY t-shirt." Keren kan Cik? Dari Inggris lagi. Tapi ada yang lucu. Waktu itu Mbak Una melihat seorang tukang gerobak jual-beli barang bekas memakai kaos yang persis sama, dan Mbak Una tidak ngambek.

Kepingin kenal sama Mbak Una? Gampang Cik. Kamu hanya butuh giat berlatih bulu tangkis, soalnya dia suka sekali dengan olahraga satu ini. Saat kau berprestasi di dunia bulu tangkis, sering masuk media, dan mengharumkan nama bangsa, mungkin Mbak Una sendiri yang akan mencarimu. Tapi iku prosese suwi nduk, haha..

Bagaimana kalau menunggu awal Desember dan mengucapkan selamat hari lahir? Siapa tahu, nanti Cicik dikenalkan sama Agus, Bambang, Teddy, George, Linda, Erna, Kepika Kepiko, Shaun, Shirloy, dan Shirley. Tapi Desember yo sik suwi.

Hmmm, ada ding cara cepat dan sederhana agar Cicik kenal sama Mbak Una. Berdoa. Doanya harus mantap Cik, seperti saat Mbak Una berdoa di Mekkah.

Sekarang coba kamu praktekkan. Berdoa.

Sudah berdoanya? Nah, kalau sudah, berarti sekarang Cicik sudah kenal sama Mbak Una, hehe. Itu namanya kenal via batin Cik.

Cicik ingin meniru Mbak Una agar ketularan cantik? Gampaaaang. Rajin-rajinlah menebar senyum yang tulus. Sebab kata Mbak Una, senyum akan membuat damai orang yang melihatnya.

Doa dan senyum, saat kau besar nanti, keduanya akan membawamu bertebaran di muka bumi, berkelana ke tempat yang jauh, seperti langkah kaki Mbak Una.

Sudah ah..

Sedikit Tambahan

Duhai Una yang rambutnya kemerah-merahan, maaf ya, fotomu yang super keren mejeng di sini. Terima kasiiih.

23.5.13

Cicik dan Rambut Yang Berwarna Merah

23.5.13
Cerita tentang Cicik ini saya istimewakan untuk Adek Vania, putri cantiknya Mbak Lyliana Setianingsih. Selamat merayakan hari lahir yang ke lima ya sayang. Semoga semakin cantik, secantik pelangi.

Oke, ini dia cerita untuk Vania. Tentang gadis mungil bernama Cicik.

Berhubung di catatan sebelumnya sudah pernah saya kisahkan tentang seorang gadis cilik bernama Cicik (di postingan berjudul Bukan Laskar Pelangi), maka kali ini saya akan kembali menceritakan seputar tingkah polah Cicik.

Cicik

Ya, gadis cilik dalam foto itu bernama Cicik. Usianya hampir 4 tahun. Belum bisa membaca, belum ngerti angka-angka, tapi sudah bisa melafalkan Bismillahirrohmanirrohim.

Dua hari yang lalu, baru saya tahu jika Cicik sama sekali belum mengenal dunia warna. Dia hanya bisa menyebutkan jenis-jenis warna seperti merah, kuning, hijau, biru, hitam, dan lain-lain, hanya karena dia sering mendengar orang-orang di sekitarnya menyebut itu.

Kondisi ini baru terdeteksi ketika Prit mengajak Cicik untuk bermain warna. Waktu disuruh mengambil balok warna putih, Cicik mengambil balok dengan warna yang lain. Begitu seterusnya.

Oalah..

Tadinya saya heran, sebab Cicik mengerti warna bendera Indonesia. "Melah putih," begitu katanya. Ternyata dia hanya merekam ucapan yang pernah didengarnya.

Di waktu yang lain, saya pernah bertanya ke Cicik, apa warna air laut? Cicik menggeleng sambil tersenyum manja. Dia bilang, tidak pernah melihat air laut, jadi tidak tahu warnanya.

Saya baru benar-benar yakin kalau Cicik buta pengetahuan akan warna ketika saya mengujinya dengan satu pertanyaan sederhana. "Cik, iki warnane opo?" Saya mengatakan itu sambil jemari tangan kanan memegang rambut saya sendiri. Dengan asal-asalan Cicik menjawab lantang. "Melah!"

Jdeeer..!

Ternyata rambut saya berwarna merah saudara-saudara, haha...

Vj Lie (Blogger Jember) sedang mengajarkan warna pada Cicik

Sedikit Tambahan

Cik, jadikan hidupmu kaya warna seperti pelangi meskipun kau bukan laskar pelangi. Iya benar, Tuhan memang tidak pernah menjanjikan bahwa rambut selalu hitam dan langit selalu berhias pelangi. Tapi Tuhan menjanjikan keindahan bagi hamba-Nya yang senang belajar. Rajin belajar ya Cik, biar sakti.

22.5.13

Ternyata Sudah Berteman di Facebook

22.5.13
Semalam panaongan rame, lebih rame dari biasanya. Selain kehadiran kawan-kawan muda yang sedang resah menunggu pengumuman kelulusan, ada dua kawan lagi yang datang. Cowok cewek. Yang cowok kelahiran Bondowoso (saya lupa namanya), sedangkan yang cewek rumahnya di Jember. Dia bernama Manda. Mereka sama-sama dari Persma Ecpose Fakultas Ekonomi UJ, hanya beda tingkat saja. Manda semester delapan, temannya beberapa tingkat di bawah Manda.

Imanda Dea Sabiella

Nyolong fotonya Manda via facebook

Berhubung Prit masih keluar, jadi hidangannya hanya secangkir kopi yang sudah dingin, untuk disruput rame-rame. Acara selanjutnya ngobrol. Eh, kenalan dulu ding.

Ternyata Manda dan temannya bermaksud hendak tanya-tanya seputar tamasya band. Akhirnya kita pun ngobrol. Sampai Prit datang dan stok kopi bertambah beberapa cangkir, acara ngobrol masih berlanjut. Dari yang tadinya ngobrol seputar tamasya band, melebar ke acara CLBK (Cangkruk'an Lewat Botol Kosong), lalu mblarah kemana-mana. Hmmm, itu memang kebiasaan buruk saya. Kalau sedang ngobrol, seringkali saya tidak fokus dengan satu tema.

Di detik-detik terakhir perbincangan, saya berkata pada Manda. "Nantilah kita sambung lagi obrolannya. Atau disambung di dunia maya. Kita kan belum berteman di facebook." Saya ngomong gitu mengikuti gaya obrolan kawan-kawan SMA-SMK.

"Kita sudah berteman di facebook kok Mas."

Wew.. mosok seh? batin saya. Eh, ternyata iya, saya sudah berteman dengan Imanda Dea Sabiella. Buktinya, saya nyolong tiga foto Manda dari akun facebooknya.

Yang Saya Renungkan

Dunia semakin modern, segalanya berhubungan dengan angka-angka. Di jaman ini, apa yang tidak bisa dihitung? Bahkan jumlah teman pun bisa dikalkulasi. Tapi, apa benar kita bisa menghitung jumlah teman kita?

Contoh kecil. Jika teman facebook kita berjumlah 4000 orang, maka kalkulasi algoritmanya (essih metao), jumlah teman kita adalah setengahnya. Masih dalam bentuk kisaran, tidak pasti. Artinya, matematika tidak bisa menjangkau beberapa hal.

Bisakah kita menghitung dedaunan di sekitar Manda?


Iya saya sependapat dengan kalimat ini. Mereka yang menguasai angka-angka memiliki potensi besar untuk menguasai dunia. Sayangnya, kata menguasai berbanding dengan kata dikuasai.

Berbahagialah mereka yang senang dengan sejarah. Sebab di bidang ini, antara angka dan kata kedudukannya setara. Angka sebagai penanda, kata sebagai penyampai tanda-tanda. Logikanya, jika kita bisa menjinakkan keduanya, maka kita akan berpotensi untuk mengerti cara memeluk kebahagiaan.

Sudah Lama Saya Merenungkan Ini

Dulu, ketika saya dan Brade Mungki menghabiskan hari-hari di warung Buk Sahi (Jalan Jawa - Jember), kita senang bermain angka. Aturan mainnya sederhana sekali. Selama nongkrong di bangku depan warung yang berbatas dengan trotoar jalan, setiap kali ada yang menyapa, kita menghitungnya. Siapa yang paling banyak disapa, dialah pemenangnya.

Kami menamai permainan konyol ini dengan nama dulinan akeh-akehan konco. Siapa yang paling sedikit temannya, dialah yang membayar kopinya. Hehe, ini judi kecil-kecilan namanya. Kabar baiknya, permainan ini tidak lestari.

Nah, perenungan saya berangkat dari sana. Sampai sekarang, ketika saya cangkruk'an di tempat yang ramai, saya selalu memikirkan itu. Berapa jumlah teman kita? Berapa jumlah teman yang dijatah oleh Tuhan untuk kita? Jawabannya, teman kita tidak banyak.

Ketika saya nongkrong di pinggir jalan, dari sekian banyak orang yang berlalu lalang setiap menitnya, belum tentu ada yang menyapa saya dalam satu menit, sepuluh menit, atau bahkan satu jam. Apalagi jika kita ada di teritorial yang asing.

Semua itu mengingatkan saya pada lirik lagu ciptaan Sunan Bonang yang berjudul Tombo Ati. Begini liriknya: Tombo ati iku limo perkarane. Kaping pisan moco Qur’an lan maknane. Kaping pindo sholat wengi lakonono. Kaping telu wong kang sholeh kumpulono. Kaping papat kudu weteng ingkang luwe. Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe. Salah sawijine sopo bisa ngelakoni. Mugi-mugi gusti Allah nyembadani.

Wong Kang Sholeh Kumpulono

Apa ya maksud dari lirik 'kaping telu wong kang sholeh kumpulono?' Apakah kita harus berkumpul dengan orang yang bernama Sholeh? Kalau hanya itu, selesai sudah tudas saya. Sebab saya punya sahabat bernama Sholeh Akbar.

Apakah kita harus berkumpul dengan orang-orang yang selalu bersurban? Bisa jadi begitu. Tapi saya yakin, ini bukan hanya tentang style. Dulu, Abu Lahab juga bersurban.

Hmmm, sekarang saya mengerti. Wong kang sholeh kumpulono, artinya kira-kira begini. Tidak ada salahnya mengukur kebahagiaan hidup ini dengan jumlah teman yang banyak (kuantitas). Tapi memiliki sedikit teman yang berkualitas luar dalam (tidak menyesatkan, tidak khianat, dan lain-lain), itu jauh lebih baik.

Kembali ke Imanda Dea Sabiella

Walah, saya nyar-nglanyar lagi. Dari Manda hingga ke Sunan Bonang, lalu Abu Lahab. Tapi memang nyambung juga sih. Kan renungan-renungan itu dimulai dari omongan Manda yang begini, "Kita sudah berteman di facebook kok Mas."

Oke Manda, terima kasih inspirasinya. Oh iya hampir lupa. Lain kali kalau makan mie lagi, towo-towo yo.. Ojok dipangan dewe..

Hmmm.. nggarai ngiler ae reeek!

Sahabat blogger, ada yang pengen mie? Silahkan minta sendiri ke Manda, heee.. Salam mie mawut!

21.5.13

Pada Bulan Lima

21.5.13
Happy Ultah Mbak Melly

Pada Bulan Lima

Pada Bulan Lima yang bertabur lilin kecil

Aku ingin dirimu mengukir hari..

Tak ada detak gusar menyelimut kalbu.

Pada Bulan Lima yang bertabur rindu

Aku ingin senyumku penuhi relung bahagiamu,

Di kala nanti bertemu, tersisipkan rindu tapi tak seperti abu.

Pada Bulan Lima yang menjadi tanda

Aku ingin penuhi dahagamu dengan doa-doa terindah,

hingga kau terjaga menyapu ragu.

Pada Bulan Lima di hari ini

Aku ingin.. menyanyikan lagu untukmu.

Tidak berhenti sampai ada terlihat senyum manismu.

Pada Bulan Lima…

Jreeeeng...

Sedikit Tambahan

Puisi dari pasangan bulan sebelas, adaptasi dari puisi Mbak Melly yang berjudul; Pada Bulan Sebelas.

Selamat hari lahir untuk Mbak Mellyana Feyadin | Margeraye

20.5.13

Dari Dumay ke Dunyat

20.5.13
Kang Lozz dan Mbak Iyha a.k.a Ami Osar

Saya masih ingat inbox dari Kang Lozz di tanggal 7 Mei 2013. Waktu itu, dia bingung mencari pinjaman kamera, sebab ternyata kamera milik temannya rusak. Sayang sekali saya juga tidak memiliki kamera digital. Biasanya, saya hanya mengandalkan kamdig hape beresolusi 2.0 mega pixel saja.

Syukurlah, akhirnya masalah kamera teratasi. Beberapa hari kemudian, Kang Lozz berangkat ke pesta para blogger, di ASEAN Blogger Festival Indonesia 2013. Pesta tersebut bertempat di Solo, sedari 9 Mei 2013 hingga 12 Mei 2013.

Selama acara berlangsung, saya dan rekan-rekan blogger Jember sibuk mengamati foto-foto yang bertebaran di jagad maya. Ya, kami yang di sini juga ingin tahu bagaimana jalannya acara. Kadang saya tersenyum manakala mendapati kabar tentang seorang pemateri yang gagal menyampaikan materinya. Menjemukan, begitu kira-kira gambaran sederhananya. Ada pula yang membuat saya terpingkal.

Akhirnya, selesai sudah pesta penuh cerita tersebut. Namun, bukan berarti semuanya selesai. Setidaknya, acara temu blogger masih berlangsung hingga saya menuliskan ini. Ya, seusai ASEAN Blogger, Kang Lozz masih muter-muter berkopdar ria dengan para sedulur blogger. Bahagianya..

Kabar kebahagiaan itu datangnya dari segala sisi. Ada yang dari tweet, update status, posting, ada pula yang dari update foto. Dan update foto yang saya rindukan adalah yang datang dari Kang Lozz Akbar.

Senang rasanya memandang foto Kang Lozz saat dia duduk berdua dengan Mbak Evi Sri Rezeki di atas becak. Wew, persahabatan yang mesra sekali. Kemesraan itu ditandai dengan teh yang terbungkus plastik, yang dicantolkan begitu saja di bando becak bagian depan.

Tidak ketinggalan, ada terpampang juga foto Kang Lozz bersama Sari Widiarti. Ehem.. Nggak komentar ah :)

Saya dibuat nyengir ketika memandang foto Kang Lozz diapit duo gadis manis, Niar dan Cheila Bu Guru Kecil. Sejurus kemudian, ada foto Kang Lozz diapit oleh Srikandi cantik bernama Mbak Alaika Abdullah di sebelah kiri, sedang sisi satunya lagi ada Mbak Nchie Hanie.. Ah, manisnya foto ini.

Tidak berhenti sampai di sana, foto apit-mengapit masih berlanjut. Kali ini Kang Lozz ada diantara Idah Cheris dan Una Shirley Schaf. Ow.. Lagi-lagi manis.

Foto sederhana namun penuh cerita juga saya dapati ketika Kang Lozz sedang dibonceng oleh Bunda Lahfy, dari Lebak Bulus meluncur ke tempat tujuan. Foto ini berlanjut dengan foto lain yang bertuliskan 'with Fanny & Hilman.' Ada foto Una juga di sana, di lokasi yang sama. Pasti ada cerita seru dibalik lembar-lembar foto ini.

Lanjut. Kali ini foto Kang Lozz mengajak saya ke lokasi Mie Janda. Wah, kereeen. Senangnya bisa kopdar bersama Kang Achoey sekeluarga.

Hihihi.. Alangkah lucunya Kang Lozz ketika foto bareng kawan kecil Osar. Haha.. Kang Lozz dapat anugerah lirikan maut dari Osar tuh..

Eits, ada juga foto ketika Kang Lozz sedang kopdar bersama Tante Monda, Bunda Yati, Mas Belalang cerewet, ketika bersama Mbak Dey sekeluarga, foto mesra bersama Fauzan dan Olive, dan masih banyak lagi.

Saya tahu, tidak semua foto-foto kopdar sempat Kang Lozz publish di dunia maya. Tapi foto-fotonya yang ada di jejaring sosial facebook tersebut, cukuplah berhasil membuat saya turut bahagia.

Koen pancen essip sam, hehe...

Sedulur blogger, mohon maaf saya tidak menampilkan foto-foto dari Kang Lozz. Hanya bercerita lewat kata-kata saja. Anda bisa mengintip foto-foto tersebut di album facebook Kang Lozz yang berlabel With Bloggers.

Baiklah, waktunya mengakhiri tulisan dengan menampilkan foto yang sukses membuat saya cemburu, haha..

Mesranya Persahabatan

Sedikit Tambahan

Foto dari album facebook milik Kang Lozz.

Segera hadir cerita selanjutnya di www.essip.us

Terima kasih dan salam persahabatan...!

19.5.13

Ketika Saya Berusia 23 Tahun

19.5.13
Ketika berusia 23 tahun, saya masih belum mengenal dunia maya, apalagi dunia blog. Hmmm, tapi saya tidak hendak menuliskan tentang sejarah blog. Maaf. Yang ingin saya tuliskan adalah tentang apa saja yang telah saya lakukan ketika masih berusia 23 tahun.

Untuk bicara sejarah yang telah lewat, kita butuh penanda. Dan ketika saya berusia 23 tahun, ditandai dengan diakuisisinya blogger dotkom (milik PyraLab) oleh google dotkom. Di rentang waktu yang sama, Indonesia sedang berduka oleh serentetan tragedi bom. Salah satunya adalah tragedi bom Bali.

Ketika saya berusia 23 tahun, tuan rumah Piala Dunia adalah Korea Selatan dan Jepang. Ini menarik, sebab untuk pertama kalinya Piala Dunia FIFA dilangsungkan di luar Benua Amerika dan Eropa.

Euforia sepak bola juga dirasakan oleh warga kota kecil Jember. Saat itu, kesebelasan PERSID Jember berhasil menjadi juara Kompetisi Divisi II PSSI.

Ada Apa Dengan Cinta

Di ujung usia 22 tahun, telah dirilis sebuah film dalam negeri yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta. Sangat sulit mendapatkan CD film ini dengan cepat jika kita tinggal di kota kecil. Pilihannya hanya ada tiga. Menunggu AADC diputar di bioskop, setia menanti VCD original, dan atau membeli VCD bajakan yang harganya cuma lima ribu. Dan (maaf) pilihan jatuh pada yang terakhir.

Saya nonton AADC rame-rame di usia 23 tahun. Padahal film yang dirilis pertama kali pada satu bulan sebelum saya berusia 23 tahun, hehe. Tentang bagaimana suasana ketika nonton AADC, pernah saya tuliskan di sini.

Menghayati Peran Sebagai MAPALA

Ketika saya berusia 23 tahun, di saat kawan-kawan seangkatan sudah mulai mengurusi surat-surat perlengkapan untuk wisuda, atau setidaknya sedang bergelut dengan skripsi, saya tidak. Bahkan sekedar menjalani program KKN pun belum saya lakukan. Ini bukan karena saya seorang MAPALA, tapi karena saya memang malas kuliah sejak semester pertama.

Kelak, akhirnya saya lulus juga. Menjalani studi selama delapan tahun (tanpa terminal) di Fakultas Sastra Jurusan Ilmu Sejarah - UJ.

Ketika berusia 23 tahun, saya pernah membuat taman bunga di berbagai sudut Fakultas Sastra. Ini menyebabkan hubungan saya dengan orang-orang kelas bawah (di kampus) menjadi mesra. Ya, saya bersahabat dengan Pak Busar, Almarhum Lik Satiman, Jaenuri, dan masih banyak lagi. Bahkan pengemis dan pemulung yang biasa melintas di kampus, juga saya kenal dengan baik.

Berbeda dengan orang-orang di arus bawah, mereka yang bekerja dari balik meja cenderung menganggap saya aneh. Mungkin mereka berpikir, "Ini anak PA atau orang gila ya?"

Ketika berusia 23 tahun, hari-hari saya lewati di sekretariat SWAPENKA. Di sini saya berkebun, memasak, membuat kopi, melewati malam-malam bersama api unggun, menguras kolam ikan, berbincang dengan sesama pencinta alam, dengan para seniman muda, dengan kawan-kawan persma, dan masih berderet aktifitas lagi.

Api Unggun Yang Bertahan Selama Sembilan Malam

Ada hal sepele yang sampai sekarang membuat saya tersenyum jika mengingatnya. Ya, tentang api unggun yang saya buat, saya pelihara nyalanya, dan api unggun tersebut bertahan hingga sembilan malam. Itu saya lakukan ketika saya berusia 23 tahun.

Api unggun ini melewati berkali-kali hujan deras, karena saat itu memang sedang musim hujan. Saya menutupnya dengan dedaunan, ilalang liar yang saya cerabut dari akarnya, dan kadang saya tutup dengan bertumpuk-tumpuk rumput basah. Berhasil, dedaunan itu sukses menyelamatkan bara api. Ketika hujan reda, saya segera menyelamatkan bara tersebut dengan ranting-ranting kayu kecil yang masih kering.

Jangan tanyakan kenapa saya melakukan itu. Terus terang saja, saya sendiri tidak tahu kenapa. Mungkin, saya hanya bersenang-senang menikmati kesendirian dan suasana yang sepi. Ya, waktu itu sedang libur Idul Fitri. Tidak ada siapapun di kampus bumi Tegal Boto selain saya dan para Satpam yang sedang piket. Ohya, masih ada ding spesies yang seperti saya. Dialah Yosa, pencinta alam sejati asal MAPALUS - FISIP UJ.

Kelak, ketika saya telah mengenal Prit Apikecil, saya mengulang kembali membuat api unggun. Bertahan delapan hari tujuh malam.

Berkumpul Dengan Orang-orang 'Gila'

Kadang saya berpikir, kenapa Tuhan selalu memperkenalkan saya dengan orang-orang gila? Gila gagasannya, gila pula dalam mewujudkan gagasan. Mereka adalah orang-orang yang setia dalam kata dan perbuatan. Apa yang mereka katakan, itulah yang mereka lakukan. Di jaman yang seperti ini, bukankah itu gila?

Muhammad Ali Majedi

Salah seorang yang saya kenal, yang senang melakukan apa yang dikatakan dan senang mengatakan apa yang dilakukan, dia bernama Muhammad Ali Majedi. Kelak, motto hidupnya saya adopsi untuk menikmati hidup lebih maknyoss. Tentang setia pada proses, dan tentang makna kata dan perbuatan.

Bersama Muhammad Ali Majedi, saya pernah menggagas lahirnya forum diskusi seni dan alam. Model cangkruk'an tersebut bernama Panggung 15, sebab dilaksanakan di panggung terbuka FSUJ setiap bulan purnama. Sayang sekali, di tahun kedua perjalananya, forum diskusi ini menjadi semakin besar dan semakin mudah tertiup angin. Akhirnya vakum dan hanya menjadi tinggal cerita.

Masih banyak kawan-kawan lain yang tak kalah gila dengan Forrest Gump. Bersama mereka, saya sering melakukan perjalanan-perjalanan yang sungguh gila (dalam arti yang sebenar-benarnya). Jreeeng, tiba-tiba sudah ada di Jogja, tanpa persiapan apapun, dan hanya mengenakan celana pendek plus baju barong saja. Jreeeng, tiba-tiba saya sudah ada di puncak Mahameru, tanpa mengindahkan manajemen ekspedisi. Dan masih banyak jreng-jreng yang lain.

Hmmm, di usia 23 tahun, ternyata saya gila. Pantas jika dulu banyak orang yang memandang saya dengan sebelah mata. Dan sisi positif yang bisa saya petik, saya menjadi tahu bahwa terkadang dipandang sebelah mata itu keren.

Sudah ya. Sekarang waktunya bagi saya membuat tulisan khusus untuk Mbak Ayu Citraningtias.

Cerita Dimulai Pada 3 Juni

Hai Ning Aiyu..

Maafkan saya yang mak bedunduk (tiba-tiba) ikut giveaway ini meski sebelumnya kita tak pernah berkomunikasi di dunia maya. Maaf dan salam kenal, hehe.

Saya rasa, saya memang harus mengikuti giveaway ini. Sebab antara saya dan angka 23, itu seperti roda kiri dan roda kanan kereta api. Selalu seiring sejalan, berputar dan berhenti bersama-sama, meski tak sekalipun pernah saling berpelukan.

Ya, saya lahir saat kalender menunjukkan angka 23. Ketika membuat sebuah band indie, saya memilih 23 September 2007 sebagai penanda lahirnya tamasya band. Ada 23 lain yang sengaja saya pahat, hanya karena saya suka dengan angka ini. Ketika ada giveaway dengan tema 23, bagaimana mungkin saya bisa menahan diri untuk tidak turut menyemarakkannya?

Ning Aiyu..

Saya juga punya sekelumit kisah yang dimulai pada 3 Juni (di hari lahir Ning Aiyu). Waktu itu 3 Juni 2011. Saya memulai perjalanan dengan mengayuh sepeda BMX. Start dari rumah (Jember) menuju 12 kota, mengelilingi Pulau Madura, serta mampir di dua pulau kecil. Pulangnya bergerak memutar. Menyeberang dari Pelabuhan Kalianget menuju Pelabuhan Jangkar - Situbondo, dan kembali mengayuh menuju Jember, membelah kota tape Bondowoso.

Jangan tanya managemen ekspedisi apa yang telah saya persiapkan. Tidak ada. Bahkan uangpun tidak (pada akhirnya saya tahu, Prit apikecil menyelipkan selembar uang 50.000 di slempitan dompet).

Dalam perjalanan itu, saya bertemu dengan banyak sekali orang-orang baik, dan segelintir orang tidak baik.

Apa alasan saya melakukan perjalanan itu? Apakah saya sedang ingin membuktikan bahwa uang bukanlah segala-galanya, bukan harta kekayaan, dan hanya sekedar alat tukar dan bukti kepemilikan saja? Tidak, bukan itu. Perjalanan tersebut lahir oleh sebuah kesadaran. Sebentar lagi saya menikah (15 November 2011). Saya rasa, kegilaan harus dihentikan dengan kegilaan pula. Itulah sebabnya saya berpetualang, dimulai dari kayuhan pertama, 3 Juni 2011.

Saya dan Apikecil

Inilah saya sekarang, seorang lelaki tak seberapa tampan yang beristrikan apikecil.

Apakah saya menyesal sebab setelah saya menikah, hari-hari menjadi tidak sama lagi? Tentu saja tidak. Saya manusia biasa yang sangat butuh dibatasi, itulah sebabnya saya menikah. Di luar sana, banyak orang salah arah hanya karena melampaui batas. Ah, seandainya mereka mengerti batas-batasnya sendiri, alangkah merdunya hidup ini.

Ning Aiyu, selamat hari lahir yang ke 23 ya. Senang rasanya bisa turut menyemarakkan giveaway yang keren ini. Sebab rasa-rasanya, saya juga jatuh cinta pada angka 23 dan sebuah hari bertanda 3 Juni.

Sebagai penutup, ada sebuah rahasia kecil yang hendak saya bagikan di sini. Ternyata pernikahan tidak berhasil membungkam saya untuk tidak lagi berpetualang. Saya tetap berpetualang. Dengan destinasi yang masih sama alias tidak tertebak dan tidak direncanakan, dan tentu saja kali ini tidak sendirian. Ada Apikecil yang setia menemani langkah-langkah saya.

Aduh, kenapa tulisan ini panjang sekali? Maaf ya Ning Aiyu. Pokoknya, selamat berbahagia. Segala doa terbaik untuk Ning Aiyu.

Salam 23!

23 Tahun giveaway

18.5.13

Jika Istrimu Seorang Jurnalis

18.5.13
Jika istrimu seorang jurnalis, maka kau harus menyediakan mental baja ketika dia tiba-tiba 'update status' memuja-muja ketampanan Wakil Gubernur Jawa Timur. "Gus Ipulll, pesonamu tiada tara." Hmmm, sabaaar...

Gus Ipul. Dijepret pada 12 Juni 2009

Jika istrimu seorang jurnalis, pandai-pandailah menjinakkan rindu selama dia sedang ada liputan dan kau memeluk kesendirian. Ketika dia sedang ada pelatihan dan harus menginap, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kau harus mau dan suka untuk lebih kreatif lagi menjinakkan rindu. Essih.. apa beih..

Dokumentasi Elfira Arisanti
Masih diambil dari dokumentasi Elfira Arisanti

Jika istrimu seorang jurnalis, ada baiknya mempelajari dasar-dasar SAR alias search and rescue. Kadang itu diperlukan ketika dia sedang ada di kerumunan massa, kemudian hilang tanpa jejak. Apalagi jika dia sama sekali tidak mengerti kiri dan kanan.

Hiks..

Horeee..

Tamasya, film, dan musik. Tiga hal dasar yang patut disediakan, jika yang kau cintai adalah seorang jurnalis.

Dokumentasi Yongki Loho

Tas yang cantik
Jika istrimu seorang jurnalis, cintailah dunianya, cintai juga kawan-kawannya. Setelah itu, bersiap-siaplah menerima senyum termanisnya. Usah kau pedulikan hal-hal semacam, "Gus Ipulll, pesonamu tiada tara," sebab itu hanya akan menguras energi saja. Bagaimanapun, hemat energi itu lebih baik.

Dokumentasi Mohammad Ghozi Imas

Jika istrimu seorang jurnalis, biasanya suka bakso, duren, sate ayam, tempe goreng yang diiris tipis-tipis, senang dengan lagu-lagu balada, dan pinter bikin kopi, hehe..

17.5.13

Bukan Laskar Pelangi

17.5.13
Di seberang jalan tak jauh dari kediaman saya, ada sebuah kios rokok bercat merah. Kios tersebut tak hanya menjual rokok. Di sana ada dijual juga bensin eceran, kopi, dan menawarkan jasa tambal ban. Ada yang unik dari tambal ban di kios ini, bahwa penambalnya bukan laki-laki. Ya, dia seorang perempuan. Saya biasa memanggilnya "Lik Suyat."

Lik Suyat. Foto oleh Pakde Bagio

Lik Suyat memiliki tiga orang putri (Siti, Neneng, dan Ita), semuanya sudah menikah dan memiliki anak. Dua diantaranya ikut Lik Suyat. Si Kris (laki-laki, umur enam tahun lebih, anak pertama si Neneng, dari suami pertamanya), dan si Cicik (perempuan, umur empat tahun, kalau tidak salah ini anaknya si Ita, dari suami pertama). Ada satu lagi yang dititipkan ke Lik Suyat. Namanya Rama. Laki-laki kecil kelas tiga SD ini bukan cucu Lik Suyat, melainkan anak dari Jeppar, adiknya Lik Suyat.

Begitulah, dalam keterbatasan, Lik Suyat masih harus menghidupi Rama, Kris, dan Cicik. Belum lagi biaya sekolah untuk Rama dan Kris, di dua SD yang berbeda. Rama di SD negeri, Kris di MI.

Syukurlah Lik Suyat tidak sendirian dalam menanggung beban hidup. Suaminya yang biasa saya panggil Om Edi, bekerja sebagai penjaga pangkal pintu kereta api. Gajinya perbulan kurang dari 500 ribu rupiah. Om Edi bukan suami pertama Lik Suyat. Bersama Om Edi, Lik Suyat tidak memiliki keturunan. Mungkin itu sebabnya mereka mengadopsi Rama, Kris, dan Cicik.

Keseharian Rama, Kris, dan Cicik

Mereka masih sangat bocah, tapi sudah terbiasa hidup di jalan. Istilah Jawa-nya, keleleran. Baju yang mereka kenakan lebih sering lusuhnya daripada rapi. Saat malam tiba, mereka akan mencari tempat merebah di sekitar kios (atau umpel-umpelan di dalam kios).

Mereka terbiasa melihat orang dewasa bertengkar. Misal, sesama supir angkot yang bertengkar gara-gara uang, dan masih banyak lagi contohnya. Intinya, mereka menyerap sebanyak-banyaknya denyut jalanan. Apa akibatnya? Segala potensi karakter anak jalanan mulai melekat pada mereka. Yang paling nampak adalah potensi untuk tidak sopan.

Suatu hari, istri saya pernah menulis status di facebook. Meski tokoh-tokoh dalam update status tersebut ditulis secara berbeda, namun saya tahu, itu untuk Rama, Kris, dan Cicik. Berikut akan saya tuliskan kembali di sini:

Waktu menjelang dini hari saat Eka terbangun dari tidurnya. Udara yang masuk lewat celah-celah rombong kios rokok Mak Tin, membuatnya menggeliat dan terjaga. Diambilnya buku tulis usang yang tergeletak di tas kresek di pojok rombong berkukuran 1x0,5 meter. Sambil melihat adiknya yang mulai terlelap, dia menuliskan sesuatu di sampul buku tulisnya yang mulai menguning...

"Aku heran dengan orang-orang dewasa di sekitarku. Mereka sering membentakku, memarahiku dan menghujatku. Kata mereka aku anak yang tak punya sopan santun. Tapi anehnya, mereka tak pernah mengajariku tentang sopan santun. Mereka hanya menghujatku. Apa seperti ini kehidupanku setelah dewasa nanti? Hanya menghujat, memarahi dan membentak tanpa mengajari cara bersopan santun yang benar. Kalau memang seperti itu, aku tak mau menjadi dewasa. Biarlah aku tetap menjadi anak kecil saja, jika harus menjadi sombong ketika dewasa nanti. Hai orang-orang dewasa, mari belajar bersamaku..."


Bersama Rama, Kris, dan Cicik

Saya paham kenapa Prit menuliskannya. Sebab bocah-bocah kecil itu selalu hadir di setiap sore, dan Prit menemaninya. Kadang belajar mengaji, kadang dongeng. Saya kira, itulah alasan dibalik lahirnya update status bergaya fiksi mini.

Rama, Kris, dan Cicik. Mereka lebih sering membuat saya mengernyitkan dahi ketimbang membuat ujung-ujung bibir ini terangkat ke atas. Iya benar, pertanyaan yang mereka lontarkan tak sama dengan anak-anak 'rumahan' pada umumnya.

Ketika saya berkata, "Kalian harus rajin berdoa agar masuk surga," dengan antusias si Kris menimpali ucapan saya. "Om pernah ke surga? Seperti apa bentuknya? Kris nggak pernah ke surga, nggak tahu bagaimana itu surga, makanya Kris tidak senang berdoa."

Demi Allah, saya kaget mendengarnya. Terkejut dan tidak bisa segera menjawab. Butuh waktu lama untuk menjawab lontaran tanya itu. Sepertinya saya gagal menemukan kata-kata yang pas untuk Kris.

Rama, Kris, dan Cicik. Seolah mereka tak bosan mengingatkan saya bahwa kesabaran itu tiada batas, namun kita sendiri yang membatasinya. Pada merekalah saya belajar, bahwa tema besar tidak harus disampaikan dengan bahasa yang berbelit-belit. Mereka memaksa saya untuk kembali belajar dan kembali menyegarkan kreatifitas.

Rama, Kris, dan Cicik.. Mereka adalah pelangi tapi bukan laskar pelangi.

Sedikit Tambahan

Sebenarnya saya berniat untuk ikutan giveaway yang diadakan Mbak Lyliana Setianingsih. Tapi sepertinya saya gagal menampilkan sisi lucu dari Rama, Kris, dan Cicik, hehe..

Sahabat blogger, yuk rame-rame menyemarakkan Vania's May Giveaway, sembari mengucapkan selamat hari lahir yang ke-5 untuk Vania.

16.5.13

Yuk Nulis Tentang Olahraga dan Petualangan

16.5.13
Tulisan ini akan saya buka dengan sebuah pertanyaan. Apa jenis olahraga yang anda sukai? Apakah anda suka jalan-jalan, bersepeda, sepak bola, tenis meja, catur, berkebun, atau olahraga lain? Apapun jenis olahraga yang anda sukai, percayalah dibalik semua itu ada hal lain yang turut menyertai. Tidak lain adalah petualangan.

Jangan dikira olahraga catur tidak masuk kolom petualangan. Karena catur adalah jenis olahraga otak, maka model petualangnnya juga tidak jauh-jauh dari kekuatan pikiran. Begitu juga dengan olahraga berkebun. Sama seperti lari maraton, berkebun juga mengeluarkan keringat. Dan tentu saja memiliki petualangannya sendiri. Misal, ketika berkebun anda berjumpa dengan kupu-kupu, belalang, atau hanya cacicng tanah yang menggeliat. Bukankah itu petualangan sederhana?

Jadi, sampai di sini, semoga kita tidak terjebak untuk melulu berpikir bahwa yang dimaksud petualangan adalah segala hal yang harus diukur dari sisi destinasi atau jauh dekatnya tujuan.

Sekarang coba kita perhatikan gambar buram di bawah ini:

Olahraga dan petualangan

Tampak dalam foto, saya dan Prit sedang leyeh-leyeh di seberang alun-alun kota Jember. Tak jauh dari kami, nona (nama sepeda BMX saya) sedang bertengger dengan manisnya. Ya, kami sedang istirahat sejenak setelah lelah mengelilingi kota kecil dengan bergowes ria. Ini adalah olahraga dan petualangan sederhana. Murah tapi mesra.

Kenapa saya seperti sedang promosi obat? Sebentar-sebentar ngomong tentang olahraga, sebentar kemudian dilanjut dengan petualangan. Hehe.. Iya benar, ini erat kaitannya dengan proyek buku warga webe. Kebetulan saya adalah Desk Officer untuk tema Olahraga dan Petualangan. Jadi, yang ingin menulis seputar olahraga dan petualangan, dan ingin tulisannya diabadikan dalam sebentuk buku, anda bisa membaca syarat-saratnya pada spoiler di bawah ini.

Syarat Penulisan Artikel Olahraga dan Petualangan :

Penulisan Artikel Olahraga dan Petualangan

1. Blogger adalah anggota WB

2. Tema artikelnya seputar dunia olahraga dan petualangan

3. Jumlah kata 500-700 (kata), ketik di words, kertas A4, margin 3-3-3-3, Times new roman font 12 spasi 1,5

4. Diutamakan tulisan baru, meskipun tulisan lama (yang pernah dipublish di blog) juga diperbolehkan, asal memenuhi syarat

5. Silahkan kirimkan naskah tulisan ke email saya acacicu@gmail.com dengan subyek [Olahraga&PetualanganWB] - Judul Tulisan – Nama penulis

6. Sertakan biodata singkat di badan email, berisi nama lengkap (atau nama pena), akun jejaring sosial facebook, URL Blog, dan deskripsi pendek tentang penulis. Data-data tersebut nantinya akan dicantumkan dalam buku, jika naskah tulisan anda terpilih

7. DL 31 Mei 2013.

Yuk berolahraga, berpetualang, menulis, dan kemudian dibukukan. Tulisan lawas juga boleh dikirimkan kok, asal sesuai dengan tema dan memenuhi syarat. Hmmm.. mau nulis apa lagi ya.. Wes ah.

Salam Lestari!

15.5.13

Kenapa Zorro Bertopeng

15.5.13
Foto dari google

Masih ingat dengan film Zorro? Masih ingatkah juga dengan rekan bisunya yang bernama Bernando? Atau dengan kudanya yang bernama Tornado? Hehe, saya juga baru ingat.

Sekilas tentang Zorro

Zorro hidup di jaman perbudakan. Para budak itu dipekerjakan di daerah tambang emas. Secara tidak langsung, kisah ini menggambarkan tentang Zorro dalam menghadapi kekejaman para cukong pertambangan.

Bisa dibilang, belum ada aktifis lingkungan 'tolak tambang emas' yang hidupnya happy ending. Zorro adalah perkecualian. Dia pandai berkuda, pandai bela diri, pandai pula memperkaya cara.

Nah, sekarang pertanyaannya, kenapa Zorro bertopeng? Jawabannya sederhana saja. Sebab Zorro memiliki musuh kelas kakap, dan dia tidak ingin kehidupan orang-orang yang dicintainya celaka. Sebab itulah dia menyembunyikan identitasnya.

Tak selamanya bertopeng itu buruk. Zorro contohnya. Tapi, bagaimanapun juga tidak bertopeng itu jauh lebih keren, sekeren Chico Mendes. 

13.5.13

Kopdar Dengan Gadis Jogja

13.5.13
Bersama Mbak Rosa Dahlia dan Cak Oyong

Minggu, 12 Mei 2013

Ada pesan dari Mbak Rosa Dahlia a.k.a Ocha. "Mas ayo dolan ndek Rembangan!" Dan pesan itu saya jawab singkat. "Budhal..!"

Ealah, ternyata Mbak Ocha sudah ada di Jember, dan sudah cangkruk'an di rumah Cak Oyong.

Mbak Ocha tidak datang sendirian. Dia membawa kawannya yang bernama Mbak Duala Okto alias Mbak Dul. Mereka habis keluyuran di Gunung Ijen, Taman Nasional Baluran, dan beberapa tempat lagi. Wuih, keren. Benar-benar East Java Trip!

Selang beberapa saat kemudian, Mbak Ocha dan Mbak Dul sudah nongkrong di panaongan. Mereka diantar oleh Cak Oyong, blogger Jember yang senang berkarya dalam sepi.

Sebentar saja kami cangkruk'an di panaongan. Tak lama kemudian, kami sudah pindah 'nyruput kopi di Rembangan. Ada Vj Lie, Putrie, dan Prit, blogger Jember yang juga turut ngancani. Eh, ada Windi juga ding.. Meh lali, hehe.. Seorang blogger lagi, Mas Donny Oyot tidak bisa menyertai kami cangkruk'an karena harus mempersiapkan acara Eagle Award di Gedung Soetardjo Jember pada 13 Mei - 14 Mei 2013.

Nongkrong di Rembangan

Selesai nongkrong di Rembangan, kami kembali ke panaongan. Acara berganti menjadi masak-memasak. Kemudian dilanjut dengan mengajak mereka semua meluncur ke RRI Jember, soalnya berbarengan dengan jadual CLBK on air. Lagi, acara nyruput kopi bergeser ke lain tempat, hehe.

Seusai cangkruk di studio RRI, kita langsung meluncur ke Tanjung Papuma (Pasir Putih Malikan - Jember). Jarak antara RRI Jember - Papuma sekitar satu jam perjalanan motor. Rombongan kali ini terdiri dari saya sendiri, Prit, Mas Mungki, Bang Korep, Vj Lie, Mbak Ocha, dan Mbak Dul.

Berangkat tanpa mempedulikan manajemen perjalanan, tanpa tenda, matras, kompor, nesting, camilan, dan lain-lain. Hanya berharap semoga warung-warung di Papuma masih banyak yang buka. Ternyata mbleset, haha.. Dari sekian deret warung di tepian pantai, tak ada satupun yang buka. Semuanya tutup. Sunyi sepi senyap tanpa ada terlihat pengunjung yang lain, seperti hari-hari biasa. Tompes...!

Kata orang bijak, daripada merutuki kegelapan, mending menyalakan api unggun dan bergembira. Ya, itulah yang kami lakukan. Mencari gazebo kosong, bikin perapian, lalu bersenang-senang mencari tempat yang nyaman untuk berfoto ria. Ini dia salah satu hasil jepretan Vj Lie.

Eksyen di bawah bintang-bintang

Akhirnya, sinar mentari pagi mencungul juga. Meski sinarnya terhalang oleh mendung dan kita tak bisa sepenuhnya menikmati sunrise, pagi tetap saja menawarkan sepotong kebahagiaannya dengan cara yang lain.

Pagi sama dengan warung buka. Warung buka sama dengan secangkir kopi. Secangkir kopi sama dengan segalanya, hehe. Sruput disek kopine :)

Di warung Bu Rahayu - Papuma

Dan apa acara selanjutnya? Masih tentang jeprat jepret :)

Pagi, Papuma, dan Mbak Dul

Mbak Dul alias Duala Okto

Gembira bersama-sama

Senangnya bisa menemani mereka jalan-jalan. Dari yang tadinya hanya mengenal tulisan Mbak Ocha di blog, akhirnya bisa cangkruk bareng. Hmmm, ngobrol tentang Mbak Ocha, jadi ingat Mbak Anazkia dan Mama Yuli di Manusela. Mereka adalah duo perempuan keren yang inspiratif.

Baiklah, saya sudahi dulu catatan ini. Insya Allah besok sambung lagi. Sekarang, waktunya bagi saya untuk memejamkan mata barang sejenak. Merdeka...!

11.5.13

Menyegarkan Kembali Ingatan Kita Pada Wayang

11.5.13
Ketika berbicara tentang karya peninggalan leluhur bernama seni tradisional wayang, kita dihadapkan pada begitu banyak karakter. Bayangkan, jumlah Kurawa saja seratus. Masing-masing memiliki nama dan karakternya sendiri. Dan kesemuanya mewakili sifat buruk yang dimiliki manusia.

Belum lagi tentang wayang itu sendiri. Ada beberapa jenis wayang di negeri ini, mulai dari wayang beber, wayang golek, wayang suluh, wayang suket (untuk mainan anak, tidak untuk dipentaskan), wayang wahyu, wayang kulit, hingga wayang orang.

Kali ini saya hendak menuliskan kisah wayang secara umum, untuk saya ikutkan di 2nd Giveaway Mbak Enny Mamito. Dan artikel yang saya pilih berjudul wayang kulit.

Begini. Terus terang saja saya bukan penggemar berat wayang. Namun saya memiliki banyak sahabat (di Jember) yang mencintai seni tradisi yang satu ini. Salah satunya adalah teman saya yang bernama Windi.

Lha kok ndilalah, baru beberapa hari yang lalu Windi mendongengi saya seputar lakon-lakon wayang, sedari pukul tiga sore hingga pukul delapan malam. Jeda hanya saya gunakan untuk shalat dan nyruput kopi.

Manusia Pertama Yang Turun ke Bumi Versi Pewayangan

Bersama Windi, dongeng pewayangan terasa sangat mudah untuk saya pahami. Dia memulai cerita dari kisah manusia pertama di dunia pewayangan yang turun ke bumi. Dialah Togog dan Semar, dua saudara kandung yang dikisahkan lewat cerita carangan. Carangan sendiri adalah lakon di luar pakem Mahabharata, diciptakan oleh pujangga Jawa.

Turunnya Togog dan Semar ke muka bumi disebabkan oleh ketamakan mereka untuk menguasai alam raya. Tadinya mereka adalah tiga bersaudara, Togog (saudara paling tua), Semar (saudara nomor dua), dan si bungsu Betara Guru. Mereka bertiga diuji untuk menelan gunung Jamur Dipa.

Gunung Jamur Dipa sendiri divisualkan berbentuk gunung terbalik. Jadi kaki gunungnya lancip, puncaknya melebar. Waktu itu, Togog terlalu bernafsu dengan menelannya sekaligus sehingga bibirnya robek. Sedangkan Semar, dia ngrikiti gunung dari pinggir-pinggirnya, tapi menghabiskan banyak krikitan. Dampaknya, perutnya tidak bisa menampung gunung Jamur Dipa, mengakibatkan perutnya membuncit dan tidak bisa kentut (ini cikal bakal ilmu Semar Ngentut). Satu-satunya yang tidak begitu bernafsu adalah Betara Guru. Hanya saja tangannya 'ngrawuk-ngrawuk' tanah gunung Jamur Dipa sehingga tangannya kemudian menjadi enam.

Dari kisah tersebut, Togog dan Semar diturunkan ke bumi, sedangkan Betara Guru dipasrahi tahta kahyangan karena dianggap paling tidak tamak atau paling sedikit dosanya.

Hukuman untuk Togog dan Semar selain diturunkan ke muka bumi, mereka memiliki bentuk rupa yang buruk. Togog dengan bibirnya yang sobek, sedangkan Semar perutnya buncit. Selain itu, mereka berdua diberi peran yang berbeda. Togog diutus untuk mengasuh para ksatria antagonis, Semar mengasuh ksatria protagonis.

Cerita selanjutnya, Togog dan Semar merasa kesepian. Di dunia yang luas ini, Togog dan Semar harus berpisah. Jadilah mereka mengisis hari-hari dengan kesendirian. Karena merasa sendiri, keduanya menangis (di tempat yang berbeda).

Ketika Semar menangis, dia dihampiri oleh Bapaknya yang turun dari kahyangan. Beliau bertanya kenapa Semar menangis. Dijawablah pertanyaan itu, "Saya merasa kesepian karena ternyata dunia begitu luas."

"Baiklah, kau akan kuberi teman. Tapi sebelum itu, jawab dulu pertanyaanku," Kata sang Bapak. Semar mengiyakan. Lalu sang Bapak bertanya, "teman seperti apa yang engkau inginan?"

"Saya ingin teman yang setia," jawab Semar. Lalu Bapaknya kembali bertanya. "Teman yang paling setia itu menurutmu apa?" Sekali lagi Semar menjawab pertanyaan Bapaknya. "Bayangan." Seketika itu pula bayangan Semar berubah menjadi sosok manusia yang dikenal dengan nama Bagong.

Sementara, di tempat yang berbeda, Togog juga menangis. Tangisannya berhasil mengundang kehadiran sang Bapak. Sama seperti ketika menghadapi Semar, beliau juga menanyakan hal yang sama. Dan Togog menjawabnya seirama dengan jawaban Semar.

"Saya ingin memiliki teman yang paling mengerti saya." Itu kata-kata yang meluncur dari mulut Togog kepada Bapaknya.

"Apa yang paling mengerti dirimu?" Bertanya lagi sang Bapak. Togog menjawabnya, "nafsu saya."

Seketika itu juga keluarlah sosok manusia dari dalam diri Togog yang kemudian dikenal sebagai Bilung.

Begitulah, dua sosok lain di muka bumi (dalam dunia pewayangan) selain Togog dan Semar. Mereka adalah Bagong dan Bilung.

Bagong adalah perlambang kesetiaan, dengan karakter polos, ceplas-ceplos, apa adanya, kadang di depan kadang di belakang, sama seperti sifat-sifat bayangan manusia. Sedangkan Bilung adalah karakter yang melambangkan ambisi dan nafsu.

Manusia berikutnya selain Togog, Semar, Bagong, dan Bilung adalah Petruk dan Nala Gareng. Keduanya bukan dari spesies manusia, melainkan dari bangsa jin. Ya, Petruk dan Nala Gareng adalah anak dari genderuwo.

Catatan:

Pada lakon-lakon yang lain, ada versi yang berbeda tentang cara Togog, Semar, dan Betara Guru memakan gunung Jamur Dipa. Namun esensinya tetaplah sama.


Tentang manusia pertama (di dunia pewayangan) yang turun ke bumi (Togog dan Semar) hanya ada di pakem carangan Jawa.

Lakon Purwa, Madya, dan Pamungkas

Untuk mempermudah pemahaman kita pada dunia wayang, kita harus mengerti babakan cerita. Jadi menurut teman saya, kisah-kisah pewayangan terdiri dari tiga babakan, yaitu; Wayang Purwa, Wayang Madya, dan Wayang Pamungkas atau akhir.

1. Wayang Purwa: Kisah pewayangan dimulai dari jaman Ramayana hingga selesainya perang Bharatayudha.

2. Wayang Madya: Cerita dimulai kembali dari setelah perang Bharatayudha sampai meninggalnya Pandawa (akhir pemerintahan Prabu Parikesit).

3. Wayang Pamungkas: Menceritakan tentang kisah keturunan Prabu Parikesit. Babak Pamungkas jarang sekali dipentaskan oleh para dalang, sehingga tidak banyak pencinta wayang yang mengerti ini.

Bagaimana dengan alur cerita Ramayana dan Mahabharata?

a. Ramayana: Bermula dari penculikan Dewi Shinta sampai pada penaklukan negara Alengka. Tujuannya untuk membebaskan Dewi Shinta dari Prabu Dasamuka.

b. Mahabarata: Cerita dimulai dari lahirnya Pandawa hingga perang Bhatarayudha.

Dalam tiga babak pewayangan tersebut, selalu ada tujuh tokoh yang dihadirkan, terkesan tidak pernah mati. Mereka adalah Togog, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Bilung, dan Anoman. Kenapa? Mungkin disebabkan mereka memiliki lakon yang sama yaitu sebagai tokoh cerita yang berkarakter 'mengingatkan.'

Wayang Itu Asli Mana?

Saya tidak tahu kapan tepatnya epos Ramayana dan Mahabharata diciptakan. Beberapa sumber menyatakan bahwa epos Mahabharata dibuat pada era 1500 Sebelum Masehi. Sedangkan peristiwa perangnya diperkirakan terjadi pada 2000 tahun sebelumnya, atau 5000 tahun yang lalu.

Latar cerita dari Dinasti Rama sendiri digambarkan ada pada bagian utara India - Pakistan - Tibet hingga Asia Tengah. Menjadi menarik ketika dalam artikelnya, Mbak Enny menyebutkan bahwa wayang adalah seni tradisi asli Indonesia. Hal ini diperkuat oleh pendapat Bapak R. Gunawan Djajakusumah dalam bukunya (Pengenalan Wayang Golek Purwa di Jawa Barat) bahwa seni wayang adalah kebudayaan asli Indonesia, khususnya dari pulau Jawa. Mungkin, jika yang dimaksud adalah wayang golek, saya akan segera mengangguk setuju.

Bagaimana jika tentang alur cerita wayang itu sendiri? Benarkah asli dari nusantara? Nah, khusus yang ini, masih bisa kita perbincangkan sambil sesekali nyruput kopi.

Saya pernah membaca buku Atlantis hasil penelusuran seorang profesor asal Brazil, yaitu Prof. Arysio Santos. Dalam buku tersebut, beliau banyak menuliskan kisah-kisah yang lebih banyak dikupas dari masa hidup Plato (427 SM – 347 SM). Menurut Profesor Santos, sebelum jaman es, sudah ada peradaban manusia. Lalu, ketika setelah jaman es, banyak hasil-hasil peradaban (sebelumnya) yang tenggelam dan hilang. Dimulailah peradaban baru, mulai dari wilayah Mediteranian hingga pegunungan Andes di seberang pulau Atlantis.

Tenggelamnya pusat peradaban, mengakibatkan hanya mereka yang hidup di ketinggianlah yang bisa bertahan hidup untuk kemudian melanjutkan peradaban (baru). Nah, tempat-tempat yang tinggi ini disinyalir adalah gunung-gunung di nusantara (Jawa dan lain-lain).

Saat itu, segala jejak peradaban literasi sudah tenggelam. Orang-orang meneruskannya dengan bersenjatakan budaya tutur (dari mulut ke mulut).

Cerita selanjutnya.

Jawa mulai bersentuhan dengan corak Hindu, yang disinyalir datang bersama para saudagar India. Bersamaan dengan itu, datang juga buku Ramayana dan Mahabharata ke Pulau Jawa. Tebakan Profesor Santos, keberadaan buku Ramayana dan Mahabharata di Jawa hanya sebagai pembanding saja, karena cerita yang sama dan lebih lengkap sudah ada di Jawa dalam bentuk pementasan wayang kulit.

Profesor Santos juga menuliskan bahwa sebenarnyalah agama Hindu, dan juga epos Ramayana Mahabharata datangnya dari nusantara. Ini dikarenakan dulunya India dan Indonesia adalah sebuah satu kesatuan (kerajaan maha luas) yang berpusat di Indonesia (diperkirakan sebagai Atlantis yang tenggelam di Palung Sunda, Laut China Selatan dan Laut Jawa). Itu adalah masa ketika pulau-pulau di Indonesia masih bersatu dengan benua Asia.

Teori di atas saya sisipkan di sini hanya sebagai perluasan imajinasi tentang nusantara tempo dulu. Mengenai benar tidaknya kesenian wayang asli Indonesia, saya tidak berani memastikan secara subyektif.

Sentuhan Sunan Kalijaga Pada Pewayangan

Nah, sekarang saya ingin menuliskan kejeniusan Sunan Kalijaga dalam menggubah kisah pewayangan. Dengan satu tujuan, menjadikan tradisi wayang (yang sudah mengakar di masyarakat) sebagai media syi'ar Islam.

Begini. Di masa hidup Sunan Kalijaga (Sunan Kalijaga disinyalir lahir pada 1450 Masehi, dan memulai dakwahnya pada sekitar 1500 Masehi), waktu itu Pulau Jawa masih kental dengan corak Hindu. Bagaimana caranya memperkenalkan Islam pada masyarakat, namun tetap toleran pada budaya lokal masyarakat. Maksudnya, tidak sedikit-sedikit ngomong bid'ah. Maka Sunan Kalijaga memilih jalur seni budaya.

Sunan Kalijaga memulai sentuhannya pada wayang ketika menciptakan beberapa lakon carangan (lakon di luar pakem Mahabharata). Misal; Petruk Dadi Ratu dan Layang Jamus Kalimasada.

Petruk Dadi Ratu

Dalam lakon ini, Sunan Kalijaga sedang memperkenalkan metode demokrasi. Bahwa setiap orang adalah setara. Dikisahkan dalam lakon tersebut, Petruk yang warga biasa (dari klan rakyat jelata) ternyata bisa menjadi ratu atau raja. Jika saja Sunan Kalijaga mengatakan hal ini secara blak-blakan tanpa melalui jalur seni, mungkin kisah syi'arnya akan terhenti sampai di sana, karena masyarakat mengalami kekagetan massal dan tidak menyukai sang sunan.

Layang Jamus Kalimasada

Ibaratnya wayang adalah cerita yang menimbulkan banyak misteri yang sering menggunakan kata-kata simbolis, maka dalam hal ini Sunan Kalijaga mencoba membuat lakon carangan sebagai tandingan lakon-lakon Jamus Kalimasada sebelumnya. Beliau berusaha menjabarkan, bahwa yang dimaksud dengan Jamus Kalimasada itu bukan jimat, tapi tuntunan bagaimana hidup di dunia, atau biasa disebut Hablum Minallah, Hablum Minan Naas, dan Hablum Minan 'Alam.

Lagi-lagi, Sunan Kalijaga berhasil memberi daya sentuh pada hal-hal yang akan sangat rawan jika didakwahkan secara langsung, tanpa melalui jalur seni.

Jadi, untuk hal-hal lain yang dulu dianggap jimat, coba dinalarkan oleh Sunan Kalijaga. Mulai dari jimat Jupuh Manik Astagina yang dijelaskan oleh beliau bahwa itu adalah rukun islam dan syahadat, hingga Layang Jamus Kalimasada.

Hal lain yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga adalah tentang pembongkaran jati diri seorang Semar. Jadi, Semar itu diciptakan bukan sebagai sosok yang sempurna (Tuhan). Semar adalah sosok yang melambangkan bagaimana menjadi manusia yang sebenarnya. Simbol-simbol seperti kenapa tangan kiri Semar selalu ada di belakang, itu pertanda bahwa menjadi manusia tidak boleh sombong. Tangan kanan Semar selalu menunjuk ke atas, maksudnya agar kita sebagai manusia selalu mengingat pada Yang Di Atas.

Hebat, saya salut dengan kejeniusan Sunan Kalijaga.

Ketika Pihak Belanda Mengadopsi Cara-cara Sunan Kalijaga

Sekarang saya ingin menuliskan kisah setelah era Sunan, yaitu masa penjajahan Belanda yang ada hubungannya dengan seni budaya wayang.

Hmmm, dimulai darimana ya? Ohya, sebelum fokus ke cara pandang Belanda terhadap wayang, akan saya tuliskan tentang masa dimana Mataram terpecah karena pengaruh Belanda.

Ketika Belanda menginjakkan kaki di bumi pertiwi, mereka senang menggunakan cara adu domba. Itu juga dialami oleh para dalang. Saat itu, para dalang terbagi menjadi dua. Dalang yang pro kolonial dan dalang yang pro tanah air.

Mereka yang pro kolonial adalah golongan kelompok dalang Ki Panjang Mas. Sedangkan mereka yang anti kolonial adalah kelompok dalang Nyi Panjang Mas. Maaf jika saya tidak menyebutkan nama kerajaannya, karena kerajaan-kerajaan tersebut masih ada hingga artikel ini dituliskan.

Apa tujuan Belanda memecah belah pakem wayang?

Tidak lain demi kepentingan propaganda penjajahan. Semacam perayaan simpati. Sama seperti ketika Jepang datang ke Indonesia, mereka selalu menggembar-gemborkan kata-kata saudara tua, dan lain sebagainya. Pada akhirnya kita tahu, bahwa semua itu hanyalah omong kosong belaka.

Jadi, Belanda tidak asal menduduki nusantara. Sama seperti karakter para penjajah (terutama kaum Eropa) yang lain, Belanda juga mempelajari bakal jajahannya, serinci mungkin. Awal mulanya, mereka memanfaatkan jasa agamawan. Karena dianggap kurang fokus (agamawan lebih fokus menyebarkan agama, humanisme, dan rawan membuat pertentangan dengan pihak kerajaan Belanda sendiri), maka mereka menggantinya dengan sebuah lembaga bernama KITLV.

Tugas-tugas KITLV

Mula-mula tidak bernama KITLV, melainkan Bataviasche Genootschap van Kusten en Westenscappen. Didirikan pada 1778 demi memuluskan kepentingan Belanda. Mereka memiliki tugas meneliti dan mengembangkan bidang-bidang sosial, humaniora dan ilmu alam. Bertujuan untuk advokasi perdagangan, kesejahteraan sosial, dan persoalan pertanian di tanah jajahan / Hindia.

Jadi, Belanda merasa, mereka harus memiliki data rinci tentang daerah jajahannya. Bukan hanya dari sisi pemetaan geografik saja, namun juga pada apa yang disukai masyarakat jajahan (untuk dijadikan alat propaganda). Dan salah satu pilihan penelitiannya jatuh pada seni budaya wayang. Di sini sangat jelas bahwa Belanda mengadopsi apa yang dulu (100 - 200 tahun sebelumnya) pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga.

Kesimpulannya, KITLV memiliki peran untuk selalu melakukan kajian dan penelitian-penelitian masyarakat secara detail dan terus menerus. Hasil dari penelitian mereka nantinya akan dilaporkan kepada pemerintah Hindia Belanda. Dari sana, lahirlah kebijakan-kebijakan penjajah untuk masyarakat yang dijajah.

Jika kita melihat foto-foto yang terpampang di situs KITLV dot NL, di sana ada banyak foto-foto tentang candi (masing-masing relief diabadikan tersendiri) dan juga pagelaran wayang (wayang orang maupun wayang kulit). Menjadi sedikit bukti bahwa daya rambah penelitian KITLV hingga mencapai budaya wayang.

Tokoh-tokoh Wayang Yang Disukai Belanda

1. Petruk; Sebab Petruk memiliki ciri-ciri fisik tertentu. Hidung mancung, tinggi, dan kisahnya mendukung kepentingan Belanda. Misal, kisah Petruk Dadi Ratu dianggap mempermulus kepentingan Belanda. Sebabnya, Belanda ingin rakyat jelata memberontak pada pihak kerajaan nusantara, dengan tokoh sederhana seperti Petruk. Masyarakat diarahkan untuk tidak mempercayai sistem pemerintahan yang telah ada, dan opini mereka diarahkan untuk menaruh harapan besar pada Belanda (lewat sosok Petruk). Ada banyak sisi yang dipelintir di sini.

Petruk juga memiliki keunggulan tersendiri. Dalam dunia wayang, dikenal bahwa kehadiran Petruk adalah pertanda kemenangan. Misal, akan ada perang antara pihak Pandawa dan Kurawa. Ketika di Pandawa ada terlihat kehadiran Petruk, maka bisa dsipastikan Pandawa akan memenangkan peperangan. Kesimpulannya, dimana Petruk berada, di situ pasti akan ada kemenangan. Sampai-sampai ada lakon yang berjudul Petruk kembar (bercerita tentang Petruk yang diculik para Kurawa).

Itulah yang membuat kolonial Belanda jatuh hati pada sosok Petruk.

2. Semar; Belanda beranggapan, mereka adalah para ksatria yang ada di bumi nusantara untuk memberi kemakmuran. Semar sendiri adalah tokoh pertanda kemakmuran. Semar adalah pemegang rahasia semesta. Selain itu, Semar adalah sosok penerang, mengayomi, dan selalu membawa kabar tentang kebenaran. Bagi Belanda, Semar adalah sosok yang ideal untuk dijadikan alat propaganda pada masyarakat yang mencintainya.

3. Kresna; Dia adalah seorang penasehat politik yang memiliki akses untuk keluar masuk keraton. Di dunia pewayangan, Pandawa bisa sukses karena menjalankan konsep politiknya Kresna. Lagi-lagi, Belanda jatuh cinta pada salah satu tokoh pewayangan, untuk dijadikan alat propaganda pada masyarakat nusantara (teristimewa di Pulau Jawa).

Bagong Adalah Tokoh Yang Dibenci Belanda

Seperti yang telah saya tuliskan di atas, Bagong adalah tokoh (bagian dari Punakawan) pewayangan yang tercipta dari bayang-bayang Semar. Dia memiliki karakter setia (sama seperti bayangan yang setia mengikuti kemana raga kita pergi), kadang di depan kadang di belakang, lugu, ngomongnya ceplas-ceplos dan terkesan tidak memberi solusi.

Keluguannya yang ceplas-ceplos itu adalah gambaran dari rakyat jelata. Kata-kata Bagong memang apa adanya, tanpa ada pengendapan sebelumnya. Itulah kenapa pihak penguasa merasa terancam (takut tersindir) oleh sosok Bagong. Belanda lebih suka dalang menghadirkan punakawan lain tanpa kehadiran Bagong.

Bisa dibilang, Belanda dengan sengaja menghilangkan karakter Bagong dalam pewayangan. Sampai di sini, semoga kita tidak heran jika di beberapa wilayah di Pulau Jawa, ada saja pakem pewayangan yang tidak mengenal (dengan baik) atau sama sekali tidak pernah menghadirkan sosok Bagong dalam setiap pementasannya.

Tokoh lain yang sifatnya lugu, berpegang teguh pada kebenaran, serta bergaya komunikasi ala rakyat jelata, itu pasti dihilangkan oleh kompeni. Salah satunya adalah tokoh sakti mandraguna bernama Ontoseno.

Sekarang, hampir semua dalang mau mementaskan tokoh Bagong (maupun Ontoseno), meskipun Bagong bukan super hero dan meskipun cara bercanda Bagong benar-benar tipikal guyonan rakyat kelas bawah. Itu disebabkan karena sudah tidak ada intervensi politik seperti masa penjajahan dulu.

Penutup

Wah, sudah panjang sekali ya tulisannya. Padahal masih ada sederet lagi yang ingin saya paparkan. Maaf ya Mbak Enny, tulisane dowo. Tulisan ini terbuka pada kritik dan apresiasi dari sahabat blogger yang jauh lebih paham tentang seni budaya pewayangan.

Baiklah, saya sudahi dulu artikel ini. Merdeka...!

Sedikit Tambahan

Di tulisan Mbak Enny, ada disebutkan bahwa kata wayang berasal dari Wad dan Hyang, artinya leluhur. Namun ada juga yang berpendapat bahwa kata wayang diserap dari kata bayangan.

Saya lebih sependapat dengan yang pertama. Mungkin disebabkan karena jauh di belakang rumah saya tampak membentang Pegunungan Hyang (lebih dikenal dengan nama Gunung Argopuro), yang setia mempercantik pemandangan di pagi hari, juga setia menyimpan kisah-kisah pewayangan yang terpelihara lewat cerita rakyat di kaki-kaki Pegunungan Hyang..

Yuuk ikutan 2nd Giveaway Enny Mamito
acacicu © 2014