29.5.13

Suara Kami Yang Tidak Pernah Padam

29.5.13
Judul di atas saya adopsi dari tema Hari Anti Tambang 2013 yang diselenggarakan pada 29 Mei 2013, bertepatan dengan 7 tahun luberan lumpur lapindo. Wew, ngomongin lumpur lapindo, jadi ingat kaos oblong milik Bob (Bapak mertua) yang sekarang mengisi almari kamar.

2 Tahun Derita Lumpur Panas LAPINDO

Kaos oblong yang saya kenakan itu bertuliskan, 2 Tahun Derita Lumpur Panas LAPINDO (dari pameran tunggal fotografi). Ternyata sekarang sudah tujuh tahun berlalu. Semoga kita tidak lupa.

Memang seperti itulah ciri-ciri ketidakadilan di sektor pertambangan yang entah kenapa, selalu berlangsung di negeri ini, ibarat sinetron saja. Kalau sudah begitu, rakyat-lah yang terus menerus menjadi korban. Seringkali, suara mereka dibungkam dengan berbagai cara dan dari berbagai sisi.

Dan apakah sekarang kita sudah terbebas dari ketidakadilan di sektor pertambangan? Kita semua maunya begitu. Sayang sekali, kenyataan berkata lain.

Dalam dua periode SBY berkuasa Indonesia ditata sebagai negara tambang. Jumlah izin pertambangan melonjak hingga 11.000 izin, ini belum termasuk sektor minyak dan gas tahun 2012. Dalam kurun waktu 2008 hingga 2011 terjadi eksploitasi besar-besaran dan meningkatnya ekspor hasil tambang hingga 500-800%. Pada bagian lain marak praktik kekerasan aparat terhadap rakyat yang menuntut perubahan. Kondisi ini makin memperparah krisis keselamatan dan ruang hidup rakyat (sumber: Jaringan Advokasi Tambang).

Hari Anti Tambang:

Saya mengerti, semisal Jember tidak di-setting menjadi kota industri (dan pertambangan), mungkin kabar tentang segera dibukanya jurusan 'teknik pertambangan' akan terdengar lebih merdu.

Dimana wajah kearifan lokal negeri ini? Hanya kolektifitas lokal-lah yang bisa menandingi kedahsyatan globalisasi ekonomi.

Dari sudut yang lebih kecil lagi, Jember diserbu dengan berbagai issue dan dari berbagai sisi. Meski begitu, saya tetap bersyukur. Diantara yang lelah, ada saja yang masih peduli akan ketidakadilan di sektor pertambangan. Mereka mendedikasikan waktu, pikiran dan daya dukungnya sebagai bentuk solidaritas kepada rakyat yang terus menerus menjadi korban.

29 Mei 2013, bertepatan dengan 7 tahun luberan lumpur lapindo, ada sebuah hari yang disepakati sebagai HARI ANTI TAMBANG. Untuk tahun ini, mengusung tema; Suara Kami Yang Tidak Pernah Padam.

Sepandai apapun kita memilih diksi untuk menghujat hari-hari penting, toh kita tetap butuh penanda akan kekejaman dunia pertambangan di Indonesia. Jadi, Selamat memperingati Hari Anti Tambang, 29 Mei 2013, dan selamat merenung.

Salam Lestari!
Hmmm, entah apa lagi yang harus saya tuliskan tentang sisi lain pertambangan. Tentang efek negatif pertambangan? Saya yakin anda semua pasti mengerti. Tentang betapa dibutuhkannya dunia pertambangan untuk kemajuan negeri? Ya, tentu saja. Sayang sekali, sampai detik ini kita masih terjajah 'dunia luar' tapi banyak yang menolak untuk mengakuinya.

Ah sudahlah, mari kita bernyanyi saja.

1. Merubetiriku

2. Insureksi

Salam Lestari!

6 komentar:

  1. Yang sering menjadi pertanyaan saya, kenapa orang-orang "pribumi" yang hidup di daerah pertambangan ibarat tikus mati di lumbung padi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. itu dia masalahnya Mas Pak Ies. Tentang ketidakadilan di sektor pertambangan.

      Kita nyanyi saja yuk Mas, hehehe....

      Hapus
  2. beugh,11.000 izin???luar biasa ya....hanya untuk pertambangan???*geleng2 ajalah...
    iya nih,g terasa dah 7 tahun..dulu lumpur meluber pertama kali waktu kuliah semester akhir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, 11.000 ijin, belum yang lain-lain di tahun ini :)

      Sudah 7 tahun, dan semoga saja selesai di tahun ini. Juga, tidak ada lagi cerita seperti LAPINDO.

      Dulu Mbak kuliah di mana?

      Hapus
  3. Saya masih ingat sekali lapindo dulu adalah pabrik yang indah menurut saya, karena saya dulu sering bermain disekitarnya.

    Namun ketika fikiran saya menjadi sedewasa ini, saya begitu menyesal karena agungnya menara lapindo ternyata banyak merugikan sumber daya alam di negara kita.

    Sekarang apa yang bisa mereka lakukan, ketika yang kuasa murka?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari kita sekolah, biar pinter. Tiada henti belajar, dan berkata tidak pada pembodohan. Essih, nulis opo aku iki, hehe...

      Hapus

acacicu © 2014