25.6.13

Menua Bersama Musik

25.6.13

Mbah Wakidi - Foto by Oyot 91

Mbah Wakidi, begitu biasanya warga Jember memanggilnya. Beliau adalah Pak Tua sang pemetik siter (mirip sekali dengan kecapi). Ya, memang pada akhirnya alat musik ini telah menjadi salah satu kebanggaan nusantara.

Sehari-harinya, Mbah Wakidi berjalan di wilayah Jember sambil menenteng siter. Kakek kelahiran Jember, 17 Agustus 1930 ini seakan tak pernah lelah untuk menghibur orang-orang yang tak ia kenal, dengan alunan nada hasil petikan jari-jarinya yang telah menua. Dulu saya sering melihat beliau beristirahat di bawah jembatan Semanggi - Jember. Kadang dalam istirahatnya, Mbah Wakidi masih sempat-sempatnya memetik siter untuk menghibur dirinya sendiri.

Entah sudah berapa lama Mbah Wakidi setia melakoni perannya sebagai musisi jalanan. Menurut banyak orang, beliau sudah lama sekali menjalani hidup sebagai pemetik siter. Pada awal tahun 2013, saya pernah melihat aksi beliau di Gudeg Lumintu. Ternyata setiap hari minggu Mbah Wakidi diminta untuk perform di sana.

Mbah Wakidi mengajarkan pada kita semua bahwa menua bersama musik adalah sebuah keindahan.

Ngek-Ngok Seribu Manis dan Gethuk Lindri

Cerita yang lain. Dulu ketika masih kecil, saya sering dibuat terheran-heran oleh ulah para pedagang seribu manis. Kalau di Jember, julukan untuk mereka adalah pedagang ngek-ngok. Mereka berjualan seribu manis, berjalan kaki dari kampung ke kampung, sambil tak henti memainkan biolanya. Saya yang masih bocah hanya berpikir sederhana, "kenapa mereka selalu gembira?"

Lain pedagang ngek-ngok, lain pula dengan penjual gethuk lindri. Mereka tidak berjalan kaki tapi dengan mengayuh rombong kecil dengan kaca transparan. Tepat di atas rombongnya ada terlihat moncong toa yang siap mengumandangkan lagu-lagu kesukaan penjual. Dari penjual gethuk lindri, ada satu pelajaran yang bisa saya petik. Bahwa dalam hidup ini, selalu ada lagu-lagu yang terpaksa harus kita dengar. Keakraban antara telinga dengan alunan lagu tersebut akan menciptakan proses perkenalan, lalu suka. Metode ini yang biasa digunakan oleh mereka yang berkecimpung di dunia industri musik.

Hmmm, bagaimanapun juga para pedagang gethuk lindri telah turut mengantarkan para bocah seperti saya untuk mengenal lagu-lagu Bang Rhoma dan lagu-lagu khosidah.

Apa persamaan antara tukang ngek-ngok dan penjual gethuk lindri? Mereka sama-sama bergembira. Tampak sekali jika mereka sangat menikmati hidup. Dalam pikiran seorang RZ Hakim kecil, tercetuslah sebuah gagasan ala bocah. Untuk bahagia di dunia, kita harus menua bersama musik.

Musik Yang Asyik

Detik terus berdetak, tak peduli apakah kita sedang menikmati hidup atau tidak. Bersama detik yang terus merayap, saya tumbuh semakin dewasa dan semakin mengerti apa itu musik. Ketika istri saya berkata, "Mase, ada lomba menulis tentang musik yang asyik, yang ngadain KEB bekerja sama dengan Langit Musik," saat itu secara refreks ingatan saya tertuju pada para tukang ngek-ngok alias pedagang jajanan seribu manis, penjual gethuk lindri, juga pada Mbah Wakidi.

Entah bagaimana ekspresi wajah apikecil istri saya, ketika saya menerawang dan terus menerawang, terbang ke masa kecil. Kalaupun saya harus turut menyemarakkan lomba menulis 'Musik Yang Asyik' tersebut, maka saya harus menyampaikan kabar baik pada semua orang. Ya kabar baik. Musik adalah sahabat kecil yang senantiasa menemani fase hidup manusia. Secara tidak sadar, musik turut andil dalam membentuk karakter seseorang. Maka, alangkah indahnya jika kita bisa menua bersama musik yang kita anggap asyik.

"Lho Mas, kok malah bengong. Piye? Ikutan ya?"

Aih, ternyata saya merenung terlalu lama, hehe. Tentu saja saya bersedia turut menyemarakkan acara yang mbois ini. Beberapa detik kemudian, saya tergerak untuk meraih gitar bolong, kemudian memetik senarnya, dan menyanyikan sebuah lagu untuk apikecil.

Untuk Apikecil:

Untuk Apikecil - Cipt. RZ Hakim

Aku hanya ingin kita
Tinggal di desa dan tua bersama
Sekecil apapun rumah kita
Aku jadikan seluas cinta

Sesekali engkau dan aku
Berkelana dan bertamasya hati
Setua apapun kita nanti
Tetaplah pada salam lestari

Reff:

Akan aku habiskan sisa usia ini
Hanya untuk menemani

Menemani dirimu hingga ujung usiaku
Hanya untuk menemanimu..

Menua Bersama Musik

Kepada perempuan mungil yang dulu saya dekati dengan musik, yang saya beri mahar sebuah lagu, yang senyumannya pernah saya ukir di sebaris lirik 'aku butuh teman bicara sampai tua..' dialah nanti yang akan menua bersama saya (Amin Ya Robbal Alamin), bertemankan musik. Ya, saya akan mengajaknya menuju surga lewat surga.

Terima kasih untuk Mbah Wakidi, para ngek-ngok dan para penjual gethuk lindri, juga pada para seniman musik dimanapun berada yang bernyanyi dengan hatinya. Dari kalian saya belajar bahwa musik yang asyik adalah ia yang menggembirakan, yang berusaha keras membahagiakan kita dikala sedih. Bahkan sejatinya lagu-lagu galau bermaksud hendak mengajak kita bahagia.

Untuk bahagia di dunia, kita harus senantiasa bergembira. Begitulah. Saat kita telah menemukan metode untuk menikmati hari-hari dengan gembira, maka langkah selanjutnya adalah menua bersama musik. Tentu saja musik yang baik.

Salam saya, RZ Hakim


Turut Menyemarakkan Lomba Menulis Blog "Musik yang Asyik"

23.6.13

Twilight Express: Kita Butuh Mencintai Bahasa Indonesia

23.6.13
Saya sedang me-review blog Twilight Express milik Mbak Imelda Emma Veronica Coutrier-Miyashita. Beberapa blogger memanggilnya Mbak EM, tapi saya sudah terbiasa memanggilnya Mbak Imelda. Sebagai pembuka, anda bisa membaca tulisan saya di bawah ini, dalam bentuk spoiler.

Pembuka Untuk Review Twilight Express:

Ketika Pakde Cholik mengumumkan tentang Kontes Unggulan Blog Review: Saling Berhadapan, esoknya, pada 30 Mei 2013, saya segera menghubungi Mbak Imelda Coutrier, si pemilik Twilight Express.

"Mbak Imelda, nggak tertarik ikutan GA-nya Pakde Cholik? Tentang saling me-review blog. Butuh dua orang. Saya mau mereview tulisan-tulisan Mbak, kalau Mbak Imelda berminat."

Alhamdulillah, saat itu juga Mbak Imelda memberi lampu hijau. Senang sekali. Maka, sejak saat itu saya mulai mengingat-ingat, apa saja yang pernah saya baca di Twilight Express. Memasuki bulan Juni, saya semakin akrab dengan tulisan-tulisan Mbak Imelda.

Pembuka

Mbak Imelda adalah figur blogger yang produktif berbagi kisah lewat kata, tulisannya ribuan. Bagaimana baiknya memulai tulisan? Apakah dimulai dengan kisah tentang suami Mbak EM yang memiliki saudara kembar? Atau, dimulai dengan kisah Riku dan Kai? Atau tentang acara Gita Indonesia yang dipandu oleh Mbak Imelda? Atau.. Wew, terlalu banyak pilihan untuk menjadi pembuka, hingga akhirnya saya tidak segera untuk memulai menulis.

Lebih baik, saya menuliskan terlebih dahulu apa itu review.

Review adalah kata yang berasal dari Bahasa Inggris. Review memiliki arti meninjau. Bisa juga diartikan sebagai ulasan (mengulas), resensi, analisa, dan pandangan. Jadi, review bersifat subyektif. Sebab, review lebih mengutamakan pendapat pribadi ketika menganalisa sebuah blog.

Dalam hal me-review blog Twilight Express, saya akan menghindari untuk memberi penilaian tentang tampilan blog, karena saya tidak pandai dalam hal ini. Lagipula, semua orang tahu jika dalam hal desain blog, Twilight Express sudah tampil cantik lagi memudahkan pengunjung. Jadi, saya lebih memilih isi atau konten.

Melihat begitu beragamnya materi tulisan yang tersedia di Twilight Express, ada baiknya jika saya memilih salah satu sebagai poros review, atau subyek topik, atau entah apa namanya. Itu semua saya lakukan agar lebih enjoy dalam menuliskan, dan lebih relaks saat menyampaikan pandangan.

Untuk Twilight Express, saya memilih sisi Bahasa sebagai subyek penulisan, dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak melebar. Itu saja pembuka dari saya, semoga review dari saya nanti ada manfaatnya. Terima kasih.


Dari sekian banyak tema tulisan di Twilight Express, saya jatuh cinta dengan tema Language. Kenapa? Apa karena Mbak Imelda lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia – Program Study Jepang? Mungkin iya. Tapi menurut saya, itu karena Mbak Imelda berhasil menceritakan seputar bahasa dengan diksi yang baik dan alur yang tidak ruwet. Kemungkinan besar, hal ini dipengaruhi oleh pengalaman Mbak Imelda yang sudah hampir 20 tahun mengajar Bahasa Indonesia di Jepang.


Mbak Imelda

Sepertinya saya tidak perlu menuliskan secara rinci tentang siapa Mbak Imelda, sebab dia telah menjelaskannya dengan detail di kolom Who am I.

Twilight Express identik dengan gaya bahasa sehari-hari, dengan pesan yang bergizi.

Yang Kita Ingat Tentang Jepang

Ketika saya bertanya pada orang-orang sekitar tentang apa yang mereka ingat dari Jepang, maka hanya kepahitan yang saya dengarkan. Ya, saya tidak menutup telinga tentang kenyataan ini, ia hidup dan terpelihara di masyarakat kita. Mulai dari Jugun ianfu hingga Romusha. Wajar saja, dulu kita ada di posisi terjajah, bukan sebagai penjajah atau (bisalah dikatakan) pengambil kebijakan.

Apakah hal di atas sempat mengganggu proses saya dalam mereview blog Twilight Express? Tentu saja tidak. Kedangkalan hanya akan membuahkan hasil yang juga dangkal, dan saya menolak untuk berpikir dangkal. Lagipula, saya pernah membaca di tulisan Mbak Imelda, bahwa kakek Mbak Imelda juga tercatat sebagai pasukan pekerja alias Romusha. Itu dulu, di masa pendek penjajahan Jepang. Sayang, saya lupa judul artikelnya. Ketika barusan coba saya cari, blog Twilight Express sedang tidak bisa diakses dengan sempurna.

Menemukan Kesadaran Akan Pentingnya Cinta Bahasa di Twilight Express

Terlepas dari catatan buram di masa perang, Twilight Express menyegarkan kembali ingatan saya seputar cara pandang Jepang terhadap Bahasa Indonesia. Sejak tahun 1942, Jepang melarang adanya penggunaan Bahasa Belanda. Semua harus diganti dengan penggunaan bahasa Indonesia. Tidak berhenti sampai di sana saja, sejak awal tahun 1943 seluruh tulisan yang berbahasa Belanda dihapuskan dan harus diganti dengan tulisan berbahasa Indonesia.

Dimulailah masa penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di instansi-instansi pemerintahan, di lembaga-lembaga pendidikan, dan dipergaulan sehari-hari. Bahasa Indonesia juga dijadikan sebagai bahasa penulisan yang tertuang pada hasil-hasil karya sastra bangsa Indonesia. Itulah masa merdeka bagi bangsa Indonesia untuk menggunakan bahasa nenek moyangnya sendiri, meskipun kontras dengan kehidupan sosial masyarakat yang sangat memprihatinkan.

Walau demikian, Jepang tetap berusaha keras menanamkan bahasa dan kebudayaannya untuk bisa bertumbuh di negeri ini.

Kenapa Jepang bisa bangkit lagi dalam 10 tahun, padahal dua jantung negerinya pernah luluh lantak hancur berkeping-keping.

Ternyata jawabannya sederhana saja. Sebab mereka memiliki kekuatan budaya. Dan bahasa adalah media untuk melukiskan budaya bangsa. Jika baik penggunaan bahasanya, baik pula perkembangan budayanya. Dan Jepang adalah sebuah negeri yang sangat mencintai bahasanya. Ini lebih hebat jika dibandingkan dengan peristiwa Restorasi Meiji di tahun 1868 (yang disebut-sebut sebagai tonggak medernisasi di Jepang).

Media paling strategis yang bisa melahirkan kecintaan pada Bahasa Indonesia adalah instansi pendidikan (sekolah), media cetak dan elektronik (termasuk di dalamnya sosmed), dan lingkungan. Jika media-media pendukung itu 'bekerja' dengan semestinya, dengan menggunakan metode kesadaran kritis, maka akan baik pula rasa cinta masyarakat pada bahasanya.

Semisal masih ada hal-hal yang tidak semestinya (seputar bahasa), maka media-media di atas terbukti telah gagal total dalam menumbuhkan kecintaan pada Bahasa Indonesia. Sepertinya kita butuh membaca Twilight Express, hehe.

Sebab Mereka Senang Membaca

Di artikel saya yang berjudul, Sebab Mereka Senang Membaca, ada saya tuliskan serangkai kalimat seperti berikut ini:

"Warga Jepang sangat menjunjung tinggi budaya literasi, itu yang membuat mereka tampak berbeda. Tak heran jika banyak sekali orang Jepang yang jauh lebih tahu dan ahli tentang budaya Indonesia secara ilmiah, dan secara kebiasaan, dibanding dengan warga Indonesia sendiri. Why? Sebab mereka senang membaca."

Semisal seluruh warga Indonesia dari Sabang sampai Merauke bisa ditumbuhkan kesenangannya akan membaca, maka kesejahteraan hanyalah tinggal masalah ukuran. Ya, tentang bagaimana kita mengukur sebuah kemakmuran. Untuk itu, kita butuh memiliki rasa cinta pada bahasa sebagai pelukis budaya bangsa.

Kita butuh mencintai Bahasa Indonesia!

Sedikit Tambahan

Selain aktif sebagai Dosen Bahasa Indonesia di Universitas Senshu, Kanagawa dan Universitas Waseda, Tokyo, Mbak Imelda juga pernah pro aktif sebagai narator di Announcer Radio InterFM 76,1 Mhz Tokyo, penerjemah, editor, Sekretaris KMKI (Keluarga Masyrakat Kristen Indonesia) Tokyo-Jepang, dan entah apalagi. Tak heran jika Mbak Imelda sering berhubungan dengan orang penting.

Ada juga hal sederhana nan unik dari Mbak Imelda. Ini tentang ulang tahunnya yang bersamaan dengan ulang tahun suaminya, 14 Januari. Berarti yang ulang tahun di hari itu tiga orang, kan suaminya Mbak Imelda kembar, hehe.

Kata Mbak Imelda, dulu tak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya untuk menikah dengan WNA, dan memiliki dua putra yang juga WNA. Namun jangan ditanya tentang seberapa dalam jiwa kebangsaannya. Sebab sesungguhnya, kebangsaan jauh berbeda dengan kenegaraan. Kebangsaan tak mengenal batas teritorial, itulah sebabnya Mbak Imelda senantiasa memelihara kecintaannya pada budaya bangsa (seperti batik dan lain-lain), juga pada Bahasa Indonesia.

Aduh, nulis apa saya, kok njlimet gini ya. Sepertinya, inilah saatnya untuk menyudahi review.

Terima kasih Mbak Imelda, teruslah menjadi cahaya yang menerangi banyak orang. Kami yang di sini akan dengan senang hati mendoakan apapun yang terbaik buat Mbak sekeluarga. Salam buat Mas dan duo jagoan.

Sudaaah... Terima kasih Twilight Express. Merdeka!

19.6.13

Street Art: Seni Yang Dekat Dengan Rakyat

19.6.13
Pada tanggal 13 Juni hingga 15 Juni 2013 yang lalu, di Jember ada gelar seni yang mengusung tema, Street Art Full Service - Amputasi Ide. Acara yang digagas oleh Lembaga Pers IDEAS (bekerja sama dengan beberapa kantong kesenian) ini menjadi semakin menarik ketika tak hanya menyuguhkan karya-karya jalanan saja, melainkan juga ada forum diskusi, live musik, live street art performance, workshop desain grafis, dan kopi gratis.

Waaaah, memang selalu merdu di telinga saat mendengar ada kopi gratis. Jadilah saya dan Prit merapat ke gedung PKM Jember, tempat dimana acara tersebut digelar.


Foto di atas dijepret oleh seorang kawan bernama Dedi Sup Merah. Dia juga sekaligus pelaku street art. Salah satu karyanya adalah yang menjadi latar foto di atas.

Bahagianya melihat aneka graffiti (lebih ke tulisan) dan mural (bentuk gambar) berceceran di setiap sudut gedung, dan dikemas dalam bentuk yang santun, memikat, tetap 'nakal' dan tidak biasanya. Terus terang saja, ketika saya bersepeda BMX melintasi tepian jalan raya, saya lebih suka memandang karya seni jalanan ketimbang harus berlama-lama memandang iklan yang membabi buta.

Seni yang baik memang seni yang dekat dengan masyarakat. Tidak jorok, mewakili hati nurani kolektif, dan jujur. Andai para produsen bisa bisa sejujur itu, andai para politisi mau belajar dari cara-cara street art saat berkampanye, alangkah indahnya Indonesia.


Pejamkan matamu, tak penting memandang iklan. Tapi ketika disana ada seni jalanan, saatnya membuka mata lebar-lebar.

17.6.13

Catatan Ringan di Bulan Juni

17.6.13

Saya, Mbak Tutus, dan Aldin

Cuaca di kota kecil Jember sedang tidak menentu. Kadang dingin kadang panas. Butuh kekebalan tubuh yang prima untuk menghadapi cuaca yang nggregesi ini.

Dua hari yang lalu, tepatnya pada sabtu pagi, 15 Juni 2013, keponakan saya (Aldin) kejang-kejang. Seisi rumah panik saat mendapati Aldin step. Dengan sigap, orang tua Aldin memutuskan untuk membawanya ke Rumah Sakit Dr. Soebandi. Padahal baru malam harinya Aldin diperiksa di bidan dekat rumah.

Saat Aldin sakit, kami ada di situasi keuangan yang kurang baik. Syukurlah, Kakek Aldin tanggap menyikapi keadaan. Beliau segera menjual Astrea 800 untuk biaya pengobatan cucunya. Itu hanyalah seonggok sepeda, Aldin jauh lebih penting.

Cerita yang lain, 16 Juni 2013.

Kondisi kesehatan saya sedikit ngedrop, kekebalan tubuh menurun, gejala influensa datang berkunjung. Tapi saya harus sehat, sebab di hari tersebut ada janji menemani Bu Asita (yang jauh-jauh datang dari Jakarta). Beberapa waktu sebelumnya, saya sudah janji untuk menemaninya tamasya ke Papuma.

Sesampainya di Papuma, influensa lenyap entah kemana. Mungkin takut oleh suara ombak dan keindahan alamnya. Saya larut dalam suasana Papuma yang aduhai.


Terbang ala Harry Potter di Pantai Papuma

Salut buat Bu Asita, datang jauh-jauh hanya untuk berlevitasi di Pantai Papuma Jember. Dia ingin foto 'terbang gaya Harry Potter' ini menjadi trend baru, dan bisa menjadi daya tarik baru untuk Papuma.

Senin, 17 Juni 2013.

Saya sehat, Aldin sehat, semuanya sehat. Alhamdulillah. Suasana di rumah singgah panaongan (rumah saya) ramai seperti biasanya. Apalagi, sore tadi kawan-kawan komunitas Panaongan Gambar-Gerak (media rekam) sedang ada acara, yaitu workshop produksi film pendek (lanjutan dari dua workshop sebelumnya).


Jember, 17 Juni 2013

Sementara di luar sana, orang-orang sedang ramai berlalu lalang, diantara teriakan para demonstran yang menolak kenaikan harga BBM. Demo terjadi di beberapa titik, satu diantaranya dilakukan di kantor Pemkab Jember, tepat di bawah patung Letkol Moch. Sroedji. 17 Juni yang ramai.

Sedikit Tambahan

Foto-foto oleh Vj Lie.

Siap menanti kehadiran Komandan BlogCamp di panaongan pada 23 Juni 2013.

13.6.13

Ingat Jepang Ingat Sandal Lily

13.6.13
BlogCamp sedang punya gawe. Ya, Pakde Abdul Cholik sedang mengadakan Giveaway bertajuk, Kontes Unggulan Blog Review: Saling Berhadapan. Untuk mengikuti kontes ini, kita butuh partner agar bisa saling mereview isi blog masing-masing.

Karena ingin menyemarakkan Kontes BlogCamp itulah, maka pada 30 Mei 2013 yang lalu, saya melamar Mbak Imelda untuk menjadi partner kontes. Senangnya hati ini ketika pemilik blog Twilight Express tersebut bersedia menerima lamaran saya.

Kontesnya Pakde bukan hanya membuat saya bergairah menelusuri kembali tulisan-tulisan Mbak Imelda di Twilight Express. Lebih dari itu, saya jadi keranjingan membaca artikel-artikel lain yang berhubungan dengan sebuah negeri bernama Jepang.

Suatu hari, iseng-iseng saya mengadakan survey kecil-kecilan. Ya, namanya juga iseng. Maka saya meminta bantuan orang-orang di sekitar saya untuk mensukseskan survey tersebut. Berikut adalah pertanyaan yang saya lemparkan dalam survey kecil-kecilan ala acacicu.

Apa yang ada dalam pikiran Anda ketika saya bertanya tentang Jepang?

Dan saya mendapatkan jawaban yang beraneka ragam. Dari kesemuanya, berikut adalah jawaban yang menurut saya masuk kolom tiga besar. Gempa, Sakura, dan Maria Ozawa alias Miyabi, haha..

Kalau pertanyaan itu saya kembalikan ke diri sendiri, tentang apa yang ada di pikiran saya saat mendengar negeri Jepang disebut, maka akan tergambar di otak saya sebuah sandal dengan merk Lily.


Lily - Japan Benher | Foto dari sini

Benar jika ada yang berkata bahwa sandal merk Lily adalah sandal lokal yang terlupakan. Inilah sandal yang digemari oleh orang-orang di medio 1980-an. Kalau boleh saya bilang, ini adalah sandal kelas rakyat. Biasa digunakan oleh warga desa, kuli bangunan, dan tipikal masyarakat arus bawah lainnya. Ohya, hampir lupa. Bapak dan Almarhum Kakek saya juga suka sandal Lily.

Ingat Jepang ingat sandal Lily. Soalnya, di sandal tersebut (bagian tungkak) ada tertulis merk sandal (Lily), nomor sandal, dan cap JAPAN BENHER. Seperti yang tertera pada gambar berikut ini.


Sandal Lily bagian tungkak - Gambar dari sumber yang sama

Bagaimana dengan sahabat blogger? Jika mendengar nama Jepang, apa yang ada di benak anda? Mari kita saling berbagi cerita. Terima kasih dan salam.

10.6.13

Tamasya ke Pasar Tanjung

10.6.13
Ini tentang kisah semalam, ketika warga panaongan rame-rame bertamasya tanpa rencana alias jalan-jalan kemana saja sekehendak hati. Saya senang menyebut 'jalan-jalan tanpa rencana' ini dengan istilah aglejer. Orang Jepang biasa menyebutnya dengan nariyuki.

Sesuai dengan judul di atas, akhirnya kami sepakat untuk Tamasya ke Pasar Tanjung, sebuah Pasar Tradisional yang ada di pusat Kota Jember. Bagaimana ceritanya sehingga saya dan kawan-kawan terdampar di Pasar Tanjung?

Jadi ceritanya, seorang blogger Jember bernama Vj Lie baru turun dari Gunung Semeru. Dia membawa serta seorang kawan dari Tasikmalaya, namanya Ridak. Karena dia tidak punya waktu yang banyak di Jember, jadilah kami berinisiatif untuk jalan-jalan. Kemana? "Mbuh wes, sing penting mlaku-mlaku."

Ridak yang sebelah kiri sendiri, berjaket biru | Foto oleh Vj Lie

Sebenarnya lokasi foto di atas adalah los khusus pejalan kaki. Kalau siang hari digunakan untuk pedagang arloji dan jual beli emas. Malam harinya, untuk lokasi tidur dan ada juga beberapa pedagang kuliner. Salah satu kuliner malam yang cukup dikenal oleh warga Jember adalah Bakso Setan. Hanya buka setiap pukul satu dini hari dan tutup saat subuh. Lapaknya persis di sebelah kanan foto ini (di belakang Prit). Sayang, waktu kami kesana, belum pukul satu dini hari.

POSYANDU

Mulanya Ridak memperlihatkan wajah bingung saat dia mendapati sebuah papan bertuliskan Posyandu. Mungkin dia berpikir, di dalam pasar kok ada Posyandunya ya? Namun akhirnya Ridak mengulum senyum manakala mendapati keterangan di bawah tulisan Posyandu. Pos Pelayanan Dagadu, hehe..

Ada 'daging babi' lepas dari kandangnya, haha...

Ada ahli gigi di Pasar Tanjung. Tersedia untuk Lokal, Interlokal, SLJJ dan SLI

Untuk memanfaatkan kotak telepon ini, kita harus membawa hape sendiri.

Awalnya Ridak melongo melihat cara kami bercanda. Terkesan alay, atau lebay, atau entah apa istilahnya. Ya, mau bagaimana lagi, pasaran it's my style, hehe.. Syukurlah, akhirnya Ridak mengerti bahwa kami hanyalah manusia normal yang senang menikmati hidup. Yuk nyruput ronde dulu..

Lapak Pak Sukari

Sekali waktu, saya bercerita tentang Pasar Tanjung. Dulunya, pasar ini hanya dikenal dengan nama Pasar saja, atau Pasar Jember. Sudah ada Water Tower peninggalan Belanda.

Pasar Tanjung berlatar belakang Water Tower

Sebelum dikenal sebagai Pasar Tanjung, Pasar Jember bentuknya hanya los-los sederhana. Lalu, di jaman kepemimpinan Bupati Abdul Hadi, didirikanlah bangunan yang sekarang dikenal dengan nama Pasar Tanjung. Proses pengerjaannya selesai tahun 1976, untuk kemudian segera beroperasi di tahun yang sama.

Memang, di medio 1970-an, kegiatan ekonomi di Jember mengalami perkembangan yang pesat. Di sinilah para petani, peternak, dan lain-lain, menjual hasil kerjanya.

Di Pasar Tanjung lantai dua

Bersama kawan pencinta alam yang berdagang di Pasar Tanjung

Tomat besar dan apikecil

Sama seperti Pasar Tradisional pada umumnya, di Pasar tanjung juga ada kita jumpai sudut-sudut yang kotor, becek, dan tidak sedap. Sangat jauh berbeda dengan Pasar Modern (swalayan) yang bersih, harum, ber-AC, dan lantainya mengkilat. Tapi keduanya memiliki daya tarik sendiri-sendiri. Orang cerdas akan berbelanja sesuai dengan kebutuhan, dan tidak diperbudak daya tarik.

Jadi ingat kisah tentang Pasar Tradisional di Jepang yang dibalut dengan sentuhan swalayan. Maksudnya begini. Para petani yang ada sisa hasil kebun (berlebih), mereka akan membuka lapak sendiri. Hasil kebun yang dijual akan ditata di lapak tersebut, kemudian masing-masing diberi label harga. Disediakan juga kaleng tempat menaruh uang. Diharapkan para pembeli akan menaruh sendiri uangnya di kaleng tersebut, karena lapak tersebut tidak dijaga.

Wew, essip tenan reeek! Apakah hal tersebut bisa diterapkan di Indonesia? Tentu saja. Caranya, masyarakat harus dipersenjatai dengan pendidikan yang sebaik-baiknya, didekatkan dengan sejarah dan budayanya, juga digairahkan semangat membacanya.

Sudah panjang ternyata. Jarang-jarang saya posting sambil menebar foto, hehe. Ya sudah, sebagai penutup, akan saya tampilkan foto yang semalam nangkring di twitter. Terima kasih.

Kapan terakhir kali Anda ke Pasar Tradisional?

Sedikit Tambahan

Dokumentasi oleh Vj Lie, beberap dijepret oleh Donny Dellyar. Mereka adalah duo Blogger Jember yang aktif menemani kawan-kawan muda usia SMA-SMK di Komunitas Panaongan Gambar-Gerak.

9.6.13

4qu Cint4 Bah454 1ND0N35I4

9.6.13
Seniman Kaligrafi Jepang | Foto dari google

Perkenalan saya dengan Bahasa Jepang adalah ketika menelusuri sejarah masa pendek kedudukan Jepang di Indonesia. Dikatakan dalam banyak data, bahwa Bapak Letnan Kolonel Moch. Sroedji memulai karir militernya di Jember pada akhir tahun 1943, dengan pangkat komandan kompi alias shodancho (di PETA Besuki).

Oleh Mbak Irma Devita (cucu Bapak Sroedji yang pernah tinggal di Jepang), tulisan tersebut mendapat koreksi. Ternyata yang benar adalah Chuudanchoo, bukan shodancho. Chuu artinya menengah, sedangkan Danchoo memiliki arti pimpinan atau perwira.

Sederhana, namun istimewa buat saya. Gara-gara satu kata, saya memulai menelusuri kata Chuudanchoo, baik di buku-buku sejarah, maupun di dunia maya. Hasilnya? Nihil. Tak ada sejarawan yang menggunakan kata Chuudanchoo untuk menyebut sisi kepangkatan di jaman Jepang.

Apakah kata Chuudanchoo sudah diserap dalam Bahasa Indonesia?

Lalu saya teringat masa kuliah, dimana waktu itu Pak Dosen (saya lupa namanya) mengajarkan tentang kata-kata dari Bahasa Arab yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Penulisan do'a dengan tanda kutip, setelah diserap ke dalam Bahasa Indonesia, maka tanda kutip tersebut dihilangkan, menjadi doa. Begitu juga dengan ma'af, dan lain-lain.

Begitu juga kata serapan dari Bahasa Belanda. Ventiel menjadi pentil, fluit menjadi peluit, actie menjadi aksi, minderwaardig menjadi minder, straf menjadi setrap (hukuman), divan menjadi dipan, slof menjadi selop, koelie menjadi kuli, goot menjadi got, servet menjadi serbet, dan entah apalagi.

Tiba-tiba saja saya memikirkan isi Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) poin tiga. "Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia."

Di sisi sebelah mana kita menjunjung bahasa persatuan? Bahkan kita lebih senang menyebutkan Endonesia daripada Indonesia. Bahkan saya lebih sreg menyebut Njember daripada Jember.

Di sisi lain, ketika saya menonton film berjudul Mongol, di sana ada kataa-kata yang kurang lebihnya seperti ini, "Nak, kamu harus bangga dengan Bahasamu. Kelak, orang-orang di dunia akan mempelajari bahasa kita oleh sebab keindahannya. Coba kamu sebutkan kata 'daging.' Bagaimana, indah dan mantab di lidah bukan?"

Ohya ding, saya sedang ngomongin Bahasa Jepang. Lupa, hehe.. Sampai nyasar ke Arab, Belanda, dan Mongol.

Jadi, gara-gara Chuudanchoo, saya tertarik untuk sepintas mengerti Bahasa Jepang. Setelah berlelah-lelah melakukan pencarian, eh kembalinya tetap ke tulisan Mbak Imelda juga.

Ketika kita berkunjung ke blog Twilight Express, coba anda klik kolom CULTURE. Di sana ada beberapa pilihan. Nah, pilihlah Language. Maka kita akan tahu bahwa Jepang memiliki ciri Momotaro. Maksudnya, setiap kita membaca buku, membukanya dari kiri ke kanan, berkebalikan dengan kita yang terbiasa membuka lembar-lembar buku ke kiri. Hmmm, pencinta komik Jepang pasti mengerti ini. Satu lagi, huruf-huruf Jepang itu ditulis dari atas ke bawah, dan dari kiri ke kanan.

Hampir sama dengan ketika saya membuka Al Quran, dari kiri ke kanan. Bedanya, tulisan Jepang vertikal sedang tulisan Arab horizontal.

Jepang hebat ya. Mereka bangga dengan huruf dan bahasanya, tidak peduli bagaimana cara dunia internasional membuka buku, mereka tetap menjadi dirinya sendiri.

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang membuat saya bangga. Ternyata Mbak Imelda sudah bertahun-tahun mengajar Bahasa Indonesia di Jepang. Di artikelnya tanggal 5 Maret 2011 saja, dia sudah terhitung 17 tahun mengajar Bahasa Indonesia.

Keren sekali dirimu Mbak. Tidak sengaja, saya menemukan kesadaran akan pentingnya Cinta Bahasa di Twilight Express.

Arigatou..

6.6.13

Sebab Mereka Senang Membaca

6.6.13
Cara mudah dan murah mempelajari negeri orang adalah dengan mengikuti catatan milik blogger Indonesia yang tinggal di sana. Setidaknya, itu yang terjadi pada saya. Terus terang, saya lebih mudah mempelajari budaya Jepang dari tulisan Mbak Imelda ketimbang harus berlelah-lelah membaca buku panduan dengan gaya bahasa yang kaku.

Ketika Mbak Imelda bertutur tentang Perayaan Seijinshiki, mulanya saya mengerutkan dahi. Tapi toh akhirnya saya mengerti. Oh, ternyata Seijinshiki itu adalah perayaan spesial untuk para pemuda jika mereka sudah berusia 20 tahun, dan ini dirayakan bersamaan setiap tahun pada minggu kedua bulan Januari. Jadi, jika anda adalah warga Jepang dan belum berusia 20 tahun, maka anda belum bisa dikatakan dewasa. Itu menyebabkan anda tidak boleh merokok dan minum alkohol.

Perayaan untuk anak perempuan juga ada, namanya Hina Matsuri. Perayaan ini berakar dari Cina Kuno. Dirayakan setiap 3 Maret, bersamaan dengan hari TELINGA. Penasaran? Silahkan berkunjung ke sini.

Di Jepang juga ada hari khusus untuk kucing lho. Itu dirayakan setiap 22 Februari, sejak 1987. Tanggal 22 Februari, kalau ditulis dengan angka akan menjadi 222, dan kalau dibaca menjadi nya-nya-nya (atau seharusnya ni-ni-ni). Dan nya-nya-nya ini adalah onomatope dari suara kucing, yang kalau di Bahasa Indonesia-kan mungkin menjadi meong-meong.

Anda tahu apa itu Haru ichiban? Saya juga mulanya tidak tahu, hehe. Itu adalah hari pertama musim semi.

Masih banyak lagi hari-hari di Jepang. Hari Daging, Hari Bawang Putih, dan lain-lain. Jika masih penasaran dengan hari-hari di Jepang, berkunjung aja ke blognya Mbak Imelda, dan cari artikel yang judulnya dimulai dengan, Hari Ini Hari Apa.

Di kesempatan yang lain, Mbak Imelda bercerita tentang sebuah puisi karya Kaneko Misuzu. Judulnya adalah Aku, burung kecil dan lonceng. Kabarnya, puisi ini dipakai untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang pluralism. Wah, keren.

Kadang, Mbak Imelda hanya menceritakan seputar lagu-lagu, atau film, atau keseharian. Dari Mbak Imelda saya jadi tahu bahwa di sana ada group band bernama ZARD, dengan vokalisnya Izumi Sakai, yang meninggal pada 10 Februari 2008 (Mbak Imelda meluniskannya 3 hari kemudian, 13 Februari 2008).

Mengenai film, ada kisah tentang Hoshi ni natta shonen (Shining Boy & Little Randy). Bukan sinopsis filmnya yang saya sukai, tapi cara Mbak Imelda menutup artikelnya dengan sangat sederhana. Coba perhatikan kalimat di bawah ini:

“Gajah dapat saling berkomunikasi dalam kelompoknya, melebih manusia yang kadang kala sulit untuk menyampaikan pikiran kepada orang tua, atau orang lain. Saya banyak belajar dari gajah untuk dapat berkomunikasi.”

Dari tulisan Mbak Imelda yang berjudul, Bila superwoman bingung, saya jadi semakin mengerti tentang semangat 'swalayan' warga Jepang. Tertulis di sana bahwa untuk keluarga Jepang umumnya, selain tidak ada pembantu, juga tidak ada supir yang bisa antar-jemput anaknya. Keren!

Warga Jepang sangat menjunjung tinggi budaya literasi, itu yang membuat mereka tampak berbeda. Tak heran jika banyak sekali orang Jepang yang jauh lebih tahu dan ahli tentang budaya Indonesia secara ilmiah, dan secara kebiasaan, dibanding dengan warga Indonesia sendiri. Why? Sebab mereka senang membaca.

Tok tok toook..

Hmmm, ada teman ngajak ngopi. Sudah dulu ya sahabat blogger. Kita sambung cerita tentang Jepang di lain waktu. Dan masih di gelombang yang sama, di blog milik Mbak Imelda Coutrier Dotkom, hehe.

Merdeka!

5.6.13

Kekasihku Sejarawan

5.6.13
Aku memang belum pernah bersafari sejarah ke Prasasti Talang Tuwo, Palembang. Yang kuingat dari prasasti ini hanyalah angka tahunnya, 23 Maret 684 Masehi atau 606 saka. Mudah mengingatnya, sebab kau juga terlahir di 23 Maret. Kau bilang, prasasti ini berasal dari India Selatan dan Tibet, di masa Kerajaan Sriwijaya.

Ketika kau mulai bicara tentang paham Bhirawa, aku pura-pura bertanya, "Apa itu?" Kau tersenyum, manis sekali. Lalu kau menjawabnya. "Bhirawa itu muncul dari Tantrisme. Bhirawa bisa diartikan sebagai paham kesaktian. Siapapun di masa itu yang ingin sakti mandraguna, harus meleburkan dirinya dengan paham ini. Maka tak heran jika raja-raja masa lampau hingga era Majapahit banyak yang mempelajari paham Bhirawa." Entahlah, aku masih belum mengerti apa itu Bhirawa. Saat itu aku lebih senang menatap cara kau berbicara daripada harus berpusing-pusing ria menelaah apa yang kau bicarakan.

Orang bilang, memiliki kekasih seorang sejarawan itu menyebalkan. Ya, aku rasa ada benarnya juga. Bersamamu, tema pembicaraan selalu kembali ke kalimat, "Itu sejarahnya begini, ini sejarahnya begitu." Tapi jika ditanya, sejak kapan kau mencintaiku, pastilah kau akan mengangkat kedua bahumu. Huh, menyebalkan!

Kini, saat kau ada di Surabaya, tiba-tiba aku merindukanmu. Rindu menatap caramu menyampaikan sesuatu. Tiba-tiba aku menolak pemikiran bahwa memiliki kekasih seorang sejarawan itu menyebalkan. Biarlah, meski aku belum mengerti benar akan apa itu Bhirawa. Yang aku tahu, hanya engkau yang pantas menjadi Kapten Bhirawa di hatiku. Sayang, aku menanti Surat Cinta darimu.
Cerita ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest: Senandung Cinta

4.6.13

Tamasya Menyemai Cinta

4.6.13
Ketika para petani sedang menyemai bibit padi, mereka akan melakukannya dengan langkah mundur. Sebuah metode yang unik, berjalan ke belakang bukan berarti kolot dan lari dari kenyataan. Lebih dari itu, mereka sedang berusaha untuk meraih yang terbaik.

Hidup juga seperti itu. Agar bisa menikmati hari ini dan merencanakan masa depan, kita harus melakukannya dengan langkah mundur. Kembali ke sejarah, tentang langkah-langkah kecil yang telah kita lewati. Mustahil kita menjadi dewasa jika tidak pernah melewati tahap masa kecil.

Tulisan ini juga dimulai dengan langkah mundur. Dimulai pada 31 Mei 2013. Saat itu, saya, Prit, Mungki, Donny, dan Faisal, berjalan-jalan menikmati sore di deretan toko dan gang-gang kampung, di pusat kota kecil Jember.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir dulu di Toko Jimmy Sport (JL. Sultan Agung 160 - telp. 85857), lokasinya tak jauh dari jembatan penyeberangan Jompo. Di toko inilah Mas Mungki membeli gitar kecil untuk Ken, buah hatinya.

Mas Mungki membeli gitar kecil untuk putranya

Tampak dalam foto, wajah Mas Mungki begitu sumringah, sebab dia telah menemukan gitar kecil yang cocok untuk Kenzie. Wajah cerianya begitu cepat menular. Menatapnya, kami juga ikut-ikutan bahagia. Dalam hati saya berkata, "Sahabatku sedang menyemai cinta."

Saya berhasil menutup kisah bulan Mei dengan indah. Apakah perasaan serupa juga terulang di awal bulan Juni? Tentu saja. Hidup hanya sekali, ada baiknya jika kita imbangi dengan menyemai cinta sebanyak-banyaknya.

1 Juni 2013

Bahagianya bisa menemani kawan-kawan AKBER Jember bersafari sejarah. Itulah sebabnya, saya menulis sebuah artikel berjudul Kelas Pendek Akademi Berbagi Jember. Bersama mereka, saya merasa tidak sendirian dalam (belajar) merawat dan memperlakukan masa lalu.

Pak To berdiri di luar pagar situs Watu Macan - Jember

Pak To adalah warga lokal yang tinggal tak jauh dari situs Watu Macan, yang lokasinya ada di pelataran Kantor PUSLIT Kopi dan Kakao Jember. Menurut teori (setidaknya teori yang dianut oleh dunia akademis), Pak To tidak bisa dikatakan sebagai narasumber yang komprehensif atau bisa dipercaya. Namun siapa sangka, kami mendapatkan banyak kisah masa lalu dari beliau. Yang kami butuhkan hanyalah mengkritisi kembali data yang telah kami dapat, dan menuliskannya secara historiografi sederhana. Terima kasih Pak To, bagi saya anda adalah profesor yang senang menyemai cinta.

2 Juni 2013 - Soft Launching album empat Tamasya Band

Hari sudah menjelang maghrib saat tadi kami keluar dari studio. Ternyata diluar hujan, deras sekali. Alhamdulillaaah, seger. Saya, Prit, Bebeh, dan Yongki memilih untuk menerobos hujan, sebab ada sesuatu yang harus dikerjakan.

Syukurlah, sekarang sudah mulai reda. Saya dan kawan-kawan bersiap hendak meluncur ke SOKA Radio. Ya benar, akan ada soft launching album (Save The Tree #4) tamasya band, sedari pukul 20.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Diformat dengan sederhana; live musik, ngobrol-ngobrol, dan berbagi lagu pada siapa saja yang mau menerima dan mendengar karya kami.

Sesampainya di SOKA Radio.. Ada sesuatu hal diluar prediksi kami. SOKA sedang tidak bisa mengudara oleh sebab tower induknya rusak. Ketika satu persatu keluarga tamasya hadir di lokasi, kawan-kawan berinisiatif untuk tetap tampil, dalam keterbatasan, dan bagaimanapun hasilnya. Disela-sela setting panggung darurat tersebut, saya sempatkan untuk update status di jejaring sosial facebook.

"Mohon maaf dulur, tower induknya SOKA (yang ada di Rembangan) rusak. Jadi jika diakses di radio, hanya menghasilkan bunyi "Zzzzzt.." Namun begitu, kami akan tetap bernyanyi dan berbagi lagu. Off air. Terima kasih buat sedulur - keluarga tamasya yang support, mari kita nikmati keterbatasan yang indah ini. Salam!"


Soft Launching Tamasya

Akhirnya kami berdendang di ruang tengah SOKA radio yang tidak luas. Acara yang kecil, sederhana, namun begitu menyenangkan. Ketika sampai di jeda lagu, kami memanfaatkannya sebaik mungkin. Berbagi kisah tentang apa saja, mulai dari Gumuk atau bukit kecil, hingga masa depan Jember jika direvolusi dari Agraris menjadi industri (dan pertambangan).

Mas Giri berbagi kisah seputar Gumuk di Jember

Tampak dalam foto di atas (hasil jepretan Mas Donny Dellyar), Mas Giri sedang berbagi cerita seputar bukit kecil bernama Gumuk, yang manfaatnya pada lingkungan begitu dahsyat. Setelah Mas Giri, ada Cak Oyong yang juga berbagi cerita. Dia berkisah tentang proses Sekolah bermain, sengaja didirikan di areal Gumuk Kerang - Jember. Hmmm, mereka orang-orang hebat yang inspiratif, yang tak pernah bosan menyemai cinta.

Kebersamaan membuat kami bahagia. Ibaratnya sapu lidi yang masing-masing lidinya saling berpelukan, seperti itulah suasana soft launching album empat tamasya yang bertajuk Save The Tree 4 - Tamasya band. Teristimewa buat Bunda Lahfy dan sahabat blogger yang lain, bisa mendengar dan mengunduh lagunya di SINI.

Tamasya Menyemai Cinta

Ketika melihat Mas Mungki membeli gitar untuk buah hatinya, ketika mendapati Pak To tulus berbagi kisah pada kawan-kawan Akademi Berbagi Jember, ketika mendengarkan tutur kata dari Mas Giri dan Cak Oyong, ketika kami bernyanyi di ruang sempit namun disupport oleh kawan-kawan, saya jadi terinspirasi untuk menjalani hidup seperti mereka. Tulus. Ya, hanya dengan satu kata itu saja. Betapa bahagianya jika kita bisa menjalani hari-hari dengan tulus, setulus warga di sekitar rumah saya manakala mereka mengantarkan botol kosong.

Tamasya bersama botol kosong

Sedikit Tambahan

Biji-biji ketulusan merekalah yang saya pulung dan kumpulkan, untuk kemudian saya adopsi di perjalanan rumah tangga. Berharap bisa menyemainya, untuk kemudian akan kami tanam dimanapun kami ingin menanamnya. Alangkah indahnya jika satu diantaranya akan mengembang dan menjadikannya sedekah jariyah yang tak berhenti mengalir. Amin Ya Robbal Alamin.

Bagaimanapun, saya dan Prit terbilang pasangan baru. Adalah tugas kami untuk banyak-banyak belajar dari orang-orang sekitar, dan dari para sahabat blogger.

Sudah dulu ya, saya dan Prit mau nonton film dulu. Semoga kita tidak lupa bahwa nonton film berdua, jalan-jalan menikmati kerlip lampu, dan atau hanya berbincang berdua saja, itu adalah cara murah lagi sederhana untuk tamasya menyemai cinta.

Salam sayang dari saya..

Menyemai Cinta

1.6.13

Kelas Pendek Akademi Berbagi Jember

1.6.13
Terus terang saja, pemahaman saya terhadap gerakan 'Akademi Berbagi' sangatlah terbatas. Yang saya tahu, ide Akademi Berbagi muncul dari Mbak Ainun Chomsun (inisiator Akademi Berbagi). Itu juga saya tahunya lewat mesin pencari.

Ketika harus menyimpulkan apa dan bagaimana Akademi Berbagi, maka saya akan menjawab seperti ini. Bahwa Akademi Berbagi adalah sebuah gerakan berbagi ilmu cuma-cuma kepada siapa saja yang mau belajar. Dimulai dari gerakan kecil, untuk kemudian menjadi sebesar sekarang. Mirip menggelindingnya bola salju dari atas bukit. Semakin menggelinding ke bawah, maka semakin menginspirasilah ia.

1370094248382525586
Perkenalan Pertama di Jejaring Sosial

Perkenalan pertama saya dengan kegiatan Akademi Berbagi, teristimewa untuk wilayah Jember, terbilang sangat telat. Ketika itu, Akber Jember (bekerja sama dengan LPM Prima FISIP UJ) sedang mengadakan Talk Show bertajuk Citizen Jurnalizm, pada 9 Februari 2013, bertempat di Gedung Soetardjo Universitas Jember. Kebetulan, saya dipercaya menjadi pemateri.

Berikutnya, pada 25 Mei 2013 yang lalu, lagi-lagi Akber Jember mempercaya saya untuk menjadi sahabat ngobrol di program kelas pendeknya. Kali ini mengusung tema, Menulis Sejarah Kota. Acara sore hari itu (bertempat di Kedai Gubug Jember) memang sempat molor karena hujan deras. Namun begitu, toh terlaksana juga. Salut dengan semangat para sahabat Akber Jember.

Kelas pendek yang mengangkat tema Menulis Sejarah Kota tersebut tidak berhenti sampai di sana. Setelah acara usai, disepakati akan ada acara 'kelas praktek' mengusung tema yang sama, namun dengan konsep yang berbeda. Jadi konsepnya, jalan-jalan sambil belajar mencari dan mengumpulkan data, hunting sejarah, dan membahas sejarah dari sisi yang menyenangkan. Kawan-kawan menamainya Safari Sejarah. Berikut adalah beberapa dokumentasi Safari Sejarah, 1 Juni 2013.

Lokasi situs Watu Macan ada di sebelah kanan Papan. Di papan PUSLIT Kopi dan Kakao tersebut ada tertulis kalimat, Berkarya Untuk Indonesia sejak tahun 1911

Bentuk WATU MACAN dari dekat

Pak To, warga sekitar PUSLIT KOPI dan KAKAO Jember. Menurut Pak To, dulu watu macan ada di luar pagar PUSLIT. Namun setelah ada pemugaran, posisinya menjadi seperti sekarang ini. "Orang-orang menjadi malu untuk menaruh sesajen di sini lagi," kata Pak To.

Kabar DO

Alhamdulillah, proyek buku warung blogger sudah separuh jalan. Saya selaku Desk Officer Olahraga dan Petualangan mengucapkan terima kasih untuk empat sahabat blogger yang mengirimkan artikelnya.

Berikut adalah keempat blogger yang mengirimkan artikelnya:

1. Mas Said Ali, dengan sebuah artikel berjudul; Bersepeda
2. Mbak Nieke Essy, dengan sebuah artikel berjudul; Berlari saat Malam Hari? Why Not..?
3. Poetri Maharani SD, dengan sebuah artikel berjudul; Antara Fisik Juga Mendaki
4. Widodo van Sodhunk, dengan sebuah artikel berjudul; Petualangan Sehari di Krenceng.

Sekali lagi terimakasih. Untuk selanjutnya, redaksional tulisan akan memasuki tahap edit. Setelah itu, akan saya kirimkan ke Koordinator Desk Officer.

Mengenai tahap proyek buku webe selanjutnya, kurang lebihnya akan berjalan seperti gambar tabel berikut ini (poin 4, 5, 6, dan bersifat fleksibel).

Gambar dari sini

Sementara itu dulu informasi dari saya, terima kasih.
acacicu © 2014