1.6.13

Kelas Pendek Akademi Berbagi Jember

1.6.13
Terus terang saja, pemahaman saya terhadap gerakan 'Akademi Berbagi' sangatlah terbatas. Yang saya tahu, ide Akademi Berbagi muncul dari Mbak Ainun Chomsun (inisiator Akademi Berbagi). Itu juga saya tahunya lewat mesin pencari.

Ketika harus menyimpulkan apa dan bagaimana Akademi Berbagi, maka saya akan menjawab seperti ini. Bahwa Akademi Berbagi adalah sebuah gerakan berbagi ilmu cuma-cuma kepada siapa saja yang mau belajar. Dimulai dari gerakan kecil, untuk kemudian menjadi sebesar sekarang. Mirip menggelindingnya bola salju dari atas bukit. Semakin menggelinding ke bawah, maka semakin menginspirasilah ia.

1370094248382525586
Perkenalan Pertama di Jejaring Sosial

Perkenalan pertama saya dengan kegiatan Akademi Berbagi, teristimewa untuk wilayah Jember, terbilang sangat telat. Ketika itu, Akber Jember (bekerja sama dengan LPM Prima FISIP UJ) sedang mengadakan Talk Show bertajuk Citizen Jurnalizm, pada 9 Februari 2013, bertempat di Gedung Soetardjo Universitas Jember. Kebetulan, saya dipercaya menjadi pemateri.

Berikutnya, pada 25 Mei 2013 yang lalu, lagi-lagi Akber Jember mempercaya saya untuk menjadi sahabat ngobrol di program kelas pendeknya. Kali ini mengusung tema, Menulis Sejarah Kota. Acara sore hari itu (bertempat di Kedai Gubug Jember) memang sempat molor karena hujan deras. Namun begitu, toh terlaksana juga. Salut dengan semangat para sahabat Akber Jember.

Kelas pendek yang mengangkat tema Menulis Sejarah Kota tersebut tidak berhenti sampai di sana. Setelah acara usai, disepakati akan ada acara 'kelas praktek' mengusung tema yang sama, namun dengan konsep yang berbeda. Jadi konsepnya, jalan-jalan sambil belajar mencari dan mengumpulkan data, hunting sejarah, dan membahas sejarah dari sisi yang menyenangkan. Kawan-kawan menamainya Safari Sejarah. Berikut adalah beberapa dokumentasi Safari Sejarah, 1 Juni 2013.

Lokasi situs Watu Macan ada di sebelah kanan Papan. Di papan PUSLIT Kopi dan Kakao tersebut ada tertulis kalimat, Berkarya Untuk Indonesia sejak tahun 1911

Bentuk WATU MACAN dari dekat

Pak To, warga sekitar PUSLIT KOPI dan KAKAO Jember. Menurut Pak To, dulu watu macan ada di luar pagar PUSLIT. Namun setelah ada pemugaran, posisinya menjadi seperti sekarang ini. "Orang-orang menjadi malu untuk menaruh sesajen di sini lagi," kata Pak To.

Tadinya letak situs watu macan ini ada di luar pagar PUSLIT Kopi dan Kakao. Setelah ada pembenahan, akhirnya situs tersebut berada di dalam pagar. Sejak itu, orang-orang yang biasa memberi 'sesajen' di sini menjadi semakin berkurang. Setidaknya, itu yang disampaikan oleh Pak To dan Pak Anang (Petugas Keamanan PUSLIT Kopi dan Kakao).

Ini adalah titik safari yang lain, yaitu puteran spoor. Biasa digunakan untuk memutar arah lokomotif kereta api dengan menggunakan tenaga manusia

Sahad Bayu, Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk wilayah Jember, terlihat sedang bercakap-cakap dengan keluarga Pak Parman, pensiunan PJKA yang rumahnya berdempetan dengan puteran spoor. Ini memang bagian dari Safari Sejarah, menampilkan reportase dari sisi yang alami.

Santai dulu, hunting, ngobrol-ngobrol hasil perburuan data, kemudian kelas praktek selesai.

Keterangan foto: Dijepret dengan menggunakan kamera hape 2.0 Mega Pixel, pada 1 Januari 2013 di acara kelas praktek Akademi Berbagi Jember.

Kiranya tidak salah jika banyak orang yang beranggapan bahwa materi kesejarahan adalah bab yang menyebalkan. Itulah kenapa banyak siswa yang cenderung membenci mata pelajaran sejarah. Maka dari itu, sudah waktunya untuk mendekati sejarah dari sisi yang menyenangkan.

Bagaimanapun, kita butuh sadar sejarah. Sebab mustahil kita mencintai negeri ini jika sama sekali tak mengerti sejarahnya.

Di kelas praktek Akademi Berbagi kali ini, saya coba menawarkan antara reportase, sejarah lisan, hunting fotografi (dengan segala media), mengkritisi sendiri data yang berhasil dikumpulkan (juga dengan cara yang sederhana, tak harus terpatok pada narasumber yang komprehensif, asal mengerti caranya dulu), untuk kemudian meramu proses penulisan (historiografi) dengan essai. Harapan saya, meskipun hasil tulisan berbentuk essai, tapi dilalui dengan proses penggalian data.

Jika kita sudah bisa meramu ketiganya, esai, reportase, dan sejarah lisan, maka saya yakin dunia sejarah tak lagi terlihat menyebalkan. Terlebih, setiap orang akan bisa mandiri menjadi sejarawan, setidaknya untuk menuliskan sejarah diri dan sejarah sekitar rumahnya sendiri.

Sekian dan terima kasih!

26 komentar:

  1. Puteran sepur itu disebelah mana Mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa lewat gang Jalan Nusa Indah I atau Nusa Indah III, atau lewat Jalan Mawar dekat Pabrik Es (dulu pabrik es, sekarang berganti ruko).

      Hapus
  2. Mah itu dia sam.. sejarah kadang diajarkan dengan suasana agak membosankan. Cuma diceritani tapi ora didolani..

    Itu terbukti saat aku dulu benci pelajaran sejarah soal purbakala, nah saat di Sangiran kemarin baru mulai suka, soale bisa melihat langsung bukti sejarah, meski hanya sebatas tulang..

    Piye? katanya mau dolan di kuburan kuno etan omah sam?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika benar sejarah adalah mimpi buruk, maka langkah terbaik adalah bersegera terbangun. Maringono nyruput kopi sam :)

      Iyo sam, sik ada beberapa hal sing kudu tak kerjakan. Santai ae, Insya Allah ke kuburan kuno etan omahmu.

      Hapus
  3. Inilah yang disebut berjalan untuk memberi arti saling berkait satu sama lain apa yang kita lihat dan terekam dapat terurai dengan penyajian yang menarik maka semuanya akan menghasilkan yang bersinerji dalam membangun kecintaan dalam nasionalisme bangsa. (sok tahu aku ya Kang) he,,,,x9

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... komentar Mas Indra selalu mantab, saya suka!

      Hapus
  4. " Sejarah " banyak pelajaran yang tersimpan di dalamnya.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa lalu adalah modal untuk menikmati hari ini, dan hari-hari kedepan :)

      Hapus
  5. yuk masbro Aim yang jagonya sejarah buat sejarah menyenangkan yuk

    Salam Sejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. saya ketularan Tante Monda yang suka menulis situs-situs bersejarah. Makasih inspirasinya ya Tante

      Hapus
  6. baru tau kalau ada gerakan "Akademi Berbagi".
    kira-kira di kotaku samarinda ada gak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah ada. Coba sampeyan hubungi Kaka Akin :)

      Hapus
  7. berbagi yang indah...
    banyak sejarah disekitar kita yang kita sendiri belum menyadarinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mas Yadi.

      Hapus
  8. sangat inspiratif mas,saya copy ide2 kecil berbaginya...mungkin berbagi itu bisa dimulai dengan hal yang kecil,kelompok yang kecil..bermanfaat mas :D
    jempollll ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu juga bukan ide saya Mbak, hehe.. Silahkan di-share idenya.. Terima kasih ya Mbak Hanna HM Zwan.

      Hapus
  9. Terkadang teori saja kurang cukup memuaskan hati sebelum melihat langsung praktik dan bentuknya.

    Saya terkadang lebih suka praktik langsung dari pada harus berangan membayangkannya saja.

    Terimakasih mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika keduanya digabungkan, praktek dan teori, dan diramu dengan semenyenangkan mungkin, sepertinya asyik juga le.

      Hapus
  10. nah kalau begiti membuat belajar tidak bosan dan ngantuk mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, pelajaran sejarah memang bikin ngantuk ya. Dulu saya juga gitu, wkwkwk...

      Hapus
  11. Metoda pengajaran yang dinamis. Akademi Berbagi semakin inovatif dan besar kontribusinya terhadap masyarakat. Keren !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya :)

      Hapus
  12. Andai Akademi berbagi ini juga ada di Jepara. Alangkah senangnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya bisa menebak, Mbak Susindra pastilah akan berbagi ilmu seputar Bahasa Perancis, metode nge-blog, dll

      Hapus
  13. dan sejarah tidak melulu harus menampilkan dan menghafal tahun ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mbak Imelda..

      Hapus

acacicu © 2014