9.6.13

4qu Cint4 Bah454 1ND0N35I4

9.6.13
Seniman Kaligrafi Jepang | Foto dari google

Perkenalan saya dengan Bahasa Jepang adalah ketika menelusuri sejarah masa pendek kedudukan Jepang di Indonesia. Dikatakan dalam banyak data, bahwa Bapak Letnan Kolonel Moch. Sroedji memulai karir militernya di Jember pada akhir tahun 1943, dengan pangkat komandan kompi alias shodancho (di PETA Besuki).

Oleh Mbak Irma Devita (cucu Bapak Sroedji yang pernah tinggal di Jepang), tulisan tersebut mendapat koreksi. Ternyata yang benar adalah Chuudanchoo, bukan shodancho. Chuu artinya menengah, sedangkan Danchoo memiliki arti pimpinan atau perwira.

Sederhana, namun istimewa buat saya. Gara-gara satu kata, saya memulai menelusuri kata Chuudanchoo, baik di buku-buku sejarah, maupun di dunia maya. Hasilnya? Nihil. Tak ada sejarawan yang menggunakan kata Chuudanchoo untuk menyebut sisi kepangkatan di jaman Jepang.

Apakah kata Chuudanchoo sudah diserap dalam Bahasa Indonesia?

Lalu saya teringat masa kuliah, dimana waktu itu Pak Dosen (saya lupa namanya) mengajarkan tentang kata-kata dari Bahasa Arab yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Penulisan do'a dengan tanda kutip, setelah diserap ke dalam Bahasa Indonesia, maka tanda kutip tersebut dihilangkan, menjadi doa. Begitu juga dengan ma'af, dan lain-lain.

Begitu juga kata serapan dari Bahasa Belanda. Ventiel menjadi pentil, fluit menjadi peluit, actie menjadi aksi, minderwaardig menjadi minder, straf menjadi setrap (hukuman), divan menjadi dipan, slof menjadi selop, koelie menjadi kuli, goot menjadi got, servet menjadi serbet, dan entah apalagi.

Tiba-tiba saja saya memikirkan isi Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) poin tiga. "Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia."

Di sisi sebelah mana kita menjunjung bahasa persatuan? Bahkan kita lebih senang menyebutkan Endonesia daripada Indonesia. Bahkan saya lebih sreg menyebut Njember daripada Jember.

Di sisi lain, ketika saya menonton film berjudul Mongol, di sana ada kataa-kata yang kurang lebihnya seperti ini, "Nak, kamu harus bangga dengan Bahasamu. Kelak, orang-orang di dunia akan mempelajari bahasa kita oleh sebab keindahannya. Coba kamu sebutkan kata 'daging.' Bagaimana, indah dan mantab di lidah bukan?"

Ohya ding, saya sedang ngomongin Bahasa Jepang. Lupa, hehe.. Sampai nyasar ke Arab, Belanda, dan Mongol.

Jadi, gara-gara Chuudanchoo, saya tertarik untuk sepintas mengerti Bahasa Jepang. Setelah berlelah-lelah melakukan pencarian, eh kembalinya tetap ke tulisan Mbak Imelda juga.

Ketika kita berkunjung ke blog Twilight Express, coba anda klik kolom CULTURE. Di sana ada beberapa pilihan. Nah, pilihlah Language. Maka kita akan tahu bahwa Jepang memiliki ciri Momotaro. Maksudnya, setiap kita membaca buku, membukanya dari kiri ke kanan, berkebalikan dengan kita yang terbiasa membuka lembar-lembar buku ke kiri. Hmmm, pencinta komik Jepang pasti mengerti ini. Satu lagi, huruf-huruf Jepang itu ditulis dari atas ke bawah, dan dari kiri ke kanan.

Hampir sama dengan ketika saya membuka Al Quran, dari kiri ke kanan. Bedanya, tulisan Jepang vertikal sedang tulisan Arab horizontal.

Jepang hebat ya. Mereka bangga dengan huruf dan bahasanya, tidak peduli bagaimana cara dunia internasional membuka buku, mereka tetap menjadi dirinya sendiri.

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang membuat saya bangga. Ternyata Mbak Imelda sudah bertahun-tahun mengajar Bahasa Indonesia di Jepang. Di artikelnya tanggal 5 Maret 2011 saja, dia sudah terhitung 17 tahun mengajar Bahasa Indonesia.

Keren sekali dirimu Mbak. Tidak sengaja, saya menemukan kesadaran akan pentingnya Cinta Bahasa di Twilight Express.

Arigatou..

33 komentar:

  1. Aku juga cinta bahasa Indonesia :)
    Nice Blog

    BalasHapus
  2. Aku calon guru bahasa Indonesia.hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Guru Bahasa Indonesia itu profesi yang keren!

      Hapus
  3. Iyaaa Jepang keren >_<
    Mbak Imelda keren banget ya, aku juga cinta bahasa indonesia :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Una juga keren, hehe..

      Hapus
  4. Hidup berbahasa Indonesia yang baik dan benar masih belum banyak yang mempratekkan langsung Mas. Namun saya yakin pelajar muda masih bisa untuk memperbaiki itu semua. Apalagi dengan adanya budaya yang sifatnya alaylah, gaullah, saya itu yang mencemari bahasa kita.

    Apa pendapatmu mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. - TENTANG ALAY -

      Hmmm, apa ya pendapatku tentang alay?

      Sebelum menjawab, kita harus tahu mana yang alay dan mana yang ikut-ikutan alay. Yang dimaksud alay adalah mereka yang mandiri berpikir keras untuk menciptakan kata-kata baru, dengan gaya dan huruf yang didesain sedemikian rupa. Sedangkan yang ikut-ikutan alay, mereka hanya copas gaya tulisan yang sudah ada.

      Lebih bagus mana, kata serapan (dari bahasa asing) dengan kata yang dilahirkan oleh anak bangsa sendiri? Hehehe..

      Sayangnya, warga muda alay di-bully habis-habisan oleh orang dewasa. Itulah kenapa, saat didapuk menjadi juri 'SYUKURAN RAME-RAME' aku memberi penawaran, bagaimana jika tulisan alay boleh diikutkan dalam Giveaway? Syukurlah, waktu itu Mbak Elsa dan Mbak Lidya sependapat.

      Toh, terserah kita jika pada akhirnya tulisan-tulisan alay tersebut di diskualifikasi secara penilaian. Hanya masalah strategi penjurian saja. Tidak harus dengan menyakiti hati mereka.

      Dulu, dunia jurnalistik juga dituduh sebagai perusak tatanan Bahasa Indonesia, hanya karena cara penulisannya yang padat. Apa yang terjadi? Justru mereka memberi pengaruh pada bahasa kita, dengan kosakata-kosakata baru sebagai penyempurna bahasa. Itu karena mereka diberi kesempatan untuk berkembang.

      Well, sebenarnya mereka yang alay hanya butuh ditemani, butuh diingatkan dengan cara yang mudah dipahami, butuh diajari apa itu budi pekerti, dan apa itu Pendidikan Karakter.

      Itu aja pendapatku tentang alay :)

      Hapus
    2. Saya bisa terima mas.

      Sebenarnya saya menyelidiki kasus ini sejak 2 hari yang lalu.
      Saya masih kesulitan antara Bahasa Alay dan Bahasa Lebay itu perbedaan dan kesamaannya dimana?.

      Pakdhe Google kayaknya kurang bersahabat dengan saya, tapi saya akan terus mencari dan mencari nya mas, hingga saya dapat jawaban yang pas.

      Hapus
    3. Apa hanya untuk mencari pembenaran atas ke-alay-an kita? hehe.. tak perlulah bersusah-susah mencari jawaban yang pas. Yang lebih penting, yuk kita kembangkan (dan pelajari lagi) apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter. Lalu sebarkan itu pada para sahabat yang alay.

      Hapus
    4. Tapi aku kan ingin tau Mas.

      Memangnya aku salah dengan tindakanku untuk mencari tau yang ingin aku tau?

      Hapus
    5. Hehehe, sabar le. Nggak baik meledak-ledak :)

      Oke, silahkan mencari tahu. Sebab butuh tahu itu penting. Nanti tak bantu, semisal aku iso membantu.

      Selamat hari mingguuuu....

      Hapus
    6. Heheheeeee terimakasih Mas.

      Saya memang bandel, nanti kalau nakal dijewer aja tidak apa apa.

      Selamat hari Minggu juga.

      Hapus
    7. Coba kamu telusuri dari tujuh kebutuhan psikologis remaja (sempat baca di artikelnya Mas Ismail SM).

      1. Kebutuhan kasih sayang (rasa aman dll)
      2. Kebutuhan akan partisipasi dan diterima dalam suatu kelompok
      3. Kebutuhan untuk berdiri sendiri / mandiri
      4. Kebutuhan untuk dihargai
      5. Kebutuhan untuk berprestasi
      6. Kebutuhan akan pengakuan alias eksistensi diri
      7. Kebutuhan memperoleh falsafah hidup yang utuh (pendidikan karakter).

      Jika ketujuh hal di atas terpenuhi, mereka akan tampil lebih keren. Dan kita tidak perlu risau dengan budaya ALAY. Indonesia akan melesat makmur jika kebutuhan dasar generasi mudanya terpenuhi.

      Ngomong-ngomong, mulai tadi kita kok mbahas judul artikel ini saja ya? hehe...

      Hapus
  5. Mencentil itu tidak harus dengan menjewer, namun juga bisa dilakukan dengan cerita. Sip....... Kang.

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam tamasya Mas Indra, maturnuwun :)

      Hapus
  6. Saya sangat menghargai sebuah karya cipta, selama dari karya cipta tidak ada pihak lain yang dirugikan, termasuk dalam hal ini bahasa dan tulisan Alay, mungkin akan lebih bijak bila huruf alay dijadikan seperti huruf tertentu semacam sandi untuk komunitas tertentu bukan dengan cara merusak tatanan huruf yang sudah baku seperti contoh 4qu Cint4 Bah454 1ND0N35I4. juga jangan mempelesetkan bahasa tertentu, karena bahasa Indonesia juga sebuah karya yang harus dihormati. Bagiku itu seperti memparodikan lagu yang bagus mencadi amburadul, kecuali jika kata dan aksaranya berdiri sendiri semacam aksara jawa dll.

    Walau saya bernenek moyang dari bangsa Jepang tapi Aku Cinta Bahasa Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. Benar tebakan saya. Akan ada yang meresahkan judul artikel ini. Baguslah, itu tandanya kita masih punya jiwa kebangsaan yang baik, tidak peduli dimana kita dilahirkan, atau sedang berada dimana kita sekarang. Sebab, sesungguhnya jiwa kebangsaan tak mengenal batas-batas teritorial.

      Semoga kita bukan yang termasuk mengintimidasi generasi ALAY ya Mas. Hampir setiap hari saya bercengkerama dengan kawan-kawan usia SMA - SMK. Dari mereka saya mengerti kenapa mereka menggunakan bahasa alay. Ternyata, mereka sedang butuh mempelajari Pendidikan Karakter. Jika rumah dan sekolah sudah tidak bisa mengajarkan itu, maka mereka akan mencarinya sendiri. Inilah hasilnya.

      Cobalah kita lihat sisi positif dari ke-alay-an. Tentang semangat kreatifitas. Terlepas dari itu semua, mereka adalah generasi teknologi masa kini.

      Kalau bahasa jawanya, "Mbok yo dikancani trus dikandani apik-apik, ojok sediluk-sediluk dipaido, sediluk-sediluk dibatesi."

      Terima kasih buat Mas Insan Robbani atas apresiasinya, dan semoga tidak terjebak pada judulnya saja.

      Bagaimanapun, 4qu Cint4 Bah454 1ND0N35I4 :)

      Hapus
    2. Bagaimanapun saya juga pernah mengalami fase-fase pencarian jati diri, dimasa itu biasanya tidak puas dengan keadaan yang sudah ada, bahasa baku menurutnya adalah bahasa formil yang kurang sesuai dengan karakter usianya, kalau jaman dulu ada istilah bahasa prokem.

      Sejujurnya saya suka belajar bahasa, hanya karena keterbatasan IQ tidak banyak bahasa yg bisa nyantol di otak kecuali bahasa Indonesia dan jawa itupun kebenaran dan kefasihannya dalam berbahasa masih perlu dipertanyakan.

      Secara pribadi saya tidak akan mengintimidasi mereka, bagaimanapunmereka berusaha berkreasi mengeksplor aspirasinya sesuai dengan usianya, hanya perlu ditempatkan pada porsi yang tepat, bahasa Alay sifatnya temporary tidak bisa dijadikan bahasa persatuan, jadi dalam kontek umum memang akan lebih baik memakai bahasa umum yang lebih mudah dimengerti.

      Setuju dengan Mas Bro tidak harus dimatikan kreatifitasnya tapi dibimbing dan diarahkan menjadi lebih baik agar bisa diterima semua kalangan.

      Salam.

      Hapus
    3. Sepertinya budaya alay adalah budaya populer yang berlangsung lebih lama. Ini pandangan subyektif dari saya. Selama ponsel dan media lain (seperti jejaring sosial) terus berkembang, selama itulah eksistensi kawan-kawan alay terus berkembang.

      Kebetulan saya tidak ikut-ikutan arus mayoritas yang menganggap mereka tidak normal, norak, kampungan, dll. Yang bisa saya lakukan (terutama di bidang kaligrafi-nya) hanyalah mengajak mereka untuk cinta membaca.

      Terima kasih apresiasinya Mas. Yuk ngopi :)

      Hapus
  7. Saya cinta bahasa Indonesia juga, Mas. Karena dengan media ini saya menulis.
    Menurut saya para alayers ini seperti cinta semusim saja. Semacam musim duren. Terserah kita, apakah mau ikutan makan duren atau tidak. Tapi kita gak bisa menyangkal musim duren itu, karena memang ada dan banyak yang suka :D
    Seperti halnya musim kebanyakan, musim duren pasti akan berlalu. Dan bisa jadi nantinya akan hadir lagi.
    Sama tuh kayak bahasa alay.
    Eh, ini pendapat saya saja, sebagai penggemar duren :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... hidup duren!

      Ya benar sekali Kak. Itu adalah budaya populer.

      Sebenarnya ALAY alias anak layangan tidak bergerak di dunia kaligrafi (yang salah kaprah) saja. Tapi juga di musik, dumay, style, gaya rambut, dll.

      Syukurlah, kawan-kawan muda yang berproses di panaongan (rumah saya) tidak ada yang terjangkit virus alay. Tapiii... hampir semua dari mereka adalah mantan alay, haha...

      Hapus
  8. terus terang saya enggak mengerti dg maksud dari tulisan ini, antara judul dengan isi tulisannya. Saya baca 2 kali tapi tetap enggak mengerti. Judulnya seperti aku cinta bahasa indonesia, tapi isinya "seperti" jepang hebat ya, cinta bahasa Indonesianya dimana Mas?? Hehehe.. maaf saya belum ngerti maksud artikel2 tingkat tinggi kayak gini.. :)
    Ganbate Mas..!! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya yang seharusnya minta maaf. Berarti pesan yang ingin saya sampaikan, tidak tersampaikan dengan baik. Maaf ya Mbak Riski Fitriasari.

      Begini Mbak. Saya mulai dari sebuah pertanyaan. Kenapa Jepang keren? Bahkan meskipun mereka pernah hancur pada Perang Dunia II. Tapi mereka bangkit lagi dalam 10 tahun. Kenapa?

      ternyata jawabannya sederhana saja. Sebab mereka memiliki kekuatan budaya. Salah satu yang paling nampak adalah kecintaan pada bahasa Jepang. Bisa jadi, ini adalah yang terhebat dibanding Restorasi Meiji di tahun 1868 (yang disebut-sebut sebagai tonggak medernisasi di Jepang).

      Begitu Mbak.

      Mengenai judul di atas, itu hanya sentilan saja. Saya sangat berterima kasih atas apresiasi yang jempolan ini. Salam Indonesia Raya!

      Hapus
  9. hahaha, Kalau aku sih justru masuk dan baca cepat-cepat tulisan ini karena tertarik judulnya :D Lah wong masbro selalu menulis dengan baik dan benar, kok tiba-tiba jadi alay :D Dan jadi berbangga lagi deh karena ternyata direview lagi toh :D Terima kasih ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, terima kasih Mbak. Kalau di Jepang, istilah ALAY namanya GYARU MOJI ya Mbak. Saya baca postingannya Mbak Imelday yang berjudul 4L4Y di J3P4N9..

      Tulisan 4qu Cint4 Bah454 1ND0N35I4 ini terinspirasi dari sana. Juga, tulisan yang berjudul Kapan Kamu Merasa “Tua”?

      Waktu kita tidak bisa menerima gaya alay anak muda, maka saat itulah kita merasa tua. Harapannya, semoga kita bisa menjadi orang tua yang Tut Wuri Handayani - Ing Ngarso Sun Tulodo - Ing Madyo Mangun Karso :)

      Makasih ya Mbak Imelda. Twilight Express memang gudangnya inspirasi!

      Hapus
  10. Saya suka sekali sama tulisan ini, Masbro.. :-)

    Sy juga sedang belajar menulis yg baik dan benar :-)
    Kalau ke TE, memang bnyk sekali dpt ilmu baru, ke acacicu juga :-)
    Hmm.. Kalau menyingkat bahasa, kira2 bagaimana mnrt Masbro? :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, maksud sy menyingkat kata :-D

      Hapus
    2. Saya juga pengguna singkatan Mbak. Seing di sms, untuk menuliskan sesuatu, misalnya UNTUK, saya tulis dengan 'utk' saja. Nggak menjadi 'g' saja, dan beberapa hal lagi. Jejaring sosial twitter juga menuntut kita untuk pandai-pandai memanfaatkan keterbatasan karakter dengan menyingkat kata.

      Menurut saya, itu juga bagian dari karakter yang dipakai oleh Anak LAYangan, hehehe...

      Bagaimana kabarnya Vania Mbak? Salam kangen dari Jember :)

      Hapus
  11. yap.... memang seharusnya setiap warga negara yang memiliki bahasa (termasuk kita yang berbahasa Indonesia) lebih mencintai bahasanya sendiri...

    Saya lupa lagi di negara mana, yang memasukan bahasa indonesia sebagai meteri utama selain jepang... keren ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebab Cinta Bahasa adalah akar dari cinta tanah air. Setidaknya itu yang saya pelajari di Twilight Express, tentang bagaimana orang Jepang mencintai bahasanya.

      Terima kasih apresiasinya, jempol :)

      Hapus
  12. Kalau Mbak yang satu itu ... jangan diragukan ke-Merah-Putihannya ...
    Meskipun satu dua kali mengeluhkan layanan publik di Indonesia ...
    namun saya tau sekali dia sangat cinta negerinya ...

    Memakai Batik ... (bahkan anak-anaknya juga)

    Dan asal tau saja ... Sapaan pertama di Pesawat Udara Maskapai Jepang JAL ... yang pertama kali di dengar oleh penumpang di pesawat ... dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang adalah suara Imelda kalau tidak salah

    Salam saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ohya? Mbak Imelda memang kereeen...

      Makasih Om NH :)

      Hapus

acacicu © 2014