5.6.13

Kekasihku Sejarawan

5.6.13
Aku memang belum pernah bersafari sejarah ke Prasasti Talang Tuwo, Palembang. Yang kuingat dari prasasti ini hanyalah angka tahunnya, 23 Maret 684 Masehi atau 606 saka. Mudah mengingatnya, sebab kau juga terlahir di 23 Maret. Kau bilang, prasasti ini berasal dari India Selatan dan Tibet, di masa Kerajaan Sriwijaya.

Ketika kau mulai bicara tentang paham Bhirawa, aku pura-pura bertanya, "Apa itu?" Kau tersenyum, manis sekali. Lalu kau menjawabnya. "Bhirawa itu muncul dari Tantrisme. Bhirawa bisa diartikan sebagai paham kesaktian. Siapapun di masa itu yang ingin sakti mandraguna, harus meleburkan dirinya dengan paham ini. Maka tak heran jika raja-raja masa lampau hingga era Majapahit banyak yang mempelajari paham Bhirawa." Entahlah, aku masih belum mengerti apa itu Bhirawa. Saat itu aku lebih senang menatap cara kau berbicara daripada harus berpusing-pusing ria menelaah apa yang kau bicarakan.

Orang bilang, memiliki kekasih seorang sejarawan itu menyebalkan. Ya, aku rasa ada benarnya juga. Bersamamu, tema pembicaraan selalu kembali ke kalimat, "Itu sejarahnya begini, ini sejarahnya begitu." Tapi jika ditanya, sejak kapan kau mencintaiku, pastilah kau akan mengangkat kedua bahumu. Huh, menyebalkan!

Kini, saat kau ada di Surabaya, tiba-tiba aku merindukanmu. Rindu menatap caramu menyampaikan sesuatu. Tiba-tiba aku menolak pemikiran bahwa memiliki kekasih seorang sejarawan itu menyebalkan. Biarlah, meski aku belum mengerti benar akan apa itu Bhirawa. Yang aku tahu, hanya engkau yang pantas menjadi Kapten Bhirawa di hatiku. Sayang, aku menanti Surat Cinta darimu.
Cerita ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest: Senandung Cinta

38 komentar:

  1. Wow, baguuuus! Sukses ya, Mas! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang sekali dikomentari sama Srikandi cantik.. Terima kasiiih

      Hapus
    2. Senang sekali juga dikatakan cantik oleh Mas RZ Hakim. Hehe. Trims yo! :)

      Hapus
    3. Sama-sama Mbak :)

      Hapus
  2. Cerpen singkat, namun penuh pesan dan penuh makna, bagus....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mas Agus Mulyadi.

      Hapus
  3. Semoga surat cintanya sampai tepat waktu ya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini surat cintaku untuk imam sujaswanto: Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2013. Semoga kita tidak berpikir bahwa bumi sedang baik-baik saja. Salam Lestari!

      Hapus
    2. Oh tenang Mas Bro.
      Saya sudah melakukan aksi bersih di lingkungan rumah saya tadi.

      memusnahkan sampah plastik menanam banyak bunga di depan rumah.

      Hapus
    3. Wuih, kereeen!

      Hapus
  4. wah, pastinya ga nyampe ke aku, karena aku bukan sejarawan.
    haha!!

    salam senyum
    error n kids

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam senyum jugaaa :) Jreeeeng...

      Hapus
  5. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Flash Fiction Senandung Cinta.

    Ikuti juga Kontes Unggulan Blog Review Saling Berhadapan di BlogCamp (http://abdulcholik.com)

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pakde, semoga sukses kontes FF-nya.

      Hapus
  6. Wah keren mas ceritane... aku belum dapat inspirasi. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyruput kopi dulu Dung biar lebih mudah menangkap inspirasi, hehe..

      Hapus
  7. mas keren FF nya, singkat padat dan nendang :)

    BalasHapus
  8. Orang bilang, memiliki kekasih seorang sejarawan itu menyebalkan. Ya, aku rasa ada benarnya juga. Bersamamu, tema pembicaraan selalu kembali ke kalimat, "Itu sejarahnya begini, ini sejarahnya begitu." Tapi jika ditanya, sejak kapan kau mencintaiku, pastilah kau akan mengangkat kedua bahumu. Huh, menyebalkan!

    sukaaaa sama kalimat itu, greget, pengen jitak, ditanya kapan mulai mencintai, malah jawabnya gitu :D

    sukses buat GAnya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... terima kasih ya apresiasinya. Piye kabare nduk?

      Hapus
  9. hohohoho kupikir apaan, taunya GA :D
    jadi ingat si paman topi kuning-nya George Kera, yang jatuh cinta sama sejarahwati :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, lagi menuntaskan GA-nya Pakde. Biar cepet-cepet bisa fokus ke Kontes Unggulan Blog Review :)

      Hapus
  10. Sam duwe kerpe'an FF? sukses kontese yo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. enek sam. Judule, "Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang.."

      Bongkar...! Hehe....

      Hapus
  11. Flash fiction udah mulai jadi trend nih. Semoga menang yah kontesnya.

    Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, semakin hari semakin merebak penulis FF. Ini kabar baik untuk pencinta fiksi. Terima kasih apresiasinya.

      Hapus
  12. Meskipun singkat namun cerita memiliki arti dan makna tertentu ..

    BalasHapus
  13. Wah, tulisan Bro ini pasti deh ny'rempet2 sejarah. Keren sih, tapi bunda aja yang udah Senior di usia, hehe...gak ngerti sama sekali tentang sejarah untuk diulas dalam sebuah cerita. Nah, selamat menantikan sebuah Surat Cinta ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. Bunda, sejarah adalah setiap detik yang telah dilalui dalam hidup seorang anak manusia. Jadi setiap kali Bunda menulis, sebenarnyalah Bunda sedang menggoreskan sejarah :)

      Cepat atau lambat, kita juga akan rindu ingin mengerti sejarah kampung halaman sendiri, sebab itu adalah hukum keadaan.

      Terima kasih nggih Bunda.

      Hapus
  14. Cerita yang sangat indah..
    Terkesima.. co cuiit..
    Kirain kekasihnya Aku #kabooorr

    BalasHapus
  15. wah, brarti kapten bhirawa saya yang dari india itu masih nyambung2 ya meskipun dikit? horeeee :D. suka banget, ada info2 sejarahnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, masih nyambung :)

      Hapus
  16. Aku taunya Cakra Bhirawa Mas, jadi ingat film G30S/PKI :D
    Kereen Mas critanya, bagus banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film buatan tahun 1984 ini memang terlaris di jamannya ya Mbak. Kalau nggak salah ingat, dananya sampai 800 juta. Wuih, tahun 1984, dana segitu sangat gedhe. Menang, terlepas dari film propaganda, film ini bagus. Tapi saya paling takut kalau dipaksa nonton, hehe..

      Ada lagi Mbak, Pasukan Cakra asal Madura (yang dilatih dan dimanfaatkan oleh Belanda untuk melawan pejuang Indonesia). Mereka pemberani seperti Gurkha.

      Hapus
  17. Wah, bagus maz :)
    seribu jempol deh buat maz hakim..

    BalasHapus
  18. Anonim16.07.00

    ceritanya keren..manusia (pra) sejarah #eh..

    salam kenal mas :)

    BalasHapus

acacicu © 2014