25.6.13

Menua Bersama Musik

25.6.13

Mbah Wakidi - Foto by Oyot 91

Mbah Wakidi, begitu biasanya warga Jember memanggilnya. Beliau adalah Pak Tua sang pemetik siter (mirip sekali dengan kecapi). Ya, memang pada akhirnya alat musik ini telah menjadi salah satu kebanggaan nusantara.

Sehari-harinya, Mbah Wakidi berjalan di wilayah Jember sambil menenteng siter. Kakek kelahiran Jember, 17 Agustus 1930 ini seakan tak pernah lelah untuk menghibur orang-orang yang tak ia kenal, dengan alunan nada hasil petikan jari-jarinya yang telah menua. Dulu saya sering melihat beliau beristirahat di bawah jembatan Semanggi - Jember. Kadang dalam istirahatnya, Mbah Wakidi masih sempat-sempatnya memetik siter untuk menghibur dirinya sendiri.

Entah sudah berapa lama Mbah Wakidi setia melakoni perannya sebagai musisi jalanan. Menurut banyak orang, beliau sudah lama sekali menjalani hidup sebagai pemetik siter. Pada awal tahun 2013, saya pernah melihat aksi beliau di Gudeg Lumintu. Ternyata setiap hari minggu Mbah Wakidi diminta untuk perform di sana.

Mbah Wakidi mengajarkan pada kita semua bahwa menua bersama musik adalah sebuah keindahan.

Ngek-Ngok Seribu Manis dan Gethuk Lindri

Cerita yang lain. Dulu ketika masih kecil, saya sering dibuat terheran-heran oleh ulah para pedagang seribu manis. Kalau di Jember, julukan untuk mereka adalah pedagang ngek-ngok. Mereka berjualan seribu manis, berjalan kaki dari kampung ke kampung, sambil tak henti memainkan biolanya. Saya yang masih bocah hanya berpikir sederhana, "kenapa mereka selalu gembira?"

Lain pedagang ngek-ngok, lain pula dengan penjual gethuk lindri. Mereka tidak berjalan kaki tapi dengan mengayuh rombong kecil dengan kaca transparan. Tepat di atas rombongnya ada terlihat moncong toa yang siap mengumandangkan lagu-lagu kesukaan penjual. Dari penjual gethuk lindri, ada satu pelajaran yang bisa saya petik. Bahwa dalam hidup ini, selalu ada lagu-lagu yang terpaksa harus kita dengar. Keakraban antara telinga dengan alunan lagu tersebut akan menciptakan proses perkenalan, lalu suka. Metode ini yang biasa digunakan oleh mereka yang berkecimpung di dunia industri musik.

Hmmm, bagaimanapun juga para pedagang gethuk lindri telah turut mengantarkan para bocah seperti saya untuk mengenal lagu-lagu Bang Rhoma dan lagu-lagu khosidah.

Apa persamaan antara tukang ngek-ngok dan penjual gethuk lindri? Mereka sama-sama bergembira. Tampak sekali jika mereka sangat menikmati hidup. Dalam pikiran seorang RZ Hakim kecil, tercetuslah sebuah gagasan ala bocah. Untuk bahagia di dunia, kita harus menua bersama musik.

Musik Yang Asyik

Detik terus berdetak, tak peduli apakah kita sedang menikmati hidup atau tidak. Bersama detik yang terus merayap, saya tumbuh semakin dewasa dan semakin mengerti apa itu musik. Ketika istri saya berkata, "Mase, ada lomba menulis tentang musik yang asyik, yang ngadain KEB bekerja sama dengan Langit Musik," saat itu secara refreks ingatan saya tertuju pada para tukang ngek-ngok alias pedagang jajanan seribu manis, penjual gethuk lindri, juga pada Mbah Wakidi.

Entah bagaimana ekspresi wajah apikecil istri saya, ketika saya menerawang dan terus menerawang, terbang ke masa kecil. Kalaupun saya harus turut menyemarakkan lomba menulis 'Musik Yang Asyik' tersebut, maka saya harus menyampaikan kabar baik pada semua orang. Ya kabar baik. Musik adalah sahabat kecil yang senantiasa menemani fase hidup manusia. Secara tidak sadar, musik turut andil dalam membentuk karakter seseorang. Maka, alangkah indahnya jika kita bisa menua bersama musik yang kita anggap asyik.

"Lho Mas, kok malah bengong. Piye? Ikutan ya?"

Aih, ternyata saya merenung terlalu lama, hehe. Tentu saja saya bersedia turut menyemarakkan acara yang mbois ini. Beberapa detik kemudian, saya tergerak untuk meraih gitar bolong, kemudian memetik senarnya, dan menyanyikan sebuah lagu untuk apikecil.

Untuk Apikecil:

Untuk Apikecil - Cipt. RZ Hakim

Aku hanya ingin kita
Tinggal di desa dan tua bersama
Sekecil apapun rumah kita
Aku jadikan seluas cinta

Sesekali engkau dan aku
Berkelana dan bertamasya hati
Setua apapun kita nanti
Tetaplah pada salam lestari

Reff:

Akan aku habiskan sisa usia ini
Hanya untuk menemani

Menemani dirimu hingga ujung usiaku
Hanya untuk menemanimu..

Menua Bersama Musik

Kepada perempuan mungil yang dulu saya dekati dengan musik, yang saya beri mahar sebuah lagu, yang senyumannya pernah saya ukir di sebaris lirik 'aku butuh teman bicara sampai tua..' dialah nanti yang akan menua bersama saya (Amin Ya Robbal Alamin), bertemankan musik. Ya, saya akan mengajaknya menuju surga lewat surga.

Terima kasih untuk Mbah Wakidi, para ngek-ngok dan para penjual gethuk lindri, juga pada para seniman musik dimanapun berada yang bernyanyi dengan hatinya. Dari kalian saya belajar bahwa musik yang asyik adalah ia yang menggembirakan, yang berusaha keras membahagiakan kita dikala sedih. Bahkan sejatinya lagu-lagu galau bermaksud hendak mengajak kita bahagia.

Untuk bahagia di dunia, kita harus senantiasa bergembira. Begitulah. Saat kita telah menemukan metode untuk menikmati hari-hari dengan gembira, maka langkah selanjutnya adalah menua bersama musik. Tentu saja musik yang baik.

Salam saya, RZ Hakim


Turut Menyemarakkan Lomba Menulis Blog "Musik yang Asyik"

16 komentar:

  1. Menua bersama musik sepertinya asik :)

    Pedagang 'Ngek-Ngok' itu apa karena bunyi biola yg dimainkan sampe mereka di panggil pedagang ngek-ngok mas? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali, hehe.. Pedagang ngek-ngok dijuluki seperti itu (terutama oleh para bocah) sebab biola yang dimainkan hanya berbunyi ngek-ngok ngek-ngok, sangat minim variasi nada :)

      Hapus
  2. Whaa.. so sweet banget mas menyanyikan lagu untuk istri :)

    Aku juga jadi inget waktu masih kuliah dulu di Jakarta, sering ada tukang gethuk yang lewat bawa-bawa gerobak sambil muterin lagu dangdut kenceng-kenceng. Kadang dia ikutan nyanyi sambil bawa gerobaknya. Hihiii :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe...

      Kenapa para penjual gethuk itu begitu gembira ya? Saya ingin meniru caranya dalam menghadapi hidup, meskipun tidak dengan muter lagu kenceng-kenceng :)

      Terima kasih Nona Nieke.

      Hapus
  3. Wahh enaknya didukung sang istri...
    kapan ya aku ada yang dukung. #Loh?
    hehehe sudah didukung orangtua kok :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dukung dan doakan dari Jember ya, hehe...

      Terima kasih apresiasinya.

      Hapus
  4. Semoga bisa terus berkarya dengan musik mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin YRA. Maturnuwun Boll..

      Hapus
  5. Seorang yang memiliki bakat seni itu biasanya selalu dapat menghibur dirinya dengan apa pun ya Kang. Kalau terlihat sedih, malah nanti tidak bisa menghibur dan melayani masyarakat untuk menghibur.

    Romantis banget lagu untuk sang istrinya Kang, pasti tambah disayang sama istri tercinta. Amiin........
    He,,,x9

    Sukses buat lombanya Kang.

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya, setiap orang adalah seniman untuk diri dan lingkungannya sendiri Mas. Hanya kadang ada yang lebih menonjol, ada pula yang biasa-biasa saja :)

      Hehe.. terima kasih ya Mas Indra.

      Hapus
  6. wow mas, kalo ditempat saya pasuruan jualannya mung pake kliningan sepeda.pas 10menit setelah pulang dari mushola subuhan. tapi entah, sekarang sepertinya sudah jarang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah hebat, sampai hafal waktunya :)

      Pekerjaan-pekerjaan seperti ini sudah tergerus oleh jaman ya Mbak, semakin hari semakin langka.

      Hapus
  7. pak hakim itu foto yang paling atas kalo ndak salah aku pernah lihat di pasar tanjung yaa pak??? salut sama dia )

    BalasHapus
  8. Selamat malam sahabat, trimakasih sudah berpartisipasi di dalam lomba menulis blog “Musik Yang Asyik” ya.
    Sukses selalu untukmu dan kita semua. Juri visited. Saleum. ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Alaika. Selamat bertugas.

      Hapus

acacicu © 2014