6.6.13

Sebab Mereka Senang Membaca

6.6.13
Cara mudah dan murah mempelajari negeri orang adalah dengan mengikuti catatan milik blogger Indonesia yang tinggal di sana. Setidaknya, itu yang terjadi pada saya. Terus terang, saya lebih mudah mempelajari budaya Jepang dari tulisan Mbak Imelda ketimbang harus berlelah-lelah membaca buku panduan dengan gaya bahasa yang kaku.

Ketika Mbak Imelda bertutur tentang Perayaan Seijinshiki, mulanya saya mengerutkan dahi. Tapi toh akhirnya saya mengerti. Oh, ternyata Seijinshiki itu adalah perayaan spesial untuk para pemuda jika mereka sudah berusia 20 tahun, dan ini dirayakan bersamaan setiap tahun pada minggu kedua bulan Januari. Jadi, jika anda adalah warga Jepang dan belum berusia 20 tahun, maka anda belum bisa dikatakan dewasa. Itu menyebabkan anda tidak boleh merokok dan minum alkohol.

Perayaan untuk anak perempuan juga ada, namanya Hina Matsuri. Perayaan ini berakar dari Cina Kuno. Dirayakan setiap 3 Maret, bersamaan dengan hari TELINGA. Penasaran? Silahkan berkunjung ke sini.

Di Jepang juga ada hari khusus untuk kucing lho. Itu dirayakan setiap 22 Februari, sejak 1987. Tanggal 22 Februari, kalau ditulis dengan angka akan menjadi 222, dan kalau dibaca menjadi nya-nya-nya (atau seharusnya ni-ni-ni). Dan nya-nya-nya ini adalah onomatope dari suara kucing, yang kalau di Bahasa Indonesia-kan mungkin menjadi meong-meong.

Anda tahu apa itu Haru ichiban? Saya juga mulanya tidak tahu, hehe. Itu adalah hari pertama musim semi.

Masih banyak lagi hari-hari di Jepang. Hari Daging, Hari Bawang Putih, dan lain-lain. Jika masih penasaran dengan hari-hari di Jepang, berkunjung aja ke blognya Mbak Imelda, dan cari artikel yang judulnya dimulai dengan, Hari Ini Hari Apa.

Di kesempatan yang lain, Mbak Imelda bercerita tentang sebuah puisi karya Kaneko Misuzu. Judulnya adalah Aku, burung kecil dan lonceng. Kabarnya, puisi ini dipakai untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang pluralism. Wah, keren.

Kadang, Mbak Imelda hanya menceritakan seputar lagu-lagu, atau film, atau keseharian. Dari Mbak Imelda saya jadi tahu bahwa di sana ada group band bernama ZARD, dengan vokalisnya Izumi Sakai, yang meninggal pada 10 Februari 2008 (Mbak Imelda meluniskannya 3 hari kemudian, 13 Februari 2008).

Mengenai film, ada kisah tentang Hoshi ni natta shonen (Shining Boy & Little Randy). Bukan sinopsis filmnya yang saya sukai, tapi cara Mbak Imelda menutup artikelnya dengan sangat sederhana. Coba perhatikan kalimat di bawah ini:

“Gajah dapat saling berkomunikasi dalam kelompoknya, melebih manusia yang kadang kala sulit untuk menyampaikan pikiran kepada orang tua, atau orang lain. Saya banyak belajar dari gajah untuk dapat berkomunikasi.”

Dari tulisan Mbak Imelda yang berjudul, Bila superwoman bingung, saya jadi semakin mengerti tentang semangat 'swalayan' warga Jepang. Tertulis di sana bahwa untuk keluarga Jepang umumnya, selain tidak ada pembantu, juga tidak ada supir yang bisa antar-jemput anaknya. Keren!

Warga Jepang sangat menjunjung tinggi budaya literasi, itu yang membuat mereka tampak berbeda. Tak heran jika banyak sekali orang Jepang yang jauh lebih tahu dan ahli tentang budaya Indonesia secara ilmiah, dan secara kebiasaan, dibanding dengan warga Indonesia sendiri. Why? Sebab mereka senang membaca.

Tok tok toook..

Hmmm, ada teman ngajak ngopi. Sudah dulu ya sahabat blogger. Kita sambung cerita tentang Jepang di lain waktu. Dan masih di gelombang yang sama, di blog milik Mbak Imelda Coutrier Dotkom, hehe.

Merdeka!

20 komentar:

  1. buenneerr bangett..
    aku juga sering baca2 blog anak2 yg tinggal di china. jadi tau kebiasaan org cina gimana dari membaca blog mereka

    emg beda jauh ya jepang ama indo.... di indo.. perpus sepii... tandanya minat mmebaca org indo itu kurang bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh Mbak, denger-denger habis menang di GA-nya si Itik ya? Ayo traktir kopi di warung blogger, hehe.. Selamat.

      Mempelajari Cina dari blog mereka yang tinggal di Cina, biar enak nanti kalau kita tamasya ke sana :)

      Rumus yang sederhana sebenarnya ya Mbak. Jika ingin negeri ini bisa bicara di dunia pergaulan internasional, maka kita harus banyak-banyak membaca.

      Terima kasih apresiasinya ya Mbak Risah Icha Az-zahra.

      Hapus
  2. ulasan yang sangat membetahkan ... andai aku bisa mengulas seperti di atas, hmmm *INI BUKAN GOMBAL :)

    Trims ya sudah membuka cakrawala dari tulisan-tulisan yang sebenarnya jika saya menggalinya bisa mengetahui paling tidak pada waktu yang sama ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Ade bagaimana kabar? apik-apik ae kan Kang? Saya doakan yang terbaik buat kang Ade sekeluarga, Amin.

      Piye Kang, kapan ke Jembernya? hehe..

      Terima kasih apresiasinya ya Kang, salam saya.

      Hapus
  3. maka dari itu pepatah raihlah ilmu sampai ke negri cina..betul donk pepatah itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Bu Guru kecil.. Tapi saya sedang membicarakan sebuah negeri bernama Jepang :)

      Hapus
  4. Jepang itu memang keren ya mas...Indonesia juga bisa keren sebenarnya.:-)
    Pingin menjelajah tentang Jepang juga nih jadinya...berangkat ke blognya mbak Imelda dulu ya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke monggooo... Terima kasih. Salam buat Mbak Imelda ya :)

      Hapus
  5. Waaaaah blogku di-review secara amat canggih oleh Masbro Hakim! Terima kasih banyak yaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheee.. Ijin review ya Mbak. Insya Allah nanti bersambung.

      Hapus
  6. di blog mba imelda emang info jepangnya lengkap bangettt :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dan dengan gaya bahasa yang mudah sekali dicerna :)

      Hapus
  7. Setuju sekali Mas, dari baca-baca blognya Mbak Imelda saya jadi tau kalau di Jepang setiap hari ada namanya, saya juga jadi tau kebiasaan-kebiasaan orang Jepang itu bagaimana, dan ternyata sangat berbeda jauh dengan kebiasaan di sini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita juga bisa seperti mereka, asal kita rajin membaca, hehe..

      Hapus
  8. jepang memang tak ada duanya ya..
    kedisiplinannya..teknologinya yang canggih, orang2nya yang uleet..

    aku juga mau nyusuul Mba EM, biar blog ku di ripyu Mas Bro Je :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film-nya juga keren, salah satu yang saya suka tuh si Genjie di Crow Zero, hehe..

      Hapus
  9. membaca itu adalah salah satu pintu ilmu pengetahuan...dan budaya membaca sebenarnya sudah berkembang juga di Indonesia, namun masih hanya sebatas baca komik dan novel remaja saja..... salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kesenangan untuk membaca, itu adalah pondasi awal sebuah negeri. Jika masyarakatnya senang membaca, maka akan mudah memeluk kesejahteraan.

      Saya lihat di tulisan-tulisan Mbak Imelda, warga jepang juga keranjingan membaca komik. Bisa dibilang, Jepang adalah negeri komik. Tapi mereka memiliki 'kesenangan' atau minat yang tinggi terhadap budaya membaca. Di sinilah (mungkin) kelemahan Indonesia.

      Terima kasih apresiasinya dan Salam.

      Hapus
  10. ke banyakan yang tinggal diluar bisa hidup tanpa art ya mas :) lebih mandiri dan juga biaya untuk punya art itu mahal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, mereka mandiri. Benar kiranya jika kawan-kawan punk berkata, "Akar dari kemerdekaan adalah kemandirian."

      Hapus

acacicu © 2014