10.6.13

Tamasya ke Pasar Tanjung

10.6.13
Ini tentang kisah semalam, ketika warga panaongan rame-rame bertamasya tanpa rencana alias jalan-jalan kemana saja sekehendak hati. Saya senang menyebut 'jalan-jalan tanpa rencana' ini dengan istilah aglejer. Orang Jepang biasa menyebutnya dengan nariyuki.

Sesuai dengan judul di atas, akhirnya kami sepakat untuk Tamasya ke Pasar Tanjung, sebuah Pasar Tradisional yang ada di pusat Kota Jember. Bagaimana ceritanya sehingga saya dan kawan-kawan terdampar di Pasar Tanjung?

Jadi ceritanya, seorang blogger Jember bernama Vj Lie baru turun dari Gunung Semeru. Dia membawa serta seorang kawan dari Tasikmalaya, namanya Ridak. Karena dia tidak punya waktu yang banyak di Jember, jadilah kami berinisiatif untuk jalan-jalan. Kemana? "Mbuh wes, sing penting mlaku-mlaku."

Ridak yang sebelah kiri sendiri, berjaket biru | Foto oleh Vj Lie

Sebenarnya lokasi foto di atas adalah los khusus pejalan kaki. Kalau siang hari digunakan untuk pedagang arloji dan jual beli emas. Malam harinya, untuk lokasi tidur dan ada juga beberapa pedagang kuliner. Salah satu kuliner malam yang cukup dikenal oleh warga Jember adalah Bakso Setan. Hanya buka setiap pukul satu dini hari dan tutup saat subuh. Lapaknya persis di sebelah kanan foto ini (di belakang Prit). Sayang, waktu kami kesana, belum pukul satu dini hari.

POSYANDU

Mulanya Ridak memperlihatkan wajah bingung saat dia mendapati sebuah papan bertuliskan Posyandu. Mungkin dia berpikir, di dalam pasar kok ada Posyandunya ya? Namun akhirnya Ridak mengulum senyum manakala mendapati keterangan di bawah tulisan Posyandu. Pos Pelayanan Dagadu, hehe..

Ada 'daging babi' lepas dari kandangnya, haha...

Ada ahli gigi di Pasar Tanjung. Tersedia untuk Lokal, Interlokal, SLJJ dan SLI

Untuk memanfaatkan kotak telepon ini, kita harus membawa hape sendiri.

Awalnya Ridak melongo melihat cara kami bercanda. Terkesan alay, atau lebay, atau entah apa istilahnya. Ya, mau bagaimana lagi, pasaran it's my style, hehe.. Syukurlah, akhirnya Ridak mengerti bahwa kami hanyalah manusia normal yang senang menikmati hidup. Yuk nyruput ronde dulu..

Lapak Pak Sukari

Sekali waktu, saya bercerita tentang Pasar Tanjung. Dulunya, pasar ini hanya dikenal dengan nama Pasar saja, atau Pasar Jember. Sudah ada Water Tower peninggalan Belanda.

Pasar Tanjung berlatar belakang Water Tower

Sebelum dikenal sebagai Pasar Tanjung, Pasar Jember bentuknya hanya los-los sederhana. Lalu, di jaman kepemimpinan Bupati Abdul Hadi, didirikanlah bangunan yang sekarang dikenal dengan nama Pasar Tanjung. Proses pengerjaannya selesai tahun 1976, untuk kemudian segera beroperasi di tahun yang sama.

Memang, di medio 1970-an, kegiatan ekonomi di Jember mengalami perkembangan yang pesat. Di sinilah para petani, peternak, dan lain-lain, menjual hasil kerjanya.

Di Pasar Tanjung lantai dua

Bersama kawan pencinta alam yang berdagang di Pasar Tanjung

Tomat besar dan apikecil

Sama seperti Pasar Tradisional pada umumnya, di Pasar tanjung juga ada kita jumpai sudut-sudut yang kotor, becek, dan tidak sedap. Sangat jauh berbeda dengan Pasar Modern (swalayan) yang bersih, harum, ber-AC, dan lantainya mengkilat. Tapi keduanya memiliki daya tarik sendiri-sendiri. Orang cerdas akan berbelanja sesuai dengan kebutuhan, dan tidak diperbudak daya tarik.

Jadi ingat kisah tentang Pasar Tradisional di Jepang yang dibalut dengan sentuhan swalayan. Maksudnya begini. Para petani yang ada sisa hasil kebun (berlebih), mereka akan membuka lapak sendiri. Hasil kebun yang dijual akan ditata di lapak tersebut, kemudian masing-masing diberi label harga. Disediakan juga kaleng tempat menaruh uang. Diharapkan para pembeli akan menaruh sendiri uangnya di kaleng tersebut, karena lapak tersebut tidak dijaga.

Wew, essip tenan reeek! Apakah hal tersebut bisa diterapkan di Indonesia? Tentu saja. Caranya, masyarakat harus dipersenjatai dengan pendidikan yang sebaik-baiknya, didekatkan dengan sejarah dan budayanya, juga digairahkan semangat membacanya.

Sudah panjang ternyata. Jarang-jarang saya posting sambil menebar foto, hehe. Ya sudah, sebagai penutup, akan saya tampilkan foto yang semalam nangkring di twitter. Terima kasih.

Kapan terakhir kali Anda ke Pasar Tradisional?

Sedikit Tambahan

Dokumentasi oleh Vj Lie, beberap dijepret oleh Donny Dellyar. Mereka adalah duo Blogger Jember yang aktif menemani kawan-kawan muda usia SMA-SMK di Komunitas Panaongan Gambar-Gerak.

22 komentar:

  1. ternyata setelah pulang ronde itu membuat perutku normal kembali.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untunge aku ndak melu makan ronde, jadi ndak ikut-ikutan mules, hehe..

      Hapus
  2. Asyiknya ngubek pasar tradisional ala blogger sambil kopdar dengan wedang ronde. Mantap tenan kang.

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini gara-gara kita hanya punya uang pas-pasan Kang. Coba kalau kita adalah sekumpulan orang kaya, pasti Mas Ridak akan saya ajak muter-muter Jember naik helikpter :)

      Terima kasih ya Kang Indra, salam tamasya.

      Hapus
  3. kalau ga baca tulisan dalam cerita, aku juga pikir ada posyandu di pasar! Haha.., menarik banget tulisan kisahnya, mas! Baguuuus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata Pos Pelayanan Dagadu, haha.. Saya juga baru tahu semalam kok kalau di Pasar Tanjung ada Posyandu-nya.

      Makasih ya Mbak.

      Hapus
  4. Terakhir ke pasar tradisional tadi pagi. Sudah sehari2 ke pasar, jadi nggak nyangka kalau ternyata bisa dijadikan acara jalan-jalan. "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮

    Keakraban dan bercanda khas panaongan sepertinya begitu kental. Senang membaca cerita ini. Geli waktu baca "tomat besar dan apikecil". Bisa aja mas Hakim ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. asyik dong Mbak, bisa jalan-jalan setiap hari ke pasar tradisional :)

      Jember, khususnya yang deket-deket rumah saya, ruang rekreasinya sedikit sekali. Jadi, apapun kita jadikan ruang untuk bertamasya.

      Dapat salam dari pikecil Mbak, hehe...

      Hapus
  5. Suatu hal yg perlu dibiasakan mas, sudah jarang sekali anak muda mau jalan ke pasar tradisional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata Pasar Tradisional itu menarik ya Mas. Seperti Pasar Tanjung misalnya.

      Pasar Tradisional adalah tentang manusia. Tentang budaya cangkruk'an sembari melakukan bisnis. Tentang seorang Ibu yang tidur di matras plastik sembari menunggu waktu yang tepat untuk bangun. Disini, orang-orang berkumpul sambil memahami perannya masing-masing. Ada penjual, ada pembeli, dan ada interaksi. Dari sini pula jiwa sosialisasi terjaga dengan manis, dan dengan caranya sendiri.

      Terimakasih apresiasinya Mas Yadi :)

      Hapus
  6. sering mas ke pasar tradisonal untuk belanja sehari-hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti Pasar Tradisional di tempat Mbak Lidya masih makmur ya?

      Konon, perdagangan adalah jiwa sebuah negeri. Jika makmur pasarnya, makmur pula daerah tersebut :)

      Hapus
  7. disana pasarnya bersih ya.. disini banyak yang masih kurang bersih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, sama saja kok. Di atas ada sebuah paragraf seperti ini:

      Sama seperti Pasar Tradisional pada umumnya, di Pasar tanjung juga ada kita jumpai sudut-sudut yang kotor, becek, dan tidak sedap. Sangat jauh berbeda dengan Pasar Modern (swalayan) yang bersih, harum, ber-AC, dan lantainya mengkilat. Tapi keduanya memiliki daya tarik sendiri-sendiri. Orang cerdas akan berbelanja sesuai dengan kebutuhan, dan tidak diperbudak daya tarik.

      Terima kasih apresiasnya :)

      Hapus
    2. iya masbro... saya gak baca yang terakhirnya,, cuma liat sampai poto tomat ,,,
      dari gambar yang saya liat kok bersih ya...
      hehehe

      Hapus
  8. Asyik, mbak Prit jadi putri sendirian jalan-jalan di pasar..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya Mbak. Selalu begitu :)

      Hapus
  9. bgus bnget mas bro, pnuh inspiratif, seneng kalo baca tulisan-tulisan mas bro,

    BalasHapus
  10. kalau saya setiap hari minggu ke pasar nganter ibu.. :)
    memang kelihatannya pasar disana rapih dan bersih yah mas ?? kalau disini kurang mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama saja kok. Ada pojok-pojok tertentu yang becek dan sedikit kotor.

      Hapus
  11. ..teringat sekitar 12 tahun yg lalu sekitar jam 01 malam saya, dengan (alm) deny gogon, lalu prayit killing ground... berjalan melam2 di pasar tanjung tanpa sepeserpun membawa uang,, hanya membawa kantong plastik.. , saat itu kami hanya bisa "MENUNDUK".. bukan karena sedih.. tapi karena lagi nyari OTIS alias bucengan rokok yg masih tersisa tembakaunya.. , hingga sampai di area buah kami memungut sisa2 buah yg kulitnya masih tdk busuk trmasuk siwalan... , .. akhir perjalanan kami kembali ke alun2 utk meracik sekelompok otis yg berhasil kami pulung tadi.. , dengan berbbekal kertas cap semar yg sudah diniati.. kami pun melepas beban hidup.. ahh.. ternyata hidup ini mudah dan murah... (^_^)... SHINE ON !!!! btw.. klo ada tman2 yg punya produk daerah.. cekitout pasartanjung.com

    BalasHapus

acacicu © 2014