4.6.13

Tamasya Menyemai Cinta

4.6.13
Ketika para petani sedang menyemai bibit padi, mereka akan melakukannya dengan langkah mundur. Sebuah metode yang unik, berjalan ke belakang bukan berarti kolot dan lari dari kenyataan. Lebih dari itu, mereka sedang berusaha untuk meraih yang terbaik.

Hidup juga seperti itu. Agar bisa menikmati hari ini dan merencanakan masa depan, kita harus melakukannya dengan langkah mundur. Kembali ke sejarah, tentang langkah-langkah kecil yang telah kita lewati. Mustahil kita menjadi dewasa jika tidak pernah melewati tahap masa kecil.

Tulisan ini juga dimulai dengan langkah mundur. Dimulai pada 31 Mei 2013. Saat itu, saya, Prit, Mungki, Donny, dan Faisal, berjalan-jalan menikmati sore di deretan toko dan gang-gang kampung, di pusat kota kecil Jember.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir dulu di Toko Jimmy Sport (JL. Sultan Agung 160 - telp. 85857), lokasinya tak jauh dari jembatan penyeberangan Jompo. Di toko inilah Mas Mungki membeli gitar kecil untuk Ken, buah hatinya.

Mas Mungki membeli gitar kecil untuk putranya

Tampak dalam foto, wajah Mas Mungki begitu sumringah, sebab dia telah menemukan gitar kecil yang cocok untuk Kenzie. Wajah cerianya begitu cepat menular. Menatapnya, kami juga ikut-ikutan bahagia. Dalam hati saya berkata, "Sahabatku sedang menyemai cinta."

Saya berhasil menutup kisah bulan Mei dengan indah. Apakah perasaan serupa juga terulang di awal bulan Juni? Tentu saja. Hidup hanya sekali, ada baiknya jika kita imbangi dengan menyemai cinta sebanyak-banyaknya.

1 Juni 2013

Bahagianya bisa menemani kawan-kawan AKBER Jember bersafari sejarah. Itulah sebabnya, saya menulis sebuah artikel berjudul Kelas Pendek Akademi Berbagi Jember. Bersama mereka, saya merasa tidak sendirian dalam (belajar) merawat dan memperlakukan masa lalu.

Pak To berdiri di luar pagar situs Watu Macan - Jember

Pak To adalah warga lokal yang tinggal tak jauh dari situs Watu Macan, yang lokasinya ada di pelataran Kantor PUSLIT Kopi dan Kakao Jember. Menurut teori (setidaknya teori yang dianut oleh dunia akademis), Pak To tidak bisa dikatakan sebagai narasumber yang komprehensif atau bisa dipercaya. Namun siapa sangka, kami mendapatkan banyak kisah masa lalu dari beliau. Yang kami butuhkan hanyalah mengkritisi kembali data yang telah kami dapat, dan menuliskannya secara historiografi sederhana. Terima kasih Pak To, bagi saya anda adalah profesor yang senang menyemai cinta.

2 Juni 2013 - Soft Launching album empat Tamasya Band

Hari sudah menjelang maghrib saat tadi kami keluar dari studio. Ternyata diluar hujan, deras sekali. Alhamdulillaaah, seger. Saya, Prit, Bebeh, dan Yongki memilih untuk menerobos hujan, sebab ada sesuatu yang harus dikerjakan.

Syukurlah, sekarang sudah mulai reda. Saya dan kawan-kawan bersiap hendak meluncur ke SOKA Radio. Ya benar, akan ada soft launching album (Save The Tree #4) tamasya band, sedari pukul 20.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Diformat dengan sederhana; live musik, ngobrol-ngobrol, dan berbagi lagu pada siapa saja yang mau menerima dan mendengar karya kami.

Sesampainya di SOKA Radio.. Ada sesuatu hal diluar prediksi kami. SOKA sedang tidak bisa mengudara oleh sebab tower induknya rusak. Ketika satu persatu keluarga tamasya hadir di lokasi, kawan-kawan berinisiatif untuk tetap tampil, dalam keterbatasan, dan bagaimanapun hasilnya. Disela-sela setting panggung darurat tersebut, saya sempatkan untuk update status di jejaring sosial facebook.

"Mohon maaf dulur, tower induknya SOKA (yang ada di Rembangan) rusak. Jadi jika diakses di radio, hanya menghasilkan bunyi "Zzzzzt.." Namun begitu, kami akan tetap bernyanyi dan berbagi lagu. Off air. Terima kasih buat sedulur - keluarga tamasya yang support, mari kita nikmati keterbatasan yang indah ini. Salam!"


Soft Launching Tamasya

Akhirnya kami berdendang di ruang tengah SOKA radio yang tidak luas. Acara yang kecil, sederhana, namun begitu menyenangkan. Ketika sampai di jeda lagu, kami memanfaatkannya sebaik mungkin. Berbagi kisah tentang apa saja, mulai dari Gumuk atau bukit kecil, hingga masa depan Jember jika direvolusi dari Agraris menjadi industri (dan pertambangan).

Mas Giri berbagi kisah seputar Gumuk di Jember

Tampak dalam foto di atas (hasil jepretan Mas Donny Dellyar), Mas Giri sedang berbagi cerita seputar bukit kecil bernama Gumuk, yang manfaatnya pada lingkungan begitu dahsyat. Setelah Mas Giri, ada Cak Oyong yang juga berbagi cerita. Dia berkisah tentang proses Sekolah bermain, sengaja didirikan di areal Gumuk Kerang - Jember. Hmmm, mereka orang-orang hebat yang inspiratif, yang tak pernah bosan menyemai cinta.

Kebersamaan membuat kami bahagia. Ibaratnya sapu lidi yang masing-masing lidinya saling berpelukan, seperti itulah suasana soft launching album empat tamasya yang bertajuk Save The Tree 4 - Tamasya band. Teristimewa buat Bunda Lahfy dan sahabat blogger yang lain, bisa mendengar dan mengunduh lagunya di SINI.

Tamasya Menyemai Cinta

Ketika melihat Mas Mungki membeli gitar untuk buah hatinya, ketika mendapati Pak To tulus berbagi kisah pada kawan-kawan Akademi Berbagi Jember, ketika mendengarkan tutur kata dari Mas Giri dan Cak Oyong, ketika kami bernyanyi di ruang sempit namun disupport oleh kawan-kawan, saya jadi terinspirasi untuk menjalani hidup seperti mereka. Tulus. Ya, hanya dengan satu kata itu saja. Betapa bahagianya jika kita bisa menjalani hari-hari dengan tulus, setulus warga di sekitar rumah saya manakala mereka mengantarkan botol kosong.

Tamasya bersama botol kosong

Sedikit Tambahan

Biji-biji ketulusan merekalah yang saya pulung dan kumpulkan, untuk kemudian saya adopsi di perjalanan rumah tangga. Berharap bisa menyemainya, untuk kemudian akan kami tanam dimanapun kami ingin menanamnya. Alangkah indahnya jika satu diantaranya akan mengembang dan menjadikannya sedekah jariyah yang tak berhenti mengalir. Amin Ya Robbal Alamin.

Bagaimanapun, saya dan Prit terbilang pasangan baru. Adalah tugas kami untuk banyak-banyak belajar dari orang-orang sekitar, dan dari para sahabat blogger.

Sudah dulu ya, saya dan Prit mau nonton film dulu. Semoga kita tidak lupa bahwa nonton film berdua, jalan-jalan menikmati kerlip lampu, dan atau hanya berbincang berdua saja, itu adalah cara murah lagi sederhana untuk tamasya menyemai cinta.

Salam sayang dari saya..

Menyemai Cinta

15 komentar:

  1. Menyemai Cinta yang indah.

    Semoga di Bulan Juni ini mas Bro juga kawan kawan yang lain dapat merasakan bahagianya Menyemai Cinta.

    Selamat untuk Tamasya

    Semoga kian sukses selalu.

    Saya suka semua lagu-lagu tamasya, yang paling suka Damaikan Hatimu.

    Memang lagu itu bak mendamaikan hatiku.

    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Robbal Alamin, makasih ya le.

      Hapus
  2. Keren mas bro, sebenarnya kita bisa belajar pada orang2 disekeliling kita, tanpa melihat siapapun.

    Sukses...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Insan mengingatkan saya pada kalimat sakti yang pernah diucapkan Ali bin Abi Thalib a.s, “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan."

      Maturnuwun Mas :)

      Hapus
  3. Ketulusan memang membawa kedamaian ya mas Hakim. Trimakasih untuk partisipasinya. Tercatat sebagai peserta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, sudah tercatat sebagai peserta. Semoga sukses GA-nya ya Mbak :)

      Hapus
  4. hidup penuh kasih sayank dengan senyum kecerian....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senyum dulu dong Gam, hehe... Bagaimana kabar Aceh?

      Hapus
  5. Si Gumuk hadir kembali dalam perbincangan malam itu ya, Opa Haki. :D
    Pantas saja menyemai, lha kegiatannya membuat suasana hangat begituuh.

    Sukses untuk tamasya dan kontesnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suasana akan lebih hangat lagi semisal bisa manggung bareng Ceris Band, hehe.. Ohya, ini link lagu untuk Gumuk. Silahkan meluncur ke SINI.

      Makasiiih...

      Hapus
  6. waduh SOKA RAdio kok trouble gitu, ntar aku tanya si pemilik deh hehehe.
    Selamat untuk tamasya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada Mbak Imelda.. Hehe, makasih Mbak :)

      Hapus
  7. Semoga penuh cinta dan tumbuh dengan biji-biji cinta :)

    BalasHapus
  8. datang berkunjung...

    memang cinta itu universal sekali ya, diaplikasikan dalam hal apapun, cinta selalu indah. selamat menyemai cinta mas bro....

    BalasHapus
  9. Kuncinya satu kata ya, Mas Bro: Tulus.
    Suka banget saya gaya menulisnya, Mas :)

    BalasHapus

acacicu © 2014