27.7.13

Cerita Tentang Cak Imam

27.7.13

Kemarin, di jejaring sosial facebook saya tuliskan sekelumit kisah tentang seorang sahabat bernama Khoirul Imam atau biasa dipanggil Imam. Lelaki asal Kota Lamongan kelahiran 9 Februari 1981 ini beristrikan seorang perempuan sederhana asal Jember, Yuliana. Tak terduga, ternyata update status tersebut mendapatkan banyak apresiasi, salah satunya dari Mbak Hanila PendarBintang.

Mbak Hani mengusulkan untuk memindahkan tulisan tersebut di acacicu. Tentu saja saya tidak berkeberatan. Baiklah, ini dia cerita tentang Imam, dengan versi tulisan yang berbeda. Untuk versi facebook, bisa dilihat di kolom spoiler.

Cerita Tentang Imam Versi Facebook:
Lelaki asli Lamongan yang berjualan ayam goreng lalapan di Jalan Jawa - Jember ini bernama Imam. Dia sudah berjualan di sana sejak tahun 2003. Istri Imam adalah perempuan sederhana asal Jember. Mereka berdua dikaruniai seorang anak lelaki bernama Amin yang sekarang sudah kelas empat SD.

Perkenalan saya dengan Imam dimulai pada 2003, di hari pertama dia membuka lapak. Waktu itu Imam kebingungan untuk mendapatkan air. Akhirnya setiap sore dia mengambil air di kran depan sekretariat SWAPENKA. Itu sebelum gerbang kecil Fakultas Sastra ditutup.

Sudah lama sekali saya tidak nongkrong di warungnya Imam. Baru tadi sore saya, Prit, Opik dan Mungki, menyempatkan waktu untuk berbuka puasa di sana.

Warung Imam masih tetap ramai didatangi pelanggan. Sirkulasi pembuangan sampahnya masih tetap seperti dulu. Bersih. Imam juga tergolong pedagang yang ramah.

Salut dengan daya survive Imam dalam berniaga. Dulu saya tidak menyangka jika lelaki yang pandai memasak ini adalah lulusan STM Lamongan angkatan 1999.

Mungkin ada diantara anda yang pernah mencicipi masakan Imam?


Imam, begitu biasanya saya memanggilnya. Saya tidak tahu siapakah nama lengkapnya, karena saya memang tidak pernah menanyakannya. Yang saya tahu, Imam adalah lelaki asal Lamongan, lulusan STM tahun 2000. Ia lulusan STM Bojonegoro Jurusan Otomotif.

Setelah lulus dari STM, Imam tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Dia lebih senang menggali pengalaman sebanyak-banyaknya dengan cara menerjunkan diri di dunia masyarakat luas. Imam pun bekerja apa saja. Asal ada lowongan dan kesempatan, dia sikat.

Perkenalan Imam dengan kota kecil Jember dimulai pada awal abad millenium. Saat itu dia sedang mengunjungi kontrakan kawan-kawan Lamongan-nya yang kuliah di Jember. Nah, letak kontrakan ini dekat sekali dengan rumah seorang gadis yang sekarang menjadi istrinya, Yuliana, perempuan kelahiran tahun 1985. Itulah saat-saat dimana benih cinta mulai tumbuh. Siapa yang menyangka jika benih cinta mereka berdua sampai juga di pelaminan, hingga akhirnya melahirkan kuncup buah cinta bernama Hilal Al Amin, si Imam yunior.

Setelah menikah, Imam memutuskan untuk survive di Jember. Melihat keadaan pasar Jember yang terbuka pada berbagai produk kuliner, Imam memberanikan diri untuk membuka lapak makanan di areal kampus, tepatnya di Jalan Jawa Jember, di seberang kantor BKSDA. Waktu itu, yang membantu Imam mencarikan tempat adalah Bapak Amsadi, seorang warga lokal yang tinggal di Jalan Jawa Gang 8 Jember.

Begitulah, perkenalan saya dengan Imam dimulai pada 2003, di hari pertama dia membuka lapak. Ketika itu Imam kebingungan untuk mendapatkan air. Akhirnya setiap sore dia mengambil air di kran depan sekretariat SWAPENKA. Itu sebelum gerbang kecil Fakultas Sastra UJ ditutup.

Tak terasa, sudah sepuluh tahun Imam survive dengan pekerjaan yang dicintainya, menyediakan makanan bagi mereka yang lapar. Si kecil Amin sekarang pun juga sudah kelas 4 SD. Benar-benar tidak terasa, waktu berjalan tanpa bisa dicegah.

Menu Lalapan Merpati Yang Tak Pernah Tersedia

Di kalangan mahasiswa, Imam akrab dipanggil Cak, sesuai dengan tulisan di spanduk kain yang menutupi lapaknya. "Lalapan Ayam Goreng Cak Imam Lamongan," kalau tidak salah begitu isi tulisannya. Sebenarnya, Imam tidak hanya menyediakan lalapan ayam goreng. Menu-menu yang lain juga tersedia di sini. Mulai dari ayam krispy hingga jamur krispy.

Ada yang aneh. Di spanduk ada tertulis menu lalapan merpati. Namun, setiap kali ada yang pesan, Imam selalu berkata, "Maaf, sudah habis." Haha, lha wong memang nggak ada. Syukurlah, sekarang menu merpati sudah dicoret dari daftar.

Penjual Lalapan Yang Tak Biasa

Imam itu tipe pedagang sejati. Dia selalu tulus dalam melayani setiap pembeli. Padahal tidak semua pembeli akan membayar kontan. Tidak sedikit dari para mahasiswa yang ngutang di sana. Saya sendiri dulu juga sering bon ke Imam, haha..

Tidak hanya itu, bagi sebagian besar mahasiswa, Imam adalah buku harian berjalan yang siap menerima curhat siapapun yang ingin berkeluh kesah. Keren ya, ada penjual lalapan yang menyediakan bahunya setiap saat pada pelanggan yang ingin curhat. Tapi hal ini tidak berlaku jika lapak Imam sedang ramai oleh pembeli.

Imam memang penjual lalapan yang tak biasa. Tidak sekedar tulus, dia juga sabar. Bahkan dia punya cara sendiri untuk menghadapi para preman lokal yang senang meminta sesuatu dengan paksa. Imam selalu memberikan apa saja yang diminta oleh para preman jalanan. Pada akhirnya, mereka tak lagi meminta sesuatu di lapak Imam sebab mereka sungkan. Sungguh manajemen yang aneh.

Sedikit Tambahan

Dulu ketika saya belum menikah dan ketika Prit masih khost di Jalan Halmahera I, setiap kali saya bepergian, entah saat menjadi bagian tim SAR ataupun hanya tamasya ke hutan, saya selalu menitipkan makan malam Prit ke Imam. Pembayarannya nanti setelah saya pulang. Tentunya, saya tidak pernah melupakan kebaikan Imam sekeluarga.
Selalu ada cinta untuk orang-orang yang bekerja dengan hatinya | Tamasya Band

24.7.13

Masuk Surga Lewat Dapur

24.7.13

Berpose di dapur rumah Mas Gendon, Sarongan - Banyuwangi

Hal lain yang saya rindukan ketika bertamasya ke desa-desa tepian hutan adalah nongkrong di dapur sambil bercengkerama dengan tuan rumah. Seperti yang kita tahu, dapur warga desa biasanya luas, ada aroma khas tungku, kadang juga ada kursi dari bambu. Sederhana, indah, dan layak kita rindukan.

Antara tanggal 17 hingga 19 Juli 2013 yang lalu, saya, apikecil, dan beberapa kawan, jalan-jalan ke Desa Sarongan, sebuah wilayah di Kabupaten Banyuwangi yang berbatasan langsung dengan hutan Taman Nasional Meru Betiri, dan beberapa perkebunan. Kita melebur dengan beberapa warga, tinggal di rumah mereka, dan banyak-banyak belajar ditengah-tengah masyarakat.

Sekembali dari Desa Sarongan, acara selanjutnya adalah packing botol-botol kosong di rumah panaongan. Lalu, pada 21 Juli 2013 botol-botol untuk acara CLBK (Cangkruk'an Lewat Botol Kosong) tersebut terjual dengan pendapatan 200.500 rupiah. Total keuangan CLBK adalah 1.780.500 rupiah. Amin, semoga bermanfaat.

Di hari yang sama, 21 Juli 2013 (malam hari), saya dan istri kembali jalan-jalan. Kali ini kami memilih untuk bermalam di Desa Suci - Panti, masih di wilayah Jember. Indah sekali bisa belajar di rumah keluarga Dodon. Tentu saja tempat favorit saya masih di dapur. Dapur adalah universitas alami. Setidaknya, itu adalah ilmu yang saya dapatkan dari desa-desa di tepian hutan Meru Betiri.

Biasanya, dapur warga desa tepian hutan arealnya luas, lebih luas dari ruang tamu. Meskipun rata-rata sudah memiliki kompor gas, tapi mereka masih setia dengan tumang atau tungku berbahan bakar kayu. Lantainya tidak bersemen, melainkan hanya tanah yang sudah padat.

Tak jauh dari dapur, mudah kita jumpai pekarangan kecil yang ditumbuhi aneka keperluan dapur. Misalnya, tumbuhan rempah-rempah, lombok, sirih, tanaman obat-obatan, dan lain sebagainya.

Ada lagi ding. Sering saya jumpai, di dekat dapur mereka ada sebuah kandang unggas. Sisa makanan biasanya akan dijadikan pakan ternak, atau menjadi pupuk kandang. Masalah air juga menjadi prioritas. Hampir selalu, lokasi sumur ada di dekat dapur. Akan ada juga daerah serapan air seperti blumbang atau kolam ikan. Bisa kita bayangkan laju perputaran kehidupan di sekitar dapur.

Itulah kenapa, saya berpikir bahwa dapur para warga desa tepian hutan adalah sebuah universitas alami. Bisa dikatakan, untuk mengetahui karakter tuan rumah, kita cukup melihat dari dapurnya. Begitulah, dapur adalah pusat kebudayaan keluarga, selain kamar pribadi.

Sementara ini, dapur milik saya dan apikecil tak seluas dan seharmonis seperti di atas. Jadi, ketika ada yang bertanya tentang satu impian yang ingin sekali saya wujudkan di bulan ini, andai Ramadhan kali ini adalah bulan terakhir untuk saya, maka saya akan menjawab mantab. Saya ingin memiliki dapur yang seperti itu.

Ya, saya ingin memiliki dapur yang seperti itu, yang dekat dengan pekarangan, yang ditumbuhi aneka kebutuhan keluarga, yang ada daerah serapan airnya, yang ada kolam ikannya (tak jauh dari dapur), yang berdaya dan memberdayakan. Saya yakin, tak akan ada makanan yang tersisa sebab sudah ada peta konsep untuk perputarannya.

Ketika ada sedulur blogger yang kopdar di rumah, saya akan menjamu mereka dengan hasil bumi yang dirawat dengan tangan saya sendiri. Ketika ada seorang pejalan yang lelah, haus dan kelaparan, saya akan mengajaknya untuk berteduh di panaongan, untuk kemudian membawanya ke dapur.

Indah sekali jika bulan ini saya bisa mewujudkan dapur yang seperti itu. Yang berdaya dan memberdayakan. Yang bisa membawa saya sekeluarga ke surga. Bagaimana, indah sekali bukan? Itulah kenapa artikel ini saya beri judul, Masuk Surga Lewat Dapur.

Sedikit Tambahan

Mari kita sama-sama berdoa, semoga diberi umur yang panjang lagi bermanfaat, dan bisa menggapai mimpi di dunia. Dengan begitu, kita bisa memeluk surga dengan mesra. Amin Ya Robbal Alamin.


17.7.13

Serat Ijuk: Naturalia Non Sunt Turpia

17.7.13

Bapak Pencari Ijuk

Namanya juga Dusun Blog Aren, pastilah di atas tanahnya tumbuh pohon-pohon aren. Jika tidak, ngapain juga dinamai dengan Blog Aren? Sayang, ketika saya berkunjung ke sana, kesan pertama adalah kering kerontang. Pepohonan tak selebat yang saya bayangkan. Syukurlah, di sana sini masih mudah saya jumpai sawah hijau membentang. Lebih bersyukur lagi, ketika saya bertemu dengan Bapak pencari ijuk (maaf saya lupa nama beliau). Ada ijuk ada pohon aren, sebab ijuk adalah bagian dari pohon aren. Nah, ini dia kabar baiknya.

"Sekarang untuk mencari ijuk, kita harus masuk kawasan hutan Mas," kata salah seorang penduduk dusun Blog Aren. Hmmm, ternyata pohon aren sudah sulit (tidak ada) di dusun Blog Aren. Pohon ini hanya tumbuh dan survive di kedalaman hutan (masuk wilayah Taman Nasional Meru Betiri).


Si Licin (adek saya di Pencinta Alam) sedang bertanya seputar ijuk

Ijuk Adalah Serat Alam Terbaik Nusantara

Saya masih ingat saat masih kuliah dulu, salah seorang Dosen Ilmu Sejarah (kalau tidak salah, Bapak Soendoro) pernah berkata begini. Bahwa kerajaan-kerajaan di nusantara tempo dulu lebih banyak menggunakan atap dari serat ijuk ketimbang memanfaatkan media lain. Selain lebih alami dan sesuai dengan kondisi alam juga budaya ketimuran, atap dari serat ijuk lebih tahan lama. Ternyata apa yang beliau katakan benar adanya.

Serat berwarna hitam yang dihasilkan dari pohon aren ini memang istimewa. Bagaimana tidak istimewa, lha wong atap ijuk bisa bertahan hingga ratusan tahun.

Keistimewaan serat ijuk tidak hanya terletak pada sisi keawetannya saja. Masih ada lagi, serat ini tahan terhadap asam dan garam air laut. Maksudnya, ijuk tidak mudah lapuk oleh asam dan garam air laut. Pantaslah jika orang-orang Sasak (dan wilayah pesisir di negeri ini) sampai sekarang masih memanfaatkan ijuk, tidak hanya untuk atap, tapi juga untuk tali.

Satu kabar baik lagi, ijuk adalah serat alami yang mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan oleh rayap tanah. Ssifat ijuk yang elastis, keras, dan tahan air, menyebabkan bahan alami ini sulit dicerna oleh organisme perusak seperti rayap.

Waaah, keren!


Saya Numpang Eksyen

Di sebuah artikel, pernah juga saya baca bahwa ijuk adalah bahan alami yang bisa dijadikan sebagai tameng atau perisai radiasi nuklir. Sayang sekali, saya tidak bisa menjelaskan bab ini dengan bahasa yang sederhana. Mungkin ada yang lebih paham? Help me.

Renungan Ringan

Betapa sulitnya membantah tingginya yang pernah dibangun oleh nenek moyang kita, meskipun dengan kemasan yang sederhana. Begitupun, kita masih terjebak dengan olah bahasa, mengatakan 'KUNO' pada hal-hal yang dianggap ketinggalan jaman, dan memberi label 'KEMAJUAN' pada setiap hal yang bersifat modern.

Sebenarnya, kemajuan itu apa sih? Untuk satu kata ini saja, kita masih belum satu kesepemahaman. Kita masih mudah sekali terjebak dengan selera negara-negara (yang dianggap) besar. Bahwa maju adalah definisi dari wilayah yang penuh lampu-lampu taman dan papan reklame, plastik di sana-sini, grusa-grusu, dan entah ciri-ciri penyerta apa lagi.

Maju menurut saya adalah tenteram, damai, makmur, sentosa, sejahtera, harmonis, memiliki hubungan yang romantis dengan alam, dan itu semua saya dapatkan di desa-desa tepian hutan yang masih belum banyak tersentuh oleh modernisasi.

Alangkah indahnya jika kita bisa berdansa dengan alam raya, seperti yang dulu pernah dipersembahkan oleh nenek moyang kita.

Sedikit Tambahan

Berbahagialah jika di sudut rumah anda masih ada sapu dari ijuk. Sebab, mau dibantah dari sisi manapun, sapu ijuk lebih indah daripada sapu sintetik seperti sapu dengan bahan plastik.

Naturalia non sunt turpia, bahwa segala hal yang alami tidak memalukan.

Catatan ini saya tuliskan juga di kompasiana dengan judul yang sama. Bisa dibaca di sini:

Serat Ijuk: Naturalia Non Sunt Turpia.

13.7.13

Dusun Itu Bernama Blog Aren

13.7.13
Blog Aren. Dusun ini masuk kawasan Desa Sanenrejo Kecamatan Tempurejo, sisi utara Taman Nasional Meru Betiri. Mendengar namanya, saya jadi ingat Jurnal Evi Indrawanto dengan produk gula arennya yang kenikmatannya sudah saya buktikan sendiri.

Sayang sekali, suasana dusun Blog Aren tak senikmat Gula Aren milik Mbak Evi. Sejauh mata memandang, ada terlihat punggungan-punggungan bukit yang minim pepohonan. Mirip sekali dengan bukit teletubbies. Hijau tapi kering. Hijau tapi gundul. Hijau tapi tidak menjadi daerah resapan air yang baik.


Blog Aren

Hijau tapi bukan hijaunya hutan, melainkan hijaunya rumput dan ilalang. Pepohonan hanya tinggal beberapa saja, itupun dengan diameter yang sebesar pinggang saya. Sedih? Tentu saja. Tapi syukurlah, ketika kami semakin masuk di kedalaman hutan, masih saya temui pohon-pohon besar yang gagah berdiri. Alhamdulillah. Lebih senang lagi saat di dalam hutan saya jumpai beberapa ekor capung, indah sekali.

Sesekali saya berpapasan dengan masyarakat lokal yang sedang mencari hasil hutan, mulai dari pencari madu hingga mereka yang mencari bambu bubat. Selama pengalaman keluar masuk hutan, baru di wilayah inilah saya berjumpa dengan banyak orang yang melewati setapak hutan. Biasanya hanya satu dua orang saja, kadang-kadang malah tidak bertemu siapapun.

Yang membuat saya sedih, jauh di kedalaman hutan masih mudah saya jumpai sampah makanan ringan (snack). Ah, benar-benar bukan kabar baik.


Saat di tepian hutan

Tujuan saya jalan-jalan di dusun Blog Aren tidak lain adalah menemani Manda dan Edo untuk mengumpulkan sampel data, sebelum mereka berangkat ke Jakarta, mempresentasikan sesuatu. Dalam jalan-jalan kali ini, saya tidak sendirian. Ada juga Prit, Opic, Mungki Krisdianto, Sodung, Faisal Korep, Licin, Mas Giri sekeluarga, serta Manda dan Edo.

Kami membaur dengan masyarakat setempat, melakukan segala sesuatu seperti yang dilakukan oleh warga. Mulai dari mandi, cara berpakaian, tutur kata, dan semuanya. Malam harinya, kami menginap di rumah keluarga Pak Netran, kenalan Mas Giri yang rumahnya ada di ujung sendiri, di tengah-tengah ladang.

Memang, wisatawan yang baik adalah dia yang tidak sadar jika sedang berwisata, dan mau berpenampilan selayaknya warga lokal. Ini yang seringkali kita lupakan. Menjadi pelancong, datang ke suatu tempat, jeprat-jepret, lalu pulang. Alhasil, kita gagal menangkap esensi keindahan yang dimiliki suatu tempat tersebut.

Terima kasih warga Blog Aren, terima kasih keluarga Pak Netran, Pak Alip dan Pak Topan (pegawai TN), dan tentu saja, terima kasih hutan. Salam Lestari!

10.7.13

Kaos Dari Mbak Dey

10.7.13

Waktu itu, 30 Juni 2013, ada opening Sekolah Bermain. Keluarga Tamasya (Band) dan Sanskerta Etnik Musik turut tampil berdendang di opening tersebut. Saya menuliskannya di sebuah artikel berjudul, Belum Ada Judul. Pada kesempatan ini, saya mengenakan kaos oblong bertuliskan Bandung - Indonesia.

Di beberapa acara yang lain, saya juga mengenakan kaos ini. Wajar jika akhirnya ada yang mencandai saya dan berkata, "Sampeyan kok ndak pernah ganti baju Mas?" Haha.. Saya juga tidak tahu. Kaos ini tak pernah lama nongkrong di jemuran. Mungkin selama bulan Juli, kaos Bandung ini tak pernah sempat parkir di almari.


Bahkan saat kemarin masuk hutan Meru Betiri, kaos ini masih setia melekat di tubuh saya. Selama di dalam hutan, saya hanya berganti baju pada saat-saat tertentu saja. Ada apa dengan baju ini? Kenapa dia terlihat begitu istimewa? Apakah karena pemberian dari Mbak Dey? Entahlah. Saya hanya merasa nyaman saja saat mengenakannya. Lagian, kaos ini ngisep kringet dan tidak membuat sumuk.


Sesaat setelah keluar dari hutan

Kaos oblong memang nyaman di segala situasi. Kalau hawa sedang dingin, kita hanya butuh melapisinya dengan jaket atau krukupan sarung. Cobalah sekali-sekali jalan-jalan ke desa yang berbatasan dengan hutan, lalu tinggal di sana barang satu dua hari, dan mengenakan kaos yang itu-itu saja. Mungkin anda akan lebih mudah bersosialisasi dengan warga setempat. Karena kaos oblong tidak membuat kita berjarak dengan masyarakat lokal.


Kaos oblong akan lebih keren jika dikenakan di hutan. Serasa seperti Marlon Brando dalam pentas teater A Street Named Desire tahun 1947. Terima kasih ya Mbak Dey, kaosnya keren.

Sedikit Tambahan

Foto Opening Sekolah Bermain by Nano Tamasya. Foto-foto yang lain by Faisal Korep Tamasya.

Marhaban Ya Ramadhan, mohon maaf lahir dan bathin..

3.7.13

Capung: Harimau Kecil Yang Bersayap

3.7.13

Odonata atau Capung | Dokumentasi Faisal Tamasya

Sebelum menjadi perumahan, dulu di belakang rumah saya terhampar areal persawahan. Indah sekali, seindah hamparan permadani namun dengan warna alami. Di sanalah saya bermain lumpur, mengejar layang-layang, dan dikejar seorang petani yang sawahnya rusak (baru tanam padi) sebab saya menerobos ke tengah sawah, hanya gara-gara mengejar layang-layang. Oh Pak tani, maafkan saya.

Diantara sejuta kenangan akan masa kecil, salah satunya adalah kenangan saya bersama capung. Seset, begitu biasanya saya menyebut capung dalam bahasa lokal. Ada juga yang menyebutnya odonata, atau naga terbang (dragon-fly). Si Adi (teman masa kecil) malah punya nama khusus untuk capung. Dia bilang, capung adalah harimau kecil yang bisa terbang. Haha.. Tapi memang ada juga sih, capung harimau (sisit macan). Ada yang warnanya loreng perpaduan ijo hitam, ada pula yang kuning hitam, mirip sekali dengan harimau. Capung loreng kuning hitam ini biasa dikenal dengan capung tombak loreng atau ctinogomphus decoratus.

Saya rasa, bisalah kita menyebut capung sebagai harimau kecil yang bersayap.

Banyak sekali nama-nama capung, jadi kalau saya salah sebut (untuk ctinogomphus decoratus) mohon dikoreksi. Menurut Jan Van Tol, National Museum of Natural History Naturalis, Leiden, jumlah capung di Jawa yang sempat terdata adalah 122. Itu masih di Jawa lho.

Lanjut ke kisah di masa kecil..

Ketika musim capung, setiap sore areal di belakang rumah saya, di sekitar rel kereta api, penuh dengan capung terbang. Penuh sekali, mungkin ribuan. Jika sudah begitu, biasanya saya akan melakukan satu kebiasaan buruk. Mengambil sebatang lidi dan menebas-nebaskannya di udara seperti ketika Zorro memainkan pedangnya. Alhasil, akan ada satu dua capung yang terkapar di tanah. Ini kebiasaan buruk dan keji, abaikan :)

Purnama demi purnama berganti, saya tumbuh semakin besar. Tiba-tiba saya merindukan saat dimana saya menyabet capung di sore hari, atau ketika berusaha menangkap capung yang sedang parkir di helipet alami. Untuk bisa menangkap capung dengan tangan kosong, kita butuh konsentrasi tingkat tinggi, apalagi jika dilakukan di bawah sinar mentari yang terik.

Ah, ternyata keadaan sekitar kita tak seindah dulu. Betapa sulitnya menemukan si 'harimau kecil yang bersayap' ini. Tidak ada lagi hujan capung di sore hari. Kalaupun ada, hanya ada satu dua saja dan itu sangat jarang. Langka. Kapan ya terakhir kali saya menatap capung?

Indikator Air Yang Alami

Beberapa ilmuwan sependapat jika capung adalah salah satu serangga purba. Serangga golongan odonata ini berjumlah lebih dari 5000 spesies berbeda yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Mirip seperti kupu-kupu, capung juga mengalami fase metamorfosis, tapi tidak sempurna. Dimulai dari telur kemudian menjadi larva dan akhirnya menjadi capung dewasa yang siap untuk terbang.

Capung berhubungan erat dengan air. Kenapa? Sebab capung butuh air. Pernahkah anda melihat capung berada di atas permukaan air? Saya pernah, sering malah. Tapi itu dulu, saat masih bocah, haha. Kenapa capung melakukan itu? Sebab di permukaan air itulah capung menaruh telur-telurnya yang kemudian akan menetas menjadi larva.

Masa hidup capung tidak panjang. Dia bermetamorfosis dari larva (atau nimfa / serangga yang hidup di dalam air) hanya untuk menemukan pasangan agar bisa melangsukan perkawinan dan akhirnya bisa melanjutkan keturunan. Bisa dikatakan, serangga ini menghabiskan masa hidupnya yang panjang saat menjadi larva / nimfa, bisa sampai tiga tahun. Sedangkan usia capung dewasa yang bersayap hanya beberapa minggu saja.

Tidak ada air bersih sama dengan tidak ada capung

Secara alamiah, capung dapat dijadikan indikator air. Jika populasi capung di suatu daerah masih sehat, maka berbahagialah, sebab itu pertanda bahwa air di daerah tersebut tidak (belum) tercemar. Pertanda alami ini juga bisa dijadikan indikator air yang baik bagi kita, mahluk Tuhan bernama manusia.

Kecil Tapi Seganas Harimau Jawa

Capung dewasa (yang sudah bisa terbang) adalah predator alami untuk nyamuk. Saat masih menjadi larva, ia adalah pemakan plankton-plankton, ikan-ikan kecil, bahkan sesama larva. Larva kuat akan memakan yang lemah.

Harimau bersayap ini akan menjadi sangat ganas ketika menjaga teritorialnya sendiri. Capung yang menjaga daerahnya tidak segan-segan bertikai dengan capung lain yang coba-coba untuk merampas teritorial tersebut. Wah, ganas juga ya. Pantesan dulu saya pernah digigit oleh capung macan.

Capung Yang Gesit dan Sulit Ditangkap

Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, butuh konsentrasi tingkat tinggi untuk menangkap capung. Kenapa? Sebab capung memiliki mata yang besar dengan ribuan lensa yang terdiri dari berbagai segi, seperti mata yang dimiliki lebah. Fasilitas ini menjadikan capung sebagai salah satu hewan paling waspada, dia bisa memandang sekitarnya dari segala arah.

Akan sangat sulit sekali menangkap capung dengan tangan kosong, bahkan meskipun kita telah mengendap-endap dari belakang. Tapi dulu saya kok sering berhasil menangkap capung ya? Hehe.. Mungkin karena saya masih bocah. Kita tahu, anak kecil terbiasa lebih fokus pada hal yang dia kerjakan, dibandingkan dengan orang dewasa.

Apakah Helikopter Meniru Capung?

Lagi-lagi, ini hanya pemikiran saya di masa kecil. Apa iya, helikopter tercipta begitu saja? Ah tidak mungkin. Kata orang bijak, tidak ada yang baru di bawah sinar mentari. Yang ada hanya pengulangan dan pengulangan, peniruan dan modifikasi. Apa mungkin helikopter meniru capung dalam melawan gravitasi? Mungkin saja. Tapi saya tidak paham benar. Barangkali ada sahabat blogger yang lebih paham?

Seperti yang kita tahu, sayap capung bagian depan lebih panjang dibandingkan dengan sayap bagian belakangnya. Bentuk inilah yang membuat capung bisa dengan mudah terbang melesat hingga 50 km per jam. Capung juga dengan mudah bisa melakukan berbagai aksi di udara, jauh lebih hebat dari manuver angkatan udara kelas dunia. Saya mengerti betul tentang aksi mereka, sebab ini tontonan saya sejak kecil. Tapi itu dulu, haha.. Lagi-lagi 'dulu.'

Cara Mudah Mencintai Capung

Jika anda memiliki perasaan yang sama seperti saya, yaitu merindukan kehadiran capung di sekitar kita, maka kita harus melakukan sesuatu. Apakah sulit? Tidak juga. Hal tersederhana yang bisa kita lakukan adalah menjaga habitatnya.

Capung tidak akan sudi menginjakkan kakinya di perairan sawah yang menggunakan jasa pestisida untuk memupuk tanamannya. Maka sudah waktunya kita kembali ke pupuk alami.

Capung tidak akan betah berlama-lama di sebuah sungai yang airnya sudah tercemar juga penuh sampah. Kalaupun memaksakan diri untuk menitipkan telur di sana, maka peluang untuk menjadi larva akan sangat kecil. Kalaupun berhasil, hidup larva akan terluntaa-lunta. Kasihan, padahal masa hidup terpanjangnya ya pada saat menjadi larva ini, bukan pada saat menjadi capung dewasa yang telah bersayap. Dengan tidak membuang sampah di sungai, itu adalah berita baik untuk dunia capung.

Jika lingkungan kita alami, tanpa bahan kimia, atau kalau perlu kita buatkan kolam buatan hanya untuk mengundangnya, maka tunggulah. Akan ada saatnya sang harimau bersayap datang untuk memperlihatkan kecantikannya.

Untuk para perindu capung, yuk kita mencintai habitat si harimau bersayap.

Salam Lestari!

2.7.13

Waktuku Hampir Habis

2.7.13
"Usiaku sudah 63 tahun, rasanya masih ada satu hal yang harus aku lakukan," kata seorang Kakek pada cucunya.

"Apa itu Kek?"

"Dulu aku dan nenekmu pernah menanam bibit pohon Nyamplung di Lereng Selatan Pegunungan Hyang. Setiap kali ada kesempatan, kami menjenguk dan merawatnya. Sepeninggal nenekmu, lama sekali aku tak menjenguk pohon itu"

Esok harinya..

"Ayo Kek kita berangkat."

Dan sang kakek pun tersenyum.

1.7.13

Belum Ada Judul

1.7.13
Bisa dibilang, istri saya jatuh cinta pada lagu-lagu Iwan Fals sejak ia masih ada dalam kandungan. Jadi wajar ketika mendengar Iwan Fals akan menghibur masyarakat Jember pada 29 Juni 2013, dia berharap bisa berjumpa meski hanya sejenak.

Jumat, 28 Juni 2013

"Mas, besok pagi ada acara Plant More Tree with Iwan Fals, di Gedung Baru Fakultas Teknik Universitas Jember. Sebelum acara penanaman pohon, ada sesi tanya jawab. Ikut yuk Mas." Saya yang baru datang Jum'atan cuma bisa bengong sambil memandang wajah Prit. Mendapati saya hanya terbengong-bengong, Prit merengut. Melihat tingkahnya, ekspresi wajah saya berubah dari bengong ke tertawa.

Esoknya, Sabtu - 29 Juni 2013

Saya mbangkong alias bangun tidur di siang hari. Lalu saya teringat ajakan Prit untuk menceriakan acara 'Plant More Tree with Iwan Fals.' Terlewatlah sudah, pasti hari ini tak ada secangkir kopi untuk saya. Aneh, yang saya dapati justru senyuman, secangkir kopi, dan aroma lezat yang datangnya dari dapur. Oalah, ternyata dia sudah ketemuan sama Iwan Fals, pantas sumringah. Syukurlah kalau begitu, hidup saya tidak jadi sengsara.

"Aku nggak bisa ikut acara penanaman pohon dan sesi tanya jawab Mas, soalnya masih ada urusan di kampus. Sepulangnya, aku langsung minta antar Bencot untuk nyamperin Bang Iwan di Aston Hotel," kata Prit.

Dia terlihat bahagia, auranya memancar kemana-mana. Hari itu Prit hiperaktif, melakukan banyak hal mulai dari bersih-bersih kamar hingga mengelap kompor. Saking bersihnya dia mengelap kompor, sampai-sampai saya bisa berkaca di pelapis kompor, hehe.

Semangat Prit yang berkobar-kobar lekas menular. Saya jadi ikut-ikutan bersih-bersih botol plastik bekas air mineral yang berserakan di rumah. Lagipula, botol-botol itu memang sudah waktunya dijual. Semua kawan-kawan yang ada di panaongan turut membantu.

Ternyata acara ringkes-ringkes botol kosong itu berlangsung hingga malam hari. Sementara saya dan kawan-kawan beres-beres botol, berjarak tiga kilometer dari rumah saya (di Stadion Noto Hadinegoro), Bang Iwan sedang mendendangkan lagu-lagu legendarisnya, plus lagu baru di album Raya, yang baru saja launching pada 25 Juni 2013 (di RollingStone Cafe - Jakarta).

Bermain di Sekolah Bermain

Minggu, 30 Juni 2013

Seorang sahabat bernama Cak Oyong sedang menggagas berdirinya sekolah alam yang dia namai dengan Sekolah Bermain, dan opening untuk sekolah ini diadakan pada penghujung bulan Juni. Acaranya dimulai pukul satu siang, dan saya datangnya ngepres jam satu, sebab saya masih ada urusan kecil dengan kawan kecil usia tujuh tahun bernama Kris.

Yang hadir di acara Opening Sekolah Bermain banyak sekali, dari berbagai kalangan, mulai dari rombongan Gus dan Ning Jember, kawan-kawan mahasiswa, persma, kesenian, hingga Pak Ketut pelukis senior Jember yang namanya mendunia. Kehadiran saya di sana adalah untuk nyruput kopi (haha) dan turut berdendang bersama Tamasya Band.

Mojok sambil mendengar celoteh

Pas sekali lokasi Sekolah Bermain ini, tepat ada di kaki Gumuk Kerang, dengan aneka pepohonan di sana-sini. Saya menikmati keindahannya sambil mojok di sudut gazebo bambu dan ngobrol bareng Antok, Yongki (bassis tamasya), Dedi (pemilik Kedai Gubug, tempat ngopi yang biasa dijadikan markas kedua tamasya selain panaongan), dan kawan-kawan yang lain. Kadang saya tertawa saat mendengarkan cerita Antok selama menemani Iwan Fals kemarin.

"Lha wong aku enak-enak nyetir, de'e moro-moro nunjuk papan nama 'SOTO HAJI SUKRI.' Yoweslah, langsung belok kiri, mangan disek," kata Antok saat menceritakan keinginan mendadak Iwan Fals yang tiba-tiba ingin makan soto.

Masih menyambung cerita di atas. Kata Antok, "Wah, Haji Sukri iku rek.. Wes njaluk foto, sotone yo sek mbayar ae. tak pikir gratis." Haha.. lucu juga si Antok ini saat menuturkan kisahnya.

Tiba-tiba hujan, deras sekali..

Hujan membuat orang-orang yang ada di lokasi Sekolah Bermain semakin terlihat guyup, sebab mereka saling berdesakan menghindari cipratan air. Lalu selesailah sudah. Hujan mulai mereda. Kawan-kawan terlihat benar-benar guyup (rukun). Mereka saling membenahi. Ada yang membenahi jalan, membuatkan aliran pada air yang menggenang, ada yang ngurusi sound sistem yang tadinya ditutup dengan terpal, ada pula yang tidak berbuat apa-apa, itulah saya.

Kemudian, tibalah saatnya tamasya berdendang, ditemani oleh semua yang ada di lokasi Sekolah Bermain. Senang sekali bisa cangkruk'an di sana. Terima kasih buat Cak Oyong dan kawan-kawan, kalian keren!




Dokumentasi Mas Riyadi BerbagiHAPPY

acacicu © 2014