17.7.13

Serat Ijuk: Naturalia Non Sunt Turpia

17.7.13

Bapak Pencari Ijuk

Namanya juga Dusun Blog Aren, pastilah di atas tanahnya tumbuh pohon-pohon aren. Jika tidak, ngapain juga dinamai dengan Blog Aren? Sayang, ketika saya berkunjung ke sana, kesan pertama adalah kering kerontang. Pepohonan tak selebat yang saya bayangkan. Syukurlah, di sana sini masih mudah saya jumpai sawah hijau membentang. Lebih bersyukur lagi, ketika saya bertemu dengan Bapak pencari ijuk (maaf saya lupa nama beliau). Ada ijuk ada pohon aren, sebab ijuk adalah bagian dari pohon aren. Nah, ini dia kabar baiknya.

"Sekarang untuk mencari ijuk, kita harus masuk kawasan hutan Mas," kata salah seorang penduduk dusun Blog Aren. Hmmm, ternyata pohon aren sudah sulit (tidak ada) di dusun Blog Aren. Pohon ini hanya tumbuh dan survive di kedalaman hutan (masuk wilayah Taman Nasional Meru Betiri).


Si Licin (adek saya di Pencinta Alam) sedang bertanya seputar ijuk

Ijuk Adalah Serat Alam Terbaik Nusantara

Saya masih ingat saat masih kuliah dulu, salah seorang Dosen Ilmu Sejarah (kalau tidak salah, Bapak Soendoro) pernah berkata begini. Bahwa kerajaan-kerajaan di nusantara tempo dulu lebih banyak menggunakan atap dari serat ijuk ketimbang memanfaatkan media lain. Selain lebih alami dan sesuai dengan kondisi alam juga budaya ketimuran, atap dari serat ijuk lebih tahan lama. Ternyata apa yang beliau katakan benar adanya.

Serat berwarna hitam yang dihasilkan dari pohon aren ini memang istimewa. Bagaimana tidak istimewa, lha wong atap ijuk bisa bertahan hingga ratusan tahun.

Keistimewaan serat ijuk tidak hanya terletak pada sisi keawetannya saja. Masih ada lagi, serat ini tahan terhadap asam dan garam air laut. Maksudnya, ijuk tidak mudah lapuk oleh asam dan garam air laut. Pantaslah jika orang-orang Sasak (dan wilayah pesisir di negeri ini) sampai sekarang masih memanfaatkan ijuk, tidak hanya untuk atap, tapi juga untuk tali.

Satu kabar baik lagi, ijuk adalah serat alami yang mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan oleh rayap tanah. Ssifat ijuk yang elastis, keras, dan tahan air, menyebabkan bahan alami ini sulit dicerna oleh organisme perusak seperti rayap.

Waaah, keren!


Saya Numpang Eksyen

Di sebuah artikel, pernah juga saya baca bahwa ijuk adalah bahan alami yang bisa dijadikan sebagai tameng atau perisai radiasi nuklir. Sayang sekali, saya tidak bisa menjelaskan bab ini dengan bahasa yang sederhana. Mungkin ada yang lebih paham? Help me.

Renungan Ringan

Betapa sulitnya membantah tingginya yang pernah dibangun oleh nenek moyang kita, meskipun dengan kemasan yang sederhana. Begitupun, kita masih terjebak dengan olah bahasa, mengatakan 'KUNO' pada hal-hal yang dianggap ketinggalan jaman, dan memberi label 'KEMAJUAN' pada setiap hal yang bersifat modern.

Sebenarnya, kemajuan itu apa sih? Untuk satu kata ini saja, kita masih belum satu kesepemahaman. Kita masih mudah sekali terjebak dengan selera negara-negara (yang dianggap) besar. Bahwa maju adalah definisi dari wilayah yang penuh lampu-lampu taman dan papan reklame, plastik di sana-sini, grusa-grusu, dan entah ciri-ciri penyerta apa lagi.

Maju menurut saya adalah tenteram, damai, makmur, sentosa, sejahtera, harmonis, memiliki hubungan yang romantis dengan alam, dan itu semua saya dapatkan di desa-desa tepian hutan yang masih belum banyak tersentuh oleh modernisasi.

Alangkah indahnya jika kita bisa berdansa dengan alam raya, seperti yang dulu pernah dipersembahkan oleh nenek moyang kita.

Sedikit Tambahan

Berbahagialah jika di sudut rumah anda masih ada sapu dari ijuk. Sebab, mau dibantah dari sisi manapun, sapu ijuk lebih indah daripada sapu sintetik seperti sapu dengan bahan plastik.

Naturalia non sunt turpia, bahwa segala hal yang alami tidak memalukan.

Catatan ini saya tuliskan juga di kompasiana dengan judul yang sama. Bisa dibaca di sini:

Serat Ijuk: Naturalia Non Sunt Turpia.

16 komentar:

  1. Naturalia non sunt turpia --> kata kata yg keren ini mas

    banyak orang terjebak dalam jaman gadget, dan melupakan tradisi dan adat yg pernah diajarkan oleh kakek nenek kita...

    Hidup sapu ijuk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sapu ijuk itu contoh kecilnya. Yang penting adalah kearifan budaya, itu yang semakin ditinggalkan.

      Piye kabarmu Boll?

      Hapus
  2. Sapu ijuk lebih enak dipakai dari pada yang plastik. Dirumahku masih pakai yang ijuk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Niken memang selalu keren :)

      Hapus
  3. aku pernah pakai ijuk 20 tahun lebih untuk menyaring air dari sumur rumah yg kurang bagus.
    bisa cuci ulang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ijuk juga bisa digunakan untuk ternak lele ya Bang :)

      Terima kasih, komentarnya memperkaya manfaat ijuk.

      Hapus
  4. sayang sekali Mas, sebab kini yang populer adalah Naturalia cont diperesa demi rupia :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk... Kalimatnya lebih bagus yang ini daripada aslinya. Coba dibikin judul artikel Mas, kayaknya essip!

      Hapus
  5. di rumah saya sapunya bukan dari ijuk mas, tapi dari plastik. soalnya sapu ijuk di sini harganya lebih mahal daripada yang plastik. jadi saya beli yang plastik deh...hehe.

    padahal secara kualitas sebenarnya memang lebih bagus sapu ijuk ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di sini ada sapu ijuk tapi gagangnya dari plastik Mi, jadi memanfaatkan keduanya :)

      Iya benar sekali, yang alami pasti lebih seksi.

      Hapus
  6. Kemajuan sekarang identik dengan melupakan sejarah dan perjuangan karena dianggap kuno dan nilai-nilai yang terkadnung di dalamnya pun tak diperhitungkan..

    Salam :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mbak Hanie, piye kabare? Lama nggak cuap-cuap, hehe.. Semoga baik-baik saja ya Mbak. Main-main dong ke Jember.

      Sip Mbak!

      Hapus
  7. sapu ijuk memang lebih awet di banding sapu plastik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan lebih cantik Mbak. Sayang, kadang-kadang sapu ijuk diproduksi secara massal, tak lagi home industri. Jadinya, selain mudah mbrodol, keuntungan hasil penjualan hanya berlaku pada segelintir orang.

      Hapus
    2. ada lagi sapu yang dari serabut kelapa...
      itu jauh lebih murah
      dan jauh lebih gampang mbrodol juga
      hehehhee

      Hapus
  8. hahay, foto tagging-i iku loh!! seng gak nguati. kwkwkkkk, Sapo Endhuk cakna reng Talango. hehe

    BalasHapus

acacicu © 2014