27.9.13

Kultwit #SaveGumuk Dari Mbak Irma Devita

27.9.13

Foto dari twitter @irmadevita

1. Tweeps, tahukah kalian ada sebuah kota kecil di ujung Jawa Timur yang dulu (konon) disebut sbg kota seribu #gumuk? #SaveGumuk

2. Kota yg dulu dikenal sbg kota seribu #gumuk tersebut adalah kota #Jember . Jika ada yg bingung apa itu #gumuk .. Sahabat saya @acacicu

3. beberapa waktu lalu pernah menjelaskan dgn sederhana tapi langsung lekat di ingatan saya yg sudah mulai menua ini :) #SaveGumuk

4. mas @acacicu bilang, #gumuk itu bukit kecil namun memiliki kandungan bebatuan yang beda dan unik. #SaveGumuk

5. Konon di Indonesia #gumuk tsb cuma ada di Tasikmalaya dan di #Jember. Ini jadi suatu keunikan yg juga jadi "kutukan" tersendiri bagi #Jember

6. Karena kandungan istimewanya inilah maka #gumuk yang rata2 milik pribadi, mulai ditambang secara besar2an. #SaveGumuk

7. sehingga #Jember yang semula dikenal sbg kota seribu #gumuk semakin lama semakin sulit menemukan #gumuk tsb. #SaveGumuk

8. Selain memiliki kekayaan nilai kandungannya, menurut sahabat @acacicu , #gumuk juga merupakan pemecah angin alami #SaveGumuk

9. Sbg pemecah angin, #gumuk melindungi areal perkebunan yg banyak terdapat di #Jember dari serangan angin kencang yg merusak hasil kebun

10. Selain itu, #gumuk konon dapat menjaga kualitas air tanah yang berada di sekitarnya. Sehingga penduduk dapat dgn nyaman mengkonsumsinya

11. Tidak bisa dipungkiri bahwa ledakan penduduk dan berbagai kepentingan yg bermotif ekonomi yg melatar belakangi mulai berkurangnya #gumuk

12. Untuk mencegah hilangnya sama sekali #gumuk dari #Jember . Hal yang mungkin akan menimbulkan dampak lingkungan yg lebih besar, #SaveGumuk

13. saat ini di #Jember sdg ada kampanye besar2an untuk menjadikan #gumuk sebagai milik kolektif. Untuk itu para aktifis dan pencinta

14. lingkungan di kota #Jember mulai memprakarsai gerakan massal #SaveGumuk dengan berbagai cara. Hal mana sudah mulai membuka mata

15. aparat pemda untuk mulai ikut perduli lingkungan. Suatu langkah yg patut di apresiasi dan diacungi #jempol :) #SaveGumuk

16. sekarang #SaveGumuk sedang menjadi issue yg hangat di #Jember. Satu hal yg harus di perhatikan tidak hanya penggalangan dana

17. dan gerakan moril sesaat saja. Pendidikan dan penanaman kesadaran akan pentingnya merawat ekosistem termasuk #gumuk #SaveGumuk

18. tidak cukup ditanamkan dalam satu dua pekan saja. Melainkan harus ada planning yang berkesinambungan. Misalnya setelah #gumuk

19. bisa dibeli jadi milik kolektif, apakah akan diserahkan ke pemda atau di serahkan ke pemuka wilayah? (camat/lurah), atau akan dikelola

20. sekelompok warga? Karena kecenderungannya, tiap pemerintah memiliki pandangan dan kebijakan yg berbeda2. #SaveGumuk

21. anyway,.. #SaveGumuk merupakan suatu langkah awal yg patut di apreasiasi.Bukankah suatu perjalanan panjang dimulai dari satu langkah? :)

22. kepada para sahabat, Selamat dan sukses untuk acara #SaveGumuk nya ya! Semoga Allah memberikan kemudahan. Aamiin :)

Catatan

Kultwit tertanggal 25 September 2013

Terima kasih ya Mbak Ing :)

23.9.13

Lalu Kami Menikah

23.9.13

Tamasya Bersama dan Bersama-sama menjadi Tua

Saat itu 28 Mei 2006, sehari setelah terjadinya gempa di Jogja dan sekitarnya. Saya sudah berpakaian flanel, bercelana lapang, memakai sepatu PDL, berbandana, dan siap-siap berangkat ke Stasiun Jember. Sesuai rencana, saya harus merapat ke sana sesegera mungkin sebab SAR Pencinta Alam Jember mendapat fasilitas gerbong gratis dari Kereta Api.

Di waktu itulah saya melihat ada sepasang mata yang berkaca-kaca. Sepasang mata itu milik seorang perempuan mungil yang biasa saya panggil Prit. Dia menatap saya. Saya GR.

"Sudah jangan sedih." Saya mencoba menenangkannya.

Oalah, ternyata dia bersedih bukan karena saya. Ada sebab lain. Prit sedang mencemaskan hidupnya sendiri sebab logistik di kamar khost sudah habis. Hmmm, ini pelajaran buat yang sedang PDKT. GR bisa menyebabkan keblinger, serangan jantung, imajinasi, dan lupa pada logika.

Jadi ingat kejadian sebelumnya, 1 Januari 2006. Di kala itu Jember sedang menangis oleh bencana yang kemudian dikenal dengan peristiwa Banjir Bandang Panti 2006. Prit sibuk mengepak banyak hal. Tadinya saya pikir dia membantu packing barang-barang untuk saya. Ternyata tidak. Dan saya pun kecelek pethek.

Ketika Kami Saling Memperhatikan

RZ HAKIM: Prit baru masuk Jember tahun 2004, ketika diterima sebagai Mahasiswa Sastra Universitas Jember. Mungkin bulan Juli, lima bulan sebelum terjadinya tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Dia mengikuti LATIHAN ALAM Dewan Kesenian Kampus pada bulan Oktober 2004. Tiga bulan kemudian, barulah Prit tercatat sebagai anggota DIKLATSAR XXIII SWAPENKA. Saya salah satu instrukturnya.

Dia mudah sekali menangis. Pada saat melihat Elis pingsan di rangkaian acara Latihan Alam DKK, Prit mewek. Ketika melakoni DIKLAT Pencinta Alam, dia juga menangis. Hihi, jadi ingat ketika saya memberi instruksi push up ke dia. Push up dengan tetap mencangklong carrier 60 liter. Gadis mungil berkacamata bulat itu pun tertindih oleh carriernya sendiri :)

Prit pernah bercerita tentang orang pertama yang dia kenal ketika berlabuh di Jember. Namanya Tita. Kelak, keduanya sama-sama tercatat sebagai anggota Dewan Kesenian Kampus. Tita aktif di DKK, Prit tak begitu aktif sebab waktunya terbagi antara organisasi kesenian dan pencinta alam.

PRIT: Pertama kali melihat Mas Hakim di pelataran Sekretariat SWAPENKA. Waktu itu, saya sedang mengurus beberapa administrasi mahasiswa baru di Fakultas Sastra. Hanya sepintas melihat dan memang belum ada kesan maupun chemistry apa-apa.

Mas Hakim sedang memakai kaos dua warna. Warnanya jingga kalem berpadu dengan kuning pastel. Tidak begitu mencolok, tapi saya begitu mengingatnya. Satu-satunya hal yang membuat saya selalu mengingat kejadian itu adalah tentang kegiatan yang sedang dilakukannya. Waktu itu kampus memang tergolong sepi. Hanya mahasiswa baru yang jumlahnya segelintir (maklum, peminat sastra memang tergolong sedikit) dan mungkin juga para senior masih libur.

Lelaki gondrong itu sedang membersihkan halaman sekretariat SWAPENKA dan juga membakar beberapa titik sampah. Ah, bagi saya itu adalah hal yang aneh dan unik. Sempat terpikir bahwa lelaki gondrong itu bukan mahasiswa, tapi keyakinan itu hanya sebatas lewat saja. Entahlah, sejak itu saya mulai terjangkit penyakit penasaran. Mas gondrong yang suka bikin api unggun itu mahasiswa sini bukan ya?

RZ HAKIM: Prit pencinta Iwan Fals, Batigol, dan Bob Marley. Saat mulai khost di Jember, dia membawa serta seluruh koleksi album pita Iwan Fals milik Bapaknya. Tidak lupa poster-poster sepak bola yang ada wajah Batigolnya. Kelak, saya pernah bersaing dengan para lelaki ini.

Lagu-lagu yang saya sukai cenderung lebih lokal. Misal, lagu-lagu slow rock era 90an. Karena saya sering memetik gitar dan menyanyikan lagu-lagu itu di SWAPENKA, Prit terinfluence. Dia mulai menyukai lagu-lagu milik Andy Liany, Sang Alang, Hengky Supit, dan masih banyak lagi. Prit juga mulai memperhatikan, ketika saya menyanyikan lagu-lagu ciptaan sendiri.

23 September 2007

Lahirlah tamasya band. Prit turut andil di dalamnya sedari awal. Berperan sebagai pengelola keuangan, bisa dibilang Prit sedikit kejam kalau urusan duit. Istilah Jawanya primpen.

Pernah pada suatu hari di awal tahun 2008, tamasya band ketiban rejeki. Kami memenangkan sebuah festival musik. Juara satu untuk wilayah Eks-Karesidenan Besuki. Untuk itu kami berhak tampil kembali (tingkat regional) di Stadion Tambaksari Surabaya pada 18 Februari 2008. Sepulangnya, tamasya band membawa uang satu juta. Uang itu langsung diserahkan ke Prit. Dan apa yang terjadi? Prit tidak punya uang. Dia memegang uang satu juta tapi kelaparan, haha.

PRIT: Akhirnya lelaki gondrong itu mempunyai band, sebab ia dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang baik. Dia menciptakan lagu, menyanyikan lagu-lagunya sendiri, dan masih menyisakan waktu untuk membuat api unggun. Dia juga suka berkebun.

Semakin hari, saya semakin mengenal lelaki gondrong bernama RZ Hakim ini. Mahasiswa Sastra Ilmu Sejarah yang tidak suka kuliah, tidak suka hal-hal berbau seremonial yang kaku, tidak betah berpakaian rapi, malas menyisir rambut, malas mandi, tapi senang bersosialisasi. Saat mahasiswa lain sibuk bercakap-cakap dengan dosen di luar jam kuliah, Mas Hakim juga terlihat asyik cangkruk'an bareng Cak Busar, Mas Jono, Pak Sutikno, Pak Kahar, Mbak Titin, Ibu Kantin, dan orang-orang bersahaja lainnya. Mas Hakim juga bersahabat dengan beberapa pengemis dan pemulung yang areal buruannya ada di wilayah Kampus Bumi Tegalboto Jember.

Yang tidak saya sukai dari Mas Hakim..

Dia perokok berat. Pernah berusaha keras mencoba berhenti merokok, tapi hanya berlangsung kurang dari tiga bulan. Ketika itu Mas Hakim tampak loyo, tidak bisa menciptakan lagu, dan malas beraktifitas. Akhirnya saya tidak tega melihatnya. Hmmm, dulu sekali, saya pernah ingin menuliskan ini. Tapi kata Mas Hakim, "Jangan nduk, hari ini rokok adalah sesuatu yang sangat sensitif untuk diperbincangkan. Alamiah sajalah. Asal Mas Hakim tidak merokok di samping perempuan hamil, di kendaraan umum, di tempat-tempat yang tidak seharusnya... bla bla bla.."

Ketika Mas Hakim melakukan proses kreatif kekaryaan, dia bisa menghabiskan berbatang-batang rokok. Kata-kata 'rokok' juga masuk dan berpengaruh di beberapa lagu yang ia ciptakan. O'ow.. Kenapa saya terus-terusan menuliskan tentang ini ya? Bukankah sudah diingatkan bahwa ini sensitif untuk sebagian besar orang?

Ada lagi uneg-uneg di hati yang lama sekali tidak saya sampaikan. Tentang lagu-lagu Mas Hakim. Biasanya lagu ciptaannya berkisah tentang kehidupan sehari-hari, cinta dalam arti yang luas, issue lingkungan, dan persahabatan. Tak pernah Mas Hakim menciptakan lagu cinta yang manis lagi romantis. Kelak, Mas Hakim bikin juga lagu yang seperti itu. Judulnya, LAGU UNTUKMU. Kawan-kawan suka lagu itu. Anehnya, saya justru tidak suka. Di telinga saya, 'lagu untukmu' terdengar sangat menyebalkan. Saya pikir, itu bukan untuk saya.

Sepertinya Mas Hakim paham betul dengan apa yang saya rasakan. Dia membiarkan saya dengan segala kemangkelan yang bertumbuh di hati.

Suatu hari, entah untuk yang keberapa kalinya saya dekat dengan lelaki. Kali ini, saya memberinya sedikit peluang. Demi melihat itu, Mas Hakim uring-uringan sendiri. Dia mulai sering marah pada hal-hal tidak penting yang berkaitan dengan saya. Lho, kok aneh? Kalau suka bilang dong, bathin saya. Kalau nggak, ya sudah. Makan tuh LAGU UNTUKMU.

Pertengkaran-pertengkaran yang tak jelas juntrungannya itu justru membuat kami semakin dekat. Ohya, saya baru ingat. Sebenarnya Mas Hakim pernah menyampaikan perasaannya secara tersirat, pada suatu hari. Waktu itu bersamaan dengan jebolnya gerbang kecil Fakultas Sastra Universitas Jember yang menghubungkan dengan Jalan Jawa. Tanggal 13 Januari, entah tahun berapa. Mungkin 2007.

RZ HAKIM: Ketika tamasya band tampil, di jeda lagu, saya pernah ditanya oleh seorang MC. "Asyik ya Mas, pas nyanyi ada cewek yang nyamperin dan ngasih bunga. Nggak ada yang cemburu nih?" Ahaha, saya cuma tertawa. Yang memberikan bunga itu namanya Lila, adik saya sendiri di SWAPENKA. Kata teman-teman, waktu itu saya melirik ke arah Prit. Tentu saja saya menyangkalnya, meskipun saya tahu itu benar.

Kata Nanda, lelaki seperti saya ini tipe lelaki yang mencintai perempuan dengan cara perempuan, alias nggak bisa ngomong. Mirip seperti lagu Jamrud berjudul Pelangi di Matamu (lagu ini pernah dinyanyinyan SBY waktu kampanye terselubung di AFI, 19 Juni 2004). Apa iya saya seperti itu?

Tentang lagu untukmu? Ahaa, lagu itu masuk dalam album tiga tamasya band. Sepertinya Prit melupakan album dua. Di album kedua, ada lagu berjudul Zuhanna dan satu lagi berjudul Untuk Bunga. Lagu berjudul Zuhanna sudah jelas, untuk siapa lirik-lirik tersebut dipersembahkan. Lagu ini juga mendapat support penuh dari keluarga tamasya. Di lagu kedua, ada tertulis lirik, "Aku butuh teman bicara sampai tua," dan itu untuk Prit.

Kembali ke lagu untukmu. Oh ya ya, saya tahu sekarang. Di lagu Untukmu, ada lirik seperti ini, 'biarku berjuang untuk mengubur dalam-dalam, getar rasa hati dan mimpi untuk menjadikanmu Ibu dari anak-anakku nanti.' Prit memang perasa, sebab itulah saya mencintainya. Mungkin dia bukan yang tercantik di jagad ini, tapi dia yang terbaik untuk saya.

PRIT: Ketika Launching Save The Tree #3 (album tiga) tamasya baru dimulai, saya masih berusaha keluar dari lebatnya hutan Taman Nasional Meru Betiri. Ada acara lingkungan, tapi sudah usai. Harusnya saya sudah ada di samping Mas Hakim. Membantunya menyiapkan bandana, baju-baju, dan segala yang dibutuhkan saat tampil bernyanyi. Tapi truk yang saya tumpangi terhalang oleh truk yang mogok. Jalur makadam di dalam hutan tidak memungkinkan untuk truk yang saya tumpangi menyalip truk mogok di depannya. Saya menangis di depan Almarhum Mas Bintariadi, seorang penulis senior yang sekaligus kakak saya di SWAPENKA. Semua itu pernah saya tuliskan di sini.

Terlewat sudah acara pembuka launching berupa tari tradisional. Saya juga hanya bisa membayangkan (sambil menangis) ketika tamasya band bernyanyi, kemudian di belakangnya ada Paduan Suara Mahasiswa Fakultas Ekonomi UJ. Pastilah indah. Lepas dari itu, saya memikirkan Mas Hakim. Dia selalu ndredeg setiap kali hendak melangkahkan kaki menuju panggung. Ini memang rahasia umum keluarga tamasya. Biasanya, di saat-saat seperti itu saya selalu ada di dekatnya.

Iya saya menangis. Bahkan ketika saya sudah tiba di lokasi, saat panggung mulai diturunkan, saat orang-orang menyambut keterlambatan saya dengan wajah yang masih hangat dan ceria, kedua mata saya sudah mendung. Tak lama kemudian, tangis saya membuncah di dada Mas Hakim.

Saya masih ingat, saat itu tatapan Mas Hakim meneduhkan saya. "Santai saja, jangan terlalu dipikirkan, pasti ada hikmahnya," begitu kata Mas Hakim. Malam itu Mas Hakim terlihat manis sekali.

RZ HAKIM: Begitulah. Ada banyak cerita antara saya dan Prit. Panjang. Catatan ini pun sudah saya usahakan untuk tampil seringkas mungkin, namun sepertinya saya gagal untuk meringkasnya.

Bersama Prit, saya jadi terbiasa mengikuti ritme para jurnalis. Iya, Prit seorang jurnalis di sebuah koran yang berkantor di Surabaya dan Jakarta. Ketika dulu dia sibuk menyelesaikan skripsi, Prit memilih untuk istirahat.

Jauh sebelumnya, Prit pernah mengabdi di sebuah MTs di desa Bintoro. Satu tahun dia mengajar di sana, berdua dengan kakak SWAPENKA-nya, Ananda Firman Jauhari. Kelak, Nanda kembali berproses di zona yang sama, tapi di Sokola Rimba.

Ketika Ibu saya meninggal dunia, 24 Mei 2008, Ayahnya Prit (Prit biasa memanggil Bapaknya dengan satu kata saja, Bob) datang dari Tuban ke Jember. Selain turut berbela sungkawa, beliau juga menanyakan arti kedekatan saya dengan putri sulungnya. Kemudian saya pun berkata. Baru saya sadari ternyata saya sedang melamar anak orang untuk diri saya sendiri.

Selanjutnya..

Pada 10 September 2011, Bapak meminang Prit untuk saya. Dan mulailah kami mencari tanggal yang pas untuk menikah. Kejadian ini saya ukir dalam sebuah lagu berjudul, Pada 10 September.

Lalu Kami Menikah

Itu terjadi pada tanggal lima belas bulan sebelas tahun dua ribu sebelas. Ya, kami menikah. Horeeee.... Senangnya dapat support habis-habisan dari berbagai sisi, termasuk yang istimewa adalah kehadiran Pak De Abdul Cholik beserta Bu De Ipung.

Adapun tamasya band, Alhamdulillah masih berproses hingga sekarang. Kami memulainya saat semuanya bujang. Seiring berlalunya waktu, satu persatu dari kami menikah. Tamasya band adalah buku harian untuk saya, Prit, dan kawan-kawan.

Berkelana bersama-sama dan bersama-sama menjadi tua, itulah kami. Dan ketika maut menjemput, saya ingin saat itu saya sedang berbaring di atas ranjang di rumah kecil milik kami, yang terletak di wilayah kampung tamasya (seperti yang pernah saya bilang, kami keluarga tamasya ingin memiliki kampung sendiri, dimana tak ada lagi sampah plastik dan kebohongan). Alangkah indahnya jika di saat itu Tuhan mengijinkan saya untuk berkumpul bersama anak cucu, dan orang-orang yang saya cintai, untuk yang terakhir kalinya. Doa saya, semoga ketika itu terjadi saya sudah menyediakan mental untuk dilupakan. Dikenang atau dilupakan, hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Sedikit Tambahan

Turut mengucapkan 10th Wedding Anniversary untuk Mbak Uniek beserta Mas. Segala doa yang terbaik untuk Mas dan Mbak. Sebab segala perjalanan panjang pantas dirayakan, sebab itulah saya ucapkan selamat merayakan hidup dan kebersamaan.


Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine


20.9.13

Gumuk di Belakang Rumah Kami

20.9.13
Saya dan apikecil tinggal di sebuah wilayah yang disepakati bernama Jember. Dan tepat di belakang rumah kami ada jalur rel kereta api. Dibangun pada akhir abad 19 (1897) dengan maksud menjadi sarana penghubung antara Jember - Panarukan. Tadinya kendaraan 'ular besi' ini tidak ditujukan untuk melayani manusia (seperti sekarang ini), melainkan untuk memperlancar pengiriman hasil perkebunan, menuju pelabuhan Panarukan. Sesampai di Panarukan, hasil kebun tersebut dikirimkan ke pasar Eropa.

Karena ada udang di balik batu, pihak Pemerintah Kerajaan Belanda sama sekali tidak merasa rugi menanggung seluruh biaya pembangunan jalur kereta api tersebut. Hmmm.. Penjajahan sejak dulu hingga sekarang, model dan gayanya sama saja ya, hanya beda pada jaman dan kemasan.

Eits, saya tidak sedang ingin berbagi kisah tentang 'sepur' ding, maaf.


Gumuk di Belakang Rumah Kami - Dipotret dengan kamera HP 2 MP, 20 September 2013

Jadi begini. Di belakang rumah kami ada rel kereta api. Di seberangnya lagi, kira-kira berjarak 50 meter, ada sebuah bukit kecil dengan kelas ketinggian sangat rendah, yaitu kurang dari 10 meter. Nah, ini dia yang ingin saya ceritakan. Tentang bukit kecil. Orang-orang Jawa biasa menyebutnya Gumuk, beda tipis dengan istilah Madura, Gumok.

Cerita Tentang Gumuk Tak Bernama

Saya memang pelupa dalam banyak hal, tapi bagaimana saya bisa melupakan kenangan masa kecil? Memiliki dua rumah masa kecil (di Patrang dan di Kampung Kreongan, rumah Mbah) bukan berarti saya bisa begitu saja menghempaskan serpih-serpih kenangan saat bocah, saat mengendap-endap merayapi gumuk belakang rumah Patrang.

Gundukan itu tidak bernama. Bapak dan Ibu saya hanya menyebutnya gumuk, titik. Para tetangga juga begitu. Keluarga Pak Saimin, keluarga Suhud, Keluarga Soetardji, Pak Mukri, Lek Bakir, Keluarga Haji Soleh, Haji Linda, semua menyebutnya gumuk saja. Benar-benar tanpa nama, sebab mungkin itu dirasa tidak terlalu penting.

Hampir semua orang mengerti jika di atas gumuk tersebut ada kuburannya. Kabarnya, itu adalah kuburannya para sesepuh wilayah Patrang Tengah. Nisannya tak bernama, tak bertanggal, tak meninggalkan tanda apapun. Pantaslah jika pohon-pohon di gumuk ini lebat, apalagi di musim hujan. Tak ada yang berani menebang pohon, mungkin takut malati.

Di gumuk tak bernama itu pula, ada terdapat sebuah mata air (kolam) dengan ceruk alami yang kecil. Mungkin hanya seluas dua kali bak kamar mandi umum. Ikan yang hidup di sana hanyalah ikan klemar dan ikan kepala timah. Dulu di sini, diantara celah-celah batu piring dan batu padas, di dekat lekukan kolam, saya pernah melihat 'live' seekor ular sawah yang kulitnya didominasi oleh warna coklat tua. Diameternya kurang lebih seukuran botol air mineral 600 ml. Memang, saya tidak sangat detail memandangnya, sebab tak butuh waktu lama bagi seorang RZ Hakim kecil untuk membuat keputusan lari sekencang-kencangnya. Tapi, itu adalah pertama kalinya saya menjumpai seekor ular besar di alam bebas. Mungkin nilah alasan kenapa saya tetap bisa mengingatnya hingga sekarang.

Sayangnya saya tidak bisa mengingat tahun berapakah itu. Tapi samar-samar saya masih mengingat, waktu itu orang-orang dewasa sedang senang-senangnya membicarakan dua hal. Pertama tentang SDSB, yang kedua tentang Penembakan Misterius alias Petrus.

Kabar baiknya, sampai hari ini gumuk tak bernama itu masih ada. Dan di balik kabar baik, tentunya ada kabar kurang baiknya juga. Gumuk itu sekarang gersang. Mata airnya hanya tinggal cerita. Meskipun kuburannya tampak terawat, namun pohonnya tinggal sedikit. Dari yang sedikit itu, didominasi oleh tanaman invansif, Mahoni.

Ketika saya mencoba naik ke atas gumuk, pemandangannya sudah tak sama lagi. Dulu saya bisa dengan mudah memandang hamparan sawah, pertigaan Perumnas Patrang, dan segala hal yang menyenangkan yang bisa saya lihat. Percayalah, Gunung Raung tampak semakin terlihat cantik jika dipandang dari atas gumuk ini.


Benar, Gunung Raung terlihat cantik dari sini. Konon, teori terkuat akan asal usul keberadaan gumuk-gumuk di Jember adalah karena akibat letusan Gunung Raung. Letusan itu mengalirkan lava dan lahar. Aliran ini kemudian tertutup oleh bahan vulkanik yang lebih muda sampai ketebalan puluhan meter (dari Raung Purba). Kemudian terjadi erosi pada bagian-bagian yang lunak yang terdiri atas sedimen vulkanik lepas-lepas selama kurang lebih 2000 tahun. Dari sanalah tercipta topografi gumuk seperti yang ada sekarang ini.

Itu teori dari Verbeek dan Vennema. Keduanya adalah para Geolog yang (jika di Indonesia) namanya sejajar dengan Geolog seperti Junghuhn dan van Bemmelen. Bagi yang tertarik, bisa mencari bukunya Verbeek dan Vennema yang berjudul, Geologische Beschrijving van Java en Madoera (1896). Kalau nemu, pinjam ya, hehe..

Teori yang lain dan yang tak kalah populer, gumuk berasal dari material lontaran (dari atas ke bawah) yang diakibatkan oleh letusan Gunung, dan itu adalah Gunung Raung. Sayangnya basic saya sastra, jadi untuk menjelaskan poin ini saya memiliki keterbatasan pengetahuan dan istilah geologi. Maaf..

Itulah yang membedakan antara gumuk dan bukit, atau gumuk dan gundukan tanah (atau pasir). Meskipun dimana-mana (di Pulau Jawa) banyak orang menyebut bukit dengan istilah gumuk, tapi kandungannya berbeda dengan gumuk yang ada di Jember. Jika membaca tabloid IDEAS Edisi XV tahun 2005, dapat kita ketahui bahwa hanya ada dua wilayah di Indonesia yang mempunyai bentang alam berupa gumuk, yaitu di Jember dan Tasikmalaya (Ir. Sutrisno M.S, Dosen Jurusan Ilmu Tanah Fak. Pertanian UJ).

Tempat lain yang juga memiliki kekayaan alam berupa gumuk adalah di wilayah sekitar Gunung api Bandai San Jepang (terjadinya karena erupsi ultra-volcanic, sumber dari sini).

Dengan segala keunikannya, maka hemat saya gumuk bukan hanya milik warga Jember semata, melainkan kekayaan SDA milik Indonesia. Berhubung ada di Jember maka kita wajib menjaganya, untuk Indonesia dan dunia.

Bukan hanya Gunung Raung, dulu saya bahkan bisa menatap dapur dan sumur rumah saya sendiri. Jika tidak beruntung, Ibu bisa melihat putranya naik-naik ke puncak gumuk. Bisa dipastikan, tak lama kemudian beliau akan memanggil-manggil nama saya. Artinya, waktu bermain saya habis. Bagi saya, kurangnya jatah bermain sama dengan menyebalkan.

Hai haiii.. Saya hampir melupakan satu hal yang teramat penting. Gunung Argopuro. Ya, Argopuro dan puncak Rengganisnya yang manis, jika kau tatap dari gumuk tak bernama ini, aahh... Tetap sederhana tapi menakjubkan. Dan itu gratis kawan. Untuk memandang Argopuro, kau tidak harus mengeluarkan uang seperti ketika membeli air mineral milik nenek moyangmu sendiri namun dikemas oleh investor asing. Tataplah keindahan itu sepuas-puasnya, sebelum dia 'dihancurkan' oleh sang pemuja uang.


Istri saya dalam pelukan Argopuro, nun di kejauhan sana

Sial benar nasib gumuk ini. Meskipun dia tak terjual (mungkin belum) ke tangan investor, tapi keberadaannya kini tersudutkan oleh Perumahan Pesona Regency Patrang, yang dikelola oleh PT. MANDIRI RAYA UTAMA. Sekarang sisi kanan gumuk sudah di pres. Katanya untuk pelebaran jalan, demi kepentingan bersama. Nyatanya, pengepresan itu hanya membuat hilangnya humus tanah di tepian gumuk. Ya, meskipun tak seberapa tinggi, sayang sekali jika tepian gumuk ini rusak. Bagaimanapun, longsor (kecil-kecilan) dan penggerusan alami hanya tinggal masalah waktu.

Apa sulitnya membangun perumahan yang ramah lingkungan?


Sisi Gumuk yang dipres, dan Perumahan Modern

Tetaplah Menjulang dan Jangan Hilang

Belajar dari gumuk di belakang rumah kami, saya jadi sangat percaya jika gumuk memiliki peran alam yang cukup penting. Gumuk berperan sebagai penyangga aktivitas ekosistem dan penyedia kekayaan hayati. Dialah 'bank data' gratis yang disediakan oleh Sang pencipta.

Ketika vegetasi di dalam gumuk masih beraneka ragam, maka sangat memungkinkan bagi gumuk untuk melakoni peran sebagai penyimpan air yang bagus. Efek ikutannya, kesuburan tanah terjaga. Pemilik gumuk tak perlu repot-repot 'pasang badan' pada jeratan iklan pupuk kimia.

Ah, padahal gumuk di belakang rumah kami hanyalah gumuk yang berkelas ketinggian sangat rendah sekali. Ternyata sangat penting. Setidaknya dia pernah menjaga saya dari dahsyatnya angin yang turun dari Argopuro dan Raung. Ia menghambat arah angin yang semula lurus dan keras, hingga akhirnya kecepatan angin pun menurun. Bolehlah saya bilang jika gumuk bisa dengan alami menstabilkan gerak angin. Melihat pemetaan wilayahnya, warga Jember sangat butuh gumuk. Jangan ada lagi pemikiran 'yang penting ada gumuk' sebab lebih indah jika kita berpikir bahwa gumuk itu penting.

Masalahnya, banyak pihak tergoda untuk menggali batuan gumuk. Melihat batu piringnya yang memiliki kerlip warna alami, adanya daya tawar, dan siapa yang tak tergoda untuk mengeksekusi nilai ekonomisnya? Padahal isi dari perut gumuk tak hanya batu piring saja. Masih ada yang lain seperti batu koral, batu pedang, padas, batu pondasi, pasir, dan entahlah.. Semua yang menggiurkan itu takkan pernah bisa membungkam keserakahan manusia. Rata-rata dari kita sudah tak lagi ingat sebuah kalimat sakti, "Memanfaatkan SDA sesuai dengan kebutuhan, bukan keserakahan!"

Dari sisi ekonomis menggiurkan, dari sisi ekologis menghancurkan. Kita semua tahu itu. Mungkin kita juga sudah paham jika gumuk terus menerus digerus, suatu hari masyarakat akan menanggung biaya sosial dari semua ini. Kesadaran lingkungan itu memang pilihan. Keputusan sepenuhnya ada di tangan kita. Tapi jika kita memilih untuk meremehkannya, maka bencana adalah sebuah kepastian.

Gumuk, tetaplah menjulang dan jangan hilang..

Sebagai penutup, ada sebuah persembahan sederhana dari Tamasya Band. Sebuah lagu berjudul GMK alias GUMUK.

GMK By Tamasya Band:

GMK By Tamasya Band

Bertebaran seperti gunung-gunung tinggi
Namun itu hanya gunung kecil
berjajar-jajar ibaratnya bukit
Namun itu hanya bukit kecil

Seperti biasa tapi tak biasa
Sungguh luar biasa
Cuma ada tiga di dunia

Dimanakah wajah kotaku yang dulu indah
Tergantikan tuntutan jaman
Tak bisakah kita menunjukkan rasa cinta
Menyisakan satu gumuk saja

Istimewa tapi dianggap biasa saja
Itulah GUMUK.. Bukit-bukit kecil

Keterangan

Lagu GMK bisa didengar dan diunduh di REVERBNATION.COM



Sedikit Tambahan

Ketika tak ada lagi burung trucuk, capung, kunang-kunang, dan apapun yang mau singgah di Gumuk belakang rumah kami seperti dulu, seharusnya saya sudah tahu jika mata air di atas gumuk itu telah punah. Pada kenyataannya, saya baru menyadarinya tadi pagi, ketika mendaki gumuk di belakang rumah.

Ketika air sumur di rumah saya tak lagi sejernih dulu, tiba-tiba saya merindukan masa kecil. Saat dimana saya bebas berlari dan belajar mengendalikan rasa takut pada nisan-nisan kuburan, juga pekatnya pepohonan di gumuk.

Ketika setengah tahun yang lalu Jember (wilayah kota) diterjang puting beliung dan memakan korban, tiba-tiba banyak yang menanyakan keberadaan gumuk. Begitu juga ketika harga tembakau (dan hasil perkebunan lainnya) anjlok, tiba-tiba banyak warga Jember yang rindu memandang gumuk.

Ketika.. Sudah ah. Terima kasih dan Salam Lestari!

17.9.13

Melaksanakan Khayalan Masa Kecil

17.9.13
Ketika itu saya masih sangat bocah dan belum lagi masuk Taman Kanak-kanak. Saya berlarian kesana kemari hanya demi menghindari kejaran Ibu. Beliau hendak memotong kuku saya, dan saya menolaknya. Acara kejar mengejar tersebut berhenti manakala Ibu berjanji akan mendongengkan sebuah cerita. Deal, akhirnya Ibu berdongeng dan saya duduk di dekatnya.

Cerita selanjutnya, Ibu sudah sibuk memotong kuku buah hatinya yang pasrah di pangkuannya.

Kata Ibu, kuku-kuku yang sudah terpotong nantinya akan dikumpulkan dan dikuburkannya di samping rumah. Itu bisa mengundang datangnya kunang-kunang di malam hari. Lalu si kunang-kunang akan mengganti kuku-kuku tersebut dengan uang logam.

"Nanti kamu bisa mengambil uang itu dan menukarkannya dengan jajanan yang kau suka."

Tentu saja saya girang. Pikiran saya segera melayang ke jajanan kesukaan. Krip-krip, Anakmas, Permen Karet Yosan, Cup-acup, Sugus, Coki-coki, dan sederet lagi.

Benar, esoknya saya bangun pagi-pagi sekali. Hal pertama yang saya lakukan adalah berlari ke samping rumah dan membongkar tanah tempat dimana kuku-kuku saya dikuburkan. Ahaaa... ternyata Ibu tidak bohong. Disana ada beberapa uang logam seratus rupiah dan lima puluh rupiah. Terima kasih kunang-kunang.

Kira-kira satu bulan kemudian, saya memaksa Ibu untuk memotong kuku yang sudah mulai memanjang. Ibu tersenyum. tak lama kemudian beliau mengabulkan permintaan saya. Setelahnya, saya sendiri yang mengumpulkan kuku-kuku tersebut, lalu menguburkannya. Esok paginya, saya melakukan hal yang sama, berlari ke samping rumah dan membongkar tanah.

Kejadian selanjutnya, saya menangis meraung-raung. Ternyata Ibu lupa tidak menukar kuku-kuku itu dengan uang recehan. Beliau merusak khayalan saya. Anehnya, kemarahan itu juga saya tujukan pada seluruh kunang-kunang yang ada di dunia. Saya tidak percaya lagi pada kunang-kunang. Meski demikian, saya masih percaya kalau kunang-kunang adalah jelmaan dari kuku orang mati, haha. Saya juga masih memelihara khayalan untuk bisa terbang dan bersinar terang seperti kunang-kunang.

Ketika saya SD, khayalan untuk bisa terbang seperti kunang-kunang masihlah tersimpan dengan manis. bahkan lebih canggih. Saya sudah mengenal elang, dan saya ingin terbang tinggi seperti burung tersebut.

Masa kecil hingga remaja adalah masa-masa produktif bagi saya untuk berkhayal. Saya seperti memiliki dunia fiksi sendiri. Punya teman fiktif, punya kampung imajinatif, dan punya segalanya.

Ohya, dulu saya sering berkhayal menjadi seorang rocker. Saya senang bernyanyi di atas ranjang, dan membayangkan banyak orang di bawah ranjang yang sedang menonton penampilan saya. Aha, jika diingat rasanya memalukan. Tapi itulah saya di masa kecil. Pantaslah jika dulu saya sangat menikmati ketika bernyanyi di radio lokal, atau sedang dihukum bernyanyi oleh guru.

Masa-masa puber saya habiskan dengan berhkhayal punya ilmu menghilang. Cling! Hehe, tahulah anda apa yang saya maksudkan.

Suatu hari saya bangun dari tidur. Di samping saya sudah ada seorang perempuan mungil. Ah, ternyata saya sudah sejauh ini menjalani hidup. Saya sudah berkeluarga, punya istri yang anggun, dan melakoni sederet aktifitas. Jika tidak ada Giveaway Cah Kesesi Ayutea, mungkin saya sudah lupa bagaimmana caranya berkhayal.

Selanjutnya, saya sudah ada di depan monitor. Kembali mengingat-ingat khayalan apa saja yang dulu pernah menghiasi hari-hari seorang RZ Hakim kecil. Wew, ternyata banyak dari kehidupan saya dimulai dari khayalan. Ya, khayalan. Sesuatu yang lebih jauh dari kenyataan, tak sedekat impian dan tak selogis cita-cita.

Dulu saya berkhayal untuk bisa terbang. Karena saya tak bersayap, saya memilih untuk mendaki gunung. Ketika sampai di ketinggian, ketika tidak ada lagi tanjakan yang harus saya daki, ketika saya lebih tinggi dari gumpalan awan, ketika itulah saya merasa seperti sedang terbang. Cahaya sinar mentari pagi menciptakan efek sinar tersendiri pada diri saya. Saat itu, saya merasa seperti seekor kunang-kunang. Kedua mata saya menatap dunia secara lebih luas, seperti cara elang menatap tanah air.

Kehadiran Zuhanna Anibuddin Zuhro membuat saya tak lagi tertarik pada khayalan untuk memiliki ilmu menghilang tak terlihat oleh pandangan. Itu tidak penting lagi, sebab saya sudah punya bidadari.

Dulu saya pun pernah bercita-cita menjadi seorang rocker. Karena saya tidak pandai di suara-suara tinggi (melengking seperti rocker), akhirnya saya menciptakan lagu sendiri. Ya, dengan menciptakan lagu sendiri, setidaknya akan lebih mudah bagi saya untuk menghindari fals.

Khayalan paling umum adalah melanglang buana. Pergi ke tempat-tempat yang jauh. Ketika besar, saya terkendala oleh biaya. Tapi saya tetap melakukannya dengan berbagai cara.

Setelah mengenal huruf, khayalan saya seringkali mengikuti apa yang saya baca. Saya pernah ingin seperti Indian kecil Hyawata, ingin punya anjing cerdas seperti Timmy, tokoh fiktif karangan Enid Blyton di novel Lima Sekawan. Ingin punya tongkat Nirmala, ingin punya uang segudang seperti Scrooge McDuck alias Paman Gober, tokoh fiktif karangan Carl Barks. Saya juga ingin punya ramuan ajaib milik Kampung Galia, kampungnya Asterix Obelix.

Kelak, ketika saya ada rejeki, saya akan patungan dengan kawan-kawan Keluarga Tamasya Band, membeli tanah, dan menciptakan kampung sendiri. Nantinya di kampung itu akan saya wujudkan apa yang sejauh ini hanya sebatas khayalan saja. Tentang sebuah kampung yang damai, mandiri, merdeka, dimana tak ada tempat untuk plastik dan kebohongan. Kampung ini akan disetting secara bersama-sama. Pastinya lebih indah dari sekedar kampung Galia, karena kami tak butuh  ramuan ajaib. Bagi kami, cukuplah jiwa saling tolong menolong sebagai ramuan ajaibnya. Sebab sejauh yang saya tahu, jiwa tolong menolong adalah sebuah budaya tua yang semakin lama semakin ditinggalkan.

Di malam hari, ketika kami sedang bercengkerama, menikmati kopi dan api unggun, semoga ada terlihat kehadiran kunang-kunang. Sebab keberadaan kunang-kunang adalah pertanda bahwa di wilayah kampung ada mata air yang bersih. Ah, indah sekali khayalan akan kampung yang masih imajiner ini. Semoga Tuhan mengijinkan, Amin Ya Robbal Alamin.

Sedikit Tambahan

Seringkali kita lupa, bahwa apa yang selama ini kita jalani, hampir setengahnya adalah pelaksanaan dari khayalan masa kecil. Adapun yang mengingatnya, terkadang memilih pura-pura lupa. Mungkin malu jika harus dikatakan kekanak-kanakan. Padahal, sesekali berpikir seperti bocah itu indah. Tidak percaya? Cobalah sesekali berpikir seperti pola berpikirnya anak kecil, maka detik berikutnya anda akan sibuk berkarya.

9.9.13

Kakek Tua Itu Seorang Punk

9.9.13
Hujan deraslah yang menyebabkan aku singgah di warung reot ini. Sepeda motor aku parkir di samping warung yang ada atap ijuknya. Tersesat di jalur antah barantah, tak ada jas hujan, lengkap sudah penderitaanku. Di saat seperti ini, yang aku butuhkan hanyalah secangkir kopi.

Dan, tak lama aku menunggunya. Kakek tua pemilik warung segera menghadirkan kopi di cangkir kecil, cangkir khas para pencinta kopi tubruk.

Setelah sruputan pertama, baru tersadari satu hal. Bahwa hanya aku satu-satunya pembeli di warung ini. Ah, mungkin lantaran hujan, batinku. Tapi.. Bukankah warung ini jauh dari rumah penduduk? Ngapain juga si kakek sampai nekat mendirikan usaha warung kopi di sini?

Begitulah. Dua orang lelaki beda usia, beda gaya, beda cerita, sedang terjebak di tempat yang sama, diantara tampesan air hujan. Dan percakapan pun terjadilah.

"Oh tidak, tidak. Kakek tidak lahir di sini. Hanya saja, ini adalah daerah perlintasan para buruh gudang tembakau. Kasihan mereka yang hidupnya di balik punggungan ini," kata Kakek tersebut sambil ujung jari telunjuknya menunjuk ke sebuah gundukan raksasa. Oh, ternyata di balik bukit itu ada perkampungan.

"Iya benar, Kakek paham. Hanya para perajang tembakau dan orang-orang tersesat seperti kamu yang melewati jalur ini. Sama sekali jauh dari kata strategis. Tapi harus ada yang mau dan tulus mendirikan warung di sini. Agar mereka ada tempat berteduh, makan dikala lapar, dan minum saat kehausan. Sementara tidak ada, Kakek akan tetap bertahan menjaga warung ini."

"Wah, itu jauh dari prinsip ekonomi Kek."

"Prinsip ekonomi yang kau maksud itu, siapa pencetusnya? dari mana teori itu berasal? Sudah melewati berapa masa? Apakah cocok untuk kita?"

Mendapati rentetan kata sepanjang itu, aku hanya bisa nyruput kopi. Lalu hening. Lalu Kakek mulai memahami kegelisahan dan kesalahtingkahanku. Lalu dia mengatakan sesuatu.

"Tidak semua nenek moyang kita dulu berjualan di tempat strategis yang kau maksud itu. Keadaan demikian mereka lakukan setelah bersentuhan dengan pedagang luar nusantara. Ada yang lebih indah dari sekedar mencari penghasilan. Itu adalah rasa bermanfaat bagi sesama. Sebab berniaga bukan semata-mata hanya untuk meraup keuntungan. Sekarang bolehlah kita memikirkan tempat strategis seperti yang kau maksud itu, agar jangan sampai tempat-tempat yang kau maksud itu dikuasai sebesar-besarnya oleh kemakmuran dunia luar."

Apakah aku tercengang dengan kata-kata Kakek? tentu saja.

"Di sini, meskipun Kakek bisa membuang sampah sesukanya, namun tidak Kakek lakukan. Sebab apalah artinya bermanfaat untuk sesama namun tidak bermanfaat untuk alam raya?"

Lagi, aku hanya bisa menyruput kopi yang tinggal separuh.

"Sebelum kau bertanya hal lain yang ada pada Kakek, bolehlah kiranya jika kakek dahului dengan mengkisahkannya. Baju yang Kakek kenakan ini, juga pesak celana ini, juga udeng di kepala, serta sepasang klompen di telapak kaki Kakek, semuanya berbau Indonesia. Bukan karena Kakek anti globalisasi, bukan pula karena tak lentur mengikuti perubahan jaman. Semua hanya karena kita butuh berkepribadian sendiri, kepribadian bangsa. Omong kosong cinta tanah air jika kita sendiri tak mengerti apa itu arti kepribadian bangsa. Jaman sekarang ini, tepo sliro hanya tinggal kenangan."

"Semua yang Kakek kenakan itu, Kakek beli dimana?"

"Untuk baju dan pesak, Kakek beli kainnya, lalu Kakek jahitkan ke kampung seberang. Udeng pengikat kepala ini warisan dari buyut. Sedangkan klompen, kebetulan Kakek bisa membuatnya. Jadi kakek bikin sendiri. Sama seperti warung dan kebun di kiri kanan warung ini, kakek membuatnya sendiri. Dan Kakek rawat dengan kedua tangan Kakek sendiri. Ya, selama kita bisa mengerjakannya sendiri, maka kerjakanlah. Pada dasarnya, itu adalah arti sejati dari pekerjaan. Sayang seribu sayang, ketika bicara tentang pekerjaan, alam bawah sadar kita sudah menyimpulkan bahwa bekerja adalah tentang mencari uang. Katanya, hidup terasa hampa jika tak punya uang. Ya benar, itu berlaku pada mereka yang dikendalikan keinginan. Padahal uang bukanlah harta kekayaan. Dia hanya sebuah alat tukar saja. Bolehlah kita kaya. Itu baik. Malah dianjurkan agar kemanfaatannya sebagai manusia bisa lebih luas lagi. Tapi santai sedikit lah, tak perlu ngoyo mencari uang. Percayalah, sehebat apapun kau membantahnya, tetap saja, rejeki sudah ada yang mengatur. Katakanlah itu siklus alami. Itu jika kau tak percaya pada Tuhan."

"Saya percaya Tuhan Kek."

"Ah, maafkan Kakek kalau begitu. Maklumlah, anak muda biasanya senang bertanya tentang Tuhan. Seperti apa bentuknya, dan sebagainya. Padahal, untuk melihat bentuk sinyal telepon genggam pun kita masih kesulitan, apalagi Tuhan."

Hening. Hujan telah reda. Terdengar suara kopi yang mengaliri tenggorokan. Tersisa penggalan kalimat Kakek, "selama kita bisa mengerjakannya sendiri maka kerjakanlah."

Sekali lagi, kuedarkan pandangan ke sekitar warung reot milik Kakek. Di sana ada taman serta kebun kecil, ada batu-batu yang tertata rapi, dan ada pagar hidup. Macam-macam yang ditanam oleh Kakek. Hampir semuanya bisa digunakan untuk keperluan dapur. Tanaman rempah-rempah bertebaran di sini.

"Itu jahe ya Kek?"

Kakek diam, tidak segera menjawab. Pandangannya sibuk mengikuti arah jari telunjukku. Kemudian dia terkekeh.

"Bukan, itu kunyit. Kakek sengaja menanamnya agak banyak. Ya, sesuai dengan kebutuhan. Apapun jika sesuai dengan kebutuhan pastilah indah. Memang mirip dengan jahe, tapi tentu saja berbeda. Kunyit lebih pahit dan sedikit pedas. Keberadaannya turut memperkaya aneka ragam rempah-rempah. Orang-orang Jawa tempo dulu banyak yang memanfaatkan kunyit untuk ramuan jamu. Ketika itu kita sudah memiliki peradaban tingkat tinggi, terlebih di bidang kesehatan."

Sejenak aku terkesiap. Tiba-tiba aku ingat dongeng Eyang Uti tentang manfaat kunyit. Banyak sekali. Aneh memang, aku baru tahu sekarang bagaimana bentuk tanaman kunyit. Jangan-jangan, banyak orang di negeri ini yang tahunya hanya manfaat kunyit, tanpa mengerti bagaimana bentuk tanamannya.

Selanjutnya, aku kembali tenggelam dalam rangkaian kata yang Kakek tuturkan.

"Sekarang ini banyak orang yang memberi embel-embel 'kuno' pada mereka yang dianggap berpikir mundur. Bukan hanya kuno, masih banyak cap yang menyertai orang-orang seperti Kakek ini. Ya kuno lah, tidak modern, tidak maju, dan entah apalagi. Padahal logikanya, jika tidak ada orang kuno takkan ada peradaban seperti sekarang. Peradaban yang dianggap maju. Mungkin kita terlalu banyak bercermin pada budaya Eropa dan Amerika Serikat. Barangkali kita telah lupa, kepribadian bangsa tidak bisa dipaksakan. Artinya, kita berbeda, kenapa harus dipaksa sama? Bukankah perbedaan adalah bagian dari keberagaman? Aneh ya, dahulu kala ketika orang-orang barat belum melek di bidang literasi, orang kuno di Jawa sudah mengenal budaya tulis. Lalu, siapa yang lebih modern? Satu pertanyaan lagi, modern itu apa?"

"Mungkin modern itu ya seperti keadaan sekarang ini Kek. Ada televisi dan media visual lainnya, kerlap-kerlip lampu dimana-mana, dan akses kemudahan. Mau menghubungi seseorang tinggal sms, mau nonton tivi tinggal klik remote, mau melakukan apapun serba mudah." Aku menjawabnya asal. Kakek manggut-manggut. Rupanya dia benar-benar meresapi apa yang aku katakan.

"Dulu memang tidak ada televisi. Tapi kita punya budaya tutur tinular yang kuat. Ada para perawi yang dipercaya ada pula yang tidak. Kredibilitas sang penyampai pesan akan terasah oleh seleksi alam. Dulu suasana malam didominasi oleh kegelapan. Itulah sebabnya orang-orang sebelum kita lebih mudah menghargai arti keindahan kunang-kunang. Mereka juga mengerti, dimana kunang-kunang berada, di sana pasti ada aliran air yang bersih. Kunang-kunang menggantikan tugas capung di siang hari. Keduanya sama-sama mahluk Tuhan yang paling seksi dan paling memahami perihal kebersihan air. Kehidupan tempo dulu memang tak semudah sekarang. Saat ini semuanya serba tinggal pencet. Namun ada yang patut kita ingat, bahwa kesukaran adalah bagian terindah dalam sebuah kehidupan."

"Lalu modern itu apa Kek?"

"Modern adalah apa yang hati nurani kita inginkan. Jika kita ingin menjalani hidup dengan damai, aman sentosa, makmur, sejahtera, hidup penuh tenggang rasa, tepo sliro, masuk surga lewat surga, maka seperti itu seharusnya modern."

"Yang dimaksud masuk surga lewat surga itu apa Kek?"

"Ciptakan surgamu sendiri sebelum engkau dipanggil Ilahi. Lihatlah Kakek. Menanam apapun yang Kakek butuhkan di sini. Berkebun, jalan-jalan ke sekitar, itu adalah surga bagi Kakek. Apa yang kau inginkan? Lakukan saja. Itu indah, asal saat kita melakukannya bukan atas dasar kebohongan. Sebab surga bukan untuk pembohong."

Hmmm...

"Kakek sungguh-sungguh saat mengajakmu membuat surga sendiri. Cobalah untuk menciptakan surga di pekarangan rumahmu sendiri. Itu kalau kau memiliki kesenangan seperti Kakek. Berkebun. Jika hobimu jalan-jalan, maka lakukan. Jangan sampai ketika kau sudah seusia Kakek, kau tidak pernah melakukan apa-apa. Jangan sampai. Karena jika itu terjadi, masa tuamu hanya dipenuhi dengan penyesalan dan penyesalan saja. Itu bukan surga namanya, tapi sebaliknya."

Ah Kakek.. Kau membuatku tak henti berdecak saja.

"Jika kau ingin menjadi seorang tabib misalnya, cobalah dimulai dari kunyit. Tanamlah kunyit itu dengan tanganmu sendiri. Rawatlah ia, dan manfaatkan untuk kebaikan. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk diri dan lingkungannya. Berpikirlah seperti ketika anak kecil sedang menyusun batu di tepi kali. Mereka fokus. Sungguh-sungguh. Fokuslah, bersungguh-sungguhlah. Jika engkau bersungguh-sungguh maka hasilnya akan sungguh-sungguh. Jika hanya bermain-main, maka hasilnya juga akan seperti itu."

Selesai.

Aku pulang dengan segenggam percakapan. Dengan satu keinginan, menciptakan surga agar bisa masuk surga. Ternyata aku tidak sedang tersesat. Sepertinya sudah digariskan untuk harus tersesat di warung milik Kakek tua yang Punk. Ya, bagiku Kakek tua itu seorang Punk.

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway #IWritetoInspire

2.9.13

Sebab Dia Menulis | #TributeToPram

2.9.13
#TributeToPram

Saya menutup penghujung bulan Agustus 2013 dengan berjalan-jalan ke desa Sumber Jeruk - Jember. Waktu itu saya tidak sendirian, melainkan berdua bersama istri. Di desa Sumber Jeruk tersebut kami merapat di rumah keluarga Cak Har. Ini bukan kunjungan perdana, melainkan entah sudah yang keberapa kalinya.

Rumah keluarga Cak Har terbilang unik. Kenapa unik? Sebab rumah mungil ini berdiri tepat di kaki gumuk (seperti bukit), yang oleh orang-orang lokal dikenal dengan nama gumuk marada. Dulu saya pernah bertanya, kenapa harus bernama marada? Ternyata nama itu diambil dari nama sesepuh masyarakat.

Pak Kampung

Belum satu jam kami nongkrong, datang Bapak Husen, kepala kampung di desa Glagahwero, tak jauh dari Sumber Jeruk. Beliau bergabung dengan kami. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba kami sudah terlibat pembicaraan panjang seputar sejarah wilayah Sumber Jeruk. Terus terang saya terhanyut oleh apa yang dituturkan beliau. Runtut, rinci, logis, dan sepertinya belum ada yang pernah menuliskan itu.

Ketika saya tanyakan pada beliau, kenapa tidak anda tulis saja kisah tersebut, setidaknya untuk anak cucu nanti? Beliau menggeleng kemudian berkata, "Saya tidak bisa merangkai kata."

Hmmm, kenapa kata-kata ini begitu populer di masyarakat Indonesia? Saya bermain ke desa, ngobrol dengan seseorang, mendapati kisah menarik, tapi tidak ditulis. Maka cerita tersebut hanya akan sepanjang usia sang penutur saja. Ketika cerita tersebut tidak dituturkan lagi oleh orang-orang yang pernah mendengarnya, di sanalah kisah-kisah itu akan menemui ajalnya.

Waktu sudah hampir tengah malam saat Pak Kampung pamit undur diri. Tak lama kemudian saya juga pamit ke keluarga Cak Har. Tak lupa saya ucapkan terima kasih atas kopi, kisah, dan hidangannya. Begitulah, akhirnya saya dan istri meluncur pulang.

Jarak antara rumah saya dengan rumah keluarga Cak Har kurang lebih 30 menit naik motor. Selama itu pula, di perjalanan saya menghanyutkan diri dalam satu dekapan pertanyaan. "Kenapa tidak ditulis?" Saya mengerti, tidak semua hal pantas untuk dituliskan. Tapi kisah yang diceritakan Pak Kampung sangat berbeda. Pastilah indah (dan berdampak baik) jika sekiranya Pak Kampung mau meluangkan waktu untuk mencoba berani menuliskannya.

Sulit juga ya ternyata, mengendarai motor sambil merenungkan sesuatu, haha. Oke lanjut.

Sesampainya di rumah ternyata sudah ada saudara saya, si Ananda Firman Jauhari. Jadi, malam saya semakin panjang. Apalagi Prit membuatkan kami secangkir kopi untuk berdua. Wuih mantap. Jadilah kemarin saya dan Nanda begadang, ngobrol sampai pagi, hingga mengecup 1 September.

Mula-mula saya mengawali obrolan dengan membicarakan lagi apa yang telah saya dengar dari Pak Kampung, tapi tidak semuanya. Hingga pada kalimat pendek, "Seandainya kisah itu ditulis serinci saat Pak Kampung menuturkannya."

Tiba-tiba Terlibat Obrolan Tentang Pramoedya

Sosok Pak Kampung berbanding terbalik dengan seorang Pramoedya Ananta Toer, meskipun Pak Kampung memiliki potensi yang sama. Perbedaannya ada pada masalah keputusan. Berani memutuskan untuk 'mencoba' menulis atau tidak.

Cerita selanjutnya, kami terlibat pembicaraan seputar Pramoedya. Jangan tanyakan bagaimana awalnya, sebab saya lupa.

Nanda Berkisah Tentang Pram

Lama sekali kami saling menyulam cerita. Begadang. Saya ada di posisi pendengar yang baik, Nanda (panggilan untuk Ananda Firman Jauhari) sebagai penuturnya. Mendengar cerita yang dituturkan, saya seperti sedang membaca tulisan orang-orang tentang Pramoedya Ananta Toer. Gamblang, meski sesekali diselingi dengan acara nyruput kopi.

"Hingga pada awal tahun 1950-an, bisa dikatakan kehidupan Pram masih baik-baik saja," kata Nanda memulai ceritanya. Sepertinya Nanda sengaja melangkahi kisah-kisah sebelumnya. Termasuk saat-saat dimana Pram mendekam di penjara Bukitduri di tepi sungai Ciliwung di Jatinegara, selama masa Agresi Militer (1947 - 1949). Pram keluar dari Bukitduri bersamaan dengan pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia, 1949. Di tahun itu pula Pram menikah. Nah, ini yang tidak diceritakan oleh Nanda.

Ternyata benar, Nanda menuturkannya secara acak, namun tetap berbobot.

Kemudian Nanda meneruskan dengan kisah masa-masa produktif Pram dalam kekaryaan di awal 1950-an. Salah satu karyanya yang lahir di era itu adalah yang berjudul, Cerita dari Blora.

Saat itu Pram merasa bisa hidup dengan mengandalkan kemampuannya di bidang tulis menulis. Itulah sebabnya Pram mengambil satu keputusan untuk mengundurkan diri sebagai pegawai di Balai Pustaka, agar dia lebih fokus menulis. Seperti tidak ada masalah, sebab kondisi waktu itu dirasa memungkinkan, termasuk dalam masalah honor penulis.

Di sumber yang lain, pernah juga saya baca bahwa ketika itu Pram juga mendirikan semacam organisasi yang dinamai Mimbar Penyiaran Duta, dengan harapan bisa menjadi penghubung antara penulis dan penerbit.

Bagaimana selanjutnya? Kehidupan Pram masih baik-baik saja, setidaknya hingga tahun 1953. Namun satu tahun berikutnya, yaitu pada 1954, perbedaan mencolok mulai nampak. Kali ini Pram (sekeluarga) sedang tidak baik-baik saja. Pram mulai diserang virus mematikan, yaitu krisis keuangan. Hal ini menyebabkan Pram harus berpisah dengan istrinya, perempuan yang ia nikahi di tahun 1949, sesaat setelah dia dibebaskan dari Bukitduri. Tentu saja ini menyakitkan, terlebih mereka sudah dianugerahi tiga orang puteri.

Nanda meneruskan kisahnya. Dia bercerita tentang suatu hari saat Pram menghadiri pameran Pekan Buku Nasional I yang diadakan penerbit buku Gunung Agung di Gedung Decca Park - Lapangan Merdeka, dia bertemu dengan seorang perempuan penjaga stan. Perempuan ini (Maemunah Thamrin) kelak menjadi istri Pram. Bersamanya, Pram seperti kembali menemukan dunianya. Kembali bergairah dan kembali berseri-seri.

Mendengar cerita dari Nanda, ingatan saya pada beberapa karya Pram (yang sempat saya baca, dan itu pun hanya segelintir) tersegarkan kembali.

Sebenarnya apa yang dituturkan Nanda tentang Pram tidak runtut. Meloncat-loncat namun bergizi. Nanda punya cara sendiri dalam bercerita. Dia tak sekedar bercerita, namun juga mengkritisi. Banyak yang dikritisi oleh Nanda, bahkan pandangan Pram yang kontra pada golongan Manifest kebudayaan juga tak luput dari perhatiannya.

Kenapa Pram dekat dengan orang-orang kiri? Kenapa harus aktif di LEKRA? Apakah Pram seorang komunis seperti yang dulu pernah santer dituliskan di banyak media? Kenapa karya-karya Pram masih berhamburan? Bukankah pada 1965 massa pernah menyerang rumah Pram kemudian membakar satu demi satu naskah tulisannya? Dan seterusnya-dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab oleh cerita dari Nanda, dengan bahasa yang lugas. Saya kira, tidak perlu menjelaskan itu semua di artikel ini, sebab anda dengan mudah bisa menemukannya dari berbagai sumber. Tapi ada satu yang ingin saya tuliskan di sini, perihal kekaryaan. Kenapa karya-karya Pram legendaris?

Sebab Pram Melebur Bersama Karyanya

Iya. Karya-karya Pram berhasil melekat (dan berdampak) pada lintas generasi, sebab dia melaksanakan apa yang telah ditulisnya. Seorang Pramoedya tidak mungkin menganjurkan orang lain untuk rajin menulis jika dia sendiri tidak (malas) untuk menulis. Itulah Pram, yang menghabiskan hidupnya dengan menulis dan melebur bersama karyanya.

Banyak yang terkesan akan karya-karya Pram. Saya juga. Dia senantiasa mengajak kita untuk tak lelah berkarya, tak takut berkata benar, dan berani berkata tidak pada segala bentuk penjajahan.

Kesan Saya

Jika saya terpaksa harus mengutip kata-kata Pram, maka saya lebih memilih untuk mengutipnya dari JEJAK LANGKAH. Sebab, di sana ada kata-kata yang sukses mengingatkan saya pada kekuatan tulisan. Ini kutipannya:

“Ilmu pengetahuan Tuan-tuan, betapapun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia - dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?”

Sungguh, saya terkesan oleh untaian kalimat di atas. Dan tentu saja, sedikit banyak memberi dampak pada kegairahan saya di bidang kekaryaan. Terima kasih Pramoedya Ananta Tour.

Penutup

Sejatinya, orang-orang seperti Pak kampung dan Pram ada di sekitar kita. Tentang dua kubu. Mereka yang berpotensi untuk menuliskan kisah (karena mengerti) namun memutuskan untuk tidak melakukannya, dan mereka yang menulis. Bagaimanapun, keputusan ada di tangan masing-masing orang. Pram memutuskan untuk merayakan hidup, sebab itulah dia menulis.

Sudah dulu ah. Terima kasih dan selamat merayakan hidup!

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway #IWritetoInspire
acacicu © 2014