23.9.13

Lalu Kami Menikah

23.9.13

Tamasya Bersama dan Bersama-sama menjadi Tua

Saat itu 28 Mei 2006, sehari setelah terjadinya gempa di Jogja dan sekitarnya. Saya sudah berpakaian flanel, bercelana lapang, memakai sepatu PDL, berbandana, dan siap-siap berangkat ke Stasiun Jember. Sesuai rencana, saya harus merapat ke sana sesegera mungkin sebab SAR Pencinta Alam Jember mendapat fasilitas gerbong gratis dari Kereta Api.

Di waktu itulah saya melihat ada sepasang mata yang berkaca-kaca. Sepasang mata itu milik seorang perempuan mungil yang biasa saya panggil Prit. Dia menatap saya. Saya GR.

"Sudah jangan sedih." Saya mencoba menenangkannya.

Oalah, ternyata dia bersedih bukan karena saya. Ada sebab lain. Prit sedang mencemaskan hidupnya sendiri sebab logistik di kamar khost sudah habis. Hmmm, ini pelajaran buat yang sedang PDKT. GR bisa menyebabkan keblinger, serangan jantung, imajinasi, dan lupa pada logika.

Jadi ingat kejadian sebelumnya, 1 Januari 2006. Di kala itu Jember sedang menangis oleh bencana yang kemudian dikenal dengan peristiwa Banjir Bandang Panti 2006. Prit sibuk mengepak banyak hal. Tadinya saya pikir dia membantu packing barang-barang untuk saya. Ternyata tidak. Dan saya pun kecelek pethek.

Ketika Kami Saling Memperhatikan

RZ HAKIM: Prit baru masuk Jember tahun 2004, ketika diterima sebagai Mahasiswa Sastra Universitas Jember. Mungkin bulan Juli, lima bulan sebelum terjadinya tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Dia mengikuti LATIHAN ALAM Dewan Kesenian Kampus pada bulan Oktober 2004. Tiga bulan kemudian, barulah Prit tercatat sebagai anggota DIKLATSAR XXIII SWAPENKA. Saya salah satu instrukturnya.

Dia mudah sekali menangis. Pada saat melihat Elis pingsan di rangkaian acara Latihan Alam DKK, Prit mewek. Ketika melakoni DIKLAT Pencinta Alam, dia juga menangis. Hihi, jadi ingat ketika saya memberi instruksi push up ke dia. Push up dengan tetap mencangklong carrier 60 liter. Gadis mungil berkacamata bulat itu pun tertindih oleh carriernya sendiri :)

Prit pernah bercerita tentang orang pertama yang dia kenal ketika berlabuh di Jember. Namanya Tita. Kelak, keduanya sama-sama tercatat sebagai anggota Dewan Kesenian Kampus. Tita aktif di DKK, Prit tak begitu aktif sebab waktunya terbagi antara organisasi kesenian dan pencinta alam.

PRIT: Pertama kali melihat Mas Hakim di pelataran Sekretariat SWAPENKA. Waktu itu, saya sedang mengurus beberapa administrasi mahasiswa baru di Fakultas Sastra. Hanya sepintas melihat dan memang belum ada kesan maupun chemistry apa-apa.

Mas Hakim sedang memakai kaos dua warna. Warnanya jingga kalem berpadu dengan kuning pastel. Tidak begitu mencolok, tapi saya begitu mengingatnya. Satu-satunya hal yang membuat saya selalu mengingat kejadian itu adalah tentang kegiatan yang sedang dilakukannya. Waktu itu kampus memang tergolong sepi. Hanya mahasiswa baru yang jumlahnya segelintir (maklum, peminat sastra memang tergolong sedikit) dan mungkin juga para senior masih libur.

Lelaki gondrong itu sedang membersihkan halaman sekretariat SWAPENKA dan juga membakar beberapa titik sampah. Ah, bagi saya itu adalah hal yang aneh dan unik. Sempat terpikir bahwa lelaki gondrong itu bukan mahasiswa, tapi keyakinan itu hanya sebatas lewat saja. Entahlah, sejak itu saya mulai terjangkit penyakit penasaran. Mas gondrong yang suka bikin api unggun itu mahasiswa sini bukan ya?

RZ HAKIM: Prit pencinta Iwan Fals, Batigol, dan Bob Marley. Saat mulai khost di Jember, dia membawa serta seluruh koleksi album pita Iwan Fals milik Bapaknya. Tidak lupa poster-poster sepak bola yang ada wajah Batigolnya. Kelak, saya pernah bersaing dengan para lelaki ini.

Lagu-lagu yang saya sukai cenderung lebih lokal. Misal, lagu-lagu slow rock era 90an. Karena saya sering memetik gitar dan menyanyikan lagu-lagu itu di SWAPENKA, Prit terinfluence. Dia mulai menyukai lagu-lagu milik Andy Liany, Sang Alang, Hengky Supit, dan masih banyak lagi. Prit juga mulai memperhatikan, ketika saya menyanyikan lagu-lagu ciptaan sendiri.

23 September 2007

Lahirlah tamasya band. Prit turut andil di dalamnya sedari awal. Berperan sebagai pengelola keuangan, bisa dibilang Prit sedikit kejam kalau urusan duit. Istilah Jawanya primpen.

Pernah pada suatu hari di awal tahun 2008, tamasya band ketiban rejeki. Kami memenangkan sebuah festival musik. Juara satu untuk wilayah Eks-Karesidenan Besuki. Untuk itu kami berhak tampil kembali (tingkat regional) di Stadion Tambaksari Surabaya pada 18 Februari 2008. Sepulangnya, tamasya band membawa uang satu juta. Uang itu langsung diserahkan ke Prit. Dan apa yang terjadi? Prit tidak punya uang. Dia memegang uang satu juta tapi kelaparan, haha.

PRIT: Akhirnya lelaki gondrong itu mempunyai band, sebab ia dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang baik. Dia menciptakan lagu, menyanyikan lagu-lagunya sendiri, dan masih menyisakan waktu untuk membuat api unggun. Dia juga suka berkebun.

Semakin hari, saya semakin mengenal lelaki gondrong bernama RZ Hakim ini. Mahasiswa Sastra Ilmu Sejarah yang tidak suka kuliah, tidak suka hal-hal berbau seremonial yang kaku, tidak betah berpakaian rapi, malas menyisir rambut, malas mandi, tapi senang bersosialisasi. Saat mahasiswa lain sibuk bercakap-cakap dengan dosen di luar jam kuliah, Mas Hakim juga terlihat asyik cangkruk'an bareng Cak Busar, Mas Jono, Pak Sutikno, Pak Kahar, Mbak Titin, Ibu Kantin, dan orang-orang bersahaja lainnya. Mas Hakim juga bersahabat dengan beberapa pengemis dan pemulung yang areal buruannya ada di wilayah Kampus Bumi Tegalboto Jember.

Yang tidak saya sukai dari Mas Hakim..

Dia perokok berat. Pernah berusaha keras mencoba berhenti merokok, tapi hanya berlangsung kurang dari tiga bulan. Ketika itu Mas Hakim tampak loyo, tidak bisa menciptakan lagu, dan malas beraktifitas. Akhirnya saya tidak tega melihatnya. Hmmm, dulu sekali, saya pernah ingin menuliskan ini. Tapi kata Mas Hakim, "Jangan nduk, hari ini rokok adalah sesuatu yang sangat sensitif untuk diperbincangkan. Alamiah sajalah. Asal Mas Hakim tidak merokok di samping perempuan hamil, di kendaraan umum, di tempat-tempat yang tidak seharusnya... bla bla bla.."

Ketika Mas Hakim melakukan proses kreatif kekaryaan, dia bisa menghabiskan berbatang-batang rokok. Kata-kata 'rokok' juga masuk dan berpengaruh di beberapa lagu yang ia ciptakan. O'ow.. Kenapa saya terus-terusan menuliskan tentang ini ya? Bukankah sudah diingatkan bahwa ini sensitif untuk sebagian besar orang?

Ada lagi uneg-uneg di hati yang lama sekali tidak saya sampaikan. Tentang lagu-lagu Mas Hakim. Biasanya lagu ciptaannya berkisah tentang kehidupan sehari-hari, cinta dalam arti yang luas, issue lingkungan, dan persahabatan. Tak pernah Mas Hakim menciptakan lagu cinta yang manis lagi romantis. Kelak, Mas Hakim bikin juga lagu yang seperti itu. Judulnya, LAGU UNTUKMU. Kawan-kawan suka lagu itu. Anehnya, saya justru tidak suka. Di telinga saya, 'lagu untukmu' terdengar sangat menyebalkan. Saya pikir, itu bukan untuk saya.

Sepertinya Mas Hakim paham betul dengan apa yang saya rasakan. Dia membiarkan saya dengan segala kemangkelan yang bertumbuh di hati.

Suatu hari, entah untuk yang keberapa kalinya saya dekat dengan lelaki. Kali ini, saya memberinya sedikit peluang. Demi melihat itu, Mas Hakim uring-uringan sendiri. Dia mulai sering marah pada hal-hal tidak penting yang berkaitan dengan saya. Lho, kok aneh? Kalau suka bilang dong, bathin saya. Kalau nggak, ya sudah. Makan tuh LAGU UNTUKMU.

Pertengkaran-pertengkaran yang tak jelas juntrungannya itu justru membuat kami semakin dekat. Ohya, saya baru ingat. Sebenarnya Mas Hakim pernah menyampaikan perasaannya secara tersirat, pada suatu hari. Waktu itu bersamaan dengan jebolnya gerbang kecil Fakultas Sastra Universitas Jember yang menghubungkan dengan Jalan Jawa. Tanggal 13 Januari, entah tahun berapa. Mungkin 2007.

RZ HAKIM: Ketika tamasya band tampil, di jeda lagu, saya pernah ditanya oleh seorang MC. "Asyik ya Mas, pas nyanyi ada cewek yang nyamperin dan ngasih bunga. Nggak ada yang cemburu nih?" Ahaha, saya cuma tertawa. Yang memberikan bunga itu namanya Lila, adik saya sendiri di SWAPENKA. Kata teman-teman, waktu itu saya melirik ke arah Prit. Tentu saja saya menyangkalnya, meskipun saya tahu itu benar.

Kata Nanda, lelaki seperti saya ini tipe lelaki yang mencintai perempuan dengan cara perempuan, alias nggak bisa ngomong. Mirip seperti lagu Jamrud berjudul Pelangi di Matamu (lagu ini pernah dinyanyinyan SBY waktu kampanye terselubung di AFI, 19 Juni 2004). Apa iya saya seperti itu?

Tentang lagu untukmu? Ahaa, lagu itu masuk dalam album tiga tamasya band. Sepertinya Prit melupakan album dua. Di album kedua, ada lagu berjudul Zuhanna dan satu lagi berjudul Untuk Bunga. Lagu berjudul Zuhanna sudah jelas, untuk siapa lirik-lirik tersebut dipersembahkan. Lagu ini juga mendapat support penuh dari keluarga tamasya. Di lagu kedua, ada tertulis lirik, "Aku butuh teman bicara sampai tua," dan itu untuk Prit.

Kembali ke lagu untukmu. Oh ya ya, saya tahu sekarang. Di lagu Untukmu, ada lirik seperti ini, 'biarku berjuang untuk mengubur dalam-dalam, getar rasa hati dan mimpi untuk menjadikanmu Ibu dari anak-anakku nanti.' Prit memang perasa, sebab itulah saya mencintainya. Mungkin dia bukan yang tercantik di jagad ini, tapi dia yang terbaik untuk saya.

PRIT: Ketika Launching Save The Tree #3 (album tiga) tamasya baru dimulai, saya masih berusaha keluar dari lebatnya hutan Taman Nasional Meru Betiri. Ada acara lingkungan, tapi sudah usai. Harusnya saya sudah ada di samping Mas Hakim. Membantunya menyiapkan bandana, baju-baju, dan segala yang dibutuhkan saat tampil bernyanyi. Tapi truk yang saya tumpangi terhalang oleh truk yang mogok. Jalur makadam di dalam hutan tidak memungkinkan untuk truk yang saya tumpangi menyalip truk mogok di depannya. Saya menangis di depan Almarhum Mas Bintariadi, seorang penulis senior yang sekaligus kakak saya di SWAPENKA. Semua itu pernah saya tuliskan di sini.

Terlewat sudah acara pembuka launching berupa tari tradisional. Saya juga hanya bisa membayangkan (sambil menangis) ketika tamasya band bernyanyi, kemudian di belakangnya ada Paduan Suara Mahasiswa Fakultas Ekonomi UJ. Pastilah indah. Lepas dari itu, saya memikirkan Mas Hakim. Dia selalu ndredeg setiap kali hendak melangkahkan kaki menuju panggung. Ini memang rahasia umum keluarga tamasya. Biasanya, di saat-saat seperti itu saya selalu ada di dekatnya.

Iya saya menangis. Bahkan ketika saya sudah tiba di lokasi, saat panggung mulai diturunkan, saat orang-orang menyambut keterlambatan saya dengan wajah yang masih hangat dan ceria, kedua mata saya sudah mendung. Tak lama kemudian, tangis saya membuncah di dada Mas Hakim.

Saya masih ingat, saat itu tatapan Mas Hakim meneduhkan saya. "Santai saja, jangan terlalu dipikirkan, pasti ada hikmahnya," begitu kata Mas Hakim. Malam itu Mas Hakim terlihat manis sekali.

RZ HAKIM: Begitulah. Ada banyak cerita antara saya dan Prit. Panjang. Catatan ini pun sudah saya usahakan untuk tampil seringkas mungkin, namun sepertinya saya gagal untuk meringkasnya.

Bersama Prit, saya jadi terbiasa mengikuti ritme para jurnalis. Iya, Prit seorang jurnalis di sebuah koran yang berkantor di Surabaya dan Jakarta. Ketika dulu dia sibuk menyelesaikan skripsi, Prit memilih untuk istirahat.

Jauh sebelumnya, Prit pernah mengabdi di sebuah MTs di desa Bintoro. Satu tahun dia mengajar di sana, berdua dengan kakak SWAPENKA-nya, Ananda Firman Jauhari. Kelak, Nanda kembali berproses di zona yang sama, tapi di Sokola Rimba.

Ketika Ibu saya meninggal dunia, 24 Mei 2008, Ayahnya Prit (Prit biasa memanggil Bapaknya dengan satu kata saja, Bob) datang dari Tuban ke Jember. Selain turut berbela sungkawa, beliau juga menanyakan arti kedekatan saya dengan putri sulungnya. Kemudian saya pun berkata. Baru saya sadari ternyata saya sedang melamar anak orang untuk diri saya sendiri.

Selanjutnya..

Pada 10 September 2011, Bapak meminang Prit untuk saya. Dan mulailah kami mencari tanggal yang pas untuk menikah. Kejadian ini saya ukir dalam sebuah lagu berjudul, Pada 10 September.

Lalu Kami Menikah

Itu terjadi pada tanggal lima belas bulan sebelas tahun dua ribu sebelas. Ya, kami menikah. Horeeee.... Senangnya dapat support habis-habisan dari berbagai sisi, termasuk yang istimewa adalah kehadiran Pak De Abdul Cholik beserta Bu De Ipung.

Adapun tamasya band, Alhamdulillah masih berproses hingga sekarang. Kami memulainya saat semuanya bujang. Seiring berlalunya waktu, satu persatu dari kami menikah. Tamasya band adalah buku harian untuk saya, Prit, dan kawan-kawan.

Berkelana bersama-sama dan bersama-sama menjadi tua, itulah kami. Dan ketika maut menjemput, saya ingin saat itu saya sedang berbaring di atas ranjang di rumah kecil milik kami, yang terletak di wilayah kampung tamasya (seperti yang pernah saya bilang, kami keluarga tamasya ingin memiliki kampung sendiri, dimana tak ada lagi sampah plastik dan kebohongan). Alangkah indahnya jika di saat itu Tuhan mengijinkan saya untuk berkumpul bersama anak cucu, dan orang-orang yang saya cintai, untuk yang terakhir kalinya. Doa saya, semoga ketika itu terjadi saya sudah menyediakan mental untuk dilupakan. Dikenang atau dilupakan, hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Sedikit Tambahan

Turut mengucapkan 10th Wedding Anniversary untuk Mbak Uniek beserta Mas. Segala doa yang terbaik untuk Mas dan Mbak. Sebab segala perjalanan panjang pantas dirayakan, sebab itulah saya ucapkan selamat merayakan hidup dan kebersamaan.


Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine


70 komentar:

  1. ini panjang, tapi tidak membosankan untuk dibaca
    ini tidak manis, tapi sangat gurih dan rasanya seimbang
    cerita ini, tak hanya indah, tapi natural dan jujur.. :)
    begitulah cinta, tidak pernah selamanya indah, tapi akan selalu bermakna karena kejujurannya... :) selamat menjalani hari-hari bertukar pengertian dan kasih sayang,, semoga Allah SWT selalu menyajikan kemudahan-kemudahan untuk kalian... :) juga untuk mbak Uniek dan suami..

    BalasHapus
    Balasan
    1. RZ HAKIM: Saat itu bulan Mei 2010, saya masih belum aktif di blog acacicu dotkom. Ketika itulah Mbak Iyha dan Mas Nakho menikah. Mungkin tanggal 18, atau 19 Mei 2010. Kelak, pada 21 September 2010 dia berkomentar di acacicu, di tulisan saya yang berjudul Semenjak Mak Pergi,, Komentar perdana yang menyejukkan :)

      Dulu ada tokoh fiktif bernama Dasrun. Kata Uncle Lozz, ingat Mbak Iyha ingat Dasrun, hehe.. Iya benar. Dalam tokoh Dasrun, saya pernah berkolaborasi dengan Mbak Iyha. Judul artikel yang saya tulis, Dasrun dan Lagu Terakhir

      Kini Mbak'e sudah punya jagoan Osar, si kecil nan menggemaskan. Itulah yang membuat Mbak Iyha sekarang punya nama baru, Ami Osar. Hmmm, nama yang cantik, seperti orangnya.

      Hai Osar kawan kecilku, salam lestari ya!

      PRIT: Benar kata Ami Osar, cinta tak selamanya indah, tapi kejujuran membuat segalanya terasa lebih baik.

      Peluk cium buat Ami, dan salam hangat untuk orang-orang yang Ami Osar cintai. Ohya, makasih kiriman bukunya (Saya Orang Kaya), telah sampai tadi siang di Jember.

      Hapus
  2. Hmmmm...sepertinya lumayan panjang juga ya mas perjalananya sebelum akhirnya menikah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, dan masih banyak yang belum terceritakan. Makasiiiih

      Hapus
  3. Kisah yang manis...ringan dan menghibur ketika dibaca...serasa ikut berbunga-bunga :D

    Semoga berbahagia ya mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Robbal Alamin.. Maturnuwun..

      Hapus
  4. Kolaborasi yang cantik :)

    Barakallah, ya, Mas. Semoga senantiasa bahagia sampai ke tua :)

    Kangen ke Jember lagi saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Ayo kalau mau ke Jember Mbak. Kawan-kawan ada acara Save Gumuk tanggal 28 September 2013 :)

      Hapus
  5. Anonim05.54.00

    Begitulah yg maha kuasa menyatukan dua hati yg berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penuh rahasia, liku-liku, namun indah jika memutuskan untuk memetik keindahannya

      Hapus
  6. kurang critone mas,,,seg tiba2 ngelamar mbak priit iku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... Nglamar sing tanggal 10 September kuwi tah? Critone dowo.. Tak ke'i link lagune ae ya.. Iki link'e:

      PADA 10 SEPTEMBER

      Hapus
  7. Kisah-kasih yang romantis
    Melihat foto di atas serasa berada di Timur Tengah
    Semoga berjaya dalam GA
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi.. itu foto di atas mobil pick up De. Ketika tamasya band ada acara di Kota Lumajang. Prit mabuk kalau naik mobil tertutup (tapi akhirnya saat itu prit mabuk kendaraan juga). Maturnuwun Pakde :)

      Hapus
  8. Anonim09.48.00

    salam kenal.. runtut sekali ceritanya.. barakallah pernikahannya..
    sukses GAnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang rasanya dikunjungi oleh blogger yang pencinta hujan, penikmat senja dan pengagum rahasia malam. Makasih ya Mbak Eda, salam hangat dari kota kecil Jember.

      Hapus
  9. manis banget ceritanya .. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada Mbak Dey si empunya September ceria.. Selamat ya Mbak Dey, layak kami contoh.

      Hapus
  10. cerita yang romantis, pastinya terkenang terus ya mas. semoga jadi keluarga sakinah mawwadah wa rahmah, amiinn.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Robbal Alamin.. terima kasih mom..

      Hapus
  11. Seru yaa, ceritanya.. suka deh..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya Mbak.. Kapan nih maen ke Jember?

      Hapus
  12. Teknik bercerita yang unik, jadi makin hidup dan mengalir. Sesekali ada tegangan dan kontroversi (kemakmuran). Semoga cinta Anda berdua langgeng diiringi nada-nada ceria dari Tamasya band dan tentu ridha Allah.... Kopinya mana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk... asli ngakak waktu baca kata-kata di dalam kurung :)

      Amin Ya Robbal Alamin.. Sampeyan pancen layak dapat kopi spesial sam.. Maturnuwun nggih..

      Hapus
  13. Dan ga tau kenapa, aku pengen nangis berok-berok pas baca ini... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah jangan dong Ca. Nanti kita jadi ikut-ikutan nangis ginjal-ginjal lho..

      Masih teringat saat Ica dan yang terkasih datang ke rumah, beberapa saat setelah Mas hakim dan Mbak Prit menikah. kalian membawakan dua buah buku teball-tebal, berisi tentang liku-liku rumah tangga dilihat dari berbagai sisi. Terlebih sisi agama. Indah sekali. makasih ya Ca, semoga buku itu kelak mengantarkan kita ke surga, lalu kita membuat kampung di sana, hehe... Amin YRA.

      Hapus
  14. mantap surantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai admin obat herbal, makasih ya komentar-komentarnya. Mohon maaf ke-14 komentar yang lain saya tiadakan di artikel ini. Sara rasa, cukuplah satu link ini saja. Nggak apa-apa kan? Oke, makasiiiih. Hidup obat alami!

      Hapus
  15. so sweeeeettttttt................baarokallah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maturnuwun ya Mbak Hanna.. Namanya sama kayak Prit, sama-sama Hanna.. hehehe... Mau ngomong ini sejak dulu lupa thok.

      Hapus
  16. unik postingannya, karena ditulis dari dua sisi yang berbeda.
    pasti menang deh!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo Mbak, ikutan juga di kuisnya Mbak Uniek..

      Mbak Uniek, kenalkan ini Mbak Elsa, blogger Jombang. Atau sudah kenal ya? hehe...

      Makasih Mbak Elsa.

      Hapus
    2. Salam kenal ya mb Elsa :) *manut karo sing duwe blog

      Hapus
  17. kapan punya adik bayi Om Masbro??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaaa.... Belum sayang, doakan yaaa... Orang bijak bilang, doanya putri kecil yang cantik jelita lagi baik hati itu manjur..

      Hapus
  18. Duh manis nian kisah cintanya. Jadi ngusap air mata hehheehe..Semoga Mas Hakim dan Prit selalu dilimpahi berkah oleh Allah sehingga bisa terus melukisah kisah-kisah manis. Amin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan ini jadi nampak manis ketika dikomentari sama Mbak Evi, hehe.. Manis rasa gula aren. Amin Ya Robbal Alamin, terima kasih doa dan cintanya ya Mbak Evi. Salam kami (saya dan Prit) untuk Mbak dan orang-orang tercinta di sekitar hidup Mbak.

      Hapus
  19. alhamdulillah saya sudah mengenal mereka berdua walaupun tidak lama ketika saya kuliah di jember

    keduanya memang pasangan yang saling melengkapi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, senang bisa mengenal Boll.. Lebih senang lagi, saat singgah di rumahmu, Jombang :) Kopdar-kopdaran yo hehe...

      Hapus
  20. perjalanan cintanya unik dan seru mas :) semoga menang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada Mbak Lidya, kangen reek.. Lama nggak cuap-cuap :)

      Makasih ya Mbak..

      Hapus
  21. perjalanan cinta yg unik tp maniiss...
    sukses ngontesnya mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Enny Mamito :)

      Hapus
  22. GA ini ya... membuat saya terharu aja. Banyak kisah keren yang di share (Saya kan jadi mupeng) >,< ., semoga sukses ya GA-nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. jangan mupeng dong :) Saya kan jadi ikut-ikutan sedih... Makasih banget apresiasinya.

      Hapus
  23. kampung tamasya.. aahh aku ikut membayangkan tinggal bersama keluarga di kampung bersih dan damai seperti yang mas deskripsikan :)
    barakakkah mas, semoga bahagia selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. PRIT : Ayok Mbak, bareng-bareng sama kita bikin kampung tamasya. Heheheh.. Aminn, terima kasih Mbak :)

      Hapus
  24. Kisah yang sangat bagus sekali, semoga berjaya dalam kontes nya

    BalasHapus
  25. indahnya skenario Tuhan ya mas, semoga mas hakim dan mbak prit rukun selalu ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. PRIT : Amin... Terima kasih Mbak. Skenario Tuhan memang selalu indah dan penuh makna Mbak :)

      Hapus
  26. suwun partisipasinya ya mas Hakim & mb Priit... meskipun aku dan kalian sama2 punya kisah cinta ala pecinta alam, tapi penokohannya beda banget. klo mb Priit dikit2 berkaca2, klo aku dan ojobku mbiyen sithik2 ekeeerrr wae :D Alhamdulillah eker membawa nikmat hehehee....

    BalasHapus
    Balasan
    1. PRIT : Iya Tante, sama-sama. Hehe.. Ketemu karo Tante Uniek kosakataku kembali lagi,hehe. Eker. lama gak krungu,heheh...

      Hapus
  27. Dari awal hingga akhir mengapa aku menekan mataku dengan hati yang kian hendak tercurah air mata ini ya? Seperti mengalami sendiri *wuuuuzzz...perjalanan yang begitu indah, mungkin sama, mungkin beda tapi aku apsti tak mampu menuliskannya seperti yang dituliskan kalian berdua. Sekali lagi tulisan ini keren dan sukses GAnya ya. Salam Astin

    BalasHapus
    Balasan
    1. PRIT : Hehehe... terima kasih atas apresiasinya Mbak Astin :)

      Hapus
  28. Cerita awal kehidupan yang penuh dengan perjalanan cinta yang mengasyikan. Semoga bisa langgeng dalam keberkahan hidup untuk terus saling berbagi, walu sekecil apapun. Bahwa hari esok selalu ada dan tetap menanti sebuah senyuman setiap sangan yang penuh rasa cinta dan kasih dalam mengisi kehdiupan ini.

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Robbal Alamin.. Terima kasih doanya ya Mas Indra. Salam :)

      Hapus
  29. berapa hari n berapa kali pemikiran tu mas...saya bacanya gak habis2....*jadi ngiri.*.kalau saya cerita perjalan cinta saya kira2 saya dapat piring gak ya mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada Gam.. Jadi ingat kemarin malam waktu nelpon kamu.. Teknologi komunikasi membuat jarak Jember - Aceh terasa dekat ya Gam, hehe..

      Ya ya ya, tak kasih piring emas :)

      Hapus
  30. saya suka dan pingin punya cerita yang mirip kayak mas hakim dan mbak prit... Tapi saya percaya Tuhan pasti ngasih kebahagiaan yang sama walaupun dengan cara yang berbeda..
    Semoga bahagia mas bro.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya juga percaya itu.

      Terima kasih. Senang membaca komentarnya, terasa adem di hati :)

      Hapus
  31. perjuangan yang begitu panjang..... semoga tetap langgeng ya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Robbal Alamin, terima kasih...

      Hapus
  32. mbak pritt nangisan. hahahah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyo, podo karo Kelor :)

      Hapus
  33. Anonim21.36.00

    Blog awak nie agak popular kat FB ... ramai kawan2 share pos2 dari blog awak...

    saya nak mintak izin share gak la .. :)

    Feel free to visit my page - Kaedah Hebat Di Kamar

    BalasHapus
  34. So sweet deh perjalanan Mas Hakim dan Mba Prit, lama-lama bisa jadi satu buku nih, kisah kaliah berdua.Gak nyangka kalo Mba Prit gampang nangis..hehehe. Semoga langgeng dan bahagia.

    BalasHapus
  35. Gak ngerti ate komen opo Mas...

    Alhamdulillah. Saya merasa senang sekali bisa mengenal Mas dr tulisan dan lagu2 TamasyaBand. Dan yg semakin membuat bulu kuduk merinding, ketika saya baca post ini, lagu dihape saya memperdengarkan lagu sampean.

    saya jarang baca tulisan Mbak Prit. Saya sengaja. Saya merasa blm waktunya saya tau dr dua sisi.

    oiya mas. Nanti kalau Pencipta waktu mempertemukan kita. Tolong jangan langsung ilfil sama saya, karena akan terasa garing diawal. Saya pemalu. Tp tolong jg yg sabar bila saya bertanya (banyak bertanya) tentang yg sepele2.

    wes sik yo Mas.

    BalasHapus

acacicu © 2014