31.10.13

Mengamati Zyxomma Obtusum Kala Senja Datang

31.10.13

Zyxomma Obtusum - Dokumentasi oleh Faisal Korep

Tak terasa, sudah sebelas hari saya mengamati capung senja bernama ilmiah Zyxomma Obtusum ini. Yang saya jumpai bukan hanya satu ekor melainkan sepasang. Warnanya (antara jantan dan betina) hampir serupa. Entahlah, mungkin karena saya tidak bisa menangkap keduanya, jadi warna terlihat hampir sama.

Selama proses mengamati, tak pernah sekalipun saya melihatnya 'menclok' di dedaunan atau di ranting-ranting. Benar-benar jenis capung yang gesit.

Pada malam tanggal 29 Oktober kemarin (kira-kira pukul sepuluh malam), salah satu dari capung ini masuk di sekretariat SWAPENKA dan menabrak-nabrakkan dirinya di benderangnya lampu neon. Kemudian hilang entah kemana. Kabar ini saya terima dari anggota Pencinta Alam SWAPENKA bernama Nendes.

Benar. Esok sorenya, 30 Oktober 2013, saya hanya menjumpai satu ekor capung Zyxomma Obtusum. Apakah yang satunya lagi sudah mati? Entahlah, saya tidak berani menyimpulkan begitu.

Foto di atas dijepret oleh Faisal Korep pada Jumat sore, 25 Oktober 2013. Sengaja saya menangkapnya dengan jaring udara, ketika capung itu sedang terbang di sekitar kolam ikan SWAPENKA. Setelah si capung warna putih kapur ini berhasil tertangkap, saya mulai mengamatinya.

Hampir semua tubuh Zyxomma Obtusum berwarna putih kapur. Bahkan sayapnya yang transparan, dipenuhi oleh jaringan otot sayap yang berwarna putih. Namun, ujung sayap memiliki warna lain yaitu coklat tua mendekati merah hati. Kakinya juga berwarna coklat.

Setelah selesai mengamati, capung cantik ini saya terbangkan kembali. Aneh, dia selalu terbang di tiga titik. Kalau nggak di kolam ikan di pelataran SWAPENKA, pastilah di sumur belakang, atau di selokan yang tak jauh dari sekretariat SWAPENKA Fakultas Sastra Universitas Jember. Hmmm, mungkin daya jelajah capung ini memang terbatas.

Ada yang lucu. Banyak yang bilang, capung ini hanya bisa dijumpai pada saat senja menjelang maghrib. Itulah kenapa ada saja yang menyebutnya dengan capung senja. Padahal beberapa hari yang lalu saya menjumpainya pada pukul setengah empat sore. Yang lebih lucu lagi, si Zyxomma Obtusum terlihat biasa saja dengan kondisi selokan Fakultas Sastra UNEJ yang sangat kotor, jauh dari kata jernih. Kok bisa ya? Katanya indikator air bersih?

Terlepas dari rasa penasaran itu, saya jatuh cinta pada serangga endemik nusantara bernama ilmiah Zyxomma obtusum (Albarda 1881) ini. Semoga capung Zyxomma Obtusum yang selalu saya tunggu di setiap senja ini termasuk capung putih yang aneh. Harusnya dia adalah indikator keberadaan air bersih, dan tak tahan hidup di perairan yang tinggi pencemaran.

Salam Lestari!

Tambahan

Bagian ini sengaja saya tambahkan di sini (6 November 2013) dan tidak di posting baru, karena berhubungan erat dengan seekor capung Zyxomma Obtusum yang tersesat di dalam sekretariat SWAPENKA dan menabrak-nabrakkan dirinya di lampu neon. Itu terjadi pada 29 Oktober 2013, malam hari.

Pada 4 November 2013 siang, ketika saya menjemput istri di sekret, ada saya temukan capung ini melayang ke bawah (dari wuwungan) mengikuti gaya gravitasi. Ow, ternyata si capung Zyxomma Obtusum yang tersesat itu sudah tak bernyawa. Saya membawanya pulang, kemudian memotretnya.


Kepada Mas Ivan Bajil saya katakan, "Saya minta tolong Mas, bagaimana caranya mengawetkan capung putih ini?" Sore itu juga Mas Ivan Bajil memboyong capung yang sudah mati itu ke Kalisat. Katanya capung ini mau diawetkan dengan campuran cairan resin.

Sudah, terima kasih.

29.10.13

Dia Bernama Gynacantha subinterrupta

29.10.13
Tadi sore saya bahagia sekali. Bukan sebab saya ngopi rame-rame bersama apikecil, Uncle Lozz, dan Pije Lie, melainkan ada sebab lain. Apakah itu? Ya benar, ini masih berhubungan dengan capung. Tadi sore, saya menemukan capung yang cantik sekali. Mulanya saya pikir itu adalah capung Amphiaeschna ampla. Ternyata tebakan saya tidak benar.

Capung berukuran besar dengan corak biru di thorax dan mata majemuk yang juga berukuran besar ini tampak terbang merendah di samping kiri gedung SDN Glundengan 3 Wuluhan - Jember. Sementara di sisi sebelahnya lagi, terhampar ladang jagung berhektar-hektar. Disanalah saya berjumpa dengan si cantik dengan nama ilmiah Gynacantha subinterrupta (Rambur, 1842).


Gynacantha subinterrupta. Dokumentasi oleh Vj Lie, 29 Oktober 2013

Selain di Indonesia, capung yang hanya aktif di waktu petang ini juga dijumpai di China, Guandong, Guangxi, Hong Kong, Hainan, Myanmar, Malaysia, Philippines, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Data dari asia dragonfly.

Apakah mudah memotret si cantik Gynacantha subinterrupta? Tentu saja tidak. Beberapa saat sebelum terjadi perjumpaan, Desa Glundengan (Wuluhan, Jember) habis disiram hujan. Tanah membasah dan becek. Lagipula, sudah menjelang maghrib. Di saat itulah Vj Lie harus mengendap-endap demi mendapatkan gambar yang ideal. Sayangnya, si Gynacantha subinterrupta menclok di dahan basah yang di bawahnya ada ular dengan ukuran lumayan besar.


Dijepret oleh Vj Lie. Jenis ular tidak teridentifikasi

Kaget? Tentu saja. Namun pesona capung cantik bernama ilmiah Gynacantha subinterrupta tersebut begitu menggoda, seakan memiliki medan magnet yang tinggi. Akhirnya ular itu coba diusir dengan melempar-lemparkan kerikil ke arahnya. Lho kok ularnya diam? Ealah, ternyata ularnya sudah tak bernyawa, hehe.

Hmmm, mau cerita apalagi ya? Sudah ah. Salam Lestari!

22.10.13

Capung Untuk Billy

22.10.13

Crocothemis Servilia Jantan

Hai Bil, aku masih mengingat perjumpaan kita di 18 Oktober 2013 kemarin. Waktu itu, terik mengecup kulit bumi, kita sama-sama baru keluar dari masjid. Jum'atan. Kau mengendarai motor matic dan menawarkan diri untuk mengantarkanku. "Aku jalan aja Bil, siapa tahu nemu capung," begitu kataku.

Sebelum kau berlalu, aku mengajakmu janjian ngopi. Kau bilang, "Nanti malam di tempatnya Bogi." Sayangnya, malam itu aku dan Prit meluncur ke Jember Selatan, kira-kira 45 menit perjalanan dari rumahku.

Rencana ngopi di tempat Bogi, sahabat karibmu, menguap sudah.

Esoknya. Sabtu, 19 Oktober 2013. Prit mewek, dia menerima kabar duka yag disampaikan oleh adiknya, si Iben Siena. "Mbak, Bogi meninggal dunia. Kecelakaan." Selama ini Iben tidak pernah berbohong. Lagipula, Iben adalah tetangga rumah Bogi di Lamongan. Innalillahi Wa Innailaihi Roji'un.

Lalu, tak lama kemudian di jejaring sosialnya Prit menulis sepert ini:
Selamat Jalan Bogi...

Kita pernah menjadi teman seperjalanan ketika mudik. Entah tahun berapa. Aku lupa. Ekspedisi mudik terlama menggunakan motor, karena waktu itu kita mbarengi mas Telo yang baru pertama kali mudik pake motor. Memenuhi jalan dengan harapan ngopi dan cangkruk di setiap jalan, haha. Kita sampai hapal mana kopi yang enak, dan mana kopi yang hanya menggunakan air termos. Ku rasa itu perjalanan yang menyenangkan ya. Makan sahur di rumah Pece dengan oseng cumi-cumi dan sate. Betapa campur aduknya perut kita waktu itu.

Saat tiba di Lamongan, masih ada masalah tersisa. Bengek (Iben Siena) ketiduran, dan kita sudah berulangkali mengetuk pintu rumahnya sampai dia benar-benar terjaga.

Masih ingat, ketika kita menghabiskan malam dengan bergelas-gelas kopi dan poker. Sampai kartu-kartu itu usang dan memudar. Tapi, yakinlah, semua kenangan tentang dirimu takkan pernah pudar. Bogi, selamat jalan kawan. Segala doa terbaik mengiringi kepergianmu.

Lalu Aku Teringat Dirimu Bill..

Billy, adalah mudah mengatakan banyak hal yang bersifat menghibur. Aku bisa saja sekarang berkata, cara terbaik untuk mengenang Bogi adalah dengan mendoakannya. Tapi pastilah kau telah melakukannya, dan akan selamanya begitu. Aku juga mempersembahkan doa terbaik untuk Almarhum.


Crocothemis Servilia Betina

Sehari setelah kepergian Bogi, aku mencoba menghibur Prit dengan mengajaknya jalan-jalan dan sekaligus mengamati capung. Kata Prit, capung ini untukmu. Berharap semoga kau kembali berdiri dan kembali menggiring bola. Lihat Billy, aku berhasil menemukan Crocothemis Servilia Jantan. Warnanya merah. Semoga kau suka.

Sampaikan salamku untuk calon istrimu, Anindita Mindiasari.

"Hai Anin cantik, capung kuning tua ini untukmu.." Jenis Crocothemis Servilia Betina. Dia juga dikenal sebagai capung pengawas. Hidupnya di persawahan dan di rawa. Terbanglah. Terbang dan hiburlah si Crocothemis Servilia Jantan. Saat ini dia mungkin rapuh, tapi pura-pura kuat.

Sedikit Tambahan

Dua foto di atas dijepret oleh Pije, saat kami melakukan pengamatan capung di belakang rumah panaongan, 20 Oktober 2013.


Ketika berteduh di Gang Melawai, Balung Lor, aku dan Prit berjumpa dengan Pak Su sang penjual arbanat. Hari itu, 20 Oktober 2013, beliau berkata, "Ojo lali, kabeh sing urip iku pasti bakalan mati." Bill, Nin, Prit, mari kita ingat-ingat saja apa yang telah diucapkan oleh lelaki sepuh tersebut.

Istirahat dengan tenang, Bogi Setiawan. Terima kasih untuk semuanya..

16.10.13

Mengamati Capung Saat Hujan Turun

16.10.13

Orthetrum sabina, dipotret oleh Bang Korep pada 16 Oktober 2013

16 Oktober 2013 adalah Rabu yang indah bagi warga Jember. Ya, kota kecil ini diguyur oleh butir-butir air hujan pada siang dan sore hari. Bau tanah kering yang tersiram hujan begitu khas begitu dirindukan. Sepertinya, para capung juga merindukannya. Tak terkecuali si cantik Orthetrum sabina.

Ketika hujan turun di sore hari, saya dan Prit sedang ada di sekretariat Pencinta Alam SWAPENKA. Sesuai rencana, saya, Prit, dan Bang Korep hendak menikmati sore dengan jalan-jalan sambil melakukan pengamatan capung. Tapi lha kok ndilalah awan di langit menggumpal gelap. Benar saja, tak lama kemudian rintik gerimis mulai menyapa.

Apakah gerimis menghentikan langkah saya untuk mengamati capung? Tentu saja. Saya lebih memilih untuk nyruput kopi di kebun belakang SWAPENKA. Surprise! Kedua mata saya menangkap bayangan capung yang sedang berpindah tempat dari dedaunan ke ujung kayu kering, lalu berpindah lagi ke beberapa titik. Wah, ternyata gerimis tidak berhasil menghentikan agenda saya untuk mengamati capung.

Apakah Sayap Capung Anti Air?

Pertanyaan tersebut muncul dari bibir Bang Korep. "Apakah sayap capung anti air?" Menurut Bang Korep, capung masih akan tetap terbang meski hujan datang, kecuali hujannya sangat deras dan disertai angin. Jika sudah begitu, capung akan berteduh di tangkai dan dedaunan yang sudah basah. Daya cengkeramnya pada batang basah mampu membuatnya bertahan dari angin.

Benar juga. Ketika gerimis berubah menjadi hujan, saya masih melihat si capung terbang beberapa kali untuk pindah posisi, seakan sayapnya kuat menahan butir-butir air hujan yang tunduk pada gaya gravitasi.

Dibandingkan dengan burung, cara capung mengepakkan sayapnya lebih rumit. Bagi saya, cara terbang capung mirip dengan burung kolibri. Tadi saya juga melihat, capung bisa terbang menyamping dan mundur. Saya tidak tahu apakah manuver itu hanya untuk menghindari air hujan ataukah memang seperti itu. Tapi dibandingkan dengan pengamatan-pengamatan sebelumnya, baru tadi saya lihat si capung ini melakukan banyak manuver.

Mungkin benar juga kata ahli serangga, bahwa sayap capung mengepak hingga 30 kali per detik. Memang tidak sama dengan kolibri yang daya kepakannya 12 - 80 kali per detiknya. Tapi bagi saya capung lebih keren, hehe. Kecepatan terbang capung adalah 50 km per jam, sedang kolibri 54 km per jam.

Melihat perbandingan antara capung dan kolibri, jelas sudah jika capung tak kalah hebatnya. Sayapnya terlihat dinamis, ringan, fleksibel dan kuat. Tak heran jika capung bisa terbang melayang selama 30 detik tanpa kehilangan ketinggiannya secara mencolok. Hal ini didukung dengan pergerakan mandiri dari masing-masing sayap capung, seperti sudah ada sistem otomatisnya.

Satu lagi rahasia kecil dari capung. Sayapnya di bagian belakang lebih pendek daripada sayap capung bagian depan. Ini yang membuatnya bisa bergerak lebih cepat. Dengan ini, dia bisa melakukan manuver di udara dengan berbagai gaya. Pantaslah jika seorang pria kelahiran Rusia bernama Igor Sikorsky jatuh cinta pada serangga tercepat dalam urusan terbang ini, dan menjadikan capung sebagai inspirasi pembuatan Helikopter Sikorsky.

Capung memiliki sayap yang hebat ya. Air hujan pun tak bisa menghentikannya untuk tetap terbang, seperti hasil pengamatan saya. Warnanya yang transparan (meskipun berwarna tapi tetap bening seperti kaca), otot-otot sayapnya yang bisa mengatur jumlah dan kecepatan terbangnya di udara, membuatnya nyaris bisa menangkap seluruh mangsa buruannya. Prosentasenya 95 persen (Singa Afrika hanya mampu menangkap 25 persen dari keseluruhan mangsa yang mereka kejar). Capung selalu fokus dalam setiap perburuannya, dan tak pernah ragu menerkam.

Konon, capung memiliki semacam pusat sirkuit berisi 16 sel saraf yang menghubungkan otak capung ke pusat motorik penerbangan di bagian dada. Seperangkat sistem saraf ini memungkinkan capung dapat melacak target bergerak, menghitung lintasan untuk mencegat target, dan secara halus menyesuaikan jalur terbangnya untuk menangkap target tersebut. Sumber dari sini.

Berkenalan dengan si cantik Orthetrum sabina

Ini adalah Capung yang paling sering saya temui di pekarangan rumah. Dalam Bahasa Indonesia disebut Capung Badak. Kata Jaswan kemarin, orang-orang Jember Selatan menyebutnya Dodok Erok. Capung bernama ilmiah Orthetrum sabina ini adalah spesies Asia, yang juga dijumpai di beberapa pulau di Eropa (misalnya di Rhodes, Samos dan Kos). Orang Eropa sendiri menyebut Orthetrum sabina dengan nama Slender Skimmer.

Dalam hal perilaku, oleh para peneliti asing spesies ini digambarkan sebagai capung yang mudah gelisah, lekas terbang tapi juga lekas mendarat. Tidak juga kok. Capung ini bersahabat dengan kamera, terlebih di cuaca yang teduh (apalagi hujan, hehe).

Sympetrum meridionale

Sebenarnya, hasil pengamatan saya pada 16 Oktober 2013 (di kebun SWAPENKA) tidak hanya menemukan capung Orthetrum sabina saja. Ada saya dapati juga Neurothemis terminata (jantan, warna merah) dan satu capung kuning berukuran agak kecil, dengan nama ilmiah Sympetrum meridionale.

Sympetrum meridionale, dipotret oleh Bang Korep pada 16 Oktober 2013 di kebun SWAPENKA

Sebenarnya itu adalah foto yang besar, lalu saya potong berharap gambar capung tampak lebih dekat. Dipotret oleh Bang Korep saat hujan mulai mereda. Saat itu, Sympetrum meridionale sedang menclok di batang pohon lamtoro.

Ciri-ciri utama Sympetrum meridionale selain warnanya (banyak jenis capung berwarna kuning) bisa dilihat dari sayapnya. Warna sayap transparan, dengan ujung-ujungnya menyisakan warna kuning. Dibanding dengan capung gantung atau Globe Skimmer (dengan nama ilmiah Pantala Flavescens), ukuran tubuh Sympetrum meridionale lebih kecil dan sedikit lebih pendek. Tapi ini menurut hasil pengamatan saya sendiri lho.

Sayang sekali, saya belum berhasil mencari tahu apa nama lokal untuk capung 'Sympetrum meridionale' ini.

Neurothemis terminata

Capung berwarna merah hati ini saya lihat sejak pertama kali (di SWAPENKA) ketika hujan belum turun. Saya sudah berusaha keras memotretnya, tapi tidak berhasil. Si merah hati bernama ilmiah Neurothemis terminata begitu gesit, lincah dan tak mudah melakukan PDKT padanya. Nah, karena tidak ada stok foto terbaru, akan saya tampilkan foto Neurothemis terminata dari hasil pengamatan saya pada tanggal 9 Oktober di mata air Sukmo Ilang - Jember Selatan.


Neurothemis terminata (jantan) - Yang njepret Vj Lie

Setiap Neurothemis terminata yang berwarna merah hati (dengan warna sayap yang juga merah) adalah jantan. Jadi capung dalam foto di atas adalah Neurothemis terminata jantan. Adapun Neurothemis terminata betina berwarna kuning, dengan sayapnya yang juga kuning.

Orang-orang di wilayahnya Jember ada yang menyebut capung merah ini dengan nama Njrabang (sangat merah). Orang luar menyebutnya Straight-edged Red Parasol. Sedangkan nama ilmiahnya adalah Neurothemis terminata. Saya sendiri ingin memberinya nama apikecil, hehe..

Ohya, yang di dalam foto itu tangan saya lho :)

Penutup

Tidak seperti serangga lain, capung tidak pernah dianggap sebagai pengganggu atau hama. Keberadaannya bahkan sangat dibutuhkan sebagai indikator air bersih. Jadi, dimana ada capung, di sana ada harapan akan mata air (atau genangan air) yang bersih, bebas dari pencemaran.

Sebagai kelompok serangga yang tergolong ke dalam bangsa Odonata, capung merupakan penerbang yang kuat. Siklus hidupnya sedari telur hingga mati setelah dewasa bervariasi, antara 6 bulan hingga maksimal 7 tahun. Meski masa hidupnya (di udara) terbilang pendek, namun inspirasi yang ditebarkan capung tak kunjung padam. Beberapa tahun terakhir, seiring banyaknya kasus pencemaran air oleh zat-zat kimia termasuk sabun mandi, menjamur kelompok-kelompok pencinta capung.

Saya juga memilih untuk mempelajari dunia capung. Terinspirasi oleh acara Save Gumuk yang digelar oleh muda mudi Jember, saya pikir saya butuh untuk tahu berapa jenis capung di Jember, bagaimana mereka, dan sebagainya dan seterusnya.

Sebagai penutup, mari kita renungkan sejenak bagaimana capung menyikapi hidup. Hidupnya hanya untuk terbang dan regenerasi. Singkat bukan berarti tak memberi arti, bukan pula tak fokus. Capung ibarat dunia bocah yang selalu fokus terhadap setiap permainan yang dihadapinya.

Capung tak bisa hidup jauh dari air dan udara yang bersih. Sesungguhnya dia lebih pencinta alam dibandingkan dengan saya yang lulusan DIKLATSAR Pencinta Alam, hehe.

Salam Lestari!

4.10.13

Saat Kau Kehilangan Sahabat

4.10.13

Poetri Maharani Septiana Dewi

Hai Poet, bagaimana dengan udara Kota Malang? Pasti tak sedingin dulu, hehe. Hmmm, begini Poet. Barusan aku baca komentarmu di jejaring sosial. "Aku pengeeeen pulaaaaaaaaang.. Nangis di kampus nggak ada yang nge-pukpuk.."

Kalau dipikir-pikir, itu hanyalah kalimat yang biasa-biasa saja ya Poet. Tapi aku mengenalmu, dan aku rasa kau memang benar-benar kehilangan. Seorang Poetri Maharani Septiana Dewi manalah pernah berbohong? Jadi kuputuskan untuk menulis sesuatu di sini, di blog acacicu. Berharap, kau bisa kembali tersenyum dan kembali menikmati peranmu sebagai Mahasiswi Baru di Agroekoteknologi Pertanian UB.

Kehilangan adalah sebuah kepastian Poet. Itu adalah ritme ketidak-abadian. Begitu juga ketika kita kehilangan seorang sahabat baik seperti Haidar Wisyam. Adalah tugas kita untuk mendoakan yang terbaik kepada Almarhum. Jadi Poet, berdoalah. Tidak baik terus menerus larut dalam kesedihan.

Tentang Haidar Wisyam

Selanjutnya kata 'aku' berganti 'saya.'

Lelaki kecil bernama Haidar Wisyam ini akrab dipanggil Bejat oleh rekan-rekannya sesama Pencinta Alam PASSIGA SMAN 3 JEMBER, juga oleh kawan-kawan PA SMA yang mengenalnya. Dunia PA memang identik dengan nama lapang. Bisa jadi, Bejat adalah nama lapang (rimba) dari Haidar Wisyam. Dia menjabat ketua umum PASSIGA, menggantikan Adam Al-Farisyi yang sekarang tercatat sebagai maba di Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Pendidikan Seni Rupa UNY.

Seingat saya, orang pertama yang mengajaknya bermain ke rumah saya (panaongan) adalah si Adam. Haidar juga pernah datang ke panaongan, berdua dengan Poetri.

Kebetulan di rumah singgah panaongan ada beberapa geliat aktifitas, diantaranya adalah keberadaan komunitas PGG atau Panaongan Gambar_Gerak, tempatnya kawan-kawan muda usia SMP-SMA belajar tentang dunia media rekam. Yang menemani mereka adalah kawan saya bernama Donny Dellyar. Donny pula yang menggagas PGG.

Geliat aktifitas lainnya adalah CLBK, singkatan dari Cangkruk'an Lewat Botol Kosong. Dalam CLBK, kawan-kawan membuat gerakan kecil yaitu mengumpulkan botol kosong dan segala barang bekas lainnya. Setelah terkumpul, sampah-sampah itu dijual kemudian hasilnya dijadikan senjata untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Nah, Haidar pernah ikut berproses di dua kegiatan itu meskipun tidak sangat aktif. Dia hanya sesekali saja datang dan turut ambil bagian. Setelah dia menjabat sebagai ketua umum PASSIGA, tentunya ada banyak 'job description' yang harus dia lakukan. Jadi wajar jika Haidar mulai mengurangi aktifitasnya di luar PASSIGA.


Haidar (pojok kiri, yang mengenakan scraft PASSIGA dan membawa karung) ketika turut serta bersama CLBK di acara Bersih Pantai Papuma, 13 januari 2013

Bersih PAPUMA adalah acara yang sulit terlupa. Malam sebelum kami memulai bersih pantai, ada badai menerjang Papuma, meluluhlantakkan pepohonan. Air meluap hingga ke trotoar. Paginya, masih ada berita duka. Ada 4 orang terseret arus. Hanya satu yang selamat. Saya pernah menuliskannya di sebuah artikel (di kompasiana) berjudul, Ketika Tanjung Papuma Diterjang Badai.

Diantara itu semua, acara bersih pantai tetap berjalan. Berkarung-karung sampah telah kami bersihkan, toh Papuma tak kunjung bersih. Sampah dimana-mana. Papuma oh Papuma. Kalau dipikir, lelah juga. Tapi orang-orang seperti Haidar Wisyam selalu bisa menyegarkan suasana.


Diskusi Panaongan Gambar_Gerak - 26 Maret 2013

Tampak dalam foto, Haidar Wisyam (yang berbaju hijau lengan panjang) sedang memperhatikan Mas Ahmad Yusuf (Odol SWAPENKA) yang memberikan materi diskusi tentang penggunaan kamera DSLR untuk film pendek. Ketika itu panaongan ramai sekali. Sementara di luar sedang ada diskusi film pendek, di dalam 'tamasya band' sedang proses recording di studio darurat panaongan.

Begitu Cepatnya September Berlalu

September tahun ini adalah bulan #SaveGumuk untuk tamasya band, dan untuk berbagai komunitas di Jember. Ya, kawan-kawan muda di kota kecil ini sedang menggagas sebuah gerakan bersama yang menyuarakan betapa pentingnya keberadaan gumuk-gumuk di Jember, mengingat Jember adalah kota yang diapit oleh Gunung Raung dan Gunung Argopuro.

Pada 18 September, sepintas saya lihat di beranda facebook tentang laporan hari ulang tahun. Ada nama Haidar Survivor di sana. Ah, lelaki kecil kelahiran 18 September 1995 ini ternyata sedang merayakan hari lahirnya yang ke 18.

Lima hari berikutnya, yaitu 23 September 2013, gantian tamasya band yang merayakan hari lahirnya (6 tahun tamasya). Tapi kami tidak merayakan apa-apa. Sepi. Selama tamasya band berproses, ini 23 September paling senyap. Waktu itu, saya dan Prit hanya berdua saja menikmati secangkir kopi di panaongan.

Begitu cepat September berlalu. Ketika satu persatu dari kita tertindas keadaan, ketika Bapak saya memulai usaha membuat toko pracangan (yang mulai dibuka sejak semalam, 3 Oktober 2013), ketika lorong panaongan sudah disemen, ketika kami kembali menebus sepeda Astrea 800 yang sempat lama tergadai, ketika CLBK on air 22 September 2013 telah usai dan meninggalkan cerita, ketika acara makan-makan bersama di panaongan tanggal 24 September 2013 meninggalkan ide-ide dan menyisakan sepi, ketika Opik sudah memutuskan untuk menggeluti dunia usaha, ketika....

Ketika itulah datang sms dari M. Afwan Fathul Barry (Persma Millenium) tertanggal 25 September 2013. Begini bunyi sms-nya, "Mas, sampeyan sudah ngerti kabar arek PA SMA jatuh dari Wall Climbing?" Sms itu saya terima pukul 20.33 (lewat 55 detik) WIB.

Saya katakan saya tidak tahu, karena saya memang tidak mendengar kabar itu. Detik berikutnya, pikiran saya mulai disibukkan dengan acara #SaveGumuk. Kurang tiga hari lagi, bathin saya. Ya, malam acara #SaveGumuk dilaksanakan di gumuk gunung batu Jember pada 28 September 2013. Karena kesibukan itulah saya tidak berusaha mencari tahu siapakah sispala yang jatuh saat panjat dinding?

Di akhir bulan September, ketika malam pagelaran #SaveGumuk telah usai, barulah saya mengerti bahwa siswa SMA yang jatuh dari wall itu bernama Haidar Wisyam, dengan nama facebook Haidar Survivor.

Kelak, pada 2 Oktober 2013, saya menerima kabar duka.

Innalillahi wainnailaihi roji'un.. Berita duka HAIDAR WISYAM... XII IPS II, Ketua umum PASSIGA - SMA Negeri 3 Jember, telah meninggal hari ini tanggal 2 oktober 2013, pukul 12.35 WIB. Mohon doanya. Semisal ada salah tolong di maafkan... Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, Amin Ya Robbal Alamin

Beberapa jam sebelumnya, di akun facebook milik tamasya band, saya menampilkan foto Haidar dengan menyertakan kalimat, Semoga lekas membaik Haidar Survivor - PASSIGA. Berikut adalah foto yang saya pilih.


Puncak Sejati Raung - Agustus 2013

Tulisan: Buat kalian semua yang aku sayangi!!! Trimz bwat kalian yg sudah bantu aku. I LOVE YOU.

Cerita dari Ratnaning Ekawati Oktaviana

Waktu itu (25 September 2013) Haidar sedang latihan panjat di wall climbing STAIN Jember. Sebelum latihan dimulai, Haidar memasang pengaman (tali temali dan lain-lain) di papan panjat, berdua dengan temannya. Kalau tidak salah, anak IKASAPAMUGA. Trus setelah selesai, yang anak IKASA turun lewat kerangkanya (di balik papan panjat), yang Haidar-nya pengen repling kalo gak salah (turun dengan menggunakan tali), tapi wes diteriakin sama orang-orang kalo gak ada bellayernya. Moro-moro dia wes jatuh pas di depanku. Tangannya dulu yang nyampe tanah, mangkanya patah.

Apakah sebelumnya Haidar nggak melihat ke bawah? tanya Arief Pleh Pleh.

Liat, pas dia teriak iku liat kebawah, tapi sama mas2 wes diperingatkan. temen2e pada boulder dibawah, jadi gak ada yg bellay. gak tau, moro wes jatuh. untung gak di semennya, jatuhnya dirumput. tapi tetep ae, patah tulang. langsung dibawa k puskesmas pake motorku, mulutnya keluar darah..

Masih dari Ratnaning..

Mungkin saya tidak sepenuhnya mengenal Haidar, tapi saya dipertemukan di beberapa kesempatan dan baru saya ketahui sekitar beberapa tahun lalu bahwa namanya adalah Haidar. Ia merupakan adik sepupu laki-laki sahabat saya "Septiana". Dengan ciri khasnya, ia selalu mengembangkan senyum di bibirnya setiap bertemu dengan siapapun. Namun senyum itu akhirnya berakhir menjadi sebuah luka.

Ketika beberapa waktu lalu (25 September 2013) saya berkunjung ke tempat latihan panjat dinding, berencana untuk bercerita pada salah satu sahabat bahwa saya telah menjadi sarjana.

Duduk di sebelah barat papan panjat yang menjulang tinggi sekitar 15 meter, saya mulai mengamati satu persatu teman-teman yang akan latihan panjat dinding. Setelah saya mulai mengobrol dengan sahabat saya, baru saya ketahui bahwa mereka berasal dari berbagai SMA. Tak berselang lama dua pemuda memasang pengaman di papan paling atas. Satu diantaranya adalah Haidar, seorang pecinta alam asal PASSIGA. Setelah selesai salah satu pemuda turun melewati kerangka belakang papan, tapi Haidar bersuara bahwa ia ingin turun menggunakan tali (entah apa sebutannya), namun keinginan tersebut ditolak dengan alasan tidak ada yang menjadi bellayer.

Entah terpeleset atau bagaimana, tiba-tiba bunyi yang sangat keras terdengar disertai tubuh kurus tinggi tergeletak pas didepan saya. Haidar terjatuh dari ketinggian 15 meter. Sontak semua berkerumun dan segera membawanya ke puskesmas terdekat sebelum dirujuk ke RS.

Malam harinya saya mendengar kabar bahwa tangannya patah dan muntah darah, tapi ia telah diijinkan dokter untuk pulang kerumahnya. Setelah sekian hari, saya membayangkan bahwa ia sudah dapat kembali beraktivitas dengan tangan di gips, tapi dugaan saya salah. Pagi hari tadi (2 Oktober 2013) saya mendapat kabar bahwa ia akan operasi dan kekurangan darah. Sekitar pukul 14.00 WIB saya mendapat kabar bahwa ia telah berpulang ke Rahmatullah.

Selamat jalan kawan. Semoga semangtmu selalu tumbuh diantara kami. Canda tawamu akan selalu kami rindukan

R.I.P Haidar Wisyam

Hai lelaki kecil yang tampan, ini Mas Hakim. Setengah jam yang lalu Mas Hakim kembali membuka facebookmu. Ada temanmu (namanya Affandi Arselaz) yang menulis seperti ini. "Mas ayo tangi mas tak undangne tamasya lek samean tangi mas???:')"

Ahahaaa... jadi ingat lagu tamasya yang kau suka, Edelwiess. Terima kasih ya Haidar atas apresiasi tulusmu. Kita memang tidak sering bertemu. Mungkin hanya beberapa kali saja. Tapi Mas Hakim masih ingat kisahmu di awal perjumpaan kita, suatu hari di rumah singgah panaongan.

"Bapakku pegawai sastra Mas.."

Iya, Mas Hakim mengenalnya. Pak Darwis orang yang baik. Di hari yang lain setelah pembicaraan kita, ketika Mas Hakim bermain ke SWAPENKA, kebetulan waktu itu Bapakmu melintas tak jauh dari tempat Mas nongkrong. Kita ngobrol lumayan lama. Kami membicarakan dirimu kawan. Hmmm, rupanya beliau sayang padamu. Bapakmu hanya ingin melihatmu baik-baik saja.

Bingung mau nulis apa lagi. Sudah dulu ya kawan. Segala doa, cinta, dan laguku untukmu. Salam Lestari!

Penutup: Untuk Poetri

Saat Kau Kehilangan Sahabat...

Hai Poetri Malvaceae, cup cup jangan bersedih lagi. Teruslah melangkah meraih bintang yang belum kau dapatkan. Jika benar kau menyayangi sahabat-sahabatmu, doakan mereka. Doakan Ica yang di Melaka, doakan Mellyntan, doakan semua. Jangan berhenti berdoa Poet. Berdoalah untuk Haidar, doa terbaik yang bisa kau terbangkan ke langit biru.

Lihat Poet, langit siang masih biru, bintang malam masih berkerlip. Meski demikian, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa persahabatan akan baik-baik saja. Suka duka selalu ada, begitu juga dengan kehilangan. Sekali lagi Poet, berdoalah. Sebab Tuhan bersama para pencinta alam yang senang berdoa.

Sudah ya Poet, Salam Lestari!

acacicu © 2014