28.11.13

Ada Banyak Cara Untuk Terbang Meskipun Kita Tak Bersayap

28.11.13

Namanya Rotan

Lihat, Rotan semakin bertumbuh besar. Sudah tahu artinya cinta, mengerti apa itu luka, dan merangkak paham pada bagaimana sebaiknya memperlakukan kerinduan. Di luar itu, Rotan masihlah seperti Rotan yang dulu, yang berwajah riang, dan yang berani memadukan warna busana.

Kepada saya, Rotan jarang melemparkan sebuah tanya. Namun, sekali bertanya, seringkali dia membawa segenggam kejutan. Hmmm, rupanya dia senang mempertanyakan hidup dan senang membaca alam raya. Tak heran jika semakin hari tulisannya semakin nampak bernas.

Saya ingat, pada 7 Maret 2011, saya pernah mengirim pesan seperti ini kepada Rotan: setiap pencinta alam punya sayap. Letaknya ada di sudut hati. Sayap itulah yang akan membawa kita terbang, sejauh mata terpejam.

Lama setelah itu, Rotan mengukir kalimat yang keren, yang kemudian saya abadikan di profil twitter. Ini yang dia tulis: Ada banyak cara untuk terbang meskipun kita tak bersayap.

Bersama Rotan, perbincangan terasa lebih segar. Segalanya tentang terbang, segalanya tentang dunia yang berwarna warni. Bahkan benang yang kusut pun akan nampak indah tatkala Rotan yang menuliskannya.

Semalam saya dan Prit mencarinya. Dia ada di trotoar alun-alun Jember, bersama sedulur pencinta alam. Bajunya basah, tapi gelas kopi ada dimana-mana. Wajah-wajah di sana tampak gembira menyambut kedatangan saya dan Prit. Oalah, ternyata Rotan sedang merayakan hari lahirnya. Dia habis diguyur air.

Selamat hari lahir ya nduk, semoga selamanya berdansa dengan alam raya. Waktunya untuk merealisasikan kalimatmu sendiri, "ada banyak cara untuk terbang meskipun kita tak bersayap."

Sudah ya, masbro dan Mbak Prit mau packing dulu, siap-siap terbang ke Jogja.

Salam Lestari!

26.11.13

Seperti Yang Diceritakan Lina Kepada Saya

26.11.13

Dari kiri ke kanan; Nina, Lina, Agil. Foto oleh Pije

Perkenalkan, namaku Lina Wulandari. Aku biasa dipanggil Lina. Kelas 5 C di SDN Patrang 2 Jember. Aku punya pacar, namanya Doni. Dia sekolah di SMP 13 Jember kelas satu. Rumahnya ada di Perumahan Pesona Regency.

Suatu hari aku pernah main sepeda di sekitar rumahnya, Pesona Regency. Tak lama kemudian, aku ketemu Doni. Waktu itu dia sedang main bola bersama teman-temannya. Ketika melihatku, dia tetap bermain bola. Acuh. Padahal aku sungguh berharap dia berhenti sejenak untuk kemudian datang menghampiriku.

Sudah ah, malu cerita tentang Doni. Digodain terus sama Agil nih. Rini juga ikut-ikutan ketawa. "Nyrenge.." Cerita yang lain aja ya..

Aku punya saudara kembar, namanya Leni Wulandari, dipanggil Leni. Aku kakak Leni, sedang Leni adikku. Namanya juga kembar, wajah kami mirip. Tapi pipi kanan Leni nggak ada tahi lalatnya, tidak seperti punyaku. Dia suka lagu-lagu pop seperti Smash dan Cherry Belle. Aku berbeda. Aku lebih suka lagu dangdut dan lagu Banyuwangian seperti lagunya Demy yang judulnya Asmoro.

Aku dan Leni saling merindukan, sebab kita tidak hidup di satu atap rumah. Aku di Jember ikut Kakek Nenek, Leni di Banyuwangi ikut Bapak Ibuk. Perjumpaan terakhir kami, pas waktu Idul Fitri kemarin.

Selain Leni, aku masih punya adik lagi, namanya Laras Widiyanti. Laras masih kecil, masih kelas satu SD. Sama seperti Leni, Laras juga tinggal di Banyuwangi bersama Bapak Ibuk.

Hmmm, apa lagi ya. Pokoknya aku merindukan mereka. Ingin membuat puisi untuk Ibuk, tapi Ibuk pasti tidak akan menanggapi puisiku, seperti yang dulu pernah terjadi. Begini ceritanya. Suatu hari saya menghampiri Ibuk dengan selembar kertas di tangan yang bertuliskan puisi ciptaan saya sendiri. Kepada Ibuk saya katakan, "Nyok Buk, iki puisi gawe sampeyan." Saya berharap waktu itu Ibu menanggapi puisi tersebut dengan senyum atau apalah. tapi Ibu berkata lain. "Apa ini Lin?" Setelah itu, secarik kertas tersebut beliau taruh di atas meja. Selesai.

Seperti Yang Diceritakan Lina Kepada Saya

Kisah di atas diceritakan oleh Lina, gadis mungil kelas lima SD. Saya mengetiknya langsung, sementara Lina ngoceh di sebelah saya. Memang, banyak kalimat-kalimat Lina yang tertulis dengan gaya bahasa saya.

Perihal cerita Lina, ada dua hal yang mengagetkan saya. Pertama, tentang cara dia menyampaikan 'kisah cintanya' dengan santai. Dan yang kedua, betapa perhatian dari orang-orang terdekat itu sangat penting untuk pondasi pendidikan buah hati, terlebih peran Ayah dan Ibu.

Sudah ah, saya mau merenung dulu.

19.11.13

Sehari Tanpa Gadget Vs Sehari Tanpa Beras

19.11.13
Jika sehari tanpa gadget? Kerugian pasti ada. Contoh kecil, saya tidak akan tahu siapa saja orang yang coba menghubungi via hape. Sebaliknya juga begitu, saya tidak bisa menghubungi siapapun. Yang kedua, akan ada ketimpangan pada peran saya sebagai seorang blogger. Ohya satu lagi. Sebagai seorang fotografer hape dua mega pixel, tentu saja hobi saya akan mandeg.

Sehari Tanpa Gadget Vs Sehari Tanpa Beras

Ada satu istilah yang lahir di kampung saya, entah siapa yang memulai. Ini berhubungan dengan listrik, sesuatu yang pokok jika kita harus bicara tentang gadget. Mereka bilang, lebih baik tidak punya beras daripada tidak kuat membayar uang listrik. Kalau nggak punya beras, tetangga tidak akan mungkin tahu. Tapi bagaimana kalau listrik padam? Masuk akal juga, pikir saya. Meski begitu, saya tidak suka dengan istilah tersebut.

Suatu hari, 20 Oktober 2013

Jember habis diguyur hujan deras disertai angin kencang. Beberapa pohon tumbang, daun berguguran dimana-mana. Hingga menjelang maghrib, ada kabar tidak menyenangkan. Listrik padam. Masalahnya, dari sekian banyak rumah, hanya empat rumah saja yang listiknya padam, salah satunya rumah saya. Duh! Ketika coba menghubungi PLN, dikatakan pihaknya sedang sibuk. Ada beberapa titik yang juga butuh kehadiran mereka. Baiklah, menunggu giliran, batin saya.

Saya menebak, di luar sana orang-orang akan mengulang kata-kata, lebih baik sehari tanpa beras daripada sehari tanpa listrik. Tapi saya tidak peduli. Toh mereka hanya bercanda.

Hingga senja berganti malam, listrik tetap padam. Saya hanya menyiapkan satu lencer lilin, sisa pemadaman listrik seminggu sebelumnya. Kira-kira pukul setengah tujuh, kawan-kawan kecil berdatangan, seperti hari-hari sebelumnya. Ruang panaongan yang hanya disinari oleh lentera lilin membuat mereka menolak untuk belajar. Ah, anak-anak generasi gadget ini, mudah sekali mereka patah arang.

"Lalu kalian pingin ngapain?"

Ada celah untuk berceloteh. Saya sendiri yang menciptakan ruang itu. Tak butuh waktu lama, mereka pun ngriwik. Ada yang ingin mendengarkan dongeng, ada yang ingin begini dan begitu. Saya pusing mendengarkan celoteh mereka, sekaligus bahagia. Iya saya bahagia. Meskipun mati lampu, suasana di rumah tetap riang.

Diantara berbagai keinginan yang mereka ajukan, ada satu yang membuat saya penasaran. Namanya Minto, kelas dua SD. Dia putra dari seorang kawan yang sudah Almarhum, Rahman namanya. Manto ingin beraksi goyang cesar di tengah-tengah kami. Lho? Ini unik, tapi tidak ada salahnya untuk memberi Manto kesempatan itu. Benar, dia berani melakukannya. Diiringi dengan lagu dangdut dari hape merk cina, juga dibarengi dengan kedua rekannya yang lebih besar, Agil dan Dayu. Ini gambarnya, dijepret oleh Pije.


Minto yang ditengah - Dokumentasi VJ Lie

Kira-kira pukul delapan malam, kawan-kawan kecil mulai berpamitan pulang. Tinggal saya, Prit, dan Pije, dan sinar lampu lilin yang siap untuk padam untuk terakhir kalinya. Sebagai penggantinya, Pije mengeluarkan lampu senter kecil yang dia panjer di langit-langit.

Ternyata, sampai waktu subuh, listrik di rumah saya masih tetap padam. Iya saya tidak tidur, begitu juga Prit. Hanya Pije yang tertidur pulas. Apa saja yang saya lakukan (berdua dengan Prit) sampai pagi datang? Kami hanya saling bercerita, hingga lampu senter mendrip-mendrip menuju mati.

Syahdu. Tanpa televisi, tanpa sinar terang, tanpa laptop, tanpa mengerti kabar dunia maya. Tapi kami masih punya beras, Alhamdulillah. Di luar sana, ada orang-orang yang tidak seberuntung kita. Mereka tidak mengerti apa itu blogwalking, follower, download, paypal, spam, hoax, browser, hosting, server, dan entah apa lagi. Tapi mereka berani bertempur melawan hidup, dan setia pada proses, merayap menghunjam kehidupan sebagaimana merayapnya akar. Mereka merdeka tanpa merasa takut terhina. Siap menjadi kaya, siap pula menjadi miskin. Moderat. Saya ingin seperti itu, menyediakan mental dan hati untuk bisa menikmati hidup di berbagai situasi.

Sehari tanpa gadget? Meskipun sulit, tapi saya harus siap, harus pula menyiapkan kesibukan yang lain agar hari-hari tetap indah. Kalau pun selama ini mencari beras dengan media gadget, tetap saja saya harus siap. Sebab menyiapkan diri atas segalanya yang mungkin terjadi adalah lebih indah.

Sudah ya, saya mau ngopi dulu. Salam goyang cesar!

18.11.13

Kisah dari Putri Dokter Soebandi

18.11.13

Letkol dr. Soebandi

Dimulai ketika saya SD. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang sama. Siapa Letkol dr. Soebandi? Mengapa namanya dijadikan nama Rumah Sakit di Jember? Siapa pula Letkol Moch. Sroedji? Kenapa patungnya ada di pelataran Pemkab Jember? Kenapa pula nama keduanya diabadikan menjadi nama jalan?

Berganti masa SMP. Saya punya guru sejarah yang sabar, namanya Bu Jua. Selalu saja Bu Jua menganjurkan siswa siswinya untuk gemar mencatat materi sejarah. Saya tidak suka mencatat. Tapi saya tetap mencatat, hanya agar Bu Jua tidak menegur. Akhirnya saya terbiasa mencatat beberapa momen sejarah yang saya sukai. Tentunya dengan cara saya sendiri. Ketika Bu Jua mengharuskan untuk mencatat perang Diponegoro 1925 - 1930, saya mencatat sebuah pertanyaan. Apakah Diponegoro senang berpetualang dengan kudanya?

Iya, aneh. Tapi Bu Jua tidak pernah marah, sebab tak pernah sekalipun saya menunjukkan catatan-catatan aneh itu.

Masa SMA dan selanjutnya kita lewati saja ya.

Sampai pada suatu masa, saya membuat artikel tentang seorang dokter perang bernama Soebandi, di blog rame-rame kompasiana. Saya seperti menulis perang Diponegoro, 1925 - 1930. Seperti otobiografi, haha. Ini yang saya tuliskan.

Dokter Soebandi lahir di Klakah - Lumajang, pada 17 Agustus 1917. Putra pertama dari dua bersaudara ini adalah lelaki beruntung di jamannya, karena bisa mengenyam pendidikan yang tinggi. Dimulai dari Hollands Inlandse School, lalu Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (sekolah dasar yang lebih luas, kemudian NIAS, Sekolah Dokter Hindia Belanda. Setamat dari NIAS, Soebandi kembali melanjutkan studinya di Ika Daigoku, sekolah kedokteran yang didirikan pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia. Lulus dari Ika Daigoku pada 12 November 1943. Dan, apakah sudah selesai? Belum. Beliau masih melanjutkan lagi, kali ini beliau mengikuti pendidikan PETA. Setelah tamat, dokter Soebandi mulai bertugas sebagai tentara sekaligus sebagai seorang dokter tentara.

Cerita mulai berganti, dari satu penempatan tugas ke penempatan tugas yang lain.

Penempatan pertama di Lumajang. Ketika PETA dibubarkan pada 19 Agustus 1945, Soebandi ditugaskan sebagai dokter di Rumah Sakit Probolinggo. Penugasan berikutnya adalah di Malang. Di sini dokter Soebandi menjadi salah satu instruktur yang bertugas mendidik dan melahirkan tenaga-tenaga kesehatan baru, baik untuk lapangan maupun untuk rumah sakit. Bertempat di Rumah Sakit Divisi VII Malang. Dokter Soebandi tidak sendirian ketika menjadi instruktur. Ada juga Letnan Djojoprawiro, Kadar, Sersan Mayor Ismail, Kepala Juru Rawat Gondosukarto, Letnan Muda Te Gwi, dan Letnan Muda Siam.

Sesudah reorganisasi kemiliteran pada pertengahan tahun 1946, dokter-dokter resimen waktu itu (dalam lingkungan Divisi VII) ialah dokter Soebandi untuk Resimen Damarwulan, dokter Sudjono untuk Resimen Menak Koncar, dan dokter Ibnu Mahun untuk Resimen Kartanegara.

***

Seperti itulah yang saya tuliskan. Saya bahagia, namun itu belum menjawab pertanyaan masa kecil. Tentang pertanyaan siapakah dokter Soebandi, dengan hasil jawaban yang tidak seperti di atas. Saya ingin jawaban yang lebih sederhana. Dan, kemarin, satu persatu jawaban itu mulai saya temukan.

Di jejaring sosial, Mbak Irma Devita (cucu dari Letkol Moch. Sroedji) memberi info sederhana tapi cukup menyirami. Dia mengirim foto masa muda dokter Soebandi berdua dengan istri, Rr Soekesi, dengan keterangan seperti ini; konon Ibu Rr Soekesi adalah perawat yang mengagumi Bapak Soebandi. Nah, sederhana bukan? Tapi itu cukup membantu saya dalam mengimajinasikan sebuah momen sejarah yang romantis.

Ada lagi. Saya menemukan kisah unik tentang dokter Soebandi di otobiografi Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo yang berjudul dari Rimba Raya ke Jakarta Raya.

Dokter Soebandi ingin punya anak laki-laki..

Cerita dimulai pasca Perjanjian Linggarjati. Naskah perundingan sudah diparaf oleh kedua belah pihak tanggal 15 November 1946, tapi Belanda ingkar. Maka terjadi ketegangan antara pihak Belanda dengan TRI dengan gerakan gerilya yang dibantu oleh rakyat Karawang. Adalah Hamid Roesdi yang sebelumnya dianggap berhasil melucuti tentara Jepang, ditugaskan menyelesaikan pertempuran di Karawang. Pada saat itu, dokter Soebandi yang berpangkat Mayor juga turut berangkat ke Karawang, menyertai Batalyon Hamid Roesdi.

Ini yang dituliskan oleh dr. Soemarno Sosroatmodjo dalam bukunya:
Saya masih ingat pesan dr. Soebandi ketika hendak berangkat (menuju Karawang) dari stasiun Malang. "Eh Kang," katanya, "istri saya akan melahirkan. Tolong ya. Saya minta anak laki-laki." Tangannya melambai-lambai dan suaranya tertelan oleh deru lokomotif yang mempercepat jalannya.

Tanggal 1 Desember 1946, anaknya lahir.... puteri.

Ketika dr. Soebandi pulang dari tugas, ia menganggap kami dokter-dokter tidak becus, karena anaknya yang lahir bukan laki-laki seperti permintaannya. Tapi alangkah bahagianya, andaikata Letkol dr. Soebandi sekarang masih ada di antara kita dan melihat ketiga anaknya - semua perempuan - maju dalam penghidupannya berkat asuhan istrinya yang setia. Ia gugur sebagai kusuma bangsa dalam pertempuran di Karangkedawung - Jember, tanggal 8 Februari 1949. Ia gugur bersama komandannya Letnan Kolonel Moch. Sroedji.

Dan enam belas tahun kemudian, ketika saya menjadi Menteri Dalam Negeri sedang turne ke Cirebon, di Stasiun Cirebon secara tak terduga saya bertemu dengan Ny. Soebandi. Salah seorang puterinya, Tuti, sudah lulus dari SMA tapi belum sempat melanjutkan pelajaran. Saya minta Tuti agar ikut saya di ibukota. Dia mau dan ibunya mengijinkan dengan segala senang hati. Di Jakarta Tuti saya masukkan menjadi mahasiswa AKAP, Akademi Pertamanan. Baru dua bulan ia menjadi mahasiswa, saya tidak menjadi menteri lagi. Rupanya anak itu perasa; ia minta pulang agar tidak menjadi beban. Istri saya berhasil menahannya. Tuti terus belajar dan selanjutnya bekerja.
Cerita selanjutnya..

Ngobrol Dengan Putri dr. Soebandi

Minggu sore, 17 November 2013. Saya diingatkan istri, "Mas jangan lupa nanti malam keluarga tamasya band ada acara rutin di RRI Prosatu Jember, CLBK on air." Oh iya, nanti malam waktunya cangkruk'an di radio, batin saya. Sampai detik itu, saya belum ada rencana hendak membicarakan apa di CLBK on air. Lalu saya online, ngobrol dengan Mbak Irma Devita. Oleh Mbak Irma, saya didongengi tentang kisah sehari sebelumnya, silaturrahmi antar keluarga yaitu keluarga Letkol Moch. Sroedji dengan keluarga dokter Soebandi yang di Bandung, di kediaman Ibu Widyastuti, 16 November 2013.

Jadi teringat Bunda Joyce Köhler. Dulu beliau bilang, "Widyastuti yang sering datang di kumpulan Jemberan." Lalu Bunda Joyce mencarikan alamat dan No. HP Ibu Tuti.

Dari obrolan itu, terbungkuslah sebuah rencana. Hehe, terima kasih Mbak Irma.

"Kabar baik Mas. Ibu Widyastuti bersedia, asalkan ditanya yang umum saja, sekedar memperkenalkan beliau putri dr. Soebandi. Ibu Widyastuti orangnya ramah banget, cuma katanya suka demam panggung," begitu kata Mbak Irma Devita. Senang sekali mendapat kabar itu, dua jam sebelum on air.

Kemudian on air. Kemudian saya, istri saya, dan Mbak Etty Dharmiyatie (penyiar RRI Jember yang cetar membahenol) sudah terlibat pembicaraan via telepon dengan Ibu Widyastuti. Alami, mengalir begitu saja, dan membahagiakan. Sepertinya, tuntas sudah pertanyaan masa kecil saya.


Ibu Widyastuti - Dokumentasi Irma Devita

Foto di atas adalah dokumentasi Mbak Irma, hasil oleh-oleh silaturrahmi kemarin, 16 November 2013. Tampak dalam foto, Ibu Widyastuti sedang melihat potret infrantrie XXIII yang menewaskan Letkol dr Soebandi dan Letkol Moch. Sroedji. Ups, saya mau nulis tentang ngobrol semalam ding, di CLBK on air.

"Siapa diantara ketiga putri dr. Soebandi yg lahir pada 1 Desember 1946?"

Itu pertanyaan saya untuk Ibu Widyastuti. Lha kok ndilalah ternyata itu hari lahir beliau. Saya cengengesan, tapi kemudian terdiam. teringat kata-kata dr. Soebandi yang dituliskan oleh Kakeknya Bimbim SLANK, Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo. Haha, semoga Ibu Widyastuti tidak tahu bahwa ketika beliau masih dalam kandungan, Ayahandanya ingin yang lahir nanti adalah anak laki-laki.

"Iya Mas, saya putri dr. Soebandi yang nomor dua dari tiga bersaudara. Yang pertama Widyasmani, sudah Almarhumah. Yang bungsu namanya Widorini, dia seorang dokter, mengikuti jejak dokter Soebandi. Sekarang tinggal di Surabaya."

Obrolan berlanjut dengan sedikit-sedikit haha hihi, sama sekali tidak terkesan jika Ibu Widyastuti seorang yang mudah terserang demam panggung. Justru saya yang bingung mau menanyakan apa.

"Saya tidak bisa njawab jika ditanya tentang apa kenangan saya bersama Bapak (dr. Soebandi), sebab waktu beliau gugur di medan pertempuran pada 8 Februari 1949, saya masih kecil, belum lagi tiga tahun. Kakak saya berusia empat tahun, sedangkan Widorini masih setahun. Lagipula, beliau lebih banyak ada di front pertempuran dan jarang sekali pulang"

Saya diam. Semendal. Teringat kisah Ibu Pudji Redjeki Irawati, putri bungsu Letkol Moch. Sroedji. Beliau dilahirkan pada 7 Februari 1948, sedangkan gugurnya Letkol Moch. Sroedji di medan pertempuran adalah pada 8 Februari 1949. Jadi, ketika itu usia Ibu Pudji tepat satu tahun kurang satu hari.

Tidak seperti jaman sekarang yang apa-apa serba mudah, dulu teknologi tak semudah saat ini. Ketika dr. Soebandi gugur, pihak keluarga tidak serta merta mengerti. Setelah dalam waktu yang cukup lama, barulah pihak keluarga (Ibu Rr Soekesi beserta ketiga putrinya yang masih kecil-kecil) mengerti jika dr. Soebandi gugur di tengah pertempuran.

Salut untuk para pejuang negeri ini, mulai dari komandan dan pasukan tempurnya, para tenaga medis, para seniman, kurir, pedagang, kuli bangunan, hingga ke petaninya. Filosofi 'hidup merdeka' mereka adalah teladan bagi kita bunga-bunga bangsa.

Di detik-detik terakhir perbincangan dengan Ibu Widyastuti, kami masih sempat tukar menukar alamat rumah plus nomor kontak, dan itu via on air, hehe. Obrolan yang hangat. Saya bahkan sempat menyinggung sedikit tentang Bunda Joyce Köhler. Kata Ibu Widyastuti, "Bunda Joyce? Oh ya ya, Ibunya Ahmad Dhani ya?"

Terima kasih Ibu Widyastuti.

Setelah ngobrol bareng Ibu Widyastuti, masih tersisa waktu kurang dari sepuluh menit. Kami memanfaatkannya dengan menghubungi nomor Mbak Irma Devita. Tak lama kemudian, kami sudah berhaha hihi di radio. Dia bercerita tentang penggarapan buku tentang Kakeknya, Letkol Moch. Sroedji, yang dibuat dengan gaya penulisan novel sejarah. Meskipun memilih gaya penulisan novel sejarah, tapi Mbak Irma tidak main-main dengan risetnya. Dia benar-benar menikmati perannya sebagai penulis diantara sekian kesibukan sebagai blogger, notaris, dan lain-lain.

"Kalau novelnya sih sudah jadi, tinggal penguatan saja. Makanya saya masih mondar mandir dari satu narasumber ke narasumber yang lain. Ini sudah hampir setahun, pihak penerbit beberapa kali menanyakan, tapi saya masih ingin memperkuat data baik dari pustaka maupun dari sumber lisan yang komprehensif. Dalam waktu dekat, saya juga masih akan ke Surabaya untuk menemui Bapak Mayjen Purn. Soehario K. Padmodiwirio (dengan nama revolusi: Hario Kecik) yang mengenal Letkol Moch. Sroedji secara langsung."

Ah, proses yang keren. Tak sabar menunggu hasilnya.

Sudah, saya mau nyruput kopi dulu.

Terima kasih.

16.11.13

#5BukuDalamHidupku: Jalan Seorang Penulis

16.11.13
Bukunya tipis, sampulnya terbuat dari kertas buffalo warna biru, dan semua isinya adalah hasil garapan mesin fotocopy. Kesan pertama, buku ini membosankan. Apalagi di tiap-tiap lembar kertasnya tidak disertai dengan pencantuman halaman. Lalu saya menghitungnya secara manual. Ada 24 lembar. Jadi, 48 halaman. Buku apakah ini? Hanya sebuah buku materi Pelatihan Dasar-Dasar Jurnalistik Tingkat Pencinta Alam Se-Jatim Tahun 2004.

Iya, membosankan. Isinya seputar teknik-teknik penulisan jurnalistik yang tidak berpihak pada suatu golongan, tidak juga netral, namun berpihak pada lingkungan sekitar. Adalah konyol jika buku ini memiliki pengaruh pada jalan hidup saya. Sayangnya, kita tidak tahu bagaimana cara kerja Semesta dalam menuntun kita pada perubahan.


Jalan Seorang Penulis

Di buku tipis itu, tepatnya di halaman terakhir, ada sebuah artikel pendek yang hanya terdiri dari enam paragraf. Artikel tersebut berjudul; Jalan Seorang Penulis. Fadli Rasyid, itu adalah nama penulisnya.

Hmmm, iya saya mengenal beliau meski hanya satu kali berjumpa. Ketika itu kawan-kawan muda Jember sedang bikin acara pameran lukis di sudut alun-alun kota, tahun 2000. Pameran bertajuk 'Jember Ini Hari' tersebut dihadiri juga oleh Mbah Fadli (begitu biasanya kami memanggil beliau). Semua orang tahu, sewaktu Mbah Fadli mencoba melukis, tangannya tremor. Parah. Tapi beliau tetap melukis di depan kami.

Jalan Seorang Penulis:

Seorang penulis mempertaruhkan hidupnya untuk setiap kata terbaik yang bisa dicapainya. Ia menghayati setiap detik dan setiap inci dari gerak hidupnya, demi gagasan yang hanya mungkin dilahirkan oleh momentum yang dialaminya. Menulis adalah suatu momentum. Tulisan yang dilahirkan satu detik ke belakang atau satu detik ke depan akan lain hasilnya, karena memang ada seribu satu faktor - yang sebenarnya misterius - dalam kelahiran sebuah tulisan.

Meskipun begitu, momentum penulisan bukanlah wahyu. Momentum penulisan selalu mempunyai sumbu sejarah ke masa silam dengan pengertiannya yang paling absolut. Tentu, kita tidak akan pernah tahu persis biang kerok macam apakah yang nangkring di serat-serat dalam sumbu sejarah itu. Namun barangkali saja kita percaya, betapa setiap titik yang terkecil dalam garis perjalanan roh kita, sejak masa entah kapan menuju ke suatu ruang di masa depan, memberikan sumbangannya masing-masing dalam momentum penulisan. Belajar menulis adalah belajar menangkap momen-momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.

Kemudian, yang paling penting bagi seorang penulis, adalah bagaimana ia bisa setia kepada sungai kehidupan yang menghanyutkan, kehidupan seorang penulis itu seperti seorang pengembara yang diarungkan perahu melewati gua-gua dunia fantasi dalam sebuah sungai di bawah tanah. Cuma saja, apa yang disebut fantasi ini sangat boleh jadi bukan fantasi sama sekali. Bisa fantasi bisa tidak. Tepatnya, fantasi atau bukan fantasi, hal itu sudah tidak penting lagi. Masalahnya, kita bisa setia atau tidak kepada realitas apa pun yang kita lewati. Kalau kita memang penulis, maka kita akan menuliskan apa pun yang menyentuh diri kita.

Sehingga memang tidak ada yang terlalu istimewa dengan menjadi seorang penulis. Dengan segenap disiplin yang telah menyatu dalam darahnya, ia menulis seperti bernapas, sama seperti seorang pembalap harus melaju di sirkuit, sama seperti seorang prajurit harus terjun dalam pertempuran, meskipun resikonya kematian, karena itu semua memang merupakan tugas yang diberikan oleh alam. Adapun tugas seorang penulis adalah menulis dengan jujur - meskipun resikonya adalah juga kematian, pada saat yang diperlukan.

Dengan begitu, menulis sebenarnya tidak lebih rendah dan tidak lebih mulia dari bidang tugas apapun yang bisa dipilihkan untuk manusia. Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa - suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas di timbang-timbang.

Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, dimana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha serta kepada hidup itu sendiri - satu-satunya hal yang membuat kita ada.

Jika berkenan, cobalah untuk membaca catatan Almarhum Mbah Fadli yang tersembunyi dalam spoiler di atas. Setidaknya, agar saya tidak merasa konyol oleh sebab tersentuh oleh catatan yang hanya terdiri dari enam paragraf saja. Dan sejujurnya, sampai hari ini saya belum selesai membaca makna-makna yang bertebaran di sana.

Mengenal Sosok Fadli Rasyid

Mudah sekali mengenal sosok Mbah Fadli Rasyid di jaman yang serba tinggal klik ini. Kita hanya butuh akses ke mesin pencari, untuk kemudian mengetikkan kata kunci 'Fadli Rasyid Jember' lalu selesailah sudah.

Lalu kita akan mengerti, seniman kelahiran 7 Juli 1937 ini tak hanya sekedar berkata-kata. Dia melakukannya. Dia melaksanakan kata terlebih dahulu, untuk kemudian semua itu terangkum dalam catatan yang hanya terdiri dari enam paragraf. Betapa itu adalah catatan pendek terpanjang di pemahaman saya.

Lelaki keren ini memejamkan mata pada 15 April 2009 oleh sebab stroke, setelah sebelumnya mendapat perawatan di Rumah Sakit Jember Klinik. Benar, kecintaannya pada dunia seni tak terbantahkan. Bacalah cuplikan puisinya, di detik-detik hidupnya yang terakhir.

Aku dengan Maut
Disini
Di tempat sunyi ini
Hanya aku dengan maut
Ketika kutusuk tembus jantungnya
Aku yang mati


Membaca 'Jalan Seorang Penulis' adalah membaca perjalanan hidup seorang Fadli Rasyid, meski sekali lagi, hanya terdiri dari enam paragraf, 416 kata. Ini memang bukan rangkuman atas apa yang pernah saya tulis sebelumnya dalam #5BukuDalamHidupku, namun praktis semua terangkum dengan sendirinya.

Ketika Mbah Fadli menyentil tentang petualangan hidup, dia mengingatkan saya pada Enid Blyton. Di mata saya, keduanya sama-sama cinta dunia fantasi dan dunia bocah. Tak heran jika di tahun 1970, Mbah Fadli mendirikan majalah anak-anak Kawanku. Dia tidak sendirian saat menggagas majalah Kawanku, melainkan bersama Thoha Mochtar, Julius Siyaranamual, Trim Suteja dan Asmara Nababan.

Kelak sekitar tahun 90-an, ketika majalah Kawanku sudah berubah format menjadi majalah remaja, Mbah Fadli sudah tinggal di tanah kelahirannya, Mumbulsari Jember. Tepatnya, tahun kepulangannya sejak 1983, di saat umur Mbah Fadli sudah mencapai 45 tahun. Mbah Fadli memulai kembali hidupnya. Beliau menikah dengan seorang perempuan anggun bernama Sri Utami yang pada saat itu berumur 25 tahun, hidup bertani, menulis, melukis, mendirikan sanggar, dan pada akhirnya dikaruniai dua orang anak, Bayu Anggun Nilakandi dan Bahana Purwa Kendita.

Jika Zlata Filipovic bertahan hidup dari situasi perang dan reruntuhan di Sarajevo, Mbah Fadli memiliki perangnya sendiri. Beliau tak sekedar berkarya, melainkan juga hidup seperti yang dikaryakan.

"Adapun tugas seorang penulis adalah menulis dengan jujur - meskipun resikonya adalah juga kematian, pada saat yang diperlukan."

Ketika Mbah Fadli menuliskan itu, saya teringat akan tulisan Mohammad Hatta di buku Alam Pikiran Yunani. Iya benar, itu adalah kalimat yang kental sekali dengan intisari filosofi, tentang memberi kehormatan pada kebenaran.

"Dengan begitu, menulis sebenarnya tidak lebih rendah dan tidak lebih mulia dari bidang tugas apapun yang bisa dipilihkan untuk manusia."

Aha, Mbah Fadli juga menyegarkan kembali ingatan saya tentang sebuah gagasan bernama setara. Itu juga mengingatkan saya pada sebuah buku berjudul; Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya. Di sana diceritakan tentang sepak terjang Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, seorang Dokter Tentara yang sebenarnya enggan berkecimpung di dunia politik namun Presiden menghendakinya.

Okelah, saya sedang tidak ingin mengupas tentang bagaimana ketika Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo menjadi Gubernur DKI Jakarta, beliau bisa merealisasikan pembangunan Monas, meneruskan gagasan Pemimpin Jakarta sebelumnya, juga prestasi-prestasi lainnya, sebab itu hanya berdasar pada pembangunan yang terlihat. Ada yang lebih menarik dalam buku itu. Akan coba saya ceritakan dengan bahasa saya.

Begini. Mengenai gagasan setara jika dihubungkan dengan kita sebagai warga negara, pun semisal sebagai bagian dari penyelenggara negara, bahwa sama-sama kuat itu penting. Jika masyarakatnya kuat dan berdaya, dengan penyelenggara negara yang juga tidak lemah, maka mudah tercipta dialog yang baik, santun, seimbang, dan sama-sama saling menguatkan. Inilah sebenarnya yang dicita-citakan Pancasila, tentang suatu keadaan yang merdeka dan sejahtera.

Semisal salah satunya lemah sedangkan yang lain kuat, maka akan terjadi hukum rimba, yang kuat menindas yang lemah. Jika negara kuat masyarakatnya lemah, maka potensi totaliter akan menganga lebar-lebar. Pahit rasanya ketika kepentingan masyarakat sama sekali tidak terhiraukan. Coba buka kembali lembar sejarah, kita mengalami pengalaman buruk tentang itu.

Sebaliknya, bagaimana jika masyarakatnya yang kuat sedangkan negaranya lemah syahwat? Maka akan kacau. Tidak ada kepastian hukum, kata 'adil' hanyalah tinggal cerita. Itu mengingatkan kita pada penggalan sejarah di bulan Mei 1998.

Apabila negaranya lemah dan masyarakatnya juga lemah, apa yang terjadi? Maka bubarnya negara tinggal menunggu waktu saja. Entah menjadi kisah yang baru, entah adanya penguasaan asing atas negara dan bangsa.

Duh, sepertinya saya ngelantur!

Setara itu indah, seindah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Bedanya hanya di dalam peran hidup saja. Tentang peran-peran seperti siapa yang melahirkan, siapa yang menggali sumur atau membetulkan genting, siapa yang begini dan begitu. Terlepas dari itu, semuanya setara. Dalam hal ini, Mbah Fadli mampu merangkul semuanya meski hanya lewat kata yang sederhana. Setidaknya, itu menurut pembacaan saya.

Setara yang dimaksud Mbah Fadli adalah setara yang memiliki etika. Ini juga berlaku pada gagasan yang lain seperti kemerdekaan, kebebasan, hingga menjadi penulis. Harus ada sentuhan etika. Sebab bagi Mbah Fadli, menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa - suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana.

Sedikit Lagi

Saya juga ingin memperlakukan hidup sebagaimana Fadli Rasyid pernah melaksanakannya, meski dengan cara yang tidak sama. Saya juga ingin memberi kehormatan pada kebenaran, meski saya sendiri sering tersandung salah, meski entah apakah selama perjalanannya nanti, saya bisa atau tidak. Saya tidak tahu.

Saya tidak tahu apa warna kesukaan Mbah Fadli, berapa ukuran sepatunya, apa yang dia cita-citakan ketika masih berumur 7 tahun, dan masih banyak lagi. Yang saya mengerti hanya satu. Bahwa ketika tangannya tremor, beliau masih saja menikmati prosesnya sebagai pelukis. Suatu hari di sudut alun-alun Jember, tahun 2000. Iya saya tahu. Saya melihatnya sendiri. Lelaki lain yang ada di seberang saya, yang berdiri tak jauh dari Mbah Fadli melukis, matanya berkaca-kaca.

"Setia pada proses," mungkin pesan itu yang ingin disampaikan oleh seorang Fadli Rasyid.

Dulu sekali, ada saya dengar bahwa Mbah Fadli memelihara mimpi membuat monumen untuk Letkol Moch. Sroedji. Mbah Fadli merasa, mimpinya sesuai dengan kebutuhan, untuk melawan lupa dan untuk pengenalan sejarah bagi generasi muda di kota kecil Jember. Konon kabarnya, mimpi inilah yang belum sempat beliau realisasikan hingga ajal menjemput, 15 April 2009.

Ah, Mbah Fadli Rasyid. Sosok yang keren.

Untuk Almarhum Mas Bibin Bintariadi, terima kasih telah menghadirkan Catatan Mbah Fadli di buku materi jurnalistik lingkungan yang tipis ini, yang sampulnya terbuat dari kertas buffalo. Selalu ada doa dan cinta untuk kalian.

***

Membaca tulisan Fadli Rasyid, saya jadi tidak percaya apabila ada yang berkata bahwa hidup hanya selama kita bernapas saja. Bahkan ketika beliau telah tiada, aksaranya tetap memberi kehormatan pada kebenaran.

Sudah.

Salam saya, RZ Hakim

15.11.13

Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya

15.11.13
Ini adalah hari yang romantis untuk saya dan istri. Kami menikmatinya dengan menyanyikan lagu-lagu ciptaan sendiri diiringi gitar bolong hadiah dari Jalbil, segelas kopi, dan rintik gerimis di luar sana.
Aku hanya ingin kita, tinggal di desa dan tua bersama..
Sekecil apapun rumah kita, aku jadikan seluas cinta.
Penggalan lirik lagu (yang hingga kini enggan saya record) tersebut cukuplah membuat hati kami terhibur. Wajah istri saya nampak sumringah. Dia seperti tidak takut lagi pada potensi gerimis yang kapan saja bisa menjelma menjadi hujan yang lebat. Itu artinya, kami harus bersegera menyiapkan tadahan di beberapa sudut rumah yang bocor.

Saat lagi enak-enaknya memetik gitar itulah, tiba-tiba pandangan saya tertuju pada sebuah buku yang tergeletak di atas karpet warna merah. Buku sederhana, dengan sampul yang juga sederhana. Dalam sampul itu hanya ada foto seorang laki-laki berkopiah hitam yang sudah menua, sementara di sampingnya nampak seorang perempuan dengan kebaya warna merah muda bermotif bunga. Benar-benar sederhana, tapi mereka 'tua bersama' dan terbukti, tanpa nada tanpa kata-kata.

Mereka adalah pasangan Bapak Soemarno Sosroatmodjo beserta istri, Ibu Armistiani.

Saya teringat proyek mudik ke blog yang digagas oleh Irwan Bajang. Pas! Buku otobiografi Dr. H. Soemarno Sastroatmodjo yang berjudul Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya ini memiliki pengaruh pada beberapa hal di hidup saya. Baiklah, untuk #5BukuDalamHidupku di hari keempat, saya menulis ini saja.


Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya

Apa menariknya menulis otobiografi seseorang yang namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit di Kabupaten Kapuas - Kalimantan Tengah, dan diabadikan sebagai nama Jalan di kawasan Cakung Jakarta Timur ini? Seiring perkembangan dunia teknologi, mudah bagi kita mencari tahu tentang siapa beliau. Tapi santai saja, saya tidak hendak menuliskan panjang lebar semua isi buku setebal 462 halaman ini. Hanya berkisar pada kisah-kisah percintaan mereka berdua saja. Terdengar sangat ngepop. Tapi tidak apa-apalah, resiko ditanggung supir, hehe.

Ohya, sebelum saya lupa. Orang di balik layar yang membantu pengerjaan otobiografi Dr. H. Soemarno Sastroatmodjo adalah Sugiarta. Saya menemukan namanya di catatan Ajib Rosidi (Mengenang hidup orang lain: sejumlah obituari). Sedangkan dalam otobiografi itu sendiri tak saya temukan nama Sugiarta.

Pada Mulanya

Waktu itu menjelang September 1928, Soemarno muda masih berusia 17 tahun. Itu adalah awal kisah cinta seorang lelaki muda kelahiran Rambipuji, Jember, 24 April 1911, yang kelak akan mencicipi jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta selama dua periode, yaitu pada periode 1960 - 1964 dan periode 1965 - 1966.

Pada malam menjelang September 1928 tersebut, Soemarno menikmati malam api unggun bersama teman putrinya, seseorang yang akrab dipanggil Armis. Sepulangnya, Soemarno memberanikan diri bertanya pada Armis, apakah ia menaruh hati kepadanya, sebagaimana Soemarno menaruh hati kepada Armis. Di menit-menit kemudian, segalanya terlihat jauh lebih indah. Soemarno Sosroatmodjo dan Armistiani, sepasang insan yang terlebih dahulu mengukir sejarah, sebulan sebelum Hari Sumpah Pemuda.

Dalam Kebimbangan Ketika Hendak Melanjutkan Sekolah

Usai sudah malam api unggun yang dirayakan mereka berdua, bersama dengan rekan-rekan kepanduan Margo Upoyo (Malang). Saatnya Soemarno harus kembali memikirkan sekolah apa yang harus ia tempuh setamat dari MULO Tanjung (di Malang) yang dulu terletak di Wilhelmina Straat (Sekarang Jl. Dr. Cipto). Iya, ujian penghabisan MULO telah dilalui oleh Soemarno. Itu adalah ujian pertama yang diselenggarakan oleh Batavia. Sebelumnya, kelulusan siswa cukup dilihat dari nilai raport masing-masing sekolah. Sejak April 1928 ujian penghabisan (MULO) disamakan di seluruh Hindia Belanda, pada waktu dan hari yang sama pula. Mungkin embrio UN sekarang dimulai dari sini.

Sesungguhnya Soemarno muda ingin menjadi dokter, tapi STOVIA sudah ditutup tahun 1927. Adapun Ayah Soemarno (Manghoeroedin Sosroatmodjo) sebenarnya ingin putranya mengikuti jejaknya menjadi anggota korps Pangreh Praja. Sayang sekali, waktu itu rasa nasionalisme sudah berkembang dalam diri Soemarno. Tentu saja dia tidak tertarik untuk menjadi anggota korps Pangreh Praja, mengikuti trend nasionalisme di masanya.

Sebelumnya..

Masih lekat dalam ingatan Soemarno ketika dia tamat dari HIS (Hollands Inlandse School) Jember, ketika dia masih tinggal di rumah Bibinya di Wetan Kantor sejak kira-kira tahun 1918 hingga dia menyelesaikan studinya, antara 1924 - 1925. Ayahnya ingin Soemarno melanjutkan di OSVIA, Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren, Sekolah Pendidikan bagi Pegawai Bumiputera, di Probolinggo. Menurut anggapan politik saat itu, Pangreh Praja merupakan antek kekuasaan kolonial Belanda. Banyak anggota Binnenlands Bestuur (demikian sebutannya dalam Bahasa Belanda) tidak mau lagi berkecimpung dengan kalangannya.

Dalam kesempatan itu, Ayahanda Soemarno mengajak diskusi Pak Purbo dalam memikirkan kemana sebaiknya Soemarno melanjutkan sekolah. Pak Purbo adalah saudara sepupu Ayahanda Soemarno yang bekerja sebagai Komis SS, Staats Spoor, jawatan kereta api di jaman Hindia Belanda. Ia sangat lancar berbahasa Belanda karena lulusan Kweekschool sehingga sering dimintai pertimbangan dan pendapat di lingkungan keluarga, terlebih mengenai dunia pendidikan.

Hasilnya tetap sama, Soemarno disarankan untuk melanjutkan di OSVIA. Soemarno masih sangat belia, baru tamat HIS. Tentunya itu bukan merupakan sebuah persoalan baginya. Diapun berusaha hendak mengikuti ujian masuk OSVIA. Namun nasib berkata lain. Ternyata sejak tahun itu OSVIA tidak menerima murid dari HIS lagi, karena sudah dirubah menjadi MOSVIBA, Middlebare Opleidings School voor Inlandsche Bestuurs Ambtenaren. Jadi yang diterima sebagai siswa ialah lulusan MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah dasar yang lebih luas.

Masa pendidikan di MULO bagi lulusan HIS ialah selama empat tahun, tapi buat lulusan ELS hanya tiga tahun karena tidak perlu duduk di Voorklas dulu. Memang ada kesempatan buat sekolah-sekolah tertentu untuk menempuh ujian memasuki MULO langsung ke kelas satu.

Tak ada jalan lain bagi Soemarno untuk berusaha mendapatkan tempat di MULO, di Malang atau Surabaya. Pilihan kemudian jatuh pada MULO tanjung di Malang.

Lalu, setelah akhirnya Soemarno berhasil menamatkan pendidikannya di MULO, apakah rencana akan tetap sama? Apakah OSVIA (berubah nama menjadi MOSVIBA) menjadi satu-satunya pilihan agar dia bisa menjadi anggota korps Pangreh Praja? Tidak, rencana berubah. Soemarno semakin bertumbuh. Pertumbuhannya juga dibarengi dengan perkembangan negeri ini oleh sebab adanya proses menuju Sumpah Pemuda 1928. Kali ini berbeda, MOSVIBA bukan satu-satunya pandangan yang ada di kepala Soemarno. Atau mungkin, dia sudah sama sekali tidak memikirkannya.

Namun begitu, ada saja teman Soemarno yang berencana hendak melanjutkan ke MOSVIBA, yang lazim disebut sebagai sekolah Candidaat, yang dalam pandangan masyarakat dianggap tinggi, lebih tinggi daripada Middelbare landbouw School (Sekolah Pertanian Menengah) dan Middelbare Technische School (Sekolah Teknik Menengah Atas). Konon MOSVIBA juga dianggap lebih terpandang daripada HKS, Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas).

MOSVIBA menjadi tujuan favorit bagi orang tua para siswa yang de doorsnee priyayi.

Waktu itu di Hindia Belanda hanya terdapat tiga buah sekolah tinggi: Rechts Hooge School (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia, Medische Hooge School (Sekolah Tinggi Kedokteran) juga di Batavia, dan Technische Hooge School (Sekolah Tinggi Teknik) di Bandung. Bagi orang pribumi ketiga sekolah tinggi ini biayanya terlalu mahal, masa pendidikannya pun terlalu lama. Sebab bagi siswa lulusan MULO terlebih dahulu harus ke AMS. Baru kemudian jika beruntung bisa diterima di salah satu perguruan tinggi tersebut.

Dalam kebimbangannya, Soemarno terus menimbang-nimbang hendak kemanakah ia melanjutkan studinya. Pertimbangannya sangat lama dan berbelit-belit, namun saya suka menikmati alurnya. Itulah kenapa saya menuliskannya kembali dengan bahasan yang cukup panjang untuk catatan dalam blog.

Pada akhirnya, Soemarno memilih untuk melanjutkan studinya di NIAS (Sekolah Dokter Hindia Belanda) yang bertempat di Surabaya. Segera dia menemui Administratur NIAS, mengisi beberapa formulir, juga menandatangani formulir yang isinya mengenai ikatan dinas. Formulir ini kelak membuatnya mendapat tunjangan F 57,50,- sebulan. Ini jauh lebih banyak dibanding dengan uang saku yang diterimanya di MULO yang hanya F 10,-. Tapi ada satu syarat yang harus dipenuhi Soemarno. Dia harus tinggal pada keluarga Belanda yang ditunjuk oleh NIAS. Dan itu tidak gratis. Uang pondokannya sebulan adalah F 40,- Itu artinya, uang bulanan Soemarno tinggal F 15,- padahal dia harus hidup di Surabaya. Bukan sesuatu yang mudah untuk bertahan hidup. Apalagi jika harus dihitung dengan iuran Niasclub, Indonesia Muda, KBI dan Schermclub atau perkumpulan anggar. Duh!

Tamasya Bersama Armis

Hari pertama Soemarno duduk di sekolah NIAS adalah pada 1 Agustus 1929. Menurut Akte van Bekendheid usia Soemarno 18 tahun. Soemarno memanfaatkan waktu sebelum 1 Agustus 1929 untuk mengunjungi Armis. Dengan naik kereta api Surabaya - Malang, Soemarno meluncur ke kediaman teman putrinya (dulu masih belum ada istilah pacar).

Selama di perjalanan, ingatan Soemarno melayang ke masa silam. Masa dimana untuk pertama kalinya dia berkenalan dengan Armis. Waktu itu Soemarno duduk di kelas dua MULO, sedang Armis masih duduk di kelas tertinggi Sekolah Kartini - Malang. Yang Soemarno kenang akan Armis adalah ketika dia melihatnya bermain bola tangan di halaman sekolah. Armis tetap bermain meskipun hujan turun dengan derasnya.

Suatu hari, tiba-tiba saja Armis muncul di kelas satu MULO tanpa melalui voorklas. Dari sinilah benih-benih perkenalan bermula.

Kereta api tiba di stasiun Malang, Soemarno segera meluncur ke rumah Armis. Sesampainya di sana, Soemarno mendapat sambutan hangat. Ayahanda Armis melempar sebuah pertanyaan, berapa lama pendidikan Soemarno di Surabaya? Soemarno menjawab tujuh tahun, meskipun dalam kontrak dia terikat untuk delapan tahun.

Alangkah senangnya hati Soemarno manakala dia mendapat ijin untuk mengajak Armis jalan-jalan ke Jatibanteng, Besuki. Beberapa hari kemudian, setelah mendapat uang kiriman dari Besuki, berangkatlah Soemarno dan Armis ke Jatibanteng.

"Ini seperti impianku," pekik Armis. Lalu dia menceritakan impiannya tentang jalan yang kadang berkelok, naik dan turun bukit, sementara di sebelah kanan Gunung Argopuro menjulang tinggi dengan lereng-lerengnya yang hijau dan landai, sementara di sebelah kirinya adalah lautan membiru.

Terbuai oleh mimpi-mimpi yang dikisahkan oleh Armis, membawa Soemarno turut larut oleh kenangan masa silam, ketika dia masih bocah.

Kembali ke Masa Kecil

Soemarno lahir di Curahsuko (Rambipuji - Jember) pada 24 April 1911 di rumah Kakek (RP Pringgoseputro) yang bekerja sebagai pembantu opziener (pengawas) gudang tembakau Curahsuko, sebuah perkebunan tembakau di luar Kota Rambipuji. Untuk bepergian ke Curahsuko terlebih dahulu harus menyeberangi sungai dengan perahu. Jembatan tidak ada. Bila ke rumah Kakek Soemarno, harus berjalan pula melalui semak-semak dan naungan pepohonan. Rumah itu terbuat dari bilik, tapi bersih dan halamannya rindang. Soemarno senang sekali jika diajak Kakeknya ke gudang tembakau dan gudang penganginan yang terbuat dari bambu dan beratap alang-alang. Sebaliknya, Soemarno tidak suka jika diajak ke gudang pengeringan tembakau yang beratap seng. Panas hawanya dan aroma tembakau terlalu keras. Di gudang seng Soemarno tidak dapat berlari-larian seperti di gudang bambu, tempat banyak bibi-bibinya bekerja, yang semuanya bersikap ramah terhadap Soemarno.

Di tengah lingkungan semacam itulah Soemarno dilahirkan.

Kadang, di keheningan malam Soemarno bertanya pada dirinya sendiri, "Bagaimanakah sesungguhnya wajah Ibu kandungku? cantikkah dia?" Lebih mudah bagi Soemarno mengingat wajah Nenek daripada Ibu, karena Nenek-lah yang lebih lama mengasuh Soemarno. Jika Soemarno mencoba mengingat Ibu, yang terbayang hanyalah punggungnya dan kesibukannya. Wajahnya tak pernah dapat Soemarno bayangkan. Fotonya tak ada. Sebuah kenangan yang masih dapat terbayang ialah tatkala Soemarno hendak diserang oleh induk ayam. Ibu yang sedang disisir rambutnya, entah oleh siapa wanita yang menyisirnya, menghalau induk ayam itu dengan galah. Peristiwa lain yang masih terkenang ialah tatkala Ibu menyuruh pembantu membeli telur di warung seberang jalan. Soemarno ikut pembantu itu. Sebuah telur Soemarno bawa. Terasa telur itu hangat di tangan, rupanya baru saja ditelurkan. Iseng-iseng diciumnya telur itu. Soemarno muntah seketika itu juga, dan masih muntah lagi entah berapa kali. Lama sejak itu Soemarno tak suka makan telur.

Manghoeroedin Sosroatmodjo, Ayahanda Soemarno, tidak bisa menggambarkan secara detai bagaimana perwajahan dari Ibu kandung Soemarno, sebab Ibunda meninggal dunia pada 29 Desember 1914, ketika melahirkan adik (kembar) ketiga Soemarno. Ketika itu Soemarno masih berusia kurang dari 4 tahun. Sakit panas tinggi yang tak kunjung turun itulah yang menyebabkan Ibu kandung Soemarno meninggal. Kemungkinan karena infeksi kandungan.

Konon, sejak Soemarno masuk sekolah, Ayahnya membawa ibu baru ke rumah. Ibu tiri, kata orang. Tapi Soemarno menyebutnya sebagai ibu yang sejati.

Armis mengguncang bahu Soemarno. Ah, rupanya Soemarno terlalu lama larut dalam masa lalu. Tapi ini belum selesai. Beberapa detik kemudian, Armis menodong Soemarno untuk menceritakan kisah masa kecilnya.

Soemarno Berkisah Tentang Karier Ayahnya

Pangkat Asisten Wedana adalah pangkat tertinggi dalam karier Ayahanda(Manghoeroedin Sosroatmodjo). Beliau mengawali kariernya dimulai dari magang di kawedanan Rambipuji. Nah, dari sinilah rupanya Ayah mengenal Ibu. Selesai magang di kawedanan Rambipuji, Ayahanda menjadi adjunct sipir di Gurahmalang, kemudian di Kasiyan Lor. Adjunct sipir adalah sipir pembantu. Adapun sipir penjaranya adalah seorang Belanda. Waktu menjabat sebagai sipir pembantu, Ayahanda berumah di Kasiyan Lor, di depan rumah penjara.

Sepeninggal Ibu, Ayahanda tak lagi kerasan tinggal di Kasiyan Lor. Beliau mengusahakan untuk bisa dipindahkan ke Jember, bahkan rela turun jabatan. Dengan begitu, beliau juga bisa menyekolahkan Soemarno kecil di Jember.

Karena Ayahanda dianggap mumpuni ketika menjabat sebagai sipir pembantu, keinginan beliau dikabulkan, bahkan dengan tidak diturunkan jabatannya. Akhirnya, beliau diangkat menjadi Asisten Wedana di Silo, Distrik Mayang.

Tugas Asisten Wedana waktu itu banyak berhubungan dengan soal-soal ekonomi. Dimana-mana dibangun gudang beras yang baru, dan petani-petani berdatangan hendak menjual padi. Ayahanda sangat disibukkan dengan tugas barunya. Sesuatu yang patut diacungi jempol. Beliau selalu tampil prima, bahkan meskipun menderita penyakit asma.

Ayahanda bertugas di Silo selama sekitar dua tahun lebih. Saat itu, Perang Dunia I masih sedang berkecamuk.

Lagi-lagi, karena dianggap mumpuni dengan jabatannya sebagai Asisten Wedana di Silo, akhirnya beliau dipindahkan ke wilayah yang lebih luas dan makmur, yaitu di Ambulu.

Rupanya, jabatan tertinggi sebagai Asisten Wedana di Ambulu merupakan yang terakhir bagi Ayahanda, sebelum akhirnya beliau tersandung oleh satu cobaan (fitnah oleh pihak Belanda), lalu jabatannya diturunkan secara drastis. Tidak sampai tiga bulan kemudian Ayah dipindahkan ke Sumbermalang (Jatibanteng), di Lereng Gunung Argopuro.

Begitulah, akhirnya beliau dipindahkan ke daerah terpencil, hingga derajatnya turun drastis. Hanya dengan naik kuda, baru kita bisa mencapai daerah Sumbermalang. Apalagi mobil, dokar pun tak sanggup naik ke sana. Dapat dibayangkan betapa terpencilnya wilayah kerja beliau di Sumbermalang.

Setelahnya, beliau pensiun dan tinggal di Wetan Kantor - Jember, di rumah milik sendiri. Rumah itu mulai dibuat sewaktu menjadi Mantri Polisi. Di sinilah beliau menutup mata dan dikebumikan, pada Agustus 1938. Namun sebenarnya beliau tidak benar-benar pensiun. Sebab pada 1933 beliau masih tercatat memiliki aktivitas di Onderdistrik Panji (Situbondo) sebagai Asisten Wedana.

Rambipuji, Kasiyan Lor, Silo, Ambulu, Wetan Kantor, di sanalah kenangan masa kecil Soemarno berceceran. Soemarno bisa menceritakan cukup rinci tentang tempat - tempat itu di akhir era 1910-an dan erak 1920-an.

Lalu Mereka Menikah

Di Sekolah Dokter Hindia Belanda (NIAS) terdapat peraturan yang melarang beristri bagi para siswa yang menerima beasiswa. Itu artinya Soemarno tidak boleh menikah. Tidak ada cara lain selain menikah diam-diam. Dan benar, dengan segala resiko yang ada, pada akhirnya Soemarno dan Armistiani melakukannya. Namun, mereka tidak secara bulat-bulat menikah diam-diam. Dengan segala keberaniannya, Soemarno menemui Direktur NIAS untuk menyatakan niat hendak kawin setelah naik ke tingkat enam. Soemarno tidak minta ijin, melainkan memberitahukan saja. Soemarno mengatakan kepada Direktur NIAS bahwa tidaklah patut dan jujur terhadap istri jika Soemarno menikahinya secara sembunyi-sembunyi.

Alhasil, happy ending bagi pasangan Soemarno - Armis. Direktur NIAS membolehkan mereka melaksanakan perkawinan. Sejak saat itu larangan kawin di NIAS tidak terlalu ketat lagi.

Mereka melangsungkan upacara pernikahan di Malang, sangat sederhana. Tentu saja sangat sederhana, karena selain Soemarno masih belajar, Ayahnya baru saja pensiun, bahkan belum menerima uang pensiun dan belum tahu berapa besar jumlah pensiunannya. Rupanya pada jaman kolonial lama juga menunggu keluarnya pensiun.

Seminggu kemudian mereka meluncur ke Jember, untuk menyelenggarakan upacara pernikahan sekedarnya. Sederhana yang alangkah indahnya.

Hari-hari selanjutnya..

Tahun 1935 Soemarno duduk di tingkat enam NIAS dan mulai berkecimpung di klinik. Satu tahun berikutnya, tepatnya pada 18 Januari 1936, pasangan ini dikaruniai anak yang pertama. Laki-laki. Namanya Sidharta Manghoeroedin. Nantinya si sulung ini akrab dipanggil Mamang. Di tahun 1937, Mamang kecil tinggal di Wetan Kantor - Jember, sebab saat itu Soemarno sibuk menjadi co-assistent di bidang kesehatan.

Suatu pagi di akhir bulan Maret 1938, ada sebuah kabar gembira. Soemarno dinyatakan lulus sebagai dokter. Ijasahnya keluar pada 2 April 1938. Seharusnya 1 April 1938. Namun ada satu hal lucu. Kata orang di masa itu, 1 April merupakan hari raya bagi orang-orang yang suka iseng membohongi masyarakat. Ini kebiasaan orang dan pers Belanda maupun Barat untuk menyiarkan berita bohong pada tanggal itu, tanpa khawatir akan terkena tuntutan.

Itulah kenapa ijasah Soemarno dikeluarkan pada 2 April 1938. Pimpinan NIAS khawatir kalau-kalau ijasah Soemarno disangka orang sebagai ijasah palsu.

Soemarno tidak terlalu memikirkan itu. Hatinya masih diletupi oleh perasaan bahagia. Tak lama kemudian Soemarno sekeluarga bersegera meluncur ke Jember. Dia menyempatkan diri untuk sungkem ke Ayahanda, sanak saudara, berziarah ke makam Ibu di Kasiyan Lor, dan makam keluarga di Tegal Bedadung dan Tembakan. Di pemakaman inilah dikuburkan makam leluhur Soemarno - para canggah, buyut dan eyang yang belum pernah Soemarno kenal.

Empat bulan kemudian Ayahanda Soemarno meninggal dunia. Sungguh sedih hati Soemarno, sebab saat itu dia sekeluarga sudah berada di Tanjung Selor, Kalimantan. Dia mengabdikan diri sebagai Dokter di sana.

Soemarno menuliskan kisah yang panjang selama dirinya sekeluarga berada di sana. Berlembar-lembar kisah. Cerita hidup paling menarik adalah ketika istri Soemarno hamil anak kedua, mereka berdua sepakat bahwa proses kelahirannya nanti akan Soemarno atasi sendiri. Benar juga, pada akhirnya Soemarno melaksanakan kata-kata itu. Lahirlah anak kedua mereka di Tanjung Selor. Perempuan. Mereka memberinya nama yang cantik, Sri Soesilorini. Kelak, perempuan mungil yang akrab dipanggil Niniek ini menjelma menjadi pelopor Ketahanan Pangan Nasional. Niniek sempat menjadi anggota Badan Pengawas Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (BPO HKTI) periode 2004-2009. Dia dikenal dengan nama Ir. Hj. Sri Soesilo Rini Soerojo Soemarno.

Pada akhirnya nanti, pasangan ini dikaruniai tujuh orang anak, juga cucu-cucu yang banyak. Mereka berdua, Soemarno Sosroatmodjo dan Armistiani, telah melewati begitu banyak jaman. Dimulai dari masa Hindia Belanda, masuknya Jepang, Proklamasi Kemerdekaan, masa-masa revolusi, hingga cerita lain yang ditorehkan oleh Partai Komunis Indonesia. Soemarno hadir di sana, dengan seluruh doa dan cinta Armistiani yang selalu setia menyertainya.

Sedikit Lagi

Sebenarnya otobiografi Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo ini lebih banyak mengulas masalah politik, tentang bagaimana prosesnya selama menjadi dokter dan di ketentaraan, ketegangan di masa revolusi hingga paska Gerakan 30 September PKI, perjumpaannya dengan orang-orang penting di negeri ini, juga tentang sepak terjangnya selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Tapi saya menemukan sisi lain. Tentang masa kecil Soemarno, bagaimana dia masuk sekolah dengan syarat menjulurkan jari tangan kanan di atas kepala untuk meraih telinga kiri, tentang tahapan sekolah itu sendiri, hari-harinya sebagai manusia biasa, dan tentang betapa kuat dan tak terlihatnya sosok Armistiani dalam menemani hari-hari Soemarno.

Dr. H Soemarno Sosroatmodjo menikmati masa pensiunnya sejak bulan November 1966, satu bulan sebelum kelahiran cucunya yang bernama Bimo Setiawan Al Machzumi (cucu dari putra sulungnya, Mamang, dengan istrinya yang bernama Iffet Veceha). Lelaki dengan istri yang hebat ini meninggal di Jakarta, pada 9 Januari 1991, di usianya yang ke 79 tahun.

Terlepas dari pandangan politik tentang Soemarno yang entah saya sendiri tidak mengerti, saya suka dengan cara Soemarno menuturkan hidupnya. Juga kepada Sugiarta yang telah berhasil memberi sentuhan 'manusia biasa' pada sosok Soemarno. Satu lagi. Di sini karakter Armistiani sangat miskin. Tapi saya rasa dia memang perempuan yang tangguh.

Sudah, saya mau nyruput kopi buatan istri dulu.

14.11.13

#5BukuDalamHidupku: Alam Pikiran Yunani

14.11.13

Alam Pikiran Yunani - Dokumentasi Pribadi

Perjalanan sejarah negeri ini kembali diuji pada tahun 1998, begitu juga dengan perjalanan hidup saya. Waktu itu kawan-kawan segenerasi sedang harap-harap cemas menanti pengumuman UMPTN 1998. Apakah saya juga cemas? Entahlah, saya lupa pada kondisi hati saat itu. Yang saya ingat, selama menanti pengumuman, saya menghabiskan waktu dengan menikmati setiap pertandingan sepak bola (piala dunia) hingga babak final. Ketika itu, Brasil berhasil ditaklukkan oleh Zidane dan kawan-kawan.

Tibalah saatnya hasil UMPTN diumumkan. Nama saya nyantol sebagai calon mahasiswa Fakultas Sastra Ilmu Sejarah UJ. Bukan sebab saya pintar, tapi lebih pada jurusan yang tidak populer ( di masanya). Saya merayakannya dengan mendengarkan lagu /rif berjudul Bunga yang meledak di tahun sebelumnya, 1997.

Cerita selanjutnya, saya merdeka dari ilmu eksak. Namun hal itu dibarengi dengan kisah baru. Dunia sastra mengharuskan saya untuk berkenalan dengan philosophia. Lalu, mulailah saya melakukan pendekatan pada ruang tak terbatas bernama filosofi.

Iya saya mengerti, filosofi memiliki arti cinta akan pengetahuan. Tapi pada mulanya, saya kesulitan untuk mengupas dan mengenalinya. Yang ada di otak saya, filosofi adalah tentang nama-nama para filsuf dan tentang buah pikiran mereka, juga tentang latar belakang ruang hidup mereka.

Sejujurnya, saya tidak ingin mengenal dunia filosofi hanya dari hafalan saja. Jika seperti itu, mungkin ke depan saya hanya akan pandai sebatas ahli kutip saja. Yang saya inginkan adalah mengenal dunia filosofi, memeluknya, untuk kemudian mengambil sari patinya agar bisa saya ejawantahkan dalam keseharian.

Waktu terus berputar, saya belum juga menemukan formula untuk apa yang saya inginkan, mengenal dunia filosofi lebih mudah dan menemukan intinya. Ini berlangsung hingga tahun 1999, ketika tangga lagu Indonesia digoyang oleh album perdana milik Sheila on 7.

Suatu hari ketika saya pulang ke rumah, tiba-tiba pandangan saya tertuju pada sebuah buku bersampul cokelat tua perpaduan putih mangkak. Seperti ada yang menyuruh, tak lama kemudian buku tersebut sudah ada di genggaman saya. Buku yang saya maksud itu berjudul Alam Pikiran Yunani. Penulisnya adalah salah satu Proklamator Indonesia, dialah Mohammad Hatta.

Aneh, buku tersebut sudah sejak lama ada di sekitar saya, namun baru pada 1999 saya meraih dan mencoba memahami isinya. Mungkin ini bagian dari cara kerja Semesta, entahlah saya tidak tahu.

Ketika Hatta Menyusun Catatan Alam Pikiran Yunani

Waktu itu Hatta sedang diasingkan ke Boven Digul, sebelum akhirnya dipindahkan ke Banda (1941). Melihat Indonesia dari pengasingan yang sunyi, justru membuat Hatta berpikir lebih lapang. Dia rasa, untuk bisa memahami filosofi, kita harus coba mengembalikan filosofi ke habitatnya, untuk kemudian mencoba memahami pemikiran orang-orangnya. Itulah yang dilakukan Hatta ketika menuliskan Alam Pikiran Yunani.

Kisah di balik penulisan buku tersebut semakin menarik, sebab Hatta tak sekedar menuliskannya. Dia juga mengajarkan isi buku itu pada kawan-kawan tahanan di sana. Lebih menarik lagi, pada 18 November 1945, ketika Hatta mempersunting Siti Rahmawati Hatta (Rahmi Hatta), dia menghadiahkan buku Alam Pikiran Yunani untuk Rahmi.

Filosofi bersifat meluaskan pandangan serta mempertajam pikiran. Ini penting dipelajari oleh Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebab menurut pemikiran Hatta, Indonesia era 1930-an hingga awal 1940-an masih bermentalitas kuli dan budak. Kemerdekaan hanya dipahami oleh segerombolan dan bukan oleh masing-masing individu, itu membuat negara kultural yang dibentuk tidak mengarah pada peradaban namun lebih pada sebuah negara preman.

Kultural dan pendidikan yang beradab itu penting untuk Indonesia yang saat itu masih terjebak pada hal-hal seperti sukuisme, dan peradabannya tidak luas, ibarat katak dalam tempurung.

Merasa kondisi di Indonesia abad 20 pernah terjadi dan dipikirkan oleh peradaban yang lain jauh di abad sebelumnya (di Yunani), mulai dari tata masyarakat, bentuk negara, hak dan kewajiban warga negara, hingga masalah politik yang lain, maka Hatta merasa ada sebuah kebutuhan yang mendesak untuk kembali belajar memahami cara berpikir beberapa filsuf Yunani tersebut.

Dalam buku Alam Pikiran Yunani juga diceritakan tentang Socrates

Meskipun Hatta menuliskan banyak nama-nama filsuf dalam bukunya, namun sepertinya dia memberikan tempat khusus untuk Socrates. Barangkali Hatta merasa memiliki kesamaan dengan Socrates. Jika ditengok kembali, Socrates itu bukan seorang yang mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Iya, Socrates berpendapat bahwa filosofi itu bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang bersandarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofi Socrates adalah mencari kebenaran. Oleh karena Socrates mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Socrates bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir.

Bedanya dengan Socrates, Hatta menuliskan filosofinya, juga filosofi-filosofi menurut pandangan filosof Yunani. Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Terinspirasi oleh pemikiran Socrates, Hatta mengulurkan ajakan pada orang-orang Indonesia agar menemukan kebenaran bersama-sama, menghayatinya, untuk kemudian mengejawantahkannya dalam hidup keseharian.

Membaca Alam Pikiran Yunani Lembar Demi Lembar

Jika harus dirangkum menjadi satu jawaban, philosophia memiliki arti cinta akan pengetahuan. Namun Hatta mengingatkan kita bahwa apa sebenarnya yang disebut filosofi tak perlu kita persoalkan di awal. Sebab bila belum apa-apa kita sudah terjebak dengan itu, maka filosofi akan terlihat sulit didekati dan tampak menyeramkan.

Ada baiknya kita sebutkan saja sifatnya yang umum, seperti yang telah dilukiskan oleh Windelband. Filosofi sifatnya merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata. Itulah sebabnya banyak orang yang menyebut filosofi sebagai ruang berpikir merdeka tanpa harus dibatasi kelanjutannya.

Apakah filosofi berbeda dengan ragam ilmu yang sekarang kita kenal? Pada dasarnya iya. Filosofi adalah tentang memikirkan alam sebulat-bulatnya, sedangkan keilmuan yang sekarang kita kenal itu terpecah-pecah menjadi banyak bagian. Pecahan satu-satunya itulah yang dipelajari dan diselidiki oleh tiap-tiap ilmu.

Di sanalah beda antara filosofi dengan ragam ilmu yang lain (ilmu spesial). Ilmu menghadapi soalnya dengan pertanyaan bagaimana dan apa sebabnya. Filosofi meninjau dengan pertanyaan apa itu, dari mana dan kemana. Itulah filosofi. Dia memandang alam sebagai satu persoalan yang bulat. Dengan kata lain, filosofi adalah pencarian yang senantiasa tak pernah sampai ke penghabisan.

Membaca Alam Pikiran Yunani lembar demi lembar tidak membuat saya merasa pusing, sebab Hatta mengemasnya dengan bahasa yang cukup mudah. Apalagi, buku yang ada di tangan saya ini sudah masuh cetakan ketujuh. Buku yang pada mulanya terdiri dari tiga jilid ini sudah dijadikan satu, dan sudah menggunakan EYD. Jadi, mudah bagi saya untuk memahaminya.

Membaca Alam Pikiran Yunani sama artinya dengan menyaksikan kelahiran filsafat pada 25 abad yang lampau. Model paparannya sederhana, lebih sederhana dari Dunia Sophie misalnya, tapi itu menurut saya pribadi.

Iya, penulis berhasil mengajak saya mempercayai satu hal, bahwa filsafat itu juga bisa didekati dengan cara yang mudah. Sampai saat ini, ketika saya harus bersentuhan dengan dunia filosofi, alam bawah sadar ini selalu mengarah pada sampul cokelat tua kombinasi putih mangkak. Buku ini berhasil mengubah gaya hidup dan pola pikir saya ke arah yang lebih filosofis.

Sedikit Tambahan

Buku Alam Pikiran Yunani menuntun saya untuk berpikir lebih luas, dan tidak berpihak pada kepentingan apapun kecuali pengetahuan. Dengan harapan, pengetahuan menuntun saya pada jalan kebenaran. Jadi, Hatta menyegarkan kembali ingatan seluruh masyarakat Indonesia bahwa setia pada proses mencari kebenaran adalah sebuah kebutuhan.

Hari-hari selanjutnya, saya mencoba belajar menghiasi karya-karya apapun, baik itu tulisan, lukisan, puisi, lagu, memungut remah-remah sejarah, dan bahkan dunia percintaan antara saya dengan alam, istri tercinta, juga orang-orang terdekat, dengan sentuhan-sentuhan filosofi.

Terima kasih Mohammad Hatta.

Salam saya, RZ Hakim.


13.11.13

#5BukuDalamHidupku: Di Antara Reruntuhan Sarajevo

13.11.13

Catatan Harian Zlata Filipovic - Gambar dari google

Ini tentang catatan Harian Zlata Filipovic, di antara reruntuhan Sarajevo. Dia mulai menulis catatan harian pada 2 September 1991, tiga bulan sebelum Ia merayakan ulang tahun yang ke sebelas. Kelak, catatan harian dari putri tunggal pasangan Malik dan Alica Filipović ini dibukukan dan diberi judul; Zlata's Diary - A Child's Life in Wartime Sarajevo.

Iya benar sekali, Zlata mulai menulis buku harian di usia yang sangat belia. Ia bahkan menamai buku hariannya dengan nama Mimmy. Pada awalnya, Zlata menulis tentang hal-hal yang membahagiakan yang ada di sekitarnya, seperti bermain dan belajar bersama teman-teman di sekolah atau di rumah. Namun, tak ada yang bisa menebak hadirnya perang yang berkecamuk di Bosnia Herzegovina pada awal 1992. Itu semua sontak mengubah entri dari catatan hariannya, seperti yang Zlata tulis pada 20 April 1992. "Perang seolah dapat melakukan segalanya, kecuali bercanda."

Perkenalan Saya Dengan Catatan Harian Zlata Filipovic

Aneh, saya menemukan buku Zlata Filipovic di sudut kamar seorang kawan bernama Bahtiar Adi Candra. Saya berpikir, ini benar-benar aneh. Saya mengenal Adi sejak sebelum Taman Kanak-kanak hingga seterusnya. Ketika SMA, kami bersekolah di sekolah yang berbeda. Tapi tetap saja kami berteman baik sebab rumah Adi tak jauh dari rumah saya. Kenapa aneh? Sebab setahu saya Adi tidak suka membaca. Dia lebih senang menghabiskan hari-harinya dengan uthek-uthek rongsokan, menjadikannya sebagai penemu ini dan itu.

"Iki bukumu Di?"

Ternyata benar, buku itu memang milik Adi. Dia mengangguk dan menyelipkan sedikit info bahwa isi buku berjudul 'di antara reruntuhan Sarajevo' itu mengena di hati. Lagi, saya hanya bisa melongo.

Singkat cerita, buku terjemahan bersampul cokelat yang tebalnya hanya 168 halaman itu sudah ada di tangan saya. Kemudian saya pulang dan larut dalam catatan-catatan Zlata. Kalau tidak salah ingat, itu terjadi pada akhir tahun 1996 atau 1997. Entahlah, saya tidak bisa memastikan. Yang saya ingat, saat itu lagu-lagu slow rock nusantara sedang menjadi tuan di negerinya sendiri. Mulai dari Boomerang, U'Camp, hingga Hengky Supit. Ada juga reggaenya Imanez. Ohya, waktu itu Jember sedang gandrung dengan lagu berjudul Satu Senyum Saja yang dinyanyikan oleh Tato.

Suasana Yang Sulit Untuk Menulis

Di awal Maret 1992, barikade dan penembak bersenjata mulai muncul di jalanan Sarajevo. Namun, suasana perang benar-benar dimulai pada 5 April 1992, di hari yang bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan Bosnia-Herzegovina. Itu adalah tanggal serangan pertama ke Sarajevo oleh Tentara Rakyat Yugoslavia dan paramiliter Serbia. Mereka mencoba menduduki pusat kota untuk mendepak pemerintahan resmi dan mencoba melalui kudeta dengan harapan memaksa Bosnia dan Herzegovina menyerah.

Bagaimana Zlata bisa menulis di suasana yang serunyam itu?

Sarajevo dikepung dalam waktu yang cukup lama, 1417 hari. Menyebabkan tewasnya puluhan ribu penduduk Sarajevo. Ketakutan tersebar dimana-mana. Pada akhirnya memang pecah serangan jalanan. Bersama dengan pembela kota, angkatan pemerintah berhasil memukul mundur Tentara Rakyat Yugoslavia.

Tapi ini bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang seorang gadis belia kelahiran 3 Desember 1980 yang membuat catatan di tengah-tengah pengepungan. Dia juga menghabiskan hari-harinya di ruang bawah tanah yang pengap, di apartemen orang tuanya. Ruang pengap tanpa listrik, tanpa gas, dan tanpa air. Yang ada hanyalah teror ketakutan dan suara-suara bom, mortir, dan desingan peluru dari penembak gelap. Di situasi seperti ini, Zlata harus pandai bersahabat dengan lilin.

Kalau saja Zlata tidak memelihara mimpi bahwa perang dan pengepungan kota akan segera berakhir, mungkin dia tidak akan pernah menulis.

Kisah tentang Zlata Filipovic memang bisa dikata berakhir happy. Dimulai dari ketertarikan UNICEF untuk menerbitkan catatan Zlata dalam bentuk buku, dan meminta Zlata untuk mempresentasikannya di hadapan khalayak, baik itu para jurnalis, aktifis perdamaian, maupun di hadapan masyarakat Sarajevo yang masih survive. Peristiwa yang menggembirakan itu (presentasi) terjadi pada 17 Juli 1993. Kemudian, Zlata menjadi pusat perhatian para jurnalis dunia. Selanjutnya, dunia Zlata semakin hari semakin bersinar.

Semisal Waktu Itu Zlata Ada di Jember

Semisal Zlata ada di Jember, mungkin saya akan mengajaknya bermain di gubug kecil yang berdiri di tengah hamparan sawah, menikmati semilir angin, sambil membaca serial Lima Sekawan karya Enid Blyton. Dengan begitu, Zlata tak perlu mencoba tak tampak cemas tentang kemungkinan akan cedera atau tewas oleh bom, martir, dan peluru nyasar milik sniper. Dia hanya butuh bersenang-senang menikmati kicau burung atau melihat cara capung terbang di atas butiran padi yang mulai menguning.

Semisal Zlata ada di Jember tahun 1992, mungkin saya bisa mengajaknya menonton launching Matahari Dept. Store di atas tanah Pasar Tradisional Johar. Ini adalah pusat keramaian modern pertama di kota santri. Johar Plaza. Marhaban Ya Kapitalisme..

Launching tersebut menghadirkan seorang Lady Rocker asal kota Surabaya, dialah Ita Purnamasari. Barangkali Zlata akan senang ketika dia mendengarkan Ita menyanyikan lagu Penari Ular.

Di tahun tersebut, saya baru saja masuk SMP. Jember baik-baik saja. Jadi, saya tidak pernah melihat perang. Saya tak pernah mendengar ledakan bom yang memekakkan telinga. Saya tidak tahu bagaimana bentuk pecahan peluru mortir, kecuali jika saya menontonnya di media visual. Ya, saya tidak hidup di kenyataan yang mengerikan, tidak seperti Zlata. Waktu itu keadaan Jember baik-baik saja. Tak ada kebisingan peluru maupun bocah-bocah yang menangis diantara harga nyawa yang murah. Seharusnya, dibanding dengan Zlata, saya harus lebih produktif menulis. Tapi nyatanya toh tidak begitu.

Zlata Filipovic bisa menulis, karena dia butuh bercerita. Suasana perang sebagai backsound-nya. Saya jadi berpikir, setiap penulis butuh memiliki perangnya sendiri. Jika tidak ada perang, dia harus membuatnya ada, semata-mata agar bisa menulis dengan tajam.

Ketika membaca catatan Zlata Filipovic, saya sudah ada di bangku SMA. Di saat itu, saya masih belum juga aktif menulis. Kegiatan saya hanyalah bersenang-senang, menggambar, menuliskan sesuatu di meja sekolah, dan melakukan kenakalan-kenakalan kecil. Kemudian catatan Zlata Filipovic masuk ke dalam hari-hari saya. Sepintas tampak konyol, nurani saya dibangunkan oleh tulisan berdiksi sederhana milik Zlata. Lalu saya merenung, mencoba membayangkan seandainya waktu itu saya tinggal di Sarajevo.

Semisal Waktu Itu Saya Ada di Sarajevo

Pastinya, saya akan terbiasa dengan selongsong peluru, granat, desingan tembakan suara mesin kaliber tinggi, berjalan diantara gedung-gedung yang runtuh, dan mungkin saya akan memilih AK47 untuk melindungi diri. Saya akan akrab dengan kiat-kiat bertahan hidup dari para motivator perang, meskipun itu hanyalah kiat yang sederhana. Misalnya, cara bertahan hidup di dalam gedung, jauhi tembok sebelah sana, duduklah di ranjang sebelah sini, lewatlah tangga sebelah sini, jangan hidupkan lampu, dan sederet lagi.

Saya yakin, meskipun kiat-kiat bertahan hidup itu tampak ribet dan bertele-tele, tapi saya akan mudah memahaminya. Keadaan menuntut siapapun yang hidup di zona perang harus bisa tanggap dan pandai membaca situasi.

Semisal waktu itu saya ada di Sarajevo, sudah dipastikan saya tidak akan bisa menonton Ita Purnamasari bernyanyi di Launching Johar Plaza Jember. Ketika di Sarajevo, yang saya lihat adalah kebengisan, penghancuran peradaban beserta bangunannya, budayanya, generasinya, dan bahkan sejarah yang menyertainya.

Saya memang tidak bisa sendirian menghentikan perang. Tapi di suasana yang carut marut itu, ada peluang bagi saya untuk menulis dengan sebenar-benarnya dan bukan yang seindah-indahnya, seperti yang telah dilakukan oleh Zlata Filipovic. Sampai di sini kesimpulan saya tetap sama, bahwa setiap penulis butuh memiliki perangnya sendiri.

Sedikit Tambahan

Catatan Zlata Filipovic menyegarkan kembali ingatan saya tentang satu hal. Jika kita cinta damai maka kita juga harus siap menghadapi perang. Catatan ini juga membawa saya pada buku-buku yang lain, baik yang populer maupun yang tidak populer.

Meski terbilang terlambat, tak lama kemudian saya sudah sibuk belajar menulis. Apa saja saya tulis. Hingga beberapa tahun berselang, saya mulai merasa memiliki formula dan jalur yang harus saya tempuh. Dalam hati saya bergumam, inilah saatnya melaksanakan kata, bahwa penulis butuh memiliki perangnya sendiri.

Salam saya, RZ Hakim

12.11.13

#5BukuDalamHidupku Lima Sekawan

12.11.13

Lima Sekawan Karya Enid Blyton - Gambar Pinjam dari Google

Ketika ada yang bertanya tentang buku apa yang pernah mengubah hidup saya, barangkali Enid Blyton bertanggung jawab atas apa yang hendak saya utarakan. Iya benar, penulis buku cerita anak berkebangsaan Inggris ini sukses menanamkan embrio petualangan pada seorang RZ Hakim kecil. Dalam karyanya berjudul Lima Sekawan (The Famous Five), dia memperkenalkan saya pada Julian, Dick, Anne, George dan Timmy.

Cerita sebelumnya..

Bisa dibilang, generasi saya adalah generasi yang terlambat untuk bisa membaca. Terlebih, dulu belum ada PAUD. TK adalah masa dimana saya menghabiskan waktu untuk cuci tangan, doa bersama, bermain, bermain, dan bermain. Begitulah, masa kecil adalah saatnya bersenang-senang.

Generasi saya tidak dipersiapkan untuk bisa menulis dan membaca sejak dini. Kabar baiknya, kami jadi pandai membaca keadaan sejak dini, tahu bagaimana memperlakukan sebuah permainan kolektif, dan menjunjung tinggi dunia dongeng verbal.

Tibalah saatnya saya masuk SD. Di hari pertama, saya diperkenalkan dengan sebuah huruf. Kata Ibu Reni, huruf itu bernama i. Tak terbayangkan betapa menyebalkannya hari itu, hari dimana saya berkenalan dengan i. Lebih menyebalkan lagi, Ibu Reni memberikan pekerjaan rumah, yaitu menuliskan huruf i sepuluh kali. Hari itu saya menangis, hehe.

Selanjutnya. Semakin hari saya semakin terbiasa dengan suasana kelas di SDN Patrang 1 Jember. Saya masih ingat, dinding-dinding kelas dipenuhi oleh poster para pahlawan. Dulu saya pikir mereeka adalah orang-orang Jember yang layak diteladani. Kelak, barulah saya mengerti bahwa mereka adalah Pahlawan Nasional. Aneh, sekolah saya beralamatkan Jalan Moch Sroedji 250, tapi poster Letkol Moch Sroedji justru tak terpampang di sana. Dekat pula dengan RSD Dr. Soebandi, tapi tak ada pula poster Dr. Soebandi.

Hmmm, rupanya saya ngelantur. Tulisan ini semakin jauh dengan Enid Blyton. Maaf.

Bermula dari semakin pandainya saya merangkai huruf dan semakin membaiknya saya bersosialisasi di kelas, saya jadi mengerti bahwa di luar sana ada sebuah majalah anak bernama Bobo. Suatu hari kepada Bapak saya mengutarakan bahwa saya ingin berlangganan Bobo. Yes, Bapak mengamininya. Saya pun berlangganan Bobo.

Saya sangat menghargai kemurahan hati Bapak meskipun itu tidak berlangsung lama, hanya hitungan bulan. Meskipun saat itu saya masih sangat bocah, tapi saya tahu ketika itu orang tua saya sedang mengalami kondisi keuangan yang buruk. Itulah kenapa Bapak memutuskan untuk tak lagi langganan Bobo.

Apakah saya sedih? Ya, tentu. Tapi saya memiliki seorang Bapak yang hebat.

Tak lama setelah berhenti berlangganan Bobo, di dekat rumah saya ada kios persewaan komik dan majalah. Kiosnya kecil, hanya seukuran kios rokok di tepi jalan. Tapi kios itu membawa kebahagiaan yang besar. Kotak kecil yang mirip miniatur bus itu sukses mengenalkan saya pada sahabat-sahabat baru, mulai dari Hiawatta hingga Asterix Obelix. Dan semuanya bisa saya lahap dengan gratis.

Bagaimana, Bapak saya hebat bukan? Dia memang tidak memiliki uang yang banyak. Tapi dengan cara mengijinkan pemilik persewaan buku untuk mendirikan kios di dekat rumah, itu hal yang sungguh sangat luar biasa sekali. Ah Bapak, kau memang keren.

Dihipnotis Enid Blyton

Lima Sekawan memang sebuah karya fiksi. Namun, ketika harus mengikuti petualangan mereka saat mencari keberadaan harta karun di Pulau Kirrin, saya merasa sedang mengikuti langkah-langkah kaki para tokoh dalam cerita. Dalam hal ini, Enid Blyton berhasil menghipnotis saya. Dan itu tidak terjadi satu kali. Ya, berhubung cerita ini bersifat serial, maka saya terhipnotis berkali-kali.

Saya lahir di tengah-tengah keluarga sederhana. Tidak kaya tidak juga sangat miskin. Menurut kata orang, masa kecil saya pendiam. Tidak banyak tingkah. Mungkin cenderung minder dan sedikit manja. Itu berlangsung hingga saya mengenyam pendidikan Taman Kanak-kanak. Jati Peni, seharusnya di Taman Kanak-kanak ini saya menghabiskan masa nol kecil dan nol besar. Tapi saya menolak untuk sekolah sejak di hari pertama. Penyebabnya hanya satu, saya takut dengan anjing yang ada di pelataran Taman Kanak-kanak Jati Peni.

Setahun berikutnya, barulah saya benar-benar menjadi siswa Taman Kanak-kanak. Kali ini saya ditempatkan di TK Pancasila - Kreongan. Hanya satu tahun saya sekolah di sana. Tahun berikutnya saya sudah masuk Sekolah Dasar. Di hari pertama saya menangis hanya gara-gara sebal dengan huruf i.

Perkenalan saya dengan Bobo memang membahagiakan. Begitu juga dengan tokoh-tokoh fiktif yang lain. Tapi serial Lima Sekawan sangat berbeda. Enid Blyton memperkenalkan saya pada tulisan-tulisan yang panjang, tak sekedar kumpulan gambar-gambar dengan teks di sana-sini. Ini membuat saya berjuang keras untuk bisa membaca dengan baik. Jika tidak, maka saya akan tertinggal jauh di belakang.

Masa SD generasi saya ada pelajaran membaca di rumah. Maksudnya begini. Saya membuka buku, membaca keras-keras, sementara tak jauh di tempat saya membaca ada Ibu yang sedang menyulam, atau Bapak yang sedang melakukan sesuatu. Mereka seperti tidak sedang memperhatikan saya. Namun ketika saya membuat kesalahan kecil, mereka segera membenarkan. Kawan-kawan saya yang lain juga mengalami metode belajar membaca yang seperti itu. Entah siapa penggagasnya, saya tidak tahu.

Mungkin saya segenerasi mengalami keterlambatan literasi. Tapi kami memiliki literatur bacaan anak yang semuanya menyenangkan. Jadi, saya mengalami kemajuan yang pesat di bidang baca tulis. Terlebih, setelah mengenal karya Enid Blyton.

Apakah pengaruh karya Enid Blyton hanya ada pada sisi baca tulis yang semakin membaik? Tidak juga. Ada satu lagi yang lebih fenomenal. Saya yang tadinya pendiam, kurang percaya diri, dan mudah menangis, menjelma menjadi lelaki kecil yang tergila-gila pada dunia petualangan. Dimulai pada kelas tiga SD dan seterusnya.

Pernah pada suatu hari, Ibu sedang ongkreh-ongkreh di gudang. Rupanya dia sedang mencari kotak kecil yang berisi alat-alat menyulam. Lalu saya menawarkan diri untuk mencarinya. Tentu saja beliau senang. Saya juga senang karena memiliki ruang kecil untuk berpetualang. Iya, bagi saya itu sudah masuk kolom petualangan.

Kondisi gudang yang tadinya berantakan, kini sudah rapi. Saya memang sengaja menatanya dalam kardus-kardus kecil. Namun begitu, apa yang saya cari tak juga berhasil ditemukan. Saya lelah, lalu bersandar di pojok gudang. Nah, saat itulah Ibu bilang bahwa kotak yang dicari telah ditemukan di tempat yang lain. Ah.. Rupanya beliau mengerti kekecewaan saya. Ibu menggantikan itu dengan semangkuk puding. Alhamdulillah, meskipun misi gagal, petualangan saya berakhir dengan manis.

Belajar Membaca Potensi Sekitar

Enid Blyton memang tidak secara langsung mengajari saya bagaimana caranya membaca potensi sekitar untuk dijadikan areal petualangan. Tapi karyanya menginspirasi saya untuk melakukannya. Tanpa disuruh siapapun, mulailah saya melakukan pengamatan dari sekitar rumah saya sendiri.

Di belakang rumah saya ada rel kereta api. Di seberangnya lagi ada hamparan persawahan. Terus lagi, ada sungai kecil. Sementara di depan rumah saya ada jalan aspal yang menghubungkan kota Jember dengan Bondowoso dan Situbondo. Di seberangnya ada gudang tembakau. Di belakang gudang tembakau ada tanah kuburan. Setelah tanah kuburan, ada jalan menukik ke bawah yang siap mengantarkan kita menuju aliran Sungai Bedadung. Tak jauh dari sana ada juga Taman Makam Pahlawan yang di belakangnya terhampar ladang tebu. Di tempat seperti itulah saya berpetualang.

Ada lagi. Rumah Kakek Nenek saya ada di wilayah Kreongan, tak begitu jauh dengan rumah orang tua saya. Jadi, saya memiliki dua ruang masa kecil. Berbeda dengan rumah orang tua yang ada di tepi jalan, rumah Mbah ada di wilayah perkampungan yang padat. Lokasinya tepat di belakang STM Negeri Jember (sekarang menjadi gedung SMP 10 Jember). Tak jauh pula dengan Stasiun Kereta Api Jember.

Bersama seorang saudara bernama Ees, kami sering melakukan petualangan-petualangan kecil. Mulai dari susur sungai hingga masuk ke gerbong kereta yang baru parkir, hanya untuk mencari barang-barang milik penumpang yang tertinggal di sana. Tak jarang, saya menemukan buah-buahan seperti salak, anggur, dan lain-lain. Pernah juga saya menemukan sapu tangan dan kaca mata yang frame-nya sudah tidak sempurna.

Tadinya saya tidak bisa berenang. Padahal, teman-teman seusia saya hampir semuanya pandai mengapung di atas air. Akhirnya saya belajar di sungai yang tak jauh dari rumah. Tenggelam adalah pengalaman pahit yang memuakkan untuk diingat. Tapi toh sampai sekarang saya masih sering mengingatnya. Gara-gara tenggelam beberapa kali, saya jadi bisa berenang. Tidak berhenti sampai di sana, akhirnya saya mengenal dengan baik areal Sungai Bedadung di belakang Taman Makam Pahlawan Patrang.

Tidak semua petualangan masa kecil bisa saya ceritakan di sini. Mungkin ada baiknya segera saya sudahi dulu kisah tentang karya Enid Blyton yang menginspirasi masa kecil saya ini.

Sedikit Tambahan

Kelak, ketika saya sudah besar dan memutuskan untuk menjadi Pencinta Alam, saya masih sering mengingat-ingat kisah masa kecil yang penuh petualangan. Apakah ini ada hubungannya dengan karya Enid Blyton? Hehe. Mau didebat seperti apapun, karya tersebut telah mewarnai masa kecil saya. Dimulai dari kios persewaan buku, kemudian mengantarkan saya untuk cinta membaca dan cinta dunia sekitar.

Sebagai penutup, saya ucapkan terima kasih untuk Irwan Bajang. Gara-gara ajakan menulis di #5BukuDalamHidupku, saya jadi kembali mengingat Lima Sekawan, sesuatu yang tidak pernah bosan untuk saya ingat kembali. Tapi maaf ya, saya tidak berhasil mencari koleksi pribadi buku tersebut. Jadi, gambarnya saya carikan dari mesin pencari.

Salam saya, RZ Hakim

11.11.13

Bagaimana Dengan November Kita

11.11.13

Jum'at, 09 Nov '07, 19:44 WIB - Dokumentasi oleh Hanief An

Hai lihat, di foto itu kau tampak bahagia sekali. Apakah waktu itu kau sudah mengangankan sebuah pernikahan? Haha, ya ya..

Iya aku masih ingat, foto itu dijepret oleh Kang Hanief di resepsi pernikahan Rizki dan Mitha. Saat itu kau duduk bersebelahan dengan Feri, gitaris K2 Reggae yang sekarang entah bagaimana kabarnya. Sedangkan aku, waktu itu aku duduk di samping Crishtine. Tampak di belakang kita pasangan Mas Oos dan istrinya, Mbak Yuli.

Ahaha, itu sudah 6 tahun yang lalu. Di saat yang sama, group band Padi sedang mempersiapkan diri untuk merilis album barunya yang bertitel Tak Hanya Diam, 16 November 2007. Jika dihitung dari tanggal yang disepakati, 23 September 2007, saat itu usia Tamasya Band baru menginjak bulan kedua.

Begitu cepatnya sang waktu menuai usia kita. Tiba-tiba pasangan Rizki dan Mitha sudah punya si cantik Ninggar. Dia sudah besar sekarang.Tamasya Band pun sudah mengantongi empat album indie.

Kemarin, manakala orang-orang disibukkan dengan momentum 10 November, aku menerima kabar yang tak kalah membahagiakannya. Pasangan Semar dan Nelly dikaruniai momongan. Perempuan. Lahir sore hari di Rumah Sakit Bondowoso.

Paginya di hari yang sama, pasangan Manda dan Tria juga dikaruniai momongan. Mereka memberinya nama Bintang Abrisam Berwyn Soemantri.

Berita bahagia berseliweran di sekitarku dan di sekitarmu.

Bagaimana Dengan November Kita

Alhamdulillah, kau dan aku memiliki hari-hari yang menyenangkan. Terbang seperti capung, hinggap di warung kopi yang bersebelahan dengan hamparan sawah, sesekali bermain air sungai, untuk kemudian kembali pulang dan memanjakan diri.

Selalu ada yang dilakukan setiap hari. Mencoba menutup setiap celah yang bisa mengundang datangnya kesedihan. Meski begitu, sesekali kesedihan datang juga, haha.

Perempuanku, tak perlu kau sedu sedan itu.

Kau hanya melihat dengan matamu, karena itu kau mudah tertipu. Kau hanya mendengar dengan telingamu, itu juga membuatmu seringkali tertipu. Membaca pun demikian. Kita harus belajar membaca aksara di balik aksara, agar tak mudah tertipu.

Yang kita butuhkan adalah hening. Lalu, biarkan bahagia menggurat dengan sendirinya. Ketika hening, kita bahkan bisa bersahabat dengan luka dan kehilangan. Hening adalah terbang, hening adalah melayang, hening adalah mengalir, hening adalah ketika kau dan aku saling menguatkan tanpa harus berkata apa-apa.

Jadi, bagaimana dengan November kita? Biarkan November kita kali ini hening. Ketika kau sudah bisa melewati semuanya, siapkan hatimu.. Di penghujung November nanti, kita akan jalan-jalan ke Jogja.

10.11.13

Sayap Capung Untuk Catherine

10.11.13

Catherine Harum Senja Ramadhani. Dokumentasi Pribadi

Hai Catherine..

Hari ini kau tampil cantik sekali. Berkostum capung, lengkap dengan body paintingnya. Kau juga bersayap. Ah, betapa kau terlihat anggun Catherine. Lalu Om, Bapakmu, Mas Fanggi, Om Bajil, Om Revo, Tante Prit, dan lain-lain, kita semua mengajakmu mendaki puncak gumuk tak jauh dari rumahmu.

Kau harus bersyukur nduk, hidup di lingkungan yang dikelilingi oleh gumuk-gumuk. Pantaslah jika kau tampak sehat. Air masih mngalir dengan jernihnya, pun begitu dengan udara. Di sini kita bisa dengan mudah menghirup udara segar. Entah sampai kapan.

Ketika kau berdiri di puncak gumuk, kau mulai mengedarkan pandangmu ke segala arah. Om tahu tahu karena Om memperhatikanmu dari samping. Hanya doa yang bisa Om panjatkan, semoga kau tak bertanya-tanya tentang kenapa nun jauh di sana sudah ada terlihat banyak tower yang menjulang. Karena jika kau tanyakan itu, Om tidak tahu harus berkata apa. Terlebih, jika kau bertanya kenapa akhir-akhir ini lebah mulai jarang nampak. Ah Catherine, tower memang sangat berhubungan dengan jumlah lebah yang semakin sedikit.

Kelak, kau mungkin akan bertanya. "Kenapa gumuk di sekitar rumahku hanya tinggal cerita?" Om hanya bisa menebak, saat kau sudah bisa menanyakan itu, air tak lagi jernih, dan capung menjadi serangga terbang yang teramat sangat langka. Kemudian kau duduk terpekur di sudut ruang tamu. Kedua tanganmu merangkul sepasang kaki yang kau tekuk. Lalu kau mulai menatap pigora foto yang membingkai kenangan masa kecilmu. Aku harap, ketika saat itu datang, engkau sudi mengangkat kedua ujung bibirmu sambil berucap, "Dulu aku pernah menjadi capung."

Iya Catherine, kau bersayap. Dengan atau tanpa kostum capung, kau tetaplah bersayap.

Don't worry catherine, itu hanyalah sepenggal mimpi buruk. Selalu ada usaha untuk mencegah datangnya mimpi buruk. Dan kelak saat kau besar, capung-capung cantik itu masih mudah kau temui. Begitu juga dengan gumuk-gumuk itu.

Ohya sayang, ada kabar baik untukmu. Hari ini, ketika kau berdiri di puncak gumuk dengan kostum capung, di luar sana orang-orang sedang merayakan Hari Pahlawan Nasional. Banyak dari mereka yang merayakannya, namun sedikit yang merenungkannya. Lebih sedikit lagi yang memetik inspirasi dan memperlakukan sejarah dengan indah. Kau tidak boleh begitu ya nduk. Perlakukanlah sejarah seanggun mungkin.

Cintai sejarah, cintai keanekaragaman hayati, cintai habitatnya, cintai kedua orang tuamu.

Sudah dulu ya Catherine, Salam Lestari!

Sedikit Tambahan

Turut bersyukur dan bergembira dengan lahirnya Bintang Abrisam Berwyn Soemantri, putra dari pasangan Manda dan Tria, keluarga tamasya.

5.11.13

Saya Mendata Capung Karena Butuh

5.11.13

Ketika si cantik Orthetrum sabina mengecup jemari saya

Orang-orang mulai bertanya, kenapa akhir-akhir ini saya senang melakukan pengamatan pada capung? Biasanya saya hanya menjawabnya sambil lalu, tidak benar-benar rinci. Namun saya rasa, tidak ada salahnya untuk menjawab pertanyaan itu secara rinci.

Saya Mendata Capung Karena Butuh

Iya benar, saya mengamati dan mencoba mendata capung sebab saya butuh melakukan itu. Semuanya dimulai dari acara kawan-kawan muda Jember yang bertajuk Save Gumuk. Berikut akan coba saya ringkas cerita pembukanya.

Sebagaimana yang saya pahami, Jember adalah sebuah Kabupaten di Jawa Timur yang diapit oleh dua gunung besar, Raung dan Argopuro. Sementara di sisi selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Kota ini juga pernah dijuluki sebagai Kota Seibu Gumuk. Namun, Kemajuan jaman membawa implikasi pada dieksploitasinya gumuk-gumuk di Jember. Sepertinya banyak yang lupa jika gumuk memiliki dua fungsi vital diantara fungsi-fungsi yang lain.

1. Gumuk di Jember berfungsi sebagai pemecah dan penetralisir laju angin
2. Gumuk juga memiliki fungsi alami sebagai penyimpan air.

Capung Selalu Mencintai Gumuk

Sebenarnya bukan hanya capung yang mencintai gumuk. Masih ada banyak sekali biodiversitas yang mencintai capung. Mulai dari belalang sembah, ular, hingga burung hantu.

Berhubung kita memiliki keanekaragaman hayati yang tak terhingga, juga karena latar belakang pengetahuan saya bukan biologi, maka mau tidak mau saya harus mengambil langkah arif dengan memilih mempelajari salah satu spesies dari beragam hayati. Saya memilih capung sebab capung adalah serangga indikator. Untuk meletakkan telur-telurnya hingga menjadi larva, capung butuh air yang bersih. Kiranya gumuk menyediakan apa yang capung butuhkan.

Jika capung adalah indikator keberadaan air bersih, kenapa kita tidak mempercayakan pada capung untuk melakukan pemantauan kualitas air? Besar harapan saya untuk bisa mempelajari apa dan bagaimana capung, sehingga bisa menjadi pilar penyangga eksistensi gumuk ke depan. Jadi, kita semua akan berpikir dua kali bila hendak menambang bebatuan gumuk, seperti yang terjadi di Jember.

Rata-rata gumuk di Jember memiliki mata air. Ada juga yang memiliki sendang di lerengnya. Ini yang memuat capung jatuh cinta pada gumuk. Kita tahu, capung mengalami metamorfosis meski tak sesempurna kupu-kupu. Hidupnya lebih panjang di dalam air, bernafas dengan insang, selama dia menjadi larva.

Apabila nanti gumuk di Jember hanya menjadi tinggal cerita, pastinya capung akan patah hati. Saya hanya tidak ingin hal itu terjadi.

Suka Duka Selama Mendata Capung

Syukurlah, sekarang ini kita hidup di abad 21 dimana data-data tentang capung bertebaran. Meskipun sangat terlambat, masyarakat Indonesia juga sudah banyak sekali yang memulai melakukan pendataan. Tentu saja itu semua adalah kabar baik untuk saya. Sayang seribu sayang, sampai detik ini saya belum menemukan rekan yang mumpuni di bidang taksonomi. Untuk yang satu ini, saya merasa sangat kesulitan.

Sepintas taksonomi tampak mudah, hanya melakukan penggolongan (penamaan) mahluk hidup. Tapi itu sangat merepotkan. Apalagi bagi saya yang baru saja berkenalan dengan cabang ilmu yang satu ini. Kalau saja tidak sangat penting, mungkin saya akan memilih untuk meloncati tahapan ini.

Hanya gara-gara mengusung gagasan penguatan Save Gumuk dengan cara pengamatan dan pendataan capung, saya dianggap kaya. Hehe, Amin. Padahal modal saya hanya niat, kamera hape dua mega pixel, dan dukungan orang-orang sekitar. Terlebih, dukungan kawan-kawan fotografer Jember.

Ada juga yang mengira saya mendapat pendanaan dari lembaga tertentu. Ahaha, saya tidak pernah memiliki pengalaman dengan itu. Lagipula, pengamatan dan pendataan capung hanyalah kegiatan yang sangat sederhana. Siapa saja bisa melakukan itu tanpa harus menunggu kaya dan menunggu punya kamera DSLR.

Ingin Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Latar belakang pendidikan saya adalah ilmu sejarah. Meskipun saya akui, saya tidak sangat pandai di bidang itu. Namun selama ini, setiap kali mempelajari apapun, biasanya saya kembali ke pelukan ilmu sejarah. Begitu juga dengan hobi saya sekarang, mengamati dan mendata capung.

Alangkah sedihnya, sejarah penelitian hayati nusantara yang digagas oleh orang Indonesia sendiri sangat minim. Saya merana dengan kenyataan sejarah yang seperti itu. Lebih merana lagi, rata-rata spesies lokal (termasuk capung) milik kita diteliti oleh orang asing. Itu terjadi sejak dulu kala. Itu pula yang menyebabkan munculnya nama-nama taksonomi asing. Jujur saja, nama-nama itu sangat merepotkan untuk diucapkan oleh lidah Indonesia, dan terasa sangat menyebalkan. Namun terlepas dari kesempitan berpikir itu, saya merasa bersyukur ada orang-orang yang telah memulai. Tugas kita hanyalah menyempurnakannya saja.

Hal-hal sederhana di atas membuat saya berpikir, alangkah indahnya jika kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kawan-kawan lulusan biologi, bersatulah! Runtuhkan dominasi periset taksonomi asing! Hehe, bercanda.

Ada yang lebih penting dari itu. Kita harus mengibarkan Garuda di seluruh jagad negeri ini. Kita butuh menyegarkan kembali rasa nasionalis yang semakin hari sepertinya semakin menguap entah kemana. Banyak cara untuk melakukannya, diantaranya lewat pendokumentasian hayati. Iya saya mengerti, pemahaman keanekaragaman hayati memang tidak mudah. Tapi setidaknya kita bisa memulainya.

Pendataan Capung di Jember

Saya tertarik dengan gagasan BlogCamp tentang Proyek Monumental Tahun 2014. Jika ditanya proyek apa yang ingin saya lakukan di tahun 2014, maka saya akan menjawabnya begini.

Saya akan mengumpulkan hasil pengamatan dan pendataan saya tentang capung, kemudian saya kliping secara manual. Untuk apa? Saya berharap bisa melakukan sosialisasi mandiri tentang betapa pentingnya capung dalam kehidupan ini. Syukur-syukur jika bisa dijadikan buku, tapi harus berwarna.

Setelah itu rampung, saya rasa ada baiknya juga untuk menggelar acara seni secara mandiri. Dananya mandiri, semuanya mandiri. Seperti acara-acara yang biasa digelar oleh kawan-kawan Tamasya Band. Harapannya, ketika seni dan ilmu hayati saling berinteraksi, maka akan tumbuh pengamat-pengamat baru di segala bidang yang mau menerapkan metode pendidikan kritis untuk diri dan lingkungannya, tanpa kepentingan apapun kecuali atas nama ilmu pengetahuan.

Jika tepat sasaran, maka tak peduli apakah kita tukang becak, pengangguran sementara, atau apapun, kita akan bisa menjadi profesor di bidang yang kita inginkan.

Semoga kita tidak melupakan satu hal, bahwa keanekaragaman hayati di negeri ini sebegitu berpengaruhnya pada keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia. Begitu juga dengan keberadaan capung, dia menginspirasi banyak hal. Terima kasih capung. Tetaplah mencintai gumuk!

Salam saya, RZ Hakim



acacicu © 2014