13.11.13

#5BukuDalamHidupku: Di Antara Reruntuhan Sarajevo

13.11.13

Catatan Harian Zlata Filipovic - Gambar dari google

Ini tentang catatan Harian Zlata Filipovic, di antara reruntuhan Sarajevo. Dia mulai menulis catatan harian pada 2 September 1991, tiga bulan sebelum Ia merayakan ulang tahun yang ke sebelas. Kelak, catatan harian dari putri tunggal pasangan Malik dan Alica Filipović ini dibukukan dan diberi judul; Zlata's Diary - A Child's Life in Wartime Sarajevo.

Iya benar sekali, Zlata mulai menulis buku harian di usia yang sangat belia. Ia bahkan menamai buku hariannya dengan nama Mimmy. Pada awalnya, Zlata menulis tentang hal-hal yang membahagiakan yang ada di sekitarnya, seperti bermain dan belajar bersama teman-teman di sekolah atau di rumah. Namun, tak ada yang bisa menebak hadirnya perang yang berkecamuk di Bosnia Herzegovina pada awal 1992. Itu semua sontak mengubah entri dari catatan hariannya, seperti yang Zlata tulis pada 20 April 1992. "Perang seolah dapat melakukan segalanya, kecuali bercanda."

Perkenalan Saya Dengan Catatan Harian Zlata Filipovic

Aneh, saya menemukan buku Zlata Filipovic di sudut kamar seorang kawan bernama Bahtiar Adi Candra. Saya berpikir, ini benar-benar aneh. Saya mengenal Adi sejak sebelum Taman Kanak-kanak hingga seterusnya. Ketika SMA, kami bersekolah di sekolah yang berbeda. Tapi tetap saja kami berteman baik sebab rumah Adi tak jauh dari rumah saya. Kenapa aneh? Sebab setahu saya Adi tidak suka membaca. Dia lebih senang menghabiskan hari-harinya dengan uthek-uthek rongsokan, menjadikannya sebagai penemu ini dan itu.

"Iki bukumu Di?"

Ternyata benar, buku itu memang milik Adi. Dia mengangguk dan menyelipkan sedikit info bahwa isi buku berjudul 'di antara reruntuhan Sarajevo' itu mengena di hati. Lagi, saya hanya bisa melongo.

Singkat cerita, buku terjemahan bersampul cokelat yang tebalnya hanya 168 halaman itu sudah ada di tangan saya. Kemudian saya pulang dan larut dalam catatan-catatan Zlata. Kalau tidak salah ingat, itu terjadi pada akhir tahun 1996 atau 1997. Entahlah, saya tidak bisa memastikan. Yang saya ingat, saat itu lagu-lagu slow rock nusantara sedang menjadi tuan di negerinya sendiri. Mulai dari Boomerang, U'Camp, hingga Hengky Supit. Ada juga reggaenya Imanez. Ohya, waktu itu Jember sedang gandrung dengan lagu berjudul Satu Senyum Saja yang dinyanyikan oleh Tato.

Suasana Yang Sulit Untuk Menulis

Di awal Maret 1992, barikade dan penembak bersenjata mulai muncul di jalanan Sarajevo. Namun, suasana perang benar-benar dimulai pada 5 April 1992, di hari yang bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan Bosnia-Herzegovina. Itu adalah tanggal serangan pertama ke Sarajevo oleh Tentara Rakyat Yugoslavia dan paramiliter Serbia. Mereka mencoba menduduki pusat kota untuk mendepak pemerintahan resmi dan mencoba melalui kudeta dengan harapan memaksa Bosnia dan Herzegovina menyerah.

Bagaimana Zlata bisa menulis di suasana yang serunyam itu?

Sarajevo dikepung dalam waktu yang cukup lama, 1417 hari. Menyebabkan tewasnya puluhan ribu penduduk Sarajevo. Ketakutan tersebar dimana-mana. Pada akhirnya memang pecah serangan jalanan. Bersama dengan pembela kota, angkatan pemerintah berhasil memukul mundur Tentara Rakyat Yugoslavia.

Tapi ini bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang seorang gadis belia kelahiran 3 Desember 1980 yang membuat catatan di tengah-tengah pengepungan. Dia juga menghabiskan hari-harinya di ruang bawah tanah yang pengap, di apartemen orang tuanya. Ruang pengap tanpa listrik, tanpa gas, dan tanpa air. Yang ada hanyalah teror ketakutan dan suara-suara bom, mortir, dan desingan peluru dari penembak gelap. Di situasi seperti ini, Zlata harus pandai bersahabat dengan lilin.

Kalau saja Zlata tidak memelihara mimpi bahwa perang dan pengepungan kota akan segera berakhir, mungkin dia tidak akan pernah menulis.

Kisah tentang Zlata Filipovic memang bisa dikata berakhir happy. Dimulai dari ketertarikan UNICEF untuk menerbitkan catatan Zlata dalam bentuk buku, dan meminta Zlata untuk mempresentasikannya di hadapan khalayak, baik itu para jurnalis, aktifis perdamaian, maupun di hadapan masyarakat Sarajevo yang masih survive. Peristiwa yang menggembirakan itu (presentasi) terjadi pada 17 Juli 1993. Kemudian, Zlata menjadi pusat perhatian para jurnalis dunia. Selanjutnya, dunia Zlata semakin hari semakin bersinar.

Semisal Waktu Itu Zlata Ada di Jember

Semisal Zlata ada di Jember, mungkin saya akan mengajaknya bermain di gubug kecil yang berdiri di tengah hamparan sawah, menikmati semilir angin, sambil membaca serial Lima Sekawan karya Enid Blyton. Dengan begitu, Zlata tak perlu mencoba tak tampak cemas tentang kemungkinan akan cedera atau tewas oleh bom, martir, dan peluru nyasar milik sniper. Dia hanya butuh bersenang-senang menikmati kicau burung atau melihat cara capung terbang di atas butiran padi yang mulai menguning.

Semisal Zlata ada di Jember tahun 1992, mungkin saya bisa mengajaknya menonton launching Matahari Dept. Store di atas tanah Pasar Tradisional Johar. Ini adalah pusat keramaian modern pertama di kota santri. Johar Plaza. Marhaban Ya Kapitalisme..

Launching tersebut menghadirkan seorang Lady Rocker asal kota Surabaya, dialah Ita Purnamasari. Barangkali Zlata akan senang ketika dia mendengarkan Ita menyanyikan lagu Penari Ular.

Di tahun tersebut, saya baru saja masuk SMP. Jember baik-baik saja. Jadi, saya tidak pernah melihat perang. Saya tak pernah mendengar ledakan bom yang memekakkan telinga. Saya tidak tahu bagaimana bentuk pecahan peluru mortir, kecuali jika saya menontonnya di media visual. Ya, saya tidak hidup di kenyataan yang mengerikan, tidak seperti Zlata. Waktu itu keadaan Jember baik-baik saja. Tak ada kebisingan peluru maupun bocah-bocah yang menangis diantara harga nyawa yang murah. Seharusnya, dibanding dengan Zlata, saya harus lebih produktif menulis. Tapi nyatanya toh tidak begitu.

Zlata Filipovic bisa menulis, karena dia butuh bercerita. Suasana perang sebagai backsound-nya. Saya jadi berpikir, setiap penulis butuh memiliki perangnya sendiri. Jika tidak ada perang, dia harus membuatnya ada, semata-mata agar bisa menulis dengan tajam.

Ketika membaca catatan Zlata Filipovic, saya sudah ada di bangku SMA. Di saat itu, saya masih belum juga aktif menulis. Kegiatan saya hanyalah bersenang-senang, menggambar, menuliskan sesuatu di meja sekolah, dan melakukan kenakalan-kenakalan kecil. Kemudian catatan Zlata Filipovic masuk ke dalam hari-hari saya. Sepintas tampak konyol, nurani saya dibangunkan oleh tulisan berdiksi sederhana milik Zlata. Lalu saya merenung, mencoba membayangkan seandainya waktu itu saya tinggal di Sarajevo.

Semisal Waktu Itu Saya Ada di Sarajevo

Pastinya, saya akan terbiasa dengan selongsong peluru, granat, desingan tembakan suara mesin kaliber tinggi, berjalan diantara gedung-gedung yang runtuh, dan mungkin saya akan memilih AK47 untuk melindungi diri. Saya akan akrab dengan kiat-kiat bertahan hidup dari para motivator perang, meskipun itu hanyalah kiat yang sederhana. Misalnya, cara bertahan hidup di dalam gedung, jauhi tembok sebelah sana, duduklah di ranjang sebelah sini, lewatlah tangga sebelah sini, jangan hidupkan lampu, dan sederet lagi.

Saya yakin, meskipun kiat-kiat bertahan hidup itu tampak ribet dan bertele-tele, tapi saya akan mudah memahaminya. Keadaan menuntut siapapun yang hidup di zona perang harus bisa tanggap dan pandai membaca situasi.

Semisal waktu itu saya ada di Sarajevo, sudah dipastikan saya tidak akan bisa menonton Ita Purnamasari bernyanyi di Launching Johar Plaza Jember. Ketika di Sarajevo, yang saya lihat adalah kebengisan, penghancuran peradaban beserta bangunannya, budayanya, generasinya, dan bahkan sejarah yang menyertainya.

Saya memang tidak bisa sendirian menghentikan perang. Tapi di suasana yang carut marut itu, ada peluang bagi saya untuk menulis dengan sebenar-benarnya dan bukan yang seindah-indahnya, seperti yang telah dilakukan oleh Zlata Filipovic. Sampai di sini kesimpulan saya tetap sama, bahwa setiap penulis butuh memiliki perangnya sendiri.

Sedikit Tambahan

Catatan Zlata Filipovic menyegarkan kembali ingatan saya tentang satu hal. Jika kita cinta damai maka kita juga harus siap menghadapi perang. Catatan ini juga membawa saya pada buku-buku yang lain, baik yang populer maupun yang tidak populer.

Meski terbilang terlambat, tak lama kemudian saya sudah sibuk belajar menulis. Apa saja saya tulis. Hingga beberapa tahun berselang, saya mulai merasa memiliki formula dan jalur yang harus saya tempuh. Dalam hati saya bergumam, inilah saatnya melaksanakan kata, bahwa penulis butuh memiliki perangnya sendiri.

Salam saya, RZ Hakim

2 komentar:

  1. Saya tak dapat membayangkan bila tahun itu saya ada di Sarajevo, sedang saat itu masa2 ABG saya sedang mekar2nya. #eh
    Dan mungkin mental saya yang lemah, karena cenderung menghindari untuk membaca buku atau menonton film yang berbau perang. Karena yang (saya tahu) cerita perang akan sangat menguras emosi saya, membasahi bantal saya (kalo baca/nontonnya sambil rebahan).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukur Alhamdulillah ya Kak, kita masih bisa membaca dan nonton film sambil rebahan. Semisal Zlata Filipovic bisa memilih, barangkali dia akan memilih untuk tinggal di sini, di sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi (katanya), hehe..

      Hapus

acacicu © 2014