16.11.13

#5BukuDalamHidupku: Jalan Seorang Penulis

16.11.13
Bukunya tipis, sampulnya terbuat dari kertas buffalo warna biru, dan semua isinya adalah hasil garapan mesin fotocopy. Kesan pertama, buku ini membosankan. Apalagi di tiap-tiap lembar kertasnya tidak disertai dengan pencantuman halaman. Lalu saya menghitungnya secara manual. Ada 24 lembar. Jadi, 48 halaman. Buku apakah ini? Hanya sebuah buku materi Pelatihan Dasar-Dasar Jurnalistik Tingkat Pencinta Alam Se-Jatim Tahun 2004.

Iya, membosankan. Isinya seputar teknik-teknik penulisan jurnalistik yang tidak berpihak pada suatu golongan, tidak juga netral, namun berpihak pada lingkungan sekitar. Adalah konyol jika buku ini memiliki pengaruh pada jalan hidup saya. Sayangnya, kita tidak tahu bagaimana cara kerja Semesta dalam menuntun kita pada perubahan.


Jalan Seorang Penulis

Di buku tipis itu, tepatnya di halaman terakhir, ada sebuah artikel pendek yang hanya terdiri dari enam paragraf. Artikel tersebut berjudul; Jalan Seorang Penulis. Fadli Rasyid, itu adalah nama penulisnya.

Hmmm, iya saya mengenal beliau meski hanya satu kali berjumpa. Ketika itu kawan-kawan muda Jember sedang bikin acara pameran lukis di sudut alun-alun kota, tahun 2000. Pameran bertajuk 'Jember Ini Hari' tersebut dihadiri juga oleh Mbah Fadli (begitu biasanya kami memanggil beliau). Semua orang tahu, sewaktu Mbah Fadli mencoba melukis, tangannya tremor. Parah. Tapi beliau tetap melukis di depan kami.

Jalan Seorang Penulis:

Seorang penulis mempertaruhkan hidupnya untuk setiap kata terbaik yang bisa dicapainya. Ia menghayati setiap detik dan setiap inci dari gerak hidupnya, demi gagasan yang hanya mungkin dilahirkan oleh momentum yang dialaminya. Menulis adalah suatu momentum. Tulisan yang dilahirkan satu detik ke belakang atau satu detik ke depan akan lain hasilnya, karena memang ada seribu satu faktor - yang sebenarnya misterius - dalam kelahiran sebuah tulisan.

Meskipun begitu, momentum penulisan bukanlah wahyu. Momentum penulisan selalu mempunyai sumbu sejarah ke masa silam dengan pengertiannya yang paling absolut. Tentu, kita tidak akan pernah tahu persis biang kerok macam apakah yang nangkring di serat-serat dalam sumbu sejarah itu. Namun barangkali saja kita percaya, betapa setiap titik yang terkecil dalam garis perjalanan roh kita, sejak masa entah kapan menuju ke suatu ruang di masa depan, memberikan sumbangannya masing-masing dalam momentum penulisan. Belajar menulis adalah belajar menangkap momen-momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.

Kemudian, yang paling penting bagi seorang penulis, adalah bagaimana ia bisa setia kepada sungai kehidupan yang menghanyutkan, kehidupan seorang penulis itu seperti seorang pengembara yang diarungkan perahu melewati gua-gua dunia fantasi dalam sebuah sungai di bawah tanah. Cuma saja, apa yang disebut fantasi ini sangat boleh jadi bukan fantasi sama sekali. Bisa fantasi bisa tidak. Tepatnya, fantasi atau bukan fantasi, hal itu sudah tidak penting lagi. Masalahnya, kita bisa setia atau tidak kepada realitas apa pun yang kita lewati. Kalau kita memang penulis, maka kita akan menuliskan apa pun yang menyentuh diri kita.

Sehingga memang tidak ada yang terlalu istimewa dengan menjadi seorang penulis. Dengan segenap disiplin yang telah menyatu dalam darahnya, ia menulis seperti bernapas, sama seperti seorang pembalap harus melaju di sirkuit, sama seperti seorang prajurit harus terjun dalam pertempuran, meskipun resikonya kematian, karena itu semua memang merupakan tugas yang diberikan oleh alam. Adapun tugas seorang penulis adalah menulis dengan jujur - meskipun resikonya adalah juga kematian, pada saat yang diperlukan.

Dengan begitu, menulis sebenarnya tidak lebih rendah dan tidak lebih mulia dari bidang tugas apapun yang bisa dipilihkan untuk manusia. Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa - suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas di timbang-timbang.

Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, dimana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha serta kepada hidup itu sendiri - satu-satunya hal yang membuat kita ada.

Jika berkenan, cobalah untuk membaca catatan Almarhum Mbah Fadli yang tersembunyi dalam spoiler di atas. Setidaknya, agar saya tidak merasa konyol oleh sebab tersentuh oleh catatan yang hanya terdiri dari enam paragraf saja. Dan sejujurnya, sampai hari ini saya belum selesai membaca makna-makna yang bertebaran di sana.

Mengenal Sosok Fadli Rasyid

Mudah sekali mengenal sosok Mbah Fadli Rasyid di jaman yang serba tinggal klik ini. Kita hanya butuh akses ke mesin pencari, untuk kemudian mengetikkan kata kunci 'Fadli Rasyid Jember' lalu selesailah sudah.

Lalu kita akan mengerti, seniman kelahiran 7 Juli 1937 ini tak hanya sekedar berkata-kata. Dia melakukannya. Dia melaksanakan kata terlebih dahulu, untuk kemudian semua itu terangkum dalam catatan yang hanya terdiri dari enam paragraf. Betapa itu adalah catatan pendek terpanjang di pemahaman saya.

Lelaki keren ini memejamkan mata pada 15 April 2009 oleh sebab stroke, setelah sebelumnya mendapat perawatan di Rumah Sakit Jember Klinik. Benar, kecintaannya pada dunia seni tak terbantahkan. Bacalah cuplikan puisinya, di detik-detik hidupnya yang terakhir.

Aku dengan Maut
Disini
Di tempat sunyi ini
Hanya aku dengan maut
Ketika kutusuk tembus jantungnya
Aku yang mati


Membaca 'Jalan Seorang Penulis' adalah membaca perjalanan hidup seorang Fadli Rasyid, meski sekali lagi, hanya terdiri dari enam paragraf, 416 kata. Ini memang bukan rangkuman atas apa yang pernah saya tulis sebelumnya dalam #5BukuDalamHidupku, namun praktis semua terangkum dengan sendirinya.

Ketika Mbah Fadli menyentil tentang petualangan hidup, dia mengingatkan saya pada Enid Blyton. Di mata saya, keduanya sama-sama cinta dunia fantasi dan dunia bocah. Tak heran jika di tahun 1970, Mbah Fadli mendirikan majalah anak-anak Kawanku. Dia tidak sendirian saat menggagas majalah Kawanku, melainkan bersama Thoha Mochtar, Julius Siyaranamual, Trim Suteja dan Asmara Nababan.

Kelak sekitar tahun 90-an, ketika majalah Kawanku sudah berubah format menjadi majalah remaja, Mbah Fadli sudah tinggal di tanah kelahirannya, Mumbulsari Jember. Tepatnya, tahun kepulangannya sejak 1983, di saat umur Mbah Fadli sudah mencapai 45 tahun. Mbah Fadli memulai kembali hidupnya. Beliau menikah dengan seorang perempuan anggun bernama Sri Utami yang pada saat itu berumur 25 tahun, hidup bertani, menulis, melukis, mendirikan sanggar, dan pada akhirnya dikaruniai dua orang anak, Bayu Anggun Nilakandi dan Bahana Purwa Kendita.

Jika Zlata Filipovic bertahan hidup dari situasi perang dan reruntuhan di Sarajevo, Mbah Fadli memiliki perangnya sendiri. Beliau tak sekedar berkarya, melainkan juga hidup seperti yang dikaryakan.

"Adapun tugas seorang penulis adalah menulis dengan jujur - meskipun resikonya adalah juga kematian, pada saat yang diperlukan."

Ketika Mbah Fadli menuliskan itu, saya teringat akan tulisan Mohammad Hatta di buku Alam Pikiran Yunani. Iya benar, itu adalah kalimat yang kental sekali dengan intisari filosofi, tentang memberi kehormatan pada kebenaran.

"Dengan begitu, menulis sebenarnya tidak lebih rendah dan tidak lebih mulia dari bidang tugas apapun yang bisa dipilihkan untuk manusia."

Aha, Mbah Fadli juga menyegarkan kembali ingatan saya tentang sebuah gagasan bernama setara. Itu juga mengingatkan saya pada sebuah buku berjudul; Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya. Di sana diceritakan tentang sepak terjang Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, seorang Dokter Tentara yang sebenarnya enggan berkecimpung di dunia politik namun Presiden menghendakinya.

Okelah, saya sedang tidak ingin mengupas tentang bagaimana ketika Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo menjadi Gubernur DKI Jakarta, beliau bisa merealisasikan pembangunan Monas, meneruskan gagasan Pemimpin Jakarta sebelumnya, juga prestasi-prestasi lainnya, sebab itu hanya berdasar pada pembangunan yang terlihat. Ada yang lebih menarik dalam buku itu. Akan coba saya ceritakan dengan bahasa saya.

Begini. Mengenai gagasan setara jika dihubungkan dengan kita sebagai warga negara, pun semisal sebagai bagian dari penyelenggara negara, bahwa sama-sama kuat itu penting. Jika masyarakatnya kuat dan berdaya, dengan penyelenggara negara yang juga tidak lemah, maka mudah tercipta dialog yang baik, santun, seimbang, dan sama-sama saling menguatkan. Inilah sebenarnya yang dicita-citakan Pancasila, tentang suatu keadaan yang merdeka dan sejahtera.

Semisal salah satunya lemah sedangkan yang lain kuat, maka akan terjadi hukum rimba, yang kuat menindas yang lemah. Jika negara kuat masyarakatnya lemah, maka potensi totaliter akan menganga lebar-lebar. Pahit rasanya ketika kepentingan masyarakat sama sekali tidak terhiraukan. Coba buka kembali lembar sejarah, kita mengalami pengalaman buruk tentang itu.

Sebaliknya, bagaimana jika masyarakatnya yang kuat sedangkan negaranya lemah syahwat? Maka akan kacau. Tidak ada kepastian hukum, kata 'adil' hanyalah tinggal cerita. Itu mengingatkan kita pada penggalan sejarah di bulan Mei 1998.

Apabila negaranya lemah dan masyarakatnya juga lemah, apa yang terjadi? Maka bubarnya negara tinggal menunggu waktu saja. Entah menjadi kisah yang baru, entah adanya penguasaan asing atas negara dan bangsa.

Duh, sepertinya saya ngelantur!

Setara itu indah, seindah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Bedanya hanya di dalam peran hidup saja. Tentang peran-peran seperti siapa yang melahirkan, siapa yang menggali sumur atau membetulkan genting, siapa yang begini dan begitu. Terlepas dari itu, semuanya setara. Dalam hal ini, Mbah Fadli mampu merangkul semuanya meski hanya lewat kata yang sederhana. Setidaknya, itu menurut pembacaan saya.

Setara yang dimaksud Mbah Fadli adalah setara yang memiliki etika. Ini juga berlaku pada gagasan yang lain seperti kemerdekaan, kebebasan, hingga menjadi penulis. Harus ada sentuhan etika. Sebab bagi Mbah Fadli, menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa - suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana.

Sedikit Lagi

Saya juga ingin memperlakukan hidup sebagaimana Fadli Rasyid pernah melaksanakannya, meski dengan cara yang tidak sama. Saya juga ingin memberi kehormatan pada kebenaran, meski saya sendiri sering tersandung salah, meski entah apakah selama perjalanannya nanti, saya bisa atau tidak. Saya tidak tahu.

Saya tidak tahu apa warna kesukaan Mbah Fadli, berapa ukuran sepatunya, apa yang dia cita-citakan ketika masih berumur 7 tahun, dan masih banyak lagi. Yang saya mengerti hanya satu. Bahwa ketika tangannya tremor, beliau masih saja menikmati prosesnya sebagai pelukis. Suatu hari di sudut alun-alun Jember, tahun 2000. Iya saya tahu. Saya melihatnya sendiri. Lelaki lain yang ada di seberang saya, yang berdiri tak jauh dari Mbah Fadli melukis, matanya berkaca-kaca.

"Setia pada proses," mungkin pesan itu yang ingin disampaikan oleh seorang Fadli Rasyid.

Dulu sekali, ada saya dengar bahwa Mbah Fadli memelihara mimpi membuat monumen untuk Letkol Moch. Sroedji. Mbah Fadli merasa, mimpinya sesuai dengan kebutuhan, untuk melawan lupa dan untuk pengenalan sejarah bagi generasi muda di kota kecil Jember. Konon kabarnya, mimpi inilah yang belum sempat beliau realisasikan hingga ajal menjemput, 15 April 2009.

Ah, Mbah Fadli Rasyid. Sosok yang keren.

Untuk Almarhum Mas Bibin Bintariadi, terima kasih telah menghadirkan Catatan Mbah Fadli di buku materi jurnalistik lingkungan yang tipis ini, yang sampulnya terbuat dari kertas buffalo. Selalu ada doa dan cinta untuk kalian.

***

Membaca tulisan Fadli Rasyid, saya jadi tidak percaya apabila ada yang berkata bahwa hidup hanya selama kita bernapas saja. Bahkan ketika beliau telah tiada, aksaranya tetap memberi kehormatan pada kebenaran.

Sudah.

Salam saya, RZ Hakim

3 komentar:

  1. Hasil karya tulisan Fadli Rasyid seorang penuli yang saya suka dan pernah baca di salah satu media masa Kang, apa yang digoreskan menajdi hidup dan bernyama.

    Salam,

    BalasHapus
  2. Hebat Kang, masih menyimpan buku yang dengan sampulnya saja sudah memberikan keunikan sendiri. Koleksi-koleksinya sangat memberikan inspirasi.

    Salam,

    BalasHapus
  3. Terima kasih Mas Indra

    BalasHapus

acacicu © 2014