5.11.13

Saya Mendata Capung Karena Butuh

5.11.13

Ketika si cantik Orthetrum sabina mengecup jemari saya

Orang-orang mulai bertanya, kenapa akhir-akhir ini saya senang melakukan pengamatan pada capung? Biasanya saya hanya menjawabnya sambil lalu, tidak benar-benar rinci. Namun saya rasa, tidak ada salahnya untuk menjawab pertanyaan itu secara rinci.

Saya Mendata Capung Karena Butuh

Iya benar, saya mengamati dan mencoba mendata capung sebab saya butuh melakukan itu. Semuanya dimulai dari acara kawan-kawan muda Jember yang bertajuk Save Gumuk. Berikut akan coba saya ringkas cerita pembukanya.

Sebagaimana yang saya pahami, Jember adalah sebuah Kabupaten di Jawa Timur yang diapit oleh dua gunung besar, Raung dan Argopuro. Sementara di sisi selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Kota ini juga pernah dijuluki sebagai Kota Seibu Gumuk. Namun, Kemajuan jaman membawa implikasi pada dieksploitasinya gumuk-gumuk di Jember. Sepertinya banyak yang lupa jika gumuk memiliki dua fungsi vital diantara fungsi-fungsi yang lain.

1. Gumuk di Jember berfungsi sebagai pemecah dan penetralisir laju angin
2. Gumuk juga memiliki fungsi alami sebagai penyimpan air.

Capung Selalu Mencintai Gumuk

Sebenarnya bukan hanya capung yang mencintai gumuk. Masih ada banyak sekali biodiversitas yang mencintai capung. Mulai dari belalang sembah, ular, hingga burung hantu.

Berhubung kita memiliki keanekaragaman hayati yang tak terhingga, juga karena latar belakang pengetahuan saya bukan biologi, maka mau tidak mau saya harus mengambil langkah arif dengan memilih mempelajari salah satu spesies dari beragam hayati. Saya memilih capung sebab capung adalah serangga indikator. Untuk meletakkan telur-telurnya hingga menjadi larva, capung butuh air yang bersih. Kiranya gumuk menyediakan apa yang capung butuhkan.

Jika capung adalah indikator keberadaan air bersih, kenapa kita tidak mempercayakan pada capung untuk melakukan pemantauan kualitas air? Besar harapan saya untuk bisa mempelajari apa dan bagaimana capung, sehingga bisa menjadi pilar penyangga eksistensi gumuk ke depan. Jadi, kita semua akan berpikir dua kali bila hendak menambang bebatuan gumuk, seperti yang terjadi di Jember.

Rata-rata gumuk di Jember memiliki mata air. Ada juga yang memiliki sendang di lerengnya. Ini yang memuat capung jatuh cinta pada gumuk. Kita tahu, capung mengalami metamorfosis meski tak sesempurna kupu-kupu. Hidupnya lebih panjang di dalam air, bernafas dengan insang, selama dia menjadi larva.

Apabila nanti gumuk di Jember hanya menjadi tinggal cerita, pastinya capung akan patah hati. Saya hanya tidak ingin hal itu terjadi.

Suka Duka Selama Mendata Capung

Syukurlah, sekarang ini kita hidup di abad 21 dimana data-data tentang capung bertebaran. Meskipun sangat terlambat, masyarakat Indonesia juga sudah banyak sekali yang memulai melakukan pendataan. Tentu saja itu semua adalah kabar baik untuk saya. Sayang seribu sayang, sampai detik ini saya belum menemukan rekan yang mumpuni di bidang taksonomi. Untuk yang satu ini, saya merasa sangat kesulitan.

Sepintas taksonomi tampak mudah, hanya melakukan penggolongan (penamaan) mahluk hidup. Tapi itu sangat merepotkan. Apalagi bagi saya yang baru saja berkenalan dengan cabang ilmu yang satu ini. Kalau saja tidak sangat penting, mungkin saya akan memilih untuk meloncati tahapan ini.

Hanya gara-gara mengusung gagasan penguatan Save Gumuk dengan cara pengamatan dan pendataan capung, saya dianggap kaya. Hehe, Amin. Padahal modal saya hanya niat, kamera hape dua mega pixel, dan dukungan orang-orang sekitar. Terlebih, dukungan kawan-kawan fotografer Jember.

Ada juga yang mengira saya mendapat pendanaan dari lembaga tertentu. Ahaha, saya tidak pernah memiliki pengalaman dengan itu. Lagipula, pengamatan dan pendataan capung hanyalah kegiatan yang sangat sederhana. Siapa saja bisa melakukan itu tanpa harus menunggu kaya dan menunggu punya kamera DSLR.

Ingin Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Latar belakang pendidikan saya adalah ilmu sejarah. Meskipun saya akui, saya tidak sangat pandai di bidang itu. Namun selama ini, setiap kali mempelajari apapun, biasanya saya kembali ke pelukan ilmu sejarah. Begitu juga dengan hobi saya sekarang, mengamati dan mendata capung.

Alangkah sedihnya, sejarah penelitian hayati nusantara yang digagas oleh orang Indonesia sendiri sangat minim. Saya merana dengan kenyataan sejarah yang seperti itu. Lebih merana lagi, rata-rata spesies lokal (termasuk capung) milik kita diteliti oleh orang asing. Itu terjadi sejak dulu kala. Itu pula yang menyebabkan munculnya nama-nama taksonomi asing. Jujur saja, nama-nama itu sangat merepotkan untuk diucapkan oleh lidah Indonesia, dan terasa sangat menyebalkan. Namun terlepas dari kesempitan berpikir itu, saya merasa bersyukur ada orang-orang yang telah memulai. Tugas kita hanyalah menyempurnakannya saja.

Hal-hal sederhana di atas membuat saya berpikir, alangkah indahnya jika kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kawan-kawan lulusan biologi, bersatulah! Runtuhkan dominasi periset taksonomi asing! Hehe, bercanda.

Ada yang lebih penting dari itu. Kita harus mengibarkan Garuda di seluruh jagad negeri ini. Kita butuh menyegarkan kembali rasa nasionalis yang semakin hari sepertinya semakin menguap entah kemana. Banyak cara untuk melakukannya, diantaranya lewat pendokumentasian hayati. Iya saya mengerti, pemahaman keanekaragaman hayati memang tidak mudah. Tapi setidaknya kita bisa memulainya.

Pendataan Capung di Jember

Saya tertarik dengan gagasan BlogCamp tentang Proyek Monumental Tahun 2014. Jika ditanya proyek apa yang ingin saya lakukan di tahun 2014, maka saya akan menjawabnya begini.

Saya akan mengumpulkan hasil pengamatan dan pendataan saya tentang capung, kemudian saya kliping secara manual. Untuk apa? Saya berharap bisa melakukan sosialisasi mandiri tentang betapa pentingnya capung dalam kehidupan ini. Syukur-syukur jika bisa dijadikan buku, tapi harus berwarna.

Setelah itu rampung, saya rasa ada baiknya juga untuk menggelar acara seni secara mandiri. Dananya mandiri, semuanya mandiri. Seperti acara-acara yang biasa digelar oleh kawan-kawan Tamasya Band. Harapannya, ketika seni dan ilmu hayati saling berinteraksi, maka akan tumbuh pengamat-pengamat baru di segala bidang yang mau menerapkan metode pendidikan kritis untuk diri dan lingkungannya, tanpa kepentingan apapun kecuali atas nama ilmu pengetahuan.

Jika tepat sasaran, maka tak peduli apakah kita tukang becak, pengangguran sementara, atau apapun, kita akan bisa menjadi profesor di bidang yang kita inginkan.

Semoga kita tidak melupakan satu hal, bahwa keanekaragaman hayati di negeri ini sebegitu berpengaruhnya pada keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia. Begitu juga dengan keberadaan capung, dia menginspirasi banyak hal. Terima kasih capung. Tetaplah mencintai gumuk!

Salam saya, RZ Hakim



33 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Proyek Monumental Tahun 2014
    Akan saya catat sebagai peserta
    Keep blogging
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pakde, semoga kontesnya sukses.

      Hapus
  2. Semakin mengaggumi sampeyan, Mas. Semoga segala sesuatunya dimudahkan. Aamiin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cihuiii, hehe. Terima kasih ya Mbak Anazkia, Amin Ya Robbal Alamin.

      Hapus
  3. di koran pernah baca ada komunitas pencinta capung, cuma lupa di kota mana.., hi..hi.. nggak kasih solusi ya..
    blogger yg kukenal suka membahas hewan yaitu mbak Made Sri Andani, mungkin bisa diskusi dengan beliau , yg sering ditulis tentang burung dan kupu2, kl nggak salah capung pernah juga ditulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah ada banyak komunitas pencinta capung memang Tante. Sejak 2011. Saya baru memulai, hehe.. Bersama kawan-kawan Save Gumuk Community Jember.

      Oh iya ya, kan ada Mbak Made Sri Andani. Makasih sudah diingatkan :)

      Hapus
  4. nah capung seperti itu yang dulu waktu kecil sering aku temui mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, si cantik Sabina :)
      Kalau orang-orang di sekitar rumah saya menyebutnya capung tentara Mbak.

      Hapus
  5. semoga bisa terlaksana dengan lancar. mas. di gresik, capung dah sulit banget ditemukan. saking jarangnya, anak saya kalau ketemu capung serasa menemukan emas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Terima kasih Miss Rochma :)

      Iya benar, semakin hari capung mulai semakin langka. Sulit untuk melakukan perjumpaan.

      Hapus
  6. Semangat Mas, sukses untuk Save Gumuk Community. Sekretnya SGC tetep di jalan slamet riyadi patrang Mas? Ayo nggawe acara koyok taon wingi Mas, pesan dalam botol.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sekretnya SGC di patrang. Ayoo :)

      Hapus
  7. Apresiasi luar biasa Mas, untuk proyek monumental pendataan capung sebagai bioindikator kelestarian gumuk. Semoga teman-teman entomolog pembelajar serangga menopang kegiatan ini. Salam alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doakan semoga saya bisa, terima kasih :)

      Hapus
  8. Salam lestari, mas!

    Keren sekali proyekanmu kali ini. Save Gumuk!
    Nama capungnya lucu, sabina...duhhhh kyuttt :)

    BalasHapus
  9. Seru juga ya. Semoga berhasil, Mas.
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, salam hangat.

      Hapus
  10. Saya yakin, penelitian ini seriuuuus. Dan niat untuk meruntuhkan dominasi periset taksonomi asing juga serius kan, Mas. Hihihi

    Semoga proyeknya terwujud ya. Saya ikut senaaaaaaaaang. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak kok, ini penelitian yang santai, hehe..

      Amin YRA, terima kasih...

      Hapus
  11. luar biasa nih kalo ada blogger yg memiliki niat untuk meriset , yah saya setuju skali bila om bilang ingin menjadi tuan rumah di negri sendiri, jgn ampe deh orang asing duluan yang ambil ide gila ini yah hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mas Jay Boana, lama nggak bersua hehe..

      Terima kasih ya...

      Hapus
  12. bener2 cermaat niy, pantesan di mana2 pose nya sama capuung mulu..
    sekarang soulmate nya capung, awas jangan ampe lupa sama nduk Prit yoo :P

    sukses ya Bro..

    *aku takut ama capung,soale waktu kecil udele sering di kasih capung karena tukang ngompol :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada Mbak Nchie cantik :)

      Iya Mbak, bereeeees!

      Hihihi... terima kasih

      Hapus
  13. Apakah capung itu banyak jenisnya? atau hanya satu jenis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Capung ada beraneka jenis. Secara garis besar, mereka dibedakan menjadi dua, dragonflies dan damselflies, atau Anisoptera dan Zygoptera. Dalam Bahasa Indonesia kita mengenal Capung Besar (atau Sibar-sibar) dan Capung Jarum.

      Hapus
  14. Dulu jaman masih SD-SMP, aku masih inget, masih gampang sekali menemukan berbagai jenis capung. Capung spt gambar diatas, trus capung warna merah, kuning..macem2 kang. Cuma yang paling banyak malah warna merah dan kuning. Biasanya sangat banyak menjelang panen padi....Semoga sukses ya kang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin yang sampeyan maksud adalah capung bernama ilmiah Crocothemis Servilia. Memang lebih banyak ada di persawahan Mas. Jantan betinanya beda warna. Crocothemis Servilia jantan berwarna merah, sedangkan yang betina berwarna kuning.

      Hapus
  15. fotonya kereeeennn.... saya suka capung dan baru kali ini tau cerita capung serta pentingnya gumuk. tulisannya selalu keren kang. *jempol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasiiih.. Salam buat keluarga di Riau.

      Hapus
  16. oalaaaaah didata buat itu ta? kirain buat catatan penyuka capung, hehe. kolektor gt :p
    gumuuk ... saya baru tahu ttg itu, trims infonya. semoga lancar sampai akhir ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin YRA, terima kasih doanya :)

      Hapus
  17. Sip banget, capung memang unik, dengan berbagai warna dan habitatnya, ,
    Alhamdulilah saya juga meneliti tentang capung, mengenai keanekaragamannya di kampus saya dii UIN sulthan syarif kasim riau,
    Semoga dengan banyaknya peneliti mengenai capung , menabah koleksi keanekaragaman biodiversity yang dimiliki indonesia.

    BalasHapus

acacicu © 2014