3.11.13

Setidaknya Kita Masih Punya Cerita

3.11.13

Di Resepsi Pernikahan Cak Nanang dan Mbak Elis, 2 November 2013

Pertemanan kami dimulai sejak era slow rock akhir 90-an hingga memasuki abad millenium. Lalu langkah-langkah kaki ini semakin menyatu manakala lahir sebuah band bernama tamasya. Teman semakin banyak, hidup semakin berwarna.

Mungkin itu gambaran sederhana tentang keluarga tamasya (band). Kami memulai dari semenjak sama-sama bujang, sama-sama sering terjebak oleh kenakalan-kenakalan kecil, kadang-kadang bertengkar ide, kadang pergi jauh hanya demi mengejar suasana nyruput kopi yang tak bising.

Waktu terus berputar, masing-masing dari kami mulai berhadapan dengan kenyataan. Satu persatu menikah, belajar berumah tangga, berdikari, dan mencoba sekuat tenaga untuk tidak terjebak pada usia. Ketika kami harus menghibur diri, kami akan berujar dalam hati, "Ah, usia hanyalah tentang angka-angka."

Sebab hidup harus berani, tak peduli apakah kita sudah berkepala tiga, empat, dan seterusnya. Kenyataan harus dihadapi dengan kenyataan. Yang manis dipertahankan, yang pahit harus segera disugesti menjadi sedikit manis.

Semalam, di resepsi pernikahan Cak Nanang dan Mbak Elis, saya sempat mojok sendirian, untuk kemudian merenung. Kembali ke masa silam. Saat dimana masih ada Almarhum Modiq (adik kandung Cak Nanang), saat semuanya masih tampak konyol. Haha, iya. Saat itu rambut saya masih gondrong sekali, mengikuti trend akhir 90-an. Tak terbayangkan jika sampai hari ini kami masih setia berproses. Terima kasih Tuhan.

Cak Nanang, dia adalah yang tertua diantara kami. Sekilas, dia tampak pendiam. Jauh dari kesan beringas. Padahal dulu dia lebih banyak menghabiskan usianya di jalanan. Anehnya, di keluarga tamasya Cak Nanang-lah figur Kakak yang seringkali siap sedia menjadi sosok pengayom. Tidak masuk akal memang, tapi itulah yang terjadi.

Sekarang tinggal segelintir keluarga tamasya yang masih single. Selalu ada doa (yang terbaik) dan cinta untuk kalian rek.

Jadi ingat kalimat yang pernah dilontarkan Mas Bebeh Tamasya, "Kita seperti pohon yang kecil. Ujung daunnya tak sampai mengecup langit, tapi semoga akarnya menghunjam hingga ke dasar yang paling sunyi." Mungkin maksudnya, semoga tamasya band tetap membumi, kecil tapi bermanfaat, saling mendoakan dan saling menguatkan.

Untuk Cak Nanang dan Mbak Elis

Pastinya, doa terbaik untuk kalian berdua. Mohon maaf ya Cak, Mbak, kemarin ketika para fotografer ambil gambar di sesi rias pengantin, ada kehebohan kecil. Tiba-tiba moncong kamera menghadap ke langit-langit, bukannya ke wajah-wajah pengantin. Maklumlah, ada capung yang tersesat di dalam ruang rias, ahaha.


Capung yang tersesat di ruang rias pengantin. Dokumentasi oleh Bang Korep

Gara-gara capung itu, suasana pemotretan menjadi sedikit kacau. Saya sibuk mengejarnya kesana kemari. Syukurlah, akhirnya si capung bisa saya tangkap, terdokumentasi, dan dilepas kembali. Lalu, sesi pemotretan kembali normal.

Maaf ya Cak Nanang, Mbak Elis. Itu capung besar, semakin hari semakin jarang terlihat. Capung bernama ilmiah Gynacantha subinterrupta ini memang misterius, hanya menampakkan diri di kala senja. Jadi, lebih baik kacau sebentar daripada saya kepikiran, haha.

Sedikit Tambahan

Di pernikahan kalian, kami sedulur tamasya band tidak bisa memberikan banyak hal. Tak ada kado yang wah dan wow. Tapi sang waktu sepertinya berpihak pada tamasya band. Malam ini, 3 November 2013 pukul 20.30 WIB hingga 21.30 WIB, ada acara rutin tamasya di RRI Jember bertajuk CLBK on air. Nah, ada kesempatan untuk kirim salam dan lagu pada kalian.

Setelahnya, pada pukul 21.30 hingga selesai, ada pemutaran film dokumenter Eagle Award di Metro, berjudul Para Harimau Yang Menolak Punah. Di akhir film, tamasya band akan mendendangkan lagunya yang berjudul Insureksi, lagu sederhana untuk advokasi tambang emas.

Kami jadikan semua itu sebagai kado pernikahan kalian. Semoga suka dan selamat menikah.

Salam Lestari!

10 komentar:

  1. mas hakim juga gondrong, tapi jauh dari kesan beringas :D
    lawatan doa untuk kedua mempelai, cerita ini ditutup menjadi keluarga sakinah mawaddah warommah. Amiin

    "Laki-laki dan sebatang korek api"nya tak simpen mas, buat golek inspirasi :)
    salam dari desa sejuta petis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin YRA, makasih doanya untuk Mas Nanang dan Mbak Elis ya :)

      Siiip! Maturnuwun..

      Hapus
  2. Selamat buat buat temannya Mas.. semoga menjadi keluarga yang bahagia..

    BalasHapus
  3. aku kok sering liat capung di postingan WB :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebetulan mungkin Mbak, hehe

      Hapus
  4. btw, bandnya dulu genre apa mas?
    hehe, udah pada senior nih yeee..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Balada progressif Mas.. Piye kabare sampeyan?
      Ahaha.. ora kok Mas.

      Hapus
    2. main di not2 ribet juga dunk mas, hehe
      ih kalo saya sukanya progessive metal mas,
      jangan2 saya kalo denger demonya sampeyan suka juga nih,
      alhamdulillah saya baik, o iya ada yang bisa saya dengerin atau di share gak karyanya mas sama temen2 itu, maaf ngebet jadi penasaran..

      Hapus
  5. capungnya bisa migrasi ke bekasi gak mas? :)

    BalasHapus

acacicu © 2014