31.12.13

Tidur Sebantal dan Saling Bicara

31.12.13
Istri saya sakit. Asmanya kambuh. Wajahnya terlihat layu, sebentar tidur sebentar bangun. Sebenarnya, Prit sudah tidak enak badan sejak dua hari yang lalu. Badannya panas, dia mimpi aneh-aneh. Demam. Saya memberinya pengobatan tradisional, kerokan dan kompres. Setelah demamnya reda, sekarang gantian asmanya yang kambuh. Saya tanya ke Prit, "Pingin apa?" Dia menggeleng lemah.

Praktis, kami lebih banyak menghabiskan waktu di atas kasur, tidur sebantal dan saling bicara.

Prit tiga bersaudara. Dia anak pertama. Dilahirkan di Tuban, 21 Juni 1986. Orang tuanya memberinya nama Zuhana Anibuddin Zuhro, panggilannya Hana. Ketika Hana duduk di bangku SD kelas 5 (di SDN Rengel 1 Tuban), Naimmatus Sa'adah, nama Ibunya Hana, melahirkan anak kedua, laki-laki. Dia diberi nama Kun Baehaqi Almas, dengan nama panggilan Haqi. As'ad An-Nawawi, lelaki yang oleh Hana biasa dipanggil Bob, tampak bahagia. Kini dia telah memiliki dua orang anak, Hana dan Haqi. Dua tahun kemudian, lahirlah Ashfiyatul Baroroh, si bungsu dengan panggilan kesayangan Fiya. Lengkap sudah kebahagiaan pasangan As'ad An-Nawawi dan Naimmatus Sa'adah.

Sekarang Kun Baehaqi Almas tercatat sebagai Mahasiswa di Fakultas Sendratasik (Seni Drama Tari Musik) Universitas Negeri Surabaya. Dia mendalami Pantomim. Si bungsu Ashfiyatul Baroroh, tercatat sebagai Mahasiswi Bimbingan Konseling Islami di UIN Sunan Ampel Surabaya.

"Bob lima bersaudara, dia nomor empat. Saudara bungsunya, Amir El Rahman, adalah saudara kembar Bob. Saudara Bob yang nomor dua, perempuan, meninggal dunia ketika masih kecil. Jadi, Bob punya dua kakak. Yang pertama laki-laki, bernama Atieq An-Nawawi, meninggal dunia tiga tahun yang lalu oleh serangan jantung. Berikutnya, perempuan. Namanya Robi'atus Sa'adah. Orang tua Bob bernama Malik An-Nawawi dan Muriati."

Senang sekali melihat Prit yang lancar bercerita, meskipun kondisi badannya masih lemah. Dia juga bertutur tentang saudara-saudara Ibunya, Naimmatus Sa'adah.

"Ibu sembilan bersaudara, dia nomor lima. Tepat di bawah Ibu (saudara nomor enam) meninggal dunia sejak kecil. Namanya Ummi Kulsum. Nomor satu namanya Abu Dardak, lalu Navi'ah, kemudian Andi Syuhada' dan Siti Aisyah, baru kemudian Ibu dan Almarhummah Ummi Kulsum. Saudara Ibu nomor tujuh namanya Ali Mascoer Musa, kemudian Achmad, dan yang bungsu bernama Abdul Andhim. Mereka dilahirkan dari pasangan Amin dan Widji.

Di bulan Januari 2005, Zuhana Anibuddin Zuhro tercatat sebagai salah satu peserta DIKLATSAR XXIII SWAPENKA, sebuah Organisasi Pencinta Kelestarian Alam di Fakultas Sastra Universitas Jember yang berdiri sejak 15 Maret 1982. Dari sini, dia mendapat nama rimba yaitu Prit. Bunyi peluit, itu artinya. Nama 'Prit' tetap lestari sampai hari ini, karena saya juga memanggilnya begitu. Prit. Singkat, padat, dan mesra.

"Kata Bob, 'Mbah Nang dan Mbah Dok,' orang tuanya Bob (Malik An-Nawawi dan Muriati), juga punya asma. Parah. Ibu juga. Itulah kenapa saya dan Haqi punya asma. Hanya Fiya yang tidak memiliki asma. Jadi, ini hanya masalah genetis. Dunia akan tetap indah meskipun kita bersahabat dengan asma."

Saya senang melihat cara Prit dalam memandang hidup. Tapi ada sedihnya juga. Orang asma tidak baik jika ada dalam kondisi kaget, dingin, terpressing, dan dibentak. Kadang, meskipun hanya di dalam hati, saya ingin menjadi laki-laki antagonis seperti dalam film. Membentak-bentak, berbuat semaunya, dan segala hal yang menyebalkan lainnya. Tapi saya tidak bisa.

"Mas sudah pernah kok kayak gitu. Waktu itu Kota Jember lagi rame. Kawan-kawan UKM Kesenian Universitas Jember sedang menggelar acara Festival Musik Patrol, 2005. Tiba-tiba Mas datang, marah-marah, bentak-bentak nggak jelas. Banyak pasang mata yang lihat kita. Malu, takut, bingung, campur jadi satu. Asma kumat. Akhirnya Mas juga yang bingung."

Oh, iya ding. Peran seperti itu sudah saya lakoni. Ngapain diulang lagi? Mohon maaf Prit, waktu itu khilaf dan sama sekali tidak direncanakan. Tapi keren juga ya, ternyata kita pernah bertengkar hebat dan lama tidak saling bicara, padahal itu baru kenal. Belum lagi setahun.

"Saya sempat menjadi 'anak semata wayang' hingga kelas lima SD. Nangis sedikit diperhatikan, apalagi ketika asma datang. Oleh Bob, biasanya saya diberi obat oksigen semprot dan diajak jalan-jalan keluar, menghirup udara segar. Kalau asma bercampur dengan isak tangis, Bob sibuk berdongeng. Apa saja dia dongengkan hanya agar saya tenang. Kadang, saya sampai tertidur di pelukan Bob."

Dari Prit saya tahu, Bob sering bercerita tentang macan. Begini dongengnya. Ada macan masuk ke desa, dengan kondisi kelaparan. Dia selalu mecari-cari bocah yang belum tidur di larut malam. Hingga akhirnya, macan itu menemukan bocah yang tidak pernah tidur, lalu dibawa masuk ke hutan dan tak pernah kembali. Ketika Bob mendongengkan cerita macan, Prit selalu bertanya, "Kenapa macan itu selalu membawa anak kecil yang tidak bisa tidur? Kenapa tidak yang lain saja? Orang dewasa misalnya?" Bob selalu tertawa ketika Prit menanyakan itu, dan tidak pernah menjawabnya. Dongeng lain yang sering Bob tuturkan adalah tentang Jack dan kacang ajaib. Gara-gara dongeng Jack dan kacang ajaib, suatu hari Prit pernah benar-benar melemparkan kacang di bawah jendela. Lalu dia menungguinya, berharap kacang itu tumbuh menjadi pohon yang tinggi seperti dalam dongeng. Hari demi hari Prit habiskan dengan menengok biji kacang di bawah jendela, tapi kacang itu tak pernah tumbuh menjulang ke langit. Kelak, Prit mengerti bahwa itu hanya dongeng pengantar tidur.

Ada sebuah dongeng dari Bob yang tak sekedar dongeng.

"Saya punya buyut, namanya buyut Nawawi. Beliau adalah kakeknya Bob dari Malik An-Nawawi. Suatu hari Bob berkisah, buyut Nawawi pernah tenggelam di laut. Ketika buyut sudah ada di kondisi yang amat lelah, tiba-tiba ada seekor ikan yang menghampirinya. Ikan itu mengambil posisi di bawah, menopang tubuh buyut Nawawi. Singkat cerita, ikan tersebut membawa buyut Nawawi hingga ke daratan dan selamat. Menurut penuturan buyut yang disampaikan turun menurun, ikan tersebut adalah ikan cucut. Sejak saat itu, buyut Nawawi bersumpah untuk tidak mengkonsumsi daging ikan cucut. Hal ini diikuti juga oleh anak turunnya, termasuk saya. Padahal tidak ada seorang pun yang memaksa saya untuk tidak makan daging ikan cucut."

Ikan cucut adalah jenis predator di lautan. Ada yang menyebutnya hiu putih atau Carcharhinus amblyrhynchos. Hanya orang hebat yang bisa bersentuhan dengan ikan cucut, apalagi ditolong, pikir saya. Tapi pikiran itu tak pernah saya katakan langsung ke Prit. Kisah itu mengingatkan saya pada buyut Serimpi, buyutnya Durahem. Dia tidak merestui anak cucunya menjadi tentara. Sampai sekarang belum ada anak cucu buyut Serimpi yang menjadi tentara, padahal semua itu hanya disampaikan pada anak cucu dengan bahasa dongeng, bukan dogma.

"Selepas SD tahun 1998, saya melanjutkan di SMP 1 Rengel. Ketika kelas tiga, saya ikut darmawisata ke Jogja, tahun 2001. Rombongan naik bus Tuban - Jogja. Sepanjang jalan saya mabuk kendaraan. Susi, teman terdekat saya, sibuk merawat saya sepanjang perjalanan. Sesampainya di Jogja, saya lebih banyak tidur. Lemas. Sampai saya tidak tahu Jogja bagian mana yang pernah saya singgahi waktu darmawisata dulu. Asma juga membuat saya sulit menikmati perjalanan. Yang saya ingat hanya satu, saya pernah ke Borobudur. Itu saja."

Prit melanjutkan kisahnya di masa SMA. Dia sekolah di SMAN 1 Rengel, lulus tahun 2004. Waktu kelas tiga, ada tamasya bersama ke Bali. Prit mengulang kisah yang sama, seperti darmawisata jaman dia SMP. Sepanjang perjalanan mabuk berat, asmanya kumat. Sahabat-sahabatnya bingung, gurunya apalagi, pusing tujuh keliling. Mending waktu SMP, dia masih ingat Borobudur. Yang tamasya masa SMA, memorinya tak bisa mengingat apa-apa.

Lulus SMA, dia melanjutkan pendidikan di Universitas Jember, di tahun yang sama. Kedatangannya ke Jember untuk pertama kali, Prit diantar oleh Bob. Dia mengira jarak Tuban - Jember hanya sekejap mata, tak tahunya lumayan lama. Lebih terasa lama lagi, sebab ketika itu Bob dan Prit naik bus. Prit mabuk berat. Bob malu pada penumpang di sekitarnya.

"Waktu perjalanan Tuban - Jember untuk pertama kalinya, ada penjual koran yang menawarkan dagangannya. Penjual itu memberi koran satu-satu pada seluruh penumpang. Meskipun editor sebuah koran, waktu itu Bob tidak berniat membeli koran. Tapi saya muntah di atas koran itu. Alhasil, Bob membeli koran yang tak perbah dibacanya. Dia nampak malu. Saya tidak peduli. Yang saya rindukan hanya satu, ingin lekas-lekas turun dari bus."

Saya heran, perempuan seperti dia berani mendaftarkan diri di DIKLATSAR pencinta alam. Sebagai salah satu instrukturnya, saya tahu seorang Zuhana Anibuddin Zuhro mengidap penyakit asma. Dia menuliskannya di lembar pendaftaran. Lebih heran lagi, ketika itu Prit masih ketergantungan pada bedak bayi. Dia senang sekali menjilat bedak, kadang sampai bedaknya habis. DIKLATSAR pencinta alam yang dia ikuti, menganut sistem Flying Camp, berpindah dari satu titik ke titik yang lain, setiap hari. Kadang jalan kaki dari pagi hari hingga menjelang senja, dan semua itu dilakukan di dalam hutan, di Taman Nasional Meru Betiri. Di sana tidak ada penjual bedak. Semua barang peserta disita, apalagi ketika masuk materi survival selama dua hari. Untuk beberapa hal, sistem DIKLATSAR bercorak sistem komando, tapi tidak melulu instruktur selalu menang. Peserta boleh mendebat instruktur jika instruksinya dirasa tidak logis. Setidaknya itu sistem yang dijalankan SWAPENKA. Terlihat 'ngawur' tapi logis.

Tidak ada kontak fisik? Tentu saja tidak ada. Kami pencinta alam, bukan tentara. Tugas instruktur adalah meletakkan dasar-dasar berpikir kritis dan terstruktur pada setiap peserta tentang betapa pentingnya mencintai kelestarian alam. SWAPENKA juga tidak mengajarkan makan cacing jika kita tidak bisa mengolahnya dengan benar. Tidak boleh menghina peserta dengan kata-kata yang merendahkan, misal; bodoh, monyet, dan kata-kata umpatan. Jika itu dilakukan, instruktur akan berhadapan dengan Komisi Disiplin. Push Up empat set. Begitu pula sebaliknya dengan peserta. Jika mereka tak bisa mempraktekkan materi yang telah didapat di DIKLAT Ruang (biasanya DIKLAT Ruang berlangsung satu minggu), dia juga akan dikenai sanksi berupa teguran ringan atau teguran keras. Push Up masuk kategori teguran keras.

Kenapa DIKLATSAR pencinta alam identik dengan sanksi? Sebab nantinya kami banyak bersinggungan dengan alam terbuka. Harus banyak praktek, mulai dari membuat bivak alam sebagai tempat berteduh di malam hari, hingga menanam pohon yang sesuai dengan habitatnya. Keliru sedikit saja, akibatnya fatal. Bisa semakin merusak keanekaragaman hayati, bisa pula mengancam nyawa sendiri. Jika PA hanya terbatas pada teori saja, barangkali proses DIKLATSAR tak harus sebegitunya. Tak perlu ada pressing fisik dan mental.

Di Januari 2005, seorang Zuhana Anibuddin Zuhro mengikuti proses masuk SWAPENKA, hari demi hari, bersama delapan rekannya yang lain. Semuanya lulus. Di hari terakhir, ketika scraft warna jingga tlah melingkar di leher, Zuhana Anibuddin Zuhro dianugerahi sebuah nama rimba. Prit namanya. Bunyi peluit, penanda kemenangan. Ya, dia menang dari dirinya sendiri, bisa menghentikan kebiasan makan bedak, dan bisa menjinakkan asmanya sendiri.

"Sejak mengikuti DIKLATSAR SWAPENKA angkatan ke-23, asma mulai jarang mengunjungi saya. Entah kenapa. Sampai sekarang, ketika masuk hutan, rasanya segar. Di tempat yang sesegar itu, saya tidak takut dengan ancaman asma. Dalam pelukan hutan, saya merasa terlindungi."

Hening. Di luar sana, hujan mengguyur kota Jember sedari sore. Tak terdengar suara terompet, padahal sekarang 31 Desember 2013. Malam tahun baru, saya dan Prit masih asyik di atas kasur, saling bicara. Prit sudah terlihat semakin membaik, tak sepucat sebelumnya.

"Sana Mas, baca-baca aja gih," ujar Prit.

Saya manut. Lalu saya membuka naskah hasil karya Mbak Irma Devita, 198 halaman. Sudah saya baca, tapi saya butuh membacanya kembali. Kemarin saya terkesan membacanya dengan agak tergesa-gesa. Maklum, dibarengi dengan penjurian lomba blog, menulis, dan beberapa hal lain yang harus saya kerjakan. Tiba-tiba saya teringat Kursus Jurnalisme Sastrawi XXII. Materinya banyak, dan saya belum sinau.

Niat untuk menghabiskan waktu di depan monitor saya gagalkan sendiri. Biarlah. Hari ini saya hanya ingin menemani Prit, tidur sebantal dan saling bicara.

Di luar sana, rintik hujan masih berdendang, mengiringi suara kodok yang bernyanyi mesra. Selamat menikmati penghujung 2013.

Salam dari kami, pasangan bulan sebelas..

28.12.13

Durahem

28.12.13
Sebenarnya, namanya bukan Durahem melainkan Abdul Rohim, tapi Bapak dan Emaknya terbiasa memanggilnya Durahem. "Di tanah Madura, semua yang bernama Abdul Rohim pasti dipanggil Durahem atau Dul saja." Itu keterangan yang pernah saya dapat dari Sulami, Emaknya Durahem. Tentu saja dengan logat dan Bahasa Madura yang fasih. Masalahnya, Durahem tidak dilahirkan di tanah Madura, dia lahir dan bertumbuh di Jember, kota di Jawa Timur yang terkenal akan Gumuk dan perkebunannya.

Durahem dilahirkan pada 1 Januari 1950, enam puluh tujuh tahun setelah letusan Gunung Krakatau. Di saat yang sama, Jember sedang merayakan Hari Lahirnya yang ke-21. Setidaknya, itu yang disepakati oleh warga Jember sampai detik ini.

Pernah pada suatu hari, saya berkesempatan ngobrol panjang lebar dengan Durahem. Saya bertanya banyak hal, sebab saya ingin mengenal lebih dalam tentang dirinya. Dia mengawali kisah hidupnya dengan sesuatu yang diluar logika. Saya sulit untuk percaya, tapi tetap saya catat itu di sebuah notes kecil.

"Kata Emak, saya tidak keluar-keluar dari perutnya, hingga dua belas bulan. Saya sendiri sangsi akan itu. Tidak masuk di akal. Secara medis juga tidak mungkin. Tapi orang-orang terdekat yang tahu proses kehamilan Emak, mereka semua meyakinkan saya, termasuk Bapak saya sendiri."

Durahem tidak segera melanjutkan ceritanya. Dia menyela dengan menyalakan sebatang rokok kretek filter merk Toppas, keluaran PT Karya Bina Sentausa - Malang. Kiranya, setelah Kardiyadi istrinya meninggal dunia pada 24 Mei 2008, Durahem semakin ngebbul merokok. Rambutnya juga ia biarkan putih memanjang, seperti tokoh antagonis di film-film silat dalam negeri.

"Masa kecil saya biasa-biasa saja, cenderung memalukan. Saya terlambat berjalan, hingga kira-kira usia 5 - 6 tahun. Saya juga dijuluki kerdil karena mengalami pertumbuhan yang lambat, justru di masa-masa penting pertumbuhan. Di usia 6 tahun, saya diantarkan mendaftarkan diri untuk masuk SD Bahagia. Yang membantu namanya Bu Srina. Karena tangan kanan saya tidak bisa memegang kuping kiri, saya tidak diijinkan untuk masuk SD. Diulang lagi tahun berikutnya, gagal lagi. Semua hanya karena ujung jari tangan kanan tak menggapai telinga kiri dengan sempurna. Bu Srina bisa saja meloloskan saya, mengingat antara orang tua saya dengan Bu Srina terjalin silaturrahmi yang baik. Malah masih berbau saudara. Tapi Bu Srina takut ditegur sama penilik sekolah. Baru tahun berikutnya lagi saya bisa sekolah di SD Bahagia."

Durahem berbaik hati. Dia memberi saya akses untuk membuka berkas surat-surat penting dalam hidupnya. Di sana, ada saya temukan Surat Tamat Belajar Sekolah Rakyat Negeri (6 Tahun), bertuliskan Bahagia. Hmmm, ini dia yang Durahem katakan SD Bahagia. Dia berdaftar induk 512. Dinyatakan tamat dari SD Bahagia pada 25 Juli 1964. Ada tanda tangan Kepala Sekolah di pojok kiri bawah, Mistamu al Tirtoprajitno. Tepat di samping kirinya, ada tanda tangan Penilik Sekolah wilayah, Y. Hadisuhardja. Keduanya ditulis dengan huruf latin, bagus sekali. Seperti tulisan latin di buku halus.

Dari Durahem saya mengerti wajah Sekolah Dasar di Jember wilayah kota di era 1950-an. SD Bahagia kini berganti nama menjadi SD Jember Lor, bertempat di seberang RS Paru sebelum Pabrik Es Surabayan (sekarang JL Mawar). SD Bahagia adalah Sekolah Dasar yang menggunakan bahasa ajar Berbahasa Madura, sama seperti SD Cemara, SD Rengganis, dan SD Joko Tole. Ada juga yang menggunakan Bahasa Jawa seperti SD Damar Wulan dan SD Diponegoro.

Cerita Tentang Sura'i

"Sura'i adalah nama Bapak saya. Lahir tahun 1926 di sebuah desa bernama Pekandangan, masuk Kabupaten Sumenep. Sebagai seorang tamatan SR, wajar jika Sura'i ingin memandang dunia sedikit lebih luas. Dia ingin merantau ke tanah Jawa. Kelak, dipilihlah tanah Jember sebagai tempat untuk merantau, berproses, dan menghabiskan sisa usia bersama Emak saya, Sulami."

Meskipun Durahem tak mengerti nama-nama Kakek Neneknya baik dari pihak Sura'i maupun Sulami, tapi daya ingat Durahem terbilang tinggi. Dia dengan lancar menuturkan siapa saja saudara kandung Bapak dan Emaknya.

"Bapak saya enam bersaudara, dia nomor lima. Yang bungsu meninggal dunia ketika masih kecil. Nomor satu bernama Sirnani, nomor dua Surasah, lalu Suriyadi, nomor empat Suhinna, lalu Bapak saya Sura'i, si bungsu yang meninggal dunia bernama Asnawi.

Saya mencatat nama-nama itu. Selama saya mencatat, Durahem menceritakan satu persatu saudara kandung Bapaknya. Dia memulainya dari Sirnani, saudara tertua Durahem. Singkat saja ceritanya. Ada baiknya saya beri nomor saja, biar lebih mudah dibaca.

1. Sirnani menikah dengan lelaki Madura. Mereka tidak memiliki keturunan

2. Surasah (atau Suroso) adalah saudara Sura'i nomor dua. Dia menikahi perempuan Madura dan dikaruniai seorang putri bernama Andawiyah. Surasah pernah hilang di jaman Romusha, ketika Andawiyah masih di dalam kandungan. Selama bertahun-tahun hilangnya Surasah, pihak keluarga selalu berkirim doa padanya. Istrinya tak mau menikah lagi dan lebih memilih untuk membesarkan Andawiyah sendirian. Suatu hari di tahun 1970an, tak dinyana Surasah kembali pulang ke tanah Madura. Ternyata selama ini dia ada di Balikpapan, bertani di lahan gambut. Di sana dia sudah berkeluarga tapi tidak dikaruniai anak. Waktu itu Andawiyah sudah besar. Istri Surasah berlapang dada dan mau kembali ke pelukan suaminya. Kata Durahem, itu semua adalah bukti kekuatan doa keluarga

3. Suriyani, menikah dengan Abdul Gani. Mereka memiliki keturunan bernama Hasyim, Murka'iyah, Juma'ati, Mistajik, Anwar, Supadmo, Sutanto, dan Sugiono. Si bungsu Sugiono meninggal dunia ketika beranjak remaja. Hubungan Suriyani dan Abdul Gani tidak langgeng, pada akhirnya mereka memilih untuk bercerai dan selanjutnya masing-masing memilih untuk berkeluarga lagi dengan lain orang. Suriyani menikah dengan lelaki muslim dari Bali, Abdul Gani menikah dengan seorang perempuan cantik asal Rogojampi - Banyuwangi. Namanya Lies. Masing-masing tidak memiliki keturunan

4. Suhinna, Menikah dengan lelaki Sumenep, memiliki keturunan bernama Abdul Wahid, Diyah (Die), Rina, dan Abdul Sahid. Semuanya menetap di Sumenep wilayah kota hingga sekarang.

Baru kemudian Durahem bercerita tentang orang tuanya sendiri, Sura'i dan Sulami. Mereka dikaruniai dua orang anak, Durahem dan Sulastri. Suatu hari Sulastri kecil sedang sakit, dia duduk di tepi sendang di desa Pring-pringan Kreongan. Sementara itu, Durahem yang terlambat bisa berjalan, sedang senang-senangnya belajar berjalan. Kira-kira di umur Durahem yang ke tujuh atau delapan tahun. Bermaksud menggoda adiknya, Durahem menyenggol Sulastri. Tak disangka, Sulastri tergelincir dan jatuh di sendang dan mengalami keterlambatan pertolongan. Nyawa Sulastri pun melayang.

"Kulitnya langsat, matanya blalak-blalak, rambutnya ikal memanjang, dia cantik sekali. Kadang ada yang menyangka dia anaknya orang Arab, tapi lebih banyak yang mengira Sulastri anak keluarga India yang tinggal di Kauman Jember."

Durahem mengatakan itu sembari menghisap asap rokok dalam-dalam. Saya menjadi tidak nyaman dengan suasana itu. Akhirnya saya putuskan untuk menemaninya merokok, sambil sesekali nyruput kopi yang dihidangkan oleh menantu perempuan Durahem. Sambil menikmati keheningan yang datang tiba-tiba, saya mencoba mengalihkan pembicaraan. Sulit. Syukurlah suasana tak nyaman itu lekas membaik. Kali ini Durahem bercerita tentang Agung Serimpi.

"Bapak sering bercerita tentang Neneknya yang biasa dipanggil Agung Serimpi. Kulitnya putih, rambutnya putih memanjang dan sering digelung, perawakannya tinggi, ucapannya seringkali menjadi kenyataan. Mandih pangocak, kata orang Madura. Semua orang tahu, Sura'i adalah cucu kesayangan Agung Serimpi. Suatu hari Agung Serimpi pernah melihat dengan mata sendiri akan kebengisan tentara penjajah. Sejak itu dia melarang anak cucunya untuk menjadi tentara."

Jeda sejenak. Durahem terlihat sedang memikirkan sesuatu. Saya diam menunggu. Kemudian dia lanjutkan lagi ceritanya.

"Setamat dari SD Bahagia, saya melanjutkan sekolah di ST Negeri 2 Jember (Sekolah Teknik, setara SMP) jurusan Bangunan Gedung. Di ijasah, tertulis bahwa saya lulus dari ujian penghabisan pada 22 Juli 1967, dengan nomor induk 1030. Lalu tepat di bawahnya, masih di lembar yang sama, ada tanda tangan, stempel, dan materai tempel satu rupiah, bertanggal ijasah 10 Juni 1968. Tampaknya saya baru melegalisirnya 19 tahun kemudian, 3 Maret 1987, ketika Kepala Sekolah ST Negeri 2 Jember bernama Gandoe A.N, NIP. 130432355."

Sambil menceritakan itu, tangan Durahem nampak sibuk membolak-balik lembar ijasahnya.

"Saya melanjutkan lagi di STM Negeri Jember, masih di jurusan yang sama, Bangunan Gedung. Sewaktu STM kelas dua, banyak rekan-rekan saya yang mendaftar sebagai tentara. Seusia saya, tak ada yang tak suka dengan gagasan setia kawan. Atas dasar itulah saya juga mendaftarkan diri sebagai calon tentara. Syarat-syarat sudah saya penuhi, termasuk pamit dari STM Negeri Jember. Saya lulus tes KIR. Tapi ada masalah. Orang tua saya tidak memberi ijin, mengusut ini hingga ke sekolah. Tetangga gempar. Saya masih muda. Malu? Tentu saja. Mau meneruskan di ketentaraan tidak mungkin. Balik ke sekolah juga aneh rasanya. Sudah pamit lha kok kembali lagi. Pulang? Saya takut, Bapak saya pendekar pencak."

Durahem memilih untuk menghilang sementara waktu. Minggat. Hmmm, lelaki sebijak Durahem ternyata pernah juga minggat dari rumah.

"Oleh saudara dari Kreongan, Sungkowo, saya diantar pulang. Bapak tidak marah ketika saya pulang. Tidak memukuli saya, seperti yang terbayangkan. Dia hanya mengulang-ulang pesan Neneknya atau buyut saya, Agung Serimpi. Berbeda dengan Bapak yang tenang, Emak nangis, tangisannya seperti ada nadanya, khas perempuan tani Madura."

Hening, tapi hanya sejenak saja. Selanjutnya Durahem meneruskan kisah hidupnya.

"Di tahun ajaran selanjutnya saya kembali meneruskan sekolah. Tak lagi di STM Negeri Jember melainkan pindah ke sekolah swasta, STM Berdikari. Masih di jurusan yang sama. Ada enaknya sekolah di sini, saya langsung naik kelas. Logikanya saya tidak naik kelas, setelah jeda yang lumayan panjang. Saya belajar di STM Berdikari hingga tamat, 1971."

Durahem beralih topik. Kali ini dia bercerita tentang Emaknya.

"Emak empat bersaudara, dia yang bungsu. Tepat di atasnya, namanya Burati, meninggal dunia ketika masih kecil. Semuanya perempuan. Nomor satu Jauan (Jewen), lalu Burani, lalu Burati, kemudian Emak, Sulami. Tak seperti Bapak yang dari keluarga Kyai, Emak tumbuh besar di lingkungan keluarga petani. Tapi mereka satu desa, di Pekandangan - Sumenep."

Kemudian Durahem mulai mengupas satu persatu saudara kandung Emaknya. Seperti sebelumnya, saya memberi nomor-nomor untuk mempermudah.

1. Jauan atau Jewen, menikah dengan lelaki Madura, memiliki keturunan bernama Mutali, Abdullah, Jamah. Ketiganya laki-laki. Mereka bertiga menikah, memiliki keturunan, dan menetap di desa Pekandangan Sumenep hingga sekarang

2. Burani, menikah dengan seorang Cina totok, tak bisa Berbahasa Indonesia tapi mau belajar Bahasa Madura. Mereka dikaruniai seorang anak saja. Perempuan, namanya Kim Yun. Keluarga kecil ini hijrah dari Pekandangan menuju Surabaya untuk berdagang cao dan membuka depot, tepatnya di daerah Kedungsari. Saat besar, Kim Yun menikah dengan Li Wi Cong. Mereka memiliki anak bernama, A Mi (Sulastri), A Bing (Sumiati), A Wun (Sukamto), dan yang bungsu bernama Li Ya Sin (Yasin). Meskipun sudah sempat dicegah oleh Burani, Kim Yun dan Li Wi Cong cerai tahun 1985. Tak lama kemudian Li Wi Cong meninggal dunia. Burani sendiri meninggal dunia di akhir tahun 1990an. Dia dimakamkan secara Kristen di Surabaya, tapi di Jember ditahlilkan secara Islam. Keturunan Burani masih menempati rumah Kedungsari Surabaya hingga sekarang

3. Burati, meninggal dunia ketika bocah

4. Sulami, lahir di Pekandangan Sumenep tahun 1930. Tidak bisa baca tulis tapi pandai berdagang. Dia ahli menghitung uang dan mahir mengelolanya. Sulami adalah seorang Islam yang taat menjalankan sholat lima waktu, tapi tak pandai membaca Alquran.

Di pertemuan yang berbeda, Durahem bercerita tentang perjalanan orang tuanya dari Madura menuju Jember. Menurutnya, Bapaknya baru merantau ke tanah Jawa ketika Agresi Militer Belanda sedang panas-panasnya. Di masa Agresi Militer, nasib negara boneka Madura semakin tak menentu. Ada embargo yang dikendalikan oleh orang penting Belanda bernama van Mook. Hidup menjadi terasa mengenaskan. Di saat itu, Sura'i memilih untuk hijrah ke Jawa, bersama istrinya yang sedang hamil muda. Mereka menikah pada awal 1949.

Kisah perjalanan Sura'i membawa istrinya dari Sumenep menuju Jember sangat mengkhawatirkan. Ketika menyeberangi lautan dari Kalianget menuju Panarukan, Sulami menangis. Sebentar-sebentar dia mengelus perutnya yang lagi bunting. Ketika malam tiba, nahkoda kapal tongkang enggan menyalakan lampu, takut dijatuhi bom oleh pihak Belanda. Ini dampak dari embargo Madura oleh Belanda. Saat itu Sulami hanya memikirkan satu hal. Kenapa 'Blendeh' sejahat itu? Padahal ketika masih kecil, Sulami pernah di awe-awe oleh seorang Belanda. Dengan malu-malu, Sulami menghampirinya. Ternyata orang Belanda itu memberinya seiris roti. Sulami menebak, mungkin mungkin lantaran dirinya berkulit kuning langsat, bermata blalak-blalak, dan tidak ada borok di tangan serta kakinya. Ini aneh di era 1930an. Waktu itu banyak bocah Madura keluarga petani yang kurang terawat. Kesan masa kecil Sulami membekas hingga dia besar. Tapi ketika dia melakukan perjalanan laut, semua menjadi terlihat berbeda.

Akhirnya mereka menginjakkan kaki di tanah Jawa. Sulami bersumpah, tak akan lagi menyeberang lautan lewat sana. Sumpah itu semakin menguat manakala di waktu yang lain dia mendengar kabar bahwa tongkang yang dinaikinya hancur oleh bom Belanda, ketika kembali menuju Kalianget.

Cerita sedih dimulai. Pasangan muda ini luntang-lantung kesana kemari mencari tempat berteduh. Syukurlah mereka bertemu dengan Keluarga Jubrih, orang asal Pekandangan - Sumenep yang tinggal di desa Kreongan, dan dianggap paling mampu di jamannya. Dari Keluarga Jubrih, mereka disarankan untuk tinggal di rumah Mak Rahma, juga warga Madura. Sama-sama dari Pekandangan. Suami Mak Rahma bernama Pak Busia. Mereka dikaruniai 5 orang anak; Rahma, Slamet, Matahir, Misnatun, dan Sitiani.

Setelah memiliki tempat berteduh sementara, Sura'i gigih mencari pekerjaan. Bermodalkan ijasah SR, Sura'i melamar pekerjaan di Jawatan Kereta Api Jember. Diterima, tapi sebagai pekerja kasar. Memandikan Kereta Api, itu salah satu tugas Sura'i muda.

"Jangan bandingkan pekerjaan mencuci kereta api dulu dan sekarang. Dulu lebih detail dan rapi," kata Durahem. Rupanya dia sering mendengar kisah dari Bapaknya.

Hal lain yang diulang-ulang oleh Durahem adalah tentang desa Pekandangan. Dia mendapat kisah itu dari Sura'i. Semangat sekali Durahem ketika menceritakan bahwa Pekandangan adalah tempat dimana Joko Tole bertapa. Saya enggan mencatatnya. Saya rasa, itu terlalu Pekandangan-sentris. Tapi melihat semangat Durahem, tak tega rasanya menghapus poin ini dari catatan.

"Di desa itulah dulu Joko Tole bersemedi. Kemudian sejarah mencatatnya sebagai Raja Kerajaan Sumenep yang ke-13 sebelum Raja Abdul Rahman. Kiranya belum ada sejarawan yang melakukan penelitian tentang perpindahan kepercayaan dari Hindu Siwa ke Islam. Padahal itu bisa ditelaah dari era Joko Tole berpindah ke era Abdul Rahman. Dari namanya saja beda."

Mata Durahem tampak berbinar ketika menceritakan itu.

Tentang tempat pertapaan Joko Tole sendiri, sebelumnya saya pernah diantar ke sana oleh Durahem, di Pekandangan Sumenep. Tempat pertapaannya hanya berupa gua dengan mulut gua yang kecil. Ada pohon talas yang tumbuh tepat di depan mulut gua. Letak gua itu tepat di belakang dapur rumah keluarga Sura'i. Sekarang di atas tanah milik Sura'i berdiri sebuah lembaga pendidikan semacam pesantren.

Kembali ke kediaman baru pasangan Sura'i dan Sulami, di rumah Mak Rahma.

Suatu hari, Sulami merasa tidak kerasan tinggal di rumah Mak Rahma. Atas inisiatif pribadi, dia mencari kontrakan di daerah Pring-pringan Kreongan, tak begitu jauh dari kediaman Mak Rahma. Tak disangka, di sana sudah ada seorang bijak yang menanti kedatangan perempuan dengan perut besar, Sulami. Dia adalah lelaki sepuh yang dikenal dengan nama Mbah Nap.

"Kamu sudah saya tunggu. Di sini saja, tinggal di sini," Kata Nap pada Sulami. Tentu saja Sulami kebingungan. Pada akhirnya dia mengerti, orang yang bernama Nap itu dipercaya oleh para tetangga memiliki hati yang bersih. Ada pula yang bilang Nap setengah wali. Begitulah, pada akhirnya pasangan Sura'i dan Sulami tinggal di daerah Pring-pringan Kreongan, di atas lahan milik Nap. Pada 1 Januari 1950, hanya berselang 4 hari setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia, Sulami melahirkan seorang bayi laki-laki. Ya, di kampung Pring-pringan inilah Durahem dilahirkan. Kelak, kampung ini lebih dikenal dengan nama kampung 'Hotel Gak Dadi' Kreongan.

Adapun Durahem, mulanya dia diberi nama Abdul Kahar. Nama itu dirasa terlalu berat, Kahar kecil sakit-sakitan. Digantilah namanya menjadi Abdul Ghofur, masih juga sakit-sakitan. Lalu orang tuanya membawanya toron ke tanah Madura. Di sana, dia diberi nama Abdul Rohim. Nama ini tak lagi berganti, bahkan meskipun Durahem terlambat untuk bisa berjalan, dan lebih banyak menikmati masa balitanya di atas keranjang.

"Menurut cerita rakyat Pekandangan, dulu ada seorang pertapa yang bersemedi di desa mereka. Dia merencanakan kota Sumenep yang akan diletakkan di Pekandangan. Tapi berhubung kondisinya berbukit-bukit, rencana tersebut urung diteruskan. Perencanaan dalam istilah warga setempat bernama Pekantangan. Jadi, nama Pekandangan bermula dari Pekantangan. Ini memang foklor yang berbeda dari versi Joko Tole. Tapi masyarakat percaya bahwa tanah 'Pekantangan' urung dijadikan pusat kota Sumenep karena tanahnya yang 'Sesompan.' Itu juga membuatnya angker dan tidak boleh ditarik pajak. Barangkali, dari sinilah inspirasi nama saya, Abdul Rohim."

Semakin hari, Sura'i dan Sulami semakin mandiri. Sura'i pekerja yang rajin, sementara Sulami pandai mengatur keuangan. Dia ulet, meski dengan metode tradisional. Menabung pun hanya di celengan bambu. Pada saat keadaan ekonomi mereka semakin stabil, lahirlah anak kedua. Perempuan, namanya Sulastri. Dia meninggal dunia saat bocah, seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya.

Kelak, Durahem kembali memiliki adik perempuan, namanya Sri Hartatik. Durahem bercerita banyak hal tentang Sri dan tentang anak-anak Sri; Hariyanto (Almarhum ketika menjadi tentara dan ditempatkan di Ambon), Sumiati, Heru, Iswanto, Budi Hartono, hingga Nining. Ketika berkisah, tampak sekali jika Durahem sangat menyayangi Sri. Sayangnya, cerita yang berderet-deret itu hanya bisa parkir di notes kecil. Berlembar-lembar. Kata Durahem, "Tolong yang ini jangan ditulis."

Ketika Durahem duduk di bangku kelas satu SD Bahagia (atas bantuan Ibu Srina), karir Sura'i di Jawatan Kereta Api semakin bagus saja untuk ukuran tamatan SR. Dia juga dipercaya menempati sebidang tanah Jawatan Kereta Api di belakang ST - STM Negeri Jember (Sejak 1991 ST berubah menjadi SMP Negeri 10 Jember. Tahun 1994, lokasi belajar mengajar STM Negeri Jember dipindahkan ke JL. Tawangmangu 59 Tegal Gede, Jember). Nap keberatan. Semua orang Pring-pringan tahu mengapa Nap keberatan. Sebab beliau sangat menyayangi pasangan muda ini, beserta Durahem anaknya. Iya, meskipun Nap memiliki tiga orang Anak; Alwi, Sadran, dan Mubah, namun perhatiannya pada orang tua Durahem sangat tulus. Meski demikian, Sura'i bersikukuh untuk memboyong keluarga kecilnya di atas tanah milik Jawatan. Akhirnya Nap mengiyakan. Di tahun pertama, hampir setiap hari Nap mengunjungi mereka.

Sekilas tentang Nap atau Mbah Nap. Nap tidak makan nasi, melainkan ketan. Makan dan minum harus menunggu dingin. Bahkan ketika minum wedang kopi, harus menunggu benar-benar dingin, baru kemudian diminum. Kemana-mana selalu membawa omplong untuk tempat meludah. Iya, Nap bukan tipe orang yang sembarang meludah. Banyak orang yang mengunjunginya untuk meminta sambung doa. Ketika ada tentara yang hendak berangkat berperang, mereka mengunjungi Nap. Barangkali setelah didoakan oleh Nap, para tentara ini terdongkrak rasa percaya dirinya.

Anak Nap yang pertama namanya Alwi, dia pesilat nomor satu di Jember waktu itu. Alwi memiliki tiga anak bernama Ahmad, Arifin (Tete), dan Titik. Karier tertinggi Alwi adalah sebagai Kepala Cabang Gudang Garam di Tapen. Setelah Alwi ada Sadran, seorang pegawai Jawatan Kereta Api, tidak memiliki keturunan. Yang bungsu perempuan, namanya Mubah. Memiliki seorang anak bernama Sungkowo, biasa dipanggil Yasin sejak kecil. Dia (Sungkowo) yang dahulu pernah menjemput Durahem saat minggat dari rumah.

Suatu hari, Nap memanggil salah seorang warga kampung Pring-pringan Kreongan yang bernama Jarbak. Disuruhnya Jarbak untuk mengukur panjang tubuh Nap dengan bambu, kemudian pada hari yang ditentukan Jarbak disuruhnya menggali kuburan di tanah yang sudah ditunjuk oleh Nap. Karena Jarbak mempercayai lelaki berdarah Using Puger yang selalu meneduhkan ini, dia melakukan semuanya. Iya benar, setelah semuanya terlaksana, Nap meninggal dunia. Sulit dipercaya, tapi itu terjadi di tahun 1971. Di tahun yang sama, Durahem tamat STM.

Sura'i dan Sulami semakin kuat jiwa kemandiriannya. Sulami membantu suaminya mencari penghasilan dengan berdagang. Mulanya dia membuka toko pracangan kecil. Sepi, tapi dia tetap melakukannya. Ketika Durahem STM kelas satu, Sulami mulai mengganti bisnis toko pracangannya menjadi penjual rujak saja. Ternyata banyak yang suka dengan rujak olahannya. Kelak, rujak Emak Durahem dikenal lebih luas hanya gara-gara ada seorang pembantu Bupati yang membeli rujak di tempatnya. Memasuki abad Millenium, tangan kanan Sulami sering sakit. Kalau memegang sesuatu sering jatuh. Sedikit tremor. Sulami sudah tidak kuat lagi 'cek-kocek' rujak, tapi dia memaksa. Pada akhirnya dia berhenti jualan rujak karena Durahem keberatan. Selain itu, tangan kanannya memang semakin melemah.

Karier tertinggi Sura'i adalah masinis. Ketika sudah merasa cukup mandiri, Sura'i mulai mengembangkan kegiatan lain di luar pekerjaannya. Sekali dalam seminggu Sura'i mengumpulkan teman-temannya sesama perantauan asal Sumenep. Mereka menghidupkan tradisi Macapat (membaca dan menafsirkan tembang) Berbahasa Madura di tanah Jawa. Sura'i ahli meniup seruling. Kadang, dia juga membaca dan mengapresiasi kidung-kidung Macapat. Dia pula yang mengorganisir para anggota Macapat. Group Macapat ini sering diundang RRI dan RKPD untuk tampil on air.

Waktu itu, Kreongan adalah kawasan yang ramai. Kreongan adalah wilayah yang kondusif untuk tumbuh kembangnya seni maupun olahraga. Pernah saya baca di surat Kabar Pewarta Perniagaan tertanggal 26 Mei 1943, begini bunyinya; "Oentoek memadjoeken olah raga, kaboepaten Djember membikin tanah lapang olah raga didesa Kreongan, loeasnja kira-kira 20 ha dengan beaja F 30.000,-

Selain didirikannya Stasiun Jember pada 1890, di dekat sana juga ada Pusat Penelitian Kopi dan Coklat, sejak 1911. Ada pula Sanatorium Kesehatan, RS Umum Kreongan Jember (sekarang RS Paru). Sebelum menempuh pendidikan PETA dan berpangkat Letnan Kolonel, Mochammad Sroedji bekerja di Rumah Sakit ini sejak 1938 hingga 1943, sebagai Pegawai Jawatan Kesehatan Mantri Malaria. Kediamannya ada di dekat Rumah Dinas Kepala DAOP 9 Kereta Api.

Kreongan adalah Nusantara dalam skala kecil, jaraknya dekat sekali dengan alun-alun kota. Jadi, untuk menuju pusat kota cukup berjalan kaki saja. Banyak pendatang dari berbagai suku, tak hanya Jawa dan Madura saja. Di sini bahkan ada sebuah kampung bernama Kampung Using. Rata-rata dari mereka ingin memperbaiki taraf hidupnya, dan Kreongan waktu itu dipandang sebagai wilayah dengan tawaran kesempatan hidup lebih baik.

Di tempat yang seramai itu, Macapat mudah berkembang dan banyak yang memberi apresiasi. Lagipula, Sura'i dan kawan-kawan bukan yang pertama membawa napas budaya Macapat di Kreongan. Sebelumnya sudah ada, banyak.

Kabar Kreongan tak selamanya indah. Efek Gerakan 30 September PKI pada akhirnya juga menyapa Kreongan. Di sini ada banyak sekali keluarga Jawatan Kereta Api. Apesnya, saat itu Jawatan Kereta Api disangka memiliki banyak karyawan yang terlibat PKI. Orang dengan posisi baik akan dengan mudah memfitnah seseorang yang tidak disukainya dengan label PKI. Pagi dilabeli, malamnya diangkut naik truk, dikumpulkan di tanah yang lapang. Stadion Notohadinegoro adalah salah satu pilihan untuk mengumpulkan orang-orang. Yang dicurigai sebagai anggota PKI, akan diangkut dengan truk khusus, yang lain boleh pulang. Sudah menjadi rahasia umum, yang naik truk khusus tak akan pernah kembali. Sura'i dan para tetangga di kampung Kreongan mujur, tidak ada yang melempar fitnah. Tapi ada juga yang ketiban sial.

Suatu hari di tahun 1993.

Ketika itu pertengahan Ramadhan. Sura'i menjadi Bilal Tarawih di musholla kecil di dalam lingkup gedung STM lawas. Ketika tarawih usai, dilanjut dengan tadarrus, membaca Alquran. Rupanya wudhu Sura'i terputus. Dia memilih untuk mengambil wudhu di rumah saja, tak jauh dari musholla. Sementara dia pulang, yang lain disuruhnya untuk tetap mengaji. Sesampainya di rumah, segera Sura'i mengambil wudhu. Setelahnya, dia mendengar keluh kesah Sulami, istrinya. Lampu di warung mati. Sura'i mengerti apa yang diresahkan istrinya. Jika lampu warung mati, bisa saja tikus-tikus akan berpesta pora. Itu tandanya, besok Sulami tak bisa berjualan rujak secara optimal. Tak menunggu waktu lama, Sura'i memeriksa kondisi kabel listrik bertegangan 110 volt. Ada kabel telanjang, tangannya masih basah oleh air wudhu. Sura'i kesetrum dan terjungkal ke lantai yang baru dia traso sendiri. Tak lama kemudian, Sura'i menghembuskan napasnya untuk terakhir kali, pada kondisi masih berwudhu.

Durahem sedih, tapi waktu terus berjalan tak peduli apakah kita sedih ataukah bahagia. Empat belas tahun kemudian, Sulami menyusul Sura'i. Dia meninggal dunia pada 2 Juni 2007, di usia 77 tahun, di kediamannya tercinta, Kampung Kreongan belakang gedung STM lawas.

Sedikit Lagi

Setelah gagal menjadi tentara, Durahem melanjutkan sekolah di STM Berdikari sampai tamat. Dia memegang ijasah STM tahun 1971. Satu tahun berikutnya, Durahem bekerja di DPU Bina Marga. Di tahun yang sama, Durahem jatuh cinta pada seorang perempuan, dia karyawan Universitas Jember, di Sospol. Namanya Kardiyati. Meskipun melalui masa pendekatan yang tak mudah, cinta Durahem tak bertepuk sebelah tangan. Cinta mereka bersemi, diiringi oleh lantunan lagu-lagu Tetty Kadi. Lalu mereka menikah pada 21 Januari 1974, dengan mas kawin berupa uang 1000 rupiah dibayar tunai. Meskipun tidak ikut program KB, mereka dikaruniai dua anak. Yang pertama perempuan bernama Rohim Tusdiyah Indah. Si bungsu adalah laki-laki, sejak kecil biasa dipanggil Aim.

Sebagai anak Durahem, saya bahagia.

26.12.13

Bermula Dari Ajakan Mas Andreas Harsono

26.12.13

Prit, Mas Andreas Harsono, dan Saya. Dokumentasi oleh Fainani

Pada 18 Desember 2013 yang lalu saya berkesempatan ngobrol sebentar dengan Mas Andreas Harsono. Saat itu dia sedang pulang ke Jember. Waktunya tidak banyak, tapi masih juga bersedia menyempatkan diri memberi materi dan apresiasi seputar jurnalistik. Saat itu kami membicarakan dua hal, tentang lingkungan di Jember dan tentang transportasi massal. Mas Andreas banyak bertanya tentang Gumuk. Saya menggambarkannya singkat, sejauh yang saya pahami saja.

Tak dinyana, tiba-tiba Mas Andreas menawarkan pada saya untuk mengikuti Kursus Jurnalisme Sastrawi XXII di Yayasan Pantau, JL Kebayoran Lama 18 CD Jakarta. Tentu saja saya bahagia mendengarnya. Akan tetapi, saya seorang blogger, bukan jurnalis, dan tidak memiliki pengalaman jurnalistik (minimal 5 tahun) seperti yang tercantum pada persyaratan yang pernah saya baca. Bisa dikatakan, saya bukan seorang profesional. Mas Andreas bilang, "Tidak ada masalah."

Syukurlah kalau begitu, batin saya. Namun sebenarnya, masih ada satu lagi yang saya khawatirkan. Saya lemah dalam satu hal yaitu Bahasa Inggris. Hal itu saya sampaikan pada Mas Andreas via email pada tanggal 21 Desember 2013.

"Janet bicara dalam bahasa Indonesia. Dia lancar kok. Kursus ini akan diadakan dalam bahasa Indonesia. Cuma memang ada bacaan dalam bahasa Inggris. Tapi ia bukan banyak."


Itu jawaban yang saya terima dari Mas Andreas Harsono. Kabar yang menenangkan. Janet yang dimaksud adalah Janet Steele, seorang profesor jurnalisme asal George Washington University. Dia karib Mas Andreas dalam mengampu Kursus Jurnalisme Sastrawi.

Saya tidak sendirian ke Jakarta, melainkan berdua dengan Dieqy. Dia mewakili Persma Jember. Kami berdua dibebaskan dari biaya pendaftaran, tapi transportasi dan akomodasi ditanggung sendiri. Masih ada satu lagi yang mengganjal. Saya tidak punya laptop. Kursus yang hanya terbatas untuk 18 orang setiap tahunnya ini, pastilah masing-masing peserta akan butuh laptop. Sementara, uang saya total hanya Rp. 800.000,- Jika saya gunakan untuk DP kredit laptop, saya akan kebingungan lagi di masalah transportasi. Untuk masalah tidurnya dimana, tidak saya pikirkan dalam-dalam (meskipun pada akhirnya saya juga memikirkannya).

Di saat-saat seperti itulah, pada 22 Desember 2013, Tuhan menghadirkan mahluk-Nya yang baik hati. Dialah Kang Yayat, yang menawari untuk meminjamkan sebuah laptop merk Lenovo yang baru tiga minggu sebelumnya dia beli. Saat itu juga, saya terjangkit penyakit sungkan, tapi dia meyakinkan saya. Ucapannya senada dengan kalimat pendek Mas Andreas Harsono, "Tidak ada masalah." Ah, Tuhan, rumit sekali cara kerja-Mu, sekaligus mengharukan. Untuk paragraf ini, Insya Allah akan saya ceritakan di postingan tersendiri, nanti.

Hari ini saya dan Dieqy sibuk memutuskan untuk naik apa ke Jakarta. Bus atau kereta api. Meskipun lebih praktis bus, kami berdua lebih sreg naik kereta api. Alasannya sederhana saja, biar enak kalau kebelet pipis.

Dieqy bilang, dia buta peta Jakarta. Saya mencoba menghiburnya. Saya katakan, pernah satu kali ke Jakarta mengantarkan Almarhummah Ibu dan Mbak. Kami bertiga menuju Jakarta selatan naik Bus Lorena. Hanya bertahan dua minggu saya di sana. Sumuk. Lalu saya pulang ke Jember, sendirian. Tak saya ceritakan ke Dieqy tentang betapa waktu itu saya nyasar berkali-kali, hehe.

Kabar buruk. Membaca jadual keberangkatan kereta ke Jakarta, ternyata sudah banyak tiket yang terjual. Beginilah jika terlalu meremehkan waktu. Harusnya sejak kemarin kami mengurusnya. Tapi masih ada harapan. Ikut KA Logawa dari Jember menuju Purwokerto, Rp.100.000,-. Dari Purwokerto, ikut KA Sawunggaling menuju Pasar Senen, Rp.250.000,-. PP Rp.700.000,- per orang. Masih tersisa seratus ribu, dan masih ada waktu untuk mengais rejeki. Semoga saja masih ada tiket kereta yang tersisa.

Lalu, Jurnalisme Sastrawi Itu Apa?

Untuk lebih jelasnya, Anda bisa mengintip blog personal Mas Andreas Harsono di sini. Dalam jurnalisme dikenal banyak genre. Jurnalisme Sastrawi adalah satu diantara nama genre dalam dunia jurnalistik.

Pada 1973 di New York, Tom Wolfe mengenalkan sebuah genre baru: New Journalism. Ia mengawinkan disiplin keras dalam jurnalisme dengan daya pikat sastra. Ibarat novel tapi faktual. Genre ini mensyaratkan liputan dalam, namun memikat. Ia kemudian dikenal dengan nama narative reporting atau literary journalism. Di Jakarta, genre ini diperkenalkan lewat sebuah kursus pada Juli 2001, dan berlanjut hingga sekarang. Mas Andreas Harsono tak lelah-lelahnya untuk memasyarakatkan Jurnalistik Sastrawi.

Di blog personal Mas Andreas, ada saya baca paragraf seperti di bawah ini:

"Kursus ini dibuat dua minggu. Peserta adalah orang yang biasa menulis untuk media. Setidaknya berpengalaman sekitar lima tahun. Peserta maksimal 18 orang agar pengampu punya perhatian memadai buat semua peserta. Calon peserta diharapkan mengirim biodata dan contoh tulisan agar pengampu mengetahui kemampuan dasar peserta lebih awal. Biaya pendaftaran Rp 3 juta. Biaya tersebut sudah termasuk buku dan materi kursus non buku sekitar 200 halaman serta coffe break dan makan siang."

Entahlah saya tidak tahu, apa sebelumnya sudah ada peserta blogger (non jurnalis) yang pernah mengikuti Kursus Jurnalisme Sastrawi. Jika pernah ada, itu kabar yang membahagiakan buat saya.

Pada Uncle Lozz saya berkata seperti ini. "Ini ilmunya untuk kita semua Sam, untuk sedulur blogger. Seperti biasa, kita saling berbagi. Dungakne ae, semoga bermanfaat."

Sudah dulu ya. Istri saya ngajak jalan-jalan, mumpung langit Jember sedang cerah, hehe.

Salam saya, RZ Hakim.

25.12.13

Dunia Kita Telah Menjadi Maya

25.12.13
Iya benar, dunia kita telah menjadi maya. Jadi ingat guyonan Kang Yayat. Betapa susahnya orang jaman sekarang, mau makan aja masih difoto. Ahaha, benar juga. Ingat juga ketika mengantarkan Anggi Alfonso menengok reruntuhan Gumuk di Jember. Saat itu saya memotretnya, dengan menggunakan kamera Anggi. Berharap, ketika dia pulang ke Balikpapan dan bercerita tentang hancurnya jajaran Gumuk di Jember, tak ada yang menuduhnya hoax.


Anggi dan Reruntuhan Gumuk di Jember

Semakin hari kita semakin akrab dengan sebuah kata bernama hoax. Contoh kasus, "Saya tidak percaya jika Harimau Jawa masih ada, sebab tidak ada foto terbaru tentang itu." Masih ada sederet contoh tentang hoax. Kata hoax mencuat bersamaan dengan dunia teknologi yang semakin pesat.

Dulu, ketika hanya masih ada TVRI, orang seakan tak peduli apakah itu hoax atau tidak. Ketika guru sejarah di sekolah mengajarkan pada kita bahwa Majapahit adalah Kerajaan yang memiliki teritorial sebegitu luasnya, kita hanya bisa manggut-manggut. Sepi. Tak ada yang lantang berteriak bahwa itu hoax belaka. Ini begini itu begitu, wajah Gajah Mada seperti ini, wajah para sunan seperti itu. Kita menelannya mentah-mentah. Barangkali karena memang sistem pendidikan di negeri ini tidak didasarkan pada ruang-ruang berpikir kritis.

Teringat guyonan seorang sahabat, "Saiki arek-arek wedok nek foto gayane miring-miring, kadang rodok melet, gara-gara enek facebook." Ahaha, benar juga. Banyak saya temui para kaum Hawa yang berpose sedikit miring ketika di depan kamera, salah satunya istri saya sendiri. Ini menggeser gaya 'eksyen' sebelumnya yaitu menjulurkan dua jari, atau lebih baru dari itu, menjulurkan jari ke kamera dengan membentuk tanda metal.

Dunia kita telah menjadi maya. Adalah Almarhummah Ibu saya yang pandai sekali memperlakukan mesin ketik, bahkan dengan mata yang terpejam, dia terkaget-kaget mendapati kenyataan bahwa mesin ketik telah digeser dengan beringas oleh teknologi yang lebih modern. Sampai Ibu memejamkan mata, dia tak pernah tertarik menulis di depan monitor hanya karena efek suara yang dihasilkan sungguh jauh berbeda. I Love You Buk. Selamat hari lahir, Desember 1953 - Desember 2013.

Facebook tidak lelah-lelahnya mengingatkan kita tentang ulang tahun seseorang. Hari ini, 25 Desember 2013, sahabat saya Mungki Krisdianto sedang merayakan hari lahirnya. Tanpa merasa berdosa, saya memberinya ucapan lewat jejaring sosial. Hanya doa yang harus saya lakukan sendiri secara manual, sebab itu adalah kerja hati. Ah, dunia kita telah menjadi maya. Semua menjadi serba tinggal pencet. Yang tadinya sulit menjadi mudah.

Saya lihat, Prit tak pernah lagi menyentuh kamera SLR manual merk Braun kesayangannya (ah, kenapa hidup ini harus dikelilingi oleh begitu banyak merk?). Maya dan digital, dua istilah yang padu dan saling menguatkan. Manual semakin menjauh.

Lalu datanglah Mas Anik. Dia adalah sahabat adik sepupu saya, si Budi (terima kasih kalomarnya Bud). Keduanya sama-sama Oi, sama-sama pencinta lirik-lirik lagu Iwan Fals. Mas Anik pernah sangat lama sekali mendampingi Suku Baduy Dalam. Sebelum menikah (istrinya adalah tetangga saya), dia datang dan pergi ke sana. Adalah wajar jika Mas Anik paham tentang kehidupan sedulur Baduy.

Sungguh, saya tersentak ketika Mas Anik bilang seperti ini.

"Mereka memiliki adat yang keren. Jangan heran jika Mas ke sana dan disuguhi hidangan, nasi yang Mas makan adalah hasil panen 80 tahun yang lalu."

Dari Mas Anik saya jadi tahu pandangan filosofis Baduy pada apa yang dimaksud dengan modern. Hmmm, jadi ingat gugatan Cak Dai pada kata maju (atau kemajuan) dan modern.

"Modern itu apa? Maju itu apa? Apakah modern dan kemajuan itu identik dengan lampu-lampu yang gemerlap? Apakah harus begini? Apakah harus begitu? Apakah jika tidak memiliki akun di jejaring sosial maka kita tidak modern? Apakah jika kita menolak untuk mengikuti trend, maka kita layak diberi label kuno?"

Menurut Cak Dai, modern itu ekonomis, efisien, adil, dan tentram. Sejahtera adalah ketika semua tercukupi, tapi belum tentu adil. Dan itu semua telah dilaksanakan oleh Baduy sejak lama sekali. Jadi, mana yang lebih modern dan berpikiran maju, Indonesia apa Baduy? Ingat, tak pernah terdengar kasus korupsi di Baduy.

Kita terlalu mudah terhegemoni keinginan pasar, sebab dunia kita telah menjadi maya. Begitu mudahnya kita melabeli diri orang lain dengan kalimat-kalimat pendek seperti, "Dasar kuno." Bahkan meskipun kita tak paham dengan apa yang dimaksud kuno, modern, atau maju, dengan mudahnya kita memaksa untuk modern dan mengolok-olok mereka yang dianggap kuno. Aneh, dan terasa bodoh. 

Modern yang sekarang disepakati secara membabi buta adalah modern yang hanya pencitraan, bentuknya dibuatkan oleh pasar. Adapun Baduy, mereka memiliki 'modern' sendiri, atas gagasan dan pilihan mereka sendiri pula. Mereka ekonomis, efisien, adil, dan tentram.

Ah, dunia kita telah menjadi maya..

24.12.13

Kang Yayat Sudrajat

24.12.13

Dari kiri ke kanan: Saya, Kang Yayat, Uncle Lozz, dan Anggi. Dokumentasi oleh Apikecil

Jika harus menggambarkan sosok seorang Kang Yayat, maka yang ada di benak saya adalah deskripsi seperti ini. Dia tampak segar, memiliki warna kulit, gerak-gerik, dan kelincahan seperti Jackie Chan. Dua kali berganti kaos, selalu mengenakan kaos warna putih. Malam 21 Desember 2013 ketika kami ngopi rame-rame di Rembangan, Kang Yayat mengenakan kaos putih dengan desain tulisan 'Rock Hard' di depannya, serta huruf 75 di pojok kiri bawah.

Satu lagi. Saya teringat arkasala dotkom. Dulu awal-awal ngeblog, saya aktif berkunjung ke sana, sampai akhirnya blog bersejarah itu non aktif, lalu aktif kembali tapi sudah tidak di tangan Kang Yayat. Akang membuat blog baru lagi, arkasala dot net.

Ada yang terasa pahit di malam itu, sepulang dari Rembangan. Tim Sepak Bola Indonesia U-23 dikalahkan oleh Thailand, satu kosong. Nobar di panaongan menyisakan kenangan buruk akan final di SEA Games di Myanmar 2013. Tapi, goal hasil cukitan Sarawut Janthapan memang manis.

Esoknya, 22 Desember 2013. Saya dan Prit menuju ke rumah Uncle Lozz di Balung Lor, berjarak 45 menit naik motor dari rumah saya. Kang Yayat sudah ada di sana, karena malam hari setelah ngopi di Rembangan, Kang Yayat turut Uncle. Yang bobok di rumah si Anggi, Pije, dan enam orang kawan Jember lainnya (Afwan dkk). Pukul 11.30 WIB, sampai juga saya dan Prit di rumahnya Uncle Lozz. Selama perjalanan, kami berpacu dengan mendung yang menggantung. Awan di atas sana terlihat gelap dan suram.

Ketika bertemu (lagi) dengan Kang Yayat, saya sudah tak ingat lagi gumpalan mendung di perjalanan. Pasalnya, Kang Yayat terlihat segar. Habis mandi rupanya. Waktu itu, Kang Yayat mengenakan kaos putih bertuliskan I Love Belitung dipadu dengan celana warna cokelat tua. Tampak di pergelangan tangan kirinya sebuah jam dengan perpaduan warna dominasi hitam dan sentuhan warna cokelat tembaga. Sepertinya, selain warna putih, Kang Yayat juga suka dengan warna cokelat. Entahlah, untuk masalah ini, Mbak Lelly Kurniawati pasti lebih mengerti, hehe.

Hmmm, kenapa saya hanya bicara tentang warna ya?

Cerita selanjutnya. Ada rencana mendadak, meluncur ke Pantai Papuma (Pasir Putih Malikan). Pukul 12.33 WIB, saya, Prit dan Uncle sudah ada di atas mobil warna hitam milik Kang Yayat. Prit duduk di samping kiri Kang Yayat yang sedang mengemudi, berharap bisa memandang lebih luas dan tersugesti untuk tidak mabuk kendaraan. Tapi, pada 13.10 WIB, pertahanan Prit jebol. Syukurlah Kang Yayat tanggap. Dia menghentikan mobil yang sudah dekat dengan gerbang masuk Papuma. Selamat ya Prit, mabuk di Hari Ibu itu keren.

13.23 WIB, kami sudah ada di gerbang Papuma. HTM untuk 4 orang 60 ribu. Kang Yayat yang mbayari. Mator Sakalangkong Kang, terimakasih.

Selama di Papuma, Kang Yayat dan Uncle sibuk memotret apa saja yang dianggap menarik. Sementara itu, saya dan Prit mojok. Saya sempat bertemu dengan beberapa orang yang saya kenal. Ada juga si Wawan Teyeng, sohib saya jaman sekolah dulu. Lama sekali kami tak bersua, sekali berjumpa eh di Papuma.

Ketika telah lelah, kami memilih untuk cangkruk'an di salah satu warung. Saya memilih RM. Sri Rahayu karena memang sudah beberapa kali nongkrong di sana. Waktu itu Kang Yayat memesan satu ikan bakar besar untuk dimakan bareng-bareng, plus nasi putih dan ayam goreng. Berhubung Uncle tidak suka ikan laut, dia memesan telur goreng. Prit menambah menu makannya dengan pecek tempe. Terlihat lapar sekali dia, mungkin gara-gara habis mabuk.

15.25 WIB, kami masuk mobil, untuk kemudian meluncur pulang ke rumah Uncle Lozz. Sepeda motor saya ada di sana. Selama perjalanan pulang, Uncle tertidur. Kang Yayat banyak bercerita tentang Ciamis. Sepertinya dia sedang menghibur Prit, hehe. Sementara itu, di luar mobil, hujan deras mengguyur tanah Jember Selatan.

Sekitar pukul lima sore, Kang Yayat meluncur pulang ke Surabaya. Esoknya, di jejaring sosial facebook, baru saya tahu ternyata Kang Yayat menempuh perjalanan yang sangat lama, 8,5 jam. Wuih, Jember - Surabaya lama sekali? Harusnya perjalanan mobil 200 kilometer tak selama itu. Ternyata Kang Yayat terjebak macet.

Kira-kira pukul setengah tujuh malam, gantian saya dan Prit yang pamitan ke orang tua Uncle. Nuril, adik ipar Uncle membawakan kami jas hujan. Mulanya saya menolak, tapi Ibunya Uncle (Ibu saya juga) memaksa. Ya sudah, saya mengenakannya. Prit tersenyum. Dia tahu, saya paling sebal jika harus mengenakan mantel. Ealah, tak dinyana, selama perjalanan saya bersyukur. Hujan kembali turun dengan mesranya.

Sesampainya di rumah, saya mendapati Anggi nonton tivi sendirian. Ah, jadi merasa bersalah. Tapi Anggi bilang, dia baru bangun tidur. "Tadi pagi sampai agak siangan saya ikutan acaranya anak-anak #SaveGumuk di alun-alun Jember Mas, lalu pulang, tidur. Pije pulang, persiapan selamatan 40 hari adik kandungnya." Kiranya itu yang dikatakan Anggi, saya agak lupa.

Sekitar lima menit kemudian, ada anak-anak SWAPENKA ke rumah kami. Alhamdulillah, rame. Malam itu, Prit memasak sayur lodeh dan pindang goreng plus sambelan, maknyos rasanya. Apalagi dimakan bersama-sama. Baragkali, ketika kami sedang kepedesan oleh sambal buatan Prit, nun jauh di sana Kang Yayat sedang terjebak macet, dan sedang rindu-rindunya pada Mbak Lelly Kurniawati juga ketiga buah hatinya.

20.12.13

Kawan dari Balikpapan

20.12.13
Selasa sore, 17 Desember 2013

Ketika saya menuliskan ini, mungkin kereta api yang membawa Anggi sudah masuk Bangil. Iya, dia menepati janjinya untuk mengunjungi kota kecil Jember. Saya menebak, pastilah Anggi sama seperti kawan-kawan luar kota yang lain, sesampainya nanti di Jember. Akan ada pertanyaan yang membola salju. Apa yang menarik dari Jember? Kulinernya apa saja? Bagaimana dengan budaya tradisionalnya? Apakah JFC mewakili wajah kearifan lokal masyarakatnya? Dan tentu, masih akan banyak lagi pertanyaan yang terlontar.

Anggi Alfonso Panjaitan, blogger asal kota Balikpapan yang berdarah Batak ini terlihat cerdas. Buktinya, dia berkaca mata. Tampak jika Anggi suka membaca buku, menukar satu dua jam waktu bersosialisasinya dengan mendownload ilmu. Hmmm, cerita apa yang bisa saya berikan pada Anggi? Entahlah, apa kata nanti.

Sejam yang lalu saya sempat berkirim sms ke Anggi. Saya ingatkan dia untuk menikmati perjalanan, mengingat di Balikpapan tak ada kereta api.Kalau saya lain. Sejak di dalam kandungan sudah akrab dengan spoor. Benar, kakek saya masinis. Namanya Sura'i. Beliau adalah Ayah dari Bapak saya, Abd. Rohim. Untuk kisah Kakek, akan saya publish di kesempatan yang lain, Insya Allah.

Sekitar pukul enam sore, ada sms dari Anggi. Dia sudah tiba di Stasiun Jember. Sebentar ya, saya jemput dia dulu.

Selasa malam, 17 Desember 2013

Anggi tampak segar bugar. Jadi, agak malaman saya mengajaknya ke acara Launching Majalah Ideas di aula Fakultas Sastra Universitas Jember. Kami tidak lama di sana. Setelah itu, bergeser ke Naong Kopi. Dari Naong, pulang ke panaongan, lalu ngobrol sampai pagi. Rame. Ketika mentari mulai bersinar, satu persatu dari kami mulai memejamkan mata di atas karpet warna merah.

Rabu, 18 Desember 2013

Kawan-kawan Pers Mahasiswa Jember lagi punya gawe. Sharing soal struktur "news reports" bersama Mas Andreas Harsono. Bertempat di LPM Alpha Fakultas MIPA Universitas Jember. Anggi saya ajak serta untuk merapat di acara tersebut. Alhamdulillah, rupanya Anggi menikmati betul acara tersebut hingga tuntas.

Sorenya kita bergeser, ngopi rame-rame di warung Bu Lik (sebuah warung yang ramai, lokasinya ada di dalam areal Universitas Jember). Lalu saya dan Prit pulang, sementara Anggi turut Pije ke rumahnya, di Puger.


Bersama Mas Andreas Harsono - Dokumentasi Persma Jember

Malam harinya, kawan-kawan Persma dan juga adik-adik saya dari pencinta alam SWAPENKA kumpul jadi satu di panaongan. Rame. Pije dan Anggi juga sudah kembali ke panaongan. Hadir juga  Mas Anik. Dia bercerita perihal persahabatannya dengan orang-orang keren di Baduy Dalam. Alhasil, kami kembali tidur pagi dan bangun siang hari.

Pada hari kamis, 19 Desember 2013, tak banyak yang kami lakukan. Hanya ngobrol-ngobrol santai saja. Saya bercerita tentang Jember, Anggi berkisah tentang Balikpapan. Dia bahkan meluangkan waktu untuk berbagi cerita tentang legenda (asal-usul) kota Balikpapan pada kawan-kawan kecil saya, Rini dan Nina. Juga mengajari mereka mengarang indah. Hmmm, apalagi ya? Ohya, sorenya kami sempatkan ngopi di puncak rembangan.

Sekarang sudah masuk hari Jum'at, 20 Desember 2013 pukul 03.23 WIB. Anggi tertidur pulas di samping kanan saya, masih di atas karpet warna merah. Pije, Arus, dan Pemes juga sudah terlelap. Fanggi tidak menginap di panaongan. Dia pulang sejak tadi. Yang terjaga hanya tinggal saya, Prit, dan Bang Faisal Korep.

Nanti siang sehabis Jum'atan saya dan Prit ada acara di SMKN 1 Jember. Masih seputar jurnalistik. Mau ngajak Anggi, nggak tega. Sepertinya dia sedang ingin jalan-jalan. Jadi, saya sarankan dia seharian nanti untuk berpelesir bersama Pije, menikmati kota kecil berhati luas, hehe.

Sudah ah, saya istirahat dulu.

Dadaaaah, twing!

17.12.13

Jember Banget

17.12.13
Jadi ceritanya, saya sedang menjadi juri Proyek Ngeblog #JemberIstimewa yang diadakan oleh seorang kawan bernama Oyong. Saya memanggilnya Cak, karena semua orang memanggilnya begitu. Proyek tersebut digelar untuk menjemput HUT Jember yang ke-85, pada 1 Januari 2014.

Cak Oyong menyandingkan saya dengan Mak Eja, eMak'e Jember Banget, yang sampai detik ini masih setia mengapresiasi potensi-potensi cantik yang dimiliki Jember.

Mudah untuk mencari tahu siapa dan bagaimana sepak terjang Mak Eja dan juga Jember Banget-nya. Kita hanya butuh googling, maka selesailah sudah. Eits, tapi saya belum pernah mencobanya ding! Saya banyak tahu tentang Jember Banget (selanjutnya akan saya tulis JB saja) justru dari obrolan rekan-rekan Jember, ketika cangkruk'an di warung kopi. Bukan hanya tentang JB, saya juga jadi tahu tentang Biru Daun, dan sederet lagi. Itu semua berkat cangkruk'an, bukan semata-mata dari mesin pencari.


Temancok Raa Kah - Koleksi Foto Pije

Pernah suatu hari Pije datang ke Panaongan dengan mengenakan kaos warna hitam yang dibagian tengahnya (tampak depan) ada tulisan seperti ini; "Temancok Raa Kah!" Ahaha, tulisan itu menghibur saya. Iya, saya kepingkel. Bahkan saya bisa mengimajinasikan bagaimana semisal saya yang mengucapkannya. Kaos yang berhasil menyampaikan pesan. Kaos yang sederhana, adopsi dari Bahasa lokal Madura yang sudah akrab di pelukan masyarakat Jember. Dapat saya bayangkan ketika para penyelenggara daerah yang sekarang sedang getol-getolnya mewacanakan untuk merubah wajah Jember ke arah industri tanpa memusingkan efek sampingnya pada alam, mungkin kata 'tak berdaya' terakhir yang bisa saya ucapkan hanyalah Temancok Raa Kah. Ahaha, bercanda.

Lupa, translate-nya kancrit. Temancok itu artinya tahi ayam. Temancok raa kah biasa digunakan untuk menyikapi para PHP, dan atau untuk apapun. Sejauh pengetahuan saya selama bertumbuh di Jember, belum pernah ada peperangan yang dimulai dari kata-kata umpatan ini. Maklumlah, kata temancok raa kah biasanya hanya digunakan di saat-saat yang santai, bukan di forum-forum resmi. Don't worry, semua baik-baik saja.

Lokasi JB saat ini ada di pojok kantor DPU Bina Marga, menghadap ke utara. Ruangannya kecil tapi memikat. Di depannya didominasi oleh kaca bening, jadi kita bisa menengok hampir semua koleksi JB dari luar. Seperti aquarium. Atau, mirip lokalisasi Dolly di Surabaya. Ahaha, jangan ah, jangan Dolly. Ya, mirip distro pada umumnya, seperti itulah.

Kantor DPU Bina Marga sendiri menghadap ke barat, tepat di pinggir Jalan Raya PB Sudirman Jember. Di kanan kiri Bina Marga (seharusnya) ada bangunan sarat sejarah. Sisi kanannya ada Penjara, Lembaga Pemasyarakatan. Sisi kiri ada LBB Technos. Dulunya, di atas tanah LBB ini berdiri sebuah Gudang Garam. Hampir setiap hari, sebagian masyarakat Jember wilayah kota antri di sini, hanya agar bisa membeli garam. Di era 1920an masyarakat antri untuk menukar kupon dengan garam. Kata Akung, Gudang Garam masih eksis hingga masa sebelum 1965. Sayang ya, bangunannya tak bisa dipertahankan. Barangkali nasibnya sama seperti Sekolah Chung Hwa (1911 - 1965) di Jember. Sekarang lokasi Sekolah Chung Hwa digunakan sebagai kompleks pertokoan Mutiara Plaza Jember, Jalan Diponegoro, dekatnya Johar Plasa. Cung Hwa terpaksa tutup antara tahun 1965 - 1966, saat kondisi perpolitikan di Indonesia diwarnai oleh penumpasan PKI. Di masa itu, banyak gedung-gedung yang beralih fungsi.

Tepat di seberang jalan di depan Bina Marga, ada SMP 2 Jember. Ini adalah salah satu sekolah tua di Jember. Dulunya HIS, sekolah dasar yang diperuntukkan terutama bagi anak-anak pegawai negeri pribumi. Inlander, menurut istilah Belanda.

Ohya, adakah yang pada masa kecilnya, ketika merengek ingin masuk sekolah, oleh orang tua disuruh memegang kuping kiri dengan tangan kanan? Gagasannya begini. Jika ujung jari tangan kanan sukses menyentuh kuping kiri, maka kita sudah boleh sekolah. Kirain dulu ini hanya pinter-pinternya Ibu saya saja dalam mengulur waktu, ketika saya merajuk ingin sekolah. Ternyata metode itu peninggalan sistem pendidikan Belanda, hehe. Entah apakah itu benar-benar metode bawaan kolonial atau mereka mengadopsi tradisi Nusantara, saya tidak tahu. Yang pasti, banyak orang yang masih memiliki kenangan dengan metode yang satu ini. Syarat masuk sekolah dasar, baik Sekolah Desa (Ongko Loro) maupun HIS, atau MULO (sekolah dasar yang lebih luas), atau jenis-jenis sekolah dasar yang lain, harus berusia 7 tahun. Sebelum berusia 7 tahun, Pihak Belanda melarang. Sebab usia sebelum tujuh tahun adalah usia bermain, dimana otak kanak-kanak manusia masih ibarat superspoon, mudah menyerap apa saja dengan cara bermain.

Saat ini gedung SMP 2 Jember sudah mengalami banyak renovasi. Nasibnya sama seperti SMKN 4 Jember yang ada di seberang Radio Kartika, hanya tersisa gedung tua di sisi depan saja. Agak masuk lagi, sudah bangunan baru. Saya pernah berkunjung ke sini pada 27 Mei 2013, di jam aktif sekolah, hanya untuk inguk-inguk bangunannya. Terima kasih Bapak Sunyoto Sutyono, Kepala Sekolah SMKN 4 Jember, yang telah memberi ijin kunjungan.

Balik lagi ke SMP 2 Jember. Saya teringat dongeng Eyang Roekanti pada 12 November 2012. Saat itu beliau banyak berkisah tentang Jember Jadul, hingga kisah tentang SMP 2 Jember. Menurut perempuan sepuh yang lahir di Ngawi pada 26 Januari 1918 ini, HIS di kota Jember ada dua. Satu di bangunan yang sekarang ditempati SMP 2 Jember, satunya lagi di gedung yang sekarang ditempati oleh SMP 1 Jember. Dua-duanya mendapat asupan Bahasa Belanda, ditembah lagi dengan Bahasa Daerah. Masing-masing HIS satu Bahasa Daerah, Jawa dan Madura. Itu menurut Eyang Roekanti. Kabar duka tentang Eyang Roekanti saya terima pada awal September 2013 yang lalu. Beliau meninggal dunia di usia 95 tahun. Selamat jalan Eyang, doa kami bersamamu. Terima kasih atas kisah-kisahnya tentang Jember tempo dulu.

Di kesempatan yang lain, pernah saya ceritakan tentang sosok Soemarno Sosroatmodjo, Kakek Bimbim yang bersekolah di HIS Jember. Entahlah beliau sekolah di HIS yang mana, saya tidak tahu pasti. Yang saya ingat, beliau punya sahabat karib bernama Supeno, anak Mantri Opium Verkoopplaats, Mantri Candu di Jember. Itu adalah jaman dimana Pemerintah Hindia Belanda jualan candu, untuk memperkaya diri dan untuk memelihara kebodohan bangsa terjajah.

Supeno tidak bersekolah di HIS, melainkan di ELS Jember, sekolah Londo yang lebih keren dari HIS. Supeno mati muda, sebelum dia tamat ELS. Masih sangat bocah. Dia terkena penyakit Typhus Abdominalis, sebuah penyakit yang pengobatannya masih sukar sekali di awal 1920an.

Kakeknya Ahmad Dhani juga menghabiskan hidupnya di Jember, hingga ajal menjemput. Beliau adalah Freddy Rudi Paul Köhler, Ayahanda Joyce Köhler, Mamanya Dhani. Freddy Rudi Paul Köhler mengabdikan seluruh hidupnya di kota kecil Jember sebagai guru / pengajar. Beliau meninggal dunia di Jember tahun 1959. Pada antara tahun 1983 - 1984, makam beliau dipindahkan ke Bogor.

Lanjuut...

Di sisi kiri SMP 2 Jember ada toko roti Jeanette. Orang-orang Jember lebih senang menyebutnya SIANET. Susah di lidah jika harus melafalkan Jeanette. Hmmm, jadi ingat roti kesukaan Bebeh. Saya pernah menuliskannya di sini.

Kalau ngomong tentang toko roti di Jember, selain Wina, saya ingat toko roti Sentral. Lokasinya di Jalan Raya Sultan Agung. Di toko ini dipajang foto seorang atlit sepak bola kesukaan Bapak saya. Dialah Tee San Liong, pemain Persebaya yang semasa hidupnya tinggal di Jember. Ya di toko roti sentral itu, milik adiknya sendiri.

Kata Bapak, di masa kejayaannya dulu, San Liong dan rekan-rekannya berhasil menghadang Uni Sovyet dengan 0:0 di Olympiade Melbourne, 1956. Waktu itu strategi Indonesia adalah bertahan total, dengan pemain bintang bernama Ramang dari PSIM Makassar. Selain Ramang, satu lagi pasangan maut San Liong adalah Djamiat Dalhar.

"San Liong iku sempat nglatih Persid lho le. Tapi de'e kereng, metode latihane keras. dadine akeh sing gak wani nang San Liong," kata Bapak.

Entah itu terjadi tahun berapa, mengingat Persid baru ada tahun 1952. Yang jelas, saya tidak mengatakan 'siah maktakker!' di depan Bapak. Mungkin di tahun 1970an. Atau di tahun 1978, ketika ada demam World Cup di televisi hitam-putih. Iya, kabarnya ada deman sepak bola. Mungkin gara-gara waktu itu adalah siaran langsung pertama World Cup di Pulau Jawa, di masa jaya Mario Kempes, pemain Argentina. Entahlah, saat itu saya bahkan masih belum lahir.

Kembali ke JB

Saya punya beberapa teman di sekitar JB. Kata mereka, lokasi itu biasa disebut Pasar Contong. Jadi begini. Ada satu jalan yang kemudian bercabang, kalau ke kiri menuju Hotel Nusantara, kalau ke kanan menuju stapsiun (dulu istilahnya SS, Staats Spoor). Nah, diantara cabangan jalan beraspal ini kalau pagi selalu diramaikan oleh para mlijo beserta para pembelinya. Biasanya para pembeli terdiri atas ibu-ibu. Lokasinya yang seperti contong kacang membuat pasar kecil ini dikenal sebagai Pasar Contong. Dan distri JB ada di sekitaran sana.

Kabar baik bagi Anda yang datang ke Jember dengan memanfaatkan jasa kereta api. Karena setelah Anda turun dari Stapsiun Jember, Anda cukup jalan kaki menuju JB. Yang datang ke Jember dengan dengan naik bus dari arah Surabaya, Anda akan diturunkan di Terminal Tawang Alun Jember. Anda tinggal memilih, mau naik taksi atau angkot kuning bernama Lin. Katakan saja pada supir jika Anda hendak turun di perempatan SMP 2 Jember. Nah, selesai! Jangan percaya GPS. Percayalah pada Abang Becak / Ojek yang mangkal di sana. Tanyakan, dimana JB. Maka Anda akan ngguyu-ngguyu dewe sebab yang dicari sudah ada di depan mata, meskipun agak ndlesep sedikit.

Selanjutnya..

Semoga teman-teman JB tidak tahu, betapa dulu ketika saya masih kecil, saya sering pipis di pojokan kantor Bina Marga. Ya di lokasi yang sekarang ditempati JB, ahaha. Saya bahkan masih bisa mengingat siapa saja karyawan Bina Marga yang dulu tinggal di dalam areal kantor. Itu dulu, ketika saya masih kecil dan masih sering ikut Bapak, ndelok slender kuning.

Dari sekian banyak karyawan Bina Marga, ada satu yang sulit untuk saya lupakan, meskipun beliau sekeluarga tidak tinggal di areal kantor. Beliau adalah Bapak Sucipto, akrab dipanggil Pak Cip. Pernah terjadi, ketika saya masih kecil, 'burung' saya ujungnya kecepit resleting. Saya berok-berok, tapi bingung mau ngapain. Gerak sedikit sakit. Akhirnya, dengan penuh kesabaran, Pak Cip turun tangan. Beliau meniup-niup burung istimewa saya hingga ujungnya lepas dari resleting. Alhamdulillah. Mungkin, seperti itulah rasanya dijajah Belanda. Sakit dan menyebalkan!

Beberapa bulan yang lalu, ada saya dengar kabar kabar duka, Pak Cip meninggal dunia karena stroke. Selamat jalan Pak Cip. Terima kasih.

Besar sedikit, saya sudah tidak mau diajak Bapak ke tempat potong rambut yang populer dengan nama Kantin. Lokasinya dekat sekali dengan Bina Marga / JB, dekat pula dengan Toko Buku yang lokasinya nylempit, Santo Jusuf. Pasalnya, ketika saya cukur rambut di Kantin, oleh tukang cukurnya ditanya begini. "Mau cukur gaya apa Mas?" Mulanya senang. Saya merasa besar hanya gara-gara dipanggil Mas oleh tukang cukurnya. Lalu saya mulai menunjuk salah satu poster yang terpasang berjajar di tembok Kantin. "Ini Mas, saya mau cukur gaya ini," kata saya. Berikutnya, saya sudah duduk di depan cermin besar, dikemuli sama kain warna ijo tua, baru kemudian prosesi potong rambut dimulai. Dan hasilnya? Cuplis!! Ya, saya marah tapi diam. Pandangan saya tidak bersahabat. Padahal saya sedang memandang diri saya sendiri di dalam cermin. Oh my God! Kepala saya bagian belakang terasa isis, tak ada poni, yang ada hanya jumbulnya saja. Saya tidak suka.

Agak gedean lagi, saya mulai petakilan. Ini adalah masa-masa metehek yang memalukan. Belajar merokok, tapi tidak pernah berhasil. Dibanding kawan-kawan sebaya yang lain, saya terbilang terlambat. Baru lulus SMA (dan sudah kerja jualan burjo) berani ngebbul di depan Bapak. Pernah suatu kali saya melintasi Pasar Contong menuju tokonya Mami (deretan toko yang menghadap ke selatan) hendak membeli anggur kolesom cap orang tua. Waktu itu, AO tersebut bukan untuk saya. Tiba di toko yang dimaksud, saya ketemu sama Om Ton, rekan kerja Bapak. Om Ton menyapa saya, tapi saya keburu ngacir, nggak jadi beli anggur kolesom, haha.

Kadang saya ke pojokan Pasar Contong, di loak besi tua. Biasanya sih jual botol atau kertas bekas untuk beli rokok. Waktu itu, pegang uang 5 ribu sudah mewah. Masih jauh dari tragedi krisis moneter. Lima ribu sudah bisa bikin saya gaya-gayaan. Macak koboi. Ndo-londoan kalau kata Didit. Apalagi kalau hari senin siang sampai sore. Punya duit limang ewu sudah bisa mejeng di food bazar Johar Plasa sambil lihat anak-anak SMA pada antri beli tiket murah senenan (khusus hari Senin), lihat bioskop di Cineplax 21 Jember. Memang maknyos rasanya bisa nonton bioskop di 21, di bangku empuknya yang berwarna merah hati. Saya beberapa kali merasakannya.

Era 1990an yang indah, dengan lagu-lagu slow rock-nya yang juga tak kalah indah.

Saya semakin bersentuhan dengan Pasar Contong, Kampung Using, dan sekitarnya. Sebab di masa SMA, saya lebih banyak tinggal di Kreongan, rumah Mbak Uti dari pihak Bapak. Letaknya di belakang pabrik es, atau bisa lewat STM lama (sekarang bangunannya dipakai SMP Negeri 10 Jember, sejak tahun 1991). Dari sana, saya biasa jalan kaki ke Jalan Raya, begitu biasanya orang Jember menyebut Jalan Sultan Agung. Kata Bapak, dulu lebih dikenal Rasulta, singkatan dari Raya Sultan Agung. Jalur alternatif ketika pulang dari Jalan Raya Sultan Agung menuju pabrik es Kreongan, biasanya lewat Pasar Contong, terus melintasi Jalan Wijaya Kusuma, jalan dimana di sepanjang jalurnya ada banyak rumah-rumah tua Belanda. Dari Wijaya Kusuma terus pulang ke rumah Mbah Uti, melintasi persawahan puteran spoor. Ohya, dari rumah Mbah Uti ke Pasar Contong hanya sekitar 10 menit jalan kaki.

Kenapa saya senang memilih jalan alternatif Pasar Contong? Kalau malam, pemandangannya indah. Dari Gedung Penjara hingga Kantin Cukur (sekarang Pujasera) suasananya nyaman. Lampu-lampu kotanya berwarna kuning, bukan putih. Sehingga akan tetap memberi cahaya meskipun turun kabut tebal. Sepanjang kawat listrik dipenuhi oleh burung-burung kecil yang saling ndusel mencari kehangatan. Kabar buruknya, di pertengahan era 1990an, semakin banyak saja pemuda pemuda-pemuda Jember yang menenteng senjata angin dan menghabisi burung-burung kecil yang berjajar berderet-deret itu. Akhirnya, habislah sudah. Burung-burung itu mengalami nasib buruk di kota santri. Sekarang nasibnya hendak disaingi oleh GUMUK, candi ekologis milik warga dunia yang dititipkan oleh Tuhan di tanah Jember.

Adapun cerita tentang penjara di Jember, saya tidak tahu banyak. Yang saya tahu, bangunan itu menyeramkan dan terlihat angkuh. Pernah saya baca di sebuah buku, tapi bukan tentang penjara Jember kota, melainkan penjara di Kasiyan Lor, Jember Selatan, di era 1911 hingga 1920an. Dituliskan di sana, pada hari-hari minggu penjara tampak ramai. Banyak keluarga pesakitan yang datang menjenguk. Mereka membawa bingkisan. Pada hari-hari tertentu dilangsungkan hukuman pukulan. Orang hukuman yang dianggap menyalahi peraturan penjara disuruh berdiri menghadap papan, sementara tangan dan kakinya diikat pada papan itu. Orang-orang hukuman lainnya dikumpulkan dan duduk di sekelilingnya. Sebuah pengumuman dibacakan keras-keras. Punggung orang yang terikat pada papan itu lantas dipukuli dengan rotan berkali-kali. Kadang-kadang sampai berdarah. Ah, mengerikan. Pastilah sakitnya seperti burung yang kecepit resleting.

Kembali ke paragraf pembuka tulisan ini. Saya dan Mak Eja jadi juri Proyek Ngeblog #JemberIstimewa. Memang, apa istimewanya Jember? Sebenarnya, setiap tempat bisa kita bikin indah. Semua tergantung dari mana kita memandangnya. Sebab saya seorang pencinta alam yang kebetulan suka sejarah, maka saya akan menyebutkan keistimewaan sebuah daerah dari potensi alam dan sejarahnya. Misal, Jember. Saya senang mengamati kecantikan gumuknya. Apalagi akhir-akhir ini, hehe.

Sedari kecil saya selalu bertanya-tanya, kenapa seringkali ada saya dapati kuburan di puncak gumuk? Ada juga kuburan yang tak persis di puncaknya. Ada yang di kaki gumuk, ada juga yang di tengah tapi memiliki bidang datar. Ketika saya besar, barulah saya tercerahkan, sedikit demi sedikit. Oh ternyata ketinggian makam berpengaruh pada tingginya derajat orang itu di mata masyarakat, ketika ia masih hidup. Atau, semakin tinggi lokasi kuburannya, semakin tinggi pula cara keluarga (orang-orang yang menyayangi) dalam memperlakukan si mati.

Tak heran jika di perbukitan Watangan - Wuluhan, tepatnya di Gua Sodong, pernah ditemukan tengkorak manusia ciri ras Austromelanosoid. Oleh para ahli, tempat ini diperkirakan pernah dijadikan pemukiman masyarakat prasejarah. O'ow, keren. Tebakan saya, hal ini berlanjut pula di masa ketika manusia-manusia Jember telah mengenal tulisan. Mereka masih senang memperlakukan dengan baik mereka yang dianggap berkarakter di mata masyarakatnya. Pemberian kehormatan itu terus berlanjut hingga orang yang dimaksud meninggal dunia. Lebih ke arah pengkultusan.

Sekarang mari kita sentil sedikit tentang Prasasti di Jember. Selain keberadaan Prasasti Congapan di Kecamatan Sumberbaru (data tertua yang berangka tahun, 1088 Masehi), ada pula Prasasti Batu Gong. Letaknya ada di bagian bawah gumuk di pinggir jalan besar Dusun Kaliputih, Rambipuji. Muda-mudi Jember yang biasa kulak baju babebo pastilah mengerti dimana itu Jatian Kaliputih. Nah, lokasi Batu Gong tak jauh dari babeboan (baju bekas bos).

Ada dua pendapat populer mengenai usia Batu Gong yang ditemukan di Jember. Pendapat pertama dari W.F Stutterheim, seorang Arkeolog Belanda. Dia bilang, Batu Gong diperkirakan ada sejak abad ke VII, merupakan Prasasti tertua di Jawa Timur. Satu pendapat lagi dari Arkeolog India bernama Himanshu Bhusan Sarkar. Dia mengatakan Prasasti Batu Gong berasal dari abad V Masehi, sejaman dengan Prasasti Tarumanegara di Jawa Barat. Wew, pendapat yang lebih menarik lagi. Terlebih, sebenarnya lokasi Prasasti Batu Gong tidak terlalu jauh dari kompleks percandian di Gumuk Mas. Barangkali ada keterkaitannya.

Pantaslah jika para Arkeolog mengistilahkan Jember tempo dulu sebagai Topographia Sacra, sebutan untuk daerah suci atau sakral, tempat dimana orang-orang hebat menempa diri, tak peduli dia lahir di Jember atau tidak. Dan semisal gumuk sudah ada sejak dulu kala (secara teori, seharusnya gumuk sudah ada), saya yakin gundukan penuh makna ini menjadi salah satu tempat favorit untuk mereka yang menempa diri.

Begitulah wajah sederhana Jember, yang diuntungkan dengan bentang alamnya. Biar lebih asoy lagi, untuk bisa memahami Jember, kita juga butuh memahami kota-kota di sekitarnya, dan mencintainya. Jangan biarkan sepak bola merusak segalanya, eh. Harapannya, dengan meletakkan dasar-dasar kecintaan pada kota yang kita tinggali, maka kita akan mencintai dunia yang berbangsa-bangsa. Sangat indah jika kita juga menyediakan diri menjadi warga dunia yang baik.

Jadi, apa istimewanya Jember? Apakah dari musiknya, tari-tariannya, kulinernya, Bahasanya, gumuknya, atau apanya? Entahlah. Mari kita tanyakan itu pada 'Jember Banget' yang bergoyang.

Sithik Engkas!

Rumah maya Jember Banget bisa dikunjungi di sini.

12.12.13

Musisi Jalanan Banyak Sekali

12.12.13
Rupanya Prit memperhatikan tingkah saya. Setiap kali ada pengamen Jogja mendendangkan lagu milik KLA Project, saya selalu resah merogoh isi kantong, barangkali ada uang recehan. Tapi jika ada pengamen lain mendendangkan lagu yang berbeda, apalagi tampil asal-asalan, saya terlihat lebih santai.

Ada apa dengan lagu Jogjakarta?

Kepada Prit saya katakan, saya senang mendengarkan gubahan mereka pada lirik 'musisi jalanan mulai beraksi.' Di Jogja, lirik tersebut berubah menjadi seperti ini; musisi jalanan banyak sekali. Dan itu benar adanya. Sederhana, tapi sukses menggambarkan kenyataan hidup di lingkungan pengamen Jogjakarta. Seperti ada perjanjian tertulis, semua musisi jalanan Jogja melafalkan lagu tersebut dengan lirik seperti itu.

Hari ini, ketika saya menuliskan catatan ini, kami kembali terlempar pada masa yang silam, tujuh tahun yang lalu. Saat itu ada tersiar kabar bahwa ada peristiwa gempa bumi tektonik di Jogja dan sekitarnya. Terjadi pada 27 Mei 2006 kurang lebih pukul 05.55 WIB, dan berlangsung selama 57 detik. Indonesia menangis lagi, setelah sebelumnya, 26 Desember 2004, bencana gempa dan tsunami melanda Aceh. Bendera setengah tiang pun kembali tertancap di hati masyarakat negeri ini.

Esoknya, 28 Mei 2006, saya merapat ke Jogja, satu rombongan dengan kawan-kawan SAR OPA Jember. Kisah sepintasnya pernah saya tuliskan di sini.

Waktu itu, saya dan Prit masih belum menikah. Hanya saja, kami memiliki hubungan yang abstrak, seperti lukisan Van Gogh yang berjudul The Potato Eaters (1885). Berat rasanya meninggalkan Prit (dan Elis, sahabat Prit) ke Jogja sementara mereka berdua sedang ada di kondisi keuangan yang buruk. Iya, waktu itu isi dompet Prit menjelang maghrib. Ibarat mahasiswi era 1980-an, dia sedang rindu wesel.

Kepada beberapa orang yang saya temui menjelang keberangkatan ke stasiun, kepada mereka saya titipkan Prit dan Elis. Juga kepada Imam penjual lalapan sekitar Sastra, juga saya wanti-wanti untuk memberi porsi makan malam pada Prit dan Elis. Masalah mbayar belakangan, hehe. Kelak, saya baru mengerti, ketika saya di Jogja, mereka hidup nyaman layaknya putri seorang Sri Sultan.

Lalu saya tiba di Jogja, 28 Mei 2006 sore. Rombongan kami langsung bergerak menuju Kantor Gubernur, kami bermalam di sana. Malam harinya, saya, Kartolo, dan beberapa orang teman memilih untuk nongkrong di Malioboro. Kami tidak bisa tidur, sedangkan Kantor Gubernur ada di wilayah Malioboro. Jadi ada baiknya bagi kami untuk menikmati sepi di tempat legendaris yang terkenal akan keramaiannya ini. Iya, ketika itu di Malioboro hanya ada saya dan beberapa orang kawan saja. Mahluk hidup lain yang mudah kami temui hanyalah kucing.

Kesunyian itu tak bisa kami ulangi lagi. Sebab, keesokan harinya, sudah ada denyut perdagangan di Malioboro, meskipun hanya di beberapa titik saja. Ada kabar yang sempat saya dengar dari seorang pedagang angkringan, itu adalah anjuran dari Ratu Hemas. Beliau ingin menunjukkan pada dunia luar bahwa Jogja masih sebaik-baik tempat untuk merajut kenangan.

Kembali ke 28 Mei malam, ketika Malioboro sunyi. Saat itu, seorang kawan bernama Kartolo menyiulkan lagu Jogjakarta-nya KLA. Hanya bersiul saja, dan hanya sebentar. Tapi hingga saat ini saya masih mengingatnya. Lagu hebat. Padahal itu lagu lama. KLA memperkenalkannya pada publik tahun 1990, di album kedua mereka.

Esok dan esoknya lagi, saya sudah mengabaikan lagu milik KLA. Kami berpindah-pindah tempat. Seringkali potensi SAR luar kota ditempatkan di Bantul. Sebenarnya rombongan dari Jember mengajukan diri untuk ditempatkan di titik evakuasi korban. Sayang, itu sudah ditangani secara internal, baik oleh angkatan maupun oleh kawan-kawan SAR Jogja.

Minggu kedua di Bantul, ada terdengar kabar bahwa saudara saya sendiri (Anton, anggota SWAPENKA) yang rumahnya ada di Klaten juga berpredikat sebagai korban bencana. Saya, Ananda Kernet, dan tiga orang teman lagi, mengajukan diri pada Komandan SAR OPA Jember untuk membuat kelompok kecil dan hendak merapatkan diri di Klaten. Dalam waktu yang lumayan singkat, kami mendapat ijin. Masing-masing dari kami berlima mendapatkan selembar surat legal formal yang di bawahnya tercantum tanda tangan seseorang bernama Dainuri.

Sebenarnya, surat itu bisa saja kami gunakan untuk naik angkutan gratis, tidur di instansi seperti Polsek, dan beberapa hal mendesak lainnya. Tapi itu tak pernah kami lakukan. Masih ada Ananda Kernet. Dia pandai sekali mencari mobil tumpangan buat kami, entah itu mobil pick up atau truk. Ini lebih baik dan lebih membahagiakan, pikir saya.

Empat tahun berikutnya, Oktober 2010, ketika ada bencana Merapi, saya merapat ke lokasi hanya berdua saja dengan Ananda Kernet. Ketika itu, kami juga sempat nunut mobil dengan bak terbuka dari satu titik ke titik yang lain, tapi hanya dua kali saja. Untuk yang lain-lain, kami berdua lebih senang memanfaatkan transportasi yang ada milik berbagai panitia penanggulangan bencana.

Kisah-kisah di atas, yang saya tuliskan secara padat memang tidak mewakili gambaran lirik lagu Jogjakarta secara utuh. Dari temanya saja berbeda. Lagu itu juga tidak berhasil memancing saya untuk merindukan Prit (ups!). Namun ketika kawan-kawan musisi jalanan menyanyikan lagu itu dengan sedikit gubahan lirik, saya menjadi sangat tertarik. Ketika sampai pada lirik 'musisi jalanan banyak sekali,' saya teringat pada suasana Malioboro yang sunyi sepi. Entah saat itu para musisi jalanan sedang berdendang dimana, baru esok harinya mereka mulai bermunculan mendendangkan lagu-lagu peneduh hati.

Musisi jalanan banyak sekali. Lirik tersebut sukses membawa kembali kenangan akan seorang kawan bernama Kartolo. Dalam bayangan saya, dia sedang bersiul sambil sesekali menendang sesuatu yang terserak di tengah trotoar. Ah, Kartolo. Kabar terakhir, dia ada di Bima. Saya selalu mengenangnya ketika sedang berdendang. Dia sangat pandai bernyanyi, memetik gitar, dan meniup harmonika.

Tadinya saya mengira lagu Jogjakarta tidak akan masuk daftar winamp seorang Ananda Kernet. Dia seorang punk yang mengerahkan seluruh pola pikir dan gaya hidupnya untuk memberi penghormatan pada kebenaran. Dia juga seorang gerilyawan lingkungan yang mantan pengamen jalanan. Sulit sekali memergokinya menyanyikan lagu cinta. Nyatanya, Ananda Kernet menaruh simpati sedalam-dalamnya pada lagu Katon Bagaskara yang berjudul Usah Kau Lara Sendiri. Jadi, ada kemungkinan dia akan suka mendengarkan penggalan lirik dari pengamen Jogja, musisi jalanan banyak sekali. Saat ini Ananda Kernet kembali lagi ke Sokola Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas. Semoga baik-baik saja.

Jadi Prit, itulah kenapa Setiap kali ada pengamen Jogja mendendangkan lagu milik KLA Project, suamimu ini selalu resah merogoh isi kantong, berharap masih tersisa selembar uang ribuan.

Sudah ah. Maaf jika cerita kali ini terkesan meloncat-loncat. Ternyata tak selamanya mudah, menulis sambil mengunduh kenangan yang telah lama lewat dalam waktu yang bersamaan.

Salam saya, RZ Hakim

10.12.13

Sepulang Dari Jogja: Menstruasi dan Mimpi Basah

10.12.13
Senin malam, 2 Desember 2013, kembali pulang ke pelukan kota seribu gumuk, Jember. Di rumah, sudah ada dua kawan menanti. Ngopi? Iya ngopi lagi. Bedanya, kali ini menikmati kopi 'deplok' aroma lokal, bukan kopi joss yang seperti di angkringan tugu Jogja, hehe.

Esok harinya, saya dan Prit kembali ke aktifitas seperti biasa. Kembali bercanda dengan kawan-kawan kecil yang saban sore selalu datang berkunjung ke rumah singgah panaongan. Tidak ada yang berubah. Esok dan esoknya lagi masih juga saya sempatkan untuk jalan-jalan ke pinggiran kota Jember, silaturrahmi ke rumah kerabat.

Ritme-ritme keseharian lainnya juga masih tak jauh berbeda. Cangkruk'an di pinggir sawah, belajar bersama capung dan warga sekitar, menikmati diskusi-diskusi ringan bersama rekan, sesekali mengantarkan Prit berbelanja (kalau pas dia lagi pengen memasak), dan masih sederet lagi.

Jum'at, 6 Desember 2013..

Bermodal bensin satu liter, saya dan Prit cuci mata naik motor dari pelataran rumah hingga kemana-mana, dan berlabuh di kediaman Pak Husein, kepala kampung di sebuah dusun di Kalisat, Jember Utara. Di sana kami terlibat obrolan ringan tentang apa saja, mulai dari gumuk hingga kisah rekan Pak Husein yang pernah menjadi buruh tambang emas di Papua. Sesekali kami mentertawakan kekonyolan penyelenggara negeri ini dalam mengolah kekayaan tanah, air, dan udaranya. Di lain waktu, tampak orang-orang memasang mimik wajah konsentrasi ketika mendengarkan saya bicara. Aneh, padahal saya selalu merasa ngomong dengan santai dan apa adanya.

Kemudian saya dan Prit meluncur pulang. Hari sudah larut malam, sementara spedo motor kelip-kelip pertanda bensin sudah akan habis. Ah, baru ingat, kami tidak membawa uang. Syukurlah saya mempunyai istri yang keren, yang seringkali menyelipkan lembaran uang di tempat yang tidak saya sangka-sangka. Begitulah, hidup terus berjalan.

Minggu, 8 Desember 2013..

Kami mengalami hari yang padat. Terlalu banyak acara, terlalu sedikit waktu. Jadi, saya harus memilih. Begitulah hidup, kita tidak mungkin bisa membahagiakan semua orang, karena sayap kita tak selebar itu. Harus dibuat keputusan. Setelah keputusan diputuskan, maka logikanya akan ada saja yang terputus. Yang tersisa tinggal rasa tanggung jawab kita. Aduh, ngomong apa saya ini. Abaikan!

Ohya, sebelum lupa. Selamat atas usainya reformasi kepengurusan di pencinta alam SWAPENKA, 8 Desember 2013. Senang bisa turut hadir di agenda bersejarah tahunan tersebut. Sukses buat Mas Arus sebagai ketua umum baru, menggantikan ketua umum lama, Mas Bringin. Ahaha, namanya aneh-aneh ya, tapi penuh filosofi. Itulah penggalan kecil budaya di dunia pencinta alam.

Di hari yang sama dan di tempat yang berbeda, Prit sedang menjadi moderator di acara yang bergizi, Talkshow Bank Sampah. Diadakan oleh kawan-kawan OPA MAHADIPA, di Auditorium Fakultas Teknik Universitas Jember. Konon menurut cerita Sentot Mahadipa (salah satu panitia), Prit sukses menjalani perannya hingga bisa memancing para pembicara dari Kantor Lingkungan Hidup, DPU Cipta Karya, dan Bank Sampah Banyuwangi (yang dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan) untuk menyuarakan statemen tentang Bank Sampah (di Jember) ke depan. Wah, keren!

Tentang Menstruasi dan Mimpi Basah

Senin, 9 Desember 2013..

Ada kejadian heboh di rumah singgah panaongan (kediaman kami). Salah satu dari kawan kecil kami, namanya Nina, kelas enam SD, dia sedang mendapatkan pengalaman bersejarah untuk pertama kalinya. Iya, Nina mendapatkan menstruasi di hari pertama. Dia terlihat bingung, malu untuk mengutarakan pada orang tuanya. Anehnya, dia memilih saya dan Prit sebagai teman curhat. Aduh!

Selanjutnya, saya sibuk memikirkan diksi yang tepat pada Nina. Tentang menstruasi, dan tentang bagaimana cara memperlakukan hari-hari selama menstruasi. Beruntung Prit bisa menjelaskan dengan lebih gamblang, tidak sesusah saya. Ternyata benar, sesuatu memang harus diserahkan kepada ahlinya.

Di samping Nina masih ada Lina dan Rini. Lina kelas lima, sementara Rini kelas enam, sama seperti Nina. Jadi wajar jika mereka berdua juga memaksa ikut mendengarkan pembicaraan kami. Yang menjadi sedikit ribet, ada pertanyaan baru dari Lina.

"Mbak Prit, mimpi basah itu apa?"

Lho, kok? Saya melongo, apalagi Prit. Tapi hanya sebentar. Rupanya Lina sedang membaca buku biologi untuk kelas enam SD. Di sana dijelaskan tentang mimpi basah, tapi tidak akurat. Ada kalimat penutup yang membingungkan mereka. Kalau tidak salah ingat, begini bunyi kalimat tersebut; Laki-laki yang sudah mengalami mimpi basah itu berarti produksi spermanya sudah mulai matang dan siap untuk membuahi indung telur sehingga bisa menjadi calon bayi.

Syukur Alhamdulillah, akhirnya saya dan Prit bisa melampaui itu. Memberi jawaban dengan pilihan kata yang sesantun mungkin, tidak tegang, dan berusaha meletakkan dasar-dasar berpikir pada mereka bertiga tentang bagaimana baiknya memberi penghormatan kepada qodrat.

Hmmm, pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan saya ketika masih manten anyar. Betapa tugas yang amat berat sebagai suami itu adalah ketika istri kita sedang datang bulan, merasakan sakit yang dahsyat, sementara kita harus membelikannya pembalut (bersayap) di minimarket. Iya, saya masih ingat betul ketika sedang antri menuju meja kasir. Tampak ibu-ibu muda sedang memperhatikan saya yang berambut gondrong dan berpenampilan PA, sedang menggenggam bungkus pembalut satu pak. Oh, itu tugas mulia yang amat berat jenderal!

9.12.13

Satu Bumi

9.12.13

Senja di Nol Kilometer Jogja

Selain matahari terbit, ada satu lagi suasana yang bisa dengan mudah membuat kita jatuh cinta. Itulah senja. Tak sedikit pegiat seni yang mengeksplorasi senja hanya karena ingin mengabadikan keindahannya. Senja ada dimana-mana. Kadang dia terlihat di pantai, pegunungan, areal persawahan, di celah-celah bangunan kuno, dan di segala tempat yang tidak kita sangka-sangka sebelumnya.

1 Desember 2013, saat senja datang..

Saat itu saya sedang ada di Nol Kilometer Jogjakarta. Angin berhembus mesra, semesra cara pedagang kopi keliling menawarkan dagangannya. Sementara di depan mata, ada barisan mahasiswa-mahasiswi Jogja yang sedang melakukan aksi damai, terkait hari AIDS. Rupanya mereka sedang melakukan aksi teatrikal dan juga long march. Secara kolektif, mereka melakukan ajakan yang tak kalah mesra dengan tawaran pedagang kopi. Iya, mereka mengajak masyarakat untuk menghindari penularan HIV/AIDS, dan tidak diskriminatif terhadap ODHA.

Saya di sudut Nol Kilometer, di tempat yang strategis. Duduk di samping saya dua blogger asal Sukabumi (adik-adiknya Kang Gerri), apikecil, Uncle Lozz, Fanggi, Nandini, Una, Mimi Radial, Bang Korep, Mas Firdaus, dan kawan-kawan pencinta alam Jogja yang berjumpa dengan kami secara tak terduga. Tidak terduga bagaimana? Begini ceritanya.

Waktu itu saya dan Bang Korep sedang asyik nyruput kopi sambil melahap senja yang gurih. Tiba-tiba tak jauh dari kami ada lelaki muda berambut gondrong berkemeja flanel, dia sedang memandangi Bang Korep. Saya heran. Semakin heran ketika Bang Korep yang menyapanya duluan, dengan keraguan yang sempurna.

"Anak Satub ya?"

Dan segalanya pun mencairlah sudah. Iya benar, pemuda gondrong yang dimaksud tersebut memang anak Satub (sebutan untuk pencinta alam Satu Bumi Fakultas Teknik UGM), namanya Sentot. Kemudian kami terlibat perbincangan yang panjang. Sebagai awalan, kami lebih banyak memberi jawaban, kawan-kawan Satub yang melempar tanya. Dan pertanyaan yang selalu mereka ulang-ulang adalah, "Tidur dimana?"

Sedari awal, kami rombongan kecil dari Jember berniat untuk tidur di emperan Nol Kilometer saja, sekalian menemani adik-adiknya Kang Gerri yang dari Sukabumi (entah siapa nama mereka berdua, saya lupa). Bahkan meskipun sudah ada tawaran untuk bermalam di kediaman Mbak Anazkia yang di Jogja, kami tetap ada maksud untuk menikmati malam hingga pagi di Nol Kilometer. Hehe, maaf ya Mbak Anazkia, dan terima kasih.

Saya sungguh paham karakter pencinta alam, begitu pula dengan sedulur Satu Bumi. Kami dibesarkan dengan azas pencinta alam yang sama. Mudah untuk menebak alur pemikiran mereka. Iya, kawan-kawan Satub sedang mengulurkan kemesraannya pada kami. Jawaban terbaik yang ingin mereka dengar adalah kesediaan kami untuk singgah dan berteduh di sekretariat Satu Bumi. Pada akhirnya, kami menjawab demikian, setelah mengerti bahwa Kang Gerri akan menjemput kedua adiknya dan pulang satu mobil menuju Sukabumi. Kepada Mbak Anazkia saya sampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya.

Selanjutnya..

Kami tidak segera merapat ke sekretariat Satu Bumi, melainkan masih menanti Pije. Dia sedang menemani duo gadis yang baru kita kenal, Ria dan Shanty. Mereka sedang berbelanja. Tak dinyana, dua gadis cantik itu akhirnya turut juga bersama kami, bermalam di Satu Bumi. Namun sebelum itu, kami merapat dulu di acara pameran foto dan pemutaran film Pencinta Alam MAPAGAMA, bertempat di Benteng Vredeberg, tak jauh dari Nol Kilometer Jogja. Setelahnya, masih merapat pula di lesehan kopi joss dekat Stasiun Tugu.

Saya, Uncle Lozz, Pije, Bang Korep, Fanggi, dan Sentot Satub, memilih untuk jalan kaki kesana kemari, hingga di tujuan akhir, sekretariat Satu Bumi. Alangkah indahnya menikmati suasana Jogja dengan durasi yang lambat.

Berteduh di Satu Bumi

Meskipun masih muda, sewaktu sekolah di SMA Negeri 1 Kalisat, Fanggi aktif di organisasi pencinta alam EXPA. Saya dan istri, Uncle Lozz, Bang Korep, juga terbiasa tidur di mana saja, apalagi di markasnya pencinta alam. Kami ibarat kembali pulang ke habitatnya, ahaha. Untuk Pije, kiranya dia cepat beradaptasi. Tapi bagaimana dengan dua kenalan baru kami yang cantik-cantik? Iya, malam itu saya berdoa untuk Ria dan Shanty, semoga mereka berdua tidur nyenyak.


Pagi, Satu Bumi, Ria, Prit dan Shanty

Sinar mentari pagi menembus celah-celah jendela sekretariat Satu Bumi. Satu persatu dari kami terbangun dan bersegera menyambut udara pagi. Tak lama kemudian, ada saya lihat Ria dan Shanty juga terbangun. Alhamdulillah, semoga semalam mereka terlelap, mimpi indah, dan nyenyak.

Ria dan Shanty, dua teman yang baru saja saya kenal, dengan perjumpaan yang singkat pula. Tapi dari yang singkat itu ada melahirkan cerita. Sederhana. Yaa, meskipun bukan kisah yang panjang, setidaknya ada yang bisa kita obrolkan semisal nanti mereka berdua singgah di kota kecil Jember, Amin.

Oke lanjut. Kemudian mentari semakin meninggi, sementara tiket kereta api tak bisa ditunda. Pukul sembilan pagi saya, Fanggi, Prit, dan Bang Korep harus segera merapat di Stasiun Lempuyangan. Sementara Uncle dan Pije hendak meneruskan petualangan kecilnya di dua titik yang berbeda.

Sebelum jalan kaki ke stasiun (kami sendiri yang memaksa untuk berjalan kaki), si Sentotmembelikan kami sarapan pagi. Ah, bahagianya bisa makan bersama-sama di Satu Bumi. Terimakasih. Lalu kami segera berpamitan pada keluarga Satu Bumi, juga pada Uncle Lozz, Pije, Ria dan Shanty, yang jadual kepulangannya berbeda.

Ohya, perjalanan dari Satu Bumi ke stasiun masih ditambahi embel-embel salah jalan, hampir putus asa naik taksi lantaran takut ketinggalan kereta (tak terbayangkan betapa cemberutnya Prit kala itu, hanya karena mendengar kata 'taksi' disebut-sebut). Syukurlah, akhirnya sampai juga jalan kaki ke Stasiun Lempuyangan. Horeee...

Kemudian kami sudah ada di atas kereta. Tak lama setelahnya, kereta merambat pelan, mengantarkan kami berempat kembali pada pelukan kota kecil Jember. Terima kasih Jogja, terima kasih panitia Blogger Nusantara, terima kasih sahabat blogger, terima kasih Satu Bumi, terima kasih semuanya tanpa terkecuali.

Salam Lestari!
acacicu © 2014