7.12.13

Fanggi Hanya Ingin ke Jogja

7.12.13

Saya dan Fanggi

Namanya Fanggi. Dia masih muda, baru lulus SMA tahun ini, 2013. Saya baru mengenalnya pada akhir September yang lalu, ketika kawan-kawan Save Gumuk Community menghadiri undangan diskusi di Pencinta Alam SMAN 1 Kalisat, tempat dimana dulu Fanggi sekolah.

Terlahir pada 13 Agustus 1995, memiliki vokal yang bagus, pandai melukis dan merias body painting, bisa membuat sangkar burung sendiri, serta beberapa talenta seni yang lain, itulah gambaran bungsu dari tiga bersaudara ini. Tapi dia memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. "Kasihan Mama," begitu katanya ketika saya bertanya.

"Fanggi, cita-citamu apa?"

"Saya ingin ke Jogja Mas. Hanya itu cita-cita saya sejak kecil."

Ah, Fanggi, bisa aja kau ini, batin saya dalam hati. Di saat kawan-kawannya yang lain berbondong-bondong kuliah, ingin menjadi ini itu, Fanggi malah meletakkan mimpinya pada sesuatu yang harusnya bisa dia jangkau dengan lebih cepat.

Kemudian saya mengajaknya ke Jogja, menghadiri acara Blogger Nusantara 2013. Saya masih ingat betul ekspresi wajah Fanggi kala itu. Iya benar, dia tampak senang. Tak lama kemudian, ada saya dengar kabar, Fanggi menjual sangkar burung buatannya sendiri, agar dia bisa membeli tiket kereta Logawa PP Jember - Lempuyangan.

Hari keberangkatan pun tiba.

Selama di dalam kereta api, mata Fanggi melahap semuanya. Dia ibarat seorang penulis yang lapar akan ide-ide segar. Hmmm, rupanya Fanggi sedang belajar membaca keadaan. Bagus untuk Fanggi. Selamat datang di Universitas Alam Raya ya le. Semoga kau bisa menjadikan semua orang sebagai gurumu, dan setiap tempat sebagai sekolahmu. Tak ada lembar ijasah yang ditawarkan, hanya remah-remah ilmu pengetahuan. Dan entah, akan menjadi apa dirimu nanti, tergantung bagaimana kau memahat jiwa dan memperlakukan kehidupan.

Melihat Jogja Lebih Lambat

Di Stasiun Lempuyangan, meskipun rombongan kecil dari Jember langsung berjumpa dengan panitia #BN2013, namun kami tetap memilih jalan kaki menuju Malioboro. Kabar baik untuk Prit yang hobi mabuk kendaraan, meskipun sebenarnya 'jalan kaki' adalah hadiah untuk Fanggi, agar dia bisa melihat Jogja lebih lambat. Berharap, Fanggi akan memberi penilaian pada kota impiannya dengan detail.

Selanjutnya, jalan kaki adalah pilihan favorit bagi kami semua, tak hanya untuk Fanggi. Dari Hotel Blangkon ke penginapannya Mbak Dey jalan kaki, lalu kembali ke Malioboro juga jalan kaki. Dilanjut jalan kaki ke Stasiun Tugu demi secangkir kopi jos. Di waktu yang lain, kami jalan kaki dari Ngabean ke Nol Kilometer Jogja, kemudian meneruskan jalan kaki dari Nol Kilometer ke Benteng Vredeburg, menghadiri acara kawan-kawan MAPAGAMA. Dari Benteng Vredeburg lanjut lagi ke sekretariat Pencinta Alam Satu Bumi di FT UGM, juga jalan kaki. Paginya masih memilih jalan kaki dari sekretariat Pencinta Alam Satu Bumi ke Stasiun Lempuyangan.

Sesampainya di Jember

Apakah sudah selesai? Tidak juga. Dari Stasiun Jember menuju rumah saya, masih juga jalan kaki. Berharap, Fanggi bisa memberi pandangan yang akurat, perbedaan antara suasana di Jogja dengan keadaan di kota kelahirannya sendiri. Dengan begitu, saya tidak perlu repot-repot menjejali Fanggi dengan setumpuk cerita hingga mulut ini berbusa.

Iba melihat wajah Fanggi yang berlumur keringat, saya berinisiatif untuk mengajaknya nongkrong dulu di Pujasera Jember. Ahaha, rupanya dia senang, langsung ambil posisi selonjor. Ah, Fanggi. Di sini kami kembali ngobrol, di suasana hati yang masih kejogja-jogjaan.

Bagaimana dengan cita-cita Fanggi? Bukankah sekarang dia sudah takpunya cita-cita? Apalah arti seorang anak manusia jika hidupnya gersang akan harapan. Ternyata Fanggi masih memelihara sebuah mimpi. Kali ini dia berkata dengan lantang, "Saya ingin tinggal dan berkarya di Jogja." Wew, rupanya dia tidak main-main.

Lagi seru-serunya berbincang di Pujasera, ada kawan datang menjemput kami. Mas Bajil dan si Nyeg, kawan-kawan dari Kalisat. Mereka menawarkan untuk mengantar kami hingga ke tujuan, tapi saya menolak dengan halus. Saya bilang, kami masih ingin jalan kaki. Begitulah, pada akhirnya kami hengkang dari Pujasera, dan kembali jalan kaki.

Selama perjalanan menuju rumah, kami berhenti di satu dua titik sebab berjumpa dengan beberapa rekan. Seorang sahabat bernama Harto tak tega melihat saya, Prit, Bang Faisal Korep, dan Fanggi jalan kaki. Dia menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada saya. Ketika saya katakan, kami memilih jalan kaki hanya karena ingin menikmati hidup, Harto tak percaya. Ya sudah, akhirnya uang itu masuk ke kantong saya, ahaha.

Lalu kami kembali merayapi jalan-jalan sepi di Jember. Berjarak sekitar dua ratus meter dari tempat nongkrongnya Harto, saya bertemu dengan Mbudi. Rupanya dia sedang nongkrong di Pertigaan Bayangkara. Gila, dia juga menawari saya selembar uang. Apakah wajah saya semelelahkan itu? Ahaha. Untuk kali ini, saya tidak berkompromi. Saya menolaknya.Syukurlah dia mau mengerti.

Setibanya di rumah, masing-masing dari kami langsung beres-beres. Cuci muka, bikin minuman hangat, untuk kemudian kembali berkumpul dan berbincang. Ohya, hampir lupa. Ketika saya tiba di rumah, sudah ada seorang kawan menunggu saya di panaongan, Dodon namanya. Dia memberi kabar tentang kondisi perkembangan lingkungan di Jember yang semakin membusuk. Ah, Dodon, padahal saya baru saja tiba.

Kembali ke Fanggi

Saya tidak bisa memberikan lebih kepada Fanggi. Hanya itu saja. Sederhana dan apa adanya. Tapi saya yakin, perjalanan memberinya banyak hal. Semoga saja benar, semoga Fanggi telah didewasakan perjalanan. Semoga dia bisa mengambil hikmah dari setiap langkah-langkah kakinya, dari setiap peluh yang menetes, dan dari setiap perjumpaan dengan para sahabat blogger. Sengaja saya membiarkan Fanggi untuk menyulam ceritanya sendiri.

Tersenyumlah Fanggi, jalanmu masih panjang. Pahatlah dirimu menjadi seperti yang kau inginkan. Dan, semoga cita-citamu tercapai, tinggal di Jogja dan berkarya. Amin Ya Robbal Alamin.

31 komentar:

  1. Amin.
    Oo, yang ini namanya Fanggi ya, yang itu Faisal. Saat melihat Fauzan mencoret2 buku gambarnya di penginapan, Prit sempet bilang sama Fauzan, kalau ada salah satu Om yg jago ngegambar. Berarti Fanggi ya.
    Dan yang jago motret itu Faisal selain VJ Lie. Sayang ya, ngga sempat banyak cerita dgn teman2nya Mas Bro ini.

    Soalnya kalian ini pendiam semua ya, kecuali Uncle Lozz .. hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar Mbak Dey :) Yang suka menggambar si Fanggi, yang hobi motret si Faisal, baru kemudian Pije. Saya juga belum puas main-mainnya sama Fauzan.

      Hapus
  2. Fanggi selamat berkarya..jangan pernah takut untuk menggapai mimpimu...

    mas hakim..coba setiap ceritamu ini di filmkan....bagus loh..

    ngomong2 itu capture nya bang korep ya?? salam buat dia ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. uhuks, ada yg titip salam uy ... ;)

      Hapus
    2. Ehem-ehem :)

      Maunya sih difilmkan, tapi yang jadi pemerannya Bang Korep sama Cheila, mau?

      Hapus
    3. hahaha...saya sih mau asal sama bang korep..kalo ga sama bang korep mending kaburr hahahahahaha.... malu ihhhh sama ibuk dey :D

      Hapus
    4. Ehem-ehem uhuk-uhuk ahahaaa...

      Hapus
  3. Amiin...

    aaah... Membaca tulisanmu selalu asik Mas..
    semakin besar keinginan ngopi bareng pean, sekalian menyalakan korek untuk pean..
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aseeeek, ada yang mau menyalakan korek :)

      Hapus
    2. Ya korek Mas.

      kurang apalagi bila lelaki di tangannya sudah ada korek api ??
      hehehe
      i do love that song.

      Hapus
  4. Sayapun masih kepingin ke Jogja, lagi dan lagi :D
    Tip salam buat Fanggi, smg banyak yg dia citakan dimudahkan jalan oleh Nya nanti.

    Salam. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ke Jogja lagi, berharap Bang Mood pas juga lagi nongkrong di sana, jadi kita bisa join kopi Bang :)

      Iya Bang, Insya Allah salamnya saya sampaikan ke Fanggi, terima kasih. Amin Ya Robbal Alamin

      Hapus
  5. jalan kaki menikmati hidup memang mengasikkan, salam buat fanggi semoga apa yang kamu cita2kan tercapai...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin YRA, terima kasih...

      Hapus
  6. Anonim21.14.00

    Fanggi keren... kalau kamu hendak tinggal dan berkarya di Jogja, kontak2 saya. nanti ku ajak kenalan dengan beberapa rekan yang juga berkarya seni di Jogja. Dari yang idealis sampai pragmatis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga dong Mas Firdaus, pengen kenalan sama teman-temannya sampeyan, hehe.. Kangen ngopi bareng maneh rek!

      Maturnuwun uluran bantuannya untuk Fanggi ya Mas.

      Hapus
  7. Saya ingin tinggal dan berkarya di Jogja ...

    Sebuah cita-cita yang sederhana ...
    semoga Fanggi bisa mewujudkannya ...
    jika tidak besok ... mungkin besok lusa ...

    salam saya Mas Bro

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih ya Om NH :)

      Hapus
  8. enak baca tulisannya :)

    BalasHapus
  9. Jogja memang memberikan "feel" yang berbeda ya mas ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, kota seperti Jogja memberi ruang apresiasi yang lebih luas untuk orang-orang seperti Fanggi :)

      Hapus
  10. Kalo baru lulus pasti kenal saudaraku ya. Namanya Anggar Nur Hermansyah. SMAN Kalisat baru lulus juga... Salam buat Fanggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin, bisa jadi. Nanti saya tanyakan ke Fanggi ya :)

      Hapus
  11. Jadi kapan ke Cibinong mas, ke Mie Janda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah! Mie Janda. Itu sudah ada di jadual impian saya. Pengen kesana, apalagi setelah mendengar kisah dari Uncle Lozz.

      Hapus
  12. Wah... semoga Fanggi jadi seniman Jogja yg mumpuni.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin.. Makasih doanya untuk Fanggi ya Mbak Sus :)

      Hapus
  13. Salam respek buat Fanggi yang semoga kelak bisa buat mahakarya seni yang mendunia..
    Oh, ya, si Fanggi diajarkan ngeblog atuh sama mas RZ Hakim :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya Mas Yoszca. Iya, lagi belajar ngeblog dia, hehe...

      Hapus
  14. oohh nama nya fanggi toh itu om, kemarin ndak kenalan deh jadi malu :D

    BalasHapus

acacicu © 2014