17.12.13

Jember Banget

17.12.13
Jadi ceritanya, saya sedang menjadi juri Proyek Ngeblog #JemberIstimewa yang diadakan oleh seorang kawan bernama Oyong. Saya memanggilnya Cak, karena semua orang memanggilnya begitu. Proyek tersebut digelar untuk menjemput HUT Jember yang ke-85, pada 1 Januari 2014.

Cak Oyong menyandingkan saya dengan Mak Eja, eMak'e Jember Banget, yang sampai detik ini masih setia mengapresiasi potensi-potensi cantik yang dimiliki Jember.

Mudah untuk mencari tahu siapa dan bagaimana sepak terjang Mak Eja dan juga Jember Banget-nya. Kita hanya butuh googling, maka selesailah sudah. Eits, tapi saya belum pernah mencobanya ding! Saya banyak tahu tentang Jember Banget (selanjutnya akan saya tulis JB saja) justru dari obrolan rekan-rekan Jember, ketika cangkruk'an di warung kopi. Bukan hanya tentang JB, saya juga jadi tahu tentang Biru Daun, dan sederet lagi. Itu semua berkat cangkruk'an, bukan semata-mata dari mesin pencari.


Temancok Raa Kah - Koleksi Foto Pije

Pernah suatu hari Pije datang ke Panaongan dengan mengenakan kaos warna hitam yang dibagian tengahnya (tampak depan) ada tulisan seperti ini; "Temancok Raa Kah!" Ahaha, tulisan itu menghibur saya. Iya, saya kepingkel. Bahkan saya bisa mengimajinasikan bagaimana semisal saya yang mengucapkannya. Kaos yang berhasil menyampaikan pesan. Kaos yang sederhana, adopsi dari Bahasa lokal Madura yang sudah akrab di pelukan masyarakat Jember. Dapat saya bayangkan ketika para penyelenggara daerah yang sekarang sedang getol-getolnya mewacanakan untuk merubah wajah Jember ke arah industri tanpa memusingkan efek sampingnya pada alam, mungkin kata 'tak berdaya' terakhir yang bisa saya ucapkan hanyalah Temancok Raa Kah. Ahaha, bercanda.

Lupa, translate-nya kancrit. Temancok itu artinya tahi ayam. Temancok raa kah biasa digunakan untuk menyikapi para PHP, dan atau untuk apapun. Sejauh pengetahuan saya selama bertumbuh di Jember, belum pernah ada peperangan yang dimulai dari kata-kata umpatan ini. Maklumlah, kata temancok raa kah biasanya hanya digunakan di saat-saat yang santai, bukan di forum-forum resmi. Don't worry, semua baik-baik saja.

Lokasi JB saat ini ada di pojok kantor DPU Bina Marga, menghadap ke utara. Ruangannya kecil tapi memikat. Di depannya didominasi oleh kaca bening, jadi kita bisa menengok hampir semua koleksi JB dari luar. Seperti aquarium. Atau, mirip lokalisasi Dolly di Surabaya. Ahaha, jangan ah, jangan Dolly. Ya, mirip distro pada umumnya, seperti itulah.

Kantor DPU Bina Marga sendiri menghadap ke barat, tepat di pinggir Jalan Raya PB Sudirman Jember. Di kanan kiri Bina Marga (seharusnya) ada bangunan sarat sejarah. Sisi kanannya ada Penjara, Lembaga Pemasyarakatan. Sisi kiri ada LBB Technos. Dulunya, di atas tanah LBB ini berdiri sebuah Gudang Garam. Hampir setiap hari, sebagian masyarakat Jember wilayah kota antri di sini, hanya agar bisa membeli garam. Di era 1920an masyarakat antri untuk menukar kupon dengan garam. Kata Akung, Gudang Garam masih eksis hingga masa sebelum 1965. Sayang ya, bangunannya tak bisa dipertahankan. Barangkali nasibnya sama seperti Sekolah Chung Hwa (1911 - 1965) di Jember. Sekarang lokasi Sekolah Chung Hwa digunakan sebagai kompleks pertokoan Mutiara Plaza Jember, Jalan Diponegoro, dekatnya Johar Plasa. Cung Hwa terpaksa tutup antara tahun 1965 - 1966, saat kondisi perpolitikan di Indonesia diwarnai oleh penumpasan PKI. Di masa itu, banyak gedung-gedung yang beralih fungsi.

Tepat di seberang jalan di depan Bina Marga, ada SMP 2 Jember. Ini adalah salah satu sekolah tua di Jember. Dulunya HIS, sekolah dasar yang diperuntukkan terutama bagi anak-anak pegawai negeri pribumi. Inlander, menurut istilah Belanda.

Ohya, adakah yang pada masa kecilnya, ketika merengek ingin masuk sekolah, oleh orang tua disuruh memegang kuping kiri dengan tangan kanan? Gagasannya begini. Jika ujung jari tangan kanan sukses menyentuh kuping kiri, maka kita sudah boleh sekolah. Kirain dulu ini hanya pinter-pinternya Ibu saya saja dalam mengulur waktu, ketika saya merajuk ingin sekolah. Ternyata metode itu peninggalan sistem pendidikan Belanda, hehe. Entah apakah itu benar-benar metode bawaan kolonial atau mereka mengadopsi tradisi Nusantara, saya tidak tahu. Yang pasti, banyak orang yang masih memiliki kenangan dengan metode yang satu ini. Syarat masuk sekolah dasar, baik Sekolah Desa (Ongko Loro) maupun HIS, atau MULO (sekolah dasar yang lebih luas), atau jenis-jenis sekolah dasar yang lain, harus berusia 7 tahun. Sebelum berusia 7 tahun, Pihak Belanda melarang. Sebab usia sebelum tujuh tahun adalah usia bermain, dimana otak kanak-kanak manusia masih ibarat superspoon, mudah menyerap apa saja dengan cara bermain.

Saat ini gedung SMP 2 Jember sudah mengalami banyak renovasi. Nasibnya sama seperti SMKN 4 Jember yang ada di seberang Radio Kartika, hanya tersisa gedung tua di sisi depan saja. Agak masuk lagi, sudah bangunan baru. Saya pernah berkunjung ke sini pada 27 Mei 2013, di jam aktif sekolah, hanya untuk inguk-inguk bangunannya. Terima kasih Bapak Sunyoto Sutyono, Kepala Sekolah SMKN 4 Jember, yang telah memberi ijin kunjungan.

Balik lagi ke SMP 2 Jember. Saya teringat dongeng Eyang Roekanti pada 12 November 2012. Saat itu beliau banyak berkisah tentang Jember Jadul, hingga kisah tentang SMP 2 Jember. Menurut perempuan sepuh yang lahir di Ngawi pada 26 Januari 1918 ini, HIS di kota Jember ada dua. Satu di bangunan yang sekarang ditempati SMP 2 Jember, satunya lagi di gedung yang sekarang ditempati oleh SMP 1 Jember. Dua-duanya mendapat asupan Bahasa Belanda, ditembah lagi dengan Bahasa Daerah. Masing-masing HIS satu Bahasa Daerah, Jawa dan Madura. Itu menurut Eyang Roekanti. Kabar duka tentang Eyang Roekanti saya terima pada awal September 2013 yang lalu. Beliau meninggal dunia di usia 95 tahun. Selamat jalan Eyang, doa kami bersamamu. Terima kasih atas kisah-kisahnya tentang Jember tempo dulu.

Di kesempatan yang lain, pernah saya ceritakan tentang sosok Soemarno Sosroatmodjo, Kakek Bimbim yang bersekolah di HIS Jember. Entahlah beliau sekolah di HIS yang mana, saya tidak tahu pasti. Yang saya ingat, beliau punya sahabat karib bernama Supeno, anak Mantri Opium Verkoopplaats, Mantri Candu di Jember. Itu adalah jaman dimana Pemerintah Hindia Belanda jualan candu, untuk memperkaya diri dan untuk memelihara kebodohan bangsa terjajah.

Supeno tidak bersekolah di HIS, melainkan di ELS Jember, sekolah Londo yang lebih keren dari HIS. Supeno mati muda, sebelum dia tamat ELS. Masih sangat bocah. Dia terkena penyakit Typhus Abdominalis, sebuah penyakit yang pengobatannya masih sukar sekali di awal 1920an.

Kakeknya Ahmad Dhani juga menghabiskan hidupnya di Jember, hingga ajal menjemput. Beliau adalah Freddy Rudi Paul Köhler, Ayahanda Joyce Köhler, Mamanya Dhani. Freddy Rudi Paul Köhler mengabdikan seluruh hidupnya di kota kecil Jember sebagai guru / pengajar. Beliau meninggal dunia di Jember tahun 1959. Pada antara tahun 1983 - 1984, makam beliau dipindahkan ke Bogor.

Lanjuut...

Di sisi kiri SMP 2 Jember ada toko roti Jeanette. Orang-orang Jember lebih senang menyebutnya SIANET. Susah di lidah jika harus melafalkan Jeanette. Hmmm, jadi ingat roti kesukaan Bebeh. Saya pernah menuliskannya di sini.

Kalau ngomong tentang toko roti di Jember, selain Wina, saya ingat toko roti Sentral. Lokasinya di Jalan Raya Sultan Agung. Di toko ini dipajang foto seorang atlit sepak bola kesukaan Bapak saya. Dialah Tee San Liong, pemain Persebaya yang semasa hidupnya tinggal di Jember. Ya di toko roti sentral itu, milik adiknya sendiri.

Kata Bapak, di masa kejayaannya dulu, San Liong dan rekan-rekannya berhasil menghadang Uni Sovyet dengan 0:0 di Olympiade Melbourne, 1956. Waktu itu strategi Indonesia adalah bertahan total, dengan pemain bintang bernama Ramang dari PSIM Makassar. Selain Ramang, satu lagi pasangan maut San Liong adalah Djamiat Dalhar.

"San Liong iku sempat nglatih Persid lho le. Tapi de'e kereng, metode latihane keras. dadine akeh sing gak wani nang San Liong," kata Bapak.

Entah itu terjadi tahun berapa, mengingat Persid baru ada tahun 1952. Yang jelas, saya tidak mengatakan 'siah maktakker!' di depan Bapak. Mungkin di tahun 1970an. Atau di tahun 1978, ketika ada demam World Cup di televisi hitam-putih. Iya, kabarnya ada deman sepak bola. Mungkin gara-gara waktu itu adalah siaran langsung pertama World Cup di Pulau Jawa, di masa jaya Mario Kempes, pemain Argentina. Entahlah, saat itu saya bahkan masih belum lahir.

Kembali ke JB

Saya punya beberapa teman di sekitar JB. Kata mereka, lokasi itu biasa disebut Pasar Contong. Jadi begini. Ada satu jalan yang kemudian bercabang, kalau ke kiri menuju Hotel Nusantara, kalau ke kanan menuju stapsiun (dulu istilahnya SS, Staats Spoor). Nah, diantara cabangan jalan beraspal ini kalau pagi selalu diramaikan oleh para mlijo beserta para pembelinya. Biasanya para pembeli terdiri atas ibu-ibu. Lokasinya yang seperti contong kacang membuat pasar kecil ini dikenal sebagai Pasar Contong. Dan distri JB ada di sekitaran sana.

Kabar baik bagi Anda yang datang ke Jember dengan memanfaatkan jasa kereta api. Karena setelah Anda turun dari Stapsiun Jember, Anda cukup jalan kaki menuju JB. Yang datang ke Jember dengan dengan naik bus dari arah Surabaya, Anda akan diturunkan di Terminal Tawang Alun Jember. Anda tinggal memilih, mau naik taksi atau angkot kuning bernama Lin. Katakan saja pada supir jika Anda hendak turun di perempatan SMP 2 Jember. Nah, selesai! Jangan percaya GPS. Percayalah pada Abang Becak / Ojek yang mangkal di sana. Tanyakan, dimana JB. Maka Anda akan ngguyu-ngguyu dewe sebab yang dicari sudah ada di depan mata, meskipun agak ndlesep sedikit.

Selanjutnya..

Semoga teman-teman JB tidak tahu, betapa dulu ketika saya masih kecil, saya sering pipis di pojokan kantor Bina Marga. Ya di lokasi yang sekarang ditempati JB, ahaha. Saya bahkan masih bisa mengingat siapa saja karyawan Bina Marga yang dulu tinggal di dalam areal kantor. Itu dulu, ketika saya masih kecil dan masih sering ikut Bapak, ndelok slender kuning.

Dari sekian banyak karyawan Bina Marga, ada satu yang sulit untuk saya lupakan, meskipun beliau sekeluarga tidak tinggal di areal kantor. Beliau adalah Bapak Sucipto, akrab dipanggil Pak Cip. Pernah terjadi, ketika saya masih kecil, 'burung' saya ujungnya kecepit resleting. Saya berok-berok, tapi bingung mau ngapain. Gerak sedikit sakit. Akhirnya, dengan penuh kesabaran, Pak Cip turun tangan. Beliau meniup-niup burung istimewa saya hingga ujungnya lepas dari resleting. Alhamdulillah. Mungkin, seperti itulah rasanya dijajah Belanda. Sakit dan menyebalkan!

Beberapa bulan yang lalu, ada saya dengar kabar kabar duka, Pak Cip meninggal dunia karena stroke. Selamat jalan Pak Cip. Terima kasih.

Besar sedikit, saya sudah tidak mau diajak Bapak ke tempat potong rambut yang populer dengan nama Kantin. Lokasinya dekat sekali dengan Bina Marga / JB, dekat pula dengan Toko Buku yang lokasinya nylempit, Santo Jusuf. Pasalnya, ketika saya cukur rambut di Kantin, oleh tukang cukurnya ditanya begini. "Mau cukur gaya apa Mas?" Mulanya senang. Saya merasa besar hanya gara-gara dipanggil Mas oleh tukang cukurnya. Lalu saya mulai menunjuk salah satu poster yang terpasang berjajar di tembok Kantin. "Ini Mas, saya mau cukur gaya ini," kata saya. Berikutnya, saya sudah duduk di depan cermin besar, dikemuli sama kain warna ijo tua, baru kemudian prosesi potong rambut dimulai. Dan hasilnya? Cuplis!! Ya, saya marah tapi diam. Pandangan saya tidak bersahabat. Padahal saya sedang memandang diri saya sendiri di dalam cermin. Oh my God! Kepala saya bagian belakang terasa isis, tak ada poni, yang ada hanya jumbulnya saja. Saya tidak suka.

Agak gedean lagi, saya mulai petakilan. Ini adalah masa-masa metehek yang memalukan. Belajar merokok, tapi tidak pernah berhasil. Dibanding kawan-kawan sebaya yang lain, saya terbilang terlambat. Baru lulus SMA (dan sudah kerja jualan burjo) berani ngebbul di depan Bapak. Pernah suatu kali saya melintasi Pasar Contong menuju tokonya Mami (deretan toko yang menghadap ke selatan) hendak membeli anggur kolesom cap orang tua. Waktu itu, AO tersebut bukan untuk saya. Tiba di toko yang dimaksud, saya ketemu sama Om Ton, rekan kerja Bapak. Om Ton menyapa saya, tapi saya keburu ngacir, nggak jadi beli anggur kolesom, haha.

Kadang saya ke pojokan Pasar Contong, di loak besi tua. Biasanya sih jual botol atau kertas bekas untuk beli rokok. Waktu itu, pegang uang 5 ribu sudah mewah. Masih jauh dari tragedi krisis moneter. Lima ribu sudah bisa bikin saya gaya-gayaan. Macak koboi. Ndo-londoan kalau kata Didit. Apalagi kalau hari senin siang sampai sore. Punya duit limang ewu sudah bisa mejeng di food bazar Johar Plasa sambil lihat anak-anak SMA pada antri beli tiket murah senenan (khusus hari Senin), lihat bioskop di Cineplax 21 Jember. Memang maknyos rasanya bisa nonton bioskop di 21, di bangku empuknya yang berwarna merah hati. Saya beberapa kali merasakannya.

Era 1990an yang indah, dengan lagu-lagu slow rock-nya yang juga tak kalah indah.

Saya semakin bersentuhan dengan Pasar Contong, Kampung Using, dan sekitarnya. Sebab di masa SMA, saya lebih banyak tinggal di Kreongan, rumah Mbak Uti dari pihak Bapak. Letaknya di belakang pabrik es, atau bisa lewat STM lama (sekarang bangunannya dipakai SMP Negeri 10 Jember, sejak tahun 1991). Dari sana, saya biasa jalan kaki ke Jalan Raya, begitu biasanya orang Jember menyebut Jalan Sultan Agung. Kata Bapak, dulu lebih dikenal Rasulta, singkatan dari Raya Sultan Agung. Jalur alternatif ketika pulang dari Jalan Raya Sultan Agung menuju pabrik es Kreongan, biasanya lewat Pasar Contong, terus melintasi Jalan Wijaya Kusuma, jalan dimana di sepanjang jalurnya ada banyak rumah-rumah tua Belanda. Dari Wijaya Kusuma terus pulang ke rumah Mbah Uti, melintasi persawahan puteran spoor. Ohya, dari rumah Mbah Uti ke Pasar Contong hanya sekitar 10 menit jalan kaki.

Kenapa saya senang memilih jalan alternatif Pasar Contong? Kalau malam, pemandangannya indah. Dari Gedung Penjara hingga Kantin Cukur (sekarang Pujasera) suasananya nyaman. Lampu-lampu kotanya berwarna kuning, bukan putih. Sehingga akan tetap memberi cahaya meskipun turun kabut tebal. Sepanjang kawat listrik dipenuhi oleh burung-burung kecil yang saling ndusel mencari kehangatan. Kabar buruknya, di pertengahan era 1990an, semakin banyak saja pemuda pemuda-pemuda Jember yang menenteng senjata angin dan menghabisi burung-burung kecil yang berjajar berderet-deret itu. Akhirnya, habislah sudah. Burung-burung itu mengalami nasib buruk di kota santri. Sekarang nasibnya hendak disaingi oleh GUMUK, candi ekologis milik warga dunia yang dititipkan oleh Tuhan di tanah Jember.

Adapun cerita tentang penjara di Jember, saya tidak tahu banyak. Yang saya tahu, bangunan itu menyeramkan dan terlihat angkuh. Pernah saya baca di sebuah buku, tapi bukan tentang penjara Jember kota, melainkan penjara di Kasiyan Lor, Jember Selatan, di era 1911 hingga 1920an. Dituliskan di sana, pada hari-hari minggu penjara tampak ramai. Banyak keluarga pesakitan yang datang menjenguk. Mereka membawa bingkisan. Pada hari-hari tertentu dilangsungkan hukuman pukulan. Orang hukuman yang dianggap menyalahi peraturan penjara disuruh berdiri menghadap papan, sementara tangan dan kakinya diikat pada papan itu. Orang-orang hukuman lainnya dikumpulkan dan duduk di sekelilingnya. Sebuah pengumuman dibacakan keras-keras. Punggung orang yang terikat pada papan itu lantas dipukuli dengan rotan berkali-kali. Kadang-kadang sampai berdarah. Ah, mengerikan. Pastilah sakitnya seperti burung yang kecepit resleting.

Kembali ke paragraf pembuka tulisan ini. Saya dan Mak Eja jadi juri Proyek Ngeblog #JemberIstimewa. Memang, apa istimewanya Jember? Sebenarnya, setiap tempat bisa kita bikin indah. Semua tergantung dari mana kita memandangnya. Sebab saya seorang pencinta alam yang kebetulan suka sejarah, maka saya akan menyebutkan keistimewaan sebuah daerah dari potensi alam dan sejarahnya. Misal, Jember. Saya senang mengamati kecantikan gumuknya. Apalagi akhir-akhir ini, hehe.

Sedari kecil saya selalu bertanya-tanya, kenapa seringkali ada saya dapati kuburan di puncak gumuk? Ada juga kuburan yang tak persis di puncaknya. Ada yang di kaki gumuk, ada juga yang di tengah tapi memiliki bidang datar. Ketika saya besar, barulah saya tercerahkan, sedikit demi sedikit. Oh ternyata ketinggian makam berpengaruh pada tingginya derajat orang itu di mata masyarakat, ketika ia masih hidup. Atau, semakin tinggi lokasi kuburannya, semakin tinggi pula cara keluarga (orang-orang yang menyayangi) dalam memperlakukan si mati.

Tak heran jika di perbukitan Watangan - Wuluhan, tepatnya di Gua Sodong, pernah ditemukan tengkorak manusia ciri ras Austromelanosoid. Oleh para ahli, tempat ini diperkirakan pernah dijadikan pemukiman masyarakat prasejarah. O'ow, keren. Tebakan saya, hal ini berlanjut pula di masa ketika manusia-manusia Jember telah mengenal tulisan. Mereka masih senang memperlakukan dengan baik mereka yang dianggap berkarakter di mata masyarakatnya. Pemberian kehormatan itu terus berlanjut hingga orang yang dimaksud meninggal dunia. Lebih ke arah pengkultusan.

Sekarang mari kita sentil sedikit tentang Prasasti di Jember. Selain keberadaan Prasasti Congapan di Kecamatan Sumberbaru (data tertua yang berangka tahun, 1088 Masehi), ada pula Prasasti Batu Gong. Letaknya ada di bagian bawah gumuk di pinggir jalan besar Dusun Kaliputih, Rambipuji. Muda-mudi Jember yang biasa kulak baju babebo pastilah mengerti dimana itu Jatian Kaliputih. Nah, lokasi Batu Gong tak jauh dari babeboan (baju bekas bos).

Ada dua pendapat populer mengenai usia Batu Gong yang ditemukan di Jember. Pendapat pertama dari W.F Stutterheim, seorang Arkeolog Belanda. Dia bilang, Batu Gong diperkirakan ada sejak abad ke VII, merupakan Prasasti tertua di Jawa Timur. Satu pendapat lagi dari Arkeolog India bernama Himanshu Bhusan Sarkar. Dia mengatakan Prasasti Batu Gong berasal dari abad V Masehi, sejaman dengan Prasasti Tarumanegara di Jawa Barat. Wew, pendapat yang lebih menarik lagi. Terlebih, sebenarnya lokasi Prasasti Batu Gong tidak terlalu jauh dari kompleks percandian di Gumuk Mas. Barangkali ada keterkaitannya.

Pantaslah jika para Arkeolog mengistilahkan Jember tempo dulu sebagai Topographia Sacra, sebutan untuk daerah suci atau sakral, tempat dimana orang-orang hebat menempa diri, tak peduli dia lahir di Jember atau tidak. Dan semisal gumuk sudah ada sejak dulu kala (secara teori, seharusnya gumuk sudah ada), saya yakin gundukan penuh makna ini menjadi salah satu tempat favorit untuk mereka yang menempa diri.

Begitulah wajah sederhana Jember, yang diuntungkan dengan bentang alamnya. Biar lebih asoy lagi, untuk bisa memahami Jember, kita juga butuh memahami kota-kota di sekitarnya, dan mencintainya. Jangan biarkan sepak bola merusak segalanya, eh. Harapannya, dengan meletakkan dasar-dasar kecintaan pada kota yang kita tinggali, maka kita akan mencintai dunia yang berbangsa-bangsa. Sangat indah jika kita juga menyediakan diri menjadi warga dunia yang baik.

Jadi, apa istimewanya Jember? Apakah dari musiknya, tari-tariannya, kulinernya, Bahasanya, gumuknya, atau apanya? Entahlah. Mari kita tanyakan itu pada 'Jember Banget' yang bergoyang.

Sithik Engkas!

Rumah maya Jember Banget bisa dikunjungi di sini.

12 komentar:

  1. gumukkkk....baru ke jemberlah lihat banyak gumuk diman2 hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan kawan-kawan Jember tentang Gumuk bisa diintip di savegumuk dot blogspot dot com :)

      Hapus
  2. Selalu salam dari Blogger Rembang

    BalasHapus
  3. Aku gak pernah ngerti sejarah Jember sejauh iki hahaha... Salut karo tulisan iki mas :) Keren.

    Yang paling aku ingat di wajah Jember lama itu... bioskop Sampurna (sebelah toko roti Wina lama yang sudah terbakar hangus). Dari sana aku mengenal foto-foto 'saru'. Diam-diam waktu masih SD kelas 6, bersepeda kesana cuma buat liatin foto-foto kecil cuplikan adegan film yang akan ditayangkan di bioskop itu hahaha...

    Aku cinta Jember, tapi aku gak pernah paham cara mengungkapkannya lewat tulisan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Saya juga masih ingat betul bioskop-bioskop jadul di Jember. Ketika booming film 'SPEED' tahun 1994, saya baru bisa nonton satu tahun berikutnya di Bioskop Indra. Mbayarnya di dalam, langsung ke Paklik penjaga tiket. Harganya lebih murah. Padahal lho, harga tiket masunya hanya 500 rupiah, ahaha.. Kalau bayar di dalam, bisa 200 rupiah saja :)

      Bioskop Kusuma tak sekeren sekarang penampilannya, tapi selalu ramai. harganya 'unda-undi' dengan Bioskop Indra. Kusuma lebih luas. Kusuma senang memutar film-film Bollywood, film panas Indonesia dengan artis jaman Selly Marcellina, ahaha..

      Ada juga Jaya, Sampoerna, GT alias Gebang Teater, Cineplax 21, trus opo maneh yo?

      Pengalamane seru pisan, hehe...

      Hapus
  4. Waaaow... Jember tenanan Mas...

    Saya juga pernah dulu megang telinga kiei pakai tangan kanan. eh apa kebalik ya ???

    Satu lagi Mas....
    Bisa-bisa saya di marahin bapak saya kalau pakai kaos ini heeee..
    TEMANCOK... Ra kah.... je'i lah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jemberbanget kom com kok susah dibuka Mas ? gak bisa malahan... :(

      Hapus
    2. Dari sini bisa dibuka, dicoba lagi aja, jemberbanget.com :)

      Hehe, terima kasih sudah berbagi cerita di acacicu.

      Hapus
  5. pedangkayu07.52.00

    mudah2an burung-istimewa-anda masih baek2 saja sampai hari ini. hahahahaha. jancok nguyu dewe aku cuk..

    BalasHapus
  6. mak gitu kamuuuu... mas

    punya cerita banyak tentang jember :D

    bahasa di jember memang khas dan ciamik :D

    BalasHapus
  7. Anonim23.51.00

    Temanya Jember Banget Tapi bisa nyasar ke manuk kecepit :(.
    Anyway apapun jalan ceritanya, saya selalu menikmati segala kisah tentang Jember kampung halaman saya Ɣªήğ tak saya tengok 4 tahun ini. Mengingatkan saya akan masa kecil Ɣªήğ sepertinya sejaman dengan sang penulis. Salam hangat Dan sukses selalu, dari Wong Jember di Flores. :*

    BalasHapus

acacicu © 2014