5.12.13

Prit Punya Cerita

5.12.13

Sesampainya di Joglo Abang - Dokumentasi oleh Bang Faisal Korep

Memang, tidak sedikit cerita tentang Joglo Abang. Mulai dari menyanyikan lagu Indonesia Raya, kopdar sana-sini, membongkar carrier, ambil nesting, kompor lapang, tabung gas, gula dan kopi, narsis berjamaah, si kecil Noofa yang cantik, hingga join kopi di sudut kanan belakang Joglo. Tapi saya sedang ingin meloncati kisah-kisah itu. Ada yang lebih keren, tentang detik-detik terakhir ketika hendak meninggalkan Joglo Abang, Sleman, menuju Desa Tembi.

Jadi ceritanya, jadual acara kembali berubah. Keberangkatan dari Joglo menuju Desa Wisata Tembi dipercepat dua jam dari jadual yang sudah ditentukan. Saya dan Uncle senang, karena memang sudah gerah berlama-lama di sana. Kami butuh mendirikan tenda, membuat kopi, dan butuh suasana yang berbeda.

Kesibukan selanjutnya adalah packing. Ada juga sesi mencari-cari jam tangan Mbak Susindra yang hilang. Setelah dicari kesana kemari, tidak juga berhasil. Eh, tidak tahunya jam tangan yang dimaksud ada di kantong Mbak Susindra, ahaha.

Sabtu, 30 November 2013 pukul 20.45 WIB

Ketika rombongan kecil dari Jember plus Mbak Susindra siap berangkat menuju bus-bus yang diparkir, datang sebuah berita dari si cantik Fitri Rosdiani. Tasnya kesingsal, tak lagi ada di tempat yang semestinya. Melihat ekspresi wajahnya, tak tega untuk terus berlalu ke arah bus dan meninggalkan Fitri sendiri.

Sementara Uncle Lozz konfirmasi ke salah satu panitia, Pije dan Bang Faisal Korep memeriksa tumpukan tas, saya hanya bengong di dekat Fitri Rosdiani yang juga bengong. Anehnya, panitia yang ada di dekat saya juga ikut-ikutan bengong, ahaha.

Dicari kesana kemari, tas belum juga ditemukan. Kata panitia, semua tas dikumpulkan jadi satu, dan bisa diambil sesampainya di Desa Tembi. Kata si Fitri, "Tapi kan saya nggak ikut ndaftar jalan-jalan, jadi tas saya taruh di sini," ujarnya sambil telunjuk tangan kanannya menunjuk ke satu tempat.

"Kok nggak ada pemberitahuan sebelumnya? Tadi saya motret di pagelaran seni. Sekembalinya kemari, tahu-tahu udah pada sepi."

Syukurlah, salah seorang panitia meyakinkan Fitri bahwa tasnya sudah diangkut menuju Desa Tembi. Fitri menjadi sedikit terhibur. Selanjutnya, kami rame-rame menuju bus yang masih parkir.

Sementara itu, pada pukul 21.11 WIB, Prit sudah dibonceng salah satu panitia. Saya hafal wajahnya, sebab dia adalah panitia pertama yang saya temui di Stasiun Lempuyangan ketika kami baru saja menginjakkan kaki di Jogja.

Garis Besar Cerita

Prit tidak terbiasa naik bus, dia pemabuk. Berhubung panitia menyediakan beberapa bus untuk memboyong peserta BN 2013 dari Joglo Abang menuju Desa Wisata Tembi, maka kami mencarikan Prit tumpangan sepeda motor ke panitia. Syukurlah, ada beberapa panitia yang bersedia mengantarkan Prit naik motor menuju Tembi. Terima kasiiih..

Tapi Prit masih harus menunggu, sebab panitia masih disibukkan menata tas-tas para peserta (yang sangat banyak), dan menyiapkan ini itu demi kelancaran acara. Nah, selama proses menunggu itulah, ada sebuah kejadian, mungkin salah paham, antara segelintir panitia dan pemuda setempat. Iya, terjadi chaos, dan Prit ada tepat disamping kekacauan itu.

Prit ketakutan, asmanya kumat. Di saat yang seperti itu, ada dua pemuda setempat yang membantunya untuk mengantarkan Prit ke tempat dimana saya berada, di salah satu bus. Kisah detailnya akan dipaparkan oleh Prit di bawah ini.

Prit Bercerita

Pada awalnya, sedari siang saya janjian mau dibonceng oleh Mas Furqon (MF Abdullah) menuju Desa Tembi. Karena jadwal berangkat ke Desa Tembi dimajukan 2 jam sebelumnya (awalnya berangkat pukul 22.00 WIB), pikiran saya pun kacau balau. Di benak saya berkelebat bayangan bis-bis yang menyeramkan itu. Akhirnya saya pun sms ke Mas Opik Aja, mau nebeng naik motornya ke Desa Tembi. Tak berapa lama, dia membalas bahwa dia sudah di Desa Tembi.

Terus terang waktu itu saya langsung mual. Sudah membayangkan naik bisa menuju Desa Tembi. Uncle Lozz dan suami mencari solusi kesana kemari. Akhirnya, ada satu panitia yang sanggup membonceng saya hingga ke tujuan. Saya sendiri tidak begitu hapal wajahnya. Karena malam itu, di deretan bis-bis yang parkir memang agak gelap. Akhirnya saya dibonceng.

Ketika melewati bis deretan Bulik Uniek, saya masih sempat melambai-lambaikan tangan sambil berteriak Buliiiikkkkk....
.
Awalnya saya pikir mas panitia yang bonceng saya itu langsung menuju ke Desa Tembi. Ternyata masih berhenti dulu di pertigaan sebelum musholla. Disana sudah ada banyak rombongan yang naik motor. Saya tidak bisa melihat jelas wajah mereka. Suasananya gelap. Saya pikir, mereka juga panitia atau rombongan blogger yang naik motor dan tidak tau arah ke Desa Tembi. Kata mas panitianya saya disuruh menunggu dulu disitu. Ternyata agak lama juga menunggu. Sekitar setengah jam.

Kemudian tiba-tiba Mas Opik sms kalau dia sudah ada di Desa Tembi dan menanyakan apakah saya jadi nebeng motornya. Setelah berpikir lumayan lama, saya pun mengiyakan ajakan tersebut. Perhitungan saya, lebih baik bareng Mas Opik karena sudah kenal lebih dulu. Sedangkan sama mas panitia itu saya belum kenal sama sekali dan wajahnya pun tidak jelas bagi saya. Akhirnya Mas Opik pun mendatangi saya di pertigaan tersebut. Dia bilang tadi masih ngangkut konsumsi. Mas opik menyuruh saya menunggu disitu, karena dia mau ambil motor yang diparkir di seputaran Joglo Abang.

Selama Mas opik pergi mengambil motor, saya bilang ke mas panitia yang rencananya mau mbonceng tadi. Saya bilang, saya gak jadi nebeng bareng. Karena mau diantar Mas Opik ke Desa Tembi. Saya utarakan juga, takut mengganggu panitia yang malam itu memang bener-bener sibuk. Mas panitia itu pun mengiyakan. Saya lega.

Tak berapa lama, terdengar teriakan. Awalnya dari satu orang. Kemudian berakumulasi menjadi banyak. Saya sendiri tidak tahu siapa yang berteriak. Rombongan motor yang ada di sebelah saya, termasuk Mas panitia itu pun langsung tancap gas entah kemana. Tinggal saya sendirian yang masih terkaget-kaget dengan teriakan itu.

Dalam kegelapan, saya melihat orang yang berteriak-teriak itu dihampiri oleh 2-3 orang. Kalau dilihat dari gelagatnya sih panitia, soalnya memakai id card bertali merah. Tapi saya tidak tahu itu siapa. Karena memang sedari awal panitia dan peserta tidak membaur. Hanya beberapa orang yang kita kenal saja yang benar-benar membaur.

Begitu mereka menghampiri orang yang berteriak itu, beberapa orang langsung mengepung mereka. Dari bahasanya saya menduga yang berteriak-teriak itu adalah warga sekitar. Komunikasinya kurang jelas, saya hanya mendengar teriakan-teriakan marah.

Saya menelpon suami dengan keadaan panik, dan tak bisa berkata apa-apa, karena asma saya kambuh. Dada saya mendadak sesak, karena merasa sendirian.

Takut terjadi apa-apa, saya pun bersandar di dinding pagar sambi mencoba mengatur nafas. Tetap tidak bisa. Masih begitu sesak. Tak jauh dari tempat saya, ada dua orang pemuda (kira-kira seusia SMA) yang hendak bergabung dengan kepungan massa itu. Saya mencoba menghalangi mereka. Saya berkata kepada mereka sambil menahan nafas yang terengah-engah. Menahan sesak itu memang menyakitkan. Dengan terbata-bata saya berkata pada mereka, minta tolong diantarkan pada bus deretan depan dimana suami saya berada. Akhirnya mereka berdua mengantarkan saya menuju bus deretan depan.

Entah pada bis yang ke berapa, saya bertemu dengan Om Aldi (suami Mbak Yuni). Dia menanyakan pada saya kenapa kembali, tapi karena sesak nafas, saya tidak bisa menjawabnya. Hanya tangan saya melambai-lambai padanya. Belum sampai ke bis suami, saya sudah melihat bayangannya. Saya memeluknya sambil berusaha mengatur nafas agar kembali stabil. Suami pun berterima kasih kepada salah satu pemuda lokal yang mengantarkan saya tadi. Entah satunya lagi ada dimana, tiba-tiba menghilang.

Dada saya masih teramat sesak, suami membawa saya masuk ke dalam bis. Saya nurut saja, karena ada yang berteriak menyuruh kami semua masuk ke dalam bis. Dalam nafas yang terbata-bata, saya bercerita kepada suami tentang kronologis kejadian itu.

Tak berapa lama, Mas Opik sms, menanyakan posisi saya dimana, karena dia mencari-cari di tempat tadi sudah sangat ramai sekali. Saya pun menunjukkan posisi, tak berapa lama dia menghampiri kami di bis. Akhirnya suami pun titip minta saya dibonceng ke Desa Tembi.

Ketika ada di atas motor, saya perlahan mulai bisa mengatur nafas. Mungkin karena sudah menjauhi tepat kejadian. Waktu itu Mas Furqon sempat sms, menanyakan apakah sudah ada yang mengantarkan saya ke Tembi. Saya pun menjawab kalau saya diantar oleh Mas Opik.

Setelah ketemu Mas Furqon di Desa Tembi, dia bercerita bahwa sebenarnya dia sudah ada di Joglo Abang untuk menjemput saya. Tapi ketika mau masuk, dari arah depan pintu masuk dipalang oleh warga sekitar. Melihat ada yang tidak beres, akhirnya Mas Furqon pun langsung melaju ke Desa Tembi.

Semua Sudah Berlalu

Mendengar cerita yang dituturkan oleh Prit, tak terbayangkan rasanya. Iya saya masih ingat bagaimana ekspresi wajahnya ketika pertama kali kami berjumpa. Ah, saya jadi merasa kecil dan bersalah sebab tak ada di dekatnya di saat yang dibutuhkan. Saya juga masih ingat, gara-gara kejadian itu, bus segera diberangkatkan. Kasihan Pak Sopir, dia harus melalui jalan-jalan kecil yang tak seharusnya, hanya demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Syukurlah ada Uncle Lozz. Setiap kali ada persimpangan kecil, dia turun ke jalan, bertanya sana-sini, untuk kemudian menyampaikan info yang didapat kepada Pak Sopir.

Pada pukul 22.00 WIB, bus sudah menemukan jalan besar. Alhamdulillah.

Semua sudah berlalu. Satu-satunya yang bisa saya ucapkan pada Prit adalah memberinya harapan bahwa di Desa Tembi nanti semua akan baik-baik saja. Itulah sebabnya, sesampainya di Tembi, kami menolak untuk dipencar-pencar. Harus kumpul jadi satu. Kembali kepada kalimat usang, makan nggak makan asal kumpul, ahaha.

Berkat bantuan Mas Firdaus, juga berkat kegigihan Uncle Lozz dalam berargumentasi, serta atas kebaikan panitia, akhirnya kami kumpul juga, di rumah Bapak Darman. Homestay 17. Alhamdulillah, terima kasih Tuhan. Meski demikian, ada harga yang harus saya bayar, yaitu pura-pura tega meninggalkan Fitri Rosdiani. Harusnya dia satu homestay dengan Prit, di homestay 5. Maaf ya cantik.

Ingin tahu apa saja yang terjadi di Homestay 17? Tunggu postingan saya selanjutnya. Terima kasih.

40 komentar:

  1. Anonim00.52.00

    dan di Tembi di HS 17 ada kisah kamar VIP iya kan mbak Priit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha, mosok arep dicritakno pisan Mas :)

      Hapus
    2. awas ada gerombolan masyarakat

      Hapus
  2. Balasan
    1. Eh ada Maztrie :) Wes ngopi Mas?

      Hapus
    2. Cak,
      Nuwun sewu, aku kudu control minuman kopi sehubungan perutku sudah gak beres dan terlalu sensitif kalo bersinggungan dengannya :P

      So, nyuwun ngapura n beribu maaf ya pas menerima kehormatan kopi bikinan panjenengan pagi itu aku gak mencoleknya...

      Hapus
    3. Ow, semoga lekas membaik Maztrie. Oke santai saja :)

      Hapus
  3. ternyata banyak kisah tak mengenakkan yg sahabat-sahabatku derita pada Sabtu lalu, mungkin kegagalanku tiba pada hari itu di kota itu berkat petunjuk TUHAN, karena emosiku kerap meletup bila ada sesuatu yg tak benar mengancam banyak orang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kisah yang membahagiakan jauh lebih banyak Mas, hehe.. Kita bisa kopdar rame-rame, itu sudah luar biasa. Blogger Nusantara memang istimewa, seistimewa 'join kopi' di homestay 17 :)

      Hapus
    2. Setuju Mas Bro ...
      Mari kita kenang yang baik-baik saja ...
      Mari kita ceritakan yang baik-baik saja ...

      Masih banyak kok ...

      Salam saya Mas Bro

      Hapus
    3. Memang Mantap Rasanya Suasana "Join Kopi' di homestay 17 :D

      Hapus
  4. Anonim06.00.00

    ada beberapa bab yg hilaaang,..
    ''Lhaa wong seng jerit2 mau iku jane nya'opo tibak'e kok sampek di kerubung wong akeh,.? Kok terputus? malah nyritak'ne bojo'ne dewe dadi,. ha ha ha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha... ceritanya meloncat-loncat ya? Maaf.

      Hapus
  5. ditunggu oleh-olehnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. oleh-oleh foto dan postingan aja ya Mas :)

      Hapus
  6. Baca sambil manggut-manggut dan geleng-geleng mas :)

    tanggung jawab, itu yang saya tangkap dari postingan ini mas...

    ditunggu post selanjutnya y mas.
    salam hormat saya, mas.

    BalasHapus
  7. g kebayang sama kejadiannya mbk prit mas,g tega rasanya..saya pernah lihat temn yang sesak,langsung nangis hehehe.....alhamdulillah ada orang baik yang mau ngantar. salam buat mbk prit mas ^^

    dtunggu kisah menarik selanjutnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke Mbak, salamnya saya sampaikan, hehe..

      Hapus
  8. waduh saya koq agak ndak mudeng dg cerita di atas ya? kayak ada bab sebelumnya yg belum saya baca. jdf tersa terputus. coba habis ini saya ulangi lagi hehe nice writing. salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, maaf. Terima kasih dan salam kenal kembali.

      Hapus
  9. Sebelum kejadian ini saya sempat ajak uncle lozz untuk naek bis, tapi uncle menyuruh saya untuk segera naek bus duluan.
    Ternyata ngeri juga katanya sempat ada insinden kecil antara panitia dan warga setempat ... masih menanti homestay-17 selalu indah untuk dikenang ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin salah paham aja Mas. Banyak versi soalnya. Kita doakan saja semoga semua sudah baik-baik saja. Terlepas dari semuanya, panitianya keren. Gara-gara kerja keras mereka kita bisa kopdar rame-rame :)

      Hapus
  10. Ternyata sempat ada insinden kecil yang terjadi antara penyelenggara dan warga setempat.
    Sebelum kejadian ini terjadi, uncle menyuruh saya untuk berangkat dulu menuju Tembi.
    Homestay-17, dinanti ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke, ditunggu ya Mas postingan selanjutnya. Join kopi di Homestay 17 hehe

      Hapus
    2. Pitenah sam dink-dink sam.. wong aku sing ditinggali tok kok :p

      Hapus
  11. ALlhamdulilah bisa terselesaikan sedikit masalahnya ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Justru gara-gara itu, mudah untuk mengingat kebaikan-kebaikan yang berceceran. Mbak Lidya kok ndak merapat di BN? Pingin ketemuan :)

      Hapus
  12. jadi ceritanya apa dek? *bingung* -________-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha. Memang banyak yang bingung dengan tulisan ini Mbak, maap yaaa. Itu, tentang Prit yang terjebak di tengah kekacauan, sementara saya tak ada di dekatnya. Syukurlah semua segera berlalu.

      Hapus
  13. ealaaahhh... mulakno Priit iku koq wira wiri koyok setrikaan, takpikir ngopoooo... bagi cerita sebenarnya to masbro, jan2e onok opo seee?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi.. Prit wira-wiri sambi berok-berok manggil Bulik :)
      Mengko ae Bulik, tak ceritani tentang homestay pitulas yang maknyoss

      Hapus
    2. Balik lagi ke tulisan ini dan baru ngeh klo di foto itu diriku ada di depanmu to masbro hehehe... mayan lah ketok gegere :D

      Hapus
  14. Ya ...
    saya sudah menduga malam itu pasti terjadi sesuai ...
    kepada khalayak mereka bilangnya bis depan masih kosong ... jadi belum bisa berangkat ... menghalangi yang lain ...
    tetapi setelah bis depan penuh pun belum bisa jalan ...

    Mudah-mudahan masalahnya selesai ...

    salam saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Om, semua sudah berlalu. Mari kita doakan saja semoga semua baik-baik saja. Sukses buat panitianya, dan terima kasih untuk senyum warga sekitar Joglo Abang :)

      Hapus
  15. Ternyata ada kisah seru ya ..

    BalasHapus
  16. dan sayapun mendengar keriuhan orang marah2 sama panitia di dalam bus...untunglah mbak prit tidak kenapa2 *peluk mbak prit*

    BalasHapus
  17. Semua bingung..panitia bingung, bahkan mau masuk kamar pun bingung,,,,pindah kamar lagi ^_^ dan lobi2 Panitia juga, dan entahlah tak tau pula sampai pulang pun tak bertemu kalian semua lagi ....aku ga sempat foto2 X_X ... Salam untuk semua di sini ^_^

    BalasHapus

acacicu © 2014