31.12.14

Malam Tahun Baru Yang Semenjana

31.12.14
Ini malam tahun baru yang berbeda. Seluruh jajaran pejabat dan pegawai negeri sipil di Kemendagri pusat dan daerah baik provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Indonesia dihimbau untuk tidak merayakan datangnya tahun baru dengan berpesta pora seperti tahun-tahun sebelumnya. Di Surabaya juga ada himbauan serupa. Mereka dihimbau untuk tidak merayakan pergantian tahun secara berlebihan menyusul terjadinya musibah jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 yang sebagian besar adalah warga Surabaya.

Bagaimana dengan Kabupaten Jember? Di sini telah terjadi bencana ekologis tanah longsor, dimulai pada 29 Desember 2014 di areal Perkebunan Sentool, Panti. Di beberapa wilayah di Jember Selatan juga terjadi bencana langganan, banjir. Menjadi sangat tidak elok ketika kita bergembira secara kolektif di suasana duka.

Saya dan istri tidak merencanakan apapun, tidak kemana-mana, hanya menikmati rintik gerimis di penghujung tahun yang paling ujung. Sore harinya ada teman berkunjung ke rumah, namanya Didin. Rumahnya tak begitu jauh dari tempat tinggal kami, namun beberapa bulan terakhir kami memang jarang berjumpa. Bersama Didin, kami menghabiskan sore yang indah di warung koplak di seberang Gedung Soetardjo Jember.


Dokumentasi Pribadi, 31 Desember 2014

Sebelum berangkat ke warung koplak, istri saya meminjam smartphone milik Didin lalu berfoto ria. Katanya, "Foto ini harus sering dilihat-lihat selama aku berangkat ke Jakarta, dua hari lagi." Saya tersenyum mendengarnya. Iya benar, dia akan berangkat ke Jakarta, tinggal di kediaman Dika (sahabat istri saya semenjak kuliah) selama dua minggu, untuk mengikuti Kelas Menulis Narasi.

Sesampainya di warung koplak, di sana telah ada Revo Marando, Ghanesya Hari Murti si pengantin baru, Ebhi Yunus beserta istri dan si kecil, juga Dosen muda Ikwan Setiawan. Di luar sana, rintik gerimis masih menyelimuti kampus Bumi Tegalboto.

Ada banyak hal yang kami jadikan topik pembicaraan, tentu dengan disertai guyonan dan nostalgia yang belum begitu usang. Revo bertanya, apa kesibukan saya akhir-akhir ini? Saya bilang, saat ini sedang menyibukkan diri mempelajari bidang sejarah.

"Aku iki buk-mesibuk Vo."

Revo tertawa mendengar jawaban spontan dari saya. Namun kepadanya saya ceritakan juga tentang rencana acara gelar wicara atau talk show yang akan digelar di Gedung Soetardjo, lokasinya tepat di seberang tempat kami ngopi.

"Itu ide dari temannya Wisnu. Teman Wisnu anak Jember juga, tapi lama berproses di luar kota. Ia ingin membuat acara lumayan besar di sini, untuk masyarakat Jember. Acara tersebut bakal mengangkat tema seputar pandangan ekonomi, menghadapi persaingan global 2015. Direncanakan akan dihadirkan orang-orang hebat yang sudah dikenal oleh masyarakat di tingkat Nasional. Di perjumpaan pertama, dua hari yang lalu, temannya Wisnu juga bicara tentang pengembangan budaya literasi. Sepertinya ia bakal membuat perpustakaan. Tak hanya di Jember, tapi di kota-kota yang lain di Indonesia."

Kata Revo, orang yang saya ceritakan terbilang keren. Saya juga berpendapat demikian, meskipun kami baru saja berkenalan. Setiap kali berteman dengan orang-orang unik seperti itu, saya selalu saja mendoakan semoga mereka senantiasa kuat dalam memelihara niat.

Malam hari kami habiskan di rumah saja, masih bersama Didin. Kami bertiga pesta sate ayam. Setelah makan bersama, kami bercerita tentang apa saja. Topik paling lama yang menjadi tema perbincangan kami adalah kemungkinan penataan ulang dekorasi ruang di panaongan. Mendekati detik-detik pergantian tahun, Didin undur diri. Dia berencana untuk menghabiskan malam tahun baru di alun-alun, bersama kawan-kawan Infinie Team BMX Jember.

Lalu hening. Saya dan istri menikmati malam tahun baru dengan semenjana.

30.12.14

Sehari Menjelang Malam Tahun Baru

30.12.14
Aldin keponakan kami, ia terlihat senang ketika hari ini ada pembukaan minimarket yang letaknya tak jauh dari rumah. Lampu-lampu, balon warna-warni, dan keramaian baru, tentu menyenangkan bagi bocah dua setengah tahun seperti Aldin.

Salah satu anak perusahaan Salim Group ini tampil mentereng di pertigaan Perumnas Patrang. Pembangunannya dimulai sejak 1 Desember 2014, selesai 28 hari kemudian, dan dibuka pada hari ini, 30 Desember 2014. Seperti sulap namun nyata adanya.

Saat kembali pulang, Aldin heboh sendiri. Dia bahagia sekaligus kebingungan memegang lima balon yang semuanya berwarna kuning. Ketika salah satu balonnya meletus, Aldin terkejut. Tak lama kemudian dia menangis.

Masih cerita di hari ini. Teman-teman Pencinta Alam SWAPENKA berangkat ke lokasi DIKLATSAR, di areal Taman Nasional Meru Betiri. Acara berakhir hingga 3 Januari 2015. Jadi, mereka akan melewatkan malam tahun baru di tengah hutan tanpa terompet dan tanpa kebisingan apapun.


Dokumentasi oleh Rudi Hartono, 30 Desember 2014

DIKLATSAR SWAPENKA seperti sedang memberikan sebentuk penghormatan pada peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang kontak sejak hari Minggu, 28 Desember 2014. Di bulan penghujung tahun ini memang banyak sekali kabar duka, diantaranya tentang horor pembantaian massal bocah Pakistan, dikenal dengan peristiwa Peshawar, pada pertengahan bulan Desember. Sebelumnya juga ada peristiwa duka di tanah air, yaitu tragedi pembantaian di kota Enarotali, Paniai, Papua.

Menuju Macapat Cafe.

Pada pukul 19.00 saya dan istri meluncur ke Macapat Cafe. Kami ada janji dengan Wisnu dan dua rekannya, Farid Solana dan Gamar Tan. Selain mereka, saya juga menghubungi beberapa rekan lain yang direncanakan hendak membantu ide rekan Wisnu. Mereka akan membuat acara gelar wicara dengan tema pandangan ekonomi, pada 24 Januari 2015. Janjiannya memang pukul setengah delapan, setelah Isya. Namun kami meluncur terlebih dahulu.

Untuk ukuran hari Selasa malam Rabu, suasana Macapat Cafe ramai sekali oleh pengunjung. Saya menebarkan pandangan ke sekeliling, rupanya Wisnu dan kedua rekannya masih belum hadir. Wisnu baru datang sekitar satu jam kemudian. Dia bilang, "Mau jare Farid wes mrene, jam setengah wolu, tapi sampeyan durung teko." Barangkali dia tidak melihat posisi saya duduk, sebab pengunjung Macapat Cafe memang sedang ramai sekali.

Malam semakin larut, teman-teman semakin ramai berdatangan. Rizki Nurrahmad datang bersama istrinya, Mitha, juga anak semata wayang mereka, Ninggar. Senang bercengkerama dengan mereka, Mitha selalu memiliki banyak stok cerita jenaka. Ketika listrik di Macapat Cafe sempat padam, Mitha membuat lelucon kecil. Dia menjerit sambil berkata, "Sopo nyekel akuuu." Sayangnya, pemadaman hanya sesaat saja. Orang-orang tertawa oleh atraksi Mitha.

Mungki Krisdianto juga datang. Dia mengenakan jaket kulit warna hitam, kembaran dengan Wisnu yang juga merapat di Macapat dan mengenakan jaket berwarna hitam. Ada Achmad Bahtiar, namun ia merapat di bangku dekat kasir, bercengkerama dengan Ajeng, sahabat dari Jember yang sudah agak lama berproses di Jogja. Kami jarang berjumpa.

Semakin malam semakin ramai. Ada teman lama yang juga merapat di Macapat, ia adalah Sentot Wiyono Kartolo. Dia tidak datang sendirian, melainkan berdua dengan Chandra. Bersama Kartolo dan gitar bolong milik Macapat, kami menyanyikan lagu-lagu milik Iwan Fals. Kartolo lantang sekali menyanyikan lagu, seperti tak ada pengunjung lain di sana. Kiranya tak ada yang keberatan, sebab selain Kartolo memiliki suara yang nyaman didengar, ia juga punya jiwa menghibur sejati.


Kartolo yang berbaju merah

Manakala ada waktu jeda, kami saling berbagi cerita. Sebagian besar adalah kisah usang, sebagian lagi adalah tentang seorang teman bernama Feri Adi Nugroho. Ia sahabat yang hebat. Tuhan memanggilnya pulang pada 16 September 2014 lalu.

Saat gitar bolong berpindah ke tangan Mungki Krisdianto, kami menyanyikan lagu-lagu slow rock 1990an. Meskipun tak ada api unggun, tetap saja ini adalah malam yang keren untuk kami.

Hingga kami akan beranjak pulang, tak ada perbincangan tentang rencana acara gelar wicara dengan tema pandangan ekonomi. Seharusnya malam ini kami membahas tentang bagaimana sebaiknya kami berbagi tugas teknis, membantu ide dari teman Wisnu yang baru saya kenal sehari sebelumnya, Farid Solana dan Gamar Tan.

Lalu kami pulang. Barangkali, saat melangkah pulang, masing-masing dari kami sama-sama sedang memikirkan bagaimana sebaiknya menghindari kebisingan malam tahun baru esok hari.

29.12.14

Berkenalan Dengan Teman Baru

29.12.14
Seorang teman, namanya Wisnu, ia ingin sekali memperkenalkan saya dengan teman sekolahnya di masa SMP. Namanya Farid Solana. Menurut Wisnu, temannya ingin membuat sebuah acara, semacam gelar wicara. Acara ini sedikit banyak ada hubungannya dengan komunitas-komunitas di Jember. Tujuannya baik, agar masyarakat Jember pada khususnya mampu berdaya saing dalam menghadapi gelombang ekonomi 2015 dan seterusnya.

"Kamis, 24 Desember 2014, Farid ke kantorku sekitar jam satu siang, lalu lanjut ke Macapat Cafe. Kita bicara sekilas tentang SOGA. Sesok'e jam siji aku mampir ke rumah sampean, sekilas bicara tentang SOGA dan kemungkinan sampeyan iso bantu opo ora."

Saya bilang pada Wisnu, "Temanmu memiliki niat yang baik." Tentu dengan senang hati akan saya bantu, sekiranya saya bisa.

Tak lama kemudian, cerita-cerita dari Wisnu melahirkan sebuah ide untuk cangkruk bersama di sebuah warung kopi. Kami memilih Macapat Cafe di Jalan Kalimantan, areal kampus Bumi Tegal Boto Jember. Selain karena saya sudah mengenal orang-orangnya, lokasi Macapat Cafe berdekatan dengan kantor tempat dimana Wisnu bekerja, KPRI Jember. Maka tadi sore, saya dan istri meluncur ke sana.

Wisnu menepati janjinya. Ia mengenalkan saya pada seorang lelaki berkacamata bernama Farid Solana. Mas Farid datang bersama istri, Gamar Tan.

Kesan pertama berjumpa dengan Mas Farid, ia terlihat cerdas, tidak suka asap rokok, dan senang menyebutkan nama-nama tokoh ekonomi yang sebagian besar tak saya ketahui. Mas Farid menghabiskan masa kecilnya hingga lulus SMA di Jember, lalu melanjutkan studi di Surabaya. Ternyata rumahnya yang di Jember tak begitu jauh dari rumah orang tua saya, kami satu kelurahan. Istrinya ramah, katanya dia berasal dari Lombok.

"Jadi begini Mas. Kami ingin membuat Gelar wicara atau talk show di Jember. Temanya seputar pandangan ekonomi. Acara ini rencananya akan digelar pada 24 Januari 2015, bertempat di Gedung Soetardjo Universitas Jember."

Lalu kami membahas dua project. Yang pertama adalah tentang Talk show Pandangan Ekonomi untuk tanggal 24 Januari 2015, berikutnya adalah membahas rencana pembuatan Perpustakaan di Jember.

"Kami masih mencari tempat untuk Perpustakaan, kalau bisa di dekat-dekat kampus Mas, biar enak. Kalau bisa lagi, tempatnya agak besar, jadi ada ruang khusus untuk diskusi."

Perihal Perpustakaan yang dicita-citakan, direncanakan akan kami diskusikan di waktu yang lain. Kami lebih fokus pada perbincangan untuk project yang satunya lagi. Poin yang didapat dari perjumpaan di hari ini, kami akan membantu sebisa mungkin. Salah satunya dengan cara mencarikan rekan yang mau untuk menjadi bagian kepanitiaan Talk Show.

Rupanya, sebelum berjumpa dengan kami, mereka telah mempersiapkan banyak hal. Mulai dari kepastian hari hingga tempat. Kata Mbak Gamar, mereka sudah mengurus perihal sewa Gedung Soetardjo, tinggal proses pembayarannya saja yang belum dilakukan.

"Rencanane sesok wes arep tak bayar gedunge Mas. Sangang juta."

Wew, sembilan juta rupiah. Tentu ini bukan acara yang kecil. Apalagi kata Mbak Gamar, ia juga telah nembusi Prosalina Radio untuk urusan woro-woro acara.

"Di sini murah banget ngiklan di radio ya Mas. Prosalina cuma minta dua belas juta lima ratus," kata Mbak Gamar. Saya hanya bisa menelan ludah. Uang segitu jika sama-sama ditujukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, barangkali bisa dijadikan seratus kali diskusi. Atau acara lain yang bukan diskusi namun memiliki cita-cita serupa. Namun saya tidak sampai hati menyampaikannya. Mereka berniat baik.

Dari apa yang saya tangkap di perjumpaan pertama, Mas Farid dan Mbak Gamar membutuhkan teman-teman Jember untuk membantu di bidang teknis acara, terutama di hari pelaksanaan acara nanti. Untuk urusan di luar teknis, mereka yang akan mengurusi.

Kata Wisnu, mereka berdua membuat sebuah wadah sendiri bernama SOGA, singkatan dari Solana dan Gamar. Mereka memiliki website. Barusan saya membukanya. Sayang, seluruh konten di website tersebut menggunakan Bahasa Inggris. Betapa lelahnya mata ini jika harus copy paste artikel ke google translate, haha.

Dalam kesempatan cangkruk tersebut, saya juga memperkenalkan mereka pada teman-teman Macapat Cafe. Ketika itu ada Dian Teguh Cetar, Adi Nugroho, Yudha, dan satu lagi saya lupa. Mungkin Budi atau Mohamad Ulil Albab. Kepada mereka saya sampaikan juga ide Mas Farid beserta istri. Sepertinya mereka bisa membantu bidang teknis.

Saat sedang santai berbincang, kami tidak tahu jika di Perkebunan Sentool sedang terjadi bencana ekologi longsor. Mendekati penghujung bulan Desember, Jember memang sedang diguyur hujan.

Nun jauh di tanah Papua sana, Presiden Joko Widodo sedang melaksanakan hari terakhir kunjungan kerjanya, dimulai sejak 27 Desember 2014. Semoga saja ini menjadi kabar baik bagi masyarakat Papua, setelah 22 hari sebelumnya terjadi tragedi pembantaian di kota Enarotali, Paniai.

Sore semakin berwarna jingga pekat, saya dan istri kembali pulang. Selama perjalanan saya masih tak habis pikir dengan gelar wicara yang direncanakan. Mereka hendak menghadirkan pembicara-pembicara penting dengan --tentu saja-- dana yang tidak sedikit. Lha wong mengeluarkan uang sejumlah Rp. 12.500.000 saja dibilang murah. Edan! Mereka orang-orang dengan niat yang baik, juga teman dari teman saya yang baik. Wisnu. Melihat niat mereka, tentu saya akan membantu sebisanya. Dengan syarat, kami sama-sama bisa memelihara niat.

Senang bisa berkenalan dengan teman baru, Farid Solana dan Gamar Tan. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik, Amin.

18.9.14

Feri

18.9.14
Aku selalu senang mendengarkan kau mendendangkan lagu. Saat memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu, kau seperti tak sedang ada di bangku taman. Seperti sedang terbang. Orang yang mengenalmu 'dengan baik' pasti akan mengamini dan percaya bahwa aku tidak sedang lebay.

Di hari yang lain kau duet dengan Kartolo, kalian memainkan irama Samba Pa Ti milik Santana. Merdu. Apalagi jika ada Anton diantara kita. Kau yang memetik gitar, Anton yang bernyanyi, Kartolo yang meniup harmonika. Akan semakin semarak jika ada Mungki Krisdianto. Sempurna. Aku pendengar setianya.

Suatu malam di pelataran SWAPENKA, kau pernah menyanyikan lagu-lagu Rock Indonesia Hits From 1990an. Wew! Tentu aku suka. Setidaknya aku bisa turut bernyanyi. Kau bilang, "Pemilu! Penyanyi minum dulu." Hari lahir yang indah, 23 Maret sembilan tahun yang lalu. Aku mengenang kebersamaannya.

Kita punya banyak kisah ya Fer. Orang yang mengenalmu, masing-masing memiliki kenangan yang tak sama.

Kau sahabat yang baik. Dua hari yang lalu --16 September 2014-- kudengar kabar duka dari Pulau Dewata, tempat dimana kau memetik gitar. Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun.


Pulanglah dengan damai Fer, Tuhan memelukmu

Semoga menemukan kedamaian dengan-Nya. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun maka ampunilah saudara kami ini karena kami melihatnya sebagai orang yang baik. Amin.

Yang indah itu pertemuan, yang manis itu kemesraan, yang pahit itu perpisahan ... Dan yang tinggal adalah kenangan.

1.9.14

Kronik di Bulan Agustus 2014

1.9.14
Di pemula bulan Agustus, saya dan Hana masih ada di rumah orang tua di Tuban. Kami berangkat --dari Jember-- sejak malam takbir, 27 Juli 2014. Waktu yang pendek selama di Tuban kami manfaatkan untuk berburu kisah-kisah, mencari tahu wajah perkeretaapian tempo dulu, dan tentu saja silaturrahmi.


Kembali ke Jember, 2 Agustus 2014

Foto di atas pernah saya tampilkan sebagai update status di akun Facebook yang kini sudah tidak saya gunakan lagi. Dalam status tersebut, saya menuliskan wajah Tuban seperti berikut ini;

Tuban adalah Kambang Putih. Jika dipandang dari laut, ia bagai secuil buih yang putih berpadu dengan tanah merah. Tuban adalah seuntai doa orang tua, adalah kisah-kisah yang terlelap, adalah kerinduan. Kemudian kita kembali bertebaran di muka bumi, bersahabat dengan papan petunjuk dan patok kilometer.

Belum sehari di Jember --3 Agustus 2014, kita sudah bergeser di pelukan Bondowoso, lalu menikmati malam di Kalisat.

Kita kembali pulang, kembali belajar menulis dan membaca kehidupan. Kita menelaah sedih, gembira, kehilangan, bahagia, dan merenungkan keterbatasan.

Setulus hati, maaf lahir bathin.

Ya, kami ke Bondowoso untuk Takziyah. Pada awal Agustus saya mendengar setidaknya dua berita duka. Yang pertama adalah berita tentang meninggal dunianya Ayahanda Nely Kresna Yudha. Disusul kemudian berita duka tentang meninggal dunianya kakak kandung Mitha, almarhum Ahmad Taufiqurrohman, pada 1 Agustus 2014.

Malam hari, 4 Agustus 2014.

Saya mengantar istri berbelanja di Pasar Tanjung, sebuah pasar tradisional di pusat kota Jember. Ketika berasa di tepian pasar, saya teringat sebuah edaran maya dari @infojember. Dikabarkan bahwa PKL di sekitaran Pasar Tanjung, baik yang berada di Jl. Samanhudi, JL. Untung Suropati, dan JL. Dr. Wahidi, mereka akan ditertibkan (dipindah) tanggal 7 September 2014. Waktunya sudah hampir tiba.

Pada 5 Agustus 2014, saya mulai mengunggah foto-foto tentang jejak keberadaan Kereta Api di Kabupaten Tuban. Esoknya, saya punya kawan baru di jejaring sosial Facebook. Ia bernama Imron, dengan nama alay di Facebook yaitu ZanDal JepiDz. Kiranya ia menyukai bidang sejarah.

Berita duka kembali kami dengar pada 9 Agustus 2014. Sahabat istri saya, namanya Arfian David atau biasa dipanggil Mulo, ia meninggal dunia karena sakit. Saya mendengar kabar tersebut dari Tita. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Pada 10 Agustus 2014, saya mendapati dua kabar bahagia. Pertama, adik saya di SWAPENKA, namanya Rudi Hartono, ia bertunangan dengan gadis pilihannya. Saya biasa memanggilnya Bu Cip. Tentu saya terkejut, sebab malam harinya saya masih melihat Rudi melintas di JL. Jawa Jember. Saat itu saya mengantar istri beli nasi goreng di seberang Oranje Cafe. Berita kedua, kabar pertunangan Pije dan Ovi, di Gresik. Saya menuliskan dua berita gembira tersebut di sebuah artikel berjudul; Duka dan Bahagia.

Senin, 11 Agustus 2014

Seharusnya saya dan Hana naik kereta api menuju Surabaya. Di sana kami akan berjumpa dengan Mbak Imelda Coutrier, sahabat blogger yang tinggal menetap di Jepang. Kami sudah lama merencanakan gagasan perjumpaan ini. Sayang, Tuhan punya maksud lain. Saat itu istri saya sakit. Semoga di lain waktu kami diberi rejeki untuk kopdar.

Esok harinya.

Saya membuat kesalahan kecil yang fatal. Merubah format username di Facebook. Lalu rusak, tidak bisa dikembalikan seperti semula. Saya menuliskannya di sini.

Dua hari kemudian, tepat di Hari Pramuka, saya membuat akun Facebook baru dengan username rzhakim.net.

Beberapa hari kemudian saya juga memperkuatnya dengan membeli domain dot net untuk blog rzhakim.

Di hari yang sama --14 Agustus 2014, Mas Andreas Harsono sedang berada di Jember. Kami janji ketemuan. Lalu kami mengajaknya ke Macapat Cafe, tempat nongkrongnya kawan-kawan Persma Jember.

Pertemuan antara saya dengan Mas Andreas Harsono dilanjut pada 16 Agustus 2014, di kediamannya di JL. Bondoyudo Jember. Kami berbincang lumayan lama, sekitar dua jam lebih.

Ohya, hampir lupa. Sehari sebelum hari Pramuka, saya berjumpa dengan Wisnu dan Agus Praptomo. Mereka adalah dua sahabat yang lumayan lama kami tak berjumpa. Waktu itu saya mengantar istri ke KPRI Jember untuk membeli handuk bayi. Ya, kami hendak menengok buah hati Cak Nanang NBK. Dari perjumpaan ini, saya mendengar kabar dari Wisnu tentang Griya Barokah Antirogo. Saya tertarik untuk membeli satu kapling tanah ukuran 72 meter persegi. Meski pada akhirnya tidak tereksekusi, namun saya memiliki cerita menarik tentang ini. Saya berharap, saya memiliki waktu untuk menuliskannya.

17 Agustus 2014

Indonesia sedang memperingati HUT RI yang ke-69. Saya doakan kawan-kawan Kari Kecingkul yang melakukan upacara bendera di Gunung Raung, mereka baik-baik saja dan membawa pulang segenggam semangat hidup.

Malam harinya, CLBK on air kembali siar di Prosatu RRI Jember, setelah kira-kira dua bulan vakum. Kami bicara tak jauh-jauh dari ranah kemerdekaan. Kabar baiknya, kami bisa menghubungi kawan-kawan Kari Kecingkul --yang sudah perjalanan turun dari Gunung Raung -- via telepon.

18 Agustus 2014

Sesuai dengan janjinya, Mas Dedi Prasetyo dan kawan baiknya --Adi Riyanto Affandie-- datang dari Jakarta menuju Jember. Mereka hendak menghadiri acara NALASUD yang digelar oleh UKM Pramuka UJ. Pukul 12.30 kereta api yang membawa Mas Dedi dan Mas Rian masih sampai di Rambipuji. Tak lama kemudian, saya menjemputnya di Stasiun Jember, naik motor.

Di hari yang sama, saya dengar kabar duka dari Mas Rony Rahardy tentang Nenek Yo. Beliau meninggal dunia di usianya yang ke 102 tahun. Innalillahi wainnailahi raji'un.


Foto oleh Marjolein Van Pagee, 15 Juni 2014

Hari itu juga, saya memberi kabar pada Marjo di Belanda. Dari Nenek Yo, kami mendapatkan beberapa kisah tentang Rambipuji di era Agresi Militer. Terima kasih Nek, doa kami bersamamu.

19 Agustus 2014

Dapat kabar duka dari Mas Ady Setyawan, bahwa sang pejuang Surabaya, Bapak Hario Kecik, beliau meninggal dunia. Innalillahi wainnailahi raji'un. Ah, kami merasa kehilangan.

Pada 20 Agustus, saya menerima sms dari Cak Oyong. Dia bilang, kalau mau nonton JFC Kids --21 Agustus 2014-- ada empat freepass. Tawaran darinya saya tawarkan lagi ke kawan-kawan, tapi tidak ada yang mau mengambil kesempatan itu.

Mas Dedi dan Mas Rian, mereka empat hari di rumah kami. Waktu yang pendek, namun kami melakukan dan membicarakan banyak hal. Semoga saya ada waktu untuk menuliskannya. Pada 21 Agustus 2014, Mas Dedi dan Mas Rian kembali meluncur pulang ke Jakarta.

Mereka pulang pada saat Jember baru saja memulai acara JFC, hingga acara puncak tanggal 24 Agustus 2014. Salut dengan Mas Dedi, meski tidak bisa memotret patung kakeknya --Letkol Moch. Sroedji-- sebab tertutup oleh backdrop JFC, namun ia baik-baik saja.

23 Agustus 2014

Novan Purwanto dan Oting Nafrity menikah. Saya membuat catatan sederhana untuk mereka, di sini.

26 Agustus 2014

Dini hari. Sahabat muda bernama Arys Aditya datang berkunjung ke rumah. Kami mendiskusikan banyak hal, istimewanya adalah tentang jurnalistik lingkungan.

Waktu saya ke Jakarta pada Januari 2014 yang lalu, Arys menjemput saya di Stasiun Senen. Saya dan Dieky bermalam di kamar khost-nya. Ia banyak membantu kami. Di Jakarta, Arys bekerja di media Bisnis Indonesia.

Beberapa saat sebelum adzan subuh, Arys pamit.

Masih di hari yang sama, 26 Agustus 2014.

Kawan baik saya di dunia blogger, ia mengirimkan pesan pendek.

"Mas saya baru turun dari Gunung Raung. Pengen mampir nanti malam ke Jember kalau Mas ada waktu."

Untuk Bang Goedel Mood yang sudah saya kenal sejak pertama kali ngeblog, tentu saya memiliki waktu. Saya katakan apa adanya tentang keadaan rumah kami. Lagipula, rencana perjumpaan ini sudah kami gagas sejak beberapa waktu sebelumnya.

Bang Mood tidak sendirian. Ia bersama sahabatnya yang gimbal, namanya Bang Iyang. Mereka dua orang yang keren.

Saat Bang Mood dan Bang Iyang ada di rumah kami, bensin lagi langka-langkanya. Sebenarnya hal ini sudah tercium sejak 19 Agustus 2014, saat kami mengantarkan Mas Dedi dan Mas Rian ke Jember wilayah Selatan. Sepanjang perjalanan, para penjual bensin eceran banyak yang tutup. Botol-botol bensin hanya berjajar dan kosong. Ada pula yang diberi tulisan 'bensin habis.' Namun waktu itu saya masih bisa menjumpai segelintir penjual bensin eceran. Untuk antri di POM bensin pun masih terbilang manusiawi.

Syukurlah, ada saja jalan membeli bensin. Jadi, saya tidak kelimpungan dan masih bisa mengajak Bang Mood dan Bang Iyang jalan-jalan meski dengan destinasi yang pendek. Dari rumah ke alun-alun Jember misalnya. Kami menikmati malam bersama kawan-kawan InfiniTeam Bike Jember.

Pada 27 Agustus 2014, saya membuat status di Facebook.

Dua malam yang lalu, saat saya dan istri ke Kalisat, motor yang kami kendarai kehabisan bahan bakar. Lalu ada orang baik yang membawakan sebotol bensin untuk kami. Ia tidak mau kami beri uang.

Semalam, ketika hendak menjemput Bang Mood dan rekannya di Terminal Tawang Alun, tak sengaja kami mendapati pedagang bensin eceran di daerah Baratan. Kepada semua pembeli yang mengantri, si penjual berkata, "Maksimal dua botol saja ya, kasihan yang lain."

Tadi pagi saat beli sesuatu untuk Aldin, di seberang RSUD Soebandi ada penjual bensin eceran yang baru saja membuka lapak. Saya pembeli pertama. Si penjual heran ketika saya hanya beli satu botol saja. Saya bilang, "Cukup kok Pak."

Di luar sana, masih banyak orang-orang yang menebarkan kebaikan. Alhamdulillah.
Kami senang bisa kopdar. Apalagi di malam pertama kedatangan Bang Mood, Kang Lozz Akbar juga meluncur ke rumah kami. Ia tidak sendirian melainkan berdua dengan Supot.

Kata Supot, bensin di Wuluhan masih terbilang aman. Di tempat Kang Lozz, Balung, bensin sudah langka. Esok harinya terdengar kabar jika bensin di sekitar rumah Supot sudah menjadi begitu langka.

Bang Mood dan Bang Iyang kembali pulang ke Jakarta pada 28 Agustus 2014. Di hari yang sama, Mojok Dot Co hadir dipelukan khalayak maya. Hana senang sebab ia menjadi salah satu penulis di media baru tersebut.

Pada 29 Agustus 2014, saya dan istri menghabiskan waktu dengan bersantai ria di sekretariat pencinta alam SWAPENKA. Kami berkebun, mengamati capung, ngopi, hingga senja berganti malam. Indah sekali. Malam harinya, badan rasanya linu-linu. Saudara saya bernama Ees, ia memijat saya hingga nyaris tertidur.

30 Agustus 2014, ada karnaval umum di Kalisat. Malam harinya ada Cak Dai di rumah saya. Kami berdiskusi hingga dini hari, 31 Agustus 2014. Diskusi yang berat, sebab kami berbeda sudut pandang.

Agustus yang padat dan penuh cerita. Tentu yang saya tuliskan di sini hanya buih-buihnya saja. Semoga ada waktu dan energi untuk menyempurnakan kisah-kisah itu.

Kini bulan telah berganti. Selamat datang September!

25.8.14

Saat Musim Karnaval Tiba

25.8.14

Foto oleh Faisal Korep, 24 Agustus 2014

Saat musim karnaval tiba, harga kemoceng akan naik. Di hari biasa, ia dihargai tujuh ribu hingga sepuluh ribu rupiah. Namun di musim karnaval, harganya bisa melonjak hingga seratus persen. Di tangan para desainer kostum seperti Ivan Bajil, kemoceng akan berubah fungsi. Ia tak lagi digunakan sebagai alat pembersih debu manual, melainkan hanya diambil bulu-bulunya saja.

Di musim yang lain, kemoceng adalah barang remeh yang seringkali tak dipedulikan keberadaannya. Saat musim karnaval tiba, ia tak lagi marjinal.

Kini, karnaval adalah tentang bulu-bulu unggas.

Saat musim karnaval tiba, orang-orang seperti Ivan Bajil akan lebih giat mendatangi babebo. Mereka menyerbu pusat perbelanjaan baju bekas murah dengan kualitas ekspor. Yang diincar adalah baju-baju empat musim, dimana ada penutup kepala yang dilingkari motif bulu-bulu.

"Lalu baju bekas itu akan kami 'edel-edel' dan kami ambil bulu-bulunya," kata Lukman, partner Ivan Bajil.

Saat musim karnaval tiba, anak-anak kecil di pinggiran kota akan merengek pada orang tuanya. Mereka meminta kostum karnaval yang ada bulu-bulunya, lengkap pula dengan sayapnya.

Sayap, ia adalah mimpi setiap anak kecil.

Dulu saya juga pernah sangat ingin sekali memiliki sayap agar bisa terbang seperti burung. Barangkali, angan-angan tentang sayap pernah dimiliki oleh semua orang. Kabar baiknya, karnaval bisa mewujudkan impian kolektif itu.

Ia mengingatkan saya pada penggalan tulisan Bre Redana yang pernah terbit di Kompas, 23 Desember 2012. Di artikel berjudul; Kebudayaan dan Politik Tubuh, Bre Redana menuliskan ini.

"Mengingat sekarang ini era konsumsi, kalau Anda punya uang, semua itu bisa dibeli."

Kini, karnaval adalah tentang sayap dan bulu-bulu unggas.

Catatan

Artikel ringan ini juga saya post di akun Facebook baru, di sini.

Salam saya, RZ Hakim.

23.8.14

Novan dan Oting Menikah

23.8.14

Novan dan Oting

Jika hari ini Blast Band masih bersedia tampil bernyanyi, tentu mereka akan menyanyikan lagu untuk sang keyboardist, Novan Purwanto. Tapi saya kira, Blast tidak akan menampilkan lagu mereka yang berjudul sembilan malam. Itu lagu tentang rasa kehilangan yang rapuh. Tak elok jika disenandungkan dalam sebuah resepsi pernikahan.

Saya biasa menyanyikan lagu mereka ketika sedang ada di kamar mandi. Biasanya hanya mengulang-ulang penggalan reff-nya saja.

"Sembilan malam meratap kesepian
Entah sampai kapan jiwa ini bertahan
Dalam siksa hatiku sendiri.."

Bolehlah jika dinyanyikan atas nama kenangan. Setidaknya mengenang suatu hari di bulan Februari 2008, ketika Yuni, Bayu, Rizkian, Febri dan Novan menyabet juara A Mild Live Wanted untuk Regional Jawa Timur.

Saat itu Blast tampil prima di Stadion Tambaksari Surabaya. Saya beruntung berada di jajaran terdepan untuk menikmati aksi mereka.

Hari ini, 23 Agustus 2014, Novan Purwanto dan Oting Nafrity menggelar resepsi pernikahan. Selamat ya. Saya dan Hana bahagia bisa datang di acara kalian. Apalagi di sana kumpul sama Mungki Krisdianto, Sunu, Yoyok Pocket, Adit the Rocket, dan kawan-kawan musisi indie Jember yang lain. Apalagi Diorama tampil bernyanyi menghibur para undangan. Apalagi ada satenya.

Untuk Novan, terima kasih telah mengisi keyboard di lagu tamasya band yang berjudul teman.

Ohya. Resepsi pernikahan kalian mengingatkan saya pada cerita Yuni, tentang 23 Agustus enam belas tahun yang lalu. Ya, itu adalah awal keberadaan sebuah band bernama Blast, dimulai dari sudut kota Malang sebelum akhirnya hijrah ke Jember.

Salam saya, RZ Hakim.

15.8.14

Manfaat Username Facebook

15.8.14

Dampak username yang rusak

Saya memiliki masalah dengan username Facebook. Hingga hari ini ia rusak dan tidak bisa kembali seperti semula. Ini kasus yang kecil, tapi lumayan memusingkan. Jika Anda seorang blogger, maka setidaknya username dapat mempermudah membuat link ke Facebook kita pada tiap postingan blog. Facebook yang sudah memiliki username juga akan bisa terindex oleh mesin pencari Google.

Manfaat lain dari username Facebook:

1. Untuk memudahkan orang mencari dan terhubung dengan kita.

2. Dengan adanya username, jika kita mengetikkan nama/username Facebook kita di mesin pencari google, maka ia akan menampilkan Facebook kita lengkap dengan fotonya

3. Username bisa dijadikan pengganti alamat email pada saat login ke Facebook

4. Dengan adanya username, kita menjadikan jejaring sosial Facebook sebagai website mikro

5. Username memudahkan user untuk menemukan teman mereka lebih cepat dengan mengetikkan username sebagai bagian dari URL

6. Menggunakan username dengan nama Anda sendiri atau real name user, tentu berdampak pada tumbuhnya rasa percaya bahwa itu memang jejaring sosial yang Anda kendalikan

7. Otentikasi ini akan membantu lingkungan yang terpercaya karena user tahu identitas asli orang yang mereka undang dan semua hal di Facebook.

Layanan username pertama kali diluncurkan oleh pihak Facebook pada 13 Juni 2009. Hari itu, situs Facebook diserbu banyak orang pada saat bersamaan. Mereka berebut memilih username sesuai nama favorit mereka masing-masing. Terhitung dalam 60 jam sejak proses registrasi username dilakukan, terjadi pembuatan 100.000 username per-jamnya. Sejumlah 500.000 registrasi username terjadi dalam masa 15 menit, dan 3 juta registrasi username dalam 14 jam pertama. Setidaknya itu yang saya temukan saat googling.

Lahirnya username rzhakim.net

Sebenarnya, yang membuat saya terganggu dengan masalah username Facebook bukan melulu mengenai poin-poin benefits di atas. Yang saya rasakan lebih sederhana. Ini tentang sreg dan tidak sreg.

Jadi, ketika akun Facebook milik saya mengalami masalah dengan username, saya berpikir untuk membuat Facebook baru. Tentu, saya telah menimbang baik buruknya, berat tidaknya. Ya memang berat. Saya sudah memanfaatkan Facebook selama enam tahun. Jika saya harus memulai kembali, ada banyak hal yang harus saya lakukan.

Di catatan sebelumnya berjudul, Gagasan Yang Tidak Lazim, saya telah mempertimbangkannya.

Dini hari kemarin, saya membuat akun Facebook baru. Harapan saya, pada 23 September 2014 nanti, Facebook personal dengan username rzhakim.net ini sudah bisa beroperasi. Sedangkan Facebook sebelumnya --yang kini masih saya gunakan, mungkin akan saya delete secara permanen.

facebook.com/rzhakim.net

14.8.14

Gagasan Yang Tidak Lazim

14.8.14
Saya membuat akun di jejaring sosial Facebook sejak enam tahun yang lalu, di pemula bulan Desember. Terbilang terlambat beberapa bulan jika dihitung dari demam Facebook di Indonesia yang terjadi pada pertengahan 2008. Facebook sendiri pertama kali diluncurkan sejak 6 Februari 2004.

Hingga pertengahan 2007 Facebook nyaris tak dilirik pengguna Internet. Namun di tahun berikutnya ia melejit. Stasistiknya menjulang tinggi.

"Indonesia tercatat dalam sepuluh besar negara pemakai situs yang mulai dibuka untuk umum pada 2006 ini.” (Wiguna, 2009).

Meroketnya Facebook ditandai dengan meredupnya Friendster, sebuah jejaring sosial yang berdiri sejak 3 Januari 2001. Semakin hari Friendster semakin menepi. Hingga di akhir bulan April 2011, pihak Friendster mengumumkan bahwa mereka akan tutup buku pada 31 Mei 2011.

Friendster pernah berjaya. Terlebih, antara tahun 2003 hingga 2008. Tentu, ada banyak orang yang memiliki kenangan bersamanya, tidak terkecuali saya. Mengingat Friendster, teringat pula pada warnet-warnet jadul di sekitaran kampus Bumi Tegalboto Jember.

Dulu di Jember hanya ada sedikit warnet. Misal, Warnet Mulia di Jalan Jawa. Di Jalan Sumatera ada Warnet Binawidya. Lalu ada Bintang, Javanet, Smile, Godonk. Di masa-masa itulah saya membuat akun friendster, tepatnya di Godonk Net. Ketika itu penjaga warnetnya teman sendiri, Noy Cokroadiningrat. Sayang saya lupa, tahun berapakah itu.

Saya pernah menuliskan penggalan pengalaman seputar Friendster di sini. Ada satu catatan lagi. Sebelum Friendster tutup akun, saya pernah menulis sesuatu di sini.

Sejarah bersifat berulang, dengan ruang dan waktu yang tentunya berbeda. Jika belajar dari meroketnya Facebook dan meredupnya Friendster, maka ini semua adalah tentang inovasi. Penyegaran. Facebook tampil simpel dan elegan, didukung oleh banyaknya fitur dalam satu halaman. Sedangkan Friendster, ia hanyut oleh popularitasnya. Bahkan Frienster terlambat memasang fitur chatting.

Hari ini sudah terlihat tanda-tanda bahwa Facebook harus melakukan penyegaran. Jejaring sosial semakin banyak, ponsel pintar bertebaran. Mereka menawarkan fitur-fitur yang menarik. Jika Facebook tidak melakukan sesuatu, kiranya ia bernasib sama seperti Friendster.

Facebook Baru

Saya adalah pengguna Facebook, aktif menaruh link-link tulisan blog di sana, serta sekali waktu membuat status yang panjang. Melihat fenomena yang ada, menjadi aneh ketika hari ini saya berencana untuk menghapus facebook secara permanen dan menggantikannya dengan akun baru. Semua hanya karena link yang rusak, seperti update status saya kemarin.

Maksud hati ingin merubah/mengatur ulang nama pengguna, namun gagal. Jadi apabila diketik domain facebook/masbro.acacicu, halaman tidak ditemukan. Kini link url jejaring sosial fb yang saya gunakan memakai id berupa angka-angka, dengan nomor id=12156579**

Tentu saya mengerti, gagasan membuat Facebook baru adalah tidak lazim dan sangat tidak populer. Bahasa lokalnya, "leter."

Gagasan ini tentu membuat saya harus menyisihkan sebagian waktu luang untuk mengunduh data-data yang sekiranya saya butuhkan. Pilihan berikutnya adalah membiarkan Facebook lama menjadi 'sampah' maya. Jadi saya masih bisa mengunjunginya kapan saja. Harga mahal lainnya yang harus dibayar adalah kembali melakukan konfirmasi pertemanan. Belum lagi misalnya, ketika saya sudah melakukan semuanya, tanpa disangka-sangka, Facebook tutup.

Semua itu telah saya renungkan. Hari ini, saya mengeksekusi langkah pertama dari gagasan aneh yang bersemayam di kepala. Iya benar, saya telah membuat akun baru di jejaring sosial Facebook. Hehe, ada-ada saja saya ini. Tapi tidak apa-apa, ada baiknya saya coba. Semua akan pindah pada waktunya.


11.8.14

Gagasan Perjumpaan

11.8.14
Hari masih sangat pagi ketika saya membaca pesan dari Kang Yayat. "Halo Mas, sudah sampai mana? Mohon info. Thank's." Setelah membaca pesan itu, saya tak segera membalasnya melainkan lebih memilih merapikan selimut yang melindungi tubuh Hana dari dingin.

Ya, seharusnya tadi pagi saya dan istri sudah nangkring di kursi empuk kereta api logawa. Berangkat dari Jember dengan stasiun tujuan Surabaya - Gubeng.


Dokumentasi Imelda Coutrier

Sesampainya di sana, Kang Yayat bersedia membantu untuk menjemput kami. Lalu kami bakal bertemu dengan Mbak Imelda Coutrier beserta dua jagoannya, dan kami akan segera meluncur ke Malang. Jalan-jalan.

Begitulah gagasannya. Perjumpaan ini sudah terencana sejak 4 Juli 2014. Kami sangat menantikan hari ini.

Istri saya sakit. Dengan berat hati, saya membatalkan keberangkatan ke Surabaya. Mohon Maaf Mbak Imelda, Kang Yayat.

Semoga di lain waktu kita bisa berjumpa, Amin.

10.8.14

Duka dan Bahagia

10.8.14
Hari ini Pije berangkat ke Kabupaten Gresik untuk meminang Ovi, kekasih hatinya. Tentu Pije tidak sendirian melainkan diantarkan oleh sanak keluarganya. Ia menyewa Elf, kendaraan yang memang disetting untuk mini bus keluarga. Faisal Korep ia ajaknya pula untuk mendokumentasikan acara tersebut.

Tadi malam hingga dini hari menjelang keberangkatannya ke Gresik, Pije dan Faisal memilih untuk bersantai ria di rumah saya. Istri saya masih terlihat shock perihal salah satu sahabat terbaiknya yang meninggal dunia. Namanya Arvian David Alfakhri. Saya biasa memanggilnya David. Kawan-kawan yang lain lebih suka memanggilnya Mulo.

Adalah Tita yang menelepon saya semalam, 9 Agustus 2014 pukul 22.23 WIB. Dari Tita saya mengerti jika David meninggal dunia di RS Banyuwangi. Almarhum mengidap radang kelenjar tiroid. Selain itu, di tulangnya terdapat virus.

David, Hana dan Tita. Mereka bertiga disatukan dalam Latihan Alam Dewan Kesenian Kampus --Fakultas Sastra Universitas Jember-- tahun 2004.

Bulan Januari 2005, Hana mengikuti Diklatsar Pencinta Alam. Ketika itu David juga mendaftarkan diri sebagai calon peserta Diklatsar SWAPENKA. Ia mengikuti Diklat Ruang. Menjadi menarik, David lebih paham nama-nama ilmiah tumbuhan dibanding saya yang waktu itu sudah empat tahun berproses di pencinta alam.

Pada akhirnya David tidak meneruskan proses Diklatsar Pencinta Alam. Ia tidak mengikuti Diklat Lapang yang bertempat di Taman Nasional Merubetiri. Hana yang meneruskan proses Diklatsar. Lalu ia lebih aktif di dunia pencinta alam. Adapun David dan Tita, mereka melanjutkan prosesnya di bidang seni.

Saya akrab dengan rekan-rekan satu angkatan Hana di Dewan Kesenian Kampus, tidak terkecuali Galih Nofiyan. Ia adalah lelaki muda enerjik asal Sumberbaru, Jember. Kabar duka datang pada 25 Juli 2012, Galih meninggal dunia. Saya pernah menuliskannya di sini.

Kabar duka berbalut dengan kabar bahagia. Sehari setelah Galih meninggal dunia, terdengar kabar jika Nia melahirkan anak kedua yang diberi nama Kafka Avicenna Al-Misky. Nia adalah juga sahabat satu angkatan Hana, Tita, Almarhum Galih dan Almarhum David di Dewan Kesenian kampus.

Pada 9 Januari 2013 Tita menikah. Penggalan kisahnya juga pernah saya tuliskan, di sini. Catatan saya di blog, sebelum berkisah tentang pernikahan Tita dan Bagus, adalah catatan fiktif tentang kematian.

Istri saya terkejut mendengar kematian David. Baru setengah tahun yang lalu David melewatkan beberapa malam di rumah kami dan melakukan banyak kegiatan. Kami masak bersama-sama, ngopi di rembangan, jalan-jalan.

Dini hari tadi, hingga pukul 00.50 WIB, saya dan Hana mampir di Kedai Naong Kopi. Di sana sudah ada Akil, salah seorang anggota Dewan Kesenian kampus. Disusul kemudian oleh Miftah. Mereka hendak berangkat takziyah ke Banyuwangi namun tidak tahu kabar pasti, kapan pemakaman dilakukan. Oleh Revo, mereka disarankan untuk istirahat dulu dan berangkat pagi saja.

Saat kami di Kedai Naong Kopi yang lokasinya tepat di tepi jalan di areal kampus, di sepanjang JL. Kalimantan banyak sekali kumpulan anak muda. Mereka sedang melakukan aksi balap liar. Aneh, biasanya mereka melakukan itu pada hari Jumat malam Sabtu. Kini jadwalnya semakin tidak tentu. Kira-kira sepuluh menit sebelum memutuskan pulang, ada tontonan gratis tepat di depan mata. Beberapa orang berambut cepak sedang mengobrak-abrik kumpulan anak muda bermotor. Ada yang bilang, itu 'soldaten' mabuk. Saya tidak bisa memastikan itu sebab memang tak ada niatan untuk mengecek kebenarannya.

Kami sedang membicarakan perihal berita duka, sementara di luar sana orang-orang sedang bermain-main dengan nyawanya.

Tadi malam hingga dini hari menjelang keberangkatannya ke Gresik, Pije membantu Hana mencarikan foto-foto kegiatan ketika kami masak bersama-sama di dapur, 28 Januari 2014. Orang-orang yang mengenal David pasti mengerti jika ia jago di bidang memasak. Pada akhirnya foto yang dimaksud memang tidak dijumpai. Kami lupa menyimpannya di folder apa.

Hari ini Pije berangkat ke Kabupaten Gresik untuk meminang Ovi, kekasih hatinya. Kabar lain, beberapa saat yang lalu adik saya di Pencinta Alam, Rudi Hartono, ia telah resmi bertunangan dengan perempuan pilihannya. Alhamdulillah.

Duka dan bahagia, dua hal yang menghimpun kesadaran kita pada sabar dan syukur.

7.8.14

Ekspektasi

7.8.14
Ini pertanyaan susah-susah mudah. Apa usaha yang sudah, sedang, dan akan saya lakukan menuju umur lebih dari 60 tahun? Ia membuat saya memikirkan banyak hal. Tak terkecuali, memikirkan hari-hari yang telah terlewati. Saya kira, untuk menjawab pertanyaan itu saya butuh bercerita.

Sekilas Perjalanan Hidup

Saya dilahirkan tiga hari sebelum penandatanganan perjanjian damai Israel - Mesir oleh Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Mereka melakukannya di Washington DC. Perjanjian yang kontroversi itu ditentang habis-habisan oleh Yasser Arafat.

Saya masih kecil sekali, belum lagi satu tahun, ketika terjatuh ke dalam batuan kapur.

Jadi ceritanya, saat itu orang tua saya sedang merenovasi rumah. Bapak sedang bekerja di luar rumah, sementara Ibu sibuk mempersiapkan jamuan makan untuk para pekerja bangunan. Tentu ia sangat sibuk sekali, mengingat Kakak perempuan saya masih kecil, sementara saya masih bayi. Waktu Ibu mempersiapkan ini itu di dapur, saya yang masih merah diletakkannya di atas dipan, dijaga oleh bantal kecil di kiri kanannya. Sementara tepat di bawah dipan ada campuran material biji-biji kapur yang telah dilembutkan berpadu dengan air. Bentuknya seperti kaldera Gunung Raung.

Entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba saya sudah nyemplung seratus persen di dalam kaldera kapur. Ya, saya menggelinding dari dipan dan meluncur bebas dalam pelukan air kapur alias gamping. Orang pertama yang melihat kejadian itu adalah Pak Rasmo, salah satu yang bekerja merenovasi rumah.

Ibu menjerit, menangis, panik. Setidaknya, itu yang dikisahkan Pak Rasmo ketika saya telah besar. Saya hanya mencoba mengilustrasikannya.

Syukurlah, dalam kepanikannya jiwa keibuannya tetap bekerja. Ia meraih anak bungsunya, kemudian melakukan apa yang harus dilakukan. Ibu membersihkan lubang-lubang di anatomi tubuh anaknya. Tak boleh ada yang tersumbat kapur. Mulai dari mulut, hidung, telinga, dubur, hingga kedua mata, ia bersihkan semua.

Singkat cerita, saya bertahan hidup. Kelak, kisah ini melegenda dalam keluarga kami. Ia membuat saya mafhum kenapa tulang-tulang dalam tubuh saya sulit membesar. Hanya senyum manis yang bisa saya persembahkan manakala ada suara-suara sumbang. Sebab kurus sekali, mereka mengira saya adalah seorang pengguna narkoba.

RZ Hakim kecil semakin bertumbuh, melewati banyak kisah.

Ketika terjadi tragedi pembunuhan Anwar Sadat, saya sudah mulai bisa berjalan dan mulai lancar bicara. Adapun proses hijrahnya saya dari SD menuju SMP ditandai dengan meninggal dunianya mantan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin.

Saya sudah beranjak dewasa ketika Yasser Arafat meninggal dunia, sepuluh tahun yang lalu. Masa itu saya namakan sebagai masa-masa transisi. Masa yang dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan berat buatan saya sendiri. Juga, masa-masa produktif bagi saya dalam melukis dan merangkai bait-bait puisi.

Gagasan Mati Muda

Satu tahun setelah meninggalnya Yasser Arafat, Riri Riza menggarap sebuah film. Ia mengisahkan seorang tokoh demonstran dan pencinta alam bernama Soe Hok Gie, diperankan dengan agak kaku oleh Nicholas Saputra.

Rupanya Soe Hok Gie tergila-gila dengan pemikiran filsuf Yunani tentang mati muda. Kata-kata tersebut diabadikan dalam Catatan Seorang Demonstran halaman 96.

"Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua."

Saya tidak sedang akan membahas gagasan mati muda yang pernah menjadi trend dalam karya-karya mereka yang juga masih muda. Sama sekali tidak. Saya menebak, semua orang telah mengerti mengenai gagasan itu. Itu adalah gagasan yang sulit untuk membumi dan diejawantahkan. Namun, tentu saya tidak bermaksud mencederai hati para sahabat yang mengusung gagasan ini.

Saya mengerti, penggenggam ide mati muda adalah mereka yang enerjik dan menyangka bahwa menjadi tua identik dengan segala hal yang menyedihkan. Menjadi tua adalah buruk dan menyusahkan.

Seringkali, kita memang pandai menyangka-nyangka.

Saya pernah merenungkan gagasan mati muda dalam rentang waktu yang panjang. Ini tentang merenungkan saja. Lalu terhimpun kesadaran dalam diri, saya bahagia dilahirkan. Menurut penuturan orang-orang terdekat, kelahiran saya adalah sesuatu yang dinanti-nanti.

Nasib terbaik kedua adalah dilahirkan tapi mati muda. Tentu saja. Menurut apa yang saya yakini, kanak-kanak yang meninggal dunia sebelum baligh, ia adalah penghuni surga. Selama di alam barzakh mereka diasuh oleh Nabi Ibrahim, sampai orang tuanya datang.

Kisah di atas mengingatkan saya pada kawah gamping, dimana saya tenggelam di dalam kaldera kapur. Begitu pun, saya bahagia bisa menghirup udara dunia hingga hari ini. Alhamdulillah. Tuhan punya maksud lain yang lebih baik untuk saya. Adalah tugas kita untuk memanfaatkan hidup sebaik-baiknya, seindah-indahnya, dan se-bermanfaat mungkin. Doakan semoga saya bisa, Amin.

Menjadi Tua Adalah Alami

Suatu hari di pertengahan Ramadhan 1993 Masehi, terdengar kabar mengejutkan. Ini tentang Kakek, Ayah dari Bapak saya. Ia meninggal dunia oleh setrum bertegangan 110 voltase, di usianya yang ke-67 tahun.

Di luar sana orang-orang bersuara. "Padahal tadi Pak Sura'i masih ngobrol sama saya." Padahal begini padahal begitu.

Pelajaran penting bagi seorang RZ Hakim remaja, bahwa sesuatu yang hidup pasti akan mengalami mati, sehebat apapun kita menyayanginya. Mengenai kapan datangnya kematian, ia adalah satu dari tiga hal yang menjadi rahasia Tuhan yang tidak seorang pun tahu. Biarkan mati datang pada waktunya, tidak perlu dijemput tidak pula untuk dihindari. Kita hanya harus mempersiapkannya.

Menjadi tua adalah alami, maka mari kita rayakan kehidupan ini dengan menjadi manusia yang berguna.

Penutup

Sampai hari ini saya senang belajar. Belajar dengan senang. Sebab apa yang saya yakini menganjurkan manusia untuk belajar dan terus belajar, sejak dari buaian hingga liang lahat. Anjuran itu mensugesti saya untuk bisa belajar dengan bahagia.

Dengan belajar, saya berharap untuk bisa terus berkarya. Entah menciptakan lagu, entah menulis, atau apa saja.

Kiranya itu yang saya lakukan untuk memeluk tua.

Saya juga meletakkan harapan di dalam hati agar senantiasa bisa mengembangkan budaya meneliti. Ini baik untuk saya, sebagai daya rangsang belajar atas nama ilmu pengetahuan. Secara tidak langsung, ia juga mengasah imajinasi saya, dalam berpikir dan dalam memandang kehidupan. Ini juga tentang hasrat dan kegairahan hidup.

Sebagai pribadi yang mencintai dunia menulis, tentu saya tidak memiliki jaminan hari tua berupa materi. Tak ada uang pensiun. Ya, saya harus menciptakannya sendiri. Saya harus menyebar biji-bijian agar bisa memanennya, suatu hari nanti. Di sisi yang lain, saya juga mengamini kalimat, "Burung pipit tidak pernah ikut menanam tapi ia turut memanen."

Dalam hidup, kita hanya butuh berani mempelajarinya. Sebab Tuhan bersama orang-orang yang mau belajar untuk menjadi berguna.

Salam saya, RZ Hakim.

*Catatan ini menjadi semacam abstraksi terhadap ekspektasi tentang usaha apa yang sudah, sedang dan akan saya lakukan menuju umur lebih dari 60 tahun.

2.8.14

Memanggil Namanya

2.8.14
Seminggu di rumah mertua, saya semakin terbiasa memanggilnya Hana. Semula saya memanggil istri saya dengan satu suku kata saja, Prit. Ketidaklaziman ini entah kenapa membuat saya teduh. Kadang setelah memanggilnya dengan sapaan Hana, saya tertawa sendiri. Disusul kemudian tertawa bersama-sama. Aneh yang indah.

Kami berangkat dari Jember sore hari di waktu Ashar, sampai di Tuban pukul sebelas malam. Perjalanan itu kami lewati sambil bernyanyi-nyanyi di atas motor Plat S.

Memasuki Kabupaten Probolinggo, kami mulai jarang bernyanyi.

Di sana, di jalur Probolinggo, kami menjumpai dua kejadian. Yang pertama adalah peristiwa tergulingnya truk pengangkut kelapa. Saya memang tidak melihat bagaimana proses jatuhnya kendaraan besar itu. Ketika saya sampai di lokasi, truk tersebut sudah dalam keadaan terguling, namun buah-buah kelapa itu berhampuran. Itu terjadi di Desa Malasan. Kalau dari Surabaya, Desa Malasan adalah setelah Pabrik Kertas Leces.


Dokumentasi Pribadi, 27 Juli 2014

Peristiwa kedua adalah tergencetnya motor matic di ban depan sisi kanan sebuah bus. Ini terjadi di dalam sebuah POM bensin. Hanya berjarak sekitar dua km saja dari peristiwa pertama. Bus dan motor matic, keduanya sama-sama melaju pelan, namun malang tak dapat ditolak. Ia adalah pelajaran berharga untuk saya yang sedang akan antri mengisi bensin.


Di sebuah POM Bensin di Probolinggo - Dokumentasi Pribadi

Keduanya terjadi di Kabupaten Probolinggo. Dalam Bahasa Sanskerta, Probo artinya sinar. Sedangkan Linggo atau Lingga, ia adalah pertanda. Saya mencoba menafsir-nafsirkannya sendiri. Bagi saya, peristiwa itu juga saya anggap sebagai penanda untuk mengurangi bernyanyi-nyanyi, mengimbanginya dengan 'mantra' yang kita yakini. Dalam hal ini, saya memilih shalawat dan berdoa sebisanya.

Sebab keyakinan adalah sumber kekuatan.

Selama perjalanan Jember - Tuban, saya dan Hana menghabiskan banyak waktu untuk beristirahat. Malam harinya, kami berpapasan dengan rombongan takbir, apalagi ketika sudah masuk di Kabupaten Gresik. Kami seperti sedang mengenang perjalanan tahun lalu, mudik di malam takbir. Ada kembang api di kiri kanan, dan ada suasana rindu yang syahdu.

Seminggu di Kabupaten Tuban, saya semakin terbiasa memanggilnya Hana. Semula saya memanggil istri saya dengan satu suku kata saja, Prit. Ketidaklaziman ini entah kenapa membuat hati saya teduh.

Saya dan Hana, kami bersilaturrahmi di rumah sanak saudara. Di waktu luang, kami jalan-jalan. Ya, kami berburu cerita. Sekali waktu, kami seperti sedang mewawancarai saudara sendiri. Sekitar lima jam yang lalu Hana bahkan mewawancarai Bapak dan Ibu. Ia banyak bertanya tentang nama-nama family, kemudian mencatatnya dalam notes kecil.

Kami memiliki kisah yang banyak.

Kabar dari Jember. Beberapa sahabat sedang diuji sabarnya karena harus merelakan keluarganya terkasih ngadep Sang Pencipta. Nely Kresna Yudha, ia kehilangan Ayahanda tercinta --Albani Dwidjosardjono-- sehari menjelang Idul Fitri. Di penghujung bulan Juli 2014, Mita kehilangan kakak kandung tercinta, Taufiq. Semoga husnul khotimah, semoga sabar, dan semoga menjadi hikmah buat semua.

Pada saatnya nanti, tentu saya akan berbagi kepingan-kepingan kisah yang tercatat dalam notes.

Hari ini, 2 Agustus 2014, saya dan Hana akan kembali ke Jember. Kami akan sangat berbahagia sekali jika sahabat blogger turut mendoakan perjalanan kami. Terima kasih, mohon maaf lahir dan bathin.

Salam kami, Hakim dan Hana.

26.7.14

Dari Jendela ke Jendela

26.7.14

Memotret Jendela Musholla, 26 Juli 2014

Tadi sore saya berkunjung ke sebuah rumah tua, letaknya tak jauh dari Stasiun Kalisat, Jember. Bapak Edy, pemilik rumah tersebut, ia mempersilahkan kami untuk melihat-lihat bangunan rumahnya.

"Tidak ada plakat apapun yang menunjukkan usia bangunan. Namun menurut Almarhum Kakek, rumah ini dibangun pada 1901."

Sembari mendengar kisah, pandangan saya edarkan ke sekeliling hingga menjumpai sebuah jendela tua yang mempersembahkan pemandangan berupa jendela Musholla. Dua jendela ini saling berseberangan.

Saya terpikat dengan pemandangannya. Dari jauh, saya bisa melihat adanya lubang Mihrab. Ia mengingatkan saya pada kisah Kapitayan. Tentu, saya juga teringat Lomba Foto yang diadakan Om NH.


23.7.14

Menuju Kebahagiaan

23.7.14
Hari ini saya lelah sekali. Tubuh rasanya lemas, nyaris dalam seharian saya lebih banyak menghabiskan waktu di atas kasur. Leyeh-leyeh, mencoba memejamkan mata. Saat gagal terpejam, saya raih sebuah buku dan membacanya dengan acak, lalu kembali terkapar.

Iya, saya masih bertahan untuk berpuasa hingga adzan maghrib berkumandang, namun tak berkegiatan apapun. Ibaratnya, saya adalah bagian dari Ashabul Kahfi di masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Saya seperti sedang tidur selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti.

Haha, kiranya puasa saya hari ini tidak berkualitas.

Di luar sana, Indonesia sedang merayakan Hari Anak Nasional. Ini sesuai dengan Kepres RI Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984. Dikabarkan bahwa mesin pencari google sedang menampilkan doodle berupa alat permainan tradisional yaitu congklak. Saya biasa menyebutnya dakon. Memandang doodle ini, saya jadi teringat nasib para bocah yang hidup di Gaza.

Ini bulan Juli yang penuh cerita, mulai dari wajah perpolitikan negeri ini hingga Final Piala Dunia antara Jerman Vs Argentina pada 14 Juli yang lalu.

Kata istri, saya mudah lelah sebab terlalu sering memikirkan banyak hal. Saya tertawa, tapi kata-kata itu akhirnya saya pikirkan juga. Mungkin. Akhir-akhir ini saya terlalu banyak memikirkan bab kebangsaan.

Syukurlah, sejak tiga bulan yang lalu saya memiliki aktifitas yang menyenangkan. Saya, istri saya, dan beberapa sahabat dekat, kami mencoba memulai 'mencari penghasilan' di bidang sosial media dan web management content. Ini aktifitas yang menyenangkan. Kami bahagia bisa berkarya di jalur yang kami sukai. Lebih membahagiakan lagi, kami mandiri dalam membuat jadual sendiri, bertanggung jawab atas masing-masing jalur yang kami bidangi.

Saya bergerak di jalur pembuatan konten, istri saya di sosial media strategi dan turut membantu pengadaan konten, sementara bidang web dan design digarap oleh Ahmad Yusuf dan Faisal. Mereka berdua adalah adik saya di pencinta alam. Ketika Ananda Firman Jauhari pulang ke Jember --setelah menghabiskan waktu berproses di Sokola Rimba, sejak kemarin --22 Juli 2014-- ia juga turut bergabung bersama kami.

Aktifitas ini membuat saya masih bisa melakukan hobi yang lain, silaturrahmi ke desa. Sangat membahagiakan.

Dari kesukaan silaturrahmi tersebut, terbersit gagasan kecil untuk beraktifitas di luar jalur mencari penghasilan. Kami ingin menyemarakkan diskusi-diskusi di desa, berbagi pengetahuan dan saling belajar. Kami sendiri ingin menyuarakan tentang pentingnya teknologi informasi. Doakan semoga kami bisa mengeksekusi gagasan kecil ini.



SR Codia, itulah brand yang kami usung. Codia adalah kependekan dari Content Media. Sementara SR, ia adalah singkatan dari Slamet Riyadi, nama jalan di rumah saya. Kami sematkan juga singkatan nama JL. Slamet Riyadi sebab SR Codia berkantor di rumah saya.

Itulah sepenggal cerita tentang kesibukan saya akhir-akhir ini. Bidang yang menyenangkan, dengan sebuah tim kecil. Hari-hari kami lewati dengan menggagas ide, menyemarakkan twitter atau funpage facebook milik klien, menyumbang pilihan warna untuk website, melakukan survey sederhana di dunia maya, membuat konten dengan isi artikel sesuai tema, briefing dan atau sekedar mengevaluasi kinerja kami masing-masing.

Cerita di atas adalah gambaran bagaimana SR Codia bekerja. Kami menciptakan brand, support personal branding klien, memasarkan sebuah produk dalam bentuk digital, memikirkan segala hal yang berkaitan, lalu jalan-jalan.

Saya menyadari, bidang ini menuntut kami untuk senantiasa sehat dan bergembira. Natali, seorang kawan yang baru saya kenal di Jakarta --kebetuan ia bergerak di bidang yang sama, ia bilang, "Hanya orang-orang bahagia yang bisa membuat orang lain bahagia." Kiranya kalimat itu berpengaruh ketika saya harus berproses di SR Codia.

Kami menjalani hari-hari bersama pemikiran dan imajinasi. Itu sebabnya kami memikirkan menu makanan setiap hari, mengelola dapur dengan sebaik-baiknya. Kami bakal jarang bergerak, lebih sering berada di depan monitor. Sebab itulah kami membuat jadual mandiri untuk jalan-jalan. Bagi kami tamasya adalah penting, untuk silaturrahmi dan untuk menyegarkan ruang-ruang otak dan imajinasi.

Hari ini saya lelah sekali. Namun ketika satu persatu anggota SR Codia datang, ujung-ujung bibir saya tertarik ke atas, membentuk seperti huruf U. Kawan, mari kita nyemplung di dunia kekaryaan.

Sahabat blogger, doakan kami.

22.7.14

Indonesia Dalam Bulan Juli

22.7.14
Kami berjumpa pertama kali pada 19 January 2014 di sebuah cafe di Indonesian Press Photo Service atau IPPHOS, lokasinya ada di Jalan Antara, Pasar Baru, Jakarta. Waktu itu ia tidak sendirian, melainkan berdua dengan Max van Der Werff, rekan sebangsanya yang giat mempelajari sejarah kriminal perang. Direncanakan, hari itu akan ada diskusi sejarah bersama Mas Ady Setyawan dan kawan-kawan, dari Komunitas Roodebrug Soerabaia.

Gadis jangkung dengan tinggi 174 cm ini memperkenalkan diri dengan nama Marjolein van Pagee. Saya memanggilnya Mar. Kadang ia saya panggil Mario.

Waktu itu kami jarang bercakap-cakap, terkendala bahasa. Saya tidak pandai Berbahasa Inggis apalagi Bahasa Belanda, sedangkan Mar saat itu belum menguasai Bahasa Indonesia. Jadi, kami berdua terlihat kacau, haha. Syukurlah, ada Mbak Irma Devita diantara kami berdua. Ia sekeluarga memiliki andil besar selama saya di sana. Mbak Irma pula yang berinisiatif memperkenalkan kami.

Lalu lahirlah sebuah janji. Marjolein akan singgah di rumah saya, Jember, pada bulan Juni. Kelak, ia datang pada 11 Juni 2014 dan tinggal di rumah kecil saya selama satu minggu. Kedatangannya bersamaan dengan Keluarga Besar Sroedji, mereka naik kereta api yang sama.

Di lain waktu, semoga saya sempat menuliskan catatan tentang Marjolein selama ia tinggal di rumah kami.

Hari ini, tiba-tiba saya teringat Marjolein.

Hai Mar, piye kabarmu? Apik-apik wae kan? hehe.

Marjolein suka sekali bergelut di bidang sejarah, dengan scope temporal di masa revolusi Indonesia. Ia bilang, pada 1948 Kakeknya yang bernama Jan van Pagee pernah melakoni hidup sebagai prajurit dari pihak Belanda dan didatangkan ke Indonesia untuk menduduki kembali negeri ini. Saat itu Jan van Pagee masih berusia 20 tahun.

Barangkali ia dan seorang Irma Devita memiliki keterpanggilan yang sama, sama-sama ingin mengerti lebih banyak tentang bagaimana dulu Kakek mereka berjuang.

Pihak Belanda menyebut kejadian yang dimulai sejak 21 Juli 1947 itu dengan nama Aksi Polisionil. Tentu rakyat Indonesia tidak bisa menerima ini. Kita menyebutnya sebagai Agresi Militer, dimana Belanda sengaja menyerbu sebuah bangsa yang sudah berdaulat sejak 17 Agustus 1945. Satu lagi, Belanda telah dengan terang-terangan mencederai hasil persetujuan Linggarjati.

Pada 20 Juli 1947, Perdana Menteri Belanda menyatakan dalam pidatonya kepada seluruh rakyat, bahwa "suatu titik telah tercapai, ketika kesabaran menyebabkan lahirnya suatu kebijakan." Pidatonya tercatat dengan baik dalam Kronik revolusi Indonesia yang dikumpulkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Berikut isi pidato Perdana Menteri Belanda tersebut;

"Tidak ada lagi keraguan bahwa Pemerintah Republik ini tidak dapat mencegah penghancuran dan penjarahan, mencegah kemelut keuangan dan ketiadaan hukum, karena itu harus dianggap tidak mampu menjamin hukum dan ketertiban di dalam wilayahnya sendiri. Dan karena mereka menolak bekerjasama dengan kita untuk mencapai semuanya itu, dengan menyesal Pemerintah Belanda terpaksa mengambil kembali kebebasannya untuk bertindak sebagaimana ditentukan ketika ia menandatangani Persetujuan Linggarjati. Pemerintah Belanda telah memberikan kuasa kepada Gubernur Jenderal untuk memulai aksi kepolisian, dan angkatan bersenjata diserahkan untuk menciptakan kondisi yang terbukti tidak dapat diciptakan oleh Pemerintah Republik."

Selanjutnya Perdana Menteri Belanda menyatakan dengan tegas dalam pidatonya kepada seluruh rakyat Belanda:

"Pemerintah akan tetap berpegang kepada prinsip-prinsip Linggarjati. Barangsiapa mengira bahwa kini terbuka kesempatan untuk menyingkirkan prinsip-prinsip tersebut, maka ia akan berlawanan dengan Pemerintah (Belanda). Pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut dalam kaitan dengan dua negara bagian Indonesia yang sudah berdiri dan dalam kaitan wilayah-wilayah lain yang mungkin masih akan menyatakan keinginannya untuk bergabung, akan terus diwujudkan tanpa henti. Begitu Republik memperlihatkan dirinya siap dan mampu melakukan kerjasama efektif sesuai dengan Persetujuan Linggarjati, maka kesempatan terbuka juga kepadanya untuk menduduki tempatnya dalam lingkungan Negara Indonesia Serikat."

Belanda siap memberikan kemerdekaan penuh, tetapi bersamaan dengan itu ingin memberikan jaminan agar Indonesia mampu berdiri sendiri apabila kemerdekaan itu diberikan sepenuhnya kepadanya. Dengan kata lain, Pemerintah Belanda bermaksud membangun suatu masyarakat yang baik imbangannya, mampu menjaga posisinya di tengah para tetangga yang melingkunginya, dan kompeten untuk mengarahkan dan memimpin sendiri eksistensinya.

Pandangan yang idealistik ini tidak pernah dipahami oleh Republik. Walau kedengarannya paradoksal, inilah sudut pandang yang pada akhirnya memaksa Pemerintah Belanda mengangkat senjata terhadap Republik.

Itulah catatan-catatan dalam Kronik Revolusi Indonesia: 1947.

Hai Mar, waktu itu negerimu dan negeriku sama-sama menghimpun 'kebenaran' sebagai landasan perjuangan. Tentu bangsaku lebih bahagia jika bisa berdiri di atas kaki sendiri, tanpa diatur-atur. Sebab penjajahan adalah memuakkan. Sedangkan negerimu, mereka menghimpun maksud baik yang kami tidak bisa memahaminya. Terdengar indah tapi memaksa.

Ohya hampir lupa. Ketika terjadi Agresi Militer Pertama, negeri ini baru tiga hari memasuki bulan Ramadhan di tahun 1366 Hijriah. Aku mendapatinya di sebuah seruan Residen Aceh untuk Umat Islam di daerahnya, yang juga tercatat dalam kronik. Ini yang ia katakan;

"Jadikanlah ibadah puasa sebagai jembatan untuk mempertebal iman dan perjuangan. Kita selalu digempur dengan cara besar-besaran oleh tentara Belanda. Jangan disangka kita akan lemah dalam menghadapi mereka karena kita sedang berpuasa. Kita kuat dan tetap kuat menghadapi mereka, kapan saja dan dimana saja."

Wah, aku terlalu banyak mengutip. Maaf.

Pada 22 Juli 1947, enam puluh tujuh tahun yang lalu, tempat kelahiranku --Jember-- dikuasai oleh Belanda hingga di pusat kota. Sejarah mencatat, banyak hal terjadi di hari itu. Lalu hari ini, 22 Juli 2014, aku juga melihat ada banyak sekali kejadian yang akan dicatat oleh negeriku, Indonesia. Di sini sedang ada pengumuman mengenai hasil rekapitulasi Pilpres, serta kejadian-kejadian lain yang menyertainya.

Aku mencatatnya di sebuah buku kecil, agar kelak jika cucuku bertanya, aku bisa memberikan penjelasan sebaik mungkin mengenai fakta yang terjadi. Mungkin hanya penggalan, entahlah.

Belanda menyerang negeri ini pada bulan Juli 1947, enam puluh tujuh tahun yang lalu. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah Indonesia, dengan nama Agresi Militer Belanda pertama. Penyerangan kedua terjadi pada 19 Desember 1948. Belanda tetap menyebut serangan-serangan itu sebagai Aksi Polisionil, sebagai tindakan Pemerintah yang sah dalam menangani ancaman stabilitas. Ketika itu, Indonesia adalah sebuah negara merdeka dan berdaulat, namun Belanda tidak mau mengakuinya. Bagi Belanda, kemerdekaan Indonesia berlangsung pada 27 Desember 1949, saat penyerahan kedaulatan di Amsterdam.

Perbedaan persepsi tentang waktu kemerdekaan Indonesia ini berlangsung lama sekali. Pengakuan kedaulatan Indonesia baru dilakukan 'secara diam-diam' pada bulan Agustus 2005, oleh Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot. Ketika itu menteri luar negeri Belanda menghadiri upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2005 atas undangan pemerintah Indonesia.

"Itulah kenapa, pengakuan tanggal kemerdekaan Indonesia oleh Belanda adalah pada 27 Desember 1949, bukan pada saat Proklamasi dikumandangkan. Mereka kan nggak mau rugi."

Aku pernah mendengar kalimat itu dari Mbak Irma Devita. Ya aku sependapat. Sebab apa yang dilakukan pemerintah Belanda pada 15 Juli 1947 dan 19 Desember 1948 adalah serangan terhadap sebuah negara berdaulat dan melanggar hukum internasional. Wajar jika perbedaan persepsi tentang waktu kemerdekaan Indonesia berlangsung lama.

Di tahun yang sama, Kakekmu tercinta meninggal dunia.

Marjolein, bahagia rasanya bisa mengenal dan bersahabat denganmu. Datanglah ke rumahku kapan saja. Meski aku tak pernah bisa berpihak kepada siapa pun yang menjajah bangsa lain, namun bukan berarti aku memelihara dendam terhadap tanah airmu, sebab sejarah bukan tentang memelihara dendam.

Sudah. Catatan ini panjang sekali, belum lagi kutipan-kutipannya, haha.

Sedikit Tambahan

Saat menuliskan catatan ini, di luar sana masyarakat Indonesia sedang membicarakan rekapitulasi KPU untuk kemenangan pasangan Jokowi - JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden hingga 2019. Tentu, hingga bulan Oktober nanti, Presiden Indonesia masih Susilo Bambang Yudhoyono.

Salam saya, RZ Hakim.

14.7.14

Ketika Final Piala Dunia Berlangsung

14.7.14
Saat saya tuliskan catatan ini, Final Piala Dunia antara Jerman Vs Argentina sedang berlangsung. Jalanan tampak sepi. Hanya satu dua sudut saja yang terlihat ramai, mereka sedang nobar. Rupanya orang-orang lebih senang memilih untuk menonton di rumah saja sambil menanti waktu sahur.

Saya jadi ingat obrolan dengan seorang teman via inbox, beberapa menit sebelum pertandingan final dimulai. Teman SMA saya ini bernama Erwin Chandra, kini tinggal di Cologne, sebuah kota di Jerman. Ia bilang hari ini warga di sana tumplek blek di sudut-sudut kota untuk menikmati final piala dunia bersama-sama.

"Mbludak Kim, gak enek sing nang omah."

Entahlah, bagaimana gambaran tentang warga Argentina yang tak bisa menonton secara live di Brasil. Saya tidak punya teman yang tinggal di Argentina. Tebakan saya, suasananya tak jauh beda dengan yang terjadi di Cologne.


Suasana di Cologne - Dokumentasi Erwin Chandra

Itulah realitas tentang dunia sepakbola, ia mampu mengikat dan memikat banyak orang, serta mampu menciptakan rasa komunitas yang mendalam.

Bicara tentang bola, saya jadi teringat beberapa desa di Jember yang nampak sangat jatuh cinta. Gibol, kalau istilah masa kini. Di desa seperti Klungkung --masuk Kecamatan Sukorambi, sepak bola sudah menjadi bagian penting dari hidup masyarakat. Mereka terbiasa dengan laga tarkam alias antar kampung. Di sini sepak bola menjadi sebuah kultur tersendiri. Di wilayah-wilayah seperti Desa Klungkung, sepak bola serupa cermin. Ia dapat menjelaskan banyak hal mengenai desa tersebut.

Saya kira, cerminan sepak bola di Desa Klungkung sama juga dengan sepak bola di sebuah negara. Ia bersifat mencerminkan sesuatu, tak hanya sekedar bola bundar, strategi, pemodal, wasit, pelatih dan hal-hal yang serupa. Ia bisa lebih dari itu, menjelaskan banyak hal dan banyak kejadian, terlebih di bidang sosial budaya.

Ah, rupanya saya bicara terlalu lancip. Maaf.

Tapi itu ada benarnya lho. Pernah saya baca di sebuah catatan, kebangkitan ekonomi Jerman di era 1960-1970an juga terkait erat dengan perkembangan sepak bola. Ini tentu berkaitan dengan persepsi akan citra sebuah bangsa, tentang bagaimana pencitraan yang dibangun oleh sepak bola bisa terhubung langsung dengan aktivitas ekonomi suatu masyarakat. Dan dunia sepak bola terbukti bisa menciptakan itu. Meski tak dapat saya pungkiri, sepak bola juga bisa menciptakan perang dalam arti yang sebenarnya, seperti peperangan antara Honduras dan El Salvador di tahun 1969. Iya, selain menawarkan kebersamaan kolektif, sepak bola juga berpotensi untuk membuka ruang konflik.

Eh, lancip lagi. Abaikan paragraf di atas, mari kita bicara yang menyenangkan saja.

Tak perlu heran, kenapa saya menulis ini di saat laga final sedang berlangsung, sementara tak jauh dari tempat saya menulis, layar televisi sedang menyiarkannya. Kebetulan saja. Lha kok tiba-tiba saya ingin menulis.

Tadi, di menit 29 lewat 25 detik, Team Argentina berhasil melesakkan bola ke gawang Jerman. Ternyata gol tersebut dianulir. Itu memberi kita sebuah pelajaran ringan, bahwa sebuah gol menjadi tak berguna bila wasit menganulirnya.

Lalu, para pemain kembali memperebutkan bola yang hanya satu-satunya di lapangan. Apakah saat bermain di lapangan, salah satu dari mereka pernah berpikir betapa pentingnya sebuah bola? Tanpanya, tak akan ada gol-gol indah. Satu bola murah lebih penting dari sebelas pemain mahal.

Kini pertandingan final piala dunia antara Jerman lawan Argentina telah memasuki detik-detik akhir. Banyak pengamat bola bilang, seringkali kemenangan ditentukan di detik-detik injury time. Ia mirip sekali dengan filosofi the power of kepepet. Injury time, ia mengajarkan kita untuk senantiasa tidak meremehkan waktu.

Sudah ah.

Di layar televisi dapat saya lihat, waktu sudah menunjukkan menit ke-89, keadaan masih kosong-kosong.

Edit

Final kali ini akhirnya mengalami perpanjangan waktu. Di menit ke-112, Jerman menciptakan gol. Ia mempertahankan skor satu kosong hingga peluit panjang berakhir. Ini empat kalinya Jerman menjadi juara World Cup. Piala dunia sebelumnya adalah pada tahun 1954, 1974, dan 1990. Selamat Jerman, selamat menjadi juara.


Ekspresi Erwin Chandra, yang memakai topi, saat peluit panjang terdengar

Tentu, ucapan ini saya tujukan istimewa untuk kawan saya, Erwin Chandra. Selamat ya Win, terima kasih kiriman foto-fotonya.

7.7.14

Indonesia Adalah Tetangga Saya

7.7.14
Sejarah adalah pedoman, sejarah adalah kompas, sejarah adalah penunjuk arah. Penulisan sejarah yang benar membuat kita tidak gagap dalam menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Tanpa sadar sejarah, mustahil kita bisa tuntas dalam memandang wajah Indonesia.

Setiap kali nongkrong di sebuah warung, sering saya temui perbincangan-perbincangan mengenai Nusantara tempo dulu. Tema paling favorit adalah masa dimana Nusantara masih berupa kerajaan-kerajaan dan belum mengenal kata Indonesia. Jika dikerucutkan lagi, sepanjang yang sering saya dengar, mereka suka sekali membahas tatanan kenegaraan di masa Majapahit. Mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa banyak orang di negeri ini yang selama ini merindukan kemakmuran 'Indonesia' tempo dulu.

Ini berbeda ketika di sebuah warung, kami memperbincangkan perihal Indonesia masa kini. Pancaran mata para penghuni warung tidak seberbinar ketika tema obrolan adalah tentang kejayaan masa silam.

Kita semua dimanapun berada, sesungguhnya sedang merindukan asal muasal kesejatian diri dan sangkan paran rumah sejarahnya, Indonesia.

Saya bersyukur dilahirkan di atas tanah Indonesia. Di sini, kehidupan satu bangsa ditandai dengan keanekaragaman bahasa, budaya dan adat istiadat. Semua terangkum dalam Bhineka Tunggal Ika. Garis sejarahnya membentang dari sebelum masa keemasan Yunani menuju zaman Walisongo di era Kerajaan Demak hingga masa kini. Tak heran jika ada sebuah lirik lagu yang dimulai dengan kalimat, "Nenek moyangku orang pelaut."

Semakin saya bertumbuh, pengetahuan pada bidang sejarah juga ikut bertumbuh. Saya suka bidang ini, sebab kebenarannya masih berupa hipotesis alias bersifat sementara. Ia tentu akan gugur bila ditemukan data pembuktian yang baru. Dengan mempelajarinya, hidup serasa lebih bergairah. Kisah-kisah lalu mengantarkan saya untuk lebih mengenal sebuah bangsa bernama Indonesia, juga bangsa-bangsa yang lain.

Sayang sekali, semakin kesini semakin banyak saya jumpai generasi Nusantara yang gemar mengejek adat istiadat dan masa lalu bangsanya sendiri, bahkan sebelum mereka benar-benar mempelajarinya. Hanya bermodalkan dari katanya ke katanya.

Sampai di sini, saya kembali teringat kata-kata yang dirangkai oleh seorang Pramoedya Ananta Toer. Ia bilang, tak mungkin kita dapat mencintai negeri dan bangsa ini jika kita sama sekali tak mengenal sejarahnya. Kiranya kalimat itu mempengaruhi pemikiran saya. Terbukti, saya sering mengulang-ulang kalimat itu di beberapa kesempatan.

Di masa sekolah, guru-guru sejarah memang hanya sebatas menerangkan bahwa kata Indonesia dimulai dari Indos dan Nesos, serta keterangan-keterangan sederhana sebagai penyertanya. Ia tidak pernah mengenalkan kehidupan seorang pengacara kelahiran London bernama George Samuel Windsor Earl, yang pertama kali mengimajinasikan kepulauan Hindia Belanda dengan nama "Indu-nesian" di tahun 1850. Meski kemudian Earl mematahkan gagasannya sendiri dengan nama lain yaitu "Malayunesians," namun seorang koleganya meneruskan gagasan awal Earl tentang "Indunesians." Dia bernama James Richardson Logan.

Pengetahuan saya semakin detail ketika membaca catatan Andreas Harsono perihal ini.

Cuplikan:
Pada awal abad 20, kata benda "Indonesier" dan kata sifat "Indonesich" sudah tenar digunakan oleh para pemrakarsa politik etis, baik di Belanda maupun Hindia Belanda. Pada September 1922, saat pergantian ketua antara Dr. Soetomo dan Herman Kartawisastra, organisasi Indische Vereeniging di Belanda mengubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Perhimpunan ini banyak berperan dalam merumuskan nasionalisme Indonesia. Pada 1926, ketika Mohammad Hatta menjadi ketua Indonesische Vereeniging, pembentukan nasionalisme Indonesia makin dimatangkan. Ia hanya soal waktu sebelum terminologi "Indonesia" digunakan oleh orang-orang berpendidikan di kota-kota besar Hindia Belanda.

Indonesia Adalah Rumah Kita

Suatu sore di sebuah warung bambu di pinggiran kota, saya dan beberapa rekan sedang asyik memperbincangkan perihal wajah Indonesia dulu dan kini. Tiba-tiba seorang kawan muda yang baru lulus SMA bertanya kepada saya.

"Menurut Mas Hakim, Indonesia itu apa?"

Saya bilang kepadanya bahwa Indonesia ibarat rumah kita masing-masing. Ketika saya seusia dia, saat pulang ke rumah, tentu selain berjumpa dengan anggota keluarga yang lain, saya akan berjumpa dengan rasa aman, tentram, dan sebagainya.

Bapak, ia disepakati sebagai pemimpin keluarga. Sebagai kepala suku, tentu ia bertanggung jawab untuk memakmurkan para anggotanya. Mulai dari segi ekonomi, keamanan, hingga sosial budaya ada di bawah pengawasannya. Ketika ia sedang bersosialisasi, entah itu dalam bentuk pengajian ataupun silaturrahmi dengan para tetangga, saya mengibaratkan itu sebagai pergaulan bangsa-bangsa.

Seorang pemimpin keluarga, ia harus memikirkan nilai-nilai dari berbagai sisi. Misal, tidak memberi makan anak istrinya dengan uang dari hasil yang tidak benar. Sebab kita adalah apa yang kita makan, apa jadinya jika kita mengkonsumsi makanan enak namun dari hasil menipu? Tentu bukan hanya lingkungan yang baik dan keilmuan yang mumpuni saja yang dapat membangun etika dan cara berpikir seseorang, makanan juga memiliki daya pengaruh yang dahsyat.

Bicara tentang makanan, tak lepas dari peran seorang Ibu rumah tangga. Di bawah kendalinya, urusan logistik menjadi nampak bijak.

"Kenapa makanan menjadi sedemikian penting dalam sebuah negara?"

Sebab ia adalah sumber energi yang sangat berpotensi mempengaruhi wawasan seseorang. Jika kita terbiasa membeli konsumsi dengan uang dari hasil serampangan, pemikiran kita sudah pasti ikut serampangan. Kita memandangnya dari proses, bukan hasil. Dari usaha mendapatkannya, bukan melulu masalah rasa. Begitulah, sumber energi juga mempengaruhi wawasan, sedangkan wawasan menghimpun kesadaran.

"Apakah ini berhubungan dengan Halal dan Haram?"

Jika kita memeluk agama Islam, tentu. Namun Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika. Akan lebih bijaksana jika kita mengkaitkan masalah Halal Haram dengan sebuah batasan.

Dalam budaya Jawa, kita mengenal kata Gak Ilok. Di Sunda dikenal dengan Pamali. Untuk apa? Hanya agar kita mengetahui batasan-batasan yang disepakati. Apabila adat dan budaya telah hilang, maka etika menjadi tak bersinar lagi. Kita akan mudah mengejek budaya sendiri, merobek-robeknya, sebab kita telah kehilangan batas-batas.

Kata Cak Nun, puncak kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Adapun akar sebuah kemerdekaan, menurut Ananda Firman Jauhari, ia berbentuk kemandirian.

"Setelah memandang Indonesia dari sisi makanan, dari apa lagi Mas?"

Tentu dari berbagai sisi. Dimulai berkenalan dengan sejarah Indonesia 'yang dituliskan secara benar' baru kemudian bidang-bidang yang lain seperti misalnya menumbuhkan kesadaran kritis lewat bidang pendidikan. Juga, tentu saja, ada baiknya kita terus menerus mengasah sisi akhlak, sosial, budaya, ekonomi ekologi, dan sebagainya. Dengan begitu diharapkan asupan gizi untuk jasmani dan rohani masyarakat terpenuhi dengan baik.

Kita harus tuntas dalam memandang Nusantara, tidak setengah-setengah. Sebab jika kita bermain-main, maka hasilnya juga akan main-main.

Cuplikan-cuplikan pembicaraan seperti di atas sesungguhnya sering saya alami saat singgah di sebuah warung. Jika semua saya uraikan di sini, maka catatan ini akan terus mengalir deras.

Indonesia ibarat rumah kita masing-masing. Ia adalah tahapan awal kita sebagai rakyat dalam menyumbang sekeping kekuatan untuk kehidupan. Maksud saya begini. Jika kehidupan di dalam rumah kita terasa hangat, aman, makmur, dan segala hal yang menentramkan hati, maka arah kehidupan bernegara kita sudah memiliki pondasi yang kokoh. Itu adalah modal penting untuk memperlebar kesadaran bersosial dan bermasyarakat di ranah yang lebih luas lagi.

Jangan sampai ketika ada yang bertanya Indonesia ada dimana, kita menjawabnya, "Indonesia adalah tetangga saya."

Melirik Sejarah

Sejarah adalah cahaya bintang dari masa lalu. Ia dibutuhkan di dunia Astronomi sebagai penunjuk arah. Orang-orang Nusantara juga terbiasa menggunakannya sebagai tetenger musim tanam, kalender alami. Jika saja pendahulu kita tidak mengadopsi 'sejarah' dari Bahasa Arab yaitu Sajaratun yang artinya pohon, mungkin kita akan menggunakan bahasa daerah. Mungkin saja kita akan memakai diksi Pedoman, diawali dari kata dom atau jarum.

Mari belajar dan menuliskan sejarah dengan benar, agar kita tidak gagap dalam menghadapi masa kini dan masa yang akan datang.

Sejarah adalah pedoman, sejarah adalah kompas, sejarah adalah penunjuk arah. Tanpa sejarah, mustahil kita bisa tuntas dalam memandang wajah Indonesia. Akan baik jika kita mulai sadar sejarah, diawali dari dalam rumah kita sendiri, mengembang pada lingkungan sekitar, dan seterusnya. Ibarat batu kecil yang dilemparkan ke air tenang, ia akan menciptakan gelombang. Mulanya kecil, lalu membesar, lalu menyatu bersama air, menjadi Indonesia.

Jika sejarah adalah dom, mari kita jahit bagian-bagian yang robek. Sebab tiada guna mengejek masa lalu dan meremehkan adat istiadat sendiri. Jika hanya mengejek tanpa mau mempelajari dan berbuat sesuatu, itu namanya Gak Ilok.

Sekali lagi. Jangan sampai ketika ada yang bertanya Indonesia ada dimana, kita menjawabnya, "Indonesia adalah tetangga saya."

Salam saya, RZ Hakim.

27.6.14

Tak Ada Ingatan Yang Sempurna

27.6.14
Saya dan istri memiliki satu kebiasaan serupa, kami sama-sama suka mencatat kejadian-kejadian yang terlewati. Biasanya data-data itu kami taruh di draft sebuah blog atau di grup facebook yang sengaja kami buat dengan format rahasia dan untuk dua orang saja. Kami memanfaatkannya untuk memasang link, menyimpan data-data, serta foto. Kami tidak memiliki hardisk yang besar, jadi saya mengakalinya dengan itu.

Sekali waktu, saya juga update status facebook dengan disertai foto. Kenapa harus disertai foto? Saya kira, itu memudahkan saya jika suatu hari nanti ingin membaca lagi apa yang pernah saya tulis. Begitu cepatnya roda media sosial, saya harus memiliki cara untuk mengatasinya.


Diskusi Novel Karya Irma Devita. Jember, 12 Juni 2014

Melihat hasil jepretan Pije di atas, membuat saya mengingat banyak hal. Saat itu, di hari yang sama lahirlah bayi mungil bernama Khansa Adzkia Hikmawan. Ia adalah buah hati pasangan Bayu Hikmawan a.k.a Wawan dan Aya. Wawan adalah keluarga tamasya band, hubungan kami terbilang sangat dekat. Di empat tahun perjalanan tamasya band, Wawan tampil sebagai manager keluarga. Ia tidak menjadi manajer sendirian, melainkan bersama  Zuhana dan Nanang NBK. Kini peran Wawan di tamasya band digantikan oleh Achmad Bachtiar a.k.a Bebeh.

Selamat mengecup dunia, Khansa Adzkia Hikmawan.

Esoknya kami menggelar acara serupa di Kalisat, Jember Utara. Bedanya, di Kalisat dikemas dengan format yang lebih santai, apa adanya, dan outdoor. Saya membuat catatan yang panjang --dalam draft-- untuk kedua acara tersebut, perihal Diskusi Novel Sang Patriot Sebuah Epos Kepahlawanan.

Malam harinya, kami mengajak Marjolein untuk menonton reuni Kentrung Djos, sebuah komunitas seni kentrung yang legendaris, berdiri di Fakultas Sastra Universitas Jember sejak 1982. Mereka lama sekali tidak tampil. Pantaslah jika banyak yang menanti penampilannya.


Kentrung Djos, 13 Juni 2014

Salah satu penggerak Kentrung Djos adalah Mas Ilham Zoebazary. Hingga kini ia masih aktif menjadi pengajar di Fakultas Sastra UJ. Ia juga menjadi pembicara di acara Diskusi Novel di Auditorium RRI Jember yang bertutur tentang perjuangan masyarakat Jawa Timur, khususnya Jember, dengan tokoh sentral Letkol Moch. Sroedji.

Sayang sekali Keluarga Besar Sroedji tidak bisa menonton penampilan Kentrung Djos. Mereka sedang beristirahat di Aston Hotel. Esok harinya mereka masih harus on air di Prosatu RRI Jember, kemudian meluncur ke Surabaya untuk mempersiapkan acara di sana, 15 Juni 2014. Sedulur Roodebrug Soerabaia sudah mempersiapkan serangkaian acara, diantaranya adalah Aksi Teatrikal Sang Patriot. Keren sekali!

Sabtu sore, 14 Juni 2014

Ketika Keluarga Sroedji meluncur ke Kota Surabaya, kami menemani Marjolein jalan-jalan ke Kalisat. Ia tampak antusias dengan Stasiun Kalisat serta bangunan-bangunan tua di sekitarnya. Namun Marjolein lebih berhasrat pada jenis-jenis ubin lawas. Ada apa dengan ubin lantai di Stasiun Kalisat? Saya pernah menceritakannya di sini.

Seusai tamasya sejarah di sekitar Stasiun Kalisat, serta berbincang dengan beberapa orang sepuh di sana, kami berpindah tempat. Kali ini bergeser ke Dawuhan Kembar, menikmati hasil masakan Ibu Sulasmini.

Kami makan bersama-sama. Walaupun tersedia piring, kami memilih untuk makan di atas daun. Rupanya Marjolein tak pandai makan tanpa sendok. Ia kidal pula. Syukurlah, meski demikian ia tampak senang.

Minggu, 15 Juni 2015

Ketika Roodebrug Soerabaia sedang melangsungkan Aksi Teatrikal Sang Patriot di Tugu Pahlawan Surabaya, kami yang di Jember sedang jalan-jalan di Kecamatan Rambipuji. Kami melihat bangunan, ngobrol di sebuah warung kopi, bertemu dengan Mas Slamet, lalu diajaknya kami --oleh Mas Slamet-- menemui pasangan Kakek dan Nenek Yo. Saat kami tiba di sana, hanya ada Nenek Yo. Rupanya suaminya sedang keluar bersama salah satu keponakannya.


Kami dan Keluarga Yo di Rambipuji

Bersama Nenek Yo, kami mendapatkan serpih-serpih perwajahan Rambipuji di era 1947 - 1949. Ada banyak hal yang saya catat dari sesi pertemuan ini.

Di hari yang sama, sore harinya, datang kabar gembira. Pasangan keluarga tamasya band Nanang NBK dan Elis, mereka telah dikaruniai momongan. Alhamdulillah. Mereka memberinya nama Vikesha Affandra Lesta Kurniawan.

Sebenarnya, ketika Vikesha lahir --Malang, 17.17 WIB, kami baru saja selesai berdiskusi dengan Pak Sabar a.k.a Kusnadi, lelaki sepuh kelahiran 1914. Kini ia tinggal di Desa Kaliputih, Rambipuji. Saat itu kami bersiap-siap meluncur ke Grenden, menghadiri undangan makan bersama oleh keluarga Etty Dharmiyatie. Itu benar-benar hari yang padat.

Selamat mengecup dunia, Vikesha Affandra Lesta Kurniawan.

Esok harinya kami mengantarkan Marjolein ke Stasiun Jember. Saat itu ia hendak melakukan perjalanan ke Banyuwangi. Juni yang indah, bulan yang penuh kisah.

Tak Ada Ingatan Yang Sempurna

Dalam rangkaian catatan di atas, sebenarnya saya sedang menyajikan data-data untuk diri saya sendiri, agar mudah untuk mengingatnya. Saya bersyukur jika rangkaian data itu bisa dinikmati oleh sahabat blogger. Adapun sebagian besar data yang lebih detail, saya simpan di beberapa tempat. Kebanyakan di draft sebuah blog, lalu catatan yang ada di draft itu saya salin di PC komputer.

Tak ada ingatan yang sempurna, maka akan baik jika kita membaca sebanyak-banyaknya, menggali sedalam-dalamnya, dan mencatat sesempat-sempatnya. Saya kira apa yang dikatakan Andreas Harsono dalam blog pribadinya adalah benar, bahwa menuliskan masa lalu dengan benar adalah kunci untuk menghadapi masa depan dengan baik.

Mari mencatat.

Sebagai penutup, akan saya tuliskan kisah tentang Thucydides, dari buku Pantau, Sembilan Elemen Jurnalisme. Mereka mengadopsinya dari buku berjudul; Thucydides, History of the Peloponnesian War.

Thucydides

Saat ia duduk untuk menulis, wartawan Yunani itu ingin meyakinkan pembacanya bahwa mereka bisa percaya kepadanya. Ia ingin orang tahu, ia tak sedang menulis versi resmi sebuah peperangan, ataupun sedang tergesa-gesa. Ia sedang berupaya menghasilkan sesuatu yang lebih independen, yang lebih bisa diandalkan, dan yang lebih tahan lama. Ia berhati-hati dalam membuat laporannya karena memori, perspektif, dan politik telah mengaburkan daya ingatnya. Ia harus mengecek ulang fakta yang ditemukannya.

Untuk menyampaikan semua ini, ia memutuskan untuk menjelaskan metode pembuatan laporannya begitu ia memulainya. Berikut adalah dedikasi terhadap metodologi kebenaran yang ditulis Thucydides, lima abad sebelum Masehi, dalam pengantar laporan Perang Peloponnesia:

Sekalipun ada peristiwa faktual yang saya saksikan ... saya berprinsip untuk tak langsung menuliskan cerita pertama yang datang kepada saya, dan bahkan tidak akan tergiring oleh kesan umum yang saya tangkap; baik saya hadir langsung di lokasi peristiwa yang saya gambarkan ataupun mendengar tentang peristiwa itu dari saksi mata yang laporannya saya periksa seteliti mungkin. Bahkan dengan cara itu pun kebenaran tak mudah didapatkan: saksi mata yang berbeda memberi kesaksian yang berlainan dari peristiwa yang sama, menyebutnya sebagian saja, dari satu sisi atau sisi yang lainnya, atau karena ingatan yang tidak sempurna.

Sejak pertama membaca pemikiran Thucydides, saya segera merenungkannya. Kini saya semakin merenungkannya. Gagasannya hidup di kepala saya.

Sejarah atau sajaratun, ia seperti biji pohon asam yang tumbuh di tembok raksasa. Semakin besar, semakin ia berdaulat atas dirinya sendiri. Bayangkan bila sejarah ditulis dengan sebenar-benarnya, dengan disiplin verifikasi, tentu apa yang dikatakan seorang Andreas Harsono menjadi nyata adanya.

"Saya kira menuliskan masa lalu dengan benar adalah kunci untuk menghadapi masa depan dengan baik."
acacicu © 2014